Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan bahkan merupakan inti

dan memiliki peran strategis di dalamnya (Storey dalam Santoso, 2002). Lebih

lanjut bahasa merupakan alat dan medium untuk memunculkan arti penting dan

signifikansi atau juga makna. Proses mengaji dan mengeksplorasi budaya berarti

mengeksplorasi bagaimana makna diproduksi secara simbolik di dalam bahasa

sebagai suatu sistem tanda. Dengan kata lain fenomena kebahasaan adalah piranti

untuk memahami kebudayaan.

Berangkat dari pandangan linguistik deskriptif-etnografis memandang

bahwa gramatika adalah bagian dari kebudayaan. Hal ini disepakati dan

dijabarkan pula oleh Lakoff dan Johnson (2003:7-9) yang menyatakan bahwa

bahasa merefleksikan konseptual sistem penggunanya dalam tradisi tertentu.

Dewasa ini, penggunaan bahasa begitu beragam dan canggih, sehingga

keterbatasan kata dari kosakata yang ada sebagai alat untuk menyampaikan

pikiran, gagasan, atau keinginan membuat pengguna bahasa mencari alternatif lain

yaitu menggunakan majas atau gaya bahasa.

Majas merupakan salah satu jenis retorika bahasa, serta tendensi majas

dipahami sebagai media retorika untuk menghiasi, mempercantik kata-kata secara

bebas. Penggunaan bentuk kata-kata yang dipoles tersebut mempunyai alasan

selain untuk menyampaikan segala aktivitas sehari-hari secara lebih efektif, juga

1
2

berperan dalam pengenalan dan penemuan sesuatu agar menciptakan dunia baru

yang dinamis. (Yamanashii dalam Dikdik, 2010:44 ).

Majas dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu majas perbandingan, majas

pertentangan, dan majas pertautan. Majas perbandingan mencakup metafora,

simile dan personifikasi. Dalam definisi ini metafora didudukkan menjadi bagian

dari majas. Namun klasifikasi jenis ini menempatkan metafora dalam arti sempit

sedangkan dalam arti luas metafora mencakup semua jenis majas (Moeliono,

1989:175-177).

Jika dipahami dari pemaparan di atas maka secara garis besar metafora

dapat berarti majas itu sendiri. Hal itu karena semua jenis majas mengandung

makna metaforis. Berbeda dengan pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa

majas hanyalah retorika bahasa,

Baik metafora dan simile keduanya sama dan mirip bahkan menjadi dua

bentuk ekspresi bahasa yang sama, meskipun mereka memiliki aspek pragmatik

yang berbeda. Titik perbedaannya yaitu metafora mengekspresikan kategorisasi

dan hubungan identik, sementara simile mengekspresikan perbandingan tetapi

membedakan hubungan antara topik dan wahananya (Taira & Kusumi, 2011).

Selanjutnya perbedaan lainnya dibandingkan dengan metafora yakni majas simile

dilakukan secara eksplisit dengan cara menyertakan kata-kata seperti, tampak,

sama seperti, mirip, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dll. Di dalam

bahasa Jepang, majas simile ditandai dengan penanda berupa


3

youna/youni/you, mitai/miru/mita, to onaji,

nite iru. (Hirai, 1980:313).

Selain itu, simile dikategorikan sebagai metafora in praesetia atau metafora

eksplisit dan dikatakan pula sebagai metafora lemah. Oleh karena itu simile dapat

dianalisis dengan teknik serupa dalam mengaji metafora, untuk menemukan

metafora konseptualnya. Senada dengan hal tersebut Stern (2004:340)

menyatakan bahwa simile should be analyzed on the same model with metaphor.

Dengan demikian baik metafora dan simile keduanya dapat dianalisis melalui

model pendekatan yang sama.

Karya sastra merupakan teks yang sangat kaya dengan penggunaan majas

baik metafora maupun simile. Penggunaan bahasa dalam karya sastra begitu

produktif dan bertujuan untuk menggugah perasaan dan memastikan bahwa pesan

dalam karya tersebut sampai kepada penerima pesan yakni pembaca. Dengan

demikian seperti dipaparkan sebelumnya diperlukan pendekatan tersendiri untuk

menelaah makna metaforis dalam karya sastra.

