Anda di halaman 1dari 22

I.

KASUS TEORI
A. Anatomi dan Fisiologi Paru

Gambar 3. Anatomi paru (Masyhudi, 2014)

Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya berada di
atas tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru terbagi menjadi
dua yaitu, paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus
sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat
terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi beberapa subbagian
menjadi sekitar sepuluh unit terkecil yang disebut bronchopulmonary segments.
Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut mediastinum. Paru-
paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Pleura terbagi menjadi pleura
viseralis dan pleura pariental. Pleura viseralis yaitu selaput yang langsung
membungkus paru, sedangkan pleura parietal yaitu selaput yang menempel pada
rongga dada. Diantara 11 kedua pleura terdapat rongga yang disebut kavum pleura
(Guyton, 2007). Paru manusia terbentuk setelah embrio mempunyai panjang 3 mm.
Pembentukan paru di mulai dari sebuah Groove yang berasal dari Foregut. Pada
Groove terbentuk dua kantung yang dilapisi oleh suatu jaringan yang disebut
Primary Lung Bud. Bagian proksimal foregut membagi diri menjadi 2 yaitu
esophagus dan trakea. Pada perkembangan selanjutnya trakea akan bergabung
dengan primary lung bud. Primary lung bud merupakan cikal bakal bronchi dan
cabang-cabangnya. Bronchial-tree terbentuk setelah embrio berumur 16 minggu,
sedangkan alveoli baru berkembang setelah bayi lahir dan jumlahnya terus
meningkat hingga anak berumur 8 tahun. Alveoli bertambah besar sesuai dengan
perkembangan dinding toraks. Jadi, pertumbuhan dan perkembangan paru berjalan
terus menerus tanpa terputus sampai pertumbuhan somatic berhenti.
Sitem pernafasan dapat dibagi ke dalam sitem pernafasan bagian atas dan
pernafasan bagian bawah.
1. Pernafasan bagian atas meliputi, hidung, rongga hidung, sinus paranasal, dan
faring.
2. Pernafasan bagian bawah meliputi, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan
alveolus paru.
Pergerakan dari dalam ke luar paru terdiri dari dua proses, yaitu inspirasi dan
ekspirasi. Inspirasi adalah pergerakan dari atmosfer ke dalam paru, sedangkan
ekspirasi adalah pergerakan dari dalam paru ke atmosfer. Agar proses ventilasi
dapat berjalan lancar dibutuhkan fungsi yang baik pada otot pernafasan dan
elastisitas jaringan paru. Otot-otot pernafasan dibagi menjadi dua yaitu,
1. Otot inspirasi yang terdiri atas, otot interkostalis eksterna,
sternokleidomastoideus, skalenus dan diafragma.
2. Otot-otot ekspirasi adalah rektus abdominis dan interkostalis internus.

Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam keadaan normal
terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan dinding dada sehingga paru-paru
dengan mudah bergeser pada dinding dada. Tekanan pada ruangan antara paru-paru
dan dinding dada berada di bawah tekanan atmosfer.
Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah dan atmosfer.
Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan
mengeluarkan karbon dioksida. Kebutuhan oksigen dan karbon dioksida terus
berubah sesuai dengan tingkat aktivitas dan metabolisme seseorang, tapi pernafasan
harus tetap dapat memelihara kandungan oksigen dan karbon dioksida tersebut.
Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang menyempit (bronchi
dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah paru-paru utama (trachea). Pipa
tersebut berakhir di gelembung-gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan
kantong udara terakhir dimana oksigen dan karbondioksida dipindahkan dari
tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari 300 juta alveoli di dalam paru-paru
manusia bersifat elastis. Ruang udara tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka
oleh bahan kimia surfaktan yang dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk
mengempis (McArdle, 2006). Untuk melaksanakan fungsi tersebut, pernafasan
dapat dibagi menjadi empat mekanisme dasar, yaitu:
1. Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara alveoli dan
atmosfer
2. Difusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah
3. Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan tubuh ke dan
dari sel
4. Pengaturan ventilasi.

Pada waktu menarik nafas dalam, maka otot berkontraksi, tetapi pengeluaran
pernafasan dalam proses yang pasif. Ketika diafragma menutup dalam, penarikan
nafas melalui isi rongga dada kembali memperbesar paru-paru dan dinding badan
bergerak hingga diafragma dan tulang dada menutup ke posisi semula. Aktivitas
bernafas merupakan dasar yang meliputi gerak tulang rusuk sewaktu bernafas
dalam dan volume udara bertambah. Inspirasi merupakan proses aktif kontraksi
otot-otot. Inspirasi menaikkan volume intratoraks. Selama bernafas tenang, tekanan
intrapleura kira-kira 2,5 mmHg relatif lebih tinggi terhadap atmosfer. Pada
permulaan, inspirasi menurun sampai -6mmHg dan paru-paru ditarik ke posisi yang
lebih mengembang dan tertanam dalam jalan udara sehingga menjadi sedikit negatif
dan udara mengalir ke dalam paru-paru. Pada akhir inspirasi, recoil menarik dada
kembali ke posisi ekspirasi dimana tekanan recoil paru-paru dan dinding dada
seimbang. Tekanan dalam jalan pernafasan seimbang menjadi sedikit positif
sehingga udara mengalir ke luar dari paru-paru.
Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat elastisitas
dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis eksternus relaksasi,
dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke atas ke dalam rongga toraks,
menyebabkan volume toraks berkurang. Pengurangan volume toraks ini
meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal. Selisih tekanan
antara saluran udara dan atmosfir menjadi terbalik, sehingga udara mengalir keluar
dari paru-paru sampai udara dan tekanan atmosfir menjadi sama kembali pada akhir
ekspirasi.
Proses setelah ventilasi adalah difusi yaitu, perpindahan oksigen dari alveol ke
dalam pembuluh darah dan berlaku sebaliknya untuk karbondioksida. Difusi dapat
terjadi dari daerah yang bertekanan tinggi ke tekanan rendah. Ada beberapa faktor
yang berpengaruh pada difusi gas dalam paru yaitu, faktor membran, faktor darah
dan faktor sirkulasi. Selanjutnya adalah proses transportasi, yaitu perpindahan gas
dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan aliran darah.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi paru adalah,
1. Usia
Kekuatan otot maksimal pada usia 20-40 tahun dan dapat berkurang sebanyak
20% setelah usia 40 tahun. Selama proses penuan terjadi penurunan elastisitas
alveoli, penebalan kelenjar bronkial, penurunan kapasitas paru.
2. Jenis kelamin
Fungsi ventilasi pada laki-laki lebih tinggi 20-25% dari pada wanita, karena
ukuran anatomi paru laki-laki lebih besar dibandingkan wanita. Selain itu,
aktivitas laki-laki lebih tinggi sehingga recoil dan compliance paru sudah
terlatih.
3. Tinggi badan dan berat badan
Seorang yang memiliki tubuh tinggi dan besar, fungsi ventilasi parunya lebih
tinggi daripada orang yang bertubuh kecil pendek.

Volume dan kapasitas paru


Menurut Guyton (2007) volume paru terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1. Volume Tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi pada setiap
kali pernafasan normal. Besarnya 500 ml pada rata-rata orang dewasa.
2. Volume Cadangan Inspirasi adalah volume udara ekstra yang diinspirasi setelah
volume tidal, dan biasanya mencapai 3000 ml.
3. Volume Cadangan Eskpirasi adalah jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan
dengan ekspirasi maksimum pada akhir ekspirasi normal, pada keadaan normal
besarnya 1100 ml.
4. Volume Residu, yaitu volume udara yang masih tetap berada dalam paru-paru
setelah ekspirasi kuat. Besarnya 1200 ml.

Kapasitas paru merupakan gabungan dari beberapa volume paru dan dibagi menjadi
empat bagian, yaitu:
1. Kapasitas Inspirasi, sama dengan volume tidal + volume cadangan inspirasi.
Besarnya 3500 ml, dan merupakan jumlah udara yang dapat dihirup seseorang
mulai pada tingkat ekspirasi normal dan mengembangkan paru sampai jumlah
maksimum.
2. Kapasitas Residu Fungsional, sama dengan volume cadangan inspirasi + volume
residu. Besarnya 2300 ml, dan merupakan besarnya udara yang tersisa dalam
paru pada akhir eskpirasi normal.
3. Kapasitas Vital, sama dengan volume cadangan inspirasi + volume tidal + volume
cadangan ekspirasi. Besarnya 4600 ml, dan merupakan jumlah udara maksimal
yang dapat dikeluarkan dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara
maksimal dan kemudian mengeluarkannya sebanyak-banyaknya.
4. Kapasitas Vital paksa (KVP) atau Forced Vital Capacity (FVC) adalah volume
total dari udara yg dihembuskan dari paru-paru setelah inspirasi maksimum yang
diikuti oleh ekspirasi paksa minimum. Hasil ini didapat setelah seseorang
menginspirasi dengan usaha maksimal dan mengekspirasi secara kuat dan cepat.
5. Volume ekspirasi paksa satu detik (VEP1) atau Forced Expiratory Volume in One
Second (FEV1) adalah volume udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi
maksimum per satuan detik. Hasil ini didapat setelah seseorang terlebih dahulu
melakukakn pernafasan dalam dan inspirasi maksimal yang kemudian
diekspirasikan secara paksa sekuat-kuatnya dan semaksimal mungkin, dengan cara
ini kapasitas vital seseorang tersebut dapat dihembuskan dalam satu detik.
6. Kapasitas Paru Total, sama dengan kapasitas vital + volume residu. Besarnya
5800ml, adalah volume maksimal dimana paru dikembangkan sebesar mungkin
dengan inspirasi paksa.Volume dan kapasitas seluruh paru pada wanita 20 25%
lebih kecil daripada pria, dan lebih besar pada atlet dan orang yang bertubuh besar
daripada orang yang bertubuh kecil dan astenis.

Tabel 1. Daftar nilai KVP dan VEP1 beserta interpretasinya


Klasifikasi Nilai
Normal KVP 80%, VEP1/KVP75%
Gangguan Obstruksi VEP1< 80% nilai prediksi, VEP1/KVP< 70% nilai
prediksi
Gangguan Restriksi Kapasitas Vital (KV)< 80% nilai prediksi,
KVP<80%
Gangguan Campuran KVP< 80% nilai prediksi, VEP1/KVP< 75% nilai
prediksi

Klasifikasi nilai KVP dan VEP1 (Masyhudi, 2014)

Makna dari volume dan kapasitas paru


Faktor utama yang mempengaruhi kapasitas vital adalah bentuk anatomi tubuh,
posisi selama pengukuran kapasitas vital, kekuatan otot pernafasan dan pengembangan
paru dan rangka dada. Volume udara normal dalam paru bergantung pada bentuk dan
ukuran tubuh. Posisi tubuh juga mempengaruhi volume dan kapasitas paru, biasanya
menurun bila berbaring, dan meningkat bila berdiri. Perubahan pada posisi ini
disebabkan oleh dua faktor, yaitu kecenderungan isi abdomen menekan ke atas
melawan diafragma pada posisi berbaring dan peningkatan volume darah paru pada
posisi berbaring, yang berhubungan dengan pengecilan ruang yang tersedia untuk udara
dalam paru.
Berdasarkan nilai-nilai diatas fungsi paru dapat digolongkan menjadi dua yaitu
gangguan fungsi paru obstruktif (hambatan aliran udara) dan restriktif (hambatan
pengembangan paru). Seseorang dianggap mempunyai gangguan fungsi paru obstruktif
bila nilai VEP1/KVP kurang dari 70% dan menderita gangguan fungsi paru restriktif
bila nilai kapasitas vital kurang dari 80% dibanding dengan nilai standar.

Uji Fungsi Paru


Uji faal paru diatas untuk mengetahui apakah fungsi paru seseorang individu
dalam keadaan normal atau abnormal. Uji tersebut dilakukan dengan menilai fungsi
ventilasi, difusi gas, perfusi darah paru dan transport gas O2 dan CO2 dalam peredaran
darah. Pemeriksaan faal paru biasanya dikerjakan berdasarkan indikasi atau keperluan
tertentu, misalnya untuk menegakkan diagnosis penyakit paru tertentu, evaluasi
pengobatan asma, evaluasi rehabilitasi penyakit paru, evaluasi fungsi paru bagi
seseorang yang akan mengalami pembedahan toraks atau abdomen bagian atas,
penderita penyakit paru obstruktif menahun, akan mengalami anestasi umum
sedangkan yang bersangkutan menderita penyakit paru atau jantung dan keperluan
lainnya.
Fungsi paru dapat diukur dengan menggunakan spirometri. Spirometri adalah suatu
teknik pemeriksaan untuk mengetahui fungsi/faal paru, di mana pasien diminta untuk
meniup sekuatkuatnya melalui suatu alat yang dihubungkan dengan mesin spirometer
yang secara otomatis akan menghitung kekuatan, kecepatan dan volume udara yang
dikeluarkan, sehingga dengan demikian dapat diketahui kondisi faal paru seseorang.
Prosedur yang paling umum digunakan adalah subyek menarik nafas secara
maksimal dan menghembuskannya secepat dan selengkap mungkin dan Nilai KVP
dibandingkan terhadap nilai normal dan nilai prediksi berdasarkan usia, tinggi badan
dan jenis kelamin. Spirometer menggunakan prinsip salah satu hukum dalam fisika
yaitu hukum Archimedes. Hal ini tercermin pada saat spirometer ditiup, ketika itu
tabung yang berisi udara akan naik turun karena adanya gaya dorong ke atas akibat
adanya tekanan dari udara yang masuk ke spirometer.

B. Definisi Efusi Pleura


Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam
rongga pleura. Selain cairan dapat juga terjadi penumpukan pus atau darah. Efusi
pleura bukanlah suatu disease entity tapi suatu gejala penyakit yang serius yang
dapat mengancam jiwa penderita.
Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura
visceralis). Diantara pleura parietalis dan pleura visceralis terdapat suatu rongga
yang berisi cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan
bergerak selama pernafasan. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari
tekanan atmosfer, sehingga mencegah kolaps paru. Bila terserang penyakit, pleura
mungkin mengalami peradangan atau udara atau cairan dapat masuk ke dalam
rongga pleura menyebabkan paru tertekan atau kolaps.
Cairan dalam keadaan normal dalam rongga pleura bergerak dari kapiler
didalam pleura parietalis ke ruang pleura dan kemudian diserap kembali melalui
pleura visceralis. Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura visceralis
lebih besar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis
dan permukaan pleura visceralis lebih besar daripada pleura parietalis sehingga
pada ruang pleura dalam keadaan normal hanya terdapat beberapa mililiter
cairan.pada dasarnya efusi pleura itu merupakan komplikasi dari penyakit gagal
jantung kongesif, pneumonia, tuberculosis, embolis paru.

C. Etiologi
1. Efusi pleura transudativa
Di sebabkan oleh suatu kelainan pada tekanan normal di dalam paru-paru. Jenis
efusi transudativa yang paling sering di temukan adalah Gagal Jantung
Kongesif ( akibat terjadinya peningkatan vena sistemik dan tekanan kapiler
pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorbsi pembuluh darah subpleura
dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan
ke rongga pleura dan paru-paru meningkat)
2. Efusi pleura eksudativa
Terjadi akibat peradangan, yang seringkali di sebabkan oleh penyakit paru-
paru. Kangker, tuberculosis dan inveksi paru lainnya, reaksi obat, asbestosis
dan sarkoidosis merupaakan beberapaa contoh penyakit yang bisa
menyebabkan efusi pleura eksudativa
3. Penyebab lain
a. Gagal jantung
b. Kadar protein darah yang rendah
c. Sirosis
d. Pneumonia
e. Blastomikosis
f. Emboli paru
g. perikarditis
h. Tumor Pleura
i. Pemasangan NGT yang tdk baik
D. Tanda dan gejala
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena
pergesekan,setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila
cairan banyak, penderita akan sesak napas
2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri
dada pleuritis (pneumonia), panas tingg i (kokus), subfebril
(tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi, jika terjadi
mpenumpukan cairan pleural yang signifikan.
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan,
karenacairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak
dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati
daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis
melengkung(garis Ellis Damoiseu)
5. Didapati segitiga Garland yaitu daerah yang pada perkusi redup, timpani
dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco- Rochfusz, yaitu daerah
pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah
ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
6. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura

E. Epidemiologi
Efusi pleura sering terjadi di negara-negara yang sedang berkembang, salah
satunya di Indonesia. Hal ini lebih banyak diakibatkan oleh infeksi tuberkolosis.
Bila di negara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung
kongestif, keganasan, dan pneumonia bakteri.
Di Amerika efusi pleura menyerang 1,3 juta org/th. Di Indonesia TB Paru
adalah peyebab utama efusi pleura, disusul oleh keganasan. 2/3 efusi pleura maligna
mengenai wanita. Efusi pleura yang disebabkan karena TB lebih banyak mengenai
pria. Mortalitas dan morbiditas efusi pleura ditentukan berdasarkan penyebab,
tingkat keparahan dan jenis biochemical dalam cairan pleura. Karena merupakan
tanda dari suatu penyakit maka dari segi data kasus tidak ada angka pasti yang
spesifik untuk kasus efusi pleura tetapi yang ada hanyalah angka dari angka
kejadian dari kasus-kasus tertentu seperti sekitar 20-25% efusi pleura disebabkan
karena tuberkulosis khususnya pada negara berkembang termasuk Indonesia. Dari
berbagai penyebab ini keganasan merupakan sebab yang terpenting ditinjau dari
kegawatan paru dan angka ini berkisar antara 43-52%. Namun dipihak lain ada yang
mengatakan insidens terjadinya efusi pleura karena pneumoni sekitar 36-57%.
Distibusi seks untuk efusi pleura pada umumnya wanita lebih banyak dari pria,
sebaliknya yang disebabkan oleh tuberkulosis paru pria lebih banyak dari wanita.
Umur terbanyak untuk efusi pleura karena TB adalah 21-30 tahun (30,26%).

F. Komplikasi
1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang
baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis.
Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat
menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada
dibawahnya. Pembedahan pengupasan(dekortikasi) perlu dilakukan untuk
memisahkan membrane-membran pleura tersebut.
2. Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan
oleh penekanan akibat efusi pleura.
3. Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru
dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan
sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan peradangan.
Pada efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan
penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.
4. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik
pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan
mengakibatkan kolaps paru.
5. Pneumotoraks (karena udara masuk melalui jarum)
6. Hemotoraks ( karena trauma pada pembuluh darah interkostalis)
7. Emboli udara (karena adanya laserasi yang cukup dalam, menyebabkan udara
dari alveoli masuk ke vena pulmonalis)
8. Laserasi pleura viseralis
G. Patofisiologi
1. Narasi
Patofisiologi terjadinya effusi pleura tergantung pada keseimbangan
antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan
pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler.
Filtrasi yang terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan
interstitial submesotelial kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam
rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar
pleura.
Pada kondisi tertentu rongga pleura dapat terjadi penimbunan cairan
berupa transudat maupun eksudat. Transudat terjadi pada peningkatan tekanan
vena pulmonalis, misalnya pada gagal jatung kongestif. Pada kasus ini
keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dari pmbuluh darah.
Transudasi juga dapat terjadi pada hipoproteinemia seperti pada penyakit hati
dan ginjal. Penimbunan transudat dalam rongga pleura disebut hidrotoraks.
Cairan pleura cenderung tertimbun pada dasar paru akibat gaya gravitasi.
Penimbunan eksudat disebabkan oleh peradangan atau keganasan pleura, dan
akibat peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan absorpsi getah
bening.Jika efusi pleura mengandung nanah, keadaan ini disebut empiema.
Empiema disebabkan oleh perluasan infeksi dari struktur yang berdekatan dan
dapat merupakan komplikasi dari pneumonia, abses paru atau perforasi
karsinoma ke dalam rongga pleura. Bila efusi pleura berupa cairan hemoragis
disebut hemotoraks dan biasanya disebabkan karena trauma maupun keganasan.
Efusi pleura akan menghambat fungsi paru dengan membatasi
engembangannya. Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung pada
ukuran dan cepatnya perkembangan penyakit. Bila cairan tertimbun secara
perlahan-lahan maka jumlah cairan yang cukup besar mungkin akan terkumpul
dengan sedikit gangguan fisik yang nyata. Kondisi efusi pleura yang tidak
ditangani, pada akhirnya akan menyebabkan gagal nafas. Gagal nafas
didefinisikan sebagai kegagalan pernafasan bila tekanan partial Oksigen (Pa
O2) 60 mmHg atau tekanan partial Karbondioksida arteri (Pa Co2) 50
mmHg melalui pemeriksaan analisa gas darah. Di dalam rongga pleura terdapat
kurang lebih 5-15 ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan
pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura
parietalis karena adanya tekanan hidrostatik, tekanan koloid dan daya tarik
elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura
viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20 %) mengalir ke dalam pembuluh limfe
sehingga pasase cairan di sini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan
di rongga pleura (efusi pleura) terjadi bila keseimbangan antara produksi dan
absorpsi terganggu misalnya pada hiperemia akibat inflamasi, perubahan
tekanan osmotik, (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal
jantung). Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena
disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatik tekanan osmotik
koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan
infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan
berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih.
Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat
jenisnya rendah. Infeksi tuberkulosis pleura biasanya disebabkan oleh efek
primer sehingga berkembang pleuritis eksudativa tuberkulosa. Pergeseran
antara kedua pleura yang meradang akan menyebabkan nyeri. Suhu badan
mungkin hanya sub febril, kadang ada demam. Diagnosis pleuritis tuberkulosa
eksudativa ditegakkan dengan pungsi untuk pemeriksaan kuman basil tahan
asam dan jika perlu torakskopi untuk biopsi pleura.
Pada penanganannya, selain diperlukan tuberkulostatik, diperlukan juga istrahat
dan kalau perlu pemberian analgesik. Pungsi dilakukan bila cairan demikian
banyak dan menimbulkan sesak napas dan pendorongan mediastinum ke sisi
yang sehat. Penanganan yang baik akan memberikan prognosis yang baik, pada
fungsi paru-paru maupun pada penyakitnya.
2. Skema

Infeksi Penghambatan Tekanan


drainase limfatik osmotik koloid
plasma

Peradangan
permukaaan
Tekanan kapiler Transudasi
pleura
paru menigkat cairan
intravasculer

Permiabilitas
vasculer Tekanan
hidrostatik edema

transudasi Cavum pleura

EFUSI
PLEURA

Proses peradangan
Penumpukan pada rongga pleura
cairan dalam
rongga pleura
Pengeluaran endrogen
dan pirogen

Ekspansi paru
menurun febris

Demam
Pola nafas tidak Sesak nafas
efektif
hipertermi
Nyeri dada

Gangguan pola
tidur Nafsu makan
menurun
Gangguan
pemenuhan
kebutuhan
H. Diagnosa Medik nutrisi

1. Kultur sputum : dapat ditemukan positif Mycobacterium tuberculosis

2. Apusan darah asam Zehl-Neelsen : positif basil tahan asam

3. Skin test : positif bereaksi (area indurasi 10 mm, lebih besar, terjadi selama 48
72 jam setelah injeksi.

4. Foto thorax : pada tuberkulosis ditemukan infiltrasi lesi pada lapang atas paru,
deposit kalsium pada lesi primer, dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang
menghilang, serta gambaran batas cairan yang melengkung.

5. Biakan kultur : positif Mycobacterium tuberculosis

6. Biopsi paru : adanya giant cells berindikasi nekrosi (tuberkulosis)

7. Elektrolit : tergantung lokasi dan derajat penyakit, hyponatremia disebabkan


oleh retensi air yang abnormal pada tuberkulosis lanjut yang kronis

8. ABGs : Abnormal tergantung lokasi dan kerusakan residu paru-paru

9. Fungsi paru : Penurunan vital capacity, paningkatan dead space, peningkatan


rasio residual udara ke total lung capacity, dan penyakit pleural pada
tuberkulosis kronik tahap lanjut.
10. CT Scan ThoraksBerperan penting dalam mendeteksi ketidaknormalan
konfigurasi trakea serta cabang utama bronkus, menentukan lesi pada pleura
dan secara umum mengungkapkan sifat serta derajat kelainan bayangan yang
terdapat pada paru dan jaringan toraks lainnya.
11. Ultrasound
Ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang timbul dan sering
digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura
pada torakosentesis.

I. Penatalaksanaan
1. Medis
a. Aspirasi cairan pleura
Punksi pleura ditujukan untuk menegakkan diagnosa efusi plura yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopis cairan. Disamping itu punksi
ditujukan pula untuk melakukan aspirasi atas dasar gangguan fugsi restriktif
paru atau terjadinya desakan pada alat-alat mediastinal. Jumlah cairan yang
boleh diaspirasi ditentukan atas pertimbangan keadaan umum penderita, tensi
dan nadi. Makin lemah keadaan umum penderita makin sedikit jumlah cairan
pleura yang bisa diaspirasi untuk membantu pernafasan penderita.
Komplikasi yang dapat timbul dengan tindakan aspirasi :
1) Trauma
Karena aspirasi dilakukan dengan blind, kemungkinan dapat mengenai
pembuluh darah, saraf atau alat-alat lain disamping merobek pleura
parietalis yang dapat menyebabkan pneumothorak.
2) Mediastinal Displacement
Pindahnya struktur mediastinum dapat disebabkan oleh penekaran cairan
pleura tersebut. Tetapi tekanan negatif saat punksi dapat menyebabkan
bergesernya kembali struktur mediastinal. Tekanan negatif yang
berlangsung singkat menyebabkan pergeseran struktur mediastinal
kepada struktur semula atau struktur yang retroflux dapat menimbulkan
perburukan keadaan terutama disebabkan terjadinya gangguan pada
hemodinamik.
3) Gangguan keseimbangan cairan, Ph, elektroit, anemia dan
hipoproteinemia. Pada aspirasi pleura yang berulang kali dalam waktu
yang lama dapat menimbulkan tiga pengaruh pokok :
a) Menyebabkan berkurangnya berbagai komponen intra vasculer yang
dapat menyebabkan anemia, hipprotein, air dan berbagai gangguan
elektrolit dalam tubuh
b) Aspirasi cairan pleura menimbulkan tekanan cavum pleura yang
negatif sebagai faktor yang menimbulkan pembentukan cairan pleura
yang lebih banyak
c) Aspirasi pleura dapat menimbulkan sekunder aspirasi.

b. Water Seal Drainage


Telah dilakukan oleh berbagai penyelidik akan tetapi bila WSD ini dihentikan
maka akan terjadi kembali pembentukan cairan.

c. Penggunaan Obat-obatan
Penggunaan berbagai obat-obatan pada pleura effusi selain hasilnya yang
kontraversi juga mempunyai efek samping. Hal ini disebabkan pembentukan
cairan karena malignancy adalah karena erosi pembuluh darah. Oleh karena
itu penggunaan citostatic misalnya tryetilenthiophosporamide, nitrogen
mustard, dan penggunaan zat-zat lainnya seperi atabrine atau penggunaan talc
poudrage tidak memberikan hasil yang banyak oleh karena tidak menyentuh
pada faktor patofisiolgi dari terjadinya cairan pleura. Pada prinsipnya metode
untuk menghilangkan cairan pleura dapat pula menimbulkan gangguan fungsi
vital .
d. Thoracosintesis
a) Dapat dengan melakukan apirasi yang berulang-ulang dan dapat pula
dengan WSD atau dengan suction dengan tekanan 40 mmHg. Indikasi
untuk melakukan torasentesis adalah : Menghilangkan sesak napas yang
disebabkan oleh akumulasi cairan dalam rongga plera.
b) Bila therapi spesifik pada penyakit prmer tidak efektif atau gagal.
c) Bila terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura jangan lebih dari 1000 cc, karena
pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang
banyak dapat menimbulkan oedema paru yang ditandai dengan batuk dan
sesak. Kerugian :
1) Tindakan thoraksentesis menyebabkan kehilangan protein yang berada
dalam cairan pleura.
2) Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura.
3) Dapat terjadi pneumothoraks.
e. Radiasi
Radiasi pada tumor justru menimbulkan effusi pleura disebabkan oleh
karena kerusakan aliran limphe dari fibrosis. Akan tetapi beberapa publikasi
terdapat laporan berkurangnya cairan setelah radiasi pada tumor mediastinum.

2. Non Medis
Jenis diet yang diberikan pada kasus effusi pleura adalah TKTP (Tinggi Kalori
Tinggi Protein. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein
untuk mencegah dan mengurangi adanya kerusakan jaringan tubuh, khususnya
paru-paru. Selain itu diet TKTP juga memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh
Hemoglobin sebagai pigmen sel darah merah yang berfungsi sebagai zat
pengangkut oksigen dan karbondioksida akan berikatan dengan protein,
begitu pula dalam proses penggumpalan darah, protein juga dibutuhkan.
b. Mengatur keseimbangan cairan tubuh
Keseimbangan cairan dalam intraseluler, intravaskuler, dan interstisial
diatur oleh protein dan elektrolit, sehingga apabila terjadi kekurangan
protein akan dapat mengakibatkan penurunan dan perpindahan cairan.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Data demografi
Berisi data-data tentang klien mulai dari nama, umur, jk, alamat, dll serta berisi
identitas penanggung

b. Riwayat kesehatan
Berisi tentang penjelasan pasien masuk rumah sakit serta kapan klien masuk
rumah sakit, serta apa yang di keluhkan oleh klien saat ini

c. Riwayat kesehatan masa lalu


Berisi pernyataan klien, apakah pernah menderita penyakit yang sama
sebelumnya, pada riwayat kesehatan masa lalu klien hanya cukup menjelaskan
apakah pasien pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama

d. Genogram 3 generasi
Untuk mengetahui kemungkinan penyakit di turunkan pada keturunan
sesudahnya

e. PEMERIKSAAN FISIK
a) Tanda-Tanda Vital
1) Tekanan darah
2) Pernafasan :
3) Nadi :
4) Suhu :
b) Pernafasan
Vocal premitus tidak teraba, penurunan ekpansi paru, suara bernafas seperti
suara mengi
c) Cardiovaskuler
Biasanya terkena pada pasien yang gagal jantung kongesif, efusi pleura,
cenderung pada pasien yang terkena

f. Pola kegiatan sehari-hari


a) Pola istirahat dan tidur
1) Klien mengeluh lemah, napas pendek dengan usaha sekuat-kuatnya,
kesulitan tidur, demam pada sore atau malam hari disertai keringat
banyak
2) Ditemukan adanya tachicardia, tachypnea/dyspnea dengan usaha
bernapas se- kuat-kuatnya, perubahan kesadaran (pada tahap lanjut),
kelemahan otot , nyeri
b) Aktivitas dan latihan
Pada pasieen dengan efusi paru,. Kegiatan di kurangi, orang yang dengan
efusi paru tdk bisa terlalu capek, karna bisa menyebabkan pasien sulit
bernafas.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya penumpukan cairan
eksudat maupun transudat

b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri pada daerah dada

c. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia

d. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

3. Intervensi dan Rasional

1) Diagnosa 1: Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya penumpukan


cairan eksudat maupun transudat
a) Kaji kedalaman dan frekuensi serta ekspansi paru

R: untuk mengetahui frekuensi dan kedalaman pernafasan

b) Observasi vital sign

R: Untuk mengetahui tindakan selanjutnya

c) Auskultasi bunyi napas

R: untuk mengetahui bunyi nafas serta terkadang berisi cairan pendarahan,


bekuan atau kolaps

d) Tinggikan kepala dan bantu pasien untuk merubah posisi

R: merubah posisi atau meninggikan kepala dalam posisi semi fowler atau
fowler memungkinkan oksigen dapat di suplai dengan baik dan sedikit
menurunkan rasa sesak akibat tekanan cairan pada ronga dada

e) Bantu pasien untuk teknik rileksasi napas dalam

R: membantu pasien setidaknya untuk kenyamaanaan dalam mengontrol


psikolois pasien yang sulit untuk bernafas

f) Berikan oksigen tambahan

R: memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja bernafas

g) Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan torasintesis

R: pengeluaran cairan dengan menyuntik ke rongga pleura

2) Diagnosa 2: Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri pada daerah dada

a) Kaji penyebab susah tidur

R: Untuk mengetahui penyebab pasti klien susah tidur

b) Observasi pola tidur klien

R: Untuk mengetahui pola tidur klien dan pemberian intervensi

c) Putarkan music lembut untuk menenangkan klien

R: Menurunkan stimulasi sensorik serta mengalihkan pasien dari rasa nyeri


d) Berikan tempat tidur yang nyaman serta berikan barang pribadi milik klien,
seperti bantal dan guling

R: Meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis dan


psikologis

e) Beri kesempatan untuk klien istirahat

R: Aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahaan

f) Rubah posisi klien

R: Pengubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat

g) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat tidur

R: Mengurangi masalah susah tidur

3) Diagnosa 3: Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia

a) Kaji status nutrisi klien

R: Untuk mengetahui keadaan nutrisi tubuh pasien

b) Evaluasi kemampuan makan klien

R: Untuk mengetahui berapa banyak makanan yang masuk

c) Berikan makanan yang lembut dan mudah dicerna

R: Mencegah kelelahan berlebihan dan menurunkan risiko distress gaster

d) Berikan makanan yang bervariasi

R: Variasi makanan mendorong nafsu makan pasien

e) Anjurkan pasien PKTS

R: Agar pola nutrisi terpenuhi

f) Minta keluarga klien untuk menyuapi klien

R: Perhatian orang terdekat membuat pasien untuk nyaman dalam


menikmati makanan

g) Kolaborasi bersama dokkter pemberian vitamin dan obat penambah nafsu


makan
R: Untuk kondisi klien lebih baik lagi

4) Diagnosa 4: Hipertemi berhubungan dengan proses penyakit

a) Observasi tanda-tanda vital

R : Dengan mengobservasi tanda-tanda vital klien perawat dapat


mengetahui keadaan umum klien, serta dapat memantau suhu tubuh klien.

b) Pemberian kompres hangat pada pasien

R : Dengan pemberian kompres hangat dapat menurunkan demam pasien

c) Berikan minum per oral

R : Klien dengan hipertermi akan memproduksi keringat yang berlebih yang


dapat mengakibatkan tubuh kehilangan cairan yang banyak, sehingga
dengan memberikan minum peroral dapat menggantikan cairan yang hilang
serta menurunkan suhu tubuh.

d) Ganti pakaian yang basah oleh keringat

R : Klien dengan hipertermi akan mengalami produksi keringat yang


berlebihan sehingga menyebabkan pakaian basah. Pakaian basah diganti
untuk mencegah pasien kedinginan dan untuk menjaga kebersihan serta
mencegah perkembangan jamur dan bakteri.

e) Berikan selimut pendingin

R : Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,5-


400C pada waktu terjadi kerusakan/gangguan pada otak

f) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat penurun panas, misalnya


antipiretik

R : Obat tersebut digunakan untuk menurunkan demam dengan aksi


sentralnya pada hipotalamus

4. Evaluasi

Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dengan cara
menilai sejauh mana tujuan dan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak.
Dalam mengevaluasi, perawat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk
memahami respon terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan
kesimpulan tentang tujuan yang dicapai, serta kemampuan dalam menguhubungkan
tindakan keperawatan pada kriteria hasil. Evaluasi keperawatan pada asuhan
keperawatan efusi pleura yaitu:

a. Pola napas kembali efektif

b. Pola tidur klien teratur

c. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi

d. Suhu tubuh kembali normal

III. DAFTAR PUSTAKA

Dwianggita Pricilla. (2016). Etiologi Efusi Pleura pada pasien Rawat Inap diRumah
Sakit Umum pusat sanglah, denpasar, bali tahun 2013. Diakses tanggal 12
september 2017 dari http://etd.eprints.ums.ac.id

Leonardo, Jatu Aphridasari, Eddy Surjanto. (2014). Penyebab Efusi Pleura Pada Pasien
Rawat Inap Dirumah Sakit. Diakses tanggal 12 september 2017 dari
http://etd.eprints.ums.ac.id

Masyhudi. (2014). Anatomi dan Fisiologi Paru. Diakses tanggal 12 september 2017 dari
http://etd.eprints.ums.ac.id

Rejo, Iswahyuni S. (2014). Gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien


dengan gangguan sistem pernapasan: efusi Pleura pada pasien. Ejournal
akpermus. Vol. 6 No. 16. Diakses tanggal 12 september 2017 dari
http://etd.eprints.ums.ac.id