Anda di halaman 1dari 149

USADHA BALI SEBAGAI PUSTAKA DALAM PENGOBATAN

TRADISIONAL DI BALI

Diajukan untuk pemenuhan salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan
Masyarakat jurusan farmasi

OLEH :
KELOMPOK 2/C
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

I GEDE BAYU SOMANTARA 161094


EKA SRI DIAH DHARMAYANTI 161095
I GST A ARYA DITHA SUARI 161096
NI PUTU SASMITA CLAUDIA 161097
I GEDE AGUS SUYOGA ADI P. 161098

YAYASAN PERGURUAN RAKYAT MAHA SARASWATI DENPASAR


AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

1
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena
atas asung kerta waranugraha-NYA lah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini
tepat pada waktunya. Adapun judul makalah yang kami buat adalah Usada Bali
sebagai Pustaka dalam Pengobatan Tradisional di Bali Judul tersebut merupakan
judul yang telah kami pilih sendiri menurut pertimbangan pribadi kami.
Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya masih memiliki budaya
pengobatan yang ternyata cukup manjur dan masih dipercayai oleh masyarakatnya
untuk menanggulangi penyakit yang ada. Peninggalan budaya ini hendaknya tetap
dipelihara dan dilestarikan, sehingga mampu dipergunakan untuk menunjang
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya lahir dan bathin. Dewasa ini
pengetahuan orang Bali tentang penyembuhan (usadha) masih mempunyai
kehidupan yang sungguh-sungguh berhubungan dengan agama Hindu, hanya sedikit
orang yang mau mempelajari secara seksama. Namun banyak umat Hindu yang
mengabaikan ajaran tersebut. Pengobatan tradisional Bali (usadha) yang dikenalkan
oleh para leluhur merupakan ilmu pengetahuan penyembuhan yang dijiwai oleh nilai-
nilai agama Hindu.
Karya tulis ini kami buat agar bisa lebih mengerti dan paham tentang ajaran
tersebut. Setelah membaca makalah ini, kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari bapak/ibu dosen demi kesempurnaan makalah kami ini.
Sekian dan terima kasih, kami akhiri dengan parama santih.
Om Santih, santih, santih Om.

Denpasar, 5 Mei 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 4
1.2 Rumusan Msalah ........................................................................................ 5
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 6
1.4 Manfaat ...................................................................................................... 6
1.4.1 Manfaat Praktis ................................................................................ 6
1.4.2 Manfaat Teoritis ............................................................................... 7
BAB 2 ISI .................................................................................................................... 8
2.1 Pengertian Usada Bali ................................................................................ 8
2.2 Konsep Sehat dan Sakit serta Pengobatannya dalam Usadha Bali .......... 11
2.2.1 Konsep Sehat dan Sakit.................................................................. 11
2.2.2 Pengobatan dalam Usada Bali........................................................ 17
2.3 Jenis-Jenis Usada Bali ............................................................................. 19
2.4 Penggunaan Usada Bali di Masyarakat ................................................... 24
2.5 Jenis-jenis Tanaman yang Terdapat Pada Usadha Bali Baik yang Telah
Terbukti Secara empirik dan Secara Ilmiah yang Didukung Oleh Jurnal-
Jurnal Penelitian Ilmiah ............................................................................. 34
2.5.1 Tanaman yang terdapat pada Usada Bali yang Teruji secara
Empiris ........................................................................................ 34
2.5.2 Tanaman yang terdapat pada Usada Bali yang Teruji secara
Ilmiah .......................................................................................... 39
BAB 3 PENUTUP ..................................................................................................... 50
3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 50
3.2 Saran ......................................................................................................... 51
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah suatu negara yang berbentuk kepualaun. Pulau-pulau
tersebut membentang dari ujung Sabang hingga Merauke. Indonesia, dengan 1001
keanekaragaman adat, tradisi, dan budaya yang dimilikinya telah tumbuh dan
berkembang hingga mendarah daging pada generasinya. Adat, tradisi, dan budaya
tersebut memberi warna warni tersendiri yang patut dijaga keharmonisannya. Bali
merupakan salah satu pulau di Indonesia yang masih sangat kental dengan budaya
dan tradisi leluhurnya, tak pelak lagi Bali telah terkenal ke pelosok manca negara
dengan tradisi dan budayanya tersebut. Implementasi budaya, adat, dan tradisi
tersebut dapat berupa dalam bentuk seni ataupun pengetahuan. Pengetahuan yang
diwariskan memang cukup luas cakupannya, salah satu diantaranya yaitu mengenai
pengetahuan tentang pengobatan tradisional. Indonesia pada umumnya, dan Bali pada
khususnya telah didukung dengan biodiversitas hayati yang melimpah dan menjadi
modal tersendiri untuk mengembangkan pengobatan tradisional ini.
Pengobatan tradisional di Bali disebut dengan usada, kata usada berasal dari
kata ausadhi (bahasa Sansekerta) yang berarti tumbuh-tumbuhan yang
mengandung khasiat obat-obatan (Nala, 1992:1). Dewasa ini pengetahuan orang Bali
tentang penyembuhan (usada) masih mempunyai relasi yang erat dengan agama
Hindu, karena usada ini dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu. Mayoritas penduduk
Bali beragama Hindu, namun masih sedikit orang yang tertarik untuk mempelajari
usada dengan seksama. Hal ini disebabkan masyarakat Bali mengalami hambatan
sosio-psikologis untuk mempelajari usada yang masih dalam bentuk lontar (usada
dan tutur). Karena ada wacana yang ditafsirkan dan ditransformasikan secara keliru
sehingga masyarakat merasa sungkan dan ragu bahkan takut untuk mempelajari teks
lontar tersebut. Misalnya adanya wacana aywa wera (pengendalian diri atau agar
hati-hati) dalam belajar, hal ini diartikan tidak boleh diberitahu atau dipelajari.
Sukantra (1992) menyatakan, usada adalah ilmu pengobatan tradisional Bali
yang sumber ajarannya terdapat pada lontar. Lontar usada di Bali dapat dibagi
menjadi dua golongan yakni golongan lontar usadha dan lontar tutur (Nala, 2002). Di
dalam lontar tutur (tatwa) berisi tentang ajaran aksara gaib atau wijaksara. Ajaran
anatomi, phisiologi, falsafah sehat-sakit, padewasaan mengobati orang sakit, sesana

4
balian, tatenger sakit. Sedangkan di dalam Lontar Usada berisi tentang cara
memeriksa pasien, memperkirakan penyakit (diagnosa), meramu obat (farmasi),
mengobati (terapi), memperkirakan jalannya penyakit (prognosis), upacara yang
berkaitan tentang masalah pencegahan (preventif), dan pengobatan (kuratif).
Dengan kompleksitas yang dimiliki oleh usada sebagai ilmu pengobatan
tradisional mengenai seluk beluk dari pengobatan tradisional, maka sangat ideal
untuk menjadikan lontar usada Bali sebagai suatu pegangan pengobatan tradisional.
Namun, jauh diluar ekspektasi, eksistensi Usada Bali hanya masih berupa suatu
budaya saja, dan dengan paradigma masyarakat bahwa Usada Bali (pengobatan
tradisional) merupakan suatu pilihan terakhir bahkan telah jarang digunakan untuk
pengobatan pada dewasa ini seiring maraknya obat-obat sintetis. Selain itu, menurut
Adiputra (2016) masih diperlukan suatu pengkajian lebih mendalam terutama untuk
menyamakan persepsi dari apa yang tersurat dalam lontar usadha dengan dunia
medis, khusunya farmasi. Berbagai jenis tanaman obat seharusnya diberi nama sesuai
dengan nama daerahnya juga, sehingga dikenal bisa nama Jawa, Sunda, Batak, Bali,
Dayak, dllnya. Dalam beberapa buku referensi yang memuat tanaman obat di
Indonesia, banyak tanaman obat tidak disebutkan nama Balinya sehingga seolah-olah
tumbuhannya tidak terdapat di Bali. Padahal penggunaan tanaman sebagai bahan
obat, sudah dikenal di Bali sejak dahulu kala. Kurangnya edukasi dan juga minimnya
pengembangan atau pengkajian tentang Usada Bali menyebabkan Usada Balikini
kian tergerus dan dilupakan dengan segudang pengetahuan dan ilmu tentang
pengobatannya, padahal Usada Bali berpotensi menjadi tolak ukur dan pegangan
dalam mengembangkan pengobatan tradisional. Dengan adanya ketimpangan antara
ekpekstasi dengan realita yang terjadi seperti yang telah disebutkan diatas, maka
dalam makalah ini, penulis bermaksud untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai
Usada Bali. Dengan demikian penulis membuat suatu makalah yang berjudul Usada
Bali sebagai Pustaka dalam Pengobatan Tradisional di Bali

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan-rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Usada Bali?
2. Bagaimana konsep sehat dan sakit serta pengobatannya dalam Usadha Bali?
3. Apa saja jenis-jenis Usadha Bali?

5
4. Bagaimana penggunaan Usadha Bali di masyarakat?
5. Tanaman apa saja yang terdapat pada Usadha Bali baik yang telah terbukti
baik secara empiris maupun secara ilmiah yang didukung oleh jurnal-jurnal
penelitian ilmiah?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memecahkan
rumusan masalah yang diantaranya :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Usada Bali
2. Untuk mengetahui bagaimana konsep sehat dan sakit serta pengobatannya
menurut Usadha Bali
3. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis Usadha Bali
4. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan Usadha Bali di masyarakat
5. Untuk mengetahui tanaman apa saja yang terdapat pada Usadha Bali yang
telah terbukti baik secara empiris dan secara ilmiah yang didukung oleh
jurnal-jurnal penelitian ilmiah

1.4 Manfaat
Dengan dibuatnya makalah ini, penulis berharap karya tulis ini dapat memberi
manfaat baik secara praktis maupun secara teoritis.

1.4.1 Manfaat Praktis


1. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat kepada masyarkat yang sebagai
pelaku dalam pemanfaatan atau pengimplementasian dari Usadha Bali
sebagai salah satu pegangan dalam membuat atau memanfaatkan
pengobatan tradisional.
2. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai gambaran teknis
pengembangan obat tradisional di dunia medis untuk meminimalisir
penggunaan obat modern sehingga sesuai dengan gerakan untuk kembali
ke alam Back to Nature

1.4.2 Manfaat Teoritis

6
1. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan sumbangan
khazanah ilmu pengetahuan di bidang kesehatan khususnya pengobatan
tradisional Usadha Bali.
2. Dapat bermanfaat bagi peneliti atau penulis lain sebaagi referensi atau
literatur dalam mengeksplorasi dan mengeksistensikan Usadha Bali
sebagai salah satu warisan leluhur nenek moyang dalam bidang
pengobatan tradisisonal.

7
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Usada Bali


Kata usadha berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu ausadha yang berarti
tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat, atau dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Tetapi
batasan usadha di Bali lebih luas, usadha adalah semua tata cara untuk
menyembuhkan penyakit, cara pengobatan, pencegahan, memperkirakan jenis
penyakit/diagnosa, perjalanan penyakit dan pemulihannya. Jika dilihat secara analogi,
hampir sama dengan pengobatan modern. Pengobatan tradisional Bali (usada) yang
dikenalkan oleh para leluhur merupakan ilmu pengetahuan penyembuhan yang
dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu Bali/ Siwasidhanta. Usada Bali merupakan suatu
pengetahuan pengobatan yang disusun berdasarkan suatu acuan tertentu digabungkan
dengan pengalaman praktik pengobatan di Bali selama ratusan tahun. Dalam usada
tidak hanya terdapat penyakit dengan ramuan tumbuhan saja, tetapi mencangkup
pengetahuan tentang medico-psikomatik, farmakologi, farmasi, cara mendiagnosis
penyakit, tanda tanda kehamilan, merawat bayi, hari baik untuk melaksanakan
pengobatan, sampai tanda-tanda seseorang yang akan meninggal (Sutara, 2007).
Usada umumnya terdapat dalam naskah kuno lontar yang ditulis dengan Bahasa kuno
(Sansekerta) tersebar di masyarakat atau etnis Bali, terutama dari Balian, pemuka
adat, para pelaksana upakara adat dan ada yang telah tersimpan di Gedung Kertya
(Singaraja), Perpustakaan Pusat Denpasar, dan Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Isi dari satu usada dengan usada lain terdapat persamaan pengobatan tetapi
penggunaan bahan dapat berbeda, selalu ada kekhasan masing masing sesuai nama
usada. Pokok pengetahuan yang menjadi dasar usada adalah mencangkup pandangan
masyarakat Bali tentang sifat manusia (Bhuana alit, mikroskosmos) dan hubungannya
dengan alam nyata (sekala), alam gaib (niskala), dan lingkungan tempat manusia
hidup (Bhuana agung, makrokosmos) (Sutara, 2007).
Sukantra (1992) menyatakan, usada adalah ilmu pengobatan tradisional Bali,
yang sumber ajarannya terdapat pada lontar. Lontar tersebut dapat dibagi menjadi dua
golongan yaitu lontar tutur dan lontar usadha. Di dalam lontar tutur (tatwa) berisi
tentang ajaran aksara gaib atau wijaksara. Ajaran anatomi, phisiologi, falsafah sehat-
sakit, padewasaan mengobati orang sakit, sesana balian, tatenger sakit. Sedangkan di
dalam Lontar Usada berisi tentang cara memeriksa pasien, memperkirakan penyakit

8
(diagnosa), meramu obat (farmasi), mengobati (terapi), memperkirakan jalannya
penyakit (prognosis), upacara yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan
pengobatannya. Pengobatan penyakit dalam Usada didasarkan pada konsep sekala
dan niskala. Dari aspek sekala, pengobatan dilakukan dengan menggunakan bahan-
bahan obat dari tumbuhan, hewan, maupun mineral, sedangkan dari aspek niskala
proses pengobatan dipadukan dengan mantra-mantra yang lebih ditujukan untuk
menenangkan pikiran dan mental pasien (pengobatan secara spiritual). Dasar
pengobatan dalam Usada Dalem juga berpedoman pada kepercayaan agama Hindu
bahwa sejak semula dalam tubuh manusia terdapat kandungan alam semesta, di mana
sumber penyakit senantiasa melekat dan sumber penyakit baru akan hilang setelah
Sanghyang Atma meninggalkan badan manusia tersebut. Dengan demikian, sumber
penyakit tidak sepenuhnya bisa dihilangkan dari tubuh manusia, melainkan dapat
dijaga keseimbangannya agar tidak menimbulkan penyakit berbahaya (Sutara, 2007).
Usada Dalem membahas tentang penyakit dalam terutama penyakit tuju. Penyakit
tuju biasa dikenal dengan nama penyakit rematik, yaitu penyakit yang menyebabkan
rasa nyeri dan kaku pada sendi, otot, dan tendon. Dalam lontar Usada Dalem memuat
10 jenis penyakit tuju dengan gejala atau tanda-tanda yang berbeda, penyakit gila,
barah, buh, badasa, gering agung atau kusta lepra, gudig, kurap gatal dan hangus,
gigitan ular, gigitan anjing, obat muka, sasak, sakit bagian pelepasan, penyakit kulit,
penyakit perut, penyakit yang tidak mempan diobati, tuju dan bebai, dan cara
membuat banten untuk orang sakit. Bila dibandingkan dengan cara pengobatan lain,
dengan pengobatan tuju menurut Usada Dalem lebih banyak menggunakan bahan,
biasanya dibuat boreh. Dari 10 jenis penyakit tuju, dapat digunakan 30 jenis
tumbuhan dari 17 suku, tumbuhan yang digunakan umumnya, mengandung minyak
atsiri dan glukosida yang bersifat antiradang, antipiretik, dan analgesic (Prastika,
2008).
Dalam dunia kedokteran modern, kita mengenal dokter sebagai pelaksana
praktisi sedangkan dalam usadha Bali, dokternya dikenal dengan istilah Balian.
Balian adalah pengobat tradisional Bali yakni, orang yang mempunyai kemampuan
untuk mengobati orang sakit. Balian juga beragam jenis dan klasifikasinya yang
diuraikan sebagai berikut.

A. Jenis balian berdasarkan pengetahuan yang diperoleh (berdasarkan lontar


Boda Kecapi) :

9
1. Balian katakson (tetakson) adalah balian yang mendapat keahlian
melalui taksu, roh atau kekuatan gaib yang memiliki kecerdasan,
mukzijat ke dalam dirinya. Taksu adalah kekuatan gaib yang masuk
kedalam diri seseorang dan mempengaruhi orang tersebut, baik cara
berpikir, berbicara maupun tingkah lakukanya. Karena kemasukan taksu
inilah orang tersebut mampu untuk mengobati orang yang sakit.
2. Balian kapican adalah balian yang mendapat keahlian karena
memperoleh suatu pica atau benda bertuah dan berkhasiat yang dapat
dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Dengan
mempergunakan pica yang didapatkan balian tersebut mampu untuk
mendiagnosis, menyembuhkan penyakit dan memperkirakan berat
penyakit yang dideritanya. Pica ini dapat berupa batu permata,
lempengan logam, keris, cincin, kalung, tulang dan benda lainnya. Pica
ini diperoleh baik melalui mimpi, petunjuk misterius atau cara lainnya.
3. Balian usada adalah seseorang dengan sadar belajar tentang ilmu
pengobatan, baik melalui guru waktra, belajar pada balian, maupun
belajar sendiri melalui lontar usada. Adapun yang termasuk balian
golongan ini adalah tidak terbatas hanya mempergunakan ramuan obat
dari tumbuhan saja, tetapi termasuk balian lung (patah tulang), limpun
(pijat), uut, manak(melahirkan) dan sebagainya, yang keahliannya
diperoleh melalui proses belajar (aguron-guron). Mereka mempelajari
masalah penyakit yang disebabkan baik oleh sekala (natural) maupun
niskala (supernatural).
B. Jenis balian berdasarkan atas tujuannya, dikelompokkan menjadi dua yaitu :
1. Balian penengen yaitu balian yang beraliran kanan, pengobatannya
ditujukan untuk kebaikan, menyembuhkan orang yang sakit.
2. Balian pangiwa atau dukun aliran kiri dimana tujuannya adalah
membuat orang jatuh sakit/ membencanai orang lain.
C. Balian berdasarkan sifat kekuatan yang dimiliki terdiri atas :
1. Balian lanang (maskulin, sifat kejantanan)
2. Balian wadon (feminim)
3. Balian kedi (netral, bersifat kebancian).

10
2.2 Konsep Sehat dan Sakit serta Pengobatannya dalam Usadha Bali
2.2.1 Konsep Sehat dan Sakit
Secara komprehensif yang dimaksud dengan sehat, yaitu suatu keadaan
dalam mana seseorang dapat mempergunakan secara efektif keseluruhan fungsi fisik,
mental dan sosial yang dia miliki dalam berhubungan dengan lingkungannya,
sehingga hidupnya berbahagia dan bermanfaat bagi masyarakat. Menurut definisi
Word Health Organization (WHO) sehat adalah suatu kondisi manusia yang bukan
saja bebas dari penyakit dan kecacatan fisik, tetapi juga bebas dari gangguan mental.
Sebaliknya secara mikro dan emik, oleh karena adanya perbedaan latar belakang
budaya dan lingkungan masyarakat menyebabkan konsepsi tentang sehatsakit sering
dijumpai sangat bervariasi dan bersifat subyektif antara satu kebudayaan dengan
kebudayaan yang lain.
Pada dasarnya masalah kesehatan bersifat biologis. Namun kesehatan dapat
ditinjau dari segi sosial dan kebudayaan karena ternyata pandangan dan konsepsi
tetang sehat-sakit tidak selalu sama antara satu masyarakat dengan masyarakat
lainnya. Perbedaan itu timbul karena adanya perbedaan-perbedaan pola adaptasi
masyarakat terhadap lingkungan baik fisik maupun sosialnya, sumber
daya kesehatan yang tersedia, serta kemampuan cara berpikir dari masing-masing
masyarakat. Dengan kata lain pandangan masyarakat terhadap kesehatan merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan dan pola-pola adaptasi suatu
masyarakat terhadap lingkungannya.
Pada masyarakat Bali konsepsi tentang kondisi sehat atau sakit mengacu pada
prinsip keseimbangan dan ketidakseimbangan sistemik unsur-unsur pembentuk tubuh
dan unsur-unsur yang ada di dalam tubuh manusia, serta keseimbangan hubungan
dengan lingkungan yang lebih luas. Keseimbangan dan berfungsinya unsur-unsur
sistemik dalam tubuh serta terpeliharanya keharmonisan hubungan dengan
lingkunggan, baik fisik maupun sosial, budaya dan psikis menjadi penyebab utama
terbentuknya kondisi sehat. Sebaliknya, ketidakseimbangan unsur-unsur tersebut
menjadi faktor utama gangguan kesehatan atau penyebab sakit. Dengan demikian,
menurut konsepsi orang Bali sehat tidak hanya menyangkut bebas dari sakit atau
penyakit, tetapi juga untuk menikmati seterusnya tanpa terputus-putus terhadap
keadaan fisik, mental dan spiritual yang bahagia dan utuh. Konsep dari keadaan
keseimbangan yang benar dan hakeki, tidak hanya menyangkut berfungsinya sistem
dan organ tubuh manusia dengan baik dan lancar, psikis dan spiritual, tetapi juga

11
menyangkut keseimbangan hubungan secara dinamis dengan lingkungan yang lebih
luas, yakni hubungan harmonis dengan sesama ciptaan Tuhan (bhuana,
makrokosmos), antaranggota keluarga sendiri, tetangga, teman dekat dan anggota
masyarakat secara lebih luas, dan antara kita dengan Tuhan Sang Pencipta.
Dalam kosmologi Bali alam semesta dipandang sebagai sesuatu yang bersifat
nyata (sekala) dan dapat ditangkap dengan panca indra serta bersifat tidak nyata
(niskala/gaib) yang tidak dapat ditangkap dengan panca indra, tetapi dipercaya ada.
Secara keseluruhan isi alam semesta ini terdiri atas lima unsur, yaitu (1) bayu, (2)
teja, (3) apah, (4) akasa, dan (5) pertiwi. Semua unsur itu disebut Panca Maha Bhuta
yang keseluruhannya merupakan sumber dari kehidupan manusia.
Alam semesta sebagai kesatuan kehidupan terwujud dalam dua kosmos, yaitu
makrokosmos dan mikrrolosmos. Makrokosmos merupakan suatu wadah
keseimbangan dunia yang amat besar tak terhingga, tetapi tetap diakui memiliki batas
yang jelas dengan keadaan yang bersifat teratur dan tetap (fixed) dengan Tuhan
sebagai pusat pengendali keseimbangan alam sermesta. Sebaliknya, mikrokosmos
adalah manusia itu sendiri yang merupakan reflika dari makrokosmos dengan unsur-
unsur Panca Maha Bhuta sebagai inti kehidupan. Walaupun manusia merupakan
reflika dari makrokosmos dan memiliki kemampuan untuk mencipta, namun mereka
pun menyadari akan keterbatasan akan kemampuannya dan tidak pernah bisa
menolak kehendak-Nya. Dalam kehidupan masyarakat Bali, penggambaran
keterbatasan manusia dihadapan-Nya tererfleksi dalam sebutan-sebutan, seperti
Tuhan Maha Besar (Sang Hyang Widhy), Maha Tahu (Sang Hyang Wisesa), Maha
Kosong ( Sang Hyang Embang), Maha Kuasa (Sang Hyang Wisesa), Maha Pencipta
(Sang Hyang Rekha), dan seterusnya.
Orang Bali, di samping percaya bahwa mereka tidak kuasa untuk menolak
kehendak-Nya, baik berkenaan dengan hal-hal yang dianggap buruk, seperti
kematian, kesakitan, kecelakaan, kesengsaraan, dan lain-lain, maupun hal-hal yang
baik, seperti keselamatan, kebahagiaan, kesehatan, kemuliaan dan rejeki, dan
sebagainya. Mereka juga percaya bahwa manusia akan bisa terhindar dari hal-hal
yang dianggap buruk jika mereka senantiasa mampu menjaga dan menciptakan
keseimbangan atau keharmonisan hubungan dengan alam, dengan manusia lain, dan
dengan Tuhan. Prinsip keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, dengan
sesama manusia, dan dengan Tuhan oleh orang Bali sangat populer disebut dengan
Tri Hita Karan, yaitu tiga penyebab utama kebahagian dan keselarasan hidup

12
manusia. Kosmologi orang Bali yang menekankan pada prinsip keseimbangan
atau keteraturan hubungan dan ketidakseimbangan kosmos (mikrokosmos-
makrokosmos) tersebut senantiasa dijadikan sebagai konsep dasar untuk mencegah
dan sekaligus menanggulangi berbagai hal yang dianggap buruk, seperti
terganggunya kesehatan atau sakit, kecelakaan, kesengsaraan, ketidakberuntungan,
perceraian, dan bahkan kematian.
Dalam konteks sistem medis etnis Bali atau Usada dan konsepsi balian
tentang sehat-sakit, bahwa orang bisa disebutkkan sebagai manusia sehat apabila
semua sistem dan unsur pembentuk tubuh (panca maha bhuta) yang terdiri
dari: pertiwi, apah, bayu, teja dan akasa, dan unsur dalam tubuh (tri dosha), yaitu
udara (vatta), api (pitta), dan air (kapha) serta aksara panca brahma yang terdiri dari:
aang, bang, tang, ang, ing) dan aksara panca tirta yang terdiri dari: nang, mang,
sang, sing, dan wang, berada dalam keadaan seimbang dan dapat berfungsi dengan
baik. Sebaliknya manusia akan menjadi sakit apabila unsur-unsur panca brahma
sebagai kekuatan panas, dan unsur-unsur panca tirta sebagai kekuatan dingin saat
berinteraksi dengan udara, ada dalam keadaan tidak seimbang. Atau di antara
keduanya, (unsur panas dan dingin ) ada dalam kondisi yang berlebihan sehingga
fungsi-fungsi unsur pembentuk tubuh (panca maha butha) terganggu. Terganggunya
fungsi unsur-unsur tubuh inilah yang menyebabkan orang menjadi sakit. Dengan kata
lain, terganggunya keseimbangan unsur-unsur pembentuk tubuh dan fungsi unsur
dalam tubuh manusia dapat menyebabkan orang bersangkutan menjadi sakit. Karena
itu, mengembalikan keseimbangan seperti semula usur-unsur dan fungsi pembentuk
tubuh merupakan prinsip dan tindakan utama dalam proses penyembuhan penyakit.
Menurut sistem pengobatan usada Bali yang bersandarkan pada sistem
pengobatan Ayurveda dan naskah-naskah pengobatan kuno yang ada di Bali, bahwa
berfungsinya sistem organisme tubuh manusia secara normal dikendalikan oleh tiga
unsur humoral, yaitu unsur udara (vatta), unsur api (pitta), dan unsur air
(kapha). Ketiga unsur tersebut dalam sistem pengobatan Ayurveda dan pengobatan
usada Bali disebut dengan istilah Tridosha. Konsepsi tentang Tridosha (adanya tiga
unsur cairan dalam tubuh) manusia itu selajutnya dijadikan sebagai salah satu
kerangka dasar pijakan oleh sebagian balian usada di Bali dalam menjalankan
profesinya, baik dalam tahap menegakkan diagnosis maupun terapinya.
Dalam kosmologi berkenaan dengan konsepsi orang Bali tentang Tuhan atau
Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bahwa Bhatara Ciwa dipandang sebagai segala

13
sumber yang ada di dunia, atau menciptakan semua yang ada di jagad raya ini,
termasuk berbagai jenis penyakit dan obatnya. Tuhan dalam wujudnya sebagai
Trimurti bermanifestasi sebagai dewa Brahma yang menjadi sumber panas, dewa
Wisnu menjadi sumber air yang bersifat dingin, dan dewa Iswara menjadi sumber
udara. Dengan mengacu pada konsepsi itu, maka masyarakat Bali secara global
menggolongkan jenis dan penyebab sakit menjadi dua, yaitu penyakit yang bersifat
fisik (sekala) dan nonfisik (niskala); demikian juga penyebabnya ada yang
dipandang karena faktor yang bersifat alamiah (naturalistik), ada juga yang bersifat
nonalamiah (personalistik), dan supranaturalistik, atau gabungan dari kedua atau
ketiganya.
Secara fisik atau naturalistik, berdasarkan pada gejala-gejala atau
simtomatisnya, masyarakat Bali menggolongkan penyakit ke dalam tiga kelompok,
yaitu (1) penyakit yang tergolong panes (panas), (2) nyem (dingin), dan (3) sebaa
(panas-dingin). Sebaliknya, kualitas dan kasiat bahan obat dan obat yang dibuat untuk
mengobati jenis penyakit tersebut, juga diklasifikasi ke dalam tiga kelompok, yaitu
(1) berkasihat anget (hangat), (2) berkasiat tiis (sejuk), dan (3) berkasiat dumelada
(sedang). Penggolongan penyakit dan jenis obat tersebut jika mengacu pada konsep
kepercayaan terhadap wujud Tuhan sebagai Brahma, Wisnu dan Iswara
(Trimurti/Tripusrusa/Trisakti ) maka Brahma dipandang sebagai wujud api yang
menciptakan penyakit panes, maka obat yang diciptakan kualitasnya berkasiat anget;
Wisnu yang menciptakan penyakit nyem, maka obat yang diciptakan berkasiat tiis,
dan Iswara yang menciptakan penyakit sebaa, maka obat yang diciptakan berkasiat
dumelade/jumelade.
Sebagaimana telah juga disinggung di atas, bahwa dalam kosmologi dan
sistem medis orang Bali, masalah sehat sakit merupakan masalah yang berkaitan
dengan harmoni/keseimbangan dan disharmoni/ketidakseimbangan hubungan antara
buana agung (makrokosmos) atau alam semesta, dan buana alit (mikrokosmos)
manusia itu sendiri, dan Sang Hyang Widhi (Tuhan) sebagai pencipta dan pengendali.
Oleh karena itu, orang Bali percaya dan yakin, bahwa sehat, bahagia, dan sejahtera
sekala-niskala (lahir-batin) akan terwujud atau terjadi apabila hubungan antara ketiga
komponen tersebut berada dalam keadaan seimbang. Hubungan serasi antara manusia
dengan manusia, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan
sebagai pencipta segala yang ada di jagat raya ini disebut dengan Tri Hita Karana.
Artinya hubungan harmonis ketiga unsur tersebut merupakan sumber penyebab

14
kesejahteraan, kebahagiaan dan kesehatan bagi manusia. Sebaliknya kondisi buruk
seperti sakit, tidak bahagia, sengsara, dan sebagainya, bisa terjadi manakala hubungan
ketiga komponen tersebut terganggu atau tidak harmonis. Bagi orang Bali, apabila hal
ini terjadi, maka upaya mengembalikan keseimbangan hubungan sistem, baik dalam
konteks mikrokosmos maupun makrokosmos merupakan upaya yang penting. Dalam
konteks sehat-sakit, terganggungnya fungsi-fungsi elemen tubuh (panca maha butha
dan tri dosha) baik karena faktor alamiah, personalistik maupun supranatural,
menyebabkan seseorang menjadi sakit.
Dalam lontar Wrehaspati Tatwa (sloka 33) penyakit diistilahkan dengan
dukha. Menurut lontar ini terdapat tiga macam dukha atau penyakit, yaitu , (1)
penyakit yang diakibatkan oleh kekuatan supranatural, (2) adhyatmika duka yaitu
penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan mental, dan (3) bhautika dukha
adalah penyakit yang diakibatkan oleh berbagai mahluk renik yang disebut butha.
Lebih lanjut dalam sloka 52 dijelaskan bahwa ada tiga cara mengatasi dukha tersebut,
yaitu (1) tresna dosaksaya, yaitu berusaha melenyapkan dosa akibat dari perbuatan
atau dengan pengendalian diri, (2) indriya yogamarga yaitu melepaskan diri dari
kitan duniawi dengan melakukan yoga, dan (3) jnana bhudireka yaitu memupuk
pengetahuan spiritual.
Menurut orang Bali, oleh karena sakit dipandang tidak hanya merupakan
gejala biologis yang bersifat individual, tetapi dipandang berkaitan secara holistik
dengan alam, masyarakat dan Tuhan, maka setiap upaya kesehatan yang dilakukan
tidak hanya menggunakan obat sebagai sarana pengobatan, tetapi juga menggunakan
sarana ritus-ritus tertentu, mantra-mantra yang termuat dalam aksara suci sebagai
bagian dari proses tersebut. Dengan demikian, menyembuhkan atau menanggulangi
suatu penyakit tertentu umumnya yang digarap oleh balian usada di Bali, bukan
hanya aspek biologis dari pasien, tetapi juga aspek sosial-budaya dan spiritualnya.
Pada masyarakat Bali umumnya seseorang mencari pertolongan pengobatan
ke sektor-sektor perawatan kesehatan yang tersedia, seperti ke balian (dukun), dokter,
atau para medis bukan saja karena faktor penyakit yang patogen, tetapi sering juga
akibat dirasakan adanya kelainan atau gangguan fungsi unsur-unsur dari tubuh
(illness). Sehubungan dengan hal ini, secara empiris tampak bahwa walaupun telah
banyak ada Puskesmas tersebar merata di setiap kecamatan, dan sistem pengobatan
barat (moderen) sudah sangat lama dikenal, namun sebagian masyarakat Bali baik
yang tinggal di kota maupun di desa masih banyak yang suka dan sering

15
menggunakan balian atau pengobatan usada Bali sebagai alternatif pilihan,
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Secara empiris menurut keterangan
beberapa pasien yang sempat diwawancarai di rumah balian yang ada di desa Sanur,
Kota Madya Denpasar, dan desa Pemaron, Kapupaten Buleleng, bahwa kepercayaan
terhadap etiologi penyakit, tingkat keparahan, dan pengalaman pengobatan
sebelumnya menjadi alasan utama mereka memilih balian sebagai alternatif. Dengan
demikian, respons dan penghargaan masyarakat Bali terhadap pengobatan tradisional
atau usada di Bali masih tinggi. Secara umum penyakit ada tiga jenis, yakni
penyakit panes (panas),
nyem (dingin), dan
sebaa (panas-dingin).
Demikian pula tentang obatnya. Ada obat yang berkasihat
anget (hangat),
tis (sejuk),dan
dumelada (sedang).
Untuk melaksanakan semua aktifitas ini adalah
Brahma,
Wisnu, dan
Iswara.
Disebut juga dengan Sang Hyang Tri Purusa atau Tri Murti atau Tri Sakti
wujud Beliau adalah api, air dan udara. Penyakit panes dan obat yang berkasihat
anget, menjadi wewenang Bhatara Brahma. Bhatara Wisnu bertugas untuk
mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkasihat tis. Bhatara Iswara
mengadakan penyaki sebaa dan obat yang berkasihat dumelada. Penyakit seperti kita
ketahui, tidaklah hanya merupakan gejala biologi saja, tetapi memiliki dimensi yang
lain yakni sosial budaya. Menyembuhkan suatu penyakit tidaklah cukup hanya
ditangani masalah biologinya saja, tetapi harus digarap masalah sosial budayanya.
Masyarakat pada umumnya mencari pertolongan pengobatan bukanlah karena
penyakit yang patogen, tetapi kebanyakan akibat adanya kelainan fungsi dari
tubuhnya. Masyarakat di Bali masih percaya bahwa pengobatan dengan usada banyak
maanfaatnya untuk menyembuhkan orang sakit. Walaupun telah banyak ada
Puskesmas tersebar merata di setiap kecamatan, tetapi berobat ke pengobat
tradisional Bali (balian) masih merupakan pilihan yang tidak dapat dikesampingkan
begitu saja baik bagi orang desa maupun orang kota.

16
Penyakit secara umum dapat dibedakan atas dua macam yaitu :
1. Penyakit Sekala (Penyakit naturalistik) :
a) Dalem (Penyakit Dalam)
Penyakit Panas
Penyakit Panas-Dingin
Penyakit Dingin.
b) Barah (Bengkak local)
c) Mokan (Badan bengkak dan sakit)
d) Buh (perut bengkak dan berair)
e) Pemali (Sakit seperti ditusuk-tusuk)
f) Sula (Sakit melilit di perut atau kolik)
g) Sirah (sakit kepala, pusing)
h) Kulit (Penyakit kulit)
i) Tuju (Rematik, bengkak berpindah)
j) Tiwang (Sakit ngilu atau kejang)
k) Upas (Gatal dari dalam badan atau luar badan)
2. Penyakit Niskala (Penyakit Personalistik)
a) Leyak (Penyakit disebabkan oleh manusia yang dilihat lain)
b) Desti (Penyakit dengan mempergunakan media milik yang akan dituju)
c) Teluh (Penyakit yang disebabkan oleh makhluk mirip manusia seperti
bayangan, dll)
d) Papasangan (Penyakit disebabkan oleh benda yang berkekuatan magis
ditanam di tempat orang yang dituju)
2.2.2 Pengobatan dalam Usadha Bali
Pengobatan yang dilakukan oleh Balian di Bali dikenal dengan istilah
Tatambaan, dimana Tamba berarti obat (ubad). Dalam prosesi pembuatan obat oleh
balian ada dua hal yang perlu mendapat perhatian yakni serana dan tamba. Tamba
adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit,
pada umumnya terdiri dari ramuan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan serana adalah
merupakan alat penghubung antara kekuatan Balian dengan penyebab penyakit yang
ada pada pasien. Obat yang diberikan oleh orang biasa tanpa disertai dengan kekuatan
gaib, maka dikatakan bahwa obat itu tanpa serana. Tamba dan serana merupakan satu

17
kesatuan sebagai suatu alat untuk menyembuhkan orang yang sakit. Keduanya saling
menunjang agar dapat berfungsi maksimal.

1. Penyakit Sekala :

Bahan Obat :
Taru (tanaman)
Sato atau Buron (binatang)
Yeh atau Toya (air)
Sarana pertiwi (garam, mineral)
Madu, susu, arak, tuak, dan brem.
Bentuk Obat
Padet (padat)
Enceh (cair)
Belek (setengah padat-cair)
Cara Pembuatan :
Ulig (digerus)
Pakpak (dikunyah)
Lablab (direbus)
Goreng (digoreng)
Nyahnyah (dioseng)
Tambus (dimasukkan diabu panas)
Tunu (dipanggang)

Cara Penggunaan :
Tetes (diteteskan)
Tutuh (dimasukkan melalui hidung)
Loloh (diminum)
Oles (dioleskan)
Boreh (dilulur)
Simbuh (disembur)
Uap (diurapkan)

18
Usug (dikompres)
Ses (pembersihan luka)
Limpun (diurut)
Kacekel (dipijat)
Tampel (ditempel).
Khasiat obat :
Anget (panas)
Tis (dingin)
Dumalada (sedang).

2. Penyakit Niskala :

Dengan mempergunakan prana (energi) melalui :


Meditasi
Menghidupkan chakra.
Menghidupkan aksara dalam diri
Dengan dasa bayu
Dengan kanda pat.
Dan Lain Sebagainya.

