Anda di halaman 1dari 28

SEMINAR MAKALAH MANDIRI

KOASISTENSI REPRODUKSI Rabu, 29 Juni 2016

RETENSI PLASENTA PADA SAPI:


PENYEBAB, PENANGANAN
DAN PENCEGAHAN
Oleh:
Pilar Patria (15/390812/KH/8737)
Dosen Pembimbing:
drh. Sri Gustari, MP.

DEPARTEMEN REPRODUKSI DAN OBSTETRI


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
PENDAHULUAN
Sapi sebagai komoditas pangan penyedia protein hewani (daging dan susu)

Kebutuhan terus meningkat namun tidak diikuti peningkatan produksi

Berbagai macam permasalahan dalam produksi, salah satunya reproduksi

Gangguan reproduksi yang turut mengganggu produksi adalah retensi plasenta

Perlunya pengetahuan mengenai penyebab, penanganan, dan pencegahan dari


kasus retensi plasenta.
TINJAUAN PUSTAKA
PLASENTA RUMINANSIA
Plasenta merupakan organ yang
berfungsi sebagai pertukaran
metabolit antara konseptus dan
induk.
Plasenta berperan juga sebagai
organ endokrin.
Plasenta tersusun dari
komponen fetus yaitu kotiledon
dan komponen induk yaitu
karunkula, gabungan keduanya
disebut plasentom.
Plasenta ruminansia termasuk
Struktur Plasenta Sapi
dalam tipe kotiledonari. (Senger, 2003)
GARIS WAKTU PERKEMBANGAN PLASENTA
fetus vaskularisasi
dikelilingi korion vaksularisasi
Sempurna, arterial
maternal korion (1 cm) allantokorion karunkula
recognition 30
berkembang sempurna
15-18 40-60 150
Pertumbuhan semua jaringan

18-22 120
40 peningkatan
awal
vili kotiledon vaskularisasi
implantasi
melekat dengan dan
0 kripta karunkula aliran darah
ovulasi dari
& fertilisasi karunula
STRUKTUR MAKROS

Struktur Makros Plasenta Sapi Struktur Makros Plasenta Sapi


(Senger, 2003) (Noakes dkk., 2001)
STRUKTUR MIKROS

Struktur Mikros Plasenta Sapi Migrasi binucleate giant cells


(Noakes dkk., 2001) (Senger, 2003)
PLASENTA SEBAGAI ORGAN PERTUKARAN
Air
Glukosa, Asam amino
ZAT YANG DAPAT DITRANSPOR
DARI INDUK KE FETUS Na, P, Ca
Hormon steroid
Vitamin larut air

Protein
ZAT YANG TIDAK DAPAT DITRANSPOR Trigliserid
DARI INDUK KE FETUS
Hormon peptida
PLASENTA SEBAGAI ORGAN ENDOKRIN

1. PROGESTERON
Menjaga kebuntingan

2. ESTROGEN
Berperan saat partus

3.Memacu
PLACENTAL LACTOGEN
perkembangan fetus (mirip growth hormone) dan gld. mamaria
PELEPASAN PLASENTA DARI UTERUS

PERUBAHAN YANG DIBUTUHKAN

3. STRUKTURAL 4. IMUNOLOGIK
2. ENDOKRIN 5. KONTRAKTIL
1. MATURASI
6. VASKULARISASI
MATURASI ENDOKRIN STRUKTURAL
Maturasi Menjelang kelahiran Jaringan Ikat
Maternal
Berkaitan dengan Perubahan hormonal Kolagen
pengurangan jumlah
epitel kripta karunkula
progesteron
dan sel memipih dan melebar Memipihnya
Epitel Kripta Karunkul
estrogen
Jarak pembuluh darah
dengan fetal semakin pendek Hormon lain yang berkaitan:
prostaglandin, oksitosin
BNGC
Diperlukan untuk pertumbuhan Perubahan endokrin penting
untuk memunculkan respon
fetus dan merupakan syarat kontraktil, apoptosis, ekspresi polynuclear
lepasnya membran fetal matriks metalloproteinases
IMUNOLOGIK KONTRAKTIL VASKULARISASI
MHC Kontraksi berulang Mengurangi suplai
darah ke uterus
Anemik-hiperemik
Respon imun, reaksi inflamasi Karunkula lebih kecil
Perubahan pada villi
Pelepasan membrane Dilatasi kripta karunkula
fetus tidak cocok
Kotiledon-karunkula Lepasnya corda umbilikus
Maternal
Kontraksi setelah ekspulsi fetus:
Pelepasan plasenta Suplai darah terhenti
Neutrofil activating factors Mengurangi hemoragi
Chemotatctic activity to neutrophil
Vili mengecil
RETENSI PLASENTA
Retensi Plasenta adalah

merupakan gangguan komplek

yang ditandai dengan kegagalan

pelapasan membrane fetus pada

stadium ketiga partus.

Secara umum 6 jam lebih dari

pengeluaran fetus.
GEJALA KLINIS
Membran plasenta menggantung pada vulva.
Dapat berbau dari awal.
Pada saat suhu tubuh tinggi: anoreksia, depresi, pulsus tinggi, penurunan berat
badan.
PENYEBAB
Faktor yang mempengaruhi
secara langsung
GANGGUAN PADA
Distokia, nekrosis antara kotiledon
dan karunkula, hiperemi plasentom, Maturasi
inflamasi fetal membran Endokrin
Struktural RETENSI PLASENTA
Imunologik
Faktor yang mempengaruhi secara Kontraktil
tidak langsung Vascular
Stres yang intensif, kekurangan
mineral dan vitamin, kembar,
megafetus, hipokalsemia subklinis,
nutrisi
PEMBAHASAN
PENANGANAN

1. PELEPASAN MANUAL

2. ANTIBIOTIK

3. HORMON UTEROKINETIK

4. KOLAGENASE
PELEPASAN MANUAL
Perlekatan kotiledon dan karunkula
48 jam setelah partus masih kuat
(Youngquist dan Threfael, 2007).
62% pengeluaran sempurna, 27%
parsial, 11% tidak dapat dilepas
(Youngquist dan Threfael, 2007).
Pelepasan secara manual
memperpanjang days open dan
calving interval (Waheeb dkk.,
2014).
Pelepasan manual menyebabkan https://www.youtube.com/watch?v=BA1-B5B34Mo
kerusakan uterus, terutama di level
mikroskopik dan berlanjut dengan
infeksi (Amin, 2013; Waheeb dkk.,
2014; Zubair dkk., 2014).
ANTIBIOTIK
Menurut Drillich dkk. (2006) pengobatan dengan menggunakan tidak menunjukkan hasil
yang memuaskan angka kebuntingan pada 200 hari post partum masih rendah.
Menurut Drillich dkk. (2006) pengobatan secara sistemik tanpa gejala demam tidak
menunjukan hasil yang lebih baik dibandingkan tanpa diberi perlakuan.
Pemberian oxytetracicline dengan penicillin secara intrauterine tidak menunjukkan hasil
yang memuaskan. Faktor yang menyebabkan adalah penentuan dosis yang sulit untuk
administrasi intrauterine. Antibiotik ini juga menyebakan iritasi pada endometrium
(Youngquist dan Threfall, 2007).
PROSTAGLANDIN
Bekerja secara tidak langsung, yaitu dengan menyebakan kontraksi dan dilatasi serviks/
Menurut Waheeb dkk. (2014) pemberian PGF2 menunjukan hasil calving interval 380 hari,
conception rates 60%.
Menurut Asker dan Dakheel (2015) pengobatan menggunakan PGF2 menunjukan ekspulsi
dari plasenta sebesar 100%.
OKSITOSIN
Menurut Waheeb dkk. (2014) pengobatan dengan oksitosin nenunjukkan hasil calving
interval sepanjang 409 hari, sementara conception rates 30%.
Kurang efektifnya oksitosin dibandingkan prostaglandin disebabkan oleh variasi dosis
oksitosin yang dibutuhkan, waktu injeksi, dan kombinasi dengan estrogen.
KOLAGENASE
Kolagenase disintesis dari Clostridium histolyticum.
Dilakukan injeksi kolagenase ke umbilicus pada
plasenta yang menggantung.
Secara langsung dapat menyebakan lepasnya
plasenta (Youngquist dan Threfall, 2007).
Menurut Eller dan Hopkins (1992), pemberian
240.000 U dalam 1 liter salin dan dengan inkubasi
12 jam secara signifikan menyebakan degradasi
dari kotiledon.
Penagananan dengan metode ini mempunyai
keberhasilan sebesar 85%.
PENCEGAHAN
Penghilangan faktor yang secara langsung maupun tidak
langsung dapat menyebakan retensi plasenta.
Menurut Gupta dkk. (2005) pemberian vitamin E 1100 IU dan
selenium 30 mg dapat mencegah terjadinya retensi plasenta.
Brozos dkk (2009) menggunakan vitamin E 1000 IU, selenium
0.05 ppm dan ammonium chloride 60 gram dapat mencegah
terjadinya retensi plasenta.
Vitamin E dan selenium mengurangi pertambahan metabolit
oksigen reaktif. Metabolit oksigen reaktif yang tinggi
menyebakan penghambatan aktivitas neutrophil (Gupta dkk.,
2005; Brozos dkk., 2009).
KESIMPULAN
Retensi plasenta merupakan ganggun reproduksi yang bersifat kompleks dan menyebabkan
kerugian pada produktivitas sapi.
Pengananan secara manual dan pemberian antibiotik tidak menunjukan hasil yang
memuaskan. Pengobatan menggunakan hormon uterokinetik merupakan opsi yang baik
untuk pengobatan yaitu dengan pemberian prostaglandin.
Pencegahan dapat dilakukan dengan penghilangan faktor yang mengganggu pelepasan
plasenta dan pemberian preparat vitamin E dan selenium pada akhir kebuntingan.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, R. U., Bhat, G. R., Ahmad, A., Swain, P. S. dan Arunakurami, G. 2013. Understanding patho-physiology of retained
placenta and its management in cattle-a review. Veterinary Clicnical Science. Vol I (2013) 1-9.
Brozos, C. N., Kiosisis, E., Georgiadis, M. P., Piperlis, S., dan Boscos, C. 2009. The effect of chloride ammoniuum, vitamin
E and Se Supplementatwion throughout the dry period on the prevention of retained fetal membranes, reproductive
performance and milk yield of dairy cows. Livestock Science. 124 (2009) 210-215.
Drillich, M., Mahlstedt, M., Reichert, U., Tenhagen, B. A., dan Heuwieser, W. 2006a. Strategies to improve the Therapy of
Retained Fetal Membranes in Dairy Cows. J. Dairy Sci. 89:627-635.
Drillich, M., Reichert, U., Mahlstedt, M., dan Heuweleser, W. 2006b. Comparison of two strategies for systemic antibiotic
treatment of dairy cows with retained fetal membranes: preventive vs selective treatment. J. Dairy Sci. 89: 1502-
1508.
Eiler, H. dan Hopkins, F. 1992. Bovine Retained Placenta: Effects of Collagenase and Hyaluronidase on Detachment of Placenta. Biology
of Reproduction. 46 (1992) 580-585.
Gupta, S., Gupta, H. K., dan Soni, J. 2005. Effect of Vitamin E and Selenium supplementation on concentrations of plasma
cortisol and erytrhocyte lipid peroxides and the incidence of retained fetal membranes in crossbred dairy catte.
Theriogenolgy. 64 (2005) 1273-1286.
Majeed, A. F., Aboud, Q. M., dan Muhammad, A. Y. 2009. Retained fetal membranes in Fresian-Holstein cows and effect of
some treatment methods. Iraqi Journal of Veterinary Sciences. Vol. 23 (2009) 5-8.
DAFTAR PUSTAKA
Nabors, B. dan Linford, R. 2015. Anatomy of the Reproductive System of the Cow. Dalam: Hopper, R. M. (ed). Bovine
Reproduction. John Wiley & Sons, Inc., Iowa.

Noakes, D. E., Parkinson, T. J., dan England, G. C. W. 2001. Arthurs Veterinary Reproduction and Obstetrics 8th Edition.
W. B. Saunders, London.
Peter, A. T. 2015. Retained Fetal Membranes. Dalam: Hopper, R. M. (ed). Bovine Reproduction. John Wiley & Sons, Inc.,
Iowa.

Senger, P. L. 2005. Pathway to Pregnancy and Parturition 2nd Revised Edition. Current Conceptions, inc., Washington.

Waheeb, R. Sh., Hussein, F. M., El-Amrawi, G. A., El-Hammady, E. A. 2014. Retained fetal membranes in Holstein Cows:
Economical Evaluation of Different Therapeutic Protocols Under Egyptian Condition. Journal of International
Scientific. Vol. 2 1314-8591.
Youngquist, R. S. Threlfall, W. R. 2007. Current Therapy in Large Animal Theriogenology 2. Saunders Elsevier, Missouri.
TERIMA KASIH