Anda di halaman 1dari 18

REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap melakukan aktivitas fisik khususnya berolahraga selalu dihadapkan


kemungkinan cedera dan cedera ini akan berdampak pada gangguan aktifitas fisik. Salah satu
anggota tubuh yang paling sering mengalami cedera adalah pada bagian sendi pergelangan
kaki. Cedera ini dapat terjadi karena terkilir secara mendadak ke arah lateral atau medial
yang berakibat robeknya serabut ligamentum pada sendi pergelangan kaki. Di setiap
persendian terdapat serabut-serabut otot yang menghubungkan tulang satu dengan tulang
yang lainnya. Serabut otot ini disebut Ligamentum. Cedera yang mengenai pada daerah
ligamentum ini sering disebut SPRAIN, sedangkan cedera yang mengenai pada unit musculo
tendinous disebut STRAIN.
Sprain adalah bentuk cedera berupa penguluran atau kerobekan pada ligament
(jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul sendi, yang memberikan
stabilitas sendi. Kerusakan parah pada ligament atau kapsul sendi dapat menyebabkan
ketidakstabilan pada sendi. Gejalanya dapat berupa nyeri, inflamasi / peradangan, dan pada
beberapa kasus terjadi ketidakmampuan menggerakkan tungkai. Sprain terjadi ketika sendi
dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti melingkar atau memutar
pergelangan kaki.
Strain adalah bentuk cedera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur
muskulo-tendinous (otot dan tendon). Strain akut pada struktur muskulo-tendinous terjadi
pada persambungan antara otot dan tendon. Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi
secara mendadak, seperti pada pelari atau pelompat. Tipe cedera ini sering terlihat pada pelari
yang mengalami strain pada otot-otot hamstring-nya. Beberapa kali cedera terjadi secara
mendadak ketika pelari dalam langkah penuh. Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa
nyeri, spasme otot, kehilangan kekuatan, dan keterbatasan lingkup gerak sendi. Strain
kronis adalah cedera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan berlebihan atau
tekanan berulang-ulang, menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon).
Kesemuanya ini terjadi karena adanya perintah gerak untuk merubah secara cepat
sedangkan kondisi permukaan tanah tidak memungkinkan, kontak langsung dengan kaki
pemain lain juga dapat mengganggu keseimbangan dalam melompat atau mendarat, contoh
konkrit sewaktu berolahraga adalah pada permainan basket, voly, bulutangkis, tenis dan
sepakbola.

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 1


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

BAB II
ISI

2.1 DEFINISI
Cedera pada pergelangan kaki terjadi ketika ligamen yang mendukung tulang-
tulang pergelangan kaki teregang atau robek.
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau
tidak langsung (overloading). Cidera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah,
kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi, otot belum siap, terjadi pada
bagian groin muscle (otot pada kunci paha), hamstring (otot paha bagian bawah), dan otot
quadriceps.
Sprain adalah kekoyakan (avulsion) seluruh atau sebagian dari dan disekeliling
sendi, yang disebabkan oleh daya yang tidak semestinya, kebanyakan sprain terjadi pada
pergelangan tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki.

2.2 ANATOMI ANKLE JOINT


Pergelangan kaki dan kaki merupakan anggota ekstremitas bawah yang
berfungsi sebagai stabilisasi dan penggerak. Di mana terdiri dari 28 tulang dan paling
sedikit 29 sendi, yang mana memiliki fungsi utama sebagai membentuk dasar penyangga,
sebagai peredam kejut,dan sebagai penyesuai mobilitas. Diatas pergelangan kaki ada os
tibia dan fibula.

Struktur Tulang Pada ankle terdiri atas pengelompokan , diantaranya :


1. Fore foot, terdiri dari: Ossa metatarsalia dan Ossa phalangea
2. Mid foot, terdiri dari: Os. Navicularis, Os Cuboid dan Ossa Cuneiforme.
3. Rear foot, terdiri dari: Os, Talus dan Os Calcaneus (Subtalar joint/Talo calcanel
joint).

Gambar 1. Pengelompokkan tulang pedis

Struktur sendi ankle :


a. Distal Tibio Fibular Joint Merupakan Syndesmosis joint dengan satu kebebasan
gerak kecil, membuka dan menutup garpu. Diperkuat anterior dan posterior
tibiofibular ligament dan interroseum membrane/ligament. Arthokinematik dan

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 2


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

osteokinematik adalah gerak geser dalam bidang sagital sangat kecildan gerak
angulasi dalam bidang frontal sebagai membuka dan menutup garpu .
b. Ankle Joint ( Talo Crural Joint ) Merupakan hinge joint yang dibentuk oleh cruris
( tibia dan fibula ) dan os. Talus diperkuat oleh ligament tibio fibular ligament sisi
superior, juga posterior , inferior dan anterior, Tibiotalar ligament serta posterior,
inferior dan anterior Talofibular ligament. Arthrokinematik dan
osteokinematiknya adalah gerakan hanya plantar flexi ( ROM : 40 500 hard end
feel ), Dorsal fleksi ( ROM : 20-300 elastic end feel ). Traksi terhadap talus selalu
kearah distal. Translasi untuk gerak dorsal fleksi kearah posterior dan gerak
plantarfleksi kearah anterior.
c. Subtalar Joint ( Talo Calcaneal Joint ) Merupakan jenis sendi plan joint, dibentuk
oleh os. Talus dan Calcaneus. Diperkuat oleh Talocalcaneal ligament.
Arthrokinematik dan osteokinematik adalah gerakan yang terjadi berupa adduksi (
valgus) dan adduksi ( varus ), yang ROM keduanya adalah hard end feel.
d. Inter Tarsal Joint/ Mid Tarsal Joint (Mid Foot)
Talo Calcaneo Navicular joint, memiliki cekungan permukaan sendi yang
kompleks,termasuk jenis sendi plan joint. Diperkuat oleh plantar
calcaneonavicular ligament.
Calcaneo cuboid joint, merupakan plan joint, bersama alonavicularis
membentuk transversetarsal (mid tarsal joint). Diperkuat ligament: Spring
ligament, Dorsal talo navicular ligamnet, Bifurcatum ligament, Calcaneo
cuboid ligamnet, Plantar calcaneocuboid ligament.
Cuneo navicular joint, navicular bersendi dengan cuneiforme I, II,
III , berbentuk konkaf.Cuneiforms bagian plantar berukuran lebih kecil ,
bersama cuboid membentuk transverse arc.Gerak utama ; plantar dorsal
fleksi. Saat plantar fleksi terjadi gerak luncur cuneiform ke plantar.
e. Cuboideocuneonavicular joint, sendi utamanya adalah cuneiform II-cuboid berupa
plan joint. Gerak terpenting adalah inverse dan eversi. Saat inverse cuboid
translasi ke plantar medial terhadap cuneiform III .
f. Intercuneiforms joint, dengan navicular membentuk transverse arc saat inversi-
eversi terjadi pengurangan-penambahan arc. Arthrokinematiknya berupa gerak
translasi antar os. Tarsal satu terhadap lainnya.
g. Tarso Metatarsal Joint. Cuneiforms I-II-III bersendi dengan metatarsal I-II-III,
cuboid bersendi dengan metatarsalIV-V, Metatarsal II ke proximal sehingga
bersendi juga dengan Cuneiforms I-III, sehinggasendi ini paling stabil dan

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 3


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

gerakannya sangat kecil. Arthrokinematiknya berupa traksi gerakMetatrsal ke


distal

Struktur Otot
Otot berperan sebagai penggerak sendi, juga berfungsi sebagai komponen
stabilisator aktif yang menjaga integritas sendi dan tulang saat pergerakan. Tendon
adalah ujung otot yang melekat ada tulang, fungsinya untuk menghubungkan
berbagai organ tubuh seperti otot dengan tulang-tulang, tulang dengan tulang dan juga
memberikan perlindungan terhadap organ tubuh. M. Soleus dan M gastrocnemius,
fungsinya untuk plantar fleksi pedis, otot ini di innervasi oleh N. tibialis L4-L5
fungsinya untuk supinasi (adduksi dan inversi) dan plantar fleksi pedis. M. Tibialis
anterior dan M. Tibialis Posterior, otot ini di innervasi oleh N. peroneus (fibularis)
profundus L4-L5, fungsinya untuk dorsal fleksi dan supinasi (aduksi dan inverse)
pedis.
M. Peroneus Longus dan M. Peroneus Brevis merupakan pronator yang paling
kuat untuk mencegah terjadinya sprain ankle lateral, otot ini di innervasi oleh N.
Peroneus (fibularis) superficialis L5-S1. Fungsinya untuk pronasi dan (abduksi dan
eversi) dan plantar fleksi pedis tidak hanya pada ligamen, jaringan lain seperti tendon
dapat mengalami cedera, tendon yang sering mengalami cedera pada ankle sprain
adalah tendon peroneus longus dan brevis yang berfungsi terhadap gerakan eversi
pada kaki.

