Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perguruan tinggi merupakan lembaga ilmiah yang melaksanakan Tri
Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian
masyarakat. Perguruan tinggi diharapkan dapat mendidik dan mencetak insan
yang mampu menguasai ilmu pengetahuan secara praktis, teoritis, serta mampu
berperan dalam kehidupan masyarakat. Kemampuan akademis saja belum tentu
dapat memenuhi kebutuhan masyarakat ataupun dunia kerja. Untuk mewujudkan
tujuan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menekuni bidang ilmu tertentu
secara mendalam dan mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap perkembangan
teknologi dan permasalahan yang tinggi terhadap perkembangan teknologi dan
permasalahan yang ada.
Peran yang diharapkan dari mahasiswa berupa inovasi terbaru terkait
bidang ilmu yang diperdalam. Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang diharapkan dapat menghasilkan
sarjana yang kompeten di bidangnya yang dapat membangun pengembangan dan
penelitian dalam suatu perusahaan ataupun instansi yang berkaitan dengan bidang
biologi untuk pengembangan ilmu.
Praktik Kerja Lapangan merupakan kegiatan atau aktivitas mahasiswa
yang dilakukan di instansi yang memiliki hubungan erat dengan pengembangan
atau penerapan ilmu yang telah diperoleh dibangku kuliah. Dengan adanya
Praktik Kerja Lapangan tersebut diharapkan dapat menjembatani pertukaran
informasi antara pihak perguruan tinggi dan pihak instansi, serta dapat menjadi
wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan disiplin ilmu yang didapatkan sehingga
mampu memasuki dunia kerja.
Balai Penelitian dan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) merupakan
salah satu instansi yang bergerak dalam bidang pembenihan, pembesaran dan
pembudidayaan ikan air tawar yang dapat menjadi pilihan tempat praktik kerja
bagi mahasiswa biologi. Salah satu pembesaran yang dilaksanakan di BPTPB

1
Cangkringan adalah ikan sidat. Pembesaran ikan sidat berada di BPTPB
Cangkringan yang tepatnya pada Unit Kerja Budidaya Air Tawar(UKBAT)
Wonocatur. UKBAT Wonocatur melaksanakan pembesaran ikan sidat (Anguilla
bicolor) yang tidak seluruh UKBAT melakukannya. Ikan sidat (Anguilla bicolor)
yang merupakan salah satu komoditas ekspor, khususnya ke Jepang, Korea, dan
China.
Ikan sidat merupakan ikan unik yang tergolong memiliki nilai ekonomis
yang cukup tinggi. Permintaan pasar akan sidat di luar negeri mencapai 500.000
ton per tahun (Haryono, 2008). Selama ini pembudidaya hanya melakukan
pembesaran ikan sidat dikarenakan teknologi pembenihannya belum dikuasai
secara baik (Rusmaedi, 2010). Ikan sidat yang dipelihara di UKBAT Wonocatur
merupakan ikan sidat jenis Anguilla bicolor. Jenis ikan tersebut banyak memiliki
kesamaan morfologi dengan sidat jepang sehingga sidat dapat diekspor ke Jepang.
Selain itu ikan sidat jenis Anguilla bicolor keberadaannya cukup melimpah di
sekitar selatan pulau jawa. Cukup melimpahnya ikan sidat jenis Anguilla bicolor
perlu adanya usaha lebih lanjut untuk membudidayakan ikan sidat agar dapat
memenuhi kebutuhan pasar baik dalam maupun luar negeri.
UKBAT Wonocatur merupakan lembaga pemerintah yang melaksanakan
pembesaran ikan sidat sejak tahun 2013. UKBAT Wonocatur merupakan satu-
satunya balai air tawar di Yogyakarta yang melaksanakan pembesaran ikan sidat.
Berdasarkan pengalaman yang cukup lama diharapkan dapat memberikan
informasi, keterampilan, pengetahuan yang lebih dalam kegiatan pembesaran ikan
sidat.

B. Alasan Pemilihan Obyek PKL


Pelaksanaan PKL di Budidaya Air Tawar Wonocatur bertujuan untuk
menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. Budidaya Air
Tawar Wonocatur melaksanakan pembesaran ikan sidat (Anguilla bicolor) yang
tidak seluruh Budidaya Air Tawar melakukannya. Ikan sidat (Anguilla bicolor)
yang merupakan salah satu komoditas ekspor, khususnya ke Jepang, Korea, dan
China. Serangkaian kegiatan PKL bisa mengaitkan pengetahuan akademik dan

2
keterampilan pengalaman kerja, sehingga dapat menjadi tenaga yang kompeten
dan terampil untuk masa mendatang.

C. Tujuan PKL
Tujuan dari Praktik Kerja Lapangan adalah sebagai berikut.
1. Mempelajari teknik pembesaran ikan sidat secara baik dalam wirausaha
2. Menambah keterampilan tentang pembesaran ikan sidat
3. Mempelajari teknik sampling ikan sidat

3
BAB II

A. Sekilas Profil Tempat Pelaksanaan PKL


Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Wonocatur merupakan unit
kerja air tawar yang dibawah UPTD BPTPB Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) adalah suatu organisasi di Dinas
Kelautan dan Perikanan yang melaksanakan tugas teknis penunjang dan tugas
teknis operasional. Balai Penelitian dan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB)
merupakan pelaksana teknis yang melaksanakan kegiatan teknis operasional yang
memiliki wilayah kerja satu atau beberapa daerah kabupaten atau kota. BPTPB
mempunyai tugas menyelenggarakan pengembangan teknologi budidaya air
tawar, air payau, dan air laut.
Unit Kerja Air Tawar (UKBAT) Wonocatur berdiri pada tahun 1951
dengan luas area sekitar 2 hektar. Awalnya UKBAT Wonocatur bernama Balai
Benih Ikan (BBI). Gagasan ini dimunculkan oleh Bapak Husein selaku Kepala
Seksi Perikanan di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY. Gagasan ini
bermula karena saat itu belum berkembangnya usaha bidang perikanan di daerah
Yogyakarta. Tahun 2004, Balai Benih Ikan (BBI) Wonocatur mengalami
perubahan nama menjadi Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Wonocatur,
Sleman, Yogyakarta dengan pertimbangan unit kerja tersebut dikhususkan untuk
melakukan kegiatan operasional jenis-jenis ikan air tawar.
Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Wonocatur merupakan unit
kerja tempat melaksanakan kegiatan pengembangan teknologi budidaya air tawar
dan memproduksi benih unggul dan bermutu dengan produksi utama merupakan
ikan lele dan ikan nila. Komoditas lain yang dikembangkan di UKBAT
Wonocatur yaitu ikan gabus dan ikan sidat. Awalnya UKBAT Wonocatur,
Sleman, Yogyakarta terletak di dusun Tegalmulyo Desa Wonocatur, Kecamatan
Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta yang berjarak 5 km dari Ibu kota
Provinsi, 20 km dari Ibukota Kabupaten dan 2 km dari Dinas Kelautan dan
Perikanan Yogyakarta. UKBAT Wonocatur dibangun diatas tanah milik

4
pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan status hak pakai. Luas
areal keseluruhan adalah 2 hektar yang terdiri dari 1,2 hektar meliputi 27 kolam.
Pada tahun 1996 didirikan bangunan untuk kegiatan informasi promosi hasil
perikanan seluas 1200 meter2 serta tempat pemancingan sehingga jumlah kolam
berkurang menjadi 20 buah. Pada bulan Juli 2008 UKBAT Wonocatur berpindah
lokasi yang baru yaitu menempati sebagian lahan milik Unit Kerja BAT
Cangkringan sebelah barat.
Struktur organisasi di UKBAT Wonocatur terdiri dari pimpinan, 3 staf
pegawai PNS, Harian Orang Kerja (HOK) berjumlah 3 orang, dan 1 orang sarjana
pendamping. UKBAT Wonocatur dipimpin oleh Bapak Yudi Kasmono Amd yang
bertanggung jawab atas semua kegiatan yang terjadi di UKBAT Wonocatur. Staf
PNS dengan 3 orang membantu Bapak Yudi Kasmono Amd yaitu Bapak
Maryanto, Bapak Tugiso, dan Bapak Wardoyo. HOK terdiri oleh Rohman Amd,
Ari Dwipriyanto, dan Ikhsan. Sarjana pendamping yaitu Alam S.Pi yang bertugas
di pembesaran ikan sidat. Susunan organisasi UKBAT Wonocatur ditunjukkan
gambar 2.1

Kepala UKBAT Wonocatur

Yudi Kasmono, A.Md

Staf PNS Staf HOK


Sarjana
Maryanto Ari Dwipriyanto
Pendamping
Tugiso Ikhsan
M Alam, S.Pi
Wardoyo Rohman, A.Md

Gambar 2.1 Susunan organisasi UKBAT Wonocatur

5
B. Waktu Pelaksanaan PKL
Pelaksanaan PKL yang bertempat di UKBAT Wonocatur, UPTD BPTPB
Cangkringan, Sleman, Yogyakarta dilaksanakan selama 32 hari aktif yang dimulai
pada tanggal 23 Mei hingga 14 Juli 2016.
.
C. Deskripsi dan Sekuensi Aktivitas Selama Pelaksanaan PKL
Kegiatan yang dilakukan selama PKL dijelaskan pada tabel 2.1 berikut
sesuai dengan standart operasional UK BAT Wonocatur :

Tabel 2.1. Agenda Kegiatan PKL


No. Tanggal Waktu Kegiatan
1. 23 Mei 2016 08.00-12.00 Perkenalan dengan pegawai dan pembimbing lapangan.
13.00-16.00 konsultasi dengan pembimbing lapangan
2. 24 Mei 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan ikan sidat pagi.
Mengambil ikan yang mati
Grading larva ikan lele
13.00-16.00 Grading ikan lele.
Pemberian pakan ikan sidat sore
3. 25 Mei 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Mengajukan judul dan komoditas ikan yang akan
diajukan saat PKL
13.00-16.00 Pemberiam pakan dan kontrol ikan sidat sore
Konsultasi dengan pembimbing lapangan
4. 26 Mei 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Memindahkan ikan lele dari kolam J.8 ke J.3
13.00-16.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sore
5. 27 Mei 2016 08.00-11.30 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi pengurasan
bak di J.3
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
6. 1 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Sampling ikan sidat kolam J.5.1
13.00-16.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
7. 2 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Pemindahan ikan sidat dari bak J.3.24 ke J.3.41 dan dari
J.3.26 ke J.3.43
13.00-16.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
Konsultasi dengan dosen pembimbing lapangan
8. 3 Juni 2016 08.00-11.30 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Pemindahan ikan sidat dari bak J. 3.22 ke J.3.47
Pengurasan bak
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
9. 4 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan pagi dan mengambil ikan yang mati.
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
10. 5 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
11. 6 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.

6
Pemindahan ikan lele ke J.3
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
12. 7 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Sampling kolam J.3.41; J.3.42; J.3.43; J.3.44; J.3.45;
J.3.46;J.3.47;dan J.3.48
13.00-15.00 Menghitung hasil sampling. Pemberian pakan dan
kontrol ikan sidat sore.
13. 8 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore.
Mengemas penjualan indukan lele
14. 9 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore.
15. 10 Juni 2016 08.00-11.30 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Pemindahan ikan lele
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
16. 13 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Grading larva ikan lele
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
17. 14 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Pembersihan bak J.3.44, J.3.45, J.3.46
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
18. 15 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi. Membantu
pemijahan lele secara buatan
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore.
19. 16 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Membantu pengemasan indukan lele
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
20. 17 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi. Sampling
ikan sidat kolam J.5.1 dan J.5.2
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore.
21. 18 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Pengurasan bak
Pemijahan buatan
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
22. 23 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi. Pemberian
garam
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore.
23. 24 Juni 2016 08.00-11.30 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
24. 27 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
25. 28 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
Pemberian pakan kolam J.2
26. 29 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Pengurasan bak
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
27. 30 Juni 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Pemberian garam
Memindahkan lele ke J.3
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
28. 1 Juli 2016 08.00-11.30 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Pemberian pakan kolam J1
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
29. 11 Juli 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Memindahkan ikan lele ke J.3

7
13.00-15.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
30. 12 Juli 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi.
Memindahkan ikan lele ke J.6
13.00-16.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
31. 13 Juli 2016 08.00-12.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat pagi
Pemberian pakan kolam J.7
13.00-16.00 Pemberian pakan dan kontrol ikan sidat sore
32. 14 Juli 2016 11.00-selesai Presentasi hasil PKL

8
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data/ hasil dan atau Pengalaman Kerja yang Diperoleh


1. Teknik Pembesaran
Pembesaran ikan sidat yang dilakukan oleh BAT Wonocatur dimulai dari
glass eel dengan ukuran 0,2-1 g, selanjutnya pendederan mulai 1-10 g selama 2
hingga 3 bulan dan pembesaran mulai ukuran 50 g hingga mencapai ukuran
konsumsi 200 hingga 250 g. Pembesaran ikan sidat dilakukan pada kolam ruangan
terbuka, bak fiber dan bak beton didalam ruangan. Luas kolam diluar ruangan
yaitu 85 m2 sedangkan luas bak beton dalam ruangan yaitu 4m2 dengan sebanyak
8 bak beton. Pemberian pakan dilakukan sehari dua kali yaitu pagi sekitar jam 8
pagi dan sore jam setengah 3. Pemberian pakan untuk benih ukuran 10-20 gr
diberikan pakan buatan pelet berupa pasta. Pembuatan pakan pasta yaitu dengan
bahan pakan yang mengandung kadar protein 39-41% yang direndam dengan air
secukupnya. Selanjutnya pakan yang telah direndam air diaduk dan ditambahkan
tepung ikan hingga kalis. Pemberian pakan untuk ikan sidat pembesaran ukuran
konsumsi diberikan pakan buatan pelet berupa pasta dan pelet apung dengan
kadar protein 44-46%.
Setiap hari dilakukan kontrol atau pengecekan bila ada ikan sidat yang
mati atau tidak dan kekeruhan air. Kualitas air ikan sidat dilakukan pengecekan
setiap 2 minggu sekali. Hasil kualitas air yaitu dengan kadar oksigen terlarut (DO)
2,9 ppm dan kadar pH yaitu 7,36. Ikan sidat yang mati diambil menggunakan
scoop net lalu dibuang. Pendataan ikan sidat keluar dan masuk sangat penting
dalam pemeliharaan sehingga ikan sidat yang mati perlu di catat pada catatan
keluar masuknya ikan sidat. Bila kualitas air kurang baik biasanya ikan susah
makan maka perlu diberikan garam krosok secukupnya untuk meningkatkan
kualitas air. Air keruh biasanya didasar kolam terdapat lumpur yang dapat
meningkatkan kadar amonia dalam air. Bila kadar amonia tinggi maka nafsu
makan ikan sidat akan turun dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu lumpur

9
di dasar kolam dapat dibuang menggunakan selang atau air kolam diganti
sebagian hingga air tidak keruh.

2. Teknik Sampling
Sampling dilakukan untuk mendapatkan data pertumbuhan panjang dan
bobot ikan sidat. Sampel ikan sidat diambil dari tiap kolam menggunakan scoop
net kemudian diukur panjang dan berat ikan sidat. Cara mengukur panjang tubuh
ikan sidat menggunakan papan sampling untuk meletakan ikan sidat dan
penggaris panjang untuk mengukur panjang tubuh. Sedangkan menghitung bobot
ikan sidat menggunakan timbangan digital. Selamjutnya data dijumlah dan
dihitung rata-rata.

B. Pembahasan
1. Faktor Pendukung dan Penghambat Kegiatan
Faktor pendukung ditempat BAT Wonocatur yaitu ketersediaan tempat
tinggal dan fasilitas Wifi. Pihak BPTPB telah menyediakan pakan dengan kadar
protein 42%. Fasilitas pembesaran ikan sidat sangat mendukung seperti aerasi dan
sistem sirkulasi air yang baik. Selain itu, metode sampling yang dilaksanakan
seperti metode pengukuran morfologi ikan pada beberapa matakuliah. Serta
tingkat kelompokan ikan sidat berdasarkan ukuran panjang ikan sidat.
Faktor penghambat selama kegiatan PKL yaitu masih sering terjadi
kematian pada ikan. Terkadang ikan memiliki nafsu makan yang rendah terhadap
pakan pelet apung. Hal ini dikarenakan faktor cuaca yang kurang baik sehingga
ikan memiliki nafsu makan rendah.

2. Temuan-temuan untuk pengembangan


Berdasarkan pelaksanaan praktik kerja lapangan yang telah dilaksanakan,
terdapat beberapa hal yang bermanfaat bagi penulis dan dapat dikembangkan
untuk pemeliharaan ikan sidat yaitu pemberian pakan pelet apung pada
pembesaran ikan sidat. Selama ini pemberian pakan ikan sidat menggunakan
pakan buatan pelet berupa pasta. Selain itu, perlu adanya lokasi pemijahan ikan

10
sidat khususnya di daerah provinsi DIY sehingga sangat disarankan dinas kelautan
dan perikanan provinsi DIY.

3. Data dari Kajian Teoritis


a. Teknik Pembesaran
Teknik Pembesaran merupakan proses pemeliharaan benih ikan atau
komoditas perikanan mulai dari ukuran larva hingga ukuran konsumsi (Prastiwi,
2015). Pembesaran ikan sidat dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap
pendederan I, pendederan II, dan tahap pembesaran (Suitha, 2008). Pembesaran
yang dilakukan di BAT Wonocatur dimulai dari pembesaran benih dengan ukuran
10-20 gr. Pembesaran benih ukuran tersebut tergolong pendederan II. Pendederan
II merupakan periode pemeliharaan elver menjadi fingerling (Roy, 2013). Lama
tahap pendederan II adalah 4-5 bulan (Suitha, 2008). Pada tahap pembesaran
dilakukan pembesaran fingerling hingga mencapai sidat ukuran konsumsi. Sidat
dipelihara selama 1-2 bulan memiliki bobot 150-250 gr (Prastiwi, 2015).
Pembesaran ikan sidat dilakukan pada kolam ruangan terbuka dan bak
beton didalam ruangan. Luas kolam diluar ruangan yaitu 85 m2 sedangkan luas
bak beton dalam ruangan yaitu 4m2 dengan sebanyak 8 bak beton. Persiapan
kolam dilakukan dengan pemberian kaporit yang dicampur dengan air. Dosisnya 1
liter kaporit untuk 20 liter kaporit. Larutan kaporit disiram ke seluruh dinding dan
dasar kolam, selanjutnya didiamkan beberapa saat hingga larutan kaporit
mengering. Setelah kolam kering, bilas dengan air dan disikat agar kotoran
menghilang. Berikutnya kolam diisi dengan air hingga ketinggian 50 cm
(Prastiwi, 2015). Selama pengisian air, bagian atas kolam ditutup dengan terpal
agar suhu stabil dan aerasi dihidupkan. Tujuannya untuk meningkatkan kadar
oksigen terlarut (Suitha, 2008).
Pemberian pakan dilakukan sehari dua kali yaitu pagi sekitar jam 8 pagi
dan sore jam setengah 3 dengan berat pakan 5-10% dari berat keseluruhan tubuh
ikan uji pada satu kolam (Subekti, 2011). Pemberian pakan untuk benih ukuran
10-20 gr diberikan pakan buatan pelet berupa pasta. Pemberian pakan untuk ikan
sidat pembesaran ukuran konsumsi diberikan pakan buatan pelet buatan berupa
pasta dengan kadar protein 39-41% dan pelet apung dengan kadar protein 44-

11
46%. Pemberian pakan tersebut disesuaikan dengan bukaan mulut ikan sidat
(Prastiwi, 2015). Pengecekan kolam merupakan hal yang penting saat proses
pembesaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika pengecekan yaitu
pengambilan ikan sidat bila ada yang mati, serta mengurangi lumpur yang ada di
dasar kolam agar air kolam tidak terlalu keruh. Air kolam yang terlalu keruh dapat
menurunkan kualitas air dan berdampak pada turunya nafsu makan ikan sidat.
Bila nafsu makan ikan berkurang maka diberikan garam krosok untuk
meningkatkan kualitas air (Prastiwi, 2015). Dosis pemberian garam krosok yaitu
1-3 gram seriap 100 cc (Susanto, 2014). Hasil DO (oksigen terlarut) yang
didapatkan yaitu 2,9. Hasil DO tersebut masih kurang untuk pembudidayaan ikan
sidat karena kadar DO minimal yang diperlukan ikan sidat yaitu 3,00 ppm
(Herianti, 2005). Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kadar DO air yaitu
menggunakan aerator agar air mengalir serta membersihkan lumpur di dasar
kolam untuk mengurangi kadar amonia. Sedangkan hasil pH kualitas air yang
didapat yaitu 7,36. pH kualitas air yang baik untuk pemeliharaan ikan sidat yaitu
berkisar 7-8 (Subekti, 2011).

b. Teknik Sampling
Teknik sampling dilakukan untuk mendapatkan data pertumbuhan panjang
dan bobot ikan sidat. Hasil sampling di dapat pada grafik berikut.

Rerata berat sampling ikan sidat


90
80
80.556
70 73.018
60
62.07
50
40
30
20
10
0
Sampling ke-1 Sampling ke-2 Sampling ke-3

Grafik 3.1 Hasil sampling rata-rata berat

12
Hasil sampling pengukuran rerata berat ikan sidat pada sampling pertama
yaitu 62,07 g. Hasil sampling kedua menunjukkan rerata berat 73,018 g. Hasil
sampling ketiga menunjukkan rerata berat 80,556 g.
Berdasarkan sampling pengukuran rerata panjang ikan sidat, hasil
sampling pertama menunjukkan rata-rata panjang yaitu 33,62 cm. Hasil sampling
kedua menunjukkan rata-rata panjang yaitu 35,19 cm. Hasil sampling ketiga rata-
rata panjang ditunjukkan 37,29 cm. Berdasarkan hasil sampling tersebut
menunjukkan bahwa pemberian pakan meningkatkan panjang dan bobot ikan
sidat.

Rerata panjang sampling ikan sidat


38

37
37.29
36

35
35.19
34

33 33.62

32

31
Sampling ke-1 Sampling ke-2 Sampling ke-3

Grafik 3.2 Hasil sampling rerata panjang

4. Analisis Kegiatan
Pada kegiatan pembesaran ikan sidat, ada berbagai hal yang perlu
diperhatikan seperti pemilihan bibit ikan sidat, persiapan kolam, pemberian pakan
serta pengecekan kolam. Pada pembesaran ikan sidat, penulis berhasil
meningkatkan panjang dan bobot ikan. Berdasarkan hasil sampling pertama,
kedua dan ketiga menunjukkan peningkatan rerata panjang ikan sidat yaitu 33,62
cm pada sampling pertama, 35,19 cm pada sampling kedua, dan 37,29 pada
sampling ketiga. Peningkatan rerata berat ikan sidat dari hasil sampling pertama,
kedua, dan ketiga yaitu dari 62,07 g pada sampling pertama, 73,018 g pada
sampling kedua, dan 80,556 g pada sampling ketiga. Berdasarkan hasil
peningkatan rata-rata maka dapat dihitung laju pertumbuhan harian. Laju

13
pertumbuhan harian (SGR) merupakan presentase pertambahan berat ikan setiap
harinya selama pemeliharaan (Sangsoko, 2007). Laju pertumbuhan bobot spesifik
dihitung dengan rumus :
(ln 0 )
SGR= x 100%

Dimana SGR merupakan laju pertumbuhan bobot spesifik harian (%). Wo


merupakan bobot rata-rata sidat pada sampling awal. Wt merupakan bobot rata-
rata sidat pada sampling akhir. T adalah lama hari pemeliharaan antara sampling
pertama dan kedua.
Berdasarkan rumus tersebut maka hasil pembesaran sidat dapat dihitung
SGR sebagai berikut.
(ln 0 )
SGR= x 100%

( 80,55662,07 )
SGR= x 100%
32

SGR= 5,77%
Berdasarkan hasil perhitungan maka diketahui bahwa nilai rata-rata
pertumbuhan selama 32 hari masa pemeliharaan yaitu 5,77%.
Selama pemeliharaan dilakukan pengamatan kelulushidupan (SR) dengan
menghitung kematian ikan sidat selama penelitian. Kelulusahidupan ikan sidat
menurut Degani dan Levanon (1983) dihitung menggunakan rumus :

= 100%

Keterangan :
SR= Kelulushidupan
Nt= Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian
No= Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian
2477
= 100%
2802
SR= 88,4%
Berdasarkan data selama PKL dapat diketahui hasil kelulushidupan ikan
sidat yaotu 88,4%. Hasil nilai kelulushidupan tersebut cukup tinggi. Faktor yang
mempertinggi kelulusahidupan ikan sidat selama pemeliharaan adalah kualitas
pakan dan tingkat pemberian pakan sehingga kebutuhan pakan dapat terpenuhi
tanpa terjadi persaingan (Cholifah, 2012).

14
Pemberian pakan perlu dipertimbangkan FCR (Feed Conversion Ratio) yaitu
perbandingan antara pakan yang telah diberikan dalam satu siklus periode
budidaya atau selama waktu tertentu dengan berat rata-rata akhir setelah dikurangi
rata-rata awal ikan dengan menggunakan rumus sebagai berikut (De Silva dan
Anderson, 1995) :

= x100%
Keterangan :
FCR= rasio konversi pakan
F= Jumlah pakan yang diberikan selama penelitian
Wt= Berat rata-rata akhir ikan
Wo= Berat rata-rata awal ikan
9,1875
= 80,55662,07x100%

FCR= 3,5
Semakin besar FCR maka semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk
memproduksi 1 kg daging ikan. Hasil perhitungan FCR menunjukkan dari 3,5 kg
pakan yang dibutuhkan memproduksi 1 kg daging ikan. Tingginya angka FCR
disebabkan sulit tercernanya pakan karena kandungan serat yang tinggi sehingga
pakan keluar bersama feces (Cholifah, 2012).

Break Event Point


Biaya fix cost satu siklus:
Kolam beton 12.000.000
Aerator 1.000.000
Biaya penyusutan 1.600.000
Biaya tenaga kerja HOK 8orang @orang Rp1.338.000 10.704.000
Pajak Bumi dan Bangunan 394.865
Sewa DO Meter dan pH Meter 160.000
Total 25.858.865
Biaya variabel cost:
Benih Ikan Sidat 25g @kg Rp 150.000,- x64 9.600.000
Pakan @kg Rp 16.000,- x 365 5.840.000
Kapur Tohor @kg Rp 1.000,- x8 8.000

15
Listrik 171.200
Total 15.619.200

Total biaya produksi = fixed cost + variable cost


= 25.858.865 + 15.619.200
= 41.478.065
Pemasukkan = Volume produksi x Harga Jual
()
= 4( 4 )Rp 170.000,-
88,4% 1275
= x 170.000
4
1127,1
= x 170.000
4

= 281,775 x 170.000
= Rp47.901.750,-
Laba Bersih = Pemasukkan Total biaya produksi
= 47.901.750- 41.478.065
= Rp6.423.685,-
R/C Ratio = Total Pemasukkan/ Total biaya produksi
= 47.901.750/41.478.065
= 1,15
Berdasarkan analisis usaha di atas didapatkan nilai sebesar 1,15 sehingga
dapat disimpulkan bahwa kegiatan usaha pembesran ikan sidat layak
dilakukan dan terus dikembangkan. Jika R/C Ratio > 1 maka kegiatan usaha
layak dilakukan, sedangkan jika R/C Ratio < 1 maka kegiatan usaha tidak
layak dilakukan.

BEP (Break Event Point)


1. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi./harga jual per kg
= 41.478.065/170.000
= 244
2. BEP harga produksi = total biaya produksi/Jumlah panen(dalam kg)
= 41.478.065/281,775
= 147.200

16
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang telah dilakukan
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Teknik pembesaran ikan sidat dalam wirausaha dilakukan dengan 2 tahapan
yaitu tahapan pendederan yang terbagi pendederan I dan II dan pembesaran.
Pada pembesaran ikan sidat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti
persiapan kolam, pakan, serta pengecekan kolam. Selain itu perlu dilakukan
anlisis usaha menggunakan perhitungan BEP.
2. Penulis mendapatkan ketrampilan pembesaran ikan sidat dengan beberapa hal
yang perlu diperhatikan seperti persiapan kolam, pakan, serta pengecekan
kolam.
3. Teknik sampling ikan sidat dilakukan dengan cara mengambil ikan sidat
menggunakan scoop net dengan tahapan selanjutnya mengukur panjang ikan
dan menimbang berat ikan sidat. Berdasarkan hasil hasil samplling akan
didapatkan hasil rerata panjang dan berat pembesaran ikan sidat.

B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan untuk UKBAT Wonocatur yaitu
meningkatkan pembesaran ikan sidat agar menjadi komoditas unggulan selain
pembesaran ikan lainnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Cholifah, Dewi., Febriani, Mivida., Ekawati, Arning W., Risjani, Yenny. 2012.
Pengaruh Penggunaan Tepung Silase Daun Mengkudu (Morinda citrifolia)
Dalam Formula Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan Sidat (Anguilla
bicolor) Stadia Elver. Surabaya. Jurnal Kelautan. Vol.5.2 :93-107

Degani, G and Levanon,D. 1983. The influence of low density on food


adaptation, cannibalism and growth of ells (Anqullia anquilla). Migal.
Galilee Technological Center, Kiriat Shmona. Israel. 8 p.

De Silva, S.S and T.A. Anderson. 1995. Fish Nutrition in Aquaculture. Chapman
And Hall, 2-6 Boundaru Ror, London SEI 8 HN. UK. 319p.

Haryono. 2008. Sidat, Belut Bertelinga : Potensi dan Aspek Budidaya. Bogor.
Fauna Indonesia Vol8(1) Juni 2008 : 22-26

Herianti, Isanani. 2005. Rekayasa Lingkungan Untuk Memacu Perkembangan


Ovarium Ikan Sidat (Anguilla bicolor). Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Jawa Tengah. Hal.18

Prastiwi, Hana Dwi. 2015. Pembesaran Sidat (Anguilla bicolor McClelland) di


Unit Kerja Budidaya Air Tawar Wonocatur Cangkringan Sleman
Yogyakarta. Yogyakarta. Akademi Perikanan Yogyakarta

Roy, R. 2013. Budi Daya Sidat. Jakarta. PT Agro Media Pustaka

Rusmaedi., Ongko Praseno., Rasidi., & I Wayan Subamia. 2010. Pendederan


Benih Sidat (Anguilla bicolor) Sistem Resirkulasi dalam Bak Beton.
Jakarta. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur

18
Sangsoko, A. P., Joko, M.., Siti., dan A.Unisie. 2007. Sidat Panduan Agribisnis
Penangkapan, Pendederan dan Pembesaran. Jakarta. Penebar Swadaya

Subekti, Sri., Prawesti, Mutia., dan Arief, Muhammad. 2011. Pengaruh


Kombinasi Pakan Buatan dan Pakan Alami Cacing Sutera (Tubifex tubifex)
dengan Presentase yang Berbeda Terhadap Retensi Protein, Lemak dan
Energi pada Ikan Sidat (Anguilla bicolor). Surabaya. Jurnal Kelautan.
Vol.4.1 :90-95

Suitha,I.M dan Suhaeri, A. 2008. Budi Daya Sidat. Jakarta. PT Agro Media
Pustaka.

Susanto, Heru. 2014. Budi Daya 25 Ikan di Pekarangan. Jakarta. Penebar


Swadaya

19
Lampiran
Data sampling
No Panjang Berat No Panjang Berat
1 32,5 45,8 1 40 69,1
2 38 65,6 2 42 110,3
3 31 64,6 3 42 61,97
4 38 52,8 4 37,5 114,1
5 32,5 50,3 5 35,6 65,86
6 29 82,4 6 37 37,17
7 36,2 121 7 34,4 84,35
8 25,5 64,4 8 35,4 43,04
9 33,8 28,2 9 35,3 118,62
10 39,7 45,6 10 33,7 101,05
Total 336,2 620,7 Total 372,9 805,56
Rata-rata 33,62 62,07 Rata-rata 37,29 80,556

Sampling J.5.1 29 April Sampling J.5.1 17 Juni

No Panjang Berat
1 33,6 99,67
2 35,8 89,62
3 40 79,48
4 34,3 105,47
5 32,6 57,13
6 36,5 74,21
7 42,6 54,81
8 34,3 53,65
9 27,6 58,76
Gambar 1. Neraca digital
10 34,6 57,38
Total 351,9 730,18
Rata- 35,19 73,018
rata
J.5.1 sampling 1 Juni

Gambar 2. Papan sampling

20
Gambar 3. Penggaris

Gambar 7. Scoop Net

Gambar 4. Timbangan

Gambar 8. Sampling ikan sidat

Gambar 5. Kandungan pakan Gambar 9. ikan sidat

pelet

Gambar 10. Pemberian pakan


Gambar 6. Serok
ikan sidat

21
SOP TeknikPembesaran Sidat Di UPTD BPTPB Unit Kerja Wonocatur
Cangkringan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Persiapan Lahan dan Penebaran

Alat dan Bahan : 1. Elver dalam kolam pembesaran : cangkul, kincir, bambu,
hapa, tali rafia, pralon, anco, kaporit, dan kapur
2. Glass eel : bak fiber 2mx1m, wadah pakan, heater,
termometer, selang aerasi, batu aerasi, blower, kawat,
tali ravia, uv filter, selang, spons dan immunovit

