Anda di halaman 1dari 46

DAFTAR ISI

Halaman

BAB I PENGERTIAN FISIOLOGI HEWAN DAN KAITANNYA


DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA
1.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 1
1.1.1. Pengertian Fisiologi ------------------------------------------------ 1
BAB II FUNGSI SEL DAN HOMEOSTATIS
2.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 5
2.1.1. Homeostatis --------------------------------------------------------- 5
2.1.2. Membran Sel -------------------------------------------------------- 5
2.1.3. Translokasi Zat Melewati Membran Sel ------------------------ 6
BAB III SISTEM SARAF
3.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 8
3.1.1. Struktur Neuron ----------------------------------------------------- 8
3.1.2. Potensia Istirahat ---------------------------------------------------- 9
3.1.3. Penghantaran Impuls ----------------------------------------------- 10
3.1.4. Pemindahan Impuls ------------------------------------------------ 11
BAB IV SISTEM HORMON
4.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 12
4.1.1. Integrasi Fisiologi -------------------------------------------------- 12
4.1.2. Klasifikasi Sistem Hormon ---------------------------------------- 13
4.1.3. Klasifikasi Fungsional Hormon ---------------------------------- 13
4.1.4. Regulasi Sekresi Hormon ----------------------------------------- 14
BAB V OTOT DAN GERAK
5.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 15
5.1.1. Gerak Otot ----------------------------------------------------------- 15
5.1.2. Struktur Otot--------------------------------------------------------- 15
5.1.3. Pengaktifan Otot ---------------------------------------------------- 16
5.1.4. Kontraksi Tunggal -------------------------------------------------- 17
5.1.5. Tetanus dan Tonus-------------------------------------------------- 18
5.1.6. Kopel Eksitasi Kontraksi ------------------------------------------ 19
BAB VI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN
6.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 21
6.1.1. Pencernaan ----------------------------------------------------------- 21
BAB VII SISTEM PEREDARAN
7.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 28
7.1.1. Sistem Peredaran --------------------------------------------------- 28
7.1.2. Jantung --------------------------------------------------------------- 28
7.1.3. Struktur dan Aktivitas Jantung Hewan Menyusu dan
Burung---------------------------------------------------------------- 29
7.1.4. Daur Aktivitas Jantung Hewan Menyusu dan Burung -------- 30
7.1.5. Darah dan Limfa ---------------------------------------------------- 31
Bahan Ajar Fisiologi Hewan

BAB VIII SISTEM RESPIRASI


8.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 33
8.1.1. Macam-macam Alat Respirasi dan Cara Kerjanya ------------ 33
8.1.2. Paru-paru dan Mekanisme Ventilasi Pada Amfibi Dan
Reptil ----------------------------------------------------------------- 34
8.1.3. Transpor Gas Pernapasan ------------------------------------------ 35
BAB IX SISTEM EKSKRESI DAN OSMOREGULASI
9.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 37
9.1.1. Ekskresi -------------------------------------------------------------- 37
9.1.2. Osmoregulasi Pada Burung dan Vertebrata Rendah ----------- 40
BAB X TERMOREGULASI
10.1. Pendahuluan ------------------------------------------------------------------ 42
10.2. Penyajian ---------------------------------------------------------------------- 42

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR


BAB I
PENGERTIAN FISIOLOGI HEWAN DAN KAITANNYA
DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA

1.1. Pendahuluan
Deskripsi singkat
Bab ini menguraikan pengertian fisiologi hewan, konsep-konsep yang mendasari
penelitian fisiologi dan bidang-bidang khusus dalam fisiologi hewan tersebut.

1.1.1. Pengertian Fisiologi


Fisiologi ialah salah satu cabang biologi yang membahas tentang fungsi,
benda-benda yang hidup. Batasan yang lebih modern menyatakan bahwa fisiologi
merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang homeostasis dan mekanisme
pengendalian yang berlangsung untuk mencapai dan memelihara homeostasis.
Homeostasis adalah istilah yang dipakai oleh seorang ahli fisiologi (Wlater B.
Canon 1871-1945) untuk menunjukkan adanya stabilitas yang dipertahankan di dalam
badan pada suatu organisme yang hidup, walaupun banyak faktor yang kemungkinan
mencoba merubah stabilitas itu.
Berkaitan dengan batasan tersebut diatas, fisiologi hewan membahas tentang
fungsi alat dalam tubuh hewan dana manusia dalam usahanya mencapai dan
memelihara homeostasis. Dengan demikian keadaan tubuh yang normal/sehat
menggambarkan pelaksanaan secara tepat homeokinesis dan homoedinamika di
dalamnya.
Beberapa ahli yang berpandangan mekanistik menyatakan bahwa fenomena
fisiologi dapat dijelaskan dengan ilmu kimia, fisika dan matematika. Selain itu masih
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
diperlukan juga bantuan (1) anatomi, untuk menjelaskan fenomena fisiologi atas dasar
susunan suatu alat; (2) biokimia, untuk menjelaskan berbagai fenomea fisiologi
berdasarkan reaksi kimia baik yang terjadi di dalam maupun diluar sel; (3) biofisika,
untuk memberikan panduan dalam menjelaskan fenomena listrik dan mekanik yang
terjadi di dalam tubuh dan (4) genetika, untuk menerangkan fenomea fisiologi yang
berupa kemampuan herediter, diferensiasi dan perkembangan. Dengan demikian
dalam fisiologi terjadi perpaduan antara keterangan-keterangan dari masing-masing
disiplin ilmu. Suatu keuntungan yang diperoleh dalam mempelajari fisiologi hewan,
yaitu adanya kesamaan fungsi alat dalam berbagai hewan termasuk mamalia. Sehingga

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 1


banyak informasi yang diperoleh dari percobaan-percobaan pada hewan yang dapat
diterapkan pada manusia.
Bidang-bidang khusus dalam fisiologi hewan. Bertolak dari kenyataan bahwa
dalam fisiologi hewan akan muncul bidang-bidang khusus yang menekankan pada satu
aspek atau lebih penekanan pada sistem organ tertentu atau jenis aktivitas tertentu
misalnya Endokrinologi yang berkaitan dengan jaringan penghasil hormon dan
fungsinya. Neurofisiologi yang berhubungan dengan struktur dan fungsi sistem saraf
pada semua tingkat.
Fisiologi perilaku mendapat banyak perhatian dan menjadi sasaran dari
berbagai penelitian, mulai dari basis molekuler, penerimaan perasaan atau proses
pengubahannya dalam gaya safari untuk analisis perilaku dan masyarakat dan populasi
hewan. Salah satu cabang, Etiologi berusaha menganalisis perilaku secara kuantitatif
dalam kondisi alami. Suatu bidang yang diilhami rekayasa yaitu Bionik, dalam hal ini
aktivitas tatanan hidup disimulasikan ke dalam perlengkapan mekanik atau elektronik,
sedangk dalam Kibernetik yang disimulasikan adalah koordinasi dan pengendalian
dalam tatanan hidup.
Beberapa konsep yang mendasari penelitian kefaalan. Untuk keperluan
perkembangan fisiologi pada umumnya perlu disertai eksperimentasi sehingga bidang
ilmu bukan sekedar kumpulan teori. Sebagaimna umumnya pendekatan ilmiah yang
pertama kali dilakukan adalah observasi yang diikuti oleh penyusunan hipotesis dan
kemudian melakukan eksperimentasi untuk menguji kebenaran hipotesis yang
diajukan. Proses ini diulang untuk menyaring informasi yang diperoleh sebelumnya
dan membawanya sedekat mungkin pada kenyataan. Dalam hal ini penyusunan
hipotesis dan prosedur eksperimen, eksperimentator dituntut memiliki daya imajinasi
yang tinggi.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Dalam menyampaikan penjelasan dikenal dua cara :
1. Berdasarkan konsep-konsep kebiologian, dalam hal ini hipotesis atau teori
dinyatakan dengan bahasa evolusi, genetika, adaptasi atau perkembangan dalam
tatanan biologi
2. Untuk menjelaskan struktur atau fungsi tertentu menggunakan cara kimiawi atau
fisikawi
Hewan pada semua tingkat perkembangan tidak hanya bereaksi tehadap
perubahan-perubahan lingkungannya tetapi lebih dari itu, mereka mengatur dan
mengendalikan reaksi-reaksi seperti itu. manifestasinya adalah selenggaraan

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 2


mekanisme faali yang bertanggung jawab terhadap keajegan lingkungan internal yang
dinyatakan dengan istilah Homeostasis.
Lingkungan internal dapat berubah karena aktivitas sel dan perubahan
lingkungan eksternal organisme. Hewan yang mampu mempertahankan keajegan
lingkungan secara nisbi disebut sebagai regulator, sedang hewan lain yang disebut
sebagai Konformer merupakan hewan yang lingkungan internal berubah sejalan
dengan perubahan lingkungan eksternal. Selain mekanisme homeostasis ada dua cara
lain untuk mempertahankan lingkungan eksternal yang tidak sesuai yang disebut
sebagai Homokinesis.
Tanggapan terhadap perubahan lingkungan itu merupakan usaha untuk
mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu adaptasi mempunyai arti yang banyak
maka lebih tepat jika disebut Kompensasi.
Untuk keperluan eksperimen perlu dilakukan semacam kompensasi terhadap
hewan percobaan yaitu menyesuaikanya terhadap kondisi-kondisi lingkungan
laboratorium yang terkendali kecuali hanya satu atau dua faktor yang berubah.
Penyesuaian seperti ini disebut aklimasi. Penyesuaian yang jauh lebih rumit ialaha
aklimatisasi, berlangsung dalam kondisi lingkungan alami dengan multivariabel yang
mengalami perubahan. Cara penyesuaian terakhir ini lebih sulit analisisnya.
Kemampuan organisme untuk melakukan regulasi dan konformasi terbatas
pada suatu kisaran tertentu yang disebut batas toleransi. Diluar batas toleransi hewan
mempertaruhkan beberapa kemampuannya untuk bertahan terhadap lingkungan
ekstrim. Pada keuda ujung kisaran toleransi sebenarnya terdapat dua titik kematian,
karena meskipun hewan mampu bertahan hidup tetapi pada hakikatnya hewan
menderita kerusakan yang akhirnya akan kalah.
Aklimasi dan aklimatisasi berlangsung dalam beberapa hari atau minggu,
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
sedang adaptasi memerlukan periode waktu yang lebih lama dan dapat menghasilkan
suatu spesies. Secara teori dikenal tiga cara melakukan Homeostasis
1. Jika perubahan lingkungan dapat diramalkan, suatu cara penjadwalan dapat
memberi imbangan internal secara periodik pada fluktuasi yang belum diketahui
2. Kondisi-kondisi eksternal dapat dinilai dan bersama-sama dengan pengetahuan
sifat-sifat reaksi, suatu perkiraan dapat dibuat untuk sejumlah perubahan yang
diketahui lebih dahulu. Kemudian suatu anggapan yang layak dapat dimulai untuk
mengatasi perubahan yang diharapkan.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 3


3. Kondisi internal dapat dipantau dan penyimpangan apapun yang tidak semestinya
dari normal yang berlaku dapat digunakan sebagai suatu isyarat untuk memulai
suatu tanggapan yang akan berhenti hanya bila norma itu telah dipulihkan.

Bahan Ajar Fisiologi Hewan

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 4


BAB II
FUNGSI SEL DAN HOMEOSTASIS

2.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan tentang homeostasis, membran sel dan translokasi zat melewati
membran sel

2.1.1. Homeostatis
Homeostasis adalah azas dasar yang menopang semua proses fisiologis.
Dengan itu suatu proses organisme dijamin tetap berada dalam kondisi mantap
sehingga proses-proses organisme dijamin tetap berada dalam kondisi mantap
sehingga proses-proses yang melibatkan sel tampil optimal. Dalam hal homeostasis
maka sasaran pembicaraan adalah cairan luar sel (CLS) dan cairan dalam sel (CDS).
CLS meliputi plasma darah dan cairan antar sel (CAS). Komposisinya
dipelihara oleh sistem-sistem kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, endokrin dan
saraf yang berkerja dalam suatu koordinasi.
Komposisi CDS berbeda dengan CLS, keduanya dipelihara oleh membran sel.

2.1.2. Membran Sel


Semua sel hewan terbungkus dalam membran sel yang tersusun dari beraneka
ragam lipid dan protein.
Lipid, terutama fosfolipid dan kolesterol tersusun menjadi dua lapis. Ujung
molekul lipid yang bersifat hidrofil (polar) yaitu yang mengandung gugus fosfat,
berderet-deret berhadapan dengan CLS dan CDS. Ujung hidrofob molekul lipid (rantai
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
hidrokarbon) berhadapan satu sama lain di dalam membran. molekul-molekul protein
terselip dalam dua lapis lipid. bebereapa macam protein terentang setebal dua lapis
lipid. sedang protein lainnya setengah bagian berada di dalam sel atau di luar sel.
protein yang beragam itu melayani sejumlah fungsi yaitu sebagai :
a. Reseptor, dalam hal ini protein bertindak sebagai tempat untuk mengikat antibodi,
hormon, neurotransmitter, dan bahan farmakologi.
b. Enzim, berbagai enzim terikat pada membran sel, melayani berbagai fungsi
fosforilasi zat antara dalam metabolisme.
c. Pengangkut (Inggris, oarrier), berbagai zat diangkut melewati membran sel oleh
macam-macam protein pengangkut.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 5


d. Kanal ion, berbagai molekul kecil berdifusi melewati kanal atau pori pada
membran. protein membentuk kanal ini terentang setebal dua lapis lipid.

