Anda di halaman 1dari 85

BAGIAN B

PENDEKATAN DAN
METODOLOGI

B.1 TANGGAPAN TERHADAP KAK

B.1.1 Latar Belakang

Ruang terbuka hijau (green open space) merupakan salah satu elemen penting
pembentuk kota, tidak hanya sebatas pembentuk citra dan estetika kota tetapi memiliki
peran yang lebih penting yaitu sebagai ruang yang menjaga kelestarian lingkungan alami dan
ketersediaan lahan kawasan resapan air perkotaan. Sebagaimana dijelaskan dalam Permen
PU No. 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka
Hijau di Kawasan Perkotaan, bahwa RTH memiliki fungsi utama (intrinsik) sebagai
fungsi ekologis yang menekankan pada usaha pelestarian lingkungan kawasan perkotaan.
Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) memberikan keserasian lingkungan perkotaan
sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan
bersih. Melihat pentingnya ruang terbuka hijau dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan
lingkungan khususnya di kawasan perkotaan, maka penyediaan ruang terbuka hijau
diwajibkan bagi setiap wilayah perkotaan di Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Ketentuan tersebut
mewajibkan setiap wilayah kota menyediakan ruang terbuka hijau sebesar 30% dari luas
wilayah kota dengan proporsi 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Penyediaan RTH publik
merupakan tanggung jawab pemerintah daerah sebagai salah satu bentuk pelayanan atau
penyediaan fasilitas publik bagi masyarakat.
Kewajiban penyediaan RTH kota terutama RTH publik merupakan suatu tanggung
jawab yang tidak mudah bagi pemerintah daerah, selalu dijumpai tantangan dan hambatan
dalam pelaksanaannya. Menurut Ernawi (2012) dalam buletin tata ruang Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional (BKPRN), dijelaskan bahwa ada 4 (empat) aspek yang menjadi
tantangan dan hambatan dalam pelaksanaan Kota Hijau atau lebih spesifik dalam
penyediaan RTH publik, yaitu: 1) aspek pengaturan, kebijakan masih umum, sehingga perlu
ditindaklanjuti dengan aturan yang lebih lengkap, detail dan operasioal untuk
mempermudah implementasi; 2) aspek pembinaan, kelembagaan belum optimal sehingga
masih membutuhkan pembinaan; 3) aspek pelaksanaan, Rencana Tata Ruang belum
sepenuhnya digunakan sebagai acuan pembangunan serta rendahnya keterlibatan
stakeholders dalam penyelenggaraan RTH; 4) aspek pengawasan, kurang optimalnya
pengawasan dari pemerintah.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka untuk menyediakan dasar acuan dalam
penetapan kebijakan dalam penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut,
maka perlu adanya identifikasi dan pemetaan RTH kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah
Laut.

Tanggapan Terhadap Latar Belakang


Kawasan perkotaan cenderung mengalami permasalahan yang tipikal, yaitu
tingginya tingkat pertumbuhan penduduk terutama akibat arus urbanisasi
sehingga menyebabkan pengelolaan ruang kota makin berat. Jumlah penduduk
perkotaan yang tinggi dan terus meningkat dari waktu ke waktu tersebut akan
memberikan implikasi pada tingginya tekanan terhadap pemanfaatan ruang kota,
sehingga penataan ruang kawasan perkotaan perlu mendapat perhatian yang
khusus, terutama yang terkait dengan penyediaan kawasan hunian, fasilitas umum
dan sosial serta ruang-ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan.
Dengan alasan itu pula, maka pihak pemerintah menganggap perlu dilakukan
upaya untuk mengendalikan pertumbuhan kawasan perkotaan agar keberadaan
ruang terbuka hijau perkotaan ini dapat dipertahankan dan dikembangkan.
Dalam rangka merencanakan RTH terdapat beberapa hal mendasar yang perlu
dipahami dan menjadi input dalam pelaksanaaan kegiatan ini nantinya yaitu:

Pengertian Umum Ruang Terbuka Hijau

Sebagai salah satu unsur kota yang penting khususnya dilihat dari
fungsi ekologis, maka betapa sempit atau kecilnya ukuran ruang terbuka hijau
Kota (Urban Green Open Space) yang ada, termasuk halaman rumah/bangunan
pribadi, seyogyanya dapat dimanfaatkan sebagai ruang hijau yang ditanami
tetumbuhan. Dari berbagai referensi dan pengertian tentang eksistensi nyata sehari-
hari, maka ruang terbuka hijau dapat dijabarkan dalam pengertian, sebagai
berikut ini :
adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai
strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi
berkayu);
Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran,
bentuk dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang
di dalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial
woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan
tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah
lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga
sebagai pelengkap dan penunjang fungsi ruang terbuka hijau yang
bersangkutan (Purnomohadi, 1995).

Sedang Ruang Terbuka (RT), tak harus ditanami tetumbuhan, atau


hanya sedikit terdapat tetumbuhan, namun mampu berfungsi sebagai unsur
ventilasi kota, seperti plaza dan alun-alun. Tanpa Ruang Terbuka, apalagi ruang
terbuka hijau, maka lingkungan kota akan menjadi Hutan Beton yang gersang,
kota menjadi sebuah pulau panas (heat island) yang tidak sehat, tidak nyaman,
tidak manusiawi, sebab tak layak huni.
Secara hukum (hak atas tanah), ruang terbuka hijau bisa berstatus sebagai
hak milik pribadi (halaman rumah), atau badan usaha (lingkungan skala
permukiman/neighborhood), seperti: sekolah, rumah sakit, perkantoran, bangunan
peribadatan, tempat rekreasi, lahan pertanian kota, dan sebagainya), maupun
milik umum, seperti : Taman-taman Kota, Kebun Raya, Kebun Botani, Kebun
Binatang, Taman Hutan Kota/Urban Forest Park, Lapangan Olahraga (umum),
Jalur-jalur Hijau (green belts dan/atau koridor hijau): lalu-lintas, kereta api, tepian
laut/pesisir pantai/sungai, jaringan tenaga listrik: saluran utama tegangan ekstra
tinggi/SUTET, Tempat Pemakaman Umum (TPU), dan daerah cadangan
perkembangan kota (bila ada).
Lebih jelasnya, bila berdasar pada status penguasaan lahan, ruang terbuka hijau
kota dapat terletak di:
Lahan Kawasan Kehutanan, yurisdiksinya diatur oleh Undang-undang
Nomor: 5/1967, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan dan Peraturan
Pemerintah Nomor : 63/2002, tentang Pengelolaan Hutan Kota. Berdasarkan
fungsi hutannya, Ruang Terbuka Hijau Kawasan Hutan Kota dapat berupa
Hutan Lindung, Hutan Wisata, Cagar Alam, dan Kebun Bibit Kehutanan.
Lahan Non-Kawasan Hutan, yurisdiksinya diatur oleh Undang-undang
Nomor: 5/1960, tentang Peraturan-peraturan Pokok Agraria. Menurut
kewenangan pengelolaannya berada di bawah unit-unit tertentu, seperti: Dinas
Pertamanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas
Pemakaman, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dan lain-lain atau bentuk
kewenangan lahan lain yang dimiliki atau dikelola penduduk.

Menurut Gunadi (1995) dalam perencanaan ruang kota (townscapes)


dikenal istilah Ruang Terbuka (open space), yakni daerah atau tempat
terbuka di lingkungan perkotaan. Ruang terbuka berbeda dengan istilah
ruang luar (exterior space), yang ada di sekitar bangunan dan merupakan
kebalikan ruang dalam (interior space) di dalam bangunan. Definisi ruang luar,
adalah ruang terbuka yang sengaja dirancang secara khusus untuk kegiatan
tertentu, dan digunakan secara intensif, seperti halaman sekolah, lapangan
olahraga, termasuk plaza (plazza) atau square.
Sedang: zona hijau bisa berbentuk jalur (path), seperti jalur hijau
jalan, tepian air waduk atau danau dan bantaran sungai, bantaran rel kereta
api, saluran/ jejaring listrik tegangan tinggi, dan simpul kota (nodes), berupa
ruang taman rumah, taman lingkungan, taman kota, taman pemakaman,
taman pertanian kota, dan seterusnya.
Antara beberapa bangunan di lingkungan perkotaan, semula dimaksudkan
pula sebagai halaman atau ruang luar, yang kemudian berkembang menjadi istilah
Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota, karena umumnya berupa ruang terbuka yang
sengaja ditanami pepohonan maupun tanaman, sebagai penutup permukaan
tanah. Tanaman produktif berupa pohon bebuahan dan tanaman sayuran pun kini
hadir sebagai bagian dari ruang terbuka hijau berupa lahan pertanian kota atau
lahan perhutanan kota yang amat penting bagi pemeliharaan fungsi
keseimbangan ekologis kota.
Berdasar batasan umum, maupun kewenangan pengelolaan, meskipun
sudah ada beberapa peraturan daerah khusus ruang terbuka hijau kota dan
peraturan lain terkait, namun tetap masih diperlukan pengaturan lebih lanjut,
yang dikaitkan dengan terbitnya beberapa undang-undang lain, seperti :
Undang-undang Nomor : 4/1982 yang telah disempurnakan menjadi Undang-
undang Nomor : 23/1997 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Undang-undang Nomor : 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya, Undang-undang Nomor : 4/1992 tentang Perumahan dan
Permukiman, Undang- undang Nomor : 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya,
Undang-undang Nomor : 26/2007 tentang Penataan Ruang, Undang-undang
Nomor : 18/1999 tentang Jasa Konstruksi, dan Undang-undang Nomor : 22/1999
tentang Pemerintahan Daerah.
Keterbatasan lahan hijau dan masih kuatnya egoisme sektoral menuntut
perlunya peraturan daerah tersendiri yang mengatur kebijakan, seperti perlunya
penggantian tembok pembatas antar gedung bertingkat yang masif dengan
pepohonan dan taman berfungsi peneduh khususnya pada iklim tropis seperti
kota-kota di Indonesia, hingga dapat menyatu dengan trotoar yang berada di
tepian badan jalan. Untuk menjaga ketertiban, maka peraturan tersebut antara
lain juga akan menyangkut pembayaran biaya parkir di halaman gedung.
Berdasarkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil
(1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johannesburg, Afrika Selatan 10 tahun
kemudian (2002, Rio + 10), disepakati bersama bahwa sebuah kota idealnya
memiliki luas ruang terbuka hijau minimal 30 (tiga puluh) persen dari total luas
kota. Tentu saja angka ini bukan merupakan patokan mati. Penetapan luas
ruang terbuka hijau kota harus berdasar pula pada studi eksistensi sumber
daya alam dan manusia penghuninya.
Penetapan besaran luas ruang terbuka hijau ini bisa juga disebut sebagai
bagian dari pengembangan ruang terbuka hijau kota. Disayangkan, bahwa dalam
hal pengelolaan ruang terbuka hijau Kota agar tetap bisa eksis, bahkan kualitas
maupun kuantitas ruang terbuka hijau nya bisa terus meningkat.
Pada kenyataannya, formula rumusan penentuan luas ruang terbuka hijau
kota yang memenuhi syarat lingkungan kota yang berkelanjutan ini, masih
bersifat kuantitatif dan tergantung dari banyak faktor penentu, antara lain:
geografis, iklim, jumlah dan kepadatan penduduk, luas kota, kebutuhan akan
oksigen, rekreasi, dan banyak faktor lain.
Dapat disimpulkan, bahwa sehubungan dengan tuntutan waktu dan
meningkatnya jumlah penduduk dengan segala aktivitas dan keperluan, seperti
cukup tersedianya ruang rekreasi gratis, maka sebuah kota dimanapun dan
bagaimanapun ukuran dan kondisinya, pasti semakin memerlukan ruang terbuka
hijau yang memenuhi persyaratan, terutama kualitas keseimbangan pendukung
keberlangsungan fungsi kehidupan, adanya pengelolaan dan pengaturan sebaik
mungkin, serta konsistensi penegakan hukumnya.

Dasar Pemikiran

1. Kota mempunyai luas yang tertentu dan terbatas


Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat
akseleratif untuk untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan,
termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi, selain sering
mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita
lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Kedua hal
ini umumnya merugikan keberadaan ruang terbuka hijau yang sering
dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Di lain pihak, kemajuan
alat dan pertambahan jalur transportasi dan sistem utilitas, sebagai bagian dari
peningkatan kesejahteraan warga kota, juga telah menambah jumlah bahan
pencemar dan telah menimbulkan berbagai ketidak nyamanan di lingkungan
perkota-an. Untuk mengatasi kondisi lingkungan kota seperti ini sangat
diperlukan ruang terbuka hijau sebagai suatu teknik bioengineering dan
bentukan biofilter yang relatif lebih murah, aman, sehat, dan menyamankan.
2. Tata ruang kota penting dalam usaha untuk efisiensi sumberdaya
kota dan juga efektifitas penggunaannya, baik sumberdaya alam
maupun sumber-daya lainnya.
Ruang-ruang kota yang ditata terkait dan saling berkesinambungan ini
mem-punyai berbagai pendekatan dalam perencanaan dan
pembangunannya. Tata guna lahan, sistem transportasi, dan sistem jaringan
utilitas merupakan tiga faktor utama dalam menata ruang kota. Dalam
perkembangan selanjutnya, konsep ruang kota selain dikaitkan dengan
permasalahan utama perkotaan yang akan dicari solusinya juga
dikaitkan dengan pencapaian tujuan akhir dari suatu penataan ruang yaitu
untuk kesejahteraan, kenyamanan, serta kesehatan warga dan kotanya.
3. Ruang Terbuka Hijau Perkotaan mempunyai manfaat kehidupan
yang tinggi
Berbagai fungsi yang terkait dengan keberadaannya (fungsi ekologis, sosial,
ekonomi, dan arsitektural) dan nilai estetika yang dimilikinya (obyek dan
lingkungan) tidak hanya dapat dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan
untuk kelangsungan kehidupan perkotaan tetapi juga dapat menjadi nilai
kebanggaan dan identitas kota. Untuk mendapatkan ruang terbuka hijau yang
fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan maka luas minimal, pola
dan struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi pertimbangan dalam
membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi dan ke-
inginan warga kota, serta arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan
kota merupakan determinan utama dalam menentukan besaran ruang
terbuka hijau fungsional ini.
4. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan penting dalam
mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan.
Pengendalian pembangunan wilayah perkotaan harus dilakukan secara
proporsional dan berada dalam keseimbangan antara pembangunan dan
fungsi - fungsi lingkungan.
5. Kelestarian Ruang Terbuka Hijau suatu wilayah perkotaan harus
disertai dengan ketersediaan dan seleksi tanaman yang sesuai
dengan arah rencana dan rancangannya.

Masalah Urbanisasi dan Keberadaan RTH dalam Penataan Ruang


Perkotaan

Dewasa ini pengelolaan ruang di kawasan perkotaan cenderung


mengalami tantangan yang cukup berat akibat tingginya arus urbanisasi.
Sementara di sisi lain, daya dukung lingkungan dan sosial yang ada juga menurun,
sehingga tidak dapat mengimbangi kebutuhan akibat tekanan kependudukan.
Tantangan lainnya berkaitan dengan tingginya tingkat konversi atau alih
guna lahan dari lahan (terutama lahan-lahan pertanian menjadi daerah
terbangun) yang menimbulkan dampak terhadap rendahnya kualitas lingkungan
perkotaan. Data yang ada menunjukkan tingkat konversi lahan pertanian di
Indonesia rata-rata mencapai 150 ribu hektar setiap tahunnya (BPS, 2003).
Hal-hal tersebut diperburuk oleh lemahnya penegakan hukum dan
penyadaran masyarakat terhadap aspek penataan ruang kota sehingga
menyebabkan munculnya permukiman kumuh di beberapa ruang kota dan
menimbulkan masalah kemacetan akibat tingginya hambatan samping di ruas-
ruas jalan tertentu.
Data tentang kependudukan yang ada menunjukkan bahwa jumlah
penduduk perkotaan di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat.
Pada 1980 jumlah penduduk perkotaan baru mencapai 32,8 juta jiwa atau 22,3
persen dari total penduduk nasional. Pada tahun 1990 angka tersebut meningkat
menjadi 55,4 juta jiwa atau 30,9 persen, dan menjadi 90 juta jiwa atau 44 persen
pada tahun 2002. Terakhir berdasarkan perhitungan BPS dan Bappenas
persentasi penduduk perkotaan pada 2005 telah mencapai 48,3 persen.
Angka tersebut diperkirakan akan mencapai 150 juta atau 60 persen dari
penduduk Indonesia pada tahun 2015 (lihat Gambar 2.1).
Gambar B.1 Perkembangan Penduduk Indonesia

Jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat dari waktu ke waktu


tersebut akan memberikan implikasi pada tingginya tekanan terhadap
pemanfaatan ruang kota, sehingga penataan ruang kawasan perkotaan perlu
mendapat perhatian yang khusus, terutama yang terkait dengan penyediaan
kawasan hunian, fasilitas umum dan sosial serta ruang-ruang terbuka publik
(open spaces) di perkotaan.
Menurunnya kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik yang ada di
perkotaan, baik berupa ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka non-hijau
telah mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan seperti
seringnya terjadi banjir di perkotaan, tingginya polusi udara, dan meningkatnya
kerawanan sosial (kriminalitas dan krisis sosial), menurunnya produktivitas
masyarakat akibat stress karena terbatasnya ruang public yang tersedia untuk
interaksi sosial.
Kecenderungan terjadinya penurunan kualitas ruang terbuka public,
terutama ruang terbuka hijau (RTH) pada 30 tahun terakhir sangat signifikan.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung, luasan ruang
terbuka hijau telah berkurang dari 35% pada awal tahun 1970an menjadi kurang
dari 10% pada saat ini. ruang terbuka hijau yang ada sebagian bersar telah
dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan seperti jaringan jalan, gedung- gedung
perkantoran, pusat perbelanjaan, dan kawasan permukiman baru.
Dalam upaya mewujudkan ruang yang nyaman, produktif dan
berkelanjutan, maka sudah saatnya kita memberikan perhatian yang cukup
terhadap keberadaan ruang terbuka publik, khususnya ruang terbuka hijau.
Konsep Ruang Terbuka Hijau (RTH) Perkotaan

Secara umum ruang terbuka publik (open spaces) di perkotaan terdiri dari
ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
perkotaan adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah
perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman dan vegetasi (endemik maupun
introduksi) guna mendukung manfaat ekologis, sosial- budaya dan arsitektural
yang dapat memberikan manfaat ekonomi (kesejahteraan) bagi masyarakatnya
(Lokakarya RTH, 30 November 2005).
Sementara itu ruang terbuka non-hijau dapat berupa ruang terbuka yang
diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang berupa permukaan
sungai, danau, maupun areal-areal yang diperuntukkan khusus sebagai area
genangan (retensi/retention basin).

Gambar B.2 Ruang Terbuka Publik (Open Space)

Secara fisik ruang terbuka hijau dapat dibedakan menjadi ruang


terbuka hijau alami yang berupa habitat liar alami, kawasan lindung dan taman-
taman nasional, maupun ruang terbuka hijau non-alami atau binaan yang seperti
taman, lapangan olah raga, dan kebun bunga. Multi fungsi penting ruang terbuka
hijau ini sangat lebar spektrumnya, yaitu dari aspek fungsi ekologis, sosial/budaya,
arsitektural, dan ekonomi.
Secara ekologis ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kualitas air
tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara, dan menurunkan suhu kota
tropis yang panas terik. Bentuk- bentuk ruang terbuka hijau perkotaan yang
berfungsi ekologis antara lain seperti sabuk hijau kota, taman hutan kota, taman
botani, jalur sempadan sungai dan lain-lain. Secara sosial- budaya keberadaan
ruang terbuka hijau dapat memberikan fungsi sebagai ruang interaksi sosial,
sarana rekreasi, dan sebagai landmark kota yang berbudaya.
Bentuk ruang terbuka hijau yang berfungsi sosial-budaya antara lain
taman-taman kota, lapangan olah raga, kebun raya, TPU, dan sebagainya.
Secara arsitektural ruang terbuka hijau dapat meningkatkan nilai
keindahan dan kenyamanan kota melalui keberadaan taman-taman kota, kebun-
kebun bunga, dan jalur-jalur hijau di jalan-jalan kota.

Gambar B.3 Tipologi Ruang Terbuka Hijau

Sementara itu ruang terbuka hijau juga dapat memiliki fungsi ekonomi,
baik secara langsung seperti pengusahaan lahan-lahan kosong menjadi lahan
pertanian/ perkebunan (urban agriculture) dan pengembangan sarana
wisata hijau perkotaan yang dapat mendatangkan wisatawan.
Sementara itu secara struktur, bentuk dan susunan ruang terbuka
hijau dapat merupakan konfigurasi ekologis dan konfigurasi planologis. ruang
terbuka hijau dengan konfigurasi ekologis merupakan ruang terbuka hijau yang
berbasis bentang alam seperti, kawasan lindung, perbukitan, sempadan sungai,
sempadan danau, pesisir dan sebagainya.
Ruang terbuka hijau dengan konfigurasi planologis dapat berupa
ruang-ruang yang dibentuk mengikuti pola struktur kota seperti ruang terbuka
hijau perumahan, ruang terbuka hijau kelurahan, ruang terbuka hijau
kecamatan, ruang terbuka hijau kota maupun taman-taman regional/ nasional.
Sedangkan dari segi kepemilikan ruang terbuka hijau dapat berupa ruang
terbuka hijau publik yang dimiliki oleh umum dan terbuka bagi masyarakat
luas, atau ruang terbuka hijau privat (pribadi) yang berupa taman-taman yang
berada pada lahan-lahan pribadi.

Gambar B.4 Tanaman Endemik Sebagai Landmark

Gambar B.5 Struktur RTH Perkotaan


Peran Penataan Ruang Perkotaan

Perencanaan tata ruang wilayah perkotaan berperan sangat penting dalam


pembentukan ruang-ruang publik terutama ruang terbuka hijau di perkotaan.
Perencanaan tata ruang perkotaan perkotaan seyogyanya dimulai dengan
mengidentifikasi kawasan-kawasan yang secara alami harus diselamatkan
(kawasan lindung) untuk menjamin kelestarian lingkungan, dan kawasan-kawasan
yang secara alami rentan terhadap bencana (prone to natural hazards) seperti
gempa, longsor, banjir maupun bencana alam lainnya. Kawasan-kawasan inilah
yang harus kita kembangkan sebagai ruang terbuka, baik hijau maupun non-
hijau. Dengan demikian perencanaan tata ruang harus dimulai dengan pertanyaan
dimana kita tidak boleh membangun?

