Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organ Pernafasan merupakan hal yang vital bagi kelangsungan hidup manusia.

Menurut Maslow kebutuhan O2 ditempatkan pada kebutuhan dasar yang paling

utama. Dalam keadaan normal manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa oksigen

lebih dari 4-5 menit (Barbara Kozier, 1995). TBC merupakan penyakit menular

yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberculosa yang merupakan bakteri

batang tahan asam, organisme patogen atau saprofit yang biasanya ditularkan dari

orang ke orang melalui nuclei droplet lewat udara. Paru adalah tempat infeksi

yang paling umum, tetapi penyakit ini juga dapat terjadi dimanapun di dalam

tubuh. Biasanya bakteri membentuk lesi (tuberkel) didalam alveoli.


BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Penyakit Tuberculosis


1. Pengertian
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobakterium
Tuberculosa yang merupakan bakteri batang tahan asam, dapat merupakan
organisme patogen atau saprofit (Sylvia Anderson, 1995:753).
2. Etiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobakterium
tuberculosis, kuman batang tahan asam ini dapat merupakan organisme patogen
maupun saprofit. Ada beberapa mikobakteria patogen, tetapi hanya starin bovin
dan human yang patogenik terhadap manusia.
Basil tuberkel ini berukuran 0,3 x 2 sampai 4 um, ukuran ini lebih kecil dari satu
sel darah merah.
Di dalam jaringan kuman hidup sebagai parasit intra seluler yakni dalam
sitoplasma makrofag. Sifat lain kuman ini adalah aerob, sifat ini memungkinkan
bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.
Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada
bagian lain sehingga bagian apikal ini merupakan predilaksi penyakit
tuberkulosis.
Faktor predisposisi penyebab penyakit tuberkulosis antara lain ( Elizabeth J powh
2001: 414)
1). Mereka yang kontak dekat dengan seorang yang mempunyai TB aktif
2). Individu imunosupresif (termasuk lansia, pasien kanker, individu dalam
terapi kartikoteroid atau terinfeksi HIV)
3). Pengguna obat-obat IV dan alkoholik
4). Individu tanpa perawatan yang adekuat
5). Individu dengan gangguan medis seperti : DM, GGK, penyimpanan
gizi, by pass gatrektomi.
6). Imigran dari negara dengan TB yang tinggi (Asia Tenggara, Amerika
Latin Karibia)
7). Individu yang tinggal di institusi (Institusi psikiatrik, penjara)
8). Individu yang tinggal di daerah kumuh
9). Petugas kesehatan

3. Manifestasi Klinis
Adapun gejala-gejala klinis pada penderita tuberkulosa dapat bermacam-macam
atau malah tanpa keluhan sama sekali. Keluhan yang terbanyak adalah (Suparna,
dkk IPD jilid II, 1991) :
a. Demam
Biasanya sub febris menyerupai demam influenza tapi kadang-kadang panas
badan dapat mencapai 40-41oC.
b. Batuk
Gejala ini banyak ditemukan. Bentuk terjadi karena adanya iritasi pada brinnchus
c. Sesak Nafas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak nafas, sesak
nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana inflasinya sudah
setengah bagian paru-paru.
d. Nyeri Dada
Gejala ini jarang ditemukan, nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai
ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis.
e. Malaise
Penyakit tuberkulosis radang yang menahun, gejala malaise sering ditemukan,
anoreksia makin kurus (BB menurun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat
malam.
4. Patofisiologi
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara
sel-sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit T (sel T) adalah sel
imunoresponsifnya. Tipe imunitas ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang
diaktifkan di tempat infeksi oleh lomosit dan limokinnya. Respon ini disebut
sebagai reaksi hipersentifita
5. Pemeriksaan Diagnostik
1). Laboratorium darah rutin ditemukan LED meningkat dan Limfositosis.
2). Foto thorax posterior anterior dan lateral ditemukan :
3). Pemeriksaan sputum BTA
4). Tes Pap (Peroksidase anti Peroksidase)
5). Tes Mantoux / Tuberkulin
6). Teknik Polymerase (Chain Reaction)
7). Baction Dickinson Diagnostic Instrument System (BACTEC)
8). Enzyme Linted Immunosorbent Assoy
9). Mycodot
10). Pewarnaan Zeihl-Neilsen
BAB III
TINJAUAN KASUS

1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data
1. Identitas Klien
Nama : Tn.
Umur :
Jenis Kelamin :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Agama :
Alamat :
GENOGRAM

Ket. :
: Laki-Laki

: Perempuan

: Sakit
Pola Aktivitas

No. Aktivitas Sebelum sakit Sesudah sakit


1 Nutrisi
Makan
Nasi, sayur, buah-
- jenis makanan Nasi, sayur lauk
buahan.
pauk kadang-
3x/hari, habis
kadang buah
porsi
- Frekuensi buahan.
2-3 x / hari, habis
3 6 gelas / hari
- keluahan porsi.
klien mengatakan
Klien mengatakan
nafsu makan
tidak ada keluhan
berkurang karena
Minum apapun.
sering mual.dan
.
nyeri pada daerah
perut kiri.
Jenis 3 botol aqua besar
3-6 gelas /hari
keluhan dan paling sedikit 6
- 8 gelas hari (1500
2000 cc)
air putih
Air putih dan air teh
klien mengatakan
2 Pola Eliminasi Tidak ada keluhan
jarang minum
a. BAB
b BAK

