Anda di halaman 1dari 17

Departemen Jiwa

PRE PLANNING SATUAN ACARA PEMBELAJARAN


PENYULUHAN KESEHATAN
CARA MENGATASI DEPRESI BABY BLUES

A. Latar Belakang
Depresi baby blues merupakan problem psikis sesudah melahirkan
seperti kemunculan kecemasan, labilitas perasaan dan depresi pada ibu.
Kontinum permasalahan dan kondisi berlanjut tersebut digolongkan dalam
jenis gangguan depresi. Kemunculan depresi ini diperikirakan setelah 1 tahun
atau secepatnya dalam 4 minggu setelah melahirkan. Perubahan hormon dan
perubahan hidup ibu pasca melahirkan juga dapat dianggap pemicu depresi
ini. Diperikiran sekitar 50-70% ibu melahirkan menunjukkan gejala-gejala
awal kemunculan depresi postpartum blues, walau demikian gejala tersebut
dapat hilang secara perlahan karena proses adaptasi dan dukungan keluarga
yang tepat.
Fenomena Depresi baby blues merupakan masalah kesehatan wanita
yang terus meningkat. Angka kejadian Depresi baby blues di Asia cukup
tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85% (Fatma, 2012), sedangkan di
Indonesia angka kejadian postpartum blues antara 50-70% dari wanita pasca
persalinan.
Di Indonesia masih belum banyak diketahui angka kejadian, mengingat
belum adanya lembaga terkait yang melakukan penelitian terhadap kasus
tersebut. Menurut Ade (2011) di Indonesia angka kejadian postpartum blues
antara 50-70% dari wanita pasca persalinan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan maka diharapkan peserta penyuluhan
dapat mengikuti dan memahami tentang cara mengatasi depresi baby
blues.

Penyuluhan Kesehatan 1
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan ibu dapat :
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Depresi baby blues
b. Mengetahui gejala Depresi baby blues
c. Mengetahui cara penanganan Depresi baby blues
C. Pelaksanaan Kegiatan
Cabang Ilmu : Keperawatan Jiwa
Topik : Depresi baby blues
Hari/ tanggal : September 2017
Waktu : 09.00 sampai selesai
Tempat : Puskesmas Jongaya
Sasaran : Pasangan Usia Subur
Metode : Ceramah dan Tanya jawab.
Media : Leaflet dan Flipchart
Materi : Terlampir
D. Setting Tempat :

Keterangan:
Moderator Peserta

Pemateri Fasilitator

Observer

Penyuluhan Kesehatan 2
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

E. Susunan Acara

Waktu Acara

09.00 09.05 Wita Pembukaan


09.05 09.20 Wita Penyajian Materi
09.20 09.30 Wita Diskusi / Tanya Jawab dan Evaluasi
09.30 09.35 Wita Penutup (Terminasi)

F. Pengorganisasian
1. Moderator
Kartika Sari, S.Kep
Tugas:
a. Membuka kegiatan penyuluhan
b. Memperkenalkan asal institusi dan memperkenalkan tim perawat
c. Menjelaskan topik dan tujuan permainan
d. Mengarahkan dan memimpin jalannya penyuluhan
e. Menetralisir keadaan jika terjadi masalah
2. Pemateri
Nurindah Sari, S.Kep
Tugas:
a. Menjelaskan materi
b. Menjawab Pertanyaan
c. Mengevaluasi pengetahuan peserta
3. Fasilitator
Nurlia, S.Kep
Megawati, S.Kep
Emil Reza Purnama, S.Kep
Tugas:
a. Mempersiapkan tempat penyuluhan
b. Mempersiapkan dan menyediakan alat dan media penyuluhan

Penyuluhan Kesehatan 3
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

c. Memfasilitasi kebutuhan saat penyuluhan berlangsung


d. Memberi motivasi dan dukungan pada peserta penyuluhan
4. Observer
Jayanti Sekarwangi, S.Kep
Tugas
Mengamati jalannya penyuluhan
G. Tata Tertib
1. Peserta berkumpul 5 menit sebelum penyuluhan dimulai
2. Peserta bersedia mengikuti kegiatan penyuluhan
H. Evaluasi
1. Evaluasi Input
a. Tim berjumlah 5 orang yang terdiri atas 1 pemateri,1 moderator, 3
fasilitator, dan 1 orang observer.
b. Lingkungan memiliki syarat luas dan sirkulasi baik
c. Media berfungsi dengan baik
d. Tidak ada kesulitan untuk melakukan penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
a. Moderator membuka dengan baik penyuluhan
b. Pemateri menjelaskan materi dengan baik
c. Fasilitator menempatkan diri di tengah-tengah klien
d. 70% klien yang mengikuti penyuluhan dapat mengikuti dengan aktif
dari awal sampai selesai.
3. Evaluasi Output (Hasil)
Setelah mengadakan penyuluhan pada masyarakat utamanya pada
Pasangan Usia Subur, hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut :
a. Pasangan Usia Subur dapat mengikuti kegiatan penyuluhan dengan
aktif dari awal sampai selesai.
b. Pasangan Usia Subur dapat menyebutkan apa yang dimaksud
dengan Depresi baby blues
c. Pasangan Usia Subur dapat menyebutkan gejala Depresi baby blues
Penyuluhan Kesehatan 4
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

d. Pasangan Usia Subur dapat menyebutkan cara penanganan Depresi


baby blues.

