Anda di halaman 1dari 4

Makalah Lengkap

Deteksi & Solusi Gangguan Pendengaran dalam


Meningkatkan Kualitas Hidup
(Tingkat Layanan Kesehatan Primer sampai Tersier)

Diterbitkan oleh :
Bagian THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Padang, 2015

Layout : dr. Sukri Rahman Sp.THT-KL


dr. Ferdy Azman
dr. Rahmadona

ISSN : 2442-2215

ii | Deteksi & Solusi Gangguan Pendengaran Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup


3
Deteksi dan Solusi Gangguan Pendengaran

Dr. Sukri Rahman, Sp.THT-KL


Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas- RSUP Dr.M.Djamil Padang

Deteksi dan penatalaksanaan gangguan pendengaran baik pada anak


maupun dewasa harus dilakukan sedini mungkin, pada anak gangguan
pendengaran sangat mempengaruhi kemampuan belajar dan perkembangan bicara,
sementara pada orang dewasa gangguan ini akan menurunkan kualitas hidup,
dimana penurunan pendengaran akan berdampak pada pekerjaan, proses belajar
dan kehidupan sehari-hari.
Dalam deteksi gangguan pendengaran terdapat tiga kategori yang dinilai
yaitu jenis gangguan pendengaran, derajat gangguan dan konfigurasi gangguan
pendengaran. Ketiga kategori ini akan menentukan pada penetapan solusi atau
penatalaksanaannya. Jenis (tipe) gangguan pendengaran dapat menentukan
penyebab gangguan pendengaran, yang bermanfaat dalam penentuan tatalaksana
yang paling tepat. Terdapat tiga jenis yaitu konduktif, sensorineural dan campur.
Gangguan pendengaran konduktif disebabkan kelainan di telinga luar dan atau
telinga tengah, sementara gangguan sensorineural disebabkan oleh gangguan di
telinga dalam dan atau saraf pendengaran.
Derajat gangguan pendengaran juga menentukan pilihan penatalaksanaan,
berdasarkan derajatnya gangguan pendengaran dibedakan menjadi gangguan
ringan (26-40 dB), sedang (41-55 dB), sedang-berat (56-70 dB), berat (71-90 dB)
dan sangat berat (>90 dB). Sementara itu konfigurasi gangguan pendengaran juga
penting, konfigurasi maksudnya adalah pola gangguan pendengaran berdasarkan
frekuensi seperti pada pemeriksaan audiometri nada murni (audiogram).
Contohnya pada presbikusis, gangguan lebih berat pada frekuensi tinggi.
Disamping tiga hal di atas, pada deteksi gangguan pendengaran juga perlu
diketahui apakah gangguan yang terjadi bilateral atau unilateral, terjadi secara
mendadak atau berangsur-angsur, simetris pada kedua telinga atau asimetris dan
apakah gangguan pendengaran yang dialami berfluktuasi atau menetap. Data-data
tersebut sangat penting dalam nenetapkan solusi (penatalaksanaan) gangguan
yang terjadi.
Kemajuan teknologi dan peningkatan pemahaman dalam bidang audiologi,
telah membawa manfaat dalam deteksi dini gangguan pendengaran. Deteksi
gangguan pendengaran pada bayi dapat dilakukan mulai usia 2 hari, dengan OAE
(Oto Acoustic Emission) dan atau BERA (Brainstem Evoked Response
Audiometry) otomatis, kedua pemeriksaan ini bersifat noninvasif dan dapat
memberikan gambaran keadaan koklea pada pemeriksaan OAE dan keadaan

21 | Deteksi & Solusi Gangguan Pendengaran Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup


sampai inti-inti syaraf pendengaran di batang otak pada pemeriksaan BERA.
Pada pemeriksaan ini akan memberikan hasil secara otomatis berupa PASS yang
berarti tidak terdapat gangguan, dan REFER yang berarti terdapat masalah yang
perlu ditindaklanjuti berupa pemeriksaan ulang pada usia 3 bulan. Pada
pemeriksaan yang dilakukan pada usia 3 bulan sudah bersifat diagnostik, pada
usia ini dilakukan pemeriksaan Fisik THT, Timpanometri, Free Filed Test (FFT),
OAE dan BERA klik serta ASSR (Auditory Steady State Response), semua
pemeriksaan ini bersifat noninvasif. Apabila terdapat gangguan pendengaran,
habilitasi pendengaran berupa alat bantu dengar seharusnya diberikan dan disertai
terapi wicara yang efektif sebelum bayi berumur 6 bulan. Pada beberapa kasus
dengan gangguan pendengaran sangat berat bilateral tidak mendapat manfaat
dengan pemakaian alat bantu dengar, membutuhkan impan koklea.
Pada anak, metode pemeriksaan tergantung umur, pada anak yang lebih
besar pemeriksaan pendengaran dapat dilakukan seperti pada orang dewasa
apabila sudah dapat diajak bekerjasama, namun pada anak yang lebih kecil
dilakukan pemeriksaan seperti pada bayi.
Pemeriksaan pendengaran pada dewasa lebih sederhana. Sebelum
melakukan pemeriksaan pendengaran elektrofisologis, harus dilakukan
pemeriksaan fisik THT. Untuk mengetahui jenis, derajat dan konfigurasi
gangguan pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni.
Disamping pemeriksaan ini biasanya dilakukan pemeriksaan timpanometri untuk
mengetahui keadaan telinga tengah, serta audiometri tutur (speech audiometry).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat juga ditentukan penyebab gangguan,
gangguan akibat masalah di telinga tengah biasanya diberikan pengobatan atau
operasi, alat bantu dengar hanya diberikan apabila kedua metoda pengobatan
tersebut tidak dapat dilakukan atau tidak memperbaiki pendengaran. Pada
gangguan akibat masalah di telinga dalam dan saraf pendengaran, alat bantu
dengar dapat membantu.
Terdapat beragam bentuk, ukuran dan besarnya amplifikasi yang dapat
diberikan oleh alat bantu dengar, di samping juga dilengkapi fitur-fitur tertentu.
Namun secara umum alat ini terdiri dari komponen yang sama yaitu mikrofon
untuk menangkap suara, amplifier untuk memperkeras suara, receiver berupa
speaker mini untuk meneruskan suara yang sudah diperkeras ke telinga dan
tombol On/Off serta baterai sebagai sumber listrik. Beberapa alat bantu juga
dilengkapi earmolds sesuai bentuk liang telinga.
Berdasarkan bentuk dan ukurannya alat bantu dengar dapat berupa In the
Canal (ITC) atau Completely In the Canal (CIC), In the Ear (ITE) dan Behind the
Ear (BTE). Berdasarkan teknologinya alat bantu dibedakan menjadi digital dan
analog konvensional dan analog yang dapat diprogram. Pada alat bantu digital
memiliki semua fitur yang terdapat pada analog yang dapat diprogram namun
menggunakan digitized sound processing (DSP) yang mengubah bunyi menjadi
sinyal digital. Alat akan menganalisa sinyal untuk membedakan bunyi bising dan

22 | Deteksi & Solusi Gangguan Pendengaran Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup


bunyi suara, selanjutnya memodifikasinya sehingga didapatkan bunyi yang bersih
dan lebih keras.
Pada beberapa kasus yang tidak dapat dipasang alat bantu dengar, dapat
diberikan alat bantu yang ditanamkan seperti BAHA (Bone Anchored Hearing
Aids). Habilitasi dan Rehabilitasi dengan teknik lain juga dibutuhkan seperti
teknik membaca bibir dll.

Daftar Pustaka:
1. Joint Commitee on Infant Hearing. Year 2007 Position Statement: Principles and
Guidelines for Early Hearing Detection and Intervention Program. Pediatrics
2007;120(4):898-921
2. Browning G. Clinical Assessment of Hearing: Free Field Voice testing & Tuning
Forks. Open Access Guide to Audiology and hearing aids for Otolaryngologist.
Available from: https://vula.uct.ac.za
3. American Speech-Language Hearing Association. Hearing Loss. Available from:
http://www.asha.org/public/hearing/Hearing-Loss/
4. Stach B A. Clinal Audiology, An Introduction 2nd ed. Clifton Park(NY): Delmar;
2010.

23 | Deteksi & Solusi Gangguan Pendengaran Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup