Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI BENIH

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT )

Oleh :

Nama : Wenni Yulisma.M

Nim :D1A013059

AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2016

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 1


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benih merupkan simbol dari suatu permulaan, yang merupakan inti dari
kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai
penyambung dari kehidupan tanaman. Benih adalah biji tanaman yang digunakan untuk
tujuan pertanaman. Pada konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi sebab
benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana
teknologi yang maju (Sadjad, 1977 dalam Sutopo, 2010 : 1-2).
Benih adalah biji botanis yaitu biji hasil dari perkembangan bakal biji(ovul) di dalam
bunga kemudian menghasilkan biji botanis yang disebut dengan benih. Pengertian benih
dalam UU No. 12 tahun 1992 yaitu tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk
memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman.
Perkecambahan merupakan proses metobolisme biji hingga dapat menghasilkan
pertumbuhan dari komponen kecambah (Plumula dan Radikula). Definisi perkecambahan
adalah jika sudah dapat dilihat atribut perkecambahannya, yaitu plumula dan rdikula dan
keduanya tumbuh normal dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan ISTA.
Setiap biji yang dikecambahkan ataupun yang diujikan tidak selalu prosentase
pertumbuhan kecambahnya sama, hal ini dipengaruhi bebagai macam faktor-faktor yang
mempengaruhi kecepatan perkecambahan. Kecepatan berkecambah benih adalah
kecepatan benih untuk berkecambah normal.
Benih yang memiliki vigor yang tinggi akan lebih cepat berkecambah, karena memiliki
cadangan makanan yang tinggi, sehingga dapat membantu untuk berkecambah lebih
cepat di lingkungan yang optimum maupun yang suboptimum.
Uji benih dalam kondisi lapang biasanya kurang memuaskan karena hasilnya tidak dapat
diulang dengan konsisten. Oleh karena itu, pengujian di laboratorium dilaksanakan
dengan mengendalikan faktor lingkungan agar mencapai perkecambahan yang teratur,

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 2


cepat, lengkap bagi kebanyakan contoh benih. Selain itu kondisi yang terkendali telah
distandarisasi untuk memungkinkan hasil pengujian yang dapat diulang sedekat mungkin
kesamaannya.
Pengujian benih dalam kondisi lapang biasanya kurang memuaskan karena hasilnya tidak
dapat diulang dengan konsisten. Karena itu, pengujian dilaboratorium dilaksanakan
dengan mengendalikan faktor lingkungan agar mencapai perkecambahan yang teratur,
cepat, lengkap bagi kebanyakan contoh benih. Kondisi yang terkendali telah
distandarisasi untuk memungkinkan hasil pengujian yang dapat diulang sedekat mungkin
kesamaannya. Terdapat bermacam-macam metode uji perkecambahan benih, setiap
metode memiliki kekhususan tersendiri sehubungan dengan jenis benih diuji, jenis alat
perkecambahan yang digunakan, dan jenis parameter viabilitas benih dinilai. Berdasarkan
substratnya, metode uji perkecambahan benih dapat digolongkan kedalam menggunakan
kertas, pasir dan tanah. Pada kesempatan ini yang akan dipelajari metode uni daya
kecambah (SGT), uji kecepatan berkecambah (IVT), uji hitung pertama (FCT), uji
pertumbuhan akar dan batang (RSGT). Kondisi lingkungan perkecambahan pada semua
metode ini adalah optimum.

1.2 Tujuan

Menentukan presentase dari perkecambah benih


Untuk menentukan daya perkecambah benih ( seed viability )

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 3


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Uji Kecambah Baku (SGT)Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu


tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula
berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia
berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. Pada
tanaman, pertumbuhan dimulai dari proses perkecambahan biji. Perkecambahan dapat terjadi
apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi karena masuknya air ke dalam biji melalui proses
imbibisi. Apabila proses imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan (Hartono, 2010).
Daya berkecambah benih merupakan kemampuan benih untuk berkecambah normal pada
lingkungan yang serba memadai. Uji daya berkecambah merupakan salah satu uji viabilitas benih
cara langsung dengan indikasi langsung. Kecambah dikatakan normal apabila semua
bagiannya (akar, hipokotil atau skutelum, plumula, kotiledon) menunjukkan kesempurnaan dan
lengkap tanpa kerusakkan. Kecambah dinyatakan abnormal apabila salah satu bagiannya tidak
muncul, atau muncul tetapi rusak atau tidak sempurna. Benih dinyatakan mati apabila sampai
akhir periode pengujian tidak menunjukkan adanya gejala perkecambahan dan bukan merupakan
benih keras. Sedangkan benih keras adalah benih yang tetap keras walaupun telah di lembabkan
dalam penumbuhan (Sutopo, 2009).
Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan dikenal perkecambahan
hipogeal dan epigeal. Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan
plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya.
Tipe ini terjadi, jika plumula muncul ke permukaan tanah sedangkan kotiledon tinggal di dalam
tanah. Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung (Hartono, 2010).
Pada epigeal hipokotillah yang tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong
ke permukaan tanah. Tipe ini terjadi, jika plumula dan kotiledon muncul di atas permukaan tanah.
Pengetahuan tentang hal ini dipakai oleh para ahli agronomi untuk memperkirakan kedalaman
tanam. Perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada kacang hijau dan jarak (Hartono, 2010).
Pada uji daya kecambah, benih dikatakan berkecambah bila dapat menghasilkan kecambah
dengan bagian-bagian yang normal atau mendekati normal. Beberapa jenis benih menghasilkan

