Anda di halaman 1dari 14

KEAKTIFAN BELAJAR

MENGEMBANGKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA

Oleh: Ilham

Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa

Guru merupakan penanggung jawab kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab
gurulah yang langsung memberikan kemungkinan bagi para siswa belajar dengan efektif
melalui pembelajaran yang dikelolanya. Dalam konteks ini Nana Sudjana yang dikutip Cece
Wijaya dan A. Tabrani mengemukakan sebagai berikut:
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang
peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh
mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu
banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-
lain yang merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat
tersebut.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa guru memegang peranan penting terhadap proses
belajar siswa melalui pembelajaran yang dikelolanya. Untuk itu guru perlu menciptakan
kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar
mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab
yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan
belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi
keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya
mengemukakan bahwa proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang
melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk
mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga
merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Mengenai hal ini E. Mulyasa
mengatakan bahwa:
Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya
sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial
dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi,
semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.

Agar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, maka diperlukan berbagai upaya dari
guru untuk dapat membangkitkan keaktifan mereka. Sehubungan dengan pentingnya upaya
guru dalam membangkitkan keaktifan siswa dalam belajar, R. Ibrahim dan Nana Syaodih
mengemukakan bahwa:
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pengajaran
siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai
pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru merencanakan pengajaran, yang
menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani
banyak tugas. Aktivitas atau tugas-tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat
siswa, dibutuhkan dalam perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam pembelajaran upaya guru dalam
mengembangkan keaktifan belajar siswa sangatlah penting. Sebab keaktifan belajar siswa
menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.
Bentuk Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa

Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam
pembelajaran, siswalah yang menjadi subjek, jadi siswalah yang menjadi pelaku kegiatan
belajar. Demikian pula dalam pembelajaran, agar siswa berperan sebagai pelaku dalam
kegiatan belajar, maka guru hendaknya mengondisikan pembelajaran yang menuntut siswa
aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
Beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan keaktifan belajar
siswa dalam mata pelajaran adalah di antaranya dengan meningkatkan minat siswa,
membangkitkan motivasi siswa, menerapkan prinsip individualitas siswa, serta
menggunakan media dalam pembelajaran.
1. Meningkatkan minat siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah dengan adanya minat dan perhatian siswa dalam
belajar. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang
akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa adanya minat seseorang tidak
mungkin akan melakukan sesuatu. Siswa yang memiliki minat yang besar terhadap suatu
pelajaran akan lebih aktif untuk mempelajarinya dan sebaliknya, siswa akan kurang
keaktifannya dalam mempelajari pelajaran yang kurang diminatinya. Oleh karena itu,
William Jams, seperti di kemukakan Moh. Uzer Usman, yang melihat bahwa minat siswa
merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. jadi, minat
merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
Selanjutnya minat siswa juga berhubungan dengan perhatian siswa. Perbedaannya adalah
minat sifatnya lebih menetap sedangkan perhatian sifatnya lebih sementara dan adakalanya
menghilang. Dalam proses belajar siswa, perhatian memegang peranan penting. Thomas M.
Risk yang dikutip Zakiah Daradjat mengemukakan no learning takes place without
attention. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa suatu pelajaran tidak akan
berlangsung tanpa adanya perhatian dari siswa.
Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan lancar bila siswa memiliki minat yang
besar yang menimbulkan perhatiannya dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu
membangkitkan minat siswa-siswanya agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami
sehingga mereka terlibat aktif dalam pembelajaran. Dalam hal ini R. Ibrahim dan Nana
Syaodih mengemukakan beberapa upaya menarik minat siswa dalam belajar, yaitu sebagai
berikut:
Pengajaran perlu memperhatikan minat dan kebutuhan siswa, sebab keduanya akan
menjadi penyebab timbulnya perhatian. Sesuatu yang menarik minat dan dibutuhkan siswa,
akan menarik perhatiannya, dengan demikian mereka akan bersungguh-sungguh dalam
belajar. Misalnya, anak-anak Sekolah Dasar sangat menyenangi cerita (dongeng). Sampai
dengan kelas III mereka menyenangi cerita fantasi sedangkan anak-anak kelas IV sampai
dengan kelas VI menyenangi cerita-cerita yang lebih konkret, kepahlawanan dan sebagainya.
Guru dapat memanfaatkan minat dan kebutuhan ini dengan memberikan cerita-cerita yang
berisi penanaman atau pengembangan nilai-nilai moral.