Gambar B.6 Sistem Perencanaan Tata Ruang

Rencana tata ruang perkotaan secara ekologis dan planologis terlebih


dahulu mempertimbangkan komponen-komponen ruang terbuka hijau maupun
ruang terbuka publik lainnya dalam pola pemanfaatan ruang kota. Secara hirarkis,
struktur pelayanan tipikal kota sebagaimana tercantum dalam Gambar 2.7 dapat
menggambarkan bentuk akomodasi ruang terbuka publik dalam perencanaan
tata ruang di perkotaan.
Gambar B.7 Interaksi Tata Ruang Dan Transportasi

Peran dan Fungsi Ruang Terbuka Hijau

Dalam masalah perkotaan, ruang terbuka hijau merupakan bagian atau


salah satu sub- sistem dari sistem kota secara keseluruhan. ruang terbuka hijau
sengaja dibangun secara merata di seluruh wilayah kota untuk memenuhi
berbagai fungsi dasar yang secara umum dibedakan menjadi:
Fungsi bio-ekologis (fisik), yang memberi jaminan pengadaan ruang
terbuka hijau menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota),
pengatur iklim mikro, agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami
dapat berlangsung lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen, penyerap air
hujan, penyedia habitat satwa, penyerap (pengolah) polutan media udara,
air dan tanah, serta penahan angin;
Fungsi sosial, ekonomi (produktif) dan budaya yang mampu
menggambarkan ekspresi budaya lokal, ruang terbuka hijau
merupakan media komunikasi warga kota, tempat rekreasi, tempat
pendidikan, dan penelitian;
Ekosistem perkotaan; produsen oksigen, tanaman berbunga, berbuah dan
berdaun indah, serta bisa mejadi bagian dari usaha pertanian, kehutanan,
dan lain-lain;
Fungsi estetis, meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota
baik (dari skala mikro: halaman rumah, lingkungan permukiman,
maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan). Mampu menstimulasi
kreativitas dan produktivitas warga kota. Juga bias berekreasi secara
aktif maupun pasif, seperti: bermain, berolahraga, atau kegiatan
sosialisasi lain, yang sekaligus menghasilkan keseimbangan kehidupan fisik
dan psikis. Dapat tercipta suasana serasi, dan seimbang antara berbagai
bangunan gedung, infrastruktur jalan dengan pepohonan hutan kota, taman
kota, taman kota pertanian dan perhutanan, taman gedung, jalur hijau
jalan, bantaran rel kereta api, serta jalur biru bantaran kali.
Gambar B.8 RTH Publik Dalam Tata Ruang Kota

Issue dan Tantangan

Issue yang berkaitan dengan ruang terbuka publik antara lain


ruang terbuka hijau secara umum, terkait dengan beberapa tantangan tipikal
perkotaan, seperti menurunnya kualitas lingkungan hidup perkotaan,
bencana banjir/ longsor dan perubahan perilaku sosial masyarakat yang
cenderung kontra-produktif dan destruktif seperti kriminalitas dan
vandalisme.
Dari aspek kondisi lingkungan hidup (LH), rendahnya kualitas air
tanah, tingginya polusi udara dan kebisingan di perkotaan, merupakan hal-hal
yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan keberadaan
ruang terbuka hijau secara ekologis. Tingginya frekuensi bencana banjir dan
tanah longsor di perkotaan dewasa ini juga diakibatkan karena terganggunya
sistem tata air karena terbatasnya daerah resapan air dan tingginya volume air
permukaan (run-off). Kondisi tersebut secara ekonomis juga dapat menurunkan
tingkat produktivitas, dan menurunkan tingkat kesehatan dan tingkat harapan
hidup masyarakat. Di sisi lain, exposure terhadap polusi udara yang berlebihan
dan terus-menerus dapat menyebabkan kelainan genetik dan menurunkan
tingkat kecerdasan anak-anak di masa mendatang.

Secara sosial, tingginya tingkat kriminalitas dan konflik horizontal di


antara kelompok masyarakat perkotaan secara tidak langsung juga dapat
disebabkan oleh kurangnya ruang- ruang kota yang dapat menyalurkan
kebutuhan interaksi sosial untuk pelepas ketegangan (stress) yang relatif
banyak dialami oleh masyarakat perkotaan. Rendahnya kualitas lingkungan
perumahan dan penyediaan ruang terbuka publik, secara psikologis telah
menyebabkan kondisi mental dan kualitas sosial masyarakat yang semakin
memburuk dan menekan.
Secara teknis, issue yang berkaitan dengan ketiadaan ruang terbuka
hijau di perkotaan antara lain menyangkut terjadinya sub-optimalisasi
penyediaan ruang terbuka hijau baik secara kuantitatif maupun kualitatif,
lemahnya kelembagaan dan Sumber Daya Manusia, kurangnya
keterlibatan stakeholder dalam pengelolaan ruang terbuka hijau, serta selalu
terbatasnya ruang/lahan di perkotaan yang dapat digunakan sebagai ruang
terbuka hijau.
Pada kenyataannya, sub-optimalisasi ketersediaan ruang terbuka
hijau terkait dengan kenyataan kurang memadainya proporsi wilayah yang
dialokasikan untuk ruang terbuka, maupun rendahnya rasio jumlah ruang
terbuka per kapita yang tersedia. Mengakibatkan semakin rendahnya tingkat
kenyamanan kota, menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat dan secara
tidak langsung menyebabkan hilangnya nilai-nilai budaya lokal (artefak alami
dan nilai sejarah) akibat tergusur oleh kepentingan ekonomi yang pragmatis.
Secara kelembagaan, masalah ruang terbuka hijau terkait juga oleh
belum adanya peraturan perundang-undangan (PUU) yang memadai tentang
ruang terbuka hijau, serta pedoman teknis pelaksanaan dalam pengelolaan
ruang terbuka hijau sehingga keberadaan ruang terbuka hijau masih bersifat
marjinal. Di samping itu, kualitas Sumber Daya Manusia yang tersedia juga
harus ditingkatkan untuk dapat secara optimal dan lebih profesional mampu
memelihara dan mengelola ruang terbuka hijau.
Di sisi lain, keterlibatan swasta dan masyarakat umumnya masih
sangat rendah. Potensi pihak swasta dalam penyelenggaraan ruang terbuka
hijau masih belum banyak dimanfaatkan, sehingga pemerintah sering dan
bahkan selalu terbentur pada masalah keterbatasan biaya dan anggaran.
Walaupun secara teoritis dikatakan, bahwa ruang perkotaan yang
tersedia makin terbatas, namun dalam kenyataannya banyak lahan-lahan tidur
di perkotaan yang cenderung ditelantarkan dan kurang dimanfaatkan.
Sementara ruang-ruang terbuka yang memang secara legal diperuntukkan
sebagai ruang terbuka hijau, kondisinya kurang terawat dan tidak dikelola
secara optimal.

Untuk meningkatkan keberadaan ruang publik, khususnya ruang


terbuka hijau di perkotaan, perlu dilakukan beberapa hal terutama yang terkait
dengan penyediaan perangkat hukum, NSPM, pembinaan masyarakat dan
keterlibatan para pemangku kepentingan dalam pengembangan ruang kota.
Beberapa upaya yang akan dilakukan oleh Pemerintah ke depan antara
lain adalah:
Menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan (NSPM) untuk
peyelenggaraan dan pengelolaan ruang terbuka hijau;
Menetapkan kebutuhan luas minimum ruang terbuka hijau sesuai dengan
karakteristik kota, dan indikator keberhasilan pengembangan ruang terbuka
hijau suatu kota;
Meningkatkan kampanye dan sosialisasi tentangnya pentingnya ruang
terbuka hijau melalui gerakan kota hijau (green cities);
Mengembangkan mekanisme insentif dan disinsentif yang dapat lebih
meningkatkan peran swasta dan masyarakat melalui bentuk-bentuk
kerjasama yang saling menguntungkan;
Mengembangkan proyek-proyek percontohan ruang terbuka hijau untuk
berbagai jenis dan bentuk yang ada di beberapa wilayah kota.

Ruang terbuka hijau merupakan kebutuhan pokok kota, demi manfaat


masa kini dan harapan untuk masa depan lingkungan kota yang
manusiawi untuk kesehatan dan kesejahteraan penghuninya.
Perencanaan pertamanan perkotaan (urban landscape planning) adalah
bagian perencanaan lahan yang dinamis dalam tata ruang kota. Merencana
kota pada hakekatnya ialah mengatur tempat untuk semuanya dan semua
pada tempatnya.
Guna menampung keinginan-keinginan semacam itu, secara garis besar
telah tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR). Sektor ruang terbuka hijau meliputi kawasan industri,
perumahan, perdagangan dan jasa, infrastruktur jalan, sistem drainase, dan
prasarana lain seperti penanggulangan banjir.
Selanjutnya, peran, fungsi dan manfaat ruang terbuka hijau tersebut di
atas diuraikan secara rinci, sebagai berikut:
Terjaminnya ketersediaan oksigen dalam jumlah yang cukup dan menerus;
Terciptanya iklim yang sehat, udara bersih bebas polusi;
Terciptanya suasana teduh, nyaman, bersih dan indah;
Terkendalinya sistem tata-air (hidrologi) optimal dan memungkinkan
adanya hasil sampingan berasal dari tanaman produktif yang sengaja
ditanam di lokasi yang aman dari polusi pada media tanah, air dan udara;
Tersedianya sarana rekreasi dan wisata kota, yang sekaligus berfungsi
sebagai habitat satwa;
Sebagai lokasi cadangan untuk keperluan sanitasi kota dan pemekaran kota;
Sebagai sarana penunjang pendidikan dan penelitian, serta jalur
pengaman dalam penataan ruang kota.

Manfaat Ruang Terbuka Hijau

Manfaat ruang terbuka hijau kota secara langsung dan tidak langsung,
sebagian besar dihasilkan dari adanya fungsi ekologis, atau kondisi alami ini
dapat dipertimbangkan sebagai pembentuk berbagai faktor. Berlangsungnya
fungsi ekologis alami dalam lingkungan perkotaan secara seimbang dan lestari
akan membentuk kota yang sehat dan manusiawi.
Manfaat tanaman sebagai komponen kehidupan (biotik) dan produsen
primer dalam rantai makanan, bagi lingkungan dan sebagai sumber
pendapatan masyarakat, semua orang sudah mengetahuinya. Proses fotosintesis
telah diajarkan sejak sekolah dasar, di mana zat hijau (khlorofil) yang banyak
terdapat dalam daun dengan bantuan energi matahari dan air, menghasilkan
makanan, berupa karbohidrat, protein, lemak juga vitamin dan mineral, sangat
berguna bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain.
Tanaman adalah pabrik tanpa butuh bahan bakar fosil, bahkan
dia adalah sumber karbon itu, sama juga tidak membutuhkan energi listrik
atau api untuk memasak makanannya agar bisa terus tumbuh. Pabrik ini
tidak mencemari media lingkungan, bahkan membantu membersihkan
media udara yang kotor serta menyegarkan udara. Akar pohon berfungsi
untuk menarik bahan baku dari dalam media tanah, antara lain berbagai
macam mineral yang larut dalam air. Zat-zat tersebut dimasak dalam
pabrik daun menghasilkan karbohidrat (tepung, gula, selulosa/serat), oksigen,
yang seringkali disimpan dalam gudang berbentuk buah dan biji untuk sebagai
agen pertumbuhan selanjutnya.

Manfaat Bagi Kesehatan

Tanaman sebagai penghasil oksigen (O2) terbesar dan penyerap karbon


dioksida (CO2) dan zat pencemar udara lain, khusus di siang hari, merupakan
pembersih udara yang sangat efektif melalui mekanisme penyerapan
(absorbsi) dan penjerapan (adsorbsi) dalam proses fisiologis, yang terjadi
terutama pada daun, dan permukaan tumbuhan (batang, bunga, dan buah).
Pembuktian, bahwa tumbuhan dapat efektif membentuk udara
bersih, dapat dicermati dari hasil studi penelitian Bernatzky (1978: 21-24), yang
menunjukkan bahwa setiap 1 hektar ruang terbuka hijau, yang ditanami
pepohonan, perdu, semak dan penutup tanah, dengan jumlah permukaan
daun seluas 5 hektar, maka sekitar 900 Kg CO2 akan dihisap dari udara, dan
melepaskan sekitar 600 g O2 dalam waktu 12 jam.
Hasil penelitian Hennebo (1955) menyimpulkan, bahwa terjadi
pengendapan debu (aerosol) pada lahan terbuka dan khususnya pada hutan
kota. Pengendapan debu dipengaruhi jarak ruang terbuka hijau terhadap
sumber debu, jenis dan konsentrasi debu, kondisi iklim, topografi, jenis, dan
kelompok tanaman, serta struktur arsitektural ruang terbuka hijau.

Ameliorasi Iklim

Dengan adanya ruang terbuka hijau sebagai paru-paru kota, maka


dengan sendirinya akan terbentuk iklim yang sejuk dan nyaman. Kenyamanan
ini ditentukan oleh adanya saling keterkaitan antara faktor-faktor suhu udara,
kelembaban udara, cahaya, dan pergerakan angin. Hasil penelitian di Jakarta,
membuktikan bahwa suhu di sekitar kawasan ruang terbuka hijau (di bawah
pohon teduh), dibanding dengan suhu di luarnya, bisa mencapai perbedaan
angka sampai 2-4 derajat celcius (Purnomohadi, 1995).
Ruang terbuka hijau membantu sirkulasi udara. Pada siang hari dengan
adanya ruang terbuka hijau, maka secara alami udara panas akan terdorong ke
atas, dan sebaliknya pada malam hari, udara dingin akan turun di bawah tajuk
pepohonan. Pohon, adalah pelindung yang paling tepat dari terik sinar matahari,
di samping sebagai penahan angin kencang, peredam kebisingan dan bencana
alam lain, termasuk erosi tanah. Bila terjadi tiupan angin kencang di atas
kota tanpa tanaman, maka polusi udara akan menyebar lebih luas dan
kadarnya pun akan semakin meningkat.

Namun demikian, cara penanaman tetumbuhan yang terlalu rapat pun,


menyebabkan daya perlindungannya menjadi kurang efektif. Angin berputar di
belakang kelompok tanaman, sehingga dapat meningkatkan polusi di wilayah
ini. Penanaman sekelompok tumbuhan dengan berbagai karakteristik fisik, di
mana perletakkan dan ketinggiannya pun bervariasi, merupakan faktor
perlindungan yang lebih efektif. Carpenter (1975), mengatakan bahwa
ruang terbuka hijau Kota dengan ukuran ideal (0,4 Ha), mampu meredam 25-
80% kebisingan.
Ukuran seluas 2.500 m2 ini kemudian diambil sebagai patokan luas
minimal sebuah Hutan Kota. Besaran daya peredaman yang merupakan proses
fisika dan kimiawi yang dinamis tersebut, tentu saja sangat tergantung pula
kepada besaran daya serap dan daya akumulatif tetumbuhan yang diatur
memiliki beberapa strata ketinggian tersebut. Besaran daya peredaman,
tergantung dari beberapa faktor, sebagai berikut:
(1) Tipe tingkat intensitas kekuatan asal suara,
(2) Tipe tinggi, kerapatan dan jarak ruang terbuka hijau dari sumber suara,
(3) Kecepatan dan arah angin,
(4) Suhu dan kelembaban udara.

Ciri-ciri jenis tanaman yang dapat efektif meredam suara (kebisingan),


ialah yang mempunyai karakteristik fisik umum di antara ciri-ciri kombinasi
bertajuk rapat dan tebal, berdaun ringan serta mempunyai tangkai-tangkai
daun.
Ruang terbuka hijau sebagai pemelihara akan kelangsungan persediaan
air tanah. Akar-akar tanaman yang bersifat penghisap, dapat menyerap dan
mempertahankan air dalam tanah di sekitarnya, serta berfungsi sebagai filter
biologis limbah cair maupun sampah organik. Salah satu referensi
menyebutkan, bahwa untuk setiap 100.000 penduduk yang menghasilkan
sekitar 4,5 juta liter limbah per hari, diperlukan ruang terbuka hijau seluas 522
hektar. ruang terbuka hijau sebagai penjamin terjadinya keseimbangan alami,
secara ekologis dapat menampung kebutuhan hidup manusia itu sendiri,
termasuk sebagai habitat alami flora, fauna dan mikroba yang diperlukan
dalam siklus hidup manusia.
Ruang terbuka hijau sebagai pembentuk faktor keindahan arsitektural.
Tanaman mempunyai daya tarik bagi mahluk hidup, melalui bunga, buah
maupun bentuk fisik tegakan pepohonannya secara menyeluruh. Kelompok
tetumbuhan yang ada di antara struktur bangunan-kota, apabila diamati akan
membentuk perspektif dan efek visual yang indah dan teduh menyegarkan
(khususnya di kota beriklim tropis). ruang terbuka hijau sebagai wadah dan
obyek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam mempelajari alam.
Keanekaragaman hayati flora dan fauna dalam ruang terbuka hijau kota,
menyumbangkan apresiasi warga kota terhadap lingkungan alam, melalui
pendidikan lingkungan yang bisa dibaca dari tanda-tanda (signage, keterangan)
bertuliskan nama yang ditempelkan pada masing-masing tanaman yang dapat
dilihat sehari-hari, serta informasi lain terkait.
Dengan demikian, pengelolaan ruang terbuka hijau kota akan lebih
dimengerti kepentingannya (apresiatif) sehingga tertib. ruang terbuka hijau
sekaligus merupakan fasilitas rekreasi yang lokasinya merata di seluruh bagian
kota, dan amat penting bagi perkembangan kejiwaan penduduknya. ruang
terbuka hijau sebagai jalur pembatas yang memisahkan antara suatu lokasi
kegiatan, misal antara zona permukiman dengan lingkungan sekitar atau
di luarnya. ruang terbuka hijau sebagai cadangan lahan (ruang). Dalam
Rencana Tata Ruang Kota, pengembangan daerah yang belum terbangun bisa
dimanfaatkan untuk sementara sebagai ruang terbuka hijau (lahan cadangan)
dengan tetap dilandasi kesadaran, bahwa lahan cadangan ini suatu saat akan
dikembangkan sesuai kebutuhan yang juga terus berkembang.
Manfaat eksistensi ruang terbuka hijau secara langsung membentuk
keindahan dan kenyamanan, maka bila ditinjau dari segi-segi sosial-politik
dan ekonomi, dapat berfungsi penting bagi perkembangan pariwisata yang
pada saatnya juga akan kembali berpengaruh terhadap kesehatan
perkembangan sosial, politik dan ekonomi suatu hubungan antara wilayah
perdesaan-perkotaan tertentu.

Ruang Terbuka Hijau dan Pertamanan (Lansekap) Perkotaan

Pembangunan bidang pertamanan (landscape architecture) di kota


metropolitan, atau biasa disebut Metropolitan Park System sebaiknya
berorientasi pula kepada sumber yang telah ditetapkan pemerintah sebagai
dasar kebijakan pembangunan atau Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK).
Umumnya pembangunan lingkungan perkotaan adalah
pembangunannya sebagian besar hanya merupakan perbaikan atau
penambahan sarana dan prasarana kota yang semula sudah ada, namun tetap
harus dilakukan secara berencana, dengan lebih memperhatikan keserasian
hubungan antara kota terbangun dengan lingkungan alaminya, dan antara
kota dengan daerah perdesaan sekitar atau kota pendukung (hinterland), serta
keserasian dalam pertumbuhan kota itu sendiri.
Kota sebagai konsentrasi permukiman dan kegiatan manusia, telah
berkembang sangat pesat berikut dampaknya pada banyak kota di
Indonesia. Kota dalam keterbatasan kemampuan, tetap menuntut adanya
suatu kondisi fisik dan lingkungan yang sehat bagi warga kotanya.

Pertambahan penduduk yang pesat senantiasa diiringi tuntutan


ketersediaan prasarana, sarana, fasilitas pelayanan bagi kehidupan dan
kegiatannya. Keterbatasan dana dan teknologi, penanganan dan pengelolaan
kota yang kurang tepat, serta pertambahan penduduk kota yang pesat sebagai
akibat kelahiran maupun urbanisasi, telah menimbulkan banyak masalah
perkotaan yang seringkali menjadi berlarut-larut.
Pengembangan dan pembangunan kota sangat bergantung pada faktor
kuantitas dan kualitas penduduk, keluasan dan daya dukung lahan, serta
keterbatasan kemampuan daerah itu sendiri. Gejala pembangunan,
perkembangan dan pemekaran kota untuk memenuhi tuntutan dan
pelayanan terhadap penduduk kota yang jumlahnya terus membengkak
tersebut, seringkali menimbulkan kecenderungan menuju pembangunan
maksimal struktur kota, ruang terbuka kota, dengan mudah menghilangkan
atau mengorbankan eksistensi dan wajah alam.
Lahan kota semakin tertutup oleh struktur (perkerasan/hard materials),
dan permukaan air (sungai, rawa, pantai, dan lain-lain) yang berubah fungsi dan
kualitasnya. Andalan kemampuan teknologi modern, telah mengembangkan
pemikiran membangun kota yang seringkali mengabaikan sistem ekologi kota,
bahkan berusaha merobah seluas mungkin eskosistem alam menjadi ekosistem
buatan (artificial ecosystem). Maka, muncul dampak negatif pembangunan
akibat perlakuan kurang wajar terhadap norma-norma dan kaidah-kaidah
alam tersebut, seperti perubahan suhu kota, krisis air bersih, penurunan air tanah,
amblasan tanah, banjir, intrusi air laut, abrasi pantai, kualitas udara memburuk,
sungai mengering, dan berbagai polusi terhadap media lingkungan.
Perencanaan ruang terbuka hijau kota yang matang, dapat menjaga
keseimbangan dan keharmonisan antara ruang terbangun dan ruang terbuka.
Keselarasan antara struktur kota dengan wajah-wajah alami, mampu
mengurangi berbagai dampak negatif akibat degradasi lingkungan kota dan
menjaga keseimbangan, kelestarian, kesehatan, kenyamanan dan peningkatan
kualitas lingkungan hidup kota.

