Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PEND Proses Monitoring pembelajaran klinik kebidanan Oleh dosen pembimbing/C.T .


Institusi pendididkan yang di lakukan terjadwal sesuai kebijakan institusi dan berfariasi atara
tiap minggu,

Kegiataan di lakukan saat monitoring atau supervisi masih terfokus pada


kehadiran mahasiswa dan sikap, belum menekankan pada ketrampilan yang telh dan
belum dicapai. Kegitan Bimbingan bersama antara C.T dan C.I tidak dapat di lakukan
karena situasi lahan Praktek sangat sibuk dengan kegiatan rutin yang berfariasi.
Supervisi merupakan istilah baru yang menunjuk pada suatu pengawasan
tetapi konsepnya lebih manusiawi. Dalam kegiatan supervisi pelaksana bukan
mencari kesalahan akan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan agar
pekerjaan yang diawasi diketahui kekurangannya untuk dapat diberi tahu bagaimana
cara peningkatannya. Namun berdasarkan fenomena yang terjadi terdapat
kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam pelaksanaan supervise, berdasarkan
pengamatan terdapat ketidak konsisitenan antara pandangan normativ dengan
pandangan deskriptif mengenai supervisi. Seyogyanya supervisi harus memperbaiki
pengajaran tapi kenyataanya supervisor lebih menekankan pada tanggung jawab
administrativ guru, hal ini berimplikasi terbalik pada tidak terpenuhinya keinginan
guru mendapat bantuan langsung dari supervisor untuk memperbaiki pengajaran,
mestinya supervisor dapat mengkombinasikan tanggung jawab perbaikan pengajaran
dilihat dari aspek professional dengan tanggung jawab administrasi guru untuk
mencapai hasil yang lebih luas pada level kelas melalui perbaikan pengajaran.
Karena bantuan pengajaran merupakan pembinaan professional, sedangkan
pendekatan administrasi merupakan bagian dari birokrasi
Supervisi mempunyai peran mengoptimalkan tanggung jawab dari semua
program. Supervisi bersangkut paut dengan semua upaya penelitian yang tertuju pada
semua aspek yang merupakan factor penentu keberhasilan. Salah satu model
supervisi yang dilakukan di sekolah adalah supervisi klinis. Makalah ini berusaha
menjelaskan secara teoritis tentang model supervisi klinis, dari konsep dasar, tehnik,
kelebihan dan kelemahan supervisi

A. Masalah

1
1. Konsep Dasar, Tujuan,kriteria, kelemahan dan kebihan monitoring
2. Konsep dasar, Tujuan,kriteria, kelemahan dan kebihan supervisi
B. Tujuan
1. Mengetahui Definisi, tujuan,Kriteria,Kelemahan dan kelebihan Monitoring
2. Mengetahui Definisi, tujuan,Kriteria,Kelemahan dan kelebihan Supervisi

BAB II

2
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar
1. Definisi Mentoring
Mentoring adalah Pasangan intens dari orang yang lebih
terampil/berpengalaman dengan orang ketrampilan/pengalaman sedikit, dengan tujuan
yang disepakati oleh orang yang mempunyai pengalaman lebih sedikit untuk
menambah dan mengembangkan kompetensi yang spesifik. (M Murray and M Owen,
Beyond the Myths of Mentoring: How to facilitate an Effective Mentoring Program,
Jossey-Bass, San Francisco 1991)
Proses dimana orang berpengalaman, high regarded, empati (mentor)
membimbing individu lain (mentee) dalam pengembangan dan penilaian kembali dari
ide mereka sendiri, belajar dari pengembangan personal dan profesional. Mentor
seringnya; meskipun tidak mesti; bekerja dalam organisasi yang sama atau sebagai
lahan bagi mentee, dilakukan dengan mendengar dan berbicara dengan mentee.
a) Mentoring adalah
Support (dukungan)
Encouragement (memberi semangat)
Listening (mendengar)
Facilitation of Self-Reliance (memfasilitasi)
Mentoring bukan Evaluation

Seorang mentor harus mempunyai pengetahuan yang bagus dalam lingkungan


kerja untuk lebih banyak memberikan advis dan saran tetapi mereka juga butuh
ekstra skill-set seputar proses mentorship untuk memastikan mentee mendapatkan
keuntungan yang maksimum dari hubungan tersebut.

