Anda di halaman 1dari 6

Review Jurnal Etnik Bajo

Bajo, Bajau atau Sama Bajo adalah salah satu suku di Indonesia yang
menyebar ke berbagai penjuru negeri. Konon nenek moyang mereka berasal dari
Johor, Malaysia. Suku Bajo merupakan pemasok berbagai komoditi pasar
internasional karena mereka sangat aktif mencari komoditi laut seperti kerang
mutiara, teripang, sisik penyu, mutiara, kerang, karang, dan rumput laut. Orang
Bajo menyediakan berbagai komoditi pantai terutama dari hutan bakau seperti
akar-akaran, kulit, dan kayu bakau yang digunakan sebagai bahan celup, serta
kayu garu, damar, madu, lilin tawon lebah, dan sarang burung, baik yang terdapat
di sekitar tempat mereka tinggal atau pun dari tempat-tempat yang mereka
kunjungi. Orang Bajo menyebut dirinya sebagai orang Same dan menyebut orang
di luar mereka sebagai orang Bagai. Bahasa Bajo (baong sama). Sama adalah
orang Bajo yang keberadaannya berhubungan dengan sama-sama lainnya.
Menurut cerita yang menyebar dan berkembang, wilayah yang berdekatan
dengan perkampungan orang Bajo menganggap bahwa perompak di zaman dulu
diyakini berasal dari orang Sama. Sejak dari situ, banyak yang menyebut orang
Sama sebagai orang Bajo kelompok perompak. Oleh karena orang Bajo terkenal
sebagai kelompok yang mendiami laut dan menyebar hingga ke seluruh nusantara
khususnya di Kawasan Timur Indonesia, sehingga orang memberi stereotip
kepada semua suku tersebut sebagai Suku Bajo yang berlabel suku perampok.
Belakangan, stereotip ini menimbulkan polemik sebagai bentuk perlawanan dari
kalangan masyarakat Bajo yang tidak menyetujui dan membantah arti Bajo
sebagai perompak atau bajak laut. Stereotip lain mengacu pada ciri-ciri fisik orang
Bajo seperti kulit yang hitam legam, rambut kekuning-kuningan, dianggap bodoh
karena tidak berpendidikan.
Di Wakatobi, khususnya orang-orang Buton Kaledupa yang menempatkan
orang-orang Bajo dalam struktur sosialnya sebagai golongan lapis bawah.
Masyarakat Kaledupa menempatkan orang Bajo sebagai golongan masyarakat
yang terendah atau sama dengan kelompok papara (golongan masyarakat budak).
Stereotip terhadap orang Bajo sebagai pendatang yang memilih hidup terpisah
dengan orang darat membuat mereka dipandang sebagai orang asing oleh
sebagian masyarakat Wakatobi.
Dalam perkembangannya, proses interaksi antar etnik di berbagai arena
sosial, masih ada stereotipe etnik terhadap orang Bajo sebagai orang kotor, bodoh,
dan bahkan sebagai kelompok perampok di laut. Namun, sebagai kelompok yang
disematkan stereotip, suku Bajo mengembangkan strategi dengan
mengembangkan identitas politiknya sebagai bentuk pengakuan atas etnik yang
sejajar dengan kelompok lain. Keterbukaan dna penerimaan orang darat terhadap
orang Bajo akhirnya memunculkan kebangkitan di berbagai aspek pembangunan.
Kebangkitan orang Bajo di Wakatobi bisa dilihat dari aspek sosial seperti
pendidikan, aktivitas ekonomi, dan apresiasi terhadap seni budaya. Di sisi lain,
perlu menciptakan kondisi struktural yang menjamin heterogenitas komunitas,
terutama mengurangi rasisme institusional dengan tidak membatasi ruang
geraknya. Dengan memberi ruang kepada orang Bajo, maka akan menjadi perekat
bangsa Indonesia.
Kesehatan adalah keadaan dimana sehat, baik secara fisik, mental, spiritual
maupun sosial yang memungkinkan setiap orangnya untuk hidup produktif secara
sosial dan ekonomis. Hidup sehat adalah kebutuhan dasar setiap manusia
meskipun untuk mencapainya memerlukan berbagai cara berdasarkan pola pikir
yang berwujud dalam suatu konsep maupun kepercayaan. Namun, kesehatan
dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu: status perkembangan
yang berkaitan dengan kemampuan memahami tentang keadaan sehat serta
kemampuannya dalam merespon perubahan kesehatan yang berkaitan dengan
usia.
Konsep sakit yang diterapkan oleh beberapa penduduk di antara
masyarakat suku Bajo, Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone merupakan konsep
sakit yang mengandalkan kepercayaan-kepercayaan yang berkembang dalam
kehidupan masyaraktnya. Tradisi di lingkungan masyarakat Bajo masih sangat
melekat, misalnya ibu yang melahirkan dari suku tersebut maka bayinya akan
langsung diceburkan ke dalam laut, sehingga orang Bajo memiliki keistimewaan
dengan kemampuan bertahan lama saat menyelam.
Dalam penelitiannya, difokuskan pada kesehatan ibu dan anak, serta ibu
hamil dan ibu yang baru melahirkan. Tradisi pada masyarakat Bajo, terdapat
beberapa upaya yang dilakukan untuk kesehatan ibu, terutama ibu melahirkan
yaitu dengan melakukan aktifitas, mengikuti tradisi seperti diurut yang bertujuan
untuk memperlancar sirkulasi darah, dimandi, minum boi ure (boi ure adalah air
yang sudah dibaca-baca dengan menggunakan mantra yang dilakukan oleh dukun
untuk membantu persalianan) dan dilakukan maperape (maperape adalah suatu
kegiatan yang dilakukan oleh dukun terhadap ibu melahirkan agar daerah
kewanitaannya utuh kembali), serta mengkonsumsi vitamin yang diberikan
petugas kesehatan. Selain hal-hal tersebut, cara penanggulangan untuk kesehatan
ibu-ibu di suku Bajo adalah dengan cara dijappi, yaitu dibuatkan air dan obat
tradisional.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari responden, masyarakat suku Bajo
sudah memanfaatkan pelayanan kesehatan untuk menyembuhkan penyakit. Akan
tetapi, masyarakat Bajo tidak meninggalkan pengobatan tradisional yang sudah
diturunkan secara turun temurun (empiris). Mereka percaya bahwa ada beberapa
penyakit yang bisa diobati oleh dokter dan adapula penyakit yang hanya bisa
diobati oleh dukun. Pencarian pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat Bajo
berbeda-beda, ada ynag ke pelayanan masyarakat, ke dukun dan adapula yang
melakukan pengobatan kombinasi yaitu pengobatan tradisional dan modern. Di
Dusun Bajo, orang yang dipercaya oleh masyarakat untuk menyembuhkan
penyakit pada semua tingkatan umur adalah orang yang memiliki ilmu, berupa
ilmu yang diturunkan secara turun temurun oleh nenek moyangnya sehingga
dipercaya untuk menyembuhkan penyakit yang diderita masyarakat setempat.
Pengobatan tradisional suku Bajo banyak memanfaatkan tumbuhan
sebagai bahan dalam membuat ramuan obat. Tumbuhan yang digunakan selain
berasal dari daerah pegunungan, juga diperoleh dari laut, misalnya tumbuhan
mangrove (bangkau) yang digunakan untuk menyembuhkan batuk kering,
tumbuhan lamun (samo) untuk penawar racun akibat gigitan hewan berbisa, dan
tumbuhan krokot laut (gaganga) yang dimanfaatkan untuk mengobati bayi yang
kurang gizi.
Untuk mengetahui secara detail manfaat obat tradisional suku Bajo di desa
Torosiaje, maka dilakukan penelitian identifikasi tumbuhan yang berkhasiat dan
digunakan sebagai obat tradisional suku Bajo di desa Torosiaje. Penelitian ini
dilaksanakan dari bulan November 2012 sampai dengan bulan Juni 2013 dengan
menggunakan metode snowball sampling. Metode ini merupakan teknik
pengambilan sampel dengan cara menggali data melalui wawancara dari satu
responden ke responden lainnya dan seterusnya sampai peneliti tidak menemukan
informasi baru lagi. Dalam penerapan metode snowball sampling ini memiliki
beberapa tahap, diantaranya yaitu:
1. Tahap observasi, untuk memperoleh informasi awal mengenai lokasi
penelitian serta menentukan pengobat tradisional yang akan diwawancarai
2. Tahap wawanvara, untuk untuk memperoleh informasi tentang tumbuhan
obat, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan sampel
3. Tahap pengambilan sampel
4. Tahap Identifikasi, dilakukan dengan melihat ciri morfologi tumbuhan obat
5. Tahap Pembuatan Herbarium, herbarium dibuat dari specimen yang tidak
terserang hama, penyakit atau kerusakan fisik lain. Herbarium kering
digunakan untuk specimen yang mudah dikeringkan (daun, batang, bunga,
dan akar), sedangkan herbarium basah digunakan untuk spesimen yang berair,
lembek dan sulit dikeringkan (buah)
6. Tahap analisis data, yaitu proses dimana data yang terkumpul dianalisis
secara deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan ciri dari spesies
tumbuhan obat yang ditemukan, kemudian menguraikan morfologi
tumbuhan, hirarki taksonominya
Terdapat 29 jenis tumbuhan obat yang digunakan pengobat tradisional
suku Bajo di desa Torosiaje.

Pada umumnya spesies yang terdapat di desa Torosiaje banyak yang


tumbuh pada substrat tanah yang berpasir, pasir berlumpur, dan lumpur berpasir.
Selain itu, tanah memiliki range pH 5-7 dan kelembaban udara berkisar 50-69%.
Setiap spesies mempunya rentan toleransi yang tidak jauh berbeda terhadap faktor
lingkungan seperti pH, kelembaban serta tekstur tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Harjati, Thaha, M., dan Natsir, Sudirman. 2012. Konsep Sehat Sakit terhadap
Kesehatan Ibu dan Anak pada Masyarakat Suku Bajo, Kabupaten Bone,
Sulawesi Selatan. Akademi Keperawatan Bataritoja.
Rahim, Nurmala., dkk. 2013. Identifikasi Tumbuhan Berkhasiat Obat Yang
Digunakan Oleh Pengobat Tradisional Suku Bajo di Desa Torosiaje.
Antropologi Indonesia. 2013. Jurnal Vol. 34 No. 1 ISSN: 1693-167x