Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Hubungan
Kewarganegaraan Dalam Pelayanan Kesehatan dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai hubungan kewarganegaraan dalam pelayanan
kesehatan. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.

Pontianak, 1 Agustus 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................ 4

2.1 Pengertian Kewarganegaraan.................................................... 4


2.2 Asas Kewarganegaraan ............................................................. 4
2.3 Cara Memperoleh Kewarganegaraan ........................................ 5
2.4 Pengertian Sistem dan Pelayanan Kesehatan ............................ 23
2.5 Kebijakan Kesehatan di Indonesia ............................................ 24
2.6 Faktor yang Mempengaruhi Pelayanan Kesehatan ................... 26
BAB III PENUTUP ...................................................................................... 35

3.1 Kesimpulan ................................................................................ 35

3.2 Saran .......................................................................................... 40

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 95


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah kewarganegaraan memiliki arti keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau
ikatan antara negara dan warga negara. Kewarganegaraan diartikan segala jenis hubungan
dengan suatu negara yang mengakibatkan adanya kewajiban negara itu untuk melindungi
orang yang bersangkutan. Warga negara merupakan unsur terpenting dalam hal terbentuknya
negara.
Warga negara dan negara merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Keduanya saling berkaitan dan memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang berupa
hubungan timbal balik. Warga negara mempunyai kewajiban untuk menjaga nama baik
negara dan membelanya. Sedangkan negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi dan
mensejahterakan kehidupan warga negaranya.
Di era sekarang ini, pelaksanaan hak dan kewajiban warga negara terhadap negara
belum sesuai dengan UUD 1945. Dalam kehidupan seharihari masih banyak
penyelewengan-penyelewengan dalam pelaksanaan hak dan kewajiban warga negara terhadap
Negara. Dengan fenomena tersebut, pemahaman yang baik mengenai hubungan antar warga
negara dengan Negara sangat penting untuk mengembangkan hubungan yang harmonis,
konstruktif, produktif, dan demokratis. Pada akhirnya pola hubungan yang baik antara warga
negara dapat mendukung kelangsungan hidup bernegara.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kewarganegaraan dan asas kewarganegaraan?
2. Apa saja hak dan kewajiban sebagai warga negara?
3. Apa saja unsur-unsur yang menentukan kewarganegaraan?
4. Bagaimana pelaksanaan hak dan kewajiban warga negara di Indonesia?

1.3. Tujuan
1. Untuk menjelaskan pengertian warga negara dan asas kewarganegaraan.
2. Untuk memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara.
3. Untuk mengetahui unsur-unsur yang menentukan kewarganegaraan.
4. Mengetahui seperti apa pelaksanaan hak dan kewajiban warga negara di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kewarganegaraan
Kewarganegaraan (citizenship) artinya keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau
ikatan antara negara dengan warga negara. Istilah kewarganegaraan dibedakan menjadi dua,
yaitu :
i. Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan Sosiologis
a) Kewarganegaraan dalam arti Yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum
antara warga negara dengan negara yang menimbulkan akibat-akibat hukum
tertentu. Tanda-tandanya misalnya : akta kelahiran, surat pernyataan, bukti
kewarganegaraan, dan lain-lain.
b) Kewarganegaraan dalam arti Sosiologis tidak ditandai dengan ikatan hukum,
tetapi ikatan emosional, seperti : ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan
sejarah, ikatan tanah air, dan lain-lain.
ii. Kewarganegaraan dalam arti Formil dan Materiil
a) Kewarganegaraan dalam arti Formil menunjuk pada tempat kewarganegaraan.
b) Kewarganegaraan dalam arti Materiil menunjuk pada akibat hukum dari status
kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban warga negara.
Kewarganegaraan seseorang mengakibatkan orang tersebut memiliki pertalian hukum
serta tunduk pada hukum negara yang bersangkutan. Orang yang sudah mempunyai
kewarganegaraan tidak jatuh pada kekuasaan atau kewenangan negara lain. Negara lain tidak
berhak memperlakukan kaidah-kaidah hukum pada orang yang bukan warga negaranya.

