Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

PENGAMATAN SEL BAKTERI

Disusun Oleh :

Nama : Ita Novayanti


NIM : ACD 114 044
Kelas :B
Kelompok :6
Hari/Tanggal : Jumat, 28 Oktober 2016
Praktikum ke :6
Dosen Pengampu : Liswara Neneng, M.Si
Widya Krestina, S.Si, M.Si
Asisten praktikum : Rahmawati, S.Pd, M.Pd

PROGAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
2016

1
I. JUDUL
Pengamatan Sel Bakteri
II. PENDAHULUAN
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan
sifat-sifat yang khas, termasuk bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan
kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara
untuk melihat dan mengamati bentuk sel bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit,
sehingga untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan sel
bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Hal tersebut juga
berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel
bakteri melalui serangkaian pengecatan. Oleh karena itu teknik pewarnaan sel bakteri
ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian
mikrobiologi.
Zat warna yang digunakan bersifat asam atau basa. Pada zat warna basa,
bagian yang berperan dalam memberikan warna disebut kromofor dan mempunyai
muatan positif. Sebaliknya pada zat warna asam bagian yang berperan memberikan
zat warna memiliki muatan negatif. Contoh zat warna asam antara lain Crystal Violet,
Methylene Blue, Safranin, Base Fuchsin, Malachite Green. Sedangkan zat warna basa
antara lain Eosin, Congo Red.
Pewarnaan bakteri dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1. Fiksasi, perlu dilakukan sebelum pewarnaan bakteri, dengan tujuan untuk :
a. Melekatkan sel bakteri pada gelas objek
b. Membunuh bakteri, karena sel yang mati lebih mudah diwarnai
c. Melepaskan granuler (butiran) protein menjadi gugusan rekatif (NH3+) yang
akan bereaksi dengan gugus OH dari zat warna
d. Membuat sel-sel lebih kuat
e. Mencegah terjadinya otolisis sel yaitu pecahnya sel yang disebabkan oleh
enzim-enzim yang dikandungnya sendiri.
f. Mengubahnya afinitas (daya ikat) zat warna
Fiksasi dapat dilakukan secara fisik dengan pemanasan atau freeze drying atau
dapat juga dengan menggunakan bahan kimia sepeti sabun, phenol dan

2
formalin. Cara fiksasi yang paling banyak digunakan dalam pewarnaan bakteri
ialah dengan membuat lapisan suspense bakteri di atas gelas obyek kemudian
dikering anginkan dan dilewatkan beberapa kali di atas nyala api.
2. Peluntur zat warna, merupakan suatu senyawa yang menghilangkan warna dari sel
yang telah diwarnai. Peluntur zat warna berguna untuk menghasilkan kontras
yang baik pada bayangan mikroskop.
3. Substrat, berdasarkan jenis zat warna yang diserap oleh sel, maka dapat dibedakan
menjadi 3 macam sel, yaitu sel-sel asidofil, basophil dan sudanofil. Sel-sel
asidofil yaitu sel-sel yang dapat mengikat zat warna asam. Sel-sel basophil ayitu
sel-sel yang dapat mengikat zat warna basa. Sel-sel sudanofil yaitu sel-sel yang
dapat mengikat zat warna yang dapat larut dalam minyak.
4. Intensifikasi pewarnaan, zat warna dapat diintensifkan dengan cara menambah
mordan, yaitu suatu zat kimia yang dapat menyebabkan sel-sel bakteri dapat
diwarnai lebih intensif karena zat warna terikat lebih kuat pada sel.
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode empiris untuk
membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif dan
gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi
nama berdasarkan penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (18531938)
yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara
pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. Pada uji pewarnaan Gram, suatu
pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat
semua bakteri gram negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini
berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan
struktur dinding sel mereka. Pewarnaan gram ini bertujuan untuk melihat bakteri
bersifat gram positif atau negatif dan bentuknya.
Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :

1. Zat warna utama (violet kristal)


2. Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan
warna utama.
3. Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang
digunakan uantuk melunturkan zat warna utama.

3
4. Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali sel-
sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol.
Bakteri gram negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna
metil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram positif akan
mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri
gram negatif tidak.
Ciri-ciri bakteri gram negatif yaitu:
1. Struktur dinding selnya tipis, sekitar 10 15 mm, berlapis tiga atau multilayer.
2. Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%), peptidoglikan
terdapat didalam
3. lapisan kaku, sebelah dalam dengan jumlah sedikit 10% dari berat kering, tidak
mengandung asam tekoat.
4. Kurang rentan terhadap senyawa penisilin.
5. Pertumbuhannya tidak begitu dihambat oleh zat warna dasar misalnya kristal
violet.
6. Komposisi nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.
7. Tidak resisten terhadap gangguan fisik.
8. Resistensi terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat
9. Peka terhadap streptomisin
10. Toksin yang dibentuk Endotoksin
Bakteri gram positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna metil
ungu sewaktu proses pewarnaan Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna biru atau ungu
di bawah mikroskop, sedangkan bakteri gram negatif akan berwarna merah muda.
Perbedaan klasifikasi antara kedua jenis bakteri ini terutama didasarkan pada
perbedaan struktur dinding sel bakteri (Aditya,2010)
1. Struktur dinding selnya tebal, sekitar 15-80 nm, berlapis tunggal atau monolayer.
2. Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal (1-4%), peptidoglikan ada
yang sebagai lapisan tunggal. Komponen utama merupakan lebih dari 50% berat
ringan. Mengandung asam tekoat.
3. Bersifat lebih rentan terhadap penisilin.
4. Pertumbuhan dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu kristal.

4
5. Komposisi nutrisi yang dibutuhkan lebih rumit.
6. Lebih resisten terhadap gangguan fisik.
7. Resistensi terhadap alkali (1% KOH) larut
8. Tidak peka terhadap streptomisin
9. Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin
Bakteri gram negatif memiliki 3 lapisan dinding sel. Lapisan terluar yaitu
lipoposakarida (lipid) kemungkinan tercuci oleh alkohol, sehingga pada saat diwarnai
dengan safranin akan berwarna merah. Bakteri gram positif memiliki selapis dinding sel
berupa peptidoglikan yang tebal. Setelah pewarnaan dengan kristal violet, pori-pori
dinding sel menyempit akibat dekolorisasi oleh alkohol sehingga dinding sel tetap
menahan warna biru (Fitria, 2009).
Sel bakteri gram positif mungkin akan tampak merah jika waktu dekolorisasi
terlalu lama. Sedangkan bakteri gram negatif akan tampak ungu bila waktu dekolorisasi
terlalu pendek (Fitria, 2009).
III. TUJUAN
Untuk mengetahui morfologi sel bakteri

5
IV. ALAT
No. Alat Jumlah
1. Kaca objek 6 buah
2. Kaca penutup 6 buah
3. Mikroskop 1 buah
4. Pipet tetes 5 buah
5. Gelas beker 1 buah
6. Bunsen 1 buah
7. Bak pewarna 1 buah
8. Jarum inokulasi 1 buah
9. Penjepit 1 buah
V. BAHAN
No. Bahan Jumlah
1. Biakan bakteri A1 1 buah
2. Bakteri biakan B2 1 buah
3. Larutan krista violet 1 botol
4. Larutan lugol 1 botol
5. Alkohol 1 botol
6. Safranin 1 botol
7. Akuades Secukupnya
8. Tissue Secukupnya

VI. CARA KERJA


1. Bakteri B2
a. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
b. Mengelap kaca objek dengan menggunakan tissue hingga bersih (hanya satu
kali mengelap dan dilakukan satu arah).
c. Meneteskan 1 tetes akuades di atas kaca objek.
d. Mengambil bakteri B2 dari permukaan media dengan menggunakan jarum ose
bulat, sebelum digunakan, jarum ose dibakar di atas Bunsen hingga membara

6
dan mendiamkan hingga bara hilang. Saat tabung reaksi dibuka mulut tabung
reaksi dipanaskan di atas Bunsen.
e. Mengoleskan bakteri yang telah diambil di atas kaca objek, kemudian
dikering anginkan di atas Bunsen.
f. Memberikan 1 tetes kristal violet di atas kaca objek dan mendiamkan selama 1
menit.
g. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
Kristal violet, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada
bagian sisi kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
h. Meneteskan 1 tetes larutan lugol dan mendiamkan selama 2 menit.
i. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
lugol, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada bagian sisi
kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
j. Meneteskan 1 tetes alkohol di atas kaca objek, mendiamkan selama 30 detik.
k. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
alkohol, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada bagian sisi
kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
l. Meneteskan 1 tetes safranin di atas kaca objek, mendiamkan selama 30 menit.
m. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
safranin, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada bagian
sisi kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
n. Membiarkan kaca objek hingga airnya kering, kemudian menutup dengan
kaca penutup.
o. Mengamati preparat yang telah dibuat dengan menggunakan mikroskop.
2. Bakteri A1
a. Mengelap kaca objek dengan menggunakan tissue hingga bersih (hanya satu
kali mengelap dan dilakukan satu arah).
b. Meneteskan 1 tetes akuades di atas kaca objek.
c. Mengambil bakteri A1 dari permukaan media dengan menggunakan jarum ose
bulat, sebelum digunakan, jarum ose dibakar di atas Bunsen hingga membara

7
dan mendiamkan hingga bara hilang. Saat tabung reaksi dibuka mulut tabung
reaksi dipanaskan di atas Bunsen.
d. Mengoleskan bakteri yang telah diambil di atas kaca objek, kemudian
dikering anginkan di atas Bunsen.
e. Memberikan 1 tetes kristal violet di atas kaca objek dan mendiamkan selama 1
menit.
f. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
Kristal violet, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada
bagian sisi kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
g. Meneteskan 1 tetes larutan lugol dan mendiamkan selama 2 menit.
h. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
lugol, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada bagian sisi
kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
i. Meneteskan 1 tetes alkohol di atas kaca objek, mendiamkan selama 30 detik.
j. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
alkohol, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada bagian sisi
kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
k. Meneteskan 1 tetes safranin di atas kaca objek, mendiamkan selama 30 menit.
l. Memiringkan kaca objek di atas bak pewarna untuk membuang kelebihan
safranin, lalu dibilas dengan akuades hingga warnanya hilang. Pada bagian
sisi kaca objek diberi tissue untuk menyerap sisa air.
m. Membiarkan kaca objek hingga airnya kering, kemudian menutup dengan
kaca penutup.
n. Mengamati preparat yang telah dibuat dengan menggunakan mikroskop.