2.3 Jenis-jenis Usada Bali


Pada dasarkan usada-usada tersebut dapat diklasi kasi ke dalam beberapa
jenis, di antaranya Usada buduh, Usada Rarae, Usada kacacar, Usada Tuju, usada
Paneseb, Usada Dalem, Usada Ila, Usada bebai, Usada Ceraken Tingkeb, Usada
Tiwang, Usada Darmosada, Usada Uda, Usada Indrani, Usada Kalimosada, Usada
Kamarus, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala, Usada Rukmini Tatwa, Usada
Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda Kecapi, Usada Cukil Daki, Usada
Kuda, Usada Pamugpug, dan Usada Pamugpugan. Usada yang terekam dalam lontar-
lontar tersebut sangat menarik dan berbagai obat yang disajikan dijelaskan dengan
sangat rinci dan renik. Masing masing usada tersebut memiliki spesialis penjelasan
tentang penyakit, bahan-bahan pembuatan obat, cara pembuatan obat, hingga cara
penggunaan obat. Dibawah ini merupakan penjelasan dari masing-masing jenis usada
yang sudah disebutkan diatas yaitu sebagai berikut :

19
1. Usada Buduh, yakni usada yang dipakai untuk pengobatan penderita
penyakit jiwa. Dalam naskah ini dijelaskan bahwa penyakit jiwa ini
bermacam-macam dan cara pengobatannya juga berbeda-besa. Dalam
usada itu ada sekitar 11 jenis orang yang berpenyakit jiwa. Pertama,
penyakit jiwa yang diderita oleh orang gila yang suka bernyanyi-nyanyi.
Kedua, penyakit jiwa pada orang yang perpenyakit sering menangis. Obat
lainnya adalah obat untuk orang gila yang senang tertawa, orang gila yang
senang bermain kotoran, orang gila yang sering disertai epilepsi, orang gila
yang sering berbicara tidak karuan, orang gila yang dengan ciri yang suka
tidur dan tidak mau makan, orang gila dengan ciri galak, orang gila dengan
perut bengkak, obat untuk orang gila yang umum, dan orang gila yang
sering memaki-maki dukun. Adapun obat penyakit orang gila yang suka
memaki-maki (dukun) atau yang dalam bahasa Bali disebut bebainan
adalah daun pungut (tanaman liar di daerah tropis) yang tumbuhnya
mengapit jalan masing-masing 3 helai, daun lada dakep (yang menjalar di
tanah), 3 helai, 3 biji merica gundul. Obat ini disemburkan pada yang sakit,
setelah itu dipijit. Setelah terlihat penyakitnya lalu ambil dan tarik dengan
cepat. (2) mantranya Ih madra macah, sira anikep larane I yono.... dan
diberi rajah. Obat lainnya adalah untuk mengobati orang gila dengan ciri
yang suka tidur dan tidak enak makan dan minum. Obat yang harus
diberikan adalah 7 helai daun sirih yang urat daun kiri dan kanan bertemu
di tengah-tengah, dirajah seluruhnya, 7 butir merica, garam
diminumkannya. Ampasnya dipakai untuk menyemburi seluruh ubunya.
Obat untuk orang gila dengan ciri suka meratap dan menangis tidak karuan
siang dan malam adalah kelapa mulung, kemiri jetung (biji buahnya satu),
kemiri biasa sama-sama satu biji, bawang, mungsi, ketumbar diteteskan di
hidung, di mata, dan di telinga. Ampasnya dipakai untuk membedaki
seluruh tubuhnya (FS Unud, 2007, hlm.1011).
2. Usada Rare, adalah Usada yang ditujukan untuk anak-anak. Dalam bagian
ini dijelaskan tanda-tanda bayi jika terkena penyakit. Misalnya jika bayi
lemah tanpa tenaga, bayi terkena penyakit upas tawun, obatnya adalah
ramuan yang terdiri atas gula, sinrong, dan air jeruk nipis. Obat ini diramu
lalu diminum. Obat lainnya adalah jika bayi terkena penyakit tiwang
penyu, tanda-tandanya jika tangan, kaki, dan tubuh bayi kejang-kejang,

20
matanya merah. Ramuan obatnya adalah tuba jenu, buah pala, kemenyan,
sarilungid, sinrong, lalu diramu dan diminum (FS Unud, 2007, hlm. 693).
3. Usada Kacacar, adalah usada yang digunakan untuk mengobati penyakit
orang sakit cacar. Dalam dunia kesehatan, sakit cacar disebut penyakit
varisela yang berasal dari bahasa Latin. Penyakit ini sangat menular dan
banyak menyerang anak-anak di bawah usia 10 tahun. Pengobatan
penyakit cacar ini agak rumit karena disertai dengan upacara pengobatan
dan dalam pengobatan itu harus digunakan kepeng. Pada halaman 289--
290 dinyatakan Ini kurban orang sakit kacacar, bila penyakitnya dikira
akan menjumpai kematian, upakaranya, 1 buah tumpeng brumbun, dialasi
dengan daun andong merah, dialalsi dengan sengkwi yang berekor, diisi
seekor daging ayam brumbun, dibelah dari punggungnya, isi jeroannya
masih utuh, hanya dibelah dalam keadaan masih mentah, disertai ketupat
sidapurna, diisi telur bekasem 1 butir, serta 11 buah kewangen, yang 3
buah diisi uang jepun masing-masing 1 kepeng. Yang 8 buah lagi diisi
uang kepeng yang biaisa saja serta canang gantal, canang rokok, serta
canang lengawangi buratwangi, panyeneng, tulung, ras, dan satu buah
daksnina dengan perlengkapan secukupnya. Kurban tersebut diisi uang
kepeng sebanyak 175 kepeng. Ketupatnya diisi 33 kepeng, canang diisi
uang 11 kepeng, masing-masing 3 tanding (buah). Daksina tersebut diisi
uang 225 kepeng.
4. Usada Tuju (Pemkab Buleleng, 2007:49), Usada ini di antaranya
menyebutkan beberapa obat. Obat tuju adanya di dalam perut. Kalau
mempunyai penyakit ini, obatnya jeruk 2 butir, muncuk uyah- uyah hitam
3 muncuk, kapur bubuk sedikit saja. Kamudian dimasak lalu dipergunakan
mengobati si sakit disertai dengan perapalan mantra yang bunyinya antara
lain, Om tuju klinglang anta, duk sateka sabrang malayu mwah po kitaa
ring bali, amatenin tuju teluh trajanan. Obat lainnya yang direkam dalam
usada tuju adalah obat pinggang panas. Jika sakit pinggang yang tarasa
panas sarana obatnya adalah isi buah kemiri, beras yang telah direndam,
bawang merah yang dibakar (metambus). Lalu obat ini dihaluskan dan
digunakan dengan menyemburkan ke pinggang yang sakit. Obat badan
panas diobati dengan sarana kulit kayu puri, nasi yang dijemur yang masih
mentah, lalu kedua benda itu digiling dan cara menggunakannya dengan

21
membedaki badan yang panas tersebut. Obat menyakit lainnya adalah jika
darah keluar terus menerus tanpa henti, obatnya dengan sarana tempel
perut disertai dengan perapalan Rapet, Banyah pet, teka pet, misingne
syanu, ya teka di tambun aku warana. Pengobatan bermacam-macam
penyakit yang sudah disebutkan di atas harus dilakukan dengan penuh
kepercayaan bahwa penyakit itu akan sembuh. Kepercayaan itu penting
karena dalam tradisi usada di Bali, masyarakatnya yang beragama Hindu
mempunyai keyakinan bahwa obat-obatan yang menjadi warisan nenek
moyang itu menjadi bermanfaat.
5. Usada Paneseh, adalah pengobatan dan pemeliharaan untuk ibu-ibu hamil.
Dalam buku Dinas Kebudayaan (2015:49) dinyatakan jika plasenta tidak
keluar harus diobati dengan air tawar putih yang masih baru lalu air itu
ditempatkan pada tempurung hitam lalu dirajah sangga dan minum airnya.
Mantranya adalah ong luwu tumbuh di duhur batu, teka kapo blabare uli di
gunung, teka anud. Untuk mengeluarkan plasenta dapat juga diobati
dengan kaun kamurugan dan arak lalu diminum. Penyakit itu bisa diobati
dengan jahe 7 iris, urang-aring lalu keduanya dilumatkan di depan pintu.
Kemudian obat itu diminum.
6. Usada Dalem adalah pengobatan untuk penyakit dalam. Penyakit ini sangat
banyak jenisnya sehingga berakibat juga pada macam-macam pengobatan.
Dalam Usada Dalem di antaranya diuraikan berbagai obat yang berkaitan
dengan tubuh manusia bagian dalam, seperti penyakit terkena racun, sakit
perut, obat anyang- anyangan, perut bengkak, tanda orang meninggal, dan
obat yang berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi wanita dan pria.
Misalnya obat perut bengkak dan batuk- batuk keluar nanah diobati dengan
kunyit warangan, kulit pohon pule, kayu batu maswi, tumukus, 3 ketumbar,
minyak kelapa lalu diminum. Daun kemiri muda, cendana, pohon kembang
sepatu, maswi, kemiri lalu disemburkan (Dinas Kebudyaan, 2015: hlm.
169).
7. Usada ila, adalah usada yang digunakan untuk penyakit lepra. Jenis
penyakit ini ditandai dengan warnanya. Pada halaman 1 dinyatakan
waspadailah penyakit lepra dari warnanya. Jika warnanya putih disebut ila
lungsir, bila berwarna merah disebut ila brahma. Bila putih berbintik-bintik
disebut ila kangka dan bila berwarna merah dan tebal dinamai ila dedek

22
dan bila merah dan melingkar-lingkar dengan pinggir putih disebut ila
kakarangan. Jika lepra itu warnanya merah bertumpuk-tumpuk disebut ila
buta. Dalam teks tersebut berbagai ila diobati sesuai dengan jenis
penyakitnya. Salah satu jenis pengobatan jika terkena penyakit ila lungsir
(Dinas Kebudyaan, 2015: hlm. 3) adalah sebagai berikut. Obat itu adalah
kulit kayu pangi, kulit kayu bila, dan sinrong wayah. Lalu kulit kayu
tersebut dilumatkan sampai lembut dan ditambah dengan air cuka tahun.
Kemudian obat-obat itu diramu menjadi seperti bedak. Bila pengakit ila
lungir dengan gejala melingkar-lingkar tebal warna putih, obatnya adalah
jahe pahit, isin orong, bunga cengkeh, cabe jawa, terusi warangan, belerang
merah, dan belerang kuning lalu ditumbuk dan dicampur dengan air jeruk
limau. Obat itu dipakai untuk mengolesi pada bagian tubuh yang sakit
8. Usada Bebahi, adalah usada yang khusus menjelaskan tentang seseorang
yang kena santet atau guna-guna ilmu hitam. Menurut Usada Sasah Bebai
tanda-tanda orang bebainan ialah orang merasakan sakit di daerah siksikan
(perut diatas kemaluan, di bawah pusar). Terasa seperti ada benda keras
sebesar pisang menyumbat di hulu hati.Akhirnya si sakit jatuh pingsan.
Ada pula yang berasal dari nyeri, diikuti kesemutan,gelisah dan terasa sakit
seperti ditusuk-tusuk di seluruh tubuh serta badan terasa bengkak. Bila
sakitnya sampai ke kepala, si sakit seperti orang gila. Jika sakitnya
menjalar ke pergelangan tangan, maka penderita akan kejang-kejang dan
mengigau. Jika sakitnya di lidah, maka penderita akan berbicara tak
karuan-karuan. Sering pula menjerit-jerit dan menangis sejadi-jadinya.
Kalau penderita ini dipegang, dia akan meronta-ronta dan mengeluarkan
tenaga yang luar biasa, melebihi kekuatan orang biasa.
9. Lontar usada cukil daki, menjelaskan tentang berbagai teknik pengobatan
dalam berbagai jenis penyakit seperti rematik/tuju, lemah
syahwat/impoten, sperma encer, sakit kusta., beberapa jenis caru yang
digunakan di sawah dan tidak kalah pentingnya dicantumkan ilmu
kawisesan yang wajib dimengerti dan dijalani oleh para pengusadha
(balian) yang hendak mengobati dengan metode alternatif.
Selanjutnya untuk jenis-jenis Usada yang lain, diantaranya usada Paneseb,
Usada Ceraken Tingkeb, Usada Tiwang, Usada Darmosada, Usada Udan, Usada
Indrani, Usada Kalimosada, Usada Kamarus, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala,

23
Usada Rukmini Tatwa, Usada Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda
Kecapi, Usada Cukil Daki, Usada Kuda, Usada Pamugpug, dan Usada Pamugpugan
telah dijelaskan langsung dengan terjemahan lontarnya masing-masing pada bagian
lampiran.

2.4 Penggunaan Usada Bali di Masyarakat


Usada Bali merupakan ilmu pengobatan yang tumbuh dan berkembang Di
Bali, sehingga masyrakat Bali tidak akan asing lagi dengan adanya berbagai macam
pengobatan tradisional seperti yang terdapat pada Usada Bali. Penggunaaan atau
implementasi Usada Bali di masyarakat Bali sendiri berkembang dengan adanya
suatu pembicaraan dari mulut ke mulut tentang khasiat tanaman yang dapat
digunakan untuk mengobati penyakit tertentu. Bentuk pengobatan yang biasanya
digunakan oleh masyarakat Bali ini lumayan beragam, mulai dari sediaan obat yang
berbentuk cair seperti loloh, air kumkuman, hingga campuran bahan cair lainnya.
Sediaan yang berbentuk padatan atau serbuk seperti boreh (semacam lulur),
simbuhan (campuran rempah-rempah yang dikunyag/dihaluskan) dan lain
sebagainya. Dalam Usada Bali dikenal telah beberapa jenis penyakit beserta dengan
pengobatan yang dilakukan dengan tradisional serta bahan-bahanya pun diperoleh
dari alam. Penyakit-penyakit yang diuraikan dalam Usada Bali diberi nama sesuai
dengan daerahnya (Bali) lokal dan sering dilakukan atau digunakan oleh masyarakat
Bali. Adapun beberpa penyakit dan obatnya yang lumrah atau lazim digunkan oleh
masyarakat menurut Usada Bali dikelompokkan menjadi beberpa jenis penyakit yaitu
sebagai berikut :

A. Kelompok Penyakit Kulit :

1. Tilas Naga

Bahan Obat Luat: Kules lelipi (kulit ular), Daun Nasi-Nasi, Injin,
Kunyit, Hati ayam Bihing (merah) dibakar.
Cara Pembuatan : Semua bahan obat tersebut di gerus (Ulig) ditambah
air panas, setelah itu disaring. Air saringannya ditambahkan bedak.
Dipakai sebagai bedak pada kulit yang sakit.
Bahan Obat Dalam : Lunak (asem), Gula Bali, Kunyit (kunir), Madu.

24
Cara Pembuatan : Kunyit (kunir) dikikih (diparut), lunak, gula bali, dan
madu di gerus dan ditambahkan air angat satu gelas kemudian disaring.
Air saringannya diminum 3 X sehari (Pagi, Sore, dan Malam).

2. Tilas Bunga

Bahan Obat Luar : Jahe, Kunyit (kunir), Kencur, kerikan pohon


cempaka, jajan begina matah dibakar, air cuka.
Cara Pembuatan : Jahe, Kunir, Kencur, Kerikan Pohon Cempaka, Jajan
begina digerus (ulig) ditambah air cuka kemudia disaring. Air saringan
dipakai obat Oles pada kulit yang sakit.
Obat Dalam : Padang Sendok, Lamongan, Temu-temu, madu, jeruk
Nipis.
Cara Pembuatan : Padang Sendok, Lamongan digerus ditambahkan air
angat satu gelas kemudian airnya diperas. Air perasan ditambahkan air
jeruk nipis dan madu, diminum 3 kali.

3. Penyakit Lepra

Bahan Obat : Hong taen sapi, hong tiing, hong telagi, hong dedalu, hong
bulan, buni selem, umbi game, lunak tanek selem, cuka belanda, wiski.
Cara Pembuatan : Hong taen sapi, hong tiing, hong telagi, hong dedalu,
hong bulan, buni selem, umbi game, lunak tanek selem, semua bahan
tersebut digerus sampai halus kemudian disaring dan ditambahkan
cukabelanda, dan wiski. Catatan dilakukan pembersihan (lukat) di
Pemuhun (tempat Pembakaran jenazah; dan disertai dengan
mengaturkan caru.

4. kusta, bulenan (kurap), dan Lepra.

Bahan Obat Dalam : Buah jebug + Kakap Sedah + Buah Base +


Gambir
Cara Pembuatan : Buah jebug + Kakap Sedah + Buah Base + Gambir
digerus sampai alus kemudian ditambahkan air panas secukupnya

25
disaring; airnya diminum satu sendok makan setiap hari 3 kali (Pagi,
Siang, dan Sore).
Obat Luar : Kakap sedah + Jahe + Isen Kapur + Kesune Jangu + Akah
Paku Dukut + Inan Kunyit.
Cara Pembuatan : Kakap sedah + Jahe + Isen Kapur + Kesune Jangu +
Akah Paku Dukut + Inan Kunyit semuanya digerus dipakai boreh.

5. Alergi Kulit

Bahan Obat : Kakap Base + Inan Kunyit + Dakep-dakep


Cara Pembuatan : Kakap Base + Inan Kunyit + Dakep-dakep digerus
kemudian ditambahkan air panas disaring diminum sebagai loloh.

B. Kelompok Penyakit Saluran Pernapasan :

1. Bengek (Sulingan)

Bahan Obat : Air Bungkak (kelapa Muda), Daun Kesimbukan, Daun


Pancar Sona, Sari Kuning, Air Damuh.
Cara Pembuatan : Air Bungkak (kelapa Muda), Daun Kesimbukan,
Daun Pancar Sona, Sari Kuning direbus. Airnya disaring ditambahkan
air Danuh dipakai Tutuh (obat masuk melalui hidung).

2. Batuk Kering

Obat Dalam : Bunga belimbing Buluh, Daun Pancar Sona, Bawang


Metambus, Daun Sulasih mihik, Kencur. Jeruk nipis.
Cara Pembuatan : Bunga belimbing Buluh, Daun Pancar Sona, Bawang
Metambus, Daun Sulasih mihik, Kencur ditumbuk dimasukkan dalam
kantong plastik kemudian dikukus setelah itu diperas. Air perasannya
ditambahkan jeruk nipis diminum 3 X dalam sehari.
Obat Luar : Biji Nangka, Mesui, Jebuharum, jahe
Cara Pembuatan : Biji Nangka, Mesui, Jebuharum, jahe digerus (ulig)
ditempelkan pada dada (ulu hati).

3. Kohkohan (Batuk Berdahak)

26
Obat Dalam : Daun Belimbing Besi, Kunir, Kulit Kelapa Ditambus,
Bawang ditambus, Lunak.
Cara Pembuatan : Daun Belimbing Besi, Kunir, Kulit Kelapa Ditambus,
Bawang ditambus, Lunak. Digerus (ulig) ditambahkan air Panas,
kemudian disaring. Air saringannya diminum.
Obat Luar : Bungkil Biu dang saba, Bawang metambus, kepik Waru,
minyak kelapa bali.
Cara pembuatan : Bungkil Biu dang saba, Bawang metambus, kepik
Waru digerus kemudian ditambahkan minyak kelapa bali dipakai obat
tempel pada tulang Gihing.

4. Penyakit saluran Pernapasan

Bahan Obat Luar : Liligundi Sekemulan + Kesuna Jangu + Kencur +


Beras
Cara Pembuatan : Liligundi Sekemulan + Kesuna Jangu + Kencur +
Beras digerus sampai alus ditambahkan air panas secukupnya.

5. Penyakit batuk Berdarah

Bahan Obatnya : (Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Minyak Dehe digunakan


sebagai loloh).

C. Kelompok Penyakit Perut :

1. Buh (Perut Membesar)

Bahan Obat : Biji Tabu (waluh), Pepaya matang, Kentang, Wortel,


sendok cuka, sendok brem, kecap manis.
Cara Pembuatan : Biji Tabu (waluh) dinyanyah kemudian digerus,
Pepaya matang, Kentang, Wortel dikihkih kemudian dikukus airnya
diambil ditambahkan sendok cuka. sendok brem, kecap manis,
lalu diminum untuk obat.

27
2. Mag.

Bahan Obat Dalam : Ketela Bun (rambat), Garam sedikit, Air Titisan.
Cara Pembuatan : Ketela Bun (rambat) diparut, ditambahkan Garam
sedikit, Air Titisan kemudian dimakan sehari empat kali.
Obat Luar : Kulit manggis, Kesuna Jangu, Abu (arang), minyak kelapa
bali.
Cara Pembuatan : Kulit manggis, Kesuna Jangu, Abu (arang) digerus
sampai halus kemudian ditambahkan minyak kelapa bali ditempelkan
pada ulu hati.

3. Perut Panas dan Atau dingin karena infeksi.

Bahan Obat : Bidara Upas


Cara Pembuatan : Bidara Upas Direndam Dengan Air Panas, setelah
dingin diminum dengan dosis tiga gelas dalam satu hari.

4. Berak Darah

Bahan Obatnya : Sri Kaya Masak + Es Batu sampai dingin, kemudian


dimakan. Babakan Jati + Bawang Adas + asaban Cenana digerus sampai
alus kemudian disaring dijadikan loloh.

5. Perut Sakit :

Bahan Obat : Kerikan Buah + Kerikan Gedang + Bangle Tiga Iria +


Uyah Areng.
Cara Pembuatan : Kerikan Buah + Kerikan Gedang + Bangle Tiga Iria +
Uyah Areng dipapak disimbuhkan dibagian perut yang sakit.

D. Kelompok Penyakit Tulang :


Bahan Obat Luar : Akar Kayu Tulang, Akar Sambung Tulang, Akar
kayu Tiwang, Akar liligundi, kelapa ental, sindrong jangkep.
Cara Pembuatan : Akar Kayu Tulang, Akar Sambung Tulang, Akar
kayu Tiwang, Akar liligundi, kelapa ental, sindrong jangkep digerus
kemudian digoreng dipakai untuk boreh pada bagian yang sakit. Bata

28
merah digambar dengan Ongkara dipanaskan dan diatasnya diisi daun
liligundi secukupnya dan diinjak dengan kaki yang sakit sampai keluar
air pada kaki yang sakit.
Obat Dalam : Daun Paye Puuh, Kuncuk Pule, Daun Ginten Cemeng,
Temukus, akah kayu angket, temu ireng, jahe pahit
Cara Pembuatan : Daun Paye Puuh, Kuncuk Pule, Daun Ginten
Cemeng, Temukus, akah kayu angket, temu ireng, jahe pahit digerus
kemudian ditambahkan air panas secukupnya dan disaring. Air
saringannya diminum 3 kali dalam sehari.

E. Kelompok Penyakit Kepala :

1. Puruh atau Belahan

Obat Luar : kulit telur ayam, daun sembung, mesui, cekuh nunggal,
buah base, daun dagdag.
Cara Pembuatan : kulit telur ayam, daun sembung, mesui, cekuh
nunggal, buah base digerus sampai halus kemudian ditempelkan pada
kepala ditutup dengan daun dagdag. Catatan dalam pengobatan tidak
boleh kena asap, merokok, kena air. Dan untuk obat urutnya
dipergunakan bawang merah, kayu putih, limo diurut pada tulang
belakang (tulang gihing).

2. Obat Rambut Rontok

Bahan Obat Luar : Kelabet, daun langir, daun mangkok, lidah buaya,
putih semangka pusuh.
Cara Pembuatan : Kelabet, daun langir, daun mangkok, lidah buaya,
putih semangka pusuh di lablab kemudian disaring, airnya dimasukkan
ke dalam botol ditutup kemudian didinginkan dalam air baru dipakai
dikepala sampai kena kulit kepala.
Obat Dalam : Daun jempiring, gula bali,
Cara Pembuatan : Daun jempiring, gula bali digerus kemudian disaring
diminum.

29
F. Kelompok Penyakit Pada Wanita :

1. Keputihan

Bahan Obat Luar : Daun keliki, kulit manggis, bawang merah.


Cara Pembuatan : Daun keliki, kulit manggis, bawang merah digerus
ditempelkan pada perut.
Obat Dalam : Akah kemogan, tain yeh, umbi ikose (sejenis isen).
Cara Pembuatan : Akah kemogan, tain yeh, umbi ikose (sejenis isen)
digerus dan ditambahkan air panas secukupnya kemudian disaring dan
diminum sebagai loloh.

2. Datang Bulan Tak Lancar.

Bahan Obat Luar : temako, lunak, minyak tandusan


Cara Pembuatan : temako, lunak, minyak tandusan digerus ditempelkan
pada pusar pada malam hari.
Obat Dalam : daun isen, gula bali, akah biu dang saba, blangsah buah,
sari kuning.
Cara Pembuatan : daun isen, gula bali, akah biu dang saba, blangsah
buah, sari kuning digerus kemudian ditambah air panas dan disaring,
airnya diminum untuk obat.

3. Vagina Sakit

Bahan Obat Luar : untuk Mandi : daun candi late direbus untuk air
mandi.
Untuk oles : jagung muda, gadung cina, buah kem, umbi ilak, daun ilak,
semuanya direbus disaring kemudian ditambahkan dengan perbandingan
1 : 1 air mawar.

G. Kelompok Penyakit Gigi :

1. Sakit Gigi tidak ada ocel

30
Bahan Obat : Untuk gosok gigi : Getah kamboja ditambah odol atau
garam. Obat kumur : Babakan ental, garam direbus, air rebusan dipakai
kumurkumur. Obat oles : Daun kayu anyeket, daun tabia lombok, hatin
bawang, air cendana semua bahan digerus sampai halus.

2. Sakit Gigi Yang Berlubang

Bahan Obat : arang Kau-kau, sembung, trusi.


Cara Pembuatan : arang Kau-kau, sembung, trusi digerus ditambahkan
air panas dijadikan obat kumur.

3. Sakit Gigi

Bahan Obat : Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Minyak Dehe + Boton Tuwung
Kanji yang Tua.
Cara Pembuatan : Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Minyak Dehe + Botun
Tuwung Kanji yang Tua di lablab, kemudian airnya disaring dipakai
obat kumur. Air Lumut dipakai Kumur-Kumur.

H. Obat Untuk Vitalitas :


Bahan Obat Dalam : Kuning Telur ayam, air kunir 1 sendok, serbuk
merica, madu dicampur dijadikan satu dan diminum sebagai loloh.
Kuud ental, wortel, ketela. Kelapa metunu; semuanya itu digerus
kemudian dikukus, airnya diambil dijadikan loloh.
Obat Luar : Buah Tibah dicocok dimasukkan garam, kemudian
ditambus, kemudian diinjak tepat kena cekok kaki. Kelapa hijau
muda+27 biji merica -------- minum Mempeenak Rasa : sari bunga
pudak+madu+pijer, lalu disaring --- Dioleskan pada kelamin.
Menghidupkan Penis : Lawos 3 iris+bawang Tunggal 7 iris+daun jeruju
dijadikan loloh + Tuak ----minum.

I. Obat Luka :

31
Bahan Obat : Minyak Alu, Yeh Lunak, Yeh Jeruk Purut, dipakai obat
oles luka. Isen, Batang jepun di lablab atau ditambus airnya dipakai obat
oles.

J. Kelompok Penyakit Mata :

1. Mata Merah :

Bahan Obat : Air Batang Simbukan, Umbi tunjung, air kakap.


Cara Pembuatan : Umbi Tunjung ditambus , ditambah air batang
simbukan dan air kakap kemudian disaring; airnya dijadikan obat tetes.
Air rebusan daun Kelor dipakai air mencuci mata setiap bangun pagi.

2. Mata Tumbuhan (ada daging di dalam mata)

Bahan Obatnya : Darah Bulu ekor ayam, Darah Ekor lindung dipakai
obat tetes mata.

K. Kelompok Penyakit Saluran Kencing :

1. Kencing Darah

Bahan Obatnya : Semangka + Gula Batu


Cara Pembuatan : Semangka dicocok sampai berlubang kemudian
dimasukkan gula batu didiamkan selama satu hari, kemudian air
semangka itu diminum untuk obat.

2. Kencing Batu

Bahan Obatnya : Kelungah Nyuh Mulung + Bunga Gedang Renteng +


Bawang Adas + Bulih Sutra + Jeruk Nipis.
Cara Pembuatan : Kelungah Nyuh Mulung dilobangi dan dimasukkan
Bunga Gedang Renteng + Bawang Adas + Bulih Sutra + Jeruk Nipis,
kemudian didadah sampai matang. Airnya diminum lebih kurang
dengan dosis 2 sampai 3 kelapa dalam sehari.

32
3. Penyakit Kencing Manis

Bahan Obatnya : Widara Upas + Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Sambi Roto
+ Bidara

L. Kelompok Penyakit Lainnya :

10. Obat Upas :


Cara Pembuatan : Widara Upas + Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Sambi
Roto + Bidara Upas direbus sampai mendidih dan air tinggal
sepertiganya, kemudian disaring. Air saringannya diminum sebagai
obat.

10. Obat Asam Urat :


Bahan Obat Luar : Babakan Juwet + Babakan Book + Babakan Jepun +
Pomor Bubuk + Kesuna Jangu + Isen Pabuan + Air Cuka.
Cara Pembuatan : Babakan Juwet + Babakan Book + Babakan Jepun +
Pomor Bubuk + Kesuna Jangu + Isen Pabuan digerus sampai alus
kemudian ditambahkan air panas secukupnya disaring kemudian + Air
Cuka.

10. Obat Bengkak :


Bahan Obatnya : Jabug Arum 3 Biji + Inan Kunyit + Temutis
Cara Pembuatan : Jabug Arum 3 Biji + Inan Kunyit + Temutis di
kunyah sampai alus kemudian disimbuhkan pada tempat yang bengkak.

10. Darah Kotor


Bahan Obat : Buah Menori (di ambil bijinya yang muda) + Pancar Sona
Sekembulan.
Cara Pembuatan : Buah Menori (di ambil bijinya yang muda) + Pancar
Sona Sekembulan di Gerus Sampai Alus ditambahkan air panas
secukupnya, kemudian disaring. Diminum sebagai loloh.

33
10. Obat Jerawat
Bahan Obatnya : Kakap Tabia Bun + Kesuna Jangu + Akah Paku Jukut
+ Inan Kunyit.
Cara Pembuatan : Kakap Tabia Bun + Kesuna Jangu + Akah Paku Jukut
+ Inan Kunyit di gerus sampai alus dijadikan boreh (bedak) pada
Jerawat.

2.5 Jenis-jenis Tanaman yang Terdapat Pada Usadha Bali Baik yang Telah
Terbukti Secara empirik dan Secara Ilmiah yang Didukung Oleh Jurnal-
Jurnal Penelitian Ilmiah
2.5.1 Tanaman yang terdapat pada Usada Bali yang Teruji secara Empiris
1. Cempaka Kuning, cempaka Kuning digunakan untuk badan sakit, ngilu dan
nyeri di seluruh bagian tubuh yang telah lama diderita dan tidak mempan
diobati. Bahan-bahan obat yang digunakan, yaitu pohon cempaka kuning,
pohon sandat (kenanga), pohon majagaru, pohon dedak dan ditambah beras
merah. Semua bahan-bahan digiling halus. Setelah halus, kemudian dibungkus
daun pisang lalu dibakar dengan abu bara. Sewaktu diperkirakan matang, diisi
dengan air cendana. Campuran dibedak paremkan sampai beberapa hari secara
tetap dan teratur (Pulasari, 2009).
2. Daun Intaran, daun intaran digunakan untuk sakit gila dengan gejala selalu mau
melepaskan pakaian dari badannya. Bahan-bahan obat yang digunakan adalah
daun intaran, munggi, sesawi, dan teriketuka. Bahan-bahan tersebut dibuat
menjadi obat tetes (Pulasari, 2009).
3. Jeruk Nipis, jeruk nipis digunakan untuk pengobatan penyakit tuju, gila, badan
kotor, dan gudig yang disertai kurap. Untuk pengobatan penyakit tuju dengan
gejala kaki meluang dan sakit berdenyut-denyut, bahan obat yang digunakan
adalah air jeruk nipis dicampur dengan serbuk batu merah dan teriketuka,
kemudian dibuat menjadi boreh. Untuk penyakit gila dengan gejala berupa
penderita berteriak-teriak atau menjerit-jerit seperti kesakitan, bahan obat yang
digunakan adalah jeruk nipis dicampur dengan daun keling, sesawi, dan jeruk
purut, kemudian dibuat menjadi obat tetes hidung. Untuk penyakit gila dengan
gejala penderita selalu berbicara sendiri tak menentu atau tak berarti, kadang
memaki-maki, dan suka makan sesuatu yang tidak pantas untuk dimakan, bahan
obat yang digunakan adalah merica putih yang digiling halus dicampur dengan

34
air jeruk nipis, dan diremas bersama dengan semut hitam. Hasilnya langsung
diteteskan pada mata, telinga, dan hidung. Untuk badan kotor (daki), kurus
keriput, atau sakit gudig, bahan obat yang digunakan adalah jeruk nipis, daun
dausa keling, daun teked-teked, dan garam. Bahan-bahan tersebut dibuat dalam
bentuk jamu minum atau loloh. Untuk sakit gudig disertai kurap, bahan obat
yang digunakan adalah bubuk buah asam (cempaluk), lengkuas, bangle, jeruk
nipis, dan minyak kelapa tandusan. Bahan dicampur dan dilumaskan atau
diparemkan di seluruh badan. Dibuat obat minum (Pulasari, 2009).
4. Jeruk Purut, jeruk purut digunakan untuk pengobatan penyakit tuju, gila, dan
ayan. Untuk seseorang yang terkena penyakit tuju dan terasa meluang, bahan
obat yang digunakan adalah jeruk purut, kayu kesambi, dan kecemcem.
Masing-masing bahan diambil kulitnya, kemudian dicampur dengan teriketuka,
tai ayam, tangkai sate, kemudian ditumbuk untuk dibuat menjadi boreh/parem.
Untuk sakit gila dengan gejala berteriak-teriak atau menjerit-jerit seperti
kesakitan, bahan obat yang digunakan, yaitu jeruk purut dicampur dengan daun
keling, sesawi, dan jeruk nipis, kemudian dibuat menjadi obat tetes hidung.
Untuk sakit ayan (epilepsi), bahan yang digunakan adalah jeruk purut, uku-uku
yang kehitaman, dan garam dibuat menjadi obat jamu minum (Pulasari, 2009).
5. Kencur, kencur digunakan untuk sakit encak (luka kena tindih benda berat
hingga memar). Bahan obat yang digunakan adalah beras putih dengan kencur,
keduanya dikunyah di mulut dan langsung disembur pada bagian yang sakit
encak (Pulasari, 2009).
6. Kunir, kunir digunakan untuk pengobatan gatal karena jelatang dan untuk
meningkatkan nafsu pada wanita. Untuk sakit gatal-gatal karena terkena
jelatang, bahan yang digunakan adalah kunir warangan dan kapur bubuk. Kunir
warangan digiling dicampur kapur bubuk, kemudian diurutkan pada bagian
badan yang gatal karena kena jelatang. Untuk seorang istri, yang tidak bernafsu
atau bergairah dalam bersenggema dan tidak lagi kotor kain (menstruasi), bahan
obat yang digunakan adalah temu tis, cengkeh, dan santan tane. Bahan-bahan
ini diolah sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai obat tetes mata,
hidung dan telinga. Setelah diteteskan, sisanya diberikan sebagai obat untuk
diminum (Pulasari, 2009).
7. Lengkuas, lengkuas digunakan untuk pengobatan linu, epilepsi, gila, gudig
yang disertai kurap, dan gatal. Untuk penyakit linu-linu, bahan obat yang

35
digunakan antara lain lengkuas, daun sembung, daun pule, temutis, temu kunci,
kunir, bangle, dan jahe pahit masing-masing sepanjang satu buli, serta
gegambiran anom. Bila ingin dalam keadaan hangat, diisi lagi dengan
sinderong dan diambil air endapannya. Mula-mula tumbuk semua bahan, isi
sedikit air, diperas dan disaring, kemudian langsung diminum. Untuk sakit ayan
dan sering mengalami pingsan (epilepsi), bahan obat yang digunakan adalah
lengkuas, paci-paci beserta bunganya, kemiri, dan jebugarum (pala, jangu, dan
musi). Semua bahan dibuat menjadi obat jamu minum dan ampas jamu dipakai
sebagai bedak parem (boreh). Untuk sakit gila dengan gejala selalu ngomel,
bersengut-sengut, dan merengut, bahan obat yang digunakan adalah lengkuas,
lenga wangi, selasih harum, dan musi. Semua bahan dibuat menjadi obat tetes
hidung dan telinga. Ampasnya dibuat menjadi bedak parem (boreh). Untuk
seseorang yang telah lama menderita gila, kadang-kadang sudah sembuh dan
kadang-kadang kambuh lagi, bahan obat yang digunakan antara lain 2 iris
lengkuas, daun uku-uku yang warnanya agak hitam, dan musi. Semua bahan
ditumbuk atau digiling, direndam dengan air cuka, lalu dimasak dalam periuk
(digodok). Setelah matang, dibiarkan sampai keesokan harinya dan diambil air
yang bening. Air tersebut dipakai sebagai obat minum dan obat tetes pada mata,
hidung, dan telinga. Untuk badan sakit gudig disertai kurap, bahan obat yang
digunakan antara lain lengkuas, bubuk buah asam (cempaluk), bangle, jeruk
nipis, dan minyak kelapa tandusan. Bahan dicampur dan dilumaskan atau
diparemkan di seluruh badan. Untuk badan gatal dan binil-binti seperti digigit
nyamuk, bahan obat yang digunakan adalah lengkuas, daun pepe, daun pisang
saba, kemiri, bawang, dan adas. Semua bahan dibuat dalam bentuk paremnya
(Pulasari, 2009).
8. Liligundi, liligundi digunakan untuk salit gila dan bengkak. Untuk saki gila
dengan geala selalu senyum-senyum, bahan obat yang digunakan adalah akar
liligundi, akar intaran, biji bah kelor, dan teriketuka. Bahan-bahan dibuat
menjadi obat tetes hidung. Untuk sakit gila dengan gejala tampak menari-nari,
bahan obat yang digunakan adalah liligundi sekawit, sesawi, dausa keeling, dan
gula. Semua bahan dibuat menjadi obat tetes mata dan hidung. Untuk bengkak-
bengkak di badan, bahan obat yang digunakan adalah liligundi, kantewali,
musi, ebug harum, dan air cuka. Bahan-bahan ini dicamur dan dimasak
sekaligus. Setelah matang, airnya dipakai sebagai obat minum (Pulasari, 2009).

36
9. Pule, pule digunakan untuk pengobatan penyakit tuju. Untuk sakit tuju dengan
gejala ruam di bagian badan mana saja (seluruh badan), bahan obat yang
digunakan adalah kulit pule, akar awar-awar, beras merah, teriketuka, dan air
abu dapur (yang telah diendapkan). Bahan-bahan tersebut ditumbuk halus, lalu
dituangi air abu dapur, kemudian diborehkan.
10. Sembung, sembung digunakan untuk kepanasan karena terbakar dan perut yang
terasa kaku. Untuk seorang yang menderita badan kepanasan karena kena
bakar, bahan obat yang digunakan adalah getah kayu sembung tulang. Diambil
setangkai cabang sembung tulang, dipatahkan ranting-rantingnya, kemudian
diteteskan getahnya pada bagian yang panas karena terkena bakar. Untuk perut
yang terasa kaku serta dugalan (ada endapan kotoran akibat berbagai penyakit),
bahan obat yang digunakan adalah sembung, pule, kayu melelo, dan umah
sepuh (sejenis semut). Semua bahan dicampur, digiling, diperas, lalu disaring.
Air sari dicampur dengan madu dan diberikan sebagai obat minum (Pulasari,
2009). Dari beberapa contoh yang telah dijelaskan, terlihat bahwa obat-obat
dalam Usada Dalem paling banyak diberikan dalam bentuk boreh, tetes (baik
mata, hidung, maupun telinga), dan loloh. Selain tanaman-tanaman yang telah
disebutkan, masih terdapat banyak tanaman yang digunakan untuk pengobatan
dalam Usada Dalem. Beberapa tanaman yang digunakan dalam pengobatan
beserta khasiatnya menurut Usada Dalem dapat dilihat pada tabel berikut.
11. Adas ( Foeniculum vulgare) Upas Hyang, mencret, panas biasa, demam,
panas dan gelisah, sakit pjen, sakit perut disertai panas, daging dan otot kaku,
gila dan menyebut nama dewa, gila dengan tanda tertentu di tubuhnya, gila
dengan tanda senang menangis setiap hari, gila menahun, mata rabun karena
tuju rambat, pusing, tuju gumi, panas dalam, panas pusing, jampi wangke, hati
nek, tidak bisa berak dan kencing. Adas umumnya digunakan untuk mengobati
sakit perut (mulas), perut kembung, rasa penuh di lambung, mual, muntah,
diare, sakit kuning (jaundice), kurang nafsu makan, batuk berdahak, sesak
napas (asma), haid: nyeri haid, haid tidak teratur, air susu ibu (ASI) sedikit,
putih telur dalam kencing (proteinuria), susah tidur (insomnia), buah pelir turun
(orchidoptosis), usus turun kelipat paha (hernia inguinalis), pembengkakan
saluran sperma (epididimis), penimbunan cairan di dalam kantung buah zakar
(hidrokel testis), mengurangi rasa sakit akibat batu dan membantu

37
menghancurkannya, rematik gout, dan keracunan tumbuhan obat atau jamur
(Hasanah, 2004).
12. Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum L.) Obat bengkak, obat keringat
tidak bias keluar, gila suka menyanyi, obat gila, obat pusing, tiwang tojos.
13. Bawang putih (Allium sativum L.) Upas rambat, bengkak, mokan beseh
mangrekurek, mokan kakipi, obat tidak mengeluarkan keringat, upas kebo
ingel, Cetik tiwang saliwah putih, upas rambat, obat bengkak.
14. Bangle (Zingiber purpureum Roxb) Penyakit linu-linu, loyo, segala penyakit
tuju, obat gila suka menyanyi, kulit tidak berkeringat, obat bengkak, hati terasa
bengkak, tidak sadarkan diri, tiwang angin.
15. Dadap (Erythrina lithosperma Miq) Terkena racun, badan kurus dan
mengeluarkan darah, obat pjen, obat bengkak, sembelit, kerambit disertai tuju,
mencret-mencret.
16. Buah delima (Punica granatum L.) Jampi amengka (membengkak), mencret
mengeluarkan darah dan nanah.
17. Jangu (Acorus calamus L) Cetik tiwang saliwah putih.
18. Kelembak Rheum officinale Baill Pergelangan tangan gemetar akibat terkena
cetik, obat terkena reratus (campuran racun).
19. Kelor Moringa oleifera Lam Penyakit kusta, gila yang suka tersenyum-senyum,
gila yang suka tertawa, tiwang belabur, merintih-rintih (kriyak-kriyok)
perutnya.
20. Kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis L. Obat tuju raja bengang, obat
bengkak di dalam perut dan bernanah, obat pjen, tuju gumi, racun warangan,
merapatkan vagina, obat kuat saat bersengggama.
21. Kemiri Aleurites moluccana (L.) Willd Obat bengkak, bengkak dalam perut dan
keluar nanah, obat demam, penyakit perut, panas dalam, sakit perut, jampi
amengka, obat sembelit.
22. Kenanga Cananga odorata (Lamk.) Hook. ngilu di seluruh bagian tubuh,tiwang
jawat, gatal seluruh tubuh.
23. Ketumbar Coriandrum sativum L. Obat bengkak, bengkak dalam perut dan
bernanah, tiwang ketket, jampi agung, obat tubuh terasa panas, upas bengang,
muntah mencret dan gelisah, penyakit linu-linu.

