Anda di halaman 1dari 5

Program Studi Teknik Sipil

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan


Universitas Mercu Buana 12
MODUL 12
DISTRIBUSI TEGANGAN DALAM TANAH

1. PENGERTIAN DASAR

Tegangan didalam tanah yang timbul akibat adanya beban dipermukaan


dinyatakan dalam istilah tambahan tegangan (stress increment), karena sebelum
tanha dibebani, tanah sudah mengalami tekanan akibat beratnya sendiri yang disebut
tekanan overburden.
Analis tegangan di dalam tanah didasrkan pada anggapan bahwa tanah bersifat
elastis, homogen, isotropi,dan terdapat hubungan linier antara tegangan dan regangan.
Dalam analisisnya,regangan volumetric pada bahan yang bersifat elastis dinyatakan
oleh persamaan :

V 1 2
= ( X + Y + Z ) (1)
V E

Dengan
V = perubahan volume
V = volume awal
= angka poison
E = modulus elastis
x,y, z = tegangan-tegangn dalam arah x,y,dan z

Dalam Persamaan (1), bila pembebanan yang mengakibtkan penurunan, terjadi


pada kondisi tak terdrainase (undrained), atau penurunan trerjadi pada volume
konstant, maka V/V = 0. Dalam kondisi ini, angka poison = 0,5. Jika pembebanan
menyebabkan perubahan volume (contohnya penurunan akibat proses konsolidasi),
sehingga V/V .0, maka < 0,5.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Desiana Vidayanti MT


MEKANIKA TANAH 1
2. BEBAN TITIK
Boussinesq (1885) memberikan persamaan penyebaran beban akibat pengaruh
beban titik dipermukaan . Tambahan tegangan vertikal (z) akibat beban titik dianalisi
dengan meninjau sistem tegangan pada kordinat silender (Gambar.3). Dalam teori ini,
tambahan tegangan vertikal (z) pada suatu titik dalam tanahakibat beban titik Q
dipermukaan, dinyatakan oleh persamaan:

5/ 2
3Q 1
z = (.2)
2z 2 1 + (r / z )2

dengan :
z = tambahan tegangan vertikal
z = kedalaman titik yang ditinjau
r = jarak horizontal titik didalam tanah terhadap garis kerja beban

Jika faktor pengaruh untuk beban titik didefinisikan sebagai :


5/ 2
3 1
I= (.3)
2 1 + (r / z )2

Maka Persamaan (4.2) akan menjadi


Q
z = I (.4)
z2
Nilai IB yang disajikan dalam bentuk grafik diperlihatkan dalam Gambar 4 (Taylor,1984)

Gambar 3 Tambahan tegangan vertikal akibat beban titik

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Desiana Vidayanti MT


MEKANIKA TANAH 1
Gambar 4 Faktor pengaruh (I) akibat beban titik, didasarkan teori
Boussinesq (Taylor, 1948)

Contoh Soal;
Susunan fondasi diperlihatkan dalam Gambar C1 Beban kolom A = 400kN, kolom B =
200kN dan kolom-kolom C = 100kN. Bila beban kolom dianggap sebagai beban titik,
hitung tambahan tegangan dibawah pusat fondasi-fondasi A,B, dan C, pada kedalaman
6m dibawah pondasi.

Penyelesaian :
Beban-beban kolom dianggap sebagai beban titik, karena itu tambahan tegangan
dibawah masing-masing fondasi dapat dihitung dengan persamaan :

Q
z = I
z2
Fondasi-fondasi diberi nama menurut nama kolom. Dalam soal ini, karena susunan
fondasi simetri, tambahan tegangan dibawah pondasi B dan C, pada kedalaman yang
sama akan menghasilkan z yang sama.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Desiana Vidayanti MT


MEKANIKA TANAH 1
Gambar C1

(1) Untuk fondasi-fondasi B:


z (B1) = z (B2) = z (B3) = z (B4)
(2) Untuk fondasi-fondasi C:
z (C1) = z (C2) = z (C3) = z (C4)

(a) Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi A

Hitung faktor pengaruh I pada kedalaman 6 m dibawah fondasi A, dilakukan dalam


Tabel C1a.

Tabel C1a. Faktor pengaruh I dibawah fondasi A

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Desiana Vidayanti MT


MEKANIKA TANAH 1
Tambahan tegangan akibat beban fondasi A
= 1 x 400/62 x 0,478 = 5,2 kN/ m2
Tambahan tegangan akibat beban fondasi B
= 1 x 200/62 x 0,273 = 6,0 kN/ m2
Tambahan tegangan akibat beban fondasi C
= 1 x 100/62 x 0,172 = 1,9 kN/ m2
Tambahan tegangan dibawah fondasi A pada kedalaman 6 m:
z (A) = 5,2 + 6,0 + 1,9 = 13,1 kN/m2

(b) Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B


Ditinjau fondasi B1. Dihitung jarak-jarak antara pusat fondasi B1 dengan yang lain:
BC1= B1C2 = B1A = 3 m

B1B2 = B1B3 = 3 2 + 3 2 = 4,24 m

B1C3 = B1C4 = 6 2 + 3 2 = 6,71 m


B1B4 = 6,0 m

Hitung I dibawah pusat pondasi B1, pada kedalaman z = 6 m, oleh akibat beban-
bebanseluruh pondasi diletakkan pada Tabel C.1b

Tabel C.1b Faktor pengaruh I dibawah fondasi B1

Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B1, akibat beban fondasi A


= 400/62 x 0,273 = 3,03 kN/ m2
Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B1, akibat beban fondasi B
= 200/62 x (0,478 + 0,172 + 0,172 + 0,084) = 5,03 kN/ m2
Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B1, akibat beban fondasi C

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Desiana Vidayanti MT


MEKANIKA TANAH 1