Anda di halaman 1dari 110

Laporan Mikrobiologi 2

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
MODUL II
STERILISASI, PEMBUATAN MEDIA, DAN PEWARNAAN
Disusun Oleh
Riana Mentarijuita
26020110110042
Kelompok 1
Asisten
Mukti Kusumaningrum Diana Putri
K2D008056

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bakteri ada dimana-mana. Dalam tanah, air dan udara. Bahkan dalam perut hewan dan
manusia, di sumber air panas dan di lapisan es yang amat dingin. Definisi mikroba adalah sebagai
ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani,
mikros = kecil, bios = hidup dan logos = ilmu. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme
sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di
laut, atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. Sebagai
makhluk hidup pertama di bumi, mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua
makhluk hidup
Mikrobiologi adalah sebuah cabang dari ilmu biologi yang mempelajari mikroorganisme.
Objek kajiannya biasanya adalah semua makhluk (hidup) yang perlu dilihat dengan mikroskop,
khususnya bakteri, fungi, alga mikroskopik, protozoa, dan Archaea. Virus sering juga dimasukkan
walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai makhluk hidup (Jutono, 1972).
Mikrobiologi dimulai sejak ditemukannya mikroskop dan menjadi bidang yang sangat
penting dalam biologi pada zaman Loius Pasteur. Perkembangan biologi yang pesat pada abad
ke-19 terutama dialami pada bidang ini dan memberikan landasan bagi terbukanya bidang penting
lain: biokimia. Awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu
menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa
organik yang baru.
Mikroorganisme yang ingin kita tumbuhkan, yang pertama harus dilakukan adalah
memahami kebutuhan dasarnya kemudian memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan
digunakan. Air sangat penting bagi organisme bersel tunggal sebagai komponen utama
protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium sebaiknya
menggunakan air suling. Air sadah umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang
tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ektrak daging, air dengan kualitas air sadah
sudah dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan magnesium fosfat (Hadioetomo,
1993).
Peran mikroba yang menguntungkan, antara lain dalam hal membantu metabolisme, sebagai
bahan pakan atau pakan tambahan, dan probiotik. Dalam hal metabolisme, mikroba mampu
menghidrolisis selulosa, karena enzim selulosa yang dimilikinya. Selain itu bakteri mampu
menggunakan urea sebagai sumber N. Dalam penyediaan bahan pakan/pakan tambahan, terdapat
jenis mikroba yang sangat potensial.
Salah satu bagian yang penting dalam mikrobiologi adalah pengetahuan tentang cara-cara
mematikan, menyingkirkan, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Cara yang
digunakan untuk menghancurkan, menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan menyingkirkan
mikroorganisme berbeda-beda tergantung spesies yang dihadapi. Selain itu lingkungan dan tempat
mikroba ini pun berbeda-beda misalnya dalam darah, makanan, air, sampah, roil, dan tanah. Hal
tersebut juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan cara untuk
menghancurkan mikroorganisme yang digunakan tergantung pada pengetahuan, keterampilan dan
tujuan dari yang melaksanakannya, sebab tiap situasi yang dihadapi merupakan kenyataan-
kenyataan dasar yang dapat menuntun pada cara atau prosedur yang harus dilakukan.
Alat yang akan digunakan dalam suatu penelitian atau praktikum harus disterilisasi terlebih
dahulu untuk membebaskan semua bahan dan peralatan tersebut dari semua bentuk kehidupan.
Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme yang teradapat pada suatu
benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran
dan udara panas), penyaringan, penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat,
formaldehida dan glutaraldehida alkalin) (Hadioetomo, 1993).
Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua
bentuk kehidupan. Sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan
kimiawi.
Organisme hidup memerlukan nutrisi untuk pertumbuhannya. Subtansi kimia organik dan
inorganik diperoleh dari lingkungan dalam berbagai macam bentuk. Nutrien diambil dari likungan
kemudian ditransformasikan melalui membran plasma menuju sel. Di sel beberapa nutrisi diolah
menghasilkan energi yang digunakan dalam proses seluler (Lim, 1998). Bakteri dalam medium
juga memerlukan makanan untuk pertumbuhannya. Bakteri yang tidak punya akar harus berada
pada permukaan larutan makanan yang cair. Pertumbuhan bakteri berarti meningkatnya jumlah sel
yang konstituen (yang menyusun). Apabila disusun 10 bakteri dalam 1 ml medium yang cocok
dan 24 jam kemudian ditemukan 10 juta bakteri tiap milimeternya, maka terjadilah pertumbuhan
bakteri. Meningkatnya jumlah bakteri terjadi dengan proses yang disebut dengan pembelahan
biner, dimana setiap bakteri membentuk dinding sel baru (Volk, 1993).
Pertumbuhan bakteri selain memerlukan nutrisi, juga memerlukan pH yang tepat.
Kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada kondisi yang terlalu basa, kecuali Vibrio cholerae
yang dapat hidup pada pH lebih dari 8. Suhu juga merupakan variabel yang perlu dikendalikan.
Kelompok terbesar yaitu mesofil, suhu optimum untuk pertumbuhannya 20-40oC (Volk, 1993).
Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji
sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus
disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. Berikut
ini beberapa media yang sering digunakan secara umum dalam mikrobiologi.
Pada Praktisnya, semua media tersebut secara komersial dalam bentuk bubuk, seperti
PCA(Plate Count Agar), NA(Nutrient Agar), TSA (Trypticase Soy Agar) dan lain-lain.
Metode pengecatan pertama kali ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Dengan
metode ini. Bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua yatu, bakteri gram positif dan bakteri gram
negative. Yang didasarkan dari reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat
bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pengecatan gram tidak bias
dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp
(Tryana, 2008).
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangatlah sulit, karena selain bakteri
itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengamati hal tersebut maka
dikembangkansuatu teknik pewarnaan sel bakteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah
diamati. Oleh karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling
utama dalam penelitian-penelitisn mikrobiologi (Rizki, 2008).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa praktikum mikrobiologi mengenai sterilisasi,
pembuatan media, serta pengecatan sangatlah diperlukan. Karena dengan mengetahui serta
memahaminya. Praktikan akan menguasainya dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari. Sehingga ilmu mikrobiologi yang benar dapat diterapkan dalam dunia kelautan.

1.2 Tujuan

- Praktikan memahami bermacam-macam teknik sterilisasi.


- Praktikan dapat mengoperasikan alat-alat sterilisasi.
- Praktikan memahami mengenai bermacam-macam media.
- Praktikan dapat membuat media.
- Praktikan memahami bermacam-macam teknik pewarnaan.
- Praktikan dapat melakukan gram, acid fast, pewarnaan endospore, dan pewarnaan flagella.

1.3 Manfaat
- Mahasiswa menjadi mengetahui lebih mendalam mengenai pentingnya sterilisasi sebagai teknik
utama dalam mikrobiologi.
- Praktikan pun mampu mengaplikasikan teknik sterilisasi dalam kehidupan sehari-hari, apabila
ingin melakukan penelitian mengenai Mikroba.
- Mahasiswa mengerti perbedaan dari media dimana sebagai tempat tumbuh mikroba. Praktikan
mengerti tentang pewarnaan pada mikroba, sehingga dapat diaplikasikan langsung.
- Praktikan pun mengetahui perbedaan dalam pengamatan bakteri dari berbagai penelitian
mengenai pewarnaan bakteri itu sendiri.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Mikrobiologi

Mikrobiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari kehidupan makhluk yang bersifat
mikroskopik yang disebut mikroorganisme atau jasad renik, yaitu makhluk yang mempunyai
ukuran sel sangat kecil dimana setiap selnya hanya dapat dilihat dengan pertolongan mikroskop.
Dalam teknologi pangan, mikrobiologi merupakan ilmu yang sangat penting, misalnya dalam
hubungannya dengan kerusakan atau kebusukan makanan sehingga dapat diketahui tindakan
pencegahan atau pengawetan yang paling tepat untuk menghindari terjadinya kerusakan tersebut.
Di samping itu, mikrobiologi juga penting dalam fermentasi makanan, sanitasi, pengawasan mutu
pangan, dan sebagainya. Adanya jasad renik di dalam makanan mungkin tidak diinginkan jika
jasad renik tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan kebusukan makanan, atau menyebabkan
keracunan bagi yang mengkonsumsinya. Tetapi dalam fermentasi makanan dan minuman,
pertumbuhan jasad renik justru dirangsang untuk mengubah komponen-komponen di dalam bahan
pangan tersebut menjadi produk-produk yang diinginkan (Tortora dkk, 2010).
Selain itu, Mikrobiologi adalah merupakan suatu cakupan tentang biologi dimana berkaitan
dengan bentuk kehidupan kecil yang tidak dapat di observasi tanpa pembesaran. Mereka seperti
bakteri, virus, fungi, protozoa, algae, dan helminthes (Cacing Parasit).
Mikrobiologi juga merupakan satu dari ilmu yang terbesar dan terkompleks mengenai ilmu
biologi sendiri. Ini dikarenakan kedisplinan yang tinggi untuk melakukan observasi kepada
mikroorganisme. Umumnya mikrobiologi mempelajari aspek-aspek dari mikroba, seperti genetic
mereka, fisiologi, karateristik yang mungkin dapat menguntungkan maupun tidak, cara mereka
berinteraksi dengan lingkungan, dan cara mereka berinteraksi dengan inang dan pemanfaatan
mereka untuk industry dan agriculture.

Bidang-bidang khusus yang berkaitan dengan mikrobiologi, yaitu :


1. Geomicrobiologist : Dimana focus dengan peran mikroba dalam pembentukan earth
crust.
2. Marine microbiologist : Dimana mempelajari samudera dan organisme laut yang kecil.
3. Medical technologist : Dimana mengetes serta membantu mendiagnosa bakteri pathogen dan
penyakit yang ditimbulkan.
4. Astrobiologist : Dimana mempelajari kemungkinan organisme di angkasa (Kathleen, Park,
2009).

2.2 Sejarah Mikrobiologi

Antony van Leeuwenhoek (16321723) sebenarnya bukan peneliti atau ilmuwan yang
profesional. Profesi sebenarnya adalah sebegai wine terster di kota Delf, Belanda. Ia biasa
menggunakan kaca pembesar untuk mengamati serat-serat pada kain. Sebenarnya ia bukan orang
pertama dalam penggunaan mikroskop, tetapi rasa ingin tahunya yang besar terhadap alam semesta
menjadikannya salah seorang penemu mikrobiologi. Leewenhoek menggunakan mikroskopnya
yang sangat sederhana untuk mengamati air sungai, air hujan, saliva, feses dan lain sebagainya. Ia
tertarik dengan banyaknya benda-benda bergerak tidak terlihat dengan mata biasa. Ia menyebut
benda-benda bergerak tadi dengan animalcule
yang menurutnya merupakan hewan-hewan yang sangat kecil. Penemuan ini membuatnya lebih
antusias dalam mengamati benda-benda tadi dengan lebih meningkatkan fungsi mikroskopnya.
Hal ini dilakukan dengan menumpuk lebih banyak lensa dan memasangnya di lempengan perak.
Akhirnya Leewenhoek membuat 250 mikroskop yang mampu memperbesar 200300 kali.
Leewenhoek mencatat dengan teliti hasil pengamatan tersebut dan mengirimkannya ke British
Royal Society. Salah satu isi suratnya yang pertama pada tanggal 7 September 1974 ia
menggambarkan adanya hewan yang sangat kecil, sekarang dikenal dengan protozoa. Antara tahun
16321723 ia menulis lebih dari 300 surat yang melaporkan berbagai hasil pengamatannya. Salah
satu diantaranya adalah bentuk batang, kokus maupun spiral yang sekarang dikenal dengan bakteri.
Penemuan-penemuan tersebut membuat dunia sadar akan adanya bentuk kehidupan yang sangat
kecil dan akhirnya melahirkan ilmu mikrobiologi.
Penemuan Leewenhoek tentang animalcules menjadi perdebatan dari mana asal
animalcules tersebut. Ada dua pendapat, satu mengatakan animacules ada karena proses
pembusukan tanaman atau hewan, melalui fermentasi misalnya. Pendapat ini mendukung teori
yang mengatakan bahwa makhluk hidup berasal dari proses benda mati melalui abiogenesis.
Konsep ini dikenal dengan generatio spontanea. Kedua mengatakan bahwa animalcules berasal
dari animalcules sebelumnya seperti halnya organismea tingkat tinggi. Pendapat atau teori ini
disebut biogenesis. Mikrobiologi tidak berkembang sampai perdebatan tersebut terselesaikan
dengan dibuktikannya kebenaran teori biogenesis. Pembuktian ini dilakukan berbagai macam
eksperimen yang nampaknya sederhana tetapi memerlukan waktu labih dari 100 tahun (Michael,
J. 1988).

2.2.1 Pembuktian Ketidakbenaran dari Abiogenesis


Franscesco Redi (16261697) menunjukkan bahwa ulat yang ada dalam daging busuk
adalah larva, yang berasal dari telur lalat, bukan hasil dari generatio spontanea. John Needham
(17131781) memasak sepotong daging untuk menghilangkan organisme yang ada dan
menempatkannya dalam toples yang terbuka. Akhirnya ia mengamati adanya koloni pada
permukaan daging tersebut. Ia menyimpulkan bahwa mikroorganisme terjadi spontan dari daging.
Lazarro Spalanzani (17291799) merebus kaldu daging selama 1 jam dan menempatkannya pada
toples yang disegel/ditutup rapat menunjukkan tidak ditemukannya mikroorganisme dalam kaldu
tersebut. Jadi eksperimen ini menentang teori abiogenesis. Tetapi Neddham mengatakan bahwa
sumber makhluk hidup tadi adalah udara dimana pada percobaan Spalanzani tersebut tidak
berinteraksi langsung dengan udara. Hampir 100 tahun setelah percobaan Needham ada 2 peneliti
yang mencoba memecahkan kontroversi tentang peran udara. Pada tahun 1836, Franz Schulze
melewatkan larutan asam kuat ke dalam tabung tertutup yang berisi daging yang telah dimasak.
Tahun 1837, Theodor Schwann mengalirkan udara panas melalui pipa ke dalam tabung
tertutup yang berisi kaldu. Keduanya tidak menemukan adanya mikroba sebab mikroba telah mati
oleh adanya asam kuat maupun oleh panas. Tetapi para pendukung teori generatio spontanea
berpendapat bahwa adanya asam dan panas akan mengubah udara sehingga tidak mendukung
pertumbuhan mikroba. Sampai akhirnya tahun 1954 peneliti menyelesaikan perdebatan tersebut
dengan melakukan percobaan menggunakan tabung tertutup berisi kaldu yang telah dipanaskan.
Ke dalam tabung tersebut dimasukkan pipa yang sebagiannya diisi dengan kapas dan ujungnya
dibiarkan terbuka. Dengan demikian mikroba akan tersaring dan udara tetap bisa masuk. Dengan
tidak ditemukannya mikroba akan tersring dan udara tetap bisa masuk. Dengan tidak
ditemukannya mikroba dalam kaldu daging tersebut membuktikan bahwa teori generatio
spontanea adalah salah (Campbell, N. A. Dan Reece, J. B., 2005).

2.2.2 Bukti Teori Biogenesis


Pada perioda yang sama muncul ilmuwan baru dari Fransis Louis Pasteur (18221895)
seorang ahli kimia yang menaruh perhatian pada mikroorganisme. Oleh karena itu ia tertarik untuk
meneliti peran mikroba dalam industri anggur dalam pembuatan alkohol. Salah satu pendukung
teori generatio spontanea yang hidup pada masa Louis Pasteur adalah Felix Archimede Pouchet
(18001872). Pada tahun 1859 ia banyak mempublikasikan tulisan yang mendukung abiogenesis.
Tetapi ia tidak dapat membantah penemuan-penemuan Pasteur. Untuk memastikan pendapatnya,
Pasteur melakukan serangkaian eksperimen, ia menggunakan bejana dengan leher panjang dan
dibengkokkan yang dikenal dengan leher angsa. Bejana ini diisi dengan kaldu kemudian
dipanaskan. Udara dapat dengan bebas melewati tabung atau pipa leher angsa tersebut tetapi tidak
ditemukan adanya mikroorganisme di kaldu tadi. Dalam hal ini mikroba beserta debu/asap akan
mengendap pada bagian tabung yang berbentuk U sehingga tidak dapat mencapai kaldu. Ia juga
membawa tabung tersebut ke pegunungan Pyrenes dan Alpen. Pasteur menemukan bahwa
mikroorganisme terbawa debu oleh udara dan ia menyimpulkan bahwa semakin bersih/murni
udara yang masuk ke dalam bejana, semakin sedikit kontaminasi yang terjadi. Pada tanggal 7 April
1864 ia mengatakan bahwa: For I hape kept them and am still keeping from them, that one thing
that is above the power of man to make; i have kept from them, the germ that float in the air, i have
kept them from file.
Salah satu argumen klasik untuk menantang biogenesis adalah bahwa panas yang
digunakan untuk mensterilkan udara atau bahan juga dianggap merusak vital force. Mereka yang
mendukung teori abiogenesis berpendapat bahwa tanpa adanya kekuatan vital force tersebut
mikroorganisme tidak dapat muncul serta spontan. Untuk merespon argumen tersebut John
Tyndall mengatakan udara dapat dengan mudah dibebaskan dari mikroorganisme dengan cara
melakukan pecobaan dengan meletakkan tabung reaksi berisi kaldu steril ke dalam kotak tertutup.
Udara dari luar masuk ke dalam kotak melalui pipa yang sudah dibengkokkan membentuk dasar
U seperti spiral. Terbukti bahwa meskipun udara luar dapat masuk ke dalam kotak yang berisi
tabung dengan kaldu di dalamnya, namun tidak ditemukan adanya mikroba. Hasil percobaan
Pasteur dan Tyndall memacu diterimanya konsep biogensis. Selanjutnya Pasteur lebih
memfokuskan penelitiannya pada peran mikroba dalam pembuatan anggur dan mikroba yang
menyebabkan penyakit (Robinson, R. K. 1990).

2.2.3 Teori Tentang Fermentasi


Fermentasi terjadi jika jur anggur kita biarkan. Melalui serangkaian perubahan biokimia,
alkohol dan senyawa lain dihasilkan dari anggur tersebut. Salah satu alasan mengapa Pasteur ingin
menentang pendapat generatio spontanea adalah keyakinannya bahwa produk fermentasi anggur
merupakan hasil mikroorganisme yang ada, bukan fermentasi menghasilkan mikroorganisme
sebagaimana yang dipercaya pada waktu tersebut. Pada tahun 1850. Pasteur memecahkan masalah
yang timbul dalam industri anggur. Dengan meneliti anggur yang baik dan anggur yang kurang
bagus Pasteur menemukan mikroorganisme yang berbeda.
Mikroorganisme tertentu mendominasi anggur yang bagus sementara tipe mikroorganisme
lain mendominasi anggur yang kurang bagus. Dia menyimpulkan bahwa pemilihan
mikroorganisme yang sesuai akan menghasilkan produk yang bagus. Untuk itu dia memusnahkan
mikroba yang telah ada dalam sari buah anggur dengan cara memanaskannya. Setelah dingin ke
dalam sari buah tersebut diinokulasi dengan anggur yang berkualitas baik yang mengandung
mikroorganisme yang diinginkan. Hasilnya menunjukkan bahwa anggur yang dihasilkan memiliki
kualitas yang baik dan tidak mengalami perubahan aroma
selama disimpan jika sebelumnya dipanasi dulu selama beberapa menit pada 5060 Proses ini
dikenal dengan pasteurisasi yang digunakan secara luas di bidang industri makanan. Sebelumnya
orang meningkatkan produk fermentasi melalui trial and error dimana sebelumnya tidak tahu
bahwa kualitas produk tergantung pada mikroorganisme tertentu (Robinson, R. K. 1990).

2.2.4 Penyebab Infeksi/Penyakit


Disamping membuat revolusi (perubahan besar) dalam bidang industri anggur, Pasteur dan
asistennya juga mengemukakan teori baru mengenai penyebab penyakit. Dalam penelitiannya
mereka menemukan agen penyebab penyakit serius baik pada hewan maupun manusia. Tetapi
sebelum Pasteur telah membuktikan bahwa mikroba merupakan penyebab penyakit, beberapa
peneliti membuat argumen yang kuat terhadap teori bakteri penyebab penyakit. Sebelumnya,
dalam serajah manusia ada kepercayaan bahwa penyakit itu disebabkan oleh beberapafaktor yang
tidak jelas misalnya udara yang jelek, darah yang jelek dan lain-lainnya.
Pada tahun 1546, Girolamo Fracastolo (14831553) penyakit dapat disebabkan oleh
mikroorganisme, ditularkan dari 1 orang ke orang lain. Sebagian besar informasinya berasal dari
percakapannya dengan para pelaut yang baru pulang dari perjalanannya ke luar negeri, dimana
mereka menyaksikan penyebaran berbagai penyakit. Lebih dari 200 tahun kemudian Anton von
Plenciz (17051786) mengatakan bahwa tidak hanya makhluk hidup yang merupakan penyebab
penyakit tetapi juga agen yang lain merupakan penyebab penyakit yang berbeda.
Pada saat yang bersamaan konsep tentang makhluk hidup atau bentuk lain yang
menggunakan nutrien mulai diterima. Setelah sukses dengan fermentasinya, Pasteur diminta untuk
meneliti penyakit ulat sutra yang merugikan industri di Perancis. Dia menghabiskan waktu 6 tahun
untuk membuktikan bahwa mikroorganisme yang disebut dengan protozoa dapat menyebabkan
penyakit. Pasteur juga menunjukkan kepada petani ulat sutera bagaimana cara menghilangkan
penyakit dengan cara memilih ulat sutera yang bebas penyakit untuk diternakkan.
Di Jerman, Robert Koch (18431910) seorang profesional di bidang kesehatan mendapat
hadiah mikroskop dari isterinya untuk hadiah ulang tahunnya yang ke-28. Selanjutnya ia mulai
meneliti dunia mikroorganisme yang sudah dilihat oleh Pasteur. Pasteur maupun Koch bersama-
sama ingin mengetahui penyebab penyakit anthrax yang sangat merugikan peternak sapi dan
domba di Eropa. Koch akhirnya menemukan dari darah domba yang telah mati karena anthrax.
Dengan sering meninggalkan prakteknya sebagai dokter, Koch membuktikan bahwa bakteri
tersebut penyebab anthrax dengan cara memisahkan
bakteri untuk bahan tersebut dari bakteri lain yang ada kemudian menginjeksikannya ke dalam
tikus yang sehat. Tikus selanjutnya menunjukkan perkembangan menuju anthrax dan bakteri yang
di isolasidari tikus menunjukkan kesamaan bakteri yang berasal dari domba yang sakit
sebelumnya.
Pada 1876, setelah meneliti selama 6 tahun Koch mengumumkan bahwa dia telah
menemukan bakteri penyebab anthrax. Ia juga menyarankan bahwa ternak sakit supaya dibunuh
dan dibakar atau dikubur yang dalam, setelah ia mengetahui bahwa spora yang dihasilkan oleh
bakteri dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan di daerah peternakan. Dengan penemuan
anthraxnya Koch merupakan orang pertama yang membuktikan mikroba tertentu merupakan agen
penyakit tertentu.
Selanjutnya Koch dan peneliti lain menemukan bakteri penyebab tuberculosis dan cholera.
Perkembangan teknik laboratorium untuk mempelajari mikroorganisme. Koch dan anggotanya
banyak memberi kontribusi mengenai teknik-teknik tersebut. Diantaranya adalah prosedur
pengecatan bakteri untuk pengamatan dengan mikroskop cahaya. Salah satu kolega Koch adalah
Paul Erlich (18541915) yang melakukan penelitian terhadap spesimen dan menggunakannya
untuk mewarnai bakteri termasuk bakteri penyebab tuberculosis (Robinson, R. K. 1990).

2.2.5 Teknik Biakan Murni


Secara kebetulan seorang pria Jerman melihat bahwa koloni yang tumbuh pada kentang
yang telah direbus pada akhirnya dapat menemukan jalan untuk memisah menjadi individu-
individu. Caranya: mereka mengembangkan media spesifik untuk menumbuhkan
mikroorganisme. Media adalah substansi yang memenuhi kebutuhan nutrisi mikroorganisme.
Koch dan koleganya juga menunjukkan senyawa dari alga yang disebut agar dapat membuat media
menjadi padat. Richard J. Petri (18521921) membuat piringan kaca bertutup untuk menempatkan
media agar alat tersebut selanjutnya disebut Petri dish yang masih
digunakan sampai sekarang. Pada tahun 1892, dengan menggunakan teknik biakan murni Koch
dan anggotanya menemukan agen-agen penyebab typus, dipteri, tetanus, pneumonia dan lain
sebagainya. Koch mengenalkan penggunaan hewan sebagai model untuk penyakit manusia dengan
cara menginjeksikan bakteri ke tubuh mencit, kelinci, babi atau domba. Ia bahkan menempelkan
kamera pada mikroskopnya untuk mengambil gambar dan menggunakannya sebagai bukti untuk
menghilangkan keraguan (Jaweta, E. 1986).

2.2.6 Postulat Koch


Pada tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metoda laboratorium dan menentukan
kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab
penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch yaitu:
1. Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.
2. Mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium.
3. Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada hewan yang sesuai dapat menimbulkan penyakit.
4. Mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi tersebut.
Adanya kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri penyebab berbagai
penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Penemuan virus, adanya bakteri
yang dapat menimbulkan berbagai penyakit serta adanya penyakit tertentu yang ditimbulkan oleh
lebih dari 1 mikroorganisme memerlukan modifikasi dari postulat Koch.
Pada tahun 1892 Dimitri Ivanovski menunjukkan bahwa agen yang menyebabkan penyakit
osaic pada tembakau dapat ditularkan melalui ekstrak tanaman yang sakit. Ekstrak tersebut
disaring dengan filter yang ditemukan oleh kawan-kawan Pasteur dimana filter tersebut diketahui
dapat menyaring bakteri. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa agen tersebut mempunyai
ukuran yang jauh lebih kecil dari bakteri. Yellow fever merupakan penyakit pertama pada manusia
yang diketahui disebabkan oleh virus.
Pada tahun 1900 seorang ahli bedah bernama Walter reed (1851 1902) dengan
menggunakan manusia sebagai volunteer membuktikan bahwa virus tersebut dibawa oleh nyamuk
tertentu lainnya membwaprotozoa penyebab malaria. Salah satu cara penting untuk mencegah
penyakit tersebut adalah menguras air tergenang yang digunakan nyamuk untuk tempat
berkembang biak (Jaweta, E. 1986).

