Anda di halaman 1dari 31

Berbicara Untuk Keperluan Akademik

Disusun Oleh :
Kelompok 6
Kelas 4KD

1. Arsy Rosyadi 061530401019


2. Sasmafera Apriyanti 061530401036
3. Tania Dwi Putri 061530401038

Dosen Pembimbing :
M.Yusuf, S.Pd., M.Pd.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang berbicara untuk keperluan akademik ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak
M.Yusuf, S.Pd., M.Pd. Selaku Dosen mata kuliah Bahasa Indonesia.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai berbicara untuk keperluan akademik.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Palembang, Juni 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii

DAFTAR ISI ....................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1


1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................. 1

BAB II ISI ..................................................................................................... 2


1. Presentasi ..............................................................................................2
1.1 Pengertian Presentasi.................................................................2
1.2 Bagaimana berhasil dalam presentasi.......................................2
1.3 Komunikasi efektif....................................................................2
1.4 Menyiapkan materi yang akan disampaikan..............................3
1.5 Teknik berbicara dalam presentasi.............................................3
1.6 Tanggung jawab pembicara........................................................4
1.7 Kesalahan besar pembicara.........................................................4
2. Seminar...................................................................................................5
2.1 Pengertian Seminar.....................................................................5
2.2 Klasifikasi Seminar.....................................................................5
2.3 Pelaksanaan Seminar..................................................................8
3. Pidato....................................................................................................10
3.1 Pengertian Pidato......................................................................10
3.2 Jenis Jenis Pidato...................................................................10
3.3 Kerangka Susunan Pidato.........................................................14
4. Diskusi Panel.........................................................................................14
4.1 Pengertian Diskusi Panel...........................................................14
4.2 Pesiapan untuk diskusi panel.....................................................16
4.3 Tata cara pelaksanaan diskusi panel..........................................18
4.4 Kelebihan dan kekurangan diskusi panel..................................19

iii
5. Debat......................................................................................................22
5.1 Pengertian Debat........................................................................22
5.2 Penggunaan Debat......................................................................22
5.3 Jenis Debat.................................................................................22
5.4 Sikap dan Teknik Berdebat........................................................23

BAB III PENUTUP ..................................................................................... .26

KESIMPULAN.....................................................................................26

SARAN.................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 27

iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Materi ini dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa berbicara sebagai
suatu keterampilan berbahasa diperlukan untuk berbagai keperluan. Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) yang akan lakukan dalam perkuliahan ini berbentuk
simulasi, praktek berbicara yang sesungguhnya, dan pemberian atau penerimaan
umpan balik. Kegiatan tersebut dilakukan secara perorangan, berpasangan, dan
berkelompok.

Kegiatan belajar mengajar diarahkan untuk meningkatkan keterampilan


berbicara secara terpadu, fungsional, dan kontekstual. Artinya, setiap materi yang
diberikan selalu dikaitkan dengan usaha peningkatan keterampilan berbahasa
(menyimak, membaca, dan menulis) dan pengetahuan bahasa (kosakata dan
struktur). Selain itu, agar pengajaran ini bersifat fungsional dan kontekstual maka
materi yang diberikan berupa bahan pengajaran yang betul-betul bermakna bagi
kita sebagai mahasiswa maupun calon guru, seperti bercerita, berdialog,
berpidato/berceramah, dan berdiskusi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana menyusun bahan berbicara untuk presentasi?


2. Bagaimana menyusun bahan berbicara untuk seminar ?
3. Bagaimana menyusun bahan berbicara untuk Pidato?
4. Bagaimana menyusun bahan berbicara untuk Diskusi panel?
5. Bagaimana menyusun bahan berbicara untuk Debat ?

1.3 Tujuan makalah

1. Untuk mengetahui bagaimana menyusun bahan berbicara untuk


presentasi, seminar, pidato, diskusi panel, dan debat.

1
BAB II
PEMBAHASAN
1. Presentasi
1.1 Pengertia Presentasi
Salah satu cara untuk menyampaika ide, pikiran, gagasan kepada para
peserta, agar mereka memahami apa yang kita komunikasikan yakni melalui
presentasi. Presentasi adalah kegiatan memaparkan atau menyajikan sesuatu
kepada seseorang/ kelompok dengan tujuan untuk memperoleh taggapan dari
peserta. Hanya dengan melakukan presentasi yang benar, akan tercipta suatu
komunikasi yang efektif; hanya dengan komunikasi yang efektif, apa yang ingin
kita sampaikan kepada orang lain akan mudah diterima dan dimengerti.

Dalam menyusun bahan berbicara untuk presentasi dapat dilakukan


melalui tiga tahap yaitu: mengumpulkan bahan, membuat kerangka karangan,
dan menguraikan secara mendetail. Selain tiga hal di atas ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan saat presentasi. Hal-hal tersebut ialah:
1. Bagaimana berhasil dalam presentasi.
2. Komunikasi efektif.
3. Menyiapkan materi yang akan disampaikan.
4. Teknik berbicara dalam presentasi.
5. Tanggung jawab pembicara.
6. Kesalahan besar pembicara.

1.2 Bagaimana berhasil dalam presentasi


MS Hidayat, mengutip dari Larry King, memberi enam filtur pembicara
yang terbaik, yaitu:
a. Memiliki cakrawala yang luas.
b. Peka dan peduli terhadap respon pendengar.
c. Memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan kemauan tinggi untuk menggali
ilmu.
d. Dapat beradaptasi dengan para pendengar.

2
e. Memiliki selera humor.
f. Memiliki gaya khas dalam bericara.

1.3 Komunikasi efektif


Komunikasi yang efektif dapat tercapai apabila maksud pesan yang
disampaikan oleh pembicara dapat dipahami baik oleh pendengar, dan pendengar
memberi umpan balik (feedback) sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
pembicara.

1.4 Menyiapkan materi yang akan disampaikan


Paling tidak ada lima hal yang perlu dipersiapkan sebagai materi presentasi,
yaitu:
a. Topik atau subyek yang akan dibicarakan.
b. Tujuan umum, tujuan khusus, dan inti pembicaraan.
c. Pendahuluan (introduction).
d. Batang tubuh.
e. Kesimpulan/penutup (conclusion).

1.5 Teknik berbicara dalam presentasi


Menurut beberapa pakar public speaking, seorang pembicara perlu
memperhatikan hal-hal berikut ini:
a. Pendekatan dan permulaan.
b. Mengatasi kegugupan di depan panggung.
c. Membuat pendengar tertarik dengan apa yang disampaikan.
d. Menjaga ketepatan berbicara, kejernihan,dan volume suara.
e. Mempercayai diri sendiri.
f. Memperbanyak perbendaharaan kata.
g. Memberi tekanan dalam pembicaraan dan bersemangat.
h. Tepat waktu.
i. Memiliki kelancaran dalam berbicara dan rasa humor.
j. Berbicara dengan wajar dan menyenangkan.

3
k. Menggerakkan tubuh secara alami.
l. Memakai pakaian yang sopan.
m. Penutupan dan pengakhiran.

1.6 Tanggung jawab pembicara


Pembicara yang sedang berbicara di depan umum memiliki tanggung
jawab, oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembicara,
yaitu:
1. Pembicara harus memiliki etika yang baik.
2. Pembicara hendaknya tidak mengejek atau menyudutkan kelompok tertentu.
3. Pembicara harus berupaya untuk memberikan suatu pengetahuan intelektual
yang menakjubkan serta hiburan yang dapat mengalihkan pendengar dari
aktifitas atau pekerjaan sehari-hari.
4. Pembicara yang baik akan melakukan yang terbaik.

1.7 Kesalahan besar pembicara


Menurut Hamilton Gregory, survei membuktikan, ada lima kesalahan
besar yang sering dilakukan oleh pembicara di Amerika Serikat di depan publik,
yaitu:
1. Kesalahan dalam menyiapkan bahan pembicaraan sesuai dengan kebutuhan
dan keinginan pendengar.
2. Kekurangan dalam persiapan.
3. Penyampaian materi yang terlalu banyak.
4. Kesalahan dalam memelihara kontak mata.
5. Pembicaraan yang tumpul.

4
2. Seminar
2.1 Pengertian Seminar
a. Moir (1979) Seminar berasal dari kata seminarium = Petak Benih.
b. Lindsay (1986:67) Seminar : pertemuan Mahasiswa untuk membahas hasil
penelitian secara resmi dan tak resmi.
c. Kirkpatrick (1980:662) dalam Chambers Universal Learners Dictionary,
seminar: Pertemuan antara para siswa dan seorang tutor disebuah sekolah
untuk mendiskusikan atau mempelajari suatu pokok persoalan khusus.
d. KBBI (2003:810) Seminar: pertemuan atau persidangan untuk membahas
suatu masalah dibawah pimpinan ketua sidang yang biasanya guru besar, ahli
dan sebagainya.
Kesimpulan:
Seminar adalah kegiatan yang memungkinkan hadirnya informasi
atau temuan baru yang dilakukan mahasiswa dengan bimbingan seorang
guru besar atau ahli dalam membahas suatu masalah.
Dalam kehidupan sehari-hari, seminar itu suatu kegiatan yang
dilakukan dalam membahas suatu persoalan dari segi tertentu atau dari
berbagai segi oleh ahli dalam persoalan itu atau yang meminatinya.
Kegiatan seperti ini biasanya disebut diskusi dengan adanya seorang
pembicara yang mengupas permasalahan menurut pandangan dan
pemahamannya. kemudian pandangan ini dibahas atau ditanggapi oleh
peserta lain hingga dibuat suatu kesimpulan akhir.

2.2 Klasifikasi Seminar


Berdasarkan keefektifitasnya, seminar dapat diklasifikasikan ke dalam
dua kategori, yaitu seminar yang efektif dan seminar yang tidak efektif. Dalam
seminar yang tidak efektif, meskipun pada akhirnya pendengar memberikan
penghargaan dengan tepuk tangan yang gemuruh, pendengar yang sama mungkin
keluar dari ruangan sambil bertanya pada diri sendiri, apa yang seharusnya
dilakukan agar waktu yang baru saja berlalu dapat dimanfaatkan lebih baik lagi.

5
Sebaliknya, seminar yang efektif merupakan wahana komunikasi dua arah
(timbal balik) dan bermanfaaat bagi penyaji maupun pendengarnya.
1. Seminar yang tidak efektif
Menurut praktisi, alasan utama terjadinya seminar tidak efektif adalah
penyaji yang menganggap ringan upaya-upaya yang perlu dilakuakn untuk
menghasilkan seminar yang efektif, atau dengan kata lain penyaji kurang
mempersiapkan diri dengan baik. Untuk menjadi penyaji yang efektif, penyaji
harus banyak belajar. Bahkan upaya-upaya yang lebih luas perlu dilakukan untuk
menentukan pilihan topik yang diminati. Penyaji membutuhkan kemampuan
untuk meramu teknik beerbicara dengan penyajian yang baik, termasuk
penggunaan alat peraga.

