Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

ALIRAN MUTAZILAH

DISUSUN
OLEH
KELOMPOK 4
1. Alfi Nafiatul Hikmah
2. Fitri Yani
3. Saftia Ahyuni
4. Muhammad Azhari
5. Irvan Zidni
6. Resti Ningsing
7. Nurhayati
8. Fidella Putri Asri
9. Aditya Nanda

KELAS : XI. IIS. 4

MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 PRINGSEWU


KABUPATEN PRINGSEWU
TAHUNPELAJARAN 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN

Banyak aliran dan mazhab yang timbul sepanjang sejarah umat Islam. Mulai dari
timbulnya aliran berlatarbelakang politik, yang kemudian aliran tersebut berevolusi dan memicu
kemunculan aliran bercorak akidah (teologi), hingga bermacam mazhab Fikih, Ushul Fikih dan
ilmu-ilmu keislaman lainnya. Jika dilihat dengan kaca mata positif, maka beragamnya aliran dan
mazhab dalam Islam itu menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang kaya dengan corak
pemikiran. Ini berarti umat Islam adalah umat yang dinamis, bukan umat yang statis dan bodoh
yang tidak pernah mau berfikir.
Namun dari semua aliran yang mewarnai perkembangan umat Islam itu, tidak sedikit
juga yang mengundang terjadinya konflik dan membawa kontroversi dalam umat, khususnya
aliran yang bercorak atau berkonsentrasi dalam membahas masalah teologi. Satu diantara
golongan/aliran itu adalah Mutazilah.
Berbicara perpecahan umat Islam tidaklah ada habis-habisnya, karena terus menerus
terjadi perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya khowarij dan syiah kemudian
muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan kebebasan
berfikir, satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana
Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar. Sehingga banyak kaum muslimin yang
terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini. akhirnya terpecahlah dan berpalinglah
kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya.
Akibat dari hal itu bermunculanlah kebidahan-kebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum
muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran
yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat
berbahaya bagi Islam yaitu mereka lebih mendahulukan akal dan dan logika.
Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk saling menasehati
saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok Mutazilah
yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dikembangkan
oleh para kolonialis kristen dan yahudi dalam menghancurkan kekuatan kaum muslimin dan
persatuannya.
Di era modernisasi sekarang ini mulai bermunculan pemikiran mutazilah dengan nama-nama
yang yang cukup menggelitik dan mengelabuhi orang yang membacanya, mereka menamainya
dengan Modernisasi pemikiran, westernasi dan sekulerisme serta nama-nama lainnya yang
mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar dari pemkiran itu
dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman dan pemikiran ini.
Oleh karena itu, perlunya dibahas dan dikaji lebih dalam lagi tentang pemikiran Mutazilah,
dengan tujuan agar diketahui penyimpangan dan penyempalannya dari Islam, maka dalam
makalah ini kami akan membahas berbagai persoalan-persoalan,ajaran-ajaran, atau aliran-aliran
yang berada pada kaum Mutazilah.
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian dan Sejarah Munculnya Aliran Mutazilah


a. Pengertian
Kata mutazilah diambil dari bahasa Arab yaitu yang aslinya adalah kata yang
berarti memisahkan atau menyingkirakan. Menurut Ahmad Warson, kata azala dan azzala
mempunyai arti yang sama dengan kata asalnya. Arti yang sama juga akan kita temui di munjid,
meskipun ia menambahkan satu arti yaitu mengusir.
Penambahan huruf hamzah dan huruf ta pada kata Itazala adalah untuk menunjukkan
hubungan sebab akibat yang dalam ilmu sharf disebut dengan muthawaah, yang berarti terpisah,
tersingkir atau terusir. Maka bentuk pelaku yaitu al-mutazilah berarti orang yang terpisah,
tersingkir atau terusir.
Kenapa Hasan Bashri mengatakan Itazala anna washil bukan dengan inazala anna
Washil, ini karena konotasi yang kedua menunjukakkan perpisahan secara menyeluruh,
sedangkan Washil memang hanya terpisah hanya dari pengajian gurunya, sedangkan mereka
tetap menjalin silaturrahmi hingga gurunya wafat.
Secara harfiah kata Mutazilah berasal dari Itazala yang berarti berpisah atau
memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis, istilah
Mutazilah menunjuk ada dua golongan. Panggilan atau nama yang mereka pilih itu yakni Ahli
keadilan disebabkan mereka memberi hak asasi bagi setiap manusia untuk menerima atau
menafsirkan eksistensi dari sifat-sifat Allah maka tidak terdapat paksaan dari Allah bahkan
manusia memiliki kekuasaan Qodrat untuk meletakkan pilihannya dalam hidup ini. Hal ini
dianggap satu keadilan dimana manusia tidak dipaksa bahkan diberi kekuasaan.
Kaum Mu`tazilah merupakan sekelompok manusia yang pernah menggemparkan dunia
Islam selam lebih dari 300 tahun akibat fatwa-fatwa mereka yang menghebohkan, selama
waktu itu pula kelompok ini telah menumpahkan ribuan darah kaum muslimin terutama para
ulama Ahlus Sunnah yang bersikukuh dengan pedoman mereka.
Kaum Mutazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang
lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan-persoalan yang dibawa oleh kaum
Khawarij dan Murjiah, dalam pembahasannya mereka banyak memakai akal, sehingga mereka
mendapat nama kaum rasionalis islam
Sejarah munculnya aliran mutazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mutazilah
tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 110 H, tepatnya
pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul
Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang
bernama Washil bin Atha Al-Makhzumi Al-Ghozzal.
Mutazilah timbul berkaitan dengan peristiwa Washil bin Atha (80-131) dan temannya,
amr bin ubaid dan Hasan al-basri, sekitar tahun 700 M. Washil termasuk orang-orang yang aktif
mengikuti kuliah-kuliah yang diberikan al-Hasan al-Basri di msjid Basrah. suatu hari, salah
seorang dari pengikut kuliah (kajian) bertanya kepada Al-Hasan tentang kedudukan orang yang
berbuat dosa besar (murtakib al-kabair).
Mengenai pelaku dosa besar khawarij menyatakan kafir, sedangkan murjiah menyatakan
mukmin. Ketika Al-hasan sedang berfikir, tiba-tiba Washil tidak setuju dengan kedua pendapat
itu, menurutnya pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada diantara
posisi keduanya (al manzilah baina al-manzilataini). setelah itu dia berdiri dan meninggalkan al-
hasan karena tidak setuju dengan sang guru dan membentuk pengajian baru. Atas peristiwa ini
al-Hasan berkata, itazalna (Washil menjauhkan dari kita). dan dari sinilah nama mutazilah
dikenakan kepada mereka.