2.2.7 Perkembangan dan Pencegahan Penyakit


Epidemik adalah penyakit tertentu yang menyerang banyak daerah misalnya penyakit
bubon yang dikenal dengan penyakit hitam yang mematikan yang disebabkan oleh bakteri terjadi
di Eropa selama periode tahun 13471350. Sepertiga sampai setengah populasi di Eropa
meninggal karena penyakit tersebut. Hewan pengerat, terutama tikus, berperan sebagai sumber
bakteri basilus dan ditransmisikan/ditularkan ke manusia melalui lalat. Tahun 19171919 malaria
telah membunuh setengah juta penduduk Amerika dan 21 juta manusia di seluruh dunia. Jumlah
tersebut mencapai 3 kali jumlah manusia yang terbunuh selama perang dunia I. Jadi mikroba
terbukti lebih mematikan ontainer peluru. Dengan pengetahuan bahwa mikroorganisme dapat
merupakan penyebab penyakit ilmuwan lebih memusatkan perhatiannya bagaimana cara
pencegahan dan therapinya (Jaweta, E. 1986).
2.2.8 Penemuan Antiseptik
Secara umum septis berarti efek toksis dari mikroorganisme penyebab penyakit pada tubuh
selama infeksi. Antiseptik; ukuran-ukuran yang menghentikan efek tersebut dengan pencegahan
infeksi. Oliver Weldell Holmes (1809 0 1894) seorang dokter Amerika pada tahun 1843
menekankan bahwa penyakit demam pada wanita bersifat menular. Oleh karena itu ditularkan dari
satu wanita lain melalui tangan dokter. Tahun 1846 seorang dokter dari Hungaria, Ignaz Philipp
Semmelweiz menemukan penggunaan klorin sebagai desinfektan untuk tangan dokter. Pada tahun
1860 ahli bedah dari Inggris, Joseph Lister menemukan asam karbol atau phenol dapat digunakan
untuk membunuh bakteri. Lister menggunakan larutan ini untuk merendam alat-alat bedah dan
menyemprot ruangan operasi. Cara tersebut demikian sukses untuk mengatasi infeksi setelah
operasi yang sebelumnya menyebabkan kematian 45% dari pasiennya. Cara tersebut segera dapat
diterima dan dilakukan oleh ahli bedah yang lain. Penemuan tersebut merupakan hari penemuan
teknik ontain untuk mencegah infeksi. Sekarang ini berbagai macam senyawa kimia dan alat fisik
lain dapat mengurangi
mikroorganisme di ruang operasi, ruangan untuk bayi ontainer dan ruangan tempat memasukkan
obat ke dalam ontainer yang steril (Jaweta, E. 1986).

2.2.9 Imunisasi
Tahun 1880, Pasteur menggunakan teknik dari Konch untuk mengisolasi dan membiakkan
bakteri yang menyebabkan kolera pada ayam. Untuk membuktikan penemuannya, Pasteur
membuat demonstrasi di hadapan publik tentang percobaannya yang telah dilakukan berulang kali
di laboratorium. Dia menginjeksikan biakan bakteri kolera pada ayam sehat dan menunggunya
sampai ayam tersebut menunjukkan gejala penyakit. Akan tetapi hasilnya membuat Pasteur
mendapat malu karena ayamnya tetap hidup dan sehat. Pasteur kemudian mengevaluasi
langkahlangkah yang menyebabkan demonstrasi tersebut gagal. Dia menemukan bahwa secara
kebetulan dia menggunakan biakan tua seperti yang telah dilakukan sebelumnya, dan satu
kelompok adalah ayam yang tidak pernah diinokulasi. Selanjutnya kedua kelompok ayam tersebut
diinjeksi dengan biakan segar. Hasilnya, kelompok ayam yang kedua mati sedang kelompok ayam
pertama tetap sehat. Hal ini mebuatnya bingung, tetapi pasteur segara menemukan
jawabannya. Pasteur menemukan bahwa, bakteri jika dibiarkan tumbuh menjadi biakan tua
menjadi avirulen yaitu kehilangan virulensinya atau kemampuan untuk menyebakan penyakit.
Tetapi bakteri avirulen ini masih dapat menstimulasikan sesuatu dalam tubuh host dan pada infeksi
berikutnya menjadi imun atau tahan terhadap penyakit. Pasteur selanjutnya menerapkan prinsip
imunisasi untuk mencegah anthrax. Pasteur menyebutkan bakteri yang telah avirulen tersebut
dengan vaccine dari bahasa latin vacca artinya sapi dan imunisasi dengan biakan tersebut dikenal
dengan vaksinasi.
Dengan vaksinasi tersenut Pasteur mengenali mengetahui hasil kerja sebelumnya oleh
Edward Jenner (1823-1949) yang telah sukses memvaksinasikan para pekerjanya di peternakan
yang telah terkena cowpox dari ternak sapinya tetapi tidak pernah berkembang menjadi serius.
Jenner menduga bahwa menghadapi cawpox akan mencegahnya dari serangan smallpox. Untuk
membuktikan hipotesisnya Jenner menginokulasi pendapat dari James Philips pertama dengan
materi yang menyebabkan cowpox yang diambil dari luka, kemudian dari agen smallpox. Anak
laki-laki tersebut tidak menununjukkan gejala smallpox. Nama Pasteur selanjutnya dikenal
dimana-mana banyak orang dianggap
sebagai peneliti tentang mikroorganisme yang azaib. Untuk itu ia diminta membuat vaccin
pencegah hidrofobia atau rabies, penyakit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan anjing,
kucing atau hewan yang terinfeksi lainnya.
Pasteur adalah seorang ahli kimia, bukan dokter dan Pasteur tidak biasa memperlakukan
manusia. Disamping kenyataan bahwa penyebab penyakit rabies belum diketahui, tetapi Pasteur
mempunyai keyakinan yang kuat bahwa itu adalah mikroorganisme. Ia dapat membuat kelinci
terkena penyakit setelah diinokulasi dengan saliva anjing. Selanjutnya Pasteur dan asistennya
mengambil otak dan tulang belakang kelinci tersebut dan menginginkannya dan membuatnya
menjadi larutan. Anjing yang diinokulasi dengan campuran tersebut dapat terhindar dari rabies.
Akan tetapi vaksinasi terhadap anjing sangat berbeda dengan manusia. Pada bulan Juli 1885,
seorang anak laki-laki bernama Joseph Meister digigit oleh serigala dan keluarganya membujuk
Pasteur untuk menginokulasi anak tersebut Kekawatiran Pasteur dan orang-orang menjadi
berkurang setelah anak laki-laki tersebut tidak mati. Selanjutnya Pasteur menjadi terkenal dan
memperoleh banyak dana yang kemudian digunakan untuk mendirikan Institute Pasteur di Paris
yang sangat terkenal (Jaweta, E. 1986).

2.3 Faktor Lingkungan yang mempengaruhi Mikroba


Pola pertumbuhan, laju pertumbuhan, dan jumlah total bakteri dipengaruhi oleh suhu, gas
oksigen, dan pH. Setiap spesies bakteri tumbuh pada kisaran suhu tertentu. Bakteri psikrojl mampu
tumbuh pada suhu minimum 0-5 C, optimum 5-15 C, dan maksimum 15-20 OC. Bakteri mesofil
dapat tumbuh pada suhu minimum 10-20 C, optimum 20-40 C, dan maksimum 40-45 OC.
Bakteri yang dapat tumbuh pada suhu minimum 25-45 C, optimum 45-60 C, dan maksimum 60-
80 C disebut dengan bakteri termofil (Lay 1994). Pada Tabel 2 menunjukkan karakteristik suhu
pada laut dalam, bakteri yang mampu hidup di dalamnya adalah jenis psikrofil. Kelompok bakteri
ini sering tumbuh pada makanan yang didinginkan karena masih dapat tumbuh pada suhu sedikit
di atas suhu pembekuan. Bakteri termofil sering tumbuh pada makanan yang disimpan pada suhu
tinggi, contoh bakterinya adalah Bacillus thermophilus yang dapat menyebabkan kebusukan asam
tanpa gas. Clostridium thermosaccharolythicum penyebab busuk kembung pada makanan kaleng
dan Lactobacillus thermophilus yang merupakan bakteri asam laktat termofil (Fardiaz 1992).
Pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh adanya keberadaan gas atmosfer seperti
oksigen dan karbondioksida. Terdapat empat kelompok besar bakteri, yaitu aerobik adalah
organisme yang membutuhkan oksigen, anaerobik adalah organisme yang tidak memerlukan
oksigen dalam hidupnya, anaerobic fakultatif adalah organisme yang dapat tumbuh dalam
lingkungan aerobik maupun anaerobik, mikroaerofilik adalah organisme yang tumbuh dengan baik
jika hanya ada sedikit oksigen dalam lingkungannya (Pelczar dan Chan ,1986).
Sebagian besar bakteri tumbuh dengan baik pada pH 6,5-7,5. Namun, terdapat sebagian
bakteri yang mampu tumbuh pada lingkungan yang sangat asam maupun sangat basa. Perubahan
pH pada medium bakteri ini dapat disebabkan
oleh senyawa yang dihasilkan bakteri tersebut selama pertumbuhannya. Untuk
menjaga kondisi seperti pH awal, maka ke dalam medium biakan ditambahkan
larutan penyangga. Beberapa senyawa yang berfungsi sebagai penyangga adalah pepton maupun
kombinasi garam pospat (Pelczar dan Chan 1986).
Peran utama nutrisi adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun sel, dan sebagai
aseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya
bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor
elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan, dan nitrogen. Jasad hidup ada yang dapat
menggunakan sumber nutrient didalam bentuk padat, ada pula yang hanya dapat menggunakan
dalam bentuk cairan (larutan).
Jasad hidup yang dapat menggunakan sumber nutrient dalam bentuk padat tergolong dalam
tipe holozoik, sedang yang menggunakan nutrient didalam bentuk cairan tergolong ke dalam tipe
holofitik. Jasad holofitik dapat pula menggunakan sumber nutrient dalam bentuk padat, tetapi
bahan tersebut harus diencerkan terlebih dahulu diluar sel dengan pertolongan enzim ekstraseluler.
Sumber nutrien yang sangat diperlukan adalah dalam bentuk : ( Suriawiria , 2005).

1. Air

Air merupakan komponen utama sel mikroba dan medium. Fungsi air adalah sebagai
sumber oksigen untuk bahan organik sel pada respirasi. Selain itu air berfungsi sebagai pelarut dan
alat pengangkut dalam metabolisme.

2. Sumber energi

Ada beberapa sumber energi untuk mikroba yaitu senyawa organik atau anorganik yang
dapat dioksidasi dan cahaya terutama cahaya matahari.

3. Sumber karbon

Sumber karbon untuk mikroba dapat berbentuk senyawa organik maupun anorganik.
Senyawa organik meliputi karbohidrat, lemak, protein, asam amino, asam organik, garam asam
organik, polialkohol, dan sebagainya. Senyawa anorganik misalnya karbonat dan gas CO2 yang
merupakan sumber karbon utama terutama untuk tumbuhan tingkat tinggi.

4. Sumber aseptor elektron

Proses oksidasi biologi merupakan proses pengambilan dan pemindahan elektron dari
substrat. Karena elektron dalam sel tidak berada dalam bentuk bebas, maka harus ada suatu zat
yang dapat menangkap elektron tersebut. Penangkap elektron ini disebut aseptor elektron. Aseptor
elektron ialah agensia pengoksidasi. Pada mikrobia yang dapat berfungsi sebagai aseptor elektron
ialah O2, senyawa organik, NO3-, NO2-, N2O, SO4 +, CO2, dan Fe3+.

5. Sumber mineral
Mineral merupakan bagian dari sel. Unsur penyusun utama sel ialah C, O, N, H, dan P.
unsur mineral lainnya yang diperlukan sel ialah K, Ca, Mg, Na, S, Cl. Unsur mineral yang
digunakan dalam jumlah sangat sedikit ialah Fe, Mn, Co, Cu, Bo, Zn, Mo, Al, Ni, Va, Sc, Si, Tu,
dan sebagainya yang tidak diperlukan jasad. Unsur yang digunakan dalam jumlah besar disebut
unsur makro, dalam jumlah sedang unsur oligo, dan dalam jumlah sangat sedikit unsur mikro.
Unsur mikro sering terdapat sebagai ikutan (impurities) pada garam unsur makro, dan dapat masuk
ke dalam medium lewat kontaminasi gelas tempatnya atau lewat partikel debu. Selain berfungsi
sebagai penyusun sel, unsur mineral juga berfungsi untuk mengatur tekanan osmose, kadar ion H+
(kemasaman, pH), dan potensial oksidasireduksi (redox potential) medium.

6. Faktor tumbuh

Faktor tumbuh ialah senyawa organik yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan (sebagai
prekursor, atau penyusun bahan sel) dan senyawa ini tidak dapat disintesis dari sumber karbon
yang sederhana. Faktor tumbuh sering juga disebut zat tumbuh dan hanya diperlukan dalam jumlah
sangat sedikit. Berdasarkan struktur dan fungsinya dalam metabolisme, faktor tumbuh
digolongkan menjadi asam amino, sebagai penyusun protein base purin dan pirimidin, sebagai
penyusun asam nukleat, dan vitamin sebagai gugus prostetis atau bagian aktif dari enzim.

7. Sumber nitrogen

Mikroba dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk amonium, nitrat, asam amino, protein,
dan sebagainya. Jenis senyawa nitrogen yang digunakan tergantung pada jenis jasadnya. Beberapa
mikroba dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk gas N2 (zat lemas) udara. Mikroba ini disebut
mikrobia penambat nitrogen.

Makhluk hidup menggunakan sumber-sumber nutrient dapat dalam bentuk padat, tetapi
ada juga yang hanya dapat menggunakan sumber nutrient dalam bentuk cair (larutan). Bila jasad
hidup menggunakan sumber nutrient dalam bentuk padat digolongkan tipe holozoik, sedangkan
yang menggunakan nutrient dalam bentuk cairan tergolong tipe holofitik. Namun ada hidup
holofitik dapat juga menggunakan sumber nutrient dalam bentuk padat, tetapi bahan tersebut
dicerna dahulu diluar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler.

Tabel 1. Unsur utama, sumber dan fungsi nutrisi dalam sel bakteri.
% dari
Elemen berat Sumber Fungsi
kering
Kompleks organik
Karbon 50 material utama dari bahan selular
atau CO2
Konstituen dari sel dan sel bahan
H 2O, Kompleks
Oksigen 20 air; O2 adalah menerima elektron
organik,CO2, dan O 2
dalam respirasi aerobic
Konstituen dari asam amino,
NH 3, NO3, Kompleks
Nitrogen +14 asam nukleik nucleotides, dan
organik, N2
coenzymes
H2O, Kompleks Utama dari organik memanjang
Hidrogen 8
organik, H 2 dan sel air
Konstituen dari asam nukleik,
Fosfor 3 anorganik Fosfat (PO4) nucleotides, phospholipids, LPS,
teichoic asam
Konstituen dari cysteine,
SO4, H 2S, S, belerang
Belerang 1 methionine,glutathione, beberapa
organik memanjang
coenzymes
Utama selular anorganik gigih
Kalium 1 Kalium garam dapur
dan cofactor untuk enzim tertentu
Anorganik selular dengan gigih,
Magnesium garam
Magnesium 0.5 cofactor tertentu untuk reaksi
dapur
enzimatis
Anorganik selular dengan gigih,
Kalsium 0.5 Kalsium garam dapur cofactor untuk enzim tertentu dan
komponen endospores
Komponen tertentu cytochromes
dan nonheme-besi dan protein
Besi 0.2 Garam dapur besi
yang cofactor untuk beberapa
reaksi enzimatis
Pengelompokan mikroorganisme berdasarkan zat gizi

Semua para ahli makhluk hidup hanya mengenal pembagian organisme berdasarkan akan
kebutuhan zat gizi adalah ototrof yang ditunjukkan oleh tumbuhan, yakni organisme yang dapat
menggunakan seluruh zat gizi anorganik; dan heterotrof, yang ditunjukkan oleh hewan, yang
memerlukan zat gizi organik. Sekarang, kedua kelompok ini tidak cukup menunjukkan keragaman
pola gizi yang diketahui ada di dunia hidup, dan bermacam-macam usaha untuk membuat sistem
yang lebih seksama untuk klasifikasi mengenai gizi.

Klasifikasi mikroorganisme berdasrkan zat gizi didasari oleh dua parameter, yakni sifat
sumber energi dan sifat sumber karbon yang utama. Selanjutnya mengenai sumber energy, terdapat
dikotomi, yakni fototrof merupakan organisme yang menggunakan cahaya sebagai sumber energi
dan kemotrof yang merupakan organisme yang menggunakan senyawa anorganik sederhana
sebagai sumber enegi. Sedangkan pembagian organisme berdasarkan sifat sumber karbon utama,
yaitu organisme ototrof yang merupakan organisme yang menggunakan karbon dioksida sebagai
sumber karbon utama atau untuk pertumbuhan; dan organisme hetrotof, merupakan organisme
bergantung pada sumber karbon organik.

Pada tipe mikroba heterotrof, baik yang fotoheterotrof dan kemoheterotrof terdapat
perbedaan antar mikroba saprofit dengan bakteri parasit. Bakteri saprofit disebut juga saprobakteri
atau saproba (sapros=sampah), yakni kelompok mikroba yang hidup dari zat-zat organic yang telah
berupa sisa-sisa atau sampasedangkan mikroba parasit yang dapat dipiara diluar hospes,
dinamakan mikroba parasit fakultatif dan mikroba yang tidak mungkin hidup kecuali pada
,hospesnya dinamakan mikroba parasit obligat. Sedangkan mikroba yang menyebabkan penyakit
yang dapat mengganggu hospesnya disebut mikroba pathogen.

Berkaitan dengan masalah pembagian mikroba berdasarkan zat gizi, ada bebrapa istilah
yang menyatakan keadaan fisis pada waktu zat organik memasuki sel, yakni :

1. Osmotrof, yakni organisme yang mengambil semua zat gizi dalam bentuk larutan. Misalnya,
bakteri dan cendawan.
2. Fagotrof, yaitu organisme yang dapat mengambil partikel makanan padat dengan mekanisme yang
dinamakan fagositosis. Misalnya protozoa.
3. Auksotrof, yakni organisme yang disamping memerlukan sumber karbon utama, juga tambahan
satu atau lebih zat organik (faktor tumbuh). Misalnya pada banyak alga dan bakteri fotoototrof
(Lud Waluyo, 2004).

2.3.1 Berdasarkan sumber karbon


Berdasarkan atas kebutuhan karbon jasad dibedakan menjadi jasad ototrof dan heterotrof.
Jasad ototrof ialah jasad yang memerlukan sumber karbon dalam bentuk anorganik, misalnya CO2
dan senyawa karbonat. Jasad heterotrof ialah jasad yang memerlukan sumber karbon dalam bentuk
senyawa organik. Jasad heterotrof dibedakan lagi menjadi jasad saprofit dan parasit. Jasad saprofit
ialah jasad yang dapat menggunakan bahan organik yang berasal dari sisa jasad hidup atau sisa
jasad yang telah mati. Jasad parasit ialah jasad yang hidup di dalam jasad hidup lain dan
menggunakan bahan dari jasad inang (hospes)-nya. Jasad parasit yang dapat menyebabkan
penyakit pada inangnya disebut jasad patogen.

2.3.2 Berdasarkan sumber energi


Berdasarkan atas sumber energi jasad dibedakan menjadi jasad fototrof, jika menggunakan
energi cahaya dan khemotrof, jika menggunakan energi dari reaksi kimia. Jika didasarkan atas
sumber energi dan karbonnya, maka dikenal jasad fotoototrof, fotoheterotrof, khemoototrof dan
khemoheterotrof. Perbedaan dari keempat jasad tersebut sbb:

Jasad Sumber Karbon Sumber Energi


Fotoototrof Zat anorganik Cahaya matahari
Fotoheterotrof Zat organik Cahaya matahari
Khemotrof Zat anorganik Oksidasizatanorganik
Khemoheterotrof Zat organic Oksidasi zat organik
2.3.3 Berdasarkan sumber donor elektron
Berdasarkan atas sumber donor elektron jasad digolongkan manjadi jasad litotrof dan
organotrof. Jasad litotrof ialah jasad yang dapat menggunakan donor elektron dalam bentuk
senyawa anorganik seperti H2, NH3, H2S dan S. jasad organotrof ialah jasad yang menggunakan
donor elektron dalam bentuk senyawa organik.

2.3.4 Berdasarkan sumber energi dan donor elektron


Berdasarkan atas sumber energi dan sumber donor elektron jasad dapat digolongkan
menjadi jasad fotolitotrof, fotoorganotrof, khemolitotrof, dan khemoorganotrof. Perbedaan
keempat golongan jasad tersebut sbb:

Jasad Sumber Energi Sumber Donor Contoh


Elektro
Fotolitotrof Cahaya Zat anorganik Tumbuhan tingkat
tinggi, alga
Fotoorganotrof Cahaya Zat organik Bakteri belerang
fotosintetik
Khemolitotrof Oksidasi zat Zat anorganik Bakteri besi, bakteri
Khemoorganotrof

heterotrof Oksidasi zat organic Zat organik hidrogen, bakteri


nitrifikasi
Berdasarkan kebutuhan oksigen

Berdasarkan akan kebutuhan oksigen, jasad dapat digolongkan dalam jasad aerob, anaerob,
mikroaerob, anaerob fakultatif, dan kapnofil. Pertumbuhan mikroba di dalam media cair dapat
menunjukkan sifat berdasarkan kebutuhan oksigen.

Obligat aerob Fakultatif anaerob Obligat anaerob Aerotoleran/Anaerob Mikroaerofil Jasad


aerob ialah jasad yang menggunakan oksigen bebas (O2) sebagai satusatunya aseptor hidrogen
yang terakhir dalam proses respirasinya. Jasa anaerob, sering disebut anaerob obligat atau anaerob
100% ialah jasad yang tidak dapat menggunakan oksigen bebas sebagai aseptor hidrogen terakhir
dalam proses respirasinya. Jasad mikroaerob ialah jasad yang hanya memerlukan oksigen dalam
jumlah yang sangat sedikit. Jasad aerob fakultatif ialah jasad yang dapat hidup dalam keadaan
anaerob maupun aerob. Jasad ini juga bersifat anaerob toleran. Jasad kapnofil ialah jasad yang
memerlukan kadar oksigen rendah dan kadar CO2 tinggi.

Interaksi Antar Mikroba Dalam Menggunakan Nutrien

Jika dua atau lebih mikroba yang berbeda ditumbuhkan bersama-sama dalam suatu
medium, maka aktivitas metabolismenya secara kualitatif maupun kuantitatif akan berbeda jika
dibandingkan dengan jumlah aktivitas masing-masing mikroba yang ditumbuhkan dalam medium
yang sama tetapi terpisah. Fenomena ini merupakan hasil interaksi metabolisme atau interaksi
dalam penggunaan nutrisi yang dikenal sebagai sintropik atau sintropisme atau sinergitik. Sebagai
contoh ialah bakteri penghasil metan yang anaerob obligat tidak dapat menggunakan glukosa
sebagai substrat, tetapi bakteri tersebut akan segera tumbuh oleh adanya hasil metabolisme bakteri
anaerob lain yang dapat menggunakan glukosa ( Rachdie. 2006).

- Pola Pertumbuhan Bakteri


Pertumbuhan untuk bakteri dan mikroorganisme lain pada umurnnya mengacu pada
perubahan di dalarn hasil panen sel (pertambahan total massa sel) dan bukan perubahan individu
organisme. Selama fase pertumbuhan seimbang (balanced growth) pertambahan massa bakteri
berbanding lurus dengan pertambahan komponen seluler yang lain seperti DNA, RNA, dan
protein. Cara reproduksi sebagian besar bakteri adalah pembelahan biner, satu sel membelah diri
menghasilkan dua sel. Selang waktu yang dibutuhl~an bagi sel untuk membelah diri dikenal
sebagai waktu generasi. Waktu generasi setiap spesies dengan kondisi berbeda mempunyai
perbedaan. Pelczar dan Chan (1986) menyatakan bahwa waktu generasi tergantung pada jumlah
bakteri yang ada pada awalnya, yaitu di dalam inokulum, jumlah bakteri yang ada pada akhir waktu
tertentu dan interval waktu. Pola fase pertumbuhan bakteri adalah pola eksponensial atau logaritma
(fase log). Pada fase ini, populasi bakteri bertambah secara teratur menjadi dua kali lipat pada
interval waktu tertentu selama inkubasi.
menunjukkan bahwa pada periode awal tanpa pertumbuhan (fase lamban), diikuti fase kedua
adalah periode pertumbuhan cepat (fase log), kemudian mendatar (fase statis), dan akhirnya adalah
suatu fase penurunan populasi sel-sel hidup (fase kematian).
Fase adaptasi terjadi 1-2 jam paska pemindahan kultur. Bakteri mengalami perbesaran
ukuran sel, peningkatan metabolisme, dan mulai menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang
baru. Pada fase pertumbuhan terjadi pembelahan yang menyebabkan bertambahnya populasi
bakteri hingga mencapai titik stationernya. Pada fase stationer, bakteri sudah tidak mengalami
pertambahan populasi, dan
pada akhirnya karena ketersediaan nutrien yang terbatas terjadi fase kamatian.
Pada fase kematian jumlah populasi bakteri semakin berkurang karena persaingan zat makanan
antar bakteri (Rachdie. 2006).

2.4 Peranan Mikroba Secara Umum

Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil (Kusnadi,
2003). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas
kehidupan antara lain dapat dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi
dengan sendirinya. Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena
mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila
ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi
pula. Akan tetapi karena ukurannya yang kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-
enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan
dalam bentuk persediaan.enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk perngolahan bahan
makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada.

Mikroorganisme ini juga tidak memerlukan tembat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam
media buatan, dan tingkat pembiakannya relatif cepat (Darkuni, 2001). Oleh karena aktivitasnya
tersebut, maka setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan
maupun yang menguntungkan.
Sekilas, makna praktis dari mikroorganisme disadari tertutama karena kerugian yang
ditimbulkannya pada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Misalnya dalam bidang
mikrobiologi kedokteran dan fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme yang pathogen yang
menyebabkan penyakit dengan sifat-sifat kehidupannya yang khas. Walaupun di bidang lain
mikroorganisme tampil merugikan, tetapi perannya yang menguntungkan jauh lebih menonjol.
Menurut Schlegel ( 1994) beberapa bukti mengenai peranan mikrobiologi dapat dikemukakan
sebagai berikut:
2.4.1 Proses klasik menggunakan mikroorganisme
Di Jepang dan Indonesia sudah sejak zaman dahulu kacang kedelai diolah dengan
menggunakan bantuan fungi, ragi, dan bakteri asam laktat. Bahkan sudah sejak zaman perang
dunia pertama fermentasi terarah dengan ragi digunakan untuk membuat gliserin. Asam laktat dan
asam sitrat dalam jumlah besar yang diperlukan oleh industri makanan, masing-masing dibuat
dengan pertolongan bakteri asam laktat dan cendawan Aspergillus niger.
2.4.2 Produk Antibiotika
Penemuan antibiotik telah menghantarkan pada terapi obat dan industri obat ke era baru.
Karena adanya penemuan penisilin dan produk-produk lain sekresi fungi, aktinomiset, dan bakteri
lain, maka kini telah tersedia obat-obat yang manjur untuk memerangi penyakit infeksi bakteri.
2.4.3 Proses menggunakan mikroba
Fermentasi klasik telah diganti dengan cara baru untuk produksi dan konversi
menggunakan mikroba. Senyawa karotenoid dan steroid diperoleh dari fungi. Sejak ditemukan
bahwa Corynebacterium glutamicum memproduksi glutamat dengan rendemen tinggi dari gula
dan garam amonium, maka telah diisolasi berbagai mutan dan dikembangkan proses baru yang
memungkinkan pembuatan banyak jenis asam amino, nukleotida, dan senyawabiokimia lain dalam
jumlah besar. Mikroorganisme juga diikutsertakan oleh para ahli kimia pada katalisis sebagian
proses dalam rangkaian sintesis yang panjang; biokonversi oleh mikroba lebih spesifik dengan
rendemen lebih tinggi, mengungguli koversi secara kimia; amilase untuk hidrolisis pati, proteinase
pada pengolahan kulit, pektinase untuk penjernihan sari buah dan enzim-enzim lain yang
digunakan di industri diperoleh dari biakan mikroorganisme.
2.4.4 Posisi monopoli dari mikroorganisme
Beberapa bahan dasar yang terutama tersedia dalam jumlah besar, seperti minyak bumi,
gas bumi, dan selulosa hanya dapat diolah oleh mikroorganisme dan dapat mengubahnya kembali
menjadi bahan sel (biomassa) atau produk antara yang disekresi oleh sel.
2.4.5 Teknik genetika modern
Kejelasan mengenai mekanisme pemindahan gen pada bakteri dan peran dari unsur-unsur
ekstrakromosom, telah membuka kemungkinan untuk memindahkan DNA asing ke dalam bakteri.
Manipulasi genetik memungkinkan untuk memasukkan sepotong kecil pembawa informasi
genetik dari manusia ke dalam bakteri sehingga terjadi sintesis senyawa protein yang
bersangkutan. Kegiatan ini sering dilakukan dalam hal pembuatan hormon, antigen, dan antibodi.
Berdasarkan penjelasan di atas, mikroorganisme memiliki peranan yang cukup besar dalam
kehidupan, baik peranan yang merugikan maupun yang menguntungkan.
Beberapa peranan yang dimiliki oleh mikroorganisme antara lain sebagai berikut:
2.4.6 Peranan yang Merugikan

Penyebab penyakit, baik pada manusia, hewan maupun tumbuhan Misalnya Strptococcus
pneumoniae penyebab pneumonia dan Corynebacterium diphtheriae penyebab dipteri.

