Anda di halaman 1dari 12

TUGAS GEOLOGI MINERAL BIJIH

Disusun Oleh :

Fajar K. Rohmala

201469004

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK GEOLOGI

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

UNIVERSITAS PAPUA

MANOKWARI

2017
1. Proses Pembentukkan Mineral Bijih atau Ore Genesis
Teori ini umumnya melibatkan tiga komponen: sumber, transportasi atau
saluran, dan perangkap. Sumber diperlukan karena logam harus berasal dari suatu
tempat, dan dibebaskan oleh beberapa proses. Transportasi diperlukan terlebih
dahulu untuk memindahkan cairan yang mengandung logam atau mineral padat
ke dalam proses terbentuk, dan mengacu pada tindakan pemindahan logam secara
fisik, serta proses kimia atau fisik yang mendorong pergerakan. Perangkap
diperlukan untuk mengkonsentrasikan logam melalui beberapa mekanisme fisik,
kimia, atau geologi ke dalam konsentrasi yang membentuk bijih tambang.
Endapan terbesar terbentuk saat sumbernya besar, mekanisme
transportasinya efisien, dan jebakannya aktif dan siap pada saat yang tepat. Proses
Pembentukkan Mineral Bijih atau Ore Genesis terdapat bebrapa macam yaitu:
a. Proses Magmatik
Proses ini sebagian besar berasal dari magma primer yang bersifat ultra
basa, lalu mengalami pendinginan dan pembekuan membentuk mineral-
mineral silikat dan bijih. Pada temperatur tinggi (>600C) stadium liquido
magmatis mulai membentuk mineral-mineral, baik logam maupun non-logam.
Fraksinasi (Fractional Crystallization) merupakan suatu proses terpisahnya
bijih dan mineral non-bijih sesuai dengan suhu kristalisasi yang berbeda.
Sebagai mineralisasi awal yang terbentuk dari magma dengan
menggabungkan unsur-unsur tertentu termasuk beberapa di antaranya
adalah logam. Kristal ini bisa menempel ke bagian bawah intrusi,
memusatkan mineral bijih di sana. Chromite dan magnetite adalah mineral
bijih yang terbentuk dengan cara ini.
Liquid immiscibility merupakan percampuran larutan magma yang tidak
dapat menyatu. Bijih sulfida yang mengandung tembaga, nikel, atau
platinum dapat terbentuk dari proses ini. Sebagai perubahan magma,
bagian-bagiannya terpisah dari tubuh utama magma. Dua cairan yang
tidak akan dicampur seperti pada minyak dan air. Dalam magma, sulfida
dapat terpisah dan tenggelam di bawah bagian yang kaya akan silikat dari
intrusi atau ke dalam batu yang mengelilinginya. Endapan ini ditemukan
di batuan beku mafik dan ultramfik.
b. Proses Hydrotermal
Proses ini adalah fenomena fisik dan kimiawi dan reaksi yang disebabkan
oleh pergerakan air hidrotermal di dalam kerak bumi, akibat dari magmatik
atau pergerakan tektonik. Dasar-dasar proses hidrotermal adalah mekanisme
pengangkut sumber-transportasi.
Sumber hidrotermal berasal dari air laut dan air meteorik yang beredar
melalui batuan yang memiliki rekahan, air mineral formasional (air yang
terperangkap dalam sedimen pada pengendapan), dan cairan metamorfik yang
disebabkan oleh dehidrasi mineral hidrous selama metamorfosis.
Sumber logam bisa termasuk sejumlah besar batuan. Namun sebagian
besar logam penting secara ekonomi dibawa sebagai elemen jejak dalam
mineral pembentuk batuan, dan mungkin juga terbebaskan oleh proses
hidrotermal. Hal ini terjadi karena:
Ketidakcocokan logam dengan host mineral, misalnya seng dalam kalsit,
yang membantu cairan dalam kontak dengan host mineral selama
diagenesis.
Kelarutan host mineral dalam larutan hidrotermal yang lahir di batuan
sumber atau source rock, misalnya salts mineral (halit), karbonat
(cerussite), fosfat (monazite dan thorianite), dan sulfat (barit)
Temperatur tinggi menyebabkan reaksi dekomposisi mineral.
Transportasi dengan larutan hidrotermal biasanya membutuhkan salt
atau mineral terlarut lainnya yang bisa membentuk daya kompleks logam.
Daya kompleks logam ini memudahkan pengangkutan logam dalam larutan
cair, umumnya sebagai hidroksida, tetapi juga oleh proses yang mirip
dengan khelasi.

Proses ini sangat dipahami dengan baik di metallogeny emas di mana


berbagai kompleks kimia dengan kandungan tiosulfat, klorida, dan
kompleks kimia pengangkut emas lainnya (terutama tellurium-chloride /
sulfate atau antimon-klorida / sulfat). Mayoritas endapan logam yang
dibentuk oleh proses hidrotermal meliputi mineral sulfida, yang
mengindikasikan belerang adalah kompleks pembawa logam yang penting.

Endapan Sulfida

Endapan sulfida dalam zona perangkap terjadi ketika sulfat pembawa


logam, sulfida, atau kompleks lainnya menjadi tidak stabil secara kimia
karena satu atau lebih dari proses berikut;

Suhu turun, yang membuat kompleks tidak stabil atau logam tidak larut.
Kehilangan tekanan, yang memiliki efek yang sama.
Reaksi dengan batuan dinding reaktif kimiawi, biasanya keadaan
oksidasi berkurang, seperti batuan yang mengandung besi, batuan mafik
atau ultramafik, atau batuan karbonat.
Degassing cairan hidrotermal ke dalam sistem gas dan air yang
mengubah daya dukung logam dari larutan dan bahkan menghancurkan
kompleks kimia pengangkut logam.
Logam juga dapat mengendap saat suhu dan tekanan atau keadaan
oksidasi baik kompleks ionik yang berbeda di dalam air, misalnya
perubahan dari sulfida menjadi sulfat, fugacity oksigen, pertukaran logam
antara kompleks sulfida dan klorida, dan lain-lain.

c. Proses metamorf
Sekresi lateral:
Endapan bijih yang dibentuk oleh sekresi lateral dibentuk oleh reaksi
metamorf selama proses pergeseran, yang membebaskan unsur mineral seperti
kuarsa, sulfida, emas, karbonat, dan oksida dari batuan yang mengalami
deformasi, dan memfokuskan unsur-unsur tersebut ke dalam zona tekanan
yang dikurangi atau dilatasi seperti kesalahan. Hal ini dapat terjadi tanpa
banyak aliran fluida hidrotermal, dan ini merupakan ciri khas dari endapan
kromit kromat.
Proses metamorfik juga mengendalikan banyak proses fisik yang
membentuk sumber cairan hidrotermal, diuraikan di atas.

d. Proses sedimen atau surficial (eksogen)


Proses surficial adalah fenomena fisik dan kimia yang menyebabkan
konsentrasi bahan bijih dalam regolith, umumnya oleh aksi lingkungan. Ini
termasuk penahan endapan, endapan laterit, dan endapan residu atau eluvial.
Proses fisik pembentukan endapan bijih di dunia surficial meliputi;
Erosi.
Deposisi oleh proses sedimen, termasuk penampungan, pemisahan
densitas (misalnya, penahan emas).
Pelapukan melalui oksidasi atau serangan kimia dari batu, baik fragmen
batuan yang membebaskan atau membuat tanah liat yang diendapkan
secara kimia, laterit, atau penyuburan supergen.
Endapan di lingkungan bertekanan rendah di lingkungan pantai.
2. Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan Jilid 18 No.1 ( 2008) 1-13 : Karakteristik
Bijih Kromit Barru, Sulawesi Selatan
Mineral Bijih berupa Khromit/Chromite
Sifat Kimia :
Formula Kimia : Fe2+Cr2O4
Nama Kimia : Besi Kromium Oksida / Iron Chromium Oxide
Berat Molekuler : 223.84 gm
Komposisi:
Chromium 46.46 % Cr 67.90 % Cr2O3
Iron 24.95 % Fe 32.10 % FeO
Oxygen 28.59 % O
100.00 % 100.00 % =
TOTAL OXIDE
Sifat Fisik Chromite/Khromit:

Lustre : Resinous, Greasy, Metallic, Sub-Metallic, Dull


Transparency : Translucent, Opaque
Colour : Black
Streak : Brown
Hardness : 5 on Mohs scale
Hardness : VHN100=1278 - 1456 kg/mm2 - Vickers
Tenacity : Brittle
Cleavage : None Observed
Parting : Parting may develop along {111}
Fracture : Irregular/Uneven, Hackly, Sub-Conchoidal
Comment : Broken surfaces frequently have an angular granulated
appearance.
Density : 4.5 - 4.8 g/cm3 (Measured) 5.12 g/cm3 (Calculated)

Sifat Optik Chromite/Khromit

Type : Isotropic
RI values : n = 2.08 - 2.16
Birefringence : 0.0
Max Birefringence : = 0.000 - Isotropic minerals have no
birefringence
Surface Relief : Very High
Type : Isotropic
Colour in reflected light : Grey-white with brownish tint.
Internal Reflections : Brownish red
Pleochroism : Non-pleochroic
3. Alterasit (Pengertian, Faktor Pengaruh, dan Contoh)
Alterasi merupakan proses perubahan komposisi mineralogi batuan (dalam
keadaan padat) karena adanya pengaruh suhu dan tekanan yang tinggi. Hal ini
mengakibatkan terjadinya suatu mineral baru pada tubuh batuan yang merupakan
hasil ubahan dari mineral - mineral yang telah ada sebelumnya yang diakibatkan
oleh adanya reaksi antara batuan dengan larutan magma, yang dimaksud dengan
larutan magma adalah larutan hidrotermal ataupun akibat kontak dengan
atmosfer. Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, berbeda dengan
metamorfisme yang merupakan peristiwa primer.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya mineral alterasi dan


mineral bijih dalam suatu sistem hidrotermal (Corbett dan Leach, 1988), adalah :

a. Komposisi kimia dan konsentrasi larutan hidrotermal


Komposisi kimia dan konsentrasi larutan panas yang bergerak, bereaksi
dan berdifusi mempunyai pH antara 4-8, mengandung banyak ikatan klorida
dan sulfida konsentrasinya encer sehingga memudahkan untuk bergerak.
b. Sifat dan komposisi batuan samping (host rock)
Komposisi batuan samping sangat berpengaruh terhadap penerimaan
bahan larutan hidrotermal sehingga memungkinkan terjadinya alterasi
mineral. Batuan yang reaktif adalah batuan yang mengandung karbonat
seperti batugamping dan dolomite yang umumnya menghasilkan cebakan
Tembaga (Cu), Seng (Zn), Timbal (Pb), dan Mangan (Mn).
c. Struktur lokal batuan samping
Struktur lokal batuan samping terutama struktur rekahan-rekahan atau
celah-celah dan mengakibatkan larutan hidrotermal mudah bergerak, bereaksi
dan berdifusi dengan batuan dinding. Rekahan pada batuan samping dapat
dibagi menjadi dua macam, yaitu :
Rekahan asli:
o Pore space, yaitu pori-pori antar mineral
o Crystal lattice, yaitu kisi-kisi antar mineral
o Vesicles atau blow holes, yaitu lubang-lubang bekas keluarnya
gas pada saat lava membeku.
o Cooling cracks, yaitu rekah kerut akibat kontraksi lava
sewaktu membeku
o Igneous breccia cavities, yaitu celah-celah seperti pada
breksi vulkanik, breksi terobosan, dan fragmen batuan beku.
Rekahan akibat gerakan :
o Fissure, yaitu rekahan akibat patahan
o Shear zone cavities, yaitu rekahan yang berkumpul pada suatu tempat
akibat patahan kecil
o Rekahan akibat pengangkatan dan perlipatan
o Volcanics pipes, yaitu lubang-lubang akibat letusan gunungapi
o Tectonic breccias, yaitu rekahan-rekahan pada breksi akibat tektonik
yang terjadi
o Collapse breccia, yaitu rekahan pada breksi akibat kolaps atau roboh
o Solution caves, yaitu celah-celah akibat pelarutan
o Rock alteration opening, yaitu pori-pori akibat alterasi
d. Banyaknya mineral yang mudah terubah
Banyaknya mineral-mineral yang mudah terubah ditentukan oleh derajat
ketahanan mineral-mineral terhadap alterasi. Adapun mineral yang mudah
terubah adalah mineral silikat-ferromagnesian yang berwarna gelap seperti
olivine, piroksen, dan hornblende yang terubah menjadi klorit, epidot, dan
leucoxene (alterasi ilmenit). Mineral-mineral plagioklas terutama terubah
menjadi serisit, epidot, albit, klino-zoisit, klorit, dan mineral lempung.
e. Temperatur dan tekanan
Temperatur dan tekanan berpengaruh terhadap kemampuan larutan
hidrotennal untuk bergerak, bereaksi dan berdifusi, melarutkan serta
membawa bahan-bahan yang akan bereaksi dengan batuan samping. Adapun
temperatur proses alterasi hidrotermal berkisar antara 78C sampai 573C,
yaitu dibawah titik inversi mineral kuarsa.

Salah satu contoh adalah Tipe Alterasi Potasik. Alterasi tipe ini dicirikan
oleh kandungan K-silikat. Ditemukan adanya kandungan potash seperti yang
terdapat pada K feldspar dan ditemukan adanya penggantian kandungan
hornblenda atau klorit oleh biotit dan plagioklas K feldspar. Zona alterasi ini
dicirikan oleh mineral ubahan berupa biotit sekunder, K Feldspar, kuarsa, serisit
dan magnetite. Pembentukkan biotit sekunder ini dapat terbentuk akibat reaksi
antara mineral mafik terutama hornblende dengan larutan hidrotermal yang
kemudian menghasilkan biotit, feldspar maupun piroksen. Pada alterasi ini
dijumpai anhidrit, titanit, apatit, flourit, kalsit atau sideromagnesio, kalsit,
kalkopirit, molibdenit, pirit, magnetit, hematit dan albit dalam jumlah kecil. Zona
potasik merupakan zona alterasi yang berada pada bagian dalam suatu sistem
hidrotermal dengan kedalaman bervariasi yang umumnya lebih dari beberapa
ratus meter.
4. Mineralisasi (Pengertian, Faktor Pengaruh, dan Contoh)
Mineralisasi adalah proses pembentukan mineral baru pada tubuh batuan yang
diakibatkan oleh proses magmatik ataupun proses yang lainnya, namun mineral
yang dihasilkan bukanlah mineral yang sudah ada sebelumnya.
Menurut Bateman (1981) Secara umum proses mineralisasi dipengaruhi oleh
beberapa faktor pengontrol, meliputi:
o Larutan hidrotermal yang berfungsi sebagai larutan pembawa mineral.
o Zona lemah yang berfungsi sebagai saluran untuk lewat larutan hidrotermal.
o Tersedianya ruang untuk pengendapan larutan hidrotermal.
o Terjadinya reaksi kimia dari batuan induk/host rock dengan larutan
hidrotermal yang memungkinkan terjadinya pengendapan mineral bijih (ore).
o Adanya konsentrasi larutan yang cukup tinggi untuk mengendapkan mineral
bijih (ore).
Temperatur dan pH fluida merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi
mineralogi sistem hidrotermal. Tekanan langsung berhubungan dengan
temperatur, dan konsentrasi unsur terekspresikan di dalam pH batuan hasil
mineralisasi (Corbett dan Leach, 1996).

Salah satu contoh adalah Endapan Porfiri. Endapan Porfiri adalah endapan
mineral yang terjadi akibat suatu intrusi yang bersifat intermedier-asam, yang
kemudian terjadi kontak dengan batuan samping yang mengakibatkan terjadinya
mineralisasi. Porfiri bersifat epigenetik. Produk utama dari Porfiri adalah Cu-Au
atau Cu-Mo.
2. Jurnal Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013 : Kajian Awal
Karakteristik Mineral Magnetik Bijih Besi Manggamat, Aceh Selatan
Mineral Bijih berupa Hematit/Hematite
Sifat Kimia :
Formula Kimia : Fe2O3

Nama Kimia : Besi Oksida / Iron Oxide

Berat Molekuler : 159.69 gm

Komposisi:
Iron 69.94 % Fe 100.00 % Fe2O3Iron

Oxygen 30.06 % O
100.00 % 100.00 % =
TOTAL OXIDE
Sifat Fisik Chromite/Khromit:

Lustre : Metallic, Sub-Metallic, Dull, Earthy

Transparency : Opaque

Colour : Steel-grey to black in crystals and massively crystalline ores,


dull to bright "rust-red" in earthy, compact, fine-grained material.

Comment : See Rossman, G. R. (1996) for cause of red colour.

Streak : Reddish brown ("rust-red")

Hardness : 5 - 6 on Mohs scale

Hardness : VHN100=1000 - 1100 kg/mm2 - Vickers

Hardness Data : Measured

Tenacity : Brittle

Cleavage : None Observed

Parting : Partings on {0001} and {1011} due to twinning. Unique


cubic parting in masses and grains at Franklin Mine, Franklin, NJ.

Fracture : Irregular/Uneven, Sub-Conchoidal


Comment : Elastic in thin lamellae

Density : 5.26 g/cm3 (Measured) 5.255 g/cm3 (Calculated)

Sifat Optik Chromite/Khromit

Type : Uniaxial (-)


RI values : n = 3.150 - 3.220 n = 2.870 - 2.940
Max Birefringence : = 0.280 Image shows birefringence interference colour range
(at 30m thickness) and does not take into account mineral colouration.
Surface Relief : Very High
Type : Anisotropic
Anisotropism : Distinct
Colour in reflected light : White to greyish white with bluish tint
Internal Reflections : Red
Pleochroism Weak
Comments : O = brownish red
E = yellowish red