Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan adalah perubahan individu yang lebih ke arah rohaniah


yang menjadi unik untuk setiap individu, karena perkembangan individu
berbeda, perkembangan juga memiliki pola-pola tersendiri yang khas yang
hanya bisa diamati tanpa bisa diukur. Sedangkan pertumbuhan adalah proses
perubahan jasmani yang terjadi sampai mencapai kematangan fisik yang
bersifat kuantitatif yang dialami oleh individu yang satu dengan yang lain
berbeda. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan menurut norma-norma
tertentu. Walaupun demikian seorang anak dalam banyak hal tergantung
kepada orang dewasa, misalnya mengkonsumsi makanan, perawatan,
bimbingan, perasaan aman, pencegahan penyakit dan sebaginya. Oleh karena
itu semua orang-orang yang mendapat tugas mengawasi anak harus mengerti
persoalan anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Banyak faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, diantaranya adalah faktor
lingkungan. Bila lingkungan karena suatu hal menjadi buruk, maka keadaan
tersebut hendaknya diubah (dimodifikasi) sehingga pertumbuhan dan
perkembangan anak dapat berjalan dengan sebaik-baiknya.

Fase perkembangan manusia secara umum dibagi kedalam lima


tahapan, yaitu: 1) bayi, 2) anak-anak, 3) remaja, 4) Dewasa dan 5) lansia.
Setiap fase atau tahapan perkembangan kehidupan manusia senantiasa
berlangsung seiringdengan kegiatan belajar. Tugas fase yang muncul dalam
setiap perkembangan, merupakan keharusan universal dan idealnya berlaku
secara otomatis, seperti kegiatan belajar terampil melakukan sesuatu pada
fase perkembangan tertentu yang lazim terjadi pada manusia normal.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja gangguan perkembangan mental?
2. Apa saja gangguan perkembangan pada perempuan?
3. Apa saja gangguan perkembangan pada laki-laki?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini diantaranya:

1. Mengetahui tahapan perkembangan mental dan perubahan kesehatan


mulai dari perkembangan reproduksi maupun perkembangan dari bayi
hingga lansia.
2. Mengetahui gangguan perkembangan pada laki-laki dan perempuan.
3. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Patofisiologi

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tahap Perkembangan Mental dan Perubahan Kesehatan

Perkembangan mental merupakan suatu proses yang menggambarkan


perilaku kehidupan sosial psikologi manusia/remaja pada posisi yang
harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks.
Menurut Havighurst perkembangan tersebut harus dipelajari, dijalani dan
dikuasai olesh setiap individu dalam perjalanan hidupnya hali ini merupakan
tugas perkembangan mentalnya sehubungan dengan semakil luas dan
kompleksnya kondisi kehidupan yang harus dijalani dan dihadapi. Tidak lagi
mereka di juluki sebagai anak-anak melainkan ingin dihargai dan dijuluki
sebagai orang yang sudah dewasa.

Pertumbuhan merujuk pada perubahan-perubahan kuantitatif, yaitu


peningkatan dalam ukuran dan struktur yang lebih cenderung menunjuk pada
kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju pada titik optimum dan
kemudian menurun menuju keruntuhannya.

Kematangan merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir,


timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pula
perkembangan tingkah laku individu. Kematangan mula-mula merupakan
seperti adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, saraf dan kelenjar-
kelenjar yang disebut dengan kematangan biologis. Kematangan pada aspek
psikis, meliputi keadaan berpikir, rasa, kemauan.

B. Kelainan Struktur Dan Fungsi Tubuh

1. Etiologi

Etiologi adalah penetapan sebab atau alasan dari fenomena. Suatu


penjelasan tentang etilogi penyakit mencakup identifikasi faktor-faktor

3
yang menimbulkan penyakit tertentu. Sebagai contoh basil tuberculosis
adalah agen etiologi dari tuberculosis, agen itu sendiri bukan merupakan
penyakit tetapi dari semua respon terhadap agen itu, semua proses-proses
biologis yang abnormal bersama-sama merupakan penyakit, kemudian
dalam etiologi penyakit tertentu banyak sekali faktor-faktor ekstrinsik
atau eksogen dalam lingkungan itu harus dipertimbangan bersama-sama
dengan berbagai sifat intrinsik atau eksogen dari individu.

2. Patogenesis
Patogenesis adalah proses berjangkitnya penyakit dan dimulai dari
permulaan terjadinya infeksi sampai dengan timbulnya reaksi akhir.
Patogenesis penyakit menyatakan perkembangan atau evolusi penyakit.
Sebagai contoh, patogenesis tuberculosis akan menunjukkan mekanisme
dengan jalan mana basil tuberculosis akhirnya membawa kelainan-
kelainan yang ditimbulkan. Analisa patogenesis semacam itu akan
mengaitkan ploliferasi dan penyebaran basil-basil tuberculosis dengan
respon peradangan yang timbul, dengan pertahanan imunologis dari
tubuh dan dengan pengerusakan sel-sel dan jaringan-jaringan yang
sebenarnya. Pola dan taraf kerusakan jaringan akhirnya akan dikaitkan
dengan manifestasi klinis penyakit yang jelas. Penyelidikan patogenesis
juga memperhitungkan rangkaian peristiwa fenomena tertentu dan aspek-
aspek waktu timbulnya penyakit. Yang harus dipatuhi dalam pendekatan
ini adalah dugaan bahwa penyakit biasanya bukan suatu peristiwa yang
statis, tetapi lebih merupakan gejala dinamis dengan irama dan riwayat
alamiah sendiri. Dalam penilaian diagnostik penerita dan penilaian
pengobatan penting diingat adalah konsep riwayai ilmuah dan derajat
variasi diantara berbagai penyakit dengan berpatokan pada riwayat
alamiahnya. Berbagai penyakit khususnya mempunyai awitan yang
cepat, sedangkan yang lain mempunyai gejala prodormal yang lama.
Beberapa penyakit bersifat dapat sembuh sendiri yaitu: penyakit tersebut
hilang sembuh secara sepontan dalam waktu yang cepat. Yang lainnya

4
menjadi kronik dan beberapa penyakit lain sembuh dan kembuh secara
berulang.

