Anda di halaman 1dari 4

Nama : Hotman Siregar

NIM : 141201055

PENYAKIT Ganoderma
Ganoderma boninense lebih cepat menyerang tanaman kelapa sawit di lahan gambut
karena tunggul-tunggul kelapa sawit yang masih tersisa dalam tanah merupakan sumber
infeksi yang paling kuat di kebun peremajaan (bekas kelapa sawit). G. boninense dapat
menyerang kelapa sawit pada tahap produksi dan pembibitan. Gejala yang khas sebelum
terbentuknya tubuh buah jamur, ditandai adanya pembusukan pada pangkal batang, sehingga
menyebabkan busuk kering pada jaringan dalam.
Pengendalian penyakit busuk pangkal batang diperlukan teknik yang tepat terutama
pengendalian yang bersifat ramah lingkungan. Salah satu adalah pemanfaatan Trichoderma
sp. SBJ8, isolat lokal yang dibuat menjadi biofungisida Ganofend, dan telah dimanfaatkan
untuk pengendalian G. boninense selama tahap produksi dilahan gambut. G. boninense
diketahui tidak hanya menyerang tanaman kelapa sawit pada tahap produksi saja tetapi juga
dapat menyerang selama tahap pembibitan. Oleh karena itu penggunaan biofungisida
Ganofend dapat diberikan sejak awal perkecambahan hingga pembibitan untuk menekan
serangan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit di tahap produksi.
Jamur G. Applanatum merupakan salah satu contoh jamur bracket-jamur makro yang
tidak edible-tahunan yang sangat umum ditemukan. Bagian bawah berwarna putih krem dan
kalau dilukai akan berbekas cokelat. Pada saat melepaskan spora sebagian besar tubuh
buahnya akan tertutupi warna seperti debu berwarna cokelat. Jamur yang tubuh buahnya bisa
bertahan hidup beberapa tahun ini tidak bisa dimakan. Kalau dipotong akan terlihat lapisan
tube-himenium yang terdiri dari pori-pori sporanya. Jumlah lapisan tube ini menunjukkan
umur tubuh buah. Umum dijumpai pada dasar pohon hutan baik pada daun lebar maupun
daun jarum. Seringkali dijumpai pada batang pohon yang tumbang atau yang berlubang atau
pada tunggul kayu. Diameter panjang tubuh buah 15-50 cm dan 5-10 cm tebal. Pinggiran
tubuh buahnya berwarna putih off dan permukaan atas cokelat. Kedalaman pori/tube-nya
lebih dari 12 mm. Diameter lubang pori kecil dan khas (5 buah per mm2), berwarna putih
pada tubuh buah muda kemudian menjadi cokelat seiring umur atau rusak.
Spesies Ganoderma sangat sulit untuk diidentifikasi secara meyakinkan karena
keragamannya yang besar, demikian pula dengan G. lucidum. Tudung tubuh buah dapat
mencapai diameter lebih 35 cm dengan ketebalan 4 cm. Tube berwarna cokelat dengan
kedalaman 5-20 mm dan 8- 10 mm. Pori-porinya kecil bulat warnanya putih saat tubuh buah
muda, kemudian berubah cokelat seiring umur atau memar/rusak. Jejak spora berwarna
cokelat. Bau/rasa tidak significant. Habitat The Lacquered Bracket ini umumnya pada dasar
pohon kehutanan atau pada tunggul dari pohon oak yang baru ditebang, tetapi kadang-kadang
ditemukan pada pohon daun lebar. Pada saat tubuh buah muda teksturnya lunak, kemudian
mengeras melalui musim gugur dan meluruh pada tahun berikutnya. Tubuh buah muncul
biasanya pada musim gugur, di Inggris dan Irlandia kejadiannya jarang. Mirip spesies G.
applanatum, jamur artis ini mempunyai perbedaan yaitu warna oker cokelat putih dengan
margin yang jauh lebih tipis dari G. Lucidum.
Ganoderma spp. adalah organisme luar biasa yang dapat secara eksklusif
mendegradasi lignin menjadi air dan CO2 setelah berbagai reaksi yang ada, selulosa menjadi
tersedia sebagai nutrisi bagi jamur tersebut. Gejala serangan Ganoderma spp. tingkat ringan
pada tanaman secara umum adalah layu, tidak berkembang, kehilangan helai daun sampai
lodoh pada batang. Pada serangan tingkat lanjut, secara umum penyakit dapat diidentifikasi
dengan kemunculan tubuh buah. Tubuh buah ini keras dan berkayu dengan ukuran yang
cukup besar. Ukuran tubuh buah dapat mencapai diameter 15 cm dan ketebalan 5 cm. Warna
tubuh buah dari cokelat muda hingga cokelat tua dan bahkan jingga. Bagian atas tubuh buah
dapat agak mengkilat dengan bagian bawah berwarna putih. Bagian permukaan bawah
berwarna putih kekuning-kuningan tersusun dari jutaan pori-pori tempat ribuan basidia
tumbuh dan menghasilkan jutaan spora. Spora Ganoderma diproduksi serentak, mengepul
bagaikan asap rokok dari bagian permukaan bawah tubuh buah, terutama terjadi pada pagi
hari ketika suhu di lapangan mulai naik. Spora yang diterbangkan oleh angin dan dibawa
terbang oleh serangga diduga memiliki peran penting dalam penularan penyakit dari tanaman
yang satu ke tanaman yang lain pada jarak yang melebihi jarak perkembangan sistem
perakaran. Mekanisme penularan penyakit busuk akar terjadi melalui perpindahan spora
Ganoderma dari pohon yang terinfeksi atau kontak antara akar pohon yang sakit dengan
pohon yang masih sehat.
Ganoderma spp. ialah anggota cendawan divisi Basidiomycota, kelas
Agaricomycetes, ordo Polyporales, famili Ganodermataceae, ordo Ganoderma. Miselia
cendawan ini bereproduksi secara seksual dengan cara menghasilkan tubuh buah yang
disebut basidiokarpus. Basidiokarpus menghasilkan banyak basidiospora yang merupakan
spora seksual. Reproduksi aseksual pada cendawan ini lebih jarang terjadi. Miselia cendawan
ini mampu tumbuh sangat cepat, misalnya pada media serbuk batang kelapa sawit atau
potongan akar kelapa sawit, dan mulai membentuk bakal basidiokarpus setelah 30 hari
inokulasi, dan tumbuh sempurna setelah 90 hari. Siklus hidup cendawan Ganoderma spp.
Jika media tempat hidup cendawan ini adalah batang kelapa sawit maka dibutuhkan waktu
bertahun-tahun hingga tumbuh tubuh buah basidiokarpus sempurna. Cendawan Ganoderma
spp. menyebabkan penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit.
Penyakit ini menyerang sistem perakaran dan gejala penyakit yang ditimbulkannya hanya
terlihat sangat lambat pada akhir infeksi sehingga tanaman yang sakit tidak dapat
diselamatkan. Kerugian serius terjadi pada generasi tanaman lanjut setelah mengalami masa
panen sebanyak tiga kali atau tanaman generasi ketiga dan serangan penyakit ini dapat
mencapai 60% populasi tanaman. Oleh karena itu pengembangan sistem deteksi dini yang
cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak yang akan terjadi akibat
serangan cendawan tersebut.
Penanggulangan akibat serangan penyakit BPB ini yang sudah dilakukan sampai saat
ini diantaranya menggunakan antibodi, namun hasil tersebut kurang spesifik karena bereaksi
juga dengan cendawan saprofit lainnya seperti Peniclllium, Aspergillus dan Trichoderma.
Metode deteksi yang cepat dan akurat dapat dikembangkan dengan teknik molekuler berbasis
PCR (Polymerase Chain Reaction).
Jamur pelapuk kayu dan penyebab penyakit pada pohon pohon hutan sebagian besar
berasal dari beberapa spesies Ganoderma spp.. Ganoderma spp. merupakan jamur tingkat
tinggi yang tergolong dalam kelas Basidiomycetes ordo Polyporanceae family
Ganodermataceae. Ganoderma spp. adalah jamur polyporus yang mempunyai daerah
penyebaran tempat tumbuh yang cukup luas dan dikenal sebagai penyebab penyakit akar
pada banyak jenis tanaman berkayu. Di hutan alam jamur ini cenderung menyerang pohon-
pohon tua atau yang telah mengalami penurunan pertumbuhan, dan juga dapat menyebabkan
pembusukan kayu kayu yang sudah mati.
Pada hutan tanaman dan perkebunan jamur ini telah dilaporkan menjadi pathogen
akar yang potensial dan telah banyak menyerang beberapa jenis tanaman. Tubuh buah
merupakan hasil pembuahan seksual yang menyerupai cakram dengan permukaan atas
berwarna coklat muda sampai coklat tua dan permukaan bawah berwarna putih sampai krem,
berstruktur liat pada waktu muda dan keras pada waktu tua. Tubuh buah mula-mula tampak
sebagai bongkol kecil berwarna putih, terus berkembang membentuk kipas yang lebar dan
tebal. . Kadang-kadang tubuh buah membentuk tangkai atau saling bersambungan sehingga
menjadi suatu susunan yang besar. Disamping hidup sebagai parasit, Ganoderma spp.
Mampu hidup sebagai saprofit dengan memanfaatkan sisa-sisa tanaman, seperti sisa-sisa akar
dalam tanah, ranting-ranting, dan batang pohon di hutan.
Busuk pangkal batang merupakan gejala umum dari penyakit yang disebabkan oleh
Ganoderma boninense pada tanaman kelapa sawit. Pada beberapa kasus, serangan
Ganoderma menyebabkan gejala busuk batang atas atau penyakit upper stem rot. Gejala
penyakit busuk pangkal batang dan penyakit busuk batang atas umum ditemukan pada lokasi
kebun yang sama. Perbandingan antara penyakit busuk batang atas dan busuk pangkal batang
berkisar antara 1:10 sampai 1:1 dan bahkan pada beberapa kebun, penyakit busuk batang atas
lebih banyak daripada busuk pangkal batang, khususnya pada daerah yang menggunakan
bahan tanaman yang rentan terhadap penyakit ini. Sebelumnya dilaporkan bahwa penyebab
penyakit busuk batang atas salah satunya ialah Phellinus noxius, meskipun demikian banyak
yang menyebutkan bahwa penyebab penyakit busuk batang atas ialah G. Boninense. Tubuh
buah Ganoderma dapat mencapai diameter 30 cm. Warna permukaan atas tubuh buah
berwarna kecokelatan dengan garis putih kekuningan. Pada saat matang, bagian atas tubuh
buah mengkilat. Permukaan bawah berwarna putih suram yang terdiri atas pori tempat
terbentuknya basidium berupa tabung hialin bulat dengan diameter 12 um, basidiospora
berwarna kecokelatan dengan ukuran 11 m x 78 m.
Patogen penyebab penyakit busuk batang atas pada kelapa sawit merupakan patogen
primer karena tanda penyakit berupa tubuh buah ditemukan pada tanaman yang masih hidup.
Tubuh buah ini juga ditemukan pada tanaman yang sudah menunjukkan gejala busuk batang
atas. Gejala busuk batang atas atau busuk pangkal batang ditentukan melalui pembedahan
pada pangkal batang. Jika batang menunjukkan sehat atau tidak ada pembusukan dari arah
bawah berarti gejala busuk batang atas.

