Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ADAB DOKTER MUSLIM DALAM MENANGANI PASIEN

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Menyelesaikan


Pendidikan Profesi Dokter di RSUD Karanganyar

Disusun oleh:

Irkhamyudhi Primasakti, S. Ked


J510165074

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016
MAKALAH

ADAB DOKTER MUSLIM DALAM MENANGANI PASIEN

Yang diajukan oleh :

Irkhamyudhi Primasakti, S.Ked


J510165074

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pembimbing
Ngadino (..........................................)

Disahkan PLH Kepala Bagian Profesi


dr. D. Dewi Nirlawati (..........................................)
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kata adab, dokter dan muslim merupakan tiga kata yang berbeda yang
masing-masing memiliki pengertian sendiri. Ketika ketiga kata tersebut
dirangkai menyusun kalimat Adab Dokter Muslim, maka akan memberikan
suatu pengertian yang luas dan berdampak pada segolongan atau sekelompok
individu atau tiap individu itu sendiri yang masuk dalam pengertian kalimat
tersebut. Baik bagi mereka yang mengaku (menghaki) secara sadar dan terang-
terangan maupun bagi mereka yang secara tidak sadar telah masuk dalam
pengertian tersebut.

Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran di salah satu perguruan tinggi


berbasiskan Islam, tentunya adalah menjadi hal essential (pokok) bagi kita
untuk memahami konsep tentang Adab Dokter Muslim.

B. TUJUAN
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi sebagian
persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan profesi dokter dan untuk
mengetahui adab dokter muslim dalam menangani pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian dan Konsep Adab

Kata adab yang hanya dibentuk dengan empat huruf, sebenarnya


mempunyai maksud dan konsep yang juga amat luas. Kata adab dapat
dikaitkan dengan bidang bahasa, sastra, budaya, perilaku, atau tata cara
maupun etika dan kesopanan. Ia dapat diikatakan menjangkau konsep
keseluruhan kehidupan dalam arti kata yang sebenar-benarnya.

Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata
ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap
sebagai model. Selama dua abad pertama setelah kemunculan Islam, istilah
adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata
dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau
pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan,
keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota. Pelbagai pendapat dan
kajian telah diutarakan oleh para sarjana mengenai adab sejak bermulanya
kemajuan ilmu. Ahmad Fauzi menyebutkan salah satu definisi adab yakni
sebagai tingkah laku serta tutur kata yang halus (sopan), budi bahasa, budi
pekerti, kesopanan. Definisi yang diberikan amat mudah dan ringkas, namun
jika diteliti maka ia merupakan kata-kata yang amat besar konotasinya.
Menurut Rosenthal (1992), adab adalah istilah yang lebih luas karena ia
memasukkan masalah etika, moral, kelakuan dan adat istiadat. Konsep adab
memperjelas maksud dan kaitan antara nilai, norma, sikap etika dan moral.
Berdasarkan uraian tersebut, adab bisa juga dikaitkan dengan
kesopanan dan ketertiban. Sopan berarti hormat, baik budi bahasa, tahu tertib
peraturan atau beradab, manakala tata tertib adalah peraturan yang baik yang
telah ditetapkan. Norma kesopanan timbul dalam pergaulan antar manusia
dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, misalnya menghormati orang tua,
mempersilahkan wanita atau bertutur kata yang lembut kepada orang tua.
Adat kebiasaan di dalam banyak kebudayaan selain kebudayaan Islam
sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi lokal dan oleh karena itu tunduk pada
perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tersebut. Menurut
W.G. Summer, dari berbagai kebutuhan yang timbul secara berulang-ulang
pada satu waktu tertentu tumbuh kebiasaan-kebiasaan individual dan adat
kebiasaan kelompok. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang muncul ini adalah
konsekuensi-konsekuensi yang timbul secara tidak disadari, dan tidak
diperkirakan lebih dulu atau tidak direncanakan.

Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat tanpa sadar seperti dalam
pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua
sumber utama Islam, yaitu al-Quran dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan
kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung sehingga
akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Allah SWT. Dengan demikian
adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya
adalah db al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang
ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian
seperti inilah kata adab.