Struktur ligament Ankle


Ligamentum pada ankle joint dapat dibagi dalam beberapa bagian yaitu
ligamentum talonaviculare, ligamentum talocalcaneum lateral, ligamentum
talocalcaneum medial, dan ligamentum talocalcaneum posterior. Ligamentum tarsi
dorsal termasuk ligamentum bifurcatum dengan serabut ligamentum calcaneocuboid,
ligamentum intercuneiform dorsal, ligamentum cuneocuboid dorsal, ligamentum
cuboidonaviculare dorsal, ligamentum cuneonavicular dorsal, dan ligamentum
calcaneocuboid dorsal. Ligamentum tarsi plantaria menghubungkan masing-masing
ossa tarsi pada permukaan plantaris. Ligamentum tersebut meliputi ligamentum
plantar longum yang berjalan dari tuberositas calcanei ke cuboid danossi metatarsal.
Ligamentum calcaneinavicular plantar atau spring ligamentum sangat penting untuk
stabilisasi kaki. Pars medial ligamentun plantar longum, ligamentum
calcaneocuboideum plantar merupakan bagian yang sangat penting.Selain itu juga
terdapat ligamentum cuneonavicular plantar, ligamentum cuboideonavicular plantar,
INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 4
REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

ligamentum intercuneiform plantar, ligamentum cuneocuboid plantar dan ligamentum


interrosea yaitu ligamentum cuneocuboideum interossum dan ligamentum
intercuneiform interrosea. Pada ligamentum antara tarsal dan metatarsal terdapat
ligamentum tarsometatarso dorsal, ligamentum tarsometatarso plantar dan
ligamentum cuneometatarsal interrosea. Diantara ossa metatarsal terdapat ligamentum
metatarsalinterrosea dorsal dan plantar yang terletak pada basis metatarsal. Ligament
pada lateral kaki antara lain adalah ligamentum talofibular anterior yang berfungsi
untuk menahan gerakan kearah plantar fleksi. Ligamentum talofibular posterior yang
berfungsi untuk menahan gerakan kearah inverse. Ligamentum calcaneocuboideum
yang berfungsi untuk menahan gerakan kearah plantar fleksi. Ligamentum
talocalcaneus yang berfungsi untuk menahan gerakan kearah inversi dan ligamentum
calcaneofibular yang berfungsi untuk menahan gerakan kearah inversi.

(
Gambar 2. Ligamen dan Tendon pergelangan kaki. Sumber: Sobotta (2010)

Gambar 3. Struktur anatomi ankle joint

2.3 ETIOLOGI
INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 5
REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

Sprain dan strain disebabkan oleh trauma langsung atau tidak langsung, misalnya
terjatuh atau terbentur, yang menyebabkan sendi tidak pada posisi normal sehingga
terjadi tarikan yang berlebihan. Pada kasus berat dapat terjadi rupture ligament.
Sprain ankle disebabkan trauma inversi yang dapat menimbulkan cedera
ligament kompleks lateral, kadang di ikuti cedera tendon. Faktor faktor yang
mempermudah terjadinya sprain ankle kronis antara lain, faktor intrinsik dan ekstrinsik,
faktor ekstrinsik termasuk dalam kesalahan pelatihan, kinerja yang buruk , teknik yang
salah dan menapak pada permukaan yang tidak rata, faktor intrinsik termasuk kerusakan
jaringan penyangga, ketidakstabilan aktif oleh otot otot penggerak foot and ankle
(muscle weaknes), poor proprioceptive, hypermobile foot and ankle. Faktor risiko cedera
sprain ankle kronis bisa di sebabkan abnormal foot posture yaitu : pes planus dinamis,
pes cavus, flat foot
Strain sering terjadi pada keadaan, seperti : Tergelincir di atas es, berlari,
melompat atau melempar, mengangkat benda berat atau mengangkat dalam posisi
canggung.

2.4. EPIDEMIOLOGI
Menurut hasil penelitian The Electronic Injury National Surveillance System
(NEISS) di Amerika menunjukkan bahwa setengah dari semua keseleo pergelangan kaki
(58,3%) terjadi selama kegiatan atletik, dengan basket (41,1%), football (9,3%), dan
soccer (7,9%). Hal ini dapat membuktikan bahwa persentase tertinggi sprain ankle
adalah selama berolahraga. (Martin, et al 2013).
Menurut data skunder yang di peroleh Poliklinik KONI Provinsi DKI Jakarta
pada bulan September Oktober 2012 dengan data sekunder, populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh atlet Pelatda PON XVIII/2012 Provinsi DKI. Hasil Penelitian yang
diperoleh adalah terdapat kasus cedera sebanyak 85 pada tahun 2009, sebanyak 146 pada
tahun 2010, sebanyak 353 pada tahun 2011, dan sebanyak 419 kasus pada tahun 2012.
Prevalensi cedera terus meningkat, cedera yang didapati kasus terbanyak adalah sprain
ankle (cedera ligamen) sebanyak 41,1 %, bagian tubuh yang mengalami cedera kasus
yang terbanyak adalah bagian ekstremitas bawah sebanyak 60% dan yang paling sedikit
bagian kepala sebanyak 0,8%. Cedera akut sebanyak 64,4% dan cedera kronis 35,6%.
Tempat penanganan kasus cedera , terbanyak dilakukan di KONI DKI Jakarta sebanyak
35,2% dan yang paling sedikit di tangani di Rumah Sakit yaitu sebanyak 8,5% , Setelah
cedera sprain ankle maka akan meninggalkan gejala sisa atau cedera ulang antara 55 %

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 6


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

sampai 72 %, berasal dari pasien pada 6 minggu sampai 18 bulan, hal ini terjadi karena
pasien tidak mencari pengobatan yang professional (Junaidi, 2013).

2.5. MEKANISME CEDERA PERGELANGAN KAKI


Terkilir pada pergelangan kaki biasanya disebabkan oleh gerakan ke sisi
luar/samping (lateral) atau ke sisi dalam/tengah (medial) dari pergelangan kaki yang
terjadi secara mendadak.
Terkilir secara inversi yaitu kaki berbelok dan atau membengkok ke dalam dan
terbalik. Tipe ini merupakan cedera yang paling umum terjadi pada pergelangan kaki. Hal
ini disebabkan oleh banyaknya tulang penstabil pada sisi sebelah samping yang
mengakibatkan tekanan pada kaki menjadi terbalik. Jika kekuatan tersebut cukup besar,
pembengkokan dari pergelangan kaki terjadi sampai medial malleolus kehilangan
stabilitasnya dan menciptakan titik tumpu untuk lebih membalikkan pergelangan kaki.
Ketika serabut otot ligamentum untuk eversi tidak cukup kuat untuk menahan
atau melawan kekuatan inversi, maka serabut ligamentum sisi sebelah samping menjadi
tertekan atau robek.
Biasanya terkilir pada kaki bagian samping meliputi satu atau dua robekan pada
serabut ligamentum. Jika satu ligamentum robek, biasanya termasuk juga ligamentum
calcaneal fibular akan robek pula.
Tekanan yang kuat pada tumit menekan kaki menjadi inversi, membuatnya lebih
mungkin untuk terjadi sprain pada sisi sebelah luar/samping. Kebalikannya, kaki yang
pronasi, kelebihan gerakan atau adanya tekanan dari telapak kaki sisi sebelah
dalam/tengah secara longitudinal lebih memungkinkan untuk terjadi eversi sebagai salah
satu pola sprain pada pergelangan kaki.
Cedera sprain pada pergelangan kaki dengan pola eversi lebih jarang terjadi
daripada cedera sprain dengan pola inversi. Mekanisme yang biasa terjadi adalah
olahragawan yang tiba-tiba menapakkan kakinya pada lubang di lapangan olahraga.
menyebabkan kaki tergerak dengan paksa dan menanamkan kaki pada gerakan yang
eksternal. Dengan mekanisme ini ligamentum anterior tibiofibular, ligamentum
interosseous, dan ligamentum deltoid menjadi robek. Dengan perobekan pada
ligamentum tersebut menyebabkan talus bergerak secara lateral, terutama mengakibatkan
degenerasi pada persendian, dan juga berakibat adanya ruangan abnormal antara medial
malleolus dan talus

2.6. GEJALA KLINIK


Pada sprain dan strain memiliki gejala klinik :

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 7


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

1. Pada sprain : nyeri, bengkak, memar, keterbatasan melakukan gerakan pada sendi
yang cedera,
2. Pada strain : nyeri, bengkak, spasme otot, keterbatasan pergerakan pada otot yang
cedera

Semua tanda-tanda di atas akan mempengaruhi pada daerah yang cedera. terkilir atau
keseleo paling sering terjadi pada bagian ankle/pergelangan kaki, pergelangan tangan,
dan ruas2 jari.

Gambar 4. Strain dan sprain


2.7. TINGKAT CEDERA PERGELANGAN KAKI
Sprain dan strain level akut dapat dikategorikan menurut tingkat keparahan :

1. Strain
a. Derajat I / Mild Strain (Ringan) adalah adanya cidera akibat penggunaan yang
berlebihan pada penguluran unit muskulotendinous yang ringan berupa
stretching/kerobekan ringan pada otot/ligament. Gejala yang timbul seperti
nyeri lokal, meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada otot. Tanda-
tandanya yaitu adanya spasme otot ringan, bengkak, gangguan kekuatan otot
fungsi yang sangat ringan.
b. Derajat II/Medorate Strain (Sedang) adalah adanya cidera pada unit
muskulotendinous akibat kontraksi/pengukur yang berlebihan. Gejala yang
timbul seperti nyeri local, meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada
otot. Tanda-tandanya yaitu adanya spasme otot sedang , bengkak, tenderness,
gangguan kekuatan otot fungsi sedang.
c. Derajat III/Strain Severe (Berat) adalah adanya tekanan/penguluran mendadak
yang cukup berat. Berupa robekan penuh pada otot dan ligament yang
menghasilkan ketidakstabilan sendi. Gejala yang timbul seperti nyeri berat,
adanya stabilitasi. Tanda-tandanya yaitu adanya spasme otot kuat , bengkak,
tenderness, gangguan kekuatan otot fungsi berat.
2. Sprain

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 8


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

a. Sprain tingkat I yaitu cedera sprain yang ditandai dengan terdapat sedikit
hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapa serabut yang putus, cedera
ini menimbulkan rasa nyeri tekan , pembengkakan dan rasa sakit pada daerah
tersebut.
b. Sprain tingkat II yaitu cedera sprain yang ditandai dengan banyak serabut
ligamentum yang putus, cedera ini menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan ,
pembengkakan, efusi (cairan yang keluar) , dan biasanya tidak dapat
menggerakan persendian tersebut.
c. Sprain tingkat III yaitu cedera sprain yang ditandai dengan terputusnya semua
ligamentum, sehingga kedua ujungnya terpisah. Persendian yang
bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian,
pembengkakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat gerakan
gerakan yang abnormal.

Gambar 5. Grade cidera

2.8. DIAGNOSA
Untuk menentukan diagnosa, dilakukan anamnesis bagaimana mekanisme trauma
tersebut, dari pemeriksaan fisik dapat dilihat adanya pembengkakan atau memar pada
daerah yang dicurigai mengalami cedera, bisa dilakukan palpasi untuk lebih
menspesifikan lokasi nyeri.
Pemeriksaan penunjang dapat berupa : X-ray dapat membantu menyingkirkan
kemungkinan fraktur atau cedera tulang lainnya sebagai sumber masalah; Magnetic

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 9


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

resonance imaging (MRI) juga dapat digunakan untuk membantu mendiagnosa tingkat
cedera.

2.9. PENATALAKSANAAN
Beberapa langkah sebagai tindakan pertolongan pertama bila
mengalami sprain atau strain adalah:
REST (istirahat)

Tindakan Rest artinya pasien harus mengistirahatkan dan melindungi wilayah


otot yang cedera. Jika terasa sakit saat menahan beban, gunakanlah penopang, dan
jika terasa sakit untuk menggerakan bagian yang cedera, lindungi dengan splint atau
kayu belat. Kurangi aktifitas sehari-hari sebisa mungkin. Jangan menaruh beban pada
tempat yang cedera selama 48 jam. Dapat digunakan alat bantu
seperti crutch (penopang/penyangga tubuh yang terbuat dari kayu atau besi) untuk
mengurangi beban pada tempat yang cedera. Aktivitas yang berlebih pada bagian
tubuh yg terkena akan memicu terjadinya komplikasi lebih lanjut, misal ligamen yang
robek akan semakin parah, bahkan seringkali terkilir disertai pula dengan
fraktur/patah/retak pada tulang.

ICEs (kompres es)


Kompres dingin atau es akan menghasilkan vasokontriksi untuk mengurangi
pembengkakan dengan meletakkan di bagian yang terluka selama 2-3 menit tiga kali
sehari dalam 24 jam pertama. kita harus menempatkan kain di atas daerah yang cidera
dengan kantong es untuk menghindari luka akibat suhu rendah. Terapi dengan
kompres dingin ini harus dimulai dengan segera dan diteruskan sampai 24-36 jam
setelah luka terjadi

Gambar 6. Penanganan strain dan sprain dengan kompres es

COMPRESS ( Kompres atau penekanan pada daerah yang cedera)

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 10


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

Tindakan Compress artinya menekan bagian yang mengalami cedera dengan


menggunakan perban khusus (ace bandage). Perban ini di harapkan juga dapat
mengikatkan kantong es di tempatnya dan tetap di lanjutkan setelah terapi dingin
ingin menghindari serta mengurangi pembengkakan. Meskipun balutan ini harus rapi,
pastikan bahwa perban ini tidak terlalu ketat karena dapat menimbulkan mati rasa,
geli atau bahkan menambah rasa sakit.

Gambar 7. Kompresi cidera

ELEVATION ( Posisi )
Pada tindakan Elevation, pasien sebisa mungkin harus mengangkat bagian
cedera lebih tinggi di atas jantung atau dada selama 24-36 jam pertama untuk
memudahkan kembalinya darah dan untuk mengurangi pembengkakan. Misalnya jika
yang cedera lutut, upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian lutut diangkat atau
ditopang dengan alat supaya posisinya lebih tinggi dari jantung. Teknik ini mengacu
pada prinsip bejana berhubungan dan berguna untuk mengurangi pembengkakan pada
bagian cedera. Hindari aktifitas olahraga, konsumsi alcohol dan pijat atau urut area
cidera karena dapat memperburuk pembengkakan.

Penatalaksanaan sprain dan strain tergantung pada sendi yang terlibat dan keparahan
cedera.

1. Strain
a. Medikamentosa.
Dengan analgetik seperti Aspirin (300 600 mg/hari) atau Asam mefenamat
(500 mg)
b. Elektromekanis.
Penerapan dingin dikompres dengan kantong es.
c. Pembalutan atau wrapping eksternal.
d. Dengan pembalutan atau pengendongan bagian yang sakit.
e. Posisi ditinggikan atau diangkat.
f. Dengan ditinggikan jika yang sakit adalah ekstremitas.

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 11


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

g. Latihan ROM : Latihan pelan-pelan dan penggunaan semampunya sesudah 48


jam.
2. Sprain
a. Pembedahan.
Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya; pengurangan-
pengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang terkoyak.
b. Medikamentosa
Dengan analgetik Aspirin (100-300 mg setiap 4 jam) untuk meredakan nyeri
dan peradangan. Kadang diperlukan Narkotik (codeine 30-60 mg peroral
setiap 4 jam) untuk nyeri hebat.
c. Elektromekanis.
Penerapan dingin dikompres dengan kantong es.
d. Pembalutan / wrapping eksternal.
e. Dengan pembalutan, cast atau pengendongan (sung).
f. Posisi ditinggikan atau diangkat.
g. Latihan ROM : Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan
perdarahan, latihan pelan pelan dimulai setelah 7-10 hari tergantung jaringan
yang sakit.

Operasi
Dalam beberapa kasus, seperti dalam kasus robek ligamen atau otot, operasi dapat
dipertimbangkan

2.10. CEDERA LAIN YANG DAPAT TERJADI PADA PERGELANGAN KAKI


2.10.1. DISLOKASI BERULANG PADA TENDON PERONEAL
Keadaan ini kelihatan jelas, pasien dapat menunjukkan bahwa tendon peroneus
berdislokasi ke depan pada fibula selama dorsofleksi dan eversi. Terapinya adalah operasi
dan didasarkan atas pengamatan bahwa tempat perlekatan retinakulum pada periosteum
di depan bagian fibula telah terlepas, sehingga menciptakan suatu kantong tempat tendon
bergeser. Dengan penjahitan Dexon melalui lubang bor pada tulang, anatomi yang normal
dapat diciptakan.

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 12


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

Gambar 8. dislokasi Tendon Peroneal

2.10.2. FRAKTUR PADA PERGELANGAN KAKI


Fraktur ankle itu sendiri yang dimaksudkan adalah fraktur pada maleolus lateralis
(fibula) dan/atau maleolus medialis. Dahulu, fraktur sekitar pergelangan kaki disebut
sebagai fraktur Pott. Bidang gerak sendi pergelangan kaki hanya terbatas pada 1 bidang
yaitu untuk pergerakan dorsofleksi dan plantar fleksi. Bagian-bagian yang sering
menimbulkan fraktur dan fraktur dislokasi yaitu gaya abduksi, adduksi, endorotasi atau
eksorotasi.

MEKANISME TRAUMA PADA FRAKTUR SENDI PERGELANGAN KAKI


Fraktur maleolus dengan atau tanpa subluksasi dari talus, dapat terjadi dalam beberapa
macam trauma:

1. Trauma abduksi
Tauma abduksi akan menimbulkan fraktur pada maleolus lateralis yang bersifat oblik,
fraktur pada maleolus medialis yang bersifat avulsi atau robekan pada ligamen bagian
medial.
2. Trauma adduksi
Trauma adduksi akan menimbulkan fraktur maleolus medialis yang bersifat oblik atau
avulsi maleolus lateralis atau keduanya. Trauma adduksi juga bisa hanya menyebabkan
strain atau robekan pada ligamen lateral, tergantung dari beratnya trauma.
3. Trauma rotasi eksterna
Trauma rotasi eksterna biasanya disertai dengan trauma abduksi dan terjadi fraktur
pada fibula di atas sindesmosis yang disertai dengan robekan ligamen medial atau fraktur
avulsi pada maleolus medialis. Apabila trauma lebih hebat dapat disertai dengan dislokasi
talus.

4. Trauma kompresi vertikal


Pada kompresi vertikal dapat terjadi fraktur tibia distal bagian depan disertai dengan
dislokasi talus ke depan atau terjadi fraktur komunitif disertai dengan robekan diastasis.

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 13


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

KLASIFIKASI
Lauge-Hansen (1950) mengklasifikasikan menurut patogenesis terjadinya
pergeseran dari fraktur, yang merupakan pedoman penting untuk tindakan pengobatan
atau manipulasi yang dilakukan.
Klasifikasi yang sering dipakai adalah klasifikasi dari DanisWeber yang
berdasarkan pada level fraktur fibula, dimana fibula merupakan tulang yang penting
dalam stabilitas dari kedudukan sendi berdasarkan atas lokalisasi fraktur terhadap
sindesmosis tibiofibular.
Klasifikasi Danis Weber adalah sebagai berikut :

1. Weber type A
Fraktur fibula dibawah tibiofibular syndesmosis yang disebabkan adduksi atau
abduksi. Medial maleolus dapat fraktur atau deltoid ligamen robek.
2. Weber type B
Fraktur oblique dari fibula yang menuju ke garis syndesmosis. Disebabkan cedera
dengan pedis external rotasi syndesmosisnya intak tapi biasanya struktur dibagian medial
ruptur juga.
3. Weber type C
Fibulanya patah diatas syndesmosis disebut C1 bila 1/3 distal dan C2 bila lebih
tinggi lagi. Disebabkan abduksi saja atau kombinasi abduksi dan external rotasi.
Syndsmosis & membrana interosseus robek juga. Tipe C ini juga dikenal sebagai fraktur
Dupuytren.

Gambar 9. Skematis klasifikasi menurut Danis-Weber : Tipe A (a), Tipe B (b), Tipe C (c&d)

GAMBARAN KLINIK

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 14


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

Ditemukan adanya pembengkakan pada pergelangan kaki, kebiruan, atau


deformitas. Yang penting diperhatikan adalah lokalisasi dari nyeri tekan apakah pada
daerah tulang atau pada ligamen.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Dengan pemeriksaan radiologisa dapat ditentukan jenis-jenis fraktur dan
mekanisme terjadinya trauma. Foto rongent perlu dibuat sekurang kurangnya tiga
proyeksi, yaitu antero posterior, lateral, dan setengah oblik dari gambaran posisi
pergelangan kaki. Sering fraktur terjadi pada fibula proksimal, sehingga secara klinis
harus diperhatikan.

Gambar 10 . Rotgen Fraktur Ankle

PENGOBATAN
Fraktur dislokasi pada sendi pergelangan kaki merupakan fraktur intra-artikuler sehingga
diperlukan reduksi secara anatomis dan akurat serta mobilisasi sendi sesegera mungkin.
Tindakan pengobatan terdiri atas :
1. Konservatif
Dilakukan pada fraktur yang tidak bergeser, berupa pemasangan gips sirkuler di
bawah kulit.
2. Operatif
Terapi operatif dilakukan berdasarkan kelainan-kelainan yang ditemukan apakah
hanya fraktur semata-mata, apakah ada robekan pada ligamen atau diastasis pada
tibiofibula serta adanya dislokasi talus.
Beberapa hal yang penting diperhatikan pada reduksi, yaitu :
- Panjang fibula harus direstorasi sesuai panjang anatomis
- Talus harus duduk sesuai sendi dimana talus dan permukaan tibia duduk paralel.
- Ruang sendi bagian medial harus terkoreksi sampai norml (4 mm)
- Pada foto oblik tidak Nampak adanya diastasis tibiofibula

Tindakan operatif terdiri atas :


- Pemasangan screw (maleolar)
- Pemasangan tension band wiring
- Pemasangan plate dan screw

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 15


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

2.11. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin terjadi pada kondisi ini meliputi :
- Gangguan fungsi ligament (jika terjadi tarikan otot yang kuat sebelum sembuh dan
tarikan tersebut menyebabkan regangan pada ligament yang rupture, maka ligament
ini dapat sembuh dengan bentuk memanjang, yang disertai pembentukan jaringan
parut secara berlebihan).
- Strain dan sprain yang berulang dapat menyebabkan Tendonitis dan Perioritis , dan
perubahan patologi adanya inflasi serta dapat mengganggu/robeknya jaringan otot
dan tendon dari intensitas ringan berat tergantung tipe strain yang didapatkan.
Strain dapat mengakibatkan ptah tulang karena robeknya ligament , membuat tulang
menjadi kaku dan mudah patah bila salah mobilisasi.
- Vaskuler, Apabila terjadi fraktur subluksasi yang hebat maka dapat terjadi gangguan
pembuluh darah yang segera, sehingga harus dilakukan reposisi secepatnya.
- Malunion, Reduksi yang tidak komplit akan menyebabkan posisi persendian yang
tidak akurat yang akan menimbulkan osteoarthritis.
- Osteoartritis
- Algodistrofi adalah komplikasi dimana penderita mengeluh nyeri, terdapat
pembengkakan dan nyeri tekan di sekitar pergelangan kaki. Dapat terjadi perubahan
trofik dan osteoporosis yang hebat.
- Dislokasi berulang
- Kelemahan Otot
- Fraktur dislokasi
- Kontraktur