Langkah Kerja :
1. Kolam Pembesaran dan Kolam Elver
a. Pembalikan tanah dengan cangkul dan membersihkan bagian
samping kolam.
b. Pengeringan (sampai benar-benar kering)
c. Pengapuran dengan dosis 250 gram-500 gram/m2
d. Pemasangan alat dan bahan kolam pembesaran dan kolam elver
e. Pengisisan air setinggi meter dan didiamkan sehari kemudian di
isi air lagi hingga 60-80cm (apabila dosis kapur tinggi dibilas
dengan air didiamkan 24 jam lalu dibuang).
f. Air yang digunakan di treatment dulu dengan diendapan di kolam
penampungan selama 7 hari dulu.
g. Elver ditebarkan secara perlahan ke kolam dengan padat tebar elver
(62ekor/m2)dan pembesaran (25ekor/m2)
2. Bak Glass Eel
a. Membersihkan bak fiber dengan sabun
b. Dibilas sampai bersih dan diisi air setinggi 25 cm dengan uv filter
c. Pemasangan alat dan bahan untuk bak glass eel
d. Diberi immunovit dengan dosis 1cc/50liter

22
e. Glass eel ditebarkan secara perlahan ke bak dengan padat tebar
(2000ekor/m2)

Pemberian Pakan

Pemberian pakan dilakukan 2x sehari pagi dan sore


Alat dan Bahan : 1. Elver dan sidat pembesaran : ember, alat penggiling,
plastik, lemari es, pelet kakap KAE, air, dan
immunovit
2. Glass eel : ember 5 liter, seser, centong, cacing
sutera, blue koper.
Langkah Kerja :
1. Elver dan sidat pembesaran
a. Perendaman pelet dengan air memakai ember untuk dibuat pasta
dengan perbandingan pelet : air = 1:3/4
b. Ditunggu hingga 1 jam kemudian digiling
c. Pemberian immunovit 1kg/4cc (khusus sidat pembesaran)
d. Untuk elver perlu dilakukan pencampuran pelet dengan cacing sutera
terlebih dahulu agar mau makan dengan pelet 100%. Perbandingan
pemberian cacing sutera dengan pelet = 100%:0%, 75%:25%, 50:50%,
25%:75%, 0%:100%. Pergantian perbandingan dilakukan 1-2 minggu
sekali
e. Dosis makan 5% dari biomassa untuk pakan pasta.
2. Glass eel
a. Menyiapkan cacing sutera dengan dosis 100 ml dalam ember ukuran 5
liter
b. Diberi air bagian ember dan diberi blue koper 0,5ml
c. Diaduk dan ditunggu 30-40 detik sampai kotoran terangkat
d. Dibilas hingga bersih dan blue coper hilang, kemudian air dibuang
hingga tinggal cacing sutera saja
e. Pakan diberikn hingga ad libitum

23
Pengukuran Kualitas Air
Alat dan Bahan : Water Quality Checker (WQC), mangkuk kecil, Tissue,
Aquades
Cara mengukur DO dan suhu :
a. DO pop dicolokkan
b. Hidupkan WQC dengan menekan tombol power
c. WQC diatur dengan menekan tombol mode
d. Dibuka tutup DO pop dan dikalibrasi dengan aquades
e. Dimasukkan DO pop kedalam kolam
f. Ditunggu hingga muncul tulisan ready dan dicatat hasilnya

Cara mengukur pH :
a. Hidupkan WQC dengan menekan tombol power
b. Colokkan pH pop
c. pH pop dikalibrasi dengan aquades
d. dimasukkan ke dalam perairan dan dicatat hasilnya
Sampling Pertumbuhan Ikan Sidat

Alat dan Bahan : Timbangan digital, seser, penggaris, meja sampling, 2


ember, elver, glass eel, selang aerasi (khusus glass eel), mangkok
Langkah Kerja :
1. Sidat diambil dari kolam dan dimasukkan ke dalam ember yang sudah
terisi air
2. Sidat diambil dari ember dan diletakkan di meja sampling (untuk glass
eel dimasukkan selang aerasi agar mudah diukur panjangnya)
3. Diukur panjang sidat dengan penggaris dan ditimbang dengan
timbangan digital yang diberi mangkok agar memudahkan pengukuran
berat
4. Sidat dimasukkan ke dalam ember kedua (ember penampungan
sementara sidat yang sudah disampling)

24
5. Dicatat hasilnya dan dimasukkan kedalam tabel data sampling
6. Proses diatas dilakukan satu persatu
7. Sidat dikembalikan kedalam kolam semula
Packing
Alat dan Bahan : oksigen, plastik, karet, air, ember, sidat
Langkah Kerja :
a. Siapkan plastik packing 2 lapis.
b. Masukkan air bagian plastik
c. Masukkan sidat yang sudah ditimbang (ukuran konsumsi (1 ekor=200-
300 gram) 1 plastik diisi 15 ekor. Elver (1 ekor= 5-10 gram) 1 plastik
200-300 ekor).
d. Diberi oksigen dengan perbandingan air:oksigen = 1:3
e. Diikat dengan karet ujung plastik dan pastikan oksigen tidak keluar

25
Gambar 11 Denah BAT Wonocatur

26
Gambar 12 Surat Balasan

27
Gambar 13 Sertifikat PKL

28