Anda di halaman 1dari 6

BELAJAR BAHASA TIDAK SEKEDAR MEMAHAMI – Harly Tangkilisan - [Year]

BELAJAR BAHASA TIDAK SEKEDAR MEMAHAMI


KOMPETENSI BAHASANYA TAPI BUDAYANYA
Oleh: Harly Tangkilisan

Abstrak
Tulisan ini merupakan respon dari sebuah kajian tentang Pemahaman Lintas
Budaya dalam Konteks Pembelajaran oleh Nenden Sri Lengkanawati. Berdasarkan
kajian tersebut ada beberapa hal yang amat substansial yang terabaikan oleh Sri
Lengkanawati. Karena artikel tersebut merupakan hasil penelitian, oleh karena itu suatu
hasil penelitian akan dapat menyampaikan informasi yang jelas manakala telah
merefleksikan tujuan-tujuan yang dibuat. Dengan demikian tidak akan menimbulkan
sikap skeptis terhadap pembaca yang akan membaca. Untuk melihat hal-hal apa saja
yang terabaikan oleh beliau, dalam makalah ini penulis mencoba menampilkan judul
baru dan dalam rangka menyimak kembali tujuan, research dan metode yang telah
diangkatnya.

Komunikasi Efektif
Perlu menjadi catatan bahwa terciptanya suasana komunikasi yang efektif hanya
dapat terjadi bila kedua belah pihak partisipan mempunyai pengetahuan yang kurang
lebih sama tentang media yang digunakan. Pengetahuan tentang kaidah-kaidah bahasa
yang dipakai merupakan dasar terjadinya komunikasi. Pengetahuan semacam ini disebut
kompetensi bahasa. Namun demikian kompetensi bahasa yang dimiliki seseorang tidak
menjamin atau tidak serta merta dapat diterapkan sebagai media komunikasi yang
efektif.
Kita yang memiliki bahasa ibu sejak lahir berarti kita mengetahui seluk-beluk
kebahasaannya sebagai suatu sistem secara keseluruhan, dan jika kita menguasai suatu
bahasa diluar bahasa ibu seperti bahasa Jepang berarti langue kita bertambah dengan
pertimbangan apakah kita memahami seluk-beluk kebahasaannya secara menyeluruh
atau tidak. Mendalami suatu bahasa tidaklah sekedar memahami kompetensi bahasanya.
Ada unsur-unsur diluar kaidah-kaidah kebahasaannya yang perlu dipahami. Diluar dari
pada itu adalah makna denotatif, unsur nonkebahasaan, gesture yang memperhatikan
tendensi kulturalnya. Sekiranya unsur-unsur inilah yang harus dapat menyertai

1
BELAJAR BAHASA TIDAK SEKEDAR MEMAHAMI – Harly Tangkilisan - [Year]

kompetensi bahasa dalam proses komunikasi lisan. Dengan tidak harus mengabaikan
unsur-unsur yang ada maka akan tercipta suatu performansi komunikasi yang benar-
benar efektif dan kontekstual.

Kontak Bahasa
Setiap bahasa yang bertemu dengan bahasa lain pasti terjadi kontak. Hal ini
terjadi karena pengaruh bahasa satu dengan yang lainnya secara langsung maupun tidak
langsung. Terjadinya kontak bahasa bagi komunitas pemakai bahasa menimbulkan
interferensi. Kontak bahasa yang menimbulkan interferensi itu dipandang sebagai
fenomena yang wajar dan positif. Hal ini terjadi karena adanya pemindahan unsur-unsur
bahasa satu ke dalam bahasa lain baik sadar maupun tidak sadar.

Kontak Budaya
Memasukkan unsur budaya lain ke dalam budaya sendiri merupakan peluang
yang diberikan oleh adanya kontak budaya. Realisasinya selalu berselingan atau bisa
juga bersamaan di dalam lingkungan tertentu yang sering dinilai orang suatu hal yang
aneh. Realisasinya terjadi setelah terjadi suatu penjaringan yang sewajarnya agar tidak
dipandang orang suatu hal yang aneh. Oleh karena adanya kontak budaya lain yang
telah terjaring dengan budaya sendiri, kontak budaya juga notabene mempengaruhi
eksistensi berbahasa orang.

Lintas Budaya
Lintas budaya dalam hal ini kita berada atau masuk secara langsung ataupun
tidak langsung ke dalam budaya lain. Yang dimaksud dengan budaya lain adalah segala
kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki oleh suatu komunitas masyarakat tertentu yang
meliputi aspek tradisi, nilai, bahasa, kepercayaan dan semua pola pikir sebagai suatu
pewarisan dari generasi kegenerasinya. Jika kita mendalami salah satu unsur budaya
tertentu misalnya bahasa maka mau tidak mau kita juga harus memahami segala unsur
budaya bahasa yang dipelajari agar dapat mengisyaratkan kita untuk dapat
berkomunikasi dengan efektif.
Belajar bahasa kedua dengan harus masuk secara langsung kedalam budaya
bahasa tersebut memberi peluang terjadinya kejutan budaya. Karena dimana individu

2
BELAJAR BAHASA TIDAK SEKEDAR MEMAHAMI – Harly Tangkilisan - [Year]

akan merasakan budaya yang benar-benar kaku sehingga kejutan budayapun ditandai
dengan berbagai sikap seperti cemas, nervous dan sebagainya.
Hal penting di dalam usaha memperkecil bahkan dapat menghilangkan kejutan
budaya secara terus menerus proses adaptasi bisa dijadikan konsep berpikir awal kita
tatkala harus berada di dalam budaya lain. Kata adaptasi semula digunakan dalam
bidang biologi, kemudian ilmu sosial budaya dan digunakannya unutk mencoba
memahami pola penyesuaian manusia terhadap lingkungan alam dan usaha untuk lebih
survival.
Kajian konsep adaptasi terhadap proses pendidikan berarti suatu hal yang
diperoleh dari lingkungan sekitarnya yang kemudian ditemukan, diterapkan dalam
lingkungan itu juga sehingga terjadinya suatu proses penyesuaian dan pembudayaan.
Pindah dari satu budaya ke budaya yang lain memerlukan penyesuaian. Hal ini
pada umumnya dialami oleh mereka yang untuk pertama kali tinggal di negeri lain
dalam waktu tertentu, seperti yang pernah diutarakan oleh Sri Lengkanawati mengenai
respondennya yang telah mengikuti tugas belajar di luar negeri. Adapun tahapan-
tahapan yang mau tidak mau akan dilalui tatkala berada di lingkungan budaya lain
yakni;
a. Masa berbunga-bunga
b. Masa resah
c. Penyesuaian awal
d. Masa risau
e. Penerimaan dan perpaduan

Beberapa esensi yang ditulis oleh Sri Lengkanawati dalam artikelnya yang
berjudul Pemahaman Lintas Budaya dalam Konteks Pembelajaran.

Introduksi
Pembelajaran bahasa kedua tidak lepas dari budaya bahasa tersebut sebab baik
wacana lisan maupun tulisan sarat dengan budaya bahasa tersebut (Sri Lengkanawati,
2001:28). Gebhard dalam artikel Sri Lengkanawati lebih menegaskan bahwa
pemahaman konsep lintas budaya akan bermanfaat bagi para siswa atau guru dalam
beradaptasi dengan pihak-pihak penutur asli bahasa sasaran baik verbal maupun non
verbal (2001:38).

3
BELAJAR BAHASA TIDAK SEKEDAR MEMAHAMI – Harly Tangkilisan - [Year]

Pemahaman lintas budaya dalam konteks pembelajaran bahasa mewarnai pola


berbahasa yang bisa menimbulkan berbagai masalah seperti salah pengertian dalam
pengaplikasian baik lisan maupun tulisan. Sehingga dapat dibenarkan apa yang telah
diutarakan oleh Sri Lengkanawati bahwasannya ketunaan pengetahuan dan pemahaman
budaya bahasa sasaran akan menimbulkan konflik budaya dalam diri pembelajar. Dalam
suatu ukuran tertentu Sri Lengkanawati memaparkan beberapa poin tentang proses
penyesuaian menurut Wurzel dan Livine, Adelman yang penulis pikir terlalu universal
dalam rangka mengatasi fenomena yang ada.
Setidaknya dengan memunculkan tahapan-tahapan yang bersahaja dengan
penjelasan yang bersahaja pula kemungkinan dapat dipahami untuk memperkecil
terjadinya antithesis budaya sendiri terhadap budaya lain.

Metode
Penelitian pada umumnya bertujuan untuk menemukan suatu generalisasi
misalnya mengetahui pengetahuan responden tentang budaya bahasa sasaran dan
sebagainya. Bila kita ingin menyelidiki responden yang pernah ke luar negeri namun
masih relatif kurang maka membatasinya pada jumlah yang kecil dapat kita lakukan
dalam pengambilan sampel. Sampel itu harus representatif bagi keseluruhan populasi.
Apa yang ditemukan dalam penelitian sampel diangggap juga berlaku bagi populasi.
Sampel yang diambil dalam penelitian Sri Lengknawati yang mewakili populasi
adalah dua orang responden yang pernah belajar di Amerika yang di singkat dengan R1
yaitu dosen non jurusan bahasa Inggris yang belajar sekitar tahun 1990-an, dan R2 yaitu
dosen jurusan bahasa Inggris yang belajar sekitar tahun 1970-an. Pemilihan sampel ini
diambil dengan maksud untuk melihat perbedaan persepsi antara kedua responden
mengenai budaya bahasa sasaran.
Pengambilan sampel oleh Sri Lengkanawati, jika disimak, tidak merefleksikan
tujuan-tujuan yang telah dibuat. Bahawasannya Sri Lengkanawati tidak hanya
membandingkan persepsi responden dengan budaya Amerika tapi juga budaya Jepang.
Pada bagian abstrak artikel tercatat ada lima orang responden dengan masing-masing
latar belakang dua orang yang belajar di Amerika dan tiga orang yang belajar di Jepang.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa dalam sampel hanya terdapat dua orang responden,
kemana tiga orang responden yang sekiranya akan memberikan gambaran mengenai

4
BELAJAR BAHASA TIDAK SEKEDAR MEMAHAMI – Harly Tangkilisan - [Year]

budaya Jepang itu? Masalah ini dipertanyakan terlepas dari hasil penelitian seutuhnya,
terbatas dari apa yang ada di dalam artikel. Artinya apa yang ditanyakan tidak lebih dari
apa yang tertulis dalam artikelnya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini dalam rangka menjawab
permasalahan-permasalahan yang diangkat adalah metode Cross Sectional Survey
(Wallen, 1990). Yang dimaksud dengan metode ini adalah untuk mencari informasi
yang berkaitan dengan kemampuan, sikap, pendapat dan pengetahuan siswa tentang
sesuatu.

Analisis Data
Analisis data yang telah dilakukan adalah dikalsifikasikan kedalam kategori-
kategori seperti yang terurai dalam artikel. Artinya data yang diperoleh dari kedua
responden kira-kira masuk dalam kategori mana dari kategori yang sudah ditetapkan.
Tapi sesungguhnya analisis data dengan memunculkan kategori-kategori tersebut tidak
pernah digeneralisasikan dengan data yang diperoleh dari kedua responden. Sri
Lengkanawati hanya menguraikan secara umum dan sepertinya tidak menjelaskan
persepsi responden dengan kategori yang ada. Sehingga para pembaca mungkin tidak
tahu jelas hal apa saja yang dilakukan responden yang notabene berhubungan dengan
kategori yang ditetapkan.
Dari hasil analisis data, ada beberapa temuan yang diperoleh seperti
pengetahuan responden tentang budaya bahasa sasaran seperti apa, bagaimana
mengatasi kejutan budaya dan sebagainya. Namun Sri Lengkanawati tidak pernah
mengeksploitasikan secara khusus persepsi responden 1 dan 2 mengingat mereka
berbeda latar belakang dan waktu belajarnya. Dari hasil temuannya terlalu yakin dia
mengatakan bahwa baik R1 maupun R2 tidak begitu mengalami kejutan budaya.
Responden dari Sri Lengkanawati juga terlalu tendensius mengatakan bahwa
pada umumnya budaya bahasa yang mereka pelajari baik. Akan tetapi sesungguhnya
dari sudut pandang mana mereka memandang sehingga orang lain tidak akan pernah
menganggap remeh budaya bahasa ibu kita. Pada dasarnya masing-masing negara
memiliki budaya, tradisi yang berbeda, ada yang dipandang baik maupun buruk oleh
orang dalam sendiri ataupun orang luar. Baik untuk kita belum tentu baik untuk orang
lain yang latar belakang budayanya berbeda.

5
BELAJAR BAHASA TIDAK SEKEDAR MEMAHAMI – Harly Tangkilisan - [Year]

Simpulan
Usaha mencipatakan komunikasi yang efektif atau performansi komunikasi
notabene tidaklah sekedar memahami kompetensi bahasanya. Akan tetapi lebih dari
pada itu yaitu unsur non kebahasaannya atau memahami unsur-unsur budayanya yang
merupakan induk utama dari bahasa. Bahasa yang dipelajari selalu merefleksikan nilai-
nilai budaya yang substansial.
Pada bagian akhir artikel, Sri Lengkanawati mencoba menstranskripsikan
berbagai perbedaan budaya bahasa sasaran dengan bahasa ibu. Apapun yang diutarakan
mengenai persepsi responden terhadap budaya bahasa sasaran dalam konteks Amerika
pada umumnya positif. Pernyataan tersebut wajar-wajar saja, jika realita dalam
masyarakatnya demikian.
Sangat hati-hati sehingga tidak pernah tercatat dalam artikel Sri Lengkanawati
bahwa budaya bahasa ibu amat buruk manakala dibandingkan dengan budaya bahasa
sasaran. Namun penulis makalah ini dapat menangkap bahwasannya apa yang dituliskan
oleh Sri Lengkanawati mengenai pengetahuan dan persepsi kedua responden terhadap
budaya bahasa sasaran pada umumnya baik telah mengisyaratkan agar kita dapat belajar
dari budaya bahasa sasaran tersebut. Bukan karena kepentingan kita sebagai pembelajar
bahasa akan tetapi lebih daripada itu, yaitu dalam rangka merubah pola pikir kita sehari-
hari baik di kampus maupun di rumah.