b. Sebab-sebab munculnya nama Mutazilah


Ada beberapa versi atau pendapat yang berbeda dalam menerangkan sebab-sebab munculnya
kaum Mutazilah ini, yaitu :
1. Ada seorang guru besar di Baghdad, namanya Syeikh Hasan Bashri (meninggal
tahun 110 H). Di antara muridnya ada seorang yang bernama Wasil bin Atha (meninggal pada
tahun 131 H). Wasil bin Atha tidak sesuai dengan pendapat gurunya yang mengatakan bahwa
orang Islam yang telah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi ia kebetulan mengerjakan dosa
besar, maka orang itu tetap muslim tetapi muslim durhaka. lantas ia membentak, lalu keluar dari
majelis gurunya dan kemudian mengadakan majelis lain di suatu pojok dari Masjid Basrah itu.
Oleh karena ini, maka Wasil bin Atha dinamai kaum Mutazilah, karena ia mengasingkan atau
memisahkan diri dari gurunya.
2. Adapula orang mengatakan bahwa mereka dinamai Mutazilah ialah karena
mengasingkan diri dari masyarakat. Orang-orang Mutazilah ini pada mulanya adalah orang-
orang Syiah yang patah hati akibat menyerahnya Khalifah Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada
Khalifah Muawiyah dari bani Umayyah.
3. Versi lain dikemukakan oleh Al-Baghdadi. Ia mengatakan bahwa Wasil dan
temannya, Amr bin Ubaid bin Bab, diusir oleh Hasan Al Basri dari majelisnya karena adanya
pertikaian diantara mereka tentang masalah qadar dan orang yang berdosa besar. Keduanya
menjauhkan diri dari Hasan Al Basri dan berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak
mukmin dan tidak pula kafir. Oleh karena itu golongan ini dinamakan Mutazilah.
4. Versi lain dikemukakan Tasy Kubra Zadah yang menyatakan bahwa Qatadah bin
Damah pada suatu hari masuk mesjid Basrah dan bergabung dengan majelis Amr bin Ubaid
yang disangkanya adalah majlis Hasan Al Basri. Setelah mengetahuinya bahwa majelis tersebut
bukan majelis Hasan Al Basri, ia berdiri dan meninggalkan tempat sambil berkata, ini kaum
Mutazilah. Sejak itulah kaum tersebut dinamakan Mutazilah.
5. Al-Masudi memberikan keterangan tentang asal-usul kemunculan Mutazilah tanpa
menyangkut-pautkan dengan peristiwa antara Wasil dan Hasan Al Basri. Mereka diberi nama
Mutazilah, katanya, karena berpendapat bahwa orang yang berdosa bukanlah mukmin dan
bukan pula kafir, tetapi menduduki tempat diantara kafir dan mukmin (al-manjilah bain al-
manjilatain). Dalam artian mereka memberikan status orang yang berbuat dosa besar itu jauh dari
golongan mukmin dan kafir.
c. Pokok-Pokok Ajaran Kaum Mutazilah
Abu Hasan Al- Kayyath berkata dalam kitabnya Al- Intisar Tidak ada seorang pun yang berhak
mengaku sebagai penganut Mu`tazilah sebelum ia mengakui Al- Ushul Al- Khamsah (lima
dasar) yaitu Tauhid, Al- Adl, Al- Wa`du Wal Wai`id, Amar Ma`ruf Nahi Munkar, dan Al-
Manzilah Baina Manzilatain, jika telah menganut semua nya, maka ia penganut paham
Mu`tazilah
Berikut penjelasannya masing-masing yaitu :
1. Tauhid
Memiliki arti Penetapan bahwa Al-Quran itu adalah makhluk sebab jika Al-Quran
bukan makhluk, berarti terjadi sejumlah zat qadiim (menurut mereka Allah adalah Qadiim, dan
jika Al-Quran adalah Qadiim, berarti syirik/ tidak bertauhid).
Menurut mereka tauhid maknanya mengingkari sifat-sifat Allah karena menetapkannya
berarti menetapkan banyak dzat yang qadim, itu sama artinya menyamakan mahluq dengan
khaliq dan menetapkan banyak sang pencipta. Mereka mentawil sifat-sifat Allah dengan
mengatakan sifat Allah adalah Dzat-Nya. Sebagai contoh, Allah `Alim (maha mengetahui)
maknanya ilmu Allah adalah Dzat-Nya, dan seterusnya. Diantara sebagian konsekuensinya,
mereka mengingkari ru`yatullah di akhirat dan mengatakan Al-Qur`an itu mahluk.
Abu Al-Huzail menjelaskan apa sebenarnya yang di maksud dengan nafs al sifat atau
peniadaan sifat-sifat Tuhan. Menurut paham Wasil kepada Tuhan diberikan sifat yang mempunyi
wujud tersendiri dan kemudin melekat pada diri tuhan. Karena dzat tuhan bersifat qadim maka
apa yang melekat pada dzat itu bersifat qadim pula. Dengan demikian sifat adalah bersifat qadim.
Ini, menurut Wasil akan membawa pada adanya dua Tuhan. Karena yang boleh bersifat qadim
hanyalah Tuhan, dengan kata lain , kalau ada sesuatu yang bersifat qadim maka mestilah itu
tuhan. Oleh karena itu, untuk memelihara kemurnian tauhid atau keesaaan tuhan, tuhan tidak
boleh dikatakan mempunyai sifat dalam arti diatas.
Ada beberapa ayat al-quran yang membantah kesamaan Tuhan dengan makhluk. Namun
demikian, ada juga ayat-ayat yang berkaitan dengan wajah, tangan Tuhan dan sebagainya.
Pendapat tradisional cenderung menerima ayat-ayat tersebut itu untuk penilaian tentang wajah
mereka tanpa berusaha lebih jauh untuk menerangkan apa yang diebut dengan wajah dan
sebagainya.
Mereka juga menolak paham beatific vision, yaitu pandangan bahwa tuhan dapat dilihat
di akhirat nanti (dengan mata kepala). Satu-satunya sifat tuhan yang betul-betul tidak mungkin
ada pada makhluknya adalah sifat qadim. Paham ini mendorong mutazilah untuk meniadakan
sifat-sifat tuhan yang mempunyai wujud sendiri di luar dzat tuhan. Mutazilah menolak paham
ini karena tuhan bersifat immateri, sedangkan mata kepala bersifat materi , yang immateri hanya
dapat diterima oleh yang immateri pula. Oleh karena itu, mutazilah berpendapat tuhan memang
dapat dilihat di akhirat, tetapi bukan dengan mata kepala melainkan dengan mata hati.
Selanjutnya, mutazilah berpendapat bahwa hanya dzat tuhan yang bersifat qadim. Paham
ini mendorong mutazilah untuk meniadakan sifat-sifat tuhan yang mempunyai wujud tersendiri
terpisah dari dzatnya. Apa yang oleh golongan lain disebut sifat tuhan, seperti maha mengetahui,
maha kuasa, oleh mutazilah sifat tersebut disebut esensi tuhan.
Paham keesaan tuhan mutazilah ini bermaksud untuk memurnikan dzat tuhan dari
persaman dengan makhluknya. Dalam paham ini tampak betapa kuat pengaruh akal dalam
pemikiran yang di bangun kaum mutazilah itu dan ini menjadi salah satu indikasi bahwa
mutazilah layak memandang sebutan kaum rasional.

2. Al-Adl
Memiliki Arti Pengingkaran terhadap taqdir sebab seperti kata mereka bahwa Allah tidak
menciptakan keburukan dan tidak mentaqdirkan nya, apabila Allah menciptakan keburukan,
kemudian Dia menyiksa manusia karena keburukan yang diciptakannya, berarti Dia berbuat
zalim, sedang Allah adil dan tidak berbuat zalim.
Keadilan versi mereka adalah menolak takdir karena menetapkannya berarti Allah menzholimi
hambanya. Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafy berkata: mengenahi Al `Adl mereka menutupi
dibaliknya pengingkaran takdir. Mereka mengatakan Allah tidak menciptakan keburukan dan
tidak menghukum dengan adanya perbuatan jahat, karena jika Allah menciptakan kejahatan
kemudian menyiksa mereka atas kejahatan mereka, itu artinya Allah zholim, padahal Allah adil
dan tidak zholim. Sebagai konsekuensinya mereka menyatakan dalam (kekuasaan) kerajaan
Allah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan Allah. Allah menginginkan sesuatu tetapi hal itu tidak
terjadi. Sebab kesesatan mereka ini adalah karena ketidak mampuan mereka membedakan antara
iradah kauniyah dengan iradah syar`iyah.
Paham ini dalah paham Qadriah yang dianjurkan Ma`bad dan Ghailan. Tuhan kata Wasil
bersifat bijksana dan adil. Ia tak dapat berbuat jahat dan zhalim. Tidak mungkin tuhan
menghendaki manusia berbuat hal-hal yang bertentangan dengan perintahnya. Dengan demikian
manusialah sendiri yang mewujudkan perbuatan baik dan jahat, iman dan kafir serta patuh dan
tidak patuhnya kepada tuhan. Atas perbuatan-perbuatan ini manusia memperoleh balasannya.
Dan untuk mewujudkan perbutan itu tuhan memberikan daya dan kekuatan kepadanya. Tidak
mungkin tuhan menurunkan perintah kepada manusia untuk berbuat sesuatu kalau manusia tidak
punya daya dan kekuatan untuk berbuat.

