Anda di halaman 1dari 17

MODUL PERKULIAHAN

Bahasa
Indonesia
Tata Paragraf Bahasa
Indonesia

Fakultas Program Studi Tatap Maya Kode MK Disusun Oleh

10
Teknik Mesin MK82009 Sugeng Winarna,M.Pd

Abstract Kompetensi
Paragraf merupakan seperangkat Setelah mempelajari bab ini diharapkan
kalimat yang membicarakan suatu mahasiswa mampu memahami,
gagasan atau topik. Kalimat-kalimat menentukan, dan menjelaskan
dalam paragraf memperlihatkan kegunaan paragraf, berbagai macam
kesatuan pikiran atau mempunyai paragraf, berbagai syarat pembentukan
keterkaitan dalam membentuk paragraf, letak kalimat utama, dan pola
gagasan atau topik tersebut. macam pengembangan paragraf.
paragraph menurut posisi kalimat
topiknya terbagi atas; deduktif, induktif,
deduktif-induktif, dan penuh kalimat
topik.
Latar Belakang

Paragraf merupakan seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau


topik. Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai
keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut. 1 Memang, sebuah paragraf
dapat saja terdiri atas lebih dari empat atau lima kalimat, tiga buah kalimat, dua buah
kalimat, bahkan sebuah kalimat. Kendatipun paragraf itu mengandung lebih dari empat atau
lima buah kalimat, tidak akan ada satu kalimat pun yang membicarakan persoalan atau topik
lain. Seluruh kalimat tersebut tentunya hanya akan membicarakan sebuah masalah yang
bertalian erat dengan pokok bahasan/topik pada paragraf tersebut.

Oleh karena itu, sebuah pikiran tidak cukup hanya dituangkan dalam sebuah kalimat,
tetapi perlu juga untuk dikembangkan, sehingga jadilah kumpulan kalimat tersebut dengan
paragraf. Paragraf merupakan unit keterampilan berbahasa pada taraf komposisi, yaitu
kumpulan beberapa kalimat yang secara bersama-sama mendukung satu kesatuan pikiran.
Kesatuan pikiran ini dijewantahkan dalam pokok pikiran serta beberapa pikiran penjelas dan
diaktualisasikan dalam kalimat pokok dan beberapa kalimat penjelas. Jadi, pada dasarnya,
paragraf itu hanya terdiri atas dua hal, yaitu isi dan bentuk. Yang dimaksud isi ialah pikiran,
sedangkan bentuk adalah kalimat-kalimat yang mendukung pikiran. 2 Dari segi isi, paragraf
mensyaratkan adanya kesatuan pikiran, sedangkan dari segi bentuk mensyaratkan
kepaduan.

Pengertian di atas menyiratkan bahwa sebuah paragraf itu harus mengandung


pertalian yang logis antarkalimatnya. Tidak akan ada satu pun kalimat di dalam sebuah
paragraf yang tidak bertautan, apalagi tidak bertautan dengan ide pokoknya. Ide pokok
dalam sebuah paragraf sesungguhnya merupakan sebuah keharusan. Persis dengan
sebuah kalimat yang dituntut memiliki pesan pokok yang harus disampaikan, sebuah
paragraf juga mutlak harus memiliki ide utama atau pokok pikiran tersebut. Tanpa ide pokok
tersebut, sebuah kumpulan kalimat tidak dapat dianggap sebagai sebuah paragraf.3 Dengan
adanya pertautan yang terjadi antara kalimat satu dengan kalimat lainnya itu mengandaikan
akan terjadinya kepaduan dan kesatuan yang membangun paragraf itu. Selain itu, untuk
memberi kejelasan dan pengembangan, paragraf juga mensyaratkan adanya kelengkapan.
1
Solihin, Hudori, K.A., dan Embay Saadah. Terampil Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.
(Jakarta:Uhamka Press, 2003), hlm. 77.

2
Minto Rahayu. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi:Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian.
(Jakarta:Grasindo, 2009), hlm. 80.

3
R. Kunjana Rahardi. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. (Jakarta:Erlangga, 2009), hlm. 102.

2016 Bahasa Indonesia


2 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Dari segi penglihatan, paragraf biasanya tampak sebagai penggalan naskah teks
karena biasanya baris pertama bertakuh atau berupa suatu unit yang dipisahkan dengan
perbedaan spasi. Kalimat pertama bertakuk ke dalam sebanyak lima ketukan spasi untuk
jenis karangan biasa, misalnya, surat, dan delapan ketukan untuk jenis karangan ilmiah
formal, seperti; makalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Kemudian, paragraf menggunakan
sebuah kalimat topik dan selebihnya merupakan kalimat pengembang yang berfungsi untuk
menjelaskan, menguraikan, atau menerangkan pikiran utama yang ada dalam kalimat topik.
Paragraf menggunakan pikiran penjelas yang dinyatakan dalam kalimat penjelas. Kalimat-
kalimat ini berisi detail-detail kalimat topik.4 Jadi, paragraf sebenarnya bukanlah sekumpulan
kalimat topik, melainkan paragraf itu hanya berisi satu kalimat topik dan beberapa kalimat
penjelas. Setiap kalimat penjelas berisi detail yang sangat spesifik, dan tidak mengulang
pikiran penjelas lainnya.

Kegunaan Paragraf

Dalam karangan yang panjang, paragraf mempunyai arti dan fungsi yang penting.
Dengan paragraf tersebut, pengarang dapat mengekspresikan keseluruhan gagasan secara
utuh, runtut, lengkap, menyatu, dan sempurna, sehingga bermakna dan dapat dipahami
oleh pembaca sesuai dengan keinginan penulisnya. Lebih jauh daripada itu, paragraf dapat
mendinamiskan sebuah karangan, sehingga menjadi lebih hidup, dinamis, dan energik,
sehingga pembaca menjadi penuh semangat. Artinya, paragraf mempunyai fungsi strategis
dalam menjembatani gagasan penulis dan pembacanya.5 Untuk itu, agar paragraf memiliki
fungsi startegis, berikut kegunaan paragraf, yaitu; (1) dapat mengekspresikan gagasan
secara tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian
kalimat yang tersusun secara logis, dalam satu kesatuan, kemudian (2) dapat menandai
peralihan gagasan baru bagi karangan yang terdiri beberapa paragraf, ganti paragraf berarti
ganti pikiran, (3) paragraf juga memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan
memudahkan pemahaman bagi pembacanya, dan (4) memudahkan pengembangan topik
karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil, serta (5) dapat memudahkan
pengendalian variabel terutama karangan yang terdiri atas beberapa variabel.6

Karangan yang terdiri dari beberapa paragraf, masing-masing berisi pikiran-pikiran


utama dan diikuti oleh sub-subpikiran penjelas, sebuah paragraf belum cukup untuk

4
Widjono Hs. Bahasa Indonesia:Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.
(Jakarta:Grasindo, 2007), hlm. 174.

5
Alek A dan Achmad H.P. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,
2010), hlm. 209.

6
Widjono Hs. Op.Cit., hlm. 175.

2016 Bahasa Indonesia


3 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mewujudkan keseluruhan karangan. Meskipun begitu, sebuah paragraf merupakan satu
sajian informasi yang utuh. Adakalanya sebuah paragraf terdiri hanya satu paragraf karena
karangan itu hanya berisi satu pikiran. Untuk mewujudkan suatu kesatuan pikiran, sebuah
paragraf yang terdiri dari satu pikiran utama dan beberapa pikiran pengembang dapat
dipolakan sebagai berikut; pikiran utama, beberapa pikiran pengembang, pikiran penjelas
atau pikiran pendukung.7 Pikiran-pikiran pengembang dapat dibedakan kedudukannya
sebagai pikiran pendukung dan pikiranpenjelas.

Sebuah pikiran utama akan dikembangkan dengan beberapa pikiran pendukung, dan
tiap pikiran pendukung akan dikembangkan dengan beberapa pikiran penjelas. Sebuah
paragraf terdiri dari sebuah kalimat utama dan beberapa kalimat pengembang. Kalimat
utama menyampaikan pikiran utama, dan kalimat penjelas menyampaikan pikiran penjelas.
Salah satu cara untuk merangkai kalimat-kalimat yang membangun paragraf itu ialah
menempatkan kalimat utama pada awal paragraf yang kemudian disusul dengan kalimat-
kalimat pengembangnya.8 Hal tersebut dapat kita lakukan, tentunya, setelah kita
memberikan pengembangan yang memadai, yang kemudian ditutup dengan kesimpulan.

Macam-macam Paragraf

Macam paragraf memang banyak ragamnya. Untuk membedakan antara yang satu
dengan lainnya, pembagian macam paragraf dapat dikelompokkan. Menurut posisi kalimat
topiknya, paragraf terdiri atas empat macam, yaitu; paragraf deduktif, paragraf induktif,
paragraf deduktif-induktif, dan paragraf penuh kalimat topik. Menurut sifat isinya, paragraf
dibedakan atas paragraf persuasi, paragraf argumentasi, paragraf narasi, paragraf deskripsi,
dan paragraf eskposisi, dan menurut fungsinya dalam sebuah karangan, paragraf biasanya
terbagi dalam tiga jenis atau tiga macam, yakni paragraf pembuka, paragraf pengembang,
dan paragraf penutup.9 Karangan atau tulisan minimal dalam bidang apa pun, hampir selalu
memiliki konstruksi tiga paragraf demikian ini. Dalam konteks surat-menyurat atau
korespondensi, prinsip tiga paragraf demikian ini juga berlaku. Sebuah surat akan dikatakan
baik bila memiliki kualifikasi yang baik pada tiga jenis paragraf seperti yang tekah disebutkan
di awal tersebut. Sebuah karya ilmiah, baik populer maupun akademik yang berlaku
universal itu, juga mengikuti prinsip penjenisan paragraf seperti yang disampaikan di depan
tadi. Esai ilmiah yang ditulis untuk sebuah media massa mungkin wujudnya seperti kolom,
catatan, opini, feature, atau yang lainnya, juga dipastikan akan setia dengan penjenisan
7
Alek. Op.Cit., hlm. 210.

8
Widjono Hs. Op.Cit.

9
Lamuddin Finoza. Komposisi Bahasa Indonesia:untuk Mahasiswa Nonjurusan Bahasa. (Jakarta:Diksi Insan
Mulia, 2009), hlm. 198.

2016 Bahasa Indonesia


4 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
paragraf yang sedemikian tersebut.10 Jadi, dengan model pembagian seperti tersebut di
atas, sebuah paragraf akan dapat dideteksi, misalnya, sebuah paragraf dapat saja disebut
induktif dari segi posisi kalimat topiknya, disebut eksposisi dari segi isinya, dan disebut
alinea pembuka dari segi fungsinya dalam karangan.

Macam paragraf menurut fungsinya dalam sebuah karangan, terdiri atas; (1)
paragraf pembuka yaitu paragraf pengantar untuk sampai pada segala pembicaraan yang
akan menyusul kemudian.11 Oleh sebab itu, paragraf pembuka harus dapat menarik minat
dan perhatian pembaca, serta sanggup menghubungkan pikiran pembaca kepada masalah
yang akan disajikan selanjutnya. Salah satu cara untuk menarik perhatian ini ialah dengan
mengutip pernyataan yang memberikan rangsangan dari para orang terkemuka atau orang
yang terkenal. Atau dapat juga dengan cara memulai tulisan dengan peribahasa atau
anekdot, dapat juga dengan cara membatasi arti dari pokok atau subjek tulisan, dan
menunjukkan betapa pentingnya subjek tulisan, membuat tantangan atas suatu pernyataan
atau pendapat, menciptakan suatu kontras yang menarik, mengungkapkan pengalaman
pribadi baik yang menyenangkan maupun yang pahit, menyatakan maksud dan tujuan
tulisan, memulai tulisan dengan pertanyaan. (2) Paragraf pengembang atau paragraf
penghubung adalah paragraf yang terletak antara paragraf pembuka dengan paragraf yang
terakhir di dalam bab atau anak bab.12 Paragraf ini membicarakan pokok penulisan yang
dirancang. Paragraf pengembang mengemukakan inti persoalan yang akan dikemukakan.
Oleh karenanya, antara paragraf yang satu dengan paragraf berikutnya harus
memperlihatkan hubungan yang serasi dan logis. Paragraf dapat dikembangkan dengan
beragam pola paragraf. Fungsi utama paragraf pengembang adalah selain untuk
mengemukakan inti persoalan sebagaimana yang telah diungkapkan pada kalimat
sebelumnya, juga dapat untuk memberikan ilustrasi atau contoh, menjelaskan hal yang akan
diuraikan pada paragraf berikutnya, atau meringkas paragraf sebelumnya, serta
mempersiapkan dasar atau landasan bagi simpulan.13 Paragraf juga dapat dikembangkan
dengan cara ekspositoris, atau dengan cara deskriptif, dengan cara naratif, atau dengan
cara argumentatif. (3) Paragraf penutup merupakan paragraf yang terdapat pada akhir
karangan atau pada akhir satu kesatuan yang lebih kecil di dalam karangan itu. Biasanya,
paragraf penutup berupa simpulan semua pembicaraan yang telah dipaparkan pada bagian-

10
Rahardi. Op.Cit. hlm. 121 122

11
E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi:Sebagai Mata
Kuliah Pengembangan Kepribadian. (Jakarta:Akapress, 2008) hlm. 122

12
Solihin. Op.Cit., hlm. 81.

13
Finoza. Op.Cit., hlm. 204.

2016 Bahasa Indonesia


5 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bagian sebelumnya.14 Mengingat paragraf penutup dimaksudkan untuk mengakhiri karangan
atau bagian karangan, penyajiannya diharapkan memperhatikan hal-hal berikut ini; sebagai
bagian penutup, paragraf ini tidak boleh terlalu panjang, kemudian, isi paragraf harus berupa
simpulan sementara atau simpulan akhir sebagai cerminan inti seluruh uraian, dan sebagai
bagian yang paling akhir dibaca, hendaknya paragraf ini dapat menimbulkan kesan yang
mendalam bagi pembaca.15 Jadi, karena paragraf penutu hanya terdapat di akhir sebuah
teks, isinya dapat berupa kesimpulan dari paragraf pengembang atau dapat juga berupa
penegasan kembali tentang hal-hal yang dianggap penting dari paragraf pengembang.

Macam paragraf menurut sifat isinya/teknik pemaparannya, paragraf dibedakan atas


paragraf persuasi, paragraf argumentasi, paragraf narasi, paragraf deskripsi, dan paragraf
eskposisi. Pembedaan seperti tersebut tentunya bergantung pada maksud penulisnya dan
tuntutan konteks serta sifat informasi yang akan disampaikan. Penyelarasan sifat isi
paragraf dengan isi karangan sebenarnya sudah cukup beralasan karena di awal sudah
dinyatakan bahwa pekerjaan menyusun paragraf adalah pekerjaan mengarang juga.
Walaupun karangan yang berbentuk satu alinea merupakan karangan sederhana, prinsip
penulisannya sama dengan karangan kompleks, sama-sama mempunyai topik,
16
pendahuluan, uraian, dan penutup. Untuk lebih jelasnya, perhatikan uraian berikut ini;

Paragraf deskripsi merupakan paragraf yang melukiskan atau memerikan sesuatu.


Artinya, paragraf ini melukiskan apa yang terlihat di depan mata. Jadi, paragraf ini bersifat
tata ruang atau tata letak. Pembicaraannya dapat berurutan dari atas ke bawah atau dari kiri
ke kanan. Dengan kata lain, deskriptif berurusan dengan hal-hal kecil yang tertangkap oleh
pancaindra,17 contoh:

Pasar Tanah Abang adalah sebuah pasar yang sempurna. Semua barang ada di sana. Di
toko yang paling depan berderet toko sepatu dalam dan luar negeri. Di lantai dasar terdapat
toko kain yang lengkap dan berderet-deret. Di samping kanan pasar terdapat warung-
warung kecil penjual sayur dan bahan dapur. Di samping kiri ada pula berjenis-jenis buah-
buahan. Pada bagian belakang, dapat kita temukan berpuluh-puluh pedagang daging.
Belum lagi kita harus melihat lantai satu, dua, dan tiga.

14
Arifin. Op.Cit.

15
Finoza. Op.Cit.

16
Finoza. Op.Cit. hlm. 201

17
Arifin. Op.Cit. hlm. 131

2016 Bahasa Indonesia


6 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Paragraf ekspositoris/eksposisi, yaitu yang disebut juga paragraf paparan. Paragraf
ini menampilkan suatu objek. Peninjauannya tertuju pada satu unsur saja. Penyampaiannya
dapat menggunakan perkembangan analisis kronologis/keruangan.18 Atau singkatnya, ini
merupakan paragraf yang memaparkan suatu fakta atau kejadian tertentu, contoh;

Pasar Tanah Abang adalah pasar yang kompleks. Di lantai dasar terdapat sembilan
puluh kios penjual kain dasar. Setiap hari rata-rata terjual tiga ratus meter untuk setiap kios.
Dari data ini dapat diperkirakan berapa besarnya uang yang masuk ke kas DKI dari Pasar
Tanah Abang.

Paragraf argumentasi merupakan paragraf yang membahas suatu masalah dengan


bukti-bukti atau alasan yang mendukung. Paragraf ini sebenarnya juga dapat dimasukkan ke
paragraf ekspositoris, selain itu, paragraf argumentasi disebut juga paragraf persuasi.
Paragraf ini lebih bersifat membujuk atau meyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau
objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan pekembangan analisis.19, contoh:

Dua tahun terakhir, terhitung sejak Boeing B-737 milik maskapai penerbangan Aloha
Airlines celaka, isu pesawat tua mencuat ke permukaan. Ini bisa dimaklumi sebab pesawat
yang badannya koyak sepanjang 4 meter itu sudah dioperasikan lebih dari 19 tahun. Oleh
karena itu, adalah cukup beralasan jika orang menjadi cemas terbang dengan pesawat
berusia tua. Di Indonesia, yang mengagetkan, lebih dari 60% pesawat yang beroperasi
adalah pesawat tua. Amankah? Kalau memang aman, lalu bagaimana cara merawatnya dan
berapa biayanya sehingga ia tetap nyaman dinaiki?

Paragraf naratif atau karangan naratif /narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan


cerita. Oleh karena itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi biasanya hanya
ditemukan dalam buku harian, novel, cerpen, atau hikayat. 20 Jadi, paragraf naratif/narasi
merupakan paragraf yang menuturkan peristiwa/keadaan dalam bentuk cerita/kisahan,
contoh;

Wandasti Navely dilahirkan pada hari Sabtu Legi, tanggal 14 Maret 2009, pukul 13.40 WIB
di Klinik Mugi Rahardjo, Kepa Duri, Jakarta Barat. Saat ini usianya sudah tiga tahun empat
bulan. Dia memiliki banyak teman. Dia bersekolah di PAUD Melati Kemanggisan, Jakarta
Barat. Setiap pagi, ketika akan berangkat ke sekolah, dia selalu diantar oleh ayah dan
ibunya. Banyak sekali acara ulang tahun di sekolahnya itu. Selama bersekolah, Wandasti

18
Ibid.

19
Ibid. hlm.132

20
Ibid

2016 Bahasa Indonesia


7 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sudah pergi piknik sebanyak dua kali. Yang pertama mengunjungi Kolam Renang
Marcopollo di Bogor, pada hari Rabu, 18 April 2012, dan yang kedua ke Ancol, pada hari
Rabu, 13 Juni 2012. Wandasti merupakan nama yang berupa akronim dari wanita dambaan
setiap insan dan Navely yang berasal dari bahasa Rusia yaitu nasha vechnaya lyubov yang
dalam bahasa Indonesia adalah cinta abadi kami. Ini sebagai tanda bahwa seorang anak
merupakan perlambang keabadian cinta kasih kedua orang tuanya. Sejak usia 18 bulan,
Wandasti sudah memiliki alamat e-mail dan facebook, yaitu
wandasti_navely_2009@yahoo.co.id. Para orang tua siswa di sekolah tersebut ternyata
saling berkirim kabar melalui jejaring sosial tersebut.

Paragraf persuasif/persuasi yaitu alinea yang mempromosikan sesuatu dengan cara


mempengaruhi atau mengajak pembaca.21

WAP (Wireless Application Protocol) adalah aplikasi yang mewujudkan impian mengakses
dunia informasi dan layanan terkini langsung dari ponsel Anda layaknya akses internet.
Dengan Ericcson R320S, salah satu ponsel pertama yang dilengkapi dengan WAP, Anda
dengan cepat dapat mengakses ke pusat data informasi dan layanan melalui situs WAP.
Semuanya dapat dilakukan dari telapak tangan Anda. Dengan dilengkapi fitur-fitur inovatif,
dapat dikatakan ponsel tipis yang memiliki berat 95 gr ini adalah sebuah kantor di dalam
kantong Anda.

Paragraf persuasi banyak dipakai dalam penulisan iklan, terutama advertorial yang
dewasa ini marak mengisi lembaran koran dan majalah. Paragraf argumentasi, deskripsi,
dan eksposisi umumnya digunakan dalam karangan ilmiah seperti buku, skripsi, disertasi,
makalah, dan laporan. Berita di dalam surat kabar sebagian besar memakai alinea
ekpsosisi. Paragraf narasi sering dipakai dalam karangan fiksi atau nonilmiah seperti novel
dan cerpen, termasuk buku harian. Paragraf narasi tidak dipantang digunakan dalam
karangan ilmiah, misalnya, jika ada bagian karangan yang perlu disajikan dengan gaya
bercerita.

Syarat-syarat Pembentukan Paragraf

Untuk dapat dikatakan sebagai sebuah paragraf yang baik dibutuhkan kesatuan,
kepaduan, termasuk kelengkaan paragraf. Untuk itu akan diuraikan ketiga hal tersebut; (1)
Kesatuan, paragraf hanya berisi satu ide pokok yang dalam pengungkapannya harus
didukung oleh kalimat-kalimat, baik sebagai kalimat utama maupun sebagai kalimat
penjelas. Oleh sebab itu, semua kalimat yang diungkapkan dalam paragraf merupakan
jalinan yang membentuk ide pokok tersebut. Tidak boleh ada satu kalimat yang tidak

21
Finoza. Op.Cit.

2016 Bahasa Indonesia


8 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mendukung ide pokok.22 Kesatuan di sini juga bukan berarti ia hanya memuat satu hal.
Sebuah paragraf yang memiliki kesatuan bisa saja mengandung beberapa hal atau
beberapa perincian, tetapi semua unsur tadi haruslah bersama-sama digerakkan untuk
menunjang sebuah maksud tunggal atau tema tunggal. Maksud tunggal itulah yang ingin
disampaikan oleh penulis dalam paragraf itu.23 Karena fungsi paragraf untuk
mengembangkan sebuah gagasan tunggal, tidak boleh terdapat unsur-unsur yang sama
sekali tidak mempunyai pertalian dengan maksud tunggal tadi. Contoh paragraf dengan
kesatuan pikiran;

1) Kebebasan berekspresi berdampak pada pengembangan kreativitas baru. 2) Dengan


kebebasan ini, para guru dapat dengan leluasa mengajar siswanya sesuai dengan basis
kompetensi siswa dan lingkungannya. 3) Kondisi kebebasan tersebut menjadikan
pembelajaran berlangsung secara alami, penuh gairah, dan siswa termotivasi untuk
berkembang. 4) Siswa belajar dalam suasana gembira, aktif, kreatif, dan produktif. 5)
Dampak kebebasan ini, setiap saat siswa dapat melakukan berbagai eksperimen dengan
menyinergikan bahan ajar di sekolah dan lingkungannya. 6) Kreativitasnya menjadi tidak
terbendung.

Paragraf (6 2) dikembangkan dengan kesatuan pikiran. Seluruh kalimat membahas


pikiran yang sama yaitu kebebasan berekspresi (kalimat 1). 24 Kalimat ke-2 membahas
dampak pikiran pada kalimat 1 siswa dapat belajar sesuai dengan basis kompetensinya.
Kalimat ke-3 siswa belajar penuh gairah sebagai dampak pikiran kalimat ke-2. Kalimat ke-4
berisi siswa menjadi kreatif sebagai dampak pikiran kalimat ke-3. Kalimat ke-5 berisi siswa
belajar secara sinergis teori dan praktik sebagai dampak pikiran kalimat ke-4. Kalimat ke-6
yaitu kreativitas siswa tidak terbendung sebagai dampak pikiran kalimat ke-5.

Kemudian, (2) kepaduan, bahwa paragraf bukanlah merupakan kumpulan kalimat


yang satu dengan yang lain tidak berhubungan. Paragraf dibangun oleh kalimat-kalimat
yang saling mendukung satu sama lain secara timbal balik. Agar hubungan tampak mesra
dan kompak, kalimat-kalimat harus dipadukan/disetailkan. Jadi, kepaduan menitikberatkan
pada hubungan antara kalimat yang satu dengan lainnya.25 Maka, kepaduan tersebut
diwujudkan dalam pertautan antarkalimat yang dikenal dengan sebutan paragraf. Istilah lain
dari kepaduan paragraf adalah koherensi. Kepaduan yang baik apabila kalimat-kalimat yang

22
Solihin. Op.Cit

23
Alek. Op.Cit. hlm. 214 215

24
Widjono Hs. Op.Cit. hlm. 181

25
Rahayu. Op.Cit. hlm. 82

2016 Bahasa Indonesia


9 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
membina paragraf tersebut baik dan wajar, sehingga mudah dipahami pembaca. Pembaca
dapat dengan mudah mengikuti jalan pikiran penulis. Jadi, perpautan (koherensi) membuat
karangan terpadu, konsisten, dan terpahami. Perpautan tersebut akan dapat dicapai bila
ada jalinan dan ada peralihan yang jelas di antara kalimat dan perenggangan. 26 Namun,
ada pula kejadian yang berbeda dari perpautan, yang satu mengenai hubungan antarkalimat
menurut nalar, sedangkan yang lainnya menyangkut pengungkapan hubungan itu secara
verbal.

Banyak orang Wionogiri pergi ke Jakarta (karena) kota itu disangka orang tempat yang
dengan mudah menyediakan mata pencaharian. (Tetapi), kenyataannya tidak seperti yang
diimpikan orang.

Kepaduan paragraf dapat terjalin jika menggunakan repetisi, kata ganti, dan kata
transisi.27 Berikut adalah contoh paragraf yang memiliki kepaduan dengan menggunakan
repetisi;

Pada dasarnya, paru-paru membersihkan dirinya sendiri secara teratur untuk menjaga agar
pernafasan tetap berlangsung efisien. Dalam hal ini dinding paru-paru dilapisi oleh sel lendir
yang berfungsi menangkap zat-zat asing yang terhirup maupun virus, yang kemudian oleh
bulu-bulu halus zat-zat tersebut didorong keluar oleh paru-paru. Di sini batuk berperan
membersihkan paru-paru dari zat-zat tidak diperlukan tersebut, sehingga merupakan
mekanisme perlindungan.

Berikutnya, (3) kelengkapan paragraf, bahwa paragraf dikatakan lengkap jika berisi
kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat
utama. Namun, sebaliknya, suatu paragraf dikatakan tidak lengkap jika tidak dikembangkan
atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.28

Letak Kalimat Utama

Untuk memenuhi syarat kesatuan, sebuah paragraf hanya memiliki satu ide pokok.
Ide pokok tersebut diwujudkan dalam bentuk kalimat utama. Sebuah paragraf berdasarkan
letak kalimat utamanya digolongkan menjadi (1) paragraf deduktif, (2) paragraf induktif, (3)

26
Alek. Op.Cit. hlm. 218 219

27
Solihin. Op.Cit. hlm. 78 79

28
Yakub Nasucha, Muhammad Rohmadi, dan Agus Budi Wahyudi. Bahasa Indonesia untuk Penulisan Karya
Ilmiah:Mata Kuliah Kepribadian. (Yogyakarta:Media Perkasa, 2010), hlm. 46

2016 Bahasa Indonesia


10 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
paragraf campuran, dan (4) paragraf deskriptif/naratif. 29 Agar lebih jelas, perhatikan uraian
berikut;

Paragraf deduksi dimulai dengan pernyataan tentang kalimat pokok berupa


kesimpulan, kemudian disusul dengan sejumlah rincian yang menjelaskan/mendukung
kesimpulan tersebut,30 atau dengan kata lain dari pernyataan yang bersifat umum ke
pernyataan yang bersifat khusus, contoh;

Kosakata memegang peranan dan merupakan unsur yang paling mendasar dalam
kemampuan berbahasa, khususnya dalam karang-mengarang. Jumlah kosakata yang
dimiliki seseorang akan menjadi petunjuk tentang pengetahuan seseorang. Di samping itu,
jumlah kosakata yang dikuasai seseorang, juga akan menjadi indikator bahwa orang itu
mengetahui sekian banyak konsep. Semakin banyak data yang dikuasai, semakin banyak
pula pengetahuannya. Dengan demikian seorang penulis akan mudah memilih kata-kata
yang tepat/cocok untuk mengungkapkan gagasan yang ada dalam pikirannya.

Paragraf induktif merupakan kebalikan dari paragraf deduktif. Paragraf dimulai


dengan kalimat-kalimat penjelas. Kemudian diikuti oleh kalimat utama. Paragraf ini biasanya
bersifat induktif, dari hal-hal yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum,31 contoh;

Pada waktu anak memasuki dunia pendidikan, pengajaran bahasa Indonesia secara
metodologis dan sistematis bukanlah merupakan halangan baginya untuk memperluas dan
memantapkan bahasa daerahnya. Setelah anak didik meninggalkan kelas, ia kembali
mempergunakan bahasa daerah, baik dalam pergaulan dengan teman-temannya atau
dengan orang tuanya. Ia merasa lebih intim dengan bahasa daerah. Jam sekolah hanya
berlangsung beberapa jam. Baik waktu istirahat atau pun di antara jam-jam pelajaran, unsur-
unsur bahasa daerah tetap menerobos. Ditambah lagi jika sekolah itu bersifat homogen dan
gurunya pun penutur asli bahasa daerah itu. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan
pengetahuan si anak terhadap bahasa daerahnya melaju terus dengan cepat.

Paragraf campuran merupakan paragraf yang letak kalimat utamanya berkombinasi


dengan bagian awal paragraf (deduksi) dengan bagian akhir paragraf (induksi). Ide pokok
mula-mula dituangkan pada awal paragraf kemudian ditegaskan kembali pada akhir
paragraf. Kalimat utama paragraf campuran berarti ada dua kalimat. Kalimat-kalimat

29
Solihin. Op.Cit. hlm.82

30
Rahayu. Op.Cit. hlm.87 88

31
Nasucha. Op.Cit. hlm.47 48

2016 Bahasa Indonesia


11 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
penjelas terletak pada kalimat kedua hingga menjelang dituangkannya kalimat utama yang
berada pada akhir paragraf,32 contoh;

Dunia manusia dihadapkan pada serentetan isi yang amat pelik. Rentetan isu tersebut yakni
pengadaan pangan bagi penduduk dunia yang terus bertambah, masalah kesempatan kerja,
masalah pendidikan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah-masalah
ini akan terus berkembang seirama dengan perkembangan zaman. Rentetan isu tersebut
muncul di sana-sini, pada waktu dan tempat yang berlainan.

Atau dengan kata lain bahwa paragraf campuran meletakkan kalimat pokok/kalimat
utama di awal paragraf dan di akhir paragraf. Pengulangan tersebut juga bertujuan untuk
menegaskan kembali kalimat utama/kalimat pokok, 33 contoh;

Peningkatan taraf pendidikan para petani sama pentingnya dengan usaha peningkatan taraf
hidup. Petani yang berpendidikan cukup dapat mengubah sistem pertanian tradisional,
misalnya bercocok tanam hanya memenuhi kebutuhan pangan, menjadi petani modern yang
produktif. Petani yang berpendidikan cukup, mampu memberikan umpan balik yang setimpal
terhadap gagasan-gagasan yang dilontarkan perencana pembangunan, baik di tingkat pusat
maupun di tingkat daerah. Itulah sebabnya peningkatan taraf pendidikan para petani
dirasakan sangat mendesak.

Paragraf deskriptif/naratif, yaitu paragraf yang juga sering disebut dengan paragraf
tanpa kalimat topik, yaitu paragraf yang terdiri dari beberapa kalimat yang kadang-kadang
menyajikan pikiran-pikiran yang setara, tidak ada pikiran yang lebih utama dari lainnya.
Paragraf yang demikian menyajikan kalimat-kalimat yang sama kedudukannya. Paragraf ini
tidak memiliki pikiran utama dan pikiran penjelas, juga tidak memiliki kalimat utama dan
kalimat penjelas. Semua pikiran dan kalimat sama kedudukannya,34 contoh;

Pukul 07.00 Wandasti Navely sudah berada di kampus. Ia duduk sejenak di taman kampus
sambil tetap menggendong tas kuliahnya. Tidak terdengar suaranya. Lima menit kemudian,
tiga temannya telah datang di tempat yang sama. Masing-masing membuka tasnya dan
mengeluarkan beberapa buku dan alat tulisnya. Suasana sunyi. Lima menit kemudian
mereka bersuara amat gaduh. Mereka berdebat amat serius. Entah apa yang mereka
perdebatkan. Sepuluh menit kemudian suasana kembali sunyi. Mereka semuanya
membaca dan menulis. Tiga puluh menit kemudian salah seorang membacakan hasil akhir

32
Solihin. Op.Cit. hlm.83

33
Rahayu. Op.Cit.

34
Widjono Hs. Op.Cit., hlm. 176.

2016 Bahasa Indonesia


12 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mereka. Setelah itu, mereka kembali berdiskusi dan seorang dari mereka membacakan
kembali hasil diskusinya. Terdengar sayup-sayup, mereka berucap alhamdulillah tugas
kelompok selesai.

