Anda di halaman 1dari 23

BAB I

KONSEP MEDIS
A. Pengertian
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus.Sectio Caesarea adalah suatu cara
melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui
dinding depan perut atau vagina; atau Sectio Caesarea adalah suatu
histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim, (Mochtar R, 2002)
Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan
sayatan rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram
(Sarwono, 2005).
Sectio caesarea merupakan prosedur bedah untuk kelahiran janin
dengan insisi melalui abdomen dan uterus (Liu, 2007)
B. Jenis-Jenis Sectio Caesaria
1. Abdomen (Sectio Caesarea Abdominalis)
a. Sectio caesarea transperitonealis
1) SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus
uteri)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus
uteri kira-kira 10 cm.
Kelebihan :
(a) Mengeluarkan janin dengan cepat
(b) Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik
(c) Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan :
(a) Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak
ada reperitonealis yang baik
(b) Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture
uteri spontan
2) SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada
segmen bawah rahim)
Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada
segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm
Kelebihan :
1 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
(a) Penjahitan luka lebih mudah
(b) Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
(c) Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk
menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum
(d) Perdarahan tidak begitu banyak
(e) Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil
Kekurangan :
(a) Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat
menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan
perdarahan banyak
(b) Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi
b. Sectio Caesarea ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum
parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal.
2. Vagina (Sectio Caesarea Vaginalis)
Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukam
sebagai berikut :
a. Sayatan memanjang (Longitudinal)
b. Sayatan Melintang (Transversal)
c. Sayatan huru T (T insicion)

Ada dua jenis sayatan operasi yang dikenal yaitu :


a. Sayatan Melintang
Sayatan pembedahan dilakukan dibagian bawah rahim. Sayatan
melintang dimulai dari ujung atau pinggir selangkangan
(shymphisisis) di atas batas rambut kemaluan sepanjang sekitar 10-
14 cm. Keuntungannya adalah parut pada rahim kuat sehingga
cukup kecil resiko menderita rupture uteri (robek rahim) di
kemudian hari. Hal ini karena pada masa nifas, segmen bawah
rahim tidak banyak mengalami kontraksi sehingga luka operasi
dapat sembuh lebih sempurna (Kasdu, 2003)
b. Sayatan Memanjang (SC klasik)
Meliputi sebuah pengirisan memanjang dibagian tengah yang
memberikan suatu ruang yang lebih besar untuk mengeluarkan bayi,

2 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
namun jenis ini kini jarang dilakukan karena jenis ini labil, rentan
terhadap komplikasi (Dewi Y. 2007)
C. Etiologi
Manuaba (2002) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur
uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi
dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari
beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab
sectio caesarea sebagai berikut:
1. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul
ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat
menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami. Tulang-tulang
panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga
panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika
akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan
atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam
proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi.
Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul
menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi
abnormal.
2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung
disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas.
Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan
penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu
kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu
mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi.
3. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian

3 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu,
sedangkan di bawah 36 minggu.
4. Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena
kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi
daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat
mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk
dilahirkan secara normal.
5. Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak
memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan
bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas.
6. Kelainan Letak Janin
a. Kelainan pada letak kepala
1. Letak kepala tengadah
2. Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan
dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya kelainan
panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya kecil atau mati,
kerusakan dasar panggul.
3. Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang
terletak paling rendah ialah muka. Hal ini jarang terjadi, kira-
kira 0,27-0,5 %.
4. Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi
terendah dan tetap paling depan. Pada penempatan dagu,
biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka
atau letak belakang kepala.
b. Letak Sungsang

