Anda di halaman 1dari 25

BAB I

DEFINISI

Alat Kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin, inplan yang tidak mengandung obat
yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit,
merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan atau untuk membentuk
struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. (UU 23/1992).Alat Kesehatan adalah alat alat yang
diperlukan bagi pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan pembuatan obat. (UU 7/1963).
Edukasi adalah suatu kegiatan komunikasi untuk mengajarkan pasien dan keluarganya atau
penanggung jawab pasien tentang perawatan yang diterima sejak masuk rumah sakit sampai
pulang, yang diberikan oleh semua profesi yang terkait dalam perawatan pasien di rawat jalan
dan rawat inap.

Pasien menurut [DEPDIKBUD], adalah sebagai berikut Pasien adalah orang sakit yang
dirawat oleh seorang dokter Jadi pasien adalah seseorang yang kondisi badannya tidak pada
semestinyta atau kurang baik, dimana orang tersebutdirawat oleh dokter.

Keluarga, menurut Departemen Kesehatan RI (1988) dalam Ali (2010) adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling tergantung.

1
BAB II

RUANG LINGKUP PELAKSANAAN

1. Edukasi tentang penggunaan peralatan medis yang efektif dan aman diberikan kepada
pasien di rawat jalan dan rawat inap yang menggunakan peralatan medis
2. Edukasi tentang penggunaan peralatan medis yang efektif danaman diberikan oleh dokter
penanggungjawab pasien, perawat, dan petugas fisioterapi.
3. Edukasi diberikan kepada pasien saat baru masuk, selama perawatan, dan persiapan
perawatan pasien di rumah bila memerlukan penggunaan peralatan medis di rumah.

Ruang lingkup pelaksanaan edukasi penggunaan peralatan medis antara lain :

A. INFUS

Pemasangan infus merupakan tindakan yang dilakukan pada pasien yang memerlukan
masukan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan
waktu tertentu dengan menggunakan set infus (Potter, 2005)

Tujuan pemasangan infus :

1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang hilang.


2. Memperbaiki keseimbangan asam basa.
3. Memperbaiki komponen darah.
4. Sebagai akses unuk masuknya obat obatan atau terapi intravena
5. Resusitasi cairan pada pasien pasien syok.

Edukasi kepada pasien dan keluargadengan pasien yang terpasang infus antara lain :

1. Pasien tidak mencabut sendiriinfus yang terpasang


2. Pasien tidak menggosok atau menggaruk terlalu keras pada area pemasangan infus
3. Pasien dapat melakukan aktivitas di tempat tidur sesuai indikasi dan kemampuan
pasien
4. Pasien tidak menindih tangan atau area pemasangan infus
5. Hindari terkena air
6. Bila terjadi tanda tanda kemerahan, nyeri pada luka tusukan, bengkak, atau aliran
infus tidak lancer / macet, pasien segera melaporkan kepada perawat
7. Infus diganti setiap 3 x 24jam, atau bila sewaktu waktu ada tanda tanda infeksi

B. ELEKTROKARDIOGRAFI (EKG)

2
Penggunaan Elektrokardiogram hanya dilakukan :
1. Sesuai indikasi/ketentuan
2. Atas instruksi dokter

Langkah-langkah pemasangan EKG

1. Atur posisi pasien, posisi pasien diatur terlentang datar.


2. Buka dan longgarkan pakaian pasien bagian atas, bila pasien memakai jam tangan,
gelang, logam lain agar dilepas.
3. Bersihkan kotoran dengan menggunakan kapas pada daerah dada, kedua pergelangan
tangan dan kedua tungkai di lokasi manset elektroda.
4. Mengoleskan jelly pada permukaan elektroda.
5. Memasang manset elektroda pada kedua pergelangan tangan dan kedua tungkai.
6. Memasang arde.
7. Menghidupkan monitor Elektrodiagram.
8. Menyambungkan kabel elektrodiagram pada kedua tungkai pergelangan tangan dan
kedua tungkai pergelangan kaki pasien, untuk rekaman ekstremitas lead (Lead I, II,
III, AVR, AVL, AVF) dengan cara :

a. Warna pada pergelangan tangan kanan


b. Warna hijau pada kaki kiri
c. Warna hitam pada kaki kanan
d. Warna pada pergelangan tangan kiri
e. Memasang elektroda dada untuk rekaman precardial lead
1) V1 pada interkosta keempat garis sternum kanan
2) V2 pada interkosta keempat garis sternum kiri
3) V3 pada pertengahan V2 dan V4
4) V4 pada interkosta kelima garis pertengahan elavikula kiri
5) V5 pada axial sebelah depan kiri
3
6) V6 pada axial sebelah belakang kiri
9. Melakukan kalibrasi dengan kecepatan 25 mili/detik
10. Bila rekaman Elektrodiagram telah lengkap terekam, semua elektroda yang melekat di
tubuh pasien dilepas dan dibersihkan seperti semula.
11. Pasien dibantu merapikan pakaian

Harap diperhatikan urutan pemasangan LEAD pada EKG agar tidak terjadi kesalahan
interpretasi data yang dikeluarkan oleh EKG itu sendiri

Edukasi kepada pasien dan keluarga :

1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang tujuan, prosedur dan cara kerja alat yang
digunakan.
2. Libatkan keluarga dan pasien untuk dapat berpartisipasi dalam keberhasilan
perekaman EKG
3. Anjurkan pasien dan keluarga untuk melepas dan menyimpan alat/perhiasan yang
dipakai oleh pasien karena akan mempengaruhi hasil perekaman.
4. Motivasi pasien untuk kolaboratif sehingga hasil EKG maksimal
5. Anjurkan pasien untuk membatasi gerakan saat perekaman EKG
6. Anjurkan keluarga untuk tidak menyentuh/memegang pasien saat dilakukan
perekaman EKG karena akan mempengaruhi hasil perekaman.