Sumber :
Alviodinasyari, R., A. Martina, dan W. Lestari. 2015. Pengendalian Ganoderma boninense
Oleh Trichoderma sp. SBJ8 Pada Kecambah Dan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis
Jacq.) Di Tanah Gambut. JOM FMIPA Volume 2 No. 1.

Herliyana, E. N., D. Taniwiryono, dan H. Minarsih. 2012. Penyakit Akar Ganoderma sp.
pada Sengon di Jawa Barat dan Jawa Timur. JMHT Vol. 18 (2) : 100-109.

Rahayu, N. 2013. Perancangan Primer Untuk Pengembangan Sistem Deteksi Berbasis PCR
(Polymerase Chain Reaction) Pada Ganoderma Spp. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Susanto, A., A. E. Prasetyo, H. Priwiratama, S. Wening, dan Surianto. 2013. Ganoderma


boninense Penyebab Penyakit Busuk Batang Atas Kelapa Sawit. Jurnal Fitopatologi
Indonesia Vol. 9 (4) : 123-126.
Zainal, P. 2011. Uji Inokulasi Ganoderma spp. Terhadap Tanaman Sengon (Paraserianthes
falcataria) Sebagai Tanaman Penaung Kakao (Theobroma cacao). Institut Pertanian
Bogor. Bogor.

Anda mungkin juga menyukai