4 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak
memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di
bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang,
yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna,
presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki
(Saifuddin, 2002).
D. Patofisiologi
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500
gr dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan
tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan
lunak, placenta previa dll, untuk ibu. Sedangkan untuk janin adalah gawat
janin. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan SC ibu akan mengalami
adaptasi post partum baik dari aspek kognitif berupa kurang pengetahuan.
Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu produk oxsitosin yang
tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit, luka dari
insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh karena itu perlu diberikan
antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Nyeri adalah salah utama
karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman.
Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat
regional dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya
terhadap janin maupun ibu anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir
dalam keadaan upnoe yang tidak dapat diatasi dengan mudah. Akibatnya
janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu
terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar.
Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat
sekret yan berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup. Anestesi ini
juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas usus.
Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan
terjadi proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian
diserap untuk metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari
5 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
mortilitas yang menurun maka peristaltik juga menurun. Makanan yang ada
di lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk juga menurun.
Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang pipa
endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat pada
perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi.
E. Manifestasi Klinis
Menurut Prawirohardjo (2007) manifestasi klinis pada klien dengan post
sectio caesarea, antara lain :
1. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan 600-800 ml.
2. Terpasang kateter : urine jernih dan pucat.
3. Abdomen lunak dan tidak ada distensi.
4. Bising usus tidak ada.
5. Ketidakmampuan untuk menghadapi situasi baru.
6. Balutan abdomen tampak sedikit noda.
7. Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan, berlebihan dan banyak.
F. Pemeriksaan penunjang
1. Elektroensefalogram ( EEG )
Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
2. Pemindaian CT
Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3. Magneti resonance imaging (MRI)
Menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik dan
gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah daerah otak
yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT.
4. Pemindaian positron emission tomography ( PET )
Untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan
lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak.
5. Uji laboratorium
a. Fungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
b. Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
c. Panel elektrolit
d. Skrining toksik dari serum dan urin
e. AGD
6 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
f. Kadar kalsium darah
g. Kadar natrium darah
h. Kadar magnesium darah
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea
(Cuningham, F Garry, 2005 : 614)
a. Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat
b. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap
berkontraksi dengan kuat
c. Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan,
pemberian narkotik biasanya disertai anti emetik, mis; prometazin 25 mg
d. Eriksa aliran darah uterus palingsedikit 30 ml/jam
e. Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24
jam pertama setelah pembedahan
f. Ambulasi, satu hari setelahpembedahan klien dapat turun sebertar dari
tempat tidur dengan bantuan orang lain
g. Perawatan luka, insisi diperiksa setiap hari, jahitan kulit (klip) diangkat
pada hari keempat setelah pembedahan
h. Pemeriksaan laboratorium, hematokrit diukur pagi hari setelah
pembedahan untuk memastikan perdarahan pasca operasi atau
mengisyaratkan hipovolemia
i. Mencegah infeksi pasca operasi, ampisilin 29 dosis tunggal, sefalosporin,
atau penisilin spekrum luas setelahjanin lahir
H. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada ibu dengan sectio caesarea
menurut (Mochtar R, 2002: 121) adalah sebagai berikut :
3. Infeksi puerperal (nifas)
a. Ringan dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
b. Sedang dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi disertai dehidrasi
dan perut sedikit kembung.
c. Berat dengan peritonitis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering
kita jumpai pada partus terlantar, dimana sebelumnya telah terjadi
infeksi intra fartal karena ketuban pecah terlalu lama.
Penanganannya adalah dengan pemberian cairan, elektrolit dan
antibiotika yang adekuat dan tepat.

7 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
4. Perdarahan disebabkan karena :
a. Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka.
b. Atonia uteri.
c. Perdarahan pada placental bed.
5. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila
reperitonealisasi terlalu tinggi.
6. Kemungkinan ruptura uteri spontan pada kehamilan mendatang.

8 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber,
untuk mengevaluasi dan mengidentifikasikan status kesehatan klien
(Nursalam, 2001).
1. Identitas
Meliputi Nama, Umur, Pekerjaan, Agama, Suku, Alamat, dsb.
2. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Meliputi Kehamilan yang lalu, saat ini, persalinan dan ginekology.
a. Riwayat kehamilan: umur kehamilan, serta riwayat penyakit
menyertai
b. Riwayat persalinan: tempat persalinan, normal atau terdapat
komplikasi, keadaan bayi, keadaan ibu, riwayat sectio caesarea.
c. Riwayat nifas masa lalu: pengeluaran air susu ibu lancar atau tidak,
berat badan bayi, riwayat keluarga berencana atau tidak
3. Riwayat Kesehatan
Meliputi Keluhan utama, Keluhan saat ini, dan riwayat keluhan sekarang
seperti sakit perut, perdarahan, nyeri pada luka jahitan, takut bergerak
4. Keadaan Umum Pasien
a. Aktivitas/ istirahat.
Gejala: Kelemahan/ kelelahan.
Tanda: Takhikardi, takipnoe, ( hiperventilasi ).
b. Sirkulasi.
Gejala: Hipertensi, Takhikardi, Disritmia.
Tanda: Kelemahan nadi / perifer, Pengisian kapiler lambat,Warna kulit
pucat, sianosis, Kelembaban kulit, berkeringat.

c. Integritas Ego.
Gejala: Faktor stress akut / psikologi, perasaan tidak berdaya.
Tanda: Tanda ansietas, misalnya ; pucat, gelisah, berkeringat,
perhatian menyempit.
d. Eliminasi.
Gejala: Perubahan pola defekasi /karakteristik feces.
Tanda: Nyeri abdomen, Distensi abdomen, peningkatan bunyi
usus,karakteristik feses ; konstipasi.
e. Makanan /Cairan.

9 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Gejala: Anorexia,mual, dan muntah, cegukan, tidak toleran terhadap
makanan.
Tanda: Muntah, membran mukosa kering, turgor kulit menurun.
f. Neorosensori.
Gejala: Pusing, sakit kepala, terasa berdengung.
Tanda: Status mental, tingkat kesadaran terganggu, cenderung
mengantuk, disorientasi, bingung.
g. Nyeri /Kenyamanan.
Gejala: Nyeri digambarkan tajam, dangkal, rasa terbakar, perih
Tanda: Rasa ketidaknyamanan / distres samar-samar setelah operasi
Caesarea. Nyeri abdomen pada bekas Luka insisi.
h. Keamanan.
Gejala: Alergi terhadap obat, efek anastesi.
Tanda: Peningkatan suhu.
i. Seksualitas ;Disproporsi sefalopelvis (CPD),
Kehamilan multiple atau gestasi (uterus sangat distensi), Melahirkan
sesaria sebelumnya, bedah uterus atau serviks sebelumnya.
Tumor/neoplasma yang menghambat pelvis/jalan lahir.

i. Penyuluhan/Pembelajaran
Kelahiran sesaria dapat atau mungkin tidak direncanakan,
mempengaruhi kesiapan dan pemahaman klien terhadap prosedur.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan menurut Nanda, Nic dan Noc ;
1. Nyeri berhubungan denganAgen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis),
kerusakan/trauma jaringan, dan diskontinuitas jaringan atau distensi efek-
efek hormonal.
2. Ketidakefektifan Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan,
pengalaman sebelumnya, tingkat dukungan, karaktristik payudara, terapi
pembatasan gerak.
3. Gangguan Mobilitas Fisikberhubungan dengan Gangguan metabolisme
sel, Pengobatan , Kehilangan integritas struktur tulang, Terapi pembatasan
gerak, Tidak nyaman, nyeri luka jahitan SC, Penurunan kekuatan otot.
4. Defisit perawatan diriBerhubungan dengan penurunan atau kurangnya
motivasi, hambatan lingkungan, kerusakan muskuloskeletal, nyeri,
kecemasan, kelemahan dan kelelahan.
10 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
5. Kecemasan berhubungan dengan, Krisis situasional, Stress, perubahan
kesehatan, ancaman kematian, perubahan konsep diri, kurang
pengetahuan.
6. Resiko Tinggi Terhadap Infeksi berhubungan dengan trauma jaringan,
penurunan hemoglobin, prosedur invasive, malnutrisi.

C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri Akut
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri berhubungan NOC : NIC :
dengan: Pain Level, Lakukan pengkajian nyeri
Agen injuri (biologi, pain control, secara komprehensif termasuk
kimia, fisik, psikologis), comfort level lokasi, karakteristik, durasi,
kerusakan/trauma Setelah dilakukan frekuensi, kualitas dan faktor
jaringan, dan luka pada tinfakan keperawatan presipitasi
perineum, kontraksi selama . Pasien tidak Observasi reaksi nonverbal
uterus. mengalami nyeri, dengan dari ketidaknyamanan
kriteria hasil: Bantu pasien dan keluarga
DS: Mampu mengontrol untuk mencari dan
- Laporan secara verbal nyeri (tahu penyebab menemukan dukungan
DO: nyeri, mampu Kontrol lingkungan yang
- Posisi untuk menahan menggunakan tehnik dapat mempengaruhi nyeri
nyeri nonfarmakologi untuk seperti suhu ruangan,
- Tingkah laku berhati- mengurangi nyeri, pencahayaan dan kebisingan
hati mencari bantuan) Kurangi faktor presipitasi
- Gangguan tidur (mata Melaporkan bahwa nyeri
sayu, tampak capek, nyeri berkurang dengan Kaji tipe dan sumber nyeri