Dari beberapa jenis karya sastra yang ada, karya sastra yang cukup populer

dikaji melalui aspek kebahasaannya yakni novel. Di Jepang, kita mengenal

Natsume Soseki yang dinobatkan sebagai Bapak Karya Sastra Modern Jepang.

Hadir saat Jepang mulai melakukan restorasi di Era Meiji, karya-karyanya

senantiasa mendapat tempat yang tinggi dalam kehidupan bangsa Jepang hingga

saat ini. Salah satu novel karyanya yaitu Kokoro yang diterjemahkan ke dalam

Bahasa Inggris dengan judul the heart of things (hati segala sesuatu) atau feelings

(perasaan) sedangkan dalam Bahasa Indonesia terbit dengan judul Rahasia Hati.
4

Novel ini pada awalnya diterbitkan tahun 1914 di Jepang dalam bentuk serial

dalam koran Asahi Shimbun, lalu kemudian sambil berjalan dalam bentuk serial

sejak 20 April hingga 11 Agustus 1914 dicetak dengan judul

(Kokoro: Sensei no Isho) atau Hati: Perjanjian Sensei. Kemudian selanjutnya

dipublikasikan dalam novel oleh penerbit Iwanami Shoten dengan judul yang

disingkat menjadi Kokoro dan mengganti penulisan kata yang semula

menggunakan huruf kanji dengan huruf hiragana.

Pemilihan diksi Kokoro pada judul novel yang bermakna hati menjadi

gambaran bahasa kiasan yang digunakan oleh penulis. Sesuai judulnya di dalam

novel ini, isinya pun melalui pembacaan sekilas ditemukan penggunaan simile

secara produktif yang membandingkan perasaan manusia dengan berbagai objek

dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatikan simile yang terdapat dalam novel sastra Kokoro berikut ini;

MS01.

Watashi wa kokoro wa chinutsu deshita. Namari o nonda youni omokuroshikunaru


koto ga tokidoki arimashita.
Saya GEN Hati TOP Melankolis KOP-KLam. Timah hitam AKU menelan-KLam seperti
menjadi berat hal NOM kadang-kadang ada-KLam
(Soseki, 1949:218)
Perasaan menjadi melankolis. Kadang-kadang terasa berat seperti menelan
timah hitam.

MS02. (Soseki,
1949:249)
Watashi dake ga subete o shitte ita no desu. Watashi wa namari no youna
meshi o kuimashita.
Saya hanya NOM semua AKU tahu-KKinLam GEN KOP. Saya TOP Timah Hitam AKU
seperti makan-KLam
Hanya diriku yang tahu segalanya. Saya telah makan yang rasanya seperti timah hitam.
5

Pada contoh MS01 di atas terdiri dari dua kalimat. Pada kalimat pertama

terdapat ranah sasaran yang ditandai dengan frasa kokoro wa chinutsu

yang berarti perasaan melankolis. Menurut Shinmura dalam koujien,

kata chinutsu atau melankolis adalahyang berarti

tenggelam dalam depresi.

Selanjutnya ranah sumber pada simile ini berada pada kalimat kedua pada

frasa namari wo nonda yang berarti menelan timah hitam. Ranah

sasaran menelan bubur timah hitam memiliki makna non literal sebab kata

menelan tidak berkolokasi dengan timah hitam. Telah diketahui secara literal

yang dimaksud dengan makanan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan

memiliki manfaat menyehatkan tubuh, bergizi dan seimbang. Kemudian dalam

kenyataannya tidak logis jika timah hitam dijadikan makanan, apalagi dengan

sengaja menelan zat tersebut. Timah hitam atau timbal adalah logam berat

berbahaya. Akan tetapi dalam kenyataan di kehidupan sehari-hari pada kondisi

tertentu, seseorang dapat tanpa sengaja menelan timah hitam. Hal itu terjadi di

negara-negara Asia dan Amerika. Hal yang menjadi penyebab utama keracunan

timah hitam bisa diakibatkan penggunaan tembikar yang dicat pada saat memasak,

air yang melalui pipa besi dan telah terkontaminasi, asap kendaraan, dan mainan

anak berbahan plastik. Seperti dikemukakan U.S Medical National Library of

Medicine bahwa kondisi tubuh saat keracunan timah hitam antara lain

ketidaksanggupan belajar, kelainan tidak dapat memusatkan perhatian, gangguan


6

perilaku, terhambatnya pertumbuhan, kerusakan pendengaran, dan kerusakan

ginjal.

Dengan demikian diketahui di sini bahwa hal yang diperbandingkan pada

contoh MS01 adalah kondisi pada saat menelan timah hitam atau keracunan

makanan yang sebagai ranah sumber dan perasaan melankolis sebagai ranah

sasaran. Adapun korespondensi yang terjalin yaitu kesulitan bersosialisasi,

kondisi tidak sehat, dan kesulitan beraktifitas.

Pada contoh MS02, ranah sumber yang digunakan sama dengan yang ada

pada contoh MS01 yakni menggunakan kata namari yang berarti timah hitam.

Hanya saja jika pada contoh MS001 menggunakan verba menelan, pada contoh

MS02 kata yang digunakan adalah verba makan dan kedua verba ini tidak

berkolokasi dengan kata namari. Pada contoh (2), ranah sasaran yang digunakan

adalah frase perasaan/pikiran mengetahui segalanya. Kondisi

perasaan mengetahui segalanya atau memendam perasaan sendiri dengan kata lain

dapat didefinisikan sebagai kondisi introver atau dalam bahasa Jepang disebut

dengan naikou yang dijelaskan sebagai berikut; 1. 2.

yaitu 1. Gerakan ke arah dalam dan 2. hati

/pikiran yang diarahkan ke diri sendiri.

Baik ranah sasaran perasaan melankolis dan introver keduanya memiliki

esensi kesamaan makna yaitu memendam perasaan. Korespondensi yang terjalin

pada contoh (2) memiliki kesamaan struktur pengalaman dan menegaskan


7

kembali korespondensi makna yang hadir pada contoh (1). Perasaan menutup diri

yang dibandingkan dengan keracunan makanan memberikan gambaran

pengalaman bahwa jika makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak sehat bahkan

berbahaya maka berdampak buruk pada perubahan perasaan. Di sisi lain jika

makanan yang baik dan bergizi maka berdampak pula menghasilkan emosi yang

baik dan sehat. Dengan demikian kedua contoh di atas, dapat dikonseptualisasikan

ke dalam metafora perasaan adalah makanan.

Terkait dengan pemaparan di atas, saya tertarik untuk mengadakan

penelitian dengan judul Simile Perasaan dalam Novel Kokoro (Rahasia Hati)

karya Natsume Soseki : Kajian Linguistik Kognitif

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi masalah sebagai

berikut.

1) Pilihan kata apa saja yang menandai simile perasaan dalam novel Kokoro

karya Natsume Soseki?

2) Apa saja ranah sumber dalam simile perasaaan pada novel Kokoro karya

Natsume Soseki?

3) Bagaimana metafora konseptual yang hadir antara korespondensi dari ranah

sumber dan ranah target pada novel Kokoro karya Natsume Soseki ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dapat diperinci sebagai berikut;


8

a) Mengidentifikasi pilihan kata yang menandai perasaan dalam majas simile

yang terdapat dalam novel Kokoro.

b) Mengidentifikasi ranah sumber dalam simile perasaan dalam novel Kokoro.

c) Menentukan metafora konseptual dari korespondesi antara ranah sumber dan

ranah target dalam novel Kokoro.

1.4 Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini dipaparkan menjadi dua bagian, yaitu kegunaan

teoritis dan kegunaan praktis.

a) Secara teoritis bermanfaat untuk menambah referensi kajian linguistik

kognitif dan metafora konseptual.

b) Secara praktis bermanfaat sebagai rujukan bagi peneliti khusunya tentang

linguistik dan metafora konseptual.

1.5 Kerangka Teori

Dalam penelitian ini, teori yang digunakan diacu dari beberapa linguis,

yaitu:

1. Teori Linguistik Kognitif oleh Arimi (2015) dan Taniguchi (2009) yang

menjelaskan bahwa linguistik kognitif adalah bidang kajian linguistik yang

berusaha menjelaskan hubungan antara bahasa dan pikiran.

2. Teori Linguistik Kognitif oleh Langacker (1999) mengenai pembagian jenis

kognisi dalam berbahasa.


9

3. Teori Metafora Konseptual oleh Lakoff dan Johnson (2004) yang

menjelaskan bahwa metafora menempati posisi yang amat penting dan

istimewa. Metafora bukan hanya retorika dan imajinasi puisi belaka

melainkan metafora adalah konsep hidup dan konsep berpikir. Dalam teori

ini metafora konseptual dibagi menjadi tiga jenis, yaitu metafora struktural,

metafora orientasional dan metafora ontologis.

4. Teori Pembagian Majas dalam Bahasa Jepang oleh Tamon (2015), Hirai

(1980) dan Momiyama (1997) yang membagi majas dalam bahasa Jepang

ke dalam empat jenis, yakni chokuyu/simiri-, inyu/metafa-,kanyu/metonimi,

dan teiyu/sinekudoki-.

5. Teori Majas Simile dalam Bahasa Jepang menurut Nabeshima (2012),

Tsujimura (1996), dan Hirai (1980) yang menjelaskan tentang majas simile

dan penandanya dalam Bahasa Jepang.

6. Teori Makna Leksikal oleh Djadjasudarma (2009), dan Pateda (2002) yang

menjelaskan definisi makna dan cakupannya.

7. Teori Jenis-jenis Makna dalam Linguistik Kognitif oleh Momiyama (2008)

yang menjelaskan dan mengklasifikasikan jenis-jenis makna dalam Bahasa

Jepang.

8. Teori Medan Makna oleh Nida (Pateda 2002) yang menjelaskan tentang

definisi medan makna dan fitur medan makna dalam struktur semantik.

9. Teori Organisasi Makna oleh Reed (2011) yang menjelaskan bahwa

informasi semantik diorganisasi melalui empat model, antara lain model


10

jaringan hirarkis, model perbandingan ciri, model aktivasi menyebar, dan

model simbol perseptual.

10. Teori Skema Imaji menurut Momiyama (2010) yang menjelaskan tentang

proses terbentuknya skema imaji berdasarkan pada diagram penggambaran

rekognisi manusia dalam kehidupan.

11. Teori Kolokasi menurut Momiyama (2010) yang menjelaskan tentang

asosiasi tetap antara satu kata dan kata lain.

12. Teori emosi dasar manusia menurut Paul Ekman (2008)

1.6. Data dan Sumber Data

Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah novel

Kokoro karya Natsume Soseki (1949). Langkah selanjutnya, sesuai kriteria

penelitian adalah menentukan simile beranah sasaran perasaan dan metafora

konseptualnya.

1.7. Metode dan Teknik Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut

Sudaryanto (1992:62), metode deskriptif adalah suatu cara mengamati,

menganalisis, dan menjelaskan suatu fenomena secara sistematis, faktual, dan

akurat mengenai data serta sifat dan hubungan fenomena yang diteliti. Sedangkan

metode kualitatif digunakan karena penyesuaian metode ini lebih mudah

dibandingkan kenyataan yang kompleks. Metode ini menyajikan kenyataan

langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Metode ini pun lebih
11

peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan penajaman-penajaman pengaruh

bersama terhadap pola-pola nilai dan yang dihadapi (Djajasudarma, 2006:14).

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:

1.7.1. Proses Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan metode simak,

yaitu menyimak majas simile dalam novel Kokoro berdasarkan penandanya.

Selanjutnya dengan menggunakan teknik catat menghasilkan 123 data simile,

kemudian diklasifikasi kembali dengan metode simak-catat dengan basis

klasifikasi metafora konseptual Lakoff dan Johnson menghasilkan 71 data simile.

Hingga pada tahap akhir pengumpulan data, peneliti mengklasifikasi simile yang

beranah sasaran perasaan menghasilkan 18 data simile. Proses pengumpulan data

ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:

1. Pada tahap pertama, penulis menyimak Novel Kokoro untuk


mengidentifikasi majas simile yang terkandung berdasarkan penandanya
menghasilkan 123 data.

2. Pada tahap kedua, menyimak kembali Majas Simile yang ditemukan,


kemudian mengklasifikasinya dengan basis teori metafora konseptual
Lakoff dan Johnson hingga menghasilkan 71 data simile yang
mengandung metafora konseptual.

3. Pada tahap ketiga, menyimak data simile yang mengandung metafora


konseptual dan mengklasifikasinya berdasarkan ranah sasaran yang
bermakna perasaan menghasilkan 18 data.

Berdasarkan uraian di atas, proses pengumpulan data dapat digambarkan pada


tabel berikut.
12

Gambar 1.7.1 PROSES PENGUMPULAN DATA

Novel Kokoro
(Sumber data)
1949
Simak-Catat

Kalimat-kalimat Diklasifikasi dengan basis


dengan majas Simile klasifikasi Hirai, Tsujimura
dan Nabeshima

47
70 Data Data 6 Data 0 Data 0 Data 0 Data

Simak - Catat

Klasifikasi Metafora
Konseptual Lakoff &
Johnson
Diklasifikasi

Metafora Struktural Metafora


Orientasional Metafora Ontologis
20 Data 15 Data 21 Data

Diklasifikasi berdasarkan teori


Simile Perasaan medan makna Nida
18 Data
1.7.2. Proses Analisis Data

Metode yang digunakan dalam tahap analisis data adalah menggunakan

metode padan referensial. Dalam metode ini, data sebagai objek penelitian yang

menjadi sasaran ditentukan identitasnya berdasarkan kesepadanan, keselarasan,

kesesuaian dan kesamaannya (Djadjasudarma, 2006 : 66). Objek penelitian ini

adalah kalimat bermajas simile dengan referensi alat penentunya, Data-data

bersimile beranah sasaran perasaan ditelaah beradasarkan pendekatan teori

metafora konseptual Lakoff dan Johnson (2004), dengan mengidentifikasi diksi

yang menjadi penanda ranah sasaran. Selanjutnya menentukan ranah sumber,

mendeskripsikan metafora konseptual yang hadir berdasarkan korespondensinya

dan menyimpulkan. Berikut adalah pemaparan rinci terkait hal tersebut.

1. Pada tahap pertama, data berupa simile beranah sasaran perasaan

dianalisis dengan mengidentifikasi diksi yang digunakan berdasarkan

kolokasinya dalam kalimat.

2. Pada tahap kedua, mengidentifikasi ranah sumber yang digunakan dalam

simile beranah sasaran perasaan tersebut.

3. Pada tahap ketiga, mendeskripsikan korespondensi antara ranah sumber

dan ranah sasarannya

4. Pada tahap keempat, menentukan dan menetapkan metafora konseptual

yang telah teridentifikasi.

5. Pada tahap keempat, ditemukan kesimpulan.

1
14

Berdasarkan uraian di atas, proses pengumpulan data dapat digambarkan pada

bagan berikut.

Gambar 1.7.2 PROSES ANALISIS DATA

Simile Beranah Sasaran


Perasaan
(18 Data)

Identifikasi Diksi pada Simile


Beranah Sasaran Perasaan
(Teori Kolokasi Momiyama)

Penentuan Ranah Sumber

(Teori metafora Kognitif Lakoff


dan Jenis-jenis Kognisi
Langacker)

Korespondensi antara Ranah


Sumber dan Ranah Sasaran
(Teori Organisasi Makna Reed)

Metafora Konseptual
Pada Simile
Beranah Sasaran Perasaan

Kesimpulan
15

1.8. Sistematika Penulisan

Sistematika laporan hasil penelitian terbagi dalam 4 bab, yaitu sebagai

berikut:

Bab I Pendahuluan

Bab ini berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan

penelitian, bobot dan relevansi, kerangka teori, data dan sumber data, metode

dan teknik penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II Kajian Teori

Bab ini berisi penelitian terdahulu dan teori pendukung dalam penulisan

tesis ini.

Bab III Analisis

Bab ini adalah bagian pembahasan atau analisis simile yang beranah

sasaran

Bab IV Simpulan dan Saran

Bab ini berisi mengenai simpulan dan saran dari hasil penelitian.