2.1.1 Asas Kewarganegaraan


Seorang yang diakui sebagai warga negara haruslah ditentukan berdasarkan ketentuan
yang telah disepakati dalam negara tersebut. Ketentuan itu menjadi asas atau pedoman untuk
menentukan status kewarganegaraan seseorang. Setiap negara mempunyai kebebasan dan
kewenangan untuk menetukan asas kewarganegaraan seseorang.
Dalam menerapkan asas kewarganegaraan itu, dikenal dengan dua pedoman, yaitu
asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dan asas kewarganegaraan berdasarkan
perkawinan. Asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran ada dua asas yaitu : ius
soli (tempat kelahiran), ius sanguinis (keturunan). Sedangkan berdasarkan perkawinan ada
dua asas, yaitu : asas kepastian hukum dan asas persamaan derajat.
i. Asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran
a) Asas Ius Soli (tempat kelahiran)
Istilah ini diambil dari bahsa Latin, yakni ius berarti hukum, pedomaan atau
dalil, Soli berasal dari kata solum berarti negeri, tanah atau dareah. Asas yang
menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan dari tempat dimana
orang tersebut lahir. Sebagai contoh, jika sebuah negara menganut asas ius soli,
maka seorang yang dilahirkan di negara tersebut mendapat hak sebagai warga
negara.
b) Asas Ius Sanguinis (keturunan)
Sanguinis berasal dari kata sanguis yang artinya darah. Asas ini menyatakan
bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan keturunan dari orang
tersebut. Contohnya, jika sebuah negara menganut asas ius sanguinis, maka
seseorang yang dari orang tua yang memiliki kewarganegaraan suatu negara
misalkan saja Indonesia, maka anak tersebut berhak mendapat status
kewarganegaraan orang tuanya, yakni warga negara Indonesia.
ii. Asas kewarganegaraan berdasarkan perkawinan
a) Asas persamaan hukum
Asas ini didasarkan pada pandangan bahwa suami istri adalah suatu ikatan yang
tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat. Dalam menyelenggarakan kehidupan
bersama, suami istri perlu mencerminkan suatu kesatuan yang bulat termasuk
dalam masalah kewarganegaraan. Berdasarkan asas ini diusahakan status
kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan satu.
b) Asas persamaan derajat
Asas ini berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan
status kewarganegaraan suami atau istri. Keduanya memiliki hak yang sama
untuk menentukan sendiri kewarganegaraan. Jadi, mereka dapat berbeda
kewarganegaraan seperti halnya sebelum berkeluarga.

2.2 Unsur-Unsur yang menentukan kewarganegaraan


i. Unsur darah keturunan (Ius Sanguinis)
Kewarganegaraan dari orang tua yang menurunkannya menentukan kewarganegaraan
seseorang, artinya kalau anak dilahirkan dari orang tua yang berwarganegara
Indonesia, ia dengan sendirinya juga warga negara Indonesia. Prinsip ini adalah
prinsip asli yang telah berlaku sejak dahulu, yang diantaranya terbukti dalam system
kesukuan, dimana anak dari anggota sesuatu suku dengan sendirinya dianggap sebagai
anggota suku itu. Sekarang prinsip ini berlaku diantaranya di Inggris, Amerika,
Perancis, Jepang, dan juga Indonesia.
ii. Unsur daerah tempat kelahiran (ius soli)
Daerah tempat seseorang dilahirkan menentukan kewarganegaraan. Misalnya, kalau
orang dilahirkan di dalam daerah hukum Indonesia, ia dengan sendirinya menjadi
warga negara Indonesia. Terkecuali anggota-anggota korps diplomatik dan anggota
tentara asing yang masih dalam ikatan dinas. Prinsip ini berlaku juga di Amerika,
Inggris, Perancis, dan juga Indonesia. Tetapi di jepang, prinsip ius soli ini tidak
berlaku. Karena seseorang yang tidak dapat membuktikan bahwa orang tuanya
berkebangsaan Jepang, ia tidak dapat diakui sebagai warga negara Jepang.
iii. Unsur pewarganegaraan (Naturalisasi)
Walaupun tidak dapat memenuhi prinsip ius soli ataupun ius sanguinis, orang dapat
juga memperoleh kewarganrgaraan dengan jalan pewarganegaraan atau naturalisasi.
Syarat-syarat dan prosedur menurut kebutuhan yang dibawakan oleh kondisi dan
situasi negara masing-masing.