38
24. Lengkuas Alpinia galanga (L.) Sw.v Penyakit linu, penyakit ayan dan sering
pingsan karena epilepsi, untuk badan sakit gudig disertai kurap dan untuk badan
gatal.
25. Mengkudu Morinda citrifolia L. Luka digigit anjing, perut bengkak.
26. Pala (jebug arum) Myristica fragrans Houtt Gila yang tidak betah diam, obat
kemaluan, tiwang, pinggang terasa kaku, panas dingin, jampi amengka, sakit
perut.

2.5.2 Tanaman yang terdapat pada Usada Bali yang Teruji secara Ilmiah
1. Buah adas (Foeniculum vulgare Mill.)
Kandungan Kimia : stigmasterol, kamfena, limonen, arginin, umbeliferona,
saponin, flavonoida, polifenol, anetol, fenkom, pinen, dipenten, felandren,
metilkavikol, anisaldehid, minyak atsiri (asam anisat, trans-anetol,
limonen, estragol, fenkon, terpinen), senyawa kumarin, xantotoksin, -
sitosterol, a-amirin, asam klorogenat, dan kuersetin-3-O- -glukoronida
(Ismawan, tt; Anonim, 2004).
Khasiat Secara Ilmiah : Minyak atsiri buah dan batang adas secara in vitro
dapat menghambat pertumbuhan bakteri E.coli dan bakteri S. aureus.
Senyawa ini juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif
lain yakni Serratia marcesence dan Klebsiella (El-Adly dkk., 2007)
Efek Tosik : Uuji toksisitas dilakukan pada mecit dengan memberikan
minyak atsiri biji buah adas. Setelah 72 jam pemberian, diamati bahwa
LD50 dari minyak atsiri adas adalah 1.038 ml/kg berat badan mencit (Zein,
2004).
2. Delima (Punica granatum L.)
Kandungan Kimia : Pada buah delima mengandung senyawa saponin,
flavonoid dan polifenol. Senyawa yang terkandung di dalam kulit batang,
bunga dan buahnya juga adalah tanin (Hutapea, 2000)
Khasiat Secara Ilmiah : Dalam Usada Rare, kulit buah delima digunakan
untuk mengobati anak diare. Efek antidiare kulit buah delima dibuktikan
dengan melakukan uji pada infusa kulit buah delima aktif terhadap
Salmonella typhimurium dengan konsentrasi hambat minimum 1,1 mg/ml
pada dosis 800 mg/kg BB dan mengurangi diare pada dosis 400 dan 800
mg/kg BB (Ismawan, tt).

39
Efek Toksik : Mengkonsumsi kulit akar dan batang delima secara
berlebihan (>80 g) dapat menyebabkan mual dan muntah, perut kembung
serta sakit perut. Senyawa tanin yang terkandung di dalamnya dapat
menimbulkan diare. Efek lain yaitu tremor, kelemahan otot, dan kram pada
ekstremitas, pusing, kebingungan mental, diplopia dan midriasis , serta
gangguan okuler lainnya (Aviram, 2000)
3. Bangle (Zingiber purpureum Roxb)
Kandungan Kimia : minyak atsiri seperti sabinene, -pinene, karyopilen
oksida, pada rizom bangle mengandung triquinacene, 1,4-bis (methoxy),
(Z)-ocimene, terpinen-4-ol, terpinene, -phellandrene dan cis-
sabinenehydrate (Anonim. 2010)
Khasiat : mengobati perut si anak terasa panas (panas dalam) karena ada
infeksi di dalam perut (Suwidja, 1991)
4. Belimbing Besi (Averrhoa carambola L.)
Kandungan Kimia : alkaloida, saponin dan flavonoida, sedangkan
kandungan kimia buah Averrhoa carambola adalah protein, lemak,
kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C (Hutapea, 2000)
Khasiat : mengobati anak demam dan batuk, anak hangat badannya, anak
batuk kering, perut bayi jampi atau barah-panas dalam, badan panas dan
batuk, serta sebagai obat sakit panas (Suwidja, 1991)
5. Bawang merah (Allium cepa L.)
Kandungan Kimia : flavonoid, tannin, fenol, minyak atsiri yang Obat sakit
perut dan mengatasi perut mengandung komponen sikloaliin, metilaliin,
kembung pada bayi (Suwidja, 1991) dihidroaliin, kaempferol, kuersetin,
cepaene,tiosulfonat dan floroglusin (Anonim, 1995)
Khasiat : Obat sakit perut dan mengatasi perut kembung pada bayu
(suwidja,1991)
6. Kelor (Moringa oleifera)
Kandungan Kimia : di dalam daun kelor mengandung saponin dan
polifenol, sedangkan dalam kulit batang mengandung minyak atsiri.
Khasiat : mengatasi perut bayi jampi atau barah panas-dalam (Suwidja,
1991)
7. Kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd.)
Kandungan Kimia : saponin, flavonoida dan polifenol (Tengah dkk., 1995)

40
Khasiat : mengobati guwam, bayi badannya panas dan tidak mau makan,
bayi batuk dan serak, dan perut si anak terasa panas (Suwidja, 1991)
8. Ketumbar (Coriandrum sativum)
Kandungan Kimia : saponin, flavonoida, tanin, sedangkan minyak atsiri
mengandung d-linalool, geraniol, borneol (Anonim. 1995; Hutapea, 2000)
Khasiat : sebagai obat batuk, bayi sesak napas, anak muntah-muntah, anak
sering mencret, dan perut anak terasa panas (Suwidja, 1991)
9. Kunir (Curcuma longa L.)
Kandungan Kimia : flavonoid kurkumin (diferuloylmethana) dan berbagai
jenis minyak atsiri seperti tumeron, atlanton, dan zingiberon. Kandungan
kimia yang lain meliputi gula, protein, dan resin (Hutapea, 2000) .
Khasiat : mengobati perut si anak terasa panas dan muntah-muntah pada
anak (Suwidja,1991)

10. Bawang Putih (Garlic)


Khasiat Secara Empiris : Menurunkan kadar kolesterol darah, anti agregasi
platelet, antiinflamasi, menghambat sintesis kolesterol, antibakteri,
antifungi, antikanker, antiviral, dan antispasmodik (Annisa, 2008).
Efek Klinis/Preklinis : Berdasarkan suatu penelitian, bawang putih
memiliki efek sebagai antioksidas. Namun, penelitian tersebut baru
mencapai tahap uji preklinis pada tikus (Gorinstein, 2006).
11. Cempaka Kuning (Chempaka)
Khasiat Secara Empiris Cempaka umumnya digunakan sebagai diuretik
dan ekspektoran. Daunnya digunakan untuk pengobatan batu ginjal, mulas,
dan napas/mulut bau. Kulit kayu digunakan untuk pengobatan demam dan
haid tidak teratur. Bunganya dapat dipakai untuk aroma perawatan rambut.
Adanya senyawa bioaktif seskuiterpen lakton (termasuk ke dalam senyawa
terpenoid) yang terkandung di dalam ekstrak daun cempaka kemungkinan
besar mengakibatkan terjadinya penghambatan pertumbuhan jamur
Fusarium oxysporum (Padmiari, 2010).

41
Efek Klinis/Preklinis Berdasarkan suatu penelitian, cempaka
kuninga memiliki efek menyembuhkan luka. Namun, penelitian tersebut
baru mencapai tahap uji preklinis pada tikus (Dwajani, 2009).
12. Dadap Serep (Ethyrina miq)
Khasiat Secara Empiris Daun tanaman ini digunakan untuk mengobati
demam, pelancar ASI, sariawan perut, mencegah keguguran (obat luar),
perdarahan bagian dalam, dan sakit perut. Sedangkan, kulit kayunya
digunakan untuk mengobati batuk dan sariawan perut (Gunawan, 1993).
Efek Klinis/Preklinis Belum ditemukan hasil penelitian mengenai efek
farmakologi dari tanaman ini, baik secara preklinis maupun secara klinis.
13. Daun Siris (Piper bettle)
Sirih adalah merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat
atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya
biasa dikunyah bersama gambir, pinang, tembakau dan kapur. Namun
mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulut dan
pembentukan squamous cellcarcinoma yang bersifat malignan. Juga
kapurnya mebuat pengerutan gusi (periodentitis) yang dapat membuat gigi
tanggal, walaupun daun sirihnya yang mengandung antiseptik mencegah
gigi berlubang.
Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol),
seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki
daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur.Sirih
berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan
cendawan.Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan
luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan.Selain itu juga bersifat
mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan
menghentikan perdarahan. Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2
lembar daun segar Piper betle, dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke
dalam lubang hidung. Selain itu, kandungan bahan aktif fenol dan kavikol
daun sirih hutan juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk
mengendalikan hama penghisap.
14. Daun sirsak
Daun sirsak ternyata mengandung banyak manfaat untuk bahan
pengobatan herbal, dan untuk menjaga kondisi tubuh. Dibalik manfaatnya

42
tersebut ternyata tak lepas dari kandungannya yang banyak
mengandung acetogenins, annocatacin, annocatalin,
annohexocin, annonacin, annomuricin, anomurine, anonol, caclourine, gent
isicacid, gigantetronin, linoleic acid, muricapentocin. Kandungan senyawa
ini merupakan senyawa yang banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, bisa
sebagai obat penyakit atau untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Manfaat daun sirsak ternyata 10.000 kali lebih kuat kandungan dan
kemampuannya dari kemoterapi dalam mengobati kanker.Ini berdasarkan
dari penelitian yang telah dilakukan, pada masyarakat kuno daun sirsak
sudah diketahui manfaatnya dan banyak diguinakan untuk mengobati
penyakit.Sekitar tahun 1965, berbagai studi para ilmuwan membuktikan
ekstrak daun sirsak memiliki khasiat yang lebih baik dari kemoterapi,
bahkan ekstrak tersebut bisa memperlambat pertumbuhan kanker.Pada
tahun 1976, National Cancer Institute telah melakukan penelitian ilmiah
dan hasilnya menyatakan batang dan daun sirsak efektif menyerang dan
menghancurkan sel-sel kanker.Ini karena kandungannya yang sangat tinggi
senyawa proaktif bagi tubuh, ini jarang ditemukan pada buah lainnya

15. Sambiloto
Sambiloto merupakan tumbuhan berkhasiat obat berupa terna tegak yang
tingginya bisa mencapai 90 sentimeter.Asalnya diduga dari Asia
tropika.Penyebarannya dari India meluas ke selatan sampai di Siam, ke
timur sampai semenanjung Malaya, kemudian ditemukan Jawa.Tumbuh
baik di dataran rendah sampai ketinggian 700 meter dari permukaan
laut.Sambiloto dapat tumbuh baik pada curah hujan 2000-3000 mm/tahun
dan suhu udara 25-32 derajat Celcius.Kelembaban yang dibutuhkan
termasuk sedang, yaitu 70-90% dengan penyinaran agak lama.
Tanaman sambiloto digunakan untuk mencegah pembentukan radang,
memperlancar air seni (diuretika), menurunkan panas badan (antipiretika),
obat sakit perut, kencing manis, dan terkena racun. kandungan senyawa
kalium memberikan khasiat menurunkan tekanan darah. Hasil percobaan
farmakologi menunjukkan bahwa air rebusan daun sambiloto 10% dengan
takaran 0.3 ml/kg berat badan dapat memberikan penurunan kadar gula
darah yang sebanding dengan pemberian suspensi glibenclamid.[3] Selain

43
itu, daun Sambiloto juga dipercaya bisa digunakan sebagai obat penyakit
tifus dengan cara mengambil 10-15 daun yang direbus sampai mendidih
dan diminum air rebusannya.
16. Papaya
Pepaya (Carica papaya L.), atau betik adalah tumbuhan yang berasal
dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan, dan
kini menyebar luas dan banyak ditanam di seluruh daerah tropis untuk
diambil buahnya. C. papaya adalah satu-satunya jenis
dalam genus Carica.
Manfaat buah pepaya: Pepaya memiliki manfaat yang banyak karena
pepaya banyak mengandung vitamin A yang baik untuk kesehatan mata,
pepaya juga memperlancar pencernaan bagi yang sulit buang air besar. Di
beberapa tempat buah pepaya setengah matang dijadikan rujak buah manis
bersama dengan buah bengkoan, nanas, apel, belimbing, jambu air. Getah
buah pepaya juga tergolong mahal karena getah pepaya bida diolah
menjadi tepung papain yang berguna bagi kebutuhan rumah tangga dan
industri.Pada pengobatang herbal pepaya dapat mencegah kanker, sembelit,
kesehatan mata.
17. Mengkudu
atau keumeudee (Aceh); pace, kemudu, kudu (Jawa); cangkudu (Sunda); k
odhuk (Madura); tibah(Bali) berasal daerah Asia Tenggara, tergolong
dalam famili Rubiaceae. Nama lain untuk tanaman ini
adalah noni (Hawaii), nono(Tahiti), nonu (Tonga), ungcoikan (Myanmar)
dan ach (Hindi). Tanaman ini tumbuh di dataran rendah hingga pada
ketinggian 1500m. Tinggi pohon mengkudu mencapai 38 m, memiliki
bunga bongkol berwarna putih. Buahnya merupakan buah majemuk, yang
masih muda berwarna hijau mengkilap dan memiliki totol-totol, dan ketika
sudah tua berwarna putih dengan bintik-bintik hitam. Secara tradisional,
masyarakat Aceh menggunakan buah mengkudu sebagai sayur dan
rujak.Daunnya juga digunakan sebagai salah satu bahan nicah
peugaga yang sering muncul sebagai menu wajib buka puasa.Karena itu,
mengkudu sering ditanam di dekat rumah di pedesaan di Aceh.Selain itu
mengkudu juga sering digunakan sebagai bahan obat-obatan.

44
Manfaat: Zat nutrisi: secara keseluruhan mengkudu merupakan buah
makanan bergizi lengkap. Zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh, seperti
protein, viamin, dan mineral penting, tersedia dalam jumlah cukup pada
buah dan daun mengkudu. Selenium, salah satu mineral yang terdapat pada
mengkudu merupakan antioksidan yang hebat. Berbagai jenis senyawa
yang terkandung dalam mengkudu : xeronine, plant sterois,alizarin, lycine,
sosium, caprylic acid, arginine, proxeronine, antra quinines, trace elemens,
phenylalanine, magnesium, dll. Terpenoid. Zat ini membantu dalam proses
sintesis organic dan pemulihan sel-sel tubuh. Zat anti bakteri.Zat-zat aktif
yang terkandung dalam sari buah mengkudu itu dapat mematikan bakteri
penyebab infeksi, seperti Pseudomonas aeruginosa, Protens morganii,
Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli. Zat anti
bakteri itu juga dapat mengontrol bakteri pathogen (mematikan) seperti
Salmonella montivideo, S .scotmuelleri, S . typhi, dan Shigella dusenteriae,
S . flexnerii, S . pradysenteriae, serta Staphylococcus aureus. Scolopetin.
Senyawa scolopetin sangat efektif sebagi unsur anti peradangan dan anti-
alergi. Zat anti kanker. Zat-zat anti kanker yang terdapat pada mengkudu
paling efektif melawan sel-sel abnormal. Xeronine dan Proxeronine. Salah
satu alkaloid penting yang terdapt di dalam buah mengkudu adalah
xeronine. Buah mengkudu hanya mengandung sedikit xeronine, tapi
banyak mengandung bahan pembentuk (precursor) xeronine alias
proxeronine dalam jumlah besar. Proxeronine adalah sejenis asam nukleat
seperti koloid-koloid lainnya. Xeronine diserap sel-sel tubuh untuk
mengaktifkan protein-protein yang tidak aktif, mengatur struktur dan
bentuk sel yang aktif.
18. Lidah Buaya (Aloe vera)
Lidah Buaya (Aloe vera; Latin: Aloe barbadensis Milleer) adalah
sejenis tumbuhan yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan
digunakan sebagai penyubur rambut, penyembuh luka, dan untuk
perawatan kulit. Tumbuhan ini dapat ditemukan dengan mudah di kawasan
kering di Afrika. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi, manfaat tanaman lidah buaya berkembang sebagai bahan baku
industri farmasi dan kosmetika, serta sebagai bahan makanan dan minuman
kesehatan. Secara umum, lidah buaya merupakan satu dari 10 jenis

45
tanaman terlaris di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan
sebagai tanaman obat dan bahan baku industri. Berdasarkan hasil
penelitian, tanaman ini kaya akan kandungan zat-zat seperti enzim, asam
amino, mineral, vitamin, polisakarida dan komponen lain yang sangat
bermanfaat bagi kesehatan. Selain itu, menurut Wahyono E dan Kusnandar
(2002), lidah buaya berkhasiat sebagai anti inflamasi, anti jamur, anti
bakteri dan membantu proses regenerasi sel. Di samping menurunkan
kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes, mengontrol tekanan darah,
menstimulasi kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit kanker, serta
dapat digunakan sebagai nutrisi pendukung penyakit kanker,
penderita HIV/AIDS. Salah satu zat yang terkandung dalam lidah buaya
adalah aloe emodin, sebuah senyawa organik dari golongan
antrokuinon yang mengaktivasi jenjang sinyal insulin seperti pencerap
insulin-beta dan substrat 1, fosfatidil inositol-3 kinase dan meningkatkan
laju sintesis glikogen dengan menghambat glikogen sintase kinase 3 beta,
sehingga sangat berguna untuk mengurangi rasio gula darah. Di negara-
negara Amerika, Australia, dan Eropa, saat ini lidah buaya juga telah
dimanfaatkan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman
kesehatan. Aloe vera/lidah buaya mengandung semua jenis vitamin kecuali
vitamin D, mineral yang diperlukan untuk fungsi enzim, saponin yang
berfungsi sebagai anti mikroba dan 20 dari 22 jenis asam amino. Dalam
penggunaannya untuk perawatan kulit, Aloe vera dapat menghilangkan
jerawat, melembabkan kulit, detoksifikasi kulit, penghapusan bekas luka
dan tanda, mengurangi peradangan serta perbaikan dan peremajaan
kulit.Aloe vera juga mengandung asam folik yang melindungi sistem
kekebalan tubuh dan kesehatan tubuh yang seringkali terefleksi pada kulit.
Manfaat: Di India lidah buaya banyak dikonsumsi masyarakat sebagai
makanan ringan harian dan sebagai kosmetik alami.Salah satu masalah
rutin yang kerap menimpa manusia seperti komedo bisa diatasi oleh lidah
buaya, caranya pun cukup sederhana hanya dengan mengupas lidah buaya
dan ambil intinya yang berupa lendir tersebut.Caranya dengan
membasuhkan lendir lidah buaya ke area komedo. Lidah buaya berkhasiat
menghaluskan dan mempercepat proses penyembuhan kulit. Selain untuk
penyembuhan, lidah buaya juga dapat memberikan kesegaran pada wajah.

46
19. Katuk
Katuk (Sauropus androgynus) merupakan tumbuhan sayuran yang banyak
terdapat di Asia Tenggara. Tumbuhan ini dalam beberapa bahasa dikenali

sebagai mani cai ( ; bahasa Tionghoa) , cekur manis (bahasa

Melayu) dan rau ngt (bahasa Vietnam). Daun katuk merupakan sayuran
minor yang dikenal memiliki khasiat memperlancar aliran air susu
ibu (ASI).
Manfaat: Daun katuk dapat mengandung hampir 7% protein dan serat kasar
sampai 19%. Daun ini kaya vitamin K, selain pro-vitamin A (beta-
karotena), B, dan C. Mineral yang dikandungnya adalah kalsium (hingga
2,8%), besi, kalium, fosfor, dan magnesium. Warna daunnya hijau gelap
karena kadar klorofil yang tinggi. Daun katuk dapat diolah
seperti kangkung atau daun bayam.Ibu-ibu menyusui diketahui
mengonsumsi daunnya untuk memperlancar keluarnya ASI.Perlu
diketahui, daun katuk mengandung papaverina, suatu alkaloid yang juga
terdapat pada candu (opium). Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan
efek samping seperti keracunan papaverin. Pucuk tunas yang muda dijual
orang di Indocina dan dimanfaatkan seperti asparagus. Tanaman ini banyak
ditanam di pekarangan karena mudah diperbanyak dan biasa
dijadikan pagar hidup.
20. Jeruk nipis
Jeruk nipis atau limau nipis adalah tumbuhan perdu yang
menghasilkan buah dengan nama sama. Tumbuhan ini dimanfaatkan
buahnya, yang biasanya bulat, berwarna hijau atau kuning,
memiliki diameter 3-6 cm, memiliki rasa asam dan agak pahit,agak serupa
rasanya dengan lemon.Jeruk nipis, yang sering dinamakan secara salah
kaprah sebagai jeruk limau, dipakai perasan isi buahnya untuk
memasamkan makanan, seperti pada soto.
Manfaat: Jeruk nipis memiliki kandungan vitamin C lebih banyak
dibandingkan jenis jeruk lainnya. Selain digunakan untuk penyedap
makanan jeruk nipis bisa menyembuhkan berbagai penyakit banyak antara
lain:
- Ambeien

47
- Amandel
- Anyang-anyangan
- Batuk
- Batuk disertai influenza
- Bau badan
- Batu ginjal
- Difteri
- Demam
- Haid tidak teratur
- Jerawat
- Radang tenggorokan
- Tekanan darah tinggi
- Sakit gigi
- Pegel Linu
- Terkilir

Jeruk nipis juga bermanfaat untuk kecantikan, antara lain:


menghilangkan jerawat, membuat kuku cemerlang, membuat rambut
halus, lembut dan berkilau, dan dapat menghilangkan ketombe.

48
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian yang terdapat pada bagian isi di atas, dapat disimpulkan beberapa
hal antara lain :
1. Pengertian usada yaitu usadha adalah semua tata cara untuk
menyembuhkan penyakit, cara pengobatan, pencegahan, memperkirakan
jenis penyakit/diagnosa, perjalanan penyakit dan pemulihannya.
Pengobatan dalam Usada Bali dilakukan dengan berbagai ramuan
tradisional dan dilakukan oleh seorang pendeta atau balian tertentu sesuai
dengan jenis penyakitnya.
2. Pandangan sehat dan sakit pada Usada Bali didasarkan pada dua arah dan
dua dunia, masyarakat bali percaya akan adanya dunia sekala (nyata) dan
dunia niskala (tidak nyata). Penyakit dapat berasal dari sekala maupun
niskala. Berbeda penyakitnya berbeda pula jenis dan ramuan
pengobatannya.

49
3. Jenis-jenis Usada Bali cakupannya cukup luas, bisa dilihat dari adanya
berbagai spepsialisasi pengobatan yang tertuang pada beberapa jenis Usada
yang menjelaskan penyakit-penyakit tertentu, adapun usada tersebut
diantaranya Usada buduh, Usada Rarae, Usada kacacar, Usada Tuju, usada
Paneseb, Usada Dalem, Usada Ila, Usada bebai, Usada Ceraken Tingkeb,
Usada Tiwang, Usada Darmosada, Usada Uda, Usada Indrani, Usada
Kalimosada, Usada Kamarus, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala, Usada
Rukmini Tatwa, Usada Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda
Kecapi, Usada Cukil Daki, Usada Kuda, Usada Pamugpug, dan Usada
Pamugpugan.
4. Penggunaan Usada Bali oleh masyarakat Bali masih terbilang eksis, hal ini
ditunjukan dengan adanya berbagai ramuan obat yang awalnya bersumber
dari lontar usada hingga kini masih sering digunakan. Seperti halnya
boreh, looloh, simbuhan, dan lain sebagainya.
5. Jenis-jenis tanaman yang terdapat pada Usada Bali yang telah teruji
empirik maupun yang telah teruji klinis merupakan jenis tanaman endemik
dari daerah Bali. Pengujian secara empirik dilakukan dengan pengalaman-
pengalaman masyarakat Bali yang langsung mengggunakan dan merasakan
khasiat dari obat atau ramuan yang dibuatnya. Sedangkan yang telah teruji
klinis atau preklinis merupakan jenis obat atau ramuan yang telah teruji
dan terstandar secara pasti serta telah dipublikasikan dengan jurnal-jurnal
ilmiah.

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Kepada masyarakat diharapkan tetap selalu menjaga dan melestarikan aset
budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang berupa ilmu pengobatan
atau Usada Bali ini. Dalam penggunaannya juga diharapkan tetap selalu
berhati-hati untuk tidak mendapatkan efek yang tidak diinginkan, melainkan
bisa mendapatkan efek terpetik sesuai dengan jenis penyakitnya
2. Kepada peneliti atau penulis lain diharapkan kian gencar melakukan
penelitian, pengkajian, atau pengeksplorasian terhadap budaya khususnyta
Usada Bali ini, karen masih ada segudang manfaat yang belum diketahui oleh

50
khalayak banyak. Selain begitu hal tersebut dapat mengeksistensikan kembali
Usada Bali sebagai pegagangan untuk pengobatan tradisional.
3. Kepada pemerintah agar bisa lebih memperhatikan aset-aset budaya untuk
tetap ajeg dan lestari, selain itu Usada Bali bisa sebagai ujung tombak dalam
melakukan gerakan back to nature yang sejalan dengan program
pemerintah baik dalam skala daerah maupun internasional yaitu Go Green.
Diharapkan ada banyak pengembangan-pengembangan ilmu pengetahuan di
bidang Usada pada khususnya dan pemerintah bisa mengakomodasi hal
tersebut.

51
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat dan Makanan: Jakarta

Anonim. 2004. Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia Vol. 1. Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia

Behrend, T.E. 1998. Katalog Induk Naskah Nusantara Perpustakaan Nasional.


Jakarta: Yayasan Obor.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. 2007. Usada Sari. Singaraja: Gedong Kirtya.

------. 2007. Usada Tuju, 2007, Singaraja: Gedong Kirtya

------. 2012. Usada: Salinan Lontar Druwen UPTD Gedong Kirtya Singaraja.
Singaraja: Gedong Kirtya.

------. 2015. Paeseh Usada. Singaraja: Gedong Kirtya.

Forster, George M. Dan Anderson. 1978. Medical Anthropology. New York: John
Wiley & Son.

http://lontar-usada.blogspot.co.id/search/label/Lontar%20Usada%20Rare (diakses
pada Rabu, 4 Mei 2016. Pukul 21.00 wita)

http://smart-fresh.blogspot.co.id/2011/09/tanaman-usada-dalem.html (diakses pada


Rabu, 4 Mei 2016. Pukul 21.40 wita)

https://power-metafiska.blogspot.co.id/2016/02/pengobatan-menurut-usada-bali.html
(diakses pada Rabu, 4 Mei 2016. Pukul 21.40 wita)

Hutapea, J. R. 2000. Inventarisasi Tanaman Obat Indonesia (I). Jakarta. Balitbangkes


Depkes RI.

Lestyawati, Endang.1984. Pengobatan Tradisional di Balekerto. Yogyakarta:


Universitas Gadjah Mada.

Sedyawati, Edi. 1997. Naskah dan Pengkajiannya: Tipologi Pengguna. Makalah

52
dalam Simposium Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Suwidja, K. 1991. Berbagai Cara Pengobatan Menurut Lontar Usada Pengobatan


Tradisional Bali. Indra Jaya: Singaraja.

Sukera, I Wayan. 1996. Usada Taru Pramana Satu Kajian Filologis. Bandung:
Program Pascasarjana, Universitas Padjadjaran.

Suparta, I Made. 1998. Lontar Usada Sawah: Sebuah Sumber Pengetahuan Budaya
tentang Tata Cara Penanggulangan hama Padi dalam Pertanian dan Tata
Lingkungan Hidup Masyarakat Bali. Jakarta: Masyarakat Pernaskahan
Nusantara.

Tengah, I Gst. Putu, I Wyn. Arka, Ni Md. Sritamin, I. B. Indra Gotama, dan B.
Sihombing. 1995. Inventarisasi, Determinasi dan Cara penggunaan
Tanaman Obat Pada Lontar Usada di Bali. Jakarta. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia

Zein, U., K. H. Sagala, dan J. Ginting. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. e-USU
Repository Universitas Sumatera Utara. 1- 15.

53
LAPIRAN-LAMPIRAN

54
LAPIRAN 1
JENIS-JENIS USADHA BALI

55
Lontar Usada Budhakcapi

1. Semoga tidak menemui rintangan. Mohon maaf kepada Dewa Siwa. Apakah
disebut awighna, apakah yang disebut nama siddham, sebaiknya kau
mengetahui makna awighnamastu. Jika kau paham, kau boleh menggunakan
ilmu ini untuk mengobati. Jika kau tidak paham makna awighnamastu,
janganlah kau berani melecehkan ilmu ini. Ilmu ini dinamakan Siwalingga,
firman Tuhan yang dianugrahkan kepada para guru dunia. Om maksudnya
sarira (badan), awi maksudnya aksara (huruf), ghna artinya tempat
bersemayam, mastu artinya kepala, nama maksudnya anugrah, si maksudnya
matahari; dham maksudnya bulan. Itulah yang patut dipahami tentang tempat
bersemayam Dewa. Kau tidak akan menemukan bencana. Demikianlah firman
Dewa pada zaman dulu. Ini merupakan ilmu rahasia, Usada Sari. Ketika
diturunkan di Pura Dalem, ini adalah sabda Hyang Pramakawi. "Begitu

2. amat tergesa-gesa kalian berdua, cepatlah katakan sekarang, agar aku tahu!"
Demikian kata sang Budhakecapi kepada mereka berdua. Selanjutnya, sang
Klimosadha menjawab bersama sang Klimosadhi: "Kami berasal dari Lemah
Surat, kami sedesa. Kami ini bernama sang Klimosadha dan sang
Klimosadhi!" Lalu sang Budhakecapi berkata: "Baiklah, aku bertanya kepada
kalian berdua, aku mendengar berita tentang orang yang bernama sang
Klimosadha dan sang Klimosadhi, terkenal ahli dalam meramal dan
mengobati, konon demikian!" Mereka berdua segera menjawab: "Hamba
memang begitu, (tetapi) hamba berdua ingin berguru kepada Tuan, jika Tuan
berbelas kasih

3. memberi anugrah kepada hamba berdua, hamba menyerahkan nyawa seumur


hidup kepada Tuan, tetapi maafkanlah. Apakah sebabnya (hamba ingin
berguru)? Karena Tuan yang bernama sang Budhakecapi, melakukan semadi,
amat tekun dan teguh, sepanjang umur, serta telah sempurna dalam batin, doa
pujianmu sang Budhakecapi menembus ke tujuh lapisan bumi, menembus ke

56
angkasa". Selanjutnya, Bhatara Siwa turun menuju Kahyangan Cungkub,
bertemu dengan Hyang Nini di Pura Dalem. Setelah beliau bertemu, beginilah
sabda Bhatara Siwa: "Wahai sang Nini Dalem, aku menitahkanmu sekarang,
turun menuju kuburan tempat pembakaran jenasah, kau Hyang Nini berhak
memberkahi segala doa sang Budhakecapi, yang sangat tekun bersemadi. Kau
Hyang Nini berhak mengabulkan segala permintaannya,

4. segala kesempurnaan batin, sebab sang Budhakecapi sangat tekun


bersemadi!" Lalu Hyang Nini berkata kepada Bhatara Siwa: "Jika itu perintah
Bhatara, hamba menuruti titah Bhatara, sekarang hamba turun menuju
kuburan tempat pembakaran mayat!" Kemudian Bhatara Siwa melesat menuju
alam Siwa. Kini dikisahkan Hyang Nini Dalem datang ke kuburan tempat
pembakaran mayat. Maksud Hyang Nini adalah memberikan berkah kepada
sang Budhakecapi, karena telah direstui oleh Bhatara Siwa. Dengan cepat tiba
di tempat sang Budhakecapi melakukan semadi. Segera sang Budhakecapi
menghormat. Lalu Bhatari Hyang Nini berkata: "Wahai kau sang
Budhakecapi, cukup lama kau berada di

5. sini, bermalam di tempat pembakaran mayat, apakah yang kau harapkan?


Apakah yang kau minta kepada Bhatara?" Lalu sang Budhakecapi menjawab:
"Daulat Paduka Hyang Nini, doa harapan hamba adalah hamba memohon
belas kasih Bhatara agar hamba paham hakikat makrokosmos dan
mikrokosmos. Semoga Paduka Bhatari berkenan menganugrahkan kekuatan
batin yang sempurna supaya hamba tidak terkalahkan oleh semua pesaing
hamba, dan juga segala tatacara orang dalam memahami asal-usul penyakit,
supaya hamba memahami hakikat bisa, racun, dan penyakit tiwang moro,
ilmu desti teluh taranjana, serta hakikat pamala-pamali, dan segala ajian
ampuh, demikian pula hakikat hidup dan mati, serta hakikat kekuatan sabda,
itulah permintaan hamba kepadamu Bhatari Nini!" Kemudian Hyang Nini
berkata: "Wahai sang Budha-

6. kecapi, sekarang aku akan memberimu anugrah, baiklah, cepatlah julurkan


lidahmu keluar, aku mau me-rajah1 lidahmu dengan mantera Om nama
siwaya. Satu persatu mulai dengan Om, na untuk hidungmu, ma untuk

57
mulutmu, si untuk matamu, wa untuk tubuhmu, ya untuk telingamu.
Demikian pula makna Sanghyang Omkara, seperti windu, nadha, ardhacandra
yang berada dalam tubuh, yang dinamakan asal mula Sanghyang Candra
Raditya. Yang berada di mata kanan adalah Sanghyang Raditya, yang berada
di mata kiri adalah Sanghyang Candra. Wahai sang Budhakecapi semoga kau
paham tentang tatacara mencapai moksa karena lidahmu telah dirasuki
kekuatan tulisan gaib, yang merupakan anugrahku, Hyang Nini Dalem,
kepadamu! Inilah yang dinamakan tempat Sanghyang Omkara Sumungsang
yakni di pangkal lidah,

7. batu manikam, tempat pertemuan Sanghyang Saraswati, di lidah. Ini


merupakan pemberi kekuatan gaib kepada batin, sangat utama, jangan
sembrono, kau tidak akan berhasil (jika sembarangan). Inilah mantera
kumpulan sumber kekuatan: "Om lep rem, ngagwa rem, papare, dewataning
bayu pramana". Inilah menjadi persemayaman Sanghyang Saraswati, sebagai
tulisan ajaib di lidah sang Budhakecapi, dan inilah doa untuk tempat
aksaranya, yakni Om Sanghyang Kedep di pangkal lidahmu, Sanghyang
Mandiswara di ujung lidahmu, Sanghyang Mandimanik di tengah lidahmu,
Sanghyang Nagaresi di dalam otot lidahmu, Sanghyang Manikastagina di
kulit lidahmu, dewanya adalah Bhatara Siwa, sebagai pemberi kekuatan hidup
adalah Hyang Brahma Wisnu Iswara, sorganya adalah di hati, di empedu, di
jantung,

8. inilah persebaran tempat beliau Sanghyang Tiga, yakni Ang di hati, Ung di
empedu, Mang di jantung. Inilah ajian Sanghyang Triaksara yang patut
diingat, manteranya Om Ang Mang. Ajian ini sangat utama, jangan sembrono,
memusatkan kekuatan batin, semoga kau sang Budhakecapi dapat memahami
ajian Nitiaksara Sari, serta hakikat arti Sanghyang Pancaksara yang berada di
alam, yang mana tempatnya, yang mana pula lambang aksara sucinya, inilah
yang harus kau ingat wahai sang Budhakecapi, semoga kau paham, tinggalah
kau di sini, aku akan pulang kembali menuju Kahyangan Cungkub!" Lalu
segera sang Budhakecapi menghormat kepada Hyang Bhatari Nini, dengan
mantera: "Om niratma ditempatkan di leher, atyatma di antara kedua alis,

58
niskalatma di pusat telapak tangan, sunyatma di pusat kepala, alam dewata
yang kokoh". Setelah Hyang Nini terbang melesat,

9. menuju Kanghyangan Cungkub. Ceritanya dihentikan sebentar. Cerita


berganti, dikisahkan sang Budhakecapi, sangat terkenal ke seluruh
masyarakat, sangat kuat dan sempurna, pandai dan ampuh dalam berucap,
segala ragam bahasa, mahir dalam doa pemujaan, bertempat tinggal di
kuburan, sangat tekun, demikianlah kisah sang Budhakecapi dihentikan dulu.
Kini cerita berganti, adalah dua dukun laki-laki, bernama sang Klimosadha
dan sang Klimosadhi, tinggal di satu desa, yakni Lemah Tulis. Mereka sangat
terkenal sakti, mahir mengobati, dan tidak pernah terkalahkan oleh segala
jenis penyakit, dan sang Klimosadi tidak pernah terkalahkan oleh bisa dan
obat racun, tetapi

10. ada kekurangannya, ia tidak tahu mendeteksi (meramal) penyakit, hanya


berpegang teguh pada keyakinan dan memaksakan, mencari orang sakit dan
yang menyakiti, hanya sebegitu saja kepandaiannya. Dihentikan dulu kisah
sang Klimosadha. Kini diceritakan ada orang sakit bernama Sri Hastaka. Ia
sangat menderita kesusahan, maksudnya hanya mencari sang Klimosadha.
Kemudian ia datang ke rumah sang Klimosadha. Baru saja ia tiba di rumah
sang Klimosadha, dengan cepat sang Klimosadha menyapa: "Wahai, Tuan
dari mana? Apa maksud kedatanganmu ke mari?" Si pencari dukun menyahut:
"Hamba mengundang Tuan, maksud hamba menemui Tuan adalah hamba
memohon keselamatan, semoga Tuan berbelas kasihan kepada hamba,

11. semoga Tuan berkenan datang ke rumah hamba, untuk memeriksa kakak
hamba, yang menderita penyakit!" Sang Klimosadha berkata: "Aku menuruti
permintaanmu!" Tidak diceritakan (panjang lebar), ia telah tiba di rumah si
pasien. Sang Klimosadha tanpa sepatah katapun memperhatikan dengan
saksama si pasien, serta memegang tubuh bagian bawah dan bagian atas si
pasien, segala kondisi si pasien juga diperhatikan dengan saksama. Setelah
itu, lalu sang Klimosadha duduk. Kini si pencari dukun tadi bertanya:
"Baiklah, hamba berkaul kepadamu, jika nyawa kakakku bisa diselamatkan,
hamba tidak takut memberi upah dan hadiah yang sepantasnya. Jika ia akan

59
mati, dimanakah kesulitan mendeteksinya?" Sang Klimosadha menjawab:
"Menurutku, jika aku memegangnya, orang ini tidak akan mati, janganlah kau
sedih, tenangkanlah hatimu, carilah ramuan obat minum dan ramuan bedak
serta ramuan untuk obat semburan!"

12. Orang yang disuruh mencari ramuan segera berangkat. "Dulu, aku sering
menyembuhkan penyakit semacam ini, tidak pernah sampai dua kali aku
memberikan-nya obat, hanya sekali saja sudah sembuh, sangat mudah aku
menangani penyakit seperti ini!" Orang yang disuruh mencari bahan obat
segera datang, serta dengan cepat pula telah matang. Lalu sang Klimosadha
segera meracik obat. Setelah memberi obat minum, bedak, dan obat
semburan, sang Klimosadha duduk. Jika bisa sembuh, tentu banyak orang
akan merasa ikut berbahagia. Tiba-tiba saja sang Klimosadha lupa memeriksa
nyawa si pasien, sehingga si pasien pun mati. Sang Klimosadha sangat malu.
Semua orang yang berada di sana berwajah curiga, sebab baru saja diberi obat
minum, bedak, dan obat semburan, si pasien kemudian mati, dan juga sang
Klimosadha telah mengatakan bahwa si pasien tidak akan mati, namun kini
mati.

13. Sang Klimosadha sangat malu dalam hatinya, akhirnya ia pergi tanpa pamit
menuju rumahnya. Setelah tiba di rumahnya, ia tidak enak makan dan minum,
siang malam, sang Klimosadha sangat malu. Cerita sang Klimosadha
dihentikan sejenak. Kini dikisahkan sang Klimosadhi, termashur dalam
mengobati pasien yang terserang bisa dan racun. Diceritakan seorang wanita
bernama Sridhani, yang sudah berusia cukup tua, tertimpa penyakit kronis,
sangat sukar menangani penyakitnya. Si pencari dukun datang ke rumah sang
Klimosadhi. "Wahai Ibu, darimana asalmu? Apa maksud kedatanganmu ke
mari?" Si pencari dukun itu menjawab: "Hamba minta tolong, hamba
menangani orang sakit. Jika Tuan berbelas kasih kepadaku, sudilah Tuan
datang ke
14. rumahku, agar Tuan mengetahui si pasien!" Sang Klimosadhi menjawab:
"Jika begitu, aku menurutimu!" Setelah datang di rumah si pasien, lalu sang
Klimosadha memeriksa si pasien, dipegangnya bagian bawah dan bagian atas
tubuh si pasien. Setelah itu, lalu sang Klimosadhi berkata: "Ini orang sakit

60
terserang racun, ia terkena racun yang diracik orang. Sekali saja, sangat
gampang menyembuhkan penyakit ini. Aku sering menyembuhkan penyakit
seperti ini. Tidak usah dua kali, cukup sekali saja sudah sembuh, sangat
mudah menolong orang sakit semacam ini!" Orang yang punya pasien
bergegas membuat sesajen hadiah. Lalu sang Klimosadhi merapalkan mantera
untuk membuat obat, bedak, dan obat semburan. Setelah itu, lalu sang
Klimosadhi mengunyah daun sirih, dan memberikan sepahnya kepada si
pasien, serta menyandangnya.

