Anda di halaman 1dari 10

Bentuk Lahan Yang Ada Di Pulau Sumatra

1. Bentuk Asal Struktural

Bentuk lahan asal struktural merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat pengaruh
kuat struktur geologis. Bentuklahan struktural terbentuk karena adanya proses
endogen atau proses tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan
pensesaran. Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada
awalnya hampir semua bentuklahan muka bumi ini dibentuk oleh kontrol
struktural. Bentukan ini dihasilkan dari struktur geologi. Terdapat dua tipe utama
struktur geologi yang memberikan kontrol terhadap geomorfologi yaitu: struktur
aktif yang menghasilkan bentukan baru dan struktur tidak aktif yang merupakan
bentuklahan yang dihasilkan oleh perbedaan erosi masa lalu. Bentuk slahan asal
struktural terjadi akibat adanya tenaga endogen yaitu tenaga yang berasal dari
dalam bumi yang menyebabkan adanya tekanan pada lempeng atau kerak bumi.
Akibat tekanan tersebut, timbulnya lipatan dan atau patahan. Lipatan terjadi
apabila tenaga endogen tersebut tidak melebihi daya tahan material terhadap
adanya tekanan sedangkan patahan terjadi apabila tenaga endogen tersebut
melebihi besarnya daya tahan material tersebut. Dalam struktur geologi antara lain
dipelajari: bentuk lipatan dan patahan dengan perkembangannya. Bentuk-bentuk
lipatan dibedakan menjadi sinklinal dan antiklinal. Salah satu Bentuklahan asal
struktural yang ada di Sumatra yaitu Ngarai Sianok. Ngarai Sianok ini terbentuk
akibat adanya patahan Semangko, yang juga merupakan bentuklahan asal
struktural.

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di


perbatasan kota Bukittinggi, di kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera
Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan
ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di
kecamatan Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang sangat indah dan
juga menjadi salah satu objek wisata andalan provinsi. Ngarai Sianok yang dalam
jurangnya sekitar 100 m ini, membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar
200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera
menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk
dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau
hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)yang dialiri Batang Sianok
(batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman
kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau
sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini. Batang
Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yang disaranai
oleh suatu organisasi olahraga air "Qurays". Rute yang ditempuh adalah dari
nagari Lambah sampai jorong Sitingkai nagari Palupuh selama kira-kira 3,5 jam.
Di tepiannya masih banyak dijumpai tumbuhan langka seperti rafflesia dan
tumbuhan obat-obatan. Fauna yang dijumpai misalnya monyet ekor panjang,
siamang, simpai, rusa, babi hutan, macan tutul, dan juga tapir.

Gambar 1 : Lembah Ngarai Sianok


2. Bentuk lahan Asal Vulkanik

Bentuk lahan asal vulkanik merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas gunung
api. Vulkanisme adalah berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan magma yang
bergerak naik ke permukaan bumi. Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan
yang secara umum disebut bentuk lahan gunung api atau vulkanik. Satuan geomorfologi
dari bentukan ini ada 10 macam, yaitu kerucut vulkanik, lereng vulkanik, kaki vulkanik,
dataran vulkanik, padang larva, padang lahar, dataran antar vulkanik, bukit vulkanik
terdenudasi, boka, dan kerucut parasiter. Semua fenomena yang berkaitan dengan
proses gerakan magma dari dalam bumi menuju ke permukaan bumi yang menghasilkan
bentukan yang cenderung positif di permukaan bumi yang disebut sebagai bentukan
volkanik. Salah satu contohnya yaitu Gunung kerinci di Sumatra. Gunung Kerinci
merupakan gunung berapi dengan ketinggian 3.805 mdpl yang sekaligus
merupakan gunung berapi tertinggi se Asia Tenggara. Gunung api yang masih
aktif ini terletak di area perbatasan provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi.
Gunung ini memiliki berbagai julukan diantaranya yaitu Gunung Gadang,
Korinci, Berapi Kurinci, dan Puncak Indrapura. Gunung yang termasuk dalam
jenis Strato Vulcano ini secara administrasi berada di kawasan Taman Nasional
Kerinci Seblat. Gunung ini terakhir kali meletus pada tahun 2009.