3. Manifestasi Penyakit

Dalam awal perkembangan suatu penyakit, agen etiologi dapat


membangkitkan sejumlah perubahan dalam proses biologis yang dapat
dideteksi oleh analisa laboratotium walaupun tidak dikenali oleh
sipenderita bahwa sudah terjadi perubahan-perubahan ini. Dengan
demikian maka banyak penyakit mempunyai stadium subklinis,
sedangkan fungsi penderita itu normal walaupun proses penyakit itu
sudah ditemukan. Penting untuk diketahui bahwa struktur dan fungsi dari
banyak organ menyediakan cadangan batas keamanan yang besar
sehingga gangguan fungsi hanya dapat menjadi jelas jika penyakit itu
secara anatomis sudah menjadi lanjut.

Bila proses biologis tertentu terganggu, penderita mulai mersakan


sesuatu yang tidak beres. Perasaan subjektif ini disebut gejala penyakit.
Gejala adalah subjektif dan hanya dapat dilaporkan oleh penderita kepada
pengamat. Namun, jika manifestasi penyakit secara objektif menyangkut
penyimpangan yang dapata diidentifikasi oleh pengamat maka ini disebut
dengan tanda-tanda penyakit. Nausea, rasa tidak enak, dan rasa sakit adalah
gejala sedangkan demam, kulit memerah dan adanya masa yang dapat diraba
adalah tanda penyakit. Suatu perubahan struktur yang dapat ditunjukan, yang
ditimbulkan dalam perkembangan penyakit disebut lesi. Lesi dapat jelas
secara makroskopis dan mikroskopis.
Akibat suatu penyakit disebut sequel umpamany, sequel dari proses
peradangan dalam jaringan biasa dapat merupakan jaringan parut dalam
jaringan itu.Komplikasi penyakit adalah proses baru atau proses terpisah yang
dapat timbul sekunder karena beberapa perubahan yang dihasilkan oleh
keadaan aslinya. Umpamanya, pneumonia bakteri dapatmerupakan
komplikasi infeksi virus saluran pernafasan.Akhirnya adalah penting

5
menekankan kembali bahwa penyakit adalah dinamis bukan statis.
Manifestasi penyakit pada penderita tertentu dapat berubah setiap saat bila
keseimbangan bioligis bergeser dan bila mekanisme kompensasi berkerja.
Pengaruh lingkungan yang terjadi pada penderita juga akan mempengaruhi
penyakit, karena itu, setiap penyakit mempunyai batas manifesta.

C. Gangguan Perkembangan Mental


1. Gangguan Perkembangan Mental pada Anak
Masalah perkembangan mental yang terjadi pada anak sering
ditemukan di Indonesia bahkan dunia. Namun banyak orang tua yang
cenderung menganggap biasa dari gejala awal gangguan perkembangan
mental. Selain faktor lingkungan (terutama orang tua), faktor lain adalah
riwayat kehamilan saat anak dalam kandungan, riwayat penggunaan obat,
riwayat genetik, riwayat trauma serta faktor penyakit fisik dan masalah
gizi yang terjadi pada anak. Beberapa hal yang cenderung sering terjadi
dalam gangguanperkembangan mental anak, antara lain:
a. Gangguan Kecemasan (Ansietas)
Mungkin kita menganggap perasaan cemas itu biasa dialami.
Namun keadaan ini bisa terjadi secara berlebihan dan sering bahkan
sampai mengganggu aktivitas sosial anak, sehingga dikatakan
sebagai gangguan cemas. Gangguan cemas pada anak terjadi akibat
adanya rasa tertekan pada anak, akibatnya anak-anak selalu merasa
mengkhawatirkan hal yang belum pasti hasilnya. Bahkan walaupun
hal yang menjadi penyebab kekhawatiran sudah dilewati, bahkan
anak tetap mengalami rasa cemas. Faktor yang menyebabkan ada
banyak hal, mulai dari genetik, orang tua, bahkan lingkungan sehari-
hari dalam interaksi anak di luar rumah.

Di Indonesia, kesadaran orang dewasa terhadap mental anak


kadang dianggap biasa, padahal tanpa diketahui bahwa perkataan

6
dan perilaku orang dewasa kadang memicu mental anak menjadi
mudah cemas dan tertekan.

b. Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD)


Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau dalam
bahasa Indonesia biasa dikenal dengan Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH). Gangguan ini bersifat
neurobihavioral, dimana anak akan terasa sulit diatur (dalam hal ini
anak cenderung seperti terkesan tidak perduli atas nasehat dari orang
tua atau guru). Biasanya anak akan tampak sulit fokus pada suatu hal
dan kemudian berpindah ke hal lain lagi untuk dilakukan. Akibatnya
anak akan sulit menyelesaikan suatu target atau pekerjaan yang
diharapkan. Selai itu, anak akan cenderung mudah teralihkan pada
hal lain dan tampak sulit diam.

