Anda di halaman 1dari 9

Pengantar Ekonomi Makro

Kelompok 5 & 7 SAP 10

Disusun Oleh :
Prian Sarko (1607521037)

I Putu Hari Budi Utama (1607521038)

Ni Luh Putu Ayu Anjani (1607521045)

Lady Charisma (1607521051)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
Denpasar
2017
Materi Pokok : 1. Arithmatical demonstration
2. Saving investment approach
3. Consumption investment approach
4. Latihan soal (kasus)

1. Arithmatical demonstration

CARA MENGHITUNG PERTUMBUHAN EKONOMI


Untuk menghitung berapa besarnya pertumbuhan ekonomi suatu negara, maka data yang
diperlukan dan dipergunakan adalah pendapatan nasional suatu negara. Untuk negara yang
sedang berkembang umumnya menggunakan PDB, sedangkan untuk negara yang telah maju
umumnya menggunakan GNP, akan lebih baik juga bila kita mempunyai nasional, tujuannya
agar kita juga memiliki data mengenai jumlah penduduk pada tahun yang sama dengan
pendapatan nasional, tujuannya agar kita dapat menghitung pendapatan perkapitanya.
Metode Hitung (Metode Aritmatika), yaitu menghitung pertambahan PDB dan GNP
(perkapita) dari tahun ke tahun. Rumusnya adalah:
G_GNP=( GNP_(n-GNP_(n-1) ))/GNP_(n-1) X 100%
Atau bila menggunakan pendapatan perkapita:
G_GNP= (GNP_n/POP_n - GNP_(n-1)/POP_(n-1 ) )/(GNP_(n-1)/POP_(n-1) )
x 100%
Dimana G_GNP adalah tingkat pertumbuhan ekonomi GNP_n adalah GNP tahun
berikutnya, GNP_(n-1) adalah GNP tahun lalu, GNP/Pop adalah pendapatan perkapita.
Pertumbuhan ekonomi yang dihitung dari pertumbuhan pendapatan perkapita besarnya
adalah sama dengan peertumbuha GNP dikurangi dengan pertumbuhan penduduk. Jadi perlu
dicamkan bahwa yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi yang dihitung dari
pendapatan perkapita nilainya tidaklah sama dengan yang dihitung dengan menggunakan
GNP, akan tetapi angka riel dari besaran pertumbuhan ekonomi tampak dari naik atau
turunnya pendapatan perkapita.
Metode Ukur (metode Geometrik), Metode ini menghitung pertambahan PDB dan GNP
antar tahun (tahun rentang) dengan menggunakan rumus
G_GNP = [ (n-1&GNP_n/GNP_o ) ]= 1(100%)
Bila, Dialogaritmakan hasilnya:
LogG_GNP = [ Log (GNP_n/GNP_o )/(n-1) ] (100%)
terkadang cara ini disebut juga metode rata-rata, karena memang rumus ini adalah untuk
menentukan pertumbuhan ekonomi secara rata-rata tiap periodenya. Kebaikannnya adalah
tentu saja sangat bermanfaat untuk data yang sangat jarang tersedia secara secara berurutan
(periodik), kelemahannya kita tidak mengetahui seberapa besar pertumbuhan ekonomi tiap
tahunnya secara riel (padahal sebagaimana yang sering terjadi tidak setiap periode
pertumbuhan ekonomi itu sama).
Analisis Penentuan Pendapatan Nasional Equilibrium

Kondisi keseimbangan perekonomian dua sektor biasanya ditandai oleh S=1. Artinya besar
investasi yang dibutuhkan pihak RTP sama dengan besarnyatabungan RTK
(masyarakat).Keseimbangan perekonomian bisa juga ditandai oleh aggregate supplysama
dengan aggregate demand (AS=AD). Artinya nilai produk nasional yangtersedia/ditawarkan
sama dengan nilai produk yang diminta pihak RTK dan pihakRTP.Untuk menganalisis
kondisi keseimbangan perekonomian dapat dilakukandengan dua pendekatan, yaitu:

2. Saving investment approach

Pendekatan ini merupakan metode untuk menganalisis pendapatankeseimbangan dengan


menggunakan variabel investasi dan tabungan.Tiga kemungkinan bentuk hubungan antara
besarnya tabungan dengan investasi, yaitu :1. S = I tercapai keseimbangan perekonomian
suatu negara.2. S > I, kondisi ini menimbulkan hoarding yaitu suatu kondisi adanya
tabungan yang tidak digunakan/tidak produktif.3. S < I, kondisi inimenunjukkan kebutuhan
dana untuk I tidak dapat ditutupidana S yang ada, kekurangan dana untuk I dapat ditutupi
dengan penciptaanuang/pinjaman.

3. Consumption investment aaproach

pendekatan ini merupakan metode untuk menganalisis pendapatankeseimbangan dengan


menggunakan variabel investasi dan komsumsi.

Inflationary Gap dan Deflationary Gap

Inflationary gap merupakan kesenjangan atau jurang yang akanmendorong terjadinya inflasi.
Inflationary gap akan terjadi apabila :1. I > S full employment artinya investasi yang terjadi
melebihi jumlah tabunganmasyarakat ketika semua faktor produksi bekerja secara full
capacity.2. Y

eq

< Y Full employment. Artinya PN keseimbangan lebih rendah daripada PNketika semua
faktor produksi dipekerjakan secara full capacity.Agar perekonomian terhindar dari deflasi
perlu diatasi melalui kebijakanpemerintah berupa

kebijakan fiskal yaitu Government expenditur (G)Full employment,

adalah suatu kondisi perekonomian apabila seluruhfaktor produksi dipekerjakan secara


penuh/secara full capacity

KONSUMSI, SAVING, INVESTASI DAN HUBUNGAN DENGAN PENDAPATAN


NASIONAL

A. Pengertian Konsumsi
Konsumsi, dari bahasa belanda consumptie, ialah suatu kegiatan yang bertujuan
mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun
jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Fungsi Konsumsi,
MPC, APC dan Break Even Fungsi konsumsi Adalah Fungsi yang menunjukkan
hubungan antara tingkat pendapatan nasional dan besarnya pengeluaran untuk konsumsi
pertahun. Bentuk umum fungsi konsumsi adalah : C = a + bY Dimana ; C = Konsumsi
, a = konsumsi Otonomus ( tingkat pendapatan sama dengan nol ), a = ( APC MPC )
Y b = MPC Y =[ pendapatan disposabel ( Pendapatan Nasional ),( Y = C + S )]
MPC ( Marginal Propencity to Consume ) Adalah angka perbandingan antara
besarnya perubahan pendapatan nasional dengan perubahan konsumsi. MPC =
C Y Besarnya MPC menunjukkan kemiringan ( slope ) kurva konsumsi
APC ( Average Propencity to Cunsome ) Adalah angka perbandingan antara
besarnya konsumsi dan pendapatan. APC = C Yd
B. Fungsi Saving, MPS dan APS Saving Adalah bagian dari Pendapatan Nasional
pertahun yang tidak dikonsumsikan. S = ( 1 b ) Y a
MPS ( Marginal Propencity to Save ) Disebut juga dengan tambahan hasrat
menabung, yaitu Perbandingan antara pertambahan saving ( tabungan ) dengan
pertambahan pendapatan nasional yang mengakibatkan bertambahnya nilai saving.
APS ( Average Propencity to Save ) Disebut juga dengan rata-rata hasrat menabung,
yaitu Perbandingan antara besarnya saving pada suatu tingkat pendapatan nasional
dengan besarnya pendapatan nasional tersebut. APS = S/Yd ,dimana Yd = C + S .
PERUBAHAN JUMLAH KONSUMSI DAN JUMLAH SAVING Seperti yang telah
kita ketahui, bahwa besarnya konsumsi dan saving ditentukan oleh besar kecilnya
pendapatan nasional

C. INVESMENT atau INVESTASI ( Capital Fermation ) Investasi adalah penanaman


modal atau penambahan alat-alat produksi guna menaikkan harga produk nasional. Fungsi
Investasi dengan pendapatan nasional. I = I0 + aY Dimana : I : Besarnya pengeluaran
investasi dalam masyarakat I0 : Besarnya pengeluaran investasi pada tingkat pendapatan
nasional sebesar nol. a : Hasrat investasi marginal ( Marginal Propencity to Investment
) MPI = I Y Bentuk-bentuk Investasi

1. Atas dasar hubungan pendapatan nasional, investasi disebabkan oleh :


a. Autonomous Invesment b. Induced Invesment

2. Atas dasar pelaku pelaksana investasi, maka pelaksanaan investasi terbagi atas :
a. Publik Investment b. Privat Invesment c. Foreight Invesment, dipengaruhi oleh :
Menurunnya tingkat bunga Penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi
Meningkatnya jumlah penduduk Meluasnya pasar produksi masyarakat Secara
otomatis, apabila investasi bertambah maka nilai MEC juga akan bertambah. MEC (
Marginal Effisiensi of Capital )adalah prosentase keuntungan pertahun. Nilai MEC dapat
diketahui melalui fungsi : MEC = Profit x 100% Investasi

F. PENDAPATAN NASIONAL DALAM KESEIMBANGAN National Income


Equilibrium adalah satu tingkat dari pendapatan nasional yang pada tingkat itu tidak dijumpai
adanya gejala-gejala timbulnya perubahan. Dapat dicapai jika besarnya Saving sama dengan
besarnya Investasi ( S = I ). Fungsi Pendapatan nasional dalam keseimbangan : Ye
= 1 (a+I) 1 b Kapasitas produksi Nasional Berdasarkan macamnya, faktor
produksi dibedakan menjadi : a. Faktor produksi alam ( Natural Recources ) b. Faktor
produksi tenaga manusia ( Human Recources ) c. Faktor produksi modal ( Capital Recources
) Tingkat Kesempatan Dan Kapasitas Produksi Nasional terbagi atas : Full employment
adalah perekonomian yang semua kapasitasnya dalam penggunaan penuh. Under
employment adalah perekonomian dimana ada sebagian kapasitas produksinya yang
menganggur/tidak terpakai. Over employment adalah apabila kapasitas produksi nasional
sudah dalam penggunaan penuh. Inflationary dan Deflationary Inflationary gap adalah
keadaan dimana besarnya angka perbedaan antara jumlah inventasi lebih tinggi dari pada
saving full employment ( Sf ). Deflationary gap adalah keadaan dimana besarnya angka
perbedaan antara full saving employment ( Sf ) lebih tinggi dari pada Investasi.

G. MULTIPLIER dan ACCELERATOR Multiplier adalah angka pengganda investasi yang


akhirnya koefisien angka menunjukkan berapakah perubahan pendapatan sebagai akibat dari
perubahan investasi.

Model Analisis dengan Variabel Investasi dan Tabungan

Model Analisis dengan variabel investasi tabungan adalah pengeluaran yang akan digunakan
untuk memproduksi barang dan jasa yang lebih banyak lagi , atau dengan kata lain
merupakan pengeluaran yang ditambahkan kepada komponen-komponen barang modal
.Tujuan dari pelaksanaan model analisis dengan variabel investasi tabungan ini adalah
mencari keuntungan di kemudian hari melalui pengoperasiaan mesin dan pabrik . Analisis
keuangan pemerintah biasanya mencakup 4 aspek sebagai berikut, yaitu :
Operasi keuangan pemerintah dalam hubungan dengan defisit / surplus anggaran dan
sumber-sumber pembiayaannya.
Dampak operasi keuangan pemerintah terhadap kegiatan sektor riil melalui pengaruhnya
terhadap Pengeluaran Konsumsi dan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB)
pemerintah.
Dampak rupiah operasi keuangan pemerintah atau pengaruh operasi keuangan pemerintah
terhadap ekspansi bersih pada jumlah uang yang beredar.
Dampak Valuta Asing operasi keuangan pemerintah atau pengaruh operasi keuangan
pemerintah terhadap aliran devisa masuk bersih.

Faktor faktor yang mempengaruhi besar investasi antara lain:


Tingkat bunga. Kenaikan tingkat bunga akan mempengaruhi keinginan untuk
berinvestasi, dan sebaliknya.
Jumlah permintaan. Semakin besar jumlah permintaan konsumen terhadap barang dan
jasa, keinginan untuk melakukan investasi juga semakin besar.
Perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi juga akan meningkatkan keinginan untuk
berinvestasi, karena teknologi yang maju akan mengurangi biaya produksi dan meningkatkan
jumlah keuntungan.
Angka Pengganda.
Angka pengganda atau multiplier adalah hubungan kausal antara variabel tertentu dengan
variabel pendapatan nasional. Jika angka pengganda tersebut memepunyai angka yang
tinggi, maka dengan perubahan yang terjadi pada variabel tersebut akan memengaruhi angka
terhadap tingkat pendapatan nasional yang besar juga, dan sebaliknya. Perubahan pendapatan
anasional itu ditunjukan oleh suatu anagka pelipat yang disebut dengan koefisien
multiplierProses multiplier Adalah adanya perubahan pada variabel investasi menyababkan
pengeluaran agregat menjadi berubah. Namun dari keseimbangan pendapatan nasional tidak
sebesar pertambahan investasi tersebut.

Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Inflasi dan Pengangguran.


Jumlah orang yang menganggur adalah jumlah orang di negara yang tidak memiliki
pekerjaan dan yang tersedia untuk bekerja pada tingkat upah pasar saat ini. Ini dengan mudah
dapat diubah menjadi persentase dengan mengaitkan jumlah pengangguran, dengan jumlah
orang dalam angkatan kerja.

Inflasi adalah kenaikan harga secara umum selama 12 bulan. Ini diukur dengan mengambil
rata-rata tertimbang semua produk konsumen (tertimbang pada frquency pembelian) dan
menganalisis tren harga keseluruhan. Hal ini sering disebut Indeks Harga Konsumen (CPI)
atau Harmonised Indeks Harga Konsumen (HICP). Hal ini menunjukkan berapa banyak,
sebagai persentase, tingkat harga umum dari semua barang-barang konsumsi telah berubah
sepanjang tahun.
Ada tiga jenis inflasi yaitu:
1. Inflasi tarikan permintaan (demand-pull inflation)
2. Inflasi desakan biaya (cost-push inflation)
3. Inflasi karena pengaruh impor (imported inflation).
Tingkat inflasi yang terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur
baik buruknya masalah ekonomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang
perekonomiannya baik, tingkat inflasi yang terjadi berkisar antara 2 sampai 4 persen per
tahun. Tingkat inflasi yang berkisar antara 2 sampai 4 persen dikatakan tingkat inflasi yang
rendah. Selanjutnya tingkat inflasi yang berkisar antara 7 sampai 10 persen dikatakan inflasi
yang tinggi.
Didasarkan pada fakta itulah A.W. Phillips mengamati hubungan antara tingkat inflasi dan
tingkat pengangguran. Dari hasil pengamatannya, ternyata ada hubungan yang erat antara
inflasi dengan tingkat pengangguran, dalam arti jika inflasi tinggi, maka pengangguran akan
rendah. Hasil pengamatan Phillips ini dikenal dengan Kurva Phillip.
Kurva Phillip merupakan Masalah utama dan mendasar dalam ketenagakerjaan di
Indonesia adalah masalah upah yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi. Hal
tersebut disebabkan karena, pertambahan tenaga kerja baru jauh lebih besar dibandingkan
dengan pertumbuhan lapangan kerja yang dapat disediakan setiap tahunnya.

Pertumbuhan tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja
menimbulkan pengangguran yang tinggi. Pengangguran merupakan salah satu masalah utama
dalam jangka pendek yang selalu dihadapi setiap negara. Karena itu, setiap perekonomian
dan negara pasti menghadapi masalah pengangguran, yaitu pengangguran alamiah (natural
rate of unemployment). Untuk menggambarkan kurva Phillips di Indonesia digunakan data
tingkat inflasi tahunan dan tingkat pengangguran yang ada. Data digunakan adalah data dari
tahun 1980 hingga tahun 2005. Berdasarkan hasil pengamatan dengan data yang ada, maka
kurva Phillips untuk Indonesia terlihat seperti gambar berikut :
Kurva Phillips untuk Indonesia
A.W. Phillips menggambarkan bagaimana sebaran hubungan antara inflasi dengan tingkat
pengangguran didasarkan pada asumsi bahwa inflasi merupakan cerminan dari adanya
kenaikan permintaan agregat. Dengan naiknya permintaan agre-gat, maka sesuai dengan teori
permintaan, jika permintaan naik maka harga akan naik. Dengan tingginya harga (inflasi)
maka untuk memenuhi permintaan tersebut produsen meningkatkan kapasitas produksinya
dengan menambah tenaga kerja (tenaga kerja merupakan satu-satunya input yang dapat
meningkatkan output). Akibat dari peningkatan permintaan tenaga kerja maka dengan
naiknya harga-harga (inflasi) maka, pengangguran berkurang.

Menggunakan pendekatan A.W.Phillips dengan menghubungkan antara pengangguran


dengan tingkat inflasi untuk kasus Indonesia kurang tepat. Hal ini didasarkan pada hasil
analisis tingkat pengangguran dan inflasi di Indonesia dari tahun 1980 hingga 2005, ternyata
secara statistik maupun grafis tidak ada pengaruh yang signifikan antara inflasi dengan
tingkat pengangguran.

4. CONTOH KASUS YANG SEDANG TERJADI


Inflasi dari BBM Turunkan Kesejahteraan 80% Rakyat

JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium sebesar 1.500
rupiah menjadi 6.000 rupiah per liter bisa menyulut tambahan inflasi 3,5 persen dari target
inflasi 2012 sebesar 5,6 persen. Hal itu membuat potensi laju kenaikan harga barang dan jasa
tahun ini mencapai 9,1 persen. Kenaikan harga BBM akan membuat pertumbuhan ekonomi
negatif karena target tahun 2012 mencapai sekitar 6,5 persen. Pertumbuhan ekonomi yang
lebih rendah dari inflasi akan menurunkan kesejahteraan 80-90 persen rakyat yang daya
belinya sangat rentan dengan kenaikan harga barang dan jasa.

Pengamat ekonomi dari Universitas Atmajaya, Jakarta, Agustinus Prasetyantoko,


memperkirakan jika pemerintah jadi menaikkan harga BBM jenis premium dan solar hingga
1.500 rupiah, inflasi akan menyentuh angka 7-8 persen. Itu artinya, inflasi lebih besar dari
pertumbuhan ekonomi tahun ini yang ditargetkan 6,5 persen.

"Dalam kondisi nega tive growth, daya beli masyarakat menurun, dan itu
tentunya berimbas pada menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat, terutama
masyarakat kelas menengah ke bawah," ujar dia, di Jakarta, Jumat (9/3). Skenario lain
menyebutkan tambahan inflasi yang dipicu kenaikan BBM bisa mencapai 3,5 persen
sehingga inflasi menjadi 9,1 persen.
Padahal, lanjut Prasetyantoko, daya beli masyarakat selama ini menjadi penopang
pertumbuhan ekonomi. Produk domestik bruto (PDB) lebih dari 50 persen disumbang oleh
konsumsi domestik. "Untuk itu, butuh mekanisme fiskal untuk mempertahankan daya beli
masyarakat," jelas dia. Pengamat ekonomi, Yanuar Rizky, menambahkan kenaikan harga
BBM tidak hanya memukul kelompok masyarakat bawah, tetapi juga kelompok menengah
tengah. Bahkan, sekitar 90 persen masyarakat Indonesia akan menurun daya belinya. "Kalau
kelompok masyarakat bawah yang masuk skema BLT (Bantuan Langsung Tunai), BBM naik
atau tidak, mereka sudah terganggu daya belinya," ujar dia.

Yanuar mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini cukup tinggi, sekitar 6,5 persen,
dari target awal APBN 2012 sebesar 6,7 persen sebelum diturunkan menjadi 6,5 persen. Akan
tetapi, kontribusi pertumbuhan bukan dari kegiatan ekonomi rakyat, melainkan dari sektor
keuangan.

"Taruhlah kombinasi pelaku pasar modal dan perbankan 10 persen. Jadi sebetulnya 90 persen
masyarakat rentan terkena dampak kenaikan BBM ini. Kalau 10 persen sisanya, mereka bisa
hidup dari transaksi keuangan," tegas dia.

Ia mengingatkan pemerintah semestinya mencermati fakta bahwa kelompok masyarakat


mampu yang lebih tahan dengan dampak inflasi dari kenaikan harga BBM sebenarnya sangat
sedikit dibandingkan total penduduk 240 juta jiwa. "Yang jelas, dampak dari kenaikan harga
BBM ini bakal menyebar ke mana-mana," jelas Yanuar.

Efisiensi Anggaran

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Aris Yunanto, menilai pola


yang terjadi di Indonesia selama ini adalah laju inflasi terdorong oleh pertumbuhan
ekonomi. Namun, yang terjadi sekarang adalah inflasi terjadi lebih dahulu dibanding
pertumbuhan.

Aris mengingatkan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM merupakan pelajaran bagi
pengelolaan anggaran. Pertama, dalam perencanaan anggaran. Kedua, efisiensi belanja
pemerintah. Ketiga, pemerintah harus mampu meningkatkan produksi minyak dan gas dan
tengah terus meningkatnya kebutuhan BBM.

Bahkan, pemerintah kerap memberikan terminologi yang salah soal subsidi BBM. Faktanya,
biaya produksi BBM di Indonesia lebih rendah dari harga jual sehingga tidak ada unsur
subsidinya. Bahkan, harga premium 6.000 per liter sejatinya setara dengan harga minyak 104
dollar AS per barel.

Dengan demikian, tidak ada lagi subsidi negara. Aris juga menilai pemerintah tidak berkutik
sehingga mengurangi hak rakyat mendapatkan fasilitas negara, namun memosisikan diri tidak
berdaya untuk menekan penambahan utang. Dalam APBN-P 2012, pembayaran utang pokok
dan bunga utang mencapai total 170 triliun rupiah.

Menurut Yanuar, ancaman APBN yang kolaps jika tanpa menaikkan harga BBM, terjadi
akibat desain kebijakan anggaran salah sejak awal. Pemerintah tidak memiliki manajemen
risiko untuk mengatasi gejolak harga minyak dunia. Karena itu, sangat tidak adil kalau
kesalahan pemerintah ini dibebankan pada rakyat.