Pengelompokan Jenis dan Luas Ruang Terbuka Hijau Pembentuk Kota

Klasifikasi ruang terbuka hijau sesuai pemanfaatannya


dikelompokkan ke dalam kategori ruang-ruang terbuka, untuk:
(1) Kesehatan, kesejahteraan, dan rekreasi umum
(2) Preservasi Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan kehidupan (biota)
(3) Keamananan umum
(4) Produksi
(5) Koridor (lorong)
(6) Cadangan perluasan areal kota

Dalam pengelolaan ruang terbuka hijau kota terkait pula sektor


kehutanan, pertanian, peternakan, perikanan, tata pengairan, dan lain-lain,
yang harus terencana terpadu, dalam suatu sistem ruang terbuka hijau kota,
sesuai dengan potensi dan daya dukung serta daya tampung lingkungan kota.
ruang terbuka hijau menentukan pola, bentuk dan tata ruang kota sebagai
sebuah kota yang dibangun dengan wawasan lingkungan.
Bila kita memproyeksikan kebutuhan ruang terbuka hijau berdasar
jumlah penduduk, maka perlu dipakai suatu standar tertentu tentang
kebutuhan hijau per kapita. Di berbagai kota dunia, standar semacam ini
mempunyai varian atau spesifikasi tertentu, sesuai dengan kebutuhan, situasi
dan kondisi, maupun sistem pembangunan dan pengembangan perkotaan.
Kota-kota besar di Negeri Belanda mempergunakan standar 35-
4 0m2 h ija u /kap ita. Ko n d is i in i bisa dicapai karena pembangunan yang
pesat setiap tahun hanya disertai pertambahan penduduk yang relatif sangat
kecil.
Pertamanan perkotaan merupakan salah satu bentuk dari arsitektur
lansekap perkotaan, yang saling mengisi dan saling menunjang dengan disiplin
terkait dalam satu kesatuan pengelolaan lingkungan perkotaan. Bersama disiplin
lain, seperti arsitektur bangunan, perencanaan kota, teknik sipil, senirupa, sosial,
budaya, ekonomi, psikologi dan pendidikan dan sebagainya, di mana masing-
masing mempunyai peran dan fungsi yang jelas, harus bisa bekerjasama
secara erat dalam membentuk lingkungan kota yang berwawasan lingkungan.
Peranan arsitek lansekap secara profesional diakui oleh
International Labour Organization (ILO), bersama disiplin sejenis yang tercantum
dalam kode :
0-21.10 Architect and Town Planners
0-21.20 Building Architect
0-21.30 Town Planner
0-21.40 Landscape Architect
Pengelompokan jenis dan penetapan luas ruang terbuka hijau
pembentuk lingkungan ini amat penting diperhatikan oleh disiplin atau
unit pengelola lain dalam administrasi pemerintahan perkotaan yang saling
mendukung, karena peran satu-sama lain merupakan kekuatan sinergis dalam
upaya membentuk lingkungan yang layak huni (manusiawi).

Kelompok Ruang Terbuka Hijau Berkenaan Dengan Peran dan


Fungsinya

Perencanaan kota berwawasan lingkungan (environmental city


planning), dikelompokkan dalam berbagai jenis sesuai aspek fungsi ekologis, di
mana terdapat zona (mintakat) terbangun: zona-zona
permukiman/perumahan, industri, lalu-lintas, perdagangan, pariwisata, dan
lain-lain, dan zona tidak terbangun berupa ruang terbuka hijau.
Untuk mempertahankan eksistensi ruang terbuka hijau dalam
lingkungan, diperlukan unit khusus pengelola ruang terbuka hijau.
Keputusan membangun unit khusus ini, harus didasarkan pada kemauan
politis (political will) pemerintah daerah secara bersama, tidak hanya institusi
pemerintah saja.
Kesadaran dan kearifan para pengelola atau pengambil kebijakan
pembangunan lingkungan dalam unit khusus ini, akan sangat menentukan
peningkatan kualitas dan fungsi lingkungan secara berkelanjutan, terutama
dengan tetap mempertahankan keseimbangan antara daerah terbangun dan
tidak terbangun, serta dapat bersinergi saling mendukung dengan unit pengelola
lingkungan lain, secara selaras, serasi dan seimbang.
Pembahasan khusus tentang seluk-beluk pentingnya mempertahankan
keberadaan ruang terbuka hijau kota dalam pengelolaan lingkungan
perkotaan, sudah sering dilakukan, namun sampai saat ini masih merupakan
pertimbangan dan keputusan politis terakhir. Penyebab utama, adalah
dasar kebijakan perlu dipertahankannya ruang terbuka hijau itu, hanya
pertimbangan nilai ekonomis jangka pendek, sehingga ruang terbuka
hijau justru seringkali tergusur. Padahal bila memperhitungkan biaya manfaat
sumberdaya hayati ruang terbuka hijau ditransfer ke dalam nilai ekonomis
jangka panjang, berupa nilai keuntungan dari kemungkinan tetap dapat
dimanfaatkan sumberdaya hayati secara berkelanjutan, maka kebijakan
mempertahankan keberadaan ruang terbuka hijau kota pasti akan dipilih.
Krisis lingkungan hidup yang semakin parah, seperti kekurangan air
bersih di musim kemarau semakin melebar ke skala regional di wilayah kota-
kota kecil dan perdesaan, terutama di pulau Jawa. Penyebab pokok
ketidakseimbangan penataan antara ruang hijau dan ruang abu-abu, adalah
peningkatan jumlah penduduk dengan keaneka-ragaman kegiatan, dan akibat
kurang dipertimbangkannya kebijakan politis penataan ruang nasional dan kota
untuk mempertahankan keberadaan manusia dan kemanusiaan.

Perancangan kota lebih menitikberatkan pada struktur reorganisasi,


berupa penataan fisik spasial, sedangkan berbagai organisasi sosial tidak
mudah mengikuti perubahan fisik spasial tersebut dan sebaliknya, sehingga
menimbulkan konflik persepsi, nilai dan perilaku manusia terhadap lingkungan
perkotaan.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan kota sehat sebagai tempat
bermukim penduduknya dalam kondisi lingkungan yang ideal, maka jenis dan
luas ruang terbuka hijau perlu dijabarkan dan diperjelas masing-masing unit
pembentuk ruang terbuka hijau kota.

Jenis Ruang Terbuka Hijau

Ditinjau dari sudut kepemilikan dan tanggung jawab, maka Ruang


Terbuka Hijau dibagi ke dalam dua jenis :
Ruang Terbuka Hijau milik pribadi atau badan hukum, misal: halaman
rumah tinggal, perkantoran, tempat ibadah, sekolah atau kampus,
hotel, rumah sakit, kawasan perdagangan (pertokoan, rumah makan),
kawasan industri, stasiun, bandara, pelabuhan, dan lahan pertanian.
Ruang Terbuka Hijau milik umum, yaitu lahan dengan tujuan penggunaan
utamanya adalah ditanami berbagai jenis tetumbuhan untuk memelihara
fungsi lingkungan, yang dikelola pemerintah daerah, dan dapat dipergunakan
masyarakat umum, seperti taman rekreasi, taman olahraga, taman kota,
taman pemakaman umum, jalur hijau jalan; bantaran rel kereta api, Saluran
Umum Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), bantaran kali, serta Hutan Kota (HK)
konservasi, Hutan Kota wisata, Hutan Kota zona industri, Hutan Kota antar-
zona permukiman, Hutan Kota tempat koleksi dan penangkaran flora dan
fauna.

Pengelompokan Ruang Terbuka Hijau

Perincian Ruang Terbuka Hijau dibagi atas sub sektor pengelolaan


pertamanan, kehutanan dan pertanian, pemakaman, perikanan, peternakan,
olahraga, kebersihan dan pekerjaan umum (jalan, pengairan dan prasarana
umum lain). Tipe-tipe pengelolaan lahan umumnya, termasuk Ruang Terbuka
Hijau, dapat dibedakan berdasar perbedaan konsep perancangan sesuai
kebutuhan, di mana manfaatnya pun bisa jadi tumpang tindih (UU
No.26/2007 Tentang Penataan Ruang), digambarkan sebagai berikut
(Purnomohadi, 2002), dalam skala makro nasional, Ruang Terbuka Hijau alami
sejak 200 tahun terakhir dibangun, sering disebut Taman Nasional (national
park).

Taman di Amerika Serikat merupakan taman terbuka yang relatif luas,


terletak jauh di luar wilayah perkotaan dan merupakan suatu daerah alami,
sebagai tempat kehidupan flora dan fauna secara bebas, di mana sebagian
wilayahnya sengaja ditata khusus, untuk kebutuhan rekreasi (intensive used
area). Konsep dasar umum tentang pengelolaan lahan seperti pada Tabel II.1.

Tabel B.1 Konsep Dasar Pengelolaan Lahan (Takahashi, 1989)

Pentahapan Pengembangan Ruang Terbuka Hijau

Pengadaan ruang terbuka hijau bagi kawasan yang sudah


terbangun tentu membutuhkan pemikiran-pemikiran yang dapat
dipertanggung-jawabkan di kemudian hari. Relatif masih rendahnya
kepedulian dan kesadaran perlunya eksistensi ruang terbuka hijau, bahwa
ruang terbuka hijau tak hanya berfungsi sebagai pengisi ruang-ruang di
antara bangunan saja, namun adalah lebih luas dari itu. Dalam
pembangunan kota berkelanjutan mutlak dipertimbangkan ada
pembangunan ruang terbuka hijau secara khusus, berdasar pada serangkaian
fungsi penting ruang terbuka hijau dalam Rencana Induk Kota baik dalam
jangka pendek maupun panjang.
Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Kota Jangka Pendek

Refungsionalisasi dan pengamanan jalur-jalur hijau alami, seperti di


sepanjang tepian jalan raya, jalan tol, bawah jalan layang (fly-over), bantaran
kali, saluran teknis irigasi, tepian pantai, bantaran rel kereta api, jalur SUTET,
Tempat Pemakaman Umum (TPU, makam), dan lapangan olahraga, dari
okupasi permukiman liar. Mengisi dan memelihara taman-taman kota yang
sudah ada, sebaik-baiknya dan berdasar pada prinsip fungsi pokok ruang
terbuka hijau (identifikasi dan keindahan) masing-masing lokasi.
Memberikan ciri-ciri khusus pada tempat-tempat strategis, seperti batas-
batas kota, dan alun-alun kota. Memotivasi dan memberikan insentif secara
material (subsidi) dan moral terhadap peran serta masyarakat dalam
pengembangan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau secara optimal, baik
melalui proses perencanaan kota, maupun gerakan-gerakan penghijauan.
Prasarana penunjang dalam pengembangan ruang terbuka hijau
yang dibutuhkan, adalah tenaga-tenaga teknisi yang bisa menyampaikan
konsep, ide serta pengalamannya dalam mengelola ruang terbuka hijau, misal
pada acara penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan pada Pusat Pendidikan
dan Pelatihan Pusdiklat). Dibutuhkan sosialisasi dan penyuluhan secara berkala
kepada pihak-pihak yang berkepentingan, maupun masyarakat umum
secara luas.

Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Jangka Panjang

Penyuluhan pengembangan ruang terbuka hijau dapat dilakukan


melalui instansi pemerintah daerah yang secara resmi ditunjuk dan erat
kaitannya dengan penghijauan kota, mulai dari tingkat kota/kabupaten, camat,
lurah/kepala desa, hingga lingkungan RT/RW, dewan legislasi, organisasi-
organisasi kemasyarakatan, sekolah-sekolah, pramuka, rumah sakit,
perkantoran, dan berbagai bentuk media massa cetak seperti melalui surat
kabar, majalah, buletin dan selebaran serta media elektronik seperti melalui
radio, televisi, dan internet.

Perencanaan dan Pengendalian Ruang Terbuka Hijau

Inventarisasi potensi alam merupakan dasar kelayakan pembangunan


ruang terbuka hijau, khususnya sebagai dasar untuk menentukan letak dan jenis
tanaman. Inventarisasi ini sangat diperlukan berdasar pada keterkaitan kondisi
fisik, sosial dan ekonomi, meliputi pendataan keadaan iklim (curah hujan, arah
angin, suhu dan kelembaban udara); data topografi dan konfigurasi kondisi alam
adalah untuk menentukan tipe ruang terbuka hijau kota; kemudian geologi,
jenis tanah dan erodibilitas untuk penentuan jenis ruang terbuka hijau; jaringan
sungai, potensi dan pelestarian jenis, jumlah, dan kondisi fauna dan flora lokal.
Umumnya keberadaandan jenis fauna sangat berkaitan erat pula dengan
jenis flora yang ada (existing, biota endemic).
Penggunaan tanah (land use) dan keadaan yang mempengaruhinya
perlu dikompilasi melalui pengumpulan data mengenai kedua hal tersebut,
yaitu: meliputi penggunaan tanah serta penyebaran bangunan, daerah
permukiman, perdagangan, industri, pusat pemerintahan, pusat perbelanjaan,
tempat rekreasi, dan jaringan transportasi. Keadaan yang mempengaruhi
penggunaan tanah adalah demografi jumlah dan persebaran penduduk,
prosentase pertambahan jumlah, komposisi penduduk, dan keadaan sosial
ekonomi. Kedua data ini dipergunakan untuk menentukan tipe, lokasi, dan
jumlah ruang terbuka hijau. Inventarisasi aktivitas dan permasalahannya
meliputi data aktivitas yang dikumpulkan, terutama kegiatan- kegiatan yang
bisa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Tingkat atau besaran aktivitas akan menentukan luas ruang terbuka
hijau yang dibutuhkan dalam upaya menetralisir pengaruh negatif yang
ditimbulkannya tersebut. Pengumpulan data fisik (utama), meliputi:
Jumlah dan laju pertambahan kebutuhan air dan oksigen;
Jumlah dan tingkat pertambahan penggunaan bahan bakar;
Jumlah dan laju pertambahan kendaraan bermotor;
Jumlah dan laju pembuangan limbah industri/rumah tangga;
Nilai kualitatif dan kuantitatif dari permasalahan lain yang sering timbul,
seperti banjir, intrusi air laut, abrasi, erosi amblasan tanah, dan tingkat
pencemaran lain.

Kemudian, perlu disusun Rencana Kerja Berkala, meliputi Rencana


Jangka Pendek, (Menegah), dan Panjang. Kebijakan umum pengembangan
ruang terbuka hijau, yang dilengkapi langkah-langkah pelaksanaan menurut
waktu dan skala prioritas. Monitoring dan Evaluasi secara berkala dan terus
menerus, guna mendapat data akurat yang dapat dipergunakan sebagai dasar
perbaikan dan pengembangan di masa datang.

B.1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari pekerjaan ini adalah melakukan identifikasi dan pemetaan kawasan-
kawasan yang dapat dikategorikan sebagai RTH sehingga hasil dari pekerjaan ini dapat
dijadikan landasan kerja bagi pihak-pihak terkait dalam merealisasikan pemenuhan dan
pembangunan RTH di Kabupaten Tanah Laut.
Tujuan dari pekerjaan ini adalah membantu pihak-pihak terkait untuk memperoleh
gambaran atas rencana pengembangan RTH kawasan perkotaan di Kabupaten Tanah Laut
terutama :

a. Menyusun pedoman teknis yang menjadi acuan dalam penjabaran RTRW Kabupaten
Tanah Laut Tahun 2016-2036 mengenai kebutuhan RTH, kedalam dokumen
perencanaan berupa Identifikasi dan pemetaan RTH Kawasan Perkotaan Kabupaten
Tanah Laut yang mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 5 Tahun 2008
Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan
Perkotaan ;
b. Mengatur dan mengarahkan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan Kabupaten
Tanah Laut sesuai dengan pedoman dan peraturan yang ada.
c. Menyediakan peraturan-peraturan yang jelas pada kawasan tersebut, meliputi: dimensi,
intensitas, dan disain dalam merefleksikan berbagai macam pola pengembangan.
d. Tercapainya rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kawasan
Perkotaan Kabupaten Tanah Laut yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah
kawasan perkotaan.
e. Memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait
tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk
beraktivitas dan bertempat tinggal.

Tanggapan Terhadap Maksud dan Tujuan


Pada prinsipnya konsultan sudah dapat memahami maksud dari pekerjaan ini
yaitu mengidentifikasi dan memetakan RTH perkotaan guna mengetahui
sebaran RTH eksisting dalam rangka mewujudkan kebutuhan RTH yang ideal
seperti amanat undang-undang.
Sedangkan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyusun pedoman teknis
bagi yang merupakan penjabaran dari RTRW Kabupaten Tanah Laut terkait
dengan perencanaan, pembangunan dan pemanfaatan serta pengelolaan RTH.

B.1.3 Sasaran (Outcome) yang ingin dicapai

Sasaran dari kegiatan ini adalah:


1) Tersusunnya masukan rencana dan program penanganan Ruang Terbuka Hijau
dan Pedestrian Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut.
2) Teridentifikasinya ruang-ruang terbuka hijau di Kawasan Perkotaan Kabupaten
Tanah Laut.
3) Terindentifikasinya potensi dan permasalahan ruang terbuka hijau (RTH) di
Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut.
4) Tersusunnya Masterplan ruang terbuka hijau (RTH) dan pedestrian di Kawasan
Perkotaan Kabupaten Tanah Laut.

Tanggapan Terhadap Sasaran


Secara umum sasaran dari pekerjaan ini dapat dipahami dengan jelas yaitu
teridentifikasinya RTH eksisting berikut permasalahan yang dihadapinya serta
tersusunnya arahan rencana dan program penanganan RTH.

B.1.4 Keluaran (Output) yang ingin Dicapai (Cukup Jelas)

Keluaran yang dihasilkan dalam pekerjaan Identifikasi Dan Pemetaan


Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, Dan Kintap secara garis
besar dapat dibagi atas dokumen dan gambar/peta. Dokumen Identifikasi dan
Pemetaan RTH Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut ini bersifat teknis;
berdimensi spasial; menunjuk lokasi dan berorientasi fisik; serta berskala (terukur).
Dokumen ini nantinya digunakan sebagai acuan/pedoman dalam penyediaan
dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut
beserta draft peraturan (Peraturan Daerah/Peraturan Bupati). Album peta dengan
skala minimal 1 : 1.000 dengan format A1/A0 dan skala minimal 1 : 1.000 yang
diberikan dalam bentuk cetakan (hardcopy) dan file dalam CD beserta data
digitalnya yang secara substansi minimal mengakomodir:
1. Kajian terhadap kebijakan spasial yang meliputi perundang-undangan dan
peraturan pemerintah yang berkaitan dengan Ruang Terbuka Hijau.
2. Kajian penataan ruang Kawasan Perkotaan di Kabupaten Tanah Laut, khususnya
tentang :
a. Tata guna lahan atau zona peruntukan
b. Kawasan RTH : RTH yang direncanakan, RTH yang sudah ada, RTH yang
berubah fungsi, keseimbangan tata ruang, lokasi hutan kota..
3. Identifikasi bentuk, struktur, lokasi dan penyebaran RTH yang sudah ada.
4. Analisis terhadap kebutuhan RTH di Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut,
yang meliputi:
a. Luas RTH ideal
b. Bentuk, struktur dan pola RTH yang sesuai dengan kondisi fisik, sosial, ekonomi
dan budaya masyarakat setempat,
5. Rencana pengembangan RTH di Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut.

B.1.5 Ruang Lingkup


B.1.5.1 Lingkup Materi

Ruang lingkup materi penyusunan dokumen Identifikasi dan Pemetaan Kawasan


RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, dan Kintap meliputi :

1. Rencana penyediaan RTH dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH, lokasi, dan luas
dengan skala yang lebih detail/besar
2. Arahan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Meliputi : Bangunan/Perumahan,
Lingkungan/Permukiman, Kota/Perkotaan.
3. Kriteria Vegetasi Ruang Terbuka Hijau meliputi : RTH Pekarangan, RTH Taman
dan Taman Kota, Hutan Kota, Sabuk Hijau, Jalur Hijau Jalan, RTH Ruang Pejalan
Kaki.
4. Ketentuan Penanaman meliputi : persiapan tanah untuk media tanam,
penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit tanaman.
5. Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan meliputi pemanfaatan RTH pada
bangunan/perumahan, pemanfaatan RTH pada lingkungan/permukiman,
pemanfaatan RTH pada kota/perkotaan,
6. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan.
7. Peran masyarakat dalam Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di
Kawasan Perkotaan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang
oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH
B.1.5.2 Lingkup Wilayah

Kawasan Perkotaan Kecamatan Kintap, Kawasan Perkotaan Jorong, Kawasan


Perkotaan Pelaihari, dan Kawasan Perkotaan Tambang Ulang di Kabupaten Tanah Laut

Tanggapan terhadap Ruang Lingkup


A. Tanggapan Terhadap Lingkup Materi
Agar tujuan dari kegiatan ini dapat dicapai maka ruang lingkup dari materi ini
adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi dan Evaluasi RTH kawasan perkotaan, mencakup lokasi, luasan,
status tanah, fungsi, jenis vegetasi, dsb.
2. Analisis perwujudan RTH 30% (roadmap untuk jangka pendek, menengah
dan panjang) dengan skala waktu setiap 5 (lima) tahun, mencakup : analisis
Kebutuhan RTH berdasarkan Persentasi Wilayah, analisis Kebutuhan RTH
berdasarkan Jumlah Penduduk, analisis Kebutuhan RTH berdasarkan
Kebutuhan Jumlah Oksigen, analisis Kebutuhan RTH berdasarkan Netralisasi
Karbon Dioksida dan analisis Kebutuhan RTH berdasarkan Perhitungan
Kebutuhan Air serta Prioritas lokasi untuk implementasi/peningkatan kualitas
dan kuantitas RTH.
3. Rencana Pembangunan RTH, mencakup Produk Masterplan dan Indikasi
Program Pembangunan RTH Kota.