3. Al- Wa`du Wal Wa`iid (terlaksananya ancaman),


Maksudnya adalah apabila Allah mengancam sebagian hamba-Nya dengan siksaan, maka tidak
boleh bagi Allah untuk tidak menyiksa-Nya dan menyelisih ancaman-Nya, sebab Allah tidak
menginginkan janji, artinya- menurut mereka Allah tidak memaafkan orang-orang yang
dikehendaki-Nya dan tidak mengampuni dosa-dosa (selain syirik) bagi yang dikehendaki-Nya.
Hal ini jelas bertentangan dengan Ahlus Sunnah Waljama`ah.

4. Al-Manzilah Baina Manzilatain


Artinya orang yang berbuat dosa besar berarti keluar dari iman tetapi tidak masuk kedalam
kekufuran, akan tetapi ia berada dalam satu posisi antara dua keadaan (tidak mukmin dan tidak
juga kafir).
Menurut ajaran ini, orang yang berdosa besar bukan kafir, sebagaimana disebutkan oleh
kaum Khawarij, dan bukan pula mumin sebagaimana di katakan kaum Murji`ah, tetapi fasik
yang menduduki posisi antara mumin dan kafir. Kata mukmin, dalam pendapat Wasil,
merupkan sifat baik dan nama pujian yang tak dapat diberikan kepada orang fasik, dengan dosa
besarnya. Tetapi predikat kafir juga tidak dapat pula diberikan kepadanya, karena di balik dosa
besar ia masih mengucapkan shahadat dan mengerjakan perbuatan baik. Orang serupa ini jika
mati belum bertaubat, akan kekal dalam neraka, hanya siksaan yang di terima lebih ringan dari
siksaan yang diterima kafir.

5. Amar Ma`ruf Nahi Munkar


yaitu bahwa mereka wajib memerintahkan golongan selain mereka untuk melakukan apa yang
mereka lakukan dan melarang golongan selain mereka apa yang dilarang bagi mereka.
Imam Ibnu Abil Izz berkata: adapun amar makruf nahi mungkar, mereka berkata: kita wajib
menyuruh orang selain kita untuk melaksanakan hal yang di perintahkan kepada kita dan
mewajibkn mereka dengan apa yang wajib kita kerjakan. Di antara kandungnnya adalah boleh
memberontak dengan senjata melawan penguasa yang dholim.
Pandangan rasional Mutazilah dapat dilihat juga dalam uraian mengenai kedudukan akal
dan wahyu. Dalam hal ini ada empat hal yang diperdebatkan oleh aliran-aliran kalam yaitu
1Mengenai tentang mengetahui Tuhan.2 Kewajiban mengetahui Tuhan. 3. Mengetahui baik dan
jahat. 4.Kewajiban mengatahui baik dan jahat.