Penyebab kebusukan makanan (spoilage)

Adanya kebusukan pada makanan dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri yang
tumbuh dalam makanan tersebut. Beberapa di antara mikroorganisme dapat mengubah rasa beserta
aroma dari makanan sehingga dianggap merupakan mikroorganisme pembusuk. Dalam
pembusukan daging, mikroorganisme yang menghasilkan enzim proteolitik mampu merombak
protein-protein. Pada proses pembusukan sayur dan buah, mikroorganisme pektinolitik mampu
merombak bahan-bahan yang mengandung pektin yang terdapat pada dinding sel tumbuhan
(Tarigan, 1988). Mikroorganisme seperti bakteri, khamir (yeast) dan kapang (mould) dapat
menyebabkan perubahan yang tidak dikehendaki pada penampakan visual, bau, tekstur atau rasa
suatu makanan. Mikroorganisme ini dikelompokkan berdasarkan tipe aktivitasnya, seperti
proteolitik, lipolitik, dll. Atau berdasarkan kebutuhan hidupnya seperti termofilik, halofilik dan
lain-lain.

Penyebab keracunan makanan (food borne disease).


Kusnadi (2003) menjelaskan bahwa bakteri penghasil racun (enterotoksin atau eksotoksin)
dapat mencemari badan air, misalnya spora Clostridium perfringens, C. Botulinum, Bacillus
cereus, dan Vibrio parahaemolyticus. Spora dapat masuk ke dalam air melalui debu/tanah, kotoran
hewan, dan makanan-limbah. Jika makanan atau minuman dan air bersih tercemari air tersebut,
maka dalam keadaan yang memungkinkan, bakteri tersebut akan mengeluarkan racun sehingga
makanan atau minuman mengandung racun dan bila dikonsumsi dapat menyebabkan keracunan
makanan. Bahkan menurut Dwidjoseputro (2005) pada makanan yang telah dipasteurisasi pun juga
dapat mengandung racun (toksin) . Makanan yang telah dipasteurisasi kemudian terus menerus
disimpan di dalam kaleng pada athogenre kamar, dapat mengandung racun yang berasal dari
Clostridium botulinum. Spora-spora dari bakteri ini tidak mati dalam proses pasteurisasi. Dalam
keadaan tertutup (anaerob) dan suhu yang menguntungkan, maka spora-spora tersebut dapat
tumbuh menjadi bakteri serta menghasilkan toksin. Racun yang dihasilkan tidak mengganggu alat
pencernaan, melainkan mengganggu urat saraf tepi.
Menimbulkan pencemaran
Materi fekal yang masuk ke dalam badan air, selain membawa bakteri athogen juga akan
membawa bakteri pencemar yang merupakan flora normal saluran pencernaan manusia, misalnya
E. coli. Kehadiran bakteri ini dapat digunakan sebagi indicator pencemaran air oleh materi fekal.
2.4.7 Peranan yang Menguntungkan
Banyak yang menduga bahwa mikroorganisme membawa dampak yang merugikan bagi
kehidupan hewan, tumbuhan, dan manusia, misalnya pada bidang mikrobiologi kedokteran dan
fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme yang pathogen yang menyebabkan penyakit
dengan sifat-sifat kehidupannya yang khas. Meskipun demikian, masih banyak manfaat yang dapat
diambil dari mikroorganisme-mikroorganisme tersebut. Penggunaan mikroorganisme dapat
diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, saperti bidang pertanian, kesehatan, dan lingkungan.
Beberapa manfaat yang dapat diambil antara lain sebagai berikut :
- Bidang pertanian
Dalam bidang pertanian, mikroorganisme dapat digunakan untuk peningkatan kesuburan
tanah melalui fiksasi N2, siklus nutrien, dan peternakan hewan. Nitrogen bebas merupakan
komponen terbesar udara. Unsur ini hanya dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat
dan pengambilan khususnya melalui akar. Pembentukan nitrat dari nitrogen ini dapat terjadi karena
adanya mikroorganisme. Penyusunan nitrat dilakukan secara bertahap oleh beberapa genus bakteri
secara sinergetik.
Dalam Dwidjoseputro (2005) dijelaskan bahwa ada beberapa genera bakteri yang hidup
dalam tanah (misalnya Azetobacter, Clostridium, dan Rhodospirillum) mampu untuk mengikat
molekul-molekul nitrogen guna dijadikan senyawa-senyawa pembentuk tubuh mereka, misalnya
protein. Jika sel-sel itu mati, maka timbullah zat-zat hasil urai seperti CO2 dan NH3 (gas amoniak).
Sebagian dari amoniak terlepas ke udara dan sebagian lain dapat dipergunakan oleh beberapa
genus bakteri (misalnya Nitrosomonas dan Nitrosococcus) untuk membentuk nitrit. Nitrit dapat
dipergunakan oleh genus bakteri yang lain untuk memperoleh energi daripadanya. Oksidasi
amoniak menjadi nitrit dan oksidasi nitrit menjadi nitrat berlangsung di dalam lingkungan yang
aerob. Peristiwa seluruhnya disebut nitrifikasi. Pengoksidasian nitrit menjadi nitrat dilakukan oleh
Nitrobacter.
Proses nitrifikasi ini dapat ditulis sebagai berikut :
2NH3 + 3O2 Nitrosomonas, Nitrosococcus 2HNO2 + 2H2O + energi
2HNO2 + O2 Nitrobacter 2HNO3 + energi
Selain itu, mikroorganisme ini juga dapat digunakan sebagai agen pembusuk alami, yang akan
mendekomposisi sampah-sampah organik menjadi materi inorganik sehingga dapat mengurangi
kuantitas sampah, menyuburkan tanah dan dapat menjadi sumber nutrisi bagi tumbuhan .Seorang
peneliti dari Amerika Serikat yaitu Waksman telah menemukan mikroorganisme tanah yang
menghasilkan streptomisin, yaitu bakteri Streptomyces (Dwidjoseputro, 2005).
Peran lain mikroba dalam bidang pertanian antara lain dalam teknologi kompos bioaktif dan
dalam hal penyediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman (biofertilizer). Kompos bioaktif
adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoslulotik unggul yang tetap bertahan
di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. Teknologi
kompos bioaktif ini menggunakan mikroba biodekomposer yang mampu mempercepat proses
pengomposan dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Mikroba akan tetap hidup dan
aktif di dalam kompos, dan ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikroba akan berperan
untuk mengendalikan organisme.
Dalam hal penyediaan dan penyerapan unsur hara bagi tanaman (biofertilizer), aktivitas
mikroba diperlukan untuk menjaga ketersediaan tiga unsur hara yang penting bagi tanaman antara
lain, Nitrogen (N), fosfat (P), dan kalim (K). Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N.
Namun, N udara tersebut harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya terlebih dahulu agar
bisa langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Mikroba penambat N ada yang hidup bebas dan ada
pula yang bersimbiosis. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di
dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan (leguminose ). Mikroba penambat N non-simbiotik
misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa
digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat
digunakan untuk semua jenis tanaman.
Mikroba tanah lain yang berperan dalam penyediaan unsur hara adalah mkroba pelarut unsur
fosfat (P) dan kalium (K). Kandungan P yang cukup tinggi (jenuh) pada tanah pertanian kita,
sedikit sekali yang dapat digunakan oleh tanaman karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah
peran mikroba pelarut P yang melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi
tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp,
Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi
melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K.
Mikroba sebagai agen biokontrol. Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara
lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana , Paecilomyces fumosoroseus, dan
Metharizium anisopliae . Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama.
Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp yang mampu
mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih),
dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di pasaran antara lain : Greemi-G, Bio-
Meteor, NirAma, Marfu-P dan Hamago (Thieman, 2004).
Gambar 1. Endomikoriza yang berperan melarutkan P

Gambar 2. Larva serangga yang mati diserang jamur biokontrol

Gambar 3. Bakteri yang unggul dalam melarutkan fosfat

Gambar 4. Jamur yang unggul dalam melarutkan fosfat

- Bidang makanan dan industri


Beberapa bahan makanan yang sampai saat ini dibuat dengan menggunakan
mikroorganisme sebagai bahan utama prosesnya, misalnya pembuatan bir dan minuman anggur
dengan menggunakan ragi, pembuatan roti dan produk air susu dengan bantuana bakteri asam
laktat, dan pembuatan cuka dengan bantuan bakteri cuka.
Pengolahan kacang kedelai di beberapa negara banyak yang menggunakan bantuan fungi,
ragi, dan bakteri bakteri asam laktat. Bahkan asam laktat dan asam sitrat yang dalam jumlah besar
diperlukan oleh industri bahan makanan masing-masing dibuat dengan bantuan asam laktat dan
Aspergillus niger (Darkuni, 2001). Beberqapa kelompok mikroorganisme dapat digunakan sebagai
indikator kualitas makanan. Mikroorganisme ini merupakan kelompok bakteri yang
keberadaannya di makanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu
kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme hazardous (berbahaya) dan
menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, coliform dan
fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higinis, termasuk
keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini sering digunakan sebagai indaktor
kualitas mikrobiologi pada pangan dan air.
Tidak semua mikroba yang ada dapat digunakan dalam industri. Menurut Kusnadi (2003)
mikroorganisme industri merupakan organisme yang dipilih secara hati-hati sehingga dapat
membuat satu atau banyak produk khusus. Bahkan jika mikroorganisme industri merupakan salah
satu yang sudah diisolasi dengan teknik tradisional, mikroorganisme tersebut menjadi organisme
yang sangat termodifikasi sebelum memasuki industri berskala besar. Sebagian besar
mikroorganisme industri merupakan spesialis metabolik yang secara spesifik mampu
menghasilkan metabolit tertentu dalam jumlah yang sangat besar pula. Untuk mencapai
spesialisasi metabolik tinggi tersebut, strain industri diubah secara genetika melalui mutasi dan
rekombinasi.
Berbagai proses industri digunakan untuk menghasilkan produk mikrobiologi dan
dipisahkan menjadi beberapa kategori berdasarkan kecenderungan penggunaan produk akhir
sebagai berikut:
o Produksi bahan kimia farmasi
Produk yang paling terkenal adalah antibiotika, obat-obatan steroid, insulin, dan interferon yang
dihasilkan melalui bakteri hasil rekayasa genetika.
o Produksi bahan kimia bernilai komersial
Produk yang termasuk dalam kelompok ini adalah pelarut dan enzim serta berbagai senyawa yang
digunakan untuk bahan pemula (starting) untuk industri sintesis senyawa lain.
o Produksi makanan tambahan
Produksi massa ragi, bakteri dan alga dari media murah mengandung garam nitrogen anorganik ,
cepat saji, dan menyediakan sumber protein dan senyawa lain yang sering digunakan sebagai
makanan tambahan untuk manusia dan hewan.
o Produksi minuman alkohol
Pembuatan beer dan wine dan poduksi minuman alkohol lain yang merupakan proses bioteknologi
berskala besar paling tua.
o Produksi vaksin
Sel mikroorganisme maupun bagiannya atau produknya dihasilkan dalam jumlah besar dan
digunakan untuk produksi vaksin.
o Produksi mikroorganisme untuk digunakan sebagai insektisida (biosida)
Pengendalian hama tanaman dengan menggunakan mikroorganisme yang berperan sebagai
insektisida. Khususnya untuk spesies tertentu, misalnya Bacillus (B. Larvae, B. Popilliae, dan B.
Thurungiensis). Spesies tersebut menghasilkan protein kristalin yang mematikan larva lepidoptera
(ngengat, kupu-kupu, kutu loncat), misalnya ulat kubis, ngengat gipsy, dan sarang ulat.
o Penggunaanya dalam industri perminyakan dan pertambangan
Sejumlah prosedur mikrobiologi digunakan untuk meningkatkan perolehan kembali logam dari
bijih berkadar rendah dan untuk perbaikan perolehan minyak dari sumur-sumur bor.
- Bidang kesehatan
Salah satu manfaat mikroorganisme dalam bidang kesehatan adalah dalam menghasilkan
antibiotika. Bahan antibiotik dibuat dengan bantuan fungi, aktinomiset, dan bakteri lain. Antibiotik
ini merupakan obat yang paling manjur untuk memerangi infeksi oleh bakteri. Beberapa mikroba
menghasilkan metabolit sekunder, yang sangat bermanfaat sebagai obat untuk mengendalikan
berbagai penyakit infeksi. Sejak dulu dikenal jamur Penicillium yang pertama kali ditemukan oleh
Alexander fleming (1928), dapat menghasilkan antibiotika penisilin. Sekarang banyak diproduksi
berbagai antibiotik dari berbagai jenis mikroba yang sangat berperan penting dalam mengobati
berbagai penyakit. Selain untuk antibiotik, dalam bidang kesehatan mikrorganisme juga dapat
digunakan sebagai agen pembusuk di dalam saluran pencernaan alami, yang turut membantu
mencerna makanan di dalam saluran pencernaan.
- Bidang lingkungan dan energi
Mikroorganisme ini banyak dimanfaatkan untuk bahan bakar hayati (metanol dan etanol),
bioremediasi, dan pertambangan. Selain itu, mikroorganisme yang ada di lingkungan berperan
dalam perputaran/siklus materi dan energi terutama dalam siklus biogeokimia dan berperan
sebagai pengurai (dekomposer). Mikroorganisme tanah berfungsi merubah senyawa kimia di
dalam tanah, terutama pengubahan senyawa organik yang mengandung karbon, nitrogen, sulfu,
dan fosfor menjadi senyawa anorganik dan bisa menjadi nutrien bagi tumbuhan. Mikroorganisme
pada lingkungan alami juga dapat digunakan sebagai indikator baik buruknya kualitas lingkungan,
baik perairan ataupun terestrial.
- Bidang bioteknologi
Kemajuan bioteknologi, tak terlepas dari peran mikroba.Karena materi genetika mikroba
sederhana, sehingga mudah dimanipulasi untuk disisipkan ke gen yang lain. Disamping itu karena
materi genetik mikroba dapat berperan sebagai vektor (plasmid) yang dapat memindahkan suatu
gen dari kromosom oganisme ke gen organisme lainnya . Misalnya terapi gen pada penderita
gangguan liver. Terapi ini dapat dilakukan secara ex-vivo maupun in-vivo.
Dalam terapi gen ex vivo, sel hati (misalnya) dari pasien yang hatinya telah mengalami
kerusakan dipindahkan melalui pembedahan dan perawatan. Kemudian melalui terapi gen akan
menyalurkannya dengan menggunakan vektor. Sel-sel hati yang dirubah secara genetik kemudian
akan ditransplantasikan kembali dalam tubuh pasien tanpa khawatir akan kegagalan dari proses
pencangkokan jaringan tersebut karena sel-sel ini pada awalnya berasal dari pasien.
Strategi terapi gen in vivo meliputi pemasukan gen ke dalam jaringan dan organ di dalam tubuh
tanpa diikuti oleh pemindahan sel-sel tubuh. Tantangan utama dalam terapi gen in vivo adalah
pengiriman gen hanya terjadi pada jaringan yang diharapkan dan tidak terdapat pada jaringan yang
lain. Pada terapi ini, virus digunakan sebagai vektor untuk pengiriman gen (Thieman, 2004).
Beberapa hasil perkembangan bioteknologi lain yang penting dan melibatkan mikroba
adalah produksi insulin, tanaman transgenik serta antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal
(MAbs) merupakan salah satu antibodi murni yang bersifat sangat spesifik dan menjadi peluru
ajaib bagi dunia pengobatan.

2.5 Peranan Mikroba untuk Kelautan

Untuk perikanan sendiri seperti Ikan gindara (Lepidocibium Jlavobronneum) merupakan


salah satu spesies ikan laut dalam yang banyak digemari oleh masyarakat, selain rasanya yang
gurih juga memiliki khasiat untuk dijadikan obat demam berdarah (Prayitno 2007). Di Pelabuhan
Ratu, ikan gindara (Lepidocibium Javobronneum) diperoleh dari hasil tangkap pada kedalaman
laut 150-250 meter dan ditangkap dengan menggunakan pancing rawai tuna (long line). Dalam
keadaan dioperasikan jangkauan kedalaman mata pancing pada pancing rawai tuna dapat mencapai
100-350 m (Subani dan Barus 1989). Dengan demikian ikan gindara termasuk spesies ikan laut
dalam. Organisme laut dalam khususnya ikan memiliki struktur komunitas unik, dengan
kemampuan adaptasi tinggi terhadap tekanan, suhu, cabaya, dan surnber makanan. Dalam
mempertabankan hidupnya organisme laut dalam memanfaatkan proses kemosintesis oleh bakteri.
Kemosintesis adalab suatu proses dimana organisme tertentu menggunakan energi yang disimpan
dalam ikatan hydrogen sulfida (H2S) untuk berkombinasi dengan karbondioksida, oksigen, dan
proton untuk menghasilkan karbohidrat. Bakteri yang melaksanakan fungsi ini disebut
chemotrophs dan merupakan produsen utama dalam ekosistem laut dalam. Berbagai macam
konsumen tergantung baik secara langsung maupun tidak langsung pada chemotrophs ini (DKP
2004). Selain itu, ditemukan juga bakteri laut dalam yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh
karena menyimpan senyawa organik yang dapat menggantikan hngsi insulin (Motik et al. 2005).
Potensi bakteri laut dalam sebagai produsen utama pada ekosistem laut dalam karena dapat
menyimpan senyawa organik untuk dimanfaatkan dalam peningkatan kekebalan tubuh. Hal ini
diduga memiliki hubungan dengan pemanfaatan ikan laut gindara sebagai obat demam berdarah
karena dapat meningkatkan kekebalan tubuh, sementara ikan gindara merupakan ikan laut dalam
yang beiperan sebagai konsumen pada ekosistem laut dalam.
Dimana telah diteliti aktivitas antibakteri pada karagenan yang dihasilkan oleh alga merah
jenis Condrus crispus. Berdasarkan permasalah tersebut , maka dilakukan penelitian aktivitas
antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus yang diharapkan dapat
memberikan informasi dan bukti ilmiah untuk mengembangkan obat baru dari bahan alam bahari.
Minyak mentah dan minyak olahan adalah senyawa kompleks hidrokarbon yang mempunyai
ribuan variasi senyawa. Keragaman senyawa minyak menghasilkan keragaman kualitas fisik
kimia. Komposisi dan karakteristik minyak telah dideskripsikan secara rinci (Jokuty, et al., 2000).
Pengetahuan mengenai karakteristik minyak, dan karakteristik laut, adalah prasyarat untuk dapat
memprediksi kelakuan tumpahan minyak di laut dan perlakuan pemulihan pencemaran.

Perubahan fisik saat minyak terekspose ke lingkungan laut akan menentukan proses
bioremediasi, yang terutama adalah:
1) Evaporasi. Proses ini terutama untuk minyak volatile seperti benzene and smaller n-alkanes.
Evaporasi menghasilkan luas permukaan minyak dan menguntungkan bagi mikroba untuk
menghilangkan senyawa toksik tersebut.
2) Pelarutan. Proses ini tidak signifikan dari sudut perpindahan massa tetapi penting dalam proses
biodegradasi. Mikroba berada dalam air lebih mudah kontak dengan minyak terlarut.
3) Dispersi. Formasi emulsi minyak-air memperluas permukaan butir minyak sehingga memudahkan
mikroba untuk memproses minyak. Formasi emulsi ini merupakan proses penting dalam
penghilangan hidrokarbon oleh bacteria dan fungi (Singer and Finnerty, 1984). Tetapi emulsi
minyak-air dengan penambahan dispersan tidak efektif untuk proses biodegradasi minyak, karena
adanya tambahan zat organic dispersan.
4) Emulsifikasi. Emulsifikasi pembentukan chocolate mousse akan mengurangi luas permukaan
minyak sehingga menurunkan proses biodegradasi. Butir tar sebagai agregat besar akan
menghambat akses mikroba (Leahy and Colwell, 1990).

2.6 Pengertian Sterilisasi

Pada pengerjaan mikrobiologi, diperlukan suatu kondisi yang benar-benar aseptik


dimana alat penunjang serta nutrient dan substrat harus benar-benar steril. Hal ini berarti mikroba
kontaminan harus dimatikan. Sterilisasi dilakukan pada suhu 121 oC selama 30 menit, yaitu agar
spora atau mikroba dapat dimatikan. Spora adalah sel istirahat yang resisitan terhadap panas dan
lingkungan yang berfungsi sebagai tunas untuk berkembang biak selanjutnya. Udara tekan yang
digunakan juga harus dalam kondisi steril. Substrat yang berisi nutrien tidak peka terhadap suhu,
maka sterilisasi media substrat dilakukan pada 138 oC selama 5 menit. Pada substrat yang berisi
nutrien tetapi peka terhadap suhu, maka sterilisasi media substrat dilakukan dengan penyaringan
bertekanan melalui saringan milipore diameter 0,22 m (Indra, 2008).
Yang dimaksud sterilisasi dalam mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan
semua organisme yang terdapat pada atau di dalam suatu benda. Ketika untuk pertama kalinya
melakukan pemindahan biakan bakteri secara aseptic, sesungguhnya hal itu telah menggunakan
salah satu cara sterilisasi, yaitu pembakaran. Namun, kebanyakan peralatan dan media yang umum
dipakai di dalam pekerjaan mikrobiologi akan menjadi rusak bila dibakar. Untungnya tersedia
berbagai metode lain yang efektif (Singleton dan Sainsbury, 2006).
Sterilisasi adalah suatu proses untuk mematikan suatu oganiseme yang terdapat pada
atau dialam suatu benda. Tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan
panas, bahan kimia dan penyaringan. Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka
disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembapan maka disebut
sterilisasi kering. Mensterilkan media dalam tabung erlenmeyer diatas uap air secara tertutup
sampai mendidih, lalu media dalam tabung erlenmeyer yang sudah dipanaskan masukan ke dalam
cawan petri yang sudah diberi pemanas dengan lampu bunsen, cara memasukan media dalam
tabung erlenmeyer ke dalam cawan petri yang sudah dipanaskan baik secara miring atau agak
dengan jumlah tertentu sesuai dengan keinginan.
Teknik mensterilkan meja dan peralatan, teknik memindahkan media dari tabung ke
tabung dan teknik penggoresan di dalam cawan petri sebaiknya tidak jauh dari api bunsen, ruangan
sebaiknya ber AC, tidak ada udara/angin dan tidak boleh berbicara maupun mengeluarkan napas
pada saat memindahkan koloni bakteri (Label, Caray.,2008).

Sterilisasi dalam mikrobiologi menurut Irianto (2002) membebaskan tiap benda atau
substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun. Sterilisasi dilakukan bertujuan
mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan dengan panas (kalor), gas-gas
seperti formalsehide, etilenoksida atau betapriolakton oleh bermacam-macam larutan kimia; oleh
sinar lembayung ultra atau sinar gama. Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik
oleh sentrifugasi kecepatan tinggi atau oleh filtrasi. Sterilisasi dilakukan dalam proses pembiakan
bakteri agar didapatkan bakteri atau mikroorganisme yang kita inginkan dan menyingkirkan
mikroorganisme yang bukan menjadi pusat perhatian kita.
Lebih lanjut Irianto (2002) mengemukakan bahwa sterilisasi dapat dilakukan dengan tiga
cara, yaitu sterilisasi pemanasan basah, dengan menggunakan uap atau air panas, sterilisasi kering
dalam tanur dan pembakaran total (incineration). Pada umumnya sterilisasi peralatan yang
digunakan dalam pembiakan mikroorganisme seperti bakteri menggunakan sterilisasi kering yakni
melalui jilatan api (flaming). Jilatan api diterapkan terhadap scalpel, jarim, mulut tabung biakan,
kaca objek dan kaca penutup, caranya dengan menjilatkan pada api Bunsen. Sterilisasi
diperlakukan pada :
1. Sterilisasi produk pangan dalam kaleng, botol, dan kemasan lain.
2. Sterilisasi media cair dan nutrien untuk industry bioteknologi misalnya, obat-obatan dan enzim.
3. Sterilisasi bioreaktor dengan alat pengendali dan pemonitor.
2.7 Teknik Sterilisasi dan Cara Sterilisasi

Menurut Atlas, R.M (1946) pemilihan metode didasarkan pada sifat dan bahan yang akan
disterilisasi. Untuk mensterilisasikan peralatan dan bahan yang digunakan untuk membuat media
dapat dilakukan dengan cara :
1. Sterilisasi dengan sistem pemanasan, yaitu dengan sistem :
a. Basah, yaitu bahan yang digunakan harus dengan menggunakan uap air pada suhu tinggi, misalnya
sterilisasi media dalam autoklap
b. Kering, yaitu menggunakan dengan panas tinggi, misalnya sterilisasi ose dengan bunsen.
2. Sterilisasi dengan sistem kimia, yaitu menggunakan bahan kimia tertentu, misalnya
membersihkan meja dengan menggunakan alkohol.
3. Sterilisasi dengan sistem filtrasi, yaitu mensterilkan bahan yang tidak tahan suhu tinggi, misalnya
sterilisasi antibiotik dengan menggunakan filtrasi (penyaringan).
Jenis-jenis sterilisasi berdasarkan cara sterilisasi dapat dibedakan atas :
1. Sterilisasi secara fisik
2. Sterilisasi secara kimia
3. Sterilisasi secara mekanik
4. Sterilisasi secara gas mikroksida
5. Sterilisasi dengan saringan membrane
Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas,
bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka
disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut
sterilisasi panas kering atau sterilisasi panas kering. Di pihak lain, sterilisasi kimiawi dapat
dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasarkan pada sifat bahan
yang akan disterilkan. Metode sterilisasi yang umum digunakan secara rutin di laboratorium
mikrobiologi adalah yang menggunakan panas.
Sterilisasi basah biasanya dilakukan di dalam autoklaf atau sterilisator uap yang mudah
diangkat (portable) dengan menggunkan uap air jenuh bertekanan pada suhu 121 oC selama 15
menit. Karena titik didih air menjadi 121 oC itu disebabkan oleh tekanan 1 atmosfer pada
ketinggian permukaan laut, maka daur sterilisasi tersebut seringkali juga dinyatakan sebagai : 1
atm 15 menit. Pada tempat-tempat yang lebih tingginya diperlukan tekanan lebih besar untuk
mencapai suhu 121 oC. Karena itu daripada menyatakan besarnya tekanan, lebih baik menyatakan
bahwa keadaan steril dicapai dengan cara mempertahankan suhu 121 oC selama 15 menit
(Cappuccino JG, Sherman N. 1983)
Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat
ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 121
o
C. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan yang umum,
air suling,peralatan laboratorium, biakan yang akan dibuang, medium tercemar, dan bahan-bahan
dari karet.
Ada 4 hal utama yang harus diingat bila melakukan sterilisasi basah :
1. Sterilisasi bergantung pada uap, karena itu udara harus dikosongkan betul-betul dari ruang
sterilisator.
2. Semua bagian bahan yang disterilkan harus terkenai uap, karena itu tabung dan labu kosonga harus
diletakkan dalam posisi tidur agar udara tidak terperangkap di dasarnya.
3. Bahan-bahan yang berpori atau berbentuk cair harus permeabel terhadap uap.
4. Suhu sebagaimana yang terukur oleh thermometer harus mencapai 121 oC dan dipertahankan
stinggi itu 15 menit.
Sterilisasi panas kering dapat diterapkan pada apa saja yang tidak merusak, menyala,
hangus, dan menguap pada suhu setinggi itu. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini
antara lain pecah belah seperti pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga
peralatan seperti jarum suntik, dan bahan-bahan yang tidak tembus uap seperti gliserin, minyak,
vaselin, dan bahan-bahan berupa bubuk. Bahan-bahan yang disterilkan harus dilindungi dengan
cara membungkus, menyumbat atau menaruhnya dalam suatu wadah tertutup untuk mencegah
kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven (Hastuti, Utami Sri. 2008).
Proses sterilisasi lain yang juga dilakukan pada suhu kamar ialah penyaringan. Dengan
cara ini larutan atau suspensi dibebaskan dari semua organisme hidup dengan cara melakukannya
lewat saringan dengan ukuran pori yang sedemikian kecilnya sehingga bakteri dan sel-sel yang
lebih besar tertahan di atasnya, sedangkan filtratnya ditampung di dalam wadah yang steril.
Beberapa contoh bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini ialah serum, larutan bikarbonat,
enzim, toksin bakteri, medium sintetik tertentu, dan antibiotik.
Gambar 1. Desinfeksi meja kerja (Machmud, 2008)

2.8 Pembuatan Media

Media adalah suatu bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba berupa bahan
yang terdiri dari campuran zat makanan (nutrient) yang digunakan untuk kebutuhan makluk hidup
dalam melakukan aktivitas dan pertumbuhan selama hidupnya (Tjitrosomo. 1982).
Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji
sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus
disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. Berikut
ini beberapa media yang sering digunakan secara umum dalam mikrobiologi :
(www.enidchemicals.com)

- Lactose Broth

Lactose broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform


dalam air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu peerkaya (pre-enrichment broth)
untuk Salmonellae dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada
umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk memetabolisme
bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat difermentasi untuk
organisme koliform. Pertumbuhan dengan pembentukan gas adalah presumptive test
untuk koliform.
Lactose broth dibuat dengan komposisi 0,3% ekstrak beef, 0,5% pepton, dan 0,5%
laktosa.