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 4


benih keras yang dianggap hidup meski tidak berkecambah sewaktu diuji berdasarkan prosedur
yang dianut secara resmi. Kadang-kadang benih dorman membutuhkan prosedur pengujian daya
kecambah yang khusus. Ada suatu pengujian viabilitas yang bertujuan untuk megetahui dengan
cepat semua benih yang hidup, baik dorman maupun tidak dorman. Pengirisan bagian embrio
benih dan uji tetrazolium digunakan untuk tujuan ini ( Louis N. Bass, 1994).
Ciri utama benih ialah kalau benih itu dapat dibedakan dari biji karena mempunyai daya hidup
yang disebut viabilitas. Namun, semua insane benih, apapun fungsi yang disandangnya,
senantiasa mendambakan benih vigor, tidak sekedar benih yang hidup (viable). Sekadar benih
yang mempunyai potensi hidup normal pun tidak cukup. Mengenai benih yang hidup, kalau
dibatasi secara negatif menjadi gampang. Indikasi bahwa benih itu mati. Kalaupun benih itu
menunjukkan gejala hidup saja, misalnya yang ditunjukkan oleh tingkat pernapasannya, bahkan
oleh sel-sel embrio yang tidak mati. Benih dapat dikategorikan mempunyai daya hidup sekalipun
benih itu tidak menunjukkan pertumbuhan. Kalau benih itu menumbuhkan akar embrionalnya,
benih itu hidup (Sjamsoeoed Sadjad, 1999).

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 5


BAB III
METODOLOGI

2.1 waktu dan tempat

Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas


Jambi pada tanggal 14 maret 2016 yang dimulai pada pukul 03. Wib selesai.

2.2 alat dan bahan

Benih padi
Benih kedelei
Benih jagung
Kertas tensil (buram)
Plastic
Gunting
Cutter
Kertas label
Nampan
Pinset
Dan germinator

2.3 cara kerja

Siapkan alat dan bahan


Siapkan 25 benih untuk 1 ulangan ( kali 3 ulangan)
Isi nampan dengan air secukupnya
Letakan 2 lembar kertas tensil (buram) kedalam nampan hingga basah
Kemudian angkat kertas, letakan diatas meja yg dilapisi plastic

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 6


Letakan benih di atas kertas dan di beri jarak
Lalu basahkan lagi 1 kertas di masukan kedalam nampan yang berisi air , kemudian
letakan di atas benih
Gulung kertas tensil (buram) yang telah diisi benih
Lakukan hingga 3 ulangan
Masukan kedalam germinator
Pengamatan dilakukan terhadap benih yang berkecambah normal.
Praktikum mengamati dan menghitung jumlah benih yang berkecambah normal, di
amati pada hari ke 3 dan 5 untuk kedelai dan jagung dan hari ke 5 dan 7 untuk padi
setelah tanam.

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 7


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Table daya berkecambah normal

Kelompok Hari/ Tanggal Jenis Kecambah Rata-Rata Nilai


Pengamatan Benih Normal Daya Kecambah
Setelah Tanam Ulangan (SGT) (%)
I II III
Hari Ke-5 6 2 3 14,66 %
(18 Maret 2016)
Hari Ke-7 6 3 4 17,33 %
1 dan 2 (20 Maret 2016)
Hari Ke-5 Padi 4 7 5 21,33 %
(18 Maret 2016)
Hari Ke-7 6 10 8 32 %
(20 Maret 2016)

Hari Ke-3 17 18 18 70,66 %


(16 Maret 2016)
Hari Ke-5 23 21 21 86,66 %
(18 Maret 2016) Kedelai
3 dan 4 Hari Ke-3 20 14 21 73,33 %
(16 Maret 2016)
Hari Ke-5 21 18 25 85,33 %
(18 Maret 2016)
Hari Ke-3 18 16 20 72 %
(16 Maret 2016)

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 8


Hari Ke-5 24 23 25 96 %
5 dan 6 (18 Maret 2016) Jagung
Hari Ke-3 16 20 18 72 %
(16 Maret 2016)
Hari Ke-5 25 25 24 98,66 %
(18 Maret 2016)

4.2 PEMBAHASAN

Dari data diatas, maka dapat dikatakan benih yang memiliki daya kecepatan
berkecambah yaitu kemapuan benih untuk berkecambah dengan cepat pada waktu yang telah
ditentukan serta mengamati keserentakan benih ini muncul. dalam hal ini , terdapatlah benih
yang normal. Benih dikatakan berkecambah normal ialah benih yang memiliki
perkembangan system perakaran yang baik terutama akar primer , terdapat pula
perkembangan jaringan dan hipokotilnya serta pertumbuhan plumulanya pun dikatakan baik
sehingga dapat menopang perkecambahannya hingga menjadi cepat.