Dalam hal ini Konsultan memahami, ruang lingkup kegiatan ini antara lain :
1. Menghasilkan analisis kondisi factual RTH yang terdiri dari identifikasi potesi,
masalah, hambatan & tantangan pengembangan RTH.
2. Menghasilkan Overview dokumen tata ruang terkait pola pemanfaatan
ruang RTH dan strategi pencapaian RTH Kota
3. Menghasilkan kebijakan terkait pemanfaatan, pengeloaan pembangunan,
dan pembiayaan pembangunan RTH
4. Menyusun rancangan peraturan bupati tentang ruang terbuka hijau

Adapun langkah yang akan dilakukan dalam upaya untuk mewujudkan hasil
pekerjaan sesuai dengan arahan KAK adalah sebagai berikut :
1. Survey lokasi dan Pendataan Kondisi Faktual RTH
Data yang dikumpulkan adalah segala jenis informasi yang diperlukan untuk
melakukan analisis RTH kawasan perkotaan, dari hasil pendataan ini akan
diperoleh identifikasi kondisi factual kawasan dari segi fisik, sosial, budaya, dan
ekonomi, serta identifikasi atas kondisi di wilayah sekitarnya yang berpengaruh
pada kawasan perencanaan.

Data tersebut meliputi: peta (pemetaan lokasi RTH dan reklame skala kota
dengan skala 1:5000 serta memperlihatkan aktivitas/ fungsi RTH Kota eksisting),
foto-foto (foto udara/citra satelit dan foto-foto kondisi kawasan perencanaan,
peraturan dan rencana-rencana terkait; sejarah dan signifikansi historis kawasan,
kondisi sosial-budaya, kependudukan, pertumbuhan ekonomi, kondisi fisik dan
lingkungan, kepemilikan lahan, prasarana dan fasilitas, dan data lain yang
relevan.

2. Profil Kawasan Perkotaan


Identifikasi profil kawasan perkotaan ini meliputi informasi fisik (letak geografi &
administrasi wilayah, klimatologi, jenis tanah, topografi dan kemiringan lereng,
geologi, hidrologi dan daerah resapan air, vegetasi/flora khas lokal),
kependudukan, ekonomi, sarana dan prasarana (pendidikan, kesehatan,
transportasi publik).

3. Identifikasi Kondisi Eksisiting RTH


Kegiatan identifikasi kondisi eksisting RTH ini memuat informasi terkait
penggunaan lahan dan identifikasi jenis dan Sebaran RTH.

4. Analisis Kebutuhan RTH


Analisis adalah penguraian atau pengkajian atas data yang telah berhasil
dikumpulkan. Analisis kebutuhan RTH didasarkan pada kebutuhan RTH
berdasarkan prosentase luas wilayah (mencakup 20 % RTH publik dan 10 % RTH
private), berdasarkan jumlah penduduk, dan berdasarkan fungsi tertentu yang
akan dikembangkan (oksigen, netralisasi karbondioksida, air).

5. Penyusunan Konsep & Strategi Pengembangan RTH


Hasil tahapan analisis pengembangan RTH akan memuat gambaran dasar
alokasi dan penyebaran RTH mengacu kepada struktur kota, aspek social,
ekonomi, lingkungan, dan kesesuaian antara kondisi eksisting dengan ijin yang
dikeluarkan, dimana akan ditindaklanjuti dengan penyusunan :
Konsep dasar pengembangan RTH
Konsep pengembangan Atribut Kota Hijau terdiri dari konsep alokasi tipologi
jenis RTH & skala pelayanan RTH dan konsep integrasi antara fungsi RTH
kawasan perkotaan
Konsep komponen perancangan RTH sesuai dengan atribut Kota Hijau dalam
pedoman P2KH

6. Penyusunan Rencana RTH


a. Rencana pengembangan dan pembangunan RTH; Penyusunan rencana
pengembangan dan pembangunan RTH ini didapat dengan
membandingan kondisi RTH eksisting dengan rencana pengembangan dan
pembangunan RTH yang direncanakan sebagaimana dijelaskan di dalam
RTRW/RDTR.
b. Indikasi Program Pembangunan RTH; Setelah terumuskannya rencana
pengembangan dan pembangunan RTH, kemudian dirumuskan
penyusunan indikasi program pembangunan RTH. Muatan dalam indikasi
program ini adalah usulan program utama, lokasi, kepemilikan lahan,
besaran dana, sumber pendanaan, instansi pelaksana, serta waktu dan
tahapan pelaksanaan.
c. Rencana Pengelolaan RTH; Rencana pengelolaan RTH ini mencakup
bahasan terkait dengan pemeliharaan dan pengelolaan RTH, serta
kelembagaan RTH
d. Perumusan Rancangan Peraturan Walikota Bupati tentang Ruang
Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.

B. Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah dalam kegiatan penyusunan Dokumen Identifikasi dan
Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, dan
Kintap adalah meliputi 4 kawasan perkotaan. Sehingga pemahaman konsultan
terkait lingkup wilayah pekerjaan ini adalah meliputi Kawasan Perkotaan
Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, dan Kintap.

B.1.6 Referensi Hukum (Cukup Jelas)

Dasar Hukum dalam pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Dokumen Identifikasi dan


Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, Dan Kintap ini
mengacu kepada:

1. Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;


2. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
4. Undang-Undang No. 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung;
5. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 2004, tentang Sumber Daya Air;
6. Peraturan Pemerintah RI Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standarisasi Nasional;
7. Peraturan Pemerintah RI Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran
Masyarakat dalam Penataan Ruang;
8. Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional;
9. Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang;
10. Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan
Kawasan Perkotaan;
11. Peraturan Pemerintah RI No. 63 Tahun 2002, tentang Hutan Kota;
12. Peraturan Menteri PU No. 05/PRT/M/2008 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan
Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan;
13. Peraturan Pemerintah RI No. 34 Tahun 2006, tentang Jalan;
14. Keputusan Presiden RI No. 32 Tahun1990, tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
15. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2016 tentang RTRW kabupaten Tanah Laut 2016-
2036

B.1.7 Lokasi Pekerjaan (Cukup Jelas)


Lokasi pekerjaan penyusunan dokumen berada di Kecamatan Kintap, Kecamatan
Jorong, Kecamatan Pelaihari, dan Kecamatan Tambang Ulang Kabupaten Tanah Laut

B.1.8 Kebutuhan dan Kualifikasi Tenaga Ahli (Cukup Jelas)


Tabel B.2 Kebutuhan Tenaga Ahli

NO. KEBUTUHAN TENAGA AHLI PENDIDIKAN PENGALAMAN


KUALIFIKASI JUMLAH POSISI
1. Ahli 1 Team leader S2 PWK dengan latar Minimal 5 tahun
Perencanaan pendidikan S-1 linear
Kota/ Urban Dari universitas yang
Designer berakreditasi A
2. Ahli Arsitektur 1 Anggota tim S-2 Arsitektur lansekap Minimal 3 tahun
lansekap dengan latar pendidikan S-
1 linear
3. Ahli lingkungan 1 Anggota tim S-2 teknik lingkungan Minimal 3 tahun
dengan latar pendidikan S-1
linear
4. Ahli geoteknik 1 Anggota tim S-2 sipil latar pendidikan S-1 Minimal 3 tahun
linear

5. Ahli hukum 1 Anggota tim S-2 hukum dengan latar Minimal 3 tahun
pendidikan S-1 linear

6. Ahli geodesi 1 Anggota tim S-2 teknik geodesi dengan Minimal 3 tahun
latar pendidikan S-1 linear

7. Asisten tenaga 3 Pembuat S1 pwk sebanyak 1 orang Minimal 3 tahun


ahli laporan S1 arsitektur lansekap
sebanyak 1 orang
9. Surveyor 2 Surveyor S1
D-3geodesi/geografi sebanyak
geodesi sebanyak 1 1 Minimal 1 tahun
orang
S1 PWK sebanyak 1 orang
10. Petugas 1 Administrator D-3 administrasi Minimal 1 tahun
administrasi perkantoran/
sekretaris/manajemen

B.1.9 Uraian Tugas Tenaga Ahli (Cukup Jelas)

Untuk melaksanakan kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan


Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini diperlukan tenaga ahli sesuai dengan
bidang profesi dan telah mempunyai pengalaman dalam bidangnya. Adapun kualifikasi
tenaga-tenaga ahli yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

1. Tenaga Ahli Perencanaan Kota/Urban Designer, sebagai ketua tim (team leader)
Ketua tim dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan
Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1 (satu) orang dengan syarat
sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota lulusan dari
universitas negeri, atau perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah
lulus ujian negara, atau perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Memiliki sertifikasi keahlian madya (Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota, kode :
502)
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan di bidang penataan ruang,
khususnya pekerjaan Masterplan RTH.
- Diutamakan yang telah mempunyai pengalaman sebagai ketua tim minimal
selama 5 (lima) tahun

Tugas utama dari ketua tim adalah memimpin dan mengkoordinir seluruh kegiatan
anggota tim kerja dalam pelaksanaan pekerjaan sampai dengan pekerjaan dinyatakan
selesai.
Tugas utama dari tenaga ahli perencanaan wilayah dan kota adalah merancang,
mengarahkan, memecahkan, menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan yang
berhubungan dengan penataan ruang dan wilayah kawasan industri.

2. Tenaga ahli arsitektur lansekap


Tenaga ahli arsitektur yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1
(satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik Arsitektur Lansekap lulusan dari universitas negeri,
atau perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara,
atau perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan arsitektur lansekap
minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki sertifikasi keahlian Ahli Madya-Arsitektur Lansekap
Tugas utama dari tenaga ahli arsitektur adalah merancang, mengarahkan,
memecahkan, menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan yang berhubungan
dengan aspek arsitektur dan desain kawasan RTH.

3. Tenaga ahli lingkungan


Tenaga ahli lingkungan yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1
(satu) orang dengan syarat sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik Lingkungan lulusan dari universitas negeri, atau
perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara, atau
perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan lingkungan
minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki sertifikasi keahlian Ahli Madya-Teknik Lingkungan
Tugas utama dari tenaga ahli lingkungan adalah merancang, mengarahkan,
memecahkan, menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan yang berhubungan
dengan aspek lingkungan.

4. Tenaga ahli geoteknik


Tenaga ahli geoteknik yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1
(satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik sipil lulusan dari universitas negeri, atau perguruan
tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara, atau perguruan
tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan lingkungan
minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki sertifikasi keahlian Ahli Madya-Geoteknik
Tugas utama dari tenaga ahli geoteknik adalah menganalisa data geoteknik,
merencanakan survey lokasi, mengevaluasi dan menetapkan data daerah yang akan
diselidiki.

5. Tenaga ahli Hukum


Tenaga ahli hukum yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1
(satu) orang dengan syarat sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Hukum lulusan dari universitas negeri, atau perguruan tinggi
swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara, atau perguruan tinggi
luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan hukum minimal 5
(lima) tahun.
Tugas utama dari tenaga ahli hukum adalah merancang, mengarahkan, dan
merumuskan seluruh persoalan yang berhubungan dengan aspek hukum dalam
penyusunan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang
Ulang, Jorong dan Kintap.

6. Tenaga ahli Geodesi


Tenaga ahli perpetaan yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1
(satu) orang dengan syarat sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Geodesi lulusan dari universitas negeri, atau perguruan tinggi
swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara, atau perguruan tinggi
luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan pembuatan peta
wilayah minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki Sertifikasi Ahli Madya-Geodesi
Tugas utama dari tenaga ahli geodesi adalah mengarahkan, menganalisis, dan
membuat peta pada wilayah penelitian.

B.1.10 Uraian Tugas Asisten Tenaga Ahli (Cukup Jelas)

Selain tenaga ahli di atas, diperlukan pula tenaga pendukung, antara lain:

1. Asisten Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota


Asisten Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota yang dibutuhkan dalam kegiatan
Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong
dan Kintap ini sebanyak 1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai perencana ruang dan kota.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai penyusunan pelaporan
perencanaan kawasan
2. Asisten Tenaga Ahli Arsitektur Lansekap
Asisten tenaga ahli arsitektur lansekap yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi
dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap
ini sebanyak 1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S1 Teknik Arsitektur yang mempunyai ketrampilan dalam mendesign
wilayah dengan gambar 3D animasi.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai design kawasan/design bangunan
3. Asisten Tenaga Ahli Geodesi/Geografi
Asisten tenaga ahli geodesi/geografi yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan
Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini
sebanyak 1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S1 Teknik Geodesi yang mempunyai ketrampilan mengoperasikan
komputer program ArcGIS.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai survey pemetaan dan drafter.

B.1.11 Tenaga Pendukung (Cukup Jelas)


1. Surveyor
Surveyor yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH
Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 2 (dua) orang
dengan syarat sebagai berikut :
- 1 (satu) orang D-3 Geodesi
- 1 (satu) orang S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota
- Berpengalaman minimal 1 (satu) tahun sebagai surveyor
2. Petugas administrasi
Petugas administrasi yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1
(satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan D3 Administrasi Perkantoran /Kesekretariatan /Akuntansi /Manajemen
yang mempunyai ketrampilan ketrampilan mengoperasikan komputer program
Microsoft Word, Excel, dan Power Point.
- Berpengalaman minimal 1 (satu) tahun sebagai petugas administrasi merangkap
operator komputer

B.1.12 Pendekatan dan Metodologi

Kegiatan ini dilakukan secara KONTRRAKTUAL dengan pihak ketiga melalui proses
pelelangan yang terikat dalam suatu kontrak dan melibatkan tenaga ahli dengan metode
pelaksanaan sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan
a. Persiapan pelaksanaan pekerjaan dan mobilisasi personil/tim;
b. Pengumpulan data awal terkait kondisi awal kawasan perencanaan, studi
literatur/kepustakaan dan kebijakan terkait;
c. Deliniasi awal kawasan perkotaan Kabupaten Tanah Laut;
d. Penyusunan metodologi pelaksanaan pekerjaan;
e. Penyusunan rencana kerja dan jadwal pelaksaan pekerjaan;
f. Menyiapkan checklist data yang dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan
pengumpulan data dan penyusunan metode pelaksanaan survey (desain survey);
g. Penyusunan dan pembahasan Laporan Pendahuluan.
2. Tahap pengumpulan data
a. Pengumpulan data sekunder yang meliputi dokumen-dokumen perencanaan
kawasan yang pernah disusun maupun peraturan perundangan terkait yang
berlaku;
b. Pengumpulan data primer yang meliputi pengamatan lapangan (observasi) dan
wawancara dengan berbagai narasumber. Panduan wawancara disusun minimal
memuat hal-hal sebagai berikut :
1) Survey kondisi sosial-ekonomi
2) Survey Topografi
Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan
kondisi eksisting rencana sesuai luasan hasil deliniasi, data koordinat, dan
ketinggian permukaan tanah pada lokasi rencana kawasan RTH. Untuk
penyiapan peta topografi dengan skala 1:500. Adapun keluaran survey
topografi meliputi :
a) Laporan survey topografi meliputi :
- Data pengukuran dan hitungan pengukuran topografi;
- 2) Data koordinat dan benchmark kawasan berdasarkan hasil deliniasi
yang telah disepakati;
- 3) Foto dokumentasi pengukuran dan benchmark
b) Peta topografi yang dilengkapi peta kontur terrain dengan skala yang
disesuaikan dengan jenis perencanaan yang akan dilakukan serta batas
deliniasi kawasan yang telah ditetapkan.
3) Survey Kondisi Eksisting
Bertujuan melakukan pencatatan data, identifikasi, dokumentasi dan survey
lapangan terhadap kondisi eksisting terkini (identifikasi vegetasi, tanaman,
bentang alam, dll) termasuk pemotretan udara secara mozaik dengan
menggunakan drone (foto planar/tegak lurus) atau menggunakan citra satelit
terbaru beserta pengolahannya;
4) Aspek-aspek lain yang dibutuhkan untuk mendukung analisa kelayakan
c. Penyusunan Laporan Hasil Survey
3. Tahap Kajian/ Analisa
a. Identifikasi gambaran umum kondisi kawasan perencanaan berdasarkan dokumen-
dokumen perencanaan yang telah ada, hasil pengamatan di lapangan maupun
kesesuaian rencana pengembangan terbaru
b. Kajian teknis, minimal mencakup :
1) Analisis regional untuk mengetahui kedudukan dan peranan wilayah pekerjaan
lingkup yang lebih luas.Adapun yang menjadi pertimbangan dalam analisis
regional ini adalah keterkaitan antar wilayah dan kedudukan kawasan
perkotaan di Kabupaten Tanah Laut sebagai wilayah perencanaan
2) Identifikasi RTH eksisting di 4 kawasan perkotaan Kabupaten Tanah Laut.
3) Analisis kebutuhan luas (kuantitas) RTH dilakukan untuk menghitung
kebutuhan luas RTH di Kawasan Perkotaan Kabupaten Tanah Laut.
4) Analisis Kualitas RTH dilakukan untuk mengetahui kebutuhan penyediaan
komponen, lokasi dan vegetasi RTH, yang minimal meliputi :
a) Analisis Peningkatan Kualitas RTH Publik
b) Analisis Peningkatan Kualitas RTH Privat
c) Analisis aspek lainnya yang meliputi :
- Aspek kepemilikan lahan
- Aspek pembiayaan
- Aspek kelembagaan dan pengelolaan
4. Tahap Rencana
Tahap rencana minimal meliputi:
a. Rencana Pengembangan RTH Skala RT
b. Rencana Pengembangan RTH Skala RW
c. Rencana Pengembangan RTH Skala Kelurahan/Desa
d. Rencana Pengembangan RTH Skala Kecamatan
e. Rencana Pengembangan RTH Taman Kota
f. Rencana Pengembangan Hutan Kota
g. Rencana Pengembangan RTH Sabuk Hijau
h. Rencana Pengembangan RTH Sempadan Sungai
i. Rencana Pengembangan RTH Sempadan SUTET
j. Rencana Pengembangan RTH Sempadan Mata Air
k. Rencana Pengembangan RTH Pemakaman
l. Rencana Pengembangan RTH Privat
m. Rencana pembiayaan
n. Rencana aksi
o. Ketentuan Insentif dan disinsentif
p. Indikasi program

Tanggapan terhadap Pendekatan dan Metodologi

Metodologi
Secara keseluruhan proses penyusunan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan
RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap akan terbagi menjadi
tiga tahapan yakni:
1) Tahap persiapan yang dilanjutkan dengan pengumpulan data;
2 ) Identifikasi dan evaluasi kondisi eksisting RTH serta analisis kebutuhan RTH
3) Penyusunan rencana masterplan RTH dan indikasi program.
Referensi utama pada kegiatan ini adalah dokumen RTRW.

Metode Pengumpulan Data


Kegiatan pengumpulan data pada pelaksanaan pekerjaan ini berupaya
untuk menggali berbagai permasalahan dan potensi Tata Ruang Hijau. Untuk itu,
tahap pengumpulan data ini harus direncanakan sebaik-baiknya, sehingga tercapai
hasil yang optimal sesuai dengan maksud, tujuan dan sasaran pada proses-proses
selanjutnya.
Proses pengumpulan dan kompilasi data akan dilakukan dalam dua
jenis, yaitu pengumpulan data secara langsung (primer) dengan melihat kondisi
lapangan, dan pengumpulan data melalui buku laporan statistik (sekunder). Kegiatan
survei atau pengumpulan data, secara umum meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu primer
dan sekunder. Beberapa data primer dan sekunder yang harus didapat dari
pengumpulan data ini, adalah :
1. Data Primer :
a. Data wilayah perencanaan
b. Potensi dan permasalahan ruang hijau
c. Elemen-elemen tata ruang hijau
d. Elemen dan aspek vegetasi
2. Data Sekunder :
a. Data Kebijakan Perencanaan dan Pembangunan Wilayah
b. Data Monografi Wilayah (Kependudukan, Prasarana dan Sarana Fasilitas
Wilayah)
c. Peta Pendukung (Peta Wilayah Administrasi, Peta Topografi dan Kemiringan
Tanah, Peta Geologi, Peta Hidrologi, Peta Tata Guna Lahan)
d. Data Informasi lainnya

Metode Kajian dan Analisis Ruang Terbuka Hijau


Metode kajian dan analisis kebutuhan perwujudan ruang terbuka hijau
membicarakan pendekatan yang dipakai dalam mengkaji kepentingan penyediaan
ruang terbuka hijau di perkotaan dan karaketristik ruang terbuka hijau serta
vegetasi-vegetasi apa saja yang dibutuhkan serta pendekatan yang dipakai untuk
menghitung kebutuhan ruang terbuka hijau di wilayah Kabupaten Tanah Laut.
Kajian dilakukan dengan pendekatan yuridis dan normatif (teoritik).
Mengacu ke perundangan yang ada, Ruang terbuka hijau digolongkan menjadi 2
bagian yakni Ruang Terbuka Hijau milik Umum ( RTH Publik ) dan Ruang
Terbuka Hijau milik Pribadi (RTH Privat). Ruang terbuka milik umum (publik)
adalah Ruang Terbuka yang digunakan secara bersama-sama contohnya seperti
taman-taman pada pertemuan jalan sebagai pengarah arus lalu lintas, taman
aktif kota, taman-taman pemisah jalur jalan raya, ruang terbuka di sisi-sisi jalan.
Ruang terbuka milik pribadi (privat) adalah ruang terbuka yang dimiliki oleh
perorangan atau lembaga / instansi, contohnya seperti ruang terbuka di halaman
rumah pribadi, di halaman sekolah-sekolah, di halaman kantor-kantor lembaga /
instansi.
Berikut merupakan pendekatan yang digunakan dalam mengkaji
kepentingan penyediaan ruang terbuka hijau :
1. Pendekatan Ekologis (Pelestarian Lingkungan)
Pendekatan ekologis dalam pembangunan Ruang Terbuka Hijau dimaksudkan
untuk memberikan dan meningkatkan fungsi ekologis tata Ruang Hijau untuk
meningkatkan fungsi konservasi lahan, tempat hidup satwa dalam rangka
mengurangi limpasan (run off) air hujan.
2. Pendekatan Lansekap
Pendekatan lanskape dalam pembangunan dan pengelolaan Tata Ruang Hijau
Kota dimaksudkan bahwa fungsi landscape menjadi pertimbangan dalam
pengembangan kebijakan fungsi secara fisik maupun sosial. Secara fisik Tata
Ruang Hijau akan memberikan fungsi pendukung keindahan dan kenyamanan
kawasan, secara sosial pengembangan Tata Ruang Hijau memberikan
kemungkinan ruang bagi interaksi sosial.
3. Pendekatan Estesis
Pendekatan estesis dalam pembangunan Ruang Terbuka Hijau dimaksudkan
untuk memberikan fungsi rekreatif karena keindahan, keselarasan, dan
kenyamanan lingkungan.
4. Pendekatan Ekonomis
Pendekatan ekonomis dalam pembangunan Ruang Terbuka Hijau
dimaksudkan mempertimbangkan kemungkinan nilai tambah ekonomi yang
dapat dihasilkan.
5. Pendekatan Sosial
Pendekatan sosial dalam pembangunan Ruang Terbuka Hijau dimaksudkan
mempertimbangkan fungsi-fungsi sosial dari sebuah ruang terbuka hijau sebagai
tempat bersosialisasi serta tempat beraktivitas masyarakat dan komunitas yang
ada.

Analisis kebutuhan pelayanan ruang hijau di wilayah perkotaan:


1) Standar luasan ruang hijau kota.
Menurut Eckbo (1964), untuk mengakomodasikan kebutuhan antara 100-300
orang, paling sedikit diperlukan 40.000 m2 luasan ruang hijau, dimana luasan
ini didistribusikan menjadi areal sebagai berikut :
Taman lingkungan ketetanggaan (neighbourhood park) seluas 4.000
m2 dengan jangkauan pelayanan 10-200 m.
Taman lingkungan komunitas seluas 100.000 m2 dengan jangkauan
pelayanan 625-900m.
Taman kota atau taman regional dengan luasan yang lebih besar dan
berada pada daerah yang strategis.
TABEL B.3 STANDAR LUASAN RUANG TERBUKA UNTUK UMUM DI PERKOTAAN

Sumber : Direktorat Tata Kota dan Daerah 1983

2) Jangkauan Pelayanan ruang hijau Kota


Jangkauan pelayanan merupakan satu aspek yang harus diperhitungkan dalam
penyediaan ruang hijau kota. Dalam hal ini jangkauan pelayanan dihitung
dengan jarak pencapaian penduduk terhadap suatu lokasi ruang hijau kota.
Adapun hirarki jangkauan pelayanan dikaitkan dengan klasifikasi ruang hijau
kota (Van Rooden, City Landscape,1977) adalah sebagai berikut:
Ruang hijau Lingkungan Rukun Tetangga/Rukun Warga : jangkauan
pelayanan 250 meter.
Ruang hijau Lingkungan Rukun Kelurahan : jangkauan pelayanan 1.250
meter.
Ruang hijau Lingkungan Kecamatan : jangkauan pelayanan 9.000 meter.
Ruang hijau Lingkungan Kota : jangkauan pelayanan 24.000 meter.

3) Dimensi Ruang Hijau Kota


Tiap skala lingkungan memerlukan dimensi ruang hijau yang berbeda-beda.
Makin tinggi hirarki lingkungan, maka kebutuhan dimensi ruang hijau juga
semakin besar, sebagai berikut:
Ruang hijau Lingkungan Rukun Tetangga/Rukun Warga : Luas 5.000 m2.
Ruang hijau Lingkungan Rukun Kelurahan : Luas 50.000 m2
Ruang hijau Lingkungan Kecamatan : Luas 80.000 m2
Ruang hijau Lingkungan Kota : Luas 200.000 m2

4) Aktivitas Masyarakat pada Ruang Hijau Kota


Kegiatan masyarakat pada ruang hijau kota akan mempengaruhi
kelangsungan hidup dan daya tahan/pemeliharaan fasilitas dalam ruang
hijau kota itu sendiri, sebagai berikut:
Ruang hijau Lingkungan Rukun Tetangga/Rukun Warga : sifat kegotong
royongan masyarakat di tingkat RT/RW masih memungkinkan
masyarakat secara bersama- sama mengelola dan merawat ruang hijau di
tingkat komunitas RT/RW ini.
Ruang hijau Lingkungan Rukun Kelurahan : di tingkat kelurahan ini sudah
mulai terbentuk paguyuban di tingkat kelurahan, sehingga pengelolaan
dan pemeliharaan ruang hijau dapat laksanakan melalui kegiatan PKK
maupun Karang Taruna.
Ruang hijau Lingkungan Kecamatan : di tingkat kecamatan, pemanfaatan
ruang hijau juga dapat berfungsi sebagai kebun bibit dan dikelola
oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertamanan, Kebersihan dan
Keindahan Kota. Tetapi di tingkat perumahan yang dikelola oleh swasta
pengelolaan dan pemeliharaan ruang hijau bekerjasama dengan pihak
swasta/developer perumahan yang ditunjuk.
Ruang hijau Lingkungan Kota : biasanya pengelolaan dan
pemeliharaannya langsung dibawah pemerintah daerah melalui Dinas
Pertamanan, Kebersihan dan Keindahan Kota atau bekerjasama dengan
pihak swasta yang ditunjuk sekaligus untuk pengelolaan perparkiran.

Analisis perhitungan luasan ruang hijau kota dapat dilakukan dengan


berbagai metoda sebagai berikut:

1) Berdasarkan Proyeksi Pertumbuhan Penduduk.


Proyeksi Penduduk adalah perhitungan (kalkulasi) yang menunjukkan keadaan
fertilitas, mortalitas, dan migrasi di masa yang akan datang. Proyeksi penduduk
akan dihitung dengan menggunakan tiga jenis model proyeksi penduduk,
diantaranya proyeksi penduduk aritmatik, proyeksi penduduk eksponensial, dan
proyeksi penduduk geometris.

TABEL B.4 STANDAR KEBUTUHAN RTH BERDASARKAN JUMLAH PENDUDUK


Luas
No Unit Tipe RTH Minimal/Unit Lokasi
Lingkungan
(m2)
1. 250 jiwa Taman RT 250 Di Tengah lingkungan RT

2. 2500 jiwa Taman RW 1.250 Di pusat kegiatan


RW
3. 30.000 jiwa Taman 9.000 Dikelompokkan dengan
Kelurahan sekolah/Pusat kelurahan

4. 120.000 jiwa Taman 24.000 Dikelompokkan dengan


Kecamatan sekolah/Pusat Kecamatan

Pemakaman Disesuaikan Tersebar


5. 480.000 jiwa Taman Kota 144.000 Dipusat wilayah/kota
Hutan Kota Disesuaikan Didalam/Kawasan
Pinggiran
Untuk Fungsi- Disesuaikan Disesuaikan dengan
Fungsi Tertentu Kebutuhan
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 05/PRT/M/2008
2) Berdasarkan kebutuhan Ruang terbuka.
Kebutuhan Luas Ruang Terbuka dengan pendekatan jumlah penduduk
menurut Van Rooden, dalam bukunya Green Space In. Cities City
Lanscape th. 1977 mengasumsikan bahwa kebutuhan Tata Ruang Hijau
standart adalah 1m2 / jiwa.
Dari standar ini, dapat dianalisa bahwa kebutuhan Ruang Terbuka untuk 1
orang penduduk sebanding dengan kebutuhan area seluas 1m2. Jika luasan 1m2
Ruang Terbuka tersebut diasumsikan untuk kegiatan sirkulasi, gerak dan ruang
hijau dengan perbandingan sebagai berikut :
25% dari 1m2 untuk area sirkulasi = 0,25 m2
50% dari 1m2 untuk ruang gerak = 0,50 m2
25% dari 1m2 untuk ruang hijau = 0,25 m2

Berarti dari luasan 1m2 ruang terbuka yangh dibutuhkan oleh setiap 1 orang
penduduk, maka minimal membutuhkan 0,25 m2 untuk kebutuhan ruang
hijau.Analisis menurut Van Rooden ini adalah metode yang paling
simpel untuk menentukan kebutuhan Ruang Terbuka dan Kebutuhan Ruang
Hijau yang dibutuhkan oleh setiap 1 orang penduduk.
3) Analisis berdasarkan Proporsi Penggunaan Ruang.
Seiring dengan perkembangan kota yang mengakibatkan konversi Ruang Hijau
Kota menjadi fasilitas bangunan, pencemaran di kota mulai terjadi. Dari hasil
penelitian di beberapa kota besar, Odum (1985) menyimpulkan bahwa angka
perbandingan luasan penggunaan ruang / kawasan yang baik untuk suatu kota
dalam prosentase yang proporsional.

TABEL B.5 PERBANDINGAN FASILITAS DAN RUANG DI PERKOTAAN

Prosentase Luas
No. Fasilitas Dan Ruang Kawasan Kawasan
Dibanding Luas
Perkotaan

1 Area Perdagangan dan Industri 15 %


2 Prasarana Transportasi dan Perhubungan Kawasan 20 %
3 Perkantoran dan Prasarana Pendidikan Kawasan 10 %
4 Taman dan Jalur Hijau 15 %
5 Kawasan Permukiman 40 %

JUMLAH 100 %
Sumber : Odum (1985) dalam Chafid Fandeli

Dari Tabel tersebut, jelas bahwa dari 100% luasan areal perkotaan, 15% dari luas
wilayah harus dikonversikan untk Ruang Hijau (Taman dan Jalur Hijau),
sementara untuk areal kawasan yang lain, 15% dari luasan masing-masing
kawasan tersebut harus disisakan untuk Ruang Hijau dan Penghijauan.
4) Analisis berdasarkan emisi oksigen dan absorbsi carbon (metode Geravkis).
Pencemaran udara di Lingkungan Perkotaan terkait erat dengan produksi dan
penyerapan gas CO2 serta O2 oleh alam maupun manusia. Untuk
mengetahui kebutuhan luasan ruang Hijau dapat dilakukan penghitungan
dengan pendekatan menurut Geravkis (1977) dalam Buku Arifin (1997).
Dimana ada 3 unsur yang menggunakan Oksigen untuk kebutuhan
hidup dan kelancaran aktivitas yakni manusia, hewan dan kendaraan. Dengan
rumus:

( Xt + Yt + Zt ) m2
Lt =
( 54 ) ( 0,9375)

Dimana :
Lt = Jumlah Luasan RTH pada th. t (m2)
Xt = Jumlah Kebutuhan Oksigen pada Manusia (penduduk) pada tahun t
Yt = Jumlah kebutuhan Oksigen pada Hewan / Ternak pada tahun t
Zt = Jumlah kebutuhan Oksigen pada kendaraan bermotor pada tahun t
54 = Nilai bhw 1 m2 lahan perhari menghasilkan bahan kering 54 gr
0,937 = Nilai bhw 1 gr bahan kering setara dengan produksi oksigen 0,9375

5) Analisis Berdasar Kebutuhan Oksigen (Metode Kebutuhan O2)


Semakin tinggi populasi manusia, Tata Ruang Hijau yang harus dibangun juga
semakin luas. Namun pada kenyataannya, dengan semakin padat dan semakin
meningkatnya kegiatan manusia, maka biasanya harga lahan akan semakin
mahal dengan peruntukan lahan yang semakin beragam. Sehingga pada
pelaksanaannya sering mengalami hambatan. Dengan menggunakan sistem
analisis perhitungan Luas Ruang Hijau berdasarkan Kebutuhan Oksigen bagi
penduduk, maka Tata Ruang Hijau yang harus disediakan juga cenderung
bergerak naik, sesuai dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk.
Tata Ruang Hijau yang dibangun dapat dihitung berdasarkan pendekatan
pemenuhan oksigen (Kunto, 1986) dengan rumus :

V + b.W
L = -------------------
20

L : luas Tata Ruang Hijau (m2)


a : kebutuhan oksigen per orang (kg/jam)
b : rerataan kebutuhan oksigen per kendaraan bermotor (kg/jam)
V : jumlah penduduk
W : jumlah kendaraan bermotor
20 : tetapan (kg/jam/ha)

6) Analisis berdasarkan kebutuhan Lahan untuk Resapan Air (metode Bernatzky)


Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan
memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopis
dengan kemampuan menyerap air yang besar (Bernatzky, 1978). Maka kadar
air tanah hutan akan meningkat.
Pada daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan air, hendaknya
ditanami dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang
rendah. Di samping itu sistem perakaran dan serasahnya dapat memperbesar
porositas tanah, sehingga air hujan banyak yang masuk ke dalam tanah sebagai
air infiltrasi dan hanya sedikit yang menjadi air limpasan.
Menurut Manan (1976) tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang
rendah antara lain : cemara laut Casuarina equisetifolia), Ficus elastica, karet
(Hevea brasiliensis), manggis (Garcinia mangostana), bungur
(Lagerstroemia speciosa), Fragraea fragrans dan kelapa (Cocos nucifera).
Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke
lapisan tanah yang lebih dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah. Dengan
demikian Tata Ruang Hijau yang dibangun pada daerah resapan air dari kota
yang bersangkutan akan dapat membantu mengatasi masalah air dengan
kualitas yang baik. Hal ini dapat dinyatakan dengan rumus di bawah ini:
Po. K (1 + r - c)t - PAM - Pa
La = ---------------------------------------
z

La : luas Tata ruang hijau yang harus dibangun


Po : jumlah penduduk
K : konsumsi air per kapita 1/hari)
r : laju peningkatan pemakaian air
c : faktor pengendali
PAM : kapasitas suplai perusahaan air minum
t : tahun
Pa : potensi air tanah
z : kemampuan Tata Ruang Hijau dalam menyimpan air

Penentuan vegetasi didasarkan pada beberapa analisis berikut ini :


1) Berdasarkan karakteristik sebagai elemen lansekap.
Karakteristik tanaman akan memberikan kesan alami lingkungan, khususnya
pada kawasan di pusat kota (urban), karena tanaman dapat menjadi penyegar
visual terhadap elemen-elemen yang bersifat keras dan kasar. Selain
memberikan kelembutan relatif terhadap lingkungannya yang keras, kasar dan
kaku, juga akan memberikan kualitas yang harmonis walaupun penataannya
tidak direncanakan secara maksimal. Untuk itu pengenalan terhadap jenis-jenis
tanaman merupakan langkah awal yang baik untuk menganalisis vegetasi
dalam perencanaan Tata Ruang Hijau.Secara garis besar, jenis tanaman
terbagi menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Pohon
Berdasarkan ukurannya, pohon dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
Pohon Besar : memiliki ketinggian lebih dari 12 meter, dalam
penataan lansekap berfungsi sebagai unsur penting yang secara fisik
membagi ruang- ruang perkotaan dan perdesaan yang luas, yang tidak
mungkin dibatasi oleh bangunan karena kendala permukaan tanah
menjadi ruang-ruang yang lebih kecil.
Pohon Sedang : memiliki ketinggian antara 9-12 meter, dalam
penataan lansekap berfungsi sebagai pengatur komposisi bersama-sama
dengan tanaman semak serta berfungsi untuk membatasi ruang pada
bidang vertikal.
Pohon Kecil / Perdu : memiliki ketinggian maksimal 4,5 meter,
dalam penataan lansekap berfungsi untuk memberikan aksen visual
dalam komposisi, sebagai pembatas atau latar depan yang bersifat
transparan, sebagai akhiran dari ruang linear dan daya tarik bagi suatu
area Main Entrance.
b. Semak / Perdu
Berdasarkan ukurannya, tanaman semak dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
Semak Tinggi (tinggi maksimal 4,5 meter), Semak Sedang (tinggi 1 meter)
dan Semak Rendah (tinggi 0,3 1 meter). Fungsi dari tanaman semak adalah
Menghubungkan secara visual dua sisi komposisi menjadi satu kesatuan
Sebagai pengarah ke satu titik tujuan
Sebagai pembatas ruang vertikal, tetapi masih mampu
memberikan pandangan terbuka ke atas

c. Penutup Tanah / Ground Cover


Ciri dari tanaman Penutup Tanah / Ground Cover adalah jenis tanaman
ini memiliki ketinggian antara 15-30 cm dan merupakan jenis tanaman
terkecil menurut ukurannya. Fungsi dari tanaman Penutup Tanah adalah :
Untuk membentuk tepi atau batas ruang
Menyatukan komposisi dari kelompok-kelompok tanaman
Bentuk tanaman secara individual atau kelompok merupakan bentuk
keseluruhan dari pertumbuhan tanaman atau bentuk luar silhouetenya.
Walaupun secara visual tidak sekuat ukurannya, tetapi bentuk tanaman juga
sebagai kunci dalam pembentukan komposisi tanaman yang dapat
mempengaruhi kesatuan dan keanekaragaman. Bentuk tanaman juga berperan
sebagai aksen atau latar belakang yang menyelaraskan tanaman dengan
unsur-unsur padat lainnya dalam perancangan lansekap.
Secara garis besar, tipe dasar dari bentuk tanaman terbagi menjadi bentuk :
Menyebar (horisontal), Globular (bulat), Conical (piramidal), Weeping
(merunduk) dan Pecturesgue (bentuk yang menarik / abstrak).
2) Analisis Fungsi Tanaman sebagai elemen lansekap
Sebagai salah satu elemen lansekap, terutama dalam Rencana Tata Ruang
Hijau, tanaman memiliki 3 (tiga) fungsi utama dalam elemen lansekap, yaitu :
Fungsi Arsitektural, Fungsi Estetis dan Fungsi Penyangga Lingkungan, yang
secara lebih detail akan diuraikan berikut ini :
a. Fungsi tanaman sebagai unsur arsitektural
Tanaman sebagai elemen pembentuk ruang.
Pembentuk Ruang Terbuka : tanaman menciptakan ruang yang
terbuka ke segala arah, memberikan kesan lapang, berorientasi
keluar dan tidak memiliki keleluasaan pribadi.
Pembentuk Ruang Semi Terbuka : tanaman menciptakan situasi
dimana ruang terbuka tercipta, tetapi salah satu sisinya memiliki
ketinggian yang lebih dan berfungsi sebagai dinding vertikal yang
menghalangi pandangan ke dalam atau ke luar ruang, sehingga
kesannya lebih tertutup dibanding sisi lainnya. Komposisi tanaman ini
memiliki orientasi yang kuat pada salah satu sisi yang terbuka.
Pembentuk Ruang Beratap : jenis tanaman peneduh biasanya memiliki
tajuk tanaman yang lebih rapat dan dapat membentuk ruang yang
bagian atasnya tertutup seperti atap, tetapi bagian sisinya
terbuka. Massa daun dan percabangannya yang terletak pada tajuk
pohon membentuk atap ruang luar dan membatasi pandangan ke
langit serta mempengaruhi skala vertikal ruang yang tercipta tersebut.
Pembentuk Ruang Vertikal : ruang dengan orientasi vertikal dapat
terbentuk dari jajaran pepohonan yang tinggi dan ramping. Karena
pada bidang vertikal, unsur tanaman mempengaruhi persepsi ruang
dengan berbagai cara. Batang pohon berperan sebagai tiang vertikal
pada ruang luar, pola susunan pohon dan kepadatan pohon serta
ukuran batang akan membentuk ruang dengan tingkat ketertutupan
yang bervariasi, sementara massa daun dapat mempengaruhi bidang
vertikal ketertutupan ruang. Sehingga semakin tinggi, besar dan rapat
daun suatu tanaman, kesan ketertutupan ruangnya semakin kuat.
Tanaman Sebagai Penyekat / Pembatas Ruang
Fungsi arsitektural tanaman sebagai penyekat dan pembatas ruang
adalah untuk menutupi obyek atau pandangan yang kurang menarik
dari suatu lingkungan yang telah tercipta dan sebagai pembatas
pandangan menuju ke arah obyek yang akan dilihat. Sifat tanaman
sebagai penyekat atau pembatas ini dapat berupa unsur yang tegas
atau hanya menghalangi pandangan saja.
Fungsi Tanaman Sebagai Unsur Estetis
Ditinjau dari sudut estetis ruang luar dalam elemen arsitektur lansekap,
tanaman dapat menjadi penghubung bangunan dengan tapak lain di
sekitarnya, menyelaraskan lingkungan yang tidak beraturan,
memperkuat titik-titik dan area sekitarnya, serta mengurangi kekakuan
unsur-unsur lain yang bersifat kaku dan keras.
b. Fungsi Tanaman sebagai Unsur Penyangga Lingkungan
Peran pepohonan dan vegetasi sebagai penyangga lingkungan mungkin
akan lebih dapat dirasakan sebagai suatu hal yang mendukung kesehatan,
kenyamanan dan keamanan dalam elemen lansekap ruang luar.
Tanaman Sebagai Barrier Sinar Matahari
Manusia sering dikelilingi oleh benda-benda yang dapat memantulkan
cahaya seperti kaca, aluminium, baja, beton dan air atau oleh sumber
utama cahaya itu sendiri, yaitu matahari. Apabila permukaan yang
halus dari benda-benda tersebut memantulkan cahaya akan terasa
sangat menyilaukan dari arah depan, akan mengurangi daya
pandang pengendara. Oleh sebab itu, cahaya silau tersebut perlu untuk
dikurangi. Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan
cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan kerapatannya. Pohon
dapat dipilih berdasarkan ketinggian maupun kerimbunan.
Tanaman Sebagai Peredam Kebisingan
Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang
suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif
untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan
daun yang rindang (Grey dan Deneke, 1978).
Dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata
yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan,
khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah. Menurut
Grey dan Deneke (1978), dedaunan tanaman dapat menyerap
kebisingan sampai 95%.
Tanaman Sebagai Filter Udara Kotor
Bertujuan untuk mencegah terjadinya pencemaran udara yang
berlebihan oleh adanya asap kendaraan, asap buangan industri dan
gas-gas beracun lainnya akibat proses kegiatan manusia. Penghijauan
sangat berguna karena adanya peningkatan kesibukan di kota. Asap
kendaraan maupun gas beracun lainnya mengambang di udara dan
secara tidak disengaja dihirup oleh manusia. Secara kimiawi zat hijau
daun merubah CO2 menjadi O2, serta menyerap zat-zat racun lainnya
seperti Nitrogen dan Sulphure. Penanaman vegetasi di pusat kota juga
berfungsi untuk menahan debu, mengurangi kebisingan dan menahan
aliran angin yang cukup keras.

B.1.13 Jangka Waktu Pelaksanaan (Cukup Jelas)

Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan ini akan dilaksanakan dalam 3 (tiga) bulan
atau 90 (sembilan puluh) hari kalender, sejak tanggal Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)
ditetapkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen Dinas PUPRP Kabupaten Tanah Laut.
Tabel B.6 JADWAL WAKTU PENYELESAIAN KEGIATAN IDENTIFIKASI DAN
PEMETAAN KAWASAN RTH PERKOTAAN PELAIHARI, TAMBANG ULANG,
JORONG, DAN KINTAP

Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, dan
Total
Kintap
Uraian Persiapan, Laporan Survey dan Revisi Draft Revisi Keseluruhan
Kegiatan survey, dan Pendahuluan pengumpulan Laporan Laporan Laporan waktu
mobilisasi data FA dan Rencana, Rencana perencanaan
personil, eksisting, FGD Final FGD dan Final
kelengkapan Data dan Laporan Laporan Laporan
data Analisa, dan FA Rencana Rencana
Draft Laporan
Fakta dan
Analisa
Perkiraan
Waktu yang 15 hari kerja 45 hari kerja 30 hari kerja 90hari kerja
Dibutuhkan

Tabel B.7 TAHAPAN PENYELESAIAN KEGIATAN IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN


KAWASAN RTH PERKOTAAN PELAIHARI, TAMBANG ULANG, JORONG, DAN
KINTAP
NO. PEKERJAAN I II III

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Persiapan

2 Survey dan Pengumpulan data awal

3 Rapat Koordinasi sebelum Laporan Pendahuluan

4 Paparan Laporan Pendahuluan

5 Survey pengumpulan data eksisting dan analisis

6 Pengumpulan draft laporan antara untuk FGD

7 Rapat koordinasi Sebelum FGD Laporan Fakta


Analisa

8 FGD data dan Analisis

9 Revisi dan Pengumpulan Laporan Fakta Analisa

10 Paparan Laporan Fakta Analisa

11 Pengumpulan Draft Laporan Rencana

12 Rapat Koordinasi sebelum FGD Rencana

13 FGD Rencana

14 Paparan Laporan Rencana


16 Pengumpulan Laporan Final
B.1.14 Mekanisme Penyelenggaraan Pekerjaan (Cukup Jelas)

Di dalam penyelenggaraannya, pemberi tugas (Pengguna Anggaran) akan menunjuk


seseorang dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Kabupaten
Tanah Laut sebagai Pemimpin Pelaksana Teknis Kegiatan atau disingkat PPTK (yang
dalam tugas sehari-hari akan dibantu oleh beberapa aparat pelaksana) dan berada
dibawah koordinasi serta bertanggung jawab secara sentris kepada Kepala Bidang Tata
Ruang dan Dinas PUPRP Kabupaten Tanah Laut atas keseluruhan penyelenggaraan
kegiatan dari sejak awal persiapan pekerjaan sampai serah terima pekerjaan, yang dalam
pelaksanaannya akan dibantu oleh rekanan jasa Konsultan terpilih (setelah melalui proses
seleksi umum dan ikatan Kontrak Pekerjaan), sehingga secara otomatis rekanan jasa
konsultan tersebut akan menjadi satu kesatuan lembaga pelaksana kegiatan dan ikut
bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan maksud, tujuan, dan
sasaran sebagaimana uraian diatas. Adapun untuk memperoleh rekanan jasa konsultan
terpilih, dilakukan melalui proses seleksi umum sesuai dengan ketentuan yang berlaku oleh
ULP yang dalam hal ini bertindak selaku unsur pembantu dan berada dibawah koordinasi
Unit Layanan Pengadaan Kabupaten Tanah Laut. Sedangkan pelaksana pemeriksaan,
pengarahan, pengendalian dan penerimaan terhadap setiap tahap kegiatan jasa konsultan
terpilih, akan dilakukan oleh Tim teknis (sebagai unsur independent), yang beranggotakan
unsur-unsur dari dinas/instansi terkait di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Tanah Laut.
Adapun untuk menjaga kualitas hasil pekerjaan, sebelum penandatangan kontrak
diadakan kick off meeting yang diselenggarakan oleh SKPD pemberi jasa.

B.1.15 Arahan Pelaksanaan Pekerjaan (Cukup Jelas)

Arahan awal yang dapat diberikan kepada rekanan jasa Konsultan terpilih untuk
melaksanakan kegiatan ini,antara lain:

1. Selalu mengupayakan keterlibatan peran serta masyarakat sesuai dengan ketentuan


yang berlaku.
2. Menyiapkan peta kerja awal berupa peta dasar yang dapat dijamin tingkat akurasinya,
bersumber antara lain dari : Bakosurtanal, Citra landsat, Ground Check, dan studi-studi
terdahulu yang pernah dilakukan berkaitan dengan project area,
3. Untuk melaksanakan survey dan koordinasi lapangan, personil konsultan harus selalu
didampingi aparat yang ditunjuk oleh Pemimpin Pelaksana Teknis Kegiatan disertai
surat pengantar dari Kuasa Pengguna Anggaran Bidang Tata Ruang DPUPRP
Kabupaten Tanah Laut sebagai legalitas pelaksana,
4. Peta yang disajikan harus menggunakan program-program aplikasi komputer yang
mana file database nya harus diberikan kepada pihak penyedia jasa.

B.1.16 Peralatan yang Dibutuhkan (Cukup Jelas)

Untuk pelaksanaan pekerjaan penyusunan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH


Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, Dan Kintap diperlukan peralatan minimal:

1. Komputer sebanyak 2 buah


2. Printer A4 dan A3
3. Rumah sewa sebagai basecamp di Kabupaten Tanah Laut
4. Kendaraan roda 2 sebanyak 2 buah
5. Kendaraan roda 4 sebanyak 1 buah
6. Drone sebanyak 1 buah
7. GPS sebanyak 2 buah

B.1.17 Sumber Pembiayaan dan Pembebanan Biaya Pekerjaan (Cukup Jelas)

Sumber pembiayaan dan pembebanan biaya Identifikasi dan Pemetaan Kawasan


RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong, Dan Kintap akan dilaksanakan dengan
total biaya sebesar Rp. 143.467.500,00- (terbilang : seratus empat puluh tiga juta empat
ratus enam puluh tujuh ribu lima ratus rupiah) yang bersumber dari DPA Dinas Pekerjaan
Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Kabupaten Tanah Laut Tahun Anggaran 2017
termasuk PPN.

B.1.18 Nama Orgaisasi dan Pengguna Jasa (Cukup Jelas)


1. Nama dan organisasi Pengguna Jasa adalah Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang
dan Pertanahan Kabupaten Tanah Laut selanjutnya disingkat DPUPRP Kabupaten
Tanah Laut.
2. Alamat Kantor : Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Pertanahan Kabupaten
Tanah Laut
Jalan A. Syairani Komplek Perkantoran Gagas Pelaihari 70814
telp 0512-21065

B.1.19 Pelaporan (Cukup Jelas)


1. Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan memuat antara lain latar belakang, maksud-tujuan dan sasaran,
ruang lingkup, tinjauan kebijakan dan literatur, metodologi pelaksanaan pekerjaan,
rencana kerja (jadwal pelaksanaan pekerjaan dan organisasi pelaksanaan pekerjaan),
identifikasi awal deliniasi kawasan perkotaan Kabupaten Tanah Laut, kawasan RTH
eksisting yang ada, dan lain-lain. Laporan pendahuluan disajikan dalam bentuk format
A4 dan diserahkan paling lambat 14 (empat belas) hari setelah dikeluarkannya Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 10 (sepuluh) buku.
2. Laporan Antara
Laporan Antara memuat antara lain gambaran umum kondisi dan data-data eksisting
kawasan perencanaan, hasil diskusi teknis/pembahasan dan analisa berbagai aspek
seperti : aspek pembiayaan, aspek kepemilikan lahan, aspek kelembagaan dan
pengelolaan, serta FGD. Laporan antara disajikan dalam format A3 dan diserahkan
paling lambat 2 (dua) bulan setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK),
sebanyak 10 (sepuluh) buku.
3. Laporan Akhir
Laporan Akhir memuat antara lain rumusan kesimpulan hasil kajian/analisa, rumusan
konsep investasi dan rumusan rekomendasi teknis maupun non teknis. Laporan Akhir
disajikan dalam format A3 dan diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah
dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 10 (sepuluh) buku.
4. Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif memuat ringkasan hasil pelaksanaan pekerjaan. Ringkasan
Eksekutif disajikan dalam format F4, dengan format dibuat semenarik mungkin untuk
sarana informasi dan diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkannya
Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 15 (lima belas) buku.
5. Album Gambar
Album Gambar memuat tentang desain pra rancangan (pre eliminary design) yang
mencakup site plan, perspektif tiga dimensi (3D), gambar bangunan (layout, denah,
tampak, potongan dari bangunan serta jalan dan utilitas dan detil-detil lainnya
kawasan perencanaan. Album Gambar disajikan dalam dokumen A3 art paper digital
printing dan diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkannya Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 10 (sepuluh).
6. Laporan Hasil Survey
Laporan Hasil Survey memuat tentang desain survey dan hasil pelaksanaan survey,
termasuk dokumentasi pelaksanaan survey. Laporan Hasil Survey disajikan dalam
format F4 dan diserahkan diserahkan paling lambat 2 (dua) minggu setelah
berakhirnya pelaksanaan survey, sebanyak 5 (lima) buku.
7. DVD Laporan
DVD Laporan memuat soft copy laporan hasil pelaksanaan pekerjaan, hasil diskusi dan
pembahasan, dokumentasi dan data lainnya.diserahkan dalam bentuk DVD Laporan
diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai
Kerja (SPMK), sebanyak 5 (lima) keping DVD per tahapan pekerjaan.

B.1.20 Kepemilikan Data dan Hasil Kegiatan (Cukup Jelas)

Seluruh bentuk data, dokumen, dokumentasi foto, selama melaksanakan kegiatan


menjadi hak milik Pengguna Jasa. Konsultan diwajibkan menyerahkan seluruh laporan yang
meliputi; laporan akhir dan juga laporan-laporan substansi tertentu yang disyaratkan
dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) ini, serta data dan informasi terkait lainnya dan
didokumentasikan dengan baik ke dalam soft file dalam bentuk flash disk.

B.1.21 Penutup (Cukup Jelas)

Kerangka acuan kerja ini dibuat sebagai input bagi konsultan untuk melaksanakan
penawaran biaya/nilai pekerjaan kepada pemberi tugas/ pengguna jasa dan sekaligus
sebagai pedoman dalam tugas nantinya apabila ditetapkan sebagai konsultan pemenang
untuk paket pekerjaan ini.
B.2 URAIAN PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM
KERJA
B.2.1 URAIAN PENDEKATAN
A. Pengertian
1. Ruang Terbuka
Secara umum ruang terbuka public (open space) diperkotaan terdiri dari

ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non-hijau9. Ruang terbuka


merupakan komponen berwawasan lingkungan, yang mempunyai arti
sebagai suatu lansekap, hardscape, taman atau ruang rekreasi dalam
lingkup urban.

Ruang terbuka adalah ruang yang bisa diakses oleh masyarakat baik secara
langsung dalam kurun waktu terbatas maupun secara tidak langsung dalam
kurun waktu tidak tertentu. Ruang Terbuka itu sendiri dapat berupa ruang
terbuka yang diperkeras (paved) maupun ruang terbuka biru (RTB) yang
berupa permukaan sungai, danau maupun areal-areal yang diperuntukkan
sebagai kawasan genangan (retention basin). Berdasarkan fungsinya, ruang
terbuka juga bisa merupakan ventilasi kota, dapat berupa jalan, trotoar, ruang
terbuka hijau, dan sebagainya. Berdasarkan bentuknya, ruang terbuka juga
dapat diartikan sebagai ruang interaksi seperti kebun binatang, taman
rekreasi, dan sejenisnya. Adapun berdasarkan sifatnya, ruang terbuka dapat
dibedakan menjadi :
a. Ruang t erbuka privat , memiliki batas waktu tertentu
untuk mengaksesnya dan kepemilikannya bersifat pribadi
seperti, ha laman rumah tinggal,
b. Ruang t erbuka semi privat , kepemilikannya pribadi tetapi
dapat diakses langsung oleh masyarakat seperti, Senayan,
Ancol.
c. Ruang t erbuka umum, kepemilikannya oleh pemerintah
dan bisa diakses langsung oleh masyarakat tanpa batas
waktu ter tentu seperi, alun -alun, trotoar.

2. Ruang Terbuka Hijau


Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai infrastruktur hijau perkotaan adalah
bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang
diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna
mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh
RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan
keindahan wilayah perkotaan tersebut. Sedangkan secara fisik RTH dapat
dibedakan menjadi RTH alami yang berupa habitat liar alami, kawasan lindung
dan taman-taman nasional, maupun RTH non-alami atau binaan yang seperti
taman, lapangan olah raga dan kebun bunga.
3. Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP)
Berdasarkan peraturan menteri dalam negeri nomor 1 tahun 2007 pada bab 1
pasal 1 ayat 2 yang menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau Kawasan
Perkotaan yang selanjutnya disingkat RTHKP adalah bagian dari ruang
terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman
guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.
Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial dan kegiatan ekonomi.

Berdasarkan fungsinya, Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat difungsikan sebagai


berikut :
a. Ekologis
RTH dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir,
mengurangi polusi udara, dan menurunkan temperature kota. Bentuk-
bentuk RTH perkotaan secara ekologis antara lain :
- Sabuk hijau kota
- Hutan kota
- Taman botani
- Sempadan sungai, dll.
b. Sosial/budaya
RTH sebagai ruang interaksi social, sarana rekreasi, dan sebagai tetenger
kota yang berbudaya. Bentuk RTH perkotaan secara social/budaya
antara lain :
- Taman-taman kota
- Lapangan olah raga
- Kebun raya
- TPU, dll.
c. Estetika
RTH dapat meningkatkan nilai keindahan dan kenyamanan kota melalui
keberadaan taman-taman kota, kebun-kebun bunga dan jalur-jalur hijau
di jalan-jalan kota.
d. Ekonomi
RTH dapat berfungsi secara langsung seperti penghusahaan lahan-lahan
kosong menjadi lahan pertanian/perkebunan dan pengembangan sarana
wisata hijau perkotaan yang dapat mendatangkan wisatawan.
4. Peran RTH dalam penataan Ruang Perkotaan
Secara umum penataan ruang ditujukan untuk menghasilkan suatu
perencanaan tata ruang yang kita inginkan dimasa yang akan datang.
Rencana tersebut lalu diwujudkan dalam bentuk pemanfaatan ruang yang
sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Pada dasarnya perencanaan tata
ruang perkotaan seyogyanya dimulai dengan mengidentifikasi kawasan-
kawasan yang secara alami harus diselamatkan (kawasan lindung) untuk
menjamin kelestarian fungsi lingkungan, dan kawasan-kawasan yang secara
alami rentan terhadap bencana (prone to natural hazards) seperti gempa,
longsor, banjir maupun bencana alam lainnya. Dengan demikian perencanaan
tata ruang di perkotaan seyogyanya harus dapat mengakomodasi
kepentingan-kepentingan social untuk mewadai aktifitas masyarakat, serta
kepentingan-kepentingan lingkungan untuk menjamin keberlanjutan.

Agar keberadaan RTH di perkotaan dapat berfungsi secara efektif baik secara
ekologis maupun secara planologis, perkembangan RTH tersebut sebaiknya
dilakukan secara hierarki dan terpadu dengan system struktur ruang yang ada
di perkotaan. Dengan demikian keberadaan RTH bukan sekedar menjadi
elemen pelengkap dalam perencanaan suatu kota semata, melainkan lebih
merupakan sebagai pembentuk struktur ruang kota, sehingga kita dapat
mengidentifikasi hierarki struktur ruang kota melalui keberadaan komponen
pembentuk RTH yang ada.

5. Tujuan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Menurut Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2008 Tujuan dari penyelenggaraan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah :
a. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air,
b. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara
lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk
kepentingan masyarakat.
c. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana
pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan
bersih.
6. Fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan
Ada dua fungsi Ruang Terbuka Hijau pada kawasan perkotaan yaitu antara
lain :
a. Fungsi utama (intrinsik) yaitu sebagai :
- Memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem
sirkulasi udara (paru-paru kota).
- Pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami
dapat berlangsung lancar
- Sebagai peneduh
- Produsen oksigen
- Penyerap air hujan
- Penyedia habitat satwa
- Penyerap polutan media udara, air dan tanah, serta
- Penahan angin.

b. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu:


Fungsi sosial dan budaya:
- Menggambarkan ekspresi budaya lokal
- Merupakan media komunikasi warga kota
- Tempat rekreasi
- Wadah dan objek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam
mempelajari alam.

Fungsi ekonomi:
- Sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah, daun,
sayur mayur;
- Bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan
dan lain-lain.

Fungsi estetika:
- Meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik
dari skala mikro; halaman rumah, lingkungan permukimam, maupun
makro; lansekap kota secara keseluruhan;
- Menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota;
- Pembentuk faktor keindahan arsitektural;
- Menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun
dan tidak terbangun.

Dalam suatu wilayah perkotaan, empat fungsi utama ini dapat


dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan
kota seperti perlindungan tata air, keseimbangan ekologi dan konservasi
hayati.

7. Manfaat Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Ada dua manfaat Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada kawasan perkotaan yaitu :
a. Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible), yaitu
membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh, segar, sejuk) dan
mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu, daun, bunga, buah)
b. Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible),
yaitupembersih udara yang sangat efektif, pemeliharaan akan
kelangsungan persediaan air tanah, pelestarian fungsi lingkungan beserta
segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau
keanekaragaman hayati).

8. Tipologi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami,
kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan
seperti taman, lapangan olahraga, pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan.
Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis, sosial budaya, estetika, dan
ekonomi.
Secara struktur ruang, RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok,
memanjang, tersebar), maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan
struktur ruang perkotaan20

Gambar B.9 Tipologi RTH


Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

9. Karakteristik Ruang terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya. Berikut ini tabel
arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan
perkotaan:

Tabel B.8 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan
Perkotaan
Tipologi Karakteristik RTH
Kawasan
Perkotaan Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH
Pantai Pengamanan wilayah Berdasarkan luas wilayah
pantai Berdasarkan fungsi tertentu
Sosial budaya
Pegunungan Mitigasi bencana
Konservasi tanah Berdasarkan luas wilayah
Konservasi air Berdasarkan luas tertentu
Keanekaragaman hayati
Rawan Bencana Mitigasi/evakuasi bencana Berdasarkan fungsi tertentu
Berpenduduk Dasar perencanaan Berdasrkan fungsi tertentu
jarang s.d. sedang kawasan Berdasarkan jumlah
Berpenduduk sosial
ekologis penduduk
berdasarkan fungsi tertentu
padat sosial berdasarkan jumlah
hidrologis penduduk
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008
Tabel B.9 Struktur Tata Ruang Kota dan RTH
Hierarki
Fungsi Pelayanan Fasilitas umum Ruang terbuka
Kawasan
&sosial hijau
Pusat Kota - Melayani fungsi- - Pusat - Taman kota, green
fungsi regional perdagangan belt, hutan kota,
kawasan. dan bisnis taman botani dll
- Perkantoran - Fasilitas olah raga :
- Pemenuhan - Perdagangan dan stadion sepakbola
kebutuhan jasa skala besar skala
insidential seperti RS - Rumah sakit pusat regional/nasional
besar, pendidikan sarana - Jalur-jalur hijau pada
tinggi, jasa pendidikan lanjutan koridor jalan
perbangkan, dan utama
- Sarana hiburan dan
koneksi terhadap
rekreasi kota - Danau dan area
jaringan retensi pengendali
Sub-Pusat - Melayani - SMA, sekolah - Taman
transportasi banjir.
(Kecamatan) kegiatan tinggi, kecamatan,
regional/antar.
ekonomi- perpustakaan jogging track.
sosial di wilayah - Fasilitas
tingkat - Pasar kecamatan olahraga,
kecamatan stadion mini,
- Fasilitas kolam renang
- Pemenuhan perbankan, pos - Sempadan sungai,
kebutuhan dan giro situ, dan kolam-
bulanan (pusat kolam retensi
perbelanjaan, - Sarana rekreasi - Urban
pasar tradisional (bioskop, arena argriculture,
dan jasa kebon bibit,
Local - Pusat kegiatan local
perbankan) - hiburan dll)
Pendidikan - Taman
taman bunga
(Kelurahan) - Pemenuhan menengah SMP, kelurahan,
dll
kebutuhan sekolah taman bunga
mingguan kejuruan, kursus - Sarana olahraga
(belanja, bank, ketrampilan lapangan bola,
rekreasi) - Sarana ibadah : lapangan basket
- Kawasan Masjid besar, - TPU
hunian gereja - Taman
(dormitory bermain
Sub-Lokal - area)
Pemenuhan (playgroun
- Taman - Lapangan
(RT/RW) kebutuhan sehari kanak- d)
olahraga
hari (pendidikan kanak, (volley, tennis,
dasar, ibadah, sekolah dasar badminton dll)
interaksi social,- Sarana ibadah - Taman-taman privat
belanja harian dll)
- Pertokoan kecil,
warung serba ada.
Sumber : Direktorat Jendral Dep. PU TahunSarana
2006,transportasi
RTH Sebagai Unsur Utama Tata
ojek, becak dll
Ruang Kota

10. Jenis-Jenis Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Jenis-jenis Ruang Terbuka Hijau menurut Edi Purwanto Ruang terbuka
hijau berdasarkan tipenya dibedakan menjadi:
a. Ruang Terbuka Hijau Lindung (RTHL)
Ruang terbuka hijau lindungadalah ruang atau kawasan yang lebih
luas, baik dalam bentuk areal memanjang/jalur atau mengelompok,
dimana penggunaannya lebih bersifat terbuka/ umum, di dominasi oleh
tanaman yang tumbuh secara alami atau tanaman budidaya. Kawasan
hijau lindung terdiri dari cagar alam di daratan dan kepulauan, hutan
lindung, hutan wisata, daerah pertanian, persawahan, hutan bakau, dan
sebagainya.

b. Ruang Terbuka Hijau Binaan (RTHB)


Ruang terbuka hijau binaan adalah ruang atau kawasan yang lebih luas,
baik dalam bentuk areal memanjang/jalur atau mengelompok, dimana
penggunaannya lebih bersifat terbuka/ umum, dengan permukaan tanah
di dominasi oleh perkerasan buatan dan sebagian kecil tanaman.
Kawasan/ruang hijau terbuka binaan sebagai upaya menciptakan
keseimbangan antara ruang terbangundan ruang terbuka hijau yang
berfungsi sebagai paru-paru kota, peresapan air, pencegahan polusi udara
dan perlindungan terhadap flora seperti koridor jalan, koridor sungai,
taman, fasilitas olah raga, play ground, dll.
c. Koridor Hijau Jalan
Koridor hijau jalan yang berada di kanan kiri jalan dengan pepohonan di
dalamnya akan memberikan kesan asri bagi jalan tersebut dan
memberikan kesan teduh. Koridor hijau jalan dengan pepohonan akan
memberikan kesejukan bagi pengguna jalan, dengan penggunaan
pepohonan pada koridor jalan diharapkan dapat mnengurangi polusi
udara, memberi kesan asri, serta dapat menyerap air hujan (resapan air).
d. Koridor Hijau Sungai
Koridor Hijau sungai yang berada di sepanjang bantaran sungai yang
berupa tanaman akan memberikan fungsi yang beranekaragam, antara
lain pencegah erosi daerah sekitar, penyerapan ait hujan lebih banyak.
Dengan penanaman pohon-pohon yang mempunyai banyak akar
diharapkan akar-akar tersebut akan mengikat tanah-tanah di sekitar
sungai tersebut, tanaman yang dapat mecegah erosi dengan akarnya
seperti bambu, tanaman yang rapat, penanaman pohon secara rapat.
Koridor sungai juga berfungsi menjaga kelestarian suber air, sebagai batas
antara sungai dengan daerah sekelilingnya. Koridor sungai dapat
memberikan keindahan visual dengan penataan yang sesuai dan
pemanfaatan tumbuh-tumbuhan yang ada serta penambahan tumbuh-
tumbuhan berwarna-warni.
e. Taman
Taman adalah wajah dan karakter lahan atau tapak dari bagian muka
bumi dengan segala kehidupan dan apa saja yang ada didalamnya
,baik yang bersifat alami maupun buatan manusia yang merupakan
bagian atau total lingkungan hidup manusia beserta mahluk hidup
lainnya, sejauh mata memandang sejauh segenap indra kita dapat
menangkap dan sejauh imajinasi kita dapat membayangkan.

Jenis-jenis ruang terbuka menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1


Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan
bab III pasal 6 antara lain :
- Taman kota
- Taman wisata alam
- Taman rekreasi
- Taman lingkungan perumahan dan permukiman
- Taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial
- Taman hutan raya
- Hutan kota.
- Hutan lindung
- Bentang alam seperti gunung, bukit, lereng dan lembah
- Cagar alam
- Kebun raya
- Kebun binatang
- Pemakaman umum
- Lapangan olah raga
- Lapangan upacara
- Parkir terbuka
- Lahan pertanian perkotaan
- Jalur dibawah tegangan tinggi (SUTT dan SUTET)
- Sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa
- Jalur pengguna
- Jalan, median jalan, rel kereta, pipa gas dan pedestrian
- Kawasan dan jalur hijau
- Daerah penyangga (buffer zone)
- Lapangan udara
- Taman atap (roof garden)23

Dari jenis-jenis Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP), akan


dibahas lebih lanjut mengenai beberapa jenis ruang terbuka hijau, yaitu
taman kota, taman lingkungan, taman rekreasi, pemakaman umum,
lapangan olah raga, dan jalur pengaman median.

B. Taman
1. Konsep Taman
Pembuatan taman yang dilakukan oleh para penguasa kuno dalam bentuk
penataan lahan pertanian dengan variasi pengairannya merupakan wujud
pengakuan akan keindahan alam yaitu pohon yang rindang, bunga warna-
warni, aliran sungai, batu-batu dan berbagai elemen-elemen lain yang
dianggap sebagai karunia alam yang memiliki nilai estetika tinggi. Bentuk-
bentuk ini kemudian dibawa ke lahan pertaniannya untuk dijadikan
taman yang setiap saat dapat dinikmati.

2. Taman Kota
Menurut Peraturan Menteri No. 5 Tahun 2008 Taman kota adalah lahan
terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif,
edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota.

3. Taman Lingkungan
Taman lingkungan merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang berada
pada kawasan lingkungan masyarakat dalam skala lebih kecil seperti
lingkungan pengukiman, lingkungan perkantoran. Bentuk taman lingkungan
ini sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan pada
lingkungan pemukiman atau perkatoran.
Taman lingkungan pemukiman merupakan bagian dari pemukiman dalam
lingkungan itu sendiri. Sejarah transformasi adanya bentuk dan letak ruang
terbuka menunjukan bahwa ruang terbuka pada awalnya berada di
dalam kawasan terbatas, yang dipagari tembok tinggi di sekeliling unit
kelompok rumah tersebut, menjadi suatu komplek pembangunan
permukiman berbentuk cluster dimana ruang terbuka dibangun bersama.
Kemudian ruang terbuka ini menjadi lebih luas dan dikeluarkan dari rumah-
rumah individual yang berada dalam suatu lingkaran tertutup (cul de Sac),
menjadi ruang terbuka hijau permukiman untuk keperluan
pemanfaatan secara kolektif pula.

Menurut Peraturan Menteri No. Tahun 2008 Taman lingkungan adalah lahan
terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif,
edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan.
Contoh Taman Rukun Tetangga (RT)
Sumber : Peraturan Menteri PU NO. 5/PRT/M/2008

Contoh Taman Rukun Warga (RW)


Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

Contoh Taman Kelurahan


Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008
Contoh Taman Kecamatan
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

4. Ruang Terbuka Hijau (RTH) TPU


Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki
fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi
ekologis yaitu sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai
jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi
sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber
pendapatan.

Untuk penyediaan RTH pemakaman, maka ketentuan


bentukpemakaman adalah sebagai berikut:
a. Ukuran makam 1 m x 2 m
b. Jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0,5 m
c. Tiap makam tidak diperkenankan dilakukan pembongkaran/perkerasan
d. Pemakaman dibagi dalam beberapa blok, luas dan jumlah masing-
masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat
e. Batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200cm
dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya
f. Batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antar
pagar buatan dengan pagar tanaman, atau dengan pohon pelindung
g. Ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan
minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi
80% dari luas ruang hijaunya.

Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk


meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta
keindahan
Contoh Pola Penanaman Vegetasi Pada RTH Pemakaman
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

5. Jalur Pengaman Median


Jalur pengaman median merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang
berupa jalan yang berada di sepanjang jalan raya (lalu lintas), pedestrian,
jalur rel KA, area bawah jalan laying, dan berfungsi sebagai pengaman area
tersebut. Ketentuan untuk perletakan tanaman pada jalur tepi dan jalur tengah
(median) disesuaikan dengan potongan melintang standar tergantung pada
kiasifikasi fungsi jalan yang bersangkutan.

a. Jalan Arteri Primer

Potongan Jalur Pengaman Median Jalan


Sumber : Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan, PU, 1996

b. Jalan Arteri Sekunder

Potongan Jalur Pengaman Median Jalan


Sumber : Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan, PU, 1996
c. Jalan Kolektor Primer

Potongan Jalur Pengaman Median Jalan


Sumber : Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan, PU, 1996

Aplikasi Jalur Pengaman Median Jalan


Sumber : Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan, PU, 1996
6. Asumsi dan kebutuhan informasi
Data dasar lingkungan perumahan menurut Tata Cara Perencanaan
Lingkungan Perumahan di Perkotaan yaitu :
1 RT : terdiri dari dari 150 250 jiwa penduduk 1 RW (2.500 jiwa
penduduk)
1 Kelurahan : - terdiri dari 8 10 RT (30.000 jiwa penduduk)
- terdiri dari 10 12 RW (120.000 jiwa penduduk)
1 Distrik : terdiri dari 4 6 kelurahan / lingkungan
1 Kota : terdiri dari sekurang-kurangnya 1 kecamatan

Tabel B.10 Sarana ruang terbuka, taman dan lapangan olah raga
Jumlah
Kebutuhan
Penduduk Standard Radius Kriteria Lokasi dan
NO Jenis Sarana Luas Min.
Pendukun (m/Jiwa) (m) Penyelesaian
(m)
g (Jiwa)
1 Taman/ 250 250 1 100 Di tengah kelompok
Tempat tetangga
Bermain
2 Taman/ 2500 1250 0.5 1000 Di pusat kegiatan
Tempat lingkungan
Bermain
3 Taman dan 30000 9000 0.3 Sedapat mungkin
Lapangan berkelompok
Olahraga dengan sarana
pendidikan
4 Taman dan 120000 24000 0.2 Terletak di jalan
Lapangan utama, Sedapat
Olahraga mungkin
berkelompok
dengan sarana
pendidikan
5 Jalur Hijau 15 Terletak Meyebar

6 Tempat 120000 Mempertimbangka


Pemakaman n radius pencapaian
Umum dan area yang
dilayani
Sumber Data : SNI 03-1733-1989, tentang Tata cara perencanaan lingkungan
perumahan di perkotaan Tahun 2004.

C. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Perkotaan


Ada beberapa penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan
perkotaan antara lain :
a. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah
Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai
berikut:
ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH
privat
proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang
terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang
terbuka hijau privat
apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan
telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan
yang berlaku, maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan
keberadaannya.

Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan


ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan
mikroklimat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan
ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus
dapat meningkatkan nilai estetika kota. Target luas sebesar 30% dari luas
wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan
perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada bagan
dibawah ini.

Gambar B.10 Bagan Proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kawasan Perkotaan
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

Menurut Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2008 Ruang Terbuka Hijau


(RTH) Kawasan Perkotaan adalah sebagai berikut :

Ruang Kota terdiri dari ruang terbangun dan ruang terbuka. Ruang
terbangun terdiri dari hunian adalah 40% dengan KDB adalah 80% dan non
hunian adalah 20% dengan KDB 90%. Ruang Terbuka HIjau (RTH) untuk
hunian adalah 8% dan RTH non hunian 2% sehingga RTH privat adalah 10%.
Untuk ruang terbuka terdiri dari taman adalah 12,5% dengan KDB 0%, jalan
adalah 20% dan lainnya 7,5% dengan KDB adalah 80%. Ruang terbuka hijau
untuk taman 12,5%, untuk jalan adalah 6% dan ruang terbuka hijau untuk
lainnya 1,5% sehingga Ruang terbuka hijau public adalah 20%.Maka
standard Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan perkotaan adalah 30%.

b. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu


Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau
pengamanan, sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian
sumber daya alam, pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan
penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu.RTH kategori ini
meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api, jalur hijau jaringan.listrik
tegangan tinggi, RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH
sempadan sungai, RTH sempadan pantai, dan RTH pengamanan sumber air
baku/mata air.

c. Penyediaan RTH Berdasarkan jumlah penduduk


Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk, dilakukan
dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar
luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku.

Tabel B.11 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk


Luas Luas
Unit
No. Tipe RTH minima minimal Lokasi
Lingkunga
l/ unit / kapita
n
(m2) (m2)
Di tengah
1 250 jiwa Taman RT 250 1,0 lingkungan
RT
Di pusat
2 2500 jiwa Taman RW 1.250 0,5 kegiatan RW
Dikelompokan
3 Taman dengan
30.000 jiwa Kelurahan 9.000 0,3 sekolah/ pusat
kelurahan
Dikelompokan
Taman
dengan
4 kecamata 24.000 0,2 sekolah/ pusat
120.000 jiwa n
pemakaman disesuaikan 1,2 kecamatan
Tersebar
Di pusat
Taman kota 144.000 0,3
wilayah/ kota
Di
Hutan kota disesuaikan 4,0 dalam/
5 kawasan
Untuk pinggira
Disesuaikan
480.000 jiwa 12,
fungsi-fungsi disesuaikan n
dengan
5
tertentu kebutuhan
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

d. RTH Taman Kota


RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk
satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000
penduduk dengan standar minimal 0,3 m2. per penduduk kota, dengan luas
taman minimal 144.000 m2. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH
(lapangan hijau), yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga,
dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% - 90%. Semua fasilitas
tersebut terbuka untuk umum. Adapun untuk jenis vegetasi yang dipilih
berupa pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara berkelompok
atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai
pembatas antar kegiatan.

D. Kriteria Vegetasi Ruang Terbuka Hijau


1. Kriteria Vegetasi RTH untuk Taman lingkungan dan Taman Kota
Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah
a. Tidak beracun, tidak berduri, dahan tidak mudah patah, perakaran tidak
mengganggu pondasi
b. Tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
c. Ketinggian tanaman bervariasi, warna hijau dengan variasi warna lain
seimbang;
d. Perawakan dan bentuk tajuk cukup indah;
e. Kecepatan tumbuh sedang;
f. Berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya;
g. Jenis tanaman tahunan atau musiman;
h. Jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang
optimal;
i. Tahan terhadap hama penyakit tanaman;
j. Mampu menjerap dan menyerap cemaran udara;
k. Sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota

No. Jenis dan Nama Nama Latin Keterangan


Tanaman
1. Bunga Kupu-kupu Bauhinia purpurea Berbunga

2. Sikat Botol Calistemon lanceolatus Berbunga

3. Kemboja merah Plumeria lubra Berbunga

4. Kersen Mintingia calabura Berbuah

5. Kendal Cordia sebestena Berbunga

6. Kesumba Bixa ourellana Berbunga

7. Jambu batu Psidium guajava Berbuah

8. Bungur sakura Lagerstroemia loudinii Berbunga

9. Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga

10. Lengkeng Ephorbia longan Berbuah

11. Bunga lampion Brownea ariza Berbunga

12. Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga


13. Tanjung Mimosups elengi Berbunga
14. Kenanga Cananga odorata Berbunga
15. Sawo kecik Minilkara kauki Berbuah
16. Akasia mangium Accacia mangium
17. Jambu air Eugenia aquea Berbuah
18. Kenari Canarium commune berbuah
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

2. Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan


Ada dua kriteria vegetasi untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) jalur hijau
jalan yaitu :
Aspek silvikultur:
a. berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit;
b. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar;
c. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang;
d. batang tegak dan keras pada bagian pangkal;
e. tajuk simetris dan padat;
f. sistim perakaran padat.

Sifat biologi:
a. tumbuh baik pada tanah padat;
b. sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan
bangunan;
c. fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa;
d. ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia;
e. batang dan sistem percabangan kuat;
f. batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir;
g. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah;
h. tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
i. ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon;
j. daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill);
k. tidak menggugurkan daun;
l. daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang;
m. saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan;
n. buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara
langsung;
o. sebaiknya tidak berduri atau beracun;
p. mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain;
q. tahan terhadap hama penyakit;
r. tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri;
s. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara;
t. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi;
u. berumur panjang.
Tabel B.12 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan danJalur Pejalan Kaki

Tinggi Jarak
No Nama Lokal Nama Latin
(m) Tanam (m)
I Pohon
Bauhinia
1. Bunga Kupu-kupu 8 12
Purpurea
Bauhini
2. Bunga Kupu-kupu Ungu 8 12
a
3. Trengguli blakean
Cassia fistula 15 12
a
Cinnamommun
4. Kayu manis 12 12
iners
Mimosups
5. Tanjung 15 12
elengi
Euginia
6. Salam polyanth 12 6
7. Melinjo a
Gnetum gnemon 15 6
Lagerstroemia
8. Bungur 18 12
floribunda
Michelia
9. Cempaka 18 12
champaca
Mimosups
10. Tanjung 12 12
elengi
II Perdu/semak/groundcocer
1. Canna Canna varigata 0.6 0.2
2. Soka Jepang Ixora spp 0.3 0.2
Cidiaeum
3. Puring 0.7 0.3
varigatum
4. Pedang-pedangan Sansiviera spp 0.5 0.2
Ophiopogon
5. Lili pita 0.3 0.15
jaburan
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

3. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman


Ada beberapa kriteria vegetasi yang di khususkan pada tempat
pemakaman kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut:
a. sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan
bangunan;
b. batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir;
c. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi, atau menghasilkan buah yang
dapat dikonsumsi langsung;
d. tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
e. tahan terhadap hama penyakit;
f. berumur panjang;
g. dapat berupa pohon besar, sedang atau kecil disesuaikan dengan
ketersediaan ruang;
h. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.
Tabel B.13 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman
No Nama Lokal Nama Latin Potensi
1. Bougenvil Bougenvilia Sp Berbunga
2. Kamboja Putih Plumeria Alba Berbunga
3. Puring Codiaeum Varigatum Berwarna
4. Lili pita Ophiopogon Jabura -
5. Tanjung Mimosups Elengi Berbunga
6. Dadap Erythrina Varigata Pengundang burung
7. Kembang merak Caesalpinia Pulcherrima Pengundang serangga
8. Jamblang Syzygium Cumini Buah dapat dimakan
9. Salam Syzygium Polyanntum Pengundang burung
Sumber : Peraturan Menteri PU. NO. 5/PRT/M/2008

B.2.2 METODOLOGI
A. KERANGKA BERFIKIR
Dalam upaya untuk mencapai hasil pekerjaan sebagaiman dijelaskan di dalam
KAK, maka sebagai langkah awal, konsultan membuat kerangka fikir sebagai dasar
di dalam pelaksanaan pekerjaan ini. Adapun kerangka fikir pekerjaan
sebagaimana dimaksud, dapat dilihat pada bagan berikut :

RTRW /RDTR ANALISIS


Pola Ruang Identifikasi dan
SURVEI RENCANA RTH
Struktur Ruang Evaluasi RTH
Rencana RTH Pengumpulan Data Masterplan RTH
Pemetaan RTH Kebutuhan RTH
Indikasi Program

FGD/ RAPAT
PENYIAPAN PETA STAKEHOLDERS
Peta Kawasan Perkotaan
Interpretasi Citra

Gambar B.11 Bagan Kerangka Fikir Pekerjaan

B. METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


Sesuai dengan pemahaman terhadap Kerangka Acuan Kerja yang telah diterima
serta beberapa tanggapan yang telah diberikan pada bab sebelumnya, pada bab
ini akan memaparkan pendekatan metodologi yang akan digunakan dalam
pelaksanaan Kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan
Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap Tahun Anggaran 2017 adalah
mencakup:
OUTPUT MASTERPLAN RUANG TERBUKA HIJAU

A TAHAP PERSIAPAN
- Pengumpulan Data dan Informasi awal
- Membuat interpretasi secara garis besar terhadap KAK
- Penguatan Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan
- Penyusunan Metoda Survey, serta materi survey
- Penegasan rencana kerja dan jadual pelaksanaan pekerjaan
B KAJIAN TEORI DAN LITERATUR
- Kolekting teori-teori yang dapat mendukung pekerjaan, sehingga dapat
LAPORAN mempertajam pemahaman terhadap pekerjaan.
PENDAHULUAN - Mengumpulkan literature-literatur terkait RTH, sehingga dapat menjadi
masukan positif terhadap pekerjaan.
C KAJIAN AWAL TERHADAP PERATURAN DAN PERUNDANG
UNDANGAN
- Melakukan kajian awal terhadap peraturan yang berlaku, yang terkait
dengan pekerjaan yang akan dikerjakan.
- Melakukan kajian awal terhadap rencana Tata Ruang Kota, sehingga
pekerjaan yang akan dilaksanakan dapat berjalan seiring dengan apa yang
telah diamanatkan di dalam Rencana Kota tersebut.
D KOLEKTING DATA
- Survey data Sekunder; RTRW, RDTR, RTBL, serta peraturan dan
kebijakan lainnya, sebagai bahan masukan penting didalam penyusunan
Masterplan RTH.
Survey Data Primer; mengumpulkan data melalui pemantauan langsung
di lapangan, yakni dengan (1) melakukan inventarisasi Lokasi RTH yang
ada, lengkap beserta status kepemilikannya. (2) Inventarisasi lokasi yang
berpotensi untuk dikembangkan menjadi RTH, lengkap beserta status
kepemilikannya. (3) Inventarisasi kondisi fisik pada lokasi RTH dan lokasi
yang berpotensi untuk dijadikan RTH. (4) Inventarisasi kondisi lingkungan
disekitar lokasi RTH dan Lokasi yang berpotensi menjadi RTH, (5)
Melakukan Dokumentasi/pengembilan gambar foto/video pada lokasi-
lokasi tersebut.
E TABULASI DATA
Setelah semua data terkumpul, baik data sekunder mamupun data primer,
maka semua data tersebut kemudian disusun dan rapihkan, guna
mempermudah didalam menampilkan dan menggunakan data tersebut di
dalam penyusunan laporan pekerjaan.
F ANALISIS
LAPORAN 1. Analisis Data Sekunder :
- Analisis Wilayah Dalam lingkup makro ; untuk mengetahui fungsi
ANTARA kawasan perkotaan dalam konteks wilayah yang lebih luas terkait
dengan Ruang terbuka Hijau.
- Analisis Wilayah dalam lingkup Mikro ; untuk mengetahui rencana kota
dalam upaya pemenuhan kebutuhan RTH kota, serta rencana
Pengebangan RTH di dalam Lingkup kawasan perkotaan.
- Analisa Sosial Kependudukan, sebagai upaya untuk mendapatkan
kebutuhan RTH pada setiap bagian wilayah perkotaan.
- Analisa terhadap kondisi fisik dasar wilayah kota, sebagai salah satu
parameter didalam menentukan sebaran RTH, serta jenis RTH yang
dibutuhkan.
- Analisa jenis RTH yang akan dikembangkan di wilayah perkotaan,
berdasarkan rencata tata ruang, serta rencana-rencana teknis lainnya
yang telah dibuat sebelumnya.

1. Analisis Data Primer :


- Analisis Sebaran Lokasi RTH eksisting, serta sebaran potensi lokasi RTH di
dalam lingkup kota, untuk mendapatkan pola sebaran RTH di dalam
kota, sebagai bahan dasar untuk melakukan pengelompokan jenis RTH
yang nanti akan dikembangkan di dalam Masterplan.
- Analisa kondisi fisik dari setiap lokasi RTH yang ada, serta lokasi yang
berpotensi untuk dijadikan RTH.
OUTPUT MASTERPLAN RUANG TERBUKA HIJAU

- Analisa komparasi dari data sekunder dengan data actual dilapangan


terkait dengan RTH yang ada, sebagai upaya untuk melihat pencapaian
kota didalam menyediakan kebutuhan RTH kota yang telah ada, serta
untuk mendapatkan data akurat terkait tingkat efektifitas dari setiap
jenis RTH yang ada dengan bentuk/pola pemanfaatan dari RTH yang
ada tersebut.
- Analisa komparasi terhadap aturan-aturan / standar RTH yang berlaku,
untuk mengetahui tingkat kesesuain kota dalam upaya pemenuhan
RTH.
- Membuat analisis SWOT
G KONSEP PENGEMBANGAN RTH
- Menjabarkan Visi kawasan perkotaan yang terkait dengan pengembangan
RTH, untuk mendapatkan bentuk dan pola sebaran RTH dfi dalam Kota.
- Membuat pembagian zona RTH sebagai upaya untuk memudahkan di
dalam pengembangan RTH, yang disesuaikan dengan Visi & Misi Kota, serta
kaerakteristik lokasi RTH yang akan dikembangkan.
Membuat konsep pengelolaan dan pembiayaan RTH
H RENCANA PENGEMBANGAN RTH
- Membuat Peta Sebaran RTH
LAPORAN - Merencanakan Jenis RTH pada setiap zona yang direncanakan
- Membuat Panduan Rancangan RTH pada setiap Jenis RTH yang
RENCANA direncanakan
Membuat aturan pemanfaatan pada setiap lokasi RTH yang direncanakan
I PROGRAM INVESTASI
Membuat rencana investasi pengembangan RTH, dalam jangka waktu yang
disesuaikan dengan RTRW.
J PENGELOLAAN RTH
Membuat arahan pengelolaan RTH yang diarahkan pada instansi-instansi
terkait yang bertanggung jawab untuk mengelola RTH yang akan
direncanakan
B.2.3 PROGRAM KERJA
B.2.3.1 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan

Susunan dan rincian kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH


Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap adalah sebagai berikut:
1. Tahap Identifikasi, meliputi:
Persiapan
Mengkaji data awal
Pengumpulan data awal dan perancangan sistem
2. Tahap Inventarisasi Data, meliputi:
Survei lapangan
Pengumpulan data : data primer dan data sekuder
3. Identifikasi dan Evaluasi RTH , mencakup lokasi, luasan, status tanah, fungsi, jenis
vegetasi, dsb.
4. Analisis perwujudan RTH 30% (roadmap untuk jangka pendek, menengah dan
panjang) dengan skala waktu setiap 5 (lima) tahun, mencakup : analisis
Kebutuhan RTH berdasarkan persentasi Wilayah, analisis Kebutuhan RTH
berdasarkan Jumlah Penduduk, analisis Kebutuhan RTH berdasarkan
Kebutuhan Jumlah Oksigen, analisis Kebutuhan RTH berdasarkan Netralisasi
Karbon Dioksida dan analisis Kebutuhan RTH berdasarkan Perhitungan Kebutuhan
Air serta Prioritas lokasi untuk implementasi/peningkatan kualitas dan kuantitas
RTH.
5. Rencana Pembangunan RTH dan Indikasi Programnya

B.2.3.2 Sistim Pelaporan


Untuk meningkatkan hasil guna dari studi ini maka sistem pelaporannya
disusun sebagai berikut :

1. Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan memuat antara lain latar belakang, maksud-tujuan dan
sasaran, ruang lingkup, tinjauan kebijakan dan literatur, metodologi pelaksanaan
pekerjaan, rencana kerja (jadwal pelaksanaan pekerjaan dan organisasi
pelaksanaan pekerjaan), identifikasi awal deliniasi kawasan perkotaan Kabupaten
Tanah Laut, kawasan RTH eksisting yang ada, dan lain-lain. Laporan pendahuluan
disajikan dalam bentuk format A4 dan diserahkan paling lambat 14 (empat belas)
hari setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 10
(sepuluh) buku.
2. Laporan Antara
Laporan Antara memuat antara lain gambaran umum kondisi dan data-data
eksisting kawasan perencanaan, hasil diskusi teknis/pembahasan dan analisa
berbagai aspek seperti : aspek pembiayaan, aspek kepemilikan lahan, aspek
kelembagaan dan pengelolaan, serta FGD. Laporan antara disajikan dalam format
A3 dan diserahkan paling lambat 2 (dua) bulan setelah dikeluarkannya Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 10 (sepuluh) buku.
3. Laporan Akhir
Laporan Akhir memuat antara lain rumusan kesimpulan hasil kajian/analisa,
rumusan konsep investasi dan rumusan rekomendasi teknis maupun non teknis.
Laporan Akhir disajikan dalam format A3 dan diserahkan paling lambat 3 (tiga)
bulan setelah dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 10
(sepuluh) buku.
4. Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif memuat ringkasan hasil pelaksanaan pekerjaan. Ringkasan
Eksekutif disajikan dalam format F4, dengan format dibuat semenarik mungkin
untuk sarana informasi dan diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah
dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 15 (lima belas) buku.
5. Album Gambar
Album Gambar memuat tentang desain pra rancangan (pre eliminary design) yang
mencakup site plan, perspektif tiga dimensi (3D), gambar bangunan (layout, denah,
tampak, potongan dari bangunan serta jalan dan utilitas dan detil-detil lainnya
kawasan perencanaan. Album Gambar disajikan dalam dokumen A3 art paper
digital printing dan diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkannya
Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 10 (sepuluh).
6. Laporan Hasil Survey
Laporan Hasil Survey memuat tentang desain survey dan hasil pelaksanaan survey,
termasuk dokumentasi pelaksanaan survey. Laporan Hasil Survey disajikan dalam
format F4 dan diserahkan diserahkan paling lambat 2 (dua) minggu setelah
berakhirnya pelaksanaan survey, sebanyak 5 (lima) buku.
7. DVD Laporan
DVD Laporan memuat soft copy laporan hasil pelaksanaan pekerjaan, hasil diskusi
dan pembahasan, dokumentasi dan data lainnya.diserahkan dalam bentuk DVD
Laporan diserahkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dikeluarkannya Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK), sebanyak 5 (lima) keping DVD per tahapan pekerjaan.
B.2.3.3 Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan
Organisasi pelaksana kegiatan yang dapat mendukung seluruh kegiatan
pelaksanaan agar didapat hasil kegiatan yang maksimal sesuai tujuan diperlukan untuk
menangani pelaksanaan kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan
Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini.
Adapun tujuan dari penyusunan organisasi pelaksana kegiatan adalah sebagai
berikut :
Terciptanya sistem koordinasi yang baik antara pihak pengguna jasa dan
konsultan.
Terciptanya koordinasi yang baik antara unit-unit kerja yang terlibat dan
penanganan kegiatan.
Terjaminnya kelancaran jalannya kegiatan secara keseluruhan.
Agar pelaksanaan kegiatan dapat lebih terarah, efektif dan terkendali serta
mampu menciptakan mekanisme kerja yang solid dan berpadu baik antar disiplin
ilmu maupun tenaga ahli. Dengan demikian, wewenang dan tanggung jawab
setiap personil yang terlibat akan lebih jelas dan tidak tumpang tindih.

B.3 JADWAL WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN


Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK), pelaksanaan pekerjaan ini dengan jangka
waktu yang disediakan adalah 3 (tiga) bulan (90 hari kalender), terhitung sejak
ditandatanganinya kontrak kerja.

Setiap tahapan yang akan dilakukan, diuraikan secara detail berdasarkan komponen
komponen kerja setiap tahapan dan waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaannya,
disusun dalam suatu rangkaian time schedule.

Secara garis besarnya tahapan yang akan dilaksanakan dalam pelaksanaan pekerjaan
adalah sebagai berikut. (Tabel B.1)
Gambar B.12 Struktur Organisasi Pekerjaan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong
dan Kintap

Dinas Pekerjaan Umum, Penataan


Ruang, dan Pertanahan Kabupaten
Tanah Laut

Identifikasi dan Pemetaan Kawasan


Konsultan
RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang
Pelaksana
Ulang, Jorong, dan Kintap

Direktur Pemimpin Pelaksana

Office Manager

Tim Teknis
Team Leader

Tenaga Ahli

Asisten Tenaga Ahli dan Tenaga


Pendukung
dan Administrasi

Keterangan :
Garis Tugas
Garis Koordinasi
Garis Perintah
Tabel B.14 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Bulan/Minggu
No Tahapan/Kegiatan Bulan I Bulan II Bulan III
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I LAPORAN PENDAHULUAN
A Persiapan dan Mobilisasi
1 Pemahaman KAK
2 Penyelesaian Administrasi Pekerjaan
3 Persiapan Peralatan dan Personil
Penyusunan dan Penajaman Pendekatan
4
Metodologi Studi
5 Penyusunan Detail Rencana Kerja
Inventarisasi dan Persiapan Perangkat
6
Survey
Inventarisasi dan Identifikasi Data
B
Awal
Identifikasi dan Kajian Awal Dokumen
1
Perencanaan terkait Sebelumnya
2 Identifikasi Awal terhadap Isu-isu Strategis
Identifikasi, Inventarisasi, dan Studi
3 Literatur, Kebijakan Perundang
Undangan dll
II LAPORAN FAKTA DAN ANALISA
A Data
1 Survey/Pengumpulan Data
a. Survey Primer
b. Survey Sekunder
2 Tabulasi dan Kompilasi Data
B Analisis dan Pra Rencana
1 Analisis Konstelasi Regional
2 Analisis RTH Eksisting
3 Analisis Kebutuhan RTH
4 Analisis Kualitas RTH
5 Pra-Rencana Arsitektur RTH
6 Pra-Rencana Struktur RTH
III LAPORAN RENCANA
a. Rencana RTH
b. Rencana Pembiayaan
c. Renana Aksi
d. Ketentuan Insentif dan disinsentif
e. Indikasi Program
IV FGD/DISKUSI/RAKOR
1 Rakor sebelum Laporan Pendahuluan
2 Paparan Laporan Pendahuluan
3 Rakor sebelum Laporan Fakta dan Analisa
4 FGD Laporan Fakta dan Analisa
5 Paparan Laporan Fakta dan Analisa
6 Rakor sebelum Laporan Laporan Rencana
7 FGD Laporan Rencana
3 Paparan Laporan Rencana
B.4 KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN
Tenaga Ahli yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai
berikut dan Tabel B.2 :
B.4.1 Tenaga Ahli
1. Tenaga Ahli Perencanaan Kota/Urban Designer, sebagai ketua tim (team leader)
Ketua tim dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan
Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1 (satu) orang dengan
syarat sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota lulusan dari
universitas negeri, atau perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi atau
telah lulus ujian negara, atau perguruan tinggi luar negeri yang telah
diakreditasi.
- Memiliki sertifikasi keahlian madya (Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota, kode :
502)
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan di bidang penataan ruang,
khususnya pekerjaan Masterplan RTH.
- Diutamakan yang telah mempunyai pengalaman sebagai ketua tim minimal
selama 5 (lima) tahun

Tugas utama dari ketua tim adalah memimpin dan mengkoordinir seluruh kegiatan
anggota tim kerja dalam pelaksanaan pekerjaan sampai dengan pekerjaan
dinyatakan selesai.
Tugas utama dari tenaga ahli perencanaan wilayah dan kota adalah merancang,
mengarahkan, memecahkan, menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan yang
berhubungan dengan penataan ruang dan wilayah kawasan industri.

2. Tenaga ahli arsitektur lansekap


Tenaga ahli arsitektur yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak
1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik Arsitektur Lansekap lulusan dari universitas negeri,
atau perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian
negara, atau perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan arsitektur
lansekap minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki sertifikasi keahlian Ahli Madya-Arsitektur Lansekap
Tugas utama dari tenaga ahli arsitektur adalah merancang, mengarahkan,
memecahkan, menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan yang berhubungan
dengan aspek arsitektur dan desain kawasan RTH.

3. Tenaga ahli lingkungan


Tenaga ahli lingkungan yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak
1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik Lingkungan lulusan dari universitas negeri, atau
perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara,
atau perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan lingkungan
minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki sertifikasi keahlian Ahli Madya-Teknik Lingkungan
Tugas utama dari tenaga ahli lingkungan adalah merancang, mengarahkan,
memecahkan, menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan yang berhubungan
dengan aspek lingkungan.

4. Tenaga ahli geoteknik


Tenaga ahli geoteknik yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak
1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S2 Jurusan Teknik sipil lulusan dari universitas negeri, atau perguruan
tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara, atau
perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan lingkungan
minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki sertifikasi keahlian Ahli Madya-Geoteknik
Tugas utama dari tenaga ahli geoteknik adalah menganalisa data geoteknik,
merencanakan survey lokasi, mengevaluasi dan menetapkan data daerah yang
akan diselidiki.

5. Tenaga ahli Hukum


Tenaga ahli hukum yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak
1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Hukum lulusan dari universitas negeri, atau perguruan
tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara, atau
perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan hukum
minimal 5 (lima) tahun.
Tugas utama dari tenaga ahli hukum adalah merancang, mengarahkan, dan
merumuskan seluruh persoalan yang berhubungan dengan aspek hukum dalam
penyusunan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang
Ulang, Jorong dan Kintap.

6. Tenaga ahli Geodesi


Tenaga ahli perpetaan yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak
1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut:
- Pendidikan S2 Jurusan Geodesi lulusan dari universitas negeri, atau perguruan
tinggi swasta yang telah diakreditasi atau telah lulus ujian negara, atau
perguruan tinggi luar negeri yang telah diakreditasi.
- Berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan terkait dengan pembuatan
peta wilayah minimal 3 (tiga) tahun.
- Memiliki Sertifikasi Ahli Madya-Geodesi
Tugas utama dari tenaga ahli geodesi adalah mengarahkan, menganalisis, dan
membuat peta pada wilayah penelitian.

B.4.2 Asisten Tenaga Ahli

Selain tenaga ahli di atas, diperlukan pula tenaga pendukung, antara lain:

1. Asisten Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota


Asisten Tenaga Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota yang dibutuhkan dalam
kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang
Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai perencana ruang dan kota.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai penyusunan pelaporan
perencanaan kawasan
2. Asisten Tenaga Ahli Arsitektur Lansekap
Asisten tenaga ahli arsitektur lansekap yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi
dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan
Kintap ini sebanyak 1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S1 Teknik Arsitektur yang mempunyai ketrampilan dalam mendesign
wilayah dengan gambar 3D animasi.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai design kawasan/design
bangunan
3. Asisten Tenaga Ahli Geodesi/Geografi
Asisten tenaga ahli geodesi/geografi yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi
dan Pemetaan Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan
Kintap ini sebanyak 1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan S1 Teknik Geodesi yang mempunyai ketrampilan mengoperasikan
komputer program ArcGIS.
- Berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun sebagai survey pemetaan dan drafter.

B.4.3 Tenaga Pendukung


1. Surveyor
Surveyor yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan Kawasan RTH
Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak 2 (dua) orang
dengan syarat sebagai berikut :
- 1 (satu) orang D-3 Geodesi
- 1 (satu) orang S1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota
- Berpengalaman minimal 1 (satu) tahun sebagai surveyor
2. Petugas administrasi
Petugas administrasi yang dibutuhkan dalam kegiatan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang, Jorong dan Kintap ini sebanyak
1 (satu) orang dengan syarat sebagai berikut :
- Pendidikan D3 Administrasi Perkantoran /Kesekretariatan /Akuntansi
/Manajemen yang mempunyai ketrampilan ketrampilan mengoperasikan
komputer program Microsoft Word, Excel, dan Power Point.
- Berpengalaman minimal 1 (satu) tahun sebagai petugas administrasi merangkap
operator komputer
Tabel B.15 Kebutuhan Tenaga Ahli, Aisten Tenaga Ahli dan Tenaga
Pendukung

NO. KEBUTUHAN TENAGA AHLI PENDIDIKAN PENGALAMAN


KUALIFIKASI JUMLAH POSISI
1. Ahli 1 Team leader S2 PWK dengan latar Minimal 5 tahun
Perencanaan pendidikan S-1 linear
Kota/ Urban Dari universitas yang
Designer berakreditasi A
2. Ahli Arsitektur 1 Anggota tim S-2 Arsitektur lansekap Minimal 3 tahun
lansekap dengan latar pendidikan S-
1 linear
3. Ahli lingkungan 1 Anggota tim S-2 teknik lingkungan Minimal 3 tahun
dengan latar pendidikan S-1
linear
4. Ahli geoteknik 1 Anggota tim S-2 sipil latar pendidikan S-1 Minimal 3 tahun
linear

5. Ahli hukum 1 Anggota tim S-2 hukum dengan latar Minimal 3 tahun
pendidikan S-1 linear

6. Ahli geodesi 1 Anggota tim S-2 teknik geodesi dengan Minimal 3 tahun
latar pendidikan S-1 linear

7. Asisten tenaga 3 Pembuat S1 pwk sebanyak 1 orang Minimal 3 tahun


ahli laporan S1 arsitektur lansekap
sebanyak 1 orang
9. Surveyor 2 Surveyor S1 geodesi/geografi
D-3 sebanyak
geodesi sebanyak 1 1 Minimal 1 tahun
orang
S1 PWK sebanyak 1 orang
10. Petugas 1 Administrator D-3 administrasi Minimal 1 tahun
administrasi perkantoran/
sekretaris/manajemen

B.5 JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI


Dalam pelaksanaan pekerjaan ini akan melibatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin
ilmu dengan tugas yang berbeda sesuai dengan keahlian yang mereka miliki. Selain
tenaga tenaga ahli, juga terdapat beberapa tenaga penunjang lainnya seperti operator
komputer, operator gambar, dan lain - lain dengan tujuan untuk mempermudah dan
mempercepat penyelesaian pekerjaan sesuai dengan batas yang telah ditetapkan dalam
Kerangka Acuan Kerja.

Kontribusi tenaga ahli dalam ini, semuanya dilibatkan dalam pekerjaan hingga akhir
waktu pelaksanaan. Untuk lebih jelasnya mengenai jangka waktu keterlibatan tenaga
ahli dalam pekerjaan dapat dilihat pada Tabel B.17.
Tabel B.16 Komposisi Tim dan Penugasan Tenaga Ahli

Jumlah
Tenaga Ahli Lingkup
No Nama Personil Perusahaan Posisi Diusulkan Uraian Pekerjaan Orang
Lokal/Asing Keahlian
Bulan
1. Ir. Saraswati, MSP PT. Fasade Lokal Ahli Ahli Perencanaan Memimpin dan mengkoordinir seluruh tim dalam 3
Kobetama Perencanaan Wilayah & Kota pelaksanaan pekerjaan hingga dinyatakan selesai
International Wilayah & Kota (Team Leader) Bertanggung jawab kepada pemberi kerja terkait
dengan kemajuan dan seluruh pelaksanaan proses
pekerjaan.
Merancang, mengarahkan, memecahkan,
menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan
yang berhubungan dengan penataan ruang dan
RTH
Melakukan koordinasi dengan pemberi kerja dan
instansi terkait lainnya dalam rangka pelaksanaan
pekerjaan
2. Achmad Firmansyam, SP PT. Fasade Lokal Ahli Arsitektur Ahli Arsitektur Melakukan kajian dan memberikan masukan 3
Kobetama Lansekap Lansekap kondisi tapak dan lansekap kawasan
International
Mengidentifikasi jenis dan kebutuhan ruang untuk
pengembangan lansekap
Menganalisis dan memberikan masukan tentang
konsep dan kebutuhan pengembangan lansekap
Merancang, mengarahkan, memecahkan,
menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan
yang berhubungan dengan aspek arsitektur dan
desain kawasan RTH
Menyiapkan gambar-gambar konsep desain
lansekap RTH.
3. Hary Pradiko, ST., MT PT. Fasade Lokal Ahli Lingkungan Ahli Lingkungan Melakukan analisis kondisi lingkungan lokasi RTH 3
Kobetama Merancang, mengarahkan, memecahkan,
International
menganalisis, dan merumuskan seluruh persoalan
yang berhubungan dengan aspek lingkungan
Jumlah
Tenaga Ahli Lingkup
No Nama Personil Perusahaan Posisi Diusulkan Uraian Pekerjaan Orang
Lokal/Asing Keahlian
Bulan
Memberikan rekomendasi terkait aspek lingkungan
kepada tim ahli lainnya
4. Ramli, ST., MT PT. Fasade Lokal Ahli Geoteknik Ahli Geoteknik Menganalisa data geoteknik, merencanakan survey 3
Kobetama lokasi, mengevaluasi dan menetapkan data daerah
International
yang akan diselidiki
5. Dicky Utama, SH., M.Hum PT. Fasade Lokal Ahli Hukum Ahli Hukum Merancang, mengarahkan, dan merumuskan seluruh 3
Kobetama persoalan yang berhubungan dengan aspek hukum
International
dalam penyusunan Identifikasi dan Pemetaan
Kawasan RTH Perkotaan Pelaihari, Tambang Ulang,
Jorong dan Kintap
6. R. Dani Muharam, ST PT. Fasade Lokal Ahli Geodesi Ahli Geodesi Mengarahkan, menganalisis, dan membuat peta 3
Kobetama pada wilayah penelitian
International
Tabel B.17 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

Bulan Ke Orang
No Nama Personil Posisi Dalam Tim Bulan
I II III
A Tenaga Ahli
1 Ir. Saraswati, MSP Ahli Perencanaan 3
Wilayah & Kota/Urban
Designer (Team Leader)
2 Achmad Firmansyam, SP Ahli Arsitektur Lansekap 3
3 Hary Pradiko, ST., MT Ahli Lingkungan 3
4 Ramli, ST., MT Ahli Geoteknik 3
5 Dicky Utama, SH., M.Hum Ahli Hukum 3
6 R. Dani Muharam, ST Ahli Geodesi 3

B Asisten Tenaga Ahli


Asisten Ahli Perencanaan 3
1 Zamharira, ST
Wilayah & Kota
Asisten Ahli Arsitektur 3
2 Sari Dienurfath, ST
Lansekap
Asisten Ahli Geodesi/ 3
3 Boggy Satrio, ST
Geografi
C Tenaga Pendukung
1 Rahatiar Winata, ST Surveyor 1
2 Iskandar Zulkarnaen, ST Surveyor 1
3 Riyan Z. Mukti, ST Administrasi 3