Orang yang beradab dikatakan telah maju dalam tingkat kemajuan


(jasmani dan rohani) atau telah berhasil (sukses). Ini turut membawa maksud
bahwa manusia yang beradab mengetahui dan dapat membedakan antara
kejahatan dengan kebaikan, keindahan dengan keburukan, sesuatu yang
berharga daripada yang tidak berharga, dan sesuatu yang benar dengan yang
palsu. Plato dalam Rosenthal (1992) menyatakan bahawa :

tujuan adab ialah untuk melahirkan manusia yang baik dan mampu
menahan diri daripada nikmat fisik dan material, dan yang menunjukkan
kestabilan emosi pada raut muka gembira dan sedih dan segala kejadian yang
lain, dan juga tetap berada dalam keadaan yang tidak diganggui dan tidak
aktif, kecuali apabila sebab dan pemikiran menandakan keinginan atau
keperluan kepada tindakan.
Seorang pemikir Islam, Ibn Abd-Rabbih dalam Rosenthal (1992) menegaskan
bahwa, keseluruhan adab mengandung semua aspek tingkah laku manusia.
Konsep tersebut, mengkaitkan adab dengan keseluruhan tindak tanduk,
perbuatan dan perlakuan manusia. Hal ini menguatkan lagi konsep adab yang
dibicarakan. Keseluruhan perbincangan tentang adab ini akhirnya membawa
kita kepada keperluan memahami hubungan antara adab dengan profesi dokter
yang kebetulan seorang muslim.

B. Konsep Dokter Muslim


Seorang dokter muslim adalah seorang muslim itu sendiri, sehingga
teladan yang paling utama adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam,
apapun profesi dan jabatan seorang muslim. Akhlak seorang dokter muslim
ialah akhlak seorang muslim yang menjunjung tinggi adab Rasulullah
shalallahu Alaihi Wasallam sebagai teladan yang sempurna dan akhlak Beliau
disarikan dari Al-Quran itu sendiri sebagai pedoman hidup seorang muslim.

Sebagai hamba Allah, seorang dokter muslim harus mempunyai tujuan


hidup: Hasanah fid-dunya dan hasanah fil-akhirah. Ia semata-mata
mengabdi kepada Allah (QS. Al-Anam: 112) dengan menjauhi segala
larangan (QS. Al Imran: 110) dan mematuhi semua perintah Allah, rasul-Nya
dan Ulil Amri. Seorang dokter muslim juga harus mampu mengobati penyakit
jasmani, rohani, sosial serta gangguan pada iman dan Islam pasiennya.
Etika/adab yang harus dimiliki oleh dokter muslim menurut Zuhair Ahmad al-
Sibai dan Muhmmad Ali al-Bar dalam karyanya Al- Thabib , Adabuhu wa
Fiqhuh (Dokter, Etika dan Fikih Kedokteran), antara lain dikemukakan bahwa
dokter muslim harus berkeyakinan atas kehormatan profesi, menjernihkan
nafsu, lebih mendalami ilmu yang dikuasainya, menggunakan metode ilmiah
dalam berfikir, kasih sayang, benar dan jujur, rendah hati, bersahaja, dan
mawas diri.
Seorang dokter muslim harus mampu mengadakan pendekatan kepada
masyarakat. Pasien yang sakit adalah mahluk sosial yang merupakan bagian
dari suatu komunitas yang sakit. Oleh karenanya, seorang dokter muslim tidak
boleh hanya melihat seseorang penderita secara mikro (individual), melainkan
juga harus melihatnya dalam skala makro (ingat konsep biopsikososiokultural
dan relegius).

Seorang dokter muslim harus menyadari dan menginsyafi bahwa


mengobati orang sakit karena Allah, adalah suatu amal yang amat tinggi
nilainya. Dengan demikian, ia telah melaksanakan dakwah Islam, bahwa
Allah-lah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya.
Dokter hanya dapat mengenali jenis penyakit dan menuliskan resep, namun
hanya Allah jualah yang menyembuhkan. Seorang dokter muslim
menghilangkan anggapan bahwa dialah yang men yembuhkan pasiennya.

