Anda di halaman 1dari 62

Kuliah GD.

2105 Pengantar Sistem Spasial

BATAS MARITIM INDONESIA DAN


PERAN ASPEK TEKNIS DALAM PENETAPANNYA

Dr. Ir. Eka Djunarsjah, MT

KK Sains dan Sistem Kerekayasaan Wilayah Pesisir dan Laut


Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB

Bandung 2015
Materi Kuliah
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejarah Hukum Laut

STATUS BATAS MARITIM INDONESIA


Zona Maritim (Outer Limits)
Prinsip Penarikan Garis Batas Maritim (Bilateral/Trilateral Boundaries)

BERBAGAI PERMASALAHAN BATAS MARITIM


Aspek Hukum (Pendefinisian) dan Aspek Teknis (Delineasi dan Demarkasi)
Implementasi (Perundingan dan Penegakan Hukum di Zona Maritim)

KONSTRIBUSI TEKNIK GEODESI, HIDROGRAFI/OSEANOGRAFI, GEOLOGI


Survei Titik Dasar dan Pemeliharaan Titik Referensi
Penetapan Batas Maritim dan Pembuatan Sistem Informasi Batas Maritim

PENUTUP
Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah meratifikasi
Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) tahun 1982, berkewajiban
untuk mendepositkan data batas-batas maritimnya kepada Sekjen
PBB, dalam bentuk Peta Laut atau Daftar Koordinat Geografis
Dalam implementasinya, terutama untuk penetapan batas-batas
maritim Indonesia dengan Negara tetangga, banyak masalah yang
muncul dan hal ini ternyata tidak hanya terkait dengan Aspek
Hukum dan Aspek Teknis
Namun demikian, peranan dari ilmu pengetahuan dan teknologi
dari disiplin Geodesi, Hidrografi/Oseanografi, dan Geologi, dalam
menjabarkan dan merealisasikan UNCLOS 1982 paling tidak akan
membantu dalam penyelesaian masalah batas-batas maritim
Sejarah Hukum Laut
Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982 yang terdiri
dari 17 Bab, 320 Pasal, dan 9 Lampiran merupakan
peraturan internasional komprehensif tentang ruang
laut yang digunakan hingga saat ini

Sebelum UNCLOS 1982, pengaturan tentang laut


mempunyai sejarah yang sangat panjang, dimulai
dari masa Kekaisaran Romawi hingga Konvensi
Jenewa 1958
Indonesia jelas dipengaruhi oleh sejarah tersebut
Garis Besar UNCLOS 1982
Peraturan Perundang-Undangan Nasional
Pengukuhan Deklarasi Djuanda 1957, melalui Perpu 4/1960
tentang Perairan Indonesia, dan telah diperbaharui melalui UU
6/1996
UU 1/1973 tentang Landas Kontinen Indonesia
UU 5/1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia
Ratifikasi UNCLOS 1982 melalui UU 17/1985
PP 38/2002 dan revisinya PP 37/2008 tentang Daftar Koordinat
Geografis Titik-Titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia
UU 43/2008 tentang Wilayah Negara
Status Batas Maritim Indonesia (1)

Vietnam
India Thailand Filipina
Palau
Malaysia
Singapura

Timor Leste PNG

Australia
Status Batas Maritim Indonesia (2)
Status Batas Maritim Indonesia (3)
Batas Maritim Unilateral : Menghadap Laut Lepas
(Tidak Bertampalan dengan Negara lain)

Batas Maritim Bilateral/Trilateral : Yang Berhadapan/


Bersebelahan dengan Negara Lain (Bertampalan)

Sudah Ditetapkan
Dalam Proses Perundingan
Belum Dirundingkan
Batas Maritim Unilateral

350 M atau
12 M 24 M 200 M 2500 m + 100 M

Laut Zona
Pantai Teritorial Tambahan
Muka Air
Rendah
Zona Ekonomi
Eksklusif
Garis Air Rendah
(Garis Pangkal Normal)
Dasar Laut
Landas
Kontinen
Titik Dasar
(Acuan Penarikan Batas Laut)
Sudah Ditetapkan, Sudah Diratifikasi (1)

No. Perjanjian Persetujuan Ratifikasi

INDONESIA - MALAYSIA

Landas Kontinen di Selat Malaka dan Laut


1 27-10-1969 Keppres 89/1969
Cina Selatan
2 Laut Teritorial di Selat Malaka 17-03-1970 UU 2/1971

INDONESIA - SINGAPURA

3 Laut Teritorial di Selat Singapura 25-05-1973 UU 7/1973

4 Laut Teritorial di Selat Singapura Bag. Barat 10-03-2009 UU 4/2010


Sudah Ditetapkan, Sudah Diratifikasi (2)

No. Perjanjian Persetujuan Ratifikasi

INDONESIA - AUSTRALIA

5 Dasar Laut Tertentu 18-05-1971 Keppres 42/1971


Dasar Laut Tertentu (Laut Timor dan
6 09-10-1972 Keppres 66/1972
Arafura)
Garis Batas Tertentu Indonesia dan Papua
7 12-02-1973 UU 6/1973
Nugini
INDONESIA MALAYSIA - THAILAND

8 Landas Kontinen Bagian Utara Selat Malaka 21-12-1971 Keppres 20/1972


Sudah Ditetapkan, Sudah Diratifikasi (3)

No. Perjanjian Persetujuan Ratifikasi

INDONESIA - THAILAND

Landas Kontinen Bagian Utara Selat Malaka


9 17-12-1971 Keppres 21/1972
dan Laut Andaman
10 Dasar Laut di Laut Andaman 11-12-1975 Keppres 1/1977

INDONESIA - INDIA

11 Garis Batas Landas Kontinen 08-08-1974 Keppres 51/1974


Perpanjangan Garis Batas Landas Kontinen
12 14-01-1977 Keppres 26/1977
1974
Sudah Ditetapkan, Sudah Diratifikasi (4)

No. Perjanjian Persetujuan Ratifikasi

INDONESIA INDIA - THAILAND

Trijunction Point dan Garis Batas dari Garis-


13 22-06-1978 Keppres 24/1978
Garis Batas Tertentu di Laut Andaman
INDONESIA - VIETNAM
Garis Batas Landas Kontinen di Utara Pulau
14 06-06-2003 UU 18/2007
Natuna
Sudah Ditetapkan, Belum Diratifikasi

No. Perjanjian Persetujuan Ratifikasi

INDONESIA - SINGAPURA

1 Laut Teritorial di Selat Singapura Bag. Timur 03-09-2014 -

INDONESIA - AUSTRALIA
Zona Ekonomi Eksklusif dan Dasar Laut
2 14-03-1997 -
Tertentu
INDONESIA - FILIPINA

3 Garis Batas Zona Ekonomi Eksklusif 23-05-2014 -


Dalam Proses Perundingan
Belum Dirundingkan
Prinsip Penarikan Batas Maritim

Batas-Batas Terluar (Outer Limits), ditentukan dari


berbagai jenis Garis Pangkal : Normal, Lurus,
Penutup, dan Kepulauan (hanya untuk Negara
Kepulauan)
Batas-Batas Bilateral/Trilateral (Bilateral/Trilateral
Boundaries), ditentukan berdasarkan Prinsip
Ekudistan (Sama Jarak) atau Prinsip Equitable
Solution (Sama Adil) yang ditarik dari Titik-Titik
Dasar (pada Garis-Garis Pangkal) terluar masing-
masing Negara
Peta Ilustratif Titik-Titik Dasar
Daftar Koordinat Titik-Titik Dasar

Berdasarkan PP 38/2002 dan revisinya PP 37/2008

Terdiri dari 195 Titik Dasar, 30 Garis Pangkal


Normal dan 162 Garis Pangkal Kepulauan (empat
di antaranya mempunyai panjang > 100 M)

Sudah didepositkan ke Sekjen PBB pada tanggal


11 Maret 2009
Koordinat Titik-Titik Dasar PP 38/2002
Koordinat Titik-Titik Dasar PP 37/2008 (1)
Koordinat Titik-Titik Dasar PP 37/2008 (2)
Koordinat Titik-Titik Dasar PP 37/2008 (3)
Rekapitulasi Titik-Titik Dasar
Dalam PP 38/2002 terdapat 183 Titik Dasar (TD), 149 Garis
Pangkal (Lurus) Kepulauan (GPK), dan 31 Garis Pangkal (Biasa)
Normal (GPN)

Direvisi dengan PP 37/2008 :

Berkurangnya 3 TD di Pulau Sipadan dan Ligitan dan 1 TD di Tanjung


Arang, digantikan dengan 3 TD baru di Pulau Sebatik dan 1 TD baru di
Karang Unarang
Ada penambahan 10 TD baru di perbatasan RI-RDTL
Ada penambahan 2 TD baru di Selatan Jawa