Gambar 2: Gunung berapi/Gunung Kerinci


3. Bentuk lahan Asal Fluvial

Bentuklahan Asal Fluvial Merupakan kelompok besar satuan bentuk lahan yang
terjadi akibat aktivitas sungai. Bentuklahan asal proses fluvial terbentuk akibat
aktivitas aliran sungai yang berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan
(sedimentasi) membentuk bentukan-bentukan deposisional yang berupa bentangan
dataran aluvial (fda) dan bentukan lain dengan struktur horisontal, tersusun oleh
material sedimen berbutir halus. Bentukan-bentukan ini terutama berhubungan
dengan daerah-daerah penimbunan seperti lembah-lembah sungai besar dan
dataran aluvial. Bentukan-bentukan kecil yang mungkin terjadi antara lain dataran
banjir (Fdb), tanggul alam (Fta), teras sungai (Fts), dataran berawa (Fbs), gosong
sungai (Fgs) dan kipas aluvial (Fka). Asosiasi antara proses fluvial dengan marin
kadang membentuk delta (Fdt) di muara sungai yang relatif tenang. Beberapa hal
proses-proses fluvial seperti pengikisan vertikal maupun lateral dan berbagai
macam bentuk sedimentasi sangat jelas dapat dilihat pada citra atau foto udara.
Bentuklahan asal fluvial adalah sebagai berikut (Suhendra, 2009). Dataran aluvial.
Rawa, danau, rawa belakang. Dataran banjir. Tanggul alam. Teras sungai. Kipas
aluvial. Gosong. Delta. Dataran delta Bentuk lahan asal fluvial: bentuk lahan
akibat pengerjaan sungai. contoh: meander, gosong pasir, dataran banjir (flood
plain), point bar. Contoh lain yaitu Pulau Kemaro disumatra, di tengah sungai
Musi, Palembang Sumatera Selatan.

Pulau Kemaro, merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi, terletak


sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah industri,
yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong.
Pulau kemaro berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang. Pulau Kemaro adalah
tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuah vihara
cina (klenteng Hok Tjing Rio). Di Pulau Kemaro ini juga terdapat kuil Buddha
yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam. Di
sana juga sering diadakan acara Cap Go Meh setiap Tahun Baru Imlek.
Di Pulau Kemaro juga terdapat makam dari putri Palembang, Siti Fatimah.
Menurut legenda setempat yang tertulis di sebuah batu di samping Klenteng Hok
Tjing Rio, pada zaman dahulu, datang seorang pangeran dari Negeri Cina,
bernama Tan Bun An, ia datang ke Palembang untuk berdagang. Ketika ia
meminta izin ke Raja Palembang, ia bertemu dengan putri raja yang bernama Siti
Fatimah. Ia langsung jatuh hati, begitu juga dengan Siti Fatimah. Merekapun
menjalin kasih dan berniat untuk ke pelaminan. Tan Bun An mengajak sang Siti
Fatimah ke daratan Cina untuk melihat orang tua Tan Bun Han. Setelah beberapa
waktu, mereka kembali ke Palembang. Bersama mereka disertakan pula tujuh guci
yang berisi emas. Sesampai di muara Sungai Musi Tan Bun han ingin melihat
hadiah emas di dalam Guci-guci tersebut. Tetapi alangkah kagetnya karena yang
dilihat adalah sayuran sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang ia membuang guci-
guci tersebut kelaut, tetapi guci terakhir terjatuh diatas dek dan pecah. Ternyata
didalamnya terdapat emas. Tanpa berpikir panjag lagi ia terjun ke dalam sungai
untuk mengambil emas-emas dalam guci yang sudah dibuangnya. Seorang
pengawalnya juga ikut terjun untuk membantu, tetapi kedua orang itu tidak
kunjung muncul. Siti Fatimah akhirnya menyusul dan terjun juga ke Sungai Musi.
Untuk mengenang mereka bertiga dibangunlah sebuah kuil dan makam untuk
ketiga orang tersebut.