C. NEBULIZER/INHALATION STEAM

1. Penjelasan tentang tujuam terapi ini :


a. Memelihara hygiene saluran pernapasan
b. Mencairkan dahak pada saluran pernapasan
c. Meningkatkan ventilasi pernapasan
2. Perhatikan indikasi terapi ini :
a. Allergic hypersensitive bronchitis
b. Asthma bronchial, chronic obstructive pulmonary disease
c. Akumulasi sputum dan atau kental
3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :
a. Asthma cardiale
b. Hypertensi ekstrem
c. Kelemahan otot pernapasan/batuk
4. Saran untuk pasien :
a. Harus mengikuti semua instruksi posisinya tidak boleh berubah
b. Corong atau cungkup selama terapi posisinya tidak boleh berubah
4
c. Pasien harus bernapas/menghirup asap dalam cungkup sedalam mungkin
D. PULSE OXYMETRI

Pulse oxiometry adalah salah satu metode penggunaan alat monitor untuk memonitor
keadaan saturasi O2 dalam darah tertentu pasien untuk membantu pengkajian fisik pasien,
tanpa harus melalui ABG/Analisa Gas Darah.
Pulse oxiometry saat ini telah menjadi alat yang baku untuk memonitor keadaan pasien
pre operasi, menjadi indicator status system pernapasan dan kardiovaskular pasien.
Selama ini alat pulse oxiometry sangat berguna di ruang ICU, ruang recovery post operasi
saat pasien dengan obseravsi jantung dan paru. Teknik pulse oxiometry sangat mudah dan
dengan cepat dapat diajarkan kepada perawat, pasien dan keluarga sekaligus.
Pulse oxiometry mengukur saturasi oksigen dalam pembuluh darah areteri terutama
dalam Hb (hemoglobin). Teknologi ini sebenarnya cukup rumit, namun secara umum
terdiri dari dua prinsip dasar. Pertama adalah absorbs dari gelombang cahaya yang
berbeda dari Hb yang memiliki tingkat kadar oksigen yang berbeda. Dan kedua,
transmisi pada jaringan tubuh yang memiliki komponen impuls yang menghasilkan
gelombang cahaya, yang terjadi akibat perbedaan volume darah yang menghasilkan
denyut nadi.
Fungsi daripulse oxiometer sangat terpengaruh oleh berbagai macam variabel, seperti
ambient light, nilai Hb (Hemoglobin), irama dan kekuatan denyut nadi, vasokontriksi
pembuluh darah arteri dan fungsi jantung. Alat pulse oxiometri tidak mengindikasikan
keadaan ventilasi pasien, tetapi lebih menggambarkan keadaan oksigenasi dalam darah
arteri (perfusi). Dan mungkin saja keadaan hipoksia dapat terdeteksi lebih cepat saat alat
ini mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen.

Tips penggunaan alat pulse oxiometri


1. Colok kabel pulse oxiometri ke soket listrik, untuk pengisian baterainya.
2. Nyalakan pulse oxiometri tunggu beberapa saat untuk melakukan kalibrasi dan
menterst alat.

5
3. Pilih tombol yang akan disesuaikan (pilihan parameter) dan angka rendah/tingginya
(umumnya dibawah 85 % (32 saturasi) alat ini diset untuk berbunyi alarmnya, dan
denyut nadi (dibawah 60 x/min atau diatas 100 x/min)
4. Berikan waktu beberapa saat untuk alat ini mendeteksi denyut nadi dan menghitung
saturasi oksigen.
5. Lihat juga tampilan gelombang, sehingga tanpa adanya tampilan gelombang
pembacaan hasil tidak bermakna.
6. Lihat pembacaan hasil jika semula 99 % dan langsung drop 85 % maka saturasinya
dianggap tidak bermakna.

Sebagai perawat tentu saja alat ini membantu sekali untuk membuat rencana asuhan
keperawatan misalnya untuk menegakkan diagnose keperawatan :
Gangguan perfusi jaringan atau Inadekuat bersihan jalan napas (Data objektif
pendukungnya : O2 saturasi kurang dari 85 %.

Edukasi kepada keluarga dan pasien :


1. Jelaskan kepada pasein dan keluarga tentang prosedur tindakan dan anjurkan agar
pasien/keluarga kolaboratif terhadap penjelasan/instruksi dari petugas.

E. INFUSION PUMP

Pesawat infuse pump merupakan salah satu alat bantu kedokteran yang dirancang untuk
mengontrol dan mengatur pemberin cairan infuse kepada pasien yang dalam perawatan.
Unsur penting pada pesawat infuse pump adalah system pengontrolan kecepatan tetesan
cairan infuse dengan menggunakan system mekanik pemompaan yang dikendalikan
secara elektronik. Unsur lain yang juga dianggap penting dalam pesawat infuse pump
adanya pengaman-pengaman, pengaman-pengaman tersebut diperlukan karena dalam
proses pemberian cairan infuse dosis yang diberikan kepada pasien harus tepat dan pada