Anak cenderung seperti melakukan hal-hal yang biasanya kita


anggap tidak perlu dilakukan (misalnya anak sering menggerak-
gerakkan tangan dan kaki secara tak jelas, atau berbicara seperti asal
saja). Anak juga akan tampak seperti terburu-buru, walaupun belum
jelas apa yang akan dikerjakannya. Diduga hal yang menjadi faktor
penyebab adalah genetik, serta faktor gengguan yang terjadi saat
hamil (konsumsi obat-obatan,alkohol dan zat lain). Yang kemudian
akan mengganggu fungsi sel otak.

c. Autisme
Austic Spectrum Disorder (ASD) atau bisa disebut autisme,
merupakan gangguan yang dialami anak dalam hal sosialisasi,
tingkah laku dan berbicara. Anak dengan autisme cenderung tampak
seperti sibuk dalam dunianya sendiri. Ketika anak tersebut
melakukan sesuatu, anak tersebut akan sulit dialihkan perhatiannya
termasuk saat kita ajak berbicara atau kita beri interaksi. Anak hanya
terfokus pada apa yang disukainya, misalnya suatu mainan. Anak

7
cenderung kurang menatap orang lain dan kemampuan bahasanya
cenderung kurang dan sering mengulang beberapa kata. Faktor yang
diduga menjadi penyebab masih belum dapat dipastikan. Namun
faktor genetik ada pengaruh vaksin thimerosal, radiasi saat masih
dalam janin dan faktor konsumsi asam folat saat dalam kandungan.
d. Retardasi Mental
Retardasi mental biasa disebut keterbelakangan mental
(oligofrenia). Retardasi mental terjadi akibat gangguan
perkembangan intelenjensia disertai mental anak yang tidak sesuai
dengan umurnya. Penyebabnya kemungkinan karena adanya proses
patologis di otak yang disebabkan akibat infeksi, racun, trauma,
gangguan gizi serta gen. Gangguan ini dapat dideteksi atau
ditentukan dengan melakukan tes IQ dan keterampila pada anak,
untuk melihat seberapa besar gangguan yang terjadi pada anak.
e. Gangguan Makan
Gangguan makan sering terjadi pada anak sekitar seperempat
dari seluruh anak. Masalah gangguan makan dialami dan dirasakan
orang tua pada anaknya di seluruh dunia. Kesulitan makan, dijumpai
pada anak dengan pola anak yang cenderung tidak mau atau menolak
untuk makan. Jika makan, porsi yang dihabiskan tampak sedikit
dibanding anak lain yang seusianya. Pada usia lebih muda, anak
biasanya cenderung membuang makanan yang diberikan atau disuap,
sulit mengunyah, dan cenderung mempermaikan makanan. Selain
itu, anak juga bisa seperti tidak ada minat atau nafsu makan, atau
suka memilih-milih makanan. Faktor yang bisa menyebabkan bisa
karena adanya gangguan fisik oleh karena penyakit dan faktor
psikologi anak.
f. Gangguan Artikulasi
Gangguan artikulasi (fonologi) merupakan gangguan yang
terjadi pada anak dengan kesulitan bicara atau tergaganggu dalam
mengucapkan bahasa. Padahal dalam usianya, harusnya anak

8
tersebut sudah bisa mengucapkan secara jelas. Biasa disebabkan
kelaianan genetik, organ bicara, emosi, serta motivasi berbicara.
g. Diseleksia
Diseleksia merupakan gangguan yang berupa anak yang tidak
dapat, atau kesulitan untuk membaca. Gangguan ini bisa tampak
dengan melihat anak yang cenderung kesulitan mengenal huruf atau
membedakan huruf. Dalam penggunaan kata atau proses membaca,
anak biasanya lambat dalam membaca serta sering mengalami
kesalahan dalam membaca. Gangguan ini bukan berarti anak tersebut
bodoh atau sedang mengalami penyakit fisik yang mengganggu
belajar (misalnya gangguan mata). Gangguan terjadi dalam otak
ketika memproses informasi yang di terima ke otak.
Penanganan pada anak dengan gangguan perkembangan
mental banyak yang masih dapat di perbaiki atau dikoreksi, minimal
gangguan yang dialami anak dapat berkurang. Beberapa cara yang
bisa dilakukan adalah dengan berkonsultasi bersama dokter kejiwaan
dan dokter ahli anak, dengan obat medikasi (antidepresan,
antiansietas, antipsikotik dan mood stabilizer), bimbingan serta
pendampingan orang tua dan stimulasi lingkunga sekitar ke arah
yanng positif.
2. Gangguan Perkembangan Mental pada Remaja
Kesehatan fisik yang terganggu bisa juga menyebabkan mentalnya
menjadi sakit. Begitu juga kesehatan mental yang terganggu bisa
mengakibatkan fisiknya juga sakit. Sebagai bukti, orang yang cemas
berlebihan bisa menjadi gemetar, perut mulas, keluar keringat dingin
bahkan diare. Kali ini, akan dibahas 7 tanda gejala gangguan mental yang
sering dialami remaja. Diantara adalah sebagai berikut:
a. Rasa Khawatir yang Tak Terkendali
Rasa khawatir ketika punya masalah memang suatu hal yang
wajar. Malahan dengan adanya rasa khawatir tersebut kita dapat
terdorong untuk cepat-cepat menyelesaikannya. Namun jika rasa

9
khawatir tersebut muncul sewaktu-waktu dalam jangka waktu yang
lama, maka itu bisa menjadi pertanda bahwa mental muncul tanpa
ada penyebab yang jelas.
Kita tidak boleh meremehkan munculnya rasa cemas
berlebihan. Alasannya selain bisa memicu gangguan mental yang
lebih parah, rasa cemas tersebut juga bisa mengganggu aktivitas kita
sehari-hari. Misalkan, seharusnya kita bisa tenang menghadapi ujian,
gara-gara rasa cemas yang berlebihan tersebut kita jadi tidak bisa
menjawab soal ujian tersebut.
b. Mengalami Insomnia
Susah tidur merupakan pertanda bahwa seseorang mengalami
gangguan mental. Jika sekali atau dua kali susah tidur karena
memikirkan masalah tertentu, itu masih wajar. Yang perlu diberi
perhatian adalah ketika gangguan susah tidur tersebut berlangsung
dalam jangka waktu yang lama. Jika mengalami susah tidur, coba
dirunut apa penyebabnya. Jika penyebabnya tidak jelas berarti itu
merupakan gejala gangguan mental.
Separuh orang yang mengalami kecemasan yang berlebihan
mengalami susah tidur. Seperti yang kita tahu, tidur merupakan
aktivitas bagi tubuh. Jika susah tidur berlangsung dalam jangka
waktu yang lama maka kesehatan fisik kita pun terganggu.
c. Ketakutan yang Berlebihan (Phobia)
Rasa takut sebenarnya merupakan perasaan yang sangat
berguna bagi kita. Rasa takut tersebut merupakan respon adanya
sesuatu yang tidak bisa kita atasi dan berpotensi mengancam
keselamatan kita. Namun ada kalanya kita mengalami rasa takut
yang berlebihan. Rasa takut tersebut melebihi porsi resiko yang
sebenarnya. Sebagai contoh, ada orang sebetulnya pandai bicara, tapi
ketika diminta berbicara di depan banyak orang, dia menjadi gemetar
dan lemas. Ada juga orang yang takut berlebihan memakan makanan

10
tertentu. Padahal orang tersebut tahu bahwa hanya dengan makan
makanan tersebut tidak akan mencelakai dia.
Ketakutan berlebihan atau fobia ini merupakan salah satu dari
gejala gangguan kecemasan. Kadang, pemicu dari ketakutan
berlebihan ini tidak masuk akal seperti takut makan tahu atau takut
pada kegelapan. Phobia tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa
di deteksi. Kita hanya bisa tahu bahwa kita phobia terhadap sesuatu
hanya setelah kita berhadapan dengan situasi tertentu itu pula. Saat
kita dihadapkan dengan situasi yang memicu phobia, kita tidak dapat
mengendalikan munculnya ketakutan yang berlebihan dan tidak
masuk akal.
d. Gangguan Pencernaan Kronis
Pada orang yang mengalami ganguan kecemasan biasanya
tubuh penderita akan terpengaruh. Gejala yang muncul biasanya
gangguan pencernaan kronis (irritable bowel syndrom). Gangguan
pencernaan kronis ini di tandai dengan munculnya rasa nyeri perut,
kram, kembung, sembelit, atau malah mengalami diare.
Gangguan pencernaan kronis ini sering sekali muncul pada
orang yang mengalami kecemasan berlebihan. Ketika menghadapi
situasi yang memicu rasa cemas, biasanya orang tersebut langsung
merasa mulas dan ingin BAB. Meskipun tidak di monopili oleh
gangguan kecemasan saja, munculnya gangguan pencernaan kronis
ini bisasanya bersamaan dengan timbulnya rasa cemas tersebut.
Kemunculan keduanya bisa saling memperparah.
e. Perasaan Selalu Diperhatikan dan Dinilai Orang Lain
Orang yang mengalami gangguan kecemasan berlebihan,
biasanya merasa dirinya selalu di perhatikan dan dinilai orang.
Akibat merasa selalu diperhatikan dan di nilai orang tersebut mereka
menjadi tidak bebas berekpresi. Tidakan tindakan mereka seolah
olah dibatasi. Pada kasus yang parah, orang tersebut setiap berada

11
dikerumunan orang akan merasa grogi, berkeringat dingin,
menggigil, mual dan gugup.
Jika gejala tersebut terus menerus dibiarkan, maka orang
tersebut akan sulit ketika bertemu dengan orang orang baru. Meraka
juga akan mengalami gangguan dalam mempertahankan hubungan
dengan orang lain. Akibat lainnya kemajuan di tempat kerja maupun
sekolah pun sulit dicapai.
f. Serangan Panik
Orang yang mengalami gangguan kecemasan berlebihan,
biasanya sering panik. Seringkali, kecemasan yang berlebihan
membuat mereka panik ketika dihadapkan dengan situasi tertentu.
Rasa panik yang muncul tersebut kadang tidak rasional
penyebabnya. Sebagai contoh, ada murid yang pernah dimarahi
habis-habisan oleh seorang guru karena tidak mengerjakan tugas. Di
waktu-waktu berikutnya, ia akan selalu panik ketika guru tersebut
masuk di kelasnya. Tidak peduli ia telah mengerjakan tugas atau
belum.
Rasa panik yang berlebih ini bisa jadi membuat si penderita
menghindari situasi-situasi yang pernah memicu panik. Akibatnya,
jika diberi tugas yang bersingguan dengan situasi pemicu panik
tersebut, dia akan gagal. Namun jika rasa panik itu munculnya hanya
sesekali, kita tidak perlu khawatir. Itu masih wajar. Yang tidak wajar
adalah ketika rasa panik tersebut munculnya sering dan dalam jangka
waktu yang lama.
g. Dihantui Kilasan Kejadian Masa Lalu
Kamu pernah kan mengalami kejadian di masa lalu yang
sampai sekarang masih kepikiran. Kejadian di masa lalu tersebut
bisa saja kejadian yang memalukan, kejadian yang membuarmu
sangat marah, atau kejadian yang membuatmu sangat ketakutan.
Kehilangan seseorang yang sangat di cintai juga merupakan salah
satu peristiwa tersebut. Kadang kejadian yang luar biasa tersebut