11 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
sulit atau gerakan kacau, menggunakan untuk menentukan intervensi
menyeringai) manajemen nyeri Ajarkan tentang teknik non
- Terfokus pada diri Mampu mengenali farmakologi: napas dala,
sendiri nyeri (skala, intensitas, relaksasi, distraksi, kompres
- Fokus menyempit frekuensi dan tanda hangat/ dingin
(penurunan persepsi nyeri) Berikan analgetik untuk
waktu, kerusakan proses Menyatakan rasa mengurangi nyeri: ...
berpikir, penurunan nyaman setelah nyeri Tingkatkan istirahat
interaksi dengan orang berkurang Berikan informasi tentang
dan lingkungan) Tanda vital dalam nyeri seperti penyebab nyeri,
- Tingkah laku distraksi, rentang normal berapa lama nyeri akan
contoh : jalan-jalan, Tidak mengalami berkurang dan antisipasi
menemui orang lain gangguan tidur ketidaknyamanan dari
dan/atau aktivitas, prosedur
aktivitas berulang- Monitor vital sign sebelum
ulang) dan sesudah pemberian
- Respon autonom analgesik pertama kali
(seperti diaphoresis, Observasi untuk beberapa
perubahan tekanan gejala, yaitu : dispneu,
darah, perubahan nafas, mual/muntah, pusing,
nadi dan dilatasi pupil) palpitasi, keinginan untuk
- Perubahan autonomic BAK
dalam tonus otot Anjurkan pada pasien
(mungkin dalam rentang memberitahukan kepada
dari lemah ke kaku) perawat ketika terjadi chest
- Tingkah laku ekspresif pain
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
12 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
- Perubahan dalam nafsu
makan

2. Ketidakefektifan Menyusui

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Ketidakefektifan NOC : NIC :
Menyusui berhubungan Setelah dilakukan 1. Kaji
dengan tingkat tinfakan keperawatan pengetahuan dan
pengetahuan, pengalaman selama . Pasien tidak pengalaman klien tentang
sebelumnya, tingkat mengalami nyeri, dengan menyusui sebelumnya.
2. Tentukan sistem
dukungan, karaktristik kriteria hasil:
pendukung yang tersedia
payudara. Mengun
pada klien, dan sikap
gkapkan pemahaman
pasangan / keluarga
atau proses situasi 3. Berikan
menyusui informasi verbal dan
Mendem
tertulis, mengenai fisiologi
onstrasikan teknik
dan keuntungan menyusui,
efektif dalam
perawatan puting dan
menyusui
Menunj payudara, kebutuhan diet
khusus, dan faktor-faktor
13 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
ukkan kepuasan yang memu-dahkan atau
regimen menyusui mengganggu keberhasilan
satu sama lain, menyusui.
4. Demonstrasikan
dengan bayi
dan tinjau ulang teknik-
teknik menyusui.
Perhatikan posisi bayi
selama menyusu dan lama
menyusu.
5. Kaji puting
klien, anjurkan klien
melihat puting setiap habis
menyusui
6. Anjurkan klien
untuk menge-ringkan puting
dengan udara selama 20-30
menit setelah menyusui
7. Instruksikan
klien untuk menghindari
penggunaan pelindung
puting kecuali secara
khusus diindikasikan
8. Berikan
pelindung puting payudara
khusus mis :pelindung
Eschmann ) untuk klien
menyusui dengan puting
masuk atau datar. Anjurkan
penggunaan kompres es
sebelum menyusui dan
latihan puting dengan

14 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
memutar diantara ibu jari
dan jari tengah dan
menggunakan teknik
Hoffman

3. Gangguan mobilitas fisik


Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Gangguan mobilitas fisik NOC : NIC :


Berhubungan dengan : Joint Movement : Exercise therapy : ambulation
- Gangguan metabolisme Active
Monitoring vital sign
sel Mobility Level
sebelm/sesudah latihan
- Keterlembatan Self care : ADLs
dan lihat respon pasien
perkembangan Transfer performance
saat latihan
- Pengobatan Setelah dilakukan
Konsultasikan dengan
- Kurang support tindakan keperawatan
terapi fisik tentang rencana
lingkungan selama.gangguan
ambulasi sesuai dengan
- Keterbatasan ketahan mobilitas fisik teratasi
kebutuhan
kardiovaskuler dengan kriteria hasil:
Bantu klien untuk
- Kehilangan integritas Klien meningkat
menggunakan tongkat saat
struktur tulang dalam aktivitas fisik
berjalan dan cegah
- Terapi pembatasan Mengerti tujuan dari
terhadap cedera
gerak peningkatan
Ajarkan pasien atau tenaga
- Kurang pengetahuan mobilitas
kesehatan lain tentang
tentang kegunaan Memverbalisasikan
teknik ambulasi
pergerakan fisik perasaan dalam
Kaji kemampuan pasien
- Indeks massa tubuh meningkatkan