6
saat pemberian cairan infuse udara tidak boleh masuk ke dalam tubuh dan tidak boleh
terjadi pemampatan pada selang.
Proses kerja pemompaan cairan infuse
Berputarnya gerigi yang menekan selang infuse ini menyebabkan selang infuse mendapat
gerak peristaltic yaitu gerakan menekan dan mendorong kesatu arah sehingga cairan
infuse dalam selang akan mengalir.
Dimana motor itu dikendalikan oleh pengendali elektronik yang dapat diatur oleh
pemakai dengan mengatur berapa besar laju aliran tetes yang akan diberikan.
Sedangkan sensor tetesan digunakan untuk menghasilkan pulsa apabila terjadi tetesan
pada drip chamber, pulsa ini dibutuhkan oleh pengendali elekronik untuk menghentikan
cairan infuse yang terlalu banyak atau kelebihan dosis.
3. FUNGSI PESAWAT/ALAT
Pesawat infuse berfungsi sebagai alat bantu kedokteran yang dirancang untuk mengontrol
dan mengatur pemberi cairan infuse kepada pasien yang dalam perawatan melalui
pembuluh darah.
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan :
a. Keselamatan pasien jangan adanya gelembung udara yang masuk ke dalam
pembuluh darah oleh karena itu perlu pendeteksian gelembung udara.
b. Jumlah tetesan dan kecepatan tetesan harus sesuai dengan kebutuhan (anjuran
dokter).

Hal-hal yang perlu diperhatikan

a. Periksa dan lakukan suatu uji coba sebelum penggunaan yang sesungguhnya
b. Set infusion pump dan terapkan langkah-langkah keselamatan dengan sangat teliti
c. Selama operasi, perhatikan pengurangan volume cairan dalam botol infuse
(container)
d. Perhatikan dengan seksama kemungkinan terjadinya ketidak normalan fungsi-fungsi
alat
e. Lakukan uji fungsi secara periodic

4. PRINSIP KERJA DAN CARA PENGOPERASIAN PESAWAT INFUS PUMP


a. Prinsip kerja :
Dari dasarnya alat ini bekerja dari rangkaian oscillator, yang akan memberikan
sinyalnya ke motor yang akan dikendalikan oleh pengendali motor. Kemudian
saat motor bekerja tetesan sensor dan pengelola sinyal pada level air bekerja yang
keluarannya akan mengerjakan rangkaian buzzer, pada sensor tetesan akan
mendeteksi berapa banyak tetesan yang akan keluar menuju pasien. Kecepatan
tetesan dapat dikendalikan oleh pengendali laju tetesan yang akan mengerjakan

7
pengendali motor. Dan hasil tetesan dan setingan laju aliran tetesan dapat dilihat
pada display.
b. Cara pengoperasian :
1) Siapkan alat dan bahan serta asesoris
2) Tempatkan botol/container cairan infuse pada tiang infuse
3) Pasang bahan infuse sesuai aliran selang infuse
4) Setelah siap, tekan tombol switch on-off
5) Tekan tombol setting, kemudian pilih fitur-fitur yang diinginkan : ml total, ml
inf, h, min
6) Tekan tombol pemilihan jumlah tetesan/h, dengan memilih angka 1 untuk
satuan, 10 untuk puluhan, 100 untuk ratusan
7) Tekan tombol start
8) Perhatikan kerja alat, jika terjadi alarm tekan tombol stop, kemudian periksa
aliran selang terutama pada penjepit selang dan bagian sensor

5. EDUKASI KEPADA KELUARGA/PASIEN


a. Selama penggunaan alat, pasien dan keluarga agar kooperatif dengan penjelasan
perawat
b. Pastikan selang infuse tidak terjepit atau terlipat sehingga cairan infuse macet
c. Bila ingin mobilisasi, pasien dan keluarga dapat meminta bantuan perawat
d. Pasien dan keluarga agar menjauhkan alat-alat yang dapat memicu konsleting
pada listrik
e. Pasien dan keluarga tidak mengatur sendiri alat yang digunakan
f. Perawat akan memantau alat bila alarm pada alat berbunyi
F. SYRINGE PUMP

Alat syringe pump merupakan suatu alat yang digunakan untuk memberikan cairan
atau obat ke dalam tubuh pasien dalam jangka waktu tertentu secara teratur. Secara
khusus alat ini menitikberatkan atau menfokuskan pada jumlah cairan yang dimasukkan
ke dalam tubuh pasien, dengan satuan millimeter per jam (ml/h).
Alat ini menggunakan motor dc sebagai tenaga pendorong syringe yang berisi cairan atau
obat yang akan dimasukkan tubuh pasien. Alat ini menggunakan system elektronik
mikroprosesor yang berfungsi dalam pengontrol dalam pemberian jumlah cairan ke tubuh
pasien, sensor alarm. Dalam system Mekanik yaitu dengan gerakan motor sebagai tenaga
pendorong. Pada dasarnya pada syringe pump terdiri dari beberapa rangkaian yaitu

8
rangkaian pengatur laju motor (pendeteksi rpm), rangkaian komparator, dan rangkaian
sinyal referensi.
Motor akan berputar untuk menggerakkan spuit merespon sinyal yang diberikan oleh
rangkaian pengendali motor, tetapi putaran motor itu sendiri tidak stabil sehingga
perubahan-perubahan itu akan dideteksi oleh rangkaian pendeteksi rpm. Sinyal yang
didapat dari pendeteksi rpm akan dibandingkan dengan sinyal referensi, dimana hasil dari
perbandingan tersebut akan meredakan ketidakstabilan motor. Motor akan mengurangi
lajunya jika perputarannya terlalu cepat dan sebaliknya akan menambah kecepatan jika
perputarannya terlalu pelan sehingga didapat putaran motor yang stabil. Syringe pump
didesain agar mempunyai ketepatan yang tinggi dan mudah untuk digunakan. Syringe
pump dikendalikan dengan mikro computer/mikro kontrolir dan dilengkapi dengan
system alarm yang menyeluruh.
Lihat gambar 1. Contoh dari syringe pump.