12
terus-menerus muncul lagi di pikiran kita. setiap terlintas kembali
dipikiran, rasa malu, rasa marah dan rasa takutnya pun kembali kita
rasakan. Gangguan mental akibat terlintasnya peristiwa di masa lalu
tersebut dikenal dengan Post Traumatic Disorder (PTSD).
Sebuah penelitian menunjukkan, orang yang punya gangguan
kecemasan berlebihan sering kali mengalami kilas balik peristiwa
yang membuat trauma tersebut. Efeknya, mereka menghindari hal
hal yang membuat mereka ingat akan peristiwa itu.
3. Gangguan Perkembangan Mental pada Dewasa
a. Demensia
Demensia adalah suatu gangguan intelektual/daya ingat yang
umumnya progresif dan ireversibel. Biasanya ini sering terjadi pada
orang yang berusia > 65 tahun. Di Indonesia sering menganggap
bahwa demensia ini merupakan gejala yang normal pada setiap
orang tua. Namun kenyataan bahwa suatu anggapan atau persepsi
yang salah bahwa setiap orang tua mengalami gangguan atau
penurunan daya ingat adalah suatu proses yang normal saja.
Anggapan ini harus dihilangkan dari pandangan masyarakat kita
yang salah.
Faktor resiko yang sering menyebabkan lanjut usia terkena
demensia adalah: usia, riwayat keluarga, jenis kelamin perempuan.
Demensia merupakan suatu penyakit degeneratif primer pada
susunan sistem saraf pusat dan merupakan penyakit vaskuler.
b. Depresi
Gangguan depresi merupakan hal yang terpenting dalam
problem lansia. Usia bukan merupakan faktor untuk menjadi depresi
tetapi suatu keadaan penyakit medis kronis dan masalah-masalah
yang dihadapi lansia yang membuat mereka depresi. Gejala depresi
pada lansia dengan orang dewasa muda berbeda dimana pada lansia
terdapat keluhan somatik. Penyebab terjadinya depresi merupakan
gabungan antara faktor-faktor psikologik, sosial dan biologik.

13
Biologik: sel saraf yang rusak, faktor genetik, penyakit kronis
seperti hipertensi, DM, stroke, keterbatasan gerak, gangguan
pendengaran/penglihatan. Sosial: kurang interaksi sosial,
kemiskinan, kesedihan, kesepian, isolasi sosial. Psikologis: kurang
percaya diri, gaul, akrab, konflik yang tidak terselesai.
c. Skizofrenia
Skizofrenia biasanya dimulai pada masa remaja akhir/dewasa
muda dan menetap seumur hidup. Wanita lebih sering menderita
skizofrenia lambat dibanding pria. Perbedaan onset lambat dengan
awal adalah adanya skizofrenia paranoid pada tipe onset
lambat.Terapi dapat diberikan obat anti psikotik seperti haloperidol,
chlorpromazine, dengan pemberian dosis yang lebih kecil.
d. Gangguan Delusi
Onset usia pada gangguan delusi adalah 40 55 tahun, tetapi
dapat terjadi kapan saja. Pada gangguan delusi terdapat waham yang
tersering yaitu: waham kejar dan waham somatik.
e. Gangguan Somatiform
Gangguan somatiform ditandai oleh gejala yang sering
ditemukan apada pasien > 60 tahun. Gangguan biasanya kronis dan
prognosis adalah berhati-hati. Untuk mententramkan pasien perlu
dilakukan pemeriksaan fisik ulang sehingga ia yakin bahwa mereka
tidak memliki penyakit yang mematikan.Terapi pada gangguan ini
adalah dengan pendekatan psikologis dan farmakologis.
f. Gangguan penggunaan Alkohol dan Zat lain
Riwayat minum/ketergantungan alkohol biasanya memberikan
riwayat minum berlebihan yang dimulai pada masa remaja/dewasa.
Mereka biasanya memiliki penyakit hati. Sejumlah besar lansia
dengan riwayat penggunaan alkohol terdapat penyakit demensia
yang kronis seperti ensefalopati wernicke dan sindroma korsakoff.

14
Presentasi klinis pada lansia termasuk terjatuh, konfusi, higienis pribadi yang
buruk, malnutrisi dan efek pemaparan. Zat yang dijual bebas seperti kafein
dan nikotin sering disalah gunakan. Di sini harus diperhatikan adanya
gangguan gastrointestiral kronis pada lansia pengguna alkohol maupun tidak
obat-obat sehingga tidak terjadi suatu penyakit medik.

D. Gangguan Reproduksi
Sistem reproduksi manusia dapat mengalami gangguan, baik
disebabkan oleh kelainan maupun penyakit. Gangguan sistem reproduksi
dapat terjadi baik pada wanita maupun pria.
1. Gangguan Reproduksi pada pria
a. Impotensi
Kelainan ini dialami oleh laki-laki, yaitu suatu keadaan penis
yang tidak dapat melakukan ereksi (tegang), sehingga sulit untuk
melakukan kopulasi (fertilisasi). Biasanya impotensi disebabkan oleh
faktor hormonal, yaitu terhambatnya fungsi hormon reproduksi, bisa
juga disebabkan oleh faktor psikologis atau emosional seseorang.
b. Kemandulan/infertilitas
Dalam keadaan normal, seorang laki-laki yang mengalami
ejakulasi mengeluarkan cairan semen atau mani sebanyak 4 mililiter
setiap kalinya. Dalam 4 ml mani tersebut terkandung 120 juta ekor
sperma. Jumlah inimemiliki peluang untuk dapat membuahi sel telur.
Apabila kandungan sperma di bawah angka 120 juta dalam setiap
ejakulasi, sudah termasuk tidak subur atau kategori mandul. Bagi
wanita, kesuburan ditandai dengan matangnya satu buah sel telur
sekali dalam sebulan. Jika dalam perjalanan hidupnya tidak setiap
bulan sel telur yang siap dibuahi, wanita tersebut dikategorikan kurang
subur atau mandul.
c. Ginekomastia
Ginekomastia adalah pembesaran jaringan payudara pada pria.
Ginekomastia dapat terjadi akibat produksi estrogen yang berlebihan

15
pada pria, atau apabila hati tidak mampu memecahkan sekresi
estrogen yang normal pada pria.
d. Kriptorkidismus
Kriptorkidismus merupakan kegagalan dari satu atau kedua
testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam scrotum pada waktu
bayi. Penangannya dapat dilakukan dengan pemberian hormon human
chorionic gonadotropin untuk merangsang testoteron.
e. Varikokel
Varikokel adalah pelebaran abnormal suatu vena di korda
spermatika, yang biasanya memperdarahi testis kiri. Varikokel
biasanya berkembang setelah pubertas. Varikokel disisi kiri biasanya
terjadi akibat inkompetensi katub, yang disertai oleh aliran balik dan
penimbuhan darah di vena. Varikokel disisi kanan mungkin
mengisyaratkan obstrupsi vena kapa inferior. Munculnya varikokel
secara mendadak ada orang tua mungkin mengisyaratkan adanya
tumor ginjal tahap lanjut.
f. Hidrokel
Hidrokel adalah penumpukan filtrat plasma di dalam skrotum.
Hal ini menyebabkan pembengkakkan skrotum dan dapat menurunkan
aliran darah ke testis.
g. Hipogonadisme
Hipogonadisme merupakan penurunan fungsi testis yang
disebabkan oleh gangguan interaksi hormon, seperti hormon androgen
dan estrogen. Gangguan ini menyebabkan infertilitas, impotensi, dan
tidak adanya tanda-tanda kepriaan. Penanganannya dapat dilakukan
dengan terapi hormon.
h. Sifilis (Raja Singa)
Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, penyakit
ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual, transfusi darah, atau
luka mikroskopis. Gejala yang timbul adalah luka pada kemaluan,

16
bintik atau bercak merah di tubuh, kelainan saraf, jantung, pembuluh
saraf, dan kulit.
i. Gonorhoe (kencing nanah)
Penyakit gonorhoe adalah penyakit kelamin yang disebabkan
oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Penyakit kelamin ini bisa menular
melalui seks bebas. Gejalanya adalah keluar cairan berwarna putih,
rasa nyeri pada saat buang air kecil, pada pria mulut uretra bengkak
dan agak merah.
j. Kanker Saluran Reproduksi Pria
Kanker pada saluran reproduksi pria mencakup kanker penis,
testis, atau prostat.
1) Kanker penis primer biasanya terjadi pada pria yang belum disunat.
Penyakit ini timbul pada usia antara 40 dan 80 tahun. Kanker
penis sekunder dapat terjadi dari metastasis kanker di kandung
kemih, rektum, atau prostat.
2) Kanker testis jarang terjadi, sebagian besar timbul pada pria muda
berusia antara 15 dan 35. Kanker testis biasanya adalah kanker sel
germinativum (gamet), tetapi dapat juga berasal dari sel Leydig
atau Sertoli. Penyebab kanker testis tidak diketahui, tetapi
tampaknya terdapat faktor genetik. Kanker testis lebih sering
terjadi pada orang Kaukasus, dan lebih sering timbul pada pria
dengan riwayat kriptorkidismus.
3) Kanker prostat, kanker ini tidak diketahui penyebabnya, walaupun
faktor genetik dan lingkungan keduanya diperkirakan berperan.

2. Gangguan Reproduksi pada wanita


a. Dismenore
Dismenore adalah haid yang nyeri yang terjadi tanpa tanda-
tanda infeksi atau penyakit panggul. Dismenore biasanya terjai akibat
pelepasan berlebihan suatu prostaglandin, dari sel-sel endometrium
uterus. Prostaglandin adalah suatu perangsang kuat otot polos

17
miometrium dan kontruksi pembuluh darah uterus. Hal ini
memperparah hipoksia uterus yang secara normal terjadi pada haid,
sehingga timbul rasa nyeri hebat.
b. Amenore
Amenore terdiri atas amenore primer dan amenore sekunder.
Amenore primer adalah tidak terjadinya manarke (menstruasi) sampai
usia 17 tahun dengan atau tanpa perkembangan seksual sekunder.
Amenore sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3-6
bulan atau lebih pada orang yang telah mengalami siklus menstruasi.

c. Penyakit radang panggul


Penyakit radang panggul adalah peradangan infeksiosa organ-
organ di saluran genitalia atas wanita, termasuk uterus, tuba fallopi
(salpingitis), atau ovarium (ooforitis). Agen infeksiosa biasanya
adalah bakteri dan sering tertular melalui hubungan kelamin. Berbagai
kuman dapat menjadi penyebab, termasuk Neisseria gonorrhoeae,
Chlamydia trachomatis, dan Eshcherichia coli. Pada kasus-kasus yang
parah, seluruh rongga pneum dapat terkena.
d. Endometriosis
Endometriosis adalah keadaan di mana jaringan endometrium
terdapat di luar rahim, yaitu dapat tumbuh di sekitar ovarium, oviduk,
atau jalur di luar rahim. Sel-sel endometrium berespons terhadap
estrogen dan progesteron dengan melakukan proliferasi, sekresi, dan
pendarahan selama daur haid. Hal ini dapat menyebabkan peradangan
nyeri hebat. Diperkirakan penyebab dari endometriosis adalah aliran
balik (ret-rograde) haid. Aliran balik haid adalah gerakan darah haid
melalui tuba fallopi ke rongga peritoneum sewaktu
menstruasimungkin pada wanita yang bersangkutan terdapat
predisposisi genetik dan penekanan sistem imun sehingga timbul
endometriosis.
e. Sindrom Ovarium Polikistik

18
Sindrom ovarium polikistik adalah adanya kista di ovarium.
Kista-kista terdiri dari folikel-folikel praovulasi yang telah mengalami
atresia (degenerasi). Pada sindrom ovarium polikistik, ovarium utuh
dan responsif terhadap FSH dan LH, tetapi tidak terjadi ovulasi. Kadar
FSH di bawah normal sepanjang stadium folikular daur haid. Kadar
LH lebih tinggi daripada normal, tetapi tidak memperlihatkan
lonjakan. LH yang terus menerus tinggi meningkatkan pembentukan
androgen dan estrogen oleh folikel dan kelenjar adrenal. Folikel
anovulasi berdegenerasi dan membentuk kista.
f. Penyakit Fibrokistik pada Payudara
Penyakit fibrokistik pada payudara bisa disebut payudara jinak.
Penyakit ini ditandai dengan adanya benjolan-benjolan yang dapat
diraba di payudara yang berubah-ubah dalam ukuran dan nyeri apabila
ditekan selama staduim-stadium daur haid.walaupun penyebabnya
belum pasti, namun estrogen setidak-tidaknya ikut berperan.
Walaupun sebagian besar benjolan yang bervariasi sesuai daur haid
bersifat jinak, sebagian lesi dapat berproliferasi dan memperlihatkan
pertumbuhan sel yang atipikal.

g. Kanker Payudara
Penyebab dari adanya kanker payudara adalah riwayat adanya
penyakit ini pada keluarga dekat. Wanita yang mewarisi gen untuk
kanker payudara biasanya mendapat penyakit tersebut pada usia dini.
Pajanan estrogen seumur hidup berkaitan dengan pembentukan kanker
payudara. Wanita yang mengalami menarke dini dan menopause
lanjut memiliki risiko yang lebih besar. Usia menarke dan menopause
ini dapat dipengaruhi pada faktof genetik. Wanita yang tidak atau
lambat memiliki anak juga bisa berisiko kanker payudara, demikian
juga terapi penggantian estrogen bagi sebagian wanita. Wanita yang
memiliki riwayat penyakit fibrokistik payudara, diet tinggi-lemak, dan
alkohl juga bisa menyebabkan adanya kanker payudara, proteksi

19
terhadap kanker payudara dapat diusahakan dengan diet kaya buah-
buahan dan sayur yang berwarna, olah raga teratur, kontrol berat
badan.Infeksi vagina
Gejalanya berupa keputihan dan timbul gatal-gatal. Infeksi ini
menyerang wanita usia produktif terutama yang menikah.
Penyebabnya adalah akibat hubungan kelamin.
h. Penyempitan Saluran Telur/Oviduk
Kelainan ini merupakan faktor bawaan, tetapi adapula yang
disebabkan karena infeksi kuman tertentu. Saluran oviduk yang
sempit akan membuat sperma sulit untuk menjangkau bagian dalam
saluran tersebut, sehingga menyebabkan pembuahan sulit terjadi.
i. Hamil Anggur (Mola Hidalidosa)
Hamil anggur merupakan suatu kehamilan yang tidak berisi
janin, tetapi berisi gelembung-gelembung mola dan bekuan darah.
Hamil anggur dapat menyebabkan kesakitan atau kematian karena
pendarahan, tembusnya dinding rahim oleh proses mola dan infeksi.
j. Condiloma Accuminata
Penyakit condiloma accuminata disebabkan oleh virus Human
papilloma. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya kutil yang dapat
membesar dan akhirnya dapat menimbulkan kanker mulut rahim.

k. Kanker Saluran Reproduksi Wanita


Kanker saluran reproduksi wanita dapat timbul di vagina, uterus,
atau ovarium.
1) Kanker vagina biasanya terjadi pada wanita berusia lebih dari 60
tahun. Sel-sel skuamosa vagina merupakan sel yang paling sering
terkena. Kanker ini sering merupakan metastasis kanker di tempat
lain. Risiko pembentukan kanker vagina meningkat pada wanita
yang sebelumnya pernah mengidap kanker serviks.
2) Kanker rahim mencakup kanker serviks dan endometrium. Kanker
serviks paling sering timbul pada wanita yang memiliki banyak

20
pasangan seksual atau pasangan seksualnya pernah memiliki
pasangan seksual lain. Kemampuan mukus serviks untuk
mengkonsentrasikan karsinogen yang terdapat dalam asap rokok,
maka meroko dianggap sebagai suatu kofaktor pembentukan
kanker serviks. Dan kanker endometrium adalah kanker
reproduktif wanita yang paling sering ditemukan dan biasanya
adalah suatu adenokarsinoma (berasal dari sel-sel epitel).kanker
endometrium brkaitan dengan pajanan estrogen seumur hidup,
dan biasanya terjadi pada wanita pascamenopause. Wanita dengan
diet tinggi-lemak juga beresiko tinggi, mungkin berkaitan dengan
kegemukan yang ditimbulkannya pajanan hormon dalam diet,
atau penurunan asupan buah-buahan dan sayur-sayuran.
Kontrasepsi oral menurunkan risiko pembentukan kanker
endometrium dengan menurunkan pajanan estrogen seumur
hidup.
3) Kanker ovarium jarang terjadi. Walaupun begitu, kanker ovarium
lebih sering menyebabkan kematian dibandingkan dengan kanker
reproduktif wanita yang lain. Kanker ovarium berasal dari sel
epitel dan berkaitan dengan pajanan estrogen seumur hidup.
Kanker ovarium dapat berkembang di sel-sel germinativum (ova)
yan mungkin berkaitan dengan predisposisi genetik pada saat
anak atau dewasa muda. Kontrasepsi oral dan pada beberapa
penelitian, ligasi tuba (pemutusan tuba fallopi) tampaknya bersifat
protektif terhadap kanker ovarium. Olah raga sedang dapat
menurunkan risiko kanker ovarium, yang berkaitan dengan
penurunan kadar estrogen pada wanita.

21
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Perkembangan mental merupakan suatu proses yang menggambarkan


perilaku kehidupan sosial psikologi manusia/remaja pada posisi yang
harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks.