Penyuluhan Kesehatan 5
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )


PENYULUHAN KESEHATAN
CARA MENGATASI DEPRESI BABY BLUES

Cabang Ilmu : Kesehatan psikologis (jiwa)


Topik : Depresi baby blues
Hari/ tanggal : September 2017
Waktu : 09.00 sampai selesai
Tempat : puskesmas Jongaya
Sasaran : Pasangan Usia Subur
Materi : Terlampir
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan maka diharapkan peserta penyuluhan
dapat mengikuti dan memahami tentang cara mengatasi depresi baby
blues.
2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan ibu dapat :
d. Mengetahui apa yang dimaksud dengan Depresi baby blues
e. Mengetahui gejala Depresi baby blues
f. Mengetahui cara penanganan Depresi baby blues
3. Strategi Pelaksanaan
Strategi yang digunakan dalam penyampaian penyuluhan ini berupa :
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab
4. Media
1. Leaflet
2. Flipchart

Penyuluhan Kesehatan 6
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

5. Materi Penyuluhan
Terlampir
6. Susunan Kegiatan :

KEGIATAN KEGIATAN
NO TAHAP PENYULUHAN WAKTU SASARAN

1 Pendahuluan Memberikan salam 3 menit Menjawab salam


(Pembukaan) terapeutik
Memperkenalkan diri Memperhatikan
Menjelaskan tujuan Memperhatikan

Kontrak waktu Memperhatikan

2 Pelaksanaan Menyebutkan apa yang 15 menit Memperhatikan


(Penyajian) dimaksud dengan Depresi
baby blues.
Menyebutkan gejala Memperhatikan
Depresi baby blues.
Menyebutkan cara Memperhatikan
penanganan Depresi baby
blues.

3 Evaluasi Menanyakan kepada 5 menit Menjawab


peserta tentang materi yang pertanyaan
telah diberikan

Penyuluhan Kesehatan 7
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

Memberi reinforcement
kepada peserta yang dapat
menjawab pertanyaan.
4 Terminasi Mengucapkan terima kasih 2 menit Mendengarkan
atas peran serta peserta
Mengucapkan salam Menjawab salam
penutup

7. Evaluasi :
1. Proses :
- Peserta mengikuti ceramah dan bertanya
- Peserta mengobservasi/mengikuti dengan saksama, demonstrasi
2. Akhir :
- Peserta dapat megikuti penyuluhan dari awal hingga akhir sebanyak
100 %
- Peseta dapat Menyebutkan apa yang dimaksud dengan Depresi baby
blues.
- Peseta dapat Menyebutkan gejala Depresi baby blues.
- Peseta dapat Menyebutkan cara penanganan Depresi baby blues.

Penyuluhan Kesehatan 8
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

MATERI PENYULUHAN

1. Pengertian Depresi baby blues


Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional
setelah melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum
yang umum adalah depresi, mudah marah dan terutama mudah frustasi serta
emosional. Gangguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu
gangguan yang paling sering terjadi pada wanita baik primipara maupun
multipara. Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin diklasifikasikan dalam
gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan.
Ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues,
postpartum depression dan postpartum psychosis (Ling dan Duff, 2001).
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk,
1997), bahwa ada 3 golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum
blues atau sering disebut juga sebagai maternity blues yaitu kesedihan pasca
persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression yaitu depresi pasca
persalinan yang berlangsung sampai berminggu minggu atau bulan dan
kadang ada diantara mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang
dialaminya merupakan penyakit. Postpartum psychosis, dalam kondisi seperti
ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat karena bisa menetap sampai setahun
dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap pasca melahirkan.
Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988.
Pitt (Regina dkk, 2001), depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi
dari hari ke hari dengan menunjukkan kelelahan, mudah marah, gangguan
nafsu makan, dan kehilangan libido (kehilangan selera untuk berhubungan
intim dengan suami). Masih menurut Pitt (Regina dkk, 2001) tingkat
keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling
ringan yaitu saat ibu mengalami kesedihan sementara yang berlangsung
sangat cepat pada masa awal postpartum, ini disebut dengan the blues atau
maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat disebut psikosis
Penyuluhan Kesehatan 9
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat


kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut
neurosa depresi atau depresi postpartum.
Menurut Duffet-Smith (1995), depresi pascasalin bisa berkaitan dengan
terjadinya akumulasi stres. Ada stres yang tidak dapat dihindari, seperti
operasi. Depresi adalah pengalaman yang negatif ketika semua persoalan
tamapak tidak terpecahkan. Persoalan juga tidak akan terpecahkan dengan
berpikir lebih positif, tetapi sikap itu akan membuat depresi lebih dapat
dikendalikan.
Monks dkk (1988), menyatakan bahwa depresi postpartum merupakan
problem psikis sesudah melahirkan seperti labilitas afek, kecemasan dan
depresi pada ibu yang dapat berlangsung berbulan bulan. Sloane dan
Bennedict (1997) menyatakan bahwa depresi postpartum biasanya terjadi
pada 4 hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus 1 2
minggu.
LlewellynJones (1994), menyatakan bahwa wanita yang didiagnosa
secara klinis pada masa postpartum mengalami depresi dalam 3 bulan
pertama setelah melahirkan. Wanita yang menderita depresi postpartum
adalah mereka yang secara sosial dan emosional merasa terasingkan atau
mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa depresi postpartum
adalah gangguan emosional pasca persalinan yang bervariasi, terjadi pada 10
hari pertama masa setelah melahirkan dan berlangsung terus menerus
sampai 6 bulan bahkan sampai satu tahun.
2. Penyebab Depresi baby blues
Cycde (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa Depresi baby blues
tidak berbeda secara mencolok dengan gangguan mental atau gangguan
emosional. Suasana sekitar kehamilan dan kelahiran dapat dikatakan bukan
penyebab tapi pencetus timbulnya gangguan emosional.
Nadesul (1992), penyebab nyata terjadinya gangguan pasca melahirkan
Penyuluhan Kesehatan 10
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

adalah adanya ketidakseimbangan hormonal ibu, yang merupakan efek


sampingan kehamilan dan persalinan. Sarafino (Yanita dan Zamralita, 2001),
faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah
masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya
atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap
perpisahan, dan ketidakpuasaan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki
sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan
variabel sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan
kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh LlewellynJones (1994),
karakteristik wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum adalah :
wanita yang mempunyai sejarah pernah mengalami depresi, wanita yang
berasal dari keluarga yang kurang harmonis, wanita yang kurang
mendapatkan dukungan dari suami atau orangorang terdekatnya selama
hamil dan setelah melahirkan, wanita yang jarang berkonsultasi dengan
dokter selama masa kehamilannya misalnya kurang komunikasi dan
informasi, wanita yang mengalami komplikasi selama kehamilan.
Pitt (Regina dkk, 2001), mengemukakan 4 faktor penyebeb depresi
postpartum sebagai berikut :
a. Faktor konstitusional. Gangguan post partum berkaitan dengan status
paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai
bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan
sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita
primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita
primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan
diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan
menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.
b. Faktor fisik. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya
gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor
fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting.
Penyuluhan Kesehatan 11
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten


selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini
sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan
estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan
faktor penyebab yang sudah pasti.
c. Faktor psikologis. Peralihan yang cepat dari keadaan dua dalam satu
pada akhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak
bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel
(Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam
menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara
ibu dan anak.
d. Faktor sosial. Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa
pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada
ibu ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab
depresi postpartum adalah faktor konstitusional, faktor fisik yang terjadi
karena adanya ketidakseimbangan hormonal, faktor psikologi, faktor
sosial dan karakteristik ibu.
Adapun Faktor resiko yang dapat mendukung terjadinya depresi post
partum, antara lain :keadaan hormonal, dukungan social, emotional
relationship, komunikasi dan kedekatan, struktur keluarga, antropologi,
perkawinan, demografi, stressor psikososial, lingkungan
3. Tanda-tanda dan gejala Depresi baby blues
Depresi merupakan gangguan yang betulbetul dipertimbangkan
sebagai psikopatologi yang paling sering mendahului bunuh diri, sehingga
tidak jarang berakhir dengan kematian. Gejala depresi seringkali timbul
bersamaan dengan gejala kecemasan. Manifestasi dari kedua gangguan ini
lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa
bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau bunuh diri.

Penyuluhan Kesehatan 12
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

Menurut Vandenberg (dalam Cunningham dkk, 1995), menyatakan


bahwa keluhan dan gejala depresi postpartum tidak berbeda dengan yang
terdapat pada kelainan depresi lainnya. Hal yang terutama mengkhawatirkan
adalah pikiran pikiran ingin bunuh diri, wahamwaham paranoid dan
ancaman kekerasan terhadap anakanaknya.
Depresi baby blues mempunyai karakteristik yang spesifik antara lain:
a. Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi
mimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat
mengakibatkan insomnia. Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu
gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau
gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
b. Phobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan
yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun
diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan
bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang
dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi
yang bermacammacam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan
tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah
mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula
untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap
peralatan peralatan operasi dan jarum (Duffet-Smith, 1995).
c. Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul
karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi
sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
d. Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak
sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus
pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat
bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri
sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya

Penyuluhan Kesehatan 13
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan
meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002).
e. Perubahan mood. Menurut Sloane dan Bennedict (1997), menyatakan
bahwa depresi postpartum muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang
nafsu makan, sedih murung, perasaan tidak berharga, mudah marah,
kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik,
sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah
dalam kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau
berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit
untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta
mengotori kain yang baru diganti.
Menurut Nevid dkk (1997), depresi postpartum sering disertai
gangguan nafsu makan dan gangguan tidur, rendahnya harga diri dan
kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau perhatian.
Kriteria diagnosis spesifik depresi postpartum tidak dimasukkan di
dalam DSM-IV, dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk
membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi
dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset episode
dalam 4 minggu pasca persalinan.
Menurut DSM IV, simptomsimptom yang biasanya muncul pada
episode postpartum antara lain perubahan mood, labilitas mood dan sikap
yang berlebihan terhadap bayi. Wanita yang menderita depresi
postpartum sering mengalami kecemasan yang sangat hebat dan sering
panik.
Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV,
secara karakteristik penderita depresi postpartum mulai mengeluh
kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan dan
kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain. Selain itu,
penderita depresi postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat

Penyuluhan Kesehatan 14
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

bayinya, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya


sendiri atau keduanya.
Gejala depresi pascasalin ini memang lebih ringan dibandingkan
dengan psikosis pascasalin. Meskipun demikian, kelainankelainan
tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan kesulitan atau masalah
bagi ibu yang mengalaminya (Kruckman dalam Yanita dan Zamralita,
2001).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejalagejala
depresi postpartum antara lain adalah trauma terhadap intervensi medis
yang dialami, kelelahan, perubahan mood, gangguan nafsu makan,
gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak
mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau
keduanya.
4. Penanganan Depresi baby blues
Jika Anda baru saja melahirkan dan tiba-tiba merasa sedih, blue,
anxious, mudah tersinggung, lelah luar biasa atau gejala-gejala lain dari
postpartum depression, ingatlah bahwa banyak para wanita lain yang juga
mengalami hal yang sama. Anda tidak gila atau berubah menjadi gila! Dan
sebaiknya Anda memang jangan pernah mempunyai pikiran demikian.
Dibawah ini ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu Anda
melewati postpartum depression:
a. Cari teman atau saudara yang bisa diajak curhat
b. Cari orang yang bisa membantu Anda untuk merawat bayi atau
mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hal ini akan membantu Anda
untuk bisa beristirahat.
c. Luangkan waktu untuk melakukan sesuatu bagi diri Anda sendiri,
meskipun itu hanya berlangsung selama 15-20 menit/hari. Misalnya baca
buku, jalan-jalan sekitar kompleks perumahan, mandi spa atau
memanjakan diri di salon.

Penyuluhan Kesehatan 15
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

d. Setiap hari, luapkan emosi dan perasaan Anda. Ini adalah salah satu cara
untuk mengeluarkan semua perasaan dan rasa frustasi Anda
e. Kelahiran seorang bayi membawa banyak perubahan dan menjadi
orangtua memang bukan suatu perkara yang mudah.
f. Jujurlah pada diri Anda sendiri seberapa banyak yang bisa Anda lakukan
dan jangan pernah ragu untuk minta bantuan kepada orang lain saat Anda
membutuhkannya.

Penyuluhan Kesehatan 16
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Departemen Jiwa

DAFTAR PUSTAKA

Rasmun. 2004.Stres, Koping dan Adaptasi teori dan pohon masalah


keperawatanJakarta:CV.Agung seto

Videbeck ,Sheila L.2008.Buku Ajar Keperawatan JiwaJakarta:EGC

www.bukankuyangbiasa.blogspot.com .Depresi Postpartum

www.revinaoctavianitadr.multyply.com.Baby Blues danPost Partum

www.psikomedia.com.Depresi Postpartum

Yosep,Iyus.2007.Keperawatan JiwaBandung :Revika Aditama

Penyuluhan Kesehatan 17
PUSKESMAS JONGAYA 2017
PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR