Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
a. Data Pengamatan Fermentasi
Tabel 1. Data Hasil Fermentasi Enceng Gondok Menggunakan Rhizopus oryzae
Selama 5 Hari.
Hari ke Tekstur Warna Suhu (0C) Jamur
1 Remah Coklat 35 -
2 Remah Coklat 35 +
Mulai
3 Coklat 35 ++
memadat
memadat
Coklat
4 dan 35 +++
kehitaman
kompak
Memadat
Coklat
5 dan 35 ++++
kehitaman
kompak

A. Hasil
Tabel 4.1. Hasil Fermentasi Eceng Gondok Sebagai Pakan Ruminansia.
Gambar Keterangan

jamur yang tumbuh setelah 5 hari


proses fermentasi

Penjemuran setelah fermentasi


hasil akhir dari fermentasi eceng
gondok setelah penjemuran

Tabel 4.2. Suhu Fermentasi Eceng gondok Selama 5 Hari

No. Hari Resep ke


ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 1 350C 370C 400C 350C 400C 380C 360C 380C 360C 370C 360C

2 2 360C 380C 430C 380C 380C 400C 400C 390C 380C 390C 400C

3 3 350C 360C 400C 390C 400C 360C 360C 380C 390C 380C 380C

4 4 360C 370C 380C 370C 370C 380C 390C 400C 380C 360C 400C

5 5 340C 350C 380C 350C 360C 400C 360C 380C 360C 400C 380C

Rata 34,40C 36,60C 39,80C 36,80C 38,20C 38,40C 37,40C 38,60C 37,40C 380C 38,40C

b. Analisis Data
Berdasarkan data hasil pengamatan fermentasi enceng gondok selama 5 hari
didapatkan hasil bahwa proses fermentasi berpengaruh pada warna enceng
gondok. Pada hari pertama, enceng gondok memiliki coklat, setelah dilakukan
fermentasi tersebut enceng gondok mengalami perubahan warna dari coklat
menjadi coklat kehitaman.
Data hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa fermentasi yang dilakukan
selama 5 hari berpengaruh pada tekstur enceng gondok. Enceng gondok pada hari
pertama dan hari kedua fermentasi memiliki tekstur yang remah. Pada hari ketiga
tekstur enceng gondok mulai memadat. Pada hari keempat tekstur enceng gondok
menjadi memadat dan kompak dan pada hari kelima atau hari terakhir fermentasi,
struktur enceng gondok semakin memadat dan kompak.
Berdasarkan data hasil pengamatan tersebut juga diketahui data tentang
pertumbuhan jamur Rhyzopus oryzae. Pertumbuhan jamur Rhyzopus oryzae
semakin hari semakin bertambah banyak. Aktivitas pertumbuhan jamur tersebut
berbanding lurus dengan terbentuknya terkstur enceng gondok. Dengan kata lain,
adanya struktur enceng gondok yang padat dan kompak tersebut disebabkan oleh
aktivitas jamur yang berkembang dengan baik dari hari ke hari pada media enceng
gondok tersebut.
Diketahui bahwa jamur Rhizopus oryzae tersebut dapat tumbuh baik pada
media enceng gondok tersebut. Namun selain faktor media, pertumbuhan jamur
fermentasi tersebut juga dipicu oleh adanya kestabilitasan suhu fermentasi yaitu
350C. Suhu tersebut dapat dipertahankan dari hari pertama proses fermentasi
hingga hari ke 5.
c. Pembahasan

Dari hasil analisis data yang telah dilakukan pada praktikum pembuatan
pakan ternak dari limbah eceng gondok diketahui karakteristik pakan yang
dihasilkan pada fermentasi hari ke-5 yaitu memadat dan kompak serta berwarna
coklat kehitaman. Pada praktikum ini dilakukan pengolahan limbah eceng gondok
menjadi pakan ternak hewan ruminansia menggunakan teknologi fermentasi.
Teknologi ini tentu saja dilakukan dengan peranan agen makhuk hidup berupa ragi
tempe yang mengandung banyak mikroorganisme antara lain lignolitik,
proteolitik, amilolitik, selulolitik, lipolitik, dan nitrogen non simbiotik. Fermentasi
pada eceng gondok ini bertujuan untuk meningkatkan daya cernanya antara lain
adalah meningkatkan ketercernaan serat kasar.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai pakan mempunyai beberapa
kelemahan, antara lain: kadar airnya tinggi, teksturnya halus, kadar serat kasar
tinggi dan proteinnya sulit dicerna (Tristiarti et.al, 2006). Oleh karena itu perlu
dilakukan pengolahan agar kandungan serat berkurang dan proteinnya dapat
dicerna yaitu dengan cara fermentasi. Kandungan serat kasar yang rendah dan
adanya mikroorganisme fermentatif yang terdapat dalam pakan ternak akan
memudahkan hewan ruminansia dalam mencerna makanan.
Secara umum proses pembuatan pakan ternak diawali dengan menggiling tanaman eceng
gondok yang masih segar sehingga terbentuk remahan yang berserat, kemudian menjemur
eceng gondok selama lebih kurang 1 minggu agar kandungan air berkurang. Setelah itu
menimbang eceng gondok masing-masing sebanyak 10 kg. Kemudian adalah melakukan
pengukusan selama lebih kurang 20 menit tapi sebelumnya eceng gondok sudah dicampur
dengan bonggol jagung dan molase. Kemudian setelah selesai dikukus, didiamkan sampai
suhunya turun atau agak hangat baru ditambahkan ragi tempe. Pakan yang sudah bercampur
ragi kemudian akan difermentasi dengan dimasukkan ke dalam keranjang dan menggunakan
alas serta penutup dari daun pisang. Fermentasi dilakukan selama 5 hari namun setiap harinya
harus dilakukan pengecekan secara rutin bagaimana suhu pakan. Suhu pakan selama
pengeraman diusahakan konstan dan tidak berubah-ubah agar mikroorganisme pada ragi
tidak mati dan dapat bekerja optimal. Pada hasil pengukuran suhu selama 5 hari pengeraman
konstan yaitu sebesar 35o C.

