Anda di halaman 1dari 2

Aksioma Audit Investigasi

Aksioma Audit Investigasi Ada tiga aksioma dalam melakukan audit investigasi. Aksioma menurut
Tuanakotta (2007 : 208) adalah asumsi dasar yang begitu gamblangnya sehingga tidak memerlukan
pembuktian mengenai kebenarannya :

1. Fraud selalu tersembunyi. Fraud dalam hal ini menyembunyikan seluruh aspek yang mungkin
dapat mengarahkan pihak lain dalam menemukan terjadinya fraud tersebut. Pihak-pihak yang
terlibat menutup rapat-rapat kebusukan mereka. Metode dalam menyembunyikan fraud tersebut
begitu rapi sehingga pemeriksa fraud atau investigator yang berpengalaman sekalipun dapat
terkecoh.

2. Melakukan pembuktian timbal balik. Seorang auditor harus mempertimbangkan apakah terdapat
bukti yang dapat memberatkan seorang tersangka yang tidak pernah melakukan fraud. Dan
sebaliknya, auditor juga harus dapat mempertimbangkan apakah bukti yang tidak memberatkan
seseorang telah melakukan fraud.

3. Fraud terjadi merupakan kewenangan pengadilan untuk memutuskannya. Dalam menyelidiki


fraud, investigator hanya membuat dugaan mengenai apakah seseorang bersalah atau tidak
berdasarkan bukti-bukti yang telah dikumpulkannya. Tetapi adanya suatu fraud yang terjadi dapat
dipastikan jika telah diputuskan olehmajelis hakim dan para jury di pengadilan.

Teknik Audit Investigasi

Teknik audit adalah cara-cara yang dipakai dalam mengaudit kewajaran penyajian laporan keuangan.
Teknik audit yang biasa diterapkan dalam audit umum seperti :

1. Pemeriksaan Fisik Dalam pemeriksaan fisik yang biasa dilakukan yaitu penghitungan uang tunai,
kertas berharga, persediaan barang, aktiva tetap, dan barang berwujud. Untuk teknik ini, investigator
menggunakan inderanya untuk mengetahui atau memahami sesuatu.

2. Konfirmasi Meminta konfirmasi adalah meminta pihak lain (dari yang diinvestigasi) untuk
menegaskan kebenaran atau ketidakbenaran suatu informasi. Dalam investigasi, investigator harus
memperhatikan apakah pihak ketiga mempunyai kepentingan dalam investigasi.

3. Memeriksa DokumenPemeriksaan dokumen selalu dilakukan dalam setiap investigasi. Dengan


kemajuan teknologi dapat dipastikan dokumen menjadi lebih luas, termasuk informasi yang diolah,
disimpan, dan dipindahkan.

4. Review Analitikal Review analitikal menekankan pada penalaran, proses berpikirnya. Dengan
penalaran yang baik akan membawa pada seorang auditor investigator pada gambaran mengenai
wajar, layak atau pantasnya suatu data individual disimpulkan dari gambaran yang diperoleh secara
global, menyeluruh. Review analitikal didasarkan atas perbandingan antara apa yang dihadapi
dengan apa yang layaknya harus terjadi.

5. Meminta Penjelasan Lisan atau Tertulis dari Auditan Permintaan informasi harus diperkuat atau
dikolaborasi dengan informasi dari sumber lain atau diperkuat dengan cara lain.
6. Menghitung Kembali Menghitung kembali yaitu memeriksa kebenaran perhitungan. Dalam
investigasi, perhitungan yang dihadapi sangat kompleks, didasarkan atas kontrak atau perjanjian yang
rumit, mungkin sudah terjadi perubahan dan renegoisasi berkali-kali dengan pejabat yang berbeda..
Mengamati Teknik ini juga tidak berbeda jauh dengan pemeriksaan fisik. Investigator juga
menggunakan inderanya untuk melakukan pengamatan. Hanya dalam audit investigasi, teknik-teknik
audit tersebut bersifat eksploratif, mencari wilayah garapan, atau probing maupunpendalaman.
Dari ketujuh teknik audit tersebut, dalam audit investigasi lebih ditekankan kepada review analitikal.

Untuk mendapatkan hasil investigasi yang maksimal, menurut Cahyani (2012) seorang fraud auditor
harus juga menguasai beberapa teknik investigasi, antara lain :
1. Teknik penyamaran atau penyadapan

2. Teknik wawancara

3. Teknik merayu untuk mendapatkan informasi

4. Mengerti bahasa tubuh

5. Dengan bantuan software