Anda di halaman 1dari 4

Nematoda Usus

Berdasarkan cara penyebaran, terdapat nematoda usus yang ditularkan melalui tanah (soil
transmitted heminths) yaitu kelompok cacing nematoda yang membutuhkan tanah untuk
pematangan dari bentuk non-infektif menjadi bentuk infektif.Contoh: Ascaris lumbricoides ,
Trichuris trichiura, Stongyloides stercoralis, Necator americanus, Ancylostoma duodenal.

Ascaris lumbricoides

I. Taksonomi

Kingdom : Animalia

Filum : Nematoda

Kelas : Rhabditea

Ordo : Ascaridida

Famili : Ascarididae

Genus : Ascaris

Species : Ascaris lumbricoides

II. Morfologi

Pada stadium dewasa, cacing ini dapat dibedakan jenis kelaminnya. Biasanya jenis
betina memiliki ukuran yang relatif lebih besar dengan ekor yang lurus atau runcing.

Ukuran cacing dewasa

jantan panjang 15 - 30 cm

lebar 0,2 0,4 cm

betina panjang 20 35 cm

lebar 0,3 0,6 cm

Umur cacing dewasa 1 2 tahun

Lokasi cacaing dewasa usus halus

Ukuran telur panjang 60 70 m


lebar 40 50 m

Jumlah telur/cacing 200.000 telur


betina/hari

Telur Ascaris lumbricoides

Lapisan telur A. lumbricoides: (1) albuminoid, lapisan terluar yang tebal; (2) hialin;
(3) vitellin

Infertile : Bentuknya lebih lonjong, bagian dalam bergranula karena berisi


protoplasma yang mati sehingga tampak lebih transparan.

Fertile : Memiliki dinding yang tebal dengan 3 lapisan telur, berisi embrio
yang belum mengalami pembelahan.

Embryonated : Merupakan perkembangan dari telur fertile setelah 3 minggu


berada di tanah, terdapat rongga udara, berisi larva, merupakan
tahap infektif.

Decorticated : Tidak memiliki lapisan albuminoid karena pengelupasan atau


karena proses mekanik.

III. Hospes dan Penyakit


Hospes : manusia
Nama penyakit : askariasis

IV. Daur Hidup


Telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk yang infektif dalam waktu kurang
lebih 3 minggu. Bentuk infektif tersebut bila tertelan oleh manusia, akan menetas
dalam usus halus. Larvanya menembus dinding dari usus halus menuju pembuluh
darah atau saluran limfe, lalu di alirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah
ke paru.
Larva di paru menembud dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk
rongga alveolus, kemudia naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea
larva menuju faring, sehingga menimbulkan rangsangan terhadap faring. Hal ini
menyebabkan penderita batuk karena rangsangan tersebut dan larva akan tertelan ke
dalam oesophagus lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi
cacing dewasa.Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan
waktu kurang lebih 2-3 minggu.

V. Patogenesis dan Diagnosis


Patogenesis
Gejala klinik oleh A. lumbricoides bergantung pada beberapa hal, antara lain
beratnya infeksi, keadaan penderita, daya tahan dan kerentanan penderita terhadap
infeksi cacing.Gejala klinik pada ascariasis dapat ditimbulkan oleh cacing dewasa
ataupun oleh stadium larva. Cacing dewasa, tinggal di antara lipatan mukosa usus
halus, sehingga dapat menimbulkan iritasi yang mengakibatkan rasa tidak enak pada
perut berupa mual serta sakit perut yang tidak jelas.Kadang- kadang cacing dewasa
dapat terbawa kea rah mulut karena adanya kontraksi usus (regurgitasi) dan
dimuntahkan keluar melalui mulut atau hidung.Pada keadaan tertentu cacing dewasa
mengembara ke saluran empedu, apendiks, kadang-kadang dapat masuk juga ke tuba
eustachii ataupun terisap masuk ke bronkus.
Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat berada di paru, terutama
pada orang yang rentan terjadi perdarahan kecil di dinding alveolus dan timbul
gangguan pada paru yang disertai batuk, demam, dan eosinofilia. Pada foto toraks
akan tampak infiltrat yang menghilang dalam waktu 3 minggu. Keadaan tersebut
disebut Sindrom Loeffler.
Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga
memperberat keadaan malnutrisi dan penurunan status kognitif pada anak sekolah
dasar.Efek yang serius terjadi bila cacing menggumpal dalam usus sehingga
terjadi obstruksi usus (ileus).

Diagnosis

1. Ditemukan telur A. lumbricoides dalam feses


2. Keluar cacing A. lumbricoides bersama feses/muntah
3. Pemeriksaan feses dengan metode langsung, penderita dinyatakan positif jika
ditemukan telur A. lumbricoides yang ferti/embyonated/decorticated.
4. Menemukan cacing dewasa dalam muntahan melalui mulut atau hidung, feses.

VI. Pencegahan
Melakukan promosi kesehatan yaitu pendidikan kesehatan dan penyuluhan
kesehatan tentang sanitasi yang baik, hygiene keluarga dan hygiene pribadi
seperti tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman, sebelum melakukan
persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan
menggunakan sabun, sayuran segar (mentah) yang akan dimakan sebagai lalapan,
harus dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat karena telur cacing Ascaris
dapat hidup dalam tanah selama bertahun-tahun. Juga peyuluhan tentang
pentingnya buang air besar di jamban, tidak di kali atau di kebun untuk
menghindari penyebaran dan penyakit ini.
Deteksi dini terhadap orang yang mempunyai risiko terkena penyakit askariasis
ini.