Anda di halaman 1dari 3

GAGAL JANTUNG KONGESTIF

No. Dokumen : /SOP/UKP.VII/2017


SOP No. Revisi :0
Pemerintah Kota
Tanggal Terbit : 01/04/2017 UPT.Puskesmas
Pangkalpinang Halaman : 1/3 Kacang Pedang
Ditetapkan : drg. HELEN
01/04/2017 NIP 198012092009032003

1.Pengertian Gagal jantung (akut atau kronik) merupakan masalah kesehatan


yang menyebabkan penurunan kualitas hidup, tingginya
rehospitalisasi karena kekambuhan yang tinggi dan peningkatan
angka kematian.
2.Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk dapat
memahami dan memberikan pengobatan yang tepat pada pasien
gagal jantung kongestif.
3.Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT. Puskesmas Kacang Pedang
Nomor /SK/UKP.VII/UPT.Pusk-KP/III/2017 tentang Pelayanan
Klinis
4.Referensi Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer Tahun 2014
5. Prosedur 1. Petugas menyapa pasien,
2. Petugas memastikan identitas rekam medis sesuai dengan
pasien yang sedang diperiksa,
3. Petugas melakukan hand hygiene sebelum memeriksa pasien,
4. Petugas melakukan anamnesis (auto/allo) tentang keluhan
pasien. Keluhan sesak pada saat beraktivitas (dyspneu
deffort), gangguan nafas pada perubahan posisi (ortopneu),
sesak nafas malam hari (paroxymal nocturnal dyspneu).
Faktor risiko:
a. Hipertensi,
b. Dislipidemia,
c. Obesitas,
d. Merokok,
e. Diabetes melitus,
f. Riwayat gangguan jantung sebelumnya.
5. Petugas melakukan pemeriksaan fisik:
a. Peningkatan tekanan vena jugular,
b. Frekuensi pernapasan meningkat,
c. Kardiomegali,
d. Gangguan bunyi jantung (gallop),
e. Ronki pada pemeriksaan paru,
f. Hepatomegali,
g. Ascites,Edema perifer.
6. Petugas melakukan pemeriksaan penunjang, berupa X Ray
thoraks untuk menilai kardiomegali dan melihat gambaran
edema paru, EKG (hipertrofi ventrikel kiri, atrial fibrilasi,
perubahan gelombang T, dan gambaran abnormal lain), darah
perifer lengkap.
7. Petugas menetapkan diagnosis Gagal Jantung Kongestif.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria Framingham yaitu
minimal 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.
Kriteria Mayor :
a. Sesak napas tiba-tiba pada malam hari,
b. Distensi vena-vena leher,
c. Peningkatan tekanan vena jugularis,
d. Ronki basah basal,
e. Kardiomegali,
f. Edema paru akut,
g. Gallop (S3),
h. Refluks hepatojugular positif.
Kriteria MInor :
a. Edema ekstremitas,
b. Batuk malam,
c. Dyspneu deffort (sesak jika aktifitas),
d. Hepatomegali,
e. Efusi pleura,
f. Penurunan kapasitas vital paru sepertiga dari normal,
g. Takikardi > 120 kali per menit.
8. Petugas menatalaksana dengan :
a.Modifikasi gaya hidup berupa pembatasan asupan cairan
maksimal 1,5 liter (ringan), maksimal 1 liter (berat), berhenti
merokok dan konsumsi alkohol.
b.Aktifitas fisik berupa pada kondisi berat dengan tirah baring
sedangkan pada kondisi sedang atau ringan dengan
membatasi beban kerja sampai 60% hingga 80% dari denyut
nadi maksimal.
c. Pengobatan pada gagal jantung akut dengan terapi oksigen
2-4 liter per menit, pemasangan iv line untuk akses
dilanjutkan dengan pemberian furosemid injeksi 20 s/d 40 mg
bolus dapat diulang tiap jam sampai dengan dosis maksimal
600 mg/hari dan segera rujuk. Sedangkan pengobatan pada
gagal jantung kronik yang pertama adalah diuretik
diutamakan loop diuretik (furosemid) bila perlu dapat
dikombinasikan Thiazid, bila dalam 24 jam tidak ada respon
rujuk ke layanan sekunder, yang kedua adalah ACE inhibitor

2
(ACE-I) atau Angiotensine II receptor blocker (ARB) mulai dari
dosis terkecil dan titrasi dosis yang efektif dalam beberapa
minggu. Bila pengobatan sudah mencapai dosis maksimal
dan target tidak tercapai segera rujuk. Yang terakhir adalah
digoksin diberikan bila ditemukan takikardi untuk menjaga
denyut nadi tidak terlalu cepat.
9. Petugas memberikan edukasi tentang penyakit Gagal
Jantung Kongestif, pengendalian Gagal Jantung Kongestif,
penyulit Gagal Jantung Kongestif, pemberian obat-obatan
jangka panjangteratur, diet dan olahraga.
10. Kriteria Rujukan:
Gagal Jantung dengan perburukan.
11. Setelah petugas memeriksa pasien, petugas melakukan hand
hygiene
1. Klinik Umum
2. Klinik Lansia
6. Unit Terkait
3. Klinik Gizi
4. Ruang Obat