Anda di halaman 1dari 6

Penyakit koksidiosis merupakan salah satu penyakit menular yang sering menganggu

peternakan ayam. Penyakit ini jarang ditemukan jika pemeliharaan ayam dilakukan secara
ekstentif, sehingga infeksi koksidia tidak sampai menimbulkan penyakit. Anak ayam yang
terserang koksidiosis akan menunjukkan gejala diare berdarah yang sering menyebabkan
kematian. Apabila dilihat kelainan pasca mati, terlihat kantong usus buntu membengkak dan
berisi darah. Perdarahan yang berasal dari usus buntu disebabkan oleh Eimeria tenella.
Protozoa jenis ini dapat menimbukan perdarahan hebat yang dapat menyebabkan kematian.
Adapun angka kematiannya yang disebabkan oleh penyakit tersebut dapat mencapai 80-90%
(Tabbu,2000).

Koksidiosis merupakan salah satu penyakit yang banyak mendatangkan masalah dan
kerugian pada peternakan ayam. Kerugian yang ditimbulkan meliputi: kematian (mortilitas),
penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat, nafsu makan berkurang, dan produksi daging
menurun.
Lokasi penyakit koksidiosis pada ayam terdapat di dua tempat yaitu pada sekum (caecal
coccidiosis) yang disebabkan oleh Eimeria tenella dan di usus (intestinal coccidiosis) yang
disebabkan oleh delapan jenis lainnya (Jordan et al., 2001).

Protozoa Eimeria tenella


Klasifikasi dari protozoa penyebab penyakit koksidiosis yaitu Filum Apicomplexa,
Kelas Sporozoa, Sub Kelas Coceidia, Ordo Eucoceidia, Sub ordo Eimeriina, Famili
Eimeriidae, Genus EImeria, Spesies Eimeria tenella, Eimeria necatrix, Eimeria maxima,
Emeria brunette, Eimeria acervulina, Eimeria mitis, Eimeria mivati, Eimeria praecox dan
Eimeria hagani.

Eimeria tenella memiliki siklus hidup dengan tipe monoxenous sporozoa. Menurut
Soulsby (1972) siklus hidup coccidia memiliki beberapa tahap yaitu, tahap aseksual dan tahap
seksual. Siklus hidup lebih dikenal dengan tiga stadium, yaitu stadium skizogoni (merogoni),
gametogni dan sporogoni. Stadium sporogoni terjadi diluar induk semang dan merupakan
stadium aseksual (Gordon, 1977). Gametogoni dan skizogoni merupakan stadium yang terjadi
di dalam induk semang.

Morfologi Eimeria tenella


Ookista berbentu lebar, ovid lebar dan tidak ada perbedaan nyata dari lebar kdua ujung.
Ukurannya sangat bervariasi, rata-rata panjang 23 mikron dan lebar 19 mikron. Dinidng ookista
halus, tidak ada mikropil pada ujung yang lebih kecil. Didalam tinja ayam yang terinfeksi
ookista Eimeria tenlla tidak bersporulasi.

Kondisi yang sesuai bagi Eimeria tenella untuk bersporulasi adalah dalam keadaaan
suhu kamar dengan kelembapan yang cukup dalam kurun waktu kira-kira 48 jam (1-2 hari).
Ookista yang bersporulasi mengandung empat sporokista dan masing-masing sporokista
mengandung dua sporozoit. Sporokista berbentuk tanpa residu dan berukuran kira-kira
lebarnya 7 mikron dan panjang 11 mikron. Sporokista pada ujung yang lebih kecil terdapat
sumbat berbentuk bulat kecil yang mengisi suatu libang pada dindingnya dan agak menonjol
keluar.
Gambar 1. Ookista dari genus Eimeria tenella yang telah bersporulasi (Levine, 1978).

Siklus Hidup Eimeria tenella


Eimeria mengalami perkembangan siklus hidup secara lengkap di dalam dan luar tubuh
inangnya dan dibagi menjadi siklus aseksual dan siklus seksual. Siklus hidup ini lebih dikenal
dengan tiga stadium, yaitu stadium skizogoni, gametogoni, dan sporogoni. Siklus aseksual
merupakan stadium sporogoni dan skizogoni, siklus seksual meliputi stadium gametogoni.
Sporogoni merupakan stadium pembentukan sporan (Tampubolon, 1996). Ookista-ookista
dikeluarkan melalui tinja dengan ookista berisi satu sel yaitu sporon. Ookista dalam suatu
lingkungan yang lembab, temperatur tinggi, dan jumlah oksigen yang cocok akan mengalami
sporulasi (Marbun, 2006).

Ookista ini mengandung 4 sporokista yang masing-masing mengandung 2 sporozoit.


Sesampainya didalam lumen usus, ookista dan sporokista akan rusak oleh enzm pancreas,
sehingga menyebabkan keluarnya sporozoit. Sporozoit masuk kedalam epitel di sekum dan
tumbuh menjadi skizon generasi pertama didalam mukosa. Skizon generasi pertama
menghasilkan 40 sporozoit dengan lebar 1,5 mikron (Levine, 1985). Untuk dapat sporulasi,
ookista membutuhkan kondisi yang optimal, yaitu lembab, ketersediian oksigen yang cukup
dan suhu 26,6oC-32,2oC (Ashadi dan Partosoedjono, 1992).

Pada hari ketiga, merozoit-merozoit bebas dari sporozoit dan mulai masuk ke sel-sel
epitel, lalu masing-masing merozoit berkembang menjadi skizon generasi kedua. Skizon dan
merozoit generasi kedua lebihbesar daripada skizon dan merozoit generasi pertama (Levine
1985). Setelah merozoit generasi kedua berasa didalam lumen usus, sebagian besar akan
membentuk gametosit dan sebagian lainnya memasuki sel epitel untuk membentuk skizon
generasi ketiga. Gametosit yang terbentuk berdiferensiasi menjadi mikrogametosit (jantan) dan
makrogametosit (betina) (Muafo et al, 2002).
Inti mikrogametosit membelah dan menghasilkan banyak mikrogamet yang bercambuk
dua. Makrogametosit tumbuh membersar tapi intinya tidak membelah tetapi membentuk
makrogamet. Satu makrogamet dan satu mikrogamet akan membentuk zigot yang berdinding
tebal atau ookista yang belum bersporulasi. Zigot dapat ditemukan didalam epitel pada hari ke
tujuh setelah penularan. Zigot yang terbentuk di epitel akan keluar memasuki lumen usus dan
bersama tinja terbawa keluar tubuh. Di alam bebas okista mengalami sporogoni dan ookista
tersebut dihasilkan dalam waktu beberapa hari (Levine, 1985).
Gambar 2. Siklus hidup Eimeria sp (Gordon, 1977)

Secara singkat dibawah ini merupakan siklus hidup Eimeria yang terdiri dari stadium
seksual maupun aseksual yaitu:
1. Ookista

Merupakan hasil fertilisasi mikrogamet dan makrogamet pada stadium seksual.


Sesudah fertiliasasi, zigot akan membentuk ookista. Bentuknya menyerupai telur yang lebar
(Tampubolon, 1996).

Ookista Eimeria tenella tidak bersporulasi didalam tinja ayam yang terinfeksi. Ookista
lebar, berbentuk ovid lebar dan tidak ada perbedaan nyata dari lebar kedua ujung. Ukurannya
sangat bervarsia, panjang berkisar antara 14-31 mikron, lebar 9-25 mikron, dengan rata-rata
panjang 23 mikron dan lebar 19 mikron. Dinding ookista halus, tidak ada mikropil pada ujung
yang lebih kecil. Ookista yang disimpan dalam suhu kamar dengan kelembapan yang cukup
akan bersporulasi dalam waktu kira-kira 48 jam (Tabbu, 2006).
2. Sporokista