- EMBA (Eosin Methylene Blue Agar)

Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa


dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa seperti S.
aureus, P. aerugenosa, danSalmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa
menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan
mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen
blue membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini
digunakan pada tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama P. Aerugenosa dan
Salmonella sp dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamanapun media ini sangat baik
untuk mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli.

Agar EMB (levine) merupakan media padat yang dapat digunakan untuk
menentukan jenis bakteri coli dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang
menggunakan eosin dan metilin bklue sebagai indikator memberikan perbedaan yang
nyata antara koloni yang meragikan laktosa dan yang tidak. Medium tersebut
mengandung sukrosa karena kemempuan bakteri koli yang lebih cepat meragikan
sukrosa daripada laktosa. Untuk mengetahui jumlah bakteri coli umumnya digunakan
tabel Hopkins yang lebih dikenal dengan nama MPN (most probable number) atau tabel
JPT (jumlah perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan
jumlah bakteri coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh air (www.enidchemicals.com).

- Nutrient Agar

Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga
digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif,
dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang
dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media yang umum
digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan,
untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk
mengisolasi organisme dalam kultur murni.

Untuk komposisi nutrien adar adalah eksrak beef 10 g, pepton 10 g, NaCl 5 g, air
desitilat 1.000 ml dan 15 g agar/L. Agar dilarutkan dengan komposisi lain dan disterilisasi
dengan autoklaf pada 121C selama 15 menit. Kemudian siapkan wadah sesuai yang
dibutuhkan.

- Nutrient Broth

Nutrient broth merupakan media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair.


Intinya sama dengan nutrient agar. Nutrient broth dibuat dengan cara sebagai berikut.
a. Larutkan 5 g pepton dalam 850 ml air distilasi/akuades.
b. Larutkan 3 g ekstrak daging dalam larutan yang dibuat pada langkah pertama.
c. Atur pH sampai 7,0.
d. Beri air distilasi sebanyak 1.000 ml.
e. Sterilisasi dengan autoklaf (www.enidchemicals.com).

- MRSA (deMann Rogosa Sharpe Agar)

MRSA merupakan media yang diperkenalkan oleh De Mann, Rogosa, dan Shape
(1960) untuk memperkaya, menumbuhkan, dan mengisolasi jenis Lactobacillus dari
seluruh jenis bahan. MRS agar mengandung polysorbat, asetat, magnesium, dan mangan
yang diketahui untuk beraksi/bertindak sebagai faktor pertumbuhan bagi Lactobacillus,
sebaik nutrien diperkaya MRS agar tidak sangat selektif, sehingga ada kemungkinan
Pediococcus dan jenis Leuconostoc serta jenis bakteri lain dapat tumbuh. MRS agar
mengandung :
1. Protein dari kasein 10 g/L
2. Ekstrak daging 8,0 g/L
3. Ekstrak ragi 4,0 g/L
4. D (+) glukosa 20 g/L
5. Magnesium sulfat 0,2 g/L
6. Agar-agar 14 g/L
7. dipotassium hidrogen phosphate 2 g/L
8. Tween 80 1,0 g/L
9. Diamonium hidrogen sitrat 2 g/L
10. Natrium asetat 5 g/L
11. Mangan sulfat 0,04 g/L
MRSB merupakan media yang serupa dengan MRSA yang berbentuk
cair/broth(www.enidchemicals.com).

- Trypticase Soy Broth (TSB)

TSB adalah media broth diperkaya untuk tujuan umum, untuk isolasi, dan
penumbuhan bermacam mikroorganisme. Media ini banyak digunakan untuk isolasi
bakteri dari spesimen laboratorium dan akan mendukung pertumbuhan mayoritas
bakteri patogen.

Media TSB mengandung kasein dan pepton kedelai yang menyediakan asam
amino dan substansi nitrogen lainnya yang membuatnya menjadi media bernutrisi untuk
bermacam mikroorganisme. Dekstrosa adalah sumber energi dan natrium klorida
mempertahankan kesetimbangan osmotik. Dikalium fosfat ditambahkan sebagai buffer
untuk mempertahankan pH.
Plate Count Agar (PCA)

PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di


atas permukaan. PCA dibuat dengan melarutkan semua bahan (casein enzymic
hydrolisate, yeast extract, dextrose, agar) hingga membentuk suspensi 22,5 g/L
kemudian disterilisasi pada autoklaf (15 menit pada suhu 121C). Media PCA ini baik
untuk pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya
mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino dan
substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B kompleks.

- APDA

Media APDA berfungsi untuk menumbuhkan dan menghitung jumlah khamir


dan yeast yang terdapat dalam suatu sampel. Khamir dan yeast akan tumbuh dengan
optimal pada media yang sesuai. Adanya asam tartarat dan pH rendah maka
pertumbuhan bakteri terhambat. APDA dibuat dengan merebus kentang selama 1 jam/45
menit, agar dilelehkan dalam 500 ml air. Campurkan ekstrak kentang dalam agar lalu
ditambahkan glukosa dan diaduk rata. Pada APDA jadi ini juga ditambah asam tartarat.

- Potato Dextrose Agar (PDA)

PDA digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan


kapang. Dapat juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel
atau produk makanan. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu
terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan
kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri. Cara membuat PDA
adalah mensuspensikan 39 g media dalam 1 liter air yang telah didestilasi. campur dan
panaskan serta aduk. Didihkan selama 1 menit untuk melarutkan media secara
sempurna. Sterilisasi pada suhu 121C selama 15 menit. Dinginkan hingga suhu 40-45C
dan tuang dalam cawan petri dengan pH akhir 5,6+0,2.

- VRBA (Violet Red Bile Agar)

VRBA dapat digunakan untuk perhitungan kelompok bakteri


Enterobactericeae. Agar VRBA mengandung violet kristal yang bersifat basa, sedangkan
sel mikroba bersifat asam. Bila kondisi terlalu basa maka sel akan mati. Dengan VRBA
dapat dihitung jumlah bakteri E.coli. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat
VRBA adalah yeast ekstrak, pepton, NaCl, empedu, glukosa, neutral red, kristal violet,
agar). Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan 1 liter air yang telah didestilasi.
Panaskan hingga mendidih sampai larut sempurna. Dinginkan hingga 50-60C.
Pindahkan dalam tabung sesuai kebutuhan, pH akhir adalah 7,4. Campuran garam bile
dan kristal violet menghambat bakteri gram positif. Yeast ekstrak menyediakan vitamin
B-kompleks yang mendukung pertumbuhan bakteri. Laktosa merupakan sumber
karbohidrat. Neutral red sebagai indikator pH. Agar merupakan agen pemadat.

- PGYA
Media ini berfungsi untuk isolasi, enumerasi, dan menumbuhkan sel khamir.
Dengan adanya dekstrosa yang terkandung dalam media ini, PGYA dapat digunakan
untuk mengidentifikasi mikroba terutama sel khamir. Untuk membuatnya, semua bahan
dicampur dengan ditambah CaCO3 terlebih dahulu sebanyak 0,5 g lalu dilarutkan dengan
akuades. Kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan disumbat dengan kapas lalu
disterilisasi pada suhu 121C selama 15 menit.

Media yang digunakan mikroorganisme untuk hidup adalah berupa; air, karbon atau nitrogen,
energi, mineral, asam amino dan vitamin. Bahan untuk media hidup mikroorganisme dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu :
Bahan Dasar :
a. Air digunakan untuk protoplasma sel, wahana masuknya nutrient, untuk sekresi/ ekskresi dan
untuk reaksi enzimatik sel sekitar 70 80 % . Dalam pembuatan media sebaiknya menggunakan
air suling.
b. Agar-agar (tumbuhan laut) tidak diuraikan jasad renik dan dapat membeku pada suhu 15 20 C.
c. Gelatin adalah berupa protein yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang sifatnya sama
dengan agar-agar.
Unsur-Unsur Nutrisi :
a. Sumber karbon yang berasal dari karbohidrat (contoh : amilum dan glukosa) dan dari asam organik
(contoh : asam asetat) digunakan mikroorganisme untuk sumber tenaga.
b. Sumber nitrogen (contoh : pepton dan ekstrak daging).
c. Sumber garam-garam ( contoh : K, Na, Fe dan Mg).
d. Vitamin (contoh : vitamin B).
e. Bahan dari alami (contoh : sari buah, ekstrak sayuran dan susu).
Bahan Tambahan (berupa bahan indikator dan antibiotik)
Berdasarkan macam-macam media hidup mikroorganisme dapat dikelompokkan menjadi
beberapa komponen, yaitu :
1. Berdasarkan Fase atau Sifat Fisik Medianya :

a. Media padat yaitu menggunakan bahan mengandung agar sekitar 15 g/l media contoh : NA.
Untuk mengamati penampilan morfologi koloni dan mengisolasi biakan murni.
2. Media setengah padat yaitu menggunakan bahan yang mengandung agar sekitar 0,5 %/l media,
digunakan untuk mengamati mortalitas bakteri.
3. Media cair tidak menggunakan agar (contoh : NB), digunakan untuk pembiakan dalam jumlah
besar melalui penelahaan fermentasi.
Berdasarkan Komposisi Zat Kimia Medianya :
a. Media sintesis, yaitu berdasarkan komposisi zat kimia yang diketahui secara pasti.
b. Media semi-sintesis, yaitu berdasarkan sebagian besar komposisi zat kimia yang diketahui.
c. Media non sintesis, yaitu berdasarkan komposisi zat kimia dalam media yang tidak diketahui.

Berdasarkan Fungsi Medianya :


a. Media Umum, yaitu media yang digunakan terdiri dari peptone dan ekstrak khamir (yeast ekstrak)
berupa media NA (Nutrien Agar), digunakan untuk pertumbuhan banyak jenis mikroba.
b. Media selektif, yaitu media yang ditambahkan zat tertentu sehingga bersifat selektif untuk
merangsang pertumbuhan satu jenis mikroba dan jenis yang lain mati (contoh : bakteri Vibrio sp
yang hanya dapat tumbuh pada media TCBSA (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose).
c. Media differensial, yaitu media yang mengandung suatu komponen yang dapat menyebabkan
mikroba tertentu terjadi perubahan sehinga mikroba tersebut dapat dibedakan dengan yang
lainnya, misalnya pertumbuhan koloni bakteri E. coli yang khas pada medium EMBA (Eosin
Methylene Blue Agar).
d. Media uji (assay media), yaitu media dengan komposisi tertentu untuk mengetahui atau menguji
adanya zat tertentu.
e. Media diperkaya, yaitu media yang berisikan komponen komplek (berupa darah dan serum).

Dalam pembuatan medium sebaiknya digunakan air suling. Air sadah pada umumnya
mengandung ion kalsium dan magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton
dan ekstrak daging, air dengan kualitas semacam ini dapat menyebabkan terbentuknya endapan
fosfat dan magnesium fosfat.
Berdasarkan sumber karbon yang digunakan, organisme dibagi menjadi dua kelompok.
Organisme yang dapat mensintesis semua komponen selnya dari karbondioksida disebut autotrof.
Sedangkan organisme yang memerlukan satu atau lebih senyawa organik sebagai sumber
karbonnya disebut heterotrof. Disamping sumber karbon organik, heterotrof juga memerlukan
karbondioksida.
Sumber nitrogen bagi organisme autotrofik ialah senyawa organik, sedangkan hiterotrof dapat
berupa asam amino atau senyawa-senyawa protein intermediet seperti peptida, proteosa dan
pepton. Misalnya, pada kaldu nutrien (nutrient broth) yang banyak dipergunakan untuk
menumbuhkan hiterotrof, nitogen diperoleh dari ekstrak daging dan pepton.

Faktor tumbuh ialah komponen seluler esensial yang tidak dapat disintetis seniri oleh suatu
orgenisme dasi sumber dasar karbon dan nitrogen. Komponen sel dimaksud dapat berupa asam-
asam amino atau vitamin.
pH medium juga amat penting bagi pertumbuhan organisme; terutama kerja enzim sangat
dipengaruhi oleh pH. Sebagian besar bakteri tumbuh paling baik pada pH sekitar 7.

Konsistensi medium dapat dibuat macam-macam bergantung kepada keperluannya.


Medium cair seperti kaldu nutrien atau kaldu glukosa dapat digunaan untuk berbagai keperluan
seperti pembiakan organisme dalam jumlah besar, penelahaan fermentasi dan berbagai macam uji.
Bila diinginkan medium padat, dapat ditambahkan bahan pemadat ke dalam medium kaldu.
Medium padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau morfologi koloni dan
mengisolasi biakan murni. Sedangkan medium dengan konsistensi pertengahan disebut medium
setengah padat, biasanya untuk menguji motilitas bakteri dan mengandung agar-agar dalam jumlah
kecil.

Yang paling umum digunakan untuk bahan pemadat medium adalah agar-agar, yang larut
atau cair pada 100C, dan tetap berbentuk cair bila didinginkan sampai kurang 43C.
Media buatan manusia dapat berupa :
1. Medium cair yang biasa dipakai ialah kaldu daging lembu sebanyak 3 gr dalam 1 liter air murni
dan 5 g peptone. Peptone ialah protein yang terdapat pada daging, air susu, kedelai, putih telur.
Peptone N2 kaldu berisi garam-garam mineral.
2. Medium kental (padat) biasanya menggunakan kentang yang di potong serupa silinder untuk
medium. Ada juga medium dari kaldu yang dicampur dengan sedikit agar-agar. Agar-agar ialah
sekedar zat pengental dan bukan zat makanan bagi bakteri.
3. Medium yang diperkaya. Bakteri juga tumbuh pada dasar makanan. Seperti, bakteri pathogen.
Brucella abortus, mycobacterium tuberculosis, diplococcus pneumoniae, memerlukan zat
makanan tambahan berupa serum atau darah yang tidak mengandung fibrinogen. Fibrinogen
adalah zat yang menyebabkan darah menjadi kental apabila keluar dari luka.
4. Medium yang kering dapat tersedia dalam bentuk serbuk kering
5. Medium yang sintetik berupa ramuan-ramuan zat anorganik yang tertentu yang mengandung zat
karbon dan nitrogen. bakteri autotrof dapat hidup pada medium ini.
Medium sintetik berguna sebagai medium dasar dalam penyelidikan macam-macam
vitamin, asam amino dan lain. Dan juga untuk membedakan Aerobacter aerogenes dari escheria
coli. Media yang hanya cocok untuk species-species tertentu dan tidak cocok untuk species yang
lain disebut medium selektif.
Dalam pembuatan media dapat digunakan 3 buah larutan peptone dengan pH 7,9 yang
berfungsi untuk membantu pembiakan media. Larutan PCA (Potato Clostirel agar) dengan
menggunakan media bakteri dan larutan PDA (Potato Dextrose Agar) dengan menggunakan tempe
(kapang) dan tomat (Khamir). Pembuatan media ini harus dipersiapkan selama 2-3 minggu
Pada pembuatan media untuk berbagai macam organisme harus menggunakan bahan yang
mengandung banyak protein dangan berbagai konsentrasinya sehingga dapat menumbuhkan
bakteri (Stanier, 2001).
Komponen anorganik maupun organic merupakan substrat ataupun medium yang baik bagi
kehidupan mikroorganisme. Mikroorganisme penghuni tanah merupakan campuran populasi dari
protozoa (amoeba, flagllata, cilliata), bakteri (clostridium, rhizobium), alga (ganggang) seperti
alga biru, hijau dan jamur terutama jamur bertingkat rendah seperti jamur lender, berbagai ragi,
dan berbagai phyromycetes dan ascomycetes (Dwijoseputro, 1998).

2.9 Pengecatan (Pewarnaan)

Pewarnaan yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia khusus yang akan
memberikan reaksi jika mengenai bagian tubuhnya, karena pewarna tersebut berbentuk ion yang
bermuatan positif atau negatif. Sel bakteri bermuatan mendekati negatif kalau dalam keadaan pH
mendekati netral. Sehingga kalau kita memberikan pewarna yang bermuatan positif misalnya
metilen biru, maka akan hasil pewarnaan akan nampak jelas. Secara kimia, zat warna dapat
digolongkan ke dalam senyawa asam dan senyawa basa. Jika warna terletak pada muatan positif,
maka senyawa tersebut dinamakan zat warna basa. Sebaliknya jika warna terdapat pada ion
bermuatan negatif, maka senyawa tersebut dinamakan zat warna asam (Suriawiria, 1986).
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas,
begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air,
dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri
sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal
tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel
bakteri melalui serangkaian pengecatan (Jimmo, 2008).
Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat
dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah pewarna sederhana dapat diartikan
dalam mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja (Gupte, 1990).
Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya
bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan
sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Faktor-faktor
yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi
pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat
warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat
juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan
asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies (Dwidjoseputro, 1994).
Teknik pewarnaan dikelompokkan menjadi beberapa tipe, berdasarkan respon sel bakteri
terhadap zat pewarna dan sistem pewarnaan yang digunakan untuk pemisahan kelompok bakteri
digunakan pewarnaan Gram, dan pewarnaan acid-fast(tahan asam) untuk genus
Mycobacterium.

Untuk melihat struktur digunakan pewarnaan flagela, pewarnaan kapsul, pewarnaan spora,
dan pewarnaan nukleus. Pewarnaan Neisser atau Albert digunakan untuk melihat granula
metakromatik (volutin bodies) pada Corynebacterium diphtheriae. Untuk semua prosedur
pewarnaan mikrobiologi dibutuhkan pembuatan apusan lebih dahulu sebelum melaksanakan
beberapa teknik pewarnaan yang spesifik (Pelezar,2008).

2.10 Teknik Pengecatan Pada Mikroba


2.10.1 Pewarnaan sederhana
Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya untuk melihat
bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai
macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan
menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat
warna saja. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena
sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk
pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif)
(Tryana, 2008).

Zat warna yang dipakai hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan pelarut.
Pewarnaan Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk melihat morfologi bakteri secara
umum. Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan adalah biru metilen (30-60 detik), ungu
kristal (10 detik) dan fukhsin-karbol (5 detik).

Gambar 2. Pewarnaan Sederhana

2.10.2 Pewarnaan differensial dibagi pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam
- Pewarnaan differensial
Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna seperti pewarnaan gram dan
pewarnaan tahan asam. Penjelasan sebagai berikut : (Buckle, 2007)

- Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk membedakan spesies
bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-positif dan gram-negatif, berdasarkan sifat kimia
dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark
Hans Christian Gram (18531938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk
membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae.

Dengan metode pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri
Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi
atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu, pengecatan
Gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti
Mycoplasma sp Contoh bakteri yang tergolong bakteri tahan asam, yaitu dari genus
Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu dari genus Nocardia. Bakteribakteri dari kedua
genus ini diketahui memiliki sejumlah besar zat lipodial (berlemak) di dalam dinding selnya
sehingga menyebabkan dinding sel tersebut relatif tidak permeabel terhadap zat-zat warna yang
umum sehingga sel bakteri tersebut tidak terwarnai oleh metode pewarnaan biasa, seperti
pewarnaan sederhana atau Gram.
Menurut Filzahazny (2008) ada beberapa perbedaan sifat yang dapat dijumpai antara
bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dilihat pada table berikut ini :

- Pewarnaan Tahan Asam


Gambar 3

Pewarnaan ini ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam konsentrasi
tinggi sehingga sukar menyerap zat warna, namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya
karbolfukhsin melalui proses pemanasan, maka akan menyerap zat warna dan akan tahan diikat
tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun seperti asam-alkohol. Karena itu
bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA).

Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan bakteri penyebab
tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis . Ada beberapa cara pewarnaan tahan asam, namun
yang paling banyak adalah cara menurut Ziehl-Neelsen

- Pewarnaan Spora
Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan biasa, diperlukan teknik
pewarnaan khusus. Pewarnaan Klein adalah pewarnaan spora yang paling banyak digunakan.

Endospora sulit diwarnai dengan metode Gram. Untuk pewarnaan endspores, perlu
dilakukan pemanasan supaya cat malachite hijau bisa masuk ke dalam spora , seperti halnya pada
pewarnaan Basil Tahan Asam dimana cat carbol fuschsin harus dipanaskan untuk bisa
menembus lapisan lilin asam mycolic dari Mycobacterium .

Gambar 4

- Pewarnaan flagel
Pewarnaan flagel dengan memberi suspense koloid garam asam tanat yang tidak stabil,
sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan flagel.

- Pewarnaan kapsul
Pewarnaan ini menggunakan larutan Kristal violet panas, lalu larutan tembaga sulfat
sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul, karena jika pembilasan dengan
air dapat melarutkan kapsul. Garam tembaga juga memberi warna pada latar belakang. Yang
berwana biru gelap.

2.10.3 Pewarnaan khusus untuk melihat komponen lain dan bakteri :

pewarnaan Neisser (granula volutin),

pewarnaan yodium (granula glikogen).

2.10.4 Pewarnaan negatif


Mempelajari penggunaan prosedur pewarnaan negatif untuk mengamati morfologi
organisme yang sukar diwarnai oleh pewarna sederhana. Bakteri tidak diwarnai, tapi mewarnai
latar belakang. Ditujukan untuk bakteri yang sulit diwarnai, seperti spirochaeta.

Cara pewarnaan negatif

- Sediaan hapus teteskan emersi lihat dimikroskop

Pewarnaan negatif, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar
belakangnya menjadi hitam gelap. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan
(tembus pandang). Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. Pada
pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan
kimia, maka terjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat
diperoleh dengan lebih tepat. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina.

Pewarnaan negatif memerlukan pewarna asam seperti eosin atau negrosin.pewarna asam
memiliki negatif charge kromogen,tidak akan menembus atau berpenetrasi ke dalam sel karena
negative charge pada permukaan bakteri. oleh karena itu, sel tidak berwarna mudah dilihat dengan
latar belakang berwarna.

Gambar 5 Pewarnaan Negatif (Hadiotomo, 1990)


BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Pelaksanaan Praktikum

Hari : Rabu

Tanggal : 23 November 2011

Jam : 17.00 19.00 WIB

Tempat : Gedung E Lantai 2 Laboratorim Mikrobiologi dan Bioteknologi Jurusan

Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro Semarang

3.2 Alat dan Bahan

- Acara 3
Nama Alat dan Bahan Kegunaan
Autoklaf untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan
uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15
lbs) selama kurang lebih 15
menit.(http://id.wikipedia.org/wiki/Autoklaf).
Bunsen Untuk menciptakan kondisi yang steril adalah
pembakar bunsen. Untuk sterilisasi jarum ose
atau yang lain, bagian api yang paling cocok
untuk memijarkannya adalah bagian api yang
berwarna biru (paling panas).

Membran Filter Sebagai penyaring.


Oven merupakan alat sterilisasi dengan menggunakan
udara panas kering, dimana oven berfungsi
mensterilisasi alat-alat gelas yang tidak
bersekala. Perinsip dari oven ini sendiri adalah
menghancurkan lisis mikroba menggunakan
udara panas kering(Hadioetomo, Ratna Siri,
1993, Mikrobiologi Dasar dalam Praktek,
Gramedia diambil dari web).
Disinfektan Untuk mensterilkan meja kerja dari mikroba
dari udara(tim asisten).

- Acara 4
Nama Alat dan Bahan Kegunaan
Pepton produk hidrolisis protein hewani atau
nabati seperti otot, liver, darah, susu,
casein, lactalbumin, gelatin dan
kedelai. Komposisinya tergantung
pada bahan asalnya dan bagaimana
cara memperolehnya.
Yeast terbuat dari ragi pengembang roti atau
pembuat alcohol. Yeast extract
mengandung asam amino yang
lengkap & vitamin (B complex).
Bacto Agar untuk pemadat media.
Aged Seawater sebagai pelarut.
pH Sebagai acuan kemampuan hidup
mikroba.
- Acara 5
Nama Alat dan Bahan Kegunaan
Gelas benda Sebagai tempat untuk biakan.
lampu spirtus Sama seperti bunsen.Agar tetap steril
wilayah kerja kita.
Mikroskop Untuk menngamati bentuk mikroba.
Akuades steril Untuk mencuci mikroba.
Biakan murni Vibrio.sp, biakan murni Untuk diamati.
Bacillus.sp, dan Biakan Murni E.Coli

Kristal Violet Sebagai pewarna dalam pewarnaan


gram gram.
larutan Ziehl-neelsen Sebagai pewarna dalam pewarnaan
Ziehl-Nelsen.
Alkohol Acid Sama seperti disinfektan.
Carbol fuschsin Sebagai cat dalam Pewarnaan Ziehl
Nelsen.
Malachite Green Sebagai pewarna dalam pewarnaan
spora.
Aqueous Safranin Sebagai cat pewarna dalam pewarnaan
endospore dan gram.

3.3.Cara Kerja

- Sterilisasi (Acara 3)

1. Destroyed (Pemanasan)
a. Alat-alat yang digunakan sebelumnya dalam pembuatan media disterilisasi terlebih dahulu.
b. Panaskan air pada kompor, cawan petri ataupun tabung reaksi dimasukan perlahan-lahan. Dan
semua bagian pada cawan petri dan tabung reaksi harus terendam semua.
c. Setelah itu, barulah di cuci dengan sabun.
d. Dan dikeringkan dan dibungkus dengan kertas. Tetapi sebelum dibungkus harus disemprotkan
dengan alcohol 75 %.
e. Lalu masukan dalam autoklaf(apabila ingin menggunakan sistem lahan basah).
f. Set waktu yakni dengan waktu 20 menit untuk sterilisasi alat, dan 15 menit untuk media.
g. Setelah selesai, tunggu hingga temperature menunjukan 0 C (sekitar 5 menit).
h. Keluarkan alat ataupun media yang sudah disterlisasi.
i. Alat atau media pun siap untuk digunakan.

1. Bunsen

Gambar 6
a. Prinsip kerja bunsen
Bunsen merupakan salah satu alat sterilisasi yang menggunakan nyala api. Nyala api berfungsi
untuk mensterilkan setiap alat yang digunakan dalam teknik sterilisasi.

b. Prosedur kerja Bunsen


1. Nyalakan pembakar bunsen dengan cara membuka tutupnya.
2. Sterilkan jarum ose dengan membakar ujung jarum yang terbuat dari logam pada api bunsen.
3. Peganglah jarum dengan posisi agak tegak di atas api ( 45), bakar jarum hingga berpijar dan
pijaran tersebut merambat hingga pangkal bagian logam jarum.
4. Bila sudah selesai, tunggu beberapa detik hingga suhu ose kembali normal. Atau sentuhkan
ujung ose pada permukaan media hingga terdengar bunyi ches.

2. Inkubator
Gambar 7
a. Prinsip kerja Inkubator
Inkubator secara umum digunakan sebagai perlengkapan dalam laboratorium mikrobiologi
pangan. Inkubator memiliki fungsi yang sama dengan water bath yaitu sebagai alat inkubasi pada
analisa mikrobiologi. Inkubator adalah alat yang digunakan untuk menciptakan suhu stabil dan
konstan. Suhu inkbator dipengaruhi oleh adanya perubahan suhu pada suhu ruang, oleh karena itu
perubahan suhu ruang perlu diawasi terutama saat terjadi perubahan musim.

b. Prosedur Sterilisasi Panas Kering pada inkubator


1. Buka tutup inkubator dan masukkan peralatan dari gelas yang sudah dibungkus ke dalam
inkubator.
2. Tutup inkubator dan atur pengontrol suhu pada angka 160-180C selama 1-2 jam.

- Pembuatan Media( Acara 4)


1. Cara Sterilisasi Gelas ukur dan Tabung Reaksi
a) Kapas di bungkus kain kasa dan di ikat dengan benang kasur.
b) Bungkusan kapas di masukkan ke mulut tabung reaksi dan labu ukur kemudian permukaannya di
tutup dengan alumunium foil dan di ikat menggunakan benang kasur agar tidak terlepas
selanjutnya tabung reaksi dan labu ukur di masukkan ke dalam autoclave.

2. Cara sterilisasi gelas kimia


a. Permukaan gelas kimia dan labu ukur di tutup dengan aluminium foil.
b. Gelas kimia dan labu ukur di masukkan ke dalam autoclave.

3. Cara sterilisasi cawan petri:


a. Seluruh permukaan cawan petri di bungkus menggunakan kertas hvs.
b. cawan petri yang telah dibungkus di masukkan ke dalam autoclave.

4. Cara sterilisasi pada media pengencer larutan


a. Nutrient agar di timbang dengan timbangan analitik untuk pembuatan larutan tertentu.
b. Nutrien agar dimasukkan kedalam labu erlenmeyer dan ditambahkan aquades.
c. Lalu dipanaskan mengunakan kompor/oven dan diaduk menggunakan batang pengaduk.
d. Larutan dibagi menjadi 2 bagian kedalam labu erlenmeyer dan mulut labu.
e. Erlenmeyer ditutup dengan gulungan kapas.
f. Kemudian dilapisi dengan alumunium foil.
g. Masukkan kedalam autoclave.

- Pewarnaan (Acara 5)

1. Pembuatan Preparat Bakteri

Bakteri diratakan setipis mungkin diatas gelas benda yang bersih. Selanjutnya bakteri difiksasi
dengan cara melakukan secara cepat diatas nyala api Bunsen kira-kira 2-3 kali. Smear sekarang
siap untuk diwarnai.

2. Pewarnaan Gram

a. Bubuhkan Kristal violet sampai smear terendam cat, biarkan selama 1 menit, kemudian cuci
dengan air mengalir.
b. Bubuhkan smear dengan Burke, s iodine selama 1 menit, cuci dengan air mengalir.
c. Deklonisasi dengan etanol 95 %, cuci dengan air mengalir.
d. Bubuhkan cat penutup dengan safranin akuosa, diamkan selama 30 detik, cuci dengan air
mengalir.
e. Keringkan anginkan preparat.
f. Amati dibawah mikroskop dengan minyak imersi.

3. Pewarnaan Endospora

a. Bubuhkan cat malachite green pada smear, panaskan sampai cat menguap. Hindari preparat
mendidih. Cuci dengan air mengalir.
b. Bubuhkan cat penutup dengan aqueous safranin, diamkan selama 1-2 menit. Cuci dengan air
mengalir.
c. Kering anginkan.
d. Amati dibawah mikroskop dengan minyak imersi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

- Sterilisasi

Sterilisasi Destruction Dipanaskan Cuci dengan sabun

Lalu dikeringkan

Autoklaf merupakan alat untuk sterilisasi dengan menggunakan sistem basah. Khusus
untuk cawn petri dibungkus dengan memakai kertas biasa. Cara melipat pun ada cara khusus.
Sebelum dibungkus, semprot dahulu dengan alcohol lalu di lap.
Lubang pada autoklaf adalah untuk pengeluaran gas (uap). Terdapat 3 besi pada dasar
autoklaf dan apabila ingin melakukan sterilisasi direndam dengan air hingga 3 besi tersebut
terendam.
Sterilisasi dengan autoklaf dilakukan pada suhu 121 C , dengan 1 atmoser, dan 15 psi.
Tutup pada autoklaf haruslah ditutup sekencang-kencangnya, ini dikarenakan apabila tidak ditutup
dengan kencang tutup akan keluar karena sebagaimana kita ketahui di dalam autoklaf terdapat
kekuatan tekanan sebesar 1 atmosfer. Katup pada autoklaf dibagian luar terdapat 2, diantaranya
adalah berfungsi untuk pengamanan. Sedangkan 1 lagi, yakni katup utama berperan untuk imbangi
keluar atau masuknya udara.
Adapun contoh untuk sterilisasi alat pada autoklaf dimana sebagai berikut,

Alat 20 menit Matikan lampu Tunggu hingga temperature menunjukan


angka 0C baru dibuka dan diambil alat yang telah disterilisasi.
Alat sterilisasi lainnya adalah incubator, disini menggunakan sistem lahan kering,
dengan menggunakan temperature sebesar 171 C. selain incubator, terdapat alat lain, yaitu
Bunsen, dimana Bunsen harus selalu dinyalahkan saat proses kerja (semuanya harus dekat dengan
Bunsen). Di laboratorium pun selain alat yang harus steril keadaan praktikan pun harus steril
dengan menyemprotkan alcohol 75 % ke tangan ataupun ke alat.
Adapun untuk alat sistem kering ada 2, yaitu incubator dan oven. Tetapi kedua alat
tersebut berbeda dimana oven memiliki kekurangan. Diantaranya pada oven temperature akan naik
terus, lalu ruang pada oven tidak sebanyak incubator, dan terakhir adalah settingan(Pengaturan)
waktu pada oven akan lebih sedikit dibandingkan dengan incubator.
Alat lainnya adalah membrane filter, dimana terdapat 2 komponen alat yang berbeda.
Membrane dan filter sehingga apabila disatukan menjadi membrane filter.

- Pembuatan media
Yeast sama pepton merupakan nutrisi untuk bakteri pada pembuatan media. Berikut
komposisi pada pembuatan media menggunakan media marine bacteria dengan medium zobel :
- Pepton : 0.25 gr
- Yeast : 0.05 gr
- Bacto alga : 1.5 gr
- Aged Seawater : 100 ml
*( 100 ml merupakan patokan dalam pembuatan media)
Zobel, dengan komposisi :
a. Pepton sebagai nutrient untuk bekteri.
b. Bacto agar sebagai perekat pada zobell padat.
c. Ekstrak Yeast sebagai nutrient untuk bakteri.
d. Pada zobell cair tidak memerlukan bacto agar.

Cara pembuatan :
1. Setelah di timbang masukkan ke dalam Erlenmeyer. Dan biasanya digunakan air laut yang steril.
2. Dipanaskan sambil diaduk, dipanaskan sampai terlihat buih-buih sampai mendidih.
3. Ditutupi pakai kapas yang padat.
4. Dipakai alumunium foil.
5. Media yang menggunakan cawan petri disebut media miring, sedangkan media cawan petri
disebut media datar.

*Jangan dalam keadaan panas saat memindahkannya agar tidak menguap, air dari uap tersebut
akan menghasilkan jamur dan akan terjadi kontaminasi.

- Pengecatan (Pewarnaan)
1. Pengecatan Gram
Menggunakan bahan-bahan yaitu :
a. Kristal violet
b. Burke,s iodine
c. Ethanol 95%
d. Safranin akuosa

Keterangan hasil :
Bakteri gram positif berwarna violet.
Bakteri gram negative berwarna merah.
Beberapa bakteri bersifat gram variabel, bakteri ini tidak pernah tampak berwarna semuanya
merah atau violet.
Bakteri gram positif dapat berubah menjadi gram negative diantaranya karena pengaruh umur dan
kondisi pertumbuhan.

2. Pengecatan Spora
Menggunakan bahan-bahan yaitu :
a. Malachite green
b. Safranin akuosa

Keterangan hasil :
Spora tampak berwarna hijau. Sel dan bagian sel yang lain berwarna merah.
4.2 Pembahasan
- Sterilisasi

Menurut Koesmadji (2002) prinsip sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik,
fisik dan kimiawi.
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil
(0.22mikron atau 0.45 mikrob) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini
ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.

- Pemanasan
a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum
inokulum, pinset, batang L, dll.
b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-180C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat
yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat
menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf

- Penyinaran dengan UV Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya
untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan
disinari lampu UV

3. Sterilisasi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol.

Prinsip cara kerja autoklaf


Seperti yang telah dijelaskan sebagian pada bab pengenalan alat, autoklaf adalah alat untuk
memsterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu
1210C. Untuk cara kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Suhu dan tekanan tinggi
yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar
untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan
suhu 121C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 121C
atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk
tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C,
sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka
air akan memdididh pada suhu 1210C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika
dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang.
Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20
psi supaya tercapai suhu 121C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika
dididihkan pada suhu 121C dan tekanan 15 psi selama 15 menit. Pada saat sumber panas
dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak
udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam
autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf
naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai., maka proses sterilisasi dimulai dan timer
mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan
tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum
tekanan mencapai 0 psi. Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat
digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus
stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip.
Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu
ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja
dengan baik. (Koesmadji, 2002).

Beberapa media atau bahan yang tidak disterilkan dengan autoklaf adalah :
- Bahan tidak tahan panas seperti serum, vitamin, antibiotik, dan enzim
- Pelarut organik, seperti fenol
- Buffer engan kandungan detergen, seperti SDS

Untuk mencegah terjadinya presipitasi, pencoklatan (media menjadi coklat) dan hancurnya
substrat dapat dilakukan pencegahan sbb :
- Glukosa disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa fosfat
- Senyawa fosfat disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa garam mineral
lain.
- Senyawa garam mineral disterilkan terpisah dengan agar
- Media yang memiliki pH > 7,5 jangan disterilkan dengan autoklaf
- Jangan mensterilisasi larutan agar dengan pH < 6,0

Erlenmeyer hanya boleh diisi media maksimum dari total volumenya, sisa
ruang dibirkan kosong. Jika mensterilkan media 1L yang ditampung pada Erlenmeyer 2L maka
sterilisasi diatur dengan waktu 30 menit.

Sterilisasi dengan penyaringan (filtrasi)


Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang
mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan
ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan
diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini
.

Sterilisasi dengan udara panas (Dry heat sterilization)


Sterilisasi dengan metode ini biasanya digunakan untuk peralatan gelas seperti cawan petri,
pipet ukur dan labu erlenmyer. Alat gelas yang disterilisasi dengan udara panas tidak akan timbul
kondensasi sehingga tidak ada tetes air (embun) didalam alat gelas.
Bungkus alat-alat gelas dengan kertas payung atau aluminium foil
Atur pengatur suhu oven menjadi 1800C dan alat disterilkan selama 2-3 jam.

Inkubator
Inkubator digunakan untuk sterilisasi kering pada suhu 1710C. Alat ini untuk mengeringkan
alkhol yang tersisa di cawan petri atau alat lainnya agar tidak membekas atau bercak. Perbedaan
inkubator dengan oven adalah pada inkubator dilengkapi pengatur suhu, sedangkan pada oven
tidak terdapat pengatur suhu. Sehingga apabila inkubator dibuka, suhu tersebut akan berangsung-
angsur menurun sesuai dengan suhu lingkungan, sedangkan pada oven tidak.
Pembakar Bunsen (Bunsen Burner)
Bunsen merupakan alat pemanasan sederhana yang menggunakan spiritus. Bunsen
digunakan untuk mensterilisasi setiap alat pada saat melakukan praktikum mikrobiologi khususnya
pembuatan media. Hal tersebut bertujuan agar alat tetap steril dan tidak terkontaminasi oleh
bakteri. Sehingga dierlukan api bunsen yang berada didekat kita apabila melakukan kegiatan yang
bersifat mikrobiologi.
Salah satu alat yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar
bunsen. Api yang menyala dapat membuat aliran udara karena oksigen dikonsumsi dari bawah dan
diharapkan kontaminan ikut terbakar dalam pola aliran udara tersebut. Untuk sterilisasi jarum ose
atau yang lain, bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya adalah bagian api yang
berwarna biru (paling panas). Perubahan bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau
metanol.

Alkohol 75% digunakan dengan cara menyemprotkan disekitar area tempat kita melakukan
praktikum mikrobiologi. Fungsi dari alkohol 75% ini untuk mensterilkan area laboratorium dari
kontaminasi bakteri-bakteri. Menggunakan konsentrasi 75% karena dengan konsentrasi tersebut
bakteri yang berada disekitar kita dapat langsung mati.

- Pembuatan Media

Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media : (Weesley, V. 1993)


a. Agar, dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari beberapa jenis
rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh
Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika dicampur dengan air dingin, agar tidak akan
larut. Untuk melarutkannya harus diasuk dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali atau
sterilisasi yang terlalu lama dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.
b. Peptone, adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver, darah, susu, casein,
lactalbumin, gelatin dan kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan bagaimana
cara memperolehnya.
c. Yeast extract. Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alcohol. Yeast extract
mengandung asam amino yang lengkap & vitamin (B complex).
d. Karbohidrat, Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas dari
karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya digunkan dalam amilum, glukosa, fruktosa,
galaktosa, sukrosa, manitol, dll. Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis fermentasi adalah
0,5-1%.
Dalam pembuatan media, larutan yang telah ditimbang kemudian dicampur dalam
erlenmeyer. Kemudian dilakukan pemanasan dengan tetap mengaduk larutan tersebut. Hal tersebut
bertujuan agar larutan tersebut bercampur hingga homogen, agar tidak ada larutan yang
menggumpal. Setelah dipanaskan, ditunggu hingga larutan hangat. Hal tersebut dilakukan karena
apabila larutan masih panas dituangkan pada cawan petri atau tabung reaksi, akan mengakibatkan
uap air sehingga lembab menimbulkan jamur pada media tersebut.
Cara menuangkan larutan media pada cawan petri atau tabung reaksi dengan cara
mendekatkan pada api bunsen agar media tidak terkontaminasi. Selain itu, cawan atau tabung
reaksi harus berada di tempat yang datar. Cara meratakan pada cawan petri dengan digoyangkan
secara perlahan agar tidak ada bagian yang kosong. Karena pada bagian yang kosong tersebut
merupakan zona hambat yang akan diukur dengan jangka sorong. Cara meratakan media pada
media miring (tabung reaksi) adalah dengan memiringkan tabung reaksi agar lebih mudah untuk
meratakannya dan menyebar rata. Sedangkan pada media datar cukup ditaruh pada daerah yang
datar kemudian diratakan dengan L glass (Rusdimin, 2003).

Tabung reaksi (Reaction Tube / Test Tube)


Di dalam mikrobiologi, tabung reaksi digunakan untuk uji-uji biokimiawi dan
menumbuhkan mikroba.Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi
dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan
ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak (deep
tube agar) dan agar miring (slants agar). Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang
kemiringan media yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak
terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar
resiko kontaminasi. Untuk alas an efisiensi, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap
tabung.
Gambar 8

Pada penanaman bakteri, hasil yang didapatkan akan berbeda antara teknik spread dan pour
plate, pada teknik spread karena yang diletakkan terlebih dahulu adalah media baru kemudian
bakteri, maka bakteri hanya akan hidup pada permukaan medianya saja karena bakteri tidak dapat
masuk kedalam media.
Sedangkan peda teknik pour plate, karena yang dimasukkan terlebih dahulu adalah bakteri
baru kemudian media dan kemudian digoyang-goyang membentuk angka 8, maka bakteri dapat
hidup dibawah dan didalam media.Hal ini berakibat berbedanya cara pengambilan sample bakteri,
pada teknik spread, bakteri cukup dengan digores saja karena berada pada bagian atas media.
Sedangkan hasil dari pour plate harus dicungkil untuk mendapatkan hasil atau sampel bakterinya.
Dalam penelitian ini, media yang digunakan untuk isolasi, kultur, penyimpanan isolat murni
dan uji sensitivitas adalah Zobell 2216E (half strength dan full strength). Untuk Zobell half
strength bahan-bahan yang dibutuhkan adalah Pepton, Yeast serta Agar, sesuai dengan takaran
yang telah ditentukan dan dibutuhkan, sedangkan untuk Zobell full komposisi Pepton dan Yeast-
nya 2 kali lipat dari komposisi awal. Kemudian dicampurkan dalam air laut steril lalu dipanaskan
dan diaduk sampai homogen. Dalam hal ini, ada 2 jenis Zobell yang digunakan pula yaitu Zobell
padat dan Zobell cair, perbedaan kedua Zobell hanya terletak pada komposisi racikannya yaitu
untuk zobell cair tidak menggunakan agar(http://onypoenya.files.com/2011/03/laporan-
praktikum-mikrobiologi-umum-pewarnaan-sel-bakteri-dan-jamur-dan-pewarnaan-
endospora.doc).
Cawan Petri (Petri Dish)

Gambar 9

Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme. Medium dapat dituang
ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam
berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media
sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10
ml(Framesti.2010).

Dari 2 alat untuk pertumbuhan bakteri tersebut terdapat perbedaan dalam prosesnya dimana,
pada cawan petri media cair yang ada di Erlenmeyer sebelum dimasukan ke cawan petri harus
dimasukkan terlebih dahulu ke autoclave. Sedangkan pada tabung reaksi larutan yang sudah
homogen pada Erlenmeyer dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dan tabung reaksi yang nantinya
disterilisasi di autoclave.
- Pewarnaan
Pewarnaan Endospora
Endosopora tidak mudah diwarnai dengan zat pewarna pada umumnya, tetapi sekali diwarnai, zat
warna tersebut akan sulit hilang. Hal inilah yang menjadi dasar dari metode pengecatan spora
secara umum. Pada metode Schaeffer-Fulton yang banyak dipakai dalam pengecatan endospora,
endospora diwarnai pertama dengan malachite green dengan proses pemanasan. Larutan ini
merupakan pewarna yang kuat yang dapat berpenetrasi ke dalam endospora. Setelah perlakuan
malachite green, biakan sel dicuci dengan air lalu ditutup dengan cat safranin. Teknik ini akan
menghasilkan warna hijau pada endospora dan warna merah muda pada sel vegetatifnya(Waluyo
(2004). Langkah-langkahnya sebagai berikut:
a) Gunakan teknik aseptis, siapkan biakan bakteri dalam kondisi udara yang kering dan dengan
pemanasan yang baik.
b) Siapkan waterbath yang dipanaskan.
c) Tutup gelas preparat dengan selembar tisu dan letakkan pada rak di atas waterbath.
d) Tetesi dengan malachite green.
e) Panaskan gelas preparat selama 5 menit.
f) pindahkan gelas preparat dari waterbath dan ambil kertas tisu dari preparat.
g) Biarkan gelas preparat dingin lalu cuci dengan air deionisasi.
h) Keringkan dan tambahkan safranin, diamkan selama 2 menit.
i) Cuci sisa safranin dengan air deionisasi dan keringkan noda.
j) Lakukan pengamatan preparat dengan mikroskop dengan bantuan minyak emersi.
Respon Bakteri Penghasil Spora dan Yang Tidak Tahan Pengecatan

Gambar 10
Bakteri penghasil spora tahan terhadap pewarnaan. Oleh karena itu, setelah diwarnai oleh suatu
warna, misalnya malachite green, akan mengikat kuat senyawa pewarna. Untuk pewarnaan
selanjutnya, cat tersebut (misalnya safranin) sel spora tidak dapat menerimanya karena sudah
terikat dengan cat pertama. Akhirnya warna bakteri spora adalah hijau

Bakteri yang tidak berspora cenderung tidak tahan pengecatan karena hanya memiliki sel
vegetatif. Saat diwarnai oleh malachite, sel vegetatif dapat mengikat warna tetapi dapat luntur
setelah dilunturkan karena ikatannya tidak kuat. Setelah pewarnaan selanjutnya dengan safranin,
sel vegetatif mudah mengikat warna kembali. Oleh karena itu, hasil pewarnaan akhir adalah merah
muda dari safranin (Fardiaz, 1992).

Contoh yang paling mudah adalah untuk spesies Bacilllus subtilis dan E. Coli. B. Subtilis
akan berwarna hijau setelah pengecatan. Hal ini berarti B. Subtilis memiliki endospora. Endospora
lebih tahan lama meski dalam keadaan linghkungan ekstrim seperti kering, panas, atau bahan kimia
yang beracun. Selain itu, endospora juga lebih tahan terhadap pewarnaan. Sekali berhasil diwarnai,
spora sangat sukar untuk melepaskan zat warna sehingga saat diberi warna dari safranin tetap
berwarna hijau karena spora sudah mengikat malachite dan sulit mengikat warna yang diberikan
kemudian.

Eschericia coli setelah pengecatan akan berwarna merah muda dari safranin. E.coli berarti
tidak memiliki endospora, hanya memiliki sel vegetatif. Karena E.coli hanya memiliki sel
vegetatif, sel vegetatif tidak tahan terhadap pewarnaan. Saat diwarnai denga malachite, sel
vegetatif tidak dapat mengikat malachite sehingga saat dilunturkan, warna malachite dapat hilang.
Kemudian saat diberi safranin, sel vegetatif dapat mengikat warna kembali sehingga warna sel
menjadi merah muda (Prescott, dkk, 2002).
Pewarnaan Gram
Pewarnaan gram merupakan prosedur yang paling bermanfaat dalam Mikrobiologi
diagnostik. Ketika dicurigai adanya infeksi bakteri, sebagian besar bahan yang diserahkan harus
diapus pada glas objek dan diwarnai gramkemudian diperiksa secara mikroskopik. Pada
pemeriksaan mikroskopik reaksi gram dan morfologi bakteri harus diperhatikan . Terlihatnya
bakteri pada apusan pewarnaan gram tidak berarti dapat melakukan identifikasi sampai spesies.
Beberapa bakteri gram positif tak hidup dapat terpulas secara gram negatif. Biasanya, morpologi
bakteri ditetapkan dengan menggunakan organisme yang ditumbuhkan pada agar. Namun, bakteri
dalam cairan atau jaringan tubuh dapat mempunyai morpologi yang sangat beragam.
Dinding sel yang tebal pada gram positif menyusut oleh perlakuan alkohol karena terjadinya
dehidrasi menyebabkan pori-pori dinding sel menutup, sehingga mencegah larutnya kompleks
ungu kristal yodium pada langkah pemucatan, sedangkan sel-sel gram negatif mempunyai
kandungan lipid yang lebih tinggi pada dinding selnya dan lipid pada umumnya larut dalam
alkohol aceton. Larutnya lipid oleh pemucat yang digunakan dalam pewarnaan gram diduga
memperbesar pori-pori dinding sel dan inilah yang menyebabkan proses pemucatan berlangsung
lebih cepat(Lay, Bibiana W,1994).
Menurut Schmidt K, (1985) dalam Baskoro T, (1994) bahwa suatu koloni dengan gram
negative termasuk kedalam bakteri aerob dan anaerob, dan diantaranya ada beberapa yang dapat
menyebabkan penyakit infeksi selaput lendir dan saluran cerna mamalia.

Faktor-faktor lain yang juga menimbulkan keragaman dalam reaksi gram:

- Pelaksanaan fiksasi panas terhadap olesan


- Kerapatan sel pada olesan.
- Konsentrasi dan umur-umur reagen yang digunakan untuk pewarnaan gram
- Sifat, konsentrasi dan jumlah pemucat yang digunakan.
- Sejarah biakan.
Gambar Bakteri Gram Positif Batang

Gambar Bakteri Gram Positif Coccus

contoh bakteri gram negatif

Pengecatan gram dilakukan dalam 4 tahap yaitu

1. Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna ungu.


2. Pengintesifan cat utama dengan penambahan larutan mordan JKJ.
3. Pencucian (dekolarisasi) dengan larutan alkohol asam.
4. Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin
Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya.
Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membrane sitoplasma organisme gram
positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan
pencucian alcohol memungkinkan hilang dari sel. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal
yang dilapisi peptidohlikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negative lapisan
peptidoglikogennya tipis (1-3 nm).
Sifat bakteri terhadap pewarnaan Gram merupakan sifat penting untuk membantu determinasi
suatu bakteri. Beberapa perbedaan sifat yang dapat dijumpai antara bakteri Gram positif dan
bakteri Gram negatif yaitu:( Adam,M. 2000)
No. Perbedaan Bakteri Gram Positif (+) Bakteri Gram Negarif (-)
1 Dinding sel Lapian peptidoglikan tebal Lapian peptidoglikan lebih
tipis
2 Kadar lipid 1-4% (Lebih rendah) 11-22% (Lebih tinggi)
3 Resistensi terhadap alkali Lebih pekat Larut
(1%KOH)

4 Kepekaan terhadap Lebih peka Kurang peka


Yodium
Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
5
6 Resistensi terhadap tellurit Lebih tahan Lebih peka

7 Sifat tahan asam Ada yang tahan asam Tidak ada yang tahan asam

8 Kepekaan terhadap Lebih peka Kurang peka


penisilin
9 Kepekaan terhadap Tidak peka Peka
streptomisin
10 Penghambatan warna Lebih dihambat Kurang dihambat
11 Ketahanan terhadap fisik Lebih tahan Kurang tahan
12 Kebutuhan nutrien Kompleks Relatif
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan adalah menjawab daripada tujuan dari praktikum, dimana tujuan praktikum adalah :
- Praktikan memahami bermacam-macam teknik sterilisasi.
- Praktikan dapat mengoperasikan alat-alat sterilisasi.
- Praktikan memahami mengenai bermacam-macam media.
- Praktikan dapat membuat media.
- Praktikan memahami bermacam-macam teknik pewarnaan.
- Praktikan dapat melakukan gram, acid fast, pewarnaan endospore, dan pewarnaan flagella.
Sehingga dapat disimpulkan dari praktikum :
1. Teknik sterilisasi dibedakan menjadi dua, yaitu sterilisasi basah yang menggunakan Autoklaf dan
sterilisasi kering yang menggunakan Inkubator. Selain itu bunsen digunakan untuk sterilisasi alat,
alkohol 75% digunakan untuk sterilisasi ruangan laboratorium.
2. Alat alat sterilisasi :
a. Autoklaf, sterilisasi basah dengan cara merebus alat didalam dandang autoklaf selama 20 menit
untuk alat dan 15 menit untuk media pada suhu 1210C.
b. Bunsen, sterilisasi alat yang harus didekatkan pada saat melakukan praktikum mikrobiologi
khusunya pembuatan media bakteri
c. Inkubator, sterilisasi kering yang dioperasikan dengan cara memasukkan alat ke dalamnya yang
sebelumnya telah dibungkus dengan kertas pada suhu 1710C.
d. Alkohol 75%, digunakan untuk sterilisasi ruangan dengan cara menyemprotkan alkohol 75% ke
sekitar praktikan untuk menghindari kontaminasi bakteri.
3. Media yang diketahui ada 4 yaitu media marine bakteri, media marine fungi, media marine yeast
dan media marine actinomycetes. Media marine backteri dibagi lagi menjadi Zobell,s 2216 e
medium, Modified Zobell,s 2216 e medium, dan Median untuk isolasi bakteri ekstrim halofilik.
4. Media yang dibuat dengan menggunakan 100 ml air sebagai patokan dalam menimbang bahan-
bahan yang digunakan untuk membuat media bakteri. Dan sangat di haruskan dalam pembuatan
media keadaan sekitar maupun alat harus steril. Dan dalam pembuatan media terdapat perbedaan
komposisi bahan yang akan digunakan.
5. Teknik pewarnaan dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang mampu memberi cat warna
pada smear. Teknik pewarnaan ada gram, Ziehl-Neelsen untuk bakteri acid fast, spora dan flagella.
6. Pada pewarnaan gram, bahan yang digunakan untuk cat pewarna yaitu kristal violet, burke,s
iodine, ethanol 95% dan safranin akuosa. Pada pewarnaan spora , bahan yang digunakan untuk
yaitu melachite green dan safranin akuosa.

5.2 Saran

- Praktikan dalam praktikum harus lebih aktif baik bertanya maupun menjawab pertanyaan.
- Prasarana dan sarana laboratorium diharapkan untuk dilengkapi, agar praktikum dapat berjalan
dengan lancar. Disayangkan apabila praktikum hanya dijelaskan tanpa ada praktikum langsung.
Sehingga praktikan hanya mengerti teori tetapi untuk secara praktikum langsung tidak bingung.
- Praktikan harus belajar sebelum pre test.

DAFTAR PUSTAKA

Jutono, 1972. Dasar Dasar Mikrobiologi . Departemen Mikrobiologi : UGM


Ratna Siri., 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT. Gramedia : Jakarta
Lim,D. 1998. Microbiology, 2nd Edition. McGrow-hill book : New york.
Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga : Jakarta
Tryana, S.T. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Malang
Rizky.2008.http://ngecat bakteri makulrizki.blogspot.com/2008/02/materi kuliah html. (Diakses
tanggal 24 November 2011, Pukul 16.00 WIB)
Funke, Case. 2010. Microbiology an introduction tenth edition. Pearson Benjamin Cummings : USA
, Park Talaro. 2009 . Foundations in Microbiology seventh edition, McGraw-Hill : USA
Michael, J. 1988. Dasar-dasar Mikrobilogi. Badan Penerbit Universitas Indonesia Press: Jakarta.

Campbell, N. A. Dan Reece, J. B., 2005. Biologi Jilid 2. Erlangga : Jakarta.


obinson, R. K. 1990. Dairy Microbiology, volume 2 the microbiology of milk Product : London.

Jaweta, E. 1986. Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan. EGC : Jakarta.


y, Bibiana W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium, PT RajaGrafindo Persada : Jakarta.
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Gramedia : Jakarta
. C. S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press : Jakarta.
Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti : Jakarta.
Waluyo, lud. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press : Malang.
Rachdie. 2006. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba. http://rachdie
.blogsome.com/2006/10/14/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-mikroba/. Diakses pada
tanggal 24 November 2011, Pukul 16.00WIB)

Kusnadi. 2003. Mikrobiologi. JICA-IMSTEP.

Darkuni, Noviar. 2001. Mikrobiologi. JICA : Malang


Schmidt, K. 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

rigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Imagraph : Jakarta
Thieman, dkk. 2004. Introduction to Biotechnology. Benjamin Cummings : New York

Prayitno BY. 2007. &an Gindara. ht~://www.wikimu.com/News.asvx?=3551


(diakses tanggal 24 November 2011, Pukul 16.00 WIB)
Subani W, Barus HR. 1989. Alat Penangh-apan Ih-an dan Udang di Indonesia.
BPPL : Jakarta
Anonimous. 2004. Perairan Laut Dalarn. Jakarta: Departemen Perikanan dan
Kelautan.
Motik C, dkk. 2005. Kekayaan Laut Masa Depan Kita. Departemen Kelautan dan Perikanan : Jakarta

Jokuty, P., dkk. 2000. A Catalogue of Crude Oil and Oil Product Properties. Environmental Protection Service,
Environment Canada, Ottawa, ON.

d Finnerty, W.R. 1984. Microbial metabolism of strat-chain and branched alkanes. In Atlas (Ed), Petroleum
Microbiology, Macmillan Publishing Company, New York, pp1-60.

Colwell, R.R. 1990 Microbial Degradation of hydrocarbons in the environment. Microbial Reviews, 53(3), 305-
315.

Indra., 2008, http//ekmon-saurus/bab-2-Media- pertumbuhan/.htm( diakses pada tanggal 24


November 2011 pukul 21.20)
an Sainsbury, 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology 3rd Edition. John Wiley and Sons Inc.
Sussex : England.
Label, Caray.,2008, http//Caray label makalah dan skripsi pembuatan-media- agar dan-
sterilisasi/htm .diakses pada tanggal 25 November 2011 pukul 21.22 WIB)
Irianto, Koes.2006. Mikrobiologi Jilid 1. Yrama Widya : Bandung
Atlas,R.M.1946.Handbook Of Microbiological Media 3th Edition.CRC Press: Amerika
G, Sherman N. 1983. Microbiology A Laboratory Manual. State University of New York, Rocklagd Community
Collage : New York
stuti, Utami Sri. 2008. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Universitas Negeri Malang : Malang
hmud, M. 2008. Teknik Penyimpanan dan Pemeliharaan Mikroba. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman
Pangan : Bogor

Tjitrosomo. 1982. Dunia Mikroba. Bharata Karya : Jakarta


www.enidchemical.com(Diakses tanggal 24 November 2011, Pukul 16.10 WIB)
John Ingraham. 1982. Dunia Mikroba 1. Bharata Karya Aksara : Jakarta.
Dwidjoseputro D. 1998, Dasar-Dasar Mikrobniologi. Djambatan : Malang.

Suriawiria, Unus. 1986. Pengantar Mikrobiologi Umum, Angkasa : Bandung.


Jimmo., 2008,(http ://Pembuatan PReParAT dan PengeCaTAnnyA _ BLoG KiTa.mht,. diakses
pada tanggal 25 November 2011, Pukul 23.00 WIB)
Gupta S. 1990. Mikrobiologi Dasar, diterjemahkan oleh Julius ES., edisi 3,
Peberbit Binarupa Aksara.
Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.

Pelezar,chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta


Buckle.2007 Mikrobiologi Terapan. Universitas Gajah Mada: Yogyakarta
Fizahazny. 2008. (http// wordpress.com/ Pengantar Temtamg Bakterihtml. Diakses tanggal 25
Nopember 2011, Pukul 23.00 WIB)
tomo, Ratna S. 1990. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT Gramedia : Jakarta
Koesmadji, 2002. Teknik Laboratorium. Universitas Pendidikan Indonesia Press : Jakarta
Weesley, V. 1993. Mikrobiologi Dasar. Erlangga : Jakarta
Rusdimin.2003. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT Gramedia : Jakarta
http://onypoenya.files.com/2011/03/laporan-praktikum-mikrobiologi-umum-pewarnaan-sel-
bakteri-dan-jamur-dan-pewarnaan-endospora.doc(Diakses tanggal 24 November 2011, Pukul 16.
00 WIB)

Framesti.2010. Dasar-Dasae Mikrobiologi. Jantaran : Jakarta

H; Donald AK. 2002. Microbiology 5th edition. McGraw-Hill Company : New York
Baskoro ,T . 1994. Mikrobiologi Umum. Gajamada Prews : Jakarta.
Adam,M. 2000. Mikro Biologi Dasar. Erlangga : Jakarta

NUTRITIONIST
Kamis, 29 Januari 2015

TUGAS LAPORAN PEMERIKSAAN MORFOLOGI KAPANG DAN


KHAMIR

PEMERIKSAAN MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

A. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Memahami dan mengetahui prosedur pembuatan dan pemeriksaan preparat kapang dan khamir secara
langsung dari bahan-bahan alami
2. Mengetahui struktur berbagai macam kapang dan khamir dari berbagai bahan alami
3. Mengetahui struktur berbagai macam kapang dan khamir hasil Henricis slide

B. PENDAHULUAN

Fungi (jamur) merupakan organisme eukariot yang memiliki dinding sel yang tersusun dari kitin
dan memiliki nukleat yang banyak. Fungi bersifat kemoorganotrof, karena mendapatkan nutrisi dengan
cara mensekresikan enzim ekstraselular yang dapat mencerna senyawa organik kompleks seperti
polisakarida dan protein menjadi penyusun monomer, dan kemudian diserap ke dalam sel fungi (Madigan,
2009).
Secara umum fungi dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan atas tipe selnya yaitu,fungi
bersifat uniselluler yang biasa disebut khamir dan fungi bersifat multiselluler yang biasa disebut kapang
(Pelczar, 2005).

Khamir (yeast) adalah fungi bersel satu yang mikroskopik, beberapa generasi ada yang
membentuk miselium dengan percabangan.Khamir hidupnya sebagian ada yang saprofit dan ada
beberapa yang parasitik. Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan panjang 1-5 m
sampai 20-50 m, dan lebar 1-10 m. (Pelczar,2005).

Khamir termasuk fungi tetapi dibedakan dari kapang karena bentuknya yang bersifat uniseluler.
Reproduksi khamir terutama dengan cara pertunasan. Sebagai sel tunggal khamir tumbuh dan
berkembang biak lebih cepat jika dibandingkan dengan kapang karena mempunyai perbandingan luas
permukaan dengan volume yang lebih besar.Khamir pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan sifat-
sifat fisiologinya dan tidak atas perbedaan morfologinya seperti pada kapang.Yeast dapat dibedakan atas
dua kelompok berdasarkan sifat metabolismenya yaitu bersifat fermentatif dan oksidatif. Jenis
fermentatif dapat melakukan fermentasi alkohol yaitu memecah gula (glukosa) menjadi alkohol dan gas
contohnya pada produk roti.Sedangkan oksidatif (respirasi) maka akan menghasilkan CO2 dan H2O.
Keduanya bagi yeast adalah dipergunakan untuk energi walaupun energi yang dihasilkan melalui respirasi
lebih tinggi dari yang melalui fermentasi(Natsir, 2003).

Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan pertumbuhannya pada makanan
mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-mula akan
berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis
kapang. Kapang terdiri dari suatu thallus (jamak = thalli) yang tersusun dari filamen yang bercabang yang
disebut hifa ( tunggal = hypha, jamak = hyphae). Kumpulan dari hifa disebut miselium ( tunggal =
mycelium, Jamak = mycelia) (Pelczar,2005).

Tubuh atau talus kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian yaitu miselium dan spora (sel resisten,
istirahat atau dorman).Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa.Setiap hifa
lebarnya 5-10 m, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 m.Disepanjang setiap
hifa terdapat sitoplasma bersama (Syamsuri, 2004).

Penyebaran jamur atau kapang dialam sangat luas, jamur terdapat dalam tanah, pada buah-
buahan, dalam air, air lait, bahan organik, bahan makanan, sebagai saprofit dan ada yang bersifat parasit
pada tanaman dan manusia. Spora beterbangan diudara, spora tesebut akan berkecambah menjadi sel
vegetatif, jika jatuh pada tempat yang memungkinkan untuk idup. Sedagkan jamur yang hidup pada air
mempunyai suatu alat perkembangbiakan yang dapat aktif bergerak (Djide, 2008).

C. TINJAUAN PUSTAKA

Di dalam dunia mikrobia, jamur termasuk divisio Mycota (fungi). Mycota berasal dari kata mykes
(bahasa Yunani), disebut juga fungi (bahasa Latin). Ada beberapa istilah yang dikenal untuk menyebut
jamur, (a) mushroom yaitu jamur yang dapat menghasilkan badan buah besar, termasuk jamur yang dapat
dimakan, (b) mold yaitu jamur yang berbentuk seperti benang-benang, dan (c) khamir yaitu jamur bersel
satu. Jamur merupakan jasad eukariot, yang berbentuk benang atau sel tunggal, multiseluler atau
uniseluler. Sel-sel jamur tidak berklorofil, dinding sel tersusun dari khitin, dan belum ada diferensiasi
jaringan. Jamur bersifat khemoorganoheterotrof karena memperoleh energi dari oksidasi senyawa
organik. Jamur memerlukan oksigen untuk hidupnya (bersifat aerobik). Habitat (tempat hidup) jamur
terdapat pada air dan tanah. Cara hidupnya bebas atau bersimbiosis, tumbuh sebagai saprofit atau parasit
pada tanaman, hewan dan manusia (sri sumarsih, 2003).

Kapang atau jamur termasuk golongan Eymycetes atau fungi sejati yang terdiri atas empat kalis,
yaitu Phycomycetes, Asomycetes,Basidiomycetes, dan Deuteromycetes. Identifikasi kapang atau jamur
dapat dilakukan berdasarkan atas sifat-sifat morfologinya. Berdasarkan atas pengamatan secara
mikroskopik, maka kapang atau jamur dapat ditentukan sampai genusnya atau kadang-kadang dapat
ditentukan sampai spesiesnya (Natsir, 2008).

Penyebaran jamur atau kapang dialam sangat luas, jamur terdapat dalam tanah, pada buah-
buahan, dalam air, air lait, bahan organik, bahan makanan, sebagai saprofit dan ada yang bersifat parasit
pada tanaman dan manusia. Spora beterbangan diudara, spora tesebut akan berkecambah menjadi sel
vegetatif, jika jatuh pada tempat yang memungkinkan untuk idup. Sedagkan jamur yang hidup pada air
mempunyai suatu alat perkembangbiakan yang dapat aktif bergerak (Natsir, 2008).

Pada kapang, tubuh kapang (thallus) dibedakan menjadi dua bagian yaitu miselium dan spora.
Miseliummerupakan kumpulan beberapa filamen yang disebut hifa. Bagian dari hifa yang berfungsi untuk
mendapatkan nutrisi disebut hifa vegetatif. Sedangkan bagian hifa yang berfungsi sebagai alat reproduksi
disebut hifa reproduktif atau hifa udara (aerial hypha) karena pemanjangannya mencapai bagian atas
permukaan mediatempat fungi ditumbuhkan (Sylvia, 2008).

Khamir adalah fungi bersel satu yang mikroskopik, beberapa genara adalah yang membentuk
miselium dengan percabangan. Khamir hidupnya sebagai sporofit dan ada beberapa yang parasitik.
Penyebaran khamir luas dialam, tetapi tidak seluas daerah penyebaran bakteri. Pada umumnya khamir
terdapat dipermukaan buah-buahan, didalam debu, ditanah-tanah perkebunan buah-buahan, daun dari
beberapa tanaman, nktar bunga-bungaan, dipermukaan dan didalam tubuh serangga, didalam cairan
yang mengandung gula misalnya cairan buah, madu, sirup, dll (Dwyana, 2004).

Khamir dapat membentuk lapisan filament di atas permukaan medium cair. Produksi pigmen
karoteroid menandakan adanya pertumbuhan genus Rhodotorula. Sulit membedakan antara khamir
dengan bakteri pada medium agar (Entjang, 2003).

Khamir adalah fungi uniselular yang menepati habitat air dan lembab, termasuk getah pohon dari
jaringan hewan. Khamir bereproduksi secara aseksual, dengan cara pembelahan sel sederhana atau
dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk. Beberapa fungi dapat tumbuh sebagai sel tunggal atau
sebagai miselium filament, tergantung pada ketersediaan zat-zat hara yang ada (Campbell, 2003).

Ukuran sel khamir berkisar antara 1-9 mikron kali 2-20 mikron, tergantung spesiesnya. Khamir
mempunyai flagella sehingga tidak dapat melakukan gerakan aktif. Khamir dapat melakukan
perkembangbiakan dengan cara budding, pembelahan, pembentukan sel aseksual, konyugasi atau
reproduksi seksual dan secara partenogenesis. Tetapi yang paling sering terjadi adalah dengan cara
bertunas atau buding (Natsir, 2008).

Jamur uniseluler berkembang biak dengan cara seksual dan dengan cara aseksual. Pada
perkembangbiakannya yang secara seksual jamur membentuk tunas,sedangkan secara aseksual jamur
membentuk spora askus (Pelczar,2005).
Jamur multiseluler berkembangbiak dengan cara aseksual,yaitu dengan cara memutuskan benang
hifa (fragmentasi),membentuk spora aseksual yaitu zoospora,endospora dan konidia. Sedangkan
perkembangbiakan secara seksual melalui peleburan antara inti jantan dan inti betina sehingga terbentuk
spora askus atau spora basidium (Coyne, 2000).

D. METODE

Alat : mikroskop dengan obyek glass dan cover glassnya, jarum ose, pipet tetes, Bunsen

Bahan : bahan-bahan alami (roti,tempe, air tape), alcohol 70%, laktofenol, metilin blue

1. Pembuatan preparat kapang dan khamir secara langsung dan sederhana

Pensterilan tangan dan meja kerja dengan alcohol 70%

Pemijaran jarum ose pada lidah api Bunsen

Pengambilan satu ose kapang dari bahan alami (roti busuk dan tempe) dan cairan tape (untuk
pemeriksaan khamir) letakkan diatas obyek glass
Penetesan beberapa tetes laktofenol atau metilin blue di atas obyek glass

Perataan preparat dengan ose (jika preparat dibuat dari biakan kuman murni, larutan laktofenol atau
metilin blue diteteskam dulu pada obyek glass baru ditambahkan satu ose biakan murni di atasnya)

Penutupan preparat dengan cover glass

Perlakuan langkah diatas didekat Bunsen sebagai langkah sterilisasi

Pengamatan preparat dengan pembesaran lemah (10x) dulu


Pembesaran diubah ke pembesaran sedang (40x)

Gambar atau foto struktur kapang yang terlihat

E. HASIL PRAKTIKUM

Bahan Nama Jamur Gambar

Tempe Rhizopus sp

Roti Aspergilus

Air Tape Saccaromyces Cereviceas

F. PEMBAHASAN

Pada praktikum pengamatan morfologi kapang dan khamir, kami mengamati kapang yang
terdapat pada roti busuk dan tempe, serta khamir yang terdapat pada air tape. Kapang adalah fungi yang
berbentuk benang multiseluler tidak berklorofil dan belum mempunyai diferensiasi dalam jaringannya.
Khamir adalah fungi yang bersel satu atau uniseluler ada beberapa diantaranya bersifat miselium dengan
percabangan.

Langkah pertama yang kami lakukan dalam mengamati kapang dan khamir pada bahan alami yaitu
pembuatan preparat kapang dan khamir secara langsung dan sederhana. Sebelumnya meja kerja dan
tangan disterilkam dengan menggunakan alcohol 70%, kemudian nyalakan Bunsen dan pijarkan jarum ose
atau bisa juga menggunakan cutter pada lidah api Bunsen. Setelah itu ambil satu ose kapang dari temped
an letakkan diatas obyek glass, selanjutnya tambahkan beberapa tetes laktofenol diatas obyek glass yang
telah terdapat kapang dari tempe. Semua perlakuan yang dilakukan tersebut harus dilakukan didekat
Bunsen agar suasananya tetap steril. Mengamati kapang dari tempe dengan menggunakan mikroskop
dengan pembesaran lemah (10x) terlebih dahulu, setelah itu jika bayangan sudah terlihat maka
pembesaran dapat diubah ke pembesaran sedang (40x).

Kapang yang kami temukan pada tempe tersebut yaitu rhizopus sp. Rhizopus sp dapat dikatakan
kapang yang bereproduksi secara seksual, yaitu pertumbuhan yang didahului dengan pembentukan spora
seksual. Kapang yang memiliki spora seksual ini disebut sebagai kapang sempurna. Reproduksi secara
seksual pada kapang umumnya terjadi setelah beberapa generasi melakukan reproduksi secara aseksual.
Rhizopus sp memiliki kemampuan untuk memecah protein dan lemak sehingga digunakan untuk
pembuatan tempe atau pun oncom putih.

Selanjutnya pengamatan kapang pada roti, perlakuan pengamatan sama seperti perlakuan pada
pengamatan kapang tempe. Didapatkan jamur pada roti yaitu aspergilus, Aspergillusadalah suatu jamur
yang termasuk dalam kelas Ascomycetes yang dapat ditemukan dimanamana di alam ini. Ia tumbuh
sebagai saprofit pada tumbuh-tumbuhan yang membusuk dan terdapat pula pada tanah, debu organik,
makanan dan merupakan kontaminan yang lazim ditemukan di rumah sakit dan Laboratorium. Aspergillus
adalah jamur yang membentuk filamen-filamen panjang bercabang, dan dalam media biakan membentuk
miselia dan konidiospora. Aspergillus berkembang biak dengan pembentukan hifa atau tunas dan
menghasilkan konidiofora pembentuk spora. Sporanya tersebar bebas di udara terbuka sehingga
inhalasinya tidak dapat dihindarkan dan masuk melalui saluran pernapasan ke dalam paru.(Jutono,2000).

Pengamatan ketiga yaitu khamir yang terdapat pada air tape, cara kerja nya sama seperti
perlakuan pengamatan kapang pada tempe dan roti. Tetapi pengamatan khamir pada air tape
menggunakan tambahan tetesan larutan metilin blue, sedangkan kapang tempe dan roti menggunakan
tetesan larutan laktofenol. Setelah melakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop, ditemukan
jamur pada air tape yaitu Saccaromyces Cereviceas. Saccaromyces cereviceas sangat berperan dalam
proses fermentasi alkohol ini mempunyai warna putih kekuningan yang dapat dilihat diatas permukaan
tumbuh koloni, sehingga tidak seperti khamir lainnya yang seringkali tidak terlihat dibawah miskroskop
karena tidak kontras dengan mediumnya. Penampilan makroskopisnya yaitu bentuk koloni yang bulat,
warna yang kuning muda-keputihan, permukaan berkilau, licin, tekstur lunak dan memiliki sel bulat
dengan askopora 1-8 buah (Ahmad,2005).

G. KESIMPULAN

a. Kapang yang terdapat pada tempe yaitu Rhyzopus sp. Rhyzopus sp bereproduksi secara seksual, memiliki
kemampuan untuk memecahkan protein dan lemak.
b. Kapang yang terdapat pada roti yaitu Aspergillus. Aspergillus berkembang biak dengan pembentukan hifa
atau tunas dan menghasilkan konidiofora pembentuk spora.
c. Khamir yang terdapat pada air tape yaitu Saccaromyces cereviceas. Saccaromyces cereviceas sangat
berperan dalam proses fermentasi alcohol.

H. DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Riza Zainuddin. Pemanfaatan Khamir Saccharomyces Cerevisiae Untuk Ternak. WARTAZOA Vol 15
No 1 Tahun 2005:50-51.
Campbell,et al. 2003. Biologi Jilid 2. Jakarta:Erlangga
Coyne, Mark S. 1999. Soil Microbiology: An Exploratory Approach. USA : Delmar Publisher
Dwyana, Zaraswati. 2004. Mikrobiologi Dasar. Makassar:Universitas Hasanuddin
Entjang, Indan. 2003. Mikrobiologi Dan Parasitologi Untuk Akademi Perawat Dan Sekolah Tenaga Kesehatan
yang Sederajat. Bandung:PT.Citra Aditia Bakti
Jutono, J. Soedarsono, S. Hartadi, S. Kabirun, Suhadi & Susanto. 2000. Pedoman Praktikum Mikrobiologi
Umum. Yogyakarta:Departemen Mikrobiologi Fakultas Pertanian UGM
Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2009. Brock Biology of Microorganisms. New Jersey:Pearson Prentice
Hall
Natsir .2003.Mikrobiologi Farmasi Dasar. Makassar:Universitas Hasanudin
Natsir.2008.Dasar-dasar Mikrobiologi. Makassar:Universitas Hasanudin
Pelczar, M.J dan E.C.S Chan. 2005.Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta:UI Press
Sumarsih, Sri. 2003. Mikrobiologi Dasar. Yogyakarta:UPN Veteran
Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi. Jakarta:Erlangga
Sylvia,T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta:Erlangga

Diposting oleh NUTRITIONIST di 03.45

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:


Posting Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Pages - Menu

Beranda

Mengenai Saya

NUTRITIONIST

Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

2015 (12)
o Januari (12)
PEMANFAATAN KULIT MANGGIS SEBAGAI PEMBUATAN BUBBLE...
TUGAS LAPORAN PEMERIKSAAN MORFOLOGI KAPANG DAN KHA...
MAKALAH PATOFISIOLOGI LANJUT NEOPLASIA KEGANASAN
TERAPI NUTRISI PADA PENDERITA KANKER
Epidemiologi Kekurangan Energi Protein (KEP)
10 buah terbaik untuk di konsumsi penderita diabet...
Kacang-kacangan, turunkan kolesterol hingga cegah ...
Makanan & minuman penambah energy, pengusir stress...
Manfaat buah blueberry bagi kesehatan
Nama : Rika Tipani NIM :J310120017 Ttl : Kubu Raya...
Blueberry bisa cegah kanker dan diabetes?
hari ini

Popular Posts

TUGAS LAPORAN PEMERIKSAAN MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

PEMERIKSAAN MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR A. TUJUAN PRAKTIKUM 1. Memahami


dan mengetahui prosedur pembuatan dan pemeriksaan pre...

MAKALAH PATOFISIOLOGI LANJUT NEOPLASIA KEGANASAN

MAKALAH PATOFISIOLOGI LANJUT NEOPLASIA KEGANASAN KELAS A Disusun oleh kelompok 3


Annisa Mustika A ( J310120...

TERAPI NUTRISI PADA PENDERITA KANKER

TERAPI NUTRISI PADA PENDERITA KANKER Wiwiek Indriyani Maskoep PUSAT PENGEMBANGAN
PALIATIF DAN BEBAS NYERI RSU Dr. SOETOMO FK UNAIR ...

Epidemiologi Kekurangan Energi Protein (KEP)

Epidemiologi Kekurangan Energi Protein (KEP) Dari berbagai penelitian epidemiologi masalah
Kurang Energi Protein selalu diawali dengan ke...

PEMANFAATAN KULIT MANGGIS SEBAGAI PEMBUATAN BUBBLE KUMIS (KULIT MANGGIS)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada jaman sekarang ini banyak terdapat makanan-
makanan yang bervariasi yang terus diminati...

(tanpa judul)
Nama : Rika Tipani NIM :J310120017 Ttl : Kubu Raya,11-april-1995 Asal : Pontianak, Kalimantan
Barat Tinggal : surakarta

10 buah terbaik untuk di konsumsi penderita diabetes

Fruktosa adalah bentuk gula yang terkandung dalam buah-buahan yang memiliki dampak
negatif bagi penderita diabetes dan mereka yang kele...

Makanan & minuman penambah energy, pengusir stress, dan pencegah kanker

Makanan berperan penting untuk menjaga tubuh agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit.
Dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang tepa...

Kacang-kacangan, turunkan kolesterol hingga cegah kanker

Sebagian orang beranggapan bahwa merupakan suatu hal yang keren jika ia mempunyai daftar
berbagai makanan yang harus dihindari. Untuk makan...

hari ini

perkuliahan

Blogger templates
Blogger news
Blog Archive

2015 (12)
o Januari (12)
PEMANFAATAN KULIT MANGGIS SEBAGAI PEMBUATAN BUBBLE...
TUGAS LAPORAN PEMERIKSAAN MORFOLOGI KAPANG DAN KHA...
MAKALAH PATOFISIOLOGI LANJUT NEOPLASIA KEGANASAN
TERAPI NUTRISI PADA PENDERITA KANKER
Epidemiologi Kekurangan Energi Protein (KEP)
10 buah terbaik untuk di konsumsi penderita diabet...
Kacang-kacangan, turunkan kolesterol hingga cegah ...
Makanan & minuman penambah energy, pengusir stress...
Manfaat buah blueberry bagi kesehatan
Nama : Rika Tipani NIM :J310120017 Ttl : Kubu Raya...
Blueberry bisa cegah kanker dan diabetes?
hari ini
Blogroll

Tema Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger.


