Anda di halaman 1dari 16

Pentingnya Peran UMKM Dalam Pembangunan Perekonomian Indonesia

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan pelaku bisnis yang bergerak pada
berbagai bidang usaha, yang menyentuh kepentingan masyarakat. Berdasarkan data BPS
(2003), populasi usaha kecil dan menengah (UKM) jumlahnya mencapai 42,5 juta unit atau
99,9 persen dari keseluruhan pelaku bisnis di tanah air. UKM memberikan kontribusi yang
signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 99,6 persen. Semenrtara itu,
kontribusi UKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 56,7 persen.

Dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, sektor UMKM memiliki peranan yang sangat
stategis dan penting yang dapat ditinjau dari berbagai aspek. Pertama, jumlah industrinya
yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik
(BPS) 2002, jumlah UMKM tercatat 41,36 juta unit atau 99,9% dari total unit usaha. Kedua,
potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja. Setiap unit investasi pada sektor
UMKM dapat menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bila dibandingkan dengan
investasi yang sama pada usaha besar. Sektor UMKM menyerap 76,55 juta tenaga kerja atau
99,5% dari total angkatan kerja yang bekerja. Ketiga, kontribusi UMKM dalam pembentukan
PDB cukup signifikan yakni sebesar 55,3% dari total PDB.

Salah satu upaya peningkatan dan pengembangan UMKM dalam perekonomian nasional
dilakukan dengan mendorong pemberian kredit modal usaha kepada UMKM. Dari sudut
perbankan, pemberian kredit kepada UMKM menguntungkan bagi bank yang bersangkutan.
Pertama, tingkat kemacetannya relatif kecil. Hal ini terutama disebabkan oleh tingkat
kepatuhan nasabah usaha kecil yang lebih tinggi dibandingkan nasabah usaha besar. Kedua,
pemberian kredit kepada UMKM mendorong penyebaran risiko, karena penyaluran kredit
kepada usaha kecil dengan nilai nominal kredit yang kecil memungkinkan bank untuk
memperbanyak jumlah nasabahnya, sehingga pemberian kredit tidak terkonsentrasi pada satu
kelompok atau sektor usaha tertentu. Ketiga, kredit UMKM dengan jumlah nasabah yang
relatif lebih banyak akan dapat mendiversifikasi portofolio kredit dan menyebarkan risiko
penyaluran kredit. Keempat, suku bunga kredit pada tingkat bunga pasar bagi usaha kecil
bukan merupakan masalah utama, sehingga memungkinkan lembaga pemberi kredit
memperoleh pendapatan bunga yang memadai. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa
ketersediaan dana pada saat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, sasaran yang tepat dan
dengan prosedur yang sederhana lebih penting dari pada bunga murah maupun subsidi.

Namun dari beberapa hal yang melatar belakangi seperti tersebut di atas, masih belum cukup
menjadi landasan keyakinan bahwa pelaku UMKM akan mendapatkan kemudahan dalam hal
pengajuan fasilitas kredit modal usaha ke lembaga-lembaga pemberi kredit baik perbankan
maupun non perbankan. Hingga saat ini masih banyak pelaku UMKM yang mengalami
permasalahan dalam hal pengajuan kredit usaha.

Hakikat Pentingnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)


Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah (UMKM). Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau
badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang ini.Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan
atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung
maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha
Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

Adapun kriterianya sebagai berikut:


KRITERIA
No. URAIAN
ASSET OMZET
1 USAHA MIKRO Maks. 50 Juta Maks. 300 Juta
2 USAHA KECIL > 50 Juta - 500 Juta > 300 Juta - 2,5 Miliar
3 USAHA MENENGAH > 500 Juta - 10 Miliar > 2,5 Miliar - 50 Miliar
Sumber:www.depkop.go.id

Dalam perekonomian Indonesia Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) merupakan
kelompok usaha yang memiliki jumlah paling besar. Selain itu Kelompok ini terbukti tahan
terhadap berbagai macam goncangan krisi ekonomi. Maka sudah menjadi keharusan
penguatan kelompok usaha mikro, kecil dan menengah yang melibatkan banyak kelompok.
Kriteria usaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah telah diatur dalam
payung hukum berdasarkan undang-undang.

Selain berdasar Undang-undang tersebut,dari sudut pandang perkembangannya Usaha Kecil


Dan Menengah dapat dikelompokkan dalam beberapa kriteria Usaha Kecil Dan Menengah
yaitu:

Livelihood Activities, merupakan Usaha Kecil Menengah yang digunakan sebagai


kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor
informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.
Micro Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang memiliki sifat pengrajin
tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.
Small Dynamic Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki
jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
Fast Moving Enterprise, merupakam Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB).

Salah satu peranan UMKM yang paling krusial dalam pertumbuhan ekonomi adalah
menstimulus dinamisasi ekonomi. Karakternya yang fleksibel dan cakap membuat UMKM
dapat direkayasa untuk mengganti lingkungan bisnis yang lebih baik daripada perusahaan-
perusahaan besar. Sejak krisis moneter yang diawali tahun 1997, hampir 80% usaha besar
mengalami kebangkrutan dan melakukan PHK massal terhadap karyawannya. Berbeda
dengan UMKM yang tetap bertahan di dalam krisis dengan segala keterbatasannya. UMKM
berperan besar dalam mengurangi angka pengangguran, bahkan fenomena PHK menjadikan
para pekerja yang menjadi korban dipaksa untuk berfikir lebih jauh dan banyak yang beralih
melirik sektor UMKM ini.

Kondisi UMKM di Indonesia


Usaha skala kecil di Indonesia adalah merupakan subyek diskusi dan menjadi perhatian
pemerintah karena perusahaan kecil tersebut menyebar dimana-mana, dan dapat memberi
kesempatan kerja yang potensial. Para ahli ekonomi sudah lama menyadari bahwa sektor
industri kecil sebagai salah satu karakteristik keberhasilan dan pertumbuhan ekonomi.
Industri kecil menyumbang pembangunan dengan berbagai jalan, menciptakan kesempatan
kerja, untuk perluasan angakatan kerja agi urbanisasi, dan menyediakan fleksibilitas
kebutuhan serta inovasi dalam perekonomian secara keseluruhan.

Secara kuantitas, UMKM memang unggul, hal ini didasarkan pada fakta bahwa sebagian
besar usaha di Indonesia (lebih dari 99 %) berbentuk usaha skala kecil dan menengah
(UMKM). Namun secara jumlah omset dan aset, apabila keseluruhan omset dan aset UMKM
di Indonesia digabungkan, belum tentu jumlahnya dapat menyaingi satu perusahaan berskala
nasional. Data-data tersebut menunjukkan bahwa UMKM berada di sebagian besar sektor
usaha yang ada di Indonesia. Apabila mau dicermati lebih jauh, pengembangan sektor swasta,
khususnya UMKM, perlu untuk dilakukan mengingat sektor ini memiliki potensi untuk
menjaga kestabilan perekonomian, peningkatan tenaga kerja, meningkatkan PDB,
mengembangkan dunia usaha, dan penambahan APBN dan APBD melalui perpajakan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
Propinsi Jawa Barat dengan Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Barat tahun 2000, jumlah
kelompok usaha kecil di Provinsi Jawa Barat adalah 6.751.999 unit atau merupakan 99,89%
dari keseluruhan jumlah kelompok usaha yang ada. Penyebaran kelompok usaha kecil ini
masih didominasi oleh sektor pertanian dengan jumlah usaha/rumah tangga sebanyak
4.094.672 unit atau 60,57% dari total keseluruhan usaha yang ada. Sampai dengan tahun
2000, jumlah tenaga kerja yang terserap dalam usaha kecil dari berbagai sektor ekonomi di
Provinsi Jawa Barat berjumlah 10.557.448 tenaga kerja atau 84,60% dari total penyerapan
tenaga kerja yang ada di Jawa barat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penyerapan tenaga
kerja usaha kecil di Jawa Barat adalah yang terbesar dibandingkan dengan tingkat penyerapan
tenaga kerja pada usaha besar dan menengah.

Gambaran di atas nampaknya sudah cukup untuk menafikkan pikiran bahwa UMKM adalah
usaha yang tidak penting, hanya untuk orang-orang tidak berpendidikan. Justru mungkin
inilah saat bagi kita yang sudah menyadari begitu dahsyatnya ketangguhan UMKM, untuk
mulai memberikan perhatian yang lebih serius di dalam sektor ini. Bila kita melihat UMKM
yang ada di Negara lain, salahsatunya adalah Korea Selatan yang berhasil mengembangkan
UKM. Negara ini mendefinisikan UKM sebagai usaha yang jumlah tenaga kerjanya di bawah
300 orang dan jumlah assetnya kurang dari US $ 60 juta.

Saat ini keadaan UMKM di Indonesia semakin menurun, ini dikarenakan kesalahan
pengurusan dan kurangnya perhatian pemerintah. Alasannya, pelaksanaan program
pemberdayaan UMKM berikut anggarannya yang sangat melimpah tiap tahun dinilai tidak
efektif. Ini terbukti dari kenyataan bahwa sektor UMKM yang mampu menyediakan 99,46%
lapangan pekerjaan baru, namun kontribusinya baru 43,42% dari seluruh nilai transaksi
perekonomian Indonesia setiap tahunnya. Peran UMKM nampak belum begitu dirasakan,
karena kurangnya kekuatan bersaing dengan produk-produk luar negeri, dan juga masalah
klasik yaitu permodalan. Kita harus melihat ini sebagai masalah yang harus kita pecahkan
bersama. Karena kita tidak ingin selamanya terpuruk di dalam krisis yang sudah lebih dari 5
tahun melanda negeri kita.

Pengembangan Sektor UMKM


Pengembangan terhadap sektor swasta merupakan suatu hal yang tidak diragukan lagi perlu
untuk dilakukan. UMKM memiliki peran penting dalam pengembangan usaha di Indonesia.
UMKM juga merupakan cikal bakal dari tumbuhnya usaha besar. Satu hal yang perlu diingat
dalam pengembangan UMKM adalah bahwa langkah ini tidak semata-mata merupakan
langkah yang harus diambil oleh Pemerintah dan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah.
Pihak UMKM sendiri sebagai pihak yang dikembangkan, dapat mengayunkan langkah
bersama-sama dengan Pemerintah. Selain Pemerintah dan UMKM, peran dari sektor
Perbankan juga sangat penting terkait dengan segala hal mengenai pendanaan, terutama dari
sisi pemberian pinjaman atau penetapan kebijakan perbankan. Lebih jauh lagi, terkait dengan
ketersediaan dana atau modal, peran dari para investor baik itu dari dalam maupun luar
negeri, tidak dapat pula kita kesampingkan.

Pemerintah pada intinya memiliki kewajiban untuk turut memecahkan tiga hal masalah klasik
yang kerap kali menerpa UMKM, yakni akses pasar, modal, dan teknologi yang selama ini
kerap menjadi pembicaraan di seminar atau konferensi. Secara keseluruhan, terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengembangan terhadap unit usaha
UMKM, antara lain kondisi kerja, promosi usaha baru, akses informasi, akses pembiayaan,
akses pasar, peningkatan kualitas produk dan SDM, ketersediaan layanan pengembangan
usaha, pengembangan cluster, jaringan bisnis, dan kompetisi.

Peranan Bank Indonesia terhadap UMKM


Keberhasilan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia tidak terlepas dari
dukungan dan peran pemerintah dalam mendorong penyaluran kredit kepada UMKM.
Berbagai skim Kredit/pembiayaan UMKM diluncurkan oleh pemerintah dikaitkan dengan
tugas dan program pembangunan ekonomi pada sektor-sektor usaha tertentu, misalnya
ketahanan pangan, perternakan dan perkebunan. Peran pemerintah dalam skim-skim kredit
UMKM ini adalah pada sisi penyediaan dana APBN untuk subsidi bunga skim kredit
dimaksud, sementara dana kredit/pembiayaan seluruhnya (100%) berasal dari bank-bank
yang ditunjuk pemerintah sebagai bank pelaksana. Selain itu pemerintah berperan dalam
penyiapan UMKM agar dapat dibiayai dengan skim dimaksud, menetapkan kebijakan dan
prioritas usaha yang akan menerima kredit, melakukan pembinaan dan pendampingan selama
masa kredit, dan memfasilitasi hubungan antara UMKM dengan pihak lain.

Pada dewasa ini skim kredit yang sangat familiar di masyarakat adalah Kredit Usaha Rakyat
(KUR), yang khusus diperuntukkan bagi UMKM dengan kategori usaha layak, namun tidak
mempunyai agunan yang cukup dalam rangka persyaratan Perbankan. KUR adalah
Kredit/pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi yang tidak sedang menerima
Kredit/Pembiayaan dari Perbankan dan/atau yang tidak sedang menerima Kredit Program
dari Pemerintah pada saat permohonan Kredit/Pembiayaan diajukan. Tujuan akhir
diluncurkan Program KUR adalah meningkatkan perekonomian, pengentasan kemiskinan dan
penyerapan tenaga kerja.

Adapun bentuk-bentuk dari Kredit Usaha Rakyat diantaranya adalah Kredit Ketahanan
Pangan dan Energi (KKPE), Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi
Perkebunan (KPEN-RP), Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS).