15. Setelah itu, tiba-tiba si pasien pusing, tidak sadarkan diri hingga malam hari,
dan dadanya sesak, kerongkongannya seperti tersumbat!" Si pencari dukun
berkata: "Mengapa bisa begini? Lalu apa yang dapat dilakukan, apakah
obatnya perlu diganti? Hamba minta tolong dengan sangat agar ipar hamba ini
bisa sembuh. Hamba tidak takut kepada upah, maupun hadiah!" Lalu sang
Klimosadhi mengganti obat. Setelah obat itu diminum, tetap saja si pasien
pusing tidak sadarkan diri, tidak bisa makan, lalu akut. Kemudian dengan
cepat sang Klimosadhi mengeluarkan mantera, melalui ubun-ubun, telinga,
hingga sang Klimosadhi kehabisan akal, memusatkan batin bersemadi
bertumpu satu kaki. Si pasien semakin tidak sadarkan diri. Lalu sang
Klimosadhi berkata:

16. "Ah, jika demikian keadaan si pasien, aku yang salah memberi obat!" Tiba-
tiba sang Klimosadhi pergi, ia sangat merasa malu, bertolak pulang. Setelah
tiba di rumahnya, muncul niat sang Klimosadhi, bermaksud berguru kepada
sang Klimosadha. Segera sang Klimosadhi pergi ke rumah sang Klimosadha.
Begitu ia tiba, sang Klimosadha menyapanya: "Wahai adikku, sang
Klimosadhi, selamat datang di rumahku, apakah maksud kedatanganmu,
adikku?" Sang Klimosadhi menjawab: "Aku bermaksud berguru kepadamu,
kakak!" Sang Klimosadha berkata: "Mengapa kau ingin berguru kepadaku?
Jika begitu, adikku, kau tidak akan mendapat apa-apa. Kakak juga tidak ingin
mengangkat murid. Apa sebabnya, katakanlah, wahai adikku!" Sang Klimosa-

17. dhi menjawab: "Beginilah asal mulanya. Aku mengobati seorang wanita, yang
bernama Sridhani. Ia terserang penyakit kronis. Di situlah aku kalah, aku

61
sangat malu, itulah sebabnya aku hendak berguru kepada kakak!" "Jika
begitu, kau sia-sia saja, kakak juga ingin berguru, sebabnya adalah kakak
mengobati orang sakit bernama Sri Hastaka, seorang lelaki, di situ kakak
kalah!" Sang Klimosadhi berkata: "Jika begitu, marilah kita melakukan
semadi, aku menurutimu, jika kakak mendapat wahyu, aku minta tolong
kepadamu, jika aku mendapat wahyu, aku akan menolongmu, demikianlah
maksudku!" Lalu sang Klimosadha berkata: "Jika begitu, sulit rasanya,
adikku.

18. Jika kau setuju denganku, marilah bersama-sama denganku, aku ingin berguru
kepada sang Budhakecapi, sebab sang Budhakecapi mendapat anugrah dari
Hyang Nini!" Sang Klimosadhi menyahut: "Jika begitu, baiklah, aku setuju
denganmu, kakak!" Akhirnya, segera mereka berangkat menuju kuburan
tempat pembakaran mayat. Setelah tiba di tempat sang Budhakecapi, lalu
mereka berdua disapa oleh sang Budhakecapi: "Wahai Tuan berdua, apa
maksud Tuan datang ke mari, begitu tergesa-gesa, berdua, silakan katakan
agar aku mengetahui!" Sang Klimosadha dan sang Klimosadhi menjawab:
"Hamba ini berasal dari Lemah Tulis, hamba sedesa, demi-

19. kianlah Tuan, hamba berdua bernama sang Klimosadha mwang sang
Klimosadhi!" Lalu sang Budhakecapi berkata: "Baiklah, aku ingin bertanya
kepada kalian berdua, aku mendengar berita orang yang bernama sang
Klimosadha dan sang Klimosadhi, terkenal mahir dalam pengobatan,
begitulah konon!" Segera mereka berdua menjawab: "Hamba memang begitu,
(namun) hamba ingin berguru kepada Tuan, jika Tuan berkenan kepada
hamba berdua, hamba menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuan, disertai
dengan permohonan maaf hamba!" "Wahai, adikku berdua, agar aku dapat
mengetahuimu, apa sebabnya kau ingin berguru kepadaku? Katakanlah
dengan sejujurnya kepadaku agar aku paham!" Sang Klimosadha menjawab:
"Sebabnya hamba berniat keras berguru karena hamba pernah mengobati

62
Lontar Usada Buduh

1. Ini pengetahuan segala penyakit gila. Obat segala macam penyakit gila,
sarana. Air putih yang baru, bunga kamboja, 11 biji beras galih (beras yang
tidak patah), peras dan masukkan ke dalam sibuh ( bagian dari tempurung
kelapa kecil), setelah dipuja, dipercikkan, diraupkan, dan diminum 3 kali,
sisanya usapkan pada orang yang sakit. Pada saat membacakan mantranya,
mata tertuju ke air itu, pujalah Sang Hyang Tiga, satukan rwa bhineda
(dualistis) itu, di ujung grananta (hidung), dengan sungguh-sungguh, jika
terlihat terang seperti awun-awun namanya, luruskan dengan pasti,
pertaruhkan tenaga kita. Namanya. Demikianlah keadaannya, mantra: Ih Babu
Kamulan ingsun anyaluk tetamban lara edan, babune si anu maor usuasa,
karusakena panone si anu salah oton, pangelipur ring ati, muwaras, 3, sidi
mandi sapanku maring si anu, muwaras.

2. Obat penyakit orang gila dengan ciri bernyanyi-nyanyi dan menyebut-nyebut


nama Dewa. Sarana: Kunir (Curcuma domistica VAL) yang warnanya
kemerah-merahan, ketumbar, garam bercampur arang, dipakai jamu,
masukkan setetes ke hidung dan mata. Setelah itu kembali diminumkan air
kelapa muda dari jenis kelapa mulung (kulitnya hijau, sabut di bawahnya
berwarna merah). Obat orang gila dengan ciri menangis siang malam sambil
menyebut-nyebut nama seseorang. Sarana: putik kelapa nyuh mulung dan
akarnya yang masih muda, pantat bawang dua biji, adas (Foeniculum Vulgare
MILL) dua biji, dan ketan hitam, minumkannya. Obat orang gila dengan ciri
suka pergi kesana-kemari. Sakit itu namanya edan kabinteha. Sarana:
ketumbar 25 biji, asam tanek (asam dikukus), gula enau, santan kane (kental)
minumkannya. Sebagai bedaknya, sarana: kelor munggi (Moringga Oleifera
LAMK) setangkai, setangkai kesawi , pala, tri ketuka (bawang merah, bawang
putih, dan jerangan), air cuka. Inilah mantra obat dan borehnya, Mantra: Ong

3. asta astu ya nama swaha, ala-ala ilili swaha, sarwa bhuta wistaya,sarwa guna
wini swaha, ah astu ya astu, 3. Obat orang gila dengan ciri suka tertawa dan
melucu, sarana: Paria lempuyang (sb Zingiber), ketumbar, tri ketuka, air cuka,

63
minumkannya. Lagi borehnya semua, sarana-sarana kelor munggi,intaran
bersama kulitnya, liligundi ( vitele trivolia ) 9 pucuk daun, Ramuan-ramuan
umbi gadung (dioseoria hirsuta ), air cuka teri ketuka, Mantra : Ong edan-
edan a nama swaha waras. Obat orang gila yang suka bermain kotoran ( tinja
). Sarana-sarana setangkari sulasih, ginten hitam dan buyung-buyung ( sejenis
perdu bunganya seperti lalat ), bersama daunnya. Setelah diulek remasi sidem
(semut hitam ) dan semut tungging teteskan di mata sampai telinganya . Obat
sakit gila dengan ciri suka berkata aneh dan suka turun . Sarana: kelor munggi
, kesawi, bawang

4. adas , tri ketuka, minumkannya , dan teteskan pada hidung sampai mata .
mantra-mantra : Ong hyang astu ala-ala ili-ili sarwa brang grang wini swaha,
waras. Obat sakit gila yang sering disertai epilepsi , sarana : paci-paci (sejenis
perdu berbatang kering berdaun lancip dan kasar ) beserta bunganya, memetik
jangan menginjak bayangan kita, isi kemiri , pala , jarangan ( Acous Calamus
LINN ) , mungsi ( Carum Copticum BENTH ), dicampur, minumkannya,
ampasnya pakai boreh . Mantra : Ong sang Depadaa angumbang ring saksi,
luarakena banyu wus wasane si anu, mundurana kita den agelis, mundur kita
wetan, kidul kulon lor ring tengah, metu ngambah ke baga purus. Obat orang
sakit gila dengan ciri ngomong tidak karuan dan sering mengambil barang
yang tidak berguna ( pati jelamut ) , nama penyakit itu edan kabinteha, sarana
: merica putih diulek , dengan air jeruk . Ramuan : uleni dengan semut hitam (
sidem ), beningannya teteskan pada mata , telinga , pada hidung. Setelah
dipuja lagi

5. tetesi hidungnya, sarana : bawang putih 2 biji, merica putih 2, air dari gosokan
cendana , air jeruk yang bening , banyaknya berimbang . Beningnya itu
teteskan pada hidungnya . Obat sakit gila dengan ciri suka tidur dan tidak
enak makan serta minum , sarana : 7 helai daun sirih yang urat daun kiri dan
kanan bertemu di tengah-tengah , dirajah seluruhnya , 7 butir merica , garam
diminumkannya . Ampasnya dipakai menyemburi seluruh tubuhnya . Obat
sakit gila dengan ciri suka meratap,menangis tidak karuan, siang malam,
sarana : kelapa mulung , kemiri jetung ( biji buahnya satu ) , kemiri biasa ,
sama-sama satu biji , bawang , mungsi , ketumbar , teteskan di hidung , di

64
mata , dan di telinga . Ampasnya dipakai membedaki seluruh badannya . Obat
orang sakit gila dengan ciri galak terhadap semua orang, sarana : daun sirih
tua temu rose, dirajah /gambar seperti ini :

6. Ketumbar, mungsi sama-sama 3 biji, lengkuas, 3 iris, teteskan pada hidung


dan telinga, ampasnya dipakai membedaki seluruh badannya. Obat sakit gila
dengan ciri suka menari dan bernyanyi, sarana: sembung bangke (jenis
tanaman perdu yang tumbuhnya merambat, daunnya panjang dan runcing),
sembung gantung, liligundi (vitek tripolia), intaran, bersama akarnya, tri
ketuka, air cuka. Beningnya dipakai menetesi telinga dan hidung, ampasnya
pakai bedak dan boreh.. Mantra: Ong arah-arah greha ah teka sidhi swaha.
Obat sakit gila dengan ciri bernyanyi-nyanyi siang malam , sarana: kejanti,
kencur, lempuyang, bangle (sejenis temu rasanya pedas, pahit, bau kurang
enak), jahe, merica, teri ketuka, bawang, sinrong ((rempah yang biasa dipakai
parem), air cuka, sidem (semut hitam pohon). Teteskan pada telinga, pada
hidung. Ampasnya pakai bedak. Obat orang sakit gila dengan ciri suka
mengulum sesuatu, sarana: minyak wangi, sula-

7. sih wangi, mungsi, dicampur. Teteskan pada hidung dan telinga. Ampasnya
pakai bedak, mantra: Ong arah-arah, wayamanisa, wagrana, wisuaha. Obat
orang gila dengan ciri perutnya bengkak, sarana: liligundi, kantawali
(tumbuhan menjalar dengan rasa amat pahit), mungsi, pala, air cuka didadah
(digoreng dengan air), minumkannya, mantra: Ong arah-arah, ya atutur-tutur
namah swaha. Obat orang sakit gila dan juga badannya panas, sarana: selegui
laki perempuan tampak liman disebut juga tutup bumi (Elephantopus LINN),
gelagah, ilalang, kasembukan (urang-aring), bersama akarnya yang muda
dipakai, kulit akar kendal (sejenis pohon waru, ujung daun runcing dan
buahnya kecil-kecil bergetah), pulasari (Alixia stellata R & N), ginten hitam,
bawang adas, sepet-sepet (tumbuhan berbatang keras daunnya kecil-kecil
lancip memanjang, salah satu jenis rempah-rempah), lapisan lendir pohon
kendal, daun dapdap tis (Erythrina Varegita), kendal, beligo arum (lagenaria
leucantha Rusby), segumpal tombong (kentos kelapa), beras merah, digilas
dan dibuat tum (dibungkus daun lalu dikukus), agar masak sekali. Setelah
matang, tuangi air tebu hitam yang dibakar. Beningannya tetes-

65
8. kan di telinga, di hidung, di mata, dan minumkannya. Ampasnya dipakai
memborehi seluruh badannya, dan semburkan pada sisi dahinya sampai sisi
seluruh rambutnya. Sarana: daun kenanga yang kuning-kuning, sari lungid,
kemenyan madu, kerokan cendana. Ramuan: sintok (salah satu rempah),
lempuyang, perasannya dipakai menetesi . Ada lagi sebagai uap ( boreh pada
bagian tertentu seperti dada , perut bagian bawah ) segala yang tis ( sejuk ) .
Boreh kakinya segala yang hangat pakai dan mentrai seperti di depan. Obat
orang yang lama mengidap sakit gila , kadang kumat dan kadang ia sehat .
Sarana: sebagai dasar 2 iris lengkuas , daun uku-uku / lampes / ruku-ruku (
Ocimum Sanctum LINN ) hitam, mungsi , ampasnya rendam dengan cuka ,
sekarang rebus , besoknya baru diminumkannya , dan teteskan pada telinga ,
pada mata , pada hidung . Ampasnya pakai bedak . Obat orang sakit gila
dengan ciri ia sering menari

9. sarana: dause keling ( tanaman pagar berbatang keras , buahnya kemerah-


merahan ) bersama akarnya, gula enau , teteskan dan minumkannya, mantra:
Ong paraatma atma pariatma, sarwa graha wina sidhem swaha, waras, 3. Obat
orang sakit gila dengan ciri sembrono tak menentu , sarana : Segala jamur
yang tumbuh di atas batu , akar hawa keroya / beringin ( Eicus Benyamina
LINN ) , teri ketuka , bangle 7 iris , mungsi , air cuka , intinya . Air
perasannya kemudian rebus , setelah itu beningannya teteskan pada telinga ,
pada hidung , pada mata . Ampasnya dipakai memborehi seluruh badannya,
mantra : Ong lara muksah tutur remut, 3, anduh kita manongosin, jadma
manusa maluaran kita, tan pamangan. Malih kita maring panangkan kita rauh
sang bayu teka lara lunga waras. Obat orang sakit gila dengan ciri
menunjukkan rasa takut, sarana: akar kekara (Dilicos Labb LINN ) sejenis
kacang-kacangan buahnya agak pipih ) merah, kekara putih, tetapi yang sudah
berumur tahun-

10. an, memetik jangan melewati bayangan kita, bawang adas , diperasi jeruk .
Beningannya teteskan pada telinga, pada hidung, dan minumkannya .
Ampasnya dipakai memborehi seluruh badannya . Obat segala sakit gila ,
sarana: air perasan lempuyang , kotoran kerbau hitam , memakai alas, tempat

66
itu dirajah ( gambar ) berupa gambar kerbau . Mantra: Ong ra nini paduka
bhatari Durga, ingsun anyaluk tatamban lara edanne sue nu, apan aku
mawarah, sidi sapujanku mandoi waras. Ada lagi sebagai tutuh ( tetes ) pada
hidung dan mata, sarana : Lampuyang dirajah seperti ini perasan airnya isi
serbuk merica yang disaring . Ada lagi sarana : kencur dirajah seperti ini:
bangle dirajah seperti ini : air perasannya diteteskan. Obat segala penyakit
gila, sarana: ginten hitam, sepohon

11. garam arang , minumkan dan teteskan pada mata, pada hidung. Ampasnya
pakai bedak pada mukanya. Mantra : Ong kaki cemeng, angundurang lara
edane si anu, angimut-ngimut ring jeroning atine si anu, aku angeruek maring
jero wetwnge si anu, sing teka pupug punah, sing lunga, sing teka, pada
mapupug punah, 3, kedep sidi mantranku, telas. Ada lagi jika sakitnya tidak
sembuh, sarana: air perasan lengkuas, adas, garam arang, minumkannya.
Ampasnya disemburkan pada seluruh badannya. Obat sakit segala penyakit
gila, sarana: lempuyang dan air jeruk, teri ketuka, garam arang,
minumkannya, mantra: Ong sang baga purus wisesa , sira ngelaranin baga
purusa si anu, sira apurusit, maring si anu, aku weruh ring kamulanmu nguni,
matanta tangen sanghyang Raditia, matanta kiwa sanghyang Ratih, kadi
pedangane sanghyang Raditia, sanghyang Ratih samangkana pe-

12. padangane, matane si anu, biar, 3, biar cali ring hening. Obat segala penyakit
gila, sarana: manuri, undur-undur, semua daunnya yang kuning-kuning,
lempuyang, asam yang telah direbus, sinrong, inggu, air jeruk 1 biji, dan
garam. Rebus dan minumkannya serta teteskan pada hidung, telinga, mantra:
pukululun aranira batara Guru maha sakti, aku angunduraken batara Gana,
banta wengi, banta weghah, bante papet, aje sira anta anggel ring jero ragane
si anu, mundur lunga ko mangke pugpug geseng mpug saguna pangaruhmu
kabeh, sing teka guna pupug punah, 3, sidi mandi mantranku. Obat segala
penyakit gila, sarana: daging buah rerek (buah yang dagingnya berbusa bisa
dipakai mencuci perak dan batunya hitam), bawang tunggal, air cuka, teteskan
pada hidung, pada mata. Ampasnya pakai membedaki mukanya, mantra: Ung
arah-arah, ngelimus ring atimu waras.

67
13. Obat segala penyakit gila, sarana: lempuyang dirajah seperti ini lagi kencur
diiris dan dirajah: .Lagi sarana: bangle diiris juga dirajah: lagi sarana:
selembar daun sirih tua temurose dirajah, ma: setelah semua dirajah,
gabungkan jadi satu, ditambah lima butir merica, tiga ujung lada, tiga biji
mungsi, air cuka. Air perasannya diminumkannya, dan teteskan pada mata,
pada telinga., pada hidung. Ampasnya campur teri ketuka. Semua itu pakai
membedaki tubuhnya, mantra: Ong hyang ma- hyang, 3, ong manglimur ring
ati, muwaras, 3, ang banyu mapupul, budeng mapupul, kelingsih mapupul,
buyanati mapupul, dahah, mapupul, bayu mapupul, ong sang hyang ayu
ulihakena bayu sabda idep si anu maho usuase, mu-

14. lih bayu premanane si anu maring kadam suaha, waras, 3. Obat segala
penyakit gila, sarana: daun katimahan (Kleinhopia Vosvita LINN) sampai ke
akarnya, kecemcem (sejenis daun kedondong/ Spondias Dulcis FORST)
putih, padang kesisat (rumput yang dapat dipakai sayur), tujuh butir merica,
sejemput semut hitam, air cuka. Minum dan teteskan pada telinga, mata, dan
pada hidung. Ampasnya dipakai membedaki seluruh badannya, mantra: Ong
hyang pala pilu, 3, ih teka banta amulanta, sang kama putih saking bapanmu,
sang kama bang saking ibunta, tutur si kita, aja lali ring si anu, mangke
mamuliang maring raga waluyanta manih, akueh kang amidenane, wastu kita
tan mandi, tan waras sakueh ki si ta midenin, sabda idepkune sidi mandi,
waras, 3, ya namah suaha. Obat segala penyakit gila, sarana: 11 lembar daun
ginten hitam dirajah rambut sudamala, campurannya:

15. 11 biji mungsi, ingggu (zat untuk obat), inti bawang, adas, air cuka. Air
perasannya diminumkannya dan teteskan pada hidung serta mata. Ampasnya
dipakai membedaki seluruh badannya, mantra: Ong sang rambut sudamala,
dakonkon aya langgana, lah sira anambanin wong katepuk tegeh, kaparag
maring buta kabeh, wastu si anu purna punah, lengleng bungeng edane si anu
salah ton, lah waras, 3, iko maranane, lah waras, 3, kedep mandi mantranku.
Obat segala penyakit gila, sarana: jamur yang bisa dimakan beri rajah
tunggang meneng, daun bangle, rajah seperti ini daun lempuyang dirajah
seperti ini: sa ba ta a i, lagi dicampur bawang adas , air jeruk, teteskan pada
hidung, pada telinga, dan minumkannya.

68
16. Ini rajah rambut sudamala: Ampasnya dipakai bedak semua. mantra: Ong ra
nini paduka batari Durga, ingsun anyaluk tatamban lara, edane si anu, sama ta
kang lara iku murnanu pukulun, a, sira walang ati apan ingsun mawarah sidi
saujar ingsun wastu si anu teka waras, 3. Ada lagi jika orang sakit gila suka
memaki-maki dukun, itu namanya bebainan. Obat, sarana: daun
pungut(tanaman liar di daerah tropis, sekarang dicari untuk bonsai) yang
tumbuhnya mengapit jalan, sama-sama tiga helai, daun lada dakep (yang
menjalar di tanah) tiga helai, tiga biji merica gundul, disemburkan pada yang
sakit, setelah itu dipijit. Setelah kelihatan penyakitnya ambil tarik dengan
cepat, inilah mantranya: Ih madra macah, sira anikep larane I yono

17. den cokot keret kekrug, 3. Obat segala penyakit akibat gangguan, apakah itu
gila, banta (infeksi), epilepsi, disentri, kaki bengkak, gatal-ghatal, beri-beri
basah, lever, dan busung lapar. Semua itu harus diruat. sarana: semua dirajah:
ong ka ra. Bangle dirajah , kencur di rajah: , lempuyang dirajah: . Lengkuas
dirajah . Kunir dirajah . Temu tis dirajah . , bawang dirajah. . Daun sirih tua
dirajah , semua itu sama-sama diiris. Sebuah jeruk linglang dirajah seperti ini ,
ditambah paria (Memordica Charantia LINN) puyuh yaitu buahnya kecil-kecil
bulat, sampai akarnya, daunnya dirajah dicampur lagi dengan majakane
(Quercus Lusi Tanica LANK) dan maja keling (Terminalia Arboerea K.& V.),
ketan gajih ( putih bersih/Oryza Sativa LINN), sari kuning, daging baligo
harum, diulek, air gosokan cendana. Ambil perasan air kentalnya, beningnya
teteskan pada hidung. Arti obat itu

18. jika sakit gila, dapat diteteskan obat itu pada telinga, mata, pada hidung dan
diminumkannya. Jika selain sakit gila, kegunaannya dibedakkan dan
diminumkannya, ini lanjutannya, mantra: Ang, mang, ong ung nini Siwogotra,
ingsun mawak hyang Darma wisesa, ungguanta ring pucuking wurung-
wurung gading ingsun mangerah sasanakta manusa kabeh, I Yanta, Preta,
kala, dengen, aku weruh ring kadadenta kabeh, pawetun kita saking gua
garbane ibunta, arania anta ari-ari, nga, preta, nga, nanah, kala, nga, getih,
dengen, nga yeh nyom, ika sasanak manusa kabeh, aku weruha, ika margane
agering kang manusane sianu, ih angeringin manusane si anu, margane

69
mangeringin ika, apan umijil saking pitra puja sesana, mangke ingsun
angundurangken gering awak sarira-

19. nta, yen ana pitra puja sasana manggawe gring awak sariranta, ingsun
angunduraken pitra puja sesana, mundur mulih kita kabeh, yanta sah ring
awak sariranta, mulih kita ring batukau, preta sah, ring awak sariranta, mulih
kita ring pasaren kala sah ring awak sariranta, mulih kita ring catu, dengen sah
ring awak sariranta, mulih kita ring cungkub kahyangan dalem, mangke
ingsun angeluarang geringe ring awak sariranta, buung ikang gering kabeh,
kesah ikang geringe apadang, mantuk kita ring sanghyang tiga, basmi wisesa,
ana desa sajeroning pukuhing lidah, agelijih mirah, abias padi, anatar emas
sinangling tan payuna, ring gana gulgul, nidra amargana, byah er, ingsun
angunduraken pitra puja sesana ika, mundur kita, 3, apan aku weruh ring
kasurupanta kabeh

70
Lontar Usada Cukil Daki
1. Ya Tuhan semoga tiada halangan, semoga tujuan tercapai. Inilah mantra untuk
segala jenis caru (kurban, dan mantra untuk kurban, semua golongan mahluk
halus , mantra, Ong bhuktiantu durgga katari, bhuktiantu kala mocani,
bhuktiantu pisaco waci, bhuktiantu sarwa bhutani. Ini sakit yang tidak berhasil
disembuhkan dengan obat, agar dibuatkan kurban, dengan sarana batang
tumbuhan yang merambat, memakai alas daun andong, sampian yang
bahannya dari daun andong, sebut nama bhuta bhanaspati , melaksanakan
kurban di halaman rumah. Ini hendaknya diketahui bila orang terserang
penyakit, pada waktu musim wabah penyakit, karena para dewa ba-

2. nyak yang melepaskan mahluk halus, ada kurban penangkal, bila sakit badan
gemetar kedinginan, barong rentet yang membencanai, buatkan kurban nasi
segenggam, disertai dengan telor mentah, kibaskan ke arah penderita. Lagi
bila terserang sakit desentri, barong macan yang membencanai, buatkan
kurban, nasi segenggam, berisi bagian rongga perut babi yang mentah,
kibaskan ke arah penderita. Bila menderita sakit perut, sang kebo yang
membencanai, dibuatkan kurban nasi tlompokan , diisi dengan bagian rongga
perut babi yang mentah, disertai dengan campuran lima macam palawija,
karena kurban untuk mengusir penyakit, disertai dengan mantra penolak
bencana, dan mantra segala penangkal, hendaknya waspada. Inilah upacara
kurban bagi orang sakit, yaitu, satu biji tumpeng, diberi alas nasi yang diberi
warna, disertai dengan buah-buahan, diisi dengan bermacam-macam
(binatang) yang berbisa, disertai dengan sesajen (canang ), tiga porsi, diisi,
dupa, disertai dengan ucapan mantra, penjaga jiwa, tempatkan pada bagian
kaki penderita, bila belum saatnya meninggal, akan segera dapat berbicara dan
menjadi sembuh. Ada lagi

3. cara perlakuan terhadap orang yang menderita sakit bertahun-tahun, sulit


sembuh, buatkan kurban ayam brumbun (merah), sasayut pangambeyan , diisi
pras panyeneng , dan buah-buahan, karena sakit sangat keras, tenangkan
dengan ucapan mantra, jika sudah pulih, baru kemudian diberi obat. Inilah

71
kurban bagi orang terkena bebai (roh jahat yang menyebabkan orang menjadi
gila), juga terkena penyakit, bhicari , akan sembuh olehnya, kurban
persembahan berupa tumpeng tiga biji, merah hitam kuning, diberi alas nasi
berwarna, diisi dengan telur yang hampir menetas, beralaskan kulit sasayut ,
buah-buahan dan geti-geti. Inilah pembuat dukun agar ampuh, perlengkapan
sesajennya beras, tiga genggam, tiga jemput, kelapa, sebiji, sesisir pisang, satu
biji gula merah, pada saat memuja memegang linting (api dengan sumbu dari
kapas dan diberi tangkai), minyaknya harum, setelah mengucapkan mantra, si
sakit diobori, sebanyak tiga kali, kurban persembahan itu kemudian dibuang
di jalan simpang tiga, jangan menoleh. Juga kurban persembahan untuk
penolak sakit, sasayut , tumpeng satu biji, dialasi dengan kulit sasayut , berisi
buah-buahan

4. yang semuanya masak, bunga, tiga warna, pelita tiga, tangkai, daksina,
penyeneng, sesajen , tiga, porsi, lengkapi dengan sesari (uang). Lagi untuk
menyucikan orang terkena bebai , dan penyakit yang disebabkan gangguan
oleh gangguan ilmu hitam, jangan diberi obat, ini yang boleh, ikan asin dan
telur, pulut dan pulut hitam, buah sirih dan boreh harum, minyak harum,
benang satukal, uang kepeng, 225, dipersembahkan di sanggah kemulan (pura
tempat pemujaan keluarga yang beruang tiga), mantra, Om ang ung ung ung
mang Om, anampek dewa tiga hyang pukulun anampa dewa kamulan,
ngawijilang kasakten, carma saji dewa di dhalem purusa sakti, dewa di puseh,
ulun angaji kasakten, mijil kasakten amor sakti, hyang hyang sakti, Om bhuta
taksu asih, manut sore dewata bayu,bahan ramuannya kulit widuri putih, kulit
pohon kendal, kulit pohon bekul , temu tis , gula, sinrong , diminum. Obat,
orang sakit disentri badannya ge-

5. metar bahan ramuannya, daun akar hawa dari berbagai jenis tumbuhan, beras
merah, adas, balurkan. Obat penyakit kusta yeh , bahan ramuannya, kulit
pohon mangga hijo , beras merah, lengkuas, empu kunir yang warnanya
kemerah-merahan, ketumbar, babolong diisi cuka sedikit, disangrai, dijadikan
serbuk. Kompresnya cuka yang telah dipanaskan. Obat sakit jantung
berdebar-debar, disertai dengan pusing-pusing, kepayahan, seperti kena sihir,
terkena kutukan olehdewa hyang , juga napas terengah-engah, rasa sakit pada

72
dada, jampi namanya, bahan ramuannya, akar pohon kenanga, pangkal pohon
bungli , pangkal kayu kendal, buah beringin, santan, gula, kemiri, ditambus,
diminum. Obat batuk yang disertai napas terengah-engah, seperti terputus-
putus, dan terasa menyumbat pada hati, siyak , namanya, bahan ramuannya,
pucuk daun andong, bagian batang pohon kepah , minyak kelentik, garam
yang telah mengeras, diminum. Obat disentri, bahan ramuannya, silaguri,
pangkal jaruti , pangkal rumput carma , santan kental, bawang ditambus, gula,
garam yang dicampur dengan arang, diminum. Obat

6. desentri, keluar darah nanah, air darah, yang kelihatannya seperti lendir
dahak, bahan ramuannya, kulit pohon turi merah, air panas, garam bercampur
arang, diminum. Obat desentri, bahan ramuannya, tain besi (serbuk kikiran
besi), jahe pahit, temu ireng , temu giring, temu lawak, bawang putih,
geraham warak, darah warak, sari kuning , setelah matang tetesi hidungnya.
Obat tetes sakit sebehajai (perut panas dan perih), dan otot tegang, bahan
ramuannya, selasih harum,miana cmeng , buah sirih, daun dadap yang telah
gugur dari pohonnya, daun suren yang telah gugur dari pohonnya, masing-
masing satu helai, tmu tis, jruk linglang (jeruk nipis), bawang digoreng,
minyak kelapa dan air yang belum diendapkan, dimasak sampai matang, peras
ambil airnya. Lagi obat tetes untuk sebaha(perut terasa panas), dan pinggang
sakit, bahan ramuannya, umbi tunjung, akar pohon bayam yang daunnya
sebagian kemerah-merahan, endapan air yang warnanya kekuning-kuningan,
geraham warak, darah warak, peras ambil airnya. Obat batuk yang disertai
ayan, bahan ramuannya, akar cangkem butuh , jarak putih, dikukus, dipipis,
balurkan, dapat menyembuhkan.

7. Obat gelisah (sulit tidur), bahan ramuannya, daun jruk linglang (jeruk
linglang), tiga, helai, dirajah begini, _____________________,merica, tiga,
biji, sembur pada telapak kaki. Obat lunglai (lemas), bahan ramuannya, akar
pohon maja, bawang putih jerangan, dipipis, dibalurkan. Obat bangkig
(kurus), bahan ramuannya, serat pohon dedap, simbukan, pacarsona, kulit
pohon pule yang kering, bawang yang ditambus, dikukus, diminumkan. Obat
lumpuh, bahan ramuannya kemiri yang bentuknya cembung, tiga, empu temu
ireng , bangle , lempuyang, kencur, kunir, masing-masing tujuh, iris, cengkeh,

73
lumatkan dan diborehkan. Bila tidak sembuh, bahan ramuannya, buah dan
akar delima, sindrong , pangkal pohon pudeh , bawang putih jerangan, airnya
cuka, dimasak, dibalurkan. Obat baled (exim basah) yang lama tidak keluar
air/ nanah, bahan ramuannya, kulit pohon temen yang dikikis, bawang adas,
dibalurkan. Babungut baled , bahan ramuannya, daun terung kanji (terung
yang buahnya kecil dan pohonnya berduri), pecahan cawan, air. Ada lagi,
bahan ramuannya, garam yang sudah mengental diremas. Obat encok yang
dapat menjadi lumpuh, linu, terkena

8. ilmu hitam, terasa berdenyut-denyut ke seluruh tubuh, bahan ramuannya, kulit


pohon kecemcem , pangkal pohon widuri putih, ambil semua kulitnya, akar
pohon dan daun gentawas , yang teleh ditebang, akar pohon kelor, kulit pohon
kulanggeyan , ketumbar, semburkan. Kompresnya, bahan ramuannya, daun
pepe , daun lengkuas. Bila tidak sembuh, bahan ramuannya kulit pohon
mangga, kepundung, kasambi, semua yang dipakai kulit pohonnya, daun pepe
, daun mangga hijo , daun nagka, daun paso-paso , daun jeruk, lengkuas,
kunir, ketumbar, semua diiris, disangrai, semburkan. Kompresnya, bahan
ramuannya, bangle , merica, airnya cuka, dimasak dengan air. Obat, baledan ,
bahan ramuannya, kulit wangkal , bawang putih jerangan, dipipis, air cuka,
masak dengan air, balurkan. Lagi, bahan ramuannya, akar taked- taked . Lagi
bila sakitnya di dalam suara menjadi serak,bahan ramuannya, lengkuas yang
umbinya keputih-putihan, kulit kayu buhu, pohon basa-basa yang meliputi
akar, batang dan daun, disemburkan, juga bisa dibalurkan. Ada lagi yang lain,
bahan ramuannya, lengkuas yang umbinya keputih-putihan, kulit kayu buhu,
beras merah,

9. dua puluh satu biji, duri pohon bunga merak, borehkan. Pencegah bal\f2\'ec\f0
d , bahan ramuannya kulit pohon kalampwak putih , bakar di atas bara, buah
pinang yang telah tua, dilubangi, diisi kemenyan, ditambus, diiris-iris,
disemburkan. Obat terkena baled , bahan ramuannya, kulit pohon kecemcem ,
kulit kayukepuh, piso-piso , daun jeruk, daun kalampwak putih , bangle ,
lengkuas, semuanya diiris, remas dicampur dengan garam, cuka, balurkan.
Lagi, bahan ramuannya, daun sangga langit , bawang putih jerangan, kapur
tohor, air jeruk, diremas-remas. Ada lagi yang lain, bahan ramuannya, kulit

74
pohon turi putih, kulit pohon sekoi putih, pisang batu (biji), degan sumambuh
(kelapa muda yang dagingnya masih tipis), bawang ditambus, diminum. Lagi
ada, bahan ramuannya, daun kayu jampi , bawang dan adas, dilumatkan,
balurkan. Obat, mbokan (gusi sakit dan bengkak kemerahan), panas, dan sakit
tumbuhan (jenis bisul pada pangkal paha), jika pada pusar, bahan ramuannya,
benalu, ketumbar, bawang putih jerangan, semburkan. Bila pada kaki, bahan
ramuannya, arang cabai, air ludah merah (air ludah sehabis makan sirih),
dibalurkan. Obat, mbokan gata-

10. Hal bintik-bintik, berujung, lagi bengkak, mbokan , namanya, bahan


ramuannya, minyak babi, air jeruk purut, badung , diurapkan. Borehnya,
bahan ramuannya, kulit pohon kamboja, lengkuas. Obat buh segara (perut
kembung dan bersuara), perutnya gembung, bersuara mengruduk seperti
ombak, bahan ramuannya, pangkal pohon pace, seratnya, rumput laut, air
basuhan pulut, garam yang telah mengental, minum. Ada lagi, bahan
ramuannya, daun pohon nagka yang buahnya kecil-kecil, ketumbar, babolong
, kunir, sepet sepet , pulasari, garam, diminum. Obat rematik, bahan
ramuannya, simbukan cemeng , akarbelimbing basi putih (belimbing yang
rasanya sangat masam dan jenisnya putih), akar dedap, setelah masak
diminum, air basuhan pulut, air tmu tis yang digosok-gosokan pada tembikar,
jeruk linglang (jeruk nipis), ginten cemeng , garam yang telah mengental,
diteteskan pada hidungnya. Obat, kena tiwang (kejang),pamali tuju
papasangan ( sakit encok yang rasanya menusuk-nusuk sebagai akibat terkena
ilmu hitam), bahan ramuannya, lengkuas yang diparut, dicampur minyak
kelapa, ditambus sampai matang, sari kuning , bangle , lempuyang, bawang
putih jerangan, dicampur, daun dedap yang telah gugur dari pohonnya, gu-

11. guran daun kemiri, liligundi . Obat bisa (racun), daun sirih yang telah tua, tmu
tis , daun sirih yang uratnya menyambung, disemburkan. Obat sakit panas
yang terus menerus, bahan ramuannya, kulit pohon turi putih, kulit pohon
kemiri, daun kacang kara lungsir , campurannya rempah-rempah secukupnya,
gula, minyak, rebus sampai matang, minumkan. Ada yang lain, bahan
ramuannya, kulit kayu bekul , kulit pohon kemiri, kulit pohon turi merah,
daun kacang kara lungsir , tmu tis, kunir, asam, gula, rempah-rempah,

75
minyak, dimasak dengan air, minum. Ada lagi yang lain, pangkal pohon
kelapa merah, jarak merah, merica, tujuh, biji, ketumbar, babolong , beras
merah, digerus, diborehkan. Lagi boreh untuk tubuh, bahan ramuannya,
pangkal pohon gentawas, ginten , kencur, babolong , bawang putih dan
jerangan, air jeruk, air limao, kapur tohor, borehkan di tubuh, mentra, Om Om
gmung durgga wwe tatwa yanamah, ang pratma siwa yakrama,ya namah Om
syah, Om syah, Om syah . Obat segala rematik, terjangkit sa-

12. sakit kelamin, bengkak kemerahan, keluar nanah, darah, untuk


penanggulangannya, bahan ramuannya, kulit kayu krepetan , kulit pohon
bengkel , dilumatkan, ginten cmeng , disaring kemudian diminum. Ada lagi,
bahan ramuannya, kulit pohon suren, diisi cuka, bata sebesar gambir, didadah
(dimasak dengan air) minum, mentranya, Om ang ung mang ah , lagi
dicampur dengan madu, buah pala, dimasak dengan air, diminum. Ada lagi
berupa kulit pohon kemiri yang muda (belum berbuah), daun kacang kara
lungsir , tmu tis , asam, gula, rempah-rempah, minyak, dimasak dengan air,
diminum. Ada lagi berupa kraras pisang ktip (daun pisang ktip yang telah tua
dan kering), direndam sampai sore hari, besoknya diperah, air tebu cemeng
(tebu yang berwarna kehitaman), rempah-rempah, minum. Borehnya,
semanggi gunung (semanggi yang tumbuh di darat dan daunnya agak kecil),
marunggi, minyak wijen, borehkan. Tetes mata, daun suren, geraham badak,
air darah badak, ginten cmeng , tetesi matanya, baluri dengan air cendana
yang warnanya merah tua yang telah digosok-gosokan pada tembikar.
Obattuju bang rasa (sakit dan terasa perih pada kemaluan), bila saat kencing
tidak terasa, dan kencing batu, bahan ramuannya, air

13. yang jernih keluar dari mata air, rumah tabuhan kangka (tabuhan yang daya
sengatnya lemah), diremas-remas, disaring, dipersembahkan di kamulan (pura
keluarga yang beruang tiga), letakkan beberapa saat dan jangan dilihat. Obat
mata sakit tumbuhan (bintik-bintik pada mata), bahan ramuannya, majakane ,
gosok pada cawan putra (mangkuk kecil), jeruk, mantra, Ong windhu hring,
hyang ulan hning, lintang hning, poma, poma, poma, tetesi. Lagi bahan
ramuannya, daunpaso-paso , bawang dan adas, digerus, dibalurkan. Obat mata
tuju (mata terasa sakit seperti tertusuk), dan ada bintik-bintik, bahan