Agen utama dalam pembuatan pakan ternak ini adalah ragi tempe yang termasuk ke
dalam probiotik. Probiotik ini dapat memberikan keuntungan fisiologis bila dikonsumsi.
Menurut Wahyudi (2004) manfaat penambahan probiotik salah satunya dapat meningkatkan
nilai guna pakan yang dapat dicapai melalui efisiensi proses percernaan atau meningkatkan
kecernaan senyawa-senyawa sulit dicerna. Probiotik juga dapat diartikan sebagai
mikroorganisme yang dikonsumsi atau diberikan secara langsung untuk ternak (Wahyudi,
2004).
Beberapa keuntungan dari penggunaan probiotik dalam pakan antara lain meningkatkan
kecernaan, meningkatkan penyerapan nutrisi, memperbaiki keseimbangan mikroflora rumen,
meningkatkan daya tahan tubuh, dan menghilangkan atau menurunkan mikroorganisme
patogen (Chestnut, 1999 dalam Hendraningsih, 2004).

Eceng gondok mengandung bahan kering sekitar 7%; protein kasar 11,2%; serat kasar
18,3%; BETN 57%; lemak kasar 0,9%; abu 12,6%; Ca 1,4%; dan P sebesar 0,3% (Fuskhah,
2000 dalam Tristiarti et.al, 2006). Ragi tempe pada proses fermentasi akan membantu
degradasi molekul menjadi lebih sederhana. Mikroorganisme selulotik mendegradasi selulosa
menjadi glukosa, proteolitik membentuk pepida yang lebih sederhana, lipolitik untuk
mendegradasi lemak. Fermentasi pada pakan ternak berfungsi untuk menyederhanakan
molekul-molekul kompleks agar lebih mudah dicerna oleh hewan ruminansia. Ragi tempe
mengandung mikroorganisme antara lain Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus
stolonifer, dan Rhizopus arrhizus (Fardiaz, 1992). Mikroorganisme tersebut peranannya sama
apabila dibandingkan dengan sistem pencernaan yang ada pada hewan ruminansia. Di dalam
sistem pencernaan hewan ruminansia terdapat mekanisme yang sama dengan proses
fermentasi yang dilakukan pada pakan ternak.

Hewan ternak ruminansia salah satunya Domba yang memiliki tiga macam pencernaan
yakni pencernaan mekanik yang terjadi di dalam mulut, pencernaan hidrolitik yang
disebabkan enzim, dan pencernaan fermentatife yang dilakukan oleh mikroorganisme rumen.
Pencernaan fermentatife merupakan proses yang dapat meningkatkan pencernaan bahan
makanan dalam rumen, karena pada ternak ruminansia pencernaan makanan sangat
tergantung pada aktifitas mikroorganisme (Fitrihidajati dkk, 2014). Sehingga dengan
mengkonsumsi pakan ternak tersebut, maka membantu proses pencernaan pada hewan
ruminansia agar fermentasinya di dalam tubuh tidak terlalu lama serta kandungan nilai
gizinya yang lebih mencukupi untuk pertumbuhan. Nutrien yang diberikan pada dasarnya
diperlukan sebagai bahan untuk menyusun tubuh organisme dan kualitas gizinya akan
memperlihatkan kualitas daging yang dihasilkan oleh organisme tersebut.

Penambahan molase pada pembuatan pakan ternak karena molase berfungsi sebagai
sumber energi esensial dengan adanya kandungan gula di dalamnya. Molase dapat
ditambahkan ke dalam pakan adalah untuk meningkatkan palatabilitas (sifat performansi
bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-
bahan pakan seperti bau, rasa, tekstur, dan temperatur) pakan. Molase dapat berfungsi sebagai
pellet binder ialah senyawa alami yang dapat meningkatkan stabilitas dan kualitas pakan
pelet ternak ruminansia (Priyono, 2009).