2.12. PROGNOSIS
Prognosis cedera pada pergelangan kaki tergantung dengan derajat keparahan dan
penanganan pada cedera tersebut. 36%-85% dapat sembuh sempurna dalam 3 minggu-6
bulan. Setelah 12 bulan pertama, terdapat resiko kembali ke kambuh. 3%-34%
mengalami ankle sprain berulang pada 2 miggu 96 bulan. Setelah 3 tahun masih ada
yang mengalami nyeri dan instabilitas. Dislokasi berulang akibat ligamen yang ruptur
tersebut tidak sembuh dengan sempurna sehingga diperlukan pembedahan untuk
memperbaikinya (kadang-kadang).

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 16


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

BAB III
KESIMPULAN

1. Persendian pergelangan kaki mudah sekali terserang cedera, sendi ini tidak mampu
melawan kekuatan medial, lateral, penekanan, dan rotasi. Kesemuanya ini terjadi
karena lemahnya otot atau lapisan lemak.
2. Sprain dan strain disebabkan oleh trauma langsung atau tidak langsung, misalnya
terjatuh atau terbentur, yang menyebabkan sendi tidak pada posisi normal sehingga
terjadi tarikan yang berlebihan. Pada kasus berat dapat terjadi rupture ligament.
3. Ketika serabut otot ligamentum untuk eversi tidak cukup kuat untuk menahan atau
melawan kekuatan inversi, maka serabut ligamentum sisi sebelah samping menjadi
tertekan atau robek.
4. Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk melihat pada cedera pergelangan kaki yang
curiga ada fraktur tulang.
5. Penatalaksanaan pada cedera pergelangan kaki utamakan terlebih dahulu RICE pada
derajat ringan dilanjutkan dengan medikamentosa berupa analgetik, pada derajat yang
lebih berat diterapi dengan operasi baik sprain, strain maupun fraktur.
6. Prognosis cedera pergelangan kaki tergantung dengan derajat keparahan cedera.
Semakin tinggi derajat semakin mungkin berulang dan dapat dioperasi.

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 17


REFERAT CEDERA PERGELANGAN KAKI

DAFTAR PUSTAKA

1. AAOS. Sprain and strain [series online] 2015 [October 2007]. Available from: URL:
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00111
2. Anonym. Disease and condition sprain and strain [series online] 2015 [Jan. 24, 2015].
Available from: URL: http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sprains-and-
strains/basics/treatment/con-20020958
3. Peterson, L., dan Renstrom, P., (1990). Sports Injuries: Their Prevention and
Treatment. London: CIBA-GEIGY.
4. Prionoadi B. pengelolaan cidera sprain tingkat II [series online] 2015. Available
from:URL:http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/131453189/Sprain%20II
%20Ankle.pdf
5. Rasjad, Chairuddin. Pengantar ilmu bedah ortopedi. Edisi 3. Penerbit Yarsif
Watampone: Makassar; 2007.
6. Reksoprojo.S: Editor; Pusponegoro.AD; Kartono.D; Hutagalung.EU; Sumardi.R;
Luthfia.C; Ramli.M; Rachmat. KB; Dachlan.M. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.
Penerbit Bagian Ilmu Bedah FKUI/RSCM; Jakarta.2001.
7. Sabiston. DC; alih bahasa: Andrianto.P; Editor Ronardy DH. Buku Ajar Bedah
Bagian 2. Penerbit EGC; Jakarta.
8. Schwartz.SI; Shires.GT; Spencer.FC; alih bahasa: Laniyati; Kartini.A; Wijaya.C;
Komala.S; Ronardy.DH; Editor Chandranata.L; Kumala.P. Intisari Prinsip Prinsip
Ilmu Bedah. Penerbit EGC; Jakarta.2000.
9. Sjamsuhidajat.R; De Jong.W, Editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi, Cetakan
Pertama, Penerbit EGC; Jakarta.2012. 1058-1064.

INDRI SUTANTI (FK YARSI - 110.2009.141) 18