PEMERIKSAAN MORFOLOGI KAPANG DAN KHAMIR

I. Tujuan
1. Memahami dan mengetahui prosedur pembuatan dan pemeriksaan preparat kapang dan khamir secara
langsung dari bahan bahan alami.
2. Mengetahui struktur berbagai macam kapang dan khamir dari berbagai bahan alami.

II. Pendahuluan
Pada percobaan kali ini kami akan lebih membahas tentang fungi dimana fungi itu sendiri terbagi atas
dua jenis yaitu kapang dan khamir. Fungi adalah nama rectum dari sekelompok besar makhluk hidup
eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya diluar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi kedalam
sel-selnya. Fungi memilki bermacam-macam bentuk. Awam mengenal sebagian besar anggota fungi
sebagai jamur, kapang dan khamir.
Kapang dan khamir termasuk kedalam spesies fungi namun keduanya memiliki perbedaan. Kapang
adalah fungi yang bersel banyak atau multiseluler sedangkan khamir adalah fungi yang bersel tunggal atau
uniseluler.

Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium. Miselium merupakan kumpulan
dari hifa. Pada beberapa kapang, hifanya tidak mempunyai dinding pembatas dan disebut aseptate hifa.
Untuk hifa yang memiliki dinding pembatas disebut septate hifa. Hifa ada yang berfungsi untuk
mengabsorbsi nutrisi(hifa vegetative)dan ada hifa yang berfungsi untuk reproduksi(Hifa fertil)(Waluyo,
2007).

Kapang bereproduksi dengan 2 cara, secara aseksual dan seksual. Secara aseksual misalnya
sporangiospora, dan konidiaspora. Phycomycetes merupakan kelas yang perkembangbiakan aseksualnya
menggunakan sporangiospora. Sporangiospora merupakan spora yang diproduksi dalam suatu kantung
yang disebut sporangium. Salah satu spesies yang reproduksi aseksualnya menggunakan sporangiospora
adalah Rhizopus sp. Penicillium sp. merupakan contoh spesies yang reproduksi aseksualnya menggunakan
konidiospora. Konidiospora adalah spora yang diproduksi pada ujung hifa yang bercabang-cabang dan
terbentuk dari hifa fertile. Secara seksual kapang berrkembang biak dengan isogamet dan
heterogamet(Prescott, 1999).
Khamir merupakan fungi uniselular tanpa miselium, hanya merupakan sel tunggal. Beberapa khamir
berbentuk spheroidal, elip, berbentuk lemon, atau silinder. Reproduksi aseksualnya dengan bertunas atau
berfusi. Beberapa khamir tidak memproduksi spora sehingga disebut asporogenous, dan digolongkan
kedalam fungi imperfekti. Ada pula khamir yang memproduksi spora, khamir ini disebut sporogenous dan
digolongkan ke dalam kelas Ascomycetes dan Basidiomycetes (Sumarsih, 2003)

Penampilan fungi atau jamur tidak asing lagi. Pertumbuhan putih seperti bulu pada roti merupakan
tubuh berbagai jamur. Jadi jamur mempunyai berbagai macam penampilan tergantung dari
spesiesnya. Pada umumnya bahan-bahan yang berasal dari alam mudah untuk ditumbuhi jamur, misalnya
pada buah-buahan. Jamur atau cendawan tersebut biasanya akan mengakibatkan rusaknya bahan-bahan
tersebut. Jika bahan-bahan tersebut digunakan (dikonsumsi) oleh makhluk hidup dalam hal ini manusia,
biasanya bersifat patogen dan akan mengganggu fungsi tubuh makhluk hidup, misalnya Aspergillus niger
akan menyebabkan ganggaun pada kulit (bisul).

Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan dan pemeriksaan
preparat kapang pada roti busuk dan tempe serta khamir pada cairan tempe secara langsung dari bahan
bahan yang alami. Untuk mengetahui nama genus dan spesies suatu biakan mikroorganisme, maka perlu
dilakukan identifiksi, dimana untuk melakukan identifikasi terlebih dahulu dilakukan pengenalan terhadap
ciri ciri morfologi mikroorganisme tersebut. Pengamatan morfologi biasanya dilakukan baik secara
makroskopik maupun mikroskopik secara langsung maupun tidak langsung.

III. Tinjauan pustaka


Di dalam dunia mikrobia, jamur termasuk divisio Mycota (fungi). Mycota berasal dari kata mykes
(bahasa Yunani), disebut juga fungi (bahasa Latin). Ada beberapa istilah yang dikenal untuk menyebut
jamur, (a) mushroom yaitu jamur yang dapat menghasilkan badan buah besar, termasuk jamur yang dapat
dimakan, (b) mold yaitu jamur yang berbentuk seperti benang-benang, dan (c) khamir yaitu jamur bersel
satu. Jamur merupakan jasad eukariot, yang berbentuk benang atau sel tunggal, multiseluler atau
uniseluler. Sel-sel jamur tidak berklorofil, dinding sel tersusun dari khitin, dan belum ada diferensiasi
jaringan. Jamur bersifat khemoorganoheterotrof karena memperoleh energi dari oksidasi senyawa
organik. Jamur memerlukan oksigen untuk hidupnya (bersifat aerobik). Habitat (tempat hidup) jamur
terdapat pada air dan tanah. Cara hidupnya bebas atau bersimbiosis, tumbuh sebagai saprofit atau parasit
pada tanaman, hewan dan manusia (Sumarsih, 2003)
Menurut Rusli ( 2011), Fungi (jamak) atau fungus (tunggal) adalah suatu organisme eukariotik yang
mempunyai ciri-ciri spesifik sebagai berikut :

1. Mempunyai inti sel

2. Memproduksi spora

3. Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis

4. Dapat berkembang biak secara aseksual maupun seksual

5. Beberapa mempunyai bagian-bagian tubuh berbentuk filamen dengan dinding sel yang mengandung
selulosa atau khitin, atau keduanya.

Pada umumnya jamur dibagi menjadi 2 yaitu: kapang (Mold) dan khamir (Yeast). Menurut Natsir
(2008), Perbedaan Khamir dan kapang :

No Faktor Pembeda Khamir Kapang

1. Permukaan koloni Kusam Berbentuk seperti kapas, serbuk

2. Sel Uniseluler Multiseluler

3. Reproduksi Bertunas Spora seksual atau aseksual

4. Media SDA PDA

5. Pigmen warna Tidak ada Ada (hitam, abu-abu, hijau)

Kapang

Kapang atau jamur termasuk golongan Eymycetes atau fungi sejati yang terdiri atas empat kelas, yaitu
Phycomycetes, Asomycetes,Basidiomycetes, dan Deuteromycetes. Identifikasi kapang atau jamur dapat
dilakukan berdasarkan atas sifat-sifat morfologinya. Berdasarkan atas pengamatan secara mikroskopik,
maka kapang atau jamur dapat ditentukan sampai genusnya atau kadang-kadang dapat ditentukan
sampai spesiesnya ( Natsir, 2008)
Kapang adalah sekelompok mikroba yang tergolong dalam fungi dengan ciri khas memiliki filamen
(miselium). Kapang termasuk mikroba yang penting dalam mikrobiologi pangan karena selain berperan
penting dalam industri makanan, kapang juga banyak menjadi penyebab kerusakan pangan. Kapang
adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen dan pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat
karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna
putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang.(Waluyo,
2007)

SIFAT FISIOLOGI KAPANG

Pada kapang, tubuh kapang (thallus) dibedakan menjadi dua bagian yaitu miselium dan spora.
Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang disebut hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 m,
dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1 m. Disepanjang setiap hifa terdapat
sitoplasma bersama .Bagian dari hifa yang berfungsi untuk mendapatkan nutrisi disebut hifa vegetatif.
Sedangkan bagian hifa yang berfungsi sebagai alat reproduksi disebut hifa reproduktif atau hifa udara
(aerial hypha) karena pemanjangannya mencapai bagian atas permukaan mediatempat fungi
ditumbuhkan (Sylvia, 2008).

1. Kebutuhan air
Pada umumnya kebanyakan kapang membutuhkan aw minimal untuk pertumbuhan lebih rendah
dibandingkan dengan khamir dan bakteri. Kadar air bahan pangan kurang dari 14-15%, misalnya pada
beras dan serealia, dapat menghambat atau memperlambat pertumbuhan kebanyakan khamir.

2. Suhu pertumbuhan

Kebanyakan kapang bersifat mesofilik yaitu tumbuh baik pada suhu kamar. Suhu optimum pertumbuhan
untuk kebanyakan kapang adalah sekitar 25-300 C tetapi beberapa dapat tumbuh pada suhu 35-370 C atau
lebih tinggi. Beberapa kapang bersifat psikrotrofik dan beberapa bersifat termofilik.

3. Kebutuhan oksigen dan pH


Semua kapang bersifat aerobik, yaitu membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya. Kebanyakan kapang
dapat pada kisaran pH yang luas, yaitu 2-8,5 tetapi biasanya pertumbuhannya akan lebih baik pada kondisi
asam atau pH rendah.

4. Makanan

Pada umumnya kapang dapat menggunakan berbagai komponen makanan, dari yang sederhana hingga
kompleks. Kebanyakan kapang memproduksi enzim hidrolitik, misal amylase, pektinase, proteinase dan
lipase, oleh karena itu dapat tumbuh pada makanan-makanan yang mengandung pati, pektin, protein
atau lipid.

5. Komponen penghambat

Beberapa kapang mengeluarkan komponen yang dapat menghambat organisme lainnya. Komponen itu
disebut antibiotik, misalnya penisilin yang diproduksi oleh Penicillium chrysogenum dan clavasin yang
diproduksi oleh Aspergillus clavatus. Pertumbuhan kapang biasanya berjalan lambat bila dibandingkan
dengan pertumbuhan khamir dan bakteri. Oleh karena itu jika kondisi pertumbuhan memungkinkan
semua mikroorganisme untuk tumbuh, kapang biasanya kalah dalam kompetisi dengan khamir dan
bakteri. Tetapi sekali kapang dapat mulai tumbuh, pertumbuhan yang ditandai dengan pembentukan
miselium dapat berlangsung dengan cepat.(Waluyo, 2007)

Terdapat 3 macam morfologi hifa, yaitu :

1. Aseptat (Coenocytic hypha), yaitu hifa yang memiliki dinding sekat (septa).
2. Septat hifa (hifa bersekat) dengan sel-sel uninukleat. Septa membagi hifa enjadi ruang-ruang berisi 1 inti
dan pada tiap sekat terdapat pori-pori yang memungkinkan berpindahnya inti dan sitoplasma dari satu
ruang keruag lainnya.
3. Septa dengan ruang-ruang yang berisi lebih dari satu inti (multinukleat)
(Sylvia, 2008)
Jamur uniseluler misalnya ragi dapat mencerna tepung hingga terurai menjadi gula, dan gula dicerna
menjadi alkohol. Sedangkan jamur multiseluler misalnya jamur tempe dapat mengaraikan protein kedelai
menjadi protein sederhana dan asam amino. Makanan tersebut dicerna diluar sehingga disebut
pencernaan ekstraseluler, sama seperti pada bakteri. Caranya,sel-sel yang bekerja mengeluarkan enzim
pencernaan. Enzim-enzim itulah yang bekerja menguraikan molekul-molekul kompleks menjadi molekul-
molekul sederhana. (Syamsuri, 2004)
Menurut Syamsuri (2004), Manfaat kapang dalam produksi pangan :

Produk Bahan dasar Jenis Kapang

Tempe Kedelai Rhizopus Oligospora

Rhizopus Oryzae

Oncom merah Bungkil kacang tanah Neurospora sitophia

Oncom hitam Ampas tahu Rhizopus Oligospora

Rhizopus Oryzae

Kecap Kedelai Aspergillus Oryzae

Tauco Kedelai Aspergillus Oryzae

Ragi tape Tepung beras Rhizopus, Aspergillus, khamir

Keju biru Susu Penicililium roqueforti

Keju camembert Susu P. camemberti

Rhizopus

Rhizopus sering disebut kapang roti karena sering tumbuh dan menyebabkan kerusakan pada roti.
Selain itu kapang ini juga sering tumbuh pada sayuran dan buah-buahan. Spesies Rhizopus yang sering
tumbuh pada roti adalah R. stolonifer dan R.nigricans. selain merusak makanan, beberapa spesies
Rhizopus juga digunakan dalam pembuatan beberapa makanan fermentasi tradisional, misal R.
oligosporus dan R. oryzae yang digunakan dalam fermentasi berbagai macam tempe dan oncom hitam.

Ciri-ciri spesifik Rhizopus adalah :

a. Hifa nonseptat
b. Mempunyai stolon dan rhizoid yang warnanya gelap jika sudah tua
c. Sporangiofora tumbuh pada noda dimana terbentuk juga rhizoid
d. Sporangia biasanya besar dan berwarna hitam
e. Kolumela agak bulat dan apofisis berbentuk seperti cangkir
f. Tidak mempunyai sporangiola
g. Membentuk hifa vegetative yang melakukan penetrasi pada substrat dan hifa fertil yang memproduksi
sporangia pada ujung sporangiofora
h. Pertumbuhannya cepat membentuk miselium seperti kapas
Lebih jelasnya untuk morfologi Rhizopus dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Aspergillus

Kapang ini tumbuh baik pada substrat dengan konsentrasi gula dan garam tinggi, oleh karena itu dapat
tumbuh pada makanan dengan kadar air rendah. Grup ini mempunyai konidia berwarna hijau, dan
membentuk askospora yang terdapat didalam aski perithesia berwarna kuning sampai merah. Grup A.
niger mempunyai kepala pembawa konidia yang besar yang dipak secara padat, bulat dan berwarna
hitam, coklat hitam atau ungu coklat. Konidianya kasar dan mengandung pigmen. Grup A. flavus-oryzae
termasuk spesies yang penting dalam fermentasi beberapa makanan tradisional dan untuk memproduksi
enzim, tetapi kapang dalam grup ini sering menyebabkan kerusakan makanan. A. oryzae digunakan dalam
fermentasi tahap pertama dalam pembuatan kecap dan tauco. Konidia dalam grup ini berwarna kuning
sampai hijau, dan mungkin membentuk sklerotia.

Ciri-ciri spesifik Aspergillus adalah :

a. Hifa septat dan miselium bercabang, biasanya tidak berwarna, yang terdapat dibawah permukaan
merupakan hifa vegetatif sedangkan yang muncul diatas permukaan adalah hifa fertil.
b. Koloni kelompok
c. Konidiofora septat dan nonseptat, muncul dari foot cell (yaitu sel miselium yang bengkak dan berdinding
tebal)
d. Konidiofora membengkak menjadi vesikel pada ujungnya, membawa sterigmata dimana tumbuh konidia
e. Sterigmata atau fialida biasanya sederhana berwarna atau tidak berwarna
f. Konidia membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat atau hitam
g. Beberapa spesies tumbuh baik pada suhu 370 C atau lebih.
Lebih jelasnya untuk morfologi Aspergillus dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Penicillium
Kapang ini sering menyababkan kerusakan pada sayuran, buah-buahan dan serealia. Penicillium juga
digunakan oleh dalam industri untuk memproduksi antibiotik.

Beberapa ciri spesifik Pencicillium adalah :

a. Hifa septat, miselium bercabang, biasanya tidak berwarna


b. Konidiofora septet dan muncul di atas permukaan, berasal dari hifa dibawah permukaan, bercabang atau
tidak bercabang
c. Kepala yang membawa spora berbentuk seperti sapu, dengan sterigmata atau fialida muncul dalam
kelompok
d. Konidia membentuk rantai karena muncul satu per satu dari sterigmata
e. Konidia pada waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kebiruan atau kecoklatan
(Waluyo, 2007)

Khamir

Khamir adalah fungi bersel satu yang mikroskopik, beberapa genara adalah yang membentuk miselium
dengan percabangan. Khamir hidupnya sebagai sporofit dan ada beberapa yang parasitik. Penyebaran
khamir luas dialam, tetapi tidak seluas daerah penyebaran bakteri. Pada umumnya khamir terdapat
dipermukaan buah-buahan, didalam debu, ditanah-tanah perkebunan buah-buahan, daun dari beberapa
tanaman, dipermukaan dan didalam tubuh serangga, didalam cairan yang mengandung gula misalnya
cairan buah, madu, sirup, dan lain lain. (Zaraswati, 2004)

Khamir atau disebut yeast, merupakan jamur bersel satu yang mikroskopik, tidak berflagela. Beberapa
genera membentuk filamen (pseudomiselium). Cara hidupnya sebagai saprofit dan parasit. Hidup di dalam
tanah atau debu di udara, tanah, daun-daun, nektar bunga, permukaan buah-buahan, di tubuh serangga,
dan cairan yang mengandung gula seperti sirup, madu dan lain-lain. Khamir berbentuk bulat (speroid),
elips, batang atau silindris, seperti buah jeruk, sosis, dan lain-lain. Bentuknya yang tetap dapat digunakan
untuk identifikasi. Khamir dapat dimasukkan ke dalam klas Ascomycetes, Basidiomycetes dan
Deuteromycetes. Sel khamir

( Sri Sumarsih, 2003)

Khamir mempunyai ukuran yang bervariasi dengan panjang 1-5 m sampai 20-50 m, dan lebar 1-10
m. Sel khamir mempunyai bentuk yang bermacam-macam seperti bulat, oval, silinder, ogival yaitu bulat.
Bentuk-bentuk dari sel khamir tersebut dapat membantu dalam indentifikasi dari khamir. Ada beberapa
khamir dalam keadaan tertentu dapat mengalami dimorfisme yaitu fase khamir, bentuk sel tunggal dan
filamen, bentuk benang (Pelczar, 2007).

Ukuran sel khamir berkisar antara 1-9 mikron kali 2-20 mikron, tergantung spesiesnya. Khamir tidak
mempunyai flagella sehingga tidak dapat melakukan gerakan aktif. (Natsir, 2008)

Kamir dapat melakukan reproduksi atau perkembangbiakan dengan beberapa cara yaitu (Syamsuri,
2004) :

a. Pertunasan

b. Pembelahan

c. Pembelan tunas, yaitu kombinasi antara pertunasan dan pembelahan

d. Sporulasi atau pembetukan spora yang dapat dibedakan atas 2 macam yaitu :

- spora aseksual

- spora seksual

- Perkembang biakan sel khamir


Perkembang biakan sel khamir dapat terjadi secara vegetatif maupun secara generatif (seksual). Secara
vegetatif (aseksual), (a) dengan cara bertunas (Candida sp., dan khamir pada umumnya), (b) pembelahan
sel (Schizosaccharomyces sp.), dan (c) membentuk spora aseksual (klas Ascomycetes). Secara generatif
dengan cara konyugasi (reproduksi seksual). Konyugasi khamir ada 3 macam, yaitu (a) konyugasi isogami
( Schizosaccharomyces octosporus), (b) konyugasi heterogami (Zygosaccharomyces priorianus), dan
konyugasi askospora pada Zygosaccharomyces sp. dan Schizosaccharomyces sp. (sel vegetatif haploid),
serta pada Saccharomyces sp., dan Saccharomycodes sp. (sel vegetatif diploid)

- Identifikasi khamir
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi khamir adalah:

1. Ada tidaknya askospora, kalau ada bagaimana pembentukannya (konyugasi isogami, heterogami, atau
konyugasi askospora), bentuk, warna, ukuran, dan jumlah spora.
2. Bentuk, warna, dan ukuran sel vegetatifnya.
3. Cara reproduksi aseksual (bertunas, membelah, dsb)
4. Ada tidaknya filamen atau pseudomiselium.
5. Pertumbuhan dalam medium dan warna koloninya.
6. Sifat-sifat fisiologi, misalnya sumber karbon (C) dan nitrogen (N), kebutuhan vitamin, bersifat oksidatif
atau fermentatif, atau keduanya, lipolitik, uji pembentukan asam, penggunaan pati, dan lain-lain.( Sri
Sumarsih, 2003)
Macam macam khamir :

a. Khamir Murni
Khamir yang dapat berkembang biak dengan cara seksual dengan pembentukan askospora khamir ini
diklasifikasikan sebagai Ascomycetes (Saccharomyces cerevisae, Saccharomyces carlbergesis, Hansenula
anomala, Nadsonia sp). (Coyne, 1999)
b. Khamir Liar
Khamir murni yang biasanya terdapat pada kulit anggur. Khamir ini mungkin digunakan dalam proses
fermentasi, meskipun galur yang diperbaiki telah dikembangkan yang menghasilkan anggur dengan rasa
yang lebih enak dengan bau yang lebih menyenangkan. Khamir liar yang ada dikulit anggur dimatikan
dengan penambahan dioksida belerang pada buah anggur yang telah dihancurkan. Inokulum galur khamir
yang dikehendaki ditambahkan kemudian untuk memfermentasi air perasan anggur. (Coyne, 1999)
c. Khamir Atas
Khamir murni yang cenderung memproduksi gas sangat cepat sewaktu fermentasi,sehingga khamir itu
dibawa kepermukaan. Khamir atas mencakup khamir yang digunakan dalam pembuatan roti,untuk
kebanyakan anggur minuman dan bir inggris (Saccharomycescereviceae). (Coyne, 1999)

d. Khamir Dasar
Khamir murni yang memproduksi gas secara lebih lamban pada bagian awal fermentasi. Jadi sel khamir
cenderung untuk menetap pada dasar. Galur terpilih digunakan dalam industri bir lager (Saccharomyces
carlsbergensis). (Coyne, 1999)
e. Khamir Palsu atau Torulae
Khamir yang didalamnya tidak terdapat atau dikenal tahap pembentukan spora seksual. Banyak
diantaranya yang penting dari segi medis (Cryptococcus neoformans, Pityrosporum ovale,
Candida albicans). (Coyne, 1999)

Pembuatan Preparat
Ada 3 macam cara dalam pembuatan preparat jamur :

1. Pembuatan dari material segar


Struktur jamur bisa langsung di lihat di bawah mikroskop. Dengan memanfaatkan dari makanan-makanan
yang telah membusuk.
2. Pembuatan preparat dengan slide kultur
Ini adalah cara pembuatan preparat jamur. Caranya dengan menyiapkan cawan petri, lalu dimasukkan
kertas saring ke dalamnya. Di atas kertas saring tersebut diletakkan batang V yang terbuat dari aluminium
foil dan kemudian di atas batang V ini diletakkan objek dan dek glass. Selanjutnya disterilkan dalam oven
kemudian setelah steril diambil suspensi jamur dengan ose lalu digores pada objek glass dan di tetesi
dengan medium PDA lalu di tutup dengan kaca penutup kemudian dimasukkan Gliserol 10% sebanyak 10
ml sampai membasahi kertas saring. Kemudian cawan petri ditutup dan diinkubasi selama 3 x 24 jam
(pada suhu kamar) dan dilakukan pengamatan pada hari ke-3 kemudian diamati di bawah mikroskop.
3. Preparat selotip
Pembuatan preparat selotip ini dengan cara mengambil biakan jamur dengan menggunakan selotip. Bagi
jamur yang mempunyai miselium udara yang tidak terlalu lebat pertumbuhannya cocok di lakukan
preparat selotip
(Pelczar, 2007)
IV. Metode
4.1 Alat dan Bahan
4.1.1 Alat
Pemeriksaan morfologi kapang
Objek glass datar
Mikroskop cahaya listrik
Pisau pemotong
Pipet tetes
Bunsen
Korek api
Pemeriksaan morfologi khamir
Objek glass cekung
Mikroskop cahaya listrik
Cover glass
Pipet tetes
Bunsen
Korek api
4.1.2 Bahan
Untuk pemeriksaan morfologi kapang
Tempe

Roti busuk

Alkohol 70%

Kapas

Laktofenol

Untuk pemeriksaan morfologi khamir


Cairan tape
Alkohol 70%
Metil blue
kapas
4.2 Cara Kerja
Pembuatan preparat kapang dan khamir secara langsung atau sederhana.
a. Disterilkan tangan dan meja dengan alkohol.
b. Dipijarkan pisau pemotong dan fiksasi preparat pada lidah api Bunsen.
c. Diambil satu ose kapang dari bahan alami (roti busuk atau tempe) dan cairan tape (untuk pemeriksaan
khamir), letakkan diatas obyek glass.
d. Diteteskan 1 tetes laktofenol(untuk pemeriksaan kapang) atau metilin blue (untuk pemeriksaan khamir)
diatas obyek glass.
e. Ditutup preparat dengan cover glass untuk pemeriksaan air tape
f. Dilakukan langkah di atas di dekat bunsen sebagai langkah sterilisasi.
g. Diamati preparat di bawah mikroskop cahaya listrik dengan pembesaran lemah (10x).
V. Hasil praktikum

VI. Pembahasan
Pada praktikum mikrobiologi kali ini adalah pemeriksaan morfologi pada kapang dan khamir. Seperti
yang di rujuk pada tinjauan pustaka pengertian dari kapang adalah sekelompok mikroba yang tergolong
dalam fungi dengan ciri khas memiliki filamen (miselium). Sedangkan pengertian dari khamir adalah fungi
bersel satu yang mikroskopik, beberapa genara adalah yang membentuk miselium dengan percabangan.
Sampel yang digunakan adalah tempe, roti dan air tape, pemilihan bahan tersebut bertujuan untuk
mempermudah pencarian bahan, kapang mudah dilihat karena penampangnya yang berserabut seperti
kapas pada awal kemudian jika spora telah timbul akan terbentuk warna sesuaijenis kapangnya, bahan
mudah mengalami pembusukan, mempermudah identifikasi jamur/fungi, dan harga terjangkau.
Dalam melakukan praktikum ini praktikan diharapkan menggunakan masker , sarung tangan,
membersihkan area meja dengan alkohol, dan memfiksasi preparat serta pisau pemotong pada lidah api
bunsen, hal ini bertujuan untuk mensterilkan tempat praktek dan mengurangi kontaminasi terhadap
sampel.
Dari hasil praktikum pada Kamis, 2 April 2014, pengamatan kapang dan khamir menggunakan
mikroskop cahaya dengan perbesaran 10X, diambil gambarnya kemudian diidentifikasi morfologinya.
1. Kapang pada Tempe
Yaitu dengan mengambil jamur/fungi/kapang yang terdapat pada tempe menggunakan bungkus daun,
pengambilan dilakukan dengan pisau pemotong dan sebisa mungkin hasilnya tipis. Pengambilan sampel
dilakukan di dekat Bunsen dan ditetesi laktofenol untuk memudahkan pengamatan kapang di bawah
mikroskop dengan jarak terjauh antara preparat dan lensa objektif.

Pada umumnya kapang dapat menggunakan berbagai komponen makanan, dari yang sederhana
hingga kompleks. Kebanyakan kapang memproduksi enzim hidrolitik, misal amylase, pektinase,
proteinase dan lipase, oleh karena itu dapat tumbuh pada makanan-makanan yang mengandung pati,
pektin, protein atau lipid.

Dari hasil pengamatan kapang pada tempe ditemukan Rhizopus. Rhizopus adalah genus jamur benang
yang termasuk filum Zygomycota ordo Mucorales. Rhizopus mempunyai ciri khas yaitu memiliki hifa yang
membentuk rhizoid untuk menempel ke substrat. Ciri lainnya adalah memiliki hifa coenositik, sehingga
tidak bersepta atau bersekat.