2. Seminar yang efektif


Definisi sseminar yang lebih bebas adalah seminar merupakan pertemuan
untuk pertukaran ide dalam bidang tertentu. layak dicatat bahwa kata pertukaran
berarti memberi dan menerima secara berbalasan. Dengan kata lain, seminar
harus member manfaat baik bagi penyaji maupun pendengar. Namun, hal ini
hanya akan terjadi bila peserta mendengarkan dan mengerti. Oleh karena itu,
komunikasi akan sangat bergantung pada topik ilmiah penyaji dan teknik
penyajian.
- Penyaji yang efektif
Penyaji yang efektif adalah orang yang mampu membuat penyajiannya vital
dan bebas dari unsur-unsur pengganggu. Kriteria ini mampu membuat
penyaji mempertahankan suasana atau hubungan komunikatif antara penyaji
dengan pendengarnya.
- Menyiapkan seminar
Tahap pertama yang dilakukan adalah menata informasi dalam bentuk
outline, kemudian mengembangkan liputannya dalam bentuk kerangka
konsep naratif dengan menata seluruh ide secara kronologis dan sistematis.
Setelah alur ide tersusun, tahap berikutnya adalah menyisipkan
data/fakta/ringkasan informasi yang akan disampaikan. Apabila konsep

6
naratif telah dikembangkan, maka saatnya untuk berpikir alat peraga (visual
aids) yang akan digunakan untuk menggambarkan informasi tersebut. Alat
peraga yang paling sederhana dan umum digunakan adalah slide dan OHP
transparansi; atau pada era saat ini adalah dengan langsung menggunakan
komputer yang dilengkapi dengan transformator-proyektor; dengan
programnya antara lain Microsoft power point.
- Alat Bantu Peraga (visual aids)
Alat bantu peraga (ABP) memiliki peranan penting dalam menentukan
keberhasilan suatu penyajian dan oleh karena itu diperlukan persiapan yang
matang serta hati-hati dalam pembuatan ABP. Alat bantu peraga dapat
membantu mencapai hasil yang diharapkan apabila:
Mampu menjelaskan ide yang terkandung dalam materi pembahasan
Mampu menekankan topik-topik yang ingin disampaikan
Meningkatkan minat dan perhatian peserta seminar
Alat bantu peraga yang tidak memenuhi kriteria tersebut, mungkin hanya
akan membuat peserta seminar mengalihkan perhatiannya atau bahkan
tertidur. Berbagai jenis ABP yang paling umum digunakan adalah slide dan
transparansi, karena dianggappaling murah, ketersediaan bahan mudah
didapat, pembuatannya mudah dan praktis. Peralatan yang lebih canggih
adalah computer dan perlengkapannya, dengan program khusus untuk
penyajian, misalnya MS. Power Point. Namun, selain mahal dan
membutuhkan keterampilan dalam operasionalnya, tak semua institusi
memiliki peralatan ini, sehingga tidak menjadi praktis. Dalam pembuatan
ABP sendiri ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Besar-kecilnya huruf/angka yang digunakan
b. Tata letak kalimat
c. Tabel dan grafik
d. Kombinasi warna (jika digunakan), dan juga
e. Intensitas cahaya dalam ruang seminar

7
2.3 Kemampuan Yang Diperlukan Dalam Seminar
Menurut Parera (1988:185) ada 2 kemampuan yang diperlukan dalam
mengikuti diskusi seminar yaitu; kemampuan mengemukakan pendapat dengan
baik dan kemampuan mengemukakan pendapat secara analisis, logis, dan
sistematis.
1. Kemampuan mengemukakan pendapat dengan baik yaitu kemampuan
berbahasa orang yang mengikuti seminar (kecuali jika hanya menjadi
pendengar budiman) baik penyaji, moderator, maupun peserta harus mampu
menggunakan bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi dengan baik,
tepat dan seksama.
2. Kemampuan mengemukakan pendapat secara analisis, logis dan sistematis
yaitu:
a. Secara analisis berarti mengutarakan pendapat secara sistematis dan teratur,
serta diperlukan pendalaman penguasaan masalah, kebiasaan mengemukakan
pendapat secara langsung dan tidak bertele-tele, dan kemampuan
menganalisis masalah atau gagasan secara terperinci dan teratur.
b. Secara logis berarti mengemukakan pendapat secara masuk akal. Pendapat
secara masuk akal ditandai dengan adanya fakta, data, dan informasi yang
kuat untuk mendukung pendapat, sehingga pendapat yang dikemukakan itu
benar-benar dapat meyakinkan pendengar.
c. Secara sistematis berarti mengemukakan pendapat dengan urutan yang jelas,
didukung oleh data-data, fakta-fakta, dan informasi yang kuat untuk
mendukung pendapat sehingga pendapat tersebut dapat meyakinkan
pendengar.

2.4 Pelaksanaan seminar


Berhasil tidaknya suatu kegiatan seminar ditentukan oleh pihak-pihak yang
terlibat dalam seminar tersebut, seperti; penyaji, moderator, penulis/notulis, dan
peserta.
1. Tugas Penyaji
a. Menyajikan makalah, Penyaji boleh membacakan makalah .

8
b. Mendengarkan Tanggapan Peserta, Penyaji sebaiknya mencatat tanggapan,
sanggahan, usulan, saran, dan pertanyaan dari peserta.
c. Mengemukakan Jawaban dan Tangkisan, Penyaji berupaya memberikan
jawaban untuk setiap tanggapan, usul, saran, pertanyaan peserta dan
mengemukakan tangkisan yang logis terhadap sanggahan yang dikemukakan
peserta pada setiap termin dengan jelas dan mantap.
d. Ikut Menyimpulkan Hasil Seminar.
Penyaji sebaiknya ikut menyimpulkan hasil seminar supaya rumusannya lebih
baik, sebab penyaji lebih menguasai masalah pembicaraan.

2. Tugas moderator
Moderator adalah pimpinan sidang diskusi yang mengatur jalannya seminar,
karenanya peran dan tugas moderator juga sangat menentukan dinamika dan
kelancaran seminar. Adapun tugas-tugas moderator adalah:
1. Membuka Kegiatan Seminar.
2. Menjaga Ketertiban Seminar.
3. Membuat Kesimpulan.
4. Menutup Diskusi Seminar

3. Tugas penulis/notulis
1. Mencatat Diskusi Seminar
2. Membantu Moderator
3. Mencatat Hasil Seminar.

4. Tugas peserta
Tugas peserta seminar adalah menyimak sajian penyaji dari awal hingga akhir
kegiatan seminar dan mengajukan tanggapan, sanggahan, usul, saran, dan
pertanyaan yang relevan dengan masalah pembicaraan dengan penuturan
yang baik pada termin-termin diskusi.
Peserta yang baik adalah peserta yang memenuhi syarat berikut:
1. Dapat mengikuti tata tertib seminar.