1. Kredit Ketahanan Pangan dan Energi


KKPE adalah Kredit investasi dan/atau modal
kerja yang diberikan dalam rangka mendukung
Definisi
program ketahanan pangan, dan diberikan
melalui Kelompok Tani dan/atau Koperasi.
1. padi, jagung, kedelai, ubi jalar, tebu, ubi kayu,
kacang tanah, sorgum.
2. hortikultura (cabe, bawang merah, jahe,
kentang dan pisang), pengadaan pangan
(gabah, jagung, kedelai).
3. peternakan sapi potong, sapi perah, pembibitan
sapi, ayam ras petelur, ayam ras
Usaha yang Dibiayai
pedaging,ayam buras, itik dan burung puyuh,
pengkapan
4. Penangkapan Ikan, Budidaya Udang, Nila,
Gurame, Patin, Lele, Kerapu Macan, Ikan Mas
dan pengembangan rumput Laut
5. Pengadaan/peremajaan peralatan, mesin, dan
sarana lain untuk menunjang kegiatan di atas.
Jangka Waktu Proyek Tidak Terbatas
Sumber Dana Bank Pelaksana 100%
1. untuk petani, peternak, pekebun, nelayan, dan
pembudidaya ikan paling tinggi sebesar
Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);
2. untuk koperasi dalam rangka pengadaan
pangan (gabah, jagung, dan kedelai) paling
Plafon Kredit tinggi sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah);
3. untuk kelompok tani dalam rangka pengadaan/
peremajaan peralatan, mesin, dan sarana lain
paling tinggi sebesar Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
1. Tebu, maksimal sebesar suku bunga
penjaminan Bank (LPS) + 5%
Suku Bunga Kredit
2. Komoditas lain, maksimal sebesar suku bunga
penjaminan Bank (LPS) + 6%
1. Tebu : 7% p.a.
Suku Bunga
2. Komoditas lain : 6% p.a.
Petani/Peternak
(ditinjau setiap 6 bln, ditetapkan oleh Menkeu)
Jangka Waktu Kredit Maksimal 5 tahun
1. Kementerian Keuangan: penyediaan dana
APBN untuk subsidi bunga, menunjuk Bank
Pelaksana, persetujuan plafon KKPE masing-
masing Bank
2. Mentan : pembinaan dan pengendalian
Peran Pemerintah 3. Gubernur :pembinaan dan pengendalian
4. Bupati/Walikota : pembinaan dan
pengendalian, monitoring dan evaluasi
5. Dinas Teknis : mengkoordinir,memonitor,
mengevaluasi penyaluran dan pemanfaatan
KKPE, menginventarisasi kelompok tani yang
memerlukan KKPE, membimbing kelompok
tani dalam menyusun RDKK, menandatangani
dan bertanggungjawab atas kebenaran RDKK
Kelompok Tani, membimbing dan memantau
kelompok tani
Komitmen pendanaan oleh Bank : Rp 37,8
Target Realisasi
triliun
Sumut,Sumbar,Sumsel, Jabar, Jatim, Jateng,
Daerah Realisasi
Bali, Sulsel, Kalsel, Papua, Riau
BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank Bukopin,
BCA, Bank Agroniaga, BII, Bank CIMB
Niaga, Bank Artha Graha, BPD Sumut, BPD
Bank Pelaksana
Sumbar, BPD Sumsel, BPD Jabar, BPD
Jateng, BPD DIY, BPD Jatim, Bank Bali, BPD
Sulsel, BPD Kalsel, BPD Papua, BPD Riau
1. Bank kesulitan memilih debitur yang layak
2. Debitur tidak dapat menyediakan agunan
3. Adanya batasan bahwa KKPE hanya
disalurkan melalui Kelompok Tani dan/atau
Permasalahan
Koperasi..
4. KKPE tidak dapat digunakan untuk
membiayai peralatan/mesin untuk
penangkapan dan budidaya ikan
2. Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan
KPEN-RP adalah Kredit yang diberikan dalam
rangka mendukung program pengembangan
Definisi
tanaman bahan baku bahan bakar nabati dan
Program Revitalisasi Pertanian
Perluasan, rehabilitasi, dan peremajaan tanaman
Usaha yang Dibiayai
kelapa sawit, karet dan kakao.
Jangka Waktu Proyek 2010, diusulkan diperpanjang s.d 2014
Sumber Dana Bank Pelaksana 100%
Plafon Kredit Ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perkebunan
maksimal sebesar suku bunga penjaminan Bank
Suku Bunga Kredit
(LPS) + 5%
1. kelapa sawit dan kakao: 7% p.a.,
Suku Bunga 2. karet 6% p.a.
Petani/Peternak (ditinjau setiap 6 bln, atas dasar kesepakatan
Pemerintah dan Bank Pelaksana)
1. kelapa sawit dan kakao 13 tahun,
Jangka Waktu Kredit
2. karet 15 tahun
1. Bupati/Walikota cq Kepala Dinas Perkebunan :
Peran Pemerintah
menunjuk calon petani peserta, mengusulkan
calon mitra usaha melalui Gubernur
2. Dirjen Perkebunan : penunjukan mitra usaha
3. Kementerian Keuangan: penyediaan dana
APBN untuk subsidi bunga, menunjuk Bank
Pelaksana
Komitmen pendanaan oleh Bank : Rp 38,60
Target Realisasi
triliun
Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Bengkulu,
Sumsel,Babel, Lampung, Jabar, Kalbar,
Daerah Realisasi Kalteng,Kalsel,Kaltim,Sulut, Sulteng,
Sulbar,Sulsel, Sultra, Maluku, Papua,Papua
Barat
BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank Bukopin, Bank
Agroniaga, BII, Bank CIMB Niaga, Bank Artha
Bank Pelaksana Graha, Bank Mega, BPD Sumut, BPD Sumbar,
BPD Sumsel, BPD Aceh, BPD Kaltim, BPD
Papua, BPD Riau
1. Adanya isu-isu negatif tentang perkebunan
kelapa sawit yang dianggap dapat merusak
lingkungan sehingga berkembang pemboikotan
produk kelapa sawit dari Indonesia
2. Permasalahan yang terkait dengan lahan, antara
lain mengenai Rencana Tata Ruang dan
Wilayah, kenaikan biaya sertifikasi lahan,
lambatnya proses sertifikasi lahan, lahan sudah
tumpang tindih dengan lahan masyarakat, lahan
areal proyek dikuasai pihak lain.
3. Terbatasnya jumlah perusahaan yang layak
menjadi mitra (perusahaan inti)
4. Petani Peserta dan Koperasi belum ada dan
belum memiliki kesepakatan yang dituangkan
dalam perjanjian kerjasama dalam hal :
Permasalahan pembagian luas lahan, pembangunan kebun,
pemeliharaan dan mengolah TBS
5. Bank Pelaksana belum dapat menyalurkan
KPEN-RP yang belum memenuhi kelengkapan
administrasi : penetapan peserta oleh Bupati;
Rekomendasi calon perusahaan mitra dari
Bupati dan Gubernur; Perjanjian Kerjasama
petani, koperasi, perusahaan Mitra;
Perijinan,legalitas perusahaan, ijin lokasi lahan
dan feasibility study.
6. Lambatnya proses penetapan daftar nominatif
petani di tingkat Kabupaten
7. Kurangnya koordinasi dinas terkait dengan
Bank Pelaksana
8. Masih kurangnya tenaga pendamping untuk
membina kelompok
3. Kredit Usaha Pembibitan Sapi
KUPS adalah Kredit yang diberikan kepada
Definisi bank pelaksana kepada Pelaku Usaha
Pembibitan Sapi
usaha pembibitan sapi untuk produksi sbibit sapi
Usaha yang Dibiayai potong atau bibit sapi perah yang dilengkapi
nomor identifikasi berupa microchips
Jangka Waktu Proyek 2014
Sumber Dana Bank Pelaksana 100%
Maksimal Rp 66.315.000.000,00 per pelaku
Plafon Kredit usaha (perusahaan pembibitan, koperasi,
kelompok/gabungan kelompok peternak)
maksimal sebesar suku bunga penjaminan Bank
Suku Bunga Kredit
(LPS) + 6%
Suku Bunga
maksimal 5% p.a.
Petani/Peternak
Paling lama 6 tahun, dengan masa tenggang 24
Jangka Waktu Kredit
bulan
1. Kementerian Keuangan : menetapkan Bank
Pelaksana, melakukan kerjasama dengan Bank
Pelaksana, menetapkan plafon per Bank,
menyediakan dan membayar subsidi bunga,
menilai kepatuhan penyaluran KUPS
2. Mentan,Menkeu, Gubernur, Bupati/ Walikota :
pembinaan dan pengendalian pelaksanaan
KUPS
Peran Pemerintah
3. Dinas Kab/Kota: memberikan rekomendasi
perusahaan pembibitan,
koperasi,kelompok/gab.kelompok sebagai
peserta KUPS, mengetahui kontrak kemitraan,
monitoring dan evaluasi, menyampaikan laporan
kepada Dinas Prov.
4. Ditjen Peternakan : melakukan monitoring dan
evaluasi
Target Realisasi 200.000 ekor per tahun
Daerah Realisasi Jatim,NTB, DIY, Jateng
BRI, BNI, Bank Bukopin, Bank Jatim, Bank
Bank Pelaksana
Jateng, BPD DIY, Bank Nagari, Bank Bali
1. Persyaratan administrasi yang diminta
perbankan untuk mengakses KUPS sangat
rumit.
Permasalahan
2. Pembayaran subsidi 6 bulan sekali
memberatkan bagi Bank Pelaksana, sehingga
ada usulan untuk pembayaran subsidi
dilaksanakan 3 bulan sekali.
4. Kredit Usaha Rakyat
KUR adalah Kredit/pembiayaan kepada UMKM dan
Koperasi yang tidak sedang menerima
Kredit/Pembiayaan dari Perbankan dan/atau yang tidak
sedang menerima Kredit Program dari Pemerintah,
Definisi
pada saat permohonan Kredit/Pembiayaan diajukan,
yang dibuktikan dengan hasil Sistem Informasi Debitur
dikecualikan untuk jenis KPR, KKB, Kartu Kredit dan
Kredit Konsumtif lainnya.
Usaha yang
Usaha produktif
Dibiayai
Jangka Waktu
2014
Proyek
Sumber Dana Bank Pelaksana 100%
1. KUR Mikro plafon maksimal Rp5.000.000,00
Plafon Kredit
2. KUR Retail plafon maksimal Rp 500.000.000,00
Suku Bunga1. KUR Mikro : 22% p.a.
Kredit 2. KUR Retail : 14% p.a.
Suku Bunga
-
Petani/Peternak
1. KMK maksimal 3 tahun dan dapat diperpanjang
Jangka Waktu menjadi 6 tahun
Kredit 2. KI maksimal 5 tahun dan dapat diperpanjang sampai 10
tahun
1. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian :
menunjuk Bank Pelaksana
2. Kementerian Keuangan : menyediakan dana APBN dan
membayar subsidi untuk IJP
3. Kementerian teknis : Mempersiapkan UMKM dan
Peran
Koperasi untuk dapat dibiayai dengan KUR,
Pemerintah
menetapkan kebijakan dan prioritas usaha yang akan
menerima kredit, melakukan pembinaan dan
pendampingan selama masa kredit,memfasilitasi
hubungan antara UMKM dengan pihak lain (misal
:persh inti)
Target
Rp 20 triliun per tahun
Realisasi
Daerah
Seluruh propinsi
Realisasi
BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, Bank Bukopin, Bank
Bank Syariah Mandiri,13 BPD (Bank DKI, Bank Nagari,
Pelaksana Bank Jabar Banten, Bank Jateng, BPD DIY, Bank
Jatim, Bank NTB, Bank Kalbar, BPD Kalsel, Bank
Kalteng, Bank Sulut, Bank Maluku dan Bank Papua)
1. Sosialiasi kepada masyarakat masih kurang
2. Suku bunga KUR masih dirasakan cukup tinggi
3. Keterlambatan pembayaran klaim dari Lembaga
Permasalahan Penjamin
4. Kesulitan mencari debitur yang sesuai dengan kriteria
dan persyaratan
5. Terdapat dispute terhadap beberapa ketentuan KUR.

Peran UMKM dan Kaitannya dengan


Wirausaha dalam Menyambut Masyarakat
Ekonomi ASEAN
Peran UMKM dan Kaitannya dengan Wirausaha dalam Menyambut
Masyarakat Ekonomi ASEAN
Oleh: Calvin Klein Marcellino
NRP:3203014151

Istilah MEA sudah tidak asing lagi di telinga kita, mengingat hal tersebut juga
menjadi headline serta berita yang hangat-hangatnya di kalangan masyarakat Indonesia.
Dimana MEA hampir setiap hari banyak didiskusikan di berbagai media surat kabar maupun
berita di TV. MEA sendiri merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN, dimana
ASEAN akan menjadi satu komunitas dimana alur perekonomian akan bergerak secara bebas.
Menurut Syukriah dan Hamdani (2013:111) dengan adanya MEA 2015, maka
diharapkan ASEAN akan memiliki 4 karakteristik utama yaitu sebagai berikut :
1. pasar tunggal dan kesatuan basis produksi
2. kawasan ekonomi yang berdaya saing
3. pertumbuhan ekonomi yang merata
4. meningkatkan kemampuan untuk berintegrasi dengan perekonomian global
Oleh karena itu, dengan diadakannnya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun
2015 mendatang, maka negara-negara ASEAN mulai melakukan persiapan dengan berbagai
upaya pembenahan serta pertumbuhan di berbagai sektor ekonomi, tak terkecuali Indonesia.
Hal yang menarik perhatian kita akhir-akhir ini, yang berhubungan dengan MEA
(Masyarakat Ekonomi ASEAN) yaitu peran dari UMKM yang dimiliki Indonesia. Seperti
yang dikutip dari Kuncoro (2009), di mana peran UMKM sangat penting dalam rangka
menumbuhkan perekonomian dalam negeri.
Sebenarnya UMKM sudah memberikan pengaruh yang positif bagi Indonesia sejak
adanya krisis global menghantam dan memberikan efek negatif pada perekonomian beberapa
negara. Di mana UMKM menyelamatkan perekonomian kita dan menjadi satu-satunya solusi
pertumbuhan ekonomi. Dapat dibuktikan ketika krisis global yang terjadi beberapa waktu
lalu, perekonomian indonesia masih tetap stabil dan tetap menunjukkan pertumbuhan. Hal itu
semakin diperkuat oleh pernyataan (Sarosa, 2000 dalam Sriyana, 2010) yang mengatakan
bahwa di Indonesia, sektor UMKM bahkan menjadi tumpuan kehidupan yang semakin besar
sejak terjadinya krisis ekonomi yang dimulai pada tahun 1997.
Oleh karena itu UMKM tidak boleh di pandang sebelah mata, karena saat ini UMKM
merupakan salah satu fondasi utama perekonomian nasional di mana sebagian besar pelaku
usaha di Indonesia berasal dari UMKM.
Lalu, apa saja peran positif UMKM bagi perekonomian Indonesia? Berikut ini
merupakan jawaban yang dapat menggambarkan peran positif UMKM bagi perekonomian
Indonesia Kuncoro (2009: 326-327);
1. Banyak menyerap tenaga kerja dan menggunakan sumber daya lokal
2. UMKM memegang peranan penting sebagai penyumbang ekspor tertinggi, terutama ekspor
non migas
Data penyerapan tenaga kerja berikut merupakan bukti kongkret bahwa UMKM
menyerap banyak tenaga kerja di Indonesia (http://www.depkop.go.id/)
Dimana dari tabel diatas dapat diketahui bahwa penyerapan tenaga kerja dari UMKM cukup
besar dan cenderung mengalami peningkatan tiap tahunnya. Hal ini memberikan pengaruh
positif bagi negara kita dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja.
UMKM menyerap banyak tenaga kerja juga diperkuat oleh Sriyana (2010) yang
mengutip pernyataan dari ILO (International Labour Organization), di mana 60% buruh di
kota-kota negara berkembang diserap oleh kegiatan di sektor UMKM. Dikatakan juga bahwa
peran UMKM sangat penting karena mampu menciptakan pasar baru, mengembangkan
perdagangan, mengelola sumber daya alam, mengurangi kemiskinan, serta membangun
masyarakat dan menghidupi keluarga mereka tanpa control dan fasilitas dari pihak
pemerintah daerah yang memadai.
Berikut ini merupakan penelitian kontribusi penyerapan tenaga kerja melalui UMKM
yang dilakukan di Depok Sudarno (2011:139). Hasil penelitian tersebut memberikan