Sementara Syaiful Bahri Djamarah juga mengemukakan upaya-upaya yang dapat dilakukan
guru untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, yaitu:
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan.
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau.
c. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik.
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

Kemudian Zakiah Daradjat dengan redaksi yang tidak jauh berbeda, menyebutkan beberapa
usaha yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, yaitu:
a. Membangkitkan kebutuhan pada diri anak seperti kebutuhan rohani, jasmani, sosial, dan
sebagainya. Rasa kebutuhan ini akan menimbulkan keadaan labil, ketidakpuasan yang
memerlukan pemuasan.
b. Pengalaman-pengalaman yang ingin ditanamkan kepada anak hendaknya didasari oleh
pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki.
c. Beri kesempatan berpartisipasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Tugas-tugas harus
disesuaikan dengan kesanggupan murid. Anak yang tidak pernah mencapai hasil yang baik
atau tidak pernah mendapat penyelesaian tugas-tugasnya dengan baik, merasa putus asa.
d. Menggunakan alat-media dan berbagai metode mengajar.

Beberapa hal tersebut di atas menunjukkan bahwa upaya guru dalam mengembangkan
minat belajar siswa sangat penting dilakukan agar ia dapat terlibat aktif dalam mengikuti
pembelajaran.
2. Membangkitkan motivasi siswa
Setiap perbuatan individu, termasuk perbuatan belajar didorong oleh sesuatu atau beberapa
motif. Motif merupakan suatu tenaga yang berada pada diri siswa yang mendorongnya
untuk berbuat mencapai suatu tujuan. Sedangkan motivasi menurut Muh. Uzer Usman
adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku
untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri
individu yang mendorong tingkah lakunya untuk membuat sesuatu dalam mencapai tujuan
tertentu.
Seseorang siswa yang belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan
belajarnya dengan sungguh-sungguh penuh, gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar
dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang
berhubungan dengan pelajaran. Dengan demikian jelaslah bahwa motivasi sangat
diperlukan seseorang dalam melakukan aktivitas belajar.
Tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar secara aktif.
Motivasi belajar siswa dapat timbul dari dalam individu siswa dan dapat pula timbul akibat
pengaruh dari luar dirinya. Motivasi yang timbul dari dalam diri siswa sendiri tanpa ada
ajakan atau pengeruh dari orang lain disebut motivasi intrinsik. Sedangkan motivasi yang
timbul akibat pengeruh dari luar diri siswa, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau
paksaan dari orang lain disebut motivasi ekstrinsik. Dalam konteks motivasi belajar ini,
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan sebagai berikut:
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah
bagi guru, karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik.
Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan
guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai
gangguan yang ada di sekitarnya kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan
perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik
yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini peranan guru lebih
dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu fungsi motivasi sebagai alat yang
mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan,
dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.

Dari hal tersebut jelas bahwa dalam belajar, siswa mesti memiliki motivasi belajar yang
tinggi, baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri siswa. Beberapa upaya yang
dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi siswa dan menjadikannya aktif dalam
mengikuti pembelajaran, seperti yang dikemukan R. Ibrahim dan Nana Sayodih
diantaranya, yaitu:
a. Memberikan sasaran antara. Sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas.
Sasaran akhir baru dicapai pada akhir tahun. Untuk membangkitkan motif belajar maka
diadakan sasaran antara, seperti ujian semester, tengah semester, ulangan harian, kuis, dan
sebagainya.
b. Diciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang hangat berisi
suasana persahabatan, ada rasa humor, ada pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar
dari celaan dan makian, dapat membangkitkan motif.
c. Adanya persaingan sehat. Persaingan atau kompetisi yang sehat dapat membangkitkan
motivasi belajar. Siswa dapat bersaing dengan hasil belajarnya sendiri atau dengan hasil
yang dicapai oleh orang lain. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun
hadiah.

Sementara itu Moh. Uzer Usman juga memberikan beberapa cara untuk membangkitkan
motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dalam belajar, yaitu:
Kompetisi (persaingan): Guru berusaha menciptakan persaingan di antara siswanya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai
sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
Pace making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar
mengajar, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan
dicapainya sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan,
maka besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi
dalam melakukan suatu perbuatan.
Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan
kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang
sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya mampu memberi kesempatan kepada anak
untuk meraih sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
Minat yang besar: motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
Mengadakan penilaian atau tes: Pada umumnya para siswa mau belajar dengan
memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak
belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan
ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik.
Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.

Sementara Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain dalam buku Strategi Belajar Mengajar
mengemukakan enam cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya membangkitkan
motivasi dan gairah belajar siswa, yaitu:
Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar;
Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan pada akhir
pengajaran;
Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat
merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari;
Membentuk kebiasaan yang baik;
Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok;
Menggunakan metode yang bervariasi.

Sedangkan M. Sobry Sutikno juga mengemukakan beberapa strategi yang bisa digunakan
oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
a. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan
mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas
tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk
bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi
untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi
belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
Tentunya pujian yang bersifat membangun.
e. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar.
Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha
memacu motivasi belajarnya.
f. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
g. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
h. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
i. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
j. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dari beberapa cara yang telah di kemukakan para ahli di atas pada dasarnya saling
melengkapi yang dapat dilakukan oleh guru dalam membangkitkan motivasi belajar siswa.
3. Menerapkan prinsip individualitas
Salah satu masalah utama dalam pembelajaran ialah masalah perbedaan individual. Seorang
guru yang menghadapi 40 orang siswa di kelas, sebenarnya bukan hanya menghadapi ciri-
ciri satu kelas, tetapi juga menghadapi 40 perangkat ciri-ciri siswa. Tiap orang siswa
memiliki pembawaan-pembawaan yang berbeda, dan menerima pengaruh dan perlakukan
dari keluarganya yang masing-masing juga berbeda. Dengan demikian adalah wajar apabila
setiap siswa memiliki ciri-ciri individu sendiri. Ada siswa yang badannya tinggi kurus, atau
pendek gemuk, cekatan atau lambat, kecerdasan tinggi, sedang atau rendah, berbakat dalam
beberapa mata pelajaran, tetapi kurang berbakat dalam mata pelajaran tertentu, tabah, ulet
atau mudah putus asa, periang atau perenung, bersemangat atau acuh tak acuh, dan
sebagainya.
Berdasarkan hal tersebut, pemahaman guru terhadap setiap individu siswa sangat penting
dalam upaya mengembangkan keaktifan belajar mereka. Dalam konteks ini Saiful Bahri
Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan sebagai berikut:
Guru harus melakukan pendekatan dalam strategi belajar mengajarnya. Bila tidak, maka
strategi belajar tuntas atau masteyr learning yang menuntut penguasaan penuh kepada anak
didik tidak akan pernah menjadi kenyataan. Paling tidak dengan pendekatan individual
dapat diharapkan kepada anak didik dengan tingkat penguasaan optimal.

Sementara Bloom yang dikutip oleh Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa:
Jika guru memahami persyaratan kognitif dan ciri-ciri sikap yang diperlukan untuk belajar
seperti minat dan konsep diri pada diri siswa-siswanya, dapat diharapkan sebagian besar
siswa akan dapat mencapai taraf penguasaan sampai 75% dari yang diajarkan. Oleh sebab
itu, hendaknya guru mampu menyesuaikan proses belajar mengajar dengan kebutuhan-
kebutuhan siswa secara individual tanpa harus mengajar secara individual.

Perbedaan-perbedaan individu siswa dalam aktivitas belajarnya, seperti yang dikemukakan


Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya, terbagi dalam empat hal, yaitu 1) Waktu dan irama
perkembangan, 2) Motif, intelegensi dan emosi, 3) Kecepatan belajar atau menangkap
pelajaran, 4) Pembawaan dan lingkungan. Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan hasil
belajar siswa berbeda-beda dan waktu yang diperlukan untuk memahami pelajaran yang
ditentukan akan berbeda pula. Tidak terkecuali dalam pelajaran, perbedaan-perbedaan
tersebut juga sangat mempengaruhi aktivitas siswa dalam belajar .
Mengingat adanya perbedaan-perbedaan tersebut, guru harus mengerti tentang adanya
keragaman adanya ciri-ciri siswa, baik di dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran
maupun dalam memberikan tugas-tugas dan pembimbingan. Dalam konteks ini R. Ibrahim
dan Nana Syaodih mengemukakan beberapa prinsip individualitas yang dapat diterapkan
guru dalam mengelola pembelajaran, yaitu sebagai berikut::
a. Dalam mengajar hendaknya guru menggunakan metode atau strategi belajar mengajar
yang bervariasi. Sebab dengan variasi tersebut diharapkan beberapa perbedaan kemampuan
anak dapat terlayani.
b. Hendaknya digunakan alat dan media pengajaran. Penggunaan media dan alat-alat
pengajaran dapat membantu siswa-siswa yang mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu.
Anak yang kemampuan berpikir abstraknya kurang, dapat dibantu dengan media yang
konkret, anak yang pendengarannya kurang, dapat dibantu dengan penglihatan.
c. Hendaknya guru memberikan bahan pelajaran tambahan kepada anak-anak yang pandai,
untuk mengimbangi kepandaiannya. Bahan tambahan tersebut dapat berupa bahan bacaan,
soal-soal yang harus dipecahkan dan sebagainya.
d. Hendaknya guru memberikan bantuan atau bimbingan khusus kepada anak-anak yang
kurang pandai atau lambat dalam belajar. Bantuan atau bimbingan dapat diberikan pada
jam pelajaran ataupun di luar jam pelajaran.
e. Pemberian tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak.
Misalnya anak-anak yang lebih pandai diberi tugas yang lebih banyak atau lebih sukar. Anak
yang berminat akan matematika diberi tugas di bidang matematika lebih banyak sedang
yang lain di bidang sosial dan IPA lebih banyak.

Sementara Gafar Daud dalam sebuah artikel berjudul Hakikat Belajar, mengemukakan
beberapa upaya melayani perbedaan individual siswa, yaitu sebagai berikut:
a. Anak-anak yang tergolong cerdas akan berkembang sesuai dengan kemampuannya,
dengan cara ; akselerasi dan program tambahan.
b. Pengajaran individual.
c. Penyelenggaraan kelas khusus bagi siswa yang cerdas.
d. Bagi siswa yang lamban dapat diselenggarakan kelas remedial.
e. Pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan.
f. Pembentukan kelompok informal oleh siswa sendiri.

Berdasarkan beberapa hal yang telah di kemukakan di atas, maka sangat penting bagi guru
untuk melayani perbedaan-perbedaan siswa sehingga memungkinkan berkembangnya
potensi masing-masing siswa secara optimal dalam pembelajaran.
4. Menggunakan media dalam pembelajaran.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat
merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong
terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Media pembelajaran sebagai perantara
sumber pesan dengan penerima pesan yang berperan penting dalam proses pembelajaran.
Dalam upaya untuk mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran ,
hendaknya guru dapat menggunakan media dalam pembelajaran , di samping untuk
memperjelas materi yang disampaikan juga akan dapat menarik minat siswa. Mengenai
media ini Moh. Uzer Usman menyatakan:
Media pengajaran, teaching air, atau audiovisual aids (AVA) adalah alat yang digunakan
guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya
kepada dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang menggunakan
banyak verbalisme tentu akan segera membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih
menarik bila siswa gembira belajar atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti
pelajaran yang diterimanya.

Media pembelajaran memiliki arti yang cukup penting dalam kegiatan pembelajaran .
Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan materi yang disampaikan dapat dibantu
dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan pelajaran yang
disampaikan kepada siswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Dengan demikian
siswa akan lebih mudah menerima bahan pelajaran dari pada tanpa penggunaan media.
Nilai dan manfaat media pembelajaran sebagai berikut:
a. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu mengurangi
verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya.
b. Memperbesar perhatian siswa.
c. Membuat pelajaran lebih menetap tidak mudah dilupakan.
d. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha
sendiri di kalangan para siswa.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan berbahasa.
g. Sangat menarik minat siswa dalam belajar.
h. Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena ia ingin dengan banyak
perkataan, tetapi dengan memperlihatkan suatu gambar, benda yang sebenarnya, atau alat
lain.

Sementara Nana Sudjana dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, mengemukakan
manfaat dan nilai-nilai praktis penggunaan media pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1) Dengan media dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir. Karena itu, dapat
mengurangi verbalisme.
2) Dengan media dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar.
3) Dengan media dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil
belajar bertambah mantap.
4) Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri
pada setiap siswa.
5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan.
6) Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan
berbahasa.
7) Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu
berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.

Dalam menggunakan media pembelajaran, guru harus memperhatikan sejumlah prinsip


tertentu agar penggunaan media tersebut mencapai hasil yang baik. Untuk itu hendaknya
dapat memperhatikan hal-hal berikut:
a. Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta
perbedaan individual dalam kelompok.
b. Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan.
c. Harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa lebih dahulu.
d. Penggunaan media disertai kelanjutannya seperti dengan diskusi, analisis dan evaluasi.
e. Sesuai dengan batas kemampuan biaya.

Selanjutnya ada beberapa prinsip tentang penggunaan media atau alat audiovisual yaitu:
a. Tidak ada alat yang dapat dianggap paling baik.
b. Alat-alat tertentu lebih tepat dari pada yang lain berdasarkan jenis perhatian atau dalam
hubungannya dengan tujuan.
c. Audiovisual atau sumber-sumber yang digunakan merupakan bagian integral dari
pengajaran.
d. Perlu diadakan persiapan yang seksama oleh guru dan siswa mengenai alat audiovisual.
e. Siswa menyadari tujuan alat audiovisual dan merespons data yang diberikan.
f. Perlu diadakan kegiatan lanjutan.
g. Alat audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan untuk menambah kemampuan
komunikasi memungkinkan belajar lebih karena adanya hubungan-hubungan.

Berdasarkan beberapa hal yang telah di kemukakan bahwa jika guru mampu penggunaan
media dalam pembelajaran secara tepat, maka hal tersebut dapat merangsang pikiran,
perasaan, dan kemauan para siswa untuk belajar . Dengan demikian, maka dengan
sendirinya keaktifan belajar para siswa dalam kegiatan pemberbelajaran akan meningkat
pula.

This entry was posted on Selasa, Maret 31st, 2009 at 2:09 am and is filed under Uncategorized. You can feed this
entry. You can leave a response, or trackbackfrom your own site.

5 Tanggapan
1.

The man behind the gun secanggih apapun teknologi/fasilitas belajar, peran guru tidak
akan pernah dapat tergantikan, hanya permasalahannya, maukah guru bekerja keras agar
senantiasa menjadi inspirator bagi pesdik?
Tanpa adanya komitmen, kemauan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi siswa,
mustahil akan lahir generasi-generasi penerus yang lebih baik dari generasi kita hari ini,
majulah terus, jangan pernah berhenti untuk membaca dan berkarya, karya Bapak Ilham ini
sungguh menjadi inspirasi bagi saya sebagai guru, terimakasih Pak ! Apabila komentar ini
mirip dengan yang lain,tidak ada kesengajaan !

novitasari

Senin, 04 Januari 2016


Manajemen Sarana Dan Prasarana Sekolah

Manajemen Sarana Dan Prasarana Sekolah

A. Manajemen Sarana Dan Prasarana Sekolah

1. Pengertian Sarana dan Prasarana Sekolah


Pada dasarnya Sarana dan prasarana pendidikan terdiri dari dua unsur, yaitu sarana dan
prasarana. Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan
dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas,
meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan
adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya suatu proses pendidikan atau
pengajaran, seperti halaman, kebun.

Menurut Ketentuan Umum Permendiknas no. 24 tahun 2007, sarana adalah perlengkapan
pembelajaran yang dapat dipindah-pindah (gedung, ruang kelas, meja, kursi serta alat-alat media
pembelajaran) dan prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah
(halaman, taman, lapangan, jalan menuju sekolah dan lain-lain). Tetapi jika dimanfaatkan secara
langsung untuk proses belajar mengajar, maka komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.

Manajemen sarana dan prasarana adalah kegiatan pengelolaan sarana dan prasarana yang
dilakukan oleh sekolah dalam upaya menunjang seluruh kegiatan baik kegiatan pembelajaran maupun
kegiatan lain sehingga seluruh kegiatan berjalan dengan lancar.
2. Tugas dan Fungsi Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan
prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya
proses pendidikan. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, pengawasan,
inventarisasi dan penghapusan serta penataan.

Manajemen sarana dan prasarana sekolah berfungsi sebagai berikut ;

a) Sebagai perencanaan atau analisis kebutuhan


b) Pengadaan
c) Penginventarisan
d) Penggunaan atau pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah
e) Pemeliharaan
f) Penghapusan
g) Pertanggungjawaban

3. Prinsip-Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan


Dalam mengelola sarana dan prasarana pendidikan, terdapat beberapa prinsip yang perlu
diperhatikan agar tujuan bisa tercapai dengan maksimal. Prinsip-prinsip tersebut menurut Bafadal
(2003) adalah :
a) Prinsip pencapaian tujuan, yaitu sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam kondisi
siap pakai apabila akan didaya gunakan oleh personil sekolah dalam rangka pencapaian tujuan
pembelajaran di sekolah.
b) Prinsip efisiensi, yaitu pengadaan sarana dan prasarana di sekolah harus dilakukan melalui perencanaan
yang seksama, sehingga dapat diakdakan sarana dan prasarana pendidikan yang baik dengan harga yang
murah. Demikian juga pemakaiannya harus dengan hati-hati sehingga mengurangi pemborosan.
c) Prinsip administratif, yaitu manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu
memperhatikan UU, peraturan, instruksi, dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh pihak yang
berwenang.
d) Prinsip kejelasan tanggung jawab, yaitu manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus
didelegasika kepada personel sekolah yang mampu bertanggung jawab, apabila melibatkan banyak
personil sekolah dalam manajemennya, maka perlu adanya deskripsi tugas dan tanggung jawab yang
jelas untuk tiap personil sekolah.
e) Prinsip kekohesifan, yaitu manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus direalisasikan
dalam bentuk proses kerja sekolah yang sangat kompak.
4. Proses Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Proses manajemen sarana dan prasarana pendidikan meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengawasaan, dan evaluasi kegiatan pengadaan barang, pembagian dan penggunaan
barang (inventasi), perbaikan barang, dan tukar tambah maupun penghapusan barang.

Proses yang dilakukan dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan memiliki beberapa
tahap, yaitu sebagai berikut :

a) Perencanaan Sarana dan Prasarana Pendidikan.

Perencanaan sarana atau alat pelajaran tidak semudah perencanaan prasarana (meja kursi) yang
hanya mempertimbangkan selera dan dana yang tersedia. Untuk proses pengadaan sarana harus
mempertimbangkan lebih banyak dan semuanya bersifat edukatif. Adapun tahap-tahap perencanaan
sarana (alat pelajaran) sebagai berikut :

1. Mengadakan analisis tentang mata pelajaran apa saja yang membutuhkan sarana dalam penyampaian
pembaelajarannya. Hal ini dilakukan oleh para guru bidang studi.
2. Apabila kebutuhan sarana yang diajukan para guru melampaui kemampuan daya beli sekolah, maka
diadakan seleksi yang berdasarkan pada prioritas terhadap alat-alat yang mendesak pengadaannya.
3. Mengadakan inventarisasi terhadap alat atau media yang telah ada. Alat yang sudah ada ini perlu
ditinjau lagi, dan mengadakan re-inventarisasi.
4. Mengadakan seleksi terhadap alat pelajaran/media yang masih dapat dimanfaatkan, baik dengan
reparasi atau modifikasi maupun tidak.
5. Mencari dana apabila masih kekurangan dana dalam pengadaan sarana pendidikan.
6. Menunjuk seseorang dalam melaksanakan pengadaan sarana dan prasrana. Penunjukkan ini sebaiknya
berdasarka pada keahlian, kelincahan berkomunikasi, kejujuran, dan sebagainya.
b) Pengadaan Sarana dan Prasarana

Pengadaan sarana pendidikan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh sarana
pendidikan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses pendidikan dan pengajaran. Pengadaan sarana
pendidikan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Dropping dari pemerintah, hal ini merupakan bantuan yang diberikan pemerintah kepada sekolah.
Bantuan ini sifatnya terbatas sehingga pengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah tetap
harus mengusahakan dengan cara lain.
2. Pembeliaan artinya sarana pendidikan tersebut harus dibeli sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Meminta sumbangan wali murid atau mengajukan proposal bantuan pengadaan sarana dan prasarana
sekolah ke lembaga sosial yang tidak mengikat.
4. Membuat sendiri yaitu sarana pendidikan dapat dibuat sendiri oleh sekolah.
5. Menerima hibah atau bantuan atau sumbangan dari pihak lain, dan menyewa atau meminjam artinya
sarana pendidikan yang diperlukan disewa atau dipinjam dari pihak lain dalam jangka waktu tertentu.
6. Guna susun (kanibalisme) artinya suatu pengadaan barang dengan menggunakan barang-barang yang
sudah tidak bisa dipakai kemudian disusun kembali sehingga menjadi sarana pendidikan atau daur
ulang.
Memilih sarana dan prasana pendidikan islam bukanlah berupa resep yang lengkap dengan
petunjuk-petunjuknya, lalu pendidik menerima resep itu begitu saja. Sarana pembelajaran hendakaya
direncanakan, dipilih dan diadakan dengan teliti sesuai dengan kebutuhan sehingga penggunaannya
berjalan dengan wajar. Untuk itu pendidik hendaknya menyesuaikan dengan sarana pembelajaran
dengan faktor-faktor yang dihadapi, yaitu tujuan apakah yang hendak dicapai, media apa yang
tersedia, pendidik mana yang akan mempergunakannya, dan yang peserta didik mana yang di hadapi.
Faktor lain yag hendaknya dipertimbangkan dalam pemilihan sarana pembelajaran adalah kesesuaian
dengan ruang dan waktu.

c) Pemeliharaan dan Penyimpanan Sarana dan Prasarana

Kegiatan setelah proses pengadaan adalah pencatatan, penyimpanan, dan pemeliharaan sarana
pendidikan. Pencataan atau yang lebih dikenal dengan inventarisasi harus dilaksanakan secara
terperinci. Tujuan dari inventarisasi adalah sebagai berikut:

a) Tertib administrasi dan tertib sarana pendidikan.


b) Pendaftaran, pengendalian dan pengawasan setiap sarana.
c) Usaha untuk memanfaatkan penggunaan setiap sarana.
d) Menunjang proses belajar mengajar
d) Penggunaan Sarana dan Prasarana

Sarana pendidikan yang disediakan dimaksudkan untuk memperlancar proses belajar mengajar.
Sarana pendidikan ditinjau dari fungsinya dapat digolongkan menjadi:

a) Sarana pendidikan yang langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, seperti alat pelajaran, alat
peraga, dan media pendidikan.
b) Sarana pendidikan yang tidak langsung terlihat dalam proses pendidikan dan pengajaran, seperti
gedung, perabot kantor, kamar mandi dan sebagainya.
Pengaturan penggunaan sarana pendidikan dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

a) Banyaknya sarana pendidikan untuk tiap-tiap macam.


b) Banyaknya kelas masing-masing tingkat.
c) Banyaknya siswa dalam tiap-tiap kelas.
d) Banyaknya ruang atau kelas yang ada di sekolah.
e) Banyaknya guru atau karyawan yang terlihat dalam penggunaan sarana pendidikan.
Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas penggunaan sarana pendidikan dapat diatur
sebagai berikut:
a) Sarana pendidikan untuk kelas tertentu.
Maksudnya suatu alat yang hanya digunakan untuk kelas tertentu sesuai dengan materi kurikulum, jika
banyaknya alat untuk mencukupi banyaknya kelas, maka sebaiknya alat-alat disimpan di kelas agar
mempermudah penggunaan.
b) Sarana pendidikan untuk beberapa kelas.
Apabila jumlah alat yang tersedia terbatas, padahal yang membutuhkan lebih dari satu kelas, maka alat-
alat tersebut terpaksa digunakan bersama-sama secara bergantian.
c) Sarana pendidikan untuk semua kelas.
Penggunaan alat untuk semua kelas dapat dilakukan dengan membawa ke kelas yang membutuhkan
secara bergantian atau siswa yang akan menggunakan mendatangi ruangan tertentu.
d) Sarana pendidikan yang dapat digunakan oleh umum.
Sarana pendidikan yang digunakan untuk beberapa kelas dan semua murid, dan murid yang akan
membutuhkannya akan dibawa ke ruang atau kelas tersebut disebut kelas berjalan.
e) Penghapusan Sarana dan Prasarana

Pengahapusan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan meniadakan barang-barang


milik lembaga (bisa juga milik negara) dari daftar inventaris dengan cara berdasarkan perundang-
undangan yang berlaku.Kerusakan kecil pada sarana pendidikan masih mungkin diperbaiki tetapi
apabila kerusakan besar diperbaiki sudah tidak ekonomis, efektif dan efisien, sarana tersebut sebaiknya
dihapuskan. Penghapusan sarana dari daftar inventaris berfungsi sebagai berikut:

1. Mencegah atau mengurangi kerugian yang lebih besar.


2. Mengurangi pemborosan biaya.
3. Meringankan beban kerja inventarisasi.
4. Membebaskan tanggung jawab satuan organisasi terhadap suatu barang atau sarana pendidikan.
Beberapa pertimbangan yang dapat dipakai sebagai alasan penghapusan sarana pendidikan
adalah sebagai berikut:

1. Dalam keadaan rusak berat sehingga tidak dapat dipergunakan atau diperbaiki lagi.
2. Perbaikan memerlukan biaya yang besar sehingga tidak ekonomis.
3. Kegunaan sarana pendidikan tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan dan perbaikan.
4. Penyusutan sarana di luar kekuasaan pengurus sarana.
5. Tidak sesuai dengan kebutuhan saat ini.
6. Barang kelebihan, jika disimpan lebih lama akan rusak dan tidak terpakai lagi.
7. Adanya penurunan efektifitas kerja.
8. Barang atau sarana pendidikan sudah tidak ada, karena dicuri, terbakar atau hilang.
Penghapusan barang atau sarana pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai macam antara lain:

1. Penjualan, barang atau sarana pendidikan dijual.


2. Tukar menukar barang, barang yang tidak dipakai ditukarkan dengan barang baru atau sarana baru.
3. Dihibahkan, barang atau sarana pendidikan yang tidak dipakai dihibahkan kepada lembaga lain yang
membutuhkan.
4. Dibakar, barang yang tidak mungkin dijual atau dihibahkan bisa dibakar.
Diposting oleh Novitasari Indrawati di 06.25
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog
2016 (15)
o Januari (15)
Think Smart with Pirates Method
Hujan yang di Sembunyikan
Sumber Sumber Manajemen Keuangan Pendidikan
Perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Wanita Surga
Memilih dan Mengembangkan Metode Pembelajaran
Peran Pengawas
Peran Guru
Manajemen Sarana Dan Prasarana Sekolah
Manajemen Keuangan dan Pembiayaan
Hidrosfer
Model Pembelajaran Langsung
Model Pembelajaran Tuntas
Kelebihan dan Kekurangan K13
Hawa Bukan Tulang Rusuk Adam. Its Just Parable.

2015 (3)

2014 (5)

Mengenai Saya
Novitasari Indrawati

Lihat profil lengkapku

Tema PT Keren Sekali. Diberdayakan oleh Blogger.