Dengan demikian, seorang dokter muslim harus menyadari bahwa ia


adalah khalifah Allah dalam pengobatan yang senantiasa berlaku sopan kepada
semua pasiennya dan selalu mendoakan agar Allah memberikan kesembuhan
kepada pasien yang ditanganinya.

Meskipun sudah banyak penulis, alim maupun pakar kedokteran


muslim menyampaikan karakteristik atau ciri dokter muslim, namun sampai
saat ini belum ada kesepakatan mengenai rumusan tertulis dokter muslim yang
disetujui oleh segenap persatuan dokter muslim baik ditingkat nasional,
regional maupun internasional. Menurut Majid Ramadhan (2004) dalam
bukunya Karakteristik Dokter Muslim, ciri dokter yang diharapkan dapat
menanggung amanat juga kekahalifahan adalah :
1. Aqidahnya benar

2. Ikhlas dan tekun dalam kerjanya

3. Maksimal dalam spesialisasi profesinya

4. Jujur dalam perkataan dan perbuatan

5. Punya komitment untuk selalu dapat bermanfaat bagi manusia

6. Pemalu, jujur dan menjaga rahasia

7. Peka dan penyanyang


8. Ikut merasakan rasa sakit pasien (empati) dan membangun optimisme
pada pasien

9. Rendah hati, tidak sombong dan ramah

10. Tidak melebih-lebihkan ongkos dan meringankan yang kesulitan

11.Berpenampilan indah

12. Menasehati pasiennya, dengan menyuruh kepada kebaikan dan


mencegah kemungkaran.

Sifat-sifat atau karakter dokter muslim seperti tersebut di atas juga


banyak ditulis oleh ahli lain, antara lain seperti yang dinyatakan oleh Zuhair
Ahmad Assi Bai dalam buku Dokter-dokter, Bagaimana Ahlakmu (Gema
Insani Press)

C. Adab Dokter Terhadap Allah Sebagai Pencipta

1. Beriman
Sebab tanpa iman segala amal saleh sebagai dokter dan tenaga para
medis akan hilang sia-sia di mata Allah.

Dalilnya Surat Al-Ashri:

Demi masa, Sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian,


Selain mereka yang beriman, Dan berbuat amal shaleh, Dan nasehat-
nasehati dengan kebenaran,Dan naseha-nasehati dengan kesabaran (QS.
Al-ashr: 1-3)
2. Tulus-ikhlas karena Allah.
Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada
Allah dengan ikhlas, lurus mengerjakan agama, karena Dia. (QS. Al
Bayyinah : 5)
D. Adab Terhadap Diri Sendiri

1. Berkeyakinan atas Kehormatan Profesi.


Bahwa profesi kedokteran adalah salah satu profesi yang sangat
mulia tetapi tergantung dengan dua syarat , yaitu :

Dilakukan dengan sungguh sungguh dan penuh kaikhlasan .

Menjaga akhlak mulia dalam perilaku dan tindakan tindakannya sebagai


dokter .

Seorang dokter diberi amanah untuk menjaga kesehatan yang


merupakan karunia Tuhan yang paling berharga bagi manusia, sebagaimana
dinyatakan dalam hadist Nabi yang berarti: Mohonlah kepada Allah
kesehatan, sebab tidak ada sesuatupun yang dianugerahkan kepada
hambaNya yang lebih utama dari kesehatan. (HR Ahmad al- Turmudzi , dan
Ibn Majah).
Disamping itu dokter selalu menjadi tumpuan pasien, keluarga,
masyarakat, bahkan bangsa. Mengingat kedudukan profesi kedokteran
tersebut seharusnya dalam menjalankan profesinya tidak hanya berfikir
tentang materi tetapi lebih kepada pengabdian dan perbaikan umat.
Keyakinan akan kehormatan profesi tersebut merupakan motivasi untuk
memelihara akhlak yang baik dalam hubungannya dengan masyarakat.

2. Berusaha Menjernihkan Jiwa


Kejernihan jiwa akan menentukan kualitas perbuatan manusia
secara keseluruhan, jika seseorang termasuk dokter hatinya jernih maka
perbuatannya akan selalu positif. Hal ini sejalan dengan penegasan
Rasulullah yang artinya: Ingatlah bahwa tubuh manusia ada segumpal
darah yang apabila baik maka seluruh tubuh menjadi baik dan apabila
buruk maka seluruh tubuh menjadi buruk, ingatlah atau adalah hati. (HR
Al Bukhari , Muslim, Ahmad, Al Darimi , dan Ibn Majah).
3. Lebih Mendalam Ilmu yang Dikuasainya
Dalam hadist Nabi disebutkan bahwa mencari ilmu merupakan
kewajiban sepanjang hidup. Sebagimana diketahui bahwa ilmu
pengetahuan itu dari hari ke hari selalu mengalami perkembangan. Karena
itu, agar setiap dokter tidak ketinggalan informasi dan ilmu pengetahuan
dan lebih mendalami bidang profesinya, maka dituntut untuk selalu
belajar. Dalam ajaran Islam sangat ditekankan dalam mengamalkan segala
sesuatu agar dilakukan secara professional dan penuh ketelitian . Nabi
bersabda :

Sesungguhnya Allah menyukai bila seseorang diantara kalian


mengerjakan pekerjaannya dengan teliti. (HR . Al-Baihaqi)

4. Menggunakan Metode Ilmiah dalam Berfikir


Bagi dokter muslim diharuskan dalam berfikir menggunakan
metode ilmiah sesuai dengan kaidah logika ilmiah sebagaimana terjabar
dalam disiplin ilmu kedokteran modern . Ajaran Islam sangat menekankan
agar berfikir atau merenung terhadap berbagai sebab, tujuannya agar
mendapatkan keyakinan yang benar. Diantara anjuran berfikir dengan
metode ilmiah , antara lain tersurat dalam firman Allah :

Artinya :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya


malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang
berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa
air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati ( kering ) nya dan
Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh ( terdapat )
tanda tanda ( keesaan dan kebesaran Allah ) bagi kaum yang
memikirkan. ( QS. Al Baqarah : 164 )
Juga berfirman Allah :

Artinya :

Katakanlah : Perhatikanlah apa yang ada dilangit dan di bumi (QS.


Yunus: 101)

5. Mawas Diri
Mengingat tugas dokter melayani masyarakat dan tanggung jawab
menyangkut nyawa dan keselamatan seseorang. Mereka sering menjadi
sasaran tuduhan, itu disebabkan adanya anggapan masyarakat yang
menganggap mereka adalah orang yang paling mengetahui rahasia
kehidupan dan kematian. Dengan senantiasa mawas diri, seorang dokter
muslim akan sadar atas segala kekurangannya sehingga di masa
mendatang akan memperbaikinya, juga akan terhindar dari berbagai sifat
tercela lain seperti sombong, riya, angkuh, dan lainnya.

Di sanping sifat-sifat di atas, sesuai dengan tuntunan dalam akhlak


Islami, khususnya yang berhubungan dengan profesi kedokteran, dokter
muslim harus tulus ikhlas karena Allah SWT, penyantun, peramah, sabar,
teliti, tegas, patuh pada peraturan, penyimpan rahasia, dan bertanggung
jawab, dan lain-lain.

6. Ikhlas, Penyantun, Ramah, Sabar dan Tenang.


Dokter muslim juga harus ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya,
semua dilakukan sebagai ibadah untuk mencari ridha Allah SWT. Berbuat
ikhlas sangat dituntut dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam Al-
Quran, antara dalam ayat

Artinya :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT


dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama
dengan lurus. (QS. Al Bayyinat ; 5)
Dokter muslim juga dituntut penyantun, ikut merasakan
penderitaan orang lain sehingga berkeinginan menolongnya. Dokter
muslim juga di tuntut ramah, bergaul dengan luwes dan menyenangkan.
Juga di tuntut bersikap sabar, tidak emosional dan lekas marah, tenang,
penyantun, ramah, sebagaiaman dianjurkan dalam ayat Al-Quran :

Artinya :