15 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
diatas 75 tahun sesuai kekuatan dan dalam mobilisasi
dengan usia kemampuan Latih pasien dalam
- Kerusakan persepsi berpindah pemenuhan kebutuhan
sensori Memperagakan ADLs secara mandiri
- Tidak nyaman, nyeri penggunaan alat sesuai kemampuan
- Kerusakan Bantu untuk Dampingi dan Bantu
muskuloskeletal dan mobilisasi (walker) pasien saat mobilisasi dan
neuromuskuler bantu penuhi kebutuhan
- Intoleransi ADLs ps.
aktivitas/penurunan Berikan alat Bantu jika
kekuatan dan stamina klien memerlukan.
- Depresi mood atau Ajarkan pasien bagaimana
cemas merubah posisi dan
- Kerusakan kognitif berikan bantuan jika
- Penurunan kekuatan diperlukan
otot, kontrol dan atau
masa
- Keengganan untuk
memulai gerak
DO:
- Penurunan waktu reaksi
- Kesulitan merubah
posisi
- Perubahan gerakan
(penurunan untuk
berjalan, kecepatan,
kesulitan memulai
langkah)
- Keterbatasan ROM
- Gerakan disertai nafas
16 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
pendek atau tremor
- Ketidak stabilan posisi
selama melakukan ADL
- Gerakan sangat lambat
dan tidak terkoordinasi

4. Defisit perawatan diri


Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

Defisit perawatan diri NOC : NIC :


Berhubungan dengan : Self care : Activity of Self Care assistane : ADLs
penurunan atau kurangnya Daily Living (ADLs) Monitor kemempuan klien
motivasi, hambatan Setelah dilakukan untuk perawatan diri yang
lingkungan, kerusakan tindakan keperawatan mandiri.
muskuloskeletal, selama . Defisit Monitor kebutuhan klien
kerusakan neuromuskular, perawatan diri teratas untuk alat-alat bantu untuk
nyeri, kerusakan persepsi/ dengan kriteria hasil: kebersihan diri,
kognitif, kecemasan, Klien terbebas dari berpakaian, berhias,
kelemahan dan kelelahan. bau badan toileting dan makan.
Menyatakan Sediakan bantuan sampai
DO : kenyamanan terhadap klien mampu secara utuh
ketidakmampuan untuk kemampuan untuk untuk melakukan self-care.
17 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
mandi, ketidakmampuan melakukan ADLs Dorong klien untuk
untuk berpakaian, Dapat melakukan melakukan aktivitas
ketidakmampuan untuk ADLS dengan sehari-hari yang normal
makan, ketidakmampuan bantuan sesuai kemampuan yang
untuk toileting dimiliki.
Dorong untuk melakukan
secara mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien tidak
mampu melakukannya.
Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.
Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.
Pertimbangkan usia klien
jika mendorong
pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.

5. Anxietas
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

18 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Kecemasan berhubungan NOC : NIC :
dengan - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
Faktor keturunan, Krisis - Koping kecemasan)
situasional, Stress, Setelah dilakukan asuhan Gunakan pendekatan yang
perubahan status selama klien menenangkan
kesehatan, ancaman kecemasan teratasi dgn Nyatakan dengan jelas
kematian, perubahan kriteria hasil: harapan terhadap pelaku
konsep diri, kurang Klien mampu pasien
pengetahuan dan mengidentifikasi dan Jelaskan semua prosedur
hospitalisasi mengungkapkan dan apa yang dirasakan
gejala cemas selama prosedur
DO/DS: Mengidentifikasi, Temani pasien untuk
- Insomnia mengungkapkan dan memberikan keamanan
- Kontak mata kurang menunjukkan tehnik dan mengurangi takut
- Kurang istirahat untuk mengontol Berikan informasi faktual
- Berfokus pada diri cemas mengenai diagnosis,
sendiri Vital sign dalam tindakan prognosis
- Iritabilitas batas normal Libatkan keluarga untuk
- Takut Postur tubuh, mendampingi klien
- Nyeri perut ekspresi wajah,
Instruksikan pada pasien
- Penurunan TD dan bahasa tubuh dan
untuk menggunakan tehnik
denyut nadi tingkat aktivitas
relaksasi
- Diare, mual, kelelahan menunjukkan
Dengarkan dengan penuh
- Gangguan tidur berkurangnya
perhatian
- Gemetar kecemasan
Identifikasi tingkat
- Anoreksia, mulut kering
kecemasan
- Peningkatan TD, denyut
Bantu pasien mengenal
nadi, RR
situasi yang menimbulkan
- Kesulitan bernafas
kecemasan
- Bingung
19 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
- Bloking dalam Dorong pasien untuk
pembicaraan mengungkapkan perasaan,
- Sulit berkonsentrasi ketakutan, persepsi
Kelola pemberian obat anti
cemas:........