9
2. Dapat menyimak uraian penyaji dengan penuh perhatian.
3. Dapat menunjukkan solidaritas dan partisipasi yang tinggi, serta dapat
menghindarkan emosi dan berprasangka buruk.
4. Dapat mengemukakan usul, sugesti, pendapat, atau informasi yang
berhubungan dengan pemecahan masalah.
5. Tidak mengemukakan pertanyaan atau komentar yang tidak layak.
6. Tidak berbicara berbelit-belit ketika mengemukakan tanggapan

3. Pidato
3.1 Pengertian Pidato
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan
kepada orang banyak. Pidato juga berarti kegiatan seseorang yang dilakukan di
hadapan orang banyak dengan mengandalkan kemampuan bahasa sebagai
alatnya.
Berpidato pada dasarnya merupakan kegiatan mengungkapkan pikiran dalam
bentuk kata-kata (lisan) yang ditujukan kepada orang banyak dalam sebuah
forum. Seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato
pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya.

Menurut Emha Abdurrahman dalam bukunya tehnik dan pedoman berpidato,


pidato adalah penyampaian uraian secara lisan tentang sesuatu hal (masalah)
dengan mengutarakan keterangan sejelas-jelasnya di hadapan massa atau orang
yang banyak pada suatu waktu tertentu.

Namun, dalam abad modern ini saluran-saluran berpidato tidak terbatas


kepada pidato secara langsung di depan massa melainkan bisa menggunakan
saluran-saluran lain, misalnya pidato di saluran radio, saluran televisi, atau
rekaman pada kaset.

3.2 Jenis Jenis Pidato

Berdasarkan sifat dan Isi Pidato, jenis-jenis Pidato dibedakan atas:

10
1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca
acara atau mc (master of ceremony).
2. Pidato Pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada suatu
pertemuan.
3. Pidato Sambutan adalah pidato yang disampaikan pada suatu acara
kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang
dengan waktu yang terbatas secara bergantian.
4. Pidato Peresmian adalah pidato yang dilakukan oleh seseorang yang
berpengaruh ketika akan meresmikan sesuatu.
5. Pidato Laporan adalah pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas
atau kegiatan.
6. Pidato Pertanggungjawaban adalah pidato yang berisi suatu laporan
pertanggungjawaban terhadapa suat kegitan tertentu.
Berdasarkan ada tidaknya persiapan yang dilakukan sebelum melakukan
pidato, jenis-jenis pidato dibedakan atas:
1. Pidato Impromptu (serta merta) yaitu pidato yang dilakukan secara tiba-
tiba, spontan, tanpa persiapan sebelumnya. Misalkan apabila seseorang
menghadiri pesta dan tiba-tiba dipanggil untuk menyampaikan pidato maka
pidato yang disampaikan itu adalah pidato jenis impromptu.
Keuntungan :

Lebih mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena


pembicara tidak sempat lebih dalam memikirkan apa yang akan ia
sampaikan.
Gagasan datang secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup.
Memungkinkan Pembicara terus berpikir.
Kerugian :

Dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah, karena dasar pengetahuan


yang tidak memadai.
Mengakibatkan penyampaian yang tidak lancar dan tersendat-sendat.
Biasanya gagasan yang disampaikan bisa acak-acakan dan ngawur.

11
Pembicara kemungkinan besar biasanya demam panggung.
2. Pidato Manuskrip yaitu pidato dengan naskah. Di sini tidak berlaku istilah
menyampaikan pidato tapi membacakan pidato. Karena pembicara akan
membacakan pidato dari awal sampai akhir. Jenis pidato ini sangat perlu
dilakukan, jika isi pidato yang akan disampaikan tidak boleh terdapat
kesalahan. Misalnya, ketika seseorang diminta untuk melaporkan keadaan
keuangan, berapa pemasukan, dari mana saja sumbernya, dan berapa
pengeluaran serta untuk apa uang dikeluarkan, orang tersebut perlu
menuliskannya dalam bentuk naskah dan baru kemudian membacakannya.
Manuskrip juga sangat dibutuhkan oleh tokoh nasional, sebab kesalahan
sedikit saja dapat menimbulkan kekacauan nasional.
Keuntungan :

Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti


yang tepat dan pernyataan yang gamblang,
Pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali,
Kefasihan bicara dapat dicapai karena kata-kata sudah disiapkan,
Hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari,
Manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.
Kerugian :

Komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara


langsung kepada mereka,
Pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik karena ia lebih
berkonsentrasi pada teks pidato, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat
kaku,
Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau
memperpanjang pesan,
Pembuatannya lebih lama.
3. Pidato Memoriter yaitu pesan pidato yang ditulis dalam bentuk naskah
kemudian dihapalkan kata demi kata.
Keuntungan :

12
Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya karena memiliki persiapan yang baik,
Jika mampu menghapalnya pidato akan lancar,
Gerak dan isyarat yang diintegrasikan dengan uraian.
Kerugian :

Pidato tampak datar dan monoton, sehingga pembicara tidak akan mampu
menarik perhatian hadirin,
Komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara beralih pada usaha
untuk mengingat kata-kata,
Memerlukan banyak waktu persiapan.
4. Pidato Ekstemporan yaitu pidato yang telah dipersiapkan sebelumnya
berupa garis-garis besar (outline) dan pokok penunjang pembahasan
(supporting points), tetapi pembicara tidak berusaha mengingatnya kata demi
kata. Pidato jenis ini adalah pidato yang paling baik dan paling sering
digunakan oleh pembicara yang telah mahir dan berpengalaman. Out-line
hanya merupakan pedoman untuk mengatur gagasan yang ada dalam pikiran
pembicara.
Keuntungan :

Komunikasi pendengar dan pembicara lebih baik karena pembicara berbicara


langsung kepada pendengar atau khalayaknya,
Pesan dapat fleksibel untuk diubah sesuai dengan kebutuhan dan
penyajiannya lebih spontan.
Kerugian :

Memerlukan latihan yang intensif bagi pembicaranya


Kemungkinan menyimpang dari garis besar besar sangat besar,
Kefasihan bias terhambat karena kesukaran memilih kata-kata
Berdasarkan tujuan pokok pidato yang disampaikan, jenis-jenis pidato
dibedakan atas:
1. Pidato Informatif (memberitahu/mengabarkan)adalah pidato yang tujuan
utamanya untuk menyampaikan informasi agar orang menjadi tahu tentang

13
sesuatu. Reaksi yang diinginkan adalah adanya pengertian dan pemahaman
pendengar atas informasi yang disampaikan.
2. Pidato Persuasif (mendorong/mengajak) adalah pidato yang tujuan
utamanya membujuk atau mempengaruhi orang lain agar mau menerima
ajakan yang disarankan secara sukarela bukan dengan sukar rela. Reaksi
yang diinginkan adalah membangkitkan emosi agar pendengar dapat
menyutujui atau meyakini dan mungkin membangkitkan timbulnya tindakan
tertentu pada pendengar.
3. Pidato Rekreatif (menghibur) adalah pidato yang tujuan utamanya adalah
menyenangkan atau menghibur orang lain. Reaksi yang diinginkan adalah
terhiburnya pendengar sehingga muncul suatu kegembiraan.
Namun demikian, perlu disadari bahwa dalam kenyataannya ketiga jenis
pidato ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi satu sama
lain. Perbedaan di antara ketiganya semata-mata hanya terletak pada titik
berat (emphasis) tujuan pokok pidato.

3.3 Kerangka Susunan Pidato


Skema susunan suatu pidato yang baik :

1. Pembukaan dengan salam pembuka,


2. Pendahuluan yang sedikit menggambarkan isi
3. Isi atau materi pidato secara sistematis : maksud, tujuan, sasaran, rencana,
langkah, dll.
4. Penutup (kesimpulan, harapan, pesan, salam penutup, dll)

4. Diskusi Panel

4.1 Pengertian Diskusi Panel

Diskusi panel menurut ( Tarigan ) adalah suatu kelompok yang terdiri dari
tiga sampai enam orang ahli yang ditunjuk untuk mengemukakan pandangannya
dari berbagai segi mengenai suaru masalah.

14
Diskusi panel menurut ( Sanusi ) merupakan forum pertukaran pikiran yang
dilakukan oleh sekelompok orang dihadapan sekelompok hadirin mengenai suatu
masalah tertentu yang telah dipersiapkannya.

Diskusi panel menurut ( maskurun ) adalah diskusi yang bersifat tidak begitu
formal, biasanya digunakan untuk memperluas wawasan mengenai suatu masalah
yang sedang hangat. Jadi, diskusi panel adalah diskusi yang melibatkan beberapa
orang untuk memecahkan suatu masalah, dan biasanya mereka memecahkan
masalah ini adalah masalah yang masih hangat dibicarakan didalam masyarakat.
Diskusi panel dapat dikatakan diskusi yang formal dan tidak begitu formal,
karena kalau formal yang terlibat dalam diskusi panel adalah orang orang yang
penting atau para pakar, dan untuk yang tidak formal yaitu dalam diskusi panel
tidak terdapat panitia.

Jadi, Diskusi panel juga dapat diartikan salah satu bentuk diskusi yang
dilakukan oleh Panelis yang membahas suatu masalah yang menjadi perhatian
umum dan dilaksanakan secara umum, disiarkan melalui media masa, seperti
televisi atau radio. Dalam diskusi panel, penonton diberi kesempatan untuk
bertanya atau memberikan pendapat.

Adapun tujuan dari diskusi panel adalah :

a. Tujuan utama diskusi panel adalah untuk menyampaikan informasi atau


pendapat pendapat yang berbeda-beda.

b. Para anggota suatu panel membuat persiapan persiapan terlebih dahulu.


Mereka telah menelaah pokok pembicaraan sepenuhnya dan memang telah
menjadi ahli.

c. Ingin memberi stimulus untuk para pendengar akan adanya suatu persoalan
yang perlu dipecahkan.

15
4.2 Persiapan Untuk Diskusi Panel

Adapun persiapan yang lazim dilakukan bagi suatu diskusi panel adalah kira
kira seminggu sebelum diskusi itu berlangsung, ketua panel mengudang para
anggota untuk menyusun organisasi itu. Dan dalam pertemuan ini para anggota
haruslah melakukan hal hal berikut ini :

a) Membatasi pokok pembicaraan dengan jelas. Karena semakin sedikit


yang dibicarakan tetapi padat akan medah dimengerti oleh para peserta.

b) Mengutarakan perbedaan perbedaan pendapat sehingga para anggota


panel mengetahui dimana masing masing berpijak. Mengutaraka pendapat
pendapat pembicara , maka akan diketahui letak perbedaannya, dan jika sudah
diketahui perbedaanya maka akan mempermudah dalam mengambil kesimpulan.

c) Menetapkan tahap tahap setiap pembicara atas pokok masalah


tersebut.Pembicara haruslah menjelaskan mengenai pembicaraanya dari tahap
yang paling dasar sehingga akan mudah dimengerti oleh peserta.

d) Menetukan urutan atau susunan para pembicara. Menentukan siapa


yang akan berbicara terlebih dahulu agar tidak terjadi kekacauan saat berdiskusi
nanti.

e) Menetapkan batas waktu bagi setiap pembicaraan. jika, pembicara


berbicara didepan para peserta hendaknya waktunya dibatasi karena kalau tidak
dibatasi akan banyak menyita waktu . sedangkan para pembicara yang lain yang
belum berbicara tidak kebagian waktu dan juga kalau waktu dibatasi akan terjadi
penghematan waktu. Setelah persiapan setiap anggota panel dilakukan dengan
baik dan matang ,diskusipun dapat dilangsungkan. Untuk diskusi tersebut, para
anggota panel mengambil tempat duduk yang berbentuk setengah lingkaran
menghadap para pemirsa atau sepanjang satu sisi meja panjang, dan ketuanya
duduk ditengah.