3 x / hari
3 Pola 2 x/ hari,
3x / hari
Istirahat konsistensi lembek
kuning jernih
5 x / hari
Kuning jernih
klien mengatakan
tidur tidak tentu
4 Personal hygiene Siang jam 14.00-
selama 1-2 jam
Kebersihan kulit 17.00 WIB malam
perhari pada malam
Kebersihan gigi hari jam 22.00-
hari dan pada siang
Kebersihan rambut 05.00 WIB.
hari sekitar 2 jam
tidak tentu.
Aktivitas
Klien mengatakan
Klien mengatakan
hanya dilap dengan
5 mandi 2x/hari
air hangat 1x/hari.
Klien gosok gigi 2x
Klien gosok gigi 2x /
/ hari
hari
Klien mencuci
Klien mengatakan
rambut 2x / minggu
selama dirawat
Klien dapat belum pernah dicuci
melakukan aktifitas rambut.
sendiri tanpa
bantuan dari orang Klien melakukan
lain.klien juga aktifitas dibantu oleh
seorang karyawan perawat dan keluarga
dari PT TNT termasuk ketika
hendak BAB.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Compos mentis GCS 15
b. Tanda-Tanda Vital
TD : 100 / 70 mmhg N : 100 x / menit
S : 370C R : 24 x / menit
c. System Pernapasan
Bentuk hidung simetris, septum terdapat, tidak terdapat pernafasan cuping hidung,
tidak terdapat secret, mukosa hidung lembab dan berwarna merah muda, patensi
hidung kuat, tidak terdapat nyeri tekan sinus.bentuk dada simetris, tidak terdapat
retraksi intercostalis, vertebrate lurus, tidak terdapat masa dan tidak terdapat nyeri
tekan, vocal fremitus antara paru kanan dan kiri simetris, pengembangan paru saat
bernafas simetris, pada perkusi suara paru resonan, suara psru terdengar
vesikuler.respirasi 24 x/ menit.
d. Sistem Kardiovaskuler
Konjungtiva pucat, tidak terdapat peningkatan JVP ( Jugularis Vena Pressur ),
CRT ( Cafilrary Refilling Time ) dapat kembali dalam waktu 2 detik, akral teraba
hangat, ictus kordis teraba pada ICS V Midclavikula kiri, suara perkusi jantung
Dulhes, bunyi jantung S1 dan S2 terdengar murni reguler, pulsasi denyut nadi
teraba lemah dengan irama teratur, frekwensi nadi 100 x / menit. TD : 100 / 70
mmHg.
d. Sistem Pencernaan
Bibir dan mukosa lembab, tidak terdapat kelainan pada bentuk bibir, gigi jumlah
32 buah, pergerakan lidah bebas, tidak terdapat lesi, warna merah muda, tidak
terdapat nyeri tekan, terdapat reflek menelan, bentuk perut datar dan terasa sakit
bila ditekan kwadran kanan bawah, dan tidak teraba pembesaran hepar dan limpa,
BU 8x/menit, BB 48 kg
e. Sistem Persyarafan
Kesadaran compos mentis dengan nilai GCS = 15
Orientasi klien terdapat orang,waktu dan tempat baik terbukti klien dapat
menyebutkan dimana klien sekarang berada serta keluarga yang menunggunya.
Klien dapat mengingat kejadian masa lampau dan kejadian yang baru saja terjadi.
Test Nervus Cranial
(1). Nervus Olfaktorius
Klien mampu membedakan bau kopi dan kayu putih
(2). Nervus Optikus
Klien mampu membaca papan nama perawat dalam jarak 30 cm
(3). Nervus Okulomotoris, Troklearis, Abdusen
Klien mampu menggerakkan bola mata kearah atas, bawah, dan samping
mengedip spontan, pupil osokov simetris dan kontraksi saat diberi cahaya.
(4). Nervus Trigeminus
Klien mengatakan sentuhan kapas diwajahnya, klien dapat menggerakkan
rahangnya, klien mampu mengedip
(5). Nervus Fasialis.
Klien dapat menggerakkan dahi, dapat membedakan rasa asin, manis, pada
lidahnya, tidak terdapat parese
(6). Nervus Auditorius
Klien mendengar dengan jelas dibuktikan dapat menjawab semua pertanyaan.
(7). Nervus Glosofaringeus dan Vagus
klien dapat merasakan rasa pahit pada 1/3 posterior lidah.
Klien dapat menelan, uvula bergetar saat klien mengucapkan kata Ach .
(8). Nervus Acessorius
Klien dapat menggerakkan leher, kekuatan otot sama saat diberi tekanan pada
dagu disaat klien menoleh, klien dapat mengangkat bahunya tanpa rasa nyeri dan
melawan tekanan yang diberikan.
(9). Nervus Hipoglosus
kline mampu menjulurkan lidahnnya kekiri dan kekanan dan dapat menariknya
dengan baik dan pergerakan terkontrol.

f. Sistem Endokrin
Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening. Pada leher kiri terdapat bekas
opersi lympadenopati, tidak terdapat tanda-tanda gangguan hormonal seperti
moonface ataupun exopthalmus, tidak terdapat tremori pada kedua belah tangan.

g. Sistem Genetourinaria
Bentuk utuh, pada supra pubis terdapat luka post operasi kelenjar KGB + 5 cm
yang masih basah, jahitan masih utuh, pada pacpasi tidak terdapat pembesaran
ginjal, blas terasa kosong.

h. Sistem Muskoloskeletal
- Postur tubuh simetris, klien dapat membuka mulut, klien dapat
menahan pada saat dagu diberi tahanan.
- Leher dapat difleksikan 45o, hypertensi 135o, flexi lateral kidanka 45o,
dan rotasi 360o.
- Extermitas Atas
Bentuk tangan simetris, bahu dapat extensi 18oC, aduksi 45oC rotasi 360o,
pergelangan tangan dapat di extensikan , fleksi, rotasi, supehasi, prohasi, jari-jari
tangan dapat di abduksikan, reflek bisep, dan tricep (++/++), tidak terdapat odiem
terpasang infus RL 20 tpm pada tangalo kanan.
- Extermitas bawah
Pada kaki kiri panggul extensi 90o, fleksi, abduks 20o abduksi 45o, extensi lutut
120o, pergelangan kaki dapat difleksikan, extensi dan jari-jari kaki dapat
diversikan, inversi, abduksi, abduksi, reflek fatella (++/++), kekuatan otot
5 5
5 5
i. Sistem Integumen
Rambut agak kotor, tidak mudah tercabut, kulit kepala berketombe, tugor kulit
baik) S . 376C., terdapat luka operasi pada daerah lipatan paha pinggang
j. Sistem penglihatan dan pendengaran dan wicara
Klien dapat membaca dengan baik, klien dapat menjawab pertanyaan bila
diajukan perawat dengan benar klien dapat bicara dengan arti kulasi yang jelas

3. Data Psikologis
a. Status Emosi
Emosi klien tampak stabil dan berbicara dengan nada rendah
b. Kecemasan
Expresi wajah klien tampak lemas dan pucat, klien sering bertanya apakah
penyakitnya bisa kambuh lagi, klien mengatakan tidak tahu banyak tentang
penyakitnya dan cara perawatannya.
c. Pola koping
Menurut klien apabila klien punya masalah klien suka bercerita padaGaya
Komunikasi
Klien berbicara cukup jelas, expressi muka sesuatu yang klien rasakan
d. Konsep Diri
- Gambaran diri / body image
Klien merasa tidak puas pada kondisi badannya karena menderita sakit TBC.
- Identitas Diri
Klien sebagai seorang laki-laki yang telah menikah pegawai PT TNT, dan klien
adalah seorang ayah yang memiliki seorang anak.
Peran
Klien berperan suami dan tidak dapat melaksanakan perannya karena sakit
- Idiel Diri
Harapan klien ingin cepat sembuh dan lekas pulang, sehingga ia dapat beraktivitas
sebagaimana sebelum sakit
- Harga Diri
Klien merasa bangga dengan dirinya, klien tidak merasa malu dengan keadaannya
saat ini
4. Data Sosial
Klien dimasyarakat sebagai seorang pekerjaan buruh di PT. TNT, dan klien
sehari-hari berhubungan baik dengan tetangga-tetangganya. Di RS komunikasi
dengan perawat baik, hubungan dengan keluarga baik dan keluarga mau untuk di
ajak kerja sama.
5. Data Spiritual
Falsafah Hidup
Klien percaya dengan adanya sehat dan sakit, klien mengatakan jika sakit akan
sembuh dengan pengobatan yang teratur disertai doa kepada Tuhan YME.
Selama di RS klien tidak dapat menjalankan ibadahnya seperti biasa.
Analisa Data
No Data Penyebab dan Dampak Masalah
1. 2. 3. 4.
1. Ds : Invasi mycobacterium Gangguan
- Klien mengeluh tuberculosa oksigenasi :
sesak nafas dan diffusi
batuk terbentuk tuberkel pada paru
Do :
- Klien tampak sesak keruakan jaringan alveoli
- Klien batuk
- Ro : thorax kusam pertukaran gas pada alveoli
Tb paru duplex aktif terhambat
- Terdengar suara
ronchi Gangguan oxigenasi difusi
- Nadi 100 x / mnt
- Respirasai 28x/mnt
- Sputum kental
warna kuning
No Data Penyebab dan Dampak Masalah
1. 2. 3. 4.
2. Ds : Infeksi kuman TBC pada paru Gangguan
- Klien mengatakan intoleransi
badan klien lemah inflamasi / peradangan pada aktivitas
dan lemah. paru-paru
- Klien merasa
mudah lelah. penyekatan membrane respirasi
Do :
- Klien tampak lemas oksigenasi kurang
- Hb 9,1 gr/dl dari
nilai normal 13-16 metabolisme menurun
gr/dl.

- Klien terlihat pucat.
energi yang dihasilkan menurun
- TD : 100/70 mmHg.

- Nadi : 100x/menit.
lemah
- Resp : 28x/menit.

- Suhu : 37 0c
aktifitas intolerans
- Keperluan klien di
bantu oleh keluarga
dan perawat
No Data Penyebab dan Dampak Masalah
1. 2. 3. 4.
3. Ds : Masuknya Mikroorganisme Gangguan
- Klien mengeluh TBC pemenuhan
tidak ada nafsu kebutuhan
makan terjadi reaksi antigen dan nutrisi
- Mual antibodi
Do :
- Porsi makan tidak kerusakan jaringan paru-paru
habis, hanya
setiap kali makan suplai 02 kejaringan berkuang
- BB: 48 KG
- Hb : 9,1 mg/dl
- Klien tampak lemas Proses Merangsang
metabolis impuls saraf
- Konjungtiva pucat
me menurun


merangsang
pemecahan medulla
karbohidrat, vomoitng
protein, center
lemak

mual /
respon
makan
menurun

intake nutrisi
tidak
adekuat

No Data Penyebab dan Dampak Masalah


1. 2. 3. 4.
4. Ds : Kurangnya pengetahuan pasien Gangguan
Klien menanyakan tentang keadaan penyakitnya rasa aman
terus keadaan penyakit cemas
nya dan menanyakan Salah persepsi
apa pantangannya
Do : merupakan stressor psikologis
Ekspresi wajah agak
tegang, klien selalu Menyebabkan klien cemas
menanyakan dan proses
kejadiannya penyakit
pada pemeriksa klien
terlihat murung
5. Ds : Reaksi imflamasi pada paru Gangguan
Klien mengatakan pemenuhan
susah tidur Peningkatan metabolisme dan istirahat tidur
Do : oxigenasi di paru-paru
- Wajah lesu
- Mata merah Respon saraf simpatis
- Frekwensi nafas
meningkat Keringat meningkat
- Tidur malam 1-2
jam sering terjaga RAS teraktivasi untuk
mengaktifkan kerja organ tubuh

Rem menurun

Klien terjaga
No Data Penyebab dan Dampak Masalah
1. 2. 3. 4.
6. Ds : Kurangnya informasi Kurangnya
Klien mengatakan tidak pengetahuan
tahu tentang Kurangnya pengetahuan pasien perawatan di
penyakitnya. tentang keadaan penyakitnya rumah
Do :
Klien sering bertanya
apakah penyakitnya
bisa kambuh lagi

7. DS : Adanya luka insisi pada leher Resiko infeksi


Klien mangatakan ada dan paha
luka bekas insisi pada
daerah leher, lipatan port of entry bagi m.o untuk
paha. menginvasi
DO :
Terdapat luka bekas resiko infeksi
insisi pada leher,
lipatan paha
- luka sepanjang 3 cm
C. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas
Tanggal 29-04-2006
- Gangguan oxigenasi : difusi berhubungan dengan kerusakan membran
alveoli.
- Resiko infeksi pada luka insisi b.d post op limfadenopati
- Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi b.d anoreksia akibat sesak
nafas
- Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan
RAS yang teraktivasi akibat sesak dan nyeri dada
- Aktivitas intolerance b.d kelemahan fisik
- Resiko kambuh ulang b.d kurangnya pengetahuan klien tantang
perawatan dirumah.
B. PERENANCAAN KEPERAWATAN

Nama : Tn. Diagnosa : TB Paru Aktif


Umur : Ruang :
No. Medrec : Tgl. Pengkajian :

Perencanan
No Diagnosa Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Gangguan oksigenasi : diffusi Tupan : 1. Atur dan pertahankan posisi 1. posisi membantu memaksi
tidur klien dalam semi fowler. malkan ekspansi paru dan
b.d kerusakan membran alveoli. Tidak terjadi gangguan oksigenasi :
menurunkan upaya per
Ditandai dengan : diffuse. 2. Observasi status pernafasan napasan.
setiap 8 jam sekali termasuk 2. Untuk mengetahui efekti
Ds : Tupen :
frekuensi nafas, kedalaman dan vitas jalan nafas serta
- Klien mengeluh sesak nafas Setelah dilakukan perawatan selama bunyi nafas kondisi tubuh akibat jalan
nafas yang tidak efektif. 8
dan batuk 5 hari, akumulasi secret berkurang
jam ditentukan dari
Do : dengan kriteria : pergerakan mukus di saluran
nafas yang di dorong oleh
- Klien tampak sesak - Ronchi berkurang
silia (1cm/ment)
- Klien batuk - Frekuensi nafas dalam batas- 3. Kolaborasi pemberian O2 3. Meningkatkan ventilasi
lembab sesuai dengan maksimal dan oksigenasi
- Ro : tharox kusam Tb paru batas normal 18-24 x/mnt
kebutuhan klien 4. Metode ini memudahkan
duplex akitf - Klien tidak terlihat sesak ekspansi maksimum paru
4. Ajarkan metode dalam dan sehingga dahak akan
- Terdengar suara ronchi
batuk efektif 2-3 kali sehari terdorong keluar.
- Nadi 100 x / mnt 5. Agen mukolik menurunkan
5. Laksanakan program media kekentalan dan perlengketan
- Respirasai 28x/mnt
Mucos 3 x 1 tab sekret dan mencegah
Sekret kental warna kuning 1. Brodxed 3 x 26 mg. Lanjutkan penyebaran kuman lebih
therapi antibiotik lanjut.
- Rifampisin 450gr 1 x 1 tab 6. dengan minum banyak air
- INH 100mg 3 x 1 tab membantu klien untuk
- Etambutol 500mg 2x2 tab mengeluarkan secret.
- Pirazinamid 500mg 2 x 1 tab

6. Anjurkan klien untuk banyak


minum 1600-2000 ml/ hari
(1) (2) (3) (4) (5)
2. Resiko infeksi pada luka insisi Tupan : 1. kaji keadaan luka bekas insisi. 1. untuk mengetahui apakah
luka dalam keadaan baik.
b.d post op lympadenopati Tidak terjadi infeksi.
2. kaji tanda-tanda vital 2. untuk mengetahui adanya
Ditandai dengan : Tupaen : infeksi melalui peningkatan
suhu tubuh.
DS : Setelah dilakukan tindakan
3. lakuikan perawatan luka insisi. 3. untuk mencegah infeksi.
Klien mangatakan ada luka keperawatan selama 3 hari tanda-
bekas insisi pada daerah leher, tanda infeksi tidak terjadi. Dengan
lipatan paha. kriteria :
DO : Tanda-tanda infeksi tidak ada.
Terdapat luka bekas insisi pada Luka insisi tidak menunjukan
leher, lipatan paha adanya infeksi.
- luka sepanjang 3 cm
3. Gangguan pemenuhan kebutuh Tupan : 1. Tingkatkan pemahaman klien 1. Pemahamanan yang baik
tentang pentingnya nutrisi bagi tentang pentingnya nutrisi
an nutrisi b.d anorexsia akibat
Kebutuhan nutrisi terpenuhi tubuhnya serta diit yang di terhadap kondisinya akan
mual, ditandai dengan : butuhkan meningkatnya motivasi klien
Tupen : dalam memenuhi kebutuhan
Ds :
nya.
Setelah dilakukan perawatan selama 2. Anjurkan minum air hangat
- Klien mengeluh tidak ada 2. Makanan/minuman dalam
sebelum makan dan anjurkan keadaan hangat akan menam
nafsu makan lima hari kebutuhan nutrisi klien klien untuk memakan makanan bah menetralisiri asam
- Mual dalam keadaan hangat. lambung.
terpenuhi dengan kriteria : 3. Atur pola makan dengan porsi 3. Porsi kecil akan mengurangi
Do : kecil tapi sering atau makanan yang mual dan kebutuhan nutrisi
- Mual berkurang disukai klien, roti, nasi atau susu.
- Porsi makan tidak habis, tetap terpenuhi
- Porsi makan habis 4. Motivasi keluarga untuk 4 Dukungan keluarga terdekt
hanya setiap kali makan memenuhi klien saat makan diharapkan membangkitkan
- Nafsu makan meningkat 5. Cegah/atasi penurunan selera
- BB: 48 KG semangat klien untuk makan.
- BB naik 0.5 kg makan klien dengan cara 8. Oral hygeine yang kurang
- Hb : 9,1 mg/dl meningkatkan oral hygiene akan menimbulkan bau
- Klien tampak lemas klien dan beri motivasi. mulut yangkurang sedap
6. Berikan rantin 3 x 1 ampul sehingga akan menurunkan
- Konjungtiva pucat sesuai instruksi. selera makan klien.
7. Berikan ATP 3 x 1 tab sesuai 9. Antiemetik dapat mengu
instruksi rangi mual.
8. Timbang BB secara rutin 10. Vitamian bisa membantu
mengembalikan atau
meningkatkan daya tahan
tubuh.
11. Untuk mengetahui perkemba
ngan klien.
(1) (2) (3) (4) (5)
4. Gangguan pemenuhan kebutuh Tupan 1. Pertahankan upaya untuk 1. Untuk mencegah kehilangan
mengurangi sesak dan nyeri oksigen.
an istrirahat tidur berhubungan
Kebutuhan istirahat tidur klien dengan tidur klien dalam semi
dengan RAS yang teraktivitas fowler.
terpenuhi 2. Bereskan tempat tidur dan 2. Memberikan rasa nyaman
akibat sesak dan nyeri dada,
lingkungan tempat tidur. dan diharapkan klien dapat
ditandai dengan : Tupen : beristirahat.
Ds :
Setelah dilakukan perawatan selama 3. Anjurkan klien dan keluarga 3. Pengunjung yang banyak
- Klien mengatakan susah untuk membatasi pengunjung akan menganggu klien untuk
tiga hari tidur klien bertambah dan penunggu hanya boleh dua istirahat
tidur
orang.
- Tidur malam 1-2 jam sering dengan kriteria : 4. Anjurkan keluarga klien untuk 4. Lampu yang redup akan
mematikan atau meredupkan mengendorkan syarat-syaraf
terjaga
- Klien tampak segar lampu ketika klien mau tidur. yang ada pada pola mata
Do : sehingga klien akan tidur.
- Klien tidak sering menguap
- Wajah lesu
- Jam tidur menjadi tujuh jam 5. Anjurkan klien untuk minum 5. Asam tritokan yang
- Mata merah susu hangat ketika akan tidur. terkandung dalam susu di
harapkan akan membuat
- Frekwensi nafas meningkat
klien mengantuk dan tertidur
6. Anjurkan untuk selalu berdoa 6. Berdoa dapat menenangkan
menjelang tidur. jiwa klien.
(1) (2) (3) (4) (5)
5. Aktivitas intolerance b.d Tupan 2. Jelaskan pada klien untuk 1. Menambah pengetahuan
kelemahan fisik akibat tidak melakukan aktivitas pada klien tentang penting
seimbangnya antara demand Klien dapat bertoleransi terhadap nya melakukan aktivitas
dan supply 02, ditandai dengan: secara bertahap.
Ds : aktivitas secara bertahap
- Klien mengatakan badan 3. Siapkan dan dekatkan peralatan 2. Menyiapkan dan mendekat
klien lemah dan lemah. Tupan untuk memenuhi kebutuhan kan semua peralatan akan
- Klien merasa mudah lelah. ADLnya memudahkan klien untuk
Do : Aktivitas klien terpenuhi dalam 4 memenuhi ADLnya.
- Klien tampak lemas 4. Ajarkan pada klien metoda 3. Agar energi tidak terbuang
- Hb 9,1 gr/dl dari nilai hari dengan kriteria penghematan energi untuk sehingga mengurangi kelelah
normal 13-16 gr/dl. aktivitas. an.
- Klien terlihat pucat. - Lemas berkurang 5. Bantu klien memenuhi 4. Menjaga kebersihan klien
- TD : 100/70 mmHg. kebutuhan personal hygiene dan memberikan rasa
- Klien dapat beraktivitas secara
- Nadi : 100x/menit. nyaman.
- Resp : 28x/menit. bertahap 6. Berikan waktu istirahat setelah 5. Memberikan kesempatan
- Suhu : 37 0c klien melakukan aktivitas. pada tubuh untuk mengum
- Kulit bersih
- Keperluan klien di bantu pulkan tenaga baru.
oleh keluarga dan perawat - Rambut dan kulit kepala bersih 7. Libatkan anggota keluarga 6. Agar keluarga tidak ber
untuk melatih klien untuk gantung pada perawat untuk
memenuhi kebutuhannya pemenuhan kebutuhan ADL
klien.
8. Hitung denyut nabi dan RR 7. Untuk mengetahui keadaan
setelah klien melakukan umum klien setelah
aktivitas melakukan aktivitas.
(1) (2) (3) (4) (5)
6. Gangguan rasa aman cemas Tupan 1. Bina hubungan saling percaya 1. Dengan hubungan saling
sedang b.d kurangnya Raman aman cemas teratasi percaya diri meningkatkan
pengetahuan tentang penyakit Tupen keyakinan klien terhadap
dan cara pencegahan dan Rasa aman cemas terpenuhi dengan perawat.
perawatan, ditandai dengan : kriteria :
Ds : - Cemas berkurang 2. Berikan penjelasan tentang 2. Menambah pengetahuan
- Klien mengerti pencegahan dan pengetian, pencegahan, pera sehingga klien merasa
Klien menanyakan terus
perawatan watan dan pengobatan (satpel nyaman
keadaan penyakit nya dan - Klien mengerti tentang kondisi terlampir)
dan proses terjadinya penyakit
menanyakan apa pantangannya
3. Libatkan keluarga dalam 3. Dukungan keluarga terdekat
Do : memberikan support sistem diharapkan membangkitkan
semangat klien untuk
Ekspresi wajah agak tegang,
sembuh
klien selalu menanyakan dan
proses kejadiannya penyakit
pada pemeriksa klien terlihat
murung
7. Resiko kambuh ulang Tupan : 1. Berikan pendidikan kesehatan 1. Menambahkan pengetahuan
berhubungan dengan ketidak Tidak terjadi kambuh ulang tentang pentingnya kesehatan. klien tentang pentingnya
teraturannya klien minum obat. Tupen : kesehatan bagi klien.
DS : Setelah dilakukan tindakan 2. berikan pendidikan kesehatan 2. dengan diberikannya
- Klien mengatakan dahulu perawatan selama 1 hari tentang manfaat obat. pendkesh obat klien
tidak teratur minum obat. pengetahuan klien tentang diharapkan mengetahui
- klien mengatakan tidak perawatan di rumah meningkat tentang pentingnya obat.
minum obat karena dengan kriteria : 3. libatkan keluarga untuk turut 3. dukungan keluaraga turut
terdorong oleh kebutuhan - Klien mengetahui tentang mendukung kesehatan klien mendukung kesehatan klien.
ekonomi. penyakit TBC, penyebab, cara
DO : penularan dan perawatan di 4. Libatkan keluarga menjadi 4. keluarga adalah yang
Klien terlihat serius rumah pengawas obat klien pertama berhubungan
menceritakan kisahnya . - Keluarga dapat bekerjasama dengan klien.
Klien untuk mengawasi klien minum
- obat secara teratur
- Klien minum obat secara teratur
C. Pelayanan
Tgl Waktu Implementasi DP TTD
2 3 4
07.30 Membina hubungan saling percaya antara 1,2,3,
perawat dan klien. 4,5,6
Hasil : Respon
Terbina hubungan baik antara klien dan
perawat terbukti dari klien mau berbicara
dan mengungkapkan perasaannya.
08.00 Merapikan tempat tidur dan lingkungan 1
disekitar klien
Hasil : Respon
- Klien mengatakan merasa nyaman
- Tempat tidur klien terlihat rapi
- Klien terlihat sedikit tenang
08. 30 Mengatur posisi klien senyaman mungkin 3
(semi fowler) dan mengganti balutan
Hasil : Respon
Klien mengatakan dengan posisi semi
fowler merasa lebih baik, klien merasa
lemah
09.0 - Memberikan penjelasan kepada klien 3
tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.
- menemani klien saat makan siang
menganjurkan klien untuk untuk
mengonsumsi makanan lain seperti
roti, nasi, susu sebagai pengganti
makanan yang tidak habis
menganjurkan klien untuk memakan
makanan.
- Dalam keadaan masih hangat
Hasil : Respon
Klien mengatakan nafsu makan biasa saja.
09. 10 - Memandikan klien dengan cara di 5
lapangan menggunakan sabun.
- Memberikan penjelasan pada klien
- Tentang pentingnya mandi bagi tubuh
- Menganjurkan untuk meningkatkan
oral hygiene klien
Hasil : Respon
Klien mengatakan badan terasa segar
Klien terlihat bersih
Tgl Waktu Implementasi DP TTD
2 3 4
07.00 Memberikan O2 sesuai kebutuhan klien 2.4
dan mengobservasi efektivitas pemberian
oksigen, lembab sesuai dengan kebutuhan
klien.
Hasil : Respon
Klien terpasang O2 2lt/menit
07.00 Memberikan obat sesuai dan ganti balutan 2.4
obat diberikan pad klien
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
Hasil : Respon
Klien minum obat dan ganti balutan sudah
diberikan.
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
10.30 Mengobservasi tanda-tanda vital 1
Hasil : Respon
TD = 110/80 mmHg
N = 100x/menit
S = 376C
R = 24 x menit
10.25 Menganjurkan kepada keluarga agar 3
membatasi pengunjung dan mengajurkan
kepada klien agar minum susu dan berdoa
sebelum tidur
Hasil : Respon
- Yang menunggu klien istirahat
keluarga yang lain menunggu diluar.
- Klien akan mencobanya.
11.00 Memberikan pendidikan kesehatan 5.6
kesehatan pada klien pentingnya
pengobatan secara teratur dan perawatan
di rumah
Tgl Waktu Implementasi DP TTD
2 3 4
Hasil : Respon
Klien dan keluarga mengatkan mengerti
apa yang dijelaskan perawat terbukti klien
dapat mengulangi apa telah perawat
katakan
07.00 Merapikan tempat tidur dan lingkungan 1
disekitar klien
Hasil : Respon
- Klien mengatakan merasa nyaman
- Tempat tidur klien terlihat rapi
- Klien terlihat sedikit tenang
07.05 - Pertahankan posisi tidur setengah 1.2
duduk
- Menciptakan lingkungan yang tenang
- Menganjurkan keluarga membatasi
pengunjung
Hasil : Respon
Klien mengatakan dengan posisi semi
fowler merasa lebih baik
08.00 - Memandikan klien dengan cara dilap 3
menggunakan sabun
- Memberikan penjelasan pada klien
tentang pentingnya mandi bagi tubuh
Hasil : Respon
S : Klien mengatakan badan teras
segar
O : Klien terlihat bersih
08.00 Memberikan obat sesuai terapi dan ganti 1.2
balutan (up jahitan) obat diberikan pada
klien.
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
Hasil : Respon
Klien minum obat sudah dilaksanakan
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
Tgl Waktu Implementasi DP TTD
2 3 4
08.30 Mengobservasi tanda-tanda vital 1.6.5
Hasil : Respon
O: TD = 100/80mmHg
N = 100 x menit
S = 376 oC
R = 24 x menit
10.00 - Mengajarkan klien batuk efektif
- Menganjurkan klien selalu mengeluar
kan saat batuk
Hasil : Respon
- Klien masih batuk-batuk disertai dahak
- Sesak nafas mulai berkurang
07.00 Merapikan tempat tidur dan lingkungan
disekitar klien
Hasil : Respon
- Klien mengatakan merasa nyaman
- Tempat tidur klien terlihat rapi
- Klien terlihat sedikit tenang
07.05 Mengatur posisi klien senyaman mungkin
(semi fowler)
Hasil : Respon
Klien mengatakan dengan posisi semi
fowler merasa lebih baik
08.00 Memberikan obat sesuai terapi obat
diberikan pada klien dan ganti balutan
(angka jahitan)
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
Hasil : Respon
Klien sudah diganti balutan dan nyaman
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
07.00 Merapihkan tempat tidur dan lingkungan 1.2.4
disekitar klien
Hasil : Respon
- Klien mengatakan merasa nyaman
- Tempat tidur terlihat rapi
- Klien terlihat sedikit tenang
Tgl Waktu Implementasi DP TTD
2 3 4
07.30 - Mengkaji kekuatan otot 1.2.4
- Mengajarkan klien untuk melakukan
aktivitas yang sesuai dengan kondisi
dan kemampuan secara mandiri
Hasil : Respon
Klien dapat memenuhi kebutuhan sehari-
hari dengan sendiri
Memberikan obat sesuai terapi obat
diberikan pada klien
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
Hasil : Respon
Klien minum obat
- Anadex 3 x 1
- Santibi 2 H
- Rifamficin 1 x 1
- Inoxin 1 x 1
- Dumin 3 x 1
- Tusilan 3 x 1
08.45 Memberikan makanan dalam keadaan
hangat sesuai dietnya
Hasil : Respon
Klien mengatakan nafsu makan ada
Porsi makan habis setengah porsi
10.00 Mengobservasi tanda-tanda vital
Hasil : Respon
O: TD = Ganti 100/gr
N = 100 x menit
S = 326 oC
R = 24 oC
C. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan dengan pendekatan catatan perkembangan
dibawah ini :
Tgl DP Catatan perkembangan Perawat
1 2 3 4
1 S:
- Klien mengatakan batuk dan sesak nafas
- Klien mengatakan keluar dahak hanya sedikit
O:
- Klien tampak batuk-batuk dan sesak nafas
- Pada auskultasi masih terdengar ronchi
- Pernafasan 24 x menit
A:
- Masalah belum teratasi
P:
- Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 dan 5
I:
1. Mempertahankan posisi tidur semifowler
2. Mengobservasi frekuensi nafas kedalaman dan
bunyi nafas
3. Memberikan O2 sesuai kebutuhan klien dan
mengobservasi efektivitas pemberian oksigen,
lembab sesuai dengan kebutuhan klien.
4. Menganjurkan klien selalu mengeluarkan dahak
saat batuk
5. Memberikan obat sesuai program Broxed 1 x 2
Gr IV
E:
- Klien masih batuk-batuk disertai dahak
- Ronchi +/+
- Respirasi 25 x /menit
Tgl DP Soapier Perawat
1 2 3 4
R:
- Ulang tingkat keefektivitan pola nafas
2 S:
- Klien mengatakan mual berkurang dan nafsu
makan ada
O:
- Klien belum makan
- BB tidak ada kenaikan
A:
- Masalah teratasi
P:
- Lanjutkan intervensi
I:
1. Memberikan makanan dalam keadaan hangat
2. Membrikan rantin I ampul per IV
E:
- Klien menghabiskan makanan setengah porsi
R:
- Kaji ulang pemberian nutrisi
3 S:
- Klien mengatakan sudah bisa tidur
- Klien mengatakan tidur 7 jam sehari
A:
- Masalah teratasi
P :
- Lanjutkan intervensi
I:
- Pertahankan posisi tidur setengah duduk
- Menciptakan lingkungan yang tenang
- Menganjurkan keluarga membatasi pengunjung
Tgl DP Soapier Perawat
1 2 3 4
E:
- Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat dan
tidur tanpa terjaga
4 S:
- Klien mengatakan lemas berkurang
O:
- Masalah teratasi
P:
- Lanjutkan intervensi
I:
- Memfasilitasi alat-alat mandi
- Menghitung denyut nadi setelah klien melakukan
aktivitas
E:
- Kulit bersih dan rambut dan kulit kepala bersih
N : 90 x/menit
5 S:
- Klien mengatakan mengerti pencegahan dan
perawatan penyakit TBC
- Klien mengerti tentang kondisi dan proses
terjadinya
O:
- Klien tidak terlihat murung lagi.
Tgl DP Soapier Perawat
1 2 3 4
6 S:
- Klien mengantakan sudah tidak lemas
O:
- Klien kelihatan segar
A:
- Masalah teratasi
P:
- Klien sudah pulang

Pembahasan
Setelah melakukan asuhan keperawatan TNE dengan gangguan sistem pernafasan
akibat Tuberculosis paru akibat yang dilaksanakan selama lima hari yaitu pada
tanggal dengan menggunakan proses keperawatan mulai dari pengkajian,
perencanaan, implementasi dan evaluasi. Selama pelaksanaan, penulis mendapat
hambatan, kemudahan dan faktor pendukung yang mendukung kelancaran
pelaksanaan asuhan keperawatan pada TNE disamping itu penulis juga melihat
ada kesenjangan antara konsep teori dengan kasus yang dihadapi. Pada
pembahasan kali ini penulis akan mengemukakan hambatan, kemudian faktor
pendukung dan kesenjangan-kesenjangan yang ada, serta alasan kesenjangan itu
terjadi, adapun hambatan, kemudahan, faktor pendukung dan kesenjangan itu
adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian
Penulis tidak mendapat dalam proses pengumpulan data pada TNE hal ini
disebabkan karena kesadaran TNE yang compos menitis, selain itu TNE dan
keluarganya menerima kehadiran penulis dan bersifat kooperatif dalam
memberikan informasi mengenai riwayat kesehatan TNE.
b. Identitas klien
Secara teori lingkungan yang kumuh beresiko tinggi terhadap terjadinya TBC,
sedangkan lingkungan tempat tinggal klien bersih jauh dari pabrik. Kesenjangan
ini terjadi karena faktor predisposisi TBC bukan hanya faktor lingkungan, tapi
bisa juga karena klien kontak langsung dengan penderita TB tanpa disadari.
c. Riwayat kesehatan sekarang
1). Keluhan utama masuk Rumah Sakit
Klien dengan TBC sesuai teori masuk Rumah Sakit dengan keluhan berupa sesak
nafas, batuk-batuk dan nyeri dada. Hal ini sesuai dengan kasus TNE dimana
alasan masuk Rumah Sakit TNE adalah karena sesak nafas, batuk dan nyeri dada
sesak 9 bulan sebelum masuk RS klien pernah berobat dengan keluhan yang sama
karena tidak ada perubahan kemudian dirujuk RSKM Cilegon diruang Mawar.
2). Keluhan saat pengkajian
Secara teori keluhan utam saat dikaji pada klien TBC dapat berupa sesak nafas,
batuk nyeri dada. Hal ini sesuai dengan keluhan TNE keluhan utama saat dikao
yaitu sesak nafas, batuk dan nyeri dada.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Pada riwayat dahulu pada TNE didapatkan data bahwa TNE mempunyai riwayat
penyakit TBC. Hal ini sesuai dengan teori
e. Riwayat kesehatan keluarga
Menurut teori TBC dapat ditularkan melalui droplet infection sedangkan pada
semua anggota yang tinggal dalam satu rumah, tidak ada yang menderita seperti.
Hal ini sesuai dengan teori.
f. Pemeriksaan fisik
Pada teori dengan TBC dapat menyebabkan dampak terhadap sistem tubuh yang
lain terhadap sistem pernafasan akan ditemukan pola nafas yang terganggu, nyeri
dada, suara nafas terdengar ronchi, penggunaan otot-otot pernafasan, frekuensi
nafas cepat, kemudian sistem kardiovaskuler penurun tekanan darah, pucat,
konjungtiva anemia, tachikardi, perubahan jumlah leukosit. Selanjutnya terhadap
sistem gastrointestinal akan didapatkan mual dan anoreksia, genitourinaria terjadi
pada eliminasi BAK, jumlah urine output menurun. Sistem muskuloskeletal akan
ditemukan nyeri sendi, nyeri pada tulang sistem persyarafan akan terjadi
meningitis akibat penurunan kesadaran dan pada sistem integumen ditemukan
fluktuasi suhu pada malam hari. Kulit tampak berkeringat dan perasaan panas
pada kulit.
Sedangkan pada TNE mengalami peningkatan suhu tubuh karena keadaan ini
sangat ditentukan oleh daya tahan tubuh penderita dan berat ringannya infeksi
kuman tuberculosis yang masuk.
Pada data psikologis, sosial dan spiritual timbul suatu kesenjangan dimana
didalam teori keadaan emosi klien tidak stabil. Penolakan untuk berespon,
bingung cara mengatasi masalah sedangkan pada TNE tampak murug dan tenang
klien terkontrol, klien sering menanyakan penyakitnya.
2. Diagnosa Keperawatan
Pada kasua TNE beberapa diagnosa keperawatan yang tidak muncul dan ada pula
diagnosa keperawatan yang tidak muncul juga ada diagnosa yang tidak sesuai
dengan teori.
Diagnosa yang tidak muncul sesuai dengan pada kasus TNE adalah sebagai
berikut :
a. Pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan akumulasi
sekret. Diagnosa ini tidak muncul karena tidak ada data-data yang
mendukung untuk ditegakannya diagnosa ini seperti tidak
ditemukan peristiwa mekanik insipirasi yaitu volume thorak
bertambah besar karena diafragman turun dan iga terangkat akibat
kontraksi dari otor muskulus skernoleidomastoidius.
b. Resiko kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penuruan
luas permukaan paru. Diagnosa ini tidak muncul karena
pengembangan paru kiri dan kanan maksimla dan intervensi dari
masalah ini sudah tercantum pada diagnosa tidak efektifnya
bersihan jalan nafas, walaupun klien ini adanya sesak nafas karena
infiltrasi sudah bagian paru-paru, vokal premitis kiri, jelas, suara
dinding dada kiri redup, adanya ronchi pada kedua paru, BTA (+)
hasil foto rongen Cor : Borderline Pulomo : bercak Fibro pada
lapangan

Paru kiri atas, tengah, ilu kasar, gambaran yang menyerupai sarang tawon daerah
paru cardiaal kanan.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus Tn. E tetapi dalam
teori tidak ada adalah :
a. Gangguan isntirahat tidur berhubungan dengan teraktivasinya RAS diagnosa
ini muncul karena ditermukan data-data yang menunjukkan adanya masalah
pada pemenuhan istirahat tidur pada klien seperti klien tampak lemah dan
lesu, mata merah, frekuensi nafas meningkat, tidur malam 5 jam sering
terjaga. Hal ini bisa terjadi karena masih adanya sesak nafas, batuk yang
dirasakan klien.
b. Aktivitas intoleran berhubungan dengan kelemahan fisik. Diagnosa ini muncul
karena ditemukan data-data yang menunjukkan adanya masalah pada aktivitas
intoleransi seperti klien mengeluh cepat lelah.

3.Perencanaan
Perencanaan tindakan keperawatan yang disusun pada Tn. E berdasarkan kepada
masalah yang didapatkan dari hasil analisa data. Rencana tersebut disesuaikan
dengan keadaan klien dan keluarganya serta disusun berdasarkan prioritas.
Rencana tindakan keperawatan yang disusun diprioritaskan untuk mengatasi :
a. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas dengan rencana tindakan yang berupa
atur dan pertahankan posisi semi powler, observasi frekuensi nafas dan bunyi
nafas, observasi pemberian oksigen lembab, ajarkan batuk efektif, laksanakan
program medis untuk pemberian terapi sedangkan menurut teori intervensi
pada diagnosa keperawatan ini ada 3 intervensi yang tidak dilakukan seperti
intubasi darurat karena akumulasi sekret tidak terjadi penurunan dirongga
pleura tetapi sekret terakumulasi di jalan nafas.
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia akibat
mual, rencana tindakan yang berupa, tingkatkan pemahaman klien tentang
pentingnya nutrisi, anjurkan minum air hangat sebelum makan dan berikan
makan dalam keadaan hangat porsi kecil tapi sering, berikan perawatan mulut
sebelum makan, beri anti emetik. Sedangkan dalam teori intervensi pada
diagnosa keperawatan ada 8 intervensi yang tidak direncanakan karena
keterbatasan alat dan biaya klien.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dantidur dengan rencana tindakan
berupa : pertahanan posisi semipowler, bereskan tempat tidur dan lingkungan,
batasi pengunjung, anjurkan keluarga untuk mematikan lampu, anjurkan klien
untuk minum susu hangat, anjurkan klien untuk beroda sebelum tidur.
Sedangkan dalam teori ada 6 intervensi sesuai dengan rencana yang ada
d. Ganguan rasa aman cemas sedang berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan dengan rencana tindakan 3 sedangkan dalam teori ada 4
intervensi karena kurangnya informasi dan pengetahuan klien tentang penyakit
TBC.
e. Resiko terjadi penyebaran infeksi dengan rencana tindakan ada 5 sedangkan
dalam teori ada 7 karena kurangnya pengetahuan klien tentang penyebaran
penyakit TBC dan disesuaikan dengan keadaan konsisi klien.

4.Implementasi
Tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah
dibuat, namun tidak mendapat hambatan dalam pelaksanaan keperawatan karena
faktor pendukung keberhasilan pelaksanaan adalah kooperatifnya klien, kerjasama
keluarga selama implementasi, ketersediaannya sarana dan prasarana yang
lengkap dari ruangan dan dukungan penuh dari pembimbing dan perawat ruangan.