76
ramuannya, empedu kodok yang besar, empedu ular, empedu dled , gosok,
buah pisang saba, buah pepaya renteng (pepaya yang buahnya kecil-kecil dan
tangkainya panjang), dimasak dalam tabung bambu, bubur beras pulut,
majakling , samparwantu , cengkeh, garam yang telah mengental, diminum,
borehnya, bahan ramuannya, kulit pohontinggulun , pulasahi , cendana,
bawang putih, batang tumbuhan merambat yang tanpa akar, diborehkan.
Untuk bahan urutnya, bahan ramuannya, daun dusa keling , pulasahi ,
cendana, air lempuyang, digosok-gosokan. Obat segala jenis sakit

14. mata,tidak bisa duduk, juga punggung sakit, kedingsih , namanya, bahan
ramuannya, daun kendal, sejemput musi, sari patinya diminum. Ada yang
lain, miana cemeng , adas, kemiri, digerus, borehkan. Lagi perkiraan orang
akan meninggal, kira-kira lagi dua puluh hari jika ada orang tampak anak-
anakan matanya dua, seperti kunang-kunang, sebentar bersinar sebentar pudar
gusinya kelihatan agak pucat, bila saat bicara keluar ludah, badannya
kelihatan lemas, itu tanda-tandanya akan meninggal, bila ingin
menghidupkan, obatnya, buah majagau tua yang telah lepas dari pihonnya,
buah beringin tua yang telah lepas dari pohonnya, daun ingkel tua yang telah
gugur dari pohonnya, kemenyan, gamongan kecil, kencur, musi, sembur
dadanya. Obat penolak sakit tuju kawisian (encok yang disebabkan oleh
pengaruh ilmu hitam), bahan ramuannya jeruk purut, jeruk linglang (jeruk
nipis), lunak tanek (asam yang telah dipisahkan dari bijinya kemudian
dikukus), santan yang bahannya dari jenis kelapa yang berkulit hijau,
diminum. Obat terkena wisia madat (ketergantungan candu), bahan
ramuannya, kelapa nyambulung (kelapa yang kulitnya berwarna hijau dan
sabut dibawah tampuknya berwarna merah kehitaman), delima putih, daun
simbukan, daun pancar-

15. sona , santan kelapa yang terbuat dari jenis kelapa yang kulitnya berwarna
hijau, diminum. Obat tampias (sering mengoceh seperti gila), bahan
ramuannya, daunliligundi yang jenis daunnya agak tebal, segenggam, yang
diperoleh dari tiga desa (lokasi), pangkal pohon widuri, yang tumbuh di
pinggir jalan raya, bawang putih dan jerangan, semuanya dibakar, saring
diminum, ampasnya dicampur dengan kapur tohor, limau, cuka, mesui,

77
kikisan tongkat, borehkan, untuk kompres, bahannya, belerang, mesui,
minyak kelapa nyambulung , untuk air mandi, bahan ramuannya, air hangat,
yang telah diisi dengan kulit pohon keluak, kalampwak . Obat pilek dan
batuk, bahan ramuannya, belimbing buluh (belimbing yang buahnya kecil-
kecil dan bentuknya bulat panjang), yang disertai dengan akar batang dan
daun, semanggi gunung (semanggi yang tumbuh di darat dan daunnya agak
kecil), diisi arak dibungkus dan ditambus, diminum. Urap hulu hati, daun
kemoning, ketumbar, tiga biji, kunyit, tiga, iris. Obat bengkak keluar darah
busuk, dari dubur, bahan ramuannya, bagian akar, batang, dan daun kasinen ,
tanah tunggak(tanah pada pangkal pohon yang telah lapuk), , ginten cmeng ,
majakling , majakane, gula, duri, sa-

16. ntan, diminum. Obat bengkak keluar darah, dari lubang luka terus menerus,
bahan ramuannya, tunas pisang ktip , ditambus, pada waktu mencari bahan
ramuannya jangan terkena bayangan, ditetesi lukanya, kulit pohon asam,
ketumbar, sari lungid, kapur tohor, diminum, diborehkan. Keluar darah dari
mulut, dari dubur hidung, bahan ramuannya, pangkal pohon jeruk purut (jenis
jeruk yang buahnya keriput dan terasa asam), madu, semua secukupnya,
diminum. Lagi pangkal pohon jeruk purut , jeruk nipis, badung , cendana,
semua ditakar secukupnya, diminum. Obat keluar darah mengucur dari
kemaluan, sakit tuju buh putra , namanya, bahan ramuannya, belimbing buluh
yang terdiri dari akar, batang, daun, pangkal pohon manguwut , rumput laut,
air kelongkong jenis kelapanyambulung , diminum. Ada lagi cendana jenggi
(cendana yang warnanya merah tua), digosok-gosokkan pada tembikar dan
diisi air, klabet , endapan minyak kelapa, sindrong , semua secukupnya,
dimasak dengan air, diminum. Ada lagi daun sembung, tmu tis (jenis temu
yang umbinya menyerupai kunyit), sindrong , diminum, yang terlebih dahulu
dimasak dengan air. Obat sakit dele -

17. (sakit tenaga lemah), pinggang terasa sakit, bagian hulu hati, keluar bintik-
bintik, sakit delem brahma , namanya, ramuan bahan obatnya, bunga kembang
sepatu jenis lamba , terasi merah, garam, airnya arak, diminum. Obat sakit
kening yang terasa seperti ditusuk-tusuk, pandangan terasa samar, kepala
terasa seperti dibelah, terasa pusing, sakit puruh untek , namanya, ramuan

78
bahan obatnya, daun sirih yang tua, merica, daun jeruk, sembur pangkal
lehernya. Obat pinggang sakit mengeluarkan nanah darah, juga hulu hati
terasa sesak, tiwang kapu , namanya, bahan ramuannya, kunyit, pangkal
tampak liman , semua ditakar, dicampur dengan air, juga pangkal pohon
tampak bela , diminum. Bahan borehnya belimbing basi (belimbing yang
sangat masam) meliputi akar batang dan daun, merica, bawang putih dan
jerangan, diisi arak, dipipis, diborehkan. Obat, lumpuh, bahan ramuannya,
pangkal pohon teter (tembakau hutan), bawang putih dan jerangan, diisi
dengan arak, borehkan.Lagi jeruk nipis, ditambus, semasih panas guling-
gulingkan pada sakitnya. Penolak sakit antara lain, rajah (gambar) pada
telapakan kaki orang yang sakit, seperti ini,

18. Obat sakit bisul-bisul pada tubuh, keluar darah dari lukanya, namanya
mbokan (bengkak), bahan ramuannya daun tamba bisa ( basa-basa ), daun
kemuning, kunir, masui, dilumatkan, dibalurkan. Obat gelisah dan kepala
sakit, bahan ramuannya, kotoran sebatah (ulat kayu) yang hidup pada batang
pohon dadap, beras merah, menyan madu (madu kental yang warnanya
kekuningan dan terdapat pada sarang lebah), cendana, upih yang tersaluk pada
pohonnya, kikisan dari bangunan bale gede (rumah Bali yang bertiang dua
belas), tanah kolong balai tersebut, ambil dengan menjemput sebanyak tiga
kali, bawang putih dan jerangan,biah kedis (tumbuhan sejanis talas), minyak,
dimasak dengan air, di hadapan penderita. Obat lumpuh, bahan ramuannya,
ular, kalajengking, lipan, pepetet(binatang seperti kadal dan kulitnya
mengkilap), minyak kelapa yang masih baru, semuanya digoreng, dipakai
untuk mengurut. Ada lagi, bahan ramuannya, umbigedang saba (pisang
kepok), sindrong, bawang putih dan jerangan, dicampur dengan cuka,
diborehkan. Obat tuju rumpuh (rematik yang dapat menyebabkan
kelumpuhan), akibat terkena sihir, bahan ramuannya, tinga-tinga , culung
(anak babi yang baru beberapa hari lahir dan belum bisa makan) kotoran
induk babi dan dibakar, bawang putih dan jerangan, pecahan mangkok,
pecahan periuk tanah yang didapat di kuburan, dilumatkan, diborehkan, bahan
untuk mengasapi, ko-

79
19. toran kuda, rumah rayap. Obat krambit moro (bintik-bintik dan luka pada
kemaluan), muncul bisul-bisul, pada tubuhnya, keluar nanah berurai, Obatnya,
daun simbukan putih, ketumbar, babolong , lumatkan, dimasak dan diisi air,
dibalurkan. Obat krambit wong (bintik-bintik dan luka yang bentuknya bulat-
bulat jamur), bahan ramuannya, daun pakis yang bisa dijadikan sayur, sagon,
beras merah, disangrai, disembar. Obat krambit api (bintik-bintik luka dan
melepuh seperti terbakar) bahan ramuannya, daun bengkel yang telah gugur
dari pohonnya, daun kayu kutat kedis , daun bun nanipi , disemburkan. Obat,
gemetar tangan dan kakinya karena kedinginan, bahan ramuannya, kulit
pohon asam, lempuyang, tunas lengkuas, sindrong yang cukup usia, cuka,
dilumatkan, diminum. Ada lagi, bahan ramuannya, kulit pohon asam, dan
kulit buah asam, kulit kusambi, temu ireng (temu yang warnanya agak
kehitaman), lengkuas, lempuyang, kunir , borehkan. Obat, tubuh kudis, bintik-
bintik gatal, mbokan leplep (bintik-bintik yang melebar), namanya, bahan
ramuannya, kulit pohon kusambi, bagian akar, pohon dan daun pohon sekoi,
bengke -

80
Lontar Usada Dalem
1. Ya Tuhan Semoga terhindar dari segala rintangan. Tanda- tanda kematian
pada orang yang akan meninggal, ini Wariga Dalem , (bersumber) dari
pengetahuan sejati, tersebut sejak semula dalam tubuh manusia terdapat
kandungan alam semesta, sebab sumber penyakit senantiasa melekat, setelah
Sanghyang Atma meninggalkan badan baru dia akan pergi. Dan lagi jika
sudah merasakan dan memahami tanda-tanda (tentang) penyakit , itu
hendaknya diketahui oleh manusia. Ini di antaranya ilmu tentang pengobatan.
Inilah tanda-tanda tentang penyakit, di antaranya, jika nafas hampir
meninggalkan raga, upas tahunan menyakiti, sarana, buah jeruk, gula, isinrong
(rempah-rempah), dilumat, airnya diminum. Jika kukunya (tampak) kuning,
krikan gangsa , (sumber) penyakitnya, sarana,

2. air kencing bebek, kunyit warangan , di minum. Jika matanya kuning


kemerah-merahan, upas dewek yang menyakiti, sarana, kulit mangga hijau,
asam yang direbus, air bayam puring , diminum. Jika mata kukunya tampak
kemerahan, upas Hyang yang menyakiti, sarana, akar paku nasi, adas, bawang
yang dipanggang, diminum. Mata merah, seakan hendak keluar, senantiasa
gelisah, pelipis mata bagai ditusuk, kuku (tampak) biru, racun yang
menyebabkan, hendaknya diobati. Gigi goyah dan gatal, itu terkena racun
warangan , dikumur dengan air hangat, menggigil kedinginan, dan batuk

3. yang terus menerus, terkena raratus (campuran racun), sarana, daun kembang
sepatu putih termasuk akar, daun dan kulitnya, diminum, dimantrai dengan
mantra penawar, borehnya daun ketepeng, ditetesi boreh dahuti , kasisat putih,
sari kuning, klembak, kasturi , teteskan, jika pergelangan tangannya terasa
gemetar, itu terkena c\'ebtik (racun), teteskan, hendaknya diobati. Jika terkena
c\'ebtik (racun) upasmat , sarana, cendana digosokkan pada dulang, tahi
\'f1lati (sari-sari tanah), kulit pohon bengkel , kulit pohon kendal , semua
dipanggang tanpa dibalik, dilumatkan, air saringan airnya, diminum, mantra ,
ong hayu gumi,kewu hana janma manusa,

81
4. teja bhumi hana teja manusa, bhatara hana manusa, amlaku kasakten,
makasiddha siddhi mandi mantranku , Sakit melilit di dalam perut seperti
lembam, itu terkena upas (racun), cepat diobati, jika masih melilit, sakitnya,
itu terkena upas banten , sarana, buah pepaya muda dipanggang, arang dapur,
ditutupi dengan asap dari dedak padi terhadap orang yang terkena sakit, upas
kbo ingel yang menyakiti, tiada dapat berkata senantiasa diam, sarana, minyak
arungan , sebiji bawang putih, padang lepas, mantra, ong bengkek . Obat,
terkena racun, sarana, daun -

5. dadap, daun kemiri yang masih muda, buah tingkih , bawang, temu tis ,
diborehi. Lagi , sarana daun muda dadap tis (yang tidak berduri), santan, ketan
gajih , adas, mantra, ong ctik tiwang galuga atal putih, ctik tiwang sawari
putih, mantra saliwah putih, diminum. C\'ebtik tiwang saliwah putih ,
mantranya seperti tersebut di atas. Lagi, sarana, kulit pohon pule , santan,
ginten , sari , bawang putih dan jangu (jerangau), dilumatkan perasannya
diminum, mantra, ong ctik tiwang galuga, ctik tiwang macan punah, ctik
tiwang kbo putih punah, ctik bhuta ya punah, gseng sira gseng , campa tebah
cabar . Obat, terkena upas Sanghyang, sarana, paya puwuh (peria yang
buahnya kecil-kecil), kelapa, kunyit-

6. warnanya kemerahan, adas, di lumat kemudian diminum, mantra, ong


awuning karuyu kahla, amademi wong, wruh aku ring kamulanmu tka tawar,
3 x, awuning upas sanghyang, amademi wong, wruh aku ring kamulanku, tka
tawar, 3x, siddhi mantranku . Obat, terkena racun, sarana, daun terung kuanji ,
air beras, bawang, pulasari, perasannya diminum. Lagi, sarana, lublub tingkih
(kerikan pada tangkai pohon kemiri), air gosokan cendana, santan kane
(parutan kelapa tanpa diisi air / santan kental), isinrong (rempah-rempah),
majakane (sejenis buah maja), diminum. Lagi, sarana, akar pohon dadap, daun
sembung, buah kelapa muda, diborehkan pada keseluruhan badan, gagambi-

7. ran (rempah), perasannya diminum. Racun / upas rambat yang mematikan,


panas menggelisahkan, sarana, tebu, air buah pinang, bakung, bawang putih ,
perasannya diminum. Obat, keluar nanah dan darah di berbagai tempat pada
badan, sarana, inan kunyit warangan (kunyit yang sudah tua), kencur,

82
lempuyang, lengkuas, daun jeruk yang disangrai , perasannya diminum, di
campurkan sari lungid , jika hendak dimakan, kulit pohon cempaka
dipanggang, dimantrai dengan mantra tuju (rematik). Obat, keluar nanah di
berbagai tempat pada badan, sarana, daun tuju musna , sembung , lengkuas,
sari lungid , santan, diminum. Obat keluar darah dari vagina, sarana,
gamongan kedis (lempuyang yang umbinya kecil-kecil), air susu ibu, temu tis
, labu pahit, air cuka, diminum. Obat, mengeluarkan darah

8. kotor, sarana, jeruk purut, diminumkan. Obat, anak yang mengeluarkan darah,
sarana, toktokan nyuh sari (kulit akar kelapa hijau), pulasari, diminum. Obat,
mengeluarkan darah, sarana, lunak tanek (asam rebusan), palit uyah (garam
yang mengkristal), santan kane (perasan kelapa diparut tanpa air/ santan
kental), gula, diminum. Obat, pendarahan, sarana, isinrong (rempah), kapur,
madu, kayu manis, kulit pohon asoka, perasannya diminum. Obat,
pendarahan, sarana, merica, daun uyah-uyah, pule , asam tahun (asam yang
diawetkan), bawang, adas, perasannya diminum. Lagi, sarana, pangkal daun
andong yang berwarna keputihan, adas, diminumkan. Lagi, sarana, jika
banyak mengeluarkan darah dan tidak putus-putusnya, maka sarananya,
jantung buah pisang warangan (yang kemerahan) seibujari pan -

9. jangnya, dirajah, jika dipetik, kemudian dimakan, sembuh karenanya. Obat,


mengeluarkan darah segar dan sejenisnya, sarana, daun pulet , akar sidaguri
,sarilungid , majakane , majakeling , tanjung raab , arang dapur, perasannya
diminum. Obat, tuju raja bengang, keluar nanah dan darah di mana-mana,
sarana, kulit pohon jambu kalampwak putih, lengkuas, cendana, sari kembang
sepatu, majakane , diminum. Lagi, sarana, kulit pohon karesek , kulit pohon
kalepu ,sembung benda , semua diremas isinya, ginten , dikunyah, perasannya
diminum. Obat, pendarahan kritis, dan rasa, sarana, akar kelapa merah ( nyuh
udang), pohon jarak merah, merica, 9, butir, sari padi, ketum-

10. bar, beras merah, diaduk (dicampur). Lagi, sarana, daun antawas , ginten ,
dresan, sari padi, diborehkan. Obat, anyang-anyangan (sebentar-sebentar
kencing), sarana, daun uyah-uyah , 21 lembar, daun bayam luhur , 21 lembar,
daun kaliki , dipanggang, daun pule , 21 lembar, perasannya diminum. Lagi,

83
sarana, lengkuas kapur, kemiri, rempah-rempah ( isinrong ), diminum,
ampasnya dilulurkan, sembuh akibatnya. Obat, beser (kencing tanpa mengenal
waktu : mimpi basah), sarana, kambo-kambo , kunyit, dilulurkan pada sekitar
bawah pusar. Lagi, sarana, kunyit, madu, takarannya sama, diminum,
dilulurkan juga dapat. Lagi, sarana, lempuyang, 7, iris, merica, 7, butir

11. uku-uku (lampes , ruku-ruku ) , air hangat, diminum. Obat, karangan, sarana,
daun kelapa, daun unhusilit , sampai pada daunnya, daun raja tangi , limau
bali , airnya , diminum. Obat , badan kurus, mengeluarkan darah, sarana, kulit
pohon dadap tis , dan kerikannya, merica, 1, air aron-aron (air kukusan nasi),
diminum. Obat, kurus kepala pusing, sarana, panggaga , tebu, katimaya, tain
we (kotoran yang mengendap di dasar sungai berwarna kuning), air, mantra,
ong kita upas baruwang, ki ingunduraken, dening katimaya, apan panangkanta
saking nusa kling, undur ta salutapa lunga sanutangin . Diminum. Obat, kurus
lesu, sarana, cabang kayu jok , direndam, dengan

12. air lengkuas, diminum. Obat tuju bok dan bengang , sarana, lampeni putih,
lengkap dengan kulit dan akarnya, kelapa di bakar, bawang di peps, adas,
mantra, ong bolaning wong, bol mengkem, naneh mnong, pramana mantram,
3x . Obat berak nanah, kulit pohon tui bang, ligundi, kusambi, ampo, air
hangat, diminum. Obat mencret, sarana, rendaman injin (ketan hitam), adas,
diminum. Lagi, sarana, kulit pohon tui bang , sari gula, dipanggang jangan
dibalik, minum. Obat, loyo, sarana, pucuk simbukan, bangle , 3, irisan, ginten
hitam, diminum, Obat, mien (dysentery), sarana, gu-

13. -la, kelapa, segenggam beras, dimakan, lagi, sarana, yeh bayu (air saringan) ,
diminum, mantra, ong barah mintar, banu mintar, banu saking sagara, tka
sirep banu agung, siddhi mantranku . Obat, mengeluarkan darah dan nanah,
sarana, akar gantung pohon beringin, tebu hitam, santan , gula, diminum,
mantra, ong pjen angamuk sakwehing lara ring jro wtong, padha ngamuk
puput dening hyang taya, wars, 3x . Obat mencret mengeluarkan darah dan
nanah, lama tidak sembuh, sarana, kulit buah delima, cincang seperti samsam
, disangrai hingga matang, setelah disangrai sampai matang, dicampur dan
diaduk-aduk, dengan air hangat, kemudian lulurkan

84
14. sampai pada pinggang. Obat batuk muntah darah, sarana, daun susukup , daun
tapakliman , perasannya di minum. Obat batuk kronis ,bercampur darah dan
nanah, sarana, akar pohon kendal, daun kasiden (pohon sampat-sampat), daun
pohon waru, gula, ginten , kulabet, temu , asam yang baru dikelupas, airnya
diminum. Obat bengkak di mana-mana, bungah mambahang , mokan leplep ,
namanya, sarana, kulit pohon juwet, kulit pohon kusambi, sarin tanah,
dicampur dan dilumatkan, dilulurkan. Obat, bengkak dalam perut, suara
keluar serak, sarana, lengkuas, kapur, kulit pohon buu , beras merah, 21, butir,
duri wrak , dilulurkan.

15. Obat, bengkak ( mokan leplep ), sarana, pohon juwet lengkap dengan akan
dan kulitnya, kalepu lengkap dengan akar dan kulitnya, kayu sangka , kunyit
warangan, lengkuas kapur, sari podi, dilulurkan pada pinggang, ketumbar,
kemiri, bawang merah bawang putih dan jerangan, kulit pohon kusambi,
dipanggang jangan dibalik, dilulurkan. Obat , mokan ring jro, mokan nanu ,
namanya, sarana, akar ptingan , akar atas pohon beringin, uyah-uyah
bercabang, daun tuju musna , perasannya diminum. Obat, mokan beseh
mangrekurek , mokan kakipi , namanya, sarana, temu tis yang sudah tua,
ketumbar, tanjung raab , sarana, bawang merah bawang putih dan jerangan /
trikatuka , sari podi , diminum, disemburkan

16. Obat, bengkak dalam perut, batuk-batuk, keluar nanah, sarana, kunyit
warangan , duri jeruk nipis, sebagai obat, diminum. Obat, bengkak dalam
perut, keluar nanah, sarana kunyit warangan , kulit pohon pule , kayu batu,
maswi, tumukus , 3, ketumbar, minyak kelapa, diminum, disemburkan dengan
daun kemiri muda, cendana, pohon kembang sepatu, maswi , kemiri. Obat,
segala jenis bengkak, keluar darah dari mulut, hidung, mata, penis, vagina,
dubur, sarana, daun kesuna (dasun ), cendana, tanah pada bekas tebangan
kayu, ampo kulabet , gula, ginten hitam, santan,

17. pohon kembang sepatu, perasannya diminum. Obat, perut, sakitnya bengkak
di dalam, sarana, kapkap , ati lempuyang, lengkuas kapur, merica, beras yang
utuh, disemburkan. Obat panas dingin (demam), sarana, lempuyang, minyak

85
kelapa, dilumatkan kemudian dilulurkan. Lagi, sarana, jebuggarum ,
rendaman air ketan gajih , dilulurkan. Obat, badan panas, sarana, buah sirih,
beras merah, dilulurkan. Obat, panas biasa, sarana, kelapa, adas, jeruk nipis,
dilumatkan. Obat, demam, sarana, lengkuas, kemiri, bawang, adas,
dilumatkan, diperas, panggang hasil pelumatannya.

18. Obat, tidak mengeluarkan keringat, sarana, daun pohon pule , bawang merah
bawang putih dan jerangan, santan kental, panggang, dilumatkan. Panas
gelisah, sarana, papasan , padang lepas, asam rebusan, adas, panggang
kemudian dilulurkan. Obat, gelisah kebingungan, seperti kepanasan, sarana,
pule , bawang, adas, air jeruk nipis, diminum. Obat jampi agung (sariawan
panas dalam), sakitnya membengkak atau kaku, pada perut terasa kaku, pada
hulu hati terasa perih, dan nek, batuk tiada henti dan kering, sarana, akar kutat
kedis , akar kelapa hijau yang masih muda, dikerik, dicampur dengan garam,
bawang yang dipepes, kulit kerbau dicuci dan

19. dibersihkan, dipanggang, diminum. Disemburkan pada perut, dan hulu hati,
sarana, kulit pohon pule , kelapa yang dipanggang, temu tis , ketumbar,
babolong . Obat, perut bengkak, dan kemerahan, sarana daun kemenir,
semanggi gunung, kulit pohon pule , air ketan gajih , diminum. Obat, penyakit
perut, sarana, gosokan air cendana, kemiri, bawang yang dipepes / panggang,
diminum. Lagi, sarana, jebuggarum , cendana, ketan gajih , perasannya
diminum. Obat, arak secukupnya, madu secukupnya, cuka secukupnya,
dibiarkan sehari, yang sakit perut, sembuh karenanya. Obat, pemali (karena
melanggar pantangan)

86
Lontar Usada Ila

1. Ya, Tuhan semoga tiada halangan. Inilah perawatan penyakit ila (lepra),
waspadailah warnanya. Apabila putih warnanya, ila lungsir namanya; bila
merah rupanya, ila brahma namanya; bila putih dan berbintik-bintik, ila
kangka namanya; bila merah dan tebal, ila dedek namanya; bila merah dan
melingkar-lingkar dengan pinggir putih, ila kakarangan namanya; bila merah
padat bertumpuk-tumpuk, ila buta namanya. Dukun tidak berani mengobati
penyakit itu. Penyakit itu meradang di dalam tubuh. Pemunahnya di dalam
jantung. Nama penyakit itu adalah gering agung katemran. Lagi pula apabila
ada penyakit ila sampai melewati leher, naik ke wajah, jenis penyakit ila itu
dinamakan ila anglangkar gunung. Itu besar biayanya. Patut dipunahkan
penyakit itu. Pemunah semua penyakit ila, kategori upacaranya terdiri atas
kecil, menengah, dan besar. Untuk kategori kecil, jumlah uangnya 2500, yang
menengah uangnya 5500,

2. yang besar uangnya 10.700. Upacaranya juga dilengkapi dengan periuk tanah
yang baru 1 buah, dilingkari benang satu gulung dengan uang 225, dan tiga
macam air, yaitu air palungan, air pande besi, dan air pancuran. Air itu diisi
irisan daun kayu tulak, dedap, waribang, temen, kamurugan, dan tujuh jenis
kembang. Upacara dilaksanakan di depan sanggar kamulan, dengan sesajen
canang rebong 2 buah, masing-masing diisi uang 111 dan 66, disertai caru
ayam merah diolah dalam bentuk sesajen bangun urip, diisi lawar merah-
lawar putih, disuguhkan dalam lima porsi berbentuk sengkwi, serta dilengkapi
dengan sesajen peras, tulung sesayut, pengambian, panyeneng, dan daksina
selengkapnya. Setelah selesai memohon, air tersebut dipercikkan kepada
pasien 9 kali. Setelah dipercikkan, sisanya dipakai memandikan pasien.
Sesajen caru itu dipersembahkan untuk keselamatan pasien. Setelah selesai,
caru itu ditaruh

3. di perempatan jalan untuk disuguhkan kepada Sang Kama Sunya, dengan


mantra: "O sang kam kala sunya, iki gajaran sira, buktiakn, mantuk ring
unggwanta, poma, poma, poma". Uang persembahannya diserahkan kepada

87
dukun. Ada lagi mantra penawar penyakit ila: "O tulak sambo endah, gua-
gua jawa endah mandi, gua sabrang, gua mlayu mu endah mandi, gua
bun, gua lombok mu endah mandi, gua sasab, gua bali mu endah mandi,
gua sudha, gua pangaruh he mu endah mandi, gua papasangan, acp-
acpan, mu endah mandhi, gua tatujon mu endah madhi, tka punah ta ko
dengku, kep siddhi mantranku, madhi, madhi, madhi. O ip aku
sanghyang brahm tiga akti, anganggo pangolih-olih

4. Hangulihakn sagua wise, gring sasinggulan, gring acp-acpan, padha


kapupug denta, tuju tatujon, tuju papasangan, padha katulak den aku, gring
sasawangan, gring agung kakna tumpur, gring sasb tatmwan, padha mulih
kita denku, apan aku pangawak bhaara brahm tig wie, angulihakn
pangawening wong, asing kriyopay, tk padh mulih kiteng kayanganmu,
mulih, mulih, mulih. O O sanghyang aji jagatnath, amupugana sakwehing
kal, tk pupug punah, spi sunya, sirp-sirp, sidhi kep mantranku. Malih
sasapan carunya, ma, O sang bhua hastra-hastra, sang bhua amangan
mantra, aja sira amangan mantran ulun, sandi, iki

5. tadah saji nir, ambuktya sira kabeh, tka lunga". Obat penyakit ila lungsir,
yang warnanya putih, sarananya adalah kulit kayu pangi, kulit kayu bila,
sinrong wayah, dilumatkan sampai lembut, diisi air cuka tahun, diramu untuk
bedak. Obat penyakit ila lungsir, dengan gejala yakni apabila tampak
melingkar-lingkar tebal dan berwarna putih, sarananya adalah jahe pahit, isin
rong, bunga cengkeh, cabe jawa, terusi, warangan, belerang merah, belerang
kuning, ditumbuk, dicampur dengan air jeruk limau, dipakai obat oles. Sarana
obat tetes hidung terdiri atas belerang merah, belerang biru, belerang kuning,
gadung cina, sarikuning, air jeruk nipis. Obat penyakit ila dengan gejala badan
pasien bengkak dan kesemutan, dinamakan penyakit ila agung pepasangan,
sarananya adalah kulit kayu leca, kulit kayu endep, laos kapur, maja-

6. kane, majakeling, dilumatkan dicampur dengan cuka tahun, dipakai bedak.


Obat penyakit ila brahma dengan ciri berwarna merah, sarananya adalah kulit
kayu sulatri, kulit kayu tingulun, kayu asem (akar, kulit, daun), isin rong
lengkap, diulek untuk bedak. Obat penyakit ila, sarananya adalah daging buah

88
pangi mentah, jahe pahit, bawang putih, sandawa, ditumbuk, diisi air jeruk
nipis, diramu untuk obat oles. Obat penyakit ila kakarangan, sarananya adalah
cipakan, belerang, warangan, sandawa, buah liligundi, diramu untuk obat oles.
Obat penyakit ila, sarananya adalah kulit pohon mangga kuning, kulit kayu
tigaron, laos, masui, bawang putih, jangu. Obat untuk penyakit ila buta,
sarananya adalah kulit kayu wangkal, kulit kayu batu, serpisan besi, kulit
udang laut (lobster),

7. bawang putih, jangu, dilumatkan untuk bedak. Obat penyakit ila, sarananya
adalah tulang harimau, tulang menjangan, tulang kukang, tulang trenggiling,
tulang ular gunung, cendana, digosok dicampur dengan air jeruk nipis, untuk
obat tetes hidung. Obat penyakit ila yang ada di dalam, dengan gejala badan
pasien sembab dan keluar darah dari hidung, penyakit itu dinamakan ila
papasangan, sarana obatnya adalah buah purnajiwa, rendaman permata
mutiara, dicampur dengan air arak, belerang, air cendana, air jeruk nipis,
diramu untuk obat tetes hidung. Inilah mantra penawar untuk segala jenis
penyakit ila: "ih bhua kal yodha, sang bhua kala yoi, nduh ko dadi tuh,
sanghyang bayu mntas ring irung rumawak bim akti, angagm gadh
lohith, wadadha

8. amupuh tuju druwe kombal wintn, il papasangan, gring agung kaknan


tumpur, sami kapupuh dengku, apan ku mawak bim akti, sanghyang bayu
rumawak ariranku, kep sidhi madhi mantranku". Adalagi mantra untuk
bedak: "ih sang bhua kala sisik, sang bhua kala dangu, aja ko kita amangan
ri kulit aging alme syanu, apan sanghyang rekanat, mangag ring otot,
anyapuh mala patakane pun anu, anulakan tuju madhi, upas madhi, tk
tulak tk lbur, mukah ilang, waras, kep sidhi madhi mantranku". Obat
penyakit ila, yang muncul di seluruh kulit, berwarna kemerahan, sarananya
adalah jahe manis, sintok, bunga cengkeh, warangan, sandawa, ditumbuk
dicampur dengan arak prahu,

9. dipakai obat oles. Ada lagi sarana lain yaitu kulit kayu pangi, kulit kayu bila,
isin rong lengkap, ditumbuk dicampur dengan cuka tahun untuk bedak. Ada

89
pula sarana lain yaitu kulit kayu meduri putih, kulit kayu bila, bangle, temutis,
bawang putih, jangu, sandawa, dilumatkan untuk bedak. Atau sarana lain
yaitu kulit kayu bohok, temuireng, bangle, warangan, dilumatkan untuk obat
oles. Ada lagi sarana yang lain yaitu jahe pahit, warangan, arang, sandawa,
ditumbuk untuk obat oles. Atau sarana lain terdiri atas kalembak, kasturi,
belerang merah, temukus, digosok, dicampur dengan air jeruk nipis, diramu
untuk obat tetes hidung. Mantranya: "O sapa siku ko syok, aparan ring aku,
lung lara lah waras, sidhi waha". Obat penyakit ila berwarna putih
kekuningan, sarananya adalah kulit kayu tanjung, kulit kayu bila, kulit kayu
kamoning, isin rong lengkap,

10. diulek, dicampur dengan air kapur. Mantranya: "O ya ramant saking tanana,
mukah saking tanan, tk lja, tk lha, tk lja". Ada lagi sarana yang lain
yaitu kulit kayu asam, kulit kayu kusambi, temuireng, temukonci, diramu
dengan bawang putih, jangu, diulek, dicampur air jeruk nipis untuk bedak.
Ada pula sarana berupa kulit kayu kepah, kulit kayu nangka hijau, kulit pohon
cermai, musi 1 jumput, bawang putih, dan jangu, diisi air jeruk limau untuk
bedak. Atau sarana kulit kayu sulatri, kulit kayu jadma, sinrong gagambiran,
ditumbuk, diisi air warangan, diramu untuk bedak. Ada pula sarana berupa
kulit kayu base, kulit kayu pule, kulit kayu bangbang, jahe pahit, gadung cina,
isin rong wayah, ditumbuk untuk bedak. Obat penyakit ila, sarananya adalah
kulit kayu mangga gading, kulit kayu bangiang, umbi ilak, umbi teki laut,

11. isin rong lengkap, diisi air kapur untuk bedak. Jika ada darah keluar dari
hidung pasien, sarana obatnya adalah buah paspasan, ginten cemeng, pulasari,
ditumbuk, dicampur dengan air cendana, disaring untuk obat tetes hidung.
Mantranya: "O sang bhua hastra-hastra, amalaku pawtuning lara,
sanghyang puratha anambanin, sidhi waras, sidhi, waras, sidhi waras". Obat
tetes hidung untuk penderita penyakit ila, sarananya adalah belerang merah,
belerang biru, belerang kuning, madu klupa, kemenyan, gadung cina,
sarikuning, lungid, air jeruk nipis. Sarana obat penyakit ila, terdiri atas daun
saksak, umbi teki laut, masui, bawang putih, jangu, dilumatkan untuk bedak.
Atau sarana berupa kulit pohon nangka hijau, kulit pohon jeruk purut, kulit

90
pohon bengkel, laos kapur, cendana, bawang putih, dan jangu, dilumatkan,
diisi air sandawa,

12. untuk bedak. Ramuan minyak oles untuk penderita sakit ila, terdiri atas buah
cempaka kuning, buah jeruk purut, buah basa-basa, pancalang 1 jumput, kulit
pohon badung yang kering, kemenyan, belerang kuning, bawang putih, dan
jangu, isin rong lengkap, seharga 1 kepeng, semua ramuan ditumbuk, diisi
minyak kelapa hijau, lalu dipanaskan dengan wajan, setelah matang, dipakai
obat oles setiap hari. Mantranya: "O lngisku sanghyang tay, lulutku
sanghyang mahning, jnar asak sidha rapuh, il brahma, il lungsir, ila k,
il tatujon, pupug punah, tk punah, kep sidhi mandi mantranku, kep
sidhi mandi mantranku, kep sidhi mandi mantranku". Ada lagi sarana lain,
yaitu buah kusambi, buah kambika, buah bila, buah kalundehan, belerang
biru, belerang kuning, gadung cina, bunga cengkeh,

13. sampar wantu, isin rong lengkap, seharga 3 kepeng, ditumbuk, lalu digoreng
dengan wajan. Pada saat menggoreng, diperlukan sesajen daksina, beras 1
kulak, uang 777, lengkap sesuai isi daksina, canang 2 buah, uang 66 kepeng,
ditaruh di depan dapur. Mantranya: "O brahm pariprn jati ya namah
swaha". Rapalkan mantra itu tiga kali. Lakukan pembuatan obat itu pada hari
Sabtu Kliwon. Pada saat menggoreng ramuan obat itu dengan wajan di dapur,
rapalkan mantra: "O sang atru rudra ya namah, ilang lwar sunya mukah,
pupug upas, pupug tuju, pupug desti, pupug tluh punah, ilang waras". Setelah
ramuan obat itu matang, oleskan pada setiap hari Kliwon, juga dilakukan di
depan sanggar kamulan. Bila ingin membuat minyak oles untuk penyakit ila,
sarananya adalah kulit kayu

14. base, buah pangi mentah, buah bila, jeruk purut, limau, jeruk nipis, masing-
masing 5 biji, temuireng, buah badung kering, laos kapur, isin rong wayah,
seharga 3 kepeng, diramu dan ditumbuk sampai lembut, diisi arak dua botol,
dan nira kelapa tua, lalu direbus sebagaimana proses membuat arak. Setelah
ramuan matang, dimohonkan keselamatan di sanggar kamulan dengan sesajen
beras 2 kulak, kelapa 2 butir, telor 2 butir, benang 2 gulungan, pisang mentah
2 sisir, uang 3663, lengkap sesuai perlengkapan upacara itu, disertai canang 3

91
buah, yaitu 1 canang berisi uang kepeng 33, 1 canang lagi berisi uang 25, dan
1 canang lagi berisi kain rantasan 1 gabung. Sesajen caru terdiri atas nasi
merah 3 kepalan, lauk usus babi mentah, bawang merah, jahe, dialasi daun
kumbang,

15. diwadahi sidi. Sesajen itu ditaruh di samping tempat membuat ramuan obat.
Cara melaksanakannya adalah dengan memegang air untuk peruwatan, sambil
memuja dengan merapalkan mantra: "O sanghyang triakti amupug lara il,
il abang, il kuning, il irng, il putih, il macawar, kapupug de nira
sanghyang triakti, pupug punah, pupug punah, pupug punah, mtu kita wetan
kapupug, mtu kita kidul kapupug, mtu kita kulon kapupug, mtu kita lor
kapupug, mtu kita madhya kapupug, tk pupug punah, tk hp jalan mul.
O sidhi madhi mantranku". Setelah selesai sembahyang, sesajen itu
diantarkan tiga kali pada ramuan obat dengan menyebut Sang Bhuta Tiga.
Pasien diperciki air suci tujuh kali, setelah itu, pasien dimandikan di halaman
rumah. Sesajen caru dibuang di pertigaan jalan. Obat untuk penyakit ila,
sarananya adalah

16. geluga, gerabah di kuburan, diberi tulisan suci Ongkara, disertai ramuan
cengkeh, terusi, air jeruk nipis, untuk obat oles. Obat penyakit ila, sarananya
adalah gamongan, kunir warangan, sandawa, warangan, kemenyan, ditumbuk
diisi air jeruk nipis, untuk obat oles. Obat penyakit ila, sarananya adalah kulit
kayu base, sintok, masui, sandawa, pandida bubuk, dilumatkan, diisi air jeruk
limau, untuk obat oles. Obat penyakit ila, sarananya adalah akar, daun, kulit
pohon kaliapuh, dan pohon kaliasem, temuireng, gamongan, isin rong wayah,
ditumbuk, diisi cuka tahun, untuk bedak. Ada lagi obat sakit ila, yaitu biji
buah utu, biji peron kering, buah basa-basa, isin rong wayah, ditumbuk,
diramu dengan arak, berem, untuk bedak.

