Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

PASCA PANEN

MENENTUKAN KEMATANGAN BUAH

Oleh :

Nama : Wenni Yulisma.M

Nim :D1A013059

AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JAMBI

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas
segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ini untuk
memenuhi tugas laporan PASCA PANEN tentang MENENTUKAN KEMATANGAN BUAH .
laporan ini dapat digunakan sebagai bahan untuk menambah pengetahuan, sebagai teman belajar,
dan sebagai referensi tambahan dalam belajar Pasca panen. laporan ini dibuat sedemikian rupa
agar pembaca dapat dengan mudah mempelajari dan memahami secara lebih lanjut.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah pengetahuan dan
wawasan pasca panen. Jangan segan bertanya jika pembaca menemui kesulitan. Semoga
keberhasilan selalu berpihak pada kita semua.

Jambi, maret 2016

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pematangan suatu buah dapat ditentukan dengan berbagai cara yaitu mengamati
warna,kekerasan buah,dan aroma.Akan tetapi cara tersebut terdapat berbagai kelemahan
yaitu subyektivitas pengamat.Buah yang telah matang mengandung gula yang tinggi
atau kandungan gula yang maksimal.Kandungan asam pada buah yang matang sangat
sedikit.Kandungan gula dapat ditentukan dengan mengukut padatan terlarut
total.Pengukuran tersebut menggunakan refraktometer.Kandungan asam pada buah
dapat ditentukan dengan metode titrasi.Pada buah tertentu terdapat indeks pematangan
buah yang menghubungkan antara kandungan gula dan kandungan asam.Kandungan
vitamin C pada buah juga merupakan parameter untuk menentukan kualitas buah.Ketiga
parameter tersebut merupakan suatu hal yang dapat digunakan untuk mengetahui
kualitas dan tingkat kematangan pada buah.

Perkembangan teknologi khususnya dalam bidang komputer telah sedemikian


pesatnya dansudah memberikan kontribusi yang besar disegala bidang
kehidupan.Bidang komputer terdiri dari dua bagian yaitu softwaredan hardware. Baik
hardwaremaupun softwaretelahmengalamiperkembangan dan memberikan manfaat
diseluruh sektor kehidupan manusia. Salah satu perkembangan pada bidang software
yang menarik untuk dicermati adalah pemanfaatan multimedia dan aplikasinya, yang
bisa dimanfaatkan untuk berbagai bidang pekerjaan maupun pendidikan. Multimedia
sendiri merupakan gabungan dari berbagai macam media, yang diantaranya adalah teks,
suara, citra atau gambar, animasi dan lain sebagainya. Pemilihan objek buah-buahan
dalam penilitian ini disebabkan karena selama ini baik pasar buah maupun swalayan
masih melakukan identifikasi buah-buahan secara manual. Sistem identifikasi buah-
buahan juga bermanfaat pada bidang industri, perkebunan, pertanian dan sebagainya.
Penelitian ini betujuan mempercepat proses identifikasi kematangan buah sehingga
bermanfaat, misalnya untuk penentuan jenis dan harga buah. Sebelum dilakukan proses
identifikasi maka dilakukan pendekatan matematik dan komputerisasi yaitu dengan
menggunakan metode segmentasi image yaitu metode watershed.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Penentuan identifikasi kematangan buah jeruk,apel, saat ini dilakukan secara


manual. Proses pemilahan buah sesuai dengan tingkat kematanganyang dilakukan oleh
manusia mempunyai beberapa kelemahan, antara lain akan terjadi ketidak konsistensian
karena keterbatasan visual manusia dan adanya tingkat kelelahan serta perbedaan
persepsi tentang grade pada masing-masing pengamat. Oleh karena itu, diperlukan
metode pengolahan citra untuk mendapatkan parameter-parameter fisik buah. Pengolahan
citra merupakan alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut. Cara ini memiliki
kemampuan yang lebih peka karena dilengkapi dengan sensor elektro-optika yang lebih
menguntungkan jika dibandingkan dengan cara visual manusia yang sangat dipengaruhi
oleh kondisi psikis pengamatnya. Parameter yang ditentukan yaitu 6 parameter warna
RGB dan tekstur yang kemudian digunakan untuk melakukan identifikasi kematangan
buah dengan menggunakan metode jaringansaraf tiruan.

1.3 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah ;

Mempelajari hubungan antara kematangan buah jeruk, apel dan ceri dengan unsur

warna citra RGB dan tekstur menggunakan metode pengolahan citra digital.

Menyusun sistem basis pengetahuan (knowledge based system) dalam

jaringan saraf tiruan untuk mengidentifikasi hasil panen buah berdasarlam analisistingkat
kematangan dari pengolahan citra.

Membuat aplikasi yang mampu mengidentifikasi buah sesuai dengan tingkat kematangan.
Untuk mengetahui cara menentukan tingkat kematangan buah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Komoditas hortikultura yang diutamakan adalah komoditas yang bernilai ekonomi


tinggi, mempunyai peluang pasar besar dan mempunyai potensi produksi tinggi serta
mempunyai peluang pengembangan teknologi. Adapun upaya yang dilaksanakan untuk
mendorong tumbuh dan berkembangnya hortikultura unggulan, yaitu meliputi penumbuhan
sentra agribisnis hortikultura dan pemantapan sentra hortikultura yang sudah ada.Dengan
adanya hal tersebut kualitas komoditas hortikultura akan meningkat (Soleh, 1999 cit.
Nopiana dan Balkis,2011).

Peluang pasar hortikultura dan produk turunannya masih cukup besar, baik pasar
domestik maupun internasional. Kecenderungan angka konsumsi konsumen lokal yang terus
meningkat serta permint aan pasar internasional yang sangat terbuka membuka peluang
peningkatan produksi berbagai jenis produk hortikultura. Data menunjukkan, konsumsi buah
dan sayur masyarakat Indonesia baru sekitar 34,5 kg/kap/tahun, padahal Organisasi Pangan
Dunia (FAO) merekomendasikan antara 6475 kg/kap/tahun. Artinya ada potensi
peningkatan permintaan konsumsi produk hortikultura. Permintaan buah dan sayuran akan
semakin pesat mengingat pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mendorong peningkatan
jumlah golongan menengah yang memiliki daya beli tinggi serta lebih sadar pentingnya buah
dan sayuran.Namun demikian potensi besar tersebut menuntut semua pihak yang
berkepentingan dengan produksi, pemasaran dan distribusi hortikultura untuk lebih
memperhatikan ketersediaan dan kualitas produksi. Pasokan yang secara kontinyu ada dan
terdistribusi dengan baik menjadi sangat penting agar konsumen tidak kesulitan mendapat
produk hortikultura yang dicari. Pasokan yang terjaga juga menutup peluang masuknya
produk pesaing impor yang selama ini selalu menghantui para petani hortikultura. Potensi
lahan yang luas dengan jenis produk hortikultura yang beragam seharusnya menjadi modal
untuk menguasai pasar(Anonim,2014).

Salah satu komoditas hortikultura adalah sayur-sayuran.Produk sayur-sayuran di


Indonesia memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi komoditas unggulan ekspor.
Namun komoditi sayuran Indonesia dinilai masih belum mampu bersaing. Hal ini disebabkan
karena sayur-sayuran dari Indonesia masih belum dapat memberikan jaminan kualitas,
pasokan, dan ketepatan waktu penyampaiannya. Jaminan kualitas hortikultura merupakan
faktor penting yang harus diperhatikan.Hal tersebut dilakukan dengan pengembangan metode
pasca panen yaitu penentuan tingkat kemasakan dan kematangan pada komoditas
hortikultura(Hadiguna dan Marimin,2007).

Kebutuhan sayur dan buah akan meningkat secara global.Konsumen akan semakin
sadar akan kualitas sayur dan buah yang akan dikonsumsi.Permintaan konsumen akan
kepuasan dan kualitas pemasaran sayur dan buah sangat menjadi prioritas.Sayur dan buah
harus mempunyai kualitas yang optimal dalam kematangan,organoleptik,dan
varietas.Kualitas komoditas terdiri atas ekstrinsik dan intrinsik(Jongen,2000 cit. Sivakumar et
al.,2009).Kualitas dari dalam meliputi warna,bentuk,ukuran,dan terbebas dari kecacatan.
Kualitas dari dalam meliputi tekstur, kemanisan, keasaman, aroma, rasa, umur simpan,dan
kandungan nutrisi(Hewett,2006 Sivakumar et al.,2009)..Komponen intrinsik pada komoditas
merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena hal tersebut mempengaruhi jumlah
pembelian konsumen.Selama pematangan buah,pati pada komoditas akan berubah menjadi
gula dan meningkatkan kadar gula tersebut.Hal tersebut berhubungan dengan tingkat
kemanisan buah.Pengukuran kadar gula dapat dilakuakn dengan mengukur padatan terlarut
total.Hal tersebut mengindikasikan kematangan pada buah.Pengukuran tersebut
menggunakan alat yaitu refraktometer dengan satuan Brix(Sivakumar et al.,2009).