16
Diskusi Panel
X
Pb Pb
Pb Pb
pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn
pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn pn

1. Keterangan :
X = pemimpin / moderator / pemandu
Pb = pembicara / pemrasaran / panelis
Pn = pendengar / peserta
2. Diskusi panel terdiri atas bagian bagian berikut :
a) Pendahuluan. Ketua mengumumkan pokok pembicaraan dan
membatasi setiap istilah yang membutuhkan penjelasan. Kemudian ketua
memperkenalkan setiap anggota panel dan mengemukakan tahap khusus
pokok pembicaraan yang akan diutarakan oleh setiap anggota.
b) Pembicaran oleh para anggota panel. Kemudian ketua
mempersilahkan para anggota panel bergiliran menyampaikan
pembicaraan mereka.
c) Diskusi bebas. Setelah pembicaraan pembicaraan pribadi itu,para
anggota panel memberi komentar kepada setiap ide lainnya. Lalu,
menerangkan setiapbutir yang memerlukan penjelasan yang lebih
terperinci. Dan mempertahankan setiap pernyataan yang ditantang.
d) Partisipasi para pemirsa dan penyimak. Ketua mempersilahkan para
pemirsa untuk mengemukakan pendapat mereka sendiri atau bertanya
kepada para pembicara.
e) Rangkuman. Ketua merangkumkannya dengan jalan menyatakan
butir butir yang sama sama disepakati oleh para anggota panel dan
juga butir-butir yang merupakan perbedaan pendapat pendapat atau
yang tidak disepakati.

17
4.3 Tata Cara dan Pelaksanaan Diskusi Panel.
a) Langkah Persiapan
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam langkah persiapan adalah :
1. Merumuskan tujuan
2. Menetapkan topik masalah
3. Menyusun Laporan Diskusi Panel
4. Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis
pelaksanaan diskusi,
b) Pelaksanaan Diskusi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi adalah:
1. Memeriksa segala persiapan
2. Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi
3. Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan
4. Mengajukan Pertanyaan dalam Diskusi
5. Menyampaikan Gagasan dalam Diskusi
6. Mengemukakan Gagasan Secara Jelas dan Mudah Diikuti
7. Memberikan Kritikan dan Dukungan dalam Diskusi
8. Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk
mengeluarkan gagasan dan ide-idenya
9. Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang sedang dibahas.

c) Menutup Diskusi
1. Membuat pokok pembahasan sebagai kesimpulan
2. Menilai jalannya diskusi dengan meminta pendapat dari seluruh peserta.
3. Menyusun Laporan Diskusi Panel
Laporan diskusi panel dibuat setelah diskusi selesai dilaksanakan. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam penyusunan laporan hasil diskusi panel sama dengan
laporan diskusi lainnya. Laporan sebaiknya tersusun atas bagian pendahuluan,
bagian uraian pelaksanaan, serta bagian penutup yang mencakup kesimpulan dan
saran.

18
4.4. Bagian pendahuluan laporan harus meliputi
a. Latar belakang pelaksanaan diskusi panel;
b. Tujuan diskusi panel;
c. Persiapan-persiapan diskusi panel;

4.5 Bagian uraian atau isi laporan meliputi


a. Pelaksanaan diskusi panel (hari, tanggal, waktu, dan tempat)
b. Peserta yang mengikuti diskusi panel;
c. Hasil diskusi panel
d. Jalannya diskusi panel;
4.6 Bagian penutup meliputi
a. Kesimpulan hasil diskusi panel;
b. Hal-hal yang disarankan dalam diskusi panel;
4.7 Lampiran-lampiran dapat berupa
a. Surat izin pelaksanaan diskusi panel (jika diskusi panel dilaksanakan
secara resmi dan luas);
b. Proposal penyelenggaranya diskusi panel;
c. Makalah-makalah yang didikusikan;
d. Susunan panitia penyelenggaraan;
e. Ringkasan makalah;
f. Daftar hadir peserta.

4.8 Kelebihan-kelebihan dan Kekurangan dari Diskusi Panel


Kelebihan Diskusi Panel
1. Memberikan kesempatan kepada pendengar untuk mengikuti berbagai
pandangan sekaligus.
2. Biasanya dalam diskusi panel timbul pro dan kontra pandangan, semakin
sengit pro dan kontra, maka diskusi akan semakin menarik untuk diikuti.
3. Dalam diskusi panel, kelompok yang melakukan diskusi akan berhati-hati
dalam mengajukan pandangan atau mengemukakan pendapat, karena
menyadari akan dapat langsung digugat atau dibantah.

19
4. Peserta yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih dalam
hal yang didiskusikan dapat menyampaikan pandangan.

Kekurangan-kekurangan dari Diskusi Panel

1. Diskusi panel menjadi tidak menarik apabila semua peserta waswas untuk
menyampaikan pandangan secara terus terang dan semua peserta merasa
sungkan untuk berbeda pandangan. Agar tidak terjadi rasa was-was saat
akn berpendapat, sebaiknya mengetahui apa yang dibicrakan oleh
pembicara lain secara terperinci. Sehingga kalau kita mempunyai
perbedaan pendapat dengan sipembicarakita tidak akan mersa takut
terhadap pendapat kita.
2. Suasana dalam diskusi panel akan menjadi pincang atau tidak seimbang
apabila ada peserta yang jauh lebih tangkas dalam menyampaikan
daripada yang lainnya. Diskusi panel tidak menjadi seimbang kalau yang
berpendapat hanya orang itu itu saja. Dan sebaiknya para peserta ikut
andil dalam berpendapat.
3. Ada kalanya moderator terpaksa harus berusaha membuat kesimpulannya
sendiri dan menyampaikannya dalam diskusi itu. Jika terjadi perbedaan
pendapat diantara para peserta maka moderator harus mengambil
kesimpulan.
4. Harus memilih moderator yang berani dan mampu turun tangan untuk
menyelamatkan diskusi agar jangan sampai pincang atau berat sebelah.
Jika terjadi perdebatan antara para peserta. Maka, moderator harus turun
tangan untuk mengambil kesimpulan tersebut.
5. Ada kemungkinan terjadinya pencemaran nama baik dalam diskusi
panel.
6. Memungkinkan panelis berbicara terlalu bayak, sehingga seakan
cendering menjadi serial pidato pendek.