Kematangan merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir,


timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pula
perkembangan tingkah laku indiviematangan mula-mula merupakan seperti
adanya kematangan jaringan-jaringan tubuh, saraf dan kelenjar-kelenjar yang
disebut dengan kematangan biologis. Kematangan pada aspek psikis, meliputi
keadaan berpikir, rasa, kemauan.

B. Soal Kasus

1. Seorang prempuan (28th) dengan kondisi mengalami nyeri perut parah dan
perlu berkonsultasi segera dengan dokter karena umumnya dibutuhkan
prosedur operasi. Hal ini terjadi karena?
a. Kehamilan ektopik
b. Etiologi
c. Impotensi
d. Kanker Ovarium
Jawaban A
2. Ibu Sinta mengalami keadaan dimana ia merasa nyeri perut, pinggang
terasa sakit, dan nyeri pada saat menstruasi dan dokter mengatakan jika
tidak ditangani akan menyebabkan sulit terjadinya kehamilan. Gejala
diatas merupakan gejala penyakit?
a. Kanker Ovarium
b. Gangguan menstruasi

22
c. Endometriosis
d. Kemandulan/infertilitas
Jawaban C
3. Santi yang cenderung mengembangkan cara berpikir abstrak, suka
memberikan kritik, cenderung ingin mengetahui hal-hal yang baru,
sehingga muncul perilaku ingin mencoba-coba. Hal ini terjadi pada remaja
merupakan perubahan perkembangan
a. Perkembangan intelegensia
b. Perkembangan emosi
c. Perkembangan gangguan
d. Perkembangan perilaku
Jawaban A
4. Seorang pria mengalami luka pada kemaluan, bintik atau bercak merah di
tubuh, kelainan saraf, jantung, pembuluh saraf, dan kulit. Gejala tersebut
merupakan gejala dari
a. Kriptorkidisme
b. Uretritis
c. Endometriosis
d. Sifilis
Jawaban D
5. Seorang individu yang mengalami keterlambatan dalam hal pola berpikir
maupun dalam menyelesaikan masalah. Ketidakmampuan pemecahan
masalah ini ditujukan pada ketidakmampuan mengambil keputusan secara
tepat, kecendrungan untuk bergantung dan mengikuti apa yang dilakukan
kelompok, terjebak dalam perilaku yang tidak bermanfaat. Kondisi diatas
merupakan penyebab
a. Karena pola asuh yang benar
b. Karena pola asuh yang salah
c. Karena cara berfikir tepat
d. Karena cara berfikir kritis
Jawaban B

23
6. Seorang wanita (28th) yang berhubungan kelamin dengan suaminya
mengeluh karena mengalami keputihan dan adanya gatal-gatal. Hal ini
merupakan gejala
a. Kanker Ovarium
b. Infeksi vagina
c. Kankerrahim
d. Kankerserviks
Jawaban B
7. Santoso (32th) pergi kedokter karena mengalami adanya cairan berwarna
putih yang keluar, rasa nyeri pada saat buang air kecil, pada mulut uretra
bengkak dan agak merah. Hal ini merupakan gejala
a. Gonorhoe
b. Sifilis
c. Impotensi
d. Uretritis
Jawaban A
8. Seorang perempuan belum memulai periode menstruasinya setelah
beranjak 16 tahun atau 3 tahun setelah masa pubertas, belum menunjukkan
tanda-tanda pubertas saat berusia 14 tahun, atau memiliki periode
menstruasi yang normal tetapi berhenti menstruasi mendadak tanpa alasan
yang diketahui (selain kehamilan). Pernyataan diatas merupakan gangguan
penyakit
a. Amenore
b. Gangguanserviks
c. Oligomenorrhea
d. Dysmenorrhea
Jawaban A
9. Seorang ibu (42th) mempunyai anak dan meceritakan kedokter bahwa
anaknya tak punya tanda-tanda kepribadian pada dirinya. Penjelasan diatas
termasuk gangguan

24
a. Kanker Prostat
b. Hipogonadisme
c. Kriptorkidisme
d. Uretritis
Jawaban B
10. Seorang wanita (45th) menerangkan kedokter apa yang dialami bahwa ia
tak lagi menstruasi, penjelasan diatas ialah kejadian
a. Andropause
b. Menopause
c. Keputihan
d. Gangguanmenstruasi
Jawaban B

25
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Saku Patososiologi. Terj. Handbook of


Pathophysiology oleh Brahm. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

Wan. 2013. Gangguan Kelainan pada Alat Reproduksi Pria Wanita. Diakses dari
http://web.unair.ac.id/admin/file/f_35969_wan-123.pdf pada tanggal 16
Maret 2017.

Keperawatan, Ilmu. 2016. Patogenesis dan Patofisiologi Kelainan. Diakses dari


http://www.ilmukeperawatan.info/2016/06/patogenesis-dan-patofisiologi-
kelainan.html#ixzz4cgS6XHha pada tanggal 29 maret 2017.

Sehat, Halo. 2016. 7 Jenis Gangguan Mental pada Anak. Diakses dari
http://halosehat.com/penyakit/gangguan-jiwa-mental/jenis-gangguan-
mental-pada-anak pada tanggal 04 April 2017.

Adhie, Jieland. 2017. Ini 7 Tanda Gangguan Mental Yang Sering Ada pada
Remaja. Diakses dari http://iyakan.com/gangguan-mental-pada-remaja/4827
pada tanggal 04 April 2017.

Sabda. 2013. Beberapa Masalah dan Gangguan yang Sering Terjadi pada Lansia.
Diakses dari
http://sabda.org/artikel/beberapa_masalah_dan_gangguan_yang_sering_terjadi_pad
a_lansia pada tanggal 04 April 2017.

26