Miselium dari Rhizopus yang juga disebut stolon menyebar diatas substratnya karena aktivitas dari
hifa vegetatif. Rhizopus bereproduksi secara aseksual dengan memproduksi banyak sporangiofor yang
bertangkai. Sporangiofor ini tumbuh kearah atas dan mengandung ratusan spora. Sporagiofor ini biasanya
dipisahkan dari hifa lainnya oleh sebuah dinding seperti septa.
Dari hasil pengamatan kelompok kami , didapatkan kapang rhizopus (kapang sempurna ) yang
terlihat dari bagian atas, sehingga sporangiofor tidak terlihat, namun stolon dan rizopus terlihat banyak
serta menyebar dengan warna yang didapat adalah gelap/hitam. Kemungkinan Rhizopus tidak terlihat
disebabkan karena pengambilan sampel/jamur pada tempe terlalu tebal, sehingga susah diamati.

2. Kapang pada Roti


Yaitu dengan mengambil jamur/kapang pada permukaan roti menggunakan pisau pemotong,
kemudian diletakkan pada preparat datar dan ditetesi lakofenol. Pengambilan untuk kapang roti harus
hati-hati dan setipis mungkin, karena jika tidak hati-hati struktur/morfologi kapang akan rusak sehingga
tidak di dapatkan hasil yang diinginkan.

Pada umumnya kapang dapat menggunakan berbagai komponen makanan, dari yang sederhana
hingga kompleks. Kebanyakan kapang memproduksi enzim hidrolitik, misal amylase, pektinase,
proteinase dan lipase, oleh karena itu dapat tumbuh pada makanan-makanan yang mengandung pati,
pektin, protein atau lipid.

Dari hasil pengamatan kelompok kami, didapatkan kapang aspergillus yang terlihat dalam jumlah
banyak dan menyebar. Bagian dari aspergillus yang tampak adalah sterigma dan vesicle. Aspergillus
termasuk jenis spora (konidiospora) yang berupa sel tunggal maupun multisel, terbentuk pada ujung
konidiofora dan sifatnya terbuka.

3. Khamir Air Tape


Yaitu dengan mengambil sampel air tape menggunakan pipet tetes, kemudian diletakkan di preparat
cekung dengan penambahan metilin blue lalu ditutup menggunakan cover glass. Penambahan metilen
blue ini bertujuan agar morfologi dari jamur tersebut tampak jelas.Apabila khamir tidak terihat, maka
sampel air tape sudah terlalu lama berada di metilen blue.

Dalam pembuatan tape setidaknya terlibat tiga kelompok mikroorganisme yaitu mikroba perombak
pati menjadi gula yang menjadikan tape pada awal fermentasi berasa manis. Mikroba yang berperan
dalam proses ini adalah Endomycopsis fibuliger serta beberapa jamur dalam jumlah kecil. Adanya gula
menyebabkan mikroba yang menggunakan sumber karbon gula mampu tumbuh dan menghasilkan
alkohol. Yang masuk dalam kelompok ini adalah Saccharomyces dan Cabdida yang menybabkan tape
berubah menjadi alkoholik. Adanya alkohol juga memacu tumbuhnya bakteri pengoksidasi alkohol yaitu
Acetobacter aceti yang mengubah alkohol menjadi asam asetat dan menyebakan rasa asam pada tape
yang dihasilkan.
Hasil dari pengamatan air tape adalah didapatkan khamir ( fungi bersel satu yang mikroskopis) yang
menyebar merata dan berjumlah banyak dan merupakan khamir saccharomyces cerevisiae. Ada 2 bentuk
yang didapat, yaitu oval dan bulat namun lebih dominan bentuk bulat. Ukuran dari khamir menurut
tinjauan pustaka berkisar antara 1-9 mikron kali 2-20 mikron, tergantung spesiesnya. Khamir tidak
mempunyai flagella sehingga tidak dapat melakukan gerakan aktif. (Natsir, 2008).

Khamir ada yang bermanfaat bagi manusia tapi ada juga yang pathogen atau merugikan. Untuk khamir
yang bermanfaat adalah seperti saccharomyces cerevisiae (anggur, roti, tempe, dan bir) dan microbial
fuel cell ( menghasilkan listrik dan produski etanol) , sedangkan yang Candida albicans adalah patogen
oportunistik dan dapat menyebabkan infeksi pada manusia (kandidiasis).

VII. Kesimpulan
Dari hasil praktikum dan pengamatan pada hari Kamis, 2 April 2014 dapat disimpulkan bahwa pada
pemeriksaan morfologi kapang tempe didapat kapang Rhizopus ( stolon dan sporangium ), pada
pemeriksaan morfologi kapang roti didapat kapang aspergillus ( sterigma dan vesicle ), dan pada
pemeriksaan morfologi khamir didapat khamir dengan bentuk bulat dan oval.

Microbiology
Mikrobiologi besasal dai kata (mikros=kecil/sangat kecil), (bio= kehidupan). Mikrobiologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang organisme yang berukuran mikron. Mikrobiologi
mempelajari tentang seluk beluk jasad renik yang ada di sekitar kita,antara lain bakteri, jamur,
virus dan mikro algae serta protozoa. Mikrobiologi menghasilkan suatu senyawa melalui proses-
proses metabolic.Dalam mikrobiologi kita akan mempelajari tentang bentuk, kehidupan,sifat, dan
penyebaran organisma yang berbbentuk mikroba.(jasad renik). Dunia mikroba adalah dunia yang
sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Beberapa mikroba (seperti alga dan jamur) cukup besar untuk dapat dilihat dengan mata
telanjang.Namaun kedua organisme ini masih dikategorikan kedalam kajian mikrobiologi, hal ini
karena teknik yang digunakan untuk mengkajinya.(seperti isolasi,sterilisasi,kultivasi,dalam media
artifisik sama seperti anggota mikroorganisme lainnya.
Kajian yang termasuk mikrobiologi adalah bakteri, jamur, mikroalgae,protozoa dan
virus.Dalam pembahasan kali ini kita hanya akan mengkaji tentang bakteri dan jamur.

I. BAKTERI
Bakteri adalah makhluk sederhana yang hidup. Bakteri ada dimana-mana. Mereka berada di
roti yang anda makan, tanah yang tanaman tumbuh, dan bahkan dalam diri Anda. Mereka tidak
memiliki nukleus yang terorganisir. Bakteri adalah sel tunggal yang kecil yang seluruh tujuan
dalam hidup adalah untuk meniru.
Oke. Jadi kita sudah bilang mereka tidak memiliki inti terorganisir. Benar. Mereka memiliki
DNA. Hal ini membuat bakteri dikelompokkan dalam nucleoid. Mereka memiliki selaput sel
seperti sel-sel lain dan bahkan dinding sel pelindung. Mereka tidak memiliki organel, hanya
ribosom. (Ini semua adalah karakteristik dari prokariota jika Anda ingat.)

Apa yang mereka lakukan?

Segala macam hal. Mereka melakukan apa saja. Beberapa tanaman membantu menyerap nitrogen
(N) dari tanah. Beberapa penyakit menyebabkan seperti botulisme. Beberapa bakteri bahkan hidup
di dalam perut sapi untuk membantu mereka memecah selulosa. Sapi sendiri dapat mencerna
rumput dan tanaman tentang serta yang kita lakukan. Mereka tidak mendapatkan banyak nutrisi
dari tumbuhan dan tidak dapat memecah selulosa. Dengan bakteri, selulosa bisa dipecah menjadi
gula dan kemudian melepaskan seluruh energi yang mereka butuhkan. Bayangkan jika ilmuwan
bisa mengembangkan bakteri untuk hidup di dalam diri kita yang akan mengurai tumbuhan. Kita
bisa makan rumput dan daun sepanjanghari.

Ciri-ciri Bakteri:
1. Ukuran tubuh yang berdiameter 0,12 mikron sampai 200 mikron
2. Dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan mikroskop cahaya
3. Bentuknya kokus (bulat), basil (batang), dan spirilia (spiral)
4. Memiliki dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula
penyimpanan

Bentuk-bentuk bakteri :
1. Kokus (bulat):
Monokokus -> sel bakteri kokus tunggal, contohnya: Chlamydia trachomatis
Diplokokus -> dua sel bakteri kokus yang berdempetan, contohnya:Diplococcus
pneumoniae
Tetrakokus -> empat sel bakteri kokus yang berbentuk segi empat,
contohnya: Pediococcus cerevisiae
Sarkina -> delapan bakteri kokus berdempetan membentuk kubus,
contohnya: Thiosarcina rosea
Streptokokus -> lebih dari empat sel bakteri kokus yang berdempetan membentuk rantai,
contohnya: Streptococcus mutans (bakteri pada gigi)
Stafilokokus -> lebih dari empat sel bakteri yang berdempetan membentuk buah anggur,
contohnya: Staphylococcus aureus (pada bisul)
2. Basil (batang):
Monobasil -> sel bakteri tunggal, contohnya: Escherichia coli (pada perut),bacilus
subtilis (di tanah)
Diplobasil -> dua sel bakteri yang berdempetan
Streptobasil -> beberapa sel bakteri basil yang berdempetan membentuk rantai,
contohnya: Bacillus anthracis
3. Spirilia (spiral):
Spiral -> bakteri yang berbentuk gelombang, contohnya: Thiospirillopsis
floridana,Azospirillium floridana.(ditanah)
Spiroseta -> bentuk bakteri yang menyerupai sekrup, contohnya:Treponema
pallidum(penyebab sifilis)
Vibrio -> sel bakteri yang berbentuk seperti tanda baca koma, contohnya:Vibrio
cholerae

Source: google.com

Struktur dan fungsi sel:


Dinding sel -> sebagai pelindung dan pemberi bentuk bakteri yang terdiri dari
peptidoglikan
Bakteri Gram positif -> bakteri yang memiliki dinding sel dan peptidoglikan
yang tebal. Bakteri ini akan berwarna ungu jika diwarnai dengan pewarnaan gram,
contohnya: Vibrio cholerae
Bakteri Gram negatif -> bakteri yang memiliki dinding sel dan peptidoglikan
yang tipis dan akan berwarna merah muda jika diwarnai pewarnaan gram, contohnya: Escheria
coli
Membran plasma -> membran yang menyelubungi sitoplasma, tersusun dari fosfolipid
dan protein, yang berfungsi mengatur pertukaran zat antara sel dengan lingkungannya
Sitoplasma -> cairan sel
Ribosom -> organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun dari protein dan RNA
DNA -> pembawa informasi genetik
Granula penyimpanan -> menyimpan cadangan makanan
Kapsul atau lapisan lendir -> lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu
Flagellum -> bulu cambuk/ struktur batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel,
tersusun dari protein
Pili (fimbriae)
Berukuran lebih kecil dan lebih pendek dari flagel. Pili hanya dapat dilihat dengan mikroskop
elektron. Dijumpai pada bakteri yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
Source: google.com

Cara hidup :
1. Berdasarkan cara memperoleh makanannya:
Bakteri Heterotrof -> bakteri yang makanannya berupa senyawa organik dari organisme
lain
Bakteri Saprofit -> bakteri yang memperoleh sisa makanan dari
sisa organisme lain.Contoh : jamur kuping.
Bakteri Parasit -> bakteri yang memperoleh makanan dari
inangnya/merugikan.Contoh : Fussarium sp(merusak tanaman bawang dan jagung.
Bakteri Autotrof -> bakteri yang mampu membuat makanan sendiri
Bakteri fotoautotrof -> bakteri yang menggunakan energi cahaya untuk
membuat makanannya
Bakteri kemoautotrof -> bakteri yang mensintesis makanannya menggunakan
energi kimia
2. Berdasarkan Kebutuhan oksigennya dibagi jadi dua yaitu:
Bakteri aerob -> bakteri yang membutuhkan oksigen untuk memperoleh enerjinya
Bakteri anaerob -> bakteri yang tidak membutuhkan oksigen untuk
memperoleh energinya
Bakteri anaerob obligat -> hanya dapat hidup jika tidak ada oksigen, dengan
kata lain oksigen merupakan racun baginya
Bakteri anaerob fakultatif -> dapat hidup dengan atau tanpa oksigen

3. Reproduksi:
Transformasi -> adalah masuknya DNA telanjang kedalam sel bakteri dan mengubah
sifat sel bakteri.
Transduksi -> adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lain
dengan pengantara bakteriofage
Konjugasi -> adalah pemindahan materi genetik secara langsung melalui kontak sel
dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara kedua sel
4. Habitat: hidup di air, tanah, udara, sisa makhluk hidup dan dalam tubuh organisme lain.
umumnya hidup ditempat agak lembab dan basah pada suhu 25-37C.
Klasifikasi Eubacteria:

Proteobacteria
Cyanobacteria
Spirochetes
Chlamydias
Bakteri Gram positif
Archaebacteria
Archaebacteria memiliki susunan,struktur, metabolisme, dan urutan asam yang berbeda dengan
asam nukleat. dibagi jadi 3:

*Bakteri Metanogen ->bakteri menghasilkan metana dari gas hidrogen dan CO2 atau asam
asetat
*
Bakteri Halofil -> bakteri yang hidup di kadar garam tinggi
*Bakteri Termoasidofil ->hidup di lingkungan ekstrim panas dan asam
Bakteri menguntungkan
Bakteri pengurai

Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran
organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi
CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan
bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan
dunia dari sampah-sampah organik.
Bakteri nitrifikasi

Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari
amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:

Dalam bidang pertanian, nitrifikasi sangat menguntungkan karena menghasilkan senyawa yang
diperlukan oleh tanaman yaitu nitrat. Tetapi sebaliknya di dalam air yang disediakan untuk
sumber air minum, nitrat yang berlebihan tidak baik karena akan menyebabkan pertumbuhan
ganggang di permukaan air menjadi berlimpah.
Bakteri nitrogen

Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan
mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan.
Bakteri fermentasi

Bakteri penghasil antibiotik

Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat
terhadap kegiatan mikroorganisme lain.
Bakteri merugikan
Bakteri perusak makanan

Beberapa spesies pengurai tumbuh di dalam makanan. Mereka mengubah makanan dan
mengeluarkan hasil metabolisme yang berupa toksin (racun). Racun tersebut berbahaya bagi
kesehatan manusia. Contohnya:
Bakteri denitrifikasi

Jika oksigen dalam tanah kurang maka akan berlangsung denitrifikasi, yaitu nitrat direduksi
sehingga terbentuk nitrit dan akhirnya menjadi amoniak yang tidak dapat dimanfaatkan oleh
tumbuhan. Contoh bakteri yang menyebabkan denitrifikasi adalah Micrococcus denitrificans dan
Pseudomonas denitrificans.
JAMUR / FUNGI
Jamur merupakan organisme uniseluler maupun multiseluler (umumnya berbentuk benang
disebut hifa, hifa bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman disebut miselium,
dinding sel mengandung kitin, eukariotik, tidak berklorofil.Jamur multiseluler dan memiliki hifa
adlah kapang, sementara yanhg tidak berhifa dan uniseluler adalah khamir(disebut jamur
sempurna) Hidup secara heterotrof dengan jalan saprofit (menguraikan sampah organik), parasit
(merugikan organisme lain), dan simbiosis. Habitat jamur secara umum terdapat di darat dan
tempat yang lembab. Jamur uniseluler dapat berkembangbiak dengan dua cara yaitu vegetatif
dapat dilakukan dengan cara membentuk spora, membelah diri, kuncup (budding). Secara
generatif dengan cara membentuk spora askus. Sedang untuk jamur multiseluler reproduksi
vegetatif dengan cara fragmentasi, konidium, zoospora. Secara generatif dapat dilakukan dengan
cara konjugasi, hifa yang akan menghasilkan zigospora, spora askus, spora basidium.

KLASIFIKASI JAMUR
Kingdom fungi dibagi menjadi lima divisi yang berbeda dalam hal struktur hifa dan struktur
penghasil spora, teriri dari yaitu:

1. Zygomycotina (kelas Zygomycetes)

a. Habitat di darat, di tanah yang lembab atau sisa organisme mati


b. Hifanya bercabang banyak tidak bersekat saat masih muda dan bersekat setelah menjadi
tua
c. Reproduksi vegetatif dengan cara membentuk spora tak berflagel (aplanospora) dan
generatif dengan cara gametangiogami dari dua hifa yang kompatibel/konjugasi dengan
menghasilkan zigospora
d. Contohnya :Rhizopus sp

Miseliumnya mempunyai tiga tipe hifa yaitu :


* stolon (hifa yang membentuk jaringan di permukaan substrat seperti roti),
* rhizoid (hifa yang mnembus substrat dan berfungsi untuk menyerap makanan), sporangiofor
(tangkai sporangium)
Berkembangbiak dengan cara vegetatif yaitu membuat sporangium yang menghasilkan spora.
Generatif yaitu dengan konjugasi dua hifa (-) dan hifa (+).
Contoh lain dari jamur dan perannya
1. Mucor mucedo Hidup pada kotoran ternak
2. Rhizopus nigricans Menghasilkan asam fumarat, pemasak buah
3. Rhizopus oryzae Jamur tempe/untuk membuat tempe
4. Rhizopus nodusus Menghasilkan asam laktat
5. Plasmopora viticola Parasit pada anggur

2. Ascomycotina
Hidup saprofit di dalam tanah atau hipogean, hisup di kotoran ternak disebut koprofil, ada juga
yang parasit pada tumbuhan. Tubuhnya terdiri atas benang-benang yang bersekat atau ada yang
unisel dan tidak memiliki hifa.
Cara berkembangbiak ada dua cara:
a. Secara vegetatif. Dengan cara kalmidospora (spora berdinding tebal), fragmentasi
(pemisahan sebagian csbang dari miselium yang selanjutnya tumbuh menjadi individu baru),
tunas/kuncup (budding) yaitu pada Saccharomyces.
b. Secara generatif
Dengan menghasilkan spora yang dibentuk di dalam askus. Askus-askus itu berkumpul dalam
badan yang disebut askokarp
Contohnya:
a. Saccaharomyces cerevisiae untuk membuat tape
b. Saccaharomyces ovale untuk membuat tape
c. Saccaharomyces sake untuk membuat sake jepang

Aspergilus

d. Penicillium notatum penghasil antibiotik pinisilin


e. Penicillium chryzogenum penghasil antibiotik pinisilin
f. Penicillium camemberti mengharumkan keju
g. Penicillium roquerforti mengharumkan keju
h. Aspergillus flavus menghasilkan alfatoksin
i. Aspergillus fumigatus parasit paru-paru burung
j. Aspergillus oryzae untuk membuat tape
k. Aspergillus wentii untuk membuat kecap
l. Aspergillus nidulans penyebab automikosis/penyakit telinga
m. Laboulbenia parasit pada serangga
n. Claviseps purpurea bahan obat-obatan
o. Reosellina arcuata hidup pada potongan akar
p. Nectria cinabarina parasit pada kayu manis
q. Neurospora sitophila untuk membuat oncom

3. Basidiomycotina
Umumnya makroskopis atau mudah dilihat dengan mata telanjang. Miseliumnya bersekat dan
dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: miselium primer (miselium yang sel-selnya berinti
satu, umumnya berasal dari perkembangan basidiospora) dan miselium sekunder (miselium yang
sel penyusunnya berinti dua, miselium ini merupakan hasil konjugasi dua miselium primer atau
persatuan dua basidiospora). Cara reproduksi : vegetatif (dengan membentuk tunas, dengan
konidia, dan fragmentasi miselium) dan secara generatif (dengan alat yang disebut basidium,
basidium berkumpul dalam badan yang disebut basidiokarp, yang menghasilkan spora yang
disebut basidiospora)
Contohnya:
a. Puccinia graminis parasit pada rumput-rumputan
b. Ustilago vireus parasit pada padi
c. Ustilago maydis parasit pada jagung
d. Volvariella volvacea jamur merang, dapat dimakan
e. Auricularia polytrica jamur kuping, dapat dimakan
f. Amanita phalloides menghasilkan racun falin yang merusak darah
g. Ustilago compestris jamur kaleng
h. Amanita muscaria menghasilkan racun muskarin yang dapat membunuh lalat
i. Pleurotes (jamur tiram) enak dimakan
j. Exobasidium vexans parasit pada tanaman the
k. Corticium salmonella jamur upas, parasit pada pohon buah-buahan dan karet

4. Deuteromycotina
a. Belum diketahui tingkat seksualnya, disebut juga jamur tidak sempurna (fungi imperfecti)
b. Pembiakan vegetatif dengan menggunakan konidium, sedang alat pembiakan generatifnya
(askus atau basidium) belum atau tidak dikenal. Contoh klasik ialah Monilia sitophila, jamur
ini masuk Deuteromycotina. Tetapi setelah ditemukan alat pembiakan generetif oleh Dodge
(1927) dan Dwijosoeputro (1961), jamur ini dikelompokkan ke dalam Ascomycotina dan
namanya diganti menjadi Neurospora sitophila.
c. Contohnya
a. Helminthosprium oryzae parasit pada padi
b. Sclerotium rolfsii parasit pada bawang merah
c. Monila sitophila jamur oncom, enak dimakan
d. Tinea versicolor jamur panu
e. Epidermophyton floocossum jamur kulit, parasit pada kaki atlit
f. Verticillium penyebab layu pada bibit-bibit tanaman
g. Curvularia parasit pada rerumputan

MIKORIZA
Mikoriza bukan takson dalam kingdom jamur, mikoriza merupakan jamur yang hifanya
bersimbiosis dengan akar suatu tanaman. Berdasarkan kedalaman jaringan yang digunakannya
mikoriza dapat digolongkan menjadi dua tipe mikoriza, yaitu:

Ektomikoriza
Yaitu jika hifa jamur hanya hidup di daerah permukaan akar, yakni pada jaringan epidermis. Dari
tumbuhan inangnya memperolah bahan makanan seperti vitamin, gula, asam amino. Sedangkan
inangnya mendapatkan air dan unsur-unsur dari tanah lebih banyak. Contohnya jamur
ektomikoriza bersimbiosis dengan tanaman pinus, bentuknya seperti payung.

Endomikoriza
Yaitu hifa jamur menembus akar hingga masuk ke jaringan korteks. Endomikoriza tidak
mempunyai inang khusus. Contohnya jamur yang hidup pada akar anggrek, sayuran, dan
berbagai jenis pohon.

LUMUT KERAK

Lumut kerak merupakan simbiosis antara jamur dari golongan Ascomycotina atau
Basidiomycotina (mikobion) dengan Chlorophyta atau Cyanobacteria bersel satu (fikobion).
Menurut bentuk pertumbuhannya, lumut kerak terbagi menjadi tiga tipe yaitu:
a. Krustos, jika talus terbentuk seperti kerak (kulit keras) dan melekat erat pada substratnya.
Contohnya : Physcia
b. Folios, jika talus berbentuk seperti daun. Contohnya : Umbillicaria, Parmelia
c. Fruktikos, jika talus tegak seperti semak atau menggantung seperti jumbai atau pita.
Contohnya Usnea longissima
Reproduksi generatif yaitu berdiri sendiri antara jamur dan ganggang yang bersimbiosis, dan
vegetatif dengan cara fragmentasi. Manfaat lumut kerak bagi kehidupan manusia diantaranya:
a. Dapat dibuat obat
b. Dapat digunakan sebagai penambah rasa dan aroma
c. Pigmen yang dihasilkan dapat dibuat kertas lakmus celup indikator pH
d. Pada daerah bebatuan, lumut kerak dapat melapukan bebatuan dan menambah kandungan zat-
zat yang dimilikinyaDapat digunakan sebagai indikator pencemaran
Peranan Jamur Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang
merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis
antara lain sebagai berikut.
a. Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan berprotein tinggi.
b. Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu
dalam pembuatan tempe dan oncom.
c. Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri
keju, roti, dan bir.
d. Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
e. Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.
Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang
merugikan, antara lain sebagai berikut.
a. Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit
rebah semai.
b. Phythophthora inf'estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman
kentang.
c. Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.
d. Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.
e. Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru
manusia.
f. Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.
Pengamatan Struktur bakteri
Dilakukan dengan zat warna yang diharapkan dapat terikat dalam asam nukleat bakteri.zat
warna yang biasa digunakan adalah metylen blue untuk memberi warna biru setelah bakteri
diwarnai selama 1-2 menit.Kristal violet memberi warna ungu setelah selang waktu 2-60 detik.
Karbol fuchsin memberikan warna merah setelah selang waktu 15-30 detik.
Pengamatan Struktur Jamur
Jamur (fungus,fungi) merupakan sel eukariotik, nonfotosintetik dan heterotrof
(menggunakan bahan organik sebagai makanan). Jamur parasit hidup di organisme hidup dan
jamur saprofir hidup di organisme mati/
Jamur terdiri dari susunan sel yang membentuk filamen bercabang yang disebut hifa.
Kumppulan hifa yang membentuk percabangan yang tebal disebut miselium. Ciri umum jamur
adalah adanya spora yang menyebabkan jamur dapat hidup dalam cuaca yang ekstrim, sehingga
dapat hidup diberbagai tempat seperti tanah,air,udara,hewan,tanaman, dan manusia. Keberadaan
jamur sangat penting untuk perombakan material-material organik.
Pada praktikum ini akan dipelajari jenis-jenis jamur pada tempe,air liur, roti dan tape peyeum

Alat dan Bahan


Kaca objek
Kaca penutup
Tusuk gigi
Batang ose
Pipet tetes
Tabung reaksi vol 20 ml
Bak pewarnaan
Mikroskop cahaya pembesaran 1000 x
Pembakar spirtus
Kotoran gigi
Tape
Tempe
Roti berjamur
Methylen blue
Karbol fuchsin
kristal ungu
NaCl fisiologis 85 %
Alkohol 70 %
Kapas
Kertas saring
Aquades
Tata Kerja
1.Pengamatan Bakteri dari Kotoran Gigi
1. Bersihkan kaca objek dengan kapas yang telah dibasahi alkohol hingga bersih dan bebas
lemak.
2. Fiksasi di atas api selama 10-20 kali, lalu dinginkan.
3. Kotoran gigi diambil dengan tusuk gigi lalu oleskan pada kaca objek
4. Tetesi kotoran gigi dengan 1 ose NaCl Fisiologis 0,85 % dan ratakan di atas kaca objek
5. Keringkan lapisan bakteri tersebut,setelah kering, fiksasi diatas api dengan cara dilewatkan di
atas api sebanyak 3 kali.
6. Dinginkan preparat tersebut dan letakan di atas bak pewarna.
7. Tetesi lapisan bakteri dengan zat pewarna yang diinginkan dan hitung waktunya.
8. Buang sisa zat pewarna,keringkan.
9. Tetesi preparat yang sudah kering dengan minyak imerse dan amati di bawah mikroskop.

Gambar sel kotoran gigi dengan perbesaran 1000 x dan reagen methylen blue

Gambar sel kotoran gigi dengan perbesaran 1000 x dan reagen karbol fuchsin

Gambar sel kotoran gigi dengan perbesaran 1000 x dan reagen kristal violet
2. Pengamatan Jamur dari Tape
1. Timbang tape sebanyak 1 gram, haluskan dan campur dengan 9 ml air steril dalam tabung
reaksi dengan volume 10 ml, kocok tabung reaksi tersebut hingga suspensi tercampur rata.
2.Diamkan suspensi dalam tabung hingga terjadi pengendapan. Ambilah supernatan di bagian
atas tabung dengan pipet tetes.
3. Ambil supernatan sebanyak 1 tetes dan letakan dalam kaca objektambahkan 1 tetes methylen
bleu dan tutup dengan cover glass.
4. Amati selnya.

Gambar sel Jamur tape Saccharomyces cereviseae dengan reagen methylen blue.

3. Pengamatan Jamur pada Tempe dan Roti berjamur


1. Ambilah jamur pada permukaan tempe dan roti dengan ose steril.
2. Letakan jamur pada kaca preparat dan tetesi dengan air lalu tutup dengan kaca penutup
3. Amati bentuk jamur tersebut.

Gambar Penicillium sp. dan Aspergillus sp.


Gambar Aspergillus oryzae dengan perbesaran 400 x

Gambar jamur pada tempe Rhyzopus oryzae dengan perbesaran 400 x & reagen air.
DAFTAR PUSTAKA