Merupakan hasil fertilisasi dari ookista, yang menghasilkan 2-4 sporokista berbentuk
oval memanjang, salah satu ujungnya lebih runcing dari yang lain (Levine 1985).
3. Sporozoit

Sporozoit dilepaskan oleh sporokista berbentuk seperti koma, ukurannya 1 x 1,5 mikron
dan bersifat transparan dengan sitoplasma yang bergranula.
4. Tropozoit
Perkembangan sporozoit yang akan melakukan proses skizogoni (pembelahan).
5. Skizon

Skizon merupakan tahap perkembangan tropozit yang intinya mengalami pembelahan.


Terdapat tiga macam skizogoni, skizogoni aseksual di dalam sel inang memproduksi
sejumlah merozoit. Proses ini dikenal sebagai merogoni. Ukurannya maksimumnya dapat
mencapai 54 mikron.
6. Merozoit

Merozoit adalah skizon yang telah mengalami pembelahan, umumnya berukuran 5-10
mikron x 1,5 mikron dan memiliki granular sekeliling intinya. Merozoit terlepas dari skizon
yang telah masak (Piatina, 2001).
7. Gametosit

Gametosit merupakan perkembangan dari merozoit generasi ke-2 untuk selanjutnya


berkembang menjadi makrogametosit dan mikrogametosit. Produksi mikrogamet dan
makrogamet dikenal sebagai gametogoni (Levine, 1985 dalam Piatina, 2001). Makrogamet
lebih besar dari mikrogamet dan akan berkembang menjadi gamet betina, sedangkan
mikrogamet membelah menjadi beberapa mikrogametosit yang berkembang menjadi
gamet jantan. Di bagian anterior terdapat flagella. Saat fertilisasi makrogamet masak akan
dibuahi mikrogamet yang akan membentuk zigot untuk selanjutnya berkembang menjadi
ookista.

Siklus seksual berlangsung setelah melalui siklus aseksual yaitu siklus yang ditandai
dengan dimulainya mikrogametosit dan makrogametosit. Setelah mikrogamet dan
makrogamet bertemu didalam usus, maka akan terbentuk zigot. Dari zigot dibentuk ookista.
Ookista ini akan keluar dari tubuh bersama tinja dan membentuk sporokista, masing-
masing sporokista berisi dua sporozoit. Jika ookista yang telah bersporulasi tersebut
tertelan oleh unggas yang rentan maka akan terjadi infeksi. Waktu yang dibutuhkan untuk
siklus hidup Eimeria pada unggas sangat bervariasi berkisar antara 1-5 hari (Tampubolon,
2004).

Patogenitas Eimeria tenella


Umur yang paling peka terhadap koksidiosis yaitu pada ayam muda berumur 4 minggu,
ayam yang berumur 1-2 minggu lebih resisten walaupun E.tenella juga dapat menginfeksi ayam
yang sudah tua. Ayam yang sudah tua umumnya memiliki kekebalan imunitas akibat sudah
terinfeksi sebelumnya. Pada umumnya koksidiosis sekum terjadi akibat infeksi berat dalam
waktu tidak lebih dari 72 jam. Pada ayam umur 1-2 minggu diperlukan 200.000 ookista untuk
menyebabkan kematian dan untuk ayam yang berumur lebih tua diperlukan 50.000-100.000
ookista untuk menyebabkan kematian. Ookista yang bersporulasi merupakan ookista yang
infektif (Levine, 1985).

Ookista yang bersporulasi jika termakan oleh induk semang yang rentan maka siklus
hidupnya akan berlangsung. Setelah masuk ke dalam saluran pencernan, ookista pecah
kemudian mengeluarkan sporozoit yang akan berkembang di dalam sel epitel usus dan
menyebabkan lesi pada usus dan sekum. Pendarahan mulai terlihat pada hari ke-4 setelah
infeksi. Kehilangan darah yang cukup banyak akibat kerusakan mukosa usus dan hemoragi
yang hebat pada hari ke-5 atau ke-6 setelah infeksi dapat menyebabkan angka kematian yang
sangat tinggi. Sampai hari ke-7 setelah infeksi, ayam yang kuat dapat sembuh dan bertahan
hidup. Hari ke-8 dinding sekum akan menebal diikuti regenarasi mukosa dan fibrosis,
selanjutnya sembuh dalam beberapa waktu kemudian (Soulsby, 1972 dalam Piatina 2001).
Gejala Klinis
Infeksi dini koksidiosis biasanya ditunjukkan adanya feses ayam yang berwarna cokelat
gambir denan konsistensi semacam pasta atau sedikit encer. Jika kita jeli denan tanda tersebut,
maka penanganan cepat dengan pemberian obat koksidiosis bisa menghasilkan efek
pengobatan yang optimal. Selain tanda tersebut, gejala klinis yang ditunjukkan ayam yang
terserang koksidiosis antara lain nafsu makan turun, pertumbuhan terhambat, ayam terlihat
pucat, bulunya kusam serta tidak banyak bergerak.

Saat bentuk infektif E.tenella termakan ayam, dimulaikan siklus hidup parasit bersel
satu ini. Pada gizzard (tembolok) dinding kista ookista terkikis sehingga keluarlah sporozoit
yang langsung menuju usus untuk melangsungkan siklus hidupnya. Akibatnya terjadi luka,
perdarahan dan kerusakan jaringan usus.

Gejala klinis mulai terlihat sekitar 72 jam setelah diinfeksi, dimana skizon generasi
kedua menjadi besar dan merozoit keluar dari epitel sehingga terjadi pendarahan dalam sekum.
Pendarahan pada tinja pertama-tama ditemukan pada ayam yang terinfeksi koksidosis adalah
diare berdarah dan kehilangan darah merupakan gejala akut dari infeksi Eimeria tenella yang
ditandai oleh kelemahan dan pucat, tinja berdarah berwarna cokelat kekuningan, berlendri,
sayap menggantung, bulu kasar/ kusam dan kotor, nafsu makan dan minum menurun, lesu dan
mata kadang-kadang tertutup, penurunan produksi telur ( pada ayam petelur), penurunan berat
badan dan terjadi kematian (Alamsari, 2000).
Dapus
Tabbu., C.R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya, Volume 1. Kanisius. Yogyakarta.

Alamsari, O.S., 2000. Pengaruh Larutan Lempuyang Wangi (Zingiber aromaticum val)
Terhadap Produksi Ookista Eimeria spp pada Ayam. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Gordon, R.F., 1977. Poultry Disease. Bailliere Tindal. London. Pp: 126-129.
Jordan, F., M.A. Pattinson, T. Faragher, 2001. Poultry Disease 5 Edision. W.B Saunders.
London. 408-409.
Levine, N.D., 1978. Textbook of Veterinary Parasitology. Penterjemah G. Ashadi. 1990.
Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Levine, N.D., 1985. Veterinary Protozoology dalam Soekardono. 1995 (Terjemahan).
Protozoology Veteriner. Diterjemahkan oleh Soeprapto Soekardono. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta. Pp: 182-265.

Piatina, V.Z., 2001. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsentrasi Larutan Biji Paria (Momordica
charantia Linnaeus) Terhadap Differensiasi Leukosit Pada Ayam Yang Terinfeksi Eimeria
spp. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Soulsby, E.J.L., 1972. Immunity to Animal Parasities. Academic Press. New york and London. Pp:
336-382.
Tabbu C. R. 2006. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya V. olume 2. Yogyakarta: Kanisius:7L; 9-
2L.

Tampubolon, M.P. 2004. Protozoologi. Bogor : Pusat Studi Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor.

Tampubolon, M.P., 1996. Protozoologi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian
Bogor. hlm 116 118.