Sedangkan benih lain yang tidak normal, dapat dikatakan bahwa benih itu berkecambah
secara abnormal dan mati. Dimana dalam proses perkecambahannya, benih itu
pertumbuhannya sedikit lebih rendah dibandingkan benih dengan kecambah yang normal .
dapat berupa kecambah nya yang rusak, tanpa kotiledon, kecambah yang bentuknya cacat,
busuk
Pada praktikum kali ini uji daya kecambah benih ini mengunakan benih padi, kedelai dan
jagung masing-masing 25 biji. Ketika pengamatan dilihat kecambah yang normal. Untuk
benih padi pada pengamatan hari ke 5 dan ke 7 pada kelompok 1 diperoleh persentase 16 %,
kelompok 2 diperoleh persentase 26,66 %, benih kedelei. pada pengamatan hari ke 3 dan ke 5
untuk kelompok 3 diperoleh 78,66 %,

Pada kelompok 4 diperoleh persentase 79,33 %, dan pada benih jagung yang normal untuk
kelompok 5 diperoleh persentase 84 % dan yang terakhir persentase yang diperoleh

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 9


kelompok 6 adalah dari semua ulangan 85,33 %. Berdasarkan hasil pengamatan dengan data
diatas maka diketahui bahwa kekuatan tumbuh tanaman jagung lebih tinggi dengan
persentase keseluruhan komoditi 84,66 % dibandingkan kedelai dengan persentase 78,99 %
dan padi memiliki persentase daya tumbuh lebih rendah dibandingkan dengan kekuatan
daya tumbuh benih jagung dan kedelei yaitu dengan persentase keseluruhan komoditi 21,23
%.
Hal ini disebabkan karena tanaman jagung memilikikemampuan untuk dapat tumbuh
dan menyesuaikan dengan baik walaupun dalam kondisi yangminim atau kekurangan air dan
juga karena pada benih kedelai masih ditemukan kecambah yang abnormal dan benih padi
banyak ditemukan kecambah yang abnormal dan terdapat pula benih yang ditumbuhi jamur.
PenggunaanKertas merang ini berfungsi selain untuk media namun juga untuk menyerap air
agar benihmengalami imbibisi dan kemudian mampu berkecambah.Benih yang tidak tumbuh
ini kemungkinan mempunyai factor gentik atau factor fisik yang tidak bisa untuk melakukan proses
perkecambahan dan oleh factor lingkungan .

Adapun factor factor yang mempengaruhi kecepatan benih untuk berkecambah , yaitu :

1. Suhu

2. Kelembapan

3. Oksigen

PERTANYAAN
1. Mengapa perlunya dilakukan pengujian daya berkecambah?

JAWABAN

1. Pengujian benih merupakan pekerjaan yang sangat penting dilakukan dalam


penanganan benih. Pengujian benih dilakukan untuk mengetahui mutu atau kualitas
dari benih. Keterangan yang diperoleh dari hasil pengujian benih ini sangat
bermanfaat bagi pengguna benih sebagai informasi yang dapat dipercaya tentang
materi benih sebagai bahan dasar dalam produksi tanaman, dan bagi produsen benih

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 10


dapat digunakan sebagai jaminan kualitas benih yang diproduksi. Dan Pengujian daya
kecambah benih merupakan menguji kemampuan benih berkecambah secara normal
dari sejumlah benih pada jangka waktu yang telah ditentukan

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 kesimpulan
1. Pengujian daya kecambah adalah mengecambahkan benih pada kondisi yang
sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih tersebut, lalu menghitung presentase
daya berkecambahnya.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan yaitu air, cahaya, dan
temperatur.

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 11


3. Praktikum kali ini menggunakan metode uji kertas digulung dalam plastik
(UKDP) yang menggunakan kertas sebagai media tumbuhnya.
4. Berdasarkan hasil pengamatan dengan data diatas maka diketahui bahwa
kekuatan tumbuh tanaman jagungmemiliki pesentase yg lebih tinggi dibandingkan
dengan persentase tumbuh kedelai dan padi.

5.2 saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan agar disarankan sebaiknya
praktikum memahami struktur cara kerja. Serta praktikum harus mengerti
ketentuannya agar tidak terjadi kesalahan dalam melakasanakan praktikum tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://semiliranginsore.blogspot.co.id/2012/01/uji-daya-berkecambah-benih.html Di akses
pada tanggal 22 Maret 2016.

.http://documents.tips/documents/laporan-lengkap-praktikum-teknologi-benih-universitas-
tadulako.html Di akses pada tanggal 22 Maret 2016.

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 12


LAMPIRAN

UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 13


UJI DAYA BERKECAMBAH (SGT ) Page 14