Paragraf di atas tidak menunjukkan adanya kalimat topik. Namun, keberadaan


gagasan utama dapat dirasakan oleh pembaca, yaitu diskusi tugas kelompok mahasiswa.
Paragraf yang tanpa kalimat topik ini biasanya juga mengungkapkan proses yang disusun
berdasarkan urutan waktu. Paragraf ini jarang memiliki kalimat pokok atau kalimat utama
yang bersifat umum,35 contoh;

Ada saatnya orang menutup mata dan mencoba meraba-raba jalan dalam kamar hendak
mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang buta. Tidak banyak orang yang sanggup
meneruskan eksperimen itu terlalu lama. Perasaan tidak enak muncul dengan tiba-tiba;
dorongan dan kebutuhan yang kuat untuk melihat kembali terasa sangat mendesak dan
dengan membuka matanya, sesuatu yang lebih dari penglihatan pulih kembali, ia
berhubungan dengan dunia.

Paragraf yang tidak memiliki kalimat utama/kalimat topik, pada hakikatnya, kalimat
utama/kalimat topiknya menyebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut.

Pola Pengembangan Paragraf

Pikiran utama dari sebuah paragraf hanya akan jelas kalau diperinci dengan pikiran-
pikiran penjelas. Tiap pikiran penjelas dapat dituang ke dalam satu kalimat penjelas atau
lebih. Malahan ada juga kemungkinan, dua pikiran penjelas dituang ke dalam sebuah
kalimat penjelas. Tetapi sebaliknya sebuah pikiran penjelas dituang ke dalam sebuah
kalimat penjelas. Jadi, dalam sebuah paragraf terdapat satu pikiran utama dan beberapa
pikiran penjelas.36 Inilah yang dinamakan kerangka paragraf. Kerangka paragraf dapat
dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Contoh kerangka paragraf;

Pikiran utama : Keindahan alam yang mengecewakan

Pikiran penjelas : - Manusia telah mengubah segala-galanya

- Hutan, sawah, dan ladang tergusur


- Pohon sudah tidak ada
- Pagar bunga telah berganti
- Pembangunan gedung-gedung mewah

35
Rahayu. Op.Cit. 88 89

36
Nasucha. Op.Cit. hlm.49 50

2016 Bahasa Indonesia


13 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Paragraf harus diuraikan dan dikembangkan oleh para penulis atau pengarang
dengan variatif. Sebuah karangan ilmiah bisa megambil salah satu model pengembangan
atau bisa pula mengombinasikan beberapa model sekaligus.37

Pertentangan

Paragraf yang dikembangkan dengan pertentangan, biasanya kalimat-kalimat yang terdapat


dalam paragraf tersebut menggunakan ungkapan seperti; berbeda dari, bertentangan dari,
sedangkan, lain halnya dengan, akan tetapi, dan bertolak belakang dari. 38

Alamiah

Pengembangan paragraf secara alamiah didasarkan pada urutan ruang dan waktu
(kronologis). Urutan ruang merupakan urutan yang akan membawa pembaca dari satu titik
ke titik berikutnya dalam satu ruang. Adapun urutan waktu adalah urutan yang
menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.39

Analogi

Pengembangan paragraf secara analogi lazimnya dimulai dari sesuatu yang sifatnya umum,
sesuatu yang banyak dikenal oleh publik, sesuatu yang banyak dipahami kebenarannya
oleh orang dengan sesuatu yang masih baru, sesuatu yang belum banyak dipahami publik.40

Klasifikasi

Dalam pengembangan karangan, kadang-kadang kita mengelompokkan hal-hal yang


mempunyai persamaan. Pengelompokkan ini biasanya diperinci lagi lebih lanjut ke dalam
kelompok-kelompok yang lebih kecil. 41

Sebab-Akibat

Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika menerangkan suatu
kejadian, baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat. Ungkapan yang digunakan
yaitul; padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena.42
37
Rahardi. Op.Cit. hlm. 129

38
Alek. Op.Cit. hlm. 224

39
Widjono Hs. Op.Cit. hlm. 199 200

40
Rahardi. Op.Cit.

41
Nasucha. Op.Cit. 55

42
Alek. Op.Cit. hlm. 222 227

2016 Bahasa Indonesia


14 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Klimaks-Antiklimaks

Pengembangan paragraf dengan pola klimaks, yaitu gagasan utama mula-mula diperinci
dengan sebuah gagasan pengembang yang dianggap paling rendah kedudukannya.
Kemudian berangsur-angsur diikuti gagasan-gagasan lain sampai kepada gagasan yang
paling tinggi kedudukannya atau kepentingannya. Variasi dari pola klimaks adalah
antiklimaks. Pada pola ini penulis mulai dari suatu gagasan atau topik yang dianggap paling
tinggi kedudukannya kemudian perlahan-lahan menurun pada gagasan-gagasan yang lebih
rendah sampai paling rendah.43

Komparatif dan Kontrastif

Sebuah paragraf dalam karangan ilmiah juga dapat dikembangkan dengan cara
diperbandingkan dimensi-dimensi kesamaannya. Kesamaan itu bisa cirinya, karakternya,
tujuannya, bentuknya, dan seterusnya. Nah, pembandingan yang dilakukan dengan cara
mencermati dimensi-dimensi kesamaannya untuk mengembangkan paragraf yang demikian
ini dapat disebut dengan model pengembangan komparatif. Sebaliknya, perbandingan yang
dilakukan dengan cara mencermati dimensi-dimensi perbedaannya dapat disebut dengan
perbandingan kontrastif.44

Contoh-contoh

Dalam karangan ilmiah, contoh dan ilustrasi selalu ditampilkan. Contoh-contoh terurai, lebih-
lebih yang memerlukan penjelasan rinci tentu harus disusun berbentuk paragraf.45

Definisi Luas

Definisi adalah uraian pengertian. Definisi dapat berupa sinonim kata, definisi formal berupa
kalimat, dan definisi luas yaitu uraian pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri dari satu
paragraf. Artinya, ada definisi yang lebih luas yang terdiri dari beberapa paragraf, bahkan
lebih panjang lagi, misalnya, satu bab.46

Proses

Sebuah paragraf dikatakan memakai metode proses apabila isi paragraf menguraikan suatu
proses. Proses merupakan suatu urutan tindakan atau perbuatan untuk menciptakan atau
43
Solihin.Op.Cit. hlm. 84

44
Rahardi.Op.Cit. hlm. 130

45
Finoza.Op.Cit. hlm. 209

46
Widjono Hs.Op.Cit. hlm. 206

2016 Bahasa Indonesia


15 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
menghasilkan sesuatu. Bila urutan atau tahap-tahap kejadian berlangsung dalam waktu
yang berbeda, penulis harus menyusunnya secara runtut (kronologis). Banyak sekali
peristiwa atau kejadian yang prosesnya berbeda satu sama lainnya. Proses kerja suatu
mesin, misalnya, tentu berbeda sangat jauh dengan proses peristiwa sejarah.47

Sudut Pandang

Yang dimaksud dengan sudut pandang adalah tempat dari mana seorang penulis melihat
sesuatu. Bagaimana seorang penulis mengambil suatu posisi tertentu. Bisa pula bagaimana
tanggapan atau tanggapan penulis terhadap subjek yang tengah ditulisnya.48

Rangkuman

Paragraf merupakan seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau


topik. Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai
keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut. Kegunaan paragraf, yaitu; (1)
dapat mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan
perasaan ke dalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis, dalam satu kesatuan,
kemudian (2) dapat menandai peralihan gagasan baru bagi karangan yang terdiri beberapa
paragraf, ganti paragraf berarti ganti pikiran, (3) paragraf juga memudahkan
pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembacanya,
dan (4) memudahkan pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran
yang lebih kecil, serta (5) dapat memudahkan pengendalian variabel terutama karangan
yang terdiri atas beberapa variabel.

Macam paragraf menurut posisi kalimat topiknya, paragraf terdiri atas empat macam,
yaitu; paragraf deduktif, paragraf induktif, paragraf deduktif-induktif, dan paragraf penuh
kalimat topik. Menurut sifat isinya, paragraf dibedakan atas paragraf persuasi, paragraf
argumentasi, paragraf narasi, paragraf deskripsi, dan paragraf eskposisi, dan menurut
fungsinya dalam sebuah karangan, paragraf biasanya terbagi dalam tiga jenis atau tiga
macam, yakni paragraf pembuka, paragraf pengembang, dan paragraf penutup. Untuk
dapat dikatakan sebagai sebuah paragraf yang baik dibutuhkan kesatuan, kepaduan,
termasuk kelengkaan paragraf. Sebuah paragraf berdasarkan letak kalimat utamanya
digolongkan menjadi (1) paragraf deduktif, (2) paragraf induktif, (3) paragraf campuran, dan
(4) paragraf deskriptif/naratif.

47
Finoza.Op.Cit. hlm. 208

48
Solihin.Op.Cit. hlm. 85

2016 Bahasa Indonesia


16 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Pola pengembangan paragraf terdiri dari (1) pertentangan, (2) alamiah, (3) analogi,
(4) klasifikasi, (5) sebab-akibat, (6) klimaks-antiklimaks, (7) komparatif dan kontrastif, (8)
contoh-contoh, (9) definisi luas, dan (10) proses, serta (11) sudut pandang.

Daftar Pustaka
A, Alek dan Achmad H.P. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:Kencana
Prenada Media Group

Arifin, E Zaenal dan S. Amran Tasai. 2008. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan
Tinggi:Sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Jakarta:Akapress

Finoza, Lamuddin. 2009. Komposisi Bahasa Indonesia:untuk Mahasiswa Nonjurusan


Bahasa. Jakarta:Diksi Insan Mulia.

Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia:Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di


Perguruan Tinggi. Jakarta:Grasindo.

Nasucha, Yakub, Muhammad Rohmadi, dan Agus Budi Wahyudi. 2010. Bahasa Indonesia
untuk Penulisan Karya Tulis Ilmiah:Mata Kuliah Wajib Pengembangan Kepribadian.
Yogyakarta:Media Perkasa.

Rahardi, R. Kunjana. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:Erlangga.

Rahayu, Minto. 2009. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi:Mata Kuliah Pengembangan


Kepribadian. Grasindo:Jakarta.

Solihin, Hudori K.A., dan Embay Saadiah. 2003. Terampil Berbahasa Indonesia untuk
Perguruan Tinggi. Jakarta:Uhamka Press.

2016 Bahasa Indonesia


17 Sugeng Winarna,M.Pd
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id