6. Resiko Infeksi

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Resiko Tinggi Terhadap NOC : NIC :
Infeksi berhubungan Immune Status 1. Kaji catatan
dengan trauma jaringan, Knowledge : Infection prenatal dan intrapranatal,
penurunan hemoglobin, control perhatikan frekuensi
prosedur invasive, pecah Risk control pemeriksaan vagina dan
ketuban, malnutrisi. Setelah dilakukan komplikasi seperti ketuban
Faktor-faktor risiko : tindakan pecah dini ( KPD ),
- Prosedur Infasif keperawatan selama persalinan lama, laserasi,
- Kerusakan jaringan dan pasien tidak mengalami hemoragi, dan tertahannya
peningkatan paparan infeksi dengan kriteria plasenta
2. Pantau suhu dan
lingkungan hasil:
nadi dengan rutin I dan sesuai
- Malnutrisi Klien bebas dari tanda
indikasi, catat tanda-tanda
- Peningkatan paparan dan gejala infeksi

20 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
lingkungan patogen Menunjukkan menggigil, anoreksia atau
- Imonusupresi kemampuan untuk malaise.
3. Kaji lokasi dan
- Tidak adekuat mencegah timbulnya
kontraktilitas uterus,
pertahanan infeksi
perhatikan perubahan
sekunder (penurunan Hb, Jumlah leukosit dalam
involusional atau adanya
Leukopenia, penekanan batas normal
nyeri tekan uterus eksterm.
respon inflamasi) Menunjukkan
4. Catat jumlah
- Penyakit kronik perilaku
dan bau rabas lokheal atau
- Imunosupresi hidup sehat
perubahan pada kemajuan
- Malnutrisi Status imun,
normal dari rubra menjadi
- Pertahan primer tidak gastrointestinal,
serosa.
adekuat (kerusakan kulit, genitourinaria dalam 5. Evaluasi kondisi
trauma jaringan, gangguan batas normal puting, perhatikan adanya
peristaltik) pecah-pecah, kemerahan atau
nyeri tekan. Anjurkan
pemeriksaan rutin payudara.
Tinjau perawatan yang tepat
dan teknik pemberian makan
bayi ( rujuk pada DK : nyeri
akut / ketidaknyamanan )
6. Inspeksi sisi
perbaikan episitomi setiap 8
jam. Perhatikan nyeri tekan
berlebihan, kemerahan, eksu-
dat purulent, edema sekatan
pada garis sutura ( kehilangan
perlekatan ) atau adanya
leserasi.
7. Perhatikan
frekuensi / jumlah berkemih.
8. Anjurkan
21 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
perawatan perineal dengan
menggunakan botol atau
rendam duduk 3 sampai 4
kali sehari atau setelah
berkemih / defekasi .anjurkan
klien mandi setiap hari
diganti pembalut perineal
sedikitnya setiap 4 jam, dari
depan ke belakang.
9. Anjurkan dan
gunakan teknik mencuci
tangan cermat dan
pembuangan pembalut yang
kotor, pembalut perineal dan
linen terkontaminasi dengan
tepat. Diskusikan dengan
klien pentingnya kontinuitas
tindakan ini setelah pulang.

DAFTAR PUSTAKA
22 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa
keperawatan dan masalah kolaboratif. Jakarta: EGC

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika

Manuaba, Ida Bagus Gede. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana, Jakarta : EGC

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second


Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Muchtar. 2005. Obstetri patologi, Cetakan I. Jakarta : EGC

Caraspot. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta :


mocaMedia

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.


Jakarta: Prima Medika

Saifuddin, AB. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta : penerbit yayasan bina pustaka sarwono
prawirohardjo

Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta :


Yayasan Bina Pustaka

23 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044