informasi kepada kita bahwa penyerapan tenaga kerja oleh UMKM di Depok sebesar 534.500
orang atau sekitar 73% dari angkatan kerja. Namun terdapat permasalahan yang sering
dihadapi oleh pengusaha UMKM di Depok adalah masalah kurangnya modal 45%, disusul
oleh kurang terampilnya sumber daya manusia, masalah persediaan bahan baku, dan
masalah-masalah lainnya seperti persaingan, lokasi, perijinan, dan pemasaran.
Contoh penelitian lainnya yaitu dari Sriyana (2010:79) yang melakukan penelitian
UMKM di Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Dari penelitian tersebut memberikan informasi
baru mengenai UMKM di Indonesia, di mana UMKM di Indonesia masih jauh dari kata
sempurna dikarenakan masih banyak masalah yang masih dihadapi oleh para pelaku usaha
tersebut. Dari penelitian yang dilakukan, terdapat 8 masalah utama yang dihadapi UMKM di
Kabupaten Bantul, Provinsi DIY, antara lain:
1. Pemasaran
2. Modal dan pendanaan
3. Inovasi dan pemanfaatan teknologi informasi
4. Pemakaian bahan baku
5. Peralatan teknologi
6. Penyerapan dan pemberdayaan tenaga kerja
7. Rencana pengembangan usaha
8. Kesiapan menghadapi tantangan luar
Adapun masalah-masalah UMKM yang berasal dari dalam dan luar menurut (Hafsah,
2004 dalam Jauhari, 2010) sebagai berikut;
A. Masalah internal UMKM
1. Kurangnya Permodalan
2. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas
3. Lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar.
B. Masalah eksternal UMKM
1. Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif
2. Terbatasnya sarana dan prasarana usaha
3. Implikasi atau keterlibatan otonomi daerah
4. Implikasi atau keterlibatan perdagangan bebas
5. Sifat produk dengan lifetime pendek
6. Terbatasnya akses pasar
Sehubungan dengan masalah yang dihadapi oleh UMKM di Bantul maka Sriyana
(2010) memberikan rekomendasi strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan
UMKM menuju ke arah yang lebih baik, antara lain:
1. Kemudahan dalam akses permodalan
2. Bantuan pembangunan prasarana
3. Pengembangan skala usaha
4. Pengembangan jaringan usaha, pemasaran, dan kemitraan usaha
5. Pengembangan sumber daya manusia
6. Peningkatan akses teknologi
7. Mewujudkan iklim bisnis yang lebih kondusif
Adapula strategi pengembangan UMKM dengan memanfaatkan e-commerce atau
pemasaran elektronikm menurut Jauhari (2010:159). Upaya ini cukup membantu, karena
dengan memanfaatkan e-commerce dapat memasarkan produk dengan cakupan yang luas,
tidak mengenal ruang dan waktu, serta dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.
Manfaat dan keuntungan lain dari e-commerce lainnya adalah untuk media promosi
dalam rangka meningkatkan volume penjualan, baik penjualan online maupun konvensional.
Disamping keuntungan tersebut, ternyata beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa
dengan menggunakan e-commerce dapat mendongkrak volume penjualan serta
mempromosikan produk dalam presentase yang tinggi (Alexander, 2002 Supardi, 2008 dan
Wuwey, 2009 dalam Jauhari, 2010).
Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya menurut Widyani (2013) yaitu melakukan
mitra kerja untuk meningkatkan peran dan kinerja UMKM. Dimana dengan melakukan mitra
kerja maka UMKM akan dapat terus berinovasi dan melakukan perkembangan sehingga
produk yang dihasilkan dapat bersaing di kawasan domestik maupun mancanegara.
Manfaat apabila melakukan mitra kerja dari berbagai sudut pandang menurut Widyani
(2013:9), sebagai berikut:
1. Sudut bisnis : meningkatkan efisiensi, produktivitas, kualitas produk, meminimalisasi biaya
produksi, mencegah suplai yang tidak menentu, menekan biaya penelitian dan
pengembangan, serta meningkatkan daya saing.
2. Sudut moral: kemitraan menunjukkan upaya kebersamaan dan kesetaraan.
3. Sudut sosial politik : kemitraan usaha dapat mencegah kesenjangan sosial, kecemburuan
sosial, dan gejolak sosial politik.

Seperti yang dikutip dari (http://www.antaranews.com/berita/436319/kesiapan-


koperasi-ukm-indonesia-menatap-era-mea-2015), Syarif Hasan Koperasi dan UKM dalam
negeri harus meningkatkan kualitas dan kinerja untuk menyambut MEA 2015. Kita harus
bisa menjadi 'market leader', terutama di pasar sendiri. Saatnya kita maju dan mandiri dalam
menghadapi pasar bebas".
Satu hal lagi yang menarik perhatian dalam rangka persiapan menyambut MEA
adalah pentingnya perpaduan antara jiwa entrepreneur atau wirausahawan dengan pengusaha
UMKM di Indonesia. Dimana jiwa entrepreneur di negara yang berkembang khususnya
Indonesia membawa pengaruh yang cukup banyak, terutama dalam persiapan menuju MEA.
Seperti yang dikatakan Rachbini (2002) dalam bahwa Kewirausahaan
(entrepreneurship) merupakan persoalan yang paling penting di dalam perekonomian suatu
bangsa yang sedang berkembang. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat
ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kewirausahaan.
Dari pernyataan Rachbini (2002) dapat disimpulkan bahwa jiwa kewirausahaan
memegang peranan sangat penting bagi pembangunan ekonomi suatu negara. Bayangkan saja
apabila sebagian besar pelaku bisnis UMKM di Indonesia memiliki jiwa kewirausahaan atau
entrepreneur maka akan banyak terciptanya berbagai inovasi serta gagasan baru yang dapat
dijadikan sebagai senjata untuk meningkatkan perekonomian negara.
Kesimpulannya, meskipun UMKM meskipun berperan cukup besar dalam
perekonomian di Indonesia, namum UMKM masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak yang dihantui oleh berbagai masalah, baik dari internal maupun eksternal. Oleh
karena itu, masih banyak prosedur serta masalah yang masih harus diperbaiki dan
diselesaikan oleh pemerintah kita.
Pemerintah Indonesia juga harus bisa melihat peluang ini dengan baik. Banyak upaya
yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang
dimiliki. Mengingat lagi bahwa salah satu masalah besar yang dihadapi UMKM Indonesia
yaitu kualitas sumber daya manusia yang kurang baik. Dan disinilah peran wirausahawan
atau entrepreneur terasa sangat penting bagi para calon pelaku UMKM. Apabila setiap
pelaku UMKM memiliki jiwa wirausahawan atau entrepreneur maka perekonomian UMKM
akan semakin maju dan sama halnya dengan perekonomian negara.
Maka dari itu pemerintah Indonesia harus dapat melihat peluang ini dengan baik, di
mana mereka dapat melakukan pembinaan serta pengarahan untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia agar lebih terampil dan berwawasan luas. Pemerintah juga dapat
memberikan pembekalan serta pelatihan mengenai cara menjadi wirausahawan atau
entrepreneur yang baik dan berkualitas untuk meningkatkan kualitas para pelaku UMKM di
negara kita tercinta ini agar dapat menjadi market leader di ASEAN.

Daftar Pustaka
Buku:
Kuncoro, Mudrajad. 2009. Ekonomika Indonesia: Dinamika Lingkungan Bisnis di Tengah
Krisis Global. Yogjakarta: UPP STIM YKPN.
Pujoalwanto, Basuki. 2014. Perekonomian Indonesia: Tinjauan Historis, Teoritis, dan
Empiris. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Jurnal:
Jauhari, Jaidan. 2010. UPAYA PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH
(UKM) DENGAN MEMANFAATKAN E-COMMERCE
http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jsi/index
Sriyana, Jaka. 2010. Strategi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Kabupaten Bantul
http://dppm.uii.ac.id/dokumen/dikti/files/DPPM-UII_09._79-
103_STRATEGI_PENGEMBANGAN_USAHA_KECIL_DAN_MENENGAH_(UKM).pdf
Sudarno. 2011. Kontribusi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Dalam Penyerapan
Tenaga Kerja di Depok
http://jurnalpnj.com/index.php/ekbis/article/view/446/pdf_23
Widyani, Wanda. 2013. Pentingnya Pola Kemitraan Dalam Rangka Meningkatkan Peran
dan Kinerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Jawa Timur Periode 2006-2011
http://journal.ubaya.ac.id/index.php/jimus/article/view/566/542
Hamdani, Iman dan Syukriah Ana. 2013. Peningkatan Eksistensi UMKM Melalui
Comparative Advantage Dalam Rangka Menghadapi MEA 2015 di Temanggung
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/edaj/article/download/1395/1362
Website:
http://www.depkop.go.id/
http://www.antaranews.com/berita/436319/kesiapan-koperasi-ukm-indonesia-menatap-era-
mea-2015