Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Paru-paru merupakan organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia karena tanpa
paru-paru manusia tidak dapat hidup. Dalam sistem ekskresi, paru-paru berfungsi untuk
mengeluarkan karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Di dalam paru-paru terjadi proses
pertukaran antara gas oksigen dan karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel
darah merah menangkap karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa
ke paru-paru. Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari paru-
paru melalui hidung. Kelainan-kelainan pada paru-paru diantaranya dapat berupa asma atau
sesak nafas, kanker paru-paru dan emphysema. Penyakit Paru Obstruksi Khronis (PPOK)
yang di dalamnya terdapat emfisema yang menjadi kontributor terbesar, di negara maju
merupakan masalah kesehatan utama, karena semakin bertambahnya penderita. Di Indonesia
tidak ditemukan data yang akurat tentang prevalensi PPOK.

Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) DEPKES RI 1992, menunjukkan angka


kematian emfisema, bronkhitis khronis dan asma menduduki peringkat ke 6 dari 10 penyebab
tersering kematian di Indonesia. Emfisema mempunyai kelainan berupa pelebaran abnormal
dan permanen ruang udara sebelah distal dari bronkhiolus terminalis. Kelainan yang
mendasari adalah destruksi difus dinding alveoli tanpa fibrosis yang nyata, bersifat kronis
progresif dan memberikan kecacatan yang menetap.1

Diagnosis pasti emfisema berdasarkan pendekatan patologinya sangat sulit dilakukan,


, sehingga penegakan diagnostik masih cenderung mempelajari emfisema dengan jalan
mengukur derajat abnormalitas faal paru dengan pemeriksaan spirometri sebagai standar baku
emas Pemeriksaan spirometri cukup sulit dan cukup lama serta sangat memerlukan
kerjasama pasien dalam hal melakukan manouver berkali-kali. Apabila pasien tidak mampu
melakukan manuver secara benar maka tidak akan didapatkan hasil spirometri yang akurat.2

1
Kelainan struktur jaringan berupa pelebaran abnormal dan permanen ruang udara
sebelah distal dari bronkhiolus terminalis yang terjadi pada emfisem ini dapat memberi
manifestasi pada gambaran radiologi foto polos thorax, sehingga pemahaman mengenai
interpretasi dari foto polos thorax dirasa sangat penting untuk diketahui karena mampu
memberi kontribusi penegakan diagnosis yang cepat dan akurat pada emfisema pulmonum
dan merupakan pemeriksaan yang lebih nyaman bagi pasien dibandingkan spirometri.2

Sedangkan untuk saat ini sebenarnya standar baku emas emfisema pulmonum secara

anatomi adalah High Resolution Computed Tomography. Meskipun tidak semua rumah sakit

di Indonesia memiliki alat tersebut dan biaya dari pemeriksaan HRCT juga sangat mahal,

namun pengetahuan terhadap pemeriksaan ini juga dirasa cukup penting kaena mengetahui

emfisema stadium dini dan juga detail klasifikasi jenis emfisemanya 2,7. Oleh karena itu

penulis tertarik untuk membahas clinical science session ini mengenai gambaran radiologis

foto polos dan CT Scan pada emfisema paru agar dapat mendiagnosis dengan baik dan

melakukan penanganan dengan cepat dan tepat, mengingat kelainan ini bersifat irreversibel.

1.2 Tujuan Penulisan

Penulisan clinical science session ini bertujuan untuk memahami serta menambah

pengetahuan tentang gambaran radiologis foto polos dan CT Scan pada emfisema paru.

1.3 Batasan Masalah

Pada clinical science session ini akan dibahas tentang definisi, epidemiologi, etiologi,

pathogenesis, diagnosis, penatalaksanaan serta prognosis dari gambaran radiologis foto polos

dan CT Scan pada emfisema paru

1.4 Metode Penulisan

Penulisan clinical science session ini menggunakan berbagai sumber kepustakaan.


BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Epidemiologi

Di Amerika Serikat kurang lebih 2 juta orang menderita emfisema. Emfisema


menduduki peringkat ke-9 diantara penyakit kronis yang dapat menimbulkan gangguan
aktifitas 2. Emfisema terdapat pada 65 % laki-laki dan 15 % wanita 1.

Data epidemiologis di Indonesia sangat kurang. Nawas dkk melakukan penelitian di


poliklinik paru RS Persahabatan Jakarta dan mendapatkan prevalensi PPOK sebanyak 26 %,
kedua terbanyak setelah tuberkulosis paru (65 %). Di Indonesia belum ada data mengenai
emfisema paru 2.

2.2 Definisi

Emfisema adalah suatu kelainan anatomik paru yang ditandai oleh pelebaran secara
abnormal saluran napas bagian distal bronkus terminalis, disertai dengan kerusakan dinding
alveolus yang ireversibel1
Berdasarkan tempat terjadinya proses kerusakan, emfisema dapat dibagi menjadi tiga1

Emfisema centriacinar, kelainan berawal dari bronkiolus respiratorius dan menyebar ke


perifer. Disebut juga emfisema centrilobular, bentuk ini berhubungan dengan riwayat
merokok jangka lama dan kelainan predominan pada setengah paru bagian atas.

Emfisema panacinar menghancurkan seluruh alveolus dengan pola yang seragam dan
predominan pada setengah paru bagian bawah. Emfisema tipe ini umumnya ditemukan
pada pasien dengan defisiensi alfa-1 antitripsin (AAT) homozigot. Pada seorang perokok,
emfisema panacinar lokal di dasar paru dapat menyertai emfisema centriacinar.

Emfisema paraseptal juga dikenal sebagai emfisema asinar distal, terutama merusak
struktur saluran napas distal, duktus alveolaris dan sakus alveolaris. Proses penyakit
terlokalisir di sekitar septa paru atau pleura. 4,5
Bula dapat terjadi pada emfisema jenis apapun, namn paling sering pada tipe paraseptal
dan centriacinar. Bula ini bisa menyebabkan pneumotoraks spontan. Giant bullae kadang-
kadang menyebabkan kompresi yang berat terhadap jaringan paru di sekitarnya.6

3
Gambar 2.1 Klasifikasi emfisema

2.3 Patogenesis

Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya emfisema paru yaitu rokok, polusi,
infeksi,obstruksi jalan napas.

1.Rokok
Secara patologis rokok dapat menyebabkan gangguan pergerakkan silia pada jalan
napas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan hiperplasi
kelenjar mucus bronkus. Gangguan pada silia, fungsi makrofag alveolar mempermudah
terjadinya peradangan pada bronkus dan bronkiolus, serta infeksi pada paru-paru.
Peradangan bronkus dan bronkiolus akan mengakibatkan obstruksi jalan napas, dinding
bronkiolus melemah dan alveoli pecah 2 .

Disamping itu, merokok akan merangsang leukosit polimorfonuklear melepaskan enzim


protease (proteolitik), dan menginaktifasi antiprotease (Alfa-1 anti tripsin), sehingga
terjadi ketidakseimbangan antara aktifitas keduanya 8

2.Polusi
Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan terjadinya emfisema. Insidensi
dan angka kematian emfisema dapat lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi.
Polusi udara seperti halnya asap tembakau juga menyebabkan gangguan pada silia,
menghambat fungsi makrofag alveolar 7,9,10,11.

4
3.Infeksi
Infeksi saluran napas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakit infeksi
saluran napas seperti pneumonia, bronkiolitis akut, asma bronkiale, dapat mengarah pada
obstruksi jalan napas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema 8.

4. Obstruksi jalan napas

Emfisema terjadi karena tertutupnya lumen bronkus atau bronkiolus, sehingga terjadi
mekanisme ventil. Udara dapat masuk ke dalam alveolus pada waktu inspirasi akan tetapi
tidak dapat keluar pada waktu ekspirasi. Etiologinya ialah benda asing di dalam lumen
dengan reaksi lokal, tumor intrabronkial di mediastinum, kongenital. Pada jenis yang
terakhir, obstruksi dapat disebabkan oleh defek tulang rawan bronkus 5.

2.4 Patofisiologi

Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekan alveolus-


alveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atau terlokalisasi, mengenai
sebagian atau seluruh paru 13.Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari
obstruksi sebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaran udara
dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pada pemasukannya. Dalam keadaan demikian
terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distal dari alveolus 13.
Pada emfisema paru penyempitan saluran nafas terutama disebabkan elastisitas paru
yang berkurang. Pada paru-paru normal terjadi keseimbangan antara tekanan yang menarik
jaringan paru ke luar yaitu disebabkan tekanan intrapleural dan otot-otot dinding dada dengan
tekanan yang menarik jaringan paru ke dalam yaitu elastisitas paru.

Bila terpapar iritasi yang mengandung radikal hidroksida (OH-). Sebagian besar
partikel bebas ini akan sampai di alveolus waktu menghisap rokok. Partikel ini merupakan
oksidan yang dapat merusak paru. Parenkim paru yang rusak oleh oksidan terjadi karena
rusaknya dinding alveolus dan timbulnya modifikasi fungsi dari anti elastase pada saluran
napas. Sehingga timbul kerusakan jaringan interstitial alveolus.

Partikel asap rokok dan polusi udara mengendap pada lapisan mukus yang melapisi
mukosa bronkus. Sehingga menghambat aktivitas silia. Pergerakan cairan yang melapisi
mukosa berkurang. Sehingga iritasi pada sel epitel mukosa meningkat. Hal ini akan lebih
merangsang kelenjar mukosa. Keadaan ini ditambah dengan gangguan aktivitas silia. Bila
oksidasi dan iritasi di saluran nafas terus berlangsung maka terjadi erosi epital serta
5
pembentukan jaringan parut. Selain itu terjadi pula metaplasi squamosa dan pembentukan
lapisan squamosa. Hal ini menimbulkan stenosis dan obstruksi saluran napas yang bersifat
irreversibel sehingga terjadi pelebaran alveolus yang permanen disertai kerusakan dinding
alveoli2

2.5 Diagnosis

Diagnosis emfisema adalah berdasarkan pada gejala atau keluhan yang didapat dari
anamnesis, tanda-tanda yang didapat dari pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Keluhan Pada emfisema paru keluhan utama adalah sesak nafas, batuk berdahak tidak begitu
mencolok, kadang-kadang disertai sedikit sputum mukoid.

a. Anamnesis
- Riwayat menghirup rokok.
- Riwayat terpajan zat kimia.
- Riwayat penyakit emfisema pada keluarga.
- Terdapat faktor predisposisi pada masa bayi misalnya BBLR, infeksi saluran nafas
berulang lingkungan asap rokok dan polusi udara.
- Sesak nafas waktu aktivitas terjadi bertahap dan memburuk dalam beberapa tahun. 1,2.

b. Pemeriksaan fisik
Inspeksi :
Pursed-lips breathing (mulut setengah terkatup).
Dada berbentuk barrel-chest.
Sela iga melebar.
Sternum menonjol.
Retraksi intercostal saat inspirasi.
Penggunaan otot bantu pernapasan.

Palpasi : vokal fremitus melemah.

Perkusi : hipersonor, hepar terdorong ke bawah, batas jantung mengecil, letak diafragma
rendah.

Auskultasi :
Suara nafas vesikuler normal atau melemah.
Terdapat ronki samar-samar.

6
Wheezing terdengar pada waktu inspirasi maupun ekspirasi.
Ekspirasi memanjang.
Bunyi jantung terdengar jauh, bila terdapat hipertensi pulmonale akan terdengar suara P2
mengeras pada LSB II-III 1,2.

c. Pemeriksaan penunjang

1. Faal Paru

Spirometri(VEP,KVP).
Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%) dan atau VEP1/KVP (%).
Dikatakan obstruksi apabila : % VEP1(VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1%
(VEP1/KVP) < 75 %
Uji bronkodilator, Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan
15-20 menit kemudian dilihat perubahan nilai VEP 1 1,2,.
2. Darah Rutin

Hb,Ht,Leukosit1.

3. Gambaran Radiologis


Foto toraks PA dan lateral berguna untuk menyingkirkan penyakit paru lain

HRCT (High Resolution CT-Scan) untuk mendeteksi emfisema dini dan menilai
jenis serta derajat emfisema atau bula yang tidak terdeteksi oleh foto toraks polos

Pemeriksaan Analisis Gas Darah
Terdapat hipoksemia dan hipokalemia akibat kerusakan kapiler alveoli 6.
4. Pemeriksaan EKG
Untuk mengetahui komplikasi pada jantung yang ditandai hipertensi pulmonal dan
hipertrofi ventrikel kanan.

5. Pemeriksaan Enzimatik
Kadar alfa-1-antitripsin rendah

2.6 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan emfisema secara umum meliputi :

a. Penatalaksanaan umum

7
b. Pemberian obat-obatan

c. Terapi oksigen

d. Latihan fisik

e. Rehabilitasi

f. Fisioterapi

1. Penatalaksanaan umum

Pendidikan terhadap keluarga dan penderita

Mereka harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mencetuskan eksaserbasi serta


faktor yang bisa memperburuk penyakit. Ini perlu peranan aktif penderita untuk usaha
pencegahan 9.

Menghindari rokok dan zat inhalasi

Rokok merupakan faktor utama yang dapat memperburuk perjalanan penyakit.


Penderita harus berhenti merokok. Di samping itu zat-zat inhalasi yang bersifat iritasi
harus dihindari. Karena zat itu menimbulkan ekserbasi / memperburuk perjalanan
penyakit 1.

Menghindari infeksi saluran nafas

Infeksi saluran nafas sedapat mungkin dihindari oleh karena dapat menimbulkan suatu
eksaserbasi akut penyakit. 1.

2. Pemberian obat-obatan.

a. Bronkodilator

Derivat Xantin

Sejak dulu obat golongan teofilin sering digunakan pada emfisema paru. Obat
ini menghambat enzim fosfodiesterase sehingga cAMP yang bekerja sebagai
bronkodilator dapat dipertahankan pada kadar yang tinggi ex : teofilin,
aminofilin 1,11.
8
2. Gol Agonis

Obat ini menimbulkan bronkodilatasi. Reseptor beta berhubungan erat dengan


adenil siklase yaitu substansi penting yang menghasilkan siklik AMP yang
menyebabkan bronkodilatasi. Pemberian dalam bentuk aerosol lebih efektif.
Obat yang tergolong beta-2 agonis adalah : terbutalin, metaproterenol dan
albuterol.

Antikolinergik
Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor kolinergik sehingga menekan
enzim guanilsiklase. Kemudian pembentukan cAMP sehingga bronkospasme
menjadi terhambat ex : Ipratropium bromida diberikan dalam bentuk inhalasi 8.

b.Kortikosteroid
Manfaat kortikosteroid pada pengobatan obstruksi jalan napas pada emfisema masih
diperdebatkan. Pada sejumlah penderita mungkin memberi perbaikan. Pengobatan
dihentikan bila tidak ada respon. Obat yang termasuk di dalamnya adalah : dexametason,
prednison dan prednisolon 1,11.

c. Ekspectoran dan Mucolitik

Usaha untuk mengeluarkan dan mengurangi mukus merupakan yang utama dan
penting pada pengelolaan emfisema paru. Ekspectoran dan mucolitik yang biasa dipakai
adalah bromheksin dan karboksi metil sistein diberikan pada keadaan eksaserbasi. Asetil
sistein selain bersifat mukolitik juga mempunyai efek anti oksidans yang melindungi
saluran aspas dari kerusakan yang disebabkan oleh oksidans 3.

d.Antibiotik
Infeksi sangat berperan pada perjalanan penyakit paru obstruksi terutama pada
keadaan eksaserbasi. Bila infeksi berlanjut maka perjalanan penyakit akan semakin
memburuk. Penanganan infeksi yang cepat dan tepat sangat perlu dalam penatalaksanaan
penyakit. Pemberian antibiotik dapat mengurangi lama dan beratnya eksaserbasi.
Antibiotik yang bermanfaat adalah golongan Penisilin, eritromisin dan kotrimoksazol
biasanya diberikan selama 7-10 hari. Apabila antibiotik tidak memberikan perbaikan
maka perlu dilakukan pemeriksaan mikroorganisme 1.

3. Terapi oksigen
9
Pada penderita dengan hipoksemia yaitu PaO2 < 55 mmHg. Pemberian oksigen
konsentrasi rendah 1-3 liter/menit secara terus menerus memberikan perbaikan psikis,
koordinasi otot, toleransi beban kerja 1.

4. Latihan fisik

Hal ini dianjurkan sebagai suatu cara untuk meningkatkan kapasitas latihan pada
pasien yang sesak nafas berat. Sedikit perbaikan dapat ditunjukan tetapi pengobatan jenis
ini membutuhkan staf dan waktu yang hanya cocok untuk sebagian kecil pasien. Latihan
pernapasan sendiri tidak menunjukkan manfaat 5.

5.Rehabilitasi
Rehabilitasi psikis berguna untuk menenangkan penderita yang cemas dan
mempunyai rasa tertekan akibat penyakitnya. Sedangkan rehabilitasi pekerjaan dilakukan
untuk memotivasi penderita melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan
fisiknya. Misalnya bila istirahat lebih baik duduk daripada berdiri atau dalam melakukan
pekerjaan harus lambat tapi teratur 3.

6. Fisioterapi
Tujuan dari fisioterapi adalah :
Membantu mengeluarkan sputum dan meningkatkan efisiensi batuk.
Mengatasi gangguan pernapasan pasien.
Memperbaiki gangguan pengembangan thoraks.
Meningkatkan kekuatan otot-otot pernapasan.
Mengurangi spasme otot leher11.

2.7 Prognosis

Prognosis jangka pendek maupun jangka panjang bergantung pada umur dan gejala klinis
waktu berobat. Penderita yang berumur kurang dari 50 tahun dengan :
Sesak ringan, 5 tahun kemudian akan terlihat ada perbaikan.
Sesak sedang, 5 tahun kemudian 42 % penderita akan sesak lebih berat dan meninggal.

2.8 Diagnostik Emfisema Paru Melalui Gambaran Radiologis

2.8.1 Foto Polos


10
Elastin dan kolagen merupakan komponen utama dari anyaman jaringan ikat paru
yang secara bersama menentukan daya elastisitas paru. Destruksi serat elastin, deposisi
dan bentuk remodelling kolagen, merupakan kelainan yang mendasari terjadinya
pembesaran ruang udara pada emfisema. Kelainan struktur jaringan inilah yang dapat
memberi manifestasi pada gambaran radiologi foto thorax.3Rontgen foto thoraks tidak
dapat menggambarkan emfisema secara langsung, melainkan lebih merujuk kepada
diagnosis-diagnosis yang berkaitan terhadap beberapa hal, yaitu:

Hiperinflasi:

hemidiafragma yang mendatar: tanda yang paling dapat diandalkan

lapangan paru menjadi tampak hiperlusen

peningkatan udara retrosternal

peningkatan diameter antero-posterior dada

jarak antar tulang rusuk melebar

jantung menggantung (jantung pendulum / vertical heart / tear drop / eye drop
appearance)

Perubahan vaskular:

kekurangan pembuluh darah, sering terdistorsi

pulmonary arterial hypertension

- pemotongan pembuluh perifer

- peningkatan ukuran dari arteri sentral

- pembesaran ventrikel kanan14,15

11
Gambar 2.2 Rontgen Foto Normal16

Gambar 2.3 Rontgen Foto Emfisema16

12
Melalui penggunaan fontgen foto polos ini, kurang dapat dibedakan dari tipe-tipe
emfisema, kecuali apabila memang penyakit sudah berlanjut menjadi parah, atau apabila
terbentuk bulla, maka dapat terlihat.

Gambar 2.4 Rontgen Foto Emfisema Centrilobular16

Gambar 2.5 Rontgen Foto Emfisema Panlobular16

13
Gambar 2.6 Rontgen Foto Emfisema dengan Bulla16

2.8.2High Resolution Computed Tomography


Computed tomography (CT) lebih unggul dari rontgen polos dada dalam
menunjukkan keberadaan, perluasan, dan keparahan emfisema. CT resolusi tinggi (HRCT)
telah mengangkat sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk memiliki emfisema. Hal ini juga
dapat terjadi dengan HRCT untuk membedakan antara jenis tomic analisa emfisema (Kotak
10-3).17
Emfisema centrilobular ditandai pada HRCT dengan adanya multipel, kecil, dan
daerah abnormal seputaran yang beberapa milimeter sampai 1 cm dengan diameter dan
didistribusikan ke seluruh paru-paru, biasanya dengan lobus dominasi atas (Gambar 2.7).
Lokasi centrilobular dari lucencies ini kadang-kadang dapat dikenali. Para lucencies
cenderung banyak, kecil, dan "jerawatan." Secara klasik, bidang atenuasi rendah emfisema
centrilobular kekurangan dinding terlihat. Sebagai penyakit menjadi lebih parah, bidang
penghancuran paru menjadi lebih terimpit, dan distribusi centrilobular mungkin tidak lagi
dikenali (Gambar 2.8). Pada gambaran HRCT dapat dengan jelas memperlihatkan emfisema
panlobular. 17

14
Gambar 2.7 CT pada Centrilobular Emphysema (Axial & Coronal) 17

Gambar 2.8 CT pada Severe Centrilobular Emphysema17

Emfisema panlobular ditandai pada HRCT oleh adanya pembuluh paru yang lebih
sedikit dan lebih kecil dari normal (Gambar 2.9). Hal ini hampir selalu lebih parah di lobus
lebih rendah tetapi mungkin muncul menyebar. Ketika itu maju, kerusakan paru-paru yang
luas dapat diidentifikasi, dan kurangnya terkait kapal yang mudah terdeteksi. Namun, dalam
penyakit sedang, peningkatan lucency dari parenkim paru-paru dan terbatas, sedikit
penurunan kaliber pembuluh paru mungkin lebih sulit untuk mengenali. 17

15
Gambar 2.9 CT pada Panlobular Emphysema (Axial & Coronal) 17

Mild emfisema paraseptal (Gambar 2.10) mudah dideteksi oleh HRCT. Penampilan
adalah bahwa beberapa daerah sub emfisema pleura, sering dengan dinding tipis yang terlihat
yang cor- menanggapi interlobular septa. Emfisema yang terlokalisir di zona subpleural dan
sepanjang celah interlobar. Ketika lebih besar dari 1 cm, bidang emfisema paraseptal paling
tepat disebut bula. Bula subpleural adalah manifestasi dari emfisema paraseptal, meskipun
mereka dapat dilihat di semua jenis emfisema. Mereka sering dikaitkan dengan pneumotoraks
spontan pada orang dewasa muda. 17

Gambar 2.10 CT pada Paraseptal Emphysema (Axial & Coronal) 17

Paracicatricial atau emfisema tidak teratur (Gambar 2.11) adalah emfisema fokus
yang biasanya ditemukan berdekatan dengan parenkim bekas luka, fibrosis paru difus, dan di

16
pneumoconiosis, terutama ketika progresif, fibrosis masif hadir. Hal ini biasanya diakui CT
saat fibrosis terkait diidentifikasi. 17

Gambar 2.11 CT pada Panlobular Emphysema (Axial & Coronal) 17

Kotak 10-3. Emphysema as Seen on High-Resolution


Computed Tomography17

TYPES
Centrilobular
Multiple, small areasof low attenuation
Nowalls
Upperlobes
Panlobular
Fewer and smaller vessels
Lower lobes
Low attenuation parenchyma
Paraseptal
Subpleural and a long fissures
Thin walls Singlerow Paracicatricial
Usually focal
Associated with scars
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Honeycombing Pneumatoceles
Cystic lung disease
Bronchiolitis obliterans

2.8.2.1 Indikasi klinis


HRCT sering digunakan sebagai alat diagnostik dalam emfisema. Diagnosis biasanya
didasarkan pada kombinasi dari gejala klinis, riwayat merokok, dan fungsi yang kompatibel
pada kelainan paru. Namun, HRCT mungkin berguna dalam mendiagnosis pasien yang
temuan klinisnya menunjukkan proses penyakit lain, seperti penyakit paru interstitial atau
17
penyakit pembuluh darah paru: sesak napas dan kapasitas difusi yang rendah tanpa adanya
bukti obstruksi jalan napas pada tes fungsi paru. Untuk pasien ini, HRCT dapat berguna
dalam mendeteksi adanya emfisema dan termasuk kelainan lain di dada. 17
Beberapa metode HRCT yang tersedia menilai secara kuantitatif derajat keparahan
dari emfisema. Metode kuantitatif yang paling umum adalah analisis densitometri paru.
Teknik ini memberikan histogram nilai redaman paru-paru dan menghitung daerah paru-
paruyang ditempati oleh piksel dalam kisaran nilai redaman yang telah ditentukan. Nilai
ambang batas untuk emfisema biasanya diatur antara -900 dan -950Unit Hounsfield. Dengan
menerapkan teknik ini untuk satu set data yang volumetrik CT, volume jaringan paru-paru
yang terlibat dengan emfisema dapat ditentukan dibandingkan dengan total volume paru
(Gambar 2.12). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa metode CT visual dan
kuantitatif untuk memperkirakan keparahan emphysema berkorelasi dengan temuan pada
spesimen patologis dari paru-paru emphysematosus. Namun, metode kuantitatif telah
terbukti memberikan penilaian yang lebih obyektif dan dapat diandalkan dibandingkan skor
visual. 17
Meskipun tidak secara rutin digunakan, pengolahan data setelah CT menggunakan
intensitas proyeksi minimum (MIP) teknik, yang menyoroti els terendah-redaman vox- pada
CT, telah ditunjukkan untuk meningkatkan deteksi emfisema ringan (Gambar 2.2). Metode
ini dapat membantu untuk meningkatkan deteksi emfisema ringan bila gambar HRCT
konvensional yang samar-samar. 17

Gambar 2.12 Teknik CT densitometry pada Emphysema17

18
Gambar 2.13 metode MIP pada CT Emphysema (Axial) 17

2.8.2.2 Diferensial Diagnosis


Beberapa keadaan harus dipertimbangkan dalam mendiferensialkan diagnosis dari
emphysema pada HRCT. Yang pertama adalah gambaran honeycomb (sarang lebah), yang
terjadi pada fibrosis paru dan ditandai oleh daerah lesi kistik subpleural yang agak meniru
penampilan emfisema paraseptal. Namun, kista sarang lebah biasanya lebih kecil; mereka
terjadi di beberapa lapisan sepanjang permukaan pleura, terlokalisasi di basis paru-paru, dan
berkaitan dengan temuan lain dari fibrosis. Emfisema Paraseptal sering dikaitkan dengan bula,
dan daerah emfisema yang lebih besar dan hal ini terjadi dalam satu lapisan. Mereka
mendominasi di lobus atas tanpa bukti fibrosis. 17
Fitur kedua yang harus dipertimbangkan dalam diferensial diagnosis pada emfisema
adalah pneumatoceles. Sebuah pneumatocele adalah, ruang berisi gas berdinding tipis dalam
paru-paru yang biasanya dikaitkan dengan pneumonia akut atau beberapa infeksi kronis,
seperti pneumonia jiroveci (sebelumnya P. carinii) pneumonia. Mereka biasanya sementara
dan dapat diidentikkan dengan bula pada HRCT. Namun, hubungan dengan infeksi saat ini
atau sebelumnya harus menunjukkan diagnosis. 17
Keadaan ketiga adalah penyakit paru-paru kistik. Beberapa, kista paru berdinding tipis
dapat dilihat dalam berbagai gangguan, terutama penyakit paru-paru infiltratif, seperti
lymphangioleiomyomatosis dan sel Langerhans Histiositosis. Kista ini biasanya dapat

19
dibedakan dari emfisema centrilobular karena dinding lebih jelas dan kista paru terlihat lebih
besar. Ketika lucency dapat diidentifikasi secara jelas sebagai dalam pusat lobulus paru, itu
adalah diagnostik emfisema centrilobular. Bronkiektasis kistik dapat dengan mudah
dibedakan dari kista paru-paru dan emfisema berdasarkan konektivitas dengan saluran udara
proksimal dan hubungan konstan dengan arteri pulmonalis yang menyertainya. 17
Kemungkinan keempat adalah obliterans bronchiolitis. Obliterans bronchiolitis,
penyakit saluran napas yang kecil, dapat mengakibatkan peningkatan volume paru-paru dan
oligemia yang mirip dengan emphysema panlobular. Namun, biasanya memiliki distribusi
merata, yang merupakan ciri pembeda yang penting. Beberapa pelebaran saluran udara sentral
dengan bronkiektasis ringan lebih sering terjadi pada pasien dengan obliterans bronchiolitis
dibandingkan pada pasien dengan emfisema panlobular. 17

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Emfisema adalah suatu kelainan anatomik paru yang ditandai oleh pelebaran secara
abnormal saluran napas bagian distal bronkus terminalis, disertai dengan kerusakan dinding
alveolus yang ireversibel . Diagnosis emfisema adalah berdasarkan pada gejala atau keluhan
yang didapat dari anamnesis, tanda-tanda yang didapat dari pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.
Rontgen foto thoraks tidak dapat menggambarkan emfisema secara langsung, akan
tetapi penggunaannya dapat membantu diagnostik untuk emfisema ini, khususnya untuk
pemeriksaan radiologis pertama yang bisa memperlihatkan tanda-tanda dari emfisema ini.
Meskipun begitu, foto polos thorax masih banyak memberikan diagnosis diferensial dalam
penilaiannya. Melalui penggunaan fontgen foto polos ini, kurang dapat dibedakan dari tipe-
tipe emfisema, kecuali apabila memang penyakit sudah berlanjut menjadi parah, atau apabila
terbentuk bulla, maka dapat terlihat.
Computed tomography (CT) lebih unggul dari rontgen polos dada dalam menunjukkan
keberadaan, perluasan, dan keparahan emfisema. CT resolusi tinggi (HRCT) telah
mengangkat sensitivitas dan spesifisitas tinggi untuk memiliki emfisema.
Karena itu menurut penulis, penilaian spesifik pada foto polos thorax dapat menilai
sementara untuk diagnosis emfisema (apabila emfisema sudah berat). Untuk pemeriksaan
lebih pasti dan jelas, lebih baik menggunakan CT scan dengan resolusi tinggi untuk
menampakkan gambaran paru secara jelas dan spesifik, agar diagnosis emfisema dapat di
tegakkan sesuai gambaran anatomisnya.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Mangunnegoro H, PPOK3 Pedoman Diagnosis Dan Penatalaksanaan Di Indonesia,


Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta, 2001 Hal 1-24.

2. Kusumaningrum S. Validitas Foto Thorax Proyeksi Posterio-Anterior Untuk


Menegakkan Diagnosis Emfisema Pulmonum. Iomedika, 2009, Volume 1, Nomor 2.

3. Soemantri S, Bronkhilis Kronik Dan Emfisema Paru Dalam : Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 2,
Balai Penerbit Fkui, Jakarta 1990; Hal 754-61.

4. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( Ppok )Pedoman
Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia.2003

5. Rubin E.H, Rubin M, Diffuse Obstructive Emphysema In Thoracic Disease Emphasizing


Cardiopulmonary Disease, W.B Saunders Company, London, 1961, Page 398-432.

6. Surya.Da, Bronkhitis Kronik Dan Empisema Dalam : Manual Ilmu Penyakit Paru,
Binarupa Aksara, Jakarta, 1990, Hal 221-25.

7. Empisema Paru Dalam : Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Penyakit Paru, Rumah Sakit
Umum Daerah Dokter Soetomo, Surabaya, 1994, Hal 91-93.

8.Ganong W.F, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Egc, Jakarta, 1998, Hal 673.

9. Darmono, Penyakit Paru Obstruktif Menahun Dalam : Patogenesis Dan Pengelolaan


Menyeluruh, Badan Penerbit Undip, 1990, Hal 83-89.

10. Yunus F, Penatalaksanaan Penyakit Paru Obstruksi, Cermin Dunia Kedokteran, No. 114,
Jakarta, 1997, Hal 28-31.

11. Suharto, Fisioterapi Pada Empisema, Cermin Dunia Kedokteran No. 128, Jakarta, 2000,
Hal 22-24.

12. Saputra L, Terapi Mutakhir Penyakit Saluran Pernapasan, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997,
Hal 250-57.

13. Boat. T.F, Emfisema And Full Air Fluid, In : Behrman R.E, Et.Al. (Ed), 1993, Nelson
Textbook Of Pediatrics, Fourteenth Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia , Page
102-16.

14. Dr LuijkxT, Dr Danaher L Et Al. Pulmonary Emphysema. 2010. Diakses


22
padaHttp://Radiopaedia.Org/Articles/Pulmonary-Emphysema

15. Arcot Chandrasekhar, M.D. Chronic Obstructive Lung Disease ( Copd) / Emphysema.
2012. Diakses Pada
Http://Www.Stritch.Luc.Edu/Lumen/Meded/Radio/Curriculum/Medicine/Emphysema.Htm

16. Webb WB, Emphysema and Chronic Pulmonary Disease. Thoracic Imaging : Pulmonary
and Cardiovascular Radiology 2011. Lippincott : Philadelphia. Page 596-608

17. Mcloud, Theresia C. 2010. Chronic Obstructive Pulmonary Disease And Asthma. In
(Thoracic Radiology 2nd Ed).Philadelphia:Elsevier. Page 201-212

23