System alarm dan keamanan


Untuk menjaga keamanan ke pasien (patient safety), maka alat ini dilengkapi dengan
system alarm, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Alarm Occlusion/Kemampatan
Berfungsi untuk memberikan tanda bunyi alarm dan memberhentikan system pompa
pada saat terjadi sumbatan pada IV line dan pembuluh darah pada pasien. Kondisi
alarm pada sat sensor Occlusion mendeteksi tekanan, nilai tekanan pada kondisi ini
berkisar 60 80 Kpa, 350 500 mmHg.
2. Alarm Delivery Limit
Untuk memberikan batasan jumlah cairan yang akan diberikan pada pasien. Jika
jumlah cairan yang diberikan sudah tercapai, maka alarm akan berbunyi dan alat akan
berhenti memompa.
3. Alarm Nearly Empty
Berfungsi untuk memberikan isyarat suara alarm pada saat cairan yang diberikan pada
pasien akan segera habis.

Fungsi Alat

1. Memasukkan cairan atau obat ke tubuh pasien dengan tingkat akurasi yang tinggi.
2. Untuk mencegah periode kadar obat atau cairan yang dimasukkan, dimana tingkat obat di
dalam darah terlalu tinggi atau terlalu rendah
3. Menghindari penggunaan tablet yang dikarenakan pasien yang mengalami kesulitan
dalam meminum tablet.

Bagian-bagian Syrineg Pump

9
Lihat gambar 2

Saya mengambil contoh adalah syringe pump merek Terumo model TE 331

1. Operation panel ; yang didalamnya terdapat beberapa tombol untuk mengoperasikan


syringe pump.
2. Clamp ; berfungsi sebagai penjepi syringe (suntikan).
3. Slit ; merupakan celah untuk menempatkan syringe.
4. Slider Hook.
5. Cluth.
6. Slider.
7. Dial ; berfungsi untuk menaikkan dan menurunkan nilai delivery rame.

Panel Pengoperasian

Pada panel pengoperasian atau operation panel terdapat beberapa bagian, antara lain ;

1) Power Display ; terdiri dari :


a. (AC/DC) indicator ; lampu akan menyala jika syringe pump menggunakan sumber
AC ataupun DC
b. [BATTERY] indikator
2) Power Switch ; berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan syringe pump.
3) Syringe Size Indicator ; menunjukkan ukuran dari syringe. Adapun syringe pump tipe
TE 331 ini mampu mendeteksi ukuran syringe (suntikan) dengan berbagai ukuran
diantaranya adalah (10, 20, 30, 40m 50 ml).
4) Start Switch ; merupakan tombol untuk memulai proses pemasukan cairan ke dalam
tubuh pasien.
5) Alarm Indicator ;
Terdapat beberapa alarm diantaranya :
a. Occlusion alarm ; artinya alarm akan berbunyi jika terjadi kemacetan pada proses
pemasukan cairan ke dalam tubuh pasien.
b. Nearly Empty ; artinya alarm akan berbunyi jika cairan yang terdapat dalam syringe
(suntikan) akan habis atau mendekati habis.
c. Low Battery ; alarm akan berbunyi jika tegangan dalam battery lemah sehingga perlu
dilakukan pengisian kembali (recharge).
d. (Flow Rate/Delivery Limit/Volume Deliverd) Display; berfungsi menampilkan
aliran rata-rata/flow rate dalam satuan ml/h.

Edukasi kepada pasien dan keluarga :

1. Selama penggunaan alat, pasien dan keluarga agar kooperatif dengan penjelasan
perawat
2. Pastikan selang infuse tidak terjepit sehingga cairan infuse macet
3. Bila ingin mobilisasi, pasien dan keluarga dapat meminta bantuan perawat

10
4. Pasien dan keluarga agar menjauhkan alat-alat yang dapat memicu konsleting pada
listrik
5. Pasien dan keluarga tidak mengatur sendiri alat yang digunakan
6. Perawat akan memantau alat bila alarm pada alat berbunyi.

G. NASOGASTRIC TUBE (NGT)

1. Tujuan Pemasangan NGT


a. Memasukkan makanan cair atau obat-obatan cair
b. Mengeluarkan cairan atau isi lambung dan gas yang terdapat pada lambung
c. Mengirigasi karena pendarahan untuk keracunan dalam lambung
d. Mencegah dan mengurangi nausca dan vomiting setelah pembedahan atau trauma
e. Mengambil specimen pada lambung untuk pemeriksaan diagnostic (Asmadi,
2008)
2. Indikasi dan Kontra Indikasi NGT
a. Indikasi
1) Pasien dengan distensi abdomen karena gas dan cairan
2) Keracunan makanan minuman
3) Pasien yang membutuhkan nutrisi melalui NGT
4) Pasien yang memerlukan NGT untuk didiagnosa atau analisa isi lambung
b. Kontra Indikasi Pemasangan NGT
Nasogastric tube tidak dianjurkan atau digunakan dengan berlebihan kepada
beberapa pasien predisposisi yang bisa mengakibatkan bahaya sewaktu memasang
NGT, seperti :Klien dengan sustained head trauma, maxillofacial injury, atau
anterior fossa skull fracture. Memasukkan NGT begitu saja melalui hidung maka
potensial akan melewati cibroform plate, ini akan menimbulkan penetrasi
intracranial. Klien dengan riwayat esophageal stricture, esophageal varices, alkali
ingestion juga bersiko untuk esophageal penetration.
Klien dengan koma juga potensial vomiting dan aspirasi sewaktu memasukkan
NGT, pada tindakan ini diperlukan proteksi seperti airway dipasang terlebih
dahulu sebelum NGT.
Perhatikan sewaktu memasukkan NGT kepada Klien dengan suspected cervical
spine injury, Hipoxia, cyanosis, or respiratory arrest due to accidental tracheal
intubation.
3. Edukasi pada pasien/keluarga pasien yang terpasang NGT :
11
a. Pastikan NGT tidak tercabut atau dicabut oleh pasien
b. Bersama-sama perawat dan keluarga memastikan NGT tidak lepas pada pasien
yang tidak sadar
c. Pasien yang sadar dapat mobilisasi sesuai instruksi perawat/dokter bila NGT
difungsikan untuk pemberian nutrisi.
d. Pasien yang terpasang NGT yang ndifungsikan untuk dekompresi dan gastric
cooling, pasien hanya boleh miring kiri atau kanan.
e. Bila pasien mengeluh hidung gatal atau NGT terlepas saat batuk atau bersin,
pasien atau keluarga melapor ke perawat juga.