8
VII. HASIL PENGAMATAN
No. Nama Foto
1. Bakteri B2 Perbesaran 400x

Sel berbentuk
coccus atau
bulat,
berwarna
merah

9
N0. Nama Foto
2. Bakteri A1 Perbesaran 400x

Sel berbentuk
basil atau
batang
berwarna ungu

10
VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini untuk dapat mengetahui morfologi sel bakteri dilakukan
dengan cara pewarnaan gram. Pewarnaan gram adalah suatu metode empiris untuk
membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif dan
gram negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Dengan
pewarnaan gram dapat diketahui apakah bakteri bersifat gram positif atau gram
negatif, juga dapat diketahui bentuk dari sel bakteri.
Pada pewarnaan gram ini diperlukan empat reagen yaitu Kristal violet, larutan
lugol, alkohol dan safranin. Kristal violet berperan sebagai pewarna utama. Larutan
lugol ini merupakan mordan, yaitu suatu senyawa yang digunakan untuk
mengintensifkan warna utama. Alkohol berperan sebagai pencuci atau untuk
melunturkan zat warna utama. Sedangkan safranin merupakan warna kedua atau cat
penutup yang digunakan untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan cat
utama setelah pencucian dengan alcohol.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada preparat bakteri B2
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x, pada preparat tersebut terlihat
adanya sel-sel yang berbentuk bulat (kokus). Sel-sel ini berwarna merah dan
membentuk koloni. Warna merah pada sel ini disebabkan karena sel tidak mampu
mempertahankan warna ungu dari Kristal violet selama dekolorisasi oleh alkohol, tapi
sel dapat mempertahan warna merah dari safranin, sehingga bakteri B2 ini merupakan
bakteri gram negatif. Berdasarkan ciri-ciri yang telah teramati yaitu sel berbentuk
bulat (kokus) dan merupakan kelompok bakteri gram negative maka bakteri B2 ini
merupakan Staphylococus.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada preparat bakteri A1
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x, pada preparat tersebut terlihat
adanya sel-sel yang berbentuk batang (basil). Sel-sel berbentuk batang ini membentuk
koloni. Sel-sel berwarna ungu, warna ungu ini disebabkan karena kemampuan sel
menahan (mengikat) warna ungu dari kristal violet selama proses dekolorisasi oleh
alkohol dan pada tahap akhir pengecatan tidak terwarnai safranin, sehingga bakteri
A1 ini merupakan bakteri gram positif. Berdasarkan ciri-cirinya yaitu berbentuk

11
batang (basil) dan merupakan kelompok bakteri gram negative maka bakteri A1 ini
merupakan Escherichia coli.

12
IX. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Untuk dapat mengetahui morfologi sel bakteri salah satu caranya yaitu dengan
cara pewarnaan gram.
2. Pewarnaan gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan spesies bakteri
menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif dan gram negatif, berdasarkan
sifat kimia dan fisik dinding sel bakteri.
3. Dengan pewarnaan gram dapat diketahui apakah bakteri bersifat gram positif atau
gram negatif, juga dapat diketahui bentuk dari sel bakteri.
4. Pada pewarnaan gram ini diperlukan empat reagen yaitu Kristal violet, larutan
lugol, alkohol dan safranin.
5. Pada bakteri B2, setelah pewarnaan gram sel-selnya berwarna merah, bentuk
selnya bulat atau kokus. Warna merah pada sel ini disebabkan karena sel tidak
mampu mempertahankan warna ungu dari Kristal violet selama dekolorisasi oleh
alkohol, tapi sel dapat mempertahan warna merah dari safranin, sehingga bakteri
B2 ini merupakan bakteri gram negatif. Bakteri B2 ini merupakan Staphylococus.
6. Pada bakteri A1, setelah pewarnaan gram sel-selnya berwarna ungu, bentuk
selnya batang atau basil. Warna ungu ini disebabkan karena kemampuan sel
menahan (mengikat) warna ungu dari kristal violet selama proses dekolorisasi
oleh alkohol dan pada tahap akhir pengecatan tidak terwarnai safranin, sehingga
bakteri A1 ini merupakan bakteri gram positif. Bakteri A1 ini merupakan
Escherichia coli.

13
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1889. Dasar-Dasat Mikrobiologi. Malang : Djambatan.


Ijong, Frans Gruber. 2015. Mikrobiologi Perikanan dan Kelautan. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Lestari, Rina. 2013. Mikrobiologi Pewarnaan. http://rinayarina.pun.bz/files/mikrobiologi-


pewarnaan.pdf. Diakses taanggal 1 November 2016.

Muslimin. 2014. Pewarnaan Gram dan Penguji. http://musliminfarm.mywapblog. com/files


/pewarnaan-gram-dan-penguj.pdf. Diakses tanggal 1 November 2016.

Neneng, Liswara. 2016. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. Palangka Raya : Universitas


Palangka Raya.

14