Kadar asam pada buah juga dapat dapat digunakan untuk menentukan kematangan
buah.Pematangan pada buah pada umumnya menyebabkan kandungan asam pada buah
menjadi minimal.Metode untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan titrasi dengan
menggunakan larutan basa seperti larutan NaOH.pH pada sampel yang diuji akan meningkat
dengan penambahan zat tersebut.Larutan phenolphthalein akan menunjukkan warna merah
muda pada pH 8.3-10.Penentuan total asam tertitrasi juga dipengaruhi oleh berat equivalen
asam.Pada komoditas apel,pir,aprikot,pisang dan ceri asam dominannya adalah asam malat
yang mempunyai berat ekuivalen 67.Pada buah jeruk,lemon,kismis,jambu
biji,nanas,strawberry,delima,dan mangga asam predominannya asam sitrat yang mempunyai
berat ekuivalen 64.Anggur mengandung asam tartarat yang mempunyai berat ekuivalen
75(Sharma dan Nautiyal,2009).

Kualitas produk hortikultura sangat berpengaruh pada kesehatan manusia.Salah satu


penentu kualitas produk tersebut adalah kandungan vitamin.Sayur dan buah merupakan
komoditas hortikultura yang mengandung vitamin yang bermanfaat seperti vitamin
A,C,B,dan E.Nutrisi pada komoditas hortikultura akan menurun setelah panen.Penanganan
yang tepat pada hasil panen akan meminimalisir kehilangan pasca panen(Lee dan Kader,2000
cit Durner,2013).
BAB III
METODOLOGI

2.1 waktu dan tempat

Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas


Jambi pada tanggal 3 maret 2016 yang dimulai pada pukul 03. Wib selesai.

2.2 alat dan bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah :


Buah jeruk, apel, kersen dan air.
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
Handrefraktometer silet dan tisu.

2.3 cara kerja


Sediakan buah yang akan kita tentukan kematangannya
Bersihkan alat (handrefraktometer) terlebih dahulu menggunakan air dan tisu
Buah disayat menggunakan silet lalu di peras
Air hasil sayatan atau perasan tersebut kemudian diteteskan pada alat pengukur
Amati dan dokumentasikan hasil pengukuran tersebut
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 hasil
Buah
Apel
Jeruk
Kersen (ceri)
Tingkat kematangan
Jeruk : 8
Apel : 17
Kersen : mentah: 10 Sedang: 11 Matang : 11,5 Sangat matang: 12

3.2 pembahasan
Kandungan gula sering diukur sebagai padatan terlarut total.Padatan terlarut
total mencakup gula dan asam,tetapi gula menempati porsi yang utama. diukur
dengan hanrefraktometer dengan skala Brix. Kandungan asam tertitrasi diukur
dengan cara titrasi.Satuan kandungan asam yaitu %.Untuk buahan tertentu telah
disusun suatu indeks pematangan buah yang menggambarkan antara kadar gula
terlarut dan kandungan asamnya.Hal tersebut digunakan untuk evaluasi kualitas buah
tersebut.
Asam sitrat merupakan asamorganik lemah yang ditemukan pada daun dan buah
tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet
yang baik dan alami.

Asam malat, golongan asam karboksilat, senyawa yang bertanggung jawab atas
rasa tajam yang terdapat pada apel yang belum matang. Ketika buah apel matang, kadar
asam malat akan turun dan sebaliknya, kadar gula akan meningkat. Hubungan kebalikan
antara asam malat dan gula dalam apel ini sangat penting untuk pengembangbiakan ape.
Pada komoditas apel dan ceri asam dominannya adalah asam malat yang mempunyai
berat ekuivalen 67.Pada buah jeruk asam predominannya asam sitrat yang mempunyai
berat ekuivalen 64.
BUAH Pembahasan
Jeruk
Objek yang pertama dalam penelitian ke 1 yaitu jeruk yang diteliti
mengukur kematangan buah berdasarkan warna nya.
seperti buah jeruk yang tingkat kematangannya 8 brix
Tidak ada beragam macam jeruk, karna pada praktikum ini hanya
menggunakan 1 jeruk yang matang.
pada jeruk terjadi perombakan klorofil dan pembentukan zat warna
karotenoid.

Apel Objek yang dikaji dalam penelitian kedua yaitu apel yang diteliti
mengukur kematangan buah apel berdasar kemiripan warna. Pada
penelitian ini, dalam penentuan tingkat kematangan buah apel, dapat
ditentukan berdasarkan komposisi warnanya. Sebagai pembanding
adalah histogram warna buah yang sudah matang.
Buah apel memiliki tingkat kemtangan 17 brix,
Disini juga menggunakan 1 buah apel yang matang sehingga tidak ada
perbandingan lain nya.
Ketika buah apel matang, kadar asam malat akan turun dan sebaliknya,
kadar gula akan meningkat. Hubungan kebalikan antara asam malat dan
gula dalam apel ini sangat penting untuk pengembangbiakan apel
Kersen (Ceri ) Objek yang di kaji pada penelitian ke3 adalah kersen
Yang di ukur kematangan nya mulai dari yang mentah, setenggah matang
dan matang.
Buah kersen pada saat mentah nilai kematangannya 10 brix, sedang 11
brix, matang 11,5 brix dan pada saat sudah sangat matang 12 brix,
semakin matang buah maka semakin tinggi pula nilai pengukuran yang
dihasilkan.
ceri asam dominannya adalah asam malat yang mempunyai berat rat
ekuivalen 67.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Semakin tinggi konsentrasi etilen maka semakin cepat pula proses pemasakan buah tertentu.
2. Perendaman buah dalam etilen dengan konsentrasi yang cukup tinggi dapat mempercepat
proses pemasakan buah.
3. Selama proses pematangan buah terjadi perubahan warna, tekstur, aroma dan rasa.

5.2 saran

Saran untuk praktikum selanjutnya agar praktikan lebih memahami penjelasan asisten
serta mencatat hal-hal penting dari penjelasan tersebut secara lengkap, kemudian mengamati
setiap perkembangan dari preparat uji agar secara detail agar mengetahui perbedaan yang
terjadi secara baik.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2014. Menggarap Potensi Pasar


Hortikultura.<http://tabloidsahabatpetani.com/menggarap-potensi-pasar-
hortikultura/>.Diakses tanggal 21 April 2015.
Brett,C.dan K.Waldron.1990.Physiology and Biochemistry of Plant Cell Walls.Great Britain at
The University Press,Cambridge.
Dixon,G.R.dan David E.Aldous.2014. Horticulture: Plants for People and Places. Production
Horticulture.Springer,New York.
Durner,E.2013.Principles of Horticultural Physiology.CABI,New Jersey.
Hadiguna,R.A.dan Marimin.2007.Alokasi pasokan berdasarkan produk unggulan untuk rantai
pasok sayuran segar.Jurnal Teknik Industri 8: 85-101.
Nath,P.,Mondher B.,Autar K.M.,dan Jean C.P.2014.Fruit Ripening:Physiology,Signalling and
Genomics.CABI,London.
Nopiana,S.dan Siti Balkis.2011. Analisis Pendapatan pola tanam beruntun tanaman hortikultura di
Desa Bangunrejo Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.EPP 8: 30-
40.
Pantastico,Er.B.1975.Postharvest Physiology,Handling,and Utilization of Tropical and Sub
Tropical Fruits dan Vegetables.The AVI Publishing Company,Inc,Westport.
Sharma,S.K.dan M.C.Nautiyal.2009.Postharvest Technology of Horticultural Crops.New India
Publishing Agency,New Delhi.
Sivakumar,D., Divine Njie, Hester Vermulen, Lise Korsten, Rosa Rolle.2009. Horticultural Chain
Management for Eastern and Southern Africa A Theoretical Manual.Food and Agriculture
Organization of the United Nations and Commonwealth Secretariat,London.
Zulkarnain,2009.Dasar-Dasar Hortikultura.PT Bumi Aksara,Jakarta.
Lampiran