Tugas-tugas Para Pelaku dalam Diskusi Panel

20
1) Tugas-tugas Peserta:
Mengikuti jalannya diskusi dari awal sampai dengan akhir dan terbagi
menjadi tim affirmatif dan oposisi yang termasuk panelis.
Mengajukan usul, pendapat, maupun komentar.
Meminta panelis untuk memberikan pembuktian, contoh, maupun
perbandingan.
2) Tugas-tugas Notula/penulis:
menulis jumlah peserta dan segala kegiatan dalam diskusi,
diperbolehkan untuk menyanggah,
diperbolehkan untuk menyetujui ataupun tidak menyetujui,
membuat makalah tentang permasalahan yang didiskusikan.
3) Tugas-tugas Penyaji/panelis:
menyajikan materi diskusi,
berperan sebagai pembicara dalam diskusi,
mengutarakan makalah yang disampaikan,
menjawab pertanyaan dari peserta dan penyanggah.
4) Tugas-tugas Moderator:
membuka diskusi,
membacakan riwayat kehidupan panelis,
mempersilakan panelis untuk berbicara,
mengatur dan memimpin jalannya diskusi,
membacakan kesimpulan diskusi.
Keunikan dalam diskusi panel:

21
5 Debat
5.1 Pengertian Debat

Debat merupakan kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih,
baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan
memutuskan masalah dan perbedaan. Secara formal, debat banyak dilakukan
dalam institusi legislatif seperti parlemen, terutama di negara-negara yang
menggunakan sistem oposisi. Dalam hal ini, debat dilakukan menuruti aturan-
aturan yang jelas dan hasil dari debat dapat dihasilkan melalui voting atau
keputusan juri

5.2 Penggunaan Debat :


Dalam masyarakat demokratis,debat memegang peranan penting anatara lain :

1. Dalam perundang-undangan
2. Dalam politik
3. Dalam perusahaan atau bisnis
4. Dalam hukum dan
5. Dalam pendidikan .

5.3 Jenis-jenis Debat :


Berdasarkan bentuk,maksut,dan metode-nya maka debat dapat' diklasifikasikan
atas tipe-tipe atau kategori, yaitu :

a) Debat Parlementer / Majelis ( assembly or parlementary debating )


Adapun maksud dan tujuan majelis ialah untuk memberi dan menambahi
dukungan bagi suatu undang-undang tertentu dan semua anggota yang ingin
menyatakan pandangan dan pendapatnya pun berbicara mendukung atau
menentang usul tersebut setelah mendapat izin dari majelis .
b) Debat Pemeriksaan ulangan untuk mengetahui kebenaran pemeriksaan
terdahulu (cross-examination debating).
Adapun maksud dan tujuan perdebatan ini ialah mengajukan serangkaian
pertanyaan yang satu sama lain erat berhubungan,yang akan menyebabkan para

22
individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakkan dan diperkokoh
oleh sang penanya.
c) Debat Formal,Konvesional,atau Debat Pendidikan ( Formal,Conventional,or
Educational debating )
Tujuan debat formal adalah memberi kesempatan bagi dua tim pembicara
untuk mengemukakan kepada para pendengar sejumlah argument yang
menunjang atau yang membantah suatu usul . Setiap pihak diberi jangka waktu
yang sama bagi pembicara-pembicara konstruktif dan bantahan .
Ketiga tipe ini dipergunakan disekolah-sekolah dan perguruan tinggi,tetapi
debat parlementer merupakan ciri badan-badan legislatif . Debat pemeriksaan
ulangan adalah suatu teknik yang dikembangkan dikantor-kantor pengadilan,dan
debat formal didasarkan pada konversi-konversi debat bersama secara politis .

5.4 Sikap dan Teknik Berdebat


Para anggota debat yang tidak berpengalaman sering kali menimbulkan
kebencian para pendengar karena sifat mereka suka bertengkar,suka
bercekcok,dan menganggap dirinya selalu benar. Seorang pendebat haruslah
bersifat rendah hati, wajar,ramah,dan sopan tanpa kehilangan kekuatan dalam
argument-argumennya . Dia harus menghindarkan pernyataan yang berlebih-
lebihan terhadap kasusnya dan mempergunakan kata-kata dan ekspresi-ekspresi
yang samar-samar yang tidak dikehendaki oleh faktanya ,dengan perkataan lain
justru tidak menunjang kasus yang dikemukakannya .

Norma-norma dalam berdebat :


Bila kita ingin mencapai tujuan yang sebenarnya harus sesuatu perdebatan,maka
mau tidak mau haruslah ditunjang dengan sebaik-baiknya oleh beberapa hal.
Semua pembicara hendaklah memiliki :
a. Pengetahuan yang sempurna mengenai pokok pembicaraan;
b. Kompetensi atau kemampuan menganalisis;
c. Pengertian mengenai prinsip-prinsip argumentasi;
d. Apresiasi terhadap kebenaran fakta-fakta;
e. Kecakapan menemukan buah pikiran yang keliru dengan penalaran;

23
f. Keterampilan dalam pembuktian kesalahan ;
g. Pertimbangan dalam persuasi;
h. Keterarahan,kelancaran,dan kekuatan dalam cara atau penyampaian pidato.
Debat Kompetitif
Debat kompetitif adalah debat dalam bentuk permainan yang biasa dilakukan
ditingkat sekolah dan universitas. Dalam hal ini, debat dilakukan sebagai
pertandingan dengan aturan ("format") yang jelas dan ketat antara dua pihak yang
masing-masing mendukung dan menentang sebuah pernyataan. Debat disaksikan
oleh satu atau beberapa orang juri yang ditunjuk untuk menentukan pemenang
dari sebuah debat. Pemenang dari debat kompetitif adalah tim yang berhasil
menunjukkan pengetahuan dan kemampuan debat yang lebih baik.

Debat Kompetitif dalam Pendidikan


Tidak seperti debat sebenarnya di parlemen, debat kompetitif tidak
bertujuan untuk menghasilkan keputusan namun lebih diarahkan untuk
mengembangkan kemampuan-kemampuan tertentu di kalangan pesertanya,
seperti kemampuan untuk mengutarakan pendapat secara logis, jelas dan
terstruktur, mendengarkan pendapat yang berbeda, dan kemampuan berbahasa
asing (bila debat dilakukan dalam bahasa asing).
Namun, beberapa format yang digunakan dalam debat kompetitif
didasarkan atas debat formal yang dilakukan di parlemen. Dari sinilah muncul
istilah "debat parlementer" sebagai salah satu gaya debat kompetitif yang
populer. Ada berbagai format debat parlementer yang masing-masing memiliki
aturan dan organisasinya sendiri.
Kejuaraan debat kompetitif parlementer tingkat dunia yang paling diakui
adalah World Universities Debating Championship (WUDC) dengan gaya British
Parliamentary di tingkat universitas dan World Schools Debating Championship
(WSDC) untuk tingkat sekolah menengah atas.
Kompetisi debat bertaraf internasional umumnya menggunakan bahasa
Inggris sebagai pengantar. Tidak ada bantuan penerjemah bagi peserta manapun.
Namun, beberapa kompetisi memberikan penghargaan khusus kepada tim yang

24
berasal dari negara-negara yang hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai
bahasa kedua (English as Second Language - ESL).
Negara-negara yang terkenal dengan tim debatnya antara lain Inggris,
Australia, Irlandia, dan Amerika Serikat. Di Asia, negara yang dianggap relatif
kuat antara lain Filipina dan Singapura.

Debat Kompetitif di Indonesia


Di Indonesia, debat kompetitif sudah mulai berkembang, walaupun
masih didominasi oleh kompetisi debat berbahasa Inggris. Kejuaraan debat
parlementar pertama di tingkat universitas adalah Java Overland Varsities
English Debate (JOVED) yang diselenggarakan tahun 1997 di Universitas
Katolik Parahyangan, Bandung, dan diikuti oleh tim-tim dari berbagai wilayah di
P. Jawa. Kejuaraan debat se-Indonesia yang pertama adalah Indonesian Varsity
English Debate(IVED) 1998 di Universitas Indonesia. Hingga kini (2006), kedua
kompetisi tersebut diselenggarakan setiap tahun secara bergilir di universitas
yang berbeda.
Sejak 2001, Indonesia telah mengirimkan delegasi ke WSDC. Delegasi
tersebut dipilih setiap tahunnya melalui Indonesian Schools Debating
Championship(ISDC) yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan
Nasionalbekerjasama dengan Association for Critical Thinking (ACT).

25
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang dan pembahasan dalam makalah ini, maka
dapat disimpulkan bahwa :
1. Presentasi adalah kegiatan memaparkan atau menyajikan sesuatu kepada
seseorang/ kelompok dengan tujuan untuk memperoleh taggapan dari
peserta.
2. Seminar adalah kegiatan yang memungkinkan hadirnya informasi atau
temuan baru yang dilakukan mahasiswa dengan bimbingan seorang guru
besar atau ahli dalam membahas suatu masalah.
3. Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan
kepada orang banyak. Pidato juga berarti kegiatan seseorang yang
dilakukan di hadapan orang banyak dengan mengandalkan kemampuan
bahasa sebagai alatnya.
4. Diskusi panel adalah kelompok yang terdiri atas 3 sampai 6 orang ahli yang
ditunjuk untuk mengemukakan pandangannya dari berbagai segi mengenai
suatu masalah.
5. Debat merupakan kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih,
baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan
memutuskan masalah dan perbedaan.

B. Saran

Penulis menyadari akan kekurangan bahan dari materi makalah ini jadi
penulis menyarankan apabila terdapat kekurangan atau isi dari makalah ini maka
saran saran kritik dari pembaca adalah penutup dari semua kekurangan kami
dan menjadikan semua itu guna menjadi bahan acuan untuk memotivasi dan
menyempurnakan makalah kami.

26
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Pengertian Pidato, Tujuan, Sifat, Metode, Susunan dan Persiapan Pidato
Sambutan. http://organisasi.org/pengertian-pidato-tujuan-sifat-metode-susunan-dan-
persiapan-pidato-sambutan (diakses tanggal 4 Mei 2010)

Anonim. 2010. Jenis Pidato. http://archevn.host22.com/page4.html (Diakses tanggal 4


Mei 2010)

Arsjad, Maidar G dan Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara


Bahasa Indonesia. Bandung : Erlangga

Arifin, E. Zaenal dan SAmran Tasai. 2008. Cermat Berbahasa Indonesiauntuk


Perguruan Tinggi. Jakarta : Akapress

Kelas Dua Ge.2012. Makalah Debat Keterampilan Berbahasa. Dalam


http://http://kduage.blogspot.co.id/p/debat_21.html. (diakses tanggal 15 Mei
2016)

Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

Kerf, Gorys. 1993. Komposisi.Flores : Nusa Indah

Trigan, Henry Guntur. 1993. Berbicara. Bandung : Angkasa

Octarina , Emilda . 2013. Presentasi , Seminar, dan Pidato.


http://emildaoctarina.blogspot.co.id. (Diakses pada tanggal 15 Mei 2016).

Ismi, Saprijal .2012.Seminar Bahasa Indonesia. http://saprijalismi.blogspot.co.id.


( Diakses pada tanggal 15 Mei 2016).

27