d. Konsep Pemikiran Kalam Aliran Mutazilah


a. Ketauhidan
Mutazilah menafikan dan meniadakan Allah Taala itu bersifat dengan sifat-sifat yang
azali dari ilmu, qudrat, hayat dan sebagainya sebagai dzat-Nya.
b. Dosa Besar
Orang Islam yang mengerjakan dosa besar, yang sampai matinya belum taubat, orang
tersebut dihukumi tidak kafir dan tidak pula mukmin, tetapi diantara keduanya itu. Mereka itu
dinamakan orang fasiq.
c. Qadar
Mereka berpendapat : Bukanlah Allah yang menjadikan segala perbuatan makhluk, tetapi
makhluk itu sendirilah yang menjadikan dan menggerakkan segala perbuatannya. Oleh karena
itulah, mereka diberi dosa dan pahala.
d. Kedudukan Akal
Sepanjang sejarah telah diketahui bahwa kaum Mutazilah membentuk madzhabnya lebih
mengutamakan akal, bukan mengutamakan Al Quran dan Hadist.

e. Kelompok kelompok Mutazilah


Mutazilah berdasarkan versi mereka, terbagi menjadi dua kelompok besar :
1. Mutazilah Ekstrim
Yaitu, mutazilah yang memeaksakan faham mereka kepada orang lain. Meskipun
mayoritas kaum mutazilah bersikap moderat tapi ada juga yang ekstrim. Golongan ini lahir pada
masa keemasan mutazilah, yaitu mereka menyalahgunakan kekuasaan Al-Mamun.
Golongan ini adalah yang menjunjung tinggi dasar kelima. Golongan ini dikenal dengan nama
Waidiyah (pengancam). Dalam melaksanakan dasar yang kelima ini mereka tidak segan-segan
untuk melakukan kekerasan.
2. Mutazilah Moderat
Mayoritas kaum mutazilah adalah moderat, hal inilah salah satu yang membedakannya
dengan Syiah maupun khawarij. Sikap moderat ini pulalah yang menjadi salah satu kunci
kelanggengan aliran ini selama kurang lebih tiga abad lamanya.

f. Perkembangan Mutazilah
Pada awal perkembangannya, aliran ini tidak mendapat simpati dari umat Islam,
khususnya dikalangan masyarakat awam, karena mereka sulit memahami ajaran-ajaran
Mutazilah yang bersifat rasional dan filosofis. Alasan lain adalah kaum muktazilah dinilai tidak
teguh berpegang pada sunah Rasulullah dan para sahabat.
Kelompok ini baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dikalangan Intelektual,
yaitu pada masa pemerintahan Khalifah al-Mamun, penguasa Abbasiyah (198-218H/813-
833M). kedudukan Mutazilah semakin kuat setelah al-Mamun menyatakan sebagai mazhab
resmi Negara. Hal ini disebabkan karena al-Mamun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani
yang gemar akan Ilmu pengetahuan dan filsafat.
Dalam fase kejayaannya itu, Mutazilah sebagai golongan yang mendapat dukungan
penguasa memaksakan ajarannya kepada kelompok lain. Pemaksaan ajaran ini dikenal dalam
sejarah dengan peristiwa mihnah. Mihnah itu timbul sehubungan dengan paham-paham Khalq
Al-Quran. Kaum Mutazilah berpendapat bahwa Quran adalah kalam Allah SWT yang tersusun
dari suara dan huruf-huruf. Al-Quran itu makhluk dalam arti diciptakan Tuhan. Karena
diciptakan berarti ia sesuatu yang baru, jadi tidak kadim. Jika Al-quran itu dikatakan kadim,
maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang kadim selain Allah SWT dan hukumnya Musyrik.
Khalifah al-Mamun menginstruksikan supaya diadakan pengujian terhadap aparat
pemerintahan (mihnah) tentang keyakinan mereka akan paham ini. Menurut al-Mamun orang
yang mempunyai keyakinan bahwa Al-Quran adalah kadim tidak dapat dipakai untuk menempati
posisi penting dalam pemerintahan. Dalam pelaksanaannya, bukan hanya aparat pemerintah yang
diperiksa melainkan juga tokoh-tokoh masyarakat. Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat
pemerintah yang disiksa, diantaranya Imam Hanbali, bahkan ada ulama yang dibunuh karena
tidak sepaham dengan ajaran Mutazilah. Peristiwa ini sangat menggoncang umat Islam dan baru
berakhir setelah al-Mutawakkil (memerintah 232-247H/847-861M).
Dimasa al-Mutawakkil, dominasi aliran Mutazilah menurun dan menjadi semakin tidak
simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakkil membatalkan
pemakaian mazhab Mutazilah sebagai mazhab resmi Negara dan menggantinya dengan aliran
Asyariyah.
Dalam perjalanan selanjutnya, kaum Mutazilah muncul kembali di zaman berkuasanya
Dinasti Buwaihi di Baghdad. Akan tetapi kesempatan ini tidak berlangsung lama.
Selama berabad-abad, kemudian Mutazilah tersisih dari panggung sejarah, tergeser oleh aliran
Ahlusunah waljamaah. Diantara yang mempercepat hilangnya aliran ini ialah buku-buku mereka
tidak lagi dibaca di perguruan-perguruan Islam. Namun sejak awal abad ke-20 berbagai karya
Mutazilah ditemukan kembali dan dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam seperti
universitas al-Azhar.