17. Obat sakit ila, sarananya adalah daun merica, akar pohon awar-awar, akan
pohon badung, isin rong wayah, ditumbuk untuk bedak. Obat sakit ila
berwarna kemerahan, sarananya adalah kulit kayu base, temugiri, temukonci,
bawang putih, dan jangu ditumbuk, diisi cuka tahun untuk bedak. Obat sakit
ila, sarananya adalah daun kambo-kambo, daun jeruk rendetan, daun piduh,

92
sulur kantawali, bangle, bawang putih, dan jangu, diramu dengan kapur,
ditumbuk, diisi arak, untuk bedak. Obat sakit ila, sarananya adalah sintok,
kulit buah badung yang kering, terusi, warangan, gadung cina, bawang putih,
dan jangu, ditumbuk diisi air jeruk nipis, untuk obat oles. Obat sakit ila,
sarananya adalah kulit kayu kaliasem, kulit kayu pakel, kulit kayu tingulun,
bara api, sandawa, bunga cengkeh, bawang putih, jangu,

18. ditumbuk, diisi air jeruk limau, untuk obat oles. Obat sakit ila brahma,
sarananya adalah bama bang, terusi, warangan, dilumatkan, diisi arak prhu,
untuk obat oles. Obat sakit ila, sarananya adalah daun pancar putih, kulit
udang laut, kulit kepiting bintang, jahe pahit, sandawa, bawang putih, dan
jangu, diulek, diisi air jeruk nipis, jeruk purut, untuk obat oles. Mantra: "O
il ta lut maha taya, rp ta ngko dengku, sidhi mandhi mantranku, waras,
waras.waras". Obat sakit ila, sarananya adalah daun sulasih merik, myana
cemeng, pulasari, belerang merah, belerang biru, gadung cina, sarikuning,
lungid, dicampur dengan air jeruk nipis, dipakai obat tetes hidung. Obat sakit
ila, sarananya adalah labu besar, laos kapur, temutis, temukonci, temugiri,
temupoh, temuireng, temulawak, diparut,

19. lalu masukkan ke dalam labu, dikukus hingga matang. Setelah matang,
diperas, lalu dicampur dengan belerang merah, sarikuning, lungid, kemenyan,
air jeruk nipis, untuk obat tetes hidung. Obat sakit ila, sarananya adalah buah
paspasan, kemenyan, belerang biru, buah pala, pulasai, sintok, air cendana,
digosok, dicampur dengan jeruk limau, untuk obat tetes hidung. Obat sakit ila,
sarananya adalah pohon katang-katang putih, gegambiran anom, kemenyan,
sarilungid, ditumbuk, diisi air jeruk nipis, untuk obat tetes hidung. Oabt sakit
ila, sarananya adalah galuga, madu klupa, air arak, belerang, majakane,
majakeling, tanjung raab, sari sapodi, jelawe, diramu dengan cuka tahun,
untuk obat tetes hidung. Obat sakit ila, sarananya adalah kulit kayu kamangi,
sintok, belerang kuning, jahe pahit,

Lontar Usada Kacacar

93
1. Mudah-mudahan tiada rintangan. Ini kurban sering kematian, sarana
upakaranya, satu buah panjang ilang, 11 butir telur, 11 buah kewangen, satu
buah daksina, disertai perlengkapannya, diisi uang kepeng sesuai bilangan
utama bagi kaum sudra sebanyak 1700 kepeng disertai mantra sebagai
berikut, bhuktyantu bhuta kalara, bhuktyantu pisaca wicitram,
bhuktyantusarwa bhuta kala nama swaha, pukulun sang bhuta karimpus, iti
tadhah sajinira, panjangilang, ajak rowang ira kabeh, wus ira amukti caru,
mantuk sira ring kayanganira swang-swang, ong durgga ya nama swaha . Ini
tentang pertolongan seorang dukun kepada seorang penderita sakit kecacar,
bila si penderita diperkirakan akan menemui ajalnya, agar segera dibuatkan
upacara penebusan berupa upakara uang sebanyak 118 kepeng. Uang tersebut
ditempatkan pada sebuah tamas, disertai samsam daun

2. temen, daun dapdap, serta beras berwarna lima macam, kemudian disaat
menaburkan dilakukan seperti menabur sakarura, dilakukan berputar ke kiri
sebanyak 3 kali, disertai mantra sebagai berikut; dhuh sira bhtara kala, dhuh
nini bhagawan gayatri, haywa wineh wadwanira angrusuhin tatepetaningsun
apan ingsun madana-dana artha, ring sarwwa bhuta bhumi, mwang ingsun tan
lampetan ring margga agung, den sang bhuta lampet jalan, tananang ngringin,
Ong sarwwa bhuta ya nama swaha. Ini kurban orang sakit kacacar, bila
penyakitnya keras dikira akan menjumpai kematian, upakaranya, 1 buah
tumpeng brumbun, dialasi dengan daun andong merah, dialasi dengan
sengkwi yang berekor, diisi seekor daging ayam brumbun, dibelah dari
punggungnya, isi jajeronnya masih utuh, hanya dibelah dalam keadaan masih
mentah, disertai ketupat sidapurna, diisi telur bakasem 1 butir,

3. serta 11 buah kewangen, yang 3 buah diisi uang jepun masing-masing 1


kepeng, yang delapan buah lagi diisi uang kepeng yang biasa saja, serta
canang gantal, canang, rokok, serta canang lengawangi buratwangi,
panyeneng, tulung, pras, dan satu buah daksina dengan perlengkapan
secukupnya, kurban tersebut diisi uang kepeng sebanyak 175 kepeng,
ketupatnya diisi uang 33 kepeng, canangnya diisi uang 11 kepeng, masing-
masing 3 tanding (buah), daksina tersebut diisi uang 225 kepeng,

94
dipersembahkan kepada panghulun kuburan, disanalah memohon keselamatan
hidup, setelah selesai dipersembahkan, kurban tersebut diperuntukan orang
yang sakit, daksina tersebut ditaruh diatas tempat tidurnya, setelah selesai
dipersembahkan lalu kurban itu dibuang di perempatan jalan raya, demikian
pula bila ada orang sakit kecacar, bila tubuhnya sedikit panas, serta denyut
jantungnya kadang-kadang cepat dan kadang-kadang lemah,

4. tubuhnya terasa dingin setengah dan panas setengah, serta cacarnya tidak
merata keluar pada permukaan kulit, tetapi tidurnya gelisah selalu memanggil
menjerit-jerit, orang yang demikian telah dikuasai oleh panca maha bhuta,
serta dikuasaioleh Dewi Durga, rohnya telah disambut oleh buta kala dengen,
hendaknya segera dibuatkan upacara penebusan di panghulun kuburan,
upakara penebusannya sebagai berikut; salaran itik putih, ayam putih, serta
tegen-tegenan selengkapnya, serta sebuah daksina diisi upakara selengkapnya
dan uang kepeng sebanyak 1700 kepeng. Setelah demikian, bila orang sakit
tersebuttelah dalam keadaan tenang, itu berarti orang sakit tersebut akan
sembuh kembali, bilamana ia masih menjerit-jerit, itu cirinya orang tersebut
akan menemui ajalnya. Bila ada orang sakit kecacar menangis tersedu-sedu,
tidak menentu sakitnya, itu berarti orang tersebut ditimpa penyakit, cacar
lingga, cacar api, cacar taruna, cacar sirah,

5. gejala penyakit cacar yang diderita oleh orang sakit seperti tersebut diatas;
disaat ia menangis perasaannya sangat gelisah, hendaknya dibuatkan upacara
kurban. Upakaranya sebagai berikut; tumpeng putih kuning, ayam putih
siayangan dipanggang, kemudian dipersembahkan di sanggar kemulan di
halaman depan bagian bawah. Sebagai obatnya, sarana, menyan madu,
cendana, dan diberi doa puja srawe, kemudian obat tersebut diminum. Ini
kurban sakit kecacar, sebagai penolaknya, sarana, nasi tiga kepal, diisi bunga
awon, ditutup dengan daun kayu tulak, dialasi dengan kipas, kemudian ditaruh
(di tebenan) diarah kaki tempat tidur orang sakit tersebut, mantranya; Ong
tulak tulik, lebur awu, tan dadi wong sing ada paksanira kira-kira wong
kacacar, singlah singlar, mingmang , diucapkan tiga kali. Ini kurban sakit

95
kecacar bila penyakitnya keras, upakara; kurban sebagai berikut; nasi satu
kepal, dialasi dengan tiga helai daun dapdap,

6. lalu diletakkan diatas kelakat sudamala, kemudian ditaruh di tempat tidur (di
tebenan) pada arah kaki orang sakit, mantranya; tutup mata kala, cekuk
cangkem kala, aku angering agumi pritiwi, luwate aku tguh ta rep, diucapkan
tiga kali, lamun dadi puwuh sanggowak, puwuh ganti, mtu dadi punah, tka
singlar, tka punah ilang diucapkan tiga kali. Lagi kurban kecacar, upakaranya;
nasi satu kepal, diisi bunga-bungaan yang berbau harum, diisi bawang jahe,
garam hitam (garam dicampur arang), doanya; Ong Ang Ung Mang, Ong ring
idhep , lalu kurban tersebut ditaruh disamping orang sakit itu. Ini
penyembuhan penyakit cacar yang beragam rupanya, mantra; Ong gtih mati
banyeh mapupul, tka sahak , diucapkan 3 kali. Lagi mantranya; Ong syapa
syanu, yah tka upas, tka tawar, tka punah , diucapkan 3 kal, lagi, sarana,
tempayan baru, diisi air,

7. akar rumput belulang, umbi kayu tawa, bunga sempol, pangkal gedang saba,
bayam lalahan, daun pungut, jangu, asam, semuanya direndam dengan air,
mantra;Ong sang bhuta kacacar, aja sira amangan ring daging kulite syanu,
hana sing pepanganira lemah putih, andadi sira tai, entut, uyuh, aja sira amtu
ring jro wtenge syanu, tka sahak, punah, diucapkan 3 kali. Tentang pembuatan
sajen yang lengkap, serta canang dilengkapi dengan buah-buahan, sajen itu
diisi beras 1 kilogram dan uang sebanyak 700 kepeng. Obat cacar rusak, bila
tumbuh di wajah, sarana, jebugarum, diasab, lalu dioleskan ditempat yang
sakit. Bila tumbuh di badan, sarana, isen kapur, air beras, dibedakan ditempat
yang sakit. Bila cacar di kakinya, sarana,

8. cabai bun yang melengkung, sebanyak 3 buah, daun sirih tua yang uratnya
sama, kencur, merica, ditumbuk yang halus lalu dioleskan. Obat cacar yang
telah parah lagi membusuk, sarana, cabai bun 21 buah, merica 21 butir, daun
sirih tua 21 helai, isen 3 iris, lempuyang 3 iris, kasuna (bawang putih), jangu
sepanjang 2 cm, sepet-sepet, ditumbuk halus lalu dioleskan, dengan bulu
ayam putih, doanya; Ong sang bhuta kala, anungku rat, wadwanira sang
Bhagawati, andadi kita puwuh kabeh saking kling, saking Bali, aja sanget

96
amangan ring daging, sarirane syanu, apan aku lakinira bhtara guru sakti, Ong
nama swaha . Tentang pembuatan daksina diisi selengkapnya serta uang 777
kepeng. Obat cacar yang telah rapuh,

9. kulit pohon mangga aplem, isen kapur, diparut, ambil airnya dalam takaran
yang sama lalu dipanaskan, kemudian disemburkan pada tempat yang sakit.
Obat segala macam rupa penyakit cacar yang telah parah, serta untuk
penyembuhannya, sarana, air, akar pare ambulungan, akar tabu puwuh (tabu
yang bentuknya bulat), darah babi, seharga satu kepeng jangan minta lebih,
santan kelapa hijau, diminum setelah ditumbuk dan disaring, doanya; srewah
srowih, nyanyah monyah, lwir tatelu tawar , diucapkan tiga kali. Obat cacar
rusak, untuk penyembuhannya, agar kembali sempurna, inilah digunakan
sebagai obatnya, sarana, pangkal pisang gedang saba, tmutis, ditumbuk halus,
diperas disaring, kemudian dicampur dengan air bersih, lalu digunakan
sebagai air mandi oleh orang sakit tersebut. Lagi obat untuk diminumnya,
sarana, slagwi, pakis hijau, kendal batuka, pakuaji, tampak liman, dalimo,
bayam lalahan, paya puwuh (paya yang bentuknya bulat), semua diambil
akarnya,

10. pangkal pisang gedang saba, graham barak, kasuna (bawang putih) jangu,
ditumbuk halus disaring lalu diminum, bisa juga digunakan sebagai
pengobatan cacar yang rapuh. Obat cacar yang telah rapuh, termasuk cacar
besi, cacar sukun, cacar tembaga, cacar dalwang, cacar kakarangan, sarana,
daun sirih tua yang uratnya sama, sebanyak 3 helai, cabai bun 3 buah, merica
gundil 3 butir, ditumbuk halus, dicampur arak lalu dibedakan, bila sakit semua
persendiannya itu disebut cacar dhaka (cacar air), sarana, kunir 3 iris, masui
dipanggang, kemudian disemburkan pada tempat yang sakit, bilamana seluruh
tubuhnya membengkak, termasuk tangan dan kakinya, itu disebut cacar
kangka, sarana, daun dausahaya, daun kayu kuning, garam uku, kunir 3 iris,
disemburkan ditempat yang sakit. Obat cacar rapuh, sarana, lempuyang,
terung, kelapa disemburkan pada sakitnya.

11. lagi sebagai bedaknya, sarana, daun sirih tua sebanyak 3 helai, merica 3 butir,
bawang putih jangu, dicampur arak, dibedakan, obat kecacar bila ingin

97
secepatnya keluar dari dalam tubuh agar merasa redah, sarana, buah delima
putih, ambil airnya, dicampur mentimun diparut, akar slagwi, ditumbuk halus,
diperas disaring dicampur madu, gula cair, sari kembang sepatu, mantranya
sari manobhawa, jangan menggunakan mantra yang lain, ini mantra sari
manobhawa tersebut, mantra; arep mampaha ring wteng, mrga mtu mnga ,
diucapkan tiga kali, disaat melakukan mantra tersebut, melemaskan
pernafasan memejamkan kelopak mata, pikiran dipusatkan, dalam hati,
demikianlah tentang melakukan penyakit kecacar, dibuatka upakara sebuah
daksina diisi bahan selengkapnya, beras 1 kilogram, diisi uang 500 kepeng,
jangan dikurangi, bila ingin cepat penyakit cacar keluar,

12. dari dalam tubuh tampak jelas dipermukaan kulit, sarana, daun paya puyuh,
bawang putih jangu, air santan kane (kelapa diparut diminum setelah
ditumbuk dan disaring lalu diperas), mantranya sama seperti tersebut diatas
serta upakaranya sama serta upakaranya sama.Obat segala macam penyakit
cacar yang telah rapuh, termasuk cacar tembaga, cacar kekarangan, cacar
lintah, cacar nanipi (ular), cacar daluang, cacar balulang, cacar nasi-nasi,
cacar mirah, sarana, isen, kasuna, jangu, katumbar, semuanya dinyahnyah,
lalu disemburkan pada sakitnya. Obat cacar yang telah rapuh, termasuk cacar
besi, cacar tembaga, cacar sukun, sarana, lempuyang, isen, cendana, air beras,
semuanya diasab, disemburkan pada tubuhnya, serta digunakan serbuk
sebagai pengobatan tubuhnya, jangan dimandikan selama 3 pekan, setelah
lebih dari 3 pekan lalu dimandikan hanya secukupnya, selesai mandi lagi
disemburkan obat seperti tersebut di atas.

13. obat cacar rapuh, termasuk cacar besi, cacar sukun, cacar tembaga, cacar
balulang, cacar kekarangan, sarana, daun sirih tua yang uratnya sama
sebanyak 3 lembar, cabai bun 3 buah, merica gundil 3 butir, ditumbuk halus,
lalu diisi cuka tahun, dibedakkan pada tubuhnya. Lagi sebagai pengompres
orang sakit kecacar, sarana, lempuyang, ketumbar, bawang putih, jangu,
kemiri lanang, merica, cabai bun, santan, jeruk, lalu direbus hingga matang,
dikompreskan pada tubuhnya. Obat bila cacarnya rapuh, sarana, air isen
disaring, air bangle disaring, dicampur musi, kasuna, jangu, air cuka tahun,

98
lalu diminum setelah disaring, obat cacar rusak, sarana, tembakau bali, isen,
masui, cendana, semuanya diasab, dimana yang rapuh itu diobati.

14. mantra obat sakit cacar yang rapuh, bermacam-macam sakit cacar yang rusak,
selayaknya diberi mantra-mantra, Ong sang bhuta kacacar, aja sira anglaranin
sajroning wteng, mlesat mandadi banyeh, mandadi gtih, hephep sempyar ,
diucapkan tiga kali. Rah akarah akarih, rep ta ngko kita, tka wurung ,
diucapkan tiga kali, gtih ring sor mandadi gtih kekalas mingsera ngenakin, tka
mingser, diucapakan tiga kali, Bhuta ngamuk ring jro wteng, kawon dening
sanghyang Taya . Lagi mantra sakit kecacar yang telah rusak, mantra;
pukulun bhatara buddha, bhatara guru, anguripakna manusa kabeh, Ong
parama siwa swaha, Ang ah jeng. Ini obat sakit kecacar yang warnanya
kehitaman, sarana, daun libukit, asam lama (asam tanek), campur lungid,
santan kelapa hijau, diminum setelah ditumbuk dan disaring.

15. Dan sebagai bedaknya, sarana, daun libukit, kemiri lanang, asam tanek, adas,
ditumbuk halus lalu dibedakkan. Obat cacar sukun, segala macam penyakit
cacar yang tidak ada ujungnya, obat dan bedak ini sebagai pengobatannya,
tetapi jangan dimandikan dengan air sungai, sarana, daun sembung bangke,
daun nasi-nasi, daun kwanji, kemiri, asam tanek, adas, dipijat-pijat pada
bengkaknya. Obat cacar udep, sarana, daun kwanji, kemiri, bawang,
ditumbuk, lalu dibedakkan. Obat cacar ahep, sarana, daun sembung, kemiri,
dibedakkan. Obat cacar berwarna hitam dan tidak berujung, sarana, tombong,
ketumbar 3 jumput, sanggawak 3 jumput, disemburka seluruh tubuhnya. Obat
bila cacarnya sudah berkurang, dan meninggalkan bekas, sarana, daun
dausahaya,

16. diremas-remas, air beras, dicampur bawang mentah, sari, disemburkan seluruh
tubuhnya. Obat bila penyakitnya tidak berujung, tampak biru, dan
permukaanya tampak hitam, itu disebut cacar tnangan, siapa yang membuat
padat, itu disebut tnangan desti, sarana, air ditempatkan pada batok hitam, ,
diberi doa panjang umur, orang yang demikian akan hidup kembali. Obat
cacar bila terasa gatal-gatal, sarana, air basuhan cendana, isen kapur, sama-
sama diasab, lalu dioleskan, dan sebagai obat minumnya, sarana, anak pisang

99
gdang saba yang baru tumbuh, silagwi, ktan gajih, air basuhan cendana
diminum. Obat gatal-gatal, sarana, silagwi panjangnya satu jari, sunggawuk 3
butir, bawang putih satu buah, ditumbuk diperas lalu diminum. Obat gatal-
gatal, sarana, daun kecubung kasyan, kapur

17. Halaman 9b Kembali ke atas


18. bubuk, dibedakkan. Obat penyembuhan gatal-gatal, bermacam-macam gatal,
mantra; pukulun Kaki Bhagawan Citragotra, Nini Bhagawan Citragotri,
manusan pukulun atetamban wisya gnit, hana prettha katara, hana pawu
Bhatari aglah upas ika, saraya pitung punggul, tuges akna waras, setelah
selesai mendoanya diperciki orang sakit tersebut dengan pucuk waru tersebut
sebanyak 7 kali, diminum 7 kali, disiram seluruh tubuhnya, sisanya
dipercikkan di pekarangan rumah, dan di temapt tidur orang sakit tersebut,
sarana; air bertempat pada batok hitam, pucuk waru 3pucuk, diikat dengan
benang tridatu (tiga warna), 3 putaran. Obat cacar berwarna hitam, sarana,
buah sirih, daun dadap yang muda, umbi kayu tawa, air cuka tahun, dioleskan
dengan bulu ayam putih.

19. Obat cacar bila terasa gatal-gatal, sarana, sari diasab, diperaskan air jeruk
linglang (nipis), dioleskan gatalnya. Obat cacar bila badannya gatal-gatal,
sarana, montong isen (isen yang baru tumbuh yang disebut tajin isen),
lempuyang, beras merah, ditumbuk diperas dan disaring, lalu diteteskan pada
tubuhnya, mantra;Hyang tan katinghalan, lan tan palawat . Obat cacar bila
gatal-gatal, disaat mandi, lagi dimandikan dengan air hangat, diisi rebusan
daun lempeni, setelah demikian lagi dioleskan dengan embun, selesai
dioleskan, lagi disembur dengan isen kapur, diparut dibuang airnya, ampasnya
dipakai menyemburkan setiap hari, semasih gatal-gatal, pahalanya akan
sembuh kembali. Bilamana ada orang sakit kecacar badannya selalu gatal-
gatal, hendaknya diawasi dengan cermat karena itu ciri-cirinya sakit kecacar
yang tumbuh akan berat,

20. diperhatikan nama kecacr tersebut, bila terasa tumbuh kecacar yang
membahayakan, janga memendikan dengan air sungai, sebagai air mandinya,
sarana, air hangat diisi rebusan daun lempeni yang putih, itu digunakan mandi

100
setiap hari, selesai mandi dioleskan dengan embun, selesai dioleskan lagi
disemburkan dengan isen parut, airnya dibuang. Obat kecacar bila warnanya
putih, dan sedikit kering, itu disebut cacar daluang, agar hati-hati, jangan
dimandikan, sarana, cuka tahun, air basuhan candana, diminum setelah
dicampur. Obat kecacar daluang, sarana, beras putih, isen dipanggang,
disemburkan pada tubuhnya, bila masih sakit, sarana, kulit pohon mangga
amplem, isen kapur, diperas dibuang airnya, lalu ampasnya dinyahnyah,

101
Lontar Usada Kuda

1. Ini adalah obat kuda ingusan, sarana: minyak digoreng, jerangan, jasun, diulek
dan dimasukkan ke dalam minyak, lalu diurutkan pada hidung kuda, serta
pada muka. Jika kuda ingusan, sarana: tumukus, jeruk linglang

2. digosokkan keras-keras di hidungnya. Obat kuda ingusan, sarana: kasturi


dijadikan bubuk, dimasukkan ke dalam hidungnya. Obat kuda ingusan,
sarana: jerangan, jasun, digoreng dengan minyak kelapa, hidungnya diurut,
juga pada kepala. Jika kuda

3. ingusan, sarana: air liurnya yang masih melekat di bawah dagunya ambil,
kasturi berat 1 kepeng, ditiupkan pada hidungnya. Obat kuda ingusan, sarana:
minyak kelapa dipanaskan ( hangat ) diusapkan ke hidungnya, maka akan
keluarlah ingusnya. Jika kuda ingusan, sarana: lemak babi digoreng

4. ditambah garam, merica, dipakai mengompres hidungnya. Ini adalah jamu


untuk kuda yang kurus, sarana: kantawali, dapdap kong, liligundi, pancasona,
padang tata - iwak, kasebseb, daun sulasih, garam manggala, diulek halus,
direbus lalu ditambah minyak kelapa,

5. untuk jamu. Jika kurus, sarana: mengkudu yang masak, merica gundul, kemiri
bawang putih, biji wijen, semua diulek, untuk jamu. Jika kurus, sarana: daun
liligundi

6. antawali, kasimbukan, pancasona, padang tata iwak, kasebseb, dapdap tis,


sembung, ginten hitam, kalabet untuk jamu. Jika kurus, sarana: daun maduri
yang kering, daun liligundi, daun asam, daun kecubung

7. dicampur daun basa-basa, direbus masih hangat, digosokkan pada kakinya.


Jika kuda lumpuh, sarana: majakeling dibakar, kulitnya diulek, garam
manggala, dioleskan pada hidung. Jika ingin memberi obat yang hangat,
sarana: umbi kayu tawa, maja

102
8. keling, dicampur, airnya dioleskan pada mata. Jika kuda luka, sarana: padang
lepas, abu dapur, garam manggala, campur / aduk dan ditempelkan pada luka.
Jika kuda sakit mata, sarana: majakeling, merica gundil, garam manggala,
ambil ekstraknya,

9. dioleskan dengan jantung pisang, ditiupkan pada hidung. Jika kuda sakit mata
( ada ulatnya ) , bersihkan/ buang kotorannya bersama ulatnya terlebih dahulu,
obatnya, garam, kalau ulatnya sulit diambil, dikeluarkan dengan jarum agar
kotoran pada hidungnya menjadi bersih, hendaknya agak ke bawah, sampai
sela-sela mata. Jika sakit matanya, sarana: maja

10. keling, garam manggala, dibasahi diisi air dengan air bayu (air yang
dihasilkan melalui konsentrasi), dihirupkan pada hidungnya. Jika kedua
matanya luka, sarana: daun lontar muda diiris, ancung rahab, direndam dalam
air, ditiupkan pada hidung. Jika kuda sakit karena terkena panas, sarana: daun
kalimoko, daun teges, daun sirih muda, kayu apuh,

11. paiduh, urang-aring, asam, merica untuk jamu. Jika sakit matanya, sarana:
jahe, garam manggala, jeruk purut, santan, laos, ditiupkan pada hidung ( tutuh
). Jika luka, sarana: buah pohon pala dibakar, dibubuhkan pada luka. Jika
mata-

12. nya tumbuhan ( trachoom ), sarana: lontar muda dibakar, abunya yang putih
diambil, dicampur garam manggala, diulek lalu dioleskan pada mata. Jika
mata kuda keluar air, sarana: jeruk linglang dikeruk tampuknya dikeluarkan
bijinya, hatinya ( bagian dalamnya ), sumpal ( dimasukkan )

13. kunir kedalamnya, dibakar dalam bara api, kalau sudah hangat diangkat, dan
setelah dingin diurapkan pada matanya. Ini adalah obat kuda yang sakit, yang
diutamakan, sarana: sindura, terasi, sendawa gunung, pijer cina, jeruk
linglang, merica gundil, liligundi diambil ekstraknya,

103
14. Halbunga cengkeh digoreng, diulek halus, diobati selama sepuluh hari. Tutuh
(tetesi) kuda sakit mata tumbuhan (trachoom), sarana: abu pelepah pohon
arem, biji buah kelor, garam manggala, diulek sampai halus, dioleskan. Jamu
untuk kuda

15. yang perutnya kembung, sarana: ketan gajih, santan kental, ekstrak air induk
kunir, gula, garam manggala, diminumkan. Jamu untuk kuda yang perutnya
kembung, sarana: jahe pahit, gula, garam untuk jamunya. Jamu untuk kuda
yang perutnya bentang (kembung padat) , daun bambu tali yang masih muda (
bambu tali= bambu yang khusus dipakai tali ),

16. ditaburi garam, dimasukkan ke dalam mulutnya. Jamu untuk kuda mencret,
sarana: ekstrak induk kunir, mur, remek daging, asam tanek (asam yang
dikukus, santan murni, pancasona, garam manggala, semua diulek, untuk
jamu. Ini

17. adalah obat kuda keseleo, sarana: bangle (salah satu jenis temu yang rasanya
pahit dan baunya khas), merica, kapulaga, sama-sama diulek halus, minyak
kusambi yang banyak untuk bedak, dibebat pada bagian kaki yang sakit, bisa
sembuh karenanya, obatnya sama

18. dengan obat kuda yang sulit melangkah ( kaku/ lamban ). Jika keseleonya
keras, suruh berenang di air yang dalam serta dengan cara yang benar, kalau
sudah selesai, dipijat dengan bangle, merica, kapulaga, asam tanek, minyak
kusambi yang cukup banyak, ditempelkan dan dibebatkan

19. pada bagian yang sakit atau bengkak. Jamu untuk kuda kapileg ( kaki tertekuk
tak semestinya dengan tak sengaja ), sarana: laos sebesar kepala ayam, pala 20
biji, temu ireng 2 bagian, garam manggala sejumpit, mengkudu, ginten hitam,
jerangan, bawang putih, sama-sama 7 iris, batu bata merah,

Lontar Usada Kurantobolong

104
1. Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Siwa, semoga kami tidak menemukan
rintangan. Inilah yang dinamakan Usada Kurantobolong, yakni tentang
pengobatan bayi (anak-anak), berkat anugrah Bhatara Wisnu, yang demikian
sangat ampuhnya, dalam menciptakan kesejahteraan dunia, yang bisa
menyelamatkan bayi (anak-anak), dan dapat menyebabkan umur panjang,
terhindar dari penyakit, dan kematian. Caranya adalah berwaspadalah dalam
menangani pengobatan bayi (anak-anak). Inilah yang dinamakan dharma bakti
bagi seorang dukun dalam mengobati bayi (anak-anak). Sarana obat untuk
bayi menderita sakit nguwus terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah
11 lembar, alang-alang 11 lembar, diramu dengan bawang dan adas, dipakai
pupuk

2. untuk menutupi ubun-ubun bayi. Adapun sarana untuk bedak tubuhnya terdiri
atas daun canging yang di tengah-tengah 7 lembar, alang-alang 7 lembar,
diramu dengan adas 7 biji. Sarana obat sakit nguwus, terdiri atas daun sirih
tua dan daun temurose 3 lembar, diberi tulisan gaib Ang Ung Mang, lalu
dipakai menutup ubun-ubun pasien dan dipakai bedak. Sarana obat untuk bayi
menderita nguwus, terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah 3 lembar,
kencur jantan 3 iris, alang-alang 3 lembar, ditumbuk hingga hancur, dipakai
obat tetes. Sarana obat untuk bayi menderita sakit bolong, terdiri atas kulit
tribulus, kepiting batu jantan, jamur kuning, daun kangkang yuyu 7 lembar,
semua sarana itu dibakar, abunya diambil, ditorehkan berbentuk tanda tambah
pada bagian tubuh yang bocor. Sarana obat

3. pengunci untuk anak-anak menderita sakit nguwus, terdiri atas tunas pohon
nagasari, sulatri, dan camplung masing-masing 7 lembar; sularih merik dan
alang-alang masing-masing 9 lembar, diramu dengan klabet 9 biji, dipakai
menutup ubun-ubun pasien. Adapun sarana obat untuk pupuk dan bedak dahi
terdiri atas tunas nagasari, sulatri, kecapi, dan emben canging diramu dengan
klabet 11 biji. Sarana untuk bedak tubuh terdiri atas serpihan kulit pohon
dedap yang masih muda dan gamongan kedis. Sarana obat bedak kaki terdiri
atas buah sirih dan mesui. Sarana obat untuk bayi menderita sakit kasaban,
gerah dan sawan, terdiri atas tunas uku-uku 3 batang, diramu untuk obat tetes
mata pasien. Dan

105
4. sarana untuk bedaknya terdiri atas daun dedap yang berwarna kuning, diramu
dengan kencur jantan. Sarana obat untuk bayi terserang penyakit sarab angin,
perut kembung, terdiri atas daun adas dan bawang. Sarana untuk menyembur
perut pasien terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah, bawang, adas.
Sarana obat untuk bayi menderita sarab angin dan sarab api, wajah bayi
tampak kemerahan, terdiri atas daun labu pahit, daun sunti-sunti, daun
katepeng, daun kliki bang, bawang. Sarana obat untuk bayi menderita sebaha
(peradangan saluran pernafasan), batuk-batuk, terdiri atas daun gatep, gula
kelapa, diperas dan disaring, lalu diminum. Sarana untuk obat sembur terdiri
atas daun belimbing buluh, kelapa bakar, temulawak, diramu untuk
menyembur leher, dada, hingga ke hulu hati pasien.

5. Sarana obat untuk bayi menderita batuk kering, terdiri atas daun belimbing
besi yang sudah rontok, diramu dengan bawang putih dan jangu, dipakai
menyembur dada pasien. Sarana obat bayi menderita batuk berdahak, terdiri
atas daun pancarsono diiris-iris, dicampur dengan kepala bakar, bawang
merah, dipepes, dan setelah matang, didinginkan semalam, keesokan harinya
diperas dan disaring untuk jamu. Obat untuk bayi menderita muntah-muntah
adalah kencur jantan, empu kunir warangan, diramu dengan majakling,
ketumbah dan garam, dipendam dalam abu panas, dan setelah matang,
saripatinya diambil untuk diminum. Obat untuk bayi menderita mencret,
terdiri atas

6. kulit kerbau dibakar diramu dengan bawang tambus, air ketan gajih, lalu
diminum. Dan sebagai obat gosoknya terdiri atas kulit turi putih dan adas.
Obat untuk menggosok pinggang, terdiri atas kulit buni tahi, beras merah, dan
adas. Obat untuk anak-anak menderita mencret, terdiri atas akar dan daun
belimbing besi, bawang tambus, diramu untuk minuman. Obat untuk bayi
(anak-anak) menderita batuk, terdiri atas akar ketepeng, akar tampak liman,
daun dan akar sokanatar, kelapa bakar, bawang tambus, diramu untuk
minuman. Dan obat batuk untuk orang dewasa, ramuan di atas ditambah
dengan bangle, akar kedondong putih, diramu dengan bawang putih dan
jangu. Ramuan itu dipendam dalam abu panas, lalu dimakan.

106
7. Obat untuk anak-anak menderita mencret, terdiri atas kulit buah delima, beras
merah diramu untuk obat gosok. Jika tubuh pasien terasa gerah, sarana
obatnya adalah daun bulun bawang, dipakai menggosok, dicampur dengan
bawang dan adas yang telah direbus. Obat untuk anak-anak (bayi) menderita
mencret, terdiri atas kulit turi putih, asam dibakar, diramu dengan adas, lalu
diminum. Obat untuk anak-anak menderita sakit pejen (disentri), terdiri atas
akar, kulit pohon, dan tunas daun bintenu, sulur kresek muda, santan, gula,
bawang tambus, diramu untuk minuman. Dan sebagai obat gosoknya adalah
daun mentimun, tunas mentimun, tahin cicing, diramu dengan adas. Obat
untuk anak-anak (bayi) menderita sakit pejen (disentri), terdiri atas daun
ketepeng, adas dipakai obat gosok. Obat untuk anak-anak menderita sakit
pejen (disentri),

8. dan panas, terdiri atas akar kopok-kopokan yang putih diramu dengan bawang
dan adas dipakai menggosok perut pasien. Obat untuk anak-anak tidak bisa
berak dan kencing, terdiri atas serpihan kemiri dan bawang diramu untuk obat
gosok. Sarana obat untuk anak-anak (bayi) menderita perut kembung,
meradang, dan panas dalam, serta tidak mau makan, terdiri atas semanggi
gunung segenggam, daun pepe gunting, inti kunir, isi buah kemiri, bawang.
Jika tubuh pasien terasa gerah ramuan itu perlu ditambahi tunas pohon
pandan, diramu untuk minuman. Obat untuk anak-anak menderita mata
memar, sarananya adalah daun canging yang di tengah-tengah, bawang
merah, dan adas dipakai menggosok tulang punggung, bahu, hingga ke lekuk
dada. Sarana obat untuk anak-anak menderita mata bengkak, tanpa diketahui
sebab-sebabnya, terdiri atas

9. beras basah, bawang mentah, dipakai untuk menggosok. Obat untuk anak-
anak menderita mata bengkak, terdiri atas air susu ibu yang melahirkan
pertama kali, dipakai menetesi hidung pasien bayi itu. Obat untuk anak-anak
(bayi) menderita tubuh kegerahan, gelisah resah, dan melemas, sarananya
terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah, alang-alang, kulit telor ayam,
dilumatkan untuk bedak. Obat untuk anak-anak (bayi) menderita gatal-gatal di
kulit, sarana obatnya terdiri atas daun nangka yang kuning, diramu dengan

107
laos untuk dipakai bedak. Obat untuk anak-anak menderita gatal-gatal dan
berbintik-bintik, sarananya adalah kulit pohon kalimoko, merica, laos

10. dilumatkan untuk bedak. Obat untuk anak-anak yang menangis terus menerus,
tubuhnya berkedut-kedut, dan kadangkala terkejut-kejut, penyakit akibat
gangguan roh jahat Men Bajang, sarananya adalah kulit pohon kalimoko,
kapur, diberi mantra "Ong kaki dangu, nini dangu, lare ngiwan lanang wadon,
kinasihan, yan hana i kira-kira hala ri anak ingsun, lanang wadon kinasihan,
kaki mwak bun, ki bandeng blang nguyang, tututwin aku saparan-paranku,
yan hana memen bajang hala paksane, akira-kira ingsun, lanang wadon
kinasihan, tka tulah, tulah, tulah, sidi mandi mantranku". Setelah ramuan itu
diberi mantra, lalu ditaburkan di bawah tempat tidur bayi sebanyak 3 kali.
Obat untuk bayi (anak-anak) yang diganggu oleh roh jahat Men Bajang,
sarananya adalah daun

11. ambulu 1 lembar, dipakai menyembur ubun-ubun pasien bayi sebanyak tiga
kali. Lalu ditempelkan bersama-sama dengan selembar daun canging yang di
tengah-tengah, yang telah diberi tulisan suci A, lalu disembur dengan bawang
putih dan jangu sebanyak tiga kali. Obat untuk bayi (anak-anak) yang
menangis tidak henti-hentinya, tidak bisa tidur karena diganggu oleh roh jahat
Men Bajang, sarananya adalah daun bulu bawang, beras basah, bawang putih,
dan jangu, dilumatkan untuk menggosok tubuh bayi. Inilah ajian untuk
penjaga jiwa bayi, yang selalu melindungi dan menjaga jiwanya, sarananya
adalah lontar diberi gambar Bhatara Hyang Guru, Bhatara Wisnu. Setelah
selesai dilukis, lontar itu diberi mantra: "Bapa-bapa Hyang

12. Kamulan, Hyang Bhatara Wisnu, sampun ko latri, raren titiang nyaluk dalan
aturu, sampura raren titiang, apang melah duk ira hana, empu raren titiang
apang melah, haywa waweka, empu raren titiange apang melah, poma, poma,
poma". Lontar ini digantung di bagian atas tempat bayi tidur. Atau juga boleh
dibungkus dalam ikat pinggang. Hasilnya adalah semua penyakit berbahaya,
wisya, sasab, merana, grubug, tatumpur pada musnah semuanya. Demikian
pula kekuatan ilmu sihir seperti guna-guna leak, tuju, teluh, taranjana, desti,

108
dusta, pepasangan, rerajahan, umik-umikan, papendeman, acep-acepan, dan
semua guna-guna manusia jahat akan musnah,

13. dibuat tidak mempan. Mantra ini harus dirahasiakan sebab sangat rahasia.
Inilah ajian untuk keselamatan bayi yang sering menangis siang-malam,
sarananya adalah lontar ditulisi mantra "Hurjro upet-upet, syah Ah, Ah, Ah".
Bayi disembur dengan bawang putih dan jangu. Bayi itu diberi gelang dari
benang tridatu (benang berwarna merah, hitam, putih). Sesajen caru untuk
bayi yang sering menangis siang-malam, terdiri atas sasayut, segeh beras 1
ceeng, memakai daging ayam yang sudah bisa bercelotek. Dada ayam itu
dibelah dan dipanggang sebagian, diberi bumbu bawang jahe, serta dilengkapi
dengan ikan teri (gerang asem) sebagian, dan lengkap dengan buah-buahan,
galahan, sampian nagasari, peras panyeneng, biakawon,

14. tatebus serta lengkap dengan uang sasari. Tempat untuk melakukan upacara
caru adalah di halaman rumah, pada saat matahari sedang berada di titik
puncak. Adapun doanya adalah: "Kaki Kala Dengen, kaki Kala Pitungtung,
iki tadah sajinira, segeh adulang, iwaknya ayam pinanggang, mwang gerang
asem, mwah sarananya genep, sasari genep, maduluran pras panyeneng,
mwang byakawonan, iki buktinen sajinira, wus sira anadah sari, mantuk sira
swang-swang, aja sira anggulgul lare ingsun, poma, poma, poma".
Penyelamatan bayi yang banyak ulah dan sering menangis siang malam,
sarananya adalah kelopak bambu petung, diisi gambaran raksasa berpelukan,
raksasa telanjang, suami-istri. Sesajennya terdiri atas kue bantal 5 biji,

15. buah pinang 1 tandan, sirih ambungan, digantung bersama-sama di bagian


atas tempat tidur bayi. Adapun sesajen caru terdiri atas penek bang adanan,
memakai daging ayam berbulu merah, dipanggang, lengkap dengan jajan dan
buah-buahan, bunga merah, aled sampian andong merah, dan benang tebusan
merah. Mantranya adalah : "Ong indah to Hyang Kala, ulatana tatadahanta,
sajinira, haywa gageti, haywa gagila akti, pada patuh, ingkup, ingkup,
ingkup". Sarana penawar untuk bayi (anak-anak) sering menangis siang-
malam, terdiri atas ketupat 1 kelan, memakai daging ayam, pisang kayu,
bunga baha-baha, jajan kukus berisi unti bungkus, dilengkapi dengan berbagai

109
buah-buahan, canang 1 tanding, disajikan dalam 1 wadah, dipersembahkan di
palangkiran. Biarkan sesajen itu, jangan ditarik. Maka bayi itu akan berhenti
menangis.

16. Sarana untuk penawar bayi menangis tidak bisa dihibur, terdiri atas kelopak
bambu kuning, diisi gambaran kera bergelut, jantan-betina, digantungi buah
bengkudu 2 biji, diikat dengan benang tridatu, digantung bersama-sama di
bawah tempat tidur bayi. Mantranya adalah "Hana kita anaku, laba kita, aku
adwe kita, druwe aku si jabang bayi, aja sira ulik siligawe, ring jabang raren
ingsun, Ah Ah siyah Ih Ah". Bayi itu akan berhenti menangis. Jika bayi masih
tetap menangis, maka perlu diberi tambahan caru terdiri atas ketupat sirikan 1
kelan, bantal lenged 6 biji, pisang mas 6 biji, canang buratwangi lengawangi,
uang sasari 22, dilengkapi dengan jajan dodol,

17. geti-geti, jajan satuh. Sesajen itu dipersembahkan di Kumbara, maka bayi
akan berhenti menangis. Inilah sarana untuk menghentikan bayi menyusu,
terdiri atas bengkudu 2 buah, telor. Satu buah bengkudu dipakai mainan untuk
anak-anak. Satu lagi dilemparkan ke kotoran sapi. Pada saat melemparkan
buah bengkudu itu harus lebih tinggi daripada bahu, dan jangan menoleh. Satu
buah bengkudu itu diletakkan di samping tempat tidur bayi. Mantranya
adalah: "Ong tka gila, gila, gila, tka ser, ser, ser, tka seneb, seneb, seneb"
(ucapkan mantra itu tiga kali. Bayi tidak akan mau menyusu lagi. Sarana
memperlancar kelahiran bayi, terdiri atas mentimun uku, diberi gambar buaya
mencari bayi. Mantranya: "Ong lebu wong, tka muru rare ring jro weteng,
Ong metu, metu, metu". Mentimun itu dimakan sampai habis oleh ibu yang
hamil. Ada lagi sarana untuk melancarkan kelahiran bayi yang mati dalam
kandungan,

18. terdiri atas daun sente merah, diberi gambar gajah, lalu direndam di dalam air
bersih yang dituangkan ke dalam sibuh hitam yang berisi alat gantung.
Mantranya: "Ong den kadi gelisanira rare, binuru dening liman, mangkana
gelisan ni rare ring jro weteng metu, lah ser, ser, ser". Air itu diminum oleh
ibu yang hamil, dan sisanya disiramkan ke perutnya. Sarana untuk
melancarkan kelahiran bayi yang mati di dalam kandungan, terdiri atas

110
waribang, lenga wijen, diramu menjadi saripati lalu diberikan kepada ibu
hamil itu untuk diminum. Maka bayi itu akan cepat lahir. Sarana pangeger
(jimat pengundang) bayi di dalam kandungan, terdiri atas tahi subatah diramu
dengan adas, dilumatkan dan digosokkan di pusar ibunya. Mantranya: "Ong
rare cili, banyu kita ring jro lawangan, teka blas, blas, blas, kedep sidi mandi
mantranku".

19. Sarana pangeger (jimat untuk mengundang) bayi di dalam kandungan, terdiri
atas air ditungkan ke dalam tundak. Mantranya: "Ong sasano roro, hug hug,
munggwing watu, leh metu, metu, metu". Siramlah perut ibunya. Sarana
pangeger bayi di dalam kandungan, terdiri atas daun sirih dan daun temurose,
diisi gambar gajah, serta banyu tuli dituangkan ke dalam sibuh hitam yang
diberi gambar gajah. Mantranya: "Ong sang bhuta liman, pamburu rare ring
jro weteng, lah den age metu". Berikanlah air itu kepada ibunya untuk
diminum. Sedangkan daun sirih itu disemburkan di perut ibunya. Jimat
pangeger supaya bayi cepat lahir, terdiri atas sirih dan bulun butuh 6 lembar.

111
Lontar Usada Pamugpug

1. Semoga tiada halangan Ini adalah " Pamungkah Bhatara Guru". Media atau
sarananya berupa: air tawar yang bening dimasukkan ke dalam tempayan (jun
) dari tanah liat, rajangan daun kemoning, satu buah sajen sesantun yang
lengkap, yaitu berupa: beras satu liter, sebutir telur itik, sebutir buah kelapa
yang dikupas bersih, kemiri, pangi, sebutir buah pisang, sirih yang telah
ditata/ base tampen, pancha phala, bija ratus, benang putih satu gulung kecil,
dan buah pinang beserta uang kepeng sebanyak 1700 kepeng. Japa mantranya:
" Iki pamungkah Bhatara Guru, saking swargan, pinaraga aku Sang Empu
Pradhah, ingiring aku dening Cambra Brag, sakti wisesa, Cambra Brag
layahnya rengreng, iniring dening sona satus wulu, blang huyang muser
gantung, mapuyang-puyangan, ring hangkon-hangkon, nguniweh blang
kuning wlengker, sukunya huyang-huyangan, ki tampak meles arane,
nguniweh kiptaka sapta arane layahmu bebed, yan tukar pancasona sakti iki
iniring dening babekelan, pancasona padha sapulung, panca ambek lin tigang
likur, kari ajeng si pancasona sakti, aken amburu bhuta amburu dengen,
amburu wong andesti, anluh asnranjana

2. amburu wong amasang papendemen, acep-acepan, umik-umikan, sasawangan,


angadakaken panes bhara, rarajahan, ya ngko padha binuru, dening sona satus
wulu, manglup alesu tan pagalih. Tan kawasa tumindaka, dungkut sukumu,
kukuh tanganmu, bga cangkemmu, beseh atinmu, sawdhang kitanmu, bingung
karepmu, sidha punah papaksanmu, waya kita blas, kita tan paksa, i leyak
katon dene padha-padha nmu janma, tan kawasa kita masiluman, wus waya
nama swaha. Ong sarining puja ya namah, amatenin desti tluh taranjana,
amatenin palwasan hili-hili. Ong Gangga Saraswati ya namah. Ong Sadhasiwa
ya namah, tutur jati ya namah, sawanekang namah, buru bhuta putih, kala-
kali, yaksa-yaksi, pamala-pamali, sampulung.

3. Darah, si kundala si kundali, mwah sakwehing dngen preksa kabeh padha


ingiring dening sona satus walu, bengbeng balanira, I Rangdeng Jirah, Ni
Calon Arang, Ni Calon Kuning, Ni Balung Kuning. I Macan Angreng, Ni

112
Lenda, Ni Lendi, Ki Balung Kurung, Ni Buta Cremi, Ni Bhuta angadang-
adang ring dalan agung, Ni Mahisa Wdhana, padha ngeb tan kawasa
tumindakaken sukune, tangane tan kawasa lumimbeyan, socane tan kwasa
tuminghal, karnane tan kawasa angrenga, irunge tan kawasa angungas,
cangkeme tan kawasa angucap, tan pakarika mayawakta, lesu lipya lumah
atinmu tan pangen-angena, uwug layahmu, bhaddisu tuli, kadi tunggak
padhamu. Ong Sijabhahi, tan kwasa kita maranin, apan ko anuh desti, anluh
awakmu dewek, anranjana awakmu

4. dewek, Ong saselo wangke, tiwang bangke apteng idep, tiwang jangat tan
mandi ya, tiwang sagara tan mandi ya, tiwang kbo tan mandi ya, tiwang jaran
tan mandi ya, tiwang kdet tan mandi ya, tiwang pamali tan mandi ya, tiwang
bga tan mandi ya, i bhuta saliwah tan mandi ya i bhuta latek tan mandi ya,
sapakaya magawe tiwang, danawa tan mandi ya, aku jati bhatara guru,
anglanglang ring madyapaddha, aku amugpug amunah, si tamisaya, sing
angkaranin janma manusa, pugpug punah ta ngko denku, Sang Bang Tang
Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang, Wang Yang Ang Ong Mang Ung, Ah
Ah, Kdreyah, Ung Ung Mang Bang Sang. Enwrog-enwrog sakti wisesa,
saking durggamaya, sing kajoto maka sama sakti, sang hyang prekasa, saala
sariyut, mwah sakwehing breghala kabeh, sasiddha karyyane, sira sang calo-

5. narang, sakwehing desti kabeh, aja sira wani siddhi gawe, mwah tluh tranjana,
apan aku kamulanira bhtari durgga, tan wani ta ngko sakwehing desti tluh
tranjana, apan aku sang hyang mahasakti, durggamaya, apa aku amugpug
amunah, sakwehing sangti aeng, mwah sakwehing sanjata nira ni calonarang,
apan aku wnang, sababekelan I randeng jirah, ni calonarang, ni balung
kurung, ni balung kuning, sang macan anggreng, sang bhujangga windu, sang
hyang candu sakti, angapih-apih, sang ratu rantek, sang kalika abhang, haywa
ta moruk siddha gawe, aja ta kita ulik silih gawe, apan aku amrethana sira, sira
maratuning desti, tluh tranjana kabeh, kita winaton denku, yan kita anama
desti, anluh anranjana,

6. tan tumanah papaksanta, ring awak sariranmu, tka rep sirep kita, tka tulak-
tulak sakwehing desti, tluh tranjana, pangemban-pangemban sang bhuta

113
banaspatiraja, sang hyang ngalawati, sang kumbawati, apan aku angaruh kita
kabeh, sira pinaka ratuning desti tluh tranjana, yan ana wong andesti, anluh
anranjana, wastu ta ngko tan teka maring awak sariranmu, wastu ta ngko den
kadhi aku dening watu, wastu den kadhi akmuh dening malela, sinusunira ring
awakmu dewek, Om tulak tanggul, ta ngko kala kabeh, jati ring awakmu
dewek, ANG ANG ANG, ONG ONG ONG, MANG MANG MANG, BANG,
BANG BANG, MANG. Ada lagi Pamugpug Sang Hyang Ghnicandra,
mantranya: Ong sang kalacandraghni, candra berawa, Ong Cakraghni srasah,
MANG ghni jayeng rat, ANG,

7. ghni muka, ih, ghni muka murtti jati, Ong ghni resya muka, Ong ghni sewaka,
Ong ghni bhajra, Ong ghni angalayang, Ong ghni mkah, Ong ghni mirah, Ong
ghni puspha jati, ANG ONG MANG, Om murub ring sariraning lidah, ANG,
murub ikang ghni bajra ring tinghal, murub ikang ghni muka ring cangkem,
murub ikang ghni mrettha tungting nging lidah, murub ikang ghni sewaka ring
irung, murub ikang ghni resya muka ring pupusuh, murub ikang ghni
angalayang reng tlenging tinghal, murub ikang ghni srasah ring gtih, murub
ikang ghni kirah ring hati, murub ikang ghni manila ring inan lima, murub
ikang ghni jayeng rat ring dasaring pritiwi, murub ikang satingkebing rat
pancering pritiwi jati, murub ikang ghni lodra srasah ring dasaring sagara,
murtub ikang ghni wisesa ring dasaring danu, ih ih ih, gseng ikang lara rogha
wighna ring puser tasiking sari-

8. ra, gseng salwiring papa ndrakanira ring kasaktening sarira, gseng salwiring
gring agung ring sandining sarira, gseng salwiring papaning apapa, papaning
angucap ring gumining sarira, Ong gseng ikang gring ring sarining kulit,
MANG, gseng raraning arara ring kawawaning gtih, Ih, gseng narakanira ring
suksmaning daging, Wong , gseng salwiring gring ngura ring suksmaning
gajih carmma, ONG, gseng salwiring gring ngagung ring kawtuwaning hwat,
ONG MANGKARA wastu, aku aku anglekas wateking ghni wisesa, mangurip
kulit daging gtih, hwat gajih carmma, sarira bhatara bhayu, miwah bhtara
yama, ONG MANG GANG SANG MANG gseng, mangurip manusa,
papaning apapa, manusa gring hnyag patladtad, kusta empas, kusta pnyu,
kusta banyeh, kusta gtih, kusta babi, kusta pahi, sakwehing kusta bseh,

114
9. kusta gringsing, kusta bhintang, kusta tembaga, kusta papasangan, kusta alu,
kusta jangat, salwiring kusta lumbang, tan tumamahing manusa,
padarwwaning dewa, waras salwiring manusa, urip salwiring gumi sarira,
janma manusa, matamba gring kagseng, gring katundhung, gring kasengker,
aku mangalahang gring agung, salwiring sopamastuning cor, tmah bhujangga
lewih, tmah brahmana, kanca desa sakaton, sakatoning lara rogha wighna,
alah punah jangkah rebah, gseng anyud kumaritis dadi wringet, apan
dewaning ghni angalahang, gring agung, angeseng gring salwiring lara,
salwiring papaning apapa, sandhrakaning wong manusa, tka gseng anyud,
luhur ring ulu puhun, tka alah, tka bungkah, tka kdas, ikang gring, waluya jati
ikang sarira, suksmanira ring sabdha bayu idep, mulih sa-

10. rira ring suksma, mulih maring sabdha, mulih maring bayu, mulih maring
idep, ANG ANG ANG UNG MANG ONG, mulih maring suksmaning sang
hyang ghni puspha jati, ring murttining idep, mulih maring swargganing
surapathi, ika suksmaning idep, ika putusing ghni, putusing lara, putusing
tamba, ika swargganing I bapa, ni meme, ika pagnahan I kaki, ni dadong, ika
maka swargganing sabdha, swargganing bhayu, swargganing idep,
swargganing ajnana, mulih tunggal dadi sawiji, ika ingaranan sura wdhu, ika
mawak pritiwi, rumawak akasa, slaning ika maniking na hulu dadi suryya,
bungkahning ika manikaning lara, dadi hyang rathih, titiing ika ndadi bintang
damuh, kawruhakna ring raghanta. Poma. Sebagai materi atau bahannya
adalah: air tawar yang bening ditaruh di dalam buyung (jun tanah liat),
rajangan (samsam) bunga pucuk arjuna, daun temen, rajangan daun endong
bang, bras merah, sasantun secukupnya, beserta perlengkapan sesantun.

11. Dan uang kepeng 2700 buah. Sesajennya berupa dua buah tumpeng berwarna
merah, pucak dari tumpeng diisi nasi beras hitam. Sebuah sampian beras
andong bang, ayam berbulu merah (biing) dipanggang, jejeroan rempelanya
dipanggang. Sesajen itu semuanya dialasi dengan klatkat sudamala.
Mantranya: "Ih sang kala ghni lodra, iki tadah cacaronta, gseng ikang gring,
poma, poma, poma". Setelah mengucapkan mantra, sesajen dibuang ke
prapatan jalan. Sedangkan air yang ada di dalam buyung (jun) dipakai

115
memandikan orang yang sakit, sebagaimana halnya orang mandi. Ini ada lagi
Panca Ghni, media saranya bebas (apa saja boleh digunakan). Mantranya:
ANG UNG MANG, ANG uriping brahma, UNG uriping wisnu, MANG
uriping Iswara, idep aku angerehang Sang Suksma, ngawijilaken ghni panca,
SANG BANG TANG ANG ING, Ong ghni putih mtu ring pupusuh, angeseng
sahananing durgga tka saka wettan, mtu gseng, gseng, gseng. ONG ghni
abhang mtu ring hati, angeseng sahananing durgga tka saka kidul, mtu gseng
gseng gseng. ONG ghni

12. Halkuning mtu saking ungsilan, angseng sahananing durgga tka saka kulon,
mtu gseng, gseng gseng. Ong ghni ireng metu saking ampru, angeseng
sahananing durgga tka saka lor, mtu gseng gseng gseng. Ong ghni manca
warnna ring tumpuking, angeseng sahananing durgga tka saka ring tengah,
mtu gseng gseng gseng. Ong ghni pangrenga mtu ring karnna, ghni tinghal
mtu ring socca, ghni Ongkara ring irung, ghni maya mtu ring tungtung nging
lidah, angeseng sahananing tuju tluh tranjana, desti moro tiwang sampulung,
babahi, sahananing lara roga, ring kulit ring daging, ring otot ring balung, ring
sumsum, kalebur kagseng denira sang hyang aghni sabwana, mtu gseng gseng
gseng. Ong ghni sabwana murub makabar-makar, murub sira angebekin
pakaranganku ne, yen ana wong ala pakane, ala kira-kirane, wastu kita gseng
manda-

13. di awu, sing angungkulin sing anulubin, waluya gseng mamnadadi awu, mtu
gseng gseng gseng, apan geni murub ring harepku, ring kiwa ring tngenku,
ANG AH, ANG AH, ANG AH, aku pangalah sakti. Ini adalah Astu Pungkuh,
penolak segala penyakit dan cemar. Sarananya berupa air tawar dimasukkan
ke dalam sangku, buatkan rajangan dari daun dedap, bhija (beras) putih.
Keduanya dimasukkan ke dalam sangku yang telah diisi air. Japa mantranya:
Ong wastu pungkuh dangarcaya ya siwah, astu bhatara siwa, angluaraken
sakwehing lare mtu aku wala waddhi, kasungsang carik, katadah kala, katiti
bhaya, kabanda bandana, katadah kala, kalwarana dening bhatara siwa, maka
nguni mtu kadana kadini, pamtuning jong ngunting-ngunting, sara padha
tunggaking wareng, prawu sarat panya, buncing kembar, kang trisula, kresna

116
bala dewa, sanak pandawa uruju, tulaking kdhukan, kama jaya kama ratih,
kalwa-

14. rana dening bhatara siwa, yan ka toya ka gangga dewi, ka pangawan, ka
sambet ring glap, ka pritiwi ka catur loka, ka guru paduka, ka clapati, ka
upaya pati, ka ayap kala, katadah kala, kalwaran dening bhatara siwa, maka
uni wtu uku wala waddhi, sinta landep, ukir, kurantil, tolu, gumbreg, warigha,
warihadyan, julungwangi, sungsang, dungulan, kuninbgan, langkir, mdangsya,
pujut, pahang, krulut, mrakih, tambir, mdangkungan, matal, uye, mnahil,
prangbakat, bala, ugu, wayang, klawu, dukut, watugunung kalwarana denoing
bhatara siwa, yan katibanan saraswati, katibanan dangdang, sathasah saking
guwungan, salakunang, yan karubuhan padha ring ngana lumbung, karubuhan
sanggar,

15. kagunturaning hod, karubuhan kayu agung, kapancingan buron, kapancingan


kakuwung, kapancingan caraking tahun, kapancingan linus, kaghne kalebon
amuk, kalwarana dening bhatara siwa, nguni ika lemah sanggar lemah mbang,
lemah mdek, balembong caraking tahun, setra wates pabajangan, pakatkan
pamenggahan agung, pahumbukana bhuta, samur pangkung jurang rejeng
atukad bangka batu lumbang palungguhaning bhuta, pisaci pisaci, dngen
sampulung, pamala pamali, ngdo kpuh karameyan, alas agung padha dawa,
pawubaning bhutakala dngen, undung-undung silunglung watu tinumpuk,
parang rejeng, lemah gigiring sampi, amundhuking lebuh, lemah mendek,
ucur-ucur balembong caraking tawun, paguyanganing warak, pasrukaning
landak, lemah anggawe

16. ning kapitan, kela kapitan, yan yan uta-utu agung kabuyutthan, tanananing
saupatakaning uphata, upadarwwaning cor, gagodhan bancana, apenala ujar
ala, muksah hilang dening kidul, kaki sarayu, kalwarana dening bhatara siwa,
makanguni sakryaning upaya durjjana dusta, ctik racun, upas buntek, basang-
basang, upas wat warangan, desti tiwang moro tluh tranjana, kalwarana
dening bhtara siwa, uniwehaning atma candala papa, mijil saking samayaning
loka, cebol, mbor, bhuta, plud, kicer, borang, sudat, dileng, ba, bisuk,

117
sombeng, bengior, prut, bongol, pancek curek, gondhong, pela, sunggaran,
lawedig, brekut, borok, kipak, kiting, kutung, tuna, juget,

17. udug, edan, busung, kahangan, ayan, ckehan, manjukuming, banang, bluh,
beseh, ungkuk, darih, tapas, bulenan, dyag, tubug, tunjuk, bteg, buyan, sangar,
rumpuh, cebol, dengkek, blang, parang, koreng, kalebura, kalukata denira
sang hyang wastu pungkuh, dangascaryya, kalwarana dening bhtara siwa,
kasaksenan denira sang hyang triyoddhasakti, bro bhumi rapuh, candra rakta
agni yasa manili, ratri wisandyan anincah, kajnengana dening sapta resi, panca
resi, karawetana dening sang hyang mandi raksa, sang hyang taya, sang hyang
candu sakti, kawastu wanana dening sang hyang saraswati, kalukat kalwarana
kang arupa jati, tanana mandi-mandi, tanana tulah-tulah, sapa-sapa, swati
dirggayu-

18. sa purnna jati, dening sang hyang wisnu murtti jati, swasti swaha. Itulah puja
Sang Hyang Wastu Pungkuh. Ini adalah Danur Weddha, penolak segala
wabah dengan menggunakan sarana air yang dimasukkan dalam buah kelapa
dan juga bisa menggunakan meswi. Adapun japa mantranya sebagai berikut.
Ong pritiwi pinaka pangadegan ingulun, akasa pinaka panjengan ingulun,
kadhi amanah angagem sanjataning dewata kabeh, duppa, danda, trisula,
moksala, konta, gaddha, bayubhajra, gunung, sing kala dangastra, skarura
kenjoti, sun panahaken ring pritiwi, bubur ikang pritiwi, sun panahaken ring
akasa, buntal ikang akasa, sun panahaken ring sagara, asat ikang segara, sun
pnahaken ring gunung, rubuh ikang gunung,sun panahaken ring durgga
kalika, ruwaten durgga kalika, sun panahaken ring pepelika wewelika,
ruwaten pepelika wewe-

19. lika, sun panahkaken ring satru musuhku, lebur tan pasesa ikang satru
musuhku. Ong kami siddhi tan atmahan ajanma, ring tuju tluh tranjana, desti
upaya krya upaya, ujar ala, ipen ala, Ong aji danurweddha, para satata, rep
sirep, rep sirep, rep sirep. Ini adalah pencabut orang kena guna-guna.
Sarananya, air tawar dimasukkan ke dalam buah kelapa yang berwarna hitam
dipotong ujungnya hingga berlubang dan alasnya dipotong sedikit hinga buah
kelapa itu bisa tegak berdiri (sibuh cemeng). Tuangkan air tawar ke dalam

118
sibuh sebanyak tiga kali, dalam kalipatan hitungan yang ketiga sibuh menjadi
penuh. Kemudian masukkan bunga barwarna merah, kuning, dan putih ke
dalam sibuh. Selanjutkan rapalkan japa mantra ini: Ong pritiwi akasa,
sakalangan, apan aku anambanin janma buduh, apan aku amugpug sakwehing
gunna, gunna sasapi, gunna pelet, gunna saliwah, guna ireng, gunna boolot,
tka pugpug denku, tka waras. Ong sya megha, sya tamba, sya larane syanu,
lamun ko mtu tan pahari-ari, kwasa ngko anglaranin,

119
Lontar Usada Pamugpugan

1. Ya Tuhan, semoga kami tidak menemukan rintangan. Inilah disebut Usada


Babugbugan. Sarana untuk menghidupkan rasa adalah air diberi mantra "Ong
Ah, Ung Ang Ah". Sarana obat untuk penyakit cacar, terdiri atas air diberi
mantra "Ong Ang Ung Mang Mang Mh, Awreyah". Sarana untuk penawar
penyakit adalah air diberi mantra "Ang Asweryr". Sarana untuk pematuh
terdiri atas air diberi mantra "Asweryuh, Ong masa". Sarana penempur
segala penyakit terdiri atas air diberi mantra "Ong tay I y. Ong tay A I,
yata A I Ong". Sarana penawar penyakit batuk, mata mengeluarkan darah dan
nanah terdiri atas air ditaruh di dalam sibuh (tempurung kelapa kecil), diisi
bunga kamboja, diberi mantra "Ong Ai Ih, Ong Ih A Ah", lalu air itu
diminum. Sarana obat penyakit mata, terasa sakit seperti menusuk-nusuk,
terdiri atas air ditaruh dalam sibuh, berisi bunga waribang, diberi mantra

2. "Ong Ang Ah, Ong Ah Ang". Sarana untuk peruwatan terdiri atas air diberi
mantra "Ong Ang Ah, Ah Ang Ong". Sarana obat penyakit filek disertai dan
panas badan terdiri atas air diberi mantra "Ong A AH, Ih Ah Ong". Atau juga
boleh menggunakan sarana apa saja untuk menyembuhkan segala jenis
penyakit, diberi mantra "Ong Ang Ah, Ong Ah Ang". Sarana obat penyakit
perut terdiri atas air diberi mantra "A A A, Ah Ah Ah, Ah A, A, A". Sarana
penawar segala jenis penyakit terdiri atas air ditaruh dalam sibuh berisi bunga
merah, diberi mantra "Ong Ih Eh Ah Ung Oh Ah, Ong Ih Ong Ih Ung".
Sarana untuk penawar panas badan terdiri atas air diisi bunga merah, diberi
mantra "Ong Eh Ang, Eh Ong Ang, Ong Ang Eh, ngrya madhisng". Sarana
obat untuk segala jenis penyakit, terdiri atas air diberi mantra. Ketika
merapalkan mantra, dukun wajib mendampingi sesajen terdiri atas sesajen
sagi-sagi, uang 7, beras 7 genggam, sirih 3 lembar. Mantranya adalah "Ung
Ang Ang Ung Ah Ang". Sarana obat lesu terdiri atas air. Ketika merapalkan
mantra, janganlah bernafas (nafas ditahan). Mantranya adalah "Ong

3. Ang Ah". Sarana obat sakit terasa seperti menusuk-nusuk, terdiri atas air
diberi mantra "Ong Mang Ah, Ong Ah Mang". Sarana obat untuk sakit perut,

120
terdiri atas buah pinang diberi tulisan gaib A diberi mantra A. Lalu buah
pinang itu dimakan oleh pasien. Sarana untuk menghidupkan tenaga terdiri
atas air, dipercikkan di atas ubun-ubun pasien, diberi mantra "Ong Ah, Ah
Ong". Sarana untuk pembangkit darah terdiri atas air diberi mantra "Ong Ah
Ang, Ang Ah Ung". Cara untuk menaklukkan guna-guna, seperti desti,
dengen, dan babai boleh menggunakan sarana apa saja, diberi mantra
"aas, aa sangsay". Sarana untuk memproteksi rumah dari berbagai
pengaruh jahat, terdiri atas segenggam nasi ditaruh di halaman rumah, diberi
mantra "Apah pasa A". Sarana untuk penawar segala jenis penyakit terdiri atas
air diberi mantra "A Ang, A Ang". Mantra untuk menambah kekuatan doa
adalah "Ong Ang Ah, Ong Ah Ang". Sarana penawar untuk penyakit akibat
terserang racun hewan/binatang, terdiri atas air diberi mantra "Ah Ih Ih A".
Sarana untuk penakut lawan terdiri atas tanda tambah diberi mantra "Ong Ong
Ong". Adapun yang dimaksud adalah

4. letak tempat sucinya di dalam tubuh, yaitu Ong berada di tengah lidah sebagai
tempat Bhatari Durga, Ong di pangkal lidah, dan Ong di ujung lidah.
Mantranya adalah "Mryuh, Ang Ah A". Ada lagi mantra yang lain yaitu "Ah
Ah Ang, A Ang Ah, mryuh". Sarana untuk mengusir roh-roh jahat seperti
Kala, Bhuta, Dengen terdiri atas air diberi mantra "Ang Ung Mang, Ung
Mang Ang". Sarana untuk melepaskan panas di dalam tubuh, terdiri atas air
diberi mantra "Uh Ah Aih Ih"; atau dengan mantra "Ah Ih Uh Aih mryuh".
Sarana untuk mengikat panas di dalam tubuh terdiri atas air diberi mantra "Ing
Ung mang Ang Ong, Ong Ung Mang Ang Ing". Sarana untuk peruwatan
terdiri atas air diberi mantra "Ariyuah, Ong Ang Ung Ing Yang". Sarana untuk
penawar racun hewan/binatang terdiri atas air diberi mantra "Ong Ang A, Ang
A Ong". Sarana untuk pengampuh obat supaya obat itu menjadi ampuh,

5. terdiri atas air diberi mantra "Mriyum, Ung Ang Ong Mang Mng". Sarana
untuk penawar guna-guna Bali, guna-guna Sasak, guna-guna Jawa terdiri atas
air ditaruh di atas ubun-ubun pasien. Peruwatan terhadap pasien dilakukan di
Pura Dalem. Mantra peruwatannya adalah "Driyeryuh, Ariyeryuh, Ah Jng,
Ong Ang Ung Mang O E Ah Ih". Sarana untuk mengasapi pasien terdiri atas
dupa, kemenyan diberi mantra "Ah Ah E Ang, Ing Ah, Ung Ong Bng".

121
Sarana untuk panyarang daging terdiri atas air diberi mantra "Ong Ah Ang".
Sarana untuk menyimpan daging, terdiri atas air diberi mantra "Ong Ang Ah,
Ung Ah Ang, Ong Ang Ung Mang Sng Yang Yng". Sarana obat untuk
penyakit infeksi terdiri atas air diberi mantra "Ong Mang Ah, Ong Ah A".
Sarana obat untuk bayi sering menangis terdiri atas air diberi mantra "Ong
Mang I, Ong Ang A". Sarana obat untuk bayi semasih dalam kandungan
terdiri atas air diberi mantra "Ung Ang Ah". Sarana obat untuk bayi dalam
kandungan yang kekurangan air ketuban, terdiri atas air diberi mantra "Ung
Ang Ah,

6. Ong Ah Ih". Sarana untuk penyakit berbahaya atau terserang guna-guna terdiri
atas air diberi mantra "Ong Ang Ung Mang Ong Ang Ing, Ong A E,
Mryum". Sarana obat untuk bayi tidak bisa kencing terdiri atas air diberi
mantra "Ong A S, Ong Ang Yang". Sarana untuk penawar sakit perut dan
tidak bisa kencing, terdiri atas air diberi mantra "Ong Mang Ang, Ong Ah
Ang, Ong Ang Ing". Sarana untuk penyelamat ibu yang sedang melahirkan,
terdiri atas air diberi mantra "Uh Aoh Aih Aeh A Ah". Sarana untuk
menolong kelahiran bayi terdiri atas air diberi mantra "Ong Ang Ing, Ong Ah
Ing". Sarana untuk meruwat bayi yang diserang roh jahat si Bajangan, terdiri
atas air diberi mantra "I I Ing, U U Ung, A A Ang, Mriyum". Sarana
peruwatan bayi setelah berumur tiga bulan, terdiri atas air diberi mantra "Ong
A Ih, Ing Mang Ong". Sarana peruwatan bayi terdiri atas air diberi mantra
"Ang Ung Mang Ong Ong, Ong Ang Ung syng". Sarana penawar untuk
bayi sering menangis terdiri atas air diberi mantra "Ong Mang I, Ong

7. ayng". Inilah sarana obat untuk penyakit berbahaya terdiri atas air diberi
mantra "Ong Ang Ung Mang Ah Ang, Ung Ang Mang". Sarana obat untuk
penyakit tuju (reumatik), terdiri atas air diberi mantra "Oh Ah Ih Ang, Ong
Ong Ang Ung Mang Gang". Sarana peruwatan terdiri atas air suci, bunga
putih 5 butir, air liur, uang 1700, lengkap dengan sesajen. Mantranya adalah
"Ong pungusyaki sang dew, ip aku anglukat bhaari drgg, apan bhaara
guru sumusup ring awak sarirant, anglukat bhatar drgg, kasmala tka
gsng, gsng, gsng, gsng, tk ngayng, ngayang, ngayang, Ong Ang
sng, tka atas, Ang, Ong tuhun dadi yeh, mnek dadi angin, tk mukah, tk

122
mntr, apanku dewa anglukat bhaari drgg, muwah mbanir, ingaran i
kli kalik, mulih maring aka, Ang Ung Mang Ang ring sanghyang
sandew bhaara wiu

8. anglukatan bhaar drgg, mulih maring arir, tk lpas, lpas, lpas, lar
ring arir, Ong Mriyuh". Sarana obat untuk bayi terserang penyakit migrin,
atau dinamakan kasuban, menangis, menggeliat-geliat, terdiri atas sudamala,
tutup buah pinang, tutup buah kelapa, inti bawang merah, dilumatkan, diberi
mantra "Ong Ba E angrebut dumadi, angrebut atma kabeh, sapulung sapulung
tungkat, Ong wruh marupa tungkal, tka patuh ringkup, asih, asih, asih". Ada
lagi sarana obat untuk bayi menggeliat-geliat kesakitan, terdiri atas daun sirih
tua, biji jambu air putih, alang-alang, bawang putih, jangu, tetapi jangan
sampai mengotori bayi itu. Besok sorenya dibuatkan air hangat diisi ramuan
bangle dan air cendana, diberi mantra "Ong bajra wiset swaha". Sarana obat
sakit perut mendadak terdiri atas air diberi mantra "Mang Ung ngriyung".
Sarana obat untuk penyakit kangsuban (migrin),

9. terdiri atas air diisi bunga meduri putih dan daun wani, ditaruh dalam sibuh,
untuk memercikki pasien. Mantranya adalah "Ong idp aku sanghyang
kamalatantra, mtu ring kundi manik, jg tumurun ring lmah, putih
pamatuhang sakwehing dusta durjana, anyatur bhuwana, patuh tka patuh,
patuh, patuh". Sarana untuk mencabut penyakit blagodo (sejenis migrin,
vertigo), terdiri atas air tawar ditaruh dalam periuk baru, diisi samsam (irisan
daun temen dan kembang), beras kuning, bunga putih, dan uang sesajen 1700.
Mantranya adalah "Ong Mang Ah". Sarana untuk melepaskan panas dalam
tubuh terdiri atas air diberi mantra "Ang Gang Gang Gang, dadi yeh, dadi api,
tka lelo lelontok". Sarana untuk membakar (memusnahkan) segala jenis
penyakit terdiri atas air diberi mantra "Ong Ang kalagni, ludra ya namah".
Mantra untuk memulai membuat ramuan obat adalah "Ong Ang Ung mang
Ang, Ong Mang Ung Hang Gang Ang, Ong Hang Ung A". Sarana penawar
penyakit panas-dingin terdiri atas air

10. diberi mantra "Ong Mang Ang, Ong Mang Hang Ong Ih Ah, Ung mang Ih
Ang". sarana untuk penawar panas terdiri atas air diberi mantra "Ong taya Ah

123
Ih, Ong taya Hing". Sarana obat penyakit mata terdiri atas air diberi mantra
"Ong taya Ah Ih". Sarana obat sakit kepala terdiri atas air diberi mantra "Ong
Mang Ah, Ah Mang Ung". Sarana obat panas terdiri atas air diberi mantra
"Ong Ang Ung Mang Ing, Ong Ang Ung Mang A". Sarana penawar tubuh
hangat terdiri atas air diberi mantra "Ong Ing Tang Ang, Ih Ong Ang". Sarana
obat sakit ngd terdiri atas air diberi mantra "Ong Ih Ang, Ang Ong Ih".
Sarana obat sakit bngang terdiri atas air diberi mantra "Ong Mang Ong, Ong
Ong". Sarana obat sakit jampi terdiri atas air diberi mantra "Ong Ih Ah, Ih Ah
Ong". Sarana obat untuk sakit panas gelisah, terdiri atas air diberi mantra
"Ong Ing Hang Gang Ung Mang Ang, Ang Ong Ing Hang Gang Ung Mang".
Sarana obat mencret terdiri atas air diberi mantra "Ong Mang Ah,

11. Ang Ong Mang". Sarana obat sakit panas-dingin (dumalada lanus) terdiri atas
air diberi mantra "Ang Ang Ah Mang, Ah Ang Ong Ung". Sarana yang
digunakan untuk memandikan pasien menderita sakit panas diberi gambar dan
tulisan gaib Ayang, dan diberi mantra "Ayang". Sarana obat sakit dingin,
terdiri atas air diberi mantra "Ong, Ang, Ong Ang Ung, Ang Ong". Sarana
obat sakit kepala dan pusing-pusing terdiri atas air diberi mantra "Ong Mang
Ing, Ong Ing Mang". Sarana obat untuk sakit pamali (sakit perut melilit),
terdiri atas air diberi mantra "Ong Ing mang Ang, Ing Mang Ang Ong".
Sarana obat bengkak, terdiri atas air diberi mantra "Ong mang Ung Ing, Ang
Ung Mang". Sarana penawar sakit sariawan terdiri atas air diberi mantra "Oh
Uh A I, Eh A Ing Oh". Ada lagi sarana untuk penyakit sariawan terdiri atas air
diberi mantra "Ong Ang Mang Ung Ing Mang, Ing Mang Ong Ang Mang
Ung, Ong Ma Mang". Sarana untuk penenang tenaga (aliran nafas), terdiri
atas air diberi mantra "Ung Mang Ing, Mang Ing Ung". Sarana untuk memulai
pengobatan terdiri atas air diberi mantra "Ong A Ang, Ing Ong Tayaha".
Inilah sarana penawar penyakit panas

12. dan cacar, terdiri atas air diberi mantra "Ong A I Taya, Ong taya hiya". Inilah
sarana penguat tenaga terdiri atas benang tridatu (merah, putih, hitam),
dipakai gelang tangan, dililitkan tiga kali di tangan kanan disertai dengan
sesajen canang daksina, uang 1700. Mantranya adalah "Ong suksma
parahyang, para dewa suksma kuta, suksma paribhuta, hilang ywawaka, aweh

124
urip, aweh urip, ring awak sarirane syanu, tka pagh, pagh, pagh". Sarana
untuk keselamatan jiwa terdiri atas air diberi mantra "Mang Ung Ong Ang".
Sarana untuk peruwatan terdiri atas air diberi mantra "Mryuh O Ang A A Ang
Ung Ah pet". Sarana obat untuk segala jenis penyakit akibat serangan racun
hewan/binatang, terdiri atas air diberi mantra "Ong Ak Ik Ung Ak Ek".

13. Inilah dinamakan ajian Sastra lingga kuta, boleh menggunakan sarana apa
saja. Kedudukan aksara sucinya sebagai berikut.............Ong............Ang..........
Wa Ung Sang Ang Mang Ung............E............Mang............Ong..Inilah sarana
peleburan segala jenis bencana yang menimpa diri kita, terdiri atas air bersih,
bunga-bunga yang harum, diberi mantra "Ong Indraku suksma nama swaha".
Inilah gambar formulasi aksara sucinya.............Ong I............
A....Ka....Lyu....Yang....Ang....Mang....Ong........Ah

14. Inilah mantra pembukaan ketika dukun mulai melakukan pengobatan, yang
konon dilakukan oleh banyak dukun, inilah sarana dan mantra yang dipakai,
yakni terdiri atas air ditaruh di dalam sibuh hitam. Inilah mantra/aksara
sucinya (lihat pada lembaran teks lontar di atas). Inilah penjelasan tempat
keempat dewa yang merasuk menjadi satu, yaitu dinamakan Windu Nur.
Windu Nur itu merupakan tempat masuknya keempat dewa, lintas keluar-
masuk dewa di makrokosmos dan mikrokosmos. Gambarnya adalah sebagai
berikut (lihat gambar pada teks lontar).

15. Inilah ajian Sastra Wyanjana, atau juga dinamakan Kaputusan Siwagriguh,
ajian tersebut harus dipahami dan bagaimana cara penggunaannya. Demikian
pula makna sastra pantn, segala macam makuta, termasuk suaranya, penanda
bunyinya, dan jangan sampai salah paham dalam menggunakan aksara suci
ini, sebab sangat berbahaya, serta bisa tertimpa kutukan. "Ong saraswati
abrasolah, pasastra nama swaha. Ha na ca ra ka da ta sa wa la ma ga ba nga pa
ja ya nya... (lihat teks lontar) aksa, windu sunya". Inilah ajian untuk
memusnahkan mendung. Caranya adalah berkonsentrasi sambil menunjuk
matahari. Mantranya adalah "Ong murub ikang surya, gsng ikang megha,
dadi angin". Inilah dinamakan gambar dasabayu ... (lihat teks lontar)

125
16. Inilah formasi sepuluh aksara suci di dalam kastuban ... (lihat teks lontar).
Adapun letak aksara suci di dalam tubuh, yaitu aksara ha berada di angan;
aksara na berada di hati; aksara ca berada di pangkal lidah; aksara ra berada di
alis; aksara ka berada di telinga; aksara da berada di dada; aksara ta berada di
mata; aksara sa berada di putih mata; aksara wa berada di pinggang; aksara la
berada di bibir; aksara ma berada di muka; aksara ga berada di leher; aksara
ba berada di bahu; aksara nga berada di hidung; aksara pa berada di kaki;
aksara ja berada di tangan; aksara ya berada di suara; aksara nya berada di
asmara; windu berada di empedu; surang berada di ..., guwung kra berada di
..., suku kmbung berada di ..., cck berada di ruas-ruas tubuh.

17. Ingatlah dengan baik cara membunyikan aksara ini, batas-batasnya, tempat di
dalam tubuh, di dalam Usada, di dalam Tutur, di dalam Gata, di dalam Ngadi,
di dalam Pranawa, semua sastra cacahan ... Hang Hang Hang. Hram Hram
Hram. Hrm Hrm Hrm. Hung Hung Hung. Heng Heng Heng.

18. Hng Hng Hng.Ing Ing Ing. Hong Hong Hong. Hp Hp Hp. Rang Rang
Rang. Wrum. Hrang. Hr, Wreyu. Mrang. Sroh.

19. Hrm. Wrueh. Trungm. Hrm. Hi Hi Hi. Hp, Hp, Hp. Hngp Hangp
Hangp. Har Har Har. Hun Hun Hun.

Lontar Usada Rare

1. Semoga tidak menemukan rintangan. Inilah tanda-tanda bayi terkena


penyakit. Jika bayi lemah tanpa tenaga, dinamakan terserang penyakit upas
tawun. Ramuan obatnya terdiri atas gula, sinrong, dan air jeruk nipis, diramu
untuk diminum. Jika ada tampak garis-garis merah pada kuku si pasien, itu
dinamakan terserang penyakit upas hyang. Ramuan obatnya terdiri atas
rumput karasti, adas, bawang tambus, diramu untuk diminum. Jika pada kuku
si pasien tampak gumpalan darah, dinamakan terkena penyakit upas
warangan. Sarana obatnya terdiri atas asam, air beras, diramu untuk diminum.
Jika mata si pasien tampak kuning agak kemerahan, dinamakan terserang
penyakit upas dewek. Ramuan obatnya terdiri atas kulit mangga hijau, asam,

126
air bayam merah, diramu untuk diminum. Jika kuku si pasien tampak
berwarna kuning, dinamakan terserang penyakit krikan gangsa. Ramuan
obatnya terdiri atas kunir warangan, kotoran itik,

2. diramu untuk diminum. Inilah obat penawar racun, terdiri atas akar pepe dan
adas 3 butir, diramu untuk diminum. Jika tangan, kaki, dan tubuh si pasien
kejang-kejang, matanya agak memerah, dinamakan terserang tiwang penyu.
Ramuan obatnya terdiri atas tuba jenu, buah pala, kemenyan, sarilungid,
sinrong, diramu untuk diminum. Jika mulut si pasien menganga atau tertutup
rapat, bulu tubuhnya berdiri, rambutnya kaku, dinamakan terserang penyakit
tiwang sona. Ramuan obatnya terdiri atas mandalika, daun pangi, bawang
merah, bawang putih, jangu, beras merah, diramu untuk bedak. Jika mata si
pasien tampak kering dan berkedip, dinamakan terserang penyakit tiwang
kapi. Sarana obatnya terdiri atas air jeruk nipis, merica, kencur, bawang
merah, bawang putih, jangu, beras merah, diramu untuk bedak. Jika
berbengah-bengah, dinamakan terserang penyakit tiwang jaran. Sarana
obatnya terdiri atas akar dalungdung, kulit dan akar kayu kapal, bawang
merah, bawang putih, jangu,

3. diramu untuk bedak. Ada lagi tanda-tanda penyakit tiwang pada bayi, yaitu
jika tangan dan kaki si pasien kejang dan kaku, dinamakan terserang penyakit
tiwang gurita. Sarana obatnya terdiri atas daun meduri kuning, bawang merah,
bawang putih, jangu, beras 21 butir, diramu untuk bedak. Jika tubuh si pasien
terasa berat, dinamakan terserang penyakit tiwang kebo. Sarana obatnya
terdiri atas akar kaktus, akar beluntas, bawang merah, bawang putih, jangu,
beras 11 butir. Jika bayi menangis kesakitan siang-malam, tubuhnya kejang-
kejang, dinamakan terserang penyakit tiwang kupu-kupu. Sarana obatnya
terdiri atas bunga nagasari, dioleskan di antara kedua alis. Sarana obat bayi
sering menangis malam-malam hari, terdiri atas daun sembung, sigugu,
temulawak, bawang merah, bawang putih, jangu, diramu dan dilumatkan
dipakai bedak. Sarana obat bayi sering menangis pada malam hari, abu dapur,
dijumput 3 kali, ditorehkan di dahi si bayi. Sarana penawar untuk bayi sering
menangis pada malam hari, yakni daun lontar,

127
4. ditulisi kalimat "Om sibyang babyang, Om syah asyah", dan daun lontar itu
ditaruh di bawah tempat tidur bayi. Penawar untuk bayi sering menangis
malam hari, dinamakan terserang penyakit bajang tumereretan, yakni getah
nangka, dioleskan di antara alis si bayi. Sarana penawar untuk bayi suka
menangis malam hari, yaitu satu gayung air disiramkan ke ujung atap dapur,
dihadangi kukusan, dan air itu dipakai memandikan bayi, dengan
memohonkan keselamatan kepada Bhatara Brahma. Sarana penawar untuk
bayi kesakitan adalah daun lontar diberi tulisan "brahoh sasah bwasah
litsyaha" dan diberi gambaran raksasa. Lontar itu ditaruh di tangan kanan si
pasien. Jika bayi kadangkala tampak pucat, mukanya tampak agak memerah,
dinamakan terserang penyakit katepuk tegah dewa.

5. Sarana obatnya terdiri atas inti laos, inti kunir, inti lampuyang, beras merah 12
butir, diramu untuk diminum. Apabila bayi menderita sakit perut, terasa
melilit, dinamakan penyakit tiwang gurita. Sarana obatnya adalah akar dapdap
hutan, akar kelor, bawang merah, bawang putih, jangu, diramu untuk
diminum. Ada lagi jenis penyakit tiwang tikus yang berjangkit di pusar.
Sarana obatnya adalah daun samanjahi, merica 21 biji, bawang putih, jangu,
diramu dan dipoleskan di bagian tubuh yang sakit. Jika terserang penyakit
tiwang terasa menusuk-nusuk di pusar, sarana penawarnya adalah akar terung
bola, akar lalang, bawang putih, jangu, air liur merah, diramu dan dioleskan
pada bagian tubuh yang sakit. Jika bayi menderita muntah-muntah,
dinamakan terserang penyakit tiwang belabur, sarana obatnya adalah daun
sirih tua 7 lembar, daun jeruk rontok 7 bidang, bawang merah, bawang putih,
jangu, direbus dipakai minuman. Inilah

6. tanda-tanda bayi menderita sakit panas, atau tubuhnya gerah, janganlah


kurang waspada memeriksa nafas dan matanya, jika putih matanya tampak
berisi darah, hitam matanya tampak kekuning-kuningan, pertanda si pasien
panas. Jika putih matanya tampak agak kekuning-kuningan, dan juga anak-
anakan matanya kekuning-kuningan, bibirnya kering, pertanda si pasien itu
panas. Jika sekujur tubuh si pasien berbuah-buah, bulu tubuhnya berdiri,
rambutnya kaku, periksalah dari kedua tangannya, jika ada aliran nafas deras,
mendesir, pertanda si pasien panas. Apabila dada si pasien ditekan, muncul

128
detakan tenaga, nafas di hidung terasa panas, bibirnya kering, jari-jari tangan
dan jari-jari kakinya dingin, pertanda si pasien panas dalam. Jika putih mata si
pasien tampak kebiruan, juga anak-anakan matanya berwarna biru,

7. aliran nafas berkumpul di mulutnya, pertanda si pasien kedinginan. Jika dada


si pasien ditekan, tidak ada getaran, nafas yang keluar dari hidung terasa
dingin, pertanda si pasien kedinginan. Apabila jari-jari kaki si pasien terasa
dingin, nafas yang keluar di hidung juga terasa dingin, pertanda si pasien
kedinginan. Jika putih mata si pasien tampak kekuningan, dan juga hitam
matanya berwarna kekuningan, tangan dan kakinya dingin, setiap menjelang
sore hari, nafas muncul di bibir terasa panas, pertanda si pasien menderita
kegerahan. Apabila tubuh si pasien terasa gerah setiap sore hari, nafasnya
kencang, nafas yang keluar dari hidungnya terasa panas, pertanda si pasien
menderita panas. Dan jika nafasnya mengendor, jari-jari tangan dan kakinya
dingin setiap sore, nafas yang keluar dari mulut terasa panas, pertanda si
pasien menderita penyakit sebaha gantung. Apabila bibir si pasien pecah-
pecah, nafas di hidungnya terasa panas,

8. aliran tenaganya panas, tangan dan kakinya dingin, pertanda si pasien


menderita sebaha jampi. Dan jika bibir si pasien pecah-pecah, nafas di hidung
terasa dingin dan agak tertahan, jari-jari kakinya dingin, sekujur tubuhnya
gerah, pertanda si pasien menderita sebaha jampi. Jika bibirnya kering, dan
mual-mual, nafas di hidung terasa panas, gerah setiap menjelang sore, tangan
dan kakinya dingin, pertanda si pasien menderita sebaha jampi. Dan apabila
jari-jari kaki si pasien panas, nafas di hidung terasa dingin, pertanda si pasien
menderita asrep kapendem. Jika nafas di hidung si pasien terasa panas, jari-
jari kakinya panas, kukunya tampak kemerahan, pertanda si pasien menderita
panas terus. Jika jari-jari kakinya dingin, bibirnya terbuka-tertutup, pertanda si
pasien menderita srep terus. Sarana obat untuk bayi tidak

9. mau makan, dinamakan menderita sebaha nyuh, adalah miana hitam, sulasih
harum, daun tatahiwak 3 pucuk, jeruk nipis, air cendana, adas, dilumatkan dan
direbus, dipakai mandi. Sarana obat bayi menderita panas-dingin adalah
lampuyang, lenga wijen, dipakai obat gosok. Dan sarana obat popok kepala

129
adalah gamongan kedis, musi, minyak kelapa, diramu dan dipendam dalam
abu panas, dipakai popok kepala. Dan sarana obat popok di pusar adalah
serabut dedap, pantat bawang putih. Sarana obat panas-dingin adalah buah
pala, dewandaru, ler wandawa, dipakai bedak. Sarana obat untuk bayi panas
adalah beras merah, buah sirih, bawang, adas, dipipis untuk dijadikan bedak.
Ramuan obat untuk bayi panas adalah daun waribang, daun gandarusa kling,
air arak, dipakai menggosok tubuh pasien.

10. Sarana obat untuk bayi panas adalah daun gandarusa kling, temulawak,
bawang merah, bawang putih, jangu, diramu untuk menyembur. Obat untuk
bayi panas adalah daun sembung, bangle, kelapa bakar, temulawak, dipipis
dijadikan obat gosok, dan sarana obat untuk menyembur tubuhnya adalah
daun sirih, daun sembung, dilumat lalu dicampur dengan garam, gamongan,
dipakai menyembur. Sarana obat panas membara dan gelisah adalah kelapa,
adas, air jeruk nipis, dipakai ramuan air mandi. Sarana obat panas gerah
gelisah adalah akar sembung, akar kesimbukan, akar pancar sona, kelapa
bakar, bawang tambus, air ketan gajih, garam yodium, diramu untuk
diminum. Sarana obat untuk anak-anak menderita kegerahan dan gelisah
adalah paspasan, padang lepas, limau, dipakai bedak. Sarana obat bayi (anak-
anak) gerah gelisah adalah akar

11. katepeng, bunga paspasan, cendana, banyu tuli, dipakai ramuan air mandi.
Sarana obat untuk bayi/anak-anak menderita gerah seperti dipanggang adalah
kulit pohon pule, air jeruk nipis, bawang, adas, diramu untuk minuman.
Sarana obat bayi/anak-anak menderita panas gelisah adalah kayu tulak, kayu
sangka, dahusa kling, cendana, air limau, dipakai obat bedak. Dan sebagai
obat minum adalah padang lepas, asam, bawang tambus. Sarana obat bayi
panas dalam, dipakai menyembur tubuh si pasien, adalah daun kameniran,
paspasan, adas, pulasari. Sarana obat minum untuk bayi/anak-anak menderita
panas dalam adalah akar silagui, adas, air santan. Sarana obat minum untuk
bayi menderita panas dalam adalah tunas daun pancar sona, bawang mentah,
air beras.

130
12. Sarana obat untuk bayi menderita panas dalam adalah kembang wane,
belimbing besi, bawang mentah, air ketan gajih, diteteskan di hidung pasien
dan dipakai minuman. Sarana obat untuk penyakit tiksna kapendem adalah
labu siam, temulawak, bawang tambus, dipakai menetes hidung dan untuk
diminum. Sarana obat bayi menderita panas adalah tunas kapuk, tunas kelapa
dibakar, bawang tambus, air ketan gajih, dipakai obat tetes hidung dan juga
untuk diminum. Ada lagi ramuan lain terdiri atas tunas kelapa dibakar, tunas
kapuk, tirisan rotan, damuh klengis, pijer bakar, dipakai obat tetes dan obat
minum. Sarana obat untuk bayi panas adalah kulit pohon ulu, air ketan gajih,
air cendana, diisi air jeruk nipis, sarilungid, bawang tambus, dipakai
minuman. Obat untuk bayi menderita sebaha jampi adalah akar medong, daun
sembung, kesimbukan, dingin-dingin, kelapa bakar, ditim dan dikukus

13. diramu dengan sarilungid, bawang tambus, untuk diminum. Sarana obat untuk
bayi menderita sebaha jampi adalah daun dan akar belimbing besi, daun orob,
dan kulit pohonya dibakar, akarnya ditambus, empu kunir tambus diambil
intinya saja, asam bakar, bawang tambus. Sarana obat untuk bayi menderita
panas dan perut kembung adalah daun kameniran, daun sumanggi gunung,
kulit pohon pule, air ketan gajih, ditumbuk, disaring untuk diminum. Obat
bayi menderita perut kembung adalah daun canging, padang lepas, adas,
dijadikan obat sembur. Obat untuk bayi menderita perut kembung dan kaku
adalah asam, pulasari, santan, diminum. Obat untuk bayi menderita perut
kembung dan kaku adalah daun mer, daun teki, bawang, adas, dipakai obat
sembur. Obat untuk bayi menderita perut kembung

14. dan kaku adalah bangle, mesui, diramu untuk menyembur. Obat untuk bayi
menderita perut kembung, tidak mau buang kotoran dan kencing adalah daun
waribang, air limau, inti kunir, santan, diminum. Obat untuk bayi menderita
perut kembung menggelisahkan adalah daun belimbing besi, bangle, bawang,
adas, dipakai menyembur. Ada lagi sarana lain adalah daun tinga-tinga,
bawang, adas, dipakai menyembur. Obat untuk bayi menderita perut kembung
adalah sawi, kunir warangan, air hangat, diminum. Obat untuk bayi menderita
penyakit jampi bengka adalah akar sembung, akar silagui, akar dedap, pancar
sona, kelapa muda kopyor, dijadikan tim dan dikukus hingga matang, lalu

131
diramu dengan sarilungid, belulang kerbau, dipakai obat minum. Obat untuk
bayi menderita penyakit jampi bengka adalah buah delima, daun kesimbukan
hitam, dilumat dicampur dengan air arak, lalu diminum. Obat untuk bayi
menderita jampi adalah akar jaruti

15. putih, temulawak, ginten hitam, gula, santan kelapa bakar, garam yodium,
diramu untuk diminum. Obat untuk bayi menderita penyakit jampi panas
dalam adalah daun dan akar belimbing besi, kelapa bakar, pulasari, diramu
dengan sarilungid, adas, inti bawang tambus direbus hingga matang, lalu
diminum. Obat untuk bayi menderita sakit jampi, terasa sakit di pinggang, di
bibir, dan di lidah, serta merasa sesak, adalah akar dedap, akar kendal batuka,
kulit pohon waribang, sulasih harum, diramu dengan gambir anom, adas,
pulasari, sarilungid, bawang tambus, ditim dan dikukus, disaring untuk
diminum. Obat untuk bayi menderita jampi dan perut kembung, dinamakan
penyakit jampi agung, dan terasa kaku di bagian hulu hati, agak perih, batuk
agak kering tidak putus-putusnya, sarana obatnya adalah akar kutat kedis, akar
kelapa kopyor muda, kulit pohon ulu, diramu dengan gambir anom,

16. dipipis untuk obat minum. Sarana untuk menyembur tubuhnya adalah daun
kutat kedis, diiris tipis dan dicuci dengan air bersih, lalu dipepes diramu
dengan ketumbah bolong, untuk menyembar bagian perut pasien. Dan ramuan
obat untuk menyembar hulu hati pasien adalah kulit pohon pule yang tebal,
kelapa bakar, ketumbah bolong. Obat untuk bayi menderita jampi kalingsih
adalah buah belimbing besi, pulasari, dimakan. Daun belimbing besi dicampur
dengan adas dipakai bedak di bagian pinggang. Obat untuk bayi menderita
jampi kalingsih adalah daun dan akar pasatan lingir diramu dengan adas,
bawang tambus, gulasari, santan kane, direbus hingga kental, lalu diminum.
Obat untuk bayi menderita sakit perut kaku adalah sulasih harum, bangle,
ginten hitam, dipakai bedak. Obat untuk bayi menderita perut kaku adalah
empu kunir, lampuyang ditambus, ketumbah,

17. kulabet, untuk diminum. Obat untuk bayi menderita sakit perut kaku, di hulu
hati membengkak, sarananya adalah buah sirih, temulawak, ginten hitam,
untuk diminum. Dan sebagai obat sembur adalah kunir, laos, lampuyang,

132
diiris tipis diramu dengan sinrong. Sarana obat untuk dihirup oleh si pasien
adalah laos, cendana, sedikit air kapur, air jeruk nipis. Dan sebagai obat
sembur untuk si pasien adalah kulit pohon tibah, daun limau, kunir warangan,
ketumbah, garam yodium, disembur pada hulu hati si pasien. Obat untuk bayi
menderita mual-mual dan mengeluarkan buih adalah kulit pohon bunut bulu,
bawang, adas diramu untuk diminum. Dan sebagai obat semburnya adalah
bangle, kencur, akar kelor, semua sarana itu dipanggang. Obat untuk bayi
menderita penyakit jampi mual-mual adalah laos kapur, garam, santan kane,
didinginkan, lalu diminum.

18. Obat untuk bayi menderita mual-mual dan sesak di hulu hati, sarananya:
temulawak dicampur madu, diramu dengan sarilungid, lalu diminum. Obat
untuk bayi mual-mual dan sesak di hulu hati, sarananya: 3 irisan laos, bawang
putih, kapur sedikit, diramu untuk diminum. Obat untuk bayi menderita panas
dan henek di hulu hati, sarananya: daun kasine, adas, banyu tuli, diramu untuk
diminum. Obat untuk bayi menderita sakit perut, usus terasa seperti putus,
tidak bisa bergerak, sarananya: kulit pohon nyali, daun beluntas, mesui,
temulawak, gerabah dibakar lalu dicelupkan ke dalam ramuan obat, kemudian
ramuan obat itu diminum. Obat untuk bayi menderita penyakit perut,
sarananya: air cendana, kemiri, bawang tambus, diramu untuk diminum. Obat
untuk bayi menderita sakit perut, sarananya: pala, air cendana, ketan gajih,
diramu untuk diminum. Dan sebagai pupuk di pusarnya, sarananya adalah
serabut dedap, pantat bawang putih, dipakai pukuk. Obat untuk bayi
menderita sakit perut,

19. sarananya: kapur, bangle, jahe pahit, merica 3 butir, bawang merah, bawang
putih, jangu, air arak, diramu untuk menggosok tubuh pasien. Obat untuk
penyakit sula gurita, sarananya: abu dapur, pantat jeruk nipis, bawang merah,
bawang putih, jangu, air arak, diramu untuk menggosok tubuh pasien. Obat
untuk bayi tidak bisa berak, sarananya: tunas daun waru 7 lembar, limau,
bawang tambus, dilumatkan dan disaring untuk diminum. Obat untuk bayi
tidak mau berak, sarananya: daun sirih 12 lembar, garam tiga jumputan,
dilumatkan dan ditambalkan pada kandung kencingnya. Obat untuk bayi tidak
mau berak dan kencing, sarananya: kulit ari buah kemiri dan akar kemiri,

133
ditempelkan pada kandung kencing hingga ke atas kelamin. Obat untuk bayi
mencret, sarananya air ambua, bawang tambus, diramu untuk diminum.
Bedaknya memakai sarana daun kalayan dan gamongan. Obat untuk bayi

134
Lontar Usada Tiwang
1. Ya Tuhan semoga tiada rintangan. Beginilah akibat kematian yang timbul
bagi orang sakit, sembilan hari tenggang waktunya, sembilan bulan lamanya,
sembilan tahun lamanya pada bulan Sakara kematiannya. Bila pada sakara
datangnya sakit, delapan hari tenggang waktunya, delapan bulan lamanya,
delapan tahun lamanya, pada bulan Wiyanyana kematiannya. Bila Wiyanyana
datangnya sakit, lima hari tenggang waktunya, lima bulan lamanya, enam
tahun lamanya padaNamarupa kematiannya. Bila pada Sadayatama datangnya
sakit, lima hari tenggang waktunya, lima bulan lamanya, lima tahun lamanya,
pada Sparsakematiannya. Bila pada waktu Sparsa datangnya sakit, enam hari
tenggang waktunya, lima hari lamanya, delapn tahun lamanya, pada Wedana
kematiannya. Bila pada Wedana datangnya sakit, dua hari tenggang
waktunya, sepuluh hari lamanya, dua bulan lamanya, delapan bulan lamanya,
delapan tahun lamanya

2. pada Tresna kematiannya, bila Tresna datangnya sakit, sepuluh hari tenggang
waktunya, tiga bulan lamanya, empat bulan lamanya, delapan tahun lamanya,
pada Upadana kematiannya, bila pada Upadana datangnya sakit, sembilan hari
tenggang waktunya, dua bulan lamanya, sembilan tahun batas waktunya,
padaSparsa kematiannya. Bila pada Bhawa datangnya sakit, satu hari
lamanya, delapan bulan lamanya, sembilan tahun batas waktunya, pada Jati
kematiannya. Bila pada Jati datangnya sakit, lima hari lamanya, sembilan
bulan lamanya, sepuluh tahun batas watunya pada Janamerana kematiannya.
Bila pada Janameranadatangnya sakit, dua hari lamanya, sembilan bulan
lamanya, pada Awidya kematiannya. Ini disebut dengan Prathithi Samut Pada
, pada bulan ke-6, disebutAwidya , pada bulan ke-5 disebut Janamerana , Pada
bulan ke-4 disebut Jati, pada bulan ke-3 disebut Bhawa , pada bulan ke-2
disebut Upadana , pada bulan ke-1 disebut Tresna , Saddha disebut Wedana .
Bulan Destha

3. disebut Sparsa , bulan ke-10, disebut Sadayatana , bulan ke-9 disebut


Namarupa , bulan ke-8 disebut Wiyanyana , bulan ke-7 disebut Sakara
disesuaikan pada bulan terang hari pertama. Ini adalah akibat pengaruh

135
prathithi , sebagai berikut, bila menuju bulan terang pada hari, 1, 8, 15, 8, 9, 1.
Bila menuju bulan mati pada hari, 3, 13, 4, 15, gerakannya kebelakang.
Bhawa, Upadana, Tresna, Wedana, Sparsa, Sadayatana, Namarupa,
Wiyanyana, Sakara, Awidya yang tersebut diatas dan bedaknya. Pada hari
minggu penyakit pandangan hampa yang timbul, disebut Samaya lake
Kabuyutan , bedaknya, bunga waluh tekta , akar paspasan, pangkal kasa, beras
putih, bawang, digiling sampai lembut, dan lumuri. Hari senen, datangnya
sakit, aliran darah tak lancar dia sakit akibat janji, kena kutukan , bedaknya,
air kasimbukan, akar ilalang,

4. akar glagah, bawang dan adas, minum. Selasa, datangnya sakit, tenaganya
lemah tidak bisa tidur, bedaknya bunga paspasan masukkan ke dalan air, tetesi
matanya, Rabu, datangnya sakit, periksa dengan cermat tenaganya, badannya
lemah lesu, bedaknya daun pule yang telah tua, daun maja, serbuk cendana,
sembur tengkuknya, Kamis datangnya sakit, napasnya tidak normal, kuping
mendengung, bedaknya, air buah pinang, air bawang, tetesi matanya. Jumat
datangnya sakit, denyut nadi terasa panas, otot berdenyut, kesemutan, disebut
antu ile , bedaknya daun calilingan , kapulaga, inggu, kemangi, bawang, air
jeruk, urut si sakit, bedaknya sampar wantu , dagisekal , irisan kulit jeruk, air
jeruk, Sabtu, datangnya sakit, hendaknya melakukan upacara Upadana Pitre ,
telinga bersuara dan selalu keluar air disebut Samaya Pati , berikutnya

5. hendaknya dilakukan upacara nyegjeg tuwuh , bedaknya, bunga wari merah,


bunga uwu, beras merah, sembur tengkuknya. Berikutnya upacaranya, nasi
merah, ikannya, udang bakar, dan buah-buahan, buat sasayut, ditaruh di depan
si sakit, kemudian dilakukan penghormatan oleh si sakit, haturkan upacara itu
dan menyentuh kuping kiri. Pada hari Umanis datangnya sakit selalu datang
setiap tahun, dan menderita sakit hati. Pada hari Paing , datangnya sakit,
Bhatara Wredi Suklilap , perilaku dan upacaranya, dan tempat sucinya rusak,
si sakit dikuasai oleh setan. Upacaranya, asu bang bungkem , diolah
selengkapnya dan diwujudkan kembali, dan nasi merah, ayam merah
dipanggang dibuat sasayut dan haturkan pada hari Pwon . Pada hari Wage
datangnya sakit, Bhatara Arerebu , menikmati kesejahteraan dunia, Pada hari
Kaliwon datangnya sakit, peringatan

136
6. dari leluhurnya, dan Bhatara Manca Mrana , luka dalam pikirannya tak sehat,
upacaranya, nasi lima warna ikannya serba lima, dilakukan di atas balai,
tatebasan ayam brumbun, dibakar setengah matang, buah-buahan dibuat
sasayut, taruh diatas si sakit, dan diisi dupa, beserta kembang yang berbau
wangi dan dihaturkan. Ini adalah ramalan dengan perhitungan sisa , sisa 1,
datangnya sakit, tempat suci rusak dan bocor, cepat dia akan meninggal, bisa
juga cepat sembuh bila benar perilakunya, upacaranya, serba suci, ayam putih,
dibakar, nasi putih dibakar, minyak wangi, dupa wangi, serba wangi, ditaruh
di atas si sakit. Sisa 2, datangnya sakit, disakiti oleh pamali, disebabakan oleh
perilaku pemalas, demikian pula oleh roh leluhur, upacaranya, penek merah,
ayam merah

7. dipanggang, dibentuk sasayut, sisa 3, datangnya sakit Bhuta Anggara , Bhuta


Kadurgga , menyakiti, halaman rumah menjadi angker dan mencekam,
demikian pula disakiti oleh roh jahat, demikian pula tanaman padi di sawah,
keadaan semacam itu disebut kadurgga dewi . Upacaranya, ayam ijo
dipanggang, periuk parebon, buat sasayut, macam-macam kembang, penah
dan sirih yang masih muda. Sisa 4 datangnya sakit, bermacam-macam
penyakit dideritanya, hal itu disebut pati , bila hidup untuk menjadi sehat
butuh waktu lama, penyakitnya sering kambuh, penyakitnya sering disebut
durgga wiwil dan saya pati , upacaranya,periuk ireng (hitam), dibakar, buat
sasayut, dilakukan upacara walik sumpah di sekitar rumah. Penyakit yang
terjadi pada Urukung , dikatakan penyakit luka, padaWas dan Maulu ,
penyakit bai-bai menuh terjangkit diperut. Pada hari Rebo Umanis , janji dari
pihak laki-laki menyakiti. Pada hari Rebo Pon, Kala Graha yang tinggal di
kuburan kecil menyakiti, pada hari Rebo Wage , disakiti oleh kala ,
hendaknya dibayar dengan sesaji di perempatan jalan. Pada hari Rebo
Kaliwon

8. disakiti oleh Dewa, hendaknya menghancurkan sesaji di Kamulan . Kamis


Umanis , terhalang penyakitnya, Kamis Paing , sakitnya pada urat, Kamis
Pwon , terhalang oleh roh leluhur, dibayar pada roh leluhur. Kamis Wage ,
terhalang di jalan besar, Kamis Kaliwon , roh jahat di jalan menyakiti

137
hendaknya diberi sekepal nasi, ikannya telur mentah, Jumat Umanis , jantung
berdebar penyakitnya , lakukan upacara pada mata air di tengah sungai. Jumat
Paing disakiti oleh roh jahat, lakukan upacara di Prajapati . Jumat Pwon , janji
dari kakek yang menyakiti. Jumat Wage , roh jahat menyakiti akibat dari
unsur makanan. Jumat Kaliwon , sakit karena kutukan, akibat kualat pada ibu.
Jumat Umanis , petunjuk orang tua yang benar agar dituruti. Sabtu Paing ,
tersesat di jalan besar, upakaranya, upacara, lakukan upacara pembersihan,
bebek putih. Sabtu Pwon , disakiti oleh leluhur. Sabtu Wage , kena penyakit
rematik. Sabtu Kaliwon , kena pengaruh lingkungan, diupacarai pada balai
pegat. Ini adalah cirri-ciri orang mengundang dukun, perhati-

9. kan perilakunya datang. Bila datang mengusap rambut, kemasukan roh


leluhur, upacara sesajen, serba digoreng. Bila datang sambil mengusap mata,
bidadari teratai putih menyakiti, upacara sesaji warna hitam, grang asem . Bila
datang dengan mengusap hidung, perilaku orang tua yang menyakiti, upacara
sesaji, bubursuci pitre . Bila datang mengusap mulut, ada janji pada leluhur
hendaknya dilunasi dengan upacara. Bila datang mengusap dagu, terhalang
oleh sesuatu di sungai, upacara sesaji, ayam putih, 3, lengkap dengan uang.
Bila datang mengusap lengan, ada janji menghaturkan ikat pinggang dan
dikenakan, bhuta Siwa Agni menyakiti, upacara sesaji ayam, uang sembilan,
jangan pepe (sayur daun pepe), lak-lak campurkan dengan darah itu. Bila
datang mengusap tangan dewa menyakiti, upacara sesaji, ayam hitam,
tumpeng suci, lengkap, sebut Hyang Wisnu Kala . Bila datang mengusap
perut, upacara sesaji, ayam dipanggang, tumpeng sari lengkap, bila pulang tak
menoleh ke belakang disakiti oleh dewa pada hari pasah, lakukan upacara
selamatan. Bila datang mengusap punggung, kena bencana kematian. Bial
datang mengikat tangan kebelakang, pertanda ditimpa kematian.

10. Bila datang mengusap pundak, disakiti oleh Hyang Smara , upacara sesaji,
ayam hasil membeli, tumpeng sari lengkap. Bila datang mengusap betis,
leluhur yang menyakiti, upacara sesaji, ayam dipanggang, tumpeng sari serba
lengkap, dilengkapi dengan dua buah sujang , hendaknya sesajen itu ditaruh di
sanggar, bila datang sambil mengusap tempat duduk, karena tempat atau
halaman yang tidak baik menyakiti, penawarnya adalah serbuk besi, upacara

138
sesaji, ayam putih kuning, ditaruh di atas tempat pemujaan. Bila datang
dengan sikap tangan bersemadi, leluhur menyakiti, upacara sesaji babi dengan
harga 500 dicincang sampai halus, ucapkan bayar janji! Selanjutnya bila
datang penyakitnya pada saat Umanis , Bhatara Brahma menyakiti, upacara
sesaji serba merah, ayam merah sebesar burung tekukur, setelah itu diberikan
obat semestinya. Pwon , datangnya sakit Bhatara Mahadewa menyakiti,
upacara sesaji, bubur serba dipepes, obatliligundi , jahe tujuh iris. Wage ,
datangnya sakit Bhatara Siwa menyakiti, upacara sesaji

11. tumpeng putih kuning, ikannya serba digoreng, obat, daun dedap, kelapa,
buah jambu yang jatuh dari pohonnya, sulasih, adas, pakai bedak. Pada
Kajeng Umanisdatangnya penyakit, Pamali hyang menyakiti, pada Kajeng
Paing datangnya sakit, leluhur menyakiti. Pada Kajeng Pon datangnya sakit,
karena kutukan dari leluhur, dewa berkeinginan tempat suci, dewa
berkeinginan upacara pembersihan. Bila pada Kajeng Kaliwon datangnya
sakit, jangan sampai lewat lima hari susah akibatnya dan bertambah parah.
Demikian pula pada Sapta wara , Minggu manusia yang menyakiti, Senin
sakit pada kelamin, Selasa, kena sihir, Rebo kena racun. Kamis karena rumah
menyakiti, Jumat manusia menyakiti. Sabtu, rumah dimasuki kala graha
dngen bhuta kala , Minggu Umanis datangnya sakit, sesaji, ayam putih,
kakinya kuning, tumpeng sari, lengkap, ditaruh di sanggar, sebut nama roh
pada sesaji. Minggu Pon , datangnya

12. sakit, kena sakit jiwa, sesaji, ayam putih dipanggang, nasi empat warna,
minuman keras pada batok kelapa, sebagai pembayar, hendaknya disebut
Sanghyang Mahadewi Kala . Minggu Wage datangnya sakit, keluarga yang
menyakiti, melanggar tabu, sesaji, ayam putih dan hitam, tumpeng sari
selengkapnya, sebutHyang Wisnu Kala . Minggu Kaliwon datangnya sakit,
lembab yang menyakiti, sesaji, ayam putih, tumpeng sari selengkapnya, telur,
3 butir, ucapkan Sanghyang Puyum . Berikut adalah tanda-tanda orang
meninggal, jika kotor giginya pertanda meninggal, bila rambutnya kaku
berdiri tanda mati, bila hidungnya bengkok mati, bila mengkerut telinganya
mati, terlihat bibirnya mongering mati, bila kelaminnya jamuran, pertanda
mati, bila matanya juling pertanda meninggal, bila saat tidur punggungnya

139
terlihat terangkat keatas pertanda mati. Bila tangannya bergerak-gerak
pertanda mati, keluar air dan pecah dari kakinya pertanda meninggal.
Dadanya kelihatan cekung dan menonjol ke depan pertanda mati.

13. Ini adalah pedoman pengobatan hendaknya diketahui, hati-hati dan teliti
dalam pelaksanaannya, jangan gegabah! Sebab amat sulit menerapkannya,
tentang kala kali dengan datang dan perginya penyakit sesuai dengan Triwara,
Saptawara , jangan lupa hendaknya selalu diingat, datangnya tatakson (taksu).
Ketupat 6 biji, kacang ijo yang direbus, tuak satu batok kelapa, beras 1kg,
perak 225, benang,1, kelapa, 1 butir, gula 1kg, sirih, buah-buahan, ketan,
injin, semua satu kojong. Ini petunjuk bagi yang ingin melakukan pengobatan,
hendaknya ketentuan petunjuk selalu diingat, ini penyakit pada empedu
menyebabkan pencernaan tidak normal.Ranini pajalangati, Kaka ki pajalang
arah, hayu ring sogot akan kembali normal olehnya dengan bahan sebagai
berikut, daun tangguli gending , bawang adas, dicampur sedikit garam, air
dingin, minum, upacara sesaji, daging mentah, daging babi seharga 25
kepeng, dilengkapi nasi.

14. Ra nini Paksi Kaja, ayu gri lawang , muncul pulung umbah ambuh, pulung
alad-alid, pulung ambeh kambeh, pulung pnek, tempatnya menyakiti pada
tenaga, penawarnya semua isi rempah-rempah secukupnya, air arak, minum,
sesaji, telur ayam secukupnya, bawang, jahe tua dan kacang ijo, air kelapa
muda, Bhatara Sita beryoga di arah selata, kanan , muncul pulung gandha
maya, pulung suksmu , membuat pandangan mata kabur, demikian
berpengaruh pada otak, penawarnya dikuskus, garam dapur, bawang, teteskan.
Ranini Bhatari Siwi Sakti , beryoga di depan tempat suci, muncul pulung slab,
pulung tuli , sebagai penyebab penyakit, penawarnya daun bobohan ireng ,
bawang jahe pahit, masui, air arak, teteskan pada kupingnya. Ranini Bhatari ri
Kedap , beryoga di dapur, muncul pulung kukus, pulung orab-orab , tempat
terasa sakit di dada, penawarnya, tmu bawang merah yang tua, takarannya
sama, minum dan jangan bernafas

15. Sesaji, sate sanyum , calon sanyum , getih paporot , pencok kasturi ,
ketumbar, pnek , 3, sabeng bungkak, Bhatari Wastu , beryoga menghadap

140
bumi, munculpulung alap-alap , penyakitnya terdapat pada telinga, obat
penawarnya, lelengan pusus , adadema , teteskan pada matanya, sesaji, wiwos
pajagalan , dan segala persiapan sesaji yang berhubungan dengan pnek,
bradene pinggali, Bhatari Canda Pinggala beryoga, timbul pulung hite, pulung
awrawal, pulung tan bali, sumber penyakit pada perut, terasa melilit-lilit, obat
penawarnya, kembang pepe , nagasari, minum caranya sama dengan yang
telah lalu. Bhatari Kala Cakra beryoga sebelah kanan , timbul pulung dara,
pulung gana resi, pulung kekenca, jugil bunga, pulung tuju, Obat penawarnya
, gegirang pule, katumahan air , perciki, sesaji serba lengkap. Nini Bhatari
Rupakan , beryoga menghadap tempat suci muncul pulung kambung , sumber
penyakitnya pada kaki, penawarnya, bawang, jahe, serbuk besi, air arak,
minum dan bedakkan

16. pada persendian tangan, pijat pelan-pelan. Bhatari Amangkurat , beryoga di


tengah halaman, timbul pulung angendhara, pulung ameng-ameng, pulung
rben , penyakitnya tidak memilih tempat. Penawarnya, batang daun kelapa,
sesaji, seperangkat nasi, darah bilanga, bawang jahe, dan nasi yang sudah siap
dimakan.Bhatara sira Sangapkik, Bhatara sira Sangayu , beliau beryoga di
kuburan untuk anak kecil, pada batas pabajangan , pada Tegal Malakang ,
timbul pulung sanga rupa, pulung bang, pulung ireng, pulung saliwah, pulung
ijo, pulung ckal, pulung mowa, pulung tuntun , tempat terjangkitnya di
sekujur tubuh, obat penawar, kulit kayu dedap, kulit kayu tangi, papayam
bulungan, madu klupa , asem lama, diremas dan digiling halus lalu diminum.

17. Bhatara Durgga Dngen beryoga, timbul pulung gaba pati, pulung glap, pulung
angepi , tempat terjangkitnya pada tempat pembasuh muka, obat penawarnya
garam perciki garam, sesaji, darah cambra tutukan pajagalan , nasi
sekadarnya, semangkuk sayur, tuak satu wadah. Berikut adalah penyakit
setengah sadar, tanda-tanda baru agak sehat tubuhnya, letak sakitnya bukan
pada perut, itu disebut asrep , hendaknya dibedaki dengan air sawah, upu,
namasi asram, mok gurit, denying gringen, pape upu , kayu puh pai, obat,
kulit bengkel , jahe, adas, bawang putih, dringo , mantra, sama dengan di
depan. Mokan Taluh yang menyakiti itu, pada cekung itu ditetesi, kulit
bangyang, kulit bengkel , mantra, Ong kacubung puceng, angararengada

141
gunning, tengahing sagara, kurang beyah, komba kombuh, mombak ambakan
tan katampan, tka urung , ucapkan tiga kali.

18. Mokan gonibeng , yang menyakiti, nampak bernanah, bahan obat, daun
tampak lima , bawang putih dan dringo, bangle, adas, bermacam-macam kulit
kayu,kayu pait, tuus-tuus, panduh, damuh damuh, tunu tingkih , bawang, adas,
mantra sama dengan di depan. Berikut obat orang sakit gejala edan, suka
ngoceh, bahan obat, lawos, kencur, bangle, kunir, semua diiris, dan
bermacam-macam rempah, sari, maja, muju, katumbar, tangkai cengkeh, sira
meda , merica, disemburkan pada hulu hati, masing-masing tiga kali. Bila
merasa lemah, berikanlah obat ini, mantra, aduh bilah setan isa ajim, bismilah
ni rohim , lah sluh lah, sama leminni, sari isuk, jangan kaul, lamunta gulunaku
salembar, aku tumpakaken kaul, brakta lailalaya lami . Obat, badan lemah,
bahan obat, akar tri kancau , digiling sampai halus, dan dilumurkan.

19. Obat badan sakit, bahan obat, daun sasuruh , isen, bawang putih, rumput baru,
garam, digiling dan dicampur, berikan diminum. Obat batuk, bahan obat,
masui , ginten, kencur, gamongan , bawang putih, bawang putih dan dringo,
sembur dadanya. Obat panas dalam, cendana, isi bermacam-macam rempah,
kemiri, remas, kelapa yang diparut, obat badan agak panas, bahan obat, daun
kayu puri cangkaruk mentah, diremas dalam air, bedakkan. Obat, panas
dalam, bahan obat, lembungan katimahan , ambil airnya, tebu hitam, tain yeh ,
minum. Obat batuk terus menerus, tmu, daun kamoning, semua ditumbuk,
asem kawak , musi, ginten, diperas dan minum, obat rematik ras,
mengeluarkan darah di dalam, daun bayam besar, asam tanek , telur ayam
hitam, yang baru, semua dicampur dan diperas, air santan, merica, 21 biji,
minum.

PENTERJEMAH

1. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum.


2. Drs. I Wayan Sukersa, M.Hum.
3. Drs. I Ketut Jirnaya, M.Hum.

142
4. Drs. I Wayan Suardiana, M.Hum.
5. Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum.
6. Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum.
7. Drs. I Wayan Suteja
8. Dewa Nyoman Aspada, B.A.
9. A.A. Rai Adnyana
10. A.A. Antara

143
LAPIRAN 2
JURNAL JURNAL ILMIAH

144
145
146
147
148
149