Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Persalinan Normal


Persalinan/ partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang
dapat hidup, dari dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar.
Partus normal/ partus biasa ialah bayi lahir melalui vagina dengan letak
belakang kepala/ ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat/ pertolongan istimewa,
serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam
waktu kurang dari 24 jam.

II. 1. 1. Sebab-sebab Mulainya Persalinan


Sebab-sebab mulainya persalinan belum diketahui dengan jelas. Agaknya
banyak faktor yang memegang peranan dan bekerjasama sehingga terjadi
persalinan.
beberapa teori yang dikemukakan adalah :
a) Penurunan Kadar Progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya estrogen
meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan
antara kadar progesteron dan estrogen dalam darah, tetapi pada akhir
kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.
b) Teori Oksitosin
Pada akhir kehamilan kadar oksitosin bertambah. Oleh karena itu timbul
kontraksi otot-otot rahim.
c) Keregangan Otot-Otot
Seperti halnya dengan Bladder dan Lambung, bila dindingnya teregang
oleh isi karena bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Demikian pula dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin
teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan.
d) Pengaruh Janin
Hipofisis dan kelenjar suprarenal janin rupanya juga memegang peranan
oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
e) Teori Prostaglandin

5
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua disangka menjadi salah satu
sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa
prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena, intra dan extra
amnial menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap umur kehamilan. Hal
ini juga disokong dengan adanya kadar prostaglandin, yang tinggi baik dalam
air ketuban maupun daerah perifer pada ibu-ibu hamil, sebelum melahirkan
atau selama persalinan.

II. 1. 2. Tahapan Persalinan


Persalinan aktif dibagi menjadi tiga kala yang berbeda, yaitu :
1) Kala I
Persalinan mulai ketika telah tercapai kontraksi uterus dengan frekuensi,
intensitas, dan durasi yang cukup untuk menghasilkan pendataran dan dilatasi
serviks yang progresif. Kala satu persalinan selesai ketika serviks sudah membuka
lengkap (sekitar 10 cm) sehingga memungkinkan kepala janin lewat. Oleh karena
itu, kala satu persalinan disebut stadium pendataran dan dilatasi serviks.
Fase Laten
Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
Fase Aktif
Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung
sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas :
1. Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).
Peristiwa penting pada persalinan kala I, diantaranya :
1. Keluar lendir/ darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus
(mucousplug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat
terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput
ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. Ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan
mendatar.
3. Selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban
pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada
primigravida berbeda dengan pada multipara :

6
1. Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi
pembukaan pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya,
sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan.
2. Pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium
eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di
tengah) pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan
(inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. Periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara
(+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien
primigravida memerlukan waktu lebih lama.
2) Kala II
Disebut juga sebagai fase pengeluaran bayi. Persalinan dimulai ketika
dilatasi serviks sudah lengkap, dan berakhir ketika janin sudah lahir. His menjadi
lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga
baru pecah spontan pada awal kala 2.
Peristiwa penting pada persalinan kala II, yaitu :
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar
panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis
pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan
anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar
jalan lahir (episiotomi).
Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam. Gerakan
utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala.

Fase pengeluaran bayi, diantaranya :


1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus
dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring/ membentuk sudut
dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior/ posterior).

7
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat :
- tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong
- tekanan dari cairan amnion
- kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan)
- badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah
dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-
bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran
ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala
melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput
melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput,
bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan
sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi
anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan
dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan
mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks, abdomen) dan lengan,
pinggul/trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.
3) Kala III
Persalinan dimulai segera setelah janin lahir, dan berakhir dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban janin. Kala tiga persalinan disebut juga sebagai
stadium pemisahan dan ekspulsi plasenta.
Fase pengeluaran plasenta, dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan
berakhir dengan lahirnya plasenta. Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari
insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai
dengan perdarahan baru, atau dari tepi/ marginal (Matthews-Duncan) jika tidak
disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. Pelepasan

8
plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat
adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah.
Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi
sekitar/ di atas pusat. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. (jika
lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae
keadaan gawat darurat obstetrik).
4) Kala IV
Observasi pasca persalinan sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan
observasi.
Terdapat 7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4, diantaranya :
1) Kontraksi uterus harus baik,
2) Tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
3) Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) Kandung kencing harus kosong,
5) Luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) Resume keadaan umum bayi, dan
7) Resume keadaan umum ibu

II. 2. Kelainan Kala II


Kala Dua memanjang
II. 2. 1. Definisi
Tahap ini berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir
dengan keluarnya janin. Median durasinya adalah 50 menit untuk nulipara dan 20
menit untuk multipara, tetapi angka ini juga sangat bervariasi. Pada ibu dengan
paritas tinggi yang vagina dan perineumnya sudah melebar, dua atau tiga kali
usaha mengejan setelah pembukaan lengkap mungkin cukup untuk mengeluarkan
janin. Sebaliknya, pada seorang ibu dengan panggul sempit atau janin besar, atau
dengan kelainan gaya ekspulsif akibat anestesia regional atau sedasi yang berat,
maka kala dua bisa sangat memanjang.
Kala II persalinan pada nulipara dibatasi dua jam dan diperpanjang sampai
3 jam apabila digunakan analgesia regional. Untuk multipara satu jam adalah
batasnya, diperpanjang menjadi 2 jam pada penggunaan analgesia regional, bila

9
lebih dari itu dinamakan kala II tak maju. Sedangkan batasan kala II lama adalah
pada nulipara bila persalinan pada kala II lebih dari tiga jam dan untuk multipara
lebih dari dua jam.

II.2.2. Etiologi
Kekuatan gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot abdomen dapat
terganggu secara bermakna sehingga bayi tidak dapat lahir secara spontan melalui
vagina. Sedasi berat atau anestesia regional epidural lumbal, kaudal atau
intratekal kemungkinan besar mengurangi dorongan refleks untuk mengejan,
dan pada saat yang sama mungkin mengurangi kemampuan pasien
mengontraksikan otot-otot abdomen. Pada bebrapa kasus, keinginan alami untuk
mengejan dikalahkan oleh menghebatnya nyeri yang timbul akibat mengejan.

II.2.3. Faktor Predisposisi


1.) Usia
Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu untuk hamil dan
melahirkan adalah 20-35 tahun karena pada usia ini secara fisik dan psikologi
ibu sudah cukup matang dalam menghadapi kehamilan dan persalinan. Usia
<20 tahun organ-organ reproduksi belum sempurna secara keseluruhan dan
perkembangan kejiwaan belum matang sehingga belum siap menjadi ibu dan
menerima kehamilannya. Usia >35 tahun organ reproduksi mengalami
perubahan yang terjadi karena proses menuanya organ kandungan dan jalan
lahir kaku atau tidak lentur lagi. Selain itu peningkatn umur seseorang akan
mempengaruhi organ yang vital seperti sistim kardiovaskuler, ginjal dll (pada
umur tersebut mudah terjadi penyakit pada ibu yang akan memperberat tugas
organ-organ tersebut sehingga berisiko mengalami komplikasi pada ibu dan
janin).

2.) Paritas
Paritas 1-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian
maternal. Paritas 0 dan paritas lebih dari 3 mempunyai angka kematian

10
maternal yang lebih tinggi. Lebih tinggi paritas lebih tinggi kematian
maternal. Ibu hamil yang memiliki paritas 4 kali atau lebih, kemungkinan
mengalami gangguan kesehatan, kekendoran pada dinding perut dan
kekendoran dinding rahim sehingga berisiko mengalami kelainan letak pada
janin, persalinan letak lintang, robekan rahim, persalinan macet dan
perdarahan pasca persalinan.
3.) Riwayat Persalinan
Persalinan yang pernah dialami oleh ibu dengan persalinan prematur,
seksio caesarea, bayi lahir mati, persalinan lama, persalinan dengan induksi
serta semua persalinan tidak normal yang dialami ibu merupakan risiko tinggi
pada persalinan berikutnya.
4.) Anatomi Tubuh Ibu
Ibu bertubuh pendek < 150 cm yang biasanya berkaitan dengan malnutrisi dan
terjadinya deformitas panggul merupakan risiko tinggi dalam persalinan,
tinggi badan < 150 cm berkaitan dengan kemungkinan panggul sempit. Tinggi
badan Ibu < 145 cm terjadi ketidakseimbangan antara luas panggul dan besar
kepala janin. Sebagian besar kasus partus tak maju disebabkan oleh tulang
panggul ibu terlalu sempit sehingga tidak mudah dilintasi kepala bayi waktu
bersalin. Proporsi wanita dengan rongga panggul yang sempit menurun
dengan meningkatnya tinggi badan, persalinan macet yang disebabkan
panggul sempit jarang terjadi pada wanita tinggi. Partus tak maju disebabkan
faktor mekanik pada persalinan yaitu terhambatnya jalan lahir janin.
Terhambatnya jalan lahir disebabkan ketidakseimbangan bentuk dan ukuran
panggul (passage), besarnya janin (passenger) dan kontraksi uterus (power).
Bentuk dan ukuran panggul yang sempit menghambat jalan lahir janin,
panggul yang sempit dipengaruhi faktor nutrisi dalam pembentukan tulang
panggul, penyakit dan cedera pada tulang panggul.

II.2.4. Diagnosis
Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan faktor-faktor yang saling
berhubungan, dapat disebabkan oleh :
His tidak efisien (adekuat).

11
Faktor janin (malpresentasi, malposisi, janin besar).
Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor).
Tabel 1. Diagnosis kelainan partus lama.
Tanda dan gejala klinis Diagnosis
Pembukaan serviks tidak membuka Belum in partu, fase labor.
(kurang dari 3 cm)
Tidak didapatkan kontraksi uterus
Pembukaan serviks tidak melewati 3 Prolonged latent phase.
cm sesudah 8 jam in partu.
Pembukaan serviks melewati garis
waspada partograf:
Inersia uteri
frekuensi dan lamanya
kontraksi kurang dari 3
Disproporsi sefalopelvik
kontraksi per 10 menit dan
kurang dari 40 detik. Obstruksi
Secondary arrest of dilatalion
atau arrest of descent.
Secondary arrest of dilatation
dan bagian terendah dengan
Malpresentasi
kaput, terdapat moulase hebat,
edema serviks, tanda rupture
uteri imminens, fetal dan
maternal distress.
Kelainan presentasi (selain
vertes)
Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin Kala II lama (prolonged second stage)
mengedan, tetapi tak ada kemajuan
penurunan.

Pada kasus persalinan macet/tidak maju akan ditemukan tanda-tanda kelelahan


fisik dan mental yang dapat diobservasi dengan :
- Dehidrasi dan Ketoasidosis (ketonuria, nadi cepat, mulut kering).
- Demam.
- Nyeri abdomen.
- Syok (nadi cepat, anuria, ekteremitas dingin, kulit pucat, tekanan darah rendah)
syok dapat disebabkan oleh ruptur uterus atau sepsis.

12
II.2.5. Dampak Persalinan Lama pada Ibu-Janin
1) Pada ibu
a. Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat dan lemah,
pernapasan cepat dan meteorismus, edema vulva, edema serviks, his
hilang atau lemah.
b. Infeksi Intrapartum
Infeksi adalah bahaya yang serius yang mengancam ibu dan
janinnya pada partus lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban.
Bakteri di dalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi
desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis
pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion
yang terinfeksi.
c. Ruptura Uteri
Ruptur uteri, terjadinya disrupsi dinding uterus, merupakan salah
satu dari kedaruratan obstetrik yang berbahaya dan hasil akhir dari partus
tak maju yang tidak dilakukan intervensi. Ruptur uterus menyebabkan
angka kematian ibu berkisar 3-15% dan angka kematian bayi berkisar
50%. Bila membran amnion pecah dan cairan amnion mengalir keluar,
janin akan didorong ke segmen bawah rahim melalui kontraksi. Jika
kontraksi berlanjut, segmen bawah rahim akan merengang sehingga
menjadi berbahaya menipis dan mudah ruptur. Namun demikian kelelahan
uterus dapat terjadi sebelum segmen bawah rahim meregang, yang
menyebabkan kontraksi menjadi lemah atau berhenti sehingga ruptur
uterus berkurang. Ruptur uterus lebih sering terjadi pada multipara jarang
terjadi, pada nulipara terutama jika uterus melemah karena jaringan parut
akibat riwayat seksio caesarea. Ruptur uterus menyebabkan hemoragi dan
syok, bila tidak dilakukan penanganan dapat berakibat fatal.
d. Cincin Retraksi Patologis
Cincin ini ialah nama yang diberikan pada daerah diantara segmen
atas dan segmen bawah uterus yang dapat dilihat dan diraba selama
persalinan. Dalam persalinan normal, daerah ini disebut cincin retraksi.

13
Secara normal daerah ini seharusnya tidak terlihat atau teraba pada
pemeriksaan abdomen, cincin bandl adalah tanda akhir dari persalinan
tidak maju. Bentuk uterus seperti kulit kacang dan palpasi akan
memastikan tanda-tanda yang terlihat pada waktu observasi. Cincin
retraksi patologis Bandl sering timbul akibat persalinan yang terhambat,
disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus, dan
menandakan ancaman akan rupturnya segmen bawah uterus.
e. Pembentukan Fistula
Jika kepala janin terhambat cukup lama dalam pelvis maka
sebagian kandung kemih, serviks, vagina, rektum terperangkap diantara
kepala janin dan tulang-tulang pelvis mendapat tekanan yang berlebihan.
Akibat kerusakan sirkulasi, oksigenisasi pada jaringan-jaringan ini
menjadi tidak adekuat sehingga terjadi nekrosis, yang dalam beberapa hari
diikuti dengan pembentukan fistula. Fistula dapat berubah vesiko-vaginal
(diantara kandung kemih dan vagina), vesiko-servikal (diantara kandung
kemih dan serviks) atau rekto-vaginal (berada diantara rektum dan
vagina). Fistula umumnya terbentuk setelah kala II persalinan yang sangat
lama dan biasanya terjadi pada nulipara, terutama di negara-negara yang
kehamilan para wanitanya dimulai pada usia dini.
f. Cedera Otot-otot Dasar Panggul
Saat kelahiran bayi, dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala
janin serta tekanan ke bawah akibat upaya mengejan ibu. Gaya-gaya ini
meregangkan dan melebarkan dasar panggul sehingga terjadi perubahan
fungsional dan anatomik otot, saraf dan jaringan ikat. Terdapat semakin
besar kekhawatiran bahwa efek-efek pada otot dasar panggul selama
melahirkan ini akan menyebabkan inkontinensia urin serta prolaps organ
panggul.
2) Pada janin
a. Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif, air ketuban
terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau.
b. Kaput suksedaneum yang besar.

14
Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput
suksadenum yang besar di bagian terbawah kepala janin. Kaput ini dapat
berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostik yang
serius. Biasanya kaput suksedaneum, bahkan yang besar sekalipun, akan
menghilang dalam beberapa hari.
c. Moulase Kepala Janin
Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak
saling bertumpang tindih satu sama lain. Akibat tekanan dari tulang-tulang
pelvis, kaput suksedaneum yang besar atau pembengkakan kulit kepala
sering kali terbentuk pada bagian kepala yang paling dependen dan molase
(tumpang tindih tulang-tulang kranium) pada kranium janin
mengakibatkan perubahan pada bentuk kepala. Selain itu dapat terjadi
sefalhematoma atau penggumpalan darah di bawah batas tulang kranium,
terjadi setelah lahir dan dapat membesar setelah lahir.
d. Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK)
Jika partus tak maju dibiarkan berlangsung lebih dari 24 jam maka
dapat mengakibatkan kematian janin yang disebabkan oleh tekanan yang
berlebihan pada plasenta dan korda umbilikus. Janin yang mati, belum
keluar dari rahim selama 4-5 minggu mengakibatkan pembusukan
sehingga dapat mencetuskan terjadinya koagulasi intravaskuler diseminata
(KID) keadaan ini dapat mengakibatkan hemoragi, syok dan kematian
pada maternal.

II. 2. 5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu dengan kala II memanjang yaitu
dapat dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forceps, sectio
caesaria, dan lain-lain. Penatalaksanaannya yaitu sebagai berikut :
1. Tetap melakukan Asuhan Sayang Ibu, yaitu
Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses
persalinan dan kelahiran bayinya. Dukungan dari suami, orang tua dan kerabat

15
yang disukai ibu sangat diperlukan dalam menjalani proses persalinan.
Penolong persalinan dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu
dan anggota keluarganya dengan menjelaskan tahapan dan kemajuan proses
persalinan atau kelahiran bayi kepada mereka.
2. Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu
mengambil posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif
dan benar dan mengikuti dorongan alamiah yang terjadi. Anjurkan keluarga
ibu untuk membantu dan mendukung usahanya. Catatkan hasil pemantauan
dalam partograf. Beri cukup minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit.
Pastikan ibu dapat beristirahat disetiap kontraksi.
3. Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran,
bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman (bila masih mampu,
anjurkan untuk berjalan-jalan). Ajarkan cara bernafas selama kontraksi
berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayi dan catatkan semua temuan dalam
partograf. Berikan cukup cairan dan anjurkan / perbolehkan ibu untuk
berkemih sesuai kebutuhan. Pantau DJJ setiap 15 menit, stimulasi puting susu
mungkin dapat meningkatkan kekuatan dan kualitas kontraksi.
4. Jika ibu tidak ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit pembukaan
lengkap, anjurkan ibu untuk mulai meneran disetiap puncak kontraksi.
Anjurkan ibu mengubah posisinya secara teratur, tawarkan untuk minum dan
pantau DJJ setiap 5-10 menit. Lakukan stimulasi puting susu untuk
memperkuat kontraksi.
5. Jika malpresentasi dan tanda-tanda obstruksi bisa disingkirkan, berikan infus
oksitosin.
6. Jika tidak ada kemajuan penurunan kepala :
a. Jika kepala tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang
kepala di stasion (O), lakukan ekstraksi vakum atau cunam.
b. Jika kepala diantara 1/5-3/5 di atas simfisis pubis, atau bagian tulang kepala
di antara stasion (O)-(-2), lakukan ekstraksi vakum.
c. Jika kepala lebih dari 3/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di
atas stasion (-2) lakukan seksio caesarea.

16