g Tokoh-Tokoh Mutazilah dan Pemikirannya


1. Wasil bin Atha
Wasil bin Atha adalah orang pertama yang meletakkan kerangka dasar ajaran Muktazilah.
Adatiga ajaran pokok yang dicetuskannya, yaitu paham al-manzilah bain al-manzilatain, paham
Kadariyah (yang diambilnya dari Mabad dan Gailan, dua tokoh aliran Kadariah), dan paham
peniadaan sifat-sifat Tuhan. Dua dari tiga ajaran itu kemudian menjadi doktrin ajaran
Muktazilah, yaitu al-manzilah bain al-manzilatain dan peniadaan sifat-sifat Tuhan.
2. Abu Huzail al-Allaf
Abu Huzail al-Allaf (w. 235 H), seorang pengikut aliran Wasil bin Atha, mendirikan
sekolah Mutazilah pertama di kota Bashrah. Lewat sekolah ini, pemikiran Mutazilah dikaji dan
dikembangkan. Sekolah ini menekankan pengajaran tentang rasionalisme dalam aspek pemikiran
dan hukum Islam. Aliran teologis ini pernah berjaya pada masa Khalifah Al-Makmun (Dinasti
Abbasiyah). Mutazilah sempat menjadi madzhab resmi negara. Dukungan politik dari pihak
rezim makin mengokohkan dominasi mazhab teologi ini. Tetapi sayang, tragedi mihnah telah
mencoreng madzhab rasionalisme dalam Islam ini.
3. Abu Huzail al-Allaf
Adalah seorang filosof Islam. Ia mengetahui banyak falsafah yunani dan itu
memudahkannya untuk menyusun ajaran-ajaran Muktazilah yang bercorak filsafat. Ia antara lain
membuat uraian mengenai pengertian nafy as-sifat. Ia menjelaskan bahwa Tuhan Maha
Mengetahui dengan pengetahuan-Nya dan pengetahuan-Nya ini adalah Zat-Nya, bukan Sifat-
Nya; Tuhan Maha Kuasa dengan Kekuasaan-Nya dan Kekuasaan-Nya adalah Zat-Nya dan
seterusnya. Penjelasan dimaksudkan oleh Abu-Huzail untuk menghindari adanya yang kadim
selain Tuhan karena kalau dikatakan ada sifat (dalam arti sesuatu yang melekat di luar zat
Tuhan), berarti sifat-Nya itu kadim. Ini akan membawa kepada kemusyrikan. Ajarannya yang
lain adalah bahwa Tuhan menganugerahkan akal kepada manusia agar digunakan untuk
membedakan yang baik dan yang buruk, manusia wajib mengerjakan perbuatan yang baik dan
menjauhi perbuatan yang buruk. Dengan akal itu pula menusia dapat sampai pada pengetahuan
tentang adanya Tuhan dan tentang kewajibannya berbuat baik kepada Tuhan. Selain itu ia
melahirkan dasar-dasar dari ajaran as-salh wa al-aslah.
4. Al-Jubbai
Al-JubbaI adalah guru Abu Hasan al-Asyari, pendiri aliran Asyariah. Pendapatnya
yang masyhur adalah mengenai kalam Allah SWT, sifat Allah SWT, kewajiban manusia, dan
daya akal. Mengenai sifat Allah SWT, ia menerangkan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat;
kalau dikatakan Tuhan berkuasa, berkehendak, dan mengetahui, berarti Ia berkuasa,
berkehendak, dan mengetahui melalui esensi-Nya, bukan dengan sifat-Nya. Lalu tentang
kewajiban manusia, ia membaginya ke dalam dua kelompok, yakni kewajiban-kewajiban yang
diketahui manusia melalui akalnya (wjibah aqliah) dan kewajiban-kewajiban yang diketahui
melaui ajaran-ajaran yang dibawa para rasul dan nabi (wjibah syariah).
5. An-Nazzam
An-Nazzam : pendapatnya yang terpenting adalah mengenai keadilan Tuhan. Karena
Tuhan itu Maha Adil, Ia tidak berkuasa untuk berlaku zalim. Dalam hal ini berpendapat lebih
jauh dari gurunya, al-Allaf. Kalau Al-Allaf mangatakan bahwa Tuhan mustahil berbuat zalim
kepada hamba-Nya, maka an-Nazzam menegaskan bahwa hal itu bukanlah hal yang mustahil,
bahkan Tuhan tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat zalim. Ia berpendapat bahwa
pebuatan zalim hanya dikerjakan oleh orang yang bodoh dan tidak sempurna, sedangkan Tuhan
jauh dari keadaan yang demikian. Ia juga mengeluarkan pendapat mengenai mukjizat al-Quran.
Menurutnya, mukjizat al-quran terletak pada kandungannya, bukan pada uslb (gaya bahasa) dan
balgah (retorika)-Nya. Ia juga memberi penjelasan tentang kalam Allah SWT. Kalam adalah
segalanya sesuatu yang tersusun dari huruf-huruf dan dapat didengar. Karena itu, kalam adalah
sesuatu yang bersifat baru dan tidak kadim.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sejarah munculnya aliran Mutazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran Mutazilah tersebut
muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah tahun 105 110 H, tepatnya pada masa
pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik.
Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama
Washil bin Atha Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha
berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik.
Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.Inilah awal
kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya
golongan Mutazilah pun dinisbahkan kepadanya.
Mu`tazilah mempunyai lima ajaran dasar, perintah bernuat baik dan larangan berbuat jahat,
dianggap sebagai kewajiban bukan oleh kaum Mu`tazilah saja, tetapi oleh golongan-golongan
umat Islam lainnya.
Aliran kaum Mu`tazilah dipandang sebagai aliran yang menyimpang dari ajaran Islam, dan
dengan demikian tak disenangi oleh sebagian umat Islam, terutama di Indonesia. Pandangan
demikian timbul karena kaum Mu`tazilah dianggap tidak percaya kepada wahyu dan hanya
mengakui kebenaran yang diperoleh rasio. Sebagai diketahui kaum Mu`tazilah tidak hanya
memakai argumen rasional, tetapi juga memakai ayat-ayat Al-Quran dan hadist untuk menahan
pendirian mereka.
DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam. Jakarta: UI-Press.


Nasir Ahmad, Sahilun.2010. Pemikiran Kalam(teologi islam). Jakarta:Rajawali pers.
Rozak Abdul, Anwar Rosihon. 2006. Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka Setia
Yudi Prahara,Erwin. 2008. Buku Paket Materi PAI.Ponorogo: STAIN PERS
Sudarsono. 2004. Filsafat Islam. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Supiana dan Karman, M. 2004. Materi Pendidikan Agama Islam. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya