Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI BENIH

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit

Oleh :

Nama : Wenni Yulisma.M

Nim :D1A013059

AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2016

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 1


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkecambahan benih dapat diartikan sebagai dimulainya proses pertumbuhan


embrio dari benih yang sudah matang ( Taiz and Zeiger 1998).
Pertumbuhan awal tumbuhan berbiji dimulai dari biji. Biji mengandung
potensi yang dibutuhkan untuk tumbuh menjadi individu baru, misalnya embrio,
cadangan makanan, dan calon daun (calon akar). Sebutir biji mengandung satu
embrio. Embrio terdiri atas radikula (yang akan tumbuh menjadi akar) dan plumula
(yang akan tumbuh menjadi kecambah). Cadangan makanan bagi embrio tersimpan
dalam kotiledon yang didalamnya terkandung pati, protein dan beberapa jenis enzim.
Kotiledon dikelilingi oleh bahan yang kuat, disebut testa. Testa berfungsi sebagai
pelindung kotiledon untuk mencegah kerusakan embrio dan masuknya bakteri atau
jamur ke dalam biji. Testa memiliki sebuah lubang kecil, disebut mikropil. Di dekat
mikropil terdapat hilum yang menggabungkan kulit kotiledon. (Bagod Sudjadi, 2006)
Biji memiliki kandungan air yang sangat sedikit. Pada saat biji terbentuk, air
di dalamnya dikeluarkan sehingga biji mengalami dehidrasi. Akibat ketiadaan air, biji
tidak dapat melangsungkan proses metabolism sehingga menjadi tidak aktif (dorman).
Dormansi biji sangat bermanfaat pada kondisi tidak nyaman (ekstrem; sangat dingin
atau kering) karena struktur biji yang kuat akan melindungi embrio agar tetap
bertahan hidup. (Bagod Sudjadi, 2006).
Pengujian benih dalam kondisi lapang biasanya kurang memuaskan karena
hasilnya tidak dapat diulang dengan konsisten. Karena itu, pengujian di labolatorium
dilaksnakan dengan mengendalikan factor lingkungan agar mencapai perkecambahan
benih paling teratur, cepat dan lengkap bagi kebanyakan contoh benih.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 2


Terdapat bermacam macam metode uji perkecambahan benih. Berdasarkan
substratnya, metode uji perkecambahan benih dapat digolongkan ke dalam biji
dengan menggunakan kertas, pasir atau tanah.

1.2 Tujuan

Melihat pemunculan bibit epigeal dan hipageal


Mengetahui struktur-struktur penting pada bibit.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN PERKECAMBAHAN

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-


komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi
tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat di
dalam biji, misalnya radikula dan plumula. (Bagod Sudjadi, 2006)
Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan embrio.
Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari dalam biji. Proses
perubahan embrio saat perkecambahan adalah plumula tumbuh dan berkembang
menjadi batang, dan radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar. (Istamar
Syamsuri, 2004)
Perkecambahan merupakan sustu proses dimana radikula (akar embrionik)
memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala morfologi dengan
pemunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang kompleks,
dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis. (Salisbury, 1985)

2.2 FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKECAMBAHAN

Benih dapat berkecambah bila tersedia faktor-faktor pendukung selama


terjadinya proses perkecambahan. Perkembangan benih dipengaruhi oleh faktor
dalam (internal) dan faktor luar (eksternal)

Factor Dalam

Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain :

a. Tingkat kemasakan benih


Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak
mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 4


cukup serta pembentukan embrio belum sempurna (Sutopo, 2002). Pada umumnya
sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut
juga telah mencapai masak fisiologos atau masak fungsional dan pada saat itu benih
mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum (vigor) dan daya
kecambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih mempunyai mutu
tertinggi (Kamil, 1979)

b. Ukuran benih
Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih
banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Cadangan makanan
yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi
embrio pada saat perkecambahan (Sutopo, 2002). Berat benih berpengaruh terhadap
kecepatan pertumbuhan dan produksi karena berat benih menentukan besarnya
kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat dipanen (Blackman,
dalam Sutopo, 2002).

c. Dormansi
Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak
berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah
memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga dapat dikatakan dormansi
benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viabel) namun gagal
berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara normal baik untuk
berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai
(Lambers 1992, Schmidt 2002).

d. Penghambat perkecambahan
Menurut Kuswanto (1996), penghambat perkecambahan benih dapat berupa
kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan
dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik
atau menghambat laju respirasi.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 5


Faktor Luar

Faktor luar utama yang mempengaruhi perkecambahan diantaranya :

a. Air
Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit
pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan
jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat
pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo, 2002). Perkembangan benih
tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80 sampai 90
persen (Darjadi,1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55
persen (Kamil, 1979). Benih mempunyai kemampuan kecambah pada kisaran air
tersedia. Pada kondisi media yang terlalu basah akan dapat menghambat aerasi dan
merangsang timbulnya penyakit serta busuknya benih karena cendawan atau bakteri
(Sutopo, 2002).
Menurut Kamil (1979), kira-kira 70 persen berat protoplasma sel hidup terdiri dari air
dan fungsi air antara lain:
1. Untuk melembabkan kulit biji sehingga menjadi pecah atau robek agar terjadi
pengembangan embrio dan endosperm.
2. Untuk memberikan fasilitas masuknya oksigen kedalam biji.
3. Untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan berbagai
fungsinya.
4. Sebagai alat transport larutan makanan dari endosperm atau kotiledon ke titik
tumbuh, dimana akan terbentuk protoplasma baru.

b. Suhu
Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan
benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran
suhu antara 26.5 sd 35C (Sutopo, 2002). Suhu juga mempengaruhi kecepatan proses
permulaan perkecambahan dan ditentukan oleh berbagai sifat lain yaitu sifat dormansi
benih, cahaya dan zat tumbuh gibberallin.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 6


c. Oksigen
Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan
meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas.
Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan
benih (Sutopo, 2002). Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju respirasi dan
dipengaruhi oleh suhu, mikro-organisme yang terdapat dalam benih (Kuswanto.
1996). Menurut Kamil (1979) umumnya benih akan berkecambah dalam udara yang
mengandung 29 persen oksigen dan 0.03 persen CO2. Namun untuk benih yang
dorman, perkecambahannya akan terjadi jika oksigen yang masuk ke dalam benih
ditingkatkan sampai 80 persen, karena biasanya oksigen yang masuk ke embrio
kurang dari 3 persen.

d. Cahaya
Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya berfariasi tergantung pada
jenis tanaman (Sutopo, 2002). Adapun besar pengaruh cahanya terhadap
perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya, kualitas cahaya, lamanya
penyinaran (Kamil, 1979). Menurut Adriance and Brison dalam Sutopo (2002)
pengaruh cahaya terhadap perkecambahan benih dapat dibagi atas 4 golongan yaitu
golongan yang memerlukan cahaya mutlak, golongan yang memerlukan cahaya untuk
mempercepat perkecambahan, golongan dimana cahaya dapat menghambat
perkecambahan, serta golongan dimana benih dapat berkecambah baik pada tempat
gelap maupun ada cahaya.

e. Medium
Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik,
gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab
penyakit terutama cendawan (Sutopo, 2002). Pengujian viabilitas benih dapat
digunakan media antara lain substrat kertas, pasir dan tanah.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 7


2.3 TIPE TIPE PERKECAMBAHAN

a. Tipe Epigeal

adalah munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara


keseluruhan dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan
tanah. Contoh : cerry, kacang merah, Lombok, tomat dan lain lain.

b. Tipe Hipogeal

adalah munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil


tidak memanjang ke atas permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada
di dalam kulit biji dibawah permukaan tanah. Contoh : jagung, palem dan lain
lain.

2.4 PROSES PERKECAMBAHAN

Tahap 1

Penyerapan air oleh benih, melunakkan kulit benih terjadi dehidrasi dari
protoplasma

Tahap 2

Aktivitas sel dan enzim enzim, meningkatnya tingkat respirasi benih

Tahap 3

Terjadi penguraian kabohidrat, lemak, protein menjadi bentuk yang melarutkan


dan ditranslokasi ke titik tumbuh.

Tahap 4

Asimiliasi dari bahan bahan yang diuraikan menuju daerah meristematik


untuk menghasilkan energi bagi pertumbuhan sel sel baru.

Tahap 5

Pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan


pembagian sel pada titik tumbuh.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 8


BAB III
METODOLOGI

2.1 waktu dan tempat

Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas


Jambi pada tanggal 7 maret 2016 yang dimulai pada pukul 03. Wib selesai.

2.2 alat dan bahan

o Bak perkecambah
o Cawan
o Pasir
o Bibit kedelei
o Alat tulis

2.3 cara kerja


Sediakan bak perkecambah yang telah di isi pasir
Pilih benih kedelei yang baik sebanyak 25 biji
Buak jarak tanam di dalam bak berkecambah
Tanam benih kedelei di setiap lubang dan jangan terlalu dalam dan terlalu dangkal
Amati kapan masing-masing bibit muncul diatas permukaan medium dan tentukan struktur
apa yang pertama kali muncul
Amati struktur penting dari masing-masing bibit
Gambarkan bagian-bagian tipe yang dilengkapi dengan struktur tersebut
Pengamatan dimulai pada hari ke-2 setelah tanam

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 9


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Kelompok Type Pemunculan Bibit Benih sampel
1 Dan 2 Kedelei

Type Epigeal

3 Dan 4 Jagung

Type Hypogeal

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 10


5 Dan 6 padi

Type Hypogeal

4.2 PEMBAHASAN

Melihat pada keberadaan kotiledon atau organ penyimpanan, perkecambahan


dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu perkecambahan epigeal dan perkecambahan
hipogeal.
Perkecambahan epigeal ditunjukkan oleh benih dari golongan kacang-kacangan dan
pinus, sedangkan perkecambahan hipogeal ditunjukkan oleh benih dari golongan
koro-koroan, dan rerumputan.
Berdasarkan hasil dari praktikum , pada hari ketiga sudah terlihat benih
kedelai berkecambah,. Dapat dijelaskan bahwa tipe perkecambahan bibit ada 2 tipe
yang terdiri dari tipe epigeal dan tipe hypogeal. Yang termasuk kedalam tipe
hypogeal adalah padi dan jagung karena kotiledon tetap berada di bawah tanah
sampai pertumbuhan tanaman. Sedangkang kacang tanah dan kedelai termasuk
kedalam tipe epigeal karena kotiledon ikut terangkat ke atas akibat dari pemanjangan
hipokotil pada saat pertumbuhan tanaman. Makanan di peroleh dari persediaan
cadangan makanan.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 11


Pada kedelai terdiri dari seed coat, cotyledon, hillum, plumule, radiccle, Pada
Kacang tanah ada selaput benih, plumula yang menjadi bakal daun serta radikula
yang menjadi bakal akar, yang paling luas bentuknya adalah kotiledon.
Berdasarkan literatur pada struktur benihnya, struktur biji pada padi terdiri
dari lemma, palea, glumme, endosperm, embryo, embryonic axis. Struktur biji pada
jagung terdiri dari seed coad/fruit coat, endosperm, scutellum, aleuron layer,
coleoptil, plummule, seminal root, radiccel, coleorhizae, embryonic axis, embryo.
Bibit tipe epigeal adalah tipe bibit di mana cotyledonnya terangkat di atas
permukaan tanah sewaktu pertumbuhannya. Terangkatnya cotyledon ini ke atas
permukaan tanah disebabkan oleh pertumbuhan dan perpanjangan hypokotil,
sedangkan ujung arah ke bawah sudah tertambat ke tanah dengan akar akar lateral.
Hypokotil membengkok dan bergeser ke arah permukaan tanah, kemudian menembus
dengan merekahnya, lalu munculdi permukaan tanah.
Sewaktu perkecambahan biji tipe ini terdapat scutellum tetap tinggal
di dalam tanah. Scutellum berfungsi sebagai organ penyerap tanaman dari endosperm
dan mengantarkanya kepada embrionik axis yang sedang tumbuh. Pada
perkecambahan ini yang pertama kali keluar adalah radike. Segera mungkin, radikel
ini keluar akar akar cabang, bersama sama dengan akar primer membentuk sistem
akar primer. Akar primer ini berfungsi hanya sementara. Fungsi akar primer ini akan
digantikan dengan akar adventif atau serabut yang keluar dari nodus batang yang
pertama dan beberapa nodus di atasnya. Sistem akar serabut inilah yang menjamin
kehidupan tanaman tersebut selanjutnya dalam hal penyerapan air dan bahan
makanan dari tanah dan alat penambat pada tanah.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 12


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 kesimpulan

1. kedelei adalah benih dikotil


2. tipe perkecambahan kacang tanah adalah hypogeal yang mana adalah munculnya
radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas
permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di dalam kulit biji dibawah
permukaan tanah. sedangkan benih kacang kedelei tipe perkecambahannya adalah
epigeal yang mana munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil
tidak memanjang ke atas permukaan tanah, sedangkan kotiledon tetap berada di
dalam kulit biji dibawah permukaan tanah.
3. Cahaya mempengaruhi proses perkecambahan.
4. Criteria perkecambahan normal adalah untuk kedelei ada plumula dan akar sekunder
sedangkan jagung ada daun primer dan sekunder serta ada akar sekundernya.

5.2 saran
Saran yang dapat kami sampaikan adalah : Perlu adanya kerjasama dan
kekompakkan dalam kelompok.

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 13


DAFTAR PUSTAKA

http://dwikahenny24.wordpress.com/2010/02/07/perkecambahan-biji/
http://perkecambahan.blogspot.com/
http://pertemuan4_perkecambahan-benih-oht.pdf

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 14


Lampiran

Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 15


Tipe pemunculan bibit dan struktur bibit Page 16