2.1.3. Translokasi Zat Melewati Membran Sel


Ion-ion, bahan gizi dari berbagai limbah hasil metabolisme dikeluarkan melalui
membran sel dengan berbagai cara, pasif dan aktif. Cara-cara itu ialah :
Transpor pasif tanpa ada energi
Ini adalah proses Turun Bukit (Inggris, downhill process). Cara transport ini
ada dua macam yaitu difusi sederhana dan difusi dengan kemudahan. Misalnya satu
sendok gula dalam segelas air jika dibiarkan gula akan merata pada air di dalam gelas.
Difusi sederhana terjadi karena semua zarah dalam larutan berada dalam
gerakan ajek (Inggris, constant), dari suatu daerah berkadar tinggi kedaerah lain
berkadar rendah dan sebaliknya. dalam hal ini dikatakan bahwa zarah bergerak
mengikuti landaian konsentrasi (Inggris, constant gradient) dengan difusi. Apabila
konsentrasi zarah serbasama dimana saja dalam larutan maka pada hakekatnya
gerakan itu terhenti. Meskipun gerakan non zarah tidak berhenti, konsentrasi tetap
sama.
Transpor Aktif
Proses transpor aktif memerlukan energi dan arahnya melawan landaian
konsenstrasi atau mendaki bukit. Transpor aktif ada dua macam yaitu : (1)
menggunakan energi langsung dari satu sumber dan (2) menggunakan energi tidak
langsung dari sumbernya.
1) Transpor aktif yang menggunakan energi langsung dari sumbernya yaitu adenosine
triphosphat (ATP)
2) Transport aktif yang memiliki sumber energi tidak lansgung tersedia yaitu
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
menggunakan simpanan energi dalam landaian konsenstrasi Na+. Sistem ini dapat
berkerja hanya jika konsentrasi Na+ diluar sel lebih tinggi dari pada konsentrasi
Na+ didalam sel. Energi diperlukan untuk membentuk landaian konsentrasi Na+,
dan inilah yang dimasud dengan energi diatas
Transport aktif jenis ini digunakan untuk :
a) Memasukkan glukosan dan asam amino ke dalam sel dengan melawan landaian
konsentrasinya. Dalam hal ini mula-mula Na+ tinggi. Dengan kejadian itu maka
daya pengikat pengangkut terhadap glukosa meningkat. Pengangkut
memindahahkan keduanya Na+ dan glukosa ke dalam sel dan disitu Na+ lepas dari
pembawanya karena konsentrasinya di dalam sel rendah.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 6


b) Transpor material keluar dari sel, misalnya untuk mengeluarkan Ca2+ dari dalam
sel, Ca2+ yang keluar ditukar dengan Na+, keluarnya Ca+ melawan landaian
elektrokimia, sedang masuknya Na+ adalah sebaliknya.
Osmosis
Transpor trans membran molekul air dengan landaian tekanan osmotik.
Tekanan osmotik antara lingkungan dalam sel dengan lingkungan luar sel dapat
diwujudkan berbeda. Hal itu dapat terlaksana dengan adanya perbedaan konsentrasi
zarah yang tidak melalui membran sel, didalam dan diluar sel.
Transpor trans-membran lain
Membran plasma dapat mengalami invaginasi dan selanjutnya melepaskan diri
membentuk vesikula dalam sel, bersamaan dengan itu benda-benda yang akan
dimasukkan ke dalam sel terperangkap dalam vesikula, proses ini disebut endostiosis.
Proses sebaliknya disebut eksositosis, dalam hal ini vesikula dalam sel, berisi benda-
benda yang akan dikeluarkan dari sel, merapat pada membran plasma dan
mengosongkan isinya keluar sel.

Bahan Ajar Fisiologi Hewan

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 7


BAB III
SISTEM SARAF

3.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan tentang struktur sel saraf, impuls, sinaps dan neurotransmiter serta
sistem saraf pada vertebrata tinggi dan vertebrata rendah

3.1.1. Struktur Neuron


Pada suatu neuron dapat dibedakan perikaryon,dendrite dan neurit. Perikaryon
adalah bagian neuron yang mengandung nucleus atau karyon. Dendrite dan neurit
adalah lanjutan perikaryon. Berdasarkan jumlah lanjutan itu, neuron dapat dibagi dalam
tiga bentuk:
1) Neuronum bipolar, mempunyai dua lanjutan yaitu dendrite dan neurit.
2) Neuronum pseudonipolare (Yunani, pseudys=semu)
3) Neuronum multipolare (Latin, multus=banyak)
Kebanyakan dendrite bercabang-cabang sebagai pohon. Ujung neurit juga
disebut axon, bercabang-cabang sebagai pohon dan disebut telodendron (Yunani,
telos=ujung atau akhir;Dendron=pohon). Ujung setiap cabang telodendron membesar
dan disebut bulbus terminalis atau bouton. Sitoplasma neuron disebut neuroplasma dan
di dalamnya terdapat badan Nissl, mitokondria, neurofilamen, apararus golgi, lisosom,
dan pigmen melanin. Satu badan Nissl terdiri atas reticulum endoplasmikum dngan
ribosom. Di dalam mitokondria diadakan oksidasi karbohidrat, lemak dan beberapa
asam amino , dan menghasilkan ATP. Mitokondria banyak terdapat did ala perikaryon,
bulbus terminalis, dan di tempat-tempat yang ada nodus neurofibrae.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Membran neuron juga disebut plasmalema atau axolema jika yang dimaksud
membran yang menyelubungi akson. Neurit dan dendrite dibungkus lapisan lemak yang
disebut myelin, tetapi tidak selalu dibungkus seperti itu. Bahan myelin itu diproduksi
oleh sel khusus yaitu sel Schwann yang berada di luar selubung myelin. Sel-sel
pembentuk myelin ini berderet-deret sepanjang neurit dan dendrite tetapi kedudukannya
satu sama lain tidak merapat, sehingga di antara dua sel yang berurutan itu tidak ada
selubung myelin. Tempat ini disebut nodus neurifibrae atau nodus Ranvier.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 8


3.1.2. Potensia Istirahat
Potensial aksi, dan impuls. Bila suatu serabut araf dipotong dan pada tempat
pemotongan itu diletakan suatu electrode dari suatu alat pengukur listrik dan electrode
lain dari alat itu diletaka apda axolema di sebelah luar, ternyata timbul aliran listrik
yang melalui alat pengukur listrik tersebut. Aliran listrik itu datang dari electrode yang
ada pada dataran luar axolema dan pergi ke tempat pemotongan akson (pada axolema).
Dengan demikian pada dataran luar axolema ada muatan positif dan di sebelah dalam
axolema ada muatan negatif.
Di sebelah luar dan sebelah dalam axolema ada ion-ion Na, K, dan Cl.
Banyaknya ion Na di sebelah luar axolema 10 x jumlah ion di sebelah dalam axolema,
sedangkan ion Cl kira-kira 13 x nya. Banyaknya ion K di sebelah dalam axolema 40 x
daripada di sebelah luar. Perbedaan komposisi elektrolit antara sisi dalam axolema
dengan sisi luarnya menimbulkan petbedaan potensial sebesar -75mV. Perbedaan
potensial ini disebut potensial istirahat.
Pada keadaan istirahat, permeabilitas axolema terhadap ion Na rendah,
sehingga gradient konsentrasi Na tidak dapat dituruni dengan difusi pasif. Permeabilitas
axolema terhadap ion K relative tinggi. Kebanyakan aniondi dalam sel ialah protein
bermuatan negatif dan fosfat (H2PO4 HPO4). Permeabilitas axolema terhadap
keduanya luar biasa rendahnya. Kondisi seperti itu memungkinkan kelistrikan kedua sisi
membran dipertahankan dengan bantuan transport aktif. Secara berkesinambungan
sistem transport ini memompa ion Na ke luar dan sebaliknya ion K masuk ke dalam sel.
Dalam hal ini berperan enzim Na K ATPase yang membebaskan energi dari ATP.
Semua sel hidup memiliki potensial istirahat, namun pada sel-sel yang dapat
dirangsang (neuron, sel otot) memiliki kelebihan bahwa membran plasma dapat berubah
status permeabilitasnya terhadap ion sehingga berubah pula potensialnya.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Jika stimulus dikenakan pada axon, axolema menjadi lebih permeable terhadap
ion-ion Na, K, dan Cl. Jika demikian halnya, maka ion-ion Na masuk ke dalam axon
mengikuti gradient konsentrasi, sehingga di sebelah luar axolema muatan positif
berkurang dan di sebelah dalam axolema muatan negatif berkurang. Akibatnya
perbedaan potensial berkurang. Peristiwa ini disebut depolarisasi. Pengurangan muatan
positif di sebelah luar axolema dan pengurangan muatan negatif di sebelah dalam
axolema terus berlangsung sampai tidak ada perbedaan potensial lagi. Kemudian justru
di sebelah luar axolema timbul muatan negatif dan di sebelah dalam tmbul muatan
positif, sehingga terjadi lagi perbedaan potensial sebesar +40mV.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 9


Dalam situasi seperti ini ion-ion K keluar dari axon, sehingga akhirnya muatan
disebelah luar axolema positif lagi dan di sebelah dalam negatif lagi. Peristiwa ini
disebut repolarisasi. Oleh karena terlalu banyak ion K yang keluar, sehingga perbedaan
potensial mencapai sebesar -90mV. Peristiwa ini disebut hiperpolarisasi. Tetapi,
kemudian kelebihan ion K ini masuk lagi, sehingga perbedaan potensial menjadi -75mV
lagi.
Untuk mencapai keadaan seperti semula (semula dirangsang) hanya dapat
terjadi dengan mengeluarkan ion Na dan memasukkan ion K secara aktif dengan sistem
pompa Na-K. Perubahan fisikokimia tersebut yang disebabkan oleh suatu stimulus
disebut impuls, dan potensial yang timbul sebesar +40mV disebut potensial aksi.
Jika stimulus tidak cukup kuat untuk mendepolarisasikan membran mencapai
ambang, potensial aksi tidak terjadi. Jika ambang itu dicapai maka serta merta terjadi
potensial aksi sepenuhnya. Berdasarkan hal inilah dikatakan bahwa terjadinya potensial
aksi tunduk pada hukum all-or-none.
Pada awal repolarisasi sel tidak tanggap terhadap stimulus berapapun kuatnya,
periode ini disebut periode refrakter mutlak, dan pada akhir repolarisasi sel dapat
dirangsang dengan stimulus yang lebih kuat daripada normal, periode ini disebut
periode refraktor nisbi.

3.1.3. Penghantaran Impuls


Suatu titik pada akson dirangsang dengan stimulus sehingga disitu timbul
potensial aksi. Potensial aksi ini pada gilirannya akan berperan sebagai stimulus bagi
titik-titik terdekat di kanan kirinya, sehingga pada titik-titik itu timbul potensial aksi dan
seterusnya peristiwa ini berulang sepanjang akson. Dengan demikian terjadilah
penghantaran impuls. Pada akson yang berselubung myelin depolarisasi hanya terjadi
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
pada bagian yang tidak berselubung yaitu nodus neurofibrae. Bila pada satu nodus
neurofibrae sedang mengalami depolarisasi, muatan positif disebelah luar axolema pada
nodus neurofibrae berikutnya pindah ke nodus pertama dan muatan positif di sebelah
dalam axolema pada nodus pertama itu pindah ke nodus berikutnya. Bila depolarisasi
pada nodus ini mencapai nilai ambang, terjadi potensial aksi dan seterusnya. Hantaran
impuls cara demikian disebut secara meloncat-loncat atau saltatoris.
Kecepatan hantaran impuls didalam suatu axon sebanding dengan tebalnya
akson, makin tebal akson, makin cepat hantaranya. Dengan adanya nodus neurofibrae
hantaran impuls lebih dipercepat. Kecepatan hantaran dalam akson hewan-hewan
poikiloterm lebih lambat daripada hantaran dalam akson hewan-hewan homoioterm.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 10


3.1.4. Pemindahan Impuls
Pemindahan impuls terjadi dari satu neuron ke neuron lain dengan melalui suatu
penghubung yang disebut sinapsis. Sinapsis terbentuk dari bulbus terminalis suatu
neuron dengan salah satu bagian dari neuro lain, dapat perikaryon, dendrite, atau neurit.
Membran bulbus terminalis yang berhadapan langsung dengan membran neuron lain
disebut membran presinapsis dan membran neuro lain itu disebut membran postsinapsis.
Diantara kedua membran itu, dipisahkan oleh suatu celah yaitu celah sinapsis.
Di dalam bulbis terminalis terdapat gelembung-gelembung kecil yang disebut
vesikula presinapsis, di dalamnya mengandung asetil kolin. Selain itu didalamnya
terdapat banyak mitokondria. Impuls yang mencapai bulbus terminalis menyebabkan
permeabilitas membran terhadap ion Ca meningkat sehingga ion-ion Ca yang berada
diluar membran masuk ke dalam bulbus terminalis. Ion Ca itu selanjutnya mendorong
vesikula membebaskan asetil kolin ke dalam celah sinapsis dengan cara eksositosis.
Selanjutnya asetil kolin bebas tertangkap oleh reseptornya yang ada pada membran
postsinapsis. Kompleks reseptor-asetil kolin inilah yang selanjutnya menimbulkan
depolarisasi pada membran postsinapsis. Depolarisasi yang terjadi olehkarena asetil
kolin disebut potensial postsinapsis eksitatoris (Latin,exoitatio=rangsangan).dengan
demikian terjadilah pemindahan impuls itu.
Dalam peristiwa itu asetil kolin menyebabkan membran postsinapsis lebih
permeable terhadap ion Na. oleh karena peranannya, asetilkolin disebut substansi
neurotransmitter. Asetilkolin bukan satu-satuntya neurotransmitter, masih ada beberapa
macam neurotransmiter dengan siftnya masing-masing yang khas.
Glisin adalah salah satu contoh substansi neurotransiter selain asetilkolin.
Substansti ini menyebabkan permeabilitas membran terhadap ion K dan ion Cl masuk.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Akibatnya perbedaan potensial antara bagian luar dan dalam membranbertambah,
artinya timbul hiperpolarisasi. Hiperpolarisasi yang timbul ini di sebut potensial
posttinapsis inhibitoris (Latin, inhibition=hambatan). Dengan timbulnya potensial ini
berarti menutup kemungkinan penghantaran bagi impuls lain. Neurontrasnmiter jenis
penghabat ini banyak di jumpai dalam pusat susunan saraf, yang berfungsi mengatur
porsi impuls yang masuk pusat susunan saraf. Substansi neurotransmitter lain yang
kerjanya seperti glisin ialah GABA (gamma-amino-butyric-acid).
Di sini perilaku potensial generator serupa dengan potensial reseptor. Reseptor
seperti ini diantara lain berupa fotoreseptor, fonoreseptor, statoreseptor.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 11


BAB IV
SISTEM HORMON
4.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan tentang pengertian hormon, klasifikasi hormon, regulasi sekresi,
peran hormon dalam metabolisme, keseimbangan elektrolit dan reproduksi

4.1.1. Integrasi fisiologi


Tubuh hewan bertulang belakang terdiri dari banyak sel yang berklompok-
kelompok sesuai dengan spesialisasinya, masing-masing dengan fungsinya sendiri,
dan tidak mungkin menghasilkan suatu tanggapan seragam dari semua sel bila
mendapat stimuli. Oleh karena itu dengan adanya sistem integrasi dan koordinasi pusat
masalh itu dapat teratasi.
Pada vetebrata telah berkembang tiga sistem yang tumpang -tindih untuk
proses informasi fisiologi. Setiap sistem memiliki satu penerima (receiver) dan satu
pengirim (sender) yang khas, dan dilengkapi satu kurir (messenger). Tiga sistem ini
dioprasikan untuk mengatur tanggapan-tanggapan terhadap stimuli internal dan
eksternal sehingga diperoleh hasil utama: pemeliharaan keseragaman dan keajegan
lingkungan yang berhubungan dengan sel, cairan luar sel. (ekstra cellular cell fluid),
dengan integrasi tanggapan-tanggapan khas untuk setiap organ. Dengan cara ini,
komposisi cairan luar sel dijaga dalam batas-batas yang cocok untuk kelangsungan
kehidupan sel-sel.
Ketiga sistem integrsi itu ialah: 1) sistem saraf, 2) sistem hormon (endokrin),
dan 3) sistem neuroondokrin. Masing-masing sistem itu memiliki sifat khas. Untuk
memahami peranannya dalam berbagai proses fisiologi baik kita telaah satu persatu.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
1. Sistem saraf dikhususkan untuk tanggapan-tanggapan cepat yang akut. Sistem ini
bercabang dua yaitu (a) somatic (terutama mengendalikan otot sadar) dan (b)
autonomik (mengendalikan fungsi-fungsi tidak sadar)
2. Sistem hormon (endokrin) dikhususkan untuk tanggapan-tanggapan kronis. Sistem
ini terdiri dari dua komponen yaitu: (a) kelenjar-kelenjar sekresi internal dan (b)
sel-sel endokrin khusus tersebar rata dalam jaringan non-endokrin. Sistem ini
mengendalikan nutrisi, pertumbuhan, reproduksi, dan homeostatistis internal.
Sistem menerima masukan dari perubahan-perubahan dalam CLS. Kurirnya
(hormon) mungkin larut lemak atau larut air dan mungkin mempunyai berat
molekul kecil atau besar. Hormon itu dibebaskan kedalam CLS dengan stimulus

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 12


kimiawi dan dibawah oleh darah ke tempat sasaran yang jauh. Hormone itu
memiliki potensi untuk kontak dengan semua sel dalam tubuh.
3. Sistem neuroendokrin memilki sifat-sifat yang ada pada sistem saraf dan sistem
hormon. Sistem ini istimewah dalam hal mampu mengubah signal-signal neural
(listrik) menjadi signal-signal kimiawi (humoral). Kurir (hormon) disintesis dalm
sel saraf khusus, selanjutnya dibebaskan dengan stimulus listrik ke dalam darah
dan beroprasi di tempat yang jauh. Sel-sel sistem neuroendokrin membentuk dua
populasi besar:
a. Neuron-neuron dengan perikaryon besar di dalam nukleus supraoptikus dan
nukleus paraventrikularis, keduanya berada didalm hipotalamus; ujung-ujung
axonnya berada didalam bagian belakang hipofisis (neurohifosis) disitu
membebaskan sekretnya;
b. Neuron-neuron dengan perikaryon kecil, juga di dalam hipotalamus (nucleus
ventromedialis, n. dorsomedialis, n. infundibularis) di situ membuat hormone-
hormon pembebas dan penghambat, yang mengatur sekresi bagian depan
hipofisis (adenohipofisis).
c. Neuoroendokrin pelengkap tambahan terdapat pada bagian sum-sum glandula
adrenalis dan epifisis.

4.1.2. Klasifikasi Sistem Hormon


Berdasarkan susunan kimia hormon-hormon yang sekarang diketahui dapat
dibuat klasifikasi sebagai berikut : (1) amin, (2) prostaglandin, (3) ateroid, (4)
polipetida/protein. Struktur yang paling sederhana ialah amin, contohnya ialah
epinerfin. Berikutnya lebih rumit strukturnya ialah prostaglandin yaitu asam-asam
lemak tidak jenuh siklis, contohnya ialah prostaglandin PGK2. Kemudian hormon
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
steroid ialah turunan hidrokarbon siklis, dalam semua tahap. Di sintesis dari prekusor
steroid kolesterol. Hormon-hormon polipeptida dan protein adalah yang paling besar
molekulnya dan paling rumit strukturnya. Contoh hormon steroid ialah hormon-
hormon reproduksi, sedangkan hormon polipeptida atau protein mencakup sebagin
hormon-hormon metabolisme.

4.1.3. Klasifikasi Fungsional Hormon


Sistem endokrin ditandai dengan tanggapan-tanggapan serempak yang
bermacam-macam terhadap stimuli spesifik. Kenampakan tanggapan-tanggapan itu
berbedah dan khusus sesuai dengan stimulus, sistem endokrin bercirikan saling

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 13


bergantung dan saling kerja sama karena kelenjar endokrin dalam isolasi tidak perna
berfungsi. Oleh karena itu kerja hormon penjaringan-penjaringan sasarnnaya tidak
mungkin disama-ratakan. Namun dapat dibuat klasifikasi menjadi empat kelas efek
yang diperantarai endokrin. efek kinetik meliputi migrasi pegmen, kontraksi otot, dan
sekresi kelenjar. Efek-efek metabolik terutama terdiri dari perubahan-perubahan laju
reaksi-reaksi keseimbangan dan konsentrasi komponen-komponen jaringan. Efek-efek
morfogenetik bertalian dengan pertumbuhan dan diferensiasi. Efek-efek perilaku hasil
dari pengaruh hormonal pada aktivitas sistem saraf. Suatu hormon tidak selalu masuk
dalam satu kelas karena hormon-hormon ada yang berefek lebih dari satu.

4.1.4. Regulasi Sekresi Hormon


Aktivitas sekretori jaringan endokrin dikendalikan dengan sistem umpan balik
negatif. Dalam hal ini konsentrasi hormon itu sendiri, atau tanggapan terhadap hormon
oleh jaringan sasaran, akan berpengaruh menghambat pada proses-proses sintesis dan
sekresi yang ber tanggung jawab memperbanyak hormon bersangkutan . Sistem
umpan balik ini beroperasi dengan tiga cara lintasan; (1) lintasan terbuka ,(2) lintasan
tertutup singkat , dan (3) lintasan tertutup panjang
Cara mengepak dan sekresi hormon bermacam-macam tergantung pada sifat-
sifat setiap hormon. Tempat-tempat untuk sintesis dan sekresi hormon berlainan dalam
sel.
Hormon poliped dan protein
Dalam hal hormone poliped atau protein, hormo sebagai molekuk kurir yang
pertama, disekresikan ke dalam aliran darah dan terbawah ke sel-sel sasarannya.
Pertama kali hormone membentuk kompleks reseptor hormone yang kemudian
mempengaruhi enzim adenil-siklase yang sudah ada pada membran sel sasaran.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Selanjutnya adenilsiklase mengubah ATP, menjadi AMP siklis (cAMP) selanjutnya
cAMP bertindak sebagai kurir kodum yang pada gilirannya akan mengaktifkan protein
kinaso. Protein kinaso melaksanakan posforilasi terhadap protein dan hasilnya dan
hasilnya adalah tanggapan sel terhadap hormon

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 14


BAB V
OTOT DAN GERAK
5.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan tentang struktur otot, komposisi otot, mekanisme kontraksi otot
dan hubungan otot dan saraf.

5.1.1. Gerak Otot


Gerak otot berlandaskan kemampuan serabut otot dengan menggunakan energi
berasal dar metabolism yaitu memendek (kontraksi) dan kembali memanjang pada
arah panjangnya (relaksasi).

5.1.2. Struktur Otot


Sel otot pada vertebrata mengadung struktur subseluler yang melandasi sifat
kontraktil yang dimilikinya, yaitu mikrofilamen. Struktur itu dibedakan menjadi dua
macam : Filamen Tebal terdiri dari myosin dan filamen tipis terdiri dari aktin dan
sejumlah protein lain.
Kontraksi otot adalah hasil interaksi kedua macam filament yang mewujudkan
suatu transformasi energi kimia kedalam energi mekanik, yang memungkinkan
berlangsungnya berbagai gerak.
Mikrofilamen dalam sel otot khusus disebut miofilamen. Jenis otot antara lain
ditentukan oleh sususannya. Dalam sel otot skeletdan otot jantung tersusun teratur
sejajar sumbu panjang sel. Didalam sel otot jumlahnya amat banyak, apalagi dalam sel
otot jantung, berkelompok sejajar sumbu panjang sel dan sebagian lagi berada di
antara deretan myofibril, selebihnya berada di perifer, bergerombol dibawah
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
sarkolema. Keadaan ini sesuai dengan peranan otot yang menghendaki penyediaan
energi secara berkesinambungan, cepat, dan jumlahnya banyak.
Satu lagi struktur dalam sel otot yang berperan sangat menentukan yaitu
reticulum sarkoplasma. Bangunan ini susunannya khas, tidak begranula, bersegmen
pada batas pita A dan pita I. Tubulus-tubulus yang menyusun bangunan ini
berorientasi sepanjang aksis longitudinal myofibril sehingga disebut sistem tubulus L
(L = Longitudinal). Dekat perbatasan antara pita-pita A dan I semua tubulus dari
segmen bergabung membentuk sisterna terminal (N.H. sisterna terminalis, Latin.
Cistern = tangkai dibawah tanah, terminalis = ujung), yang berjalan transversal
terhadap deretan myofibril. Sisterna terminal yang berdampingan tidak langsung

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 15


berdekatan, melainkan di antaranya masuk tubulus yang berasal dari invaginasi
plasmalema dan menyatu dengan kedua sisterna. Tubulus terakhir itu disebut tubulus
T (T = Transversal). Sesama tubulus T membentuk anastomosis dan keseluruhannya
disebut sistem T. Keseluruhan struktur yang terdiri dari dua sisterna yang
berdampingan dan satu tubulus T disebut Trias (Inggris. Triad). Anastomosis tubulus
T berhubungan langsung dengan ruang interseluler
Dalam reticulum sarkoplasma, terutama dal sisterna, terdapat banyak kantong
kecil yang memiliki kemampuan menampung ion Ca2+ secara aktif. Sehingga
konsentrasinya dapat mencapai beberapa ribu kali konsentrasi Ca2+ disekitarnya.
Otot skelet (N.H. Textus muncularis skeletalis) juga disebut otot seran lintang
(N.H. Textus muncularis skeletalis) oleh karena adanya kenampakan garis-garis gelap
terang. Otot jantung (N.H. Textus muncularis cardiacus striatus) juga termasuk otot
seran lintang tetapi secara fungsional terdapat perbedaan. Hal ini akan dibicarakan
dalam faal jantung.
Otot jenis lain yaitu otot polos (N.H. Textus muncularis nonstriatus)
strukturnya berlainan dengan otot skelet dan tentu saja berbeda pula faalnya. Otot
polos pada vertebrata tersebar dalam berbagai alat dalam (Inggris. Viscera), Tidak
memperlihatkan garis-garis gelap-terang, pendek, berbentuk gelendong benang
(Inggris. Fusiform).

5.1.3. Pengaktifan Otot


Dalam laboratorium, stimulus listrik umum digunakan untuk merangsang otot.
Stimulus berkekuatan dibawah nilai ambang tidak menimbulkan tanggapan kontraktil.
Antara saat stimulus dengan saat otot mulai menanggapinya terdapat periode laten.
Kira-kira selama 0,01 det. Periode kontraksi selama kira-kira 0,04 det, dan periode
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
pemulihan atau relaksasi selama 0,05 det.
Peningkatana kekuatan stimulus terus menerus menyebabkan kontraksi makin
kuat dan akhirnya mencapai kekuatan maksimal. Pada kekuatan stimulus maksimal
semua fibra otot memberi tanggapan, karena nilai ambang semua fibra otot telah
tercapai. Rentetan kejadian ini menghasilkan penjumlahan kontraksi spasial (Inggris,
Spatial summation of contraction).
Sifat elastis otot tergantung pada sarkolema dan jaringan ikat elastis yang
mengelilingi otot dan fibra otot. Bukan pada filament-filamen kontraktil. Sedang
myofibril itu barangkali merupakan substansi plastis murni. Regangan plasti pada otot
polos pada pokoknya lebih mencolok daripada otot skelet.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 16


Dalam keadaan normal sel otot menjadi aktif oleh impuls yang dibawa serabut
saraf (serabut motoris, motoneuron). Tempat kontak antara serabut saraf dan sel otot
disebut sinapsis neuromuskuler atau sambung saraf-otot (Inggris. Neuromuscular
junction).
Unit fungsional untuk aktivitas motor bukan hanya otot sendiri melainkan unit
motor atau satuan motoris yaitu jumlah serabut otot yang dipersaraf (diinervasi) dan
dikendalikan oleh satu serabut saraf. Unit motor menanggapi suatu impuls sebagai satu
kesatuan, artinya seluruhnya berkontruksi secara maksimal, atau tidak satupun dari
mereka yang berkontraksi secara maksimal. Reaksi demikian disebut reaksi semua
atau tidak sama sekali (Inggris. All-or-none reaction). Setiap otot terdiri dari sejumlah
unit motor dan kekuatan kontraksi otot itu secara keseluruhan tergantung kepada
beberapa banyak unit motor yang digiatkan. Dalam otot-otot yang berlainan, rasio
persarafan dapat berkisar dari 100 (M. lumbricalis) hingga lebih dari 1.000 (M.
temporalis) serabut otot/neuron (Sel saraf). Pengerahan lebih banyak unit motor
menghasilkan penambahan tensi.

5.1.4. Kontraksi Tunggal


Untuk mempelajari aktivitas otot kita gunakan alat perekan yaitu komigraf
(Inggris. Kymograph) atau osiloskop (Inggris. Oscilloscope). Dalam eksperimen
fisiologi umumnya menggunakan stimulus listrik karena ketepatannya yang besar.
Untuk maksud-maksud tertentu dapat digunakan stimulus lain seperti mekanik, kimia,
elektromagnetik, suhu, atau perubahan, atau perubahan osmotic.
Stimulus adekuat singkat dikenakan pada otot skelet dan tanggapannya
direkam, kita memperoleh rekaman kontraksi tunggal. Pada rekaman itu dapat dikenal
adanya fase-fase aktivitas. Jumlah waktu yang digunakan untuk kontraksi otot
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
beragam tergantung dari suhu. Dalam suhu rendah kontraksinya lebih lama daripada
dalam suhu tinggi.
Otot menghasilkan tensi secara isotonic atau isometric. Tensi (Kontraksi)
isotonic menghasilkan kekuatan yang tetap selama otot memendek (Yunani, Iso,sama,
tonikos=kekuatan). Tensi (kontraksi) isometric menyebabkan peningkatan kekuatan
sementara panjang otot tetap (Yunani, iso=sama, metron=ukuran). Komunikasi kedua
macam tensi itu adalah normal sebagai hasil aktivitas otot yang disebut kontraksi
suksotonik. Dalam hal ini pemendekan otot bersama-sama dengan penambahan
kekuatan.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 17


Pada otot-otot yang berlainan waktu kontraksinya sangat berbeda lamanya.
Misalnya otot cepat berlangsung lebih singkat daripada otot lambat. Pada hewan
menyusu waktu kontraksi kedua jenis otot itu berbanding kira-kira 1 : 3,5. Di samping
itu pada kontraksi isotonic sedikit lebih lama daripada isometric. Pada jenis hewan
yang sama (Vertebrata) lamanya waktu kontraksi berurutan sebagai berikut : otot
skelet otot jantung otot polos, misalnya pada kura-kura M. retractor pellis (400 md),
ventrikel jantung (6800 md) dan perototan dinding usus (30.000 md).
Kontraksi otot disertai produksi panas dalam dua fase utama pertama ialah
panas inisial (Ing. Initial heat) yang dibebaskan dalam periode daur kontraksi
relaksasi. Berikutnya panas pemulihan (Inggris. Recovery heat) dibebaskan dalam
periode yang menyusuli daur kontraksi. Disamping itu ada produksi panas dalam
waktu otot istirahat yaitu dari metabolism basal untuk memelihara sel dalam status
hidup berfungsi.
Jika otot dirangsang dalam keadaan anaerob, hanya panas inisial saja yang
muncul. Jumlah dan lamanya produksi panas inisial bebas dari oksigen. Dalam kondisi
anaerob tidak ada panas pemulihan. Panas itu hasil dari proses glikolisis dan
fosforilasi oksidatif yang mengembalikan otot pada keadaan normalnya menjelang
kontraksi berikutnya.
Panas inisial dibagi menjadi beberapa tahap :
1) Panas aktivasi, mulai siap dalam periode laten dan dilanjutkan kedalam periode
kontraksi, untuk menopang kontraksi;
2) Panas pemendekan (Inggris, shortening heat) dibebaskan selama pemendekan otot
yang sebenarnya, penambahannya sebanding dengan pemendekan elemen
kontraktil, namun tidak tergantung dari beban, suhu, dan lamanya pemendekan;
dan
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
3) Panas relaksasi (Inggris, relaxation heat) diproduksi pada akhir kontraksi isotonic
apabila otot apabila otot berusaha mengangkat suatu beban.

5.1.5. Tetanus dan Tonus


Stiumulus yang kuat menyebabkan lebih banyak sel otot dalam suatu jaringan
otot yang menanggapinya, sehingga kekuatan kontraksi bertambah. Kontraksi yang
lebih kuat juga dapat diperoleh dengan merangsang otot berkali-kali dengan selang
waktu amat singkat dan tentu saja dengan stimulus maksimal. Stimulus yang
menyusuli suatu kontraksi dikenakan sebelum relaksasi selesai sempurna, ini

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 18


dilakukan berturut-turut, hasilnya ialah efek tangga (Inggris, Staircase effeck),
sejumlah kontraksi pertama yang berurutan memperlihatkan setiap kontraksi sedikit
lebih tinggi amplitudonya daripada kontraksi sebelumnya. Efek ini mungkin
disebabkan oleh keadaan aktif yang diperpanjag, yang belum selesai secara sempurna
menyusul masuknya stimulus berikutnya. Perpanjangan keadaan aktif mungkin
disebabkan oleh aliran K+ keluar dari serabut otot. Efek tangga ini jelas sekali
terutama pada otot jantung vertebrata.
Apabila dua stimulus dikenakan pada otot dengan selang waktu yang amat
singkat sehingga keduanya sangat berdekatan, stimulus kedua masuk sebelum daur
kontraksi berlalu, perolehan kontraksi lebih besar daripada perolehan dengan satu
stimulus. Ini adalah contoh penjumlahan contoh kontraksi oleh karena waktu atau
penjumlahan temporal. Tetapi jika dua stimulus itu terlalu amat dekat maka stimulus
kedua tidak berpengaruh sebab membran otot dalam periode refrakter mutlak dan
tidak mungkin ditimbulkan kontraksi dengan stimulus berapapun besarnya.
Jika sederetan stimulus adekuat dikenakan pada otot akan menghasilkan
tetanus tidak sempurna. Dalam hal ini rekaman masing-masing kontraksi masih dapat
dibedakan. Jika frekuensi stimulus ditingkatkan, asal tidak dalam periode refrakter
mutlak, maka akan terjadi tetanus sempurna.

5.1.6. Kopel Eksitasi Kontraksi


Kita bicarakan sel otot skelet yang sangat besar peranannya dalam aktivitas
lokomosi. Sebagian besar sarkoplasma (sitoplasma sel otot) terisi myofibril (terdiri
dari filament tebal dan filament tipis) yang tersebar acak, ada yang sejajar sumbu
panjang sel ada pula yang miring. Sedang didalam sel otot avertebrata ia tersusun
serupa spiral. Susunan yang berbeda itu mengakibatkan aktivitas yang berbeda pula.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Demikian pula situasi yang berbeda akan menimbulkan pola aktivitas yang lain,
namun pada hakikatnya mekanisme dasarnya serupa. Mekanisme dasar itu dikenal
sebagai teori filament sorong, (Inggris, sliding filament theory of contraction) yang
berlaku tidak hanya pada jaringan otot, tetapi juga di tempat lain misalnya pada bulu
cambuk dan bulu getar. Sisa ruangan dalam sarkoplasma berisi berbagai substansi
terlarut, sejumlah inti sel, mitokondria, dan organel lainnya. Setiap sel otot skelet atau
fibra otot diselubungi membran plasma sarkoplasma.
Disamping myofibril dan mitokondria terdapat organel yang besar peranannya
dalam penyelenggaraan kontraksi otot yaitu reticulum sarkoplasma, berfungsi
memasok ion Ca2+ dan menampung kembali ion itu.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 19


Setiap miofibril menampakkan pita-pita melintang yang berseling gelap dan
terang. Pita A (A=anisotrop) terutama terdiri dari filament-filamen tebal, ditengahnya
terdapat zone H (H=Heller; Jerman, hell=terang). Pita I (I=isotrop) dengan garis Z
(Z=Zwichensheibe; Jerman. Zwischen-antara, Scheibe-diskus) ditengahnya. Pita I
terdiri dari filament-filament tipis.. Dari sudut pandang fungsional, unit kontraktil sel
otot adalah daerah antara dua garis Z yang disebut sarkomer.
Kelangsungan aktivitas sarkomer tergantung dari kelangsungan penyediaan
ATP dan ion Ca2+. Untuk membebaskan energi dari ATP tersedia enzim ATPase yang
identik dengan myosin yaitu komponen filament tebal. Aktivitas ATPase tergantung
pada ion Mg2+.
Reaksi pembebasan energi itu berlangsung sebagai berikut :
ATP + H2O ATPase ADP + Pa + energi, energi digunakan untuk kontraksi dan relaksasi.
Simpanan ATP dalam jaringan terbatas, untuk memperoleh penyediannya yang cepat
maka berlangsung resintesis ATP dari ADP dan senyawa berenergi tinggi lain yang
terdedia dalam sel otot yaitu kreatinfosfat (KrF).
Kreatin Kinease
Reaksinya : ADP + KrF ATP + Kr. Namun simpanan KrF pun jumlahnya
terbatas. Jadi harus ada resintesis KrF, oleh karena reaksi itu dapat balik maka
resintesis dapat berlangsung yaitu dalam periode istirahat atau ketika aktivitas
berkurang.

Bahan Ajar Fisiologi Hewan

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 20


BAB VI
SISTEM PENCERNAAN MAKANAN

6.1. Pendahuluan
Deskripsi singkat
Bab ini menguraikan tentang organ-organ pencernaan, kelenjar pencernaan dan proses
pencernaan makanan.

6.1.1. Pencernaan
Pencernaan merupakan suatu proses yang rumit dan pada prinsipnya meliputi
sederetan stadium sebagai berikut :
a. Pengambilan makanan atau ingesti (Latin, Ingestus = dimasukkan);
b. Mastikasi (Latin. Masticare=mengunyah) dan deglutisi (Latin. De-
turun;glutire=menelan)
c. Pencernaan atau digesti (Latin, digeti = pencernaan)
d. Defekasi (Latin, defacare = membersihkan)
Pada umumnya proses pencernaan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu
1) Pencernaan dalam sel (pencernaan intraseluler)
2) Pencernaan luar sel (pencernaan ekstraseluler)

A. Pencernaan Dalam Sel


Pencernaan cara ini umum terdapat pada hewan-hewan yang tidak mempunyai
saluran pencernaan, misalnya protozoa dan Porifera.
Pencernaan dalam sel di anggap merupakan bentuk primitive. Pada hewan-hewan
yang mempunyai saluran pencernaan, pencernaan dalam sel terdapat pada hewan yang
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
dilogenetik menunjukkan bertingkat rendah, misalnya : Coelenterata, Plathyhelminthes,
dan Limulus.
Jenis makanan juga dapat mempengaruhi cara pencernaan. Pada hewan-hewan
aquatic golongan filter-feeding atau golongan mikrofagus, terjadi pencernaan dalam sel.
Hewan-hewan yang termasuk golongan mikrofagus ialah : Brachipoda, Cephalochordata,
Lamellibranchieta dan Rotifera.
Pencernaan dalam sel dapat jelas diikuti pada Paramecium. Pencernaan
berlangsung dalam kantong (vakul) makanan yang berbentuk setiap kali makanan masuk.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 21


B. Pencernaan Luar Sel (Pencernaan Ekstraseluler)
Kebanyakan Metazoa mempunyai saluran pencernaan. Didalam saluran
pencernaan ini dapat terjadi pencernaan baik ekstraseluler maupun intraseluler.
Pencernaan ekstraseluler terjadi didalam lumen saluran pencernaan, sedang pencernaan
intraseluler terjadi didalam sel-sel yang melapisi dinding saluran pencernaan.
Sistem saluran pencernaan terdiri dari organ-organ yang fisiologis penting dalam
pencernaan ekstraseluler ialah saluran pencernaan (tractus digestivus) dan kelenjar-
kelenjar pencernaan (glandula digestoria).
Saluran pencernaan merupakan tempat berlangsungnya pencernaan. Pada manusia
dan pada hewan-hewan bertingkatan tinggi, bagian-bagian saluran pencernaan yang
dilalui oleh makanan, beruturut-turut dari mulut (oral) ke pelepasan (anal) ialah :
1) Rongga mulut (Cavitas oris)
2) Tekak (Pharynx, faring)
3) Kerongkongan (Oesophagus)
4) Lambung (Ventrikulus)
5) Usus halus (intestinum tenue)
6) Usus besar (intestinum crassum)
Pada umumnya kelenjar pencernaan yang tidak terdapat didalam dinding saluran
pencernaan pada vertebrata ialah : hepar dan pancreas.

C. Pencernaan di Dalam Mulut


Mulut terutama sebagai organ penerima makanan, didalamnya yang berperan
penting dalam pencernaan ialah gigi-gigi (dentes) dan kelenjar kelenjar (grandula).
Gigi-gigi; Mulut manusia dan kebanyakan Tetrapoda mengandung gigi-gigi. Pada
kebanyakan vertebrata, gigi-gigi dipergunakan hanya untuk memegang mangsangnya
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
yangtertangkap. Tetapi pada vertebrata lainnya, gigi-gigi digunakan untuk memotong,
menghancurkan (Menyobek), atau untuk menghaluskan makanan.

D. Pencernaan Secara Mekanis


Pencernaan secara mekanis berlangsung dengan memamah (Mastikasi) makanan.
Dengan cara itu, partikel-partikel makanan yang besar dipecah menjadi partikel-partikel
yang lebih kecil dan dicampur dengan secret kelenjar ludah (glandula salivaria).
Organ yang berperan penting dalam memamah ialah gigi-gigi (dentes). Tiap
macam gigi mempunyai fungsi yang berbeda dengang gigi yang lain. Gigi seri (dens
incisivus), terdapat disebelah muka, mempunyai mahkota (corona) berbentuk pahat,

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 22


berguna untuk memotong-motong makanan. Gigi taring (dens canius) terdapat disamping
gigi seri, mempunyai mahkota meruncing, berguna untuk merobek-robek makanan. Gigi
geraham (dens premolaris dan dens molaris) terltak disamping gigi taring, mempunyai
mahkota dengan banyak tonjolan-tonjolan. Kedua macam gigi yang terakhir ini berguna
untuk menghaluskan makanan.
Supaya makanan dapat dihaluskan, makanan harus tetap ada di antara gigi atas dan
gigi bawah. Keadaan ini dapat terjadi oleh karenanya lidah (lingus). Lidah dilengkapi
dengan indera perasa (organum gustatorium). Senasasi rasa dari makanan atau minuman
yang dapat diterima lidah ialah : rasa asam, rasa asin, rasa manis, dan rasa pahit.
Agar supaya makanan mudah dikumpulkan diantara gigi-gigi atas dan bawah serta
selanjunya mudah ditelan, makanan harus dapat digumpalkan. Hal ini dapat terjadi oleh
tiga pasang kelenjar ludah ialah :
a. Kelenjar ludah dibawah telinga (glandula parotis)
b. Kelenjar ludah dibawah rahang (glandula submandibularis)
c. Kelenjar ludah dibawah lidah (glandula sublingualin)

E. Pencernaan Secara Kimiawi


Adanya enzim dalam ludah memungkinkan terjadinya pencernaan kimiawi, namun
kurang berarti. Misalnya enzim ptyalin pada kebanyakan vertebrata jumlahnya kurang.
Pada beberapa Mammalia enzim ini cukup berarti yaitu pada tikus, mencit, kelinci, lama,
babi, rusa, marmot, dan beberapa jenis burung.
Enzim-enzim lain seperti invertase, lipase, dan protease terdapat dalam ludah
hewan-hewan tertentu terutama Avertebrata.
Selain ptyalin, air, dan musin, dalam ludah terdapat NaHCO3 (yang menyebabkan
medium bereaksi alkalis, dengan keadaan itu enzim ptyalin atau amylase dapat bekerja).
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Enzim itu menghidrolisis pati menjadi maltose berdasarkan reaksi :
(C6h10O5)n + H2O C12H22O11

F. Peranan Kerongkongan (Oesophagus)


Kerongkongan merupakan suatu organ berbentuk pipa, yang menghubungkan hulu
kerongkongan (pharynx) dengan lambung (ventrikulus gaster) atau bangunan yang dapat
disamakan dengannya. Kerongkongan berguna untuk mengangkut bolus makanan dengan
gerakan peristaltic (Yunani. Peristaltikos = menekan bersama-sama).

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 23


Dinding kerongkongan terdiri atas tiga lapis (stratum), berturut-turut dari dalam ke
sebelah luar ialah : tunika mukosa, tunika muskularis, dan tunika adventisin. Tunika
muskularis terdiri dari dua lapis otot, dari luar ke dalam yaitu :
1) Stratum longitudinal yang terdiri dari serabut-serabut otot memanjang
2) Stratum sirkulare yang terdiri dari serabut-serabut otot melingkar

G. Peranan Lambung (Ventrikulus Gaster)


Pada vertebrata berdasarkan atas anatominya, dapat dibedakan tiga macam
lambung yaitu :
a. Ventrikulus simpleks terdapat pada kebanyakan vertebrata. Misalnya manusia, kucing,
anjing dan lain-lain
b. Ventrikulus kompleks atau ventrikulus ruminantis terdapat pada ruminantia
c. Ventrikulus dengan proventrikulus terdapat pada Aves
Peranan dalam ventrikulus simpleks. Lambung tipe ini merupakan suatu kantong
berbentuk huruf (J), dengan dinding bersifat otot dan terdiri dari dua bagian ialah korpus
dan pars pilorika. Dinding lambung terdiri dari tiga lapis, beruturut-turut dari bagian
dalam kesebelah luar, ialah : Tunika mukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa. Tunika
mukosa melipat-lipat dan disitu terdapat sejumlah glandula yang namanya sesuai dengan
nama bagian-bagian lambung yang ditempatinya. Macam-macam glandula itu ialah :
a. Glandula kardiaka, pada tunika mukosa kardia
b. Glandula fundika, pada tunika mukosa dinding fundus dan
c. Glandula pilorika, pada tunika mukosa dinding para pillorika

H. Pencernaan di dalam ventrikulus kompleks (ventrikulus Ruminantia)


Ventrikulus kompleks terdapat pada Ruminantia, sehingga sering disebut
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
ventrikulus ruminantia. Ventrikulus kompleks merupakan organ khas untuk pencernaan
material tumbuhan. Pada hewan-hewan herbivore, ventrikulus ini adalah esensial, oleh
karena makanan yang kasar (besar) dan terdiri dari serat-serat selulose, dapat dihancurkan
dalam perjalanannya melalui saluran pencernaan dan mengalami pelumatan serta peragian
(fermentasi). Proses ini pada hewan-hewan dengan ventrikulus simpleks dilakukan
didalam sekum dan kolon (Inggris. Hindgut fermenter), sedang pada Ruminantia,
dilakukan dalam ventrikulus kompleks, terutama didalam bagian yang terbesar ialah
rumen. Ventrikulus kompleks mempunyai peranan amat penting, yaitu selain menyimpan
makanan untuk sementara waktu, yang kemudian mengalami mastikasi untuk kedua

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 24


kalinya, juga sebagai tempat untuk pembusukan dan fermentasi (Inggris, Foregut
fermenter).
Fermentasi ini terutama berlangsung didalam bagian anterior ventrikulus,
didalamnya tersedia bakteri dan protozoa untuk melaksanakan itu. Jasad renik ini
mengubah selulosa dan karbohidrat lainnya menjadi senyawa yang dapat dipakai
(diabsorpsi). Bakteri itu bersifat anaerob atau aerob fakultatif.
Secara menyeluruh pola biokimiawi pencernaan ialah jasad renik dalam ruang
peragian pada semua hewan menyusu adalah serupa. Oleh karena pencernan jasad renik
ini, kebanyakan herbivore memiliki kemampuan khas untuk mengubah beberapa materil
yang tidak sesuai untuk komsumsi manusia, terutama selulosa dan juga nitrogen-nitrogen
non protein, menjadi protein hewani berkualitas tinggi.
Kemampuan mencerna selulosa beragam, tergantung dari lama waktu digesta
berada dalam ruang peragian, makin lama berada didalam ruang itu makin banyak
selulosa yang tercerna.
Pengambilan protein juga sedikit tidak umum. Protein dari makanan diubah
menjadi protein bakteri atau lainnya oleh mikroflora dalam rumen, selanjutnya protein
mengalami deaminasi dan nitrogennya dibebaskan dalam bentuk ammonia. Amonia ini
langsung masuk keperedaran darah dibawa ke hati, dan selanjutnya senyawa itu
dikeluarkan dari tubuh melalui saliva. Selanjutnya urea dalam saliva kembali kedalam
rumen dan oleh mikroflora diubah menjadi protein. Sementara itu protein bekteri dicerna
menjadi asam amino dalam bagian lain yaitu abomasus

I. Prinsip Pencernaan dan Penyerapan Hasilnya


Tempat untuk pencernaan kimiawi ialah usus halus (intestinum tenus). Sama
pentingnya ialah peranannya dalam mentransfer material makanan dari lumen kedalam
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
darah dan limfa mukosa. Usus halus juga berperan dalam mendorong isi lumen. Lebih
lanjut, diantara sel-selnya kiranya dalam mukosa, berfungsi endokrin.
Dalam lambung vertebrata mulai dijalankan pencernaan, dilanjutkan serta diakhiri
dalam usus. Karakteristik untuk vertebrata ialah adanya dua buah kelenjar besar, pancreas
dan hati (hepar), sekretnya dicurahkan kedalam usus dubelas jari (duodenum) yaitu bagian
awal usus halus.
Pancreas berfungsi inkretoris (hormone insulin) selain memnuhi tugas penting
dalam pencernaan. Tugas dalam pencernaan itu ialah :
1) Menetralkan kimus yang bereaksi asam dan
2) Menyediakan enzim-enzim penting untuk pencernaan.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 25


Getah pada semua vertebrata bereaksi netral hingga alkalis lemah (Raja 6,6-7,2;
aning 7,0-8,6; lembu 7,6-8,4; ayam 5,5-7,5; itik 6,0-6,9). Salah satu komponen anoraganik
yang luar biasa banyaknya ialah HaHCO3 yang berguna untuk menetralkan keasaman
lambung. Suatu enzim yang senantiasa tersedia ialah amylase. Pancreas adalah tempat
memproduksi amylase yang utama pada vertebrata, disini ada dua macam amylase yaitu :
dan amylase. Keduanya menguraikan molekul pati dengan hidrolisis menjadi
disakarida, namun dengan cara yang berlainan. Pancreas menghasilkan lipase untuk
memecah molekul lemak netral menjadi gliserol dan asam lemak. Selanjutnya terdapat
beberapa enzim yang bekerja pada molekul protein yaitu :
a. Tripsinogen ialah bentuk tidak aktif sebagai pendahulu tripsin suatu endopeptidase.
Untuk pengubahan itu diperlukan enzim lain dari duodenum yaitu enterokinase, selain
itu dapat berlangsung secara otokatalisis. Tripsin bekerja optimal pada pH 8. Tripsin
memutus rantai peptide pada ikatan CO milik asam amino lisin atau arginin. Enzim
itu mengubah protein atau pepton menjadi di-, tri-, atau polipeptida yang terdiri dari
dua, tiga asam amino atau lebih.
b. Kimotripsinogen termasuk endopeptidase, diaktifkan oleh tripsin. Aktivitasnya pada
iktan CO milik asam amino fenilalanin atau tirosin.
c. Karboksipeptidase, termasuk eksopeptidase, memutus rantai peptide yang dekat
dengan gugus karboksil. Sasarannya ialah pepton atau polipeptida.
Semua enzim dari pancreas hewan menyusu bekerja paling baik pada pH 8-9,
sedang pada burung pH optimal 6-8. Untuk menciptakn lingkungan alkalis, disekresikan
cairan alkalis dalam bilus (cairan empedu) dan dari pancreas serta duodenum. Pencernaan
dengan enzim-enzim dari pancreas pada umumnya belum tuntas, untuk mencapai hasil
yang dapat diserap memerlukan enzim-enzim lain berasal dari dinding duodenum.
Enzim-enzim yang dihasilkan oleh duodenum. Enzim-enzim duodenum
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
disekresikan dari permukaan sel-sel epithelium, termasuk mikrovilli. Enzim-enzim itu
tetap berada dipermukaan epithelium dan di situ pula atau segera diasimilasi kedalam sel-
sel epithelium.
Enzim-enzim duodenum yaitu :
a. Enterokinase. Ini mengubah trisinogen dari pancreas menjadi tripsin yang aktif
b. Erepsin. Merupakan kumpulan sejumlah enzim yang berlainan yang menyempurnakan
pencernaan protein, diantaranya ialah karboksipeptidase, aminopeptidase, dipeptidase,
dan tripeptidase.
c. Lipase

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 26


d. Kurase. Bekerja pada sucrose (disakarida) mengubahnya menjadi glucose dan fuktose.
Enzim ini juga disebut invertase.
e. Maltase bekerja pada maltose (disakarida) mengubahnya menjadi dua molekul glucose
f. Lactase mengubah lactose (disakarida) menjadi glucose dan galaktose.

a. Karbohidrat
Glukosa dan monosakarida lainnya adalah hidrofil, tetapi untuk dapat diserap
harus melalui membran sel epithelium usus yang bersifat hidrofob. Ini terutama
dilaksanakan melalui transportasi dengan pengangkut molekul dalam proses yang
menggunakan energi. Setiap monosakarida memiliki sistem transport selektif sendiri.
Misalnya glukosa dan galaktosa, menggunakan satu sistem transport pengangkut yang
sama dan bersaing untuk mencapainya. Sistem ini tergantung pada Na+ sehingga
disebut sistem ko-transpor Na+.
Fruktosa diserap mengikuti landaian konsentrasi (concentration gradient).
Meskipun mekanisme memerlukan pengangkut khas, tetapi tidak mengkomsumsi
energi dan ini disebut difusi berkemudahan (facilitated diffusion). Penyerapan fruktosa
berlangsung cepat oleh karena konsentrasi fruktosa dalam sel selalu rendah, akibat
dari pengubahan yang cepat terhadap fruktosa yang masuk, glukosa dan laktat.
b. Protein
Penyerapan asam amino berlangsung secara aktif dengan transport yang diperantarai
pengangkut (carrier-mediated transport). Seperti transport glukosa, transport asam
amino tergantung pada Na+. Vitamin B6 atau piridoksin (dalam bentuk piridoksal
fosfat) diperlukan untuk transport berbagai asam amino.
c. Lemak
Penyerapan lemak didalam duodenum dan yeyenum proksimal berlangsung cepat oleh
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
karena disitu konsentrasi garam empedu tinggi. Pengambilan lipid dan hasil-hasil
pemecahannya dilakukan dengan difusi pasif melalui membran plasma oleh sel-sel
epithelium usus.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 27


BAB VII
SISTEM PEREDARAN

7.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan tentang komposisi darah, fungsi darah, sistem peredaran darah,
jantung dan kerja jantung, sistem pembuluh limfa dan pengaturan sirkulasi oleh sistem
saraf

7.1.1. Sistem Peredaran


Fungsi utama sistem peredaran ialah mendistribusikan metabolit dan oksigen
keseluruh sel tubuh organism serta mengumpulkan sisa buangan dan karbondioksida
(CO2) untuk di eksresikan. Selain itu menyelenggarakan termoregulasi dan distribusi
hormone ke tempat-tempat tertentu. Jantung menyediakan tenaga pendorong untuk
sistem ini, arteri sebagai penyalur ke alat-alat tubuh, vena menyalurkan darah dan
berperan sebagai tempat tendon darah, kapiler-kapiler merupakan wilayah pertukaran
sistem itu.

7.1.2. Jantung
Jantung vertebrata adalah jantung berkamar, namun jantung seperti ini juga
dijumpai pada moluska. Keragaman struktur jantung pada vertebrata terletak pada
beberapa hal yaitu :
1) Lokasinnya dalam tubuh
2) Jumlah kamarnya
3) Kemilikan kelep-kelep dan sekat-sekat diantara kamar-kamarnya
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Ikan memiliki jantung dengan dua buah kamar, serambi jantung (atrium) dan
bilik jantung (ventrikulus kordis). Selain itu ada kamar tambahan yaitu sinus venosus
dank onus arteriosus. Darah pembuluh balik sebelum mencapai serambi jantung harus
melalui sinus venosus lebih dahulu dan dari jantung sebelum darah mencapai
pembuluh nadi insang harus melalui konus arteriosus lebih dahulu. Jantung berkamar
dua dalam evolusinya mencapai struktur yang lebih khas pada vertebrata darat. Pada
hewan melata (Reptilia) dijumpai pertama kali bilik jantung yang terbagi dua oleh
sekat (septum) yang tidak sempurna (septum ventrikularis). Septum ini menjadi
sempurna pada burung dan hewan menyusu. Burung dan hewan menyusu memiliki

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 28


jantung berkamr empat, dua serambi jantung (kanan dan kiri) dan dua bilik jantung
(kanan dan kiri). Jantung ini sangat khusus dalam hal struktur dan fungsinya.

7.1.3. Struktur dan Aktivitas Jantung Hewan Menyusu dan Burung


Jantung hewan dan burung mencapai tingkat efisiensi fungsional yang tinggi.
Untuk memahaminya kita perlu lebih dahulu memahami strukturnya. Struktur jantung
manusia dapat mewakili jantung hewan menyusu dan burung.
Pada manusia, jantung terletak dalam rongga dada sedikit condong ke kiri dari
sumbu panjang tubuh. Dindingnya terdiri dari tiga lapis, yaitu dari dalam ke luar :
Endokardium, Miokardium, dan Epikardium. Endokardium terdiri dari jaringan ikat,
permukaannya tertutup oleh lapisan tipis endothelium. Miokardium merupakan lapisan
otot utama yang lebih tebal pada dinding bilik jantung daripada dinding serambi
jantung. Epikardium terbentuk dari sel-sel epithelial dan jaringan ikat. Jantung berada
dalam suatu kantong berdinding tipis yang disebut pericardium, ruangan ini antara
jantung dan pericardium berisi cairan yang berguna untuk melumasi jantung.
Jantung berkamar empat, dua serambi jantung dan dua bilik jantung, dengan
demikian pemisahan darah kaya oksigen dan darah miskin oksigen menjadi tegas.
Darah masuk serambi kanan dari peredaran umum melalui vena kava. Serambi kiri
menerima darah dari paru-paru melalui vena pulmonalis. Kemudian darah didorong ke
bilik kanan dan bilik kiri. Bilik kanan menerima darah miskin oksigen dari serambi
kanan dan memompanya kedalam peredaran paru-paru (peredaran kecil). Bilik kiri
menerima darah kaya oksigen dari serambi kiri dan memompanya ke dalam peredaran
umum melalui aorta. Peredaran darah melalui jantung dipandu melalui empat buah
katup, serambi kiri berhubungan dengan bilik kiri dengan jalur satu arah. Yang
dipelihara oleh katup berdaun dua, valve mitralis, sedang serambi kanan berhubungan
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
dengan serambi kanan dengan jalur satu arah yang dipelihara oleh satu katup berdaun
tiga valve trikuspidalis. Antara bilik kiri dan aorta terdapat katup yaitu valve aortae.
Pangkal arteria pulmonalis dilengkapi dengan katup juga yaitu valve trunki
pulmonalis. Valve aortae dan valve trunki pulmonalis masing-masing terdiri dari tiga
valvula semilunaris. Semua katup itu berfungsi mencegah aliran darah membalik.
Jantung tidak terhambat kerjanya oleh alat-alat disekitarnya, karena ia berada
didalam suatu kandungan. Jaringan yang terutama melaksanakan aktivitasnya ialah
miokardium atau jaringan otot jantung. Otot-otot ini terdiri dari serabut-serabut otot
serat-lintang, tetapi serabut-serabut otot ini bercabang-cabang dan berhubungan satu
sama lain. Setiap sel otot dibungkus oleh anyaman benang-benang jaringan ikat. Pada

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 29


dinding jantung dapat dibedakan beberapa lapisan otot, jalannya serabut-serabut otot
pada setiap lapisan berbeda dengan lapisan lain. Tidak ada hubungan yang bersifat
otot antara otot dinding kedua serambi jantung dan otot dinding kedua bilik jantung.
Antara miokardium kedua serambi jantung dan miokardim kedua bilik jantung,
melingkari masing-masing lubang penghubung kedua kamar kanan dan kiri (pstium
atrioventrikulare), ada lingkaran jaringan ikat yaitu annulus fibrosus.
Bila miokardium berkontraksi, serambi jantung dan bilik jantung mengecil
yang disebut mengadakan systole (Yunani. Cystellein = kontraksi). Bila miokardium
menjadi kendor kembali (relaksasi), serambi jantung atau bilik jantung mengembang
kembali, kejadian ini disebut diastole (Yunani. He diastold = pengembangan). Kedua
serambi jantung mengadakan systole lebih dahulu, kemudian diikuti dengan systole
kedua bilik jantung dan setrusnya bergantian.
Aktivitas seperti itu memerlukan suatu koordinasi. Bangunan-bangunan yang
menyusun sistem konduktorium menyebabkan adanya koordinasi antara systole
serambi jantung dan systole bilik jantung. Sistem itu terdiri atas :
1) Nodus sinuaurikularis (sinuautrislis) (Latin. Nodus=simpul)
2) Nodus atrioventrukularis
3) Fasikulus atrioventrikularis (Latin. Fascis = berkas) berkas kecil
4) Krus dekstrum (Latin. Crus = paha)
5) Krus sinistrum

7.1.4. Daur Aktivitas Jantung Hewan Menyusu dan Burung


Basis aktivitas jantung ialah aktivitas otot-otot jantung yang menyusun
miokardium. Aktivitas ini pada pokoknya serupa dengan aktivitas otot skelet. Sedikit
perbedaan yaitu kontraksi otot jantung dipengaruhi oleh ion Ca2+ yang ada diluar sel
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
otot. Kontraksinya menjadi lebih kuat jika ada tambahan Ca2+ dari luar.
Mekanisme yang mengawali denyut jantung dapat dilukiskan sebagai berikut :
a. Nodus sinuarikularis menghasilkan potensial aksi (PA)
b. PA merambat ke reticulum sarkoplasma
c. Ca2+ dibebaskan dari reticulum sarkoplasma
d. Fibra otot kontraksi
e. Ketika relaksasi, Ca2+ lepas dan dikembalikan ke reticulum sarkoplasma dengan di
pompa aktif.
Pada vertebrata sistem konduktorium berasal dari sel-sel otot yang telah
mengalami modifikasi, daerah tempat nodus sinu aurikularis disebut daerah

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 30


pacemaker, disini pula terdapat akhiran-akhiran saraf yang mengendalikan jantung,
yaitu percabangan nervus vagus.
Peristiwa listrik yang melandasi aktivitas jantung dapat diperlihatkan dalam
elektrokardiograf (EKG), yaitu hasil rekaman aktivitas jantung dengan alat
elektrokardiograf.
Aktivitas listrik dan mekanis pada ventrikulus dapat diringkas sebagai berikut :
Systole 1. Fase perubahan bentuk (puncak Q) kontraksi isotonis valve
mitralis terbuka, valvula semilunaris tertutup
2. Fase peningkatan desakan (puncak R) kontraksi isometric V.
mitralis dan val. Semilunaris tertutup
3. Fase pendorongan (puncak S) kontraksi auksotonis, V. mitralis
tertutup, val. Semilunaris terbuka.
Diastole 4. Fase peregangan (puncak T) peregangan isometric V. mitralis
dan Val. Semilunaris tertutup
5. Fase pengisian peregangan asuksotonis V. mitralis terbuka, va.
Semilunaris tertutup

7.1.5. Darah dan Limfa


Darah
Keseluruhan darah terdiri dari satu bagian benda cair (plasma) yang
mengandung garam-garam danz at kimia lain, dan komponen berupa sel-sel. Setiap
komponen darah membawakan satu fungsi tertentu atau lebih. Fugnsi-fungsi darah itu
dapat diringkas sebagai berikut :
a. Transport oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan-jaringan.
b. Transpor CO2 dar jaringan-jaringan ke paru-paru atau insang Bahan Ajar Fisiologi Hewan
c. Transport bahan makanan yang di absorpsi dari usus, dibawa ke jaringan-jaringan
d. Transport hasil pemecahan zat-zat organic dalam metabolisme (urea urat, kreatinin
dan lain-lain) dari jaringan kea lat ekskresi.
e. Darah mendistribusikan hormone ke seluruh tubuh
f. Regulasi suhu badan
g. Regulasi keseimbangan asa-asam darah jaringan
h. Regulasi volume kompartemen ruang antar sel
i. Perlindungan terhadap kehilangan darah
j. Perlindungan terhadap benda asing dan infeksi

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 31


Limfa
Cairan limfa adalah semacam jaringan atau cairan ruang antar sel yang
dikumpulkan oleh pembuluh khusus yang diawali dengan kapiler-kapiler berujung
buntu. Kapiler-kapiler limfa ini bergabung membentuk bangunan menyerupai pohon
dengan cabang-cabangnya mencapai semua jaringan. Pembuluh-pembuluh limfa yang
lebih besar menyerupai pembuluh balik dan menyalurkan isinya kedalam peredaran
darah pada titik yang bertekanan rendah via pembuluh limfa yang paling besar. Pada
hewan menyusu dan banyak vertebrata lain via ductus thoracicus ke dalam vena
cardinalis anterior.
Sebagian plasma darah menembus dinding kapiler dan menyebar dalam sela-
sela jaringan ikat : itu adalah limfa yang mengisi ruang antar sel, yang melingkari
jaringan-jaringan dan merupakan milicu intericur yang sesungguhnya. Dari situ sel-sel
memperoleh okseigen dan makanan, dan di situ pula melepaskan hasil atau limbah
metabolisme.
Limfa antar ruang sel meningkatkan tempatnya, dengan difusi menembus
endothelium kapiler limfa dan selanjutnya menjadi limfa yang beredar. Mekanisme ini
terutama untuk mengembalikan kelebihan limfa ruang antar sel yang tidak
tertampungoleh vanula ke dalam peredaran darah. Adanya sistem paravena ini
member kemudahan dalam mengeluarkan benda-benda buangan berupa partikel-
partikel berukuran besar yang tidak mungkin terlaksana via kapiler vena. Kembalinya
limfa kedalam darah via sistem paravena dengan osmosis dan kontraksi otot yang
bekerja sebagai pompa bersama-sama dengan katup-katup disepanjang pembuluh
limfa.
Pada vertebrata rendah terdapat jantung limfa yang membantu gerakan cairan
itu. Pada burung dijumpai sepasang jantung limfa hanya pada embrio, namun alat itu
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
pada sejumlah spesies burung masih dipertahankan pada yang dewasa.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 32


BAB VIII
SISTEM RESPIRASI

8.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan tentang organ-organ respirasi, mekanisme respirasi, regulasi
respirasi dan transport gas respirasi

8.1.1. Macam-macam Alat Respirasi dan Cara Kerjanya.


Perlengkapan pernafasan pada hewan sangat beraneka ragam, tetapi secara
bebas dapat dikembalikan kepada tipe dasar yang jumlahnya sedikit. Dalam hal paling
sederhana berlangsung pertukaran gas melalui sedikit banyak keseluruhan permukaan
tubuh yang tidak terdiferensiasi; transfpor gas di dalam tubuh dapat terjadi dengan
difusi atau dalam cairan tubuh yang mengalir. Pertukaran gas melalui seluruh
permukaan tubuh dan transport gas dengan difusi dijumpai misalnya pada Protozoa,
telur dan embrio, pada larva sejumlah besar hewan laut dan pada Platyhelmintes.
Nemathelmintes, kebanyakan Annelida, kebanyakan udang Entomostraca dan
sejumlah besar Tungau (Acari) memiliki juga alat pernafasan tanpa diferensiasi, tetapi
kemungkinan cairan tubuh mengambil bagian dalam hal transport gas.
Difusi gas melalui protoplasma adalah proses yang sangat lambat dan hal
seperti itu sangat tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan metabolism hewan jika
hanya semata-mata melalui difusi. Hal itu diatasi dengan modifikasi alat pernapasan
sehingga memudahkan pertukaran gas melalui permukaan tubuh. Pada sejumlah besar
hewan akuatik, kulitnya kaya akan vaskularisasi dan dengan mudah dilalui gas. Cacing
tanah, lintah dan larva sebagian besar ikan memiliki vaskularisasi kulit yang
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
memungkinkan oksigen berdifusi melaluinya sehingga kebutuhan metabolism
terpenuhi. Namun hewan-hewan yang lebih besar seperti amfibi dan ikan juga kadang-
kadang atau secara terus-menerus menggunakan pernafasan kulit sebagai tambahan
untuk paru-paru atau insang yang dimilikinya.
Pembesaran permukaan respirasi dapat dicapai dengan evaginasi dan
invaginasi, seperti pada insang dan paru-paru. sistem respirasi ini pada umumnya perlu
ventilasi dan cairan tubuh tetap berperan sebagai pengangkut gas menuju ke sel-sel
dlam jaringan. Tipe alat respirasi yang tidak memerlukan paran cairan tubuh sebagai
pengangkut gas ialah trakea pada serangga

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 33


8.1.2. Paru-paru dan Mekanisme Ventilasi Pada Amfibi Dan Reptil
Struktur paru-paru amfibi dan reptile pada pokoknya serupa dengan hewan
menyusu. Area permukaan difusi jauh lebih kecil daripada hewan menyusu.
Berhubung dengan itu amfibi masih memerlukan peranan kulit sebagai alat respirasi,
tetapi pada reptil peranan kulit seperti itu sudah tidak penting lagi. Paru-paru reptil
memiliki area permukaan difusi lebih besar daripada amfibi dan dilengkapi dengan
sepasang bronkus sejati yang diperkuat dengan cincin-cincin kartilago. Pada reptil
antara glottis dengan paru-paru diperantarai oleh trakea, sedangkan pada amfibi paru-
paru berhubungan langsung dengan glottis. Pada amfibi ada gerakan-gerakan dinding
dasar mulut (buccopharynx) yang ada hubungannya dengan ventilasi paru-paru,
sedangkan pada reptile gerakan seperti itu tidak ada hubungannya dengan respirasi.
Gerakan naik turun dinding dasar rongga mulut itu merupakan tenaga untuk
memompa udara dngan cara mengubah volume rongga mulut. Satu siklus pernafasan
pada amfibi ini terdiri dari empat fase :
a) Glottis tertutup dan nares terbuka. Dinding dasar rongga mulut turun oleh karena
kontraksi m. sterno-hyoideus dan udara masuk buccopharynx sebab tekanan udara
berkurang;
b) Udara yang masuk menaikkan tekanan di dalam rongga mulut yang
mengakibatkan valvula pada nares menutup, bersamaan dengan itu m.
submandibularis dan m. geniohyoideus kontraksi akibatnya rongga mulut
mengecil, dan udara di dalam rongga mulut terdorong bersamaan dengan
membukanya glottis sehingga udara masuk ke dalam paru-paru, sementara itu
valvula kembali terbuka;
c) Selanjutnya m. sternohyoideus kontraksi akibatnya rongga mulut membesar,
demikian pula otot-otot abdomen dan akibatnya paru-paru terdesak dan udara
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
mengalir keluar (ekspirasi);
d) Sementara itu m. submandibularis dan m. geniohyoideus kembali kontraksi
sehingga dinding dasar rongga mulut mendesak udara masuk ke dalam paru-paru
(inspirasi);
e) Siklus respirasi dimulai lagi dengan ventilasi rongga mulut (dalam seluruh proses
ini lubang mulut selalu tertutup).
Ventilasi paru-paru pada reptile dibantu oleh aktivitas tulang rusuk,
yang tidak dijumpai pada amfibi. Jika otot-otot di antara tulang-tulang rusuk
berkontraksi maka rongga dada membesar sehingga tekanan di dalamnya turun. Ini
memberikan peluang masuknya udara ke dalam paru-paru, dengan demikian

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 34


berlangsung inspirasi. Relaksasi otot-otot itu disertai kontraksi otot-otot abdomen
menyebabkan paru-paru mengempis dan udara didorong keluar, dengan demikian
berlangsung ekspirasi. Pada kebanyakan kadal respirasi mulai dengan fase ekspirasi
awal yaitu dengan menghembuskan udara dengan kuat keluar dari paru-paru dan
kemudian diikuti dengan inspirasi cepat. Sekarang paru-paru mengembang dan tetap
demikian selama satu pause sebelum aktivitas respirasi berikutnya. Pada suhu rendah
pause ini berlangsung amat lama tetapi dalam kondisi panas frekuensinya agak cepat.

8.1.3. Transpor Gas Pernapasan


Dalam suatu campuran gas, tekanan partial gas apapun sama dengan hasil kali
fraksi molekulnya dan tekanan gas kering total (760 mmHg) (Hukum Dalton).
Tekanan suatu gas tidak dipengaruhi oleh tekanan gas-gas lain. Molekul-molekul
terus-menerus bergerak dan menggunakan tekanan bila bertumbukan dengan dinding
suatu wadah. Misalnya di dalam alveoli, beberapa molekul gas terlarut dalam zat cair
yang melapisi permukaan dalam dinding alveoli. Volume (kandungan) gas yang
terlarut dalam zat cair itu tergantung pada cairannya sendiri, suhu, koefisien kelarutan,
dan tekanan partial gas (Hukum Henry). Dalam hal kelarutan gas ini CO2 ternyata 24
kali lebih mudah larut daripada O2, namun dengan adanya pigmen respirsi (misalnya
hemoglobin) kandungannya dalam darah meningkat.
Transpor O2
1) Kurva disosiasi O2. Kombinasi O2 dengan hemoglobin dalam eritrosit tergantung
pada pO2 yang dilukiskan sebagai fungsi sigmoid.
a) Kapasitas O2 - g hemoglobin X 1,39 ml O2/g Hb dalam 1 dl darah. Kapasitas
O2 beragam dengan jumlah Hb dalam darah dan dengan itu dapat ditentukan
besarnya.
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
b) Kandungan O2 ialah volume O2 yang sesungguhnya ada dalam darah (terikat
dengan Hb dan yang terlarut secara fisik) dan biasanya dinyatakan dalam
satuan % volume (misalnya ml O2/dl darah). Kandungan O2 tergantung pada
jumlah Hb yang ada, pO2, dan afinitas O2 terhadap Hb.
c) Kejenuhan hemoglobin (Hb saturation) ialah % Hb yang terikat dengan O2.
d) P50 ialah pO2 yang menghasilkan kejenuhan Hb 50%. P50 ialah kebalikan
afinitas Hb terhadap O2. P50 normal untuk darah arterial ialah 27 mmHg.
Peningkatan P50 menunjukkan penurunan afinitas Hb terhadap O2; dalam hal
itu Hb melepaskan O2 pada pO2 yang lebih tinggi, yang cenderung
meningkatkan pO2 jaringan. Penurunan P50 disebabkan oleh meningkatnya

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 35


afinitas Hb terhadap O2, yang menekan pO2 jaringan tetapi membantu
meningkatkan O2 pada Hb dalam paru-paru.
2) Asosiasi O2 dengan Hb. Sejak darah memasuki kapiler-kapiler paru-paru, pO2nya
kira-kira 40 mmHg. O2 berdifusi dari alveolus melalui membran kapiler alveolus,
plasma, kemudian ke dalam eritrosit. Dalam eritrosit, O2 bergabung secara bebas
dan dapat balik dengan salah satu valensi koordinasi Fe heme. Hb dipandang
sebagai suatu enzim alosterik yang bereaksi dengan O2; afinitas molekul-molekul
ini satu sama lain dipengaruhi oleh ligand-ligand lain dan suhu
a) Efek Bohr. CO2 dan ion H+ keduanya dapat bereaksi dengan unit molekul Hb.
Peningkatan P50 disebabkan oleh reaksinya dengan CO2 disebut efek Bohr.
b) Fosfat organik. Adenosin trifosfat (ATP) dan 2,3-difosfogliserat (DPG) dapat
mengikatkan pada molekul Hb. Adanya ikatan dengan zat-zat itu menjadikan
bentuk deoksihemoglobin stabil, menyebabkan peningkatan P50. DPG
dihasilkan dalam eritrosit oleh glikolisis, dan laju produksinya meningkat
selama kondisi kekurangan oksigen dan kelebihan alkali.
c) Karboksihemoglobin. CO afinitasnya terhadap Hb lebih dari 200 kali afinitas
O2. Satu fraksi molekul CO kira-kira 0,1% dalam udara inspirasi akhirnya
menghasilkan ikatan Hb dengan CO sebanyak 50%. CO yang berikatan dengan
molekul Hb yang paling labil, menghasilkan penurunan P50 bagi sisa Hb yang
masih berfungsi.
d) Pengaruh suhu. Peningkatan suhu, seperti terjadi jaringan yang aktif
menjalankan metabolisme, menyebabkan kenaikan P50. Penggeseran kurva
disosiasi O2 memudahkan pembebasan O2 pada jaringan.

Bahan Ajar Fisiologi Hewan

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 36


BAB IX
SISTEM EKSKRESI DAN OSMOREGULASI

9.1. Pendahuluan
Deskripsi singkat
Bab ini menguraikan tentang pengertian ekskresi, bahan buangan ekskresi, sistem
ekskresi pada hewan rendah, sistem ekskresi pada vertebrata dan osmoregulasi

9.1.1. Ekskresi
A. Zat-zat Ekskret Dan Pola-Pola Ekskresinya
Pada organisme hidup, nitrogen tidak pernah dikelurkan dari tubuh dalam
bentuk nitrogen bebas, melainkan sebagai hasil akhir yang mengandung nitrogen.
Protein adalahsenyawa bernitrogen yang utama, dalam metabolism terbentuk hasil
akhir berupa amonie, urea dan aam urat. Selain protein, senyawa lain yang
mengandung nitrogen adalah asam nukleat.
Hasil-hasil akhir metabolisme yang lain dijumpai terbatas pada hewan-
hewan tertentu. Beberapa contoh diantaranya: guanine terdapat pada laba-laba,
xantin dan hipoxantin terdapat pada insekta tertentu (Galleria sp , pieris sp),
oksida trimetiamin pada ikan-ikan teleostei laut, dll.
Berdasarkan pada jenis ekskreta bernitrogen yang dihasilkan, hewan-hewan
dapat dikelompokan menjadi beberapa kategori:
1. Hewan ureotelik. Hewan-hewan kategori ini ekskretnya berup urea. Ini adalah
senyawa organic utama yang terdapat dalam urine hewan.
Urea, CO(NH2)2, dibentuk dari deaminasi asam-asam amino yang
berasal dari makanan. Urea dibentuk dalam proses berdaur yang disebut daur
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
ornitin atau daur urea. ammonia berikatan dengan CO2 dan asam amino ornitin,
terbentuk asam amino sitrulin yang selanjutnya mengikat lagi molekul
ammonia menjadi arginin. Senyawa terakhir ini dihidrolisis oleh enzim
arginase menghasilkan satu molekul urea dan molekul ornitin baru yang mulai
lagi dengan daur berikutnya.
Masalah pengawetan air pada hewan menyusu dewasa menjadikan
ekskresi urea dalam larutan pekat. Pada hewan-hewan padang pasir, oleh
karfena keterbatasan penyediaan air, ekskresi urea oleh ginjal secara aktif.
Pada hewan memama biak, urea disaur ulang menjadi asam amino lagi (Bab
5).

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 37


Kebanyakan amfibi adalah ureotelik, demikian pula ikan-ikan
elasmobranobii. Sintesis urea pada katak berlangsung dalam hati, sedangkan
pada ikan elasmobranobii berlangsung dalam semua jaringan kecuali otak dan
darah dengan cara yang sama dengan hewan menysusu.
2. Hewan-hewan urekotolik. Hewan-hewa daratan seperti serangga, kadal, ular,
dan burung mengeluarkan nitrogen dalam bentuk asam urat. Asam urat
terbentuk dengan deaminasi dan oksidasi basa-basa purin (guanine dan
adenine)
3. Hewan-hewan guanotelik. Pada beberapa artropoda seperti laba-laba, guanine
adalah akskreta utama yang dikeluarkan melalui saluran-saluran Malphigi dan
kantong-kantong kloaka. Pengetahuan mengenai zat ini masih sangat terbatas.
4. Hewan-hewan penghasil trimetilaminoksid. Teleostel yang hidup dilaut
mengeluarkan trimetilaminoksid yang mudah larut dalam air dan tidak
beracun. Senyawa ini mungkin berasal dari pemecahan lipoprotein.

B. Anatomi dan Fungsi Ginjal


Ginjal adalah alat ekskrfesi zat-zat buangan yang utama pada vertebrata.
Fungsi itu menunjang fungsi-fungsi lain yang juga dilaksanakan oleh ginjal. Ginjal
memelihara keajegan lingkungan dalam tubuh dengan mengatur volume dan
komposisi luar sel. Untuk melaksanakan ini, ginjal membuat keseimbangan secara
tepat pengambilan, pembuatan, pembuangan, dan pemakaian banyak senyawa
organic dan anorganik.
Untuk memahami cara kerja ginjal arus lebih dahulu memahami
strukturnya terutama struktur unit fungsional yaitu nefron. Di dalam jaringan ren
terdapat saluran-saluran yang disebut tubuli renales. Satu tubulus renalis mulai
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
dengan suatu bangunan seperti mangkuk yang disebut kapsula glomeruli. Dinding
bangunan mangkuk ini terdiri atas dua lembaran , lembaran dalam dan lembaran
luar. Antara keduanya terdapat ruangan yang melanjutkan diri ke dalam rongga
tubulus renalis. Tubulus renalis dapat dibagi menjadi beberpa bagian yaitu tubulus
kontortus proksimalis, tubulus attenuates, tubulus kontortus distalis, tubulus
komunikans, tubuus kolektivus dan duktus papilaris. Dari kapsula glomeruli
hingga tubulus kontortus distalis disebut nefron.
Satu arteri masuk kedalam sinus renalis yang disebut arteria renalis. Arteria
ini didalam sinus bercabang-cabang. Cabang-cabang ini berjalan diluar pelvis,
kearah medula. Di sini arteri-arteri itu berjalan diantara pyramid-piramid untuk

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 38


mencapai korteks (oortex). Arteri-arteri itu disebut arteri interlobaris, yang
masing-masing bercabang menyusuri batas antara korteks dan medulla dan disbut
arteri arkuata. Arteri arkuata member cabang-cabang yang berjalan tegak lurus
terhadap arteri arkuata danmasing-masing disebut arteri interlobaris. Setiap arteri
ini member cabang-cabang yang berjalan sejajar dengan dataran luar ginjal.
Cabang-cabang ini masing-masing disebut arteriola aferentia, yang masuk kedalam
kapsula glomeruli. Di dalam bangunan itu arteriola aferintia beroabang-oabang
membentuk kapiler. Kumpulan kapiler di dalam kapsula glomeruli disebut
glomerulus. Kapiler-kapiler ini kemudian berkumpul menjadi satu arteriola
eferentia yang keluar dari kapsula glomerulu dan pergi ke tubulus renalis. Disini
anteriola ini bercabang-cabang lagi menjadi kapiler yang mengelilingi tubuli
renales. Kapiler-kapiler ini kemudian berkumpul menjadi vena yang mengikuti
kembali arteria-arteria.
Sebagian besar dinding kapiler yang membentuk glomerulus menempel
kepada lembaran dalam kapsula glomeruli. Dinding kapiler ini terdiri atas sel-sel
endotel yang di sana-sini mempunyai lubang kecil (pori). Lembaran dalam kapsula
glomeruli terdiri atas sel-sel epitel yang mempunyai lanjutan-lanjutan ke arah
endothelium kapiler. Lanjutan-lanjutan sel-sel apitel itu jalin-menjalin, dan di
antaranya ada celah. Antara endotel dinding kapiler epitel lembaran dalam
kapsula glomeruli terdapat suatu membran yaitu membran basalis. Glomerulus
bersama dengan kapsula glomeruli membentuk korpuskulum renis.
Dengan struktur seperti itu, fungsi-fungsi ginjal dapat terselenggara yang
pada dasarnya adalah prose-proses transpor. Proses-proses transpor dalam nefron
pada akhirnya menghasilkan urine ynag dibentuk melalui mekanisme-mekanisme
sebagai berikut :
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
1. Filtrasi pada glomerulus;
2. Resorpsi pada tubulus (salah satu aktif atau pasif);
3. Ekskresi pada tubulus secara aktiv dari plasm ke urine;
4. Sekresi pada tubulus dari sel-sel ginjal ke urine.
Proses-proses itu dijelaskan secara singkat :
1. Darah difiltrasi melalui membran basalis. Hanya molekul-molekul berukuran
kecil saja yang dapat melalui filter (maksimum 70.000), tetapi hal ini
tergantung juga dari bentuk molekul. Sebagian protein plasma dapat melalui
filter. Dalam filtrate terdapat glukosa, asam-asam amino, klorida, urea,
kreatinin, dan asam urat.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 39


2. Anyak substansi dalam filtrate diresorbsi dalam tubulus kontortus proksimalis.
Substansi itu ialah terutama elektrolit , asam-asam amino, asam urat, laktat,
urea, peptide, protein, asam askorbat, dan glucose. Bermacam-macam cara
digunakan untuk melaksanakan itu : reabsorpsi pasif, transport aktif primer,
transport aktif sekunder, dan pinositosis.
3. Ekskresi aktif pada tubulus. Substansi-substansi tertentu diekskresikan dengan
cara ini seperti substrat-substrat endogen ( glukuronid, hipurat, sulfat) dan
substansi obat (penisilin,diuretikum) atau metabolit-metabolit obat.
4. Sekresi sel tubulus. Sel-sel nefron mengandung berbagai enzim untuk sintesis
substansi-substansi yang ditransfer ke cairan tubulus. Substansi-substansi ini
antara lain NH3 (dengan enzim glutaminase) dan H (dengan enzim karbonat
anhidrase). Sekresi NH3 secara pasif, sedangkan ion H secara aktif.

9.1.2. Osmoregulasi Pada Burung dan Vertebrata Rendah


Mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk osmoregulasi dan ekskresi pada
burung dan vertebrata rendah adalah serupa dengan yang ada pada hewan
menyusu.Burung seperti halnya hewan menyusu terutama dihadapkan pada masalah
mendapatkan air dan mengawetkan garam-garam. Meskipun pada burung dataran
badan yang permeable telah tereduksi hingga suatu minimum, kehilangan air
berlangsung terus-menerus oleh karfena respirasi dan termoregulasi. Burung-burung
umumnya mengimbangi kehilangan air dengan minum dan juga memperoleh air
nelalui makanannya. Pada burung-burung (juga pada reptil), memiliki usus yang dapat
menyerap air secara efisien.
Untuk mengawetkan air, pada umumnya burung-burung mengandalkan pada
ginjal yang efisien, usus, dan kloaka. Suatu sistem diluar ginjal untuk mengeluarkan
Bahan Ajar Fisiologi Hewan
kelebihan elektrolit dijumpai pada burung-burung yang hidup dari makanan yang
berasal dari laut.
Banyak burung-burung laut yang memiliki kelenjar garam , yang juga dijumpai
pada burung-burung padang pasir. Kelenjar garam, glandula nasalis, pada burung
camar laut (larus argentatus) terdiri atas sejumlah lobus berbentuk pipa-pipa panjang,
masing-masing dengan satu kanalis sentralis. Satu lobus terdiri dari kelenjar-kelenjar
berbentuk pipa-pipa halus yang mengalirkan isinya kedalam kanalis sentralis. Darah
mencapai kelenjar-kelenjar itu melalui kapiler-kapiler dengan aliran yang berlawanan
dengan arah aliran getah kelenjar yang disekresi, ini juga sistem arus berlawanan.

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 40


Terjadi transport aktif Na dari darah ke getah kelenjar. Di dalam getah yang
disekresikan didapatkan Na, Ca, Mg, SO4, dan HCO3.
Teleostgei yang hidup di laut menghasilkan urine dengan jumlah minimal
dengan demikian menghemat air. Meskipun zat buangan yang mengandung nitrogen
dibuang melalui urine , tetapi sebagian besar dibuang melalui insang dalam bentuk
ammonia. Hal ini dapat menghemat penggunaan air yang seharusnya hilang sebagai
urine. Kelebihan ion-ion divalen yang masuk melalui saluran pencernaan juga
dikeluarkan dalam urine.
Kelebihan Na atau Cl yang terbawa masuk oleh karena difusi atgau karena
minum air laut dikelurkan melalui epitel insang. Alat-alat ekskresi peranannya kecil
dalam pengaturan ion. Transport aktif NaCl melalui sel-sel epitel insang merupakan
jalan utama untuk mengeluarkan kelebihan garam.
Teleostei yang hidup di air tawar mmiliki getah jaringan yang lebih pekat
daripada lingkungan dan dihadapkan pada bahaya kelebihan air dan kehilangan garam-
garam yang berguna. Ikan air tawar tidak minum air dan sel-sel insang digunakan
untuk absorbsi Na dengan transport aktif dari medium. Ginjal mengeluarkan banyak
sekali urine enoer. Beberapa macam garam diperoleh bersama-sama makanan.

Bahan Ajar Fisiologi Hewan

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 41


BAB X
TERMOREGULASI

10.1. Pendahuluan
Deskripsi Singkat
Bab ini menguraikan tentang klasifikasi, pengaruh suhu terhadap hewan, suhu tubuh
hewan ektoterm, hubungan suhu dengan hewan endoterm

10.1.1. Penyajian
Termoregulasi memelihara suhu badan agar selalu normal meskipun selalu
ajag terjadi tubuh mengambil panas, memproduksi panas, dan kehilangan panas. Satu
perubahan pada salah satu proses-proses ini harus dikompenasi dengan mengubah
yang lain. Pada hewan menyusu dan burung memiliki pusat termoregulasi di dalam
hipotalamus. Di situ terdapat termoreseptor yang peka panas menaggapi perubahan-
perubahan suhu inti yang diantarkan oleh aliran darah. Informasi tambahan diterima
dari termoreseptor pada kulit dan modulla spinalis. Hipotalamus mongintegrasikan
data ini dan memulai suhu variasi tanggapan untuk mengatasi penyimpanan suhu
badan dari normal. Hewan-hewan yang melaksanakan mekanisme ini disebut hewan
homoioterm. Vertebrata rendah yaitu Reptil, amfibi dan ikan tidak melaksanakan
mekanisme seperti itu, suhu badannya berubah-ubah mengikuti suhu lingkungannya,
golongan ini disebut hewan poikiloterm. Hewan-hewan homoiotrem yang mengalami
hibernasi menjadi poikiloterm selama menjalani hibernasi. Suhu badan yang dikatakan
ajeg normal pada hewan homoioterm itu tidak sesungguhnya tidak sepenuhnya
demikian, memang suhu tubuh di bagian yang dalam menunjukan relatif ajeg misalnya
37 0,5 C, tetapi di bagian anggota badan dan kulit suhunya beragam. Untuk Bahan Ajar Fisiologi Hewan
memelihara suhu badan selalu ajeg normal memerlukan kestabilan antara produksi
panas dan kehilangan panas.
A. Pertukaran Panas Secara Fisika
Dalam beberapa hal tubuh hewan menyerupai mesin termodinamik yang
mengubah satu bentuk yang lain. Satu frakai energi kimia berasal dari
pembongkaran makanan diubah menjadi kerja, tetapi oleh karena efisiensinya
terbatas sebagian besar keluarsebagai panas. Pada hewan homoioterm
kesehimbangan terpelihara antara laju hilangnya panas itu ke lingkungan dan laju
produksinya dengan metabolisme, sehingga menghasilkan keajegan suhu yang

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 42


mencerminkan keadaan panas yang stabildengan aliran energi yang
berkesinambangan melalui sistem itu.
Dalam lingkungan suhu rendah, kestabilan panas tercapai hanya jika tubuh
mampu menghasilkan cukup panas menghasilkan cukup panas untuk mengimbangi
pemindahan panas ke lingkungan secara lingkungan. Sebaliknya dalam lingkungan
panas, lingkungan harus mampu menerima panas metabolik tubuh tanpa
menyebabkan suhu badan naik di atas batas kefaalan.
Pemindahan panas secara fisika yang terjadi antara permukaan tubuh
dengan lingkungannya dengan cara: konduksi, konveksi dan radiasi. Pertukaran
energi hewanhomoioterm dengan lingkungannya ditunjukkan dalam.
Pemindahan panas secara konduksi tidak begitu penting bagi hewan-hewan
terestrial, tidak demikian halnya bagi hewan-hewan akuatik, panas berpeluang
besar hilang dari tubuh dengan konduksi. Hewan-hewan menyusu akuatik tidak
memiliki bulu-bulu yang tanah air secara yang secara efektif dapat melindunginya
dari kehilangan panas.untuk mengatasi itu hewan homoioterm di laut, ikan paus
dan sapi laut (direnia) memiliki lapisan tebal gelembung-gelembung di bawah
kulit.
Efisiensi evaporasi secara fisiologi sangat bergantung pada kejadiannya.
Jika tempat kejadian itu kulit dan saluran respirasi maka sebagian besar panas
bersal dari tubuhnya sendiri, tetapi jiwa terjadi permukaan bulu-bulu atau pakaian
panas itu berasal dari lingkungannya. Panas yang hilang karena evaporasi respirasi
dipercepat, bukan oleh sekresi keringat dan perluasan bagian tubuh yang basah,
melainkan tergantung pada ventilasi permukaan evaporasi.

B. Regulasi Kefaalan Dalam Produksi


Bahan Ajar Fisiologi Hewan
Regulasi kefaalan dakam produksi panas juga sering disebut regulasi secara
kimia karena terdiri dari proses-proses kimia dalam metabolisme. Jika suhu
lingkungan turun, kehilangan panas bertambah, sehingga suhu tubuh turun apa bila
metabolisme tidak meningkat. Pada suhu lingkungan 23 C atau jika suhu tubuh
turun 0,6 sudah terjadi kenaikkan metabolisme. Metabolisme dinaikan dengan
mengigil, yang sesungguhnya adalah kontraksi otot yang tidak teratur dan tidak
disengaja. Oleh karena itu oksidasi dapat meningkat sampai 400 x. Mekanisme-
mekanisme yang mengatur produksi pana ialah:
1) Aktivitas otot ;
2) Tonus otot ;

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 43


3) Speoifio Dynamio Aotion makanan
4) Perubahan-perubahan metabolisme basal.
Selain keempat mekanisme itu metabolisme secara intrinasik dipengaruhi
aktivitas glandula thyroidea dan tersedianya jaringan lemak coklat. Clandula
thyreodia menghasilkan hormon toroksin yang sangat erat hubungan dengan
metabolisme energi. Jaringan lemak pada hewan menyusun ada dua macam yaitu
lemak putih dan lemak coklat. Yang terakhir ini kaya dengan pigmen respirasi
(sitokrom).

C. Regulasi Kefaalan Dalam Pembuangan Panas


Dalam pembicaraan sebelumnya telah dikemukakan bahwa panas tubuh
hilan ke lingkungan melalui evaporasi kulit dan evaporasi saluran respirasi. Pada
hewan yang tidak memiliki kelenjar keringat, untuk meningkatkan pembuangan
panas dengan cara meningkatkan frekuensi pernapasan dan menigkatkan
vensilasinya. Perilaku ini disebut : panting, misalnya pada anjing. Selain itu
pembuangan panas dapat terjadi melalui peredaran darah perifer dengan sistem
arus berlawanan.

Bahan Ajar Fisiologi Hewan

Disusun Oleh Roni Y. N. Boik, S.Si - UNSTAR 44