Maka disebabkan rahmat dari Allah SWT lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS.Ali Imran :
159)
Dokter muslim dituntut memiliki kesabaran dalam menghadapi
segala masalah, tidak emosional dan tidak cepat marah. Sikap sabar sangat
dituntut dalam Islam, antara lain disebutkan dalam Al-Quran :

Artinya :

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan)


yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Al- Syura :
43)
Dokter muslim juga dituntut bersikap tenang, tidak gugup dalam
menghadapi segawat apapun. Nabi barsabda yang artinya Bersikap
tenang kamu sekalian (HR al-Thabrani da al-Baihaqi).
Dalam menjalankan profesinya, dokter muslim juga dituntut
melakukannya dengan teliti, bersifat hati-hati, cermat dan rapi. Nabi
bersabda :

Artinya

Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang di antara kalian


mengerjakan pekerjannya dengan teliti. (HR. al-Baihaqi)
Sikap tegas, tidak ragu-ragu dalam menentukan sikap juga dituntut
kepada dokter muslim. Nabi bersabda yang artinya Jika ada keraguan
dalam hatimu, tinggalkanlah itu. (HR.Ahmad).
Banyak peraturan yang mesti ditegakkan oleh dokter muslim, baik
yang berhubungan dengan profesi kedokteran, berbangsa dan bernegara,
lebih-lebih dalam beragama. Tunduk patuh pada peraturan sangat
dianjurkan dalam Islam, sebagaimana anjuran Nabi dari Anas bin Malik,
dari Nabi SAW bersabda: Dengarkanlah dan patuhilah walaupun
dijadikan kepala atasmu seorang Habasyi (HR. Bukhari)
Dalam menjalankan pekerjaannya, jika seorang dokter muslim
mendapatkan sesuatu yang tidak baik pada pasiennya maka dituntut agar
merahasiakannya. Nabi bersabda :

Artinya :

Barang siapa menutupi aurat seorang muslim di dunia maka Allah SWT
akan menutupi auratnya di dunia dan akhirat (HR. Ahmad).

Dokter muslim juga mesti bertanggung jawab atas segala resiko dan
konsekwensi dari profesinya. Allah SWT berfirman :

Artinya :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai


pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, smuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya. (QS. al Isra : 36)

Kepentingan Adab dalam Menjalankan Profesi Dokter


Adab amat penting dalam kehidupan manusia. Islam amat
menuntut umatnya agar sentiasa mempunyai adab-adab yang baik. Islam
sebagai agama yang lengkap menggariskan berbagai adab dalam berbagai
kegiatan harian. Dalam perkembangan berkaitan, Dr. Haji Abdullah Siddik
(1980) telah mengaitkan adab sebagai satu dasar Ahkam al-
Syariati yaitu salah satu garis panduan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia. Menurut beliau Ahkam al-Syariati ialah tata tertib
yang mesti dilakukan oleh umat manusia selama hidup di dunia, satu
undang-undang Allah untuk umat manusia, yang sempurna, yang praktis,
yang dapat dipakai untuk segala zaman dan yang dapat dilakukan oleh
manusia sesuai dengan kemampuan dan keperluannya dalam masalah
hidup.
Pada dasarnya, manusia yang dilahirkan ke dunia ini adalah ibarat
kain putih yang belum dipolakan. Adab-adab yang telah digariskan dengan
dengan terperinci oleh Islam akan menjadi panduan kepada ibu bapa, guru,
pemimpin, masyarakat dan individu itu sendiri, termasuk seorang dokter
dalam mempolakan warna hidup seseorang insan. Adab memainkan
peranan penting dalam menilai buruk dan baik budi seseorang. Sebagai
seorang dokter muslim, kita dituntut supaya menuruti adab-adab yang
mulia yang telah dianjurkan oleh ajaran Islam. Semua ini adalah bertujuan
agar kita menjadi insan yang akan mendapat ganjaran baik di dunia dan di
akhirat.

Adab-adab yang digariskan oleh Islam termasuklah yang meliputi


kehidupan harian, seperti adab berpakaian, adab ke masjid, adab ketika
makan, dan sebagainya, maupun adab dalam menjalankan
pekerjaan/profesinya, misal adab dokter terhadap pasien dan
lingkungannya.
E. Adab Dokter Muslim terhadap Pasien

Hubungan antara dokter dengan pasien adalah hubungan antar manusia


dan manusia. Dalam hubungan ini mungkin timbul pertentangan antara dokter
dan pasien, karena masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. Masalah
semacam ini akan dihadapi oleh Dokter yang bekerja di lingkungan dengan
suatu sistem yang berbeda dengan kebudayaan profesinya.
Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, tidak jarang dokter harus
berjuang lebih dulu melawan tradisi yang telah tertanam dengan kuat. Dalam
hal ini, seorang Dokter Muslim tidak mungkin memaksakan kebudayaan
profesi yang selama ini dianutnya.
Mengenai etika kedokteran terhadap orang sakit antara lain disebutkan
bahwa seorang Dokter Muslim wajib:
Memperlihatkan jenis penyakit, sebab musabab timbulnya penyakit,
kekuatan tubuh orang sakit, keadaan resam tubuh yang tidak sewajarnya, umur
si sakit dan obat yang cocok dengan musim itu, negeri si sakit dan keadaan
buminya, iklim di mana ia sakit, daya penyembuhan obat itu.
Di samping itu dokter harus memperhatikan mengenai tujuan pengobatan,
obat yang dapat melawan penyakit itu, cara yang mudah dalam mengobati
penyakit.
Selanjutnya seorang dokter hendaknya membuat campuran obat yang
sempurna, mempunyai pengalaman mengenai penyakit jiwa dan
pengobatannya, berlaku lemah lembut, menggunakan cara keagamaan dan
sugesti, tahu tugasnya.

1. Adab Dokter terhadap Bayi Baru Lahir

a. Mengadazankan (HR. Abu Dawud & Ibnu Sunni))

b. Mentahnihkkannya (mencicipkan Manisan) (HR. Bukhari-Muslim)

c. Mendoakannya (HR. Bukhari)


2. Adab terhadap Pasien Sakit Ringan

a. Menganjurkan, memperingatkan serta memberi kesempatan kepada


penderita agar senantiasa ingat kepada Allah, mengerjakan semua amal
ibadah baik yang fardu maupun sunat, seperti shalat, berdsikir serta
membaca Al-Quran

b. Terkait dengan hal di atas, dokter muslim harus menyediakan fasilitas


yang mendukung, seperti musholla khusus di tempat kerjanya (RS),
bahan-bahan bacaan ringan dan hiburan yang bernafaskan keagamaan
seperti radio, kaset, video serta menciptakan suasana keagamaan di
lingkungan kerja (RS, klinik atau sarana kesehatan lainnya) di mana
penderita dirawat.

c. Mengusahakan agar kecemasan dan kekhawatiran pasien tidak


mengagnggu keseimbangan fisiknya. Besarkan hatinya debgan sedapat
mungkin menggembirakan hatinya.

3. Adab terhadap Pasien Sakit Berat dan Menghadapi Sakharatul Maut

a. Menghadapkan penderita ke kiblat (HR. Hakim)

b. Mengatakan kepada pasien agara berwasiat (QS. Al Baqarah: 180)

c. Memperingatkan dan mengajari pasien mengucapkan kalimat La-


illaha-il-llallah. (HR. Jamaah kecuali Bukhari, HR. Ahmad & Abu
Dawud)

d. Memerikan nasehat kepada pasien agar berobat dan berbaik sangka


kepada Allah dengan mengharapkan keampuhan dan rahmat-Nya,
sekalipun pasien merasa berdosa, yakinkan bahwa Allah akan memberi
rahmat. (HR. Muslim, HR. Ibnu Majjah & Tirmidzi)

e. Menjaga pakaiak dan tempat pasien senantiasa bersih dan suci. (HR.
Abu Daud)
f. Mendoakan (HR. Abu Daud & Nasa-i, HR. Muslim).

g. Menjaga jangan samapi pasien terganggu (HR. Bukhari).

h. Membacakan Al-Quran (HR. Abu Daud, Ibnu Majjah & Ahmad).

4. Adab terhadap pasien yang meninggal

a. Menutupkan matanya (HR. Ibu Majah & Ahmad)

b. Mengatupkan rahang atau mengikatnya dari puncak kepala sampai ke


dagu supaya mulutnya tidak menganga.

c. Memperlemah persendian anggota gerak.

d. Menutupinya dengan kain (HR. Bukhari Muslim)

e. Menanggalkan pakaian yang dipakai di bawah kain tersebut.

f. Mendekapkan kedua tangan (tangan kanan di atas kiri), di atas pusat di


bawah dada, seperti orang sholat.

g. Meletakkan sesuatu yang berat di atas perutnya.

h. Menghadapkan ke kiblat (HR. Hakim & Baihaqi)


BAB III
KESIMPULAN

Adab amat penting dalam kehidupan manusia. Islam amat menuntut


umatnya agar sentiasa mempunyai adab-adab yang baik. Islam sebagai agama
yang lengkap menggariskan berbagai adab dalam pelbagai kegiatan harian. Ahlak
dan adab Islam tidaklah bersifat tanpa sadar seperti dalam pengertian di atas.
Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam,
yaitu al-Quran dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta
perintah-perintahnya yang tidak langsung sehingga akhlak Islam itu jelas
berdasarkan pada wahyu Allah SWT.
Akhlak seorang dokter muslim ialah akhlak seorang muslim yang
menjunjung tinggi adab Rasulullah shalallahu Alaihi Wasallam sebagai teladan
yang sempurna dan akhlak Beliau disarikan dari Al-Quran itu sendiri sebagai
pedoman hidup seorang muslim.
Sebagai hamba Allah, seorang dokter muslim harus mempunyai tujuan
hidup: Hasanah fid-dunya dan hasanah fil-akhirah. Ia semata-mata mengabdi
kepada Allah.
Seorang dokter muslim harus menyadari dan menginsyafi bahwa
mengobati orang sakit karena Allah, adalah suatu amal yang amat tinggi nilainya.
Dengan demikian, ia telah melaksanakan dakwah Islam, bahwa Allah-lah yang
menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya.
Hubungan antara dokter dengan pasien adalah hubungan antar manusia
dan manusia. Dalam hubungan ini mungkin timbul pertentangan antara dokter dan
pasien, karena masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. Masalah semacam
ini akan dihadapi oleh Dokter yang bekerja di lingkungan dengan suatu sistem
yang berbeda dengan kebudayaan profesinya. Sebagai seorang dokter muslim, kita
dituntut supaya menuruti adab-adab yang mulia yang telah dianjurkan oleh ajaran
Islam. Semua ini adalah bertujuan agar kita menjadi insan yang akan mendapat
ganjaran baik di dunia dan di akhirat.
DAFTAR PUSTAKA

1) Ahmad Fauzi bin Mohammed, Ilmu, Adab, Belajar & Mengajar,


dalam http://www.sach.kedah.edu.my/esei_karya
2) Ali Akbar, 1988, Etika Kedokteran dalam Islam, Pustaka Antara, Jakarta.
3) Majid Ramadhan, 2004, Karakteristik Dokter Muslim, Pustaka Al-Kautsar,
Jakarta.
4) Muhammad Agus Syafii, Pengertian Adab,
dalam http://agussyafii.blogspot.com/2009/02/pengertian-adab.html
5) Muzhoffar Akhwan, 1987, Perawatan Orang Sakit dan Sakharatul Maut
dalam Perawatan Jenazah menurut Islam/Medis, Badan Pembina dan
Pengembangan Keagamaan, UII, Yogyakarta.
6) Shahid Athar, 2001, Islam dan Etika Kedokteran, Fakultas Kedokteran
Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.
7) Tharmizi Taher, 2003, Medical Ethics, Manual Praktis Etika Kedokteran
untuk Mahasiswa, Dokter dan Tenaga Kesehatan, PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
8) Zuhair Ahmad Assi Bai, 1996, Dokter-dokter Bagaimana Ahlakmu, Gema
Insani Press, Jakarta.