Gambar 3: Pulau Kemaro


4. Bentuklahan Asal Marine

Bentuk lahan Asal Marine Merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat
proses laut oleh tenaga gelombang, arus, dan pasang-surut. Aktifitas marine yang
utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan pertemuan terumbu karang.
Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan pesisir yang
terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine dapat mencapai puluhan
kilometer ke arah darat, tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter saja. Sejauh
mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan pertumbuhan terumbu pada
pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya. Proses lain yang sering
mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya : tektonik masa lalu, berupa
gunung api, perubahan muka air laut (transgresi/regresi) dan litologi penyusun.
Contoh satuan bentuklahan ini adalah: Gisik, Dataran pantai, Beting pantai,
Laguna, Rataan pasang-surut, Rataan lumpur, Teras marin, Gosong laut, Pantai
berbatu. Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara ke laut, maka
seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat kombinasi proses fluvial dan
proses marine. Kombinasi ini disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan
bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvio marine ini antara lain delta dan
estuari. Contoh bentuklahan marine diantaranya pantai, tebing pantai, beach ridge,
swales, marine terrace, atol, coral reef, dan lagoon, tombolo, salah satu contoh
bentuk lahan asal marine yaitu pantai cermin. Pantai Cermin berada di sebuah
kecamatan di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Indonesia.

Gambar 4 : Pantai Cermin


5. Bentuk lahan Asal Solusional

Bentuk lahan asal solusional merupakan bentuklahan yang terjadi akibat proses
pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping dan dolomite, karst
menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva, merupakan
contoh-contoh bentuklahan ini.Bentuklahan yang terjadi pada daerah karst dapat
dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu bentuklahan negatif dan bentuklahan
positif. Bentuk lahan Negatif Bentuk lahan negatif dimaksudkan bentuk lahan
yang berada di bawah rata-rata permukaan setempat sebagai akibat proses
pelarutan, runtuhan maupun terban. Bentuklahan-lahan tersebut antara lain terdiri
atas doline, uvala, polye, cockpit, blind valley. Doline-Doline merupakan
bentuklahan yang paling banyak dijumpai di kawasan karst. Bahkan di daerah
beriklim sedang, karstifikasi selalu diawali dengan terbentuknya doline tunggal
akibat dari proses pelarutan yang terkonsentrasi. Tempat konsentrasi pelarutan
merupakan tempat konsentrasi kekar, tempat konsentrasi mineral yang paling
mudah larut, perpotongan kekar, dan bidang perlapisan batuan miring. Doline-
doline tungal akan berkembang lebih luas dan akhirnya dapat saling menyatu.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa karstifikasi (khususnya di daerah iklim
sedang) merupakan proses pembentukan doline dan goa-goa bawah tanah,
sedangkan bukit-bukit karst merupakan bentukan sisa/residual dari perkembangan
doline. Uvala-Uvala adalah cekungan tertutup yang luas yang terbentuk oleh
gabungan dari beberapa danau doline. Uvala memiliki dasar yang tak teratur yang
mencerminkan ketinggian sebelumnya dan karakteristik dari lereng doline yang
telah mengalami degradasi serta lantai dasarnya tidak serata polje (Whittow,
1984)3. PoljePolje adalah ledokan tertutup yang luas dan memanjang yang
terbentuk akibat runtuhnya dari beberapa goa, dan biasanya dasarnya tertutup oleh
alluvium. Blind Valley, Blind Valley adalah satu lembah yang mendadak
berakhir/ buntu dan sungai yang terdapat pada lembah tersebut menjadi lenyap di
bawah tanah. Bentuk lahan Positif Pada prinsipnya ada 2 macam bentuk lahan
karst yang positif yaitu kygel karst dan turm karst. Kygel karstt merupakan satu
bentuklahan karst tropic yang didirikan oleh sejumlah bukit berbentuk kerucut,
yang kadang-kadang dipisahkan oleh cockpit. Cockpit-cockpit inisialing
berhubungan satu sama lain dan terjadi pada suatu garis yang mengikuti pola
kekar. Turm karst, Turm karst merupakan istilah yang berpadanan dengan menara
karst, mogotewill, pepinohill atau pinnacle karst. Turmkarst merupakan bentuka
positif yang merupakan sisa proses solusional. Menara karst/ tumkarst terdiri atas
perbukitan belerang curam atau vertical yang menjulang tersendiri diantara
dataran alluvial. Stalaktit dan Stalakmit Stalaktit adalah bentukan meruncing yang
menghadap ke bawah dan menempel pada langit-langit goa yang terbentuk akibat
akumulasi batuan karbonat yang larut akibat adanya banjir. Stalakmit hampir
mirip dengan stalaktit namun berada di bawah lantai dan menghadap ke
atas.Bentuklahan asal solusional: bentuklahan akibat proses pelarutan pada batuan
yang mudah larut. contoh: bentukan di daerah karst yaitu stalagnit, stalaktit,
dolina. Contoh lahan asal proses Solusional yaitu Gua Harimau Sumatera.

Gua Harimau di Padangbindu, Baturaja, Sumatra Selatan, ditemukan pada 2008


dan mulai diteliti pada 2009. Penelitian yang berlanjut sampai sekarang telah
menghasilkan penemuan-penemuan spektakuler yang memberikan pandangan-
pandangan baru kearkeologian. Dalam "Rumah Peradaban Gua Harimau" yang
digelar pada 16 Mei 2016, Pusat Arkeologi Nasional mengundang peserta yang
terdiri atas siswa SMA/SMK se-Kabupaten, guru, pemerintah daerah, dan
masyarakat sekitar Padang Bindu. (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)

Profesor Truman Simanjuntak bersama timnya dari Pusat Penelitian Arkeologi


Nasional melacak jejak hunian prasejarah di Gua Harimau sejak 2009. Gua di
Bukit Karang Sialang, Desa Padang Bindu, Sumatra Selatan itu membekukan sisa
kehidupan penghuninya: gambar cadas prasejarah dan kubur kuno terbanyak
dalam gua hunian di Indonesiajuga Asia Tenggara.

Lokasi Gua Harimau berada sekitar 35 kilometer di barat Baturaja, Ogan


Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Setahun setelah penemuan Gua pada
2008, para arkeolog mulai meneliti Gua Harimau dan berlangsung hingga kini.
Penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun itu menghasilkan penemuan-
penemuan arkeologi yang spektakuler.

Siput-siput seperti ini banyak ditemukan berserakan di Gua Harimau. Para


ahli arkeologi memperkirakan bahwa lubang-lubang yang terdapat pada ujung-
ujung siput memang sengaja dibuat oleh para Penutur Austronesia untuk
menyeruput dagingnya. Ini merupakan hasil penemuan di Gua Harimau yang
dipaparkan dalam NGI edisi Januari 2013.. (Reynold Sumayku/National
Geographic Indonesia)

Di gua tersebut, arkeolog menemukan sisa hunian, perbengkelan, dan kuburan


dari ras Mongoloid, penghuni gua dengan budaya Neolitik sekitar 4.000 tahun lalu
yang berlanjut ke budaya Paleometalik sekitar 2.000 tahun lalu. Hingga saat ini
telah ditemukan kubur dari 81 individu dengan orientasi, posisi, sistem, dan jenis
kubur yang sangat bervariasi. Kepadatan kubur yang tiada duanya di Indonesia ini
sangat penting bagi pemahaman tentang kehidupan leluhur bangsa di masa
lampau. Khususnya tentang kondisi sosial dan ekonomi, konsepsi kepercayaan,
demografi, patologi, nutrisi yang sarat dengan nilai-nilai budaya atau peradaban.

Gambar 5: Gua Harimau


6. Bentuk lahan asal Antropogenik

Bentuk lahan asal Antropogenik Merupakan bentuklahan yang terjadi


akibat aktivitas manusia. Aktivitas yang telah disengaja dan direncanakan untuk
membuat bentuk lahan yang baru dari bentuk lahan yang telah ada maupun
aktivitas oleh manusia yang secara tidak sengaja telah merubah bentuk lahan yang
telah ada.salah satu ontohnya pelabuhan Tanjung Api-api di Sumatera.

Pelabuhan Tanjung Api-api adalah pelabuhan internasional yang terletak


di Kabupaten Banyuasin, 80 Km dari Kota Palembang, Sumatera selatan,
Pelabuhan ini adalah salah satu pelabuhan besar di Indonesia, pelabuhan ini
terintegerasi dengan kawasan ekonomi ekslusif (KEK) Tanjung Api-api,
pelabuhan ini juga direncanakan teritegerasi dengan jalur kereta api batu bara dari
tanjung enim ke tanjung api-api. Selain jalur kereta api batu bara dari tanjung
enim ke tanjung api-api, selain itu direncanakan juga akan dibangun jalan tol dari
Palembang menuju tanjung api api. Beberapa industri seperti rubber, CPO,
industri mie instant & pergudangan sudah berdiri dikawasan industri tanjung api-
api. Dengan terintegrasinya kawasan industri dengan pelabuhan internasional,
serta insfrastruktur penunjang lainnya. diharapkan kawasan industri dan
pelabuhan tanjung api-api akan menjadi kawasan industri yang berkembang dan
diharapkan dapat menyerap tenaga kerja.

Gambar 6: Pelabuhan Tanjung api-api