H. KATETER URINE

1. Pengertian
Katerisasi urine adalah memasukkan selang karet atau plastic melalui uterus ke dalam
kandung kemih. Pemasangan kateter urine adalah dengan melakukan insersi kateter
Folley/Nelaton melalui uretra ke muara kandung kemih untuk melakukan urine.

2. Tujuan pemasangan kateter urine


a. Memulihkan/mengatasi retensi urine akut/kronis (urine tidak bisa keluar secara
spontan).
b. Pengaliran urine untuk persiapan operasi atau setelah operasi.
c. Menentukan jumlah urione sisa setelah kencing.
d. Mengambil specimen (bahan) urine steril untuk pemeriksaan diagnostic.
e. Monitoring keluaran urine secara ketat.

Perawatan kateter urine sangat penting dilakukan pada klien dengan tujuan untuk
mengurangi dampak negative dari pemasangan katerisasi urine sepertiinfeksi dan
radang pada saluran kemih, dampak lain yang mengganggu pemenuhan kebutuhan
dasar manusia manusia perawatan yang dilakukan meliputi : menjaga kebersihan
kateter dan alat vital kelamin, menajaga kantong penampungan urine dengan tidak
meletakkan lebih tinggi dari buli-buli dan agar tidak terjadi aliran balik urine ke buli-
buli dan tidak sering menimbulkan saluran penampung karena mempermudah
masuknya kuman serta mengganti kateter dalam jangka waktu 7 12 hari. Semakin
jarang kateter diganti, resiko infeksi semakin tinggi, penggantian kateter urine
tergantung dari bahan kateter urine tersebut sebagai contoh kateter urine dengan
12
bahan latteks silicon paling lama dipakai 10 hari, sedang bahan silicon dapat dikalai
selama 12 hari. Pada tahap pengangkatan katerisasi urine perlu diperhatikan agar
balon kateter urine kemps telah kempis. Selain itu menganjurkan klien menarik
napas.

3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :


a. Hipersensitif terhadap dingin.
b. Gangguan sirkulasi darah.
4. Saran untuk pasien :
a. Harus mengikuti semua instruksi dari terapis
b. Bila ada rasa sakit yang berlebihan atau sakit yang menyengat untuk memberitahu
terapis.

I. SUCTION PUMP

1. Definisi Suction Pump


Suction Pump adalah suatu alat yang sering dipergunakan untuk menghisap
cairan yang tidak dibutuhkan pada tubuh manusia.Suction pump adalah alat kesehatan
yang berfungsi untuk menghisap cairan yang tidak berguna atau partikel padat pada
tubuh manusia ke sebuah wadah pengumpul. Hampir semua ruang operasi pada
Rumah Sakit menggunakan Suction Pump, maka alat tersebut harus mempunyai
keakuratan yang tinggi. Kenyataan sekarang ini pada saat melakukan operasi bedah,
daya hisap Suction Pump sering tidak sesuai dengan yang dibutuhkan, sehingga bisa
terjadi salah satu penghambat dalam proses operasi. Oleh karena itu kalibrasi terhadap
Suction Pump sangat diperlukan supaya hasil keluaran dari alat tersebut mempunyai
keakurasian yang baik. Untuk mengetahui kelayakan Suction Pump, dapat dilakukan
dengan menganlisa hasil kalibrasi yang akan mendapat nilai ketidakpastian dan nilai
koreks. Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan nilai koreksi 1,8 mmHg sampai
dengan 1,2 mmHg. Dengan kesalahan relative 0,0 % sampai dengan 4,2 % (Kesalahan
13
maksimal yang diijinkan + 10 % sesuai dengan ECRI No. 433-0595) sehingga masih
layak digunakan alat tersebut. Dari perhitungan diharapkan rumah sakit
menggunakan Suction Pump yang mempunyai resolusi alat yang lebih kecil. Agar
perhitungan ketidakpastian semakin kecil.

Nama lain dari Suction Pump adalah :

1) Vacuum regulator
2) Suction controllers
3) Slym zuiger
4) Alat hisap
2. Komponen Alat
1. Motor
2. Botol penampung cairan selang
3. Suction regulator
4. Manometer
5. Over Flow Protection/Pelampung (pengaman cairan lebih)
6. Foot switch
3. Prinsip Kerja
Motor suction adalah sebuah motor listrik, bisanya hanya bekerja pada satu tegangan,
yaitu tegangan 110 V atau 220 V, Rpm 145, 50/60 Hz, maka ketika pemilihan motor
dilakukan itu harus sesuai dengan besarnya capasitor yang memiliki fungsi sebagai
starting capasitor.
Penghisap pada bagian ini ada 2 jenis, yaitu :
1) Jenis Centrifugal Rotary yaitu penghisap terdiri dari : beberapa kipas (pisau) yang
berada dalam rumah penghisap dan dihubungkan dengan motor (bagian yang
berputar pada electromotor). Pada rumah penghisap bagian luar terdapat dua
katup (lubang hisap dan lubang tiup) serta lubang pembuangan oli. Oli
merupakan pelumas dan pendingin pafa bagian kipas. Manometer yaitu alat yang
digunakan untuk mengetahui sampai seberapa kuat penghisap bekerja. Skala 0
800 mmHg.
2) Jenis membrane terdiri dari : Stang kedudukan, karet membrane kedudukan katup,
katup hisap dan katup tekan, tutup/rumah penghisap yang mempunyai
katup/lubang hisap dan lubang tekan.
3) Kekuatan daya hisap kontrolnya dengan menggunakan regulator, ini biasanya
diatur saat suction kita pakai untuk kondisi hisap yang berbeda-beda, ketika
cairan terlalu kental maka regulator kita atur dengan kemampuan hisap yang lebih
besar sedang kondisi cairan yang lebih encer maka sebaliknya.

Botol vacum, fungsi dari botol vacuum adalah untuk memberikan kevakuman udara
pada saat digunakan. Pada alat ada yang dapat berfungsi hanya dengan satu botol,
14
tetapi akan lebih baik jika menggunakan dua botol, pada botol akan dilengkapi
dengan tutup botol dan disan terdapat dua lubang. Selain itu asesoris disesuaikan
dengan lubang proff dan panjangnya disesuaikan antara jarak penghisap dan botol.

Suction pump banyak digunakan pada kegiatan operasi di ruang bedah, yaitu : untuk
menghisap darah yang keluar dari pasien, sedangkan di ruang keperawatan untuk
menghisap lender dalam mulut dan tenggorokan.

Hal yang perlu diperhatikan :

a. Tegangan
b. Daya hisap maksimum
c. Pembacaan meter
d. Botol penampung
e. Over flow protection
f. Seal penutup botol
g. Lakukan pemeliharaan sesuai jadwal.

Edukasi kepada pasien dan keluarga :

1. Jelaskan kepada pasien tentang tujuan pemasangan, prosedur tindakan pemasangan


dan cara kerja alat yang digunakan
2. Motivasi pasien dan keluarga untuk kolaboratif saat pemasangan dan selama alat
terpasang.

J. BLOOD WARMER

Blood warmer merupakan salah satu alat bantu kesehatan yang sangat penting.
Blood warmer sangat membantu pasien yang sedang dalam perawatan terutama bagi
pasien yang membutuhkan tambahan darah. Biasanya darah yang diperoleh dari donor
darah disimpan pada bank darah dan apabila akan ditransfusikan ke pasien maka perlu
untuk dihangatkan, proses penghangatan ini dilakukan dengan menggunakan Blood
Warmer.
Apa Blood Warmer itu ?
Blood Warmer adalah alat yang digunakan untuk meningkatkan suhu darah yang
ditransfusikan ke pasien.

15
Mengapa diperlukan ?
Setelah seorang donor darah menyumbangkan darahnya maka selanjutnya darah tersebut
akan disimpan di unit bank darah. Darah tersebut biasanya didinginkan.

Edukasi kepada pasien dan keluarga :


1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang tujuan, prosedur dan cara kerja alat yang
akan digunakan
2. Motivasi pasien dan keluarga untuk kolaboratif dalam pemasangan dan selama alat
dipasang
3. Jauhkan alat-alat milik pasien yang dapat memicu konsleting listrikj yang dapat
memicu kebakaran
4. Jelaskan kepada pasien dan keluarga untuk tidak menekan atau mengatur tombol pada
alat
5. Pantau pasien selama alat terpasang.

K. WATER SEAL DRAINAGE (WSD)

Water Seal Drainage (WSD) adalah suatu system drainage yang menggunakan water seal
untuk mengalirkan udara atau cairan dari vacuum pleura (rongga pleura). WSD adalah
merupakan suatu tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan
baik baik darah atau pus dari rongga pleura ataupun rongga thorax (mediastinum) dengan
menggunakan selang penghubung dari rongga ke botol WSD.
1. Tujuan pemasangan WSD :
a. Mengalirkan/drainage udara atau cairan dari rongga pleura untuk
mempertahankan tekanan negative rongga tersebut
b. Dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negative dan hanya terisi
sedikit cairan pleura/lubricant
c. Mengeluarkan cairan atau darah, udara dari rongga pleura dan rongga dada
d. Mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
e. Mengembangkan kembali paru yang kolaps
f. Mencegah refluks drainage kembali ke dalam rongga dada
g. Mengembalikan fungsi paru.
2. Edukasi pada pasien dan keluarga :
a. Jelaskan kepada pasien tentang tujuan pemasangan, prosedur tindakan
pemasangan dan cara kerja alat yang digunakan

16
b. Motivasi pasien dan keluarga untuk kolaboratif saat pemasangan dan selama alat
terpasang
c. Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk tidak melakukan mobilisasi
berlebihan selama alat terpasang seperti turun dari tempat tidur, ke kamar mandi
d. Pasien hanya bisa melakukan mobilisasi terbatas di tempat tidur dengan bantuan
perawat
e. Ajarkan kepada pasien dan keluarga untuk mobilisasi di tempat tidur
f. Pastikan selang WSD yang terpasang tidak menekuk/terlipat sehingga dapat
menghambat daya hisap WSD
g. Pastikan pasien dan keluarga tidak membuka sendiri botol penampung cairan
WSD
h. Perawat akan membuang, mencatat jumlah cairan dan mencuci botol penampung
cairan WSD setiap hari atau setiap botol penampung penuh.

L. VENTILATOR
1. Edukasi pasien yang terpasang ventilator

1. Edukasi pasien yang terpasang ventilator


Untuk pasien sadar yang terpasang ventilator (untuk pasien yang tidak sadar diberikan
edukasi kepada keluarganya)
2. Tujuan pemasangan ventilator (untuk mengurangi beban kerja otot pernapasan)
3. Pernapasan ventilator akan masuk ke paru-paru melalui alat ETT yang terpasang di
bibir atau di hidung
4. Pipa ETT harus terfiksasi dengan baik
5. Untuk menghindari terjadinya sumpatan pada pipa ETT karena slym/riak maka akan
dilakukan suction/penyedotan riak oleh perawat atau dokter jaga di ruangan
6. Hindari melakukan gerakan yang berlebihan untuk menghindari pipa ETT terlepas
7. Pipa ETT yang terpasang berisi balon jika tercabut bisa mengakibatkan terjadi
robekan pada pita suara
8. Ventilator secara kontinyu memberikan udara pernapasan ke paru-paru sehingga
pasien diharapkan dapat mengikuti aliran udara yang masuk ke paru-paru dan tidak
melawan ventilator.

17
M. INFRA RED

1. Penjelasan tentang tujuan terapi ini :


a. Mengurangi/menghilangkan rasa nyeri
b. Relaksasi otot
c. Meningkatkan/memperlancar suplai darah dan metabolisme
2. Perhatikan indikasi terapi ini :
a. Kondisi sub akut : kontusio, muscle strain/sprain, trauma sinovitis.
b. Arthritis : rematoid arthritis, osteoarthritis, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis.
c. Gangguan sirkulasi darah : thrombo aangitis obliterans, tromboplebitis, reynolds
desease.
d. Penyakit kulit : follicutis, furuncolosi, wound.
e. Persiapan exercise dan massage.
3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :
a. Daerah dengan insufisiensi pada darah
b. Gangguan sensibilitas kulit
c. Adanya kecendrungan terjadinya perdarahan
d. Demam
e. Infeksi akut (TBC, kanker, tumor)
f. Jaringan yang masih baru/luka bakar
g. Penyinaran pada mata secara langsung, dapat menimbulkan katarak/konjugatif.

4. Saran untuk pasien :


a. Harus mengikuti semua instruksi dari terapis.
b. Kalau ada rasa yang berbeda atau panas menyengat untuk segera memberi tanda
atau memanggil terapis.

N. MICROWAVE DIATHERMY (MWD)

18
1. Penjelasan tentang tujuan terapi ini :
a. Memperlancar peredaran darah.
b. Mengurangi rasa sakit.
c. Mengurangi spasme otot.
d. Membantu meningkatkan kelenturan jaringan lunak.
e. Mempercepat penyembuhan radang.

2. Perhatikan indikasi terapi ini :


a. Kondisi peradangan sub akut dan kronik.
b. Kondisi pasca traumatic sub akut dan kronik.
c. Kondisi pasca operasi (hematoma, kontusio).
d. Kondisi spondylosis, spondylolistesis, bursitis, tendinitis
e. Kondisi inflasi kronik
f. Adneksitis.

3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :


a. Keganasan.
b. Kehamilan (daerah uterus).
c. Kecendrungan terjadinya pendarahan.
d. Gangguan sensibilitas.
e. Adanya logam di dalam tubuh (area setempat).
f. Lokasi yang terserang penyakit pembuluh darah arteri.

4. Saran untuk pasien :


a. Selama terapi agar tidak merubah posisi daerah terapi.
b. Agar tidak merubah tombol apapun dari alat, sehingga program yang sudah
direncanakan tidak berubah.
c. Kalau ada rasa yang berbeda atau panas menyengat untuk segera memberi tanda
atau memanggil terapis.

O. SHORTWAVE DIATHERMY (SWD)

1. Penjelasan tentang tujuan terapi ini :


a. Memperlancar peredaran darah.

19
b. Mengurangi rasa sakit.
c. Mengurangi spasme otot.
d. Membantu meningkatkan kelenturan jaringan lunak.
e. Mempercepat penyembuhan radang.
2. Perhatikan indikasi terapi ini :
a. Kondisi peradangan sub akut dan kronik.
b. Kondisi pasca traumatic sub akut dan kronik.
c. Kondisi pasca operasi (hematoma, kontusio).
d. Kondisi spondylosis, spondylolistesis, bursitis, tendinitis
e. Kondisi inflasi kronik
3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :
a. Keganasan.
b. Kehamilan (daerah uterus).
c. Kecendrungan terjadinya pendarahan.
d. Gangguan sensibilitas.
e. Adanya logam di dalam tubuh (area setempat).
f. Lokasi yang terserang penyakit pembuluh darah arteri.
4. Saran untuk pasien :
a. Selama terapi agar tidak merubah posisi daerah terapi.
b. Agar tidak merubah tombol apapun dari alat, sehingga program yang sudah
direncanakan tidak berubah.
c. Kalau ada rasa yang berbeda atau panas menyengat untuk segera memberi tanda
atau memanggil terapis.

P. TRANSCUTANEUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (TENS)

1. Penjelasan tentang tujuan terapi ini :


a. Memelihara fisiologis otot dan mencegah otot atropi.
b. Re-edukasi fungsi otot.
c. Modulasi nyeri tingkat sensorik, spinal dan supraspinal.
d. Menambah ROM/mengulur tendon.
e. Memperlancar peredaran arah dan memperbesar resorbsi oedema.

2. Perhatikan indikasi terapi ini :


a. Kondisi neurologi (Bellss palsy, spinal cord injury, trigeminal neuralgia)
b. Kondisi musculoskeletal (asteoarthritis, rematoid arthritis, sakit setelah operasi,
low back pain).
c. Viseral pain dandysmonnore
d. Angina pectoris.
20
e. Keterbatasan gerak dan post fracture.
3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :
a. Kondisi pasien dengan alat pacu jantung/pase maker.
b. Kehamilan pada daerah uterus
c. Inflamasi yang terlokalisir.
d. Insufisiensi sirkulasi darah (thrombosis, thromboplebitis atau occlusive ocular
disease).
e. Pemakaian metal implant.
f. Tanda-tanda keganasan atau tumor malignan.
g. Tuberkolosa.
4. Saran untuk pasien :
a. Selama terapis agar tidak merubah posisi daerah terapi.
b. Agar tidak merubah tombol apapun dari alat, sehingga program yang sudah
direncanakan tidak berubah.
c. Kalau ada rasa yang berbeda atau panas menyengat untuk segera memberi tanda
atau memanggil terapis.

Q. TRAKSI

1. Penjelasan tentang tujuan terapi ini :


a. Relaksasi otot-otot
b. Mengurangi rasa sakit.
c. Mengurangi penekanan sendi/joint distraction.
d. Mengurangi protursi dari hernia nucleus polpusus.
e. Mengulur jaringan lunak.
f. Mobilisasi persendian.
2. Perhatikan indikasi terapi ini :
a. Kondisi peradangan sub akut dan kronik.
b. Kondisi pasca traumatic sub akut dan kronik.
c. Kondisi pasca operasi (hematoma, kontusio).
21
d. Kondisi spondylosis, spondylolistesis, bursitis, tendinitis
e. Kondisi inflasi kronik
3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :
a. Penyakit jantung atau pasien dengan alat pacu jantung
b. Kehamilan pada daerah uterus
c. Jaringan lembut (mata, testis atau ovarium, otak)
d. Jaringan yang baru sembuh atau jaringan granulasi baru
e. Kondisi inflamasi kronik.
f. Adneksitis

4. Saran untuk pasien :


a. Selama terapis agar tidak merubah posisi daerah terapi.
b. Agar tidak merubah tombol apapun dari alat, sehingga program yang sudah
direncanakan tidak berubah.

R. ULTRASOUND

1. Penjelasan tentang tujuan terapi ini :


a. Mengurangi ketegangan otot.
b. Mengurangi nyeri.
c. Memacu proses penyembuhan kolagen.
2. Perhatikan indikasi terapi ini :
a. Kondisi peradangan sub akut dan kronik.
b. Kondisi pasca traumatic sub akut dan kronik.
c. Adanya jaringan parut atau scar tissue pada kulit sehabis luka operasi atau luka bakar.
d. Kondisi ketegangan, pemendekan dan perlengketan jaringan lunak (otot, tendon dan
ligamentum).
e. Kondisi inflasi kronik
3. Perhatikan kontra indikasi terapi ini :
a. Penyakit jantung atau pasien dengan alat pacu jantung
b. Kehamilan pada daerah uterus
c. Jaringan lembut (mata, testis atau ovarium, otak)
d. Jaringan yang baru sembuh atau jaringan granulasi baru
e. Pasien dengan gangguan sensasi.
f. Tanda-tanda keganasan atau tumor malignan.
g. Insufisiensi sirkulasi darah (thrombosis, thromboplebitis atau occlusive ocular
disease).
h. Infeksi akut dan daerah epiphysis.
22
4. Saran untuk pasien :
a. Harus mengikuti semua instruksi dari terapis.
b. Bila ada rasa tidak enak atau sakit yang berlebihan untuk memberitahu pada terapis.

BAB III

TATA LAKSANA EDUKASI

23
A. Kebijakan :
1. Sebagai acuan dalam mencegah terjadinya kesalahan penggunaan peralatan medis dan
menjaga keamanan dan keselamatan dalam penggunaan peralatan medis pada pasien.
B. Prosedur Pelaksanaan Edukasi
1. Berikan informasi tentang peralatan medis yang digunakan
2. Berikan penjelasan tentang tujuan penggunaan peralatan medis
3. Berikan penjelasan kepada pasien tentang bagaimana penggunaan peralatan medis
yang tepat
4. Evaluasi kemampuan pasien dalam menggunakan peralatan medis tersebut
5. Berikan penjelasan kepada pasien akibat yang terjadi jika menghentikan penggunaan
peralatan medis sebelum selesai program
6. Berikan penjelasan kepada pasien tentang efek samping yang mungkin ada dari
pemakaian peralatan medis
7. Berikan penguatan terhadap informasi yang diberikan anggota tim kesehatan lain
8. Libatkan keluarga/orang terdekat.

BAB IV

DOKUMENTASI

1. Edukasi tentang penggunaan peralatan medis yang efektif dan aman dibuat pada form
edukasi terintegrasi B untuk pasien di rawat jalan
2. Edukasi tentang penggunaan peralatan medis yang efektif dan aman di rawat inap di tulis
pada form edukasi terintegrasi B
24
3. SPO edukasi penggunaan peralatan medis yang efektif dan aman.

25