5.Evaluasi
Pada tahap evaluasi, penulis melakukan evaluasi secara formatif dan sumatif.
Evaluasi formatif dilakukan setiap selesai memberikan tindakan keperawatan.
Hasil dari evaluasi formatif menunjukkan bahwa semua tindakan keperawatan
yang dilakukan pada klien dapat mengurangi ataumengatasi masalah klien saat ini,
sedangkan untuk evaluasi sumatif, penulis melakukan pada hari kelima setelah
memberikan asuhan keperawatan pada Tn. E.
Pada evaluasi suamtif hari kelima ditemukan bahwa diagnosa keperawatan yang
muncul pada Tn. E dapat terselesaikan semuanya dengan baik, hal disebabkan
karena klien dan keluarga klien yang kooperatif, bekerjasama dengan perawat
ruangan yang baik,kerjasama dengan tenaga kesehatan yang lain kerjasama
dengan tenaga kesehatan yang lain, sehingga pelaksanaan asuhan
keperawatanhampir seluruhnya berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan.
Adapun data yang dipeeroleh dari evaluasi terkahir adalah :
a. Klien mengatakan batuk dan sesak nafas berkurang
b. Klien mengatakan mual berkurang dan nafsu makan bertambah
c. Klien mengatakan sudah dapat tidur nyenyak
d. Klien mengatakan lemas berkurang
e. Klien mengatakan mengerti cara mencegah dan perawatan TBC
f. Klien mengatakan sudah mengetahui tentang panyakit dan penyebaran
penyakitnya.
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada dengan gangguan sistem
pernafasan akibat TB paru aktif di penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai
berikut :
2. Pengkajian
Pada tahap pengkajian pada Tn dengan TN paru aktif keadaan didalam keluarga
tidak ada yang menderita TBC tetapi di keluarga mertua laki-laki yang
mempunyai riwayat penyakit TBC selama 4 bulan dan pernah mendapatkan
pengobatan TB.
Pada pemeriksaan fisik terdapat kesenjangan / perbedaan antara teori dan kasus
dilapangan terutama pada sistem pernafasan, hal ini kemungkinan penyebabnya
adalah respon dari setiap individu yang unik dan jenis TB paru yang terjadi pada
Tn E. yaitu TB paru aktif dan gangguan yang terjadi mengenai parenkhim paru
sehingga sesak nafas
g. Diagnosa keperawatan
Dari hasil analisa data, masalah keperawatan yang terjadi pada klien Tn. E adalah
tidak efektifnya bersihan jalan nafas, aktifitas intoleran, gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi, gangguan rasa aman cemas, gangguan pemenuhan istirahat
tidur, ganguan aluimita sehari-hari.
3. Perencanaan
Pada perencanaan sesuai dengan diagnosa yang muncul, maka fokus intervensi
diarahkan untuk mengatasi gangguan tidak efektifnya bersihan jalan nafas,
aktivitas intoleran, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, gangguan rasa aman,
cemas sedang gangguan pemenuhan istirahat tidur, resiko terjadinya penyebaran
infeksi, pada tahap ini penulis tidak mendapatkan hambatan yang berarti karena
berbagai faktor yang mendukung yaitu keluarga yang kooperatif dan banyaknya
literatur yang dapat penulis gunakan.
4. Pelaksanaan
Seluruh tindakan keperawatan (implementasi) dapat dilakukan sesuai dengan
rencana yang telah disusun. Diantaranya mempertahankan posisi semifowler,
pemberian O2 lembap, mengobservasi frekuensi dan bunyi nafas. Mengajarkan
batuk efektif, memberikan obat sesuai program medis, Anadex 3 x 1,Santibi 2 H,
Rifamficin 1 x 1, Inoxin 1 x 1, Dumin 3 x 1, Tusilan 3 x 1 memberikan penekes
tentang pengertian pencegahan, perawatan dan pengobatan, bantu aktivitas
sepereti personal hygiene.
5. Evaluasi
Pada tahap evaluasi semua diagnosa keperawatan dapat teratasi sesuai dengan
kriteria waktu yang telah ditentukan. Dimana pada pelaksanaan asuhan
keperawatan ini ada dua diagnosa keperawatan yang belum teratasi secara tuntas
yaitu :
a. Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas, hal ini karena keterbatasan
kemampuan penulis dan waktu asuhan keperawatan dimana
perkembangan gangguan masih harus terus dilakukan observasi dan
dilakukan implementasi
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, hal ini terjadi karena sifat
kuman dan efektif dari pengobatan TB paru aktif dapat
mempengaruhi sistem gastrointestinal sehingga klien masih merasa
mual

B. Rekomendasi
Setelah penulis melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn. E dengan gangguan
sistem pernafasan : TB paru aktif diruang Mawar Rumah Sakit Krakatau Medika
Cilegon Banten, kiranya penulis dapat memberikan rekomendasi sebagai berikut
:
a. Sebaiknya pada saat melakukan pengkajian klien dengan TB paru aktif,
perawat dalam mendpatkan data dari klien mengunakan teknik
komunikasi dengan pertanyaan terbuka, suara yang jelas dan bekerjasama
dengan keluarga klien dan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia,
guna mendapatkan data yang subjektif serta terus, meningkatkan
kemampuan dan keterampilan dalam upaya meningkatkan pelayanan
keperawatan yang profesional
b. Menginggat efek samping dan pengobatan TB paru aktif ketajaman
penglihatan, berkurang kemampuan untuk membedakan warna merah dan
hijau sehingga dapat menghambat klien kembali ke khidupan normal
maka sebaiknya perawat dapat mempersiapkan keluarga dalam menerima
keadaan klien dengan pengetahuan tentang perawat klien dirumah dan
menjadi pengawas minum obat.
c. Sebaiknya petugas selalu mendokumentasikan tindakan yang diberikan
kepada klien sebagai aspek legal tanggung jawab dan tanggung gugat
perawat.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddart ,2002,Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8,Vol I
dan II, Jakarta : EGC.
Carpanito ,Lynda juall, 2000, Alih Bahasa Tim Program Studi Ilmu Keperawatan
UNPAD-PSIK, Diagnosa Keperawatan : Aplikasi pada Praktik Klinis, Edisi 6,
Jakarta :EGC.
Doengoes, Marilyn E, 2002, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC.
Kee, Joyce Lefever. Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik dengan Implikasi
Keperawatan. Edisi ke-2, Jakarta : EGC, 1997
Keliat, Budi anna, 1994, Proses Keperawatan, Jakarta : EGC.
Kozier, ERB, Olivieri, 1999, Fundamental of Nurshing, Edisi ke-5, Philadelphia :
W. B Saunders Company.
Long, Barbara C, 1996, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan
Alumni Pendidikan : Balai Penerbit FKUI.
Monahan, Frances Donovan, Neighbors, Mariene, 1998, Medical Surgical
Nurshing, 2nd Edition, Philadelphia : W. B. Saunders Company.
Potter, Patricia A, 1996, Pengkajian Kesehatan, Jakarta : EGC.
Price Sylvia A, Lorraine M. Wilson, 1994, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit ,Jakarta : EGC.
Soemanto, Wasty, 1996, Pedoman Teknik Penulisan Skripsi, Jakarta : Bumi
Aksara.