2.3 Hak dan Kewajiban Warga Negara


Hak dan kewajiban warga negara tercantum dalam Pasal 27 sampai dengan pasal 34
UUD 1945.
i. Hak warga negara
a) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak (Pasal 27 ayat 2 UUD 1945)
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusian
b) Hak membela negara (Pasal 27 ayat 3 UUD 1945) Setiap warga negara berhak
dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara
c) Hak mengeluarkan pendapat (Pasal 28 UUD 1945) Kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkang pikiran baik dengan tulisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang
d) Hak kemerdekaan untuk bebes memeluk agama (Pasal 29 ayat 2 UUD 1945)
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercaannya itu
e) Hak ikut serta dalam pertahanan dan keamanan negara (Pasal 30 ayat 1 UUD
1945) tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
pertahanan dan keamanan Negara
f) Hak untuk medapatkan pendidikan (Pasal 31 ayat 1 UUD 1945) setiap warga
negara berhak mendapat pendidikan
g) Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional (Pasal 32 ayat
1 UUD 1945) Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah
peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan
mengembangkan nilai-nilai budayanya
h) Hak ekonomi atau hak untuk mendapatkan kesejahteraan sosial (Pasal 33 UUD
1945)
i) Hak mendapat jaminan keadilan sosial (Pasal 34 UUD 1945)
ii. Kewajiban warga negara
a) Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan (Pasal 27 ayat 1 UUD 1945)
Segala warga negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
ada kecualinya
b) Kewajiban membela negara (Pasal 27 ayat 3 UUD 1945) Setiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara
c) Kewajiban dalam upaya pertahanan negara (Pasal 30 ayat 1 UUD 1945) Tiap-
tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan
keamanan Negara
d) Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan
oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
e) Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar Negara

2.4 Cara melaksanakan hak dan kewajiban warga negara indonesia


Hak dan Kewajiban merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi
terjadi pertentangan karena hak dan kewajiban sering tidak seimbang. Pelaksanaan Hak
sendiri biasanya lebih didahulukan ketimbang Kewajiban. Setiap warga negara memiliki hak
dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan yang layak, tetapi pada kenyataannya banyak
warga negara yang belum merasakan kesejahteraan dalam menjalani kehidupannya.
Untuk mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu dengan cara
mengetahui posisi masing-masing subjek. Sebagai seorang warga negara harus tahu hak dan
kewajibannya. Pada sisi yang lain negara juga harus tahu akan hak dan kewajibannya bagi
warga negaranya seperti yang sudah tercantum dalam hukum dan aturan-aturan yang berlaku.
Jika hak dan kewajiban seimbang dan terpenuhi, maka kehidupan masyarakat akan aman
sejahtera.
Hak dan kewajiban di Indonesia ini tidak akan pernah seimbang. Apabila masyarakat
atau diri sendiri tidak bergerak untuk merubahnya. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara
yang berdemokrasi harus bangun dari mimpi kita yang buruk ini dan merubahnya untuk
mendapatkan hak-hak dan tak lupa melaksanakan kewajiban kita sebagai rakyat
Indonesia.Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUD 1945 pada pasal 28, yang menetapkan
bahwa hak warga negara dan penduduk untuk berserikat dan berkumpul, mengeluarkan
pikiran dengan lisan maupun tulisan, dan sebagainya, syarat-syarat akan diatur dalam undang-
undang. Pasal ini mencerminkan bahwa negara Indonesia bersifat demokrasi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kewarganegaraan (citizenship) artinya keanggotaan yang menunjukkan hubungan atau
ikatan antara negara dengan warga negara. Setiap warga negara mempunyai hak dan
kewajiban terhadap suatu negara harus dilaksanakan dengan baik. Sebagaimana yang
telah ditetapkan bahwasanya Hak dan Kewajiban Warga Negara Indonesia tercantum
dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 UUD 1945, yang didalamnya menjelaskan
beberapa hak dan kewijaban untuk seorang warga negara Indonesia. Untuk mencapai
keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu dengan cara mengetahui posisi diri kita
sendiri.

3.2 Saran-saran
i. Sebagai warga negara yang baik, seharusnya kita mendahulukan kepentingan bersama
dari pada kepentingan individu.
ii. Bisa menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya sebagai warga negara Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Azra, azyumardi. 2005. Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, HAM dan
Masyarakat Madani. Jakarta: PRENADA MEDIA.
Kaelan MS dan Achmad Zubaidi. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakartra:
Paradigma.
Sukaya, Endang Zaelani, dkk. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi.
Yogyakarta: Paradigma.
Ubaidillah, Ahmad, (et al). 2000. Pendidikan Kewarganegaraan:Demokrasi, HAM &
Masyarakat Madani. Jakarta: IAIN Jakarta Press.
Winarno, dwi. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan: Paradigma Baru. Jakarta: PT Bumi
Aksara.