Secara keseluruhan Indonesia mempunyai 196 TD dan sudah


didepositkan ke Sekjen PBB pada 11 Maret 2009
Garis Pangkal Normal
Garis Pangkal Lurus
Garis Penutup
Garis Pangkal Kepulauan
Penarikan Garis Pangkal Terluar (1)

Garis Batas Maritim

Garis Pangkal Normal

X = Lebar Zona Maritim


Penarikan Garis Pangkal Terluar (2)

Garis Batas Maritim

Garis Pangkal Lurus

X = Lebar Zona Maritim


Prinsip Ekuidistan (Berhadapan)
Prinsip Ekuidistan (Bersebelahan)
Prinsip Equitable Solution (1)
Prinsip Equitable Solution (2)
Kontribusi Geodesi

Penentuan Posisi, Pemetaan Medan Gaya Berat


Bumi, dan Dinamika Bumi, baik dalam skala global,
regional, maupun lokal
Pengukuran Kerangka Dasar Batas-Batas Maritim
(Titik Referensi), yang diikatkan terhadap Jaring
Kerangka Dasar Nasional (DGN 95)
Penentuan Parameter-Parameter Datum
Transformasi untuk keperluan penentuan koordinat
titik-titik batas yang berbeda datum
Penentuan Posisi
satelit #2
satelit #3

satelit #1

satelit #4

sinyal koreksi

sinyal koreksi

antena GPS receiver


radio komunikasi
antena radio komunikasi
(transceiver)
(receiver)

receiver base station


Pengukuran Titik Referensi (TR)

JKHN

TR

TD
Jaring Kontrol Horisontal Nasional (JKHN)

Orde 0 dan Orde 1


Penentuan Parameter Datum Transformasi
Kontribusi Hidrografi/Oseanografi

Pengumpulan data bergeo-referensi melalui survei di laut


dan pesisir berkaitan dengan : Morfologi Pantai,
Kedalaman Perairan, Komposisi Dasar Laut, Pasut dan
Arus, serta Sifat-Sifat Fisis dan Kimia Kolom Air

Pembuatan basis data untuk memfasilitasi pembangunan


Sistem Informasi Batas Maritim yang terkait dengan :
Keselamatan Pelayaran, Operasi-operasi AL, Perlindungan
Lingkungan Kelautan, Eksploitasi Sumber Daya Kelautan
dan Peletakan Pipa dan Kabel Bawah Laut, Pendefinisian
Batas-Batas Maritim dan Studi/Penelitian Ilmiah Kelautan
dan Zona Pesisir
Pengukuran Kedalaman

Garis Muka Laut


Sesaat
Jangkauan Survei

Garis Air Rendah /


Garis Nol Kedalaman
Pengamatan Pasut

300

Kedudukan Muka Laut (cm)


250

200

150

100

50

0
1 19 37 55 73 91 109 127 145 163 181 199 217 235 253 271 289 307 325 343 361
-50
Waktu (Harian)

Air Tinggi MSL Air Rendah


Pengukuran Sifat-Sifat Fisis Air Laut

Kecepatan rambat gelombang akustik di medium air laut


merupakan fungsi dari Sifat-Sifat Fisis Air Laut (S, T, P, dan
D)
Pada setiap kedalaman nilai kecepatan rambat tersebut
akan bervariasi dan tidak sesuai dengan kecepatan rambat
standar yang digunakan pada Echosounder, sehingga
menyebabkan kesalahan pada pengukuran kedalaman
Pengukuran Sifat Fisis Air Laut, umumnya digunakan utuk
pemberian koreksi di laut yang tidak terlalu dalam dan
juga tidak terlalu dangkal (30 100 m)
Peta Laut untuk Keselamatan Pelayaran
Peletakan Pipa dan Kabel Bawah Laut
Pendefinisian Batas-Batas Maritim

Penggambaran garis-garis pangkal


Penentuan batas-batas maritim (Laut Teritorial, Zona
Tambahan, Zona Ekonomi Eksklusif, dan Landas
Kontinen) secara teliti
Pendefinisian batas-batas ekuidistan
Pendefinisian pengaruh parsial batas-batas
Pembuatan Sistem Informasi Batas Maritim

Saat ini data masih tersebar di beberapa Instansi (Pusat


Pemetaan Batas Wilayah BIG, Dishidros, Kemlu,
Kemendagri, Kementrian Kelautan dan Perikanan, dll.)

Ada instansi baru yang dibentuk pada tahun 2010, yaitu :


Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP)

BNPP sebaiknya yang mengintegrasikan semua data


tersebut dalam suatu Basis Data Terpadu untuk
membangun Sistem Informasi Batas Maritim Indonesia
Kontribusi Geologi
Studi material yang meliputi wilayah pesisir, dasar laut, dan stuktur
bawah laut, serta proses-proses yang mempengaruhinya
Menjelaskan tentang bentuk dan keragaman garis pantai dan dasar
laut, penempatannya dalam konteks regional yang mencakup
kerangka waktu yang berjangka musiman hingga umur geologis
Menjelaskan tentang fitur-fitur pesisir dan dasar laut yang mewakili
bahaya pelayaran lokal sebagai bagian dari konsekuensi proses-
proses geologis dan tektonik
Memberikan pengetahuan tentang sejarah tektonik dasar samudera
dan pemahaman yang mendasar tentang sifat-sifat, penyebaran,
dan nilai sumber-sumber daya kelautan, terutama dikaitkan dengan
penetapan batas terluar Landas Kontinen
Penetapan Batas Landas Kontinen
Isu-Isu Terkini
Perundingan Batas Indonesia dan Malaysia di Laut Sulawesi
(Blok Ambalat), Selat Malaka (ZEE), dan Tanjung Datu
(Low Tide Elevation)
Masalah Pulau-Pulau Kecil (Terluar)
Masalah Keamanan Laut, terutama berkaitan dengan
Pencurian Ikan, Pembajakan, dan Penyelundupan
Masalah yang berkaitan dengan fenomena alam (Tsunami,
Kenaikan Muka Laut, Abrasi dan Akresi Pantai) dan
aktifitas manusia yang dapat menyebabkan terjadinya
Perubahan Garis Pangkal (Reklamasi)
Blok Ambalat

Peta Malaysia 1979


ZEE Indonesia dan Malaysia di Selat Malaka
Low Tide Elevation di Tanjung Datu
Pulau-Pulau Kecil Terluar Yang Perlu Perhatian
Pulau Rondo (Aceh)
Pulau Berhala (Sumatera Utara)
Pulau Nipa (Kepulauan Riau)
Pulau Sekatung (Kepulauan Riau)
Pulau Marore (Sulawesi Utara)
Pulau Miangas (Sulawesi Utara)
Pulau Marampit (Sulawesi Utara)
Pulau Fani, Kep. Asia (Papua)
Pulau Fanildo, Kep. Mapia (Papua)
Pulau Bras, Kep. Mapia (Papua)
Pulau Batek (Nusa Tenggara Timur)
Pulau Dana (Nusa Tenggara Timur)
Masalah Dinamika (1) :
Batas Maritim Indonesia-Singapura
Masalah Dinamika (2) :
Batas Maritim Indonesia-Singapura
Penutup (1)
Aspek Teknis tidak dapat dipisahkan dari UNCLOS
1982, karena memegang peran penting dalam hal
implementasinya, terutama berkaitan dengan
penetapan batas-batas maritim
Aspek Teknis yang terlibat, di antaranya adalah dari
disiplin ilmu Geodesi, Hidrografi/Oseanografi, dan
Geologi
Beberapa masalah yang terkait dengan batas-batas
maritim pada dasarnya harus dipecahkan bersama-
sama dan disitulah peran para ahli teknis dibutuhkan
Penutup (2)
Di samping itu, para ahli teknis juga dituntut untuk
memberikan pemahaman kepada banyak pihak
tentang hal-hal yang berkaitan dengan implementasi
Konvensi Hukum Laut Internasional, agar masalah-
masalah yang muncul atau adanya isu-isu dapat
ditempatkan secara proporsional dan tidak membuat
gejolak yang negatif di kalangan masyarakat
Bahan Penulisan
Dokumen-dokumen tentang Batas Maritim dari
Bakosurtanal (sekarang BIG) dan Dishidros TNI-AL
Hasil Rapat dan Diskusi Batas Maritim yang diikuti
sebagai Nara Sumber
Diktat Aspek Teknis Hukum Laut (2007) Prodi Teknik
Geodesi dan Geomatika ITB
Buku Survei Hidrografi (2005) dan Diktat Hidrografi I
dan II Prodi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB
Terima Kasih
ekadj@gd.itb.ac.id
lautaneka@yahoo.com