Anda di halaman 1dari 5

1. John Lewis, Stella Chong-Lau & Julianne Y.C.LO, 1997.

Disability, curriculum and


integration in China. European Journal of Special needs education. Volume 12, Issue
http://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/0885625970120201#.Ulz3SCdX2dc. ( 14
oktober 2013).

Jurnal ini menunjukkan bahwa ada enam juta anak muda usia sekolah penyandang cacat di
Cina . Hanya sekitar 50 persen menyandang bangku pendidikan dengan sekitar 220.000
dari mereka terdaftar di sekolah khusus dan sekolah umum sisanya di kelas reguler . Ini
berarti bahwa ada sekitar tiga juta siswa penyandang cacat tidak mengenyam dunia
pendidikan. Dalam tulisan ini diberikan gambaran dari pengaturan kurikulum di China
dengan empat jenis sekolah khusus, termasuk perkembangan sejarah mereka, mata
pelajaran yang diajarkan, mengajar pengaturan dan manajemen. Sejumlah kesulitan yang
dihadapi China pendidikan khusus pembuat kebijakan diteliti dan alasan yang
dikemukakan untuk meningkatkan komitmen mereka pada strategi integrasi.

2. Andrew Smith & Nigel Thomas. 2006. Including Pupils With special Educational needs
And Disabilities In National curriculum Physical Eduacation : a brief rivew. European
Journal of special needs Education. Volume 21, issue 1.
http://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/08856250500491849#.Ulz61ydX2dc (14
Oktober 2013).

Dalam makalah ini mengkaji masuknya siswa dengan kebutuhan pendidikan khusus
(SEN) dan cacat dalam Kurikulum Pendidikan Jasmani Nasional (NCPE) . Penelitian ini
dilakukan terhadap guru dan siswa di Inggris. penelitian ini membahas beberapa isu-isu
kompleks tentang SEN dan cacat di NCPE setelah diperkenalkan pada tahun 1992.
Sehingga dalam makalah ini menjadi relevansi tidak hanya bagi mereka yang memiliki
minat dalam PE , tetapi juga bagi mereka yang memiliki minat dalam pendidikan inklusif
lebih umum.

3. Prof. Dr. H. Soedijarto, 2004. Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Pendidikan
sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional.
http://www.bpkpenabur.or.id/files/hal%20089-
107%20Kurikulum,%20Sistem%20Evaluasi%20dan%20Tenaga%20Pendidikan%20sebag
ai%20Unsur%20Strategis%20dalam%20Penyelenggaraan%20Sistem%20Pengajaran%20
Nasional.pdf ( 14 oktober 2013).

1
Dalam artikel ini membahas tentang makna kurikulum sebagai unsur strategis dalam
pendidikan sekolah, tujuan dan materi kurikulum yang relevan, pendekatan proses
pembelajaran dan implikasinya terhadap sistem evaluasi, evaluasi sebagai media
pendidikan dan sarana umpan balik, peranan guru dan implikasinya terhadap
profesionalisasi jabatan guru. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa apabila sekolah dengan
kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan, efisien dan efektif akan
mempu mendukung terlaksanya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan memajukan kebudayaan nasional.

4. Badan Litbang Dan diklat kementrian Agama RI. 2013. Kurikulum pendidikan
berkarakter. Jurnal kediklatan. http://balitbangdiklat.kemenag.go.id/indeks/jurnal-
kediklatan/545-kurikulum-pendidikan-yang-berkarakter.html (14 oktober 2013)

Dalam jurnal ini membahas tentang pendidikan karakter sebagai Salah satu hal yang
sederhana karena kata karakter adalah semua pengembangan diri siswa dalam interaksi
belajar hingga awal dan berakhirnya proses pengajaran bisa tercapai pembentukan siswa
yang berkarakter. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari
pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan
pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik
selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak
ketimbang pendidikan karakter.

5. Bayu Purnama. Pengembangan Kurikulum pendidikan kejuruan dengan Model Sistematik


(studi pada sekolah menengah kejuruan kompetensi keahlian teknik kendaraan ringan)
http://www.academia.edu/Documents/in/Jurnal_Kurikulum_Pendidikan.(14 Oktober
2013).

Jurnal ini mengkaji permasalahan pokok bagaimana menghasilkan kurikulum pendidikan


kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Pengembangan desain kurikulum
menggunakan frame work sistemik, comprehensive, intercorrelation, observable dan
measureable. Kurikulum Pendidikan Kejuruan di spesifikan pada kurikulum SMK
program produktif Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan dengan menerapkan
model kurikulum sistemik dari Romiszowski melalui 14 langkah penyusunan kurikulum.
Hasil kajian menggambarkan sosok desain kurikulum yang mengedepankan logika
menstrukturkan peta kompetensi pada struktur pekerjaan. Struktur isi kurikulum
dikelompokkan pada jenis pekerjaan melalui penawaran paket-paket pembelajaran,
2
sehingga pada pengembangannya dapat melayani warga masyarakat yang berminat
mempelajari materi Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan secara parsial (non-
reguler). Keunggulan desain kurikulum yang dihasilkan terletak pada proses
pengembangannya yang dilakukan secara logik dan komprehensif, kompetensi disusun
berdasarkan jenis pekerjaan, sedangkan keterbatasannya disebabkan faktor adalah adanya
kesulitan untuk melibatkan DU/DI karena jadwal kerja yang padat, tim pengembang
kurikulum di sekolah yang kurang menguasai materi, bersifat pasif, dan membutuhkan
waktu, tenaga, dan biaya yang besar.

6. Muhammad Nasir. 2009. pengembangan Kurikulum berbasis madrasah. Jurnal penelitian


volume 10 no.2. http://jurnal.upi.edu/file/Muhammad_Nasir.pdf. (14 Oktober 2013).

Desentralisasi pendididkan di Indonesia memberikan suasana baru dalam pengelolaan dan


pengembangan kurikulum madrasah, terlebih lagi setelah diberlakukan Kurikulum Satuan
Tingkat Pendidikan (KTSP). Perubahan tersebut meliputi perpindahan tanggung jawab
dalam pengambilan keputusan atas pengembangan kurikulum dari yang bersifat terpusat
oleh pemerintah menjadi kewenangan yang ada pada masing-masing sekolah/madrasah.
Para guru dan seluruh komponen madrasah menuntut lebih banyak kebebasan dalam
menentukan kurikulum di madrasah oleh warga madrasah, yaitu kebijakan yang
sepenuhnya ditentukan oleh pusat, hanya sedikit otonomi bagi madrasah dalam proses
pengembangan kurikulum. Tulisan ini mencoba mengexplor tentang bagaimana hakekat,
prosedur dan langkah-langkah pengembangan kurikulum yang berbasis kepentingan
madrasah termasuk bagaimana mengembangkan kurikulum ideal yang mengintegrasikan
pendidikan umum dan pendidikan agama.

7. Deden Cahaya Kusumah, 2013. Analisis Komponen-komponen pengembangan Kurikulum


2013. Fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam. Universitas pendidikan Indonesia.
http://berita.upi.edu/files/2013/04/Jurnal-Analisis-Komponen-Pengembangan-Kurikulum-
2013.pdf. di unduh tanggal 20 Oktober 2013.

Dari hasil analisis dalam jurnal ini rancangan kurikulum yang terdapat pada Bahan Uji
Publik Kurikulum 2013 memiliki komponen-komponen pengembangan kurikulum yang
terdiri dari komponen tujuan, komponen isi, komponen metode, dan komponen evaluasi.
Untuk komponen tujuan, isi, dan metode sudah dapat dikatakan baik, namun uuntuk
komponen evaluasi masih belum berperan secara maksimal. Hal ini dapat terlihat dari
beberapa permasalahan kurikulum 2006 yang masih belum diselesaikan.
3
8. Aulia rahim. 2010. Jurnal :analisis konsep pembelajaran sebagai objek dari
pengembangan kurikulum 2013. Pendidikan kimia FPMIPA. Universitas pendidikan
indonesia. Http://www.scribd.com/doc/133934414/jurnal-analisis-konsep-pembelajaran-
pada-kurikulum-2013-pdf. Di unduh tanggal 21 oktober 2013.

Dalam jurnal ini dilakukan analisis mengenai konsep pembelajaran pada uji publik
kurikulum 2013. Hasil pembahasan dalam jurnal ini bahwa dalam kurikulum 2013,
perkembangan konsep pembelajaran telah mencapai pengertian dari pembelajaran sebagai
suatu sistem, dimana dalam pengertian ini cakupannya sangat luas, dilihat dari berbagai
aspek yang dapat terlibat dalam proses pembelajaran, tidak hanya adanya interaksi antara
seorang pendidik dan peserta didik saja, serta model pembelajaran yang dikembangkan
dalam kurikulum 2013 ini. Namun model yang paling ditonjolkan dalam kurikulum 2013
ini adalah model behavioristik yang lebih menitikberatkan pada aspek afektif dari peserta
didik yang disebabkan karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semakin canggih,yang menyebabkan peserta didik mengesampingkan aspek afektif,
sehingga dalam kurikulum 2013 ini, yang ingin lebih ditonjolkan adalah aspek afektifnya,
supaya generasi penerus bangsa mewarisi budaya-budaya indonesia yang ramah
dan berakhlak mulia.

9. Lely halimah, R. Deti rostika, Encep Sudirjo, 2009. Pengembangan model penyusunan
kurikulum tingkat Satuan pendidikan (KTSP) yang mengacu pada standar Nasional
pendidikan. Jurnal penelitian volume 10 No. 2. Http://jurnal.upi.edu/file/lely_halimah.pdf.
Di unduh 21 Oktober 2013.

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya kesenjangan berkaitan dengan kebijakan dalam


penyempurnaan kurikulum dengan kondisi lapangan di sekolah dasar. Penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (Research &
Development). Dalam proses pelaksanaannya, penelitian dan pengembangan ini
membentuk suatu siklus, yang dimulai dengan melakukan studi pendahuluan untuk
menemukan kerangka produk awal yang dibutuhkan melalui suatu uji coba, yang hasilnya
kemudian direvisi dan diuji coba kembali sehingga pada akhirnya ditemukan suatu produk
akhir yang dianggap sempurna yang selanjutnya produk tersebut diuji validasinya. Dalam
penelitian ini membahas pada umumnya sekolah-sekolah khususnya jenjang sekolah dasar
belum dapat menyusun KTSP secara mandiri, maka sosialisasi KTSP harus dilakukan

4
secara menyeluruh dan aplikatif agar sekolah-sekolah mendapatkan gambaran yang
konkrit tentang proses dan produk penyusunan KTSP.