Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KESEHATAN REPRODUKSI

TENTANG
ISU-ISU KESEHATAN REPRODUKSI

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 4


1. DELLA MONICHA SARI
2. EMMY OKTALIZA
3. FAULA NINGSIH
4. MONITA APRIANSE
5. PUTRI PERMATA DEWI
6. RIKA JULIANA DELFIA
7. SRI NOVTI LAILI
8. YUVA MUSTIKA

DOSEN PEMBIMBING : DOLIS YESTI FENNYRIA, SST

YAYASAN SEKUNDANG BENGKULU SELATAN


AKADEMI KEBIDANAN
Jl. Datuk Nazir Nomor : 02 Telp & Fax (0739) 21218 Kode Pos 38511
Email: Akbid@yahoo.com
Website: www.akbid.com
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial
yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem
reproduksi. Kesehatan reproduksi ditujukan bagi laki-laki maupun perempuan
namun dalam hal ini perempuan mendapatkan perhatian lebih karena begitu
kompleksnya alat reproduksi perempuan. Kesehatan reproduksi membahas
berbagai hal yang berhubungan dengan kesehatan alat reproduksi seseorang,selain
itu kesehatan reproduksi juga membahas tentang siklus hidup serta permasalahan
yang dihadapi oleh perempuan.
Permasalahan yang dihadapi perempuan sangat kompleks daripada
permasalahan yang dihadapi oleh laki-laki. Dalam setiap fase atau masanya
perempuan memiliki masalah yang berbeda-beda.
Isu Kesehatan reproduksi selama siklus kehidupan perempuan sangatlah
beragam dan kompleks. Tak ada habisnya bila harus membicarakan isu terkini
kesehatan reproduksi. Issu kesehatan reproduksi perempuan merupakan
permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh perempuan di setiap masanya.
Dalam makalah ini dijelaskan mengenai berbagai macam issu kesehatan
reproduksi tentang praktik tradisional yang berakibat buruk terhadap kesehatan
reproduksi, masalah KRR dan mortalitas dan morbiditas ibu dan anak.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui praktik tradisional yang berakibat buruk terhadap
kesehatan reproduksi.
2. Untuk mengetahui masalah KRR.
3. Untuk mengetahui mortalitas dan morbiditas ibu dan anak.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Praktik Tradisional yang Berakibat Buruk Terhadap Kesehatan Reproduksi


1. Kekurangan gizi dan kesehatan yang buruk
Dalam masyarakat kita, biasanya kaum perempuan lebih mendahulukan/
memprioritaskan kaum lelaki, dalam hal ini suami, ayah atau saudara laki-laki
dan anak laki-laki dalam mengkonsumsi makanan, hal ini disebabkan karena
kaum perempuan berpendapat bahwa kaum laki-laki memiliki tanggung jawab
yang besar dalam keluarga sehingga mereka memerlukan tenaga yang lebih
dari kaum perempuan untuk bekerja, untuk itu perlu asupan nutrisi yang lebih
baik.
Saat ini di negara kita sangat banyak penduduk tumbuh tidak sempurna
karena kurangnya gizi dalam makanan pada masa anak-anak akibat besarnya
tingkat kemiskinan. Kekurangan gizi berpengaruh terhadap kesehatan
reproduksi wanita karena sebenarnya wanita yang sudah mengalami
menstruasi akan membutuhkan gizi banyak bahkan sampai 3 kali lebih besar
dari pada pria untuk menggantikan darah yang keluar. Kurangnya gizi juga
bisa membahayakan perkembangan otak janin dan fisik janin. Wanita juga
sangat rentan terhadap bakteri karena kebanyakan dari wanita bekerja
berhubungan dengan air, misalnya mencuci, memasak, dan sebaginya. Seperti
yang kita ketahui bahwa air adalah media yang sangat cepat dan sangat
berbahaya dalam penularan bakteri yang bisa menimbulkan penyakit.
2. Beban kerja yang berat
Pada umumnya waktu wanita bekerja lebih banyak dari pada waktu
kerja pria. Akibatnya wanita hanya mempunyai waktu yang sangat sedikit
untuk istirahat dan bisa mengakibatkan stres, kronis dan sebagainya.
Kesehatan reproduksi wanita tidak hanya dipengaruhi oleh waktu saja tetapi

2
wanita juga harus tetap menjaga kesehatannya dengan menjalankan pola
hidup yang baik.
Jadi betapa pentingnya kesehatan bagi seorang wanita terutama menjaga
kesehatan reproduksi wanita. maka sejak dini kita sudah harus menjaga
pola hidup sehat untuk diri, karena kesehatan wanita secara langsung sangat
berpengaruh untuk kesehatan anak baik yang didalam kandungan atau anak
yang telah lahir. kesehatan wanita sangat sering dilupakan. oleh sebab itu
wanita selalu menghadapi masalah kesehatan khusus yang tidak dihapadi oleh
seorang pria berkaitan dengan fungsi reproduksinya.
3. Pendidikan yang rendah
Tingginya tingkat kemiskinan juga sangat mempengaruhi kesempatan
untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Semua tergantung dari tingkat
kemampuan masalah biaya. Dari kebanyakan orang menilai bahwa laki-laki
lebih perlu mendapatkan pendidikan daripada wanita, itu disebabkan karena
faktor kemiskinan. Sehingga mereka menilai bahwa seorang wanita itu tidak
perlu dengan pendidikan yang tinggi. Padahal seseorang yang memiliki
pendidikan yang tinggi mempunyai daya tangkap atau mempunyai pengertian
yang lebih besar terhadap semua masalah, terutama masalah kesehatan dan
bisa ikut serta dalam mengambil keputusan dalam keluarga dan masyarakat.
Dengan pendidikan yang memadai, wanita pun dapat mengetahui dengan
bijaksana pentingnya merawat daerah kewanitaan serta menghindari banyak
masalah yang berkaitan dengan hal tersebut.
4. Pernikahan Dini
Seperti yang selalu kita lihat, di era saat ini sudah terlalu banyak kita
lihat banyaknya wanita yang melakukan kawin terlalu muda (dibawah usia 18
tahun). Hal ini sudah sering terjadi, faktor-faktor ini juga sangat
mempengaruhi pola pemikiran. Wanita yang menikah sangat muda, berarti
resiko terbesar pun bisa terjadi. Wanita muda hamil mempunyai resiko tingkat
kematian dua kali lebih besar dibandingkan dengan wanita yang menikah usia

3
diatas 20 tahun dan dapat merusak reproduksi wanita. Dampak lain juga,
akibat mereka putus sekolah, pada akhirnya mereka selalu bergantung kepada
suami dalam perekonomian keluarga dan dalam mengambil keputusan.

B. Kesehatan Reproduksi Remaja


1) Pengertian
Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan
oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun
dan belum kawin.Menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan
Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.
Kesehatan Reproduksi (kespro) adalah Keadaan sejahtera fisik, mental
dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran &
sistem reproduksi (Konferensi International Kependudukan dan
Pembangunan, 1994).
Kesehatan Reproduksi Remaja adalah suatu kondisi sehat yang
menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh
remaja.Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau
bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.

2) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi Remaja


Kesehatan reproduksi remaja dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:
1. Kebersihan organ-organ genital
2. Akses terhadap pendidikan kesehatan
3. Hubungan seksual pranikah
4. Penyalahgunaan NAPZA
5. Pengaruh media massa
6. Akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi
7. Hubungan harmonis dengan keluarga

4
3) Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja
1. Perkosaan
Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya.
Korbannya tidak hanya remaja perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi).
Remaja perempuan rentan mengalami perkosaan oleh sang pacar, karena
dibujuk dengan alasan untuk menunjukkan bukti cinta.
2. Free sex
Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-
ganti. Seks bebas pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis
selain dapat memperbesar kemungkinan terkena infeksi menular seksual
dan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), juga dapat
merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab,
pada remaja perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan aktif pada
sel dalam mulut rahimnya. Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi
dengan penggunaan obat-obatan terlarang di kalangan remaja. Sehingga
hal ini akan semakin memperparah persoalan yang dihadapi remaja terkait
kesehatan reproduksi ini.
3. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).
Hubungan seks pranikah di kalangan remaja didasari pula oleh
mitos-mitos seputar masalah seksualitas. Misalnya saja, mitos
berhubungan seksual dengan pacar merupakan bukti cinta. Atau, mitos
bahwa berhubungan seksual hanya sekali tidak akan menyebabkan
kehamilan. Padahal hubungan seks sekalipun hanya sekali juga dapat
menyebabkan kehamilan selama si remaja perempuan dalam masa subur.
4. Aborsi
Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan
sebelum waktunya. Aborsi pada remaja terkait KTD biasanya tergolong
dalam kategori aborsi provokatus, atau pengguguran kandungan yang
sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang keguguran terjadi secara

5
alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal antara lain
karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya
tertekan secara psikologis, karena secara psikososial ia belum siap
menjalani kehamilan. Kondisi psikologis yang tidak sehat ini akan
berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak menunjang untuk
melangsungkan kehamilan.
5. Perkawinan Dan Kehamilan Dini
Nikah dini ini, khususnya terjadi di pedesaan. Di beberapa daerah,
dominasi orang tua biasanya masih kuat dalam menentukan perkawinan
anak dalam hal ini remaja perempuan. Alasan terjadinya pernikahan dini
adalah pergaulan bebas seperti hamil di luar pernikahan dan alasan
ekonomi. Remajayang menikah dini, baik secara fisik maupun biologis
belum cukup matang untukmemiliki anak sehingga rentan menyebabkan
kematian anak dan ibu pada saat melahirkan. Perempuan dengan usia
kurang dari 20 tahun yang menjalani kehamilansering mengalami
kekurangan gizi dan anemia. Gejala ini berkaitan dengan
distribusimakanan yang tidak merata, antara janin dan ibu yang masih
dalam tahap proses pertumbuhan.
6. IMS (Infeksi Menular Seksual) atau PMS (Penyakit Menular Seksual), an
HIV/AIDS.
IMS ini sering disebut juga penyakit kelamin atau penyakit yang
ditularkan melalui hubungan seksual. Sebab IMS dan HIV sebagian besar
menular melalui hubungan seksual baik melalui vagina, mulut, maupun
dubur. Untuk HIV sendiri bisa menular dengan transfusi darah dan dari
ibu kepada janin yang dikandungnya. Dampak yang ditimbulkannya juga
sangat besar sekali, mulai dari gangguan organ reproduksi, keguguran,
kemandulan, kanker leher rahim, hingga cacat pada bayi dan kematian.

6
4) Penanganan Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja
Ruang lingkup masalah kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki
menggunakan pendekatan siklus kehidupan. Berdasarkan masalah yang terjadi
pada setiap fase kehidupan, maka upaya- upaya penanganan masalah
kesehatan reproduksi remaja sebagai berikut :
1. Gizi seimbang.
2. Informasi tentang kesehatan reproduksi.
3. Pencegahan kekerasan, termasuk seksual.
4. Pencegahan terhadap ketergantungan NAPZA.
5. Pernikahan pada usia wajar.
6. Pendidikan dan peningkatan ketrampilan.
7. Peningkatan penghargaan diri.
8. Peningkatan pertahanan terhadap godaan dan ancaman.

C. Morbiditas dan Mortalitas ibu dan Anak


1. Pengertian
a. Angka kesakitan bayi (Morbiditas) adalah perbandingan antara jumlah
penduduk karena penyakit tertentu dengan jumlah penduduk pada
pertengahan tahun, dan dinyatakan dalam per 1000 penduduk. Kegunaan
dari mengetahui angka kesakitan ini adalah sebagai indikator yang
digunakan untuk menggambarkan pola penyakit tertentu yang terjadi di
masyarakat. Angka kesakitan bayi adalah perbandingan antara jumlah
penyakit tertentu yang ditemukan di suatu wilayah tertentu pada kurun
waktu satu tahun dengan jumlah kasus penyakit bayi tertentu yang
ditemukan di suatu wilayah pada kurun waktu yang sama dikali seratus
persen.
b. Kematian (mortalitas) adalah peristiwa hilangnya semua tanda-tanda
kehidupan secara permanen yang bisa terjadi tiap saat setelah kelahiran
hidup.

7
Angka kematian (Mortalitas) digunakan untuk menggambarkan pola
penyakit yang terjadi di masyarakat. Kegunaan dari mengetahui angka
kematian ini adalah sebagai indikator yang digunakan sebagai ukuran
derajat kesehatan untuk melihat status kesehatann penduduk dan
keberhasilan pelayanan kesehatan dan upaya pengobatan yang dilakukan.
Sementara itu, yang dimaksud dengan angka kematian bayi adalah
kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum
berusia tepat satu tahun. Jadi, Angka Kematian Bayi (AKB) adalah
banyaknya kematian bayi berusia di bawah satu tahun per 1000 kelahiran
hidup pada satu tahun tertentu.
c. Mortalitas perinatal (perinatal mortality) adalah kematian janin yang
terjadi pada kehamilan akhir (setelah usia kehamilan 20 minggu), selama
kelahiran, atau sampai dengan 7 hari setelah kelahiran.
d. Mortalitas maternal mengacu pada kematian selama kehamilan.

2. Klasifikasi Kematian Maternal


Kematian maternal dapat diklasifikasi sebagai berikut :
a. Kematian langsung karena kehamilannya sendiri
b. Kematian tak langsung karena penyakit lain
c. Tidak ada kaitan / dipengaruhi kehamilan, misal kecelakaan lalu lintas,
bencana

3. Klasifikasi kematian perinatal :


a. Kelainan bawaan / cacat bawaan
b. Isoiminisasi / inkomtabilitas serologis
c. Preeklamsia
d. Perdrahan antepartum
e. Kelainan maternal/penyakit yang di derita ibu
f. lain-lain, infeksi neonatal

8
g. unexplained / tidak dapat dikategorikan

4. Faktor - faktor yang mempengaruhi Kematian Ibu dan Perinatal


a. Faktor medik : beberapa faktor medik yang melatarbelakangi adalah faktor
resiko
1) Usia ibu saat hamil
2) Jumlah anak
3) Jarak antara kehamilan
4) Komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas :
a) Perdarahan pervaginam, khususnya pada kehamilan trimester tiga,
persalinan dan pasca persalinan
b) Infeksi
c) Pre-eklampsi, hipertensi akibat hamil
d) Komplikasi akibat partus lama
e) Trauma persalinan
5) Keadaan yang memperburuk derajat kesehatan ibu saat hamil :
a) Kekurangan gizi dan anemia
b) Bekerja ( fisik ) berat selama kehamilan

b. Faktor non medik


1) Kurangnya kesadaran ibu untuk mendapat pelayanan antenatal
2) Terbatasnya pengetahuan ibu tentang bahaya kehamilan resiko tinggi
3) Ketidakberdayaan sebagian besar ibu hamil di pedesaan
dalammpengambilan keputusan untuk dirujuk
4) Ketidakmampuan sebagian besar ibu hamil untuk membayar biaya
transpor dan perawatan RS

c. Faktor pelayanan kesehatan


1) Berbagai aspek manajemen yang belum menunjang antara lain :

9
a) belum semua Dati II memberi prioritas yang memadai untuk
program KIA
b) kurangnya komunikasi dan koordinasi antara Dinkes Dati II, RS
Dati II dan puskesmas dalam upaya kesehatan ibudan perinatal
c) belum mantapnya mekanisme rujukan dari puskesmas ke RS Dati
II atau sebaliknya

2) Berbagai keadaan yang berkaitan dengan keterampiplan pemberi


pelayanan KIA masih merupakan faktor penghambat
a) belum ditetapkannya prosedur tetap penanganan kasus
kegawatdaruratan kebidanan dan perinatal secara konsisten
b) kurangnya pengalaman bidan di desa yang baru ditempatkan dalam
mendeteksi dan menangani ibu/bayi resiko tinggi
c) kurang mantapnya keterampilan bidan di puskesmas dan bidan
praktik klinik swasta untuk ikut aktif dalam jaringan sistem
rujukan saat ini
d) terbatasnya keterampilan dokter puskesmas dalam menangani
kegawat daruratan kebidanan dan perinatal
e) kurangnya alih teknologi tepat guna (yang sesuai dengan
permasalahan setempat) dari dokter spesialis RS II kepada
dokter/bidan puskesmas

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk diketahui oleh para
perempuan bakal calon ibu ataupun laki-laki calon bapak. Oleh karena itu
bverdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa.
Definisi kesehatan sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan
dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dana sosial, ditambahkan
lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syart baru, yaitu:
sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif, baik secara ekonomis
maupun sosial.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan
sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam
segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta
proses-prosesnya.

B. Saran
Untuk itu wawasan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sangatlah
penting untuk bisa dikuasai dan dimiliki oleh para perempuan dan laki-laki yang
berumah tangga, supaya kesejahtaraan dan kesehatan bisa tercapai dengan
sempurna. Oleh kerana itu penulis memberi saran kepada para pihak yang terkait
khususnya pemerintah, untuk bisa memberikan pengetahuan dan wawasan
tersebut kepada khalayak masyarakat dengan cara sosialisasi, kegiatan tersebut
mudah-mudahan kesehatan reproduksi masyarakat bisa tercapai dan masyarakat
lebih pintar dalam menjaga kesehatannya.
.

11
DAFTAR PUSTAKA

Mona Isabella Saragih, Amkeb, SKM. Materi Kesehatan Reproduksi. Akademi


Kebidanan YPIB Majalengka.

Manuaba. Memahami Kesehatan reproduksi wanita. EGC; Jakarta; 1998.

Kartono.Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi. Pustaka Sinar Harapan;Jakarta;


1998.

Wahid, Abdurrahman, dkk. Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan Ketimpangan


Gender, Pustaka Sinar Harapan; Jakarta; 1996.

Wattie, Anna Marie. Kesehatan Reproduksi dasar pemikiran, pengertian dan


implikasi, Pusat Penelitian Kependudukan UGM; Yogyakarta; 1996.

Wattie, Anna Marie. Telaah Aspek-Aspek Sosial Dalam Persoalan Kesehatan


Reproduksi, Pusat penelitian Kependudukan UGM; Yogyakarta; 1996.

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Bunga rampai Obstetri dan


Ginekologi Sosial, Jakarta.

12
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang melimpahkan rahmat dan


karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Isu-isu
Kesehatan Reproduksi.
Ucapan terimakasih kepada Ibu Dolis Yesti Fennyria, SST selaku dosen
pembimbing mata kuliah ini dan berbagai pihak yang ikut membantu dalam
penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis
mengharapkan saran, kritik dan tanggapan untuk kesempurnaan makalah ini dan juga
untuk menambah pemahaman terhadap topic yang di bahas.
Akhir kata semoga makalah ini bermamfaat bagi semua.

Penulis

i
13
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................... i


Daftar Isi..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN TEORI


A. Praktik Tradisional Yang Berakibat Buruk Terhadap
Kesehatan Reproduksi ......................................................................... 2
B. Kesehatan Reproduksi Remaja ............................................................ 4
C. Mortalitas Dan Morbiditas Ibu Dan Anak ........................................... 7

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................................ 11
B. Saran ................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA

ii 14

Anda mungkin juga menyukai