Anda di halaman 1dari 16

11

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Produktivitas

1. Pengertian Produktivitas

Secara umum produktivitas dapat diartikan sebagai hubungan antara hasil

nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan masukan yang sebenarnya.

Produktivitas juga dapat diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi

barang dan jasa. 1 Mahoney mendefinisikan produktivitas sebagai suatu pengertian

efisiensi secara umum yaitu sebagai rasio antara hasil dan masukan selama suatu

proses yang menghasilkan suatu produk atau jasa.

Hasil (outputs) itu meliputi (penjualan, laba, kepuasan konsumen),

sedangkan masukan meliputi alat yang digunakan, biaya, tenaga, keterampilan

dan jumlah hasil individu. Sejalan dengan pendapat di atas, Asad menjelaskan

produktivitas tidak dapat dipisahkan dengan pengertian produksi karena keduanya

saling berhubungan. Apabila mempermasalahkan produktivitas maka produksi

selalu tersangkut di dalamnya. Produktivitas dapat didefinisikan sebagai

perbandingan antara totalitas keluaran pada waktu tertentu dengan totalitas

pemasukan pada periode tersebut, atau suatu tingkatan efisiensi dalam meproduksi

barang dan jasa.

Produktivitas dapat diuraikan sebagai perbandingan antara total output

yang berupa barang dan jasa pada waktu tertentu dibagi dengan total inputnya

1
Muchdarsyah Sinungan, Produktivitas, Apa dan Bagaimana, cet. 2, (Jakarta: Bumi
Aksara, , 2008), h. 12

11
12

yang berupa 5 (lima) M, yaitu (Man, Material, Money, Method, Machine). Selama

periode yang bersangkutan dalam satuan unit.2

Dapat ditarik kesimpulan secara sederhana bahwa pengertian produktivitas

kerja adalah rasio output terhadap input. Input bisa mencakup biaya produksi dan

biaya-biaya lainnya. Output terdiri dari penjualan, pendapatan dan kerusakan.

2. Konsep Produktivitas

Konsep produktivitas kerja dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi

individu dan dimensi organisasi. Dimensi individu melihat produktivitas dalam

kaitannya dengan karakteristik-karakteristik kepribadian individu yang muncul

dalam bentuk sikap mental dan mengandung makna keinginan dan upaya individu

yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan

dimensi keorganisasian melihat produktivitas dalam kerangka hubungan teknis

antara masukan (input) dan keluaran (out put). Oleh karena itu dalam pandangan

ini, terjadinya peningkatan produktivitas tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas,

tetapi juga dapat dilihat dari aspek kualitas.3

Peningkatan produktivitas dan efisiensi merupakan sumber pertumbuhan

utama untuk mewujudkan hasil yang diinginkan dari suatu pekerjaan. Sebaliknya,

pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan juga merupakan unsur penting dalam

menjaga kesinambungan peningkatan produktivitas. Dengan demikian,

pertumbuhan dan produktivitas bukan dua hal yang terpisah atau memiliki

2
Gregerman, Productivity Improvement: A Guide for Small Business, (Amerika: Van
Nostrand Reinhold, 1984), h. 127
3
Ibid, hal. 128
13

hubungan satu arah, melainkan keduanya adalah saling tergantung dengan pola

hubungan yang dinamis, tidak mekanistik, non linear dan kompleks.

Proses akumulasi ini merupakan hasil dari proses investasi disebabkan

oleh peningkatan kualitasnya. Dengan jumlah tenaga kerja dan modal yang sama,

pertumbuhan output akan meningkat lebih cepat apabila kualitas dari kedua

sumber daya tersebut meningkat. Walaupun secara teoritis faktor produksi dapat

dirinci, pengukuran kontribusinya terhadap output dari suatu proses produksi

sering dihadapkan pada berbagai kesulitan.

Disamping itu, kedudukan manusia, baik sebagai tenaga kerja kasar, dari

suatu aktivitas produksi tentunya juga tidak sama dengan mesin atau alat produksi

lainnya. Seperti diketahui bahwa output dari setiap aktivitas ekonomi tergantung

pada manusia yang melaksanakan aktivitas tersebut, maka sumber daya manusia

merupakan sumber daya utama dalam pembangunan. Sejalan dengan fenomena

ini, konsep produktivitas yang dimaksud adalah produktivitas tenaga kerja. Tentu

saja, produktivitas tenaga kerja ini dipengaruhi, dikondisikan atau bahkan

ditentukan oleh ketersediaan faktor produksi komplementernya seperti alat dan

mesin. Namun demikian konsep produktivitas adalah mengacu pada konsep

produktivitas sumber daya manusia.

Secara umum konsep produktivitas adalah suatu perbandingan antara

keluaran (out put) dan masukan (input) persatuan waktu. Produktivitas dapat

dikatakan meningkat apabila:

1. Jumlah produksi/keluaran meningkat dengan jumlah masukan/sumber

daya yang sama.


14

2. Jumlah produksi/keluaran sama atau meningkat dengan jumlah

masukan/sumber daya lebih kecil

3. Produksi/keluaran meningkat diperoleh dengan penambahan sumber daya

yang relatif kecil.

Konsep tersebut tentunya dapat dipakai didalam menghitung produktivitas

disemua sektor kegiatan. Peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan

menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan

sumber daya manusia dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya. Dengan kata

lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari tingkat efisiensi dan

efektifitas kerja secara total.

Aspek-aspek dalam produktivitas terbagi menjadi dua bagian, yaitu

efektifitas dan efisiensi. Efisiensi merupakan suatu ukuran dalam membandingkan

penggunaan masukan yang direncanakan dengan masukan yang sebenarnya

terlaksana. Kalau masukan yang sebenarnya digunakan itu semakin besar

penghematannya, maka tingkat efisiensi semakin tinggi. Sedangkan Efektifitas

yaitu merupakan suatu ukuran yang memberi gambaran seberapa jauh target dapat

tercapai baik secara kualitas maupun waktu. Jika prosentase target yang akan

dicapai itu semakin besar, maka tingkat efektifitas semakin tinggi, atau semakin

kecil prosentase target dapat tercapai, maka semakin rendah tingkat

produktivitasnya.
15

3. Teknik Peningkatan Produktivitas

Menurut J. Raviyanto Putra dan kawan-kawan, banyak cara untuk

meningkatkan produktivitas, diantaranya:4

a. Dengan meningkatkan keluaran dan mempertahankan masukan

b. Meningkatkan keluaran dengan proporsi yang lebih besar dari pada

pertambahan masukan

c. Meningkatkan keluaran dan menurunkan masukan

d. Mempertahankan keluaran dan menurunkan masukan

e. Menurunkan keluaran dan menurunkan masukan dengan proporsionalitas

yang lebih besar

Selanjutnya dalam memperbaiki produktivitas berarti menata kembali dan

mengkombinasikan faktor-faktor produktif sedemikian rupa sehingga

menghasilkan performan yang lebih tinggi.

a. Fase Awareness (Penyadaran)

Untuk menjadi lebih produktif, pertama kali manusia harus mau

meningkatkan produktivitas mereka. Untuk langkah yang pertama adalah dengan

malakukan pembaharuan dalam hal ini adalah produktivitas, yang harus dilakukan

adalah meyakinkan diri sendiri ataupun orang lain bahwa dengan produktivitas

yang lebih besar akan memberikan manfaat bagi masing-masing orang yang

terlibat dan bukan sebaliknya.

4
Ahmad Tohardi, Manajemen Sumber Daya Manusia. Pemahaman Praktis, cet, 1,
(Bandung: Mandar Maju, 2002), h. 459
16

b. Fase Improvement (Perbaikan)

Menurut Ir. Ahmad Tohardi, 38 ada empat jalur yang dapat ditempuh dalam

melakukan perbaikan produktivitas, yaitu: Investasi, insentif, pelibatan, dan

metode teknik Industri.

c. Fase Maintenance (Pemeliharaan)

Yaitu menjaga dan mencegah agar produktivitas tersebut tidak turun

kembali nilainya. 5

B. Sistem Mukhabarah

1. Definsi Mukhabarah

Mukhabarah adalah kerjasama di bidang pertanian antara pemilik sawah/

ladang dengan penggarap dengan benih tanaman dan biaya garapan dari pihak

pemilik sawah. Hasilnya menjadi milik kedua belah pihak dengan pembagian

berdasarkan persentase yang telah disepakati.6

Menurut ulama Syafiiyah: Mukhabarah adalah mengelola tanah di atas

sesuatu yang dihasilkan dan benuhnya berasal dari pengelola. Adapun muzaraah,

sama seperti mukhabarah, hanya saja benihnya berasal dari pemilik tanah.

2. Dasar Hukum Mukhabarah

Sebagian ulama melarang paroan tanah semacam ini. Mereka beralasan

pada beberapa hadis yang melarang paroan tersebut . Hal itu ada dalam kitab

hadis Bukhari dan Muslim diantaranya:

5
Ibid, hal. 459
6
Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam A Adilatuhu, (Jakarta: Gema Insani, 2011), h. 581
17

Artinya:

Rafi bin Khadij berkata diantara Ansar yang paling banyak mempunyai
tanah adalah kami, maka kami persewakan, sebagian tanah untuk kami,
dan sebagian untuk mereka yang mengerjakannya. Kadang-kadang
sebagian tanah itu berhasil baik, dan yang lain tidak berhasil, oleh karena
itu Rasulullah Saw melarang paroan dengan cara demikian. (Riwayat
Bukhari).

Ulama yang lain berpendapat tidak ada halangan. Pendapat ini dikuatkan

oleh Nawawi, Ibnu Munzir, dan Khattabi mereka mengambil hadis Ibnu Umar:

( )

Artinya:

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya nabi Saw telah memberikan kebun beliau

kepada penduduk Khaibar, agar dipelihara oleh mereka dengan

perjanjian mereka akan diberi sebagian dari penghasilannya, baik dari

buah-buahan ataupun hasil pertahun (palawija) (Riwayat Muslim)

Adapun hadis yang melarang tadi maksudnya hanya apabila penghasilan

dari sebagian tanah ditentukan mesti kepunyaan salah seorang diantara mereka.

Karena memang kejadian dimasa dahulu itu mereka memarokan tanah dengan

syarat akan mengambil penghasilan dari tanah yang lebih subur, persentase bagian

masing-masingpun tidak diketahui. Keadaan inilah yang dilarang oleh junjungan

Nabi Saw dalan hadis tersebut, sebab pekerjaan demikian bukanlah dengan cara
18

adil dan jujur. Pendapat inipun dikuatkan dengan alasan bila dipandang dari segi

kemaslahatan dan kebutuhan orang banyak. Memang kalau kita selidiki hasil dari

adanya paroan ini terhadap umum, sudah tentu kita akan lekas mengambil

keputusan yang sesuai dengan pendapat yang kedua ini.7

3. Rukun dan Syarat Mukhabarah

Rukun Mukhabarah menurut jumhur ulama antara lain:

1) Pemilik tanah

2) Petani/Penggarap

3) Obyek mukhabarah

4) Ijab dan qabul, keduanya secara lisan.

Syarat dalam mukhabarah, diantaranya:

1) Pemilik kebun dan penggarap harus orang yang baligh dan berakal.

2) Benih yang akan ditanam harusjelas dan menghasilkan.

3) Lahan merupakan lahan yang menghasilkan,jelas batas batasnya,dan

diserahkan sepenuhnya kepada penggarap.

4) Pembagian untuk masing-masing harus jelas penentuannya.

5) Jangka waktu harus jelas menurut kebiasaan.8

4. Zakat dan Hikmah Mukhabarah

7
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, ,(Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2010), h. 302.
8
Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik dan Kontemporer, (Bogor: Ghalia Indonesia,
2012), h.162
19

Dalam mukhabarah, yang wajib zakat adalah penggarap (petani), karena

dialah hakikatnya yang menanam, sedangkan pemilik tanah seolah-olah

mengambil sewa tanahnya. Jika benih berasal dari keduanya, maka zakat

diwajibkan kepada keduanya jika sudah mencapai nishab, sebelum pendapatan

dibagi dua.

Adapun hikmah Mukhabarah antara lain:

a. Terwujudnya kerja sama yang saling menguntungkan antara pemilik tanah

dengan petani penggarap.

b. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

c. Tertanggulanginya kemiskinan.

d. Terbukanya lapangan pekerjaan, terutama bagi petani yang memiliki

kemampuan bertani tetapi tidak memiliki tanah garapan.

C. Mukhabarah dalam Ekonomi Islam

1. Pengertian Ekonomi Islam

Sistem ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada

ajaran dan nilai-nilai Islam, bersumber dari Alquran, as-Sunnah, ijma dan qiyas.

Sistem ekonomi Islam berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis,

sistem ekonomi Islam memiliki sifat-sifat baik dari sistem ekonomi sosialis dan

kapitalis, namun terlepas dari sifat buruknya. Ilmu ekonomi Islam merupakan

ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang

diilhami oleh nilai-nilai Islam.


20

Ada beberapa pengertian Ekonomi Islam dari pakar ekonomi muslim

dalam buku karya M.B Hendrie Anto di antaranya adalah:

a. Ekonomi Islam adalah suatu ilmu dan aplikasi petunjuk dan aturan

syariah yang mencegah ketidakadilan dalam memperoleh dan

menggunakan sumber daya material agar memnuhi kebutuhan manusia

dan agar dapat menjalankan kewajibannya kepada Allah dan masyarakat.

b. Ekonomi Islam adalah tanggapan pemikir-pemikir muslim terhadap

tantangan ekonomi pada zamannnya. Dalam upaya ini mereka dibantu

oleh Alquran dan Hadis, serta alasan dan pengalaman.9

c. Adapun Syed Nawab Heider Naqvi dalam buku Islam, Economics and

Society memberikan definisi, Ekonomi Islam adalah perilaku (ekonomi)

umat Islam pada masyarakat muslim yang khas10. Definisi yang terpopuler

dari ilmu ekonomi Islam adalah studi mengenai alokasi sumber daya yang

langka, yang mempunyai berbagai alternatif pemanfaatannya.

2. Dasar Hukum Ekonomi Islam

Sebagai ajaran yang komprehensif, hukum ekonomi Islam dibangun atas

dasar kaidah ushul fiqh muamalah, qawaid fiqh dan falsafah hukum Islam Di

mana segala sesuatu yang tidak dilarang oleh Alquran dan Sunnah adalah halal.

Dengan demikian sebagian besar ekonom Muslim memahami ekonomi Islam

sebagai suatu teori dan praktik ekonomi yang menghindari segala transaksi yang

mengandung dengan riba (bunga), maisir (judi) dan gharar (spekulasi),

9
M.N. Siddiqi, Role of State in the Economy: An Islamic Perspective, (UK: The Islamic
Foundation, 2010), h. 69.
10
Syed Nawab Heider Naqvi, Economics and Society, (Bandung: Mizan, 2006), h. 243.
21

menghindari dilakukannya peningkatan kesejahteraan seseorang dengan cara yang

bathil atau merugikan orang lain, menekankan pada aspek keadilan dari pada

efisiensi, tidak melakukan investasi dan transaksi pada produk-produk yang

dilarang, dan berupaya mewujudkan kesejahtaraan sosial yang didukung oleh

zakat dan amal shaleh lainnya.

a. Sumber hukum dari Alquran

Sumber hukum Islam yang abadi dan asli adalah kitab suci

Alquran. Alquran memberi hukum-hukum ekonomi yang dapat

menciptakan kesetabilan dalam perekonomian itu sendiri. QS. ar-Ruum:

39.








: )
(
Artinya:
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia
bertambah pada harta manusia, maka Riba itu tidak menambah
pada sisi Allah, dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang
kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang
berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan
(pahalanya). (QS. ar-Ruum: 39).

Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 278, berbunyi:




22


(: )

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan

tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-

orang yang beriman. (QS. al-Baqarah: 278).

b. Hukum dari Hadis

Dalam konteks hukum Islam, hadis yang secara harfiah berarti

cara, adat istiadat, kebiasaan hidup mengacu pada perilaku Nabi Saw

yang dijadikan teladan, hadis sebagian besar didasarkan pada praktik

normatif masyarakat di zamannya. Pengertian hadis jadi mempunyai arti

tradisi yang hidup pada masing-masing generasi berikutnya. Sebagai

sumber hukum ekonomi Islam, hadis memberi gambaran prilaku

Rasulullah dalam melakukan kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-

hari dan sesuai dengan tujuan syari.11 Contoh hadis tentang kesucian hak

milik:

Rasulullah Saw bersabda:

( )

Artinya:

11
Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Vol. V, (Damaskus: Dar al-Fikr,
2008), h. 483
23

Dari Abu Hurairah ra. berkata: bersabda Rasulullah Saw

(barang siapa yang memiliki tanah maka hendaklah ditanami

atau diberikan faedahnya kepada saudaranya jika ia tidak mau

maka boleh ditahan saja tanah itu. (Hadits Riwayat Muslim)

)



Artinya:

Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra. sesungguhnya Rasulullah Saw.

Melakukan bisnis atau perdagangan dengan penduduk Khaibar

untuk digarap dengan imbalan pembagian hasil berupa buah-

buahan atau tanaman (HR. Bukhari).

3. Tujuan Ekonomi Islam

Tujuan ekonomi Islam sangat jauh berbeda dengan sistem ekonomi lain.

Islam memandang ekonomi sebagai salah satu aspek perjuangan untuk

menegakkan agama Tuhan.

Tujuan-tujuan ekonomi Islam adalah seperti berikut: 12

a. Melahirkan kehidupan Islam dalam bidang ekonomi.

b. Menjadikan kita memiliki harta yang dengannya dapat menjalankan ibadah

seperti zakat.

c. Memberikan khidmat kepada masyarakat.

12
Mardani, Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2011), h.
73.
24

d. Untuk menghindarkan dosa bersama, sebab sebahagian daripada ekonomi

itu adalah fardhu Kifayah. Ekonomi fardhu kifayah kalau tidak

dibangunkan maka semua umat Islam di tempat tersebut akan jatuh

berdosa.

e. Untuk dapat berdikari sehingga tidak bergantung kepada pihak lain.

Dengan demikian dapat hidup merdeka dengan tidak diatur oleh pihak

lain.

f. Untuk memenafaatkan sumber semulajadi dan hasil bumi supaya tidak

membazir dan berlaku pemborosan.

g. Menghidarkan supaya bahan-bahan mentah tidak terjatuh ke tangan orang

yang durhaka kepada Tuhan yang pada akhirnya akan menyalahgunakan

nikmat-nikmat itu.

h. Membuka peluang pekerjaan kepada masyarakat dan mengatasi masalah

pengangguran.

i. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan.

Untuk membuat kebaikan sebanyak-banyaknya kepada manusia melalui

ekonomi. Inilah tujuan ekonomi Islam. Kesepuluh perkara ini hendaklah ditanam

betul-betul dalam dalam pikiran dan hati barulah boleh ekonomi Islam

dilaksanakan.

4. Tujuan Mukhabarah dalam Ekonomi Islam

Ekonomi Islam mempunyai tujuan untuk memberikan keselarasan bagi

kehidupan di dunia. Nilai Islam bukan semata-semata hanya untuk kehidupan

Muslim saja, tetapi seluruh mahluk hidup di muka bumi. Esensi proses Ekonomi
25

Islam adalah pemenuhan kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam

guna mencapai pada tujuan agama (falah). Ekonomi Islam menjadi rahmat

seluruh alam, yang tidak terbatas oleh ekonomi, sosial, budaya dan politik dari

bangsa. Ekonomi Islam mampu menangkap nilai fenomena masyarakat sehingga

dalam perjalanannya tanpa meninggalkan sumber hukum teori ekonomi Islam.

Menyangkut hal ini Al Quran tegas menyatakan bahwa tujuan utama dari

misi kenabian Muhammad adalah melepaskan manusia dari beban dan rantai yang

membelenggunya. Firman Allah SWT dalam surat Al-Araaf ayat 157 yang

artinya:

(yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang Ummi yang


(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di
sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan
melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan
bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala
yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-
belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman
kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang
terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-
orang yang beruntung. (QS. Al-Araaf: 157).

Selain itu, tujuan dari mukhaharah ini disyariatkan untuk menghindari

adanya kepemilikan tanah yang di biarkan dikarenakan tidak ada yang

mengolahnya. Dalam mukhaharah terdapat pembagian hasil. Untuk hal-hal lainya

yang bersifat teknis di sesuaikan dengan syirkah yaitu konsep bekerja sama dalam

upaya menyatukan potensi yang ada pada masing-masing pihak dengan tujuan
26

bisa saling menguntungkan. Diantara tujuan mukhabarah menurut Abdul Adzim

bin Badawi, antara lain:13

a. Terwujudnya kerja sama yang saling menguntungkan antara pemilik tanah

dengan petani penggarap.

b. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

c. Tertanggulanginya kemiskinan.

d. Terbukanya lapangan pekerjaan, terutama bagi petani yang memiliki

kemampuan bertani tetapi tidak memiliki tanah garapan.

5. Model Mukhabarah dalam Ekonomi Islam

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada poin-poin sebelumnya, bahwa

dalam kerja sama model mukhabarah, yakni benih berasal dari penggarap. Di

Indonesia, khususnya di kawasan pedesaan, model penggarapan tanah itu bisa

dikatan umum dipraktikkan oleh masyarakat petani.

13
Abdul Adzim bin Badawi. Al-Wajiz. Terj. Team Tasyfiyah, (Bogor: Pustaka Ibnu
Katsir, 2007), h. 102.