b) Peran Mentor :
Sebagai figur ayah/ibu
Sebagai guru
Sebagai role model
Sebagai konselor yang bisa di dekati
Pemberi saran yang dipercaya
Pemberi semangat
Orang yang memberi nominasi

3
Sebagai orang yang lebih tua
Senior
Membetulkan

2. Pengertian Supervisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia supervisi berarti pengawasan utama,
pengontrolan tertinggi, penyeliaan (2002:1107). Sedangkan klinis memiliki arti
bersangkutan atau berdasarkan pengamatan klinik (575). Sedangkan supervisi klinis
termasuk bagian dari supervisi pengajaran. Dikatakan supervisi klinis karena prosedur
pelaksanaannya lebih ditekankan kepada mencari sebab-sebab atau kelemahan yang
terjadi di dalam proses belajar mengajar, dan langsung pula diusahakan bagaimana
cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan tersebut (Purwanto, 2004:90)
Senada dengan hal tersebut John J Bolla menyatakan supervisi klinis adalah
supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang
sistematis mulai tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis yang intensif terhadap
penampilan pembelajaran guru dengan tujuan untuk memperbaiki proses
pembelajaran (John Bolla dalam Mukhtar dan Iskandar, 2009:60).
Purwanto juga menjelaskan bahwa Richard Waller memberikan definisi
tentang supervisi klinis sebagai berikut: Supervisi klinis adalah supervisi yang
difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari
tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap
penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk mengadakan modifikasi yang
rasional
Adapun Keith Anderson dan Meredith D. Gall mengemukakan bahwa
supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil ketidaksesuaian atau
kesenjangan antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar
yang ideal. Secara teknik mereka mengatakan bahwa supervisi klinis adalah suatu
model supervisi yang terdiri atas tiga fase, yaitu pertemuan perencanaan, observasi
kelas, dan pertemuan balik. Supervisi klinis adalah supervisi yang terfokus pada
penampilan guru secara nyata di kelas, termasuk pula guru sebagai peserta atau
partisipan aktif dalam proses supervisi tersebut (Mukhtar dan Iskandar, 2009:61)
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis
adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan
professional guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan

4
analisis data secara objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar
tersebut .
B. Tujuan
1. Tujuan dari monitoring adalah untuk :
a) Memantau proses dan perkembangan pelaksanaan aktifitas program dengan
mengacu pada indikator dan target yang telah di tetapkan dalam workpland
b) Mengidentifikasi masalah dan kesenjangan pada waktu pelaksannan aktifitas
c) Mengatasi masalah yang teridentifikasi dan mengantisipasi dampak dari
permasalahan
Beberapa aspek yang akan di Monitor dan akan di evaluasi adalah :
Ketetpan waktu pelaksanaan kegiatan
Direncanakan di berbagai tingkatan misalanya Rumah sakit,
Puskesmas,BPS/BPM

2. Tujuan dari upervisi


tujuan supervisi adalah mengembangkan situasi belajar dan mengajar yang
lebih baik. Usaha erbaikan mengajar dan mengajar ditujukan kepada pencapian tujuan
akhir dari pendidikan aitu pembentukan pribadi anak secara maksimal.
Situasi belajar mengajar di sekolah-sekolah yang ada sekarang ini
menggambarkan suatu eadaan yang sangat kompleks. Kompleksnya keadaan yang
ada ini adalah akibat faktor-faktor obyektif yang saling mempengaruhi sehingga
mengakibatkan penurunan hasil belajar. Oleh karena itu perlu adanya penyelesaian
yang dilakukan untuk mengembalikan semangat dan situasi belajar mengajar yang
lebih baik. (Maunah, 2009:26)
Menurut Acheson dan Gall (1987:1) dalam Syaiful Sagala (2010:200) tujuan
supervisi klinis adalah pengajaran efektif dengan menyediakan umpan balik, dapat
memecahkan permasalahan, membantu guru mengembangkan kemampuan dan
strategis, mengevaluasi guru, dan membantu guru untuk berprilaku yang baik sebagai
uapaya pengembangan profesioanal para guru.Sedangkan tujuan khusus supervisi
antara lain adalah :
a. Menyediakan feedback bagi guru yang objektif dari kegiatan mengajar guru yang
baru saja dijalankan.

5
b. Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah mengajar
c. Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi
belajar
d. Sebagai dasar untuk menilai guru dalam kemajuan pendidikan, promosi jabatan
atau pekerjaan mereka
e. Membantu guru mengembangkan sikap positif terhadap pengembangan diri
secara terus-menerus dalam karir dan profesi mereka secara mandiri
C. Kriteria
a) Kriteria Mentor juga Harus menjadi
Pendengar yang baik
Dihargai sebagai profesional
Dapat di dekati
Dapat diakses
Tidak menghakimi
Antusias, memberi saran / mendorong
Bijaksana
Berpengalaman
Memberi tantangan, tapi tidak destruktif
Etika, jujur, dan dapat dipercaya
b) Kriteria Supervisi
Untuk pemandu pelaksanaan supervisi pendidikan, karakteristik yang akan
dipaparkan dalam makala ini yaitu pada supervisi pengajaran (klinis) karena ini
sangat urgen terutama bagi supervior dan guru, agar arah yang ditempuh sejalan
dengan perencanaan (planning) yang telah dtentukan sebelumnya. Mukhtar dan
Iskandar menjelaskan bahwa supervisi klinis merupaan bantuan bagi guru dalam
memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajrnya, dan dapat dilaksanakan
untuk kepentingan calon guru dalam pendidikan pra jabatan mupun latihan dalam
jabatan (2009:59) yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
Supervisi klinis pada prinsipnya dilaksanakan bersama dengan pengajaran
mikro dan terdiri dai tiga kegiatan pokok, yaitu pertemuan pendahuluan (pre-
conference), observasi mengajar, dan pertemuan balikan (post-conference)
Supervisi klinis merupakan suatu keperluan mutlak bagi guru maupun
supervisor untuk memperoleh pengetahuan, kesadaran dan menilai tingkah laku

6
dalam profesinya sendiri. Bagi guru berdasar kemampuannya sendiri untuk
mengubah tingkah laku mengajarnya di kelas ke arah yang lebih baik dan
terampil, sedangkan bagi supervisor untuk menambah pengetahuan, pengalaman
serta kemampuannya dalam memberikan bimbingan.
Pendekatan yang dilakukan dalam proses supervisi klinis adalah pendekatan
profesional dan humanis
Perbaikan dalam mengajar mengharuskan guru memperbaiki keterampilan
intelektual dan bertingkah laku yang spesifik.
supervise klinik berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka
antarasupervisor dan guru.

D. KELEBIHAN
1. Kelebihan Mentorship
Kelebihann Mentorship di bagi menjadi dua yaitu :
a) Kelebihan Mentor (pembimbing klinik)

Mentor akan belajar dan melakukan refleksi-perspektif yang luas,


mengembangkan pandangan baru tentan masalah dan mengetahui lebih baik dari
kebutuhan / peralatan lain.
Kesempatan untuk melangkah diluar rutinitas normal, menjadi lebih objektiv dan
untuk belajar terhadap pertanyaan asumsi sendiri dan mental model
Puas dalam memberikan kontribusi positif untuk pengembangan individu dan
organisasi

b) Kelebihan Mentee (peserta didik)

Perpindahan fundamental dalam ketrampilan individu dan kemawasdirian


Pengembangan pendekatan seumur hidup untuk belajar mandiri
Meningkatkan penerimaan untuk kompetensi manajerial
Mengembangkan jaringan melintasi spektrum yang luas dari penyedia layanan
dalam kondisi normal.
Meningkatkan kapasitas untuk membuat kemampuan belajar mengaplikasikan
dengan konteks organisasi .

7
Meningkatkan kemampuan sebagai sumber ide dan praktek dari pandangan
organisasi dan di intergrasikan kedalam dirinya.
Meningkatkan mawas diri, otonomi dan percaya diri.

2. Kelebihan teknik supervisi ini adalah sebagai berikut:


a. Dapat dipakai memperbaiki guru-guru yang sangat lemah kinerjanya
b. Perbaikan yang dilakukan sangat intensif, sebab masing-masing kelemahan
ditangani satu persatu, sampai semua kelemahan menjadi berkurang atau hilang.
c. Proses memperbaiki kelemahan dilakukan secara mendalam, termasuk:
Guru merefleksi kemampuannya melaksanakan proses pembelajaran
Supervisor mengobservasi secara mendalam, bila perlu memakai video
Bagi guru-guru lain yang ingin tahu cara penyelesaian kelemahan-kelemahan
guru yang disupervisi diperbolehkan ikut menjadi pendengan dalam pertemuan
balikan.
E. Kelemahan
1. kelemahan Mentorship
a) esulitan / Problem untuk mentoring
o Memerlukan waktu
o Kesempatan dan biaya untuk karyawan
o Saat stress atau krisis konseling dibutuhkan
b) Toxic/racun Mentoring (bila proses mentoring tidak berjalan dengan baik) :
c) Dumpers / sampah : tidak mendapat pada akhir proses
d) Blockers / hambatan : menghindari pertemuan dengan orang yang dibutuhkan
e) Destroyers / rusak: kegagalan yg berulang, menyebabkan terlihat tidak penting,
mencari kesalahan

2. Kelemahan teknis supervisi klinis


Ada satu kelemahan teknik supevisi ini yaitu terlalu mahal, sebab membutuhkan
waktu yang panjang, karena kelemahan diperbaiki satu persatu dan menyita pikiran
serta tenaga yang besar sebab dilakukan secara mendalam agar intensif. (Made
Pidarta, 2009:138)

KATA PENGANTAR

8
Puji Syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa Ynag telah Memberikan Rahmat dan
hidayahnya Sehingga kami dapat Menyelesaikan makalah yang berjudul Pendekatan Dalam
pembelajaran praktek Klinik dengan tepat waktu.

Terima kasih Kepada dosen pengajar yang telah memberikan kami Tugas Untuk
menambah ilmu pengatahuan kami, Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dalam
keempurnaan makalah ini dan bisa bermanfaat untuk kita semua.

Ternate, 26 september 2017

Penulis

Kelompok VI

DAFTAR ISI

9
KATA PENGANTAR ............................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG ................................................................................... 1


B. MASALAH ................................................................................................... 2
C. TUJUAN ........................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR ......................................................................................... 3


B. TUJUAN ........................................................................................................ 5
C. KRITERIA ..................................................................................................... 6
D. KELEBIHAN ................................................................................................. 7
E. KELEMAHAN .............................................................................................. 8

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN .............................................................................................. 9

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 11

10
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Monitoring merupakan Pasangan intens dari orang yang lebih
terampil/berpengalaman dengan orang ketrampilan/pengalaman sedikit, dengan
tujuan yang disepakati oleh orang yang mempunyai pengalaman lebih sedikit untuk
menambah dan mengembangkan kompetensi yang spesifik.
Suatu Proses dimana orang berpengalaman, high regarded, empati (mentor)
membimbing individu lain (mentee) dalam pengembangan dan penilaian kembali dari
ide mereka sendiri, belajar dari pengembangan personal dan profesional. Mentor
seringnya; meskipun tidak mesti; bekerja dalam organisasi yang sama atau sebagai
lahan bagi mentee, dilakukan dengan mendengar dan berbicara dengan mentee.
Seorang mentor harus mempunyai pengetahuan yang bagus dalam lingkungan kerja
dari mentee untuk lebih banyak memberikan advis dan saran tetapi mereka juga
butuh ekstra skill-set seputar proses mentorship untuk memastikan mentee
mendapatkan keuntungan yang maksimum dari hubungan tersebut.
Banyak guru yang mengalami masalah/kesulitan dalam melaksanakan
pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya. Kesulitan tersebut dapat
disebabkan oleh karakteristik mata pelajaran sehingga sulit dipahami guru atau
kesulitan dalam aspek-aspek teknis metodologis sehingga bahan ajar kurang
dipahami peserta didik. Supervisi klinis yang dilakukan pengawas sekolah kepada
guru merupakan salah satu upaya membantu guru untuk mengatasi masalah yang
dialaminya dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran. Supervisi klinis
adalah perbaikan pengajaran dengan hubungan yang intens berlanjut dan matang
antara supervisor dan guru searah dengan perbaikan praktek profesional guru yang
dapat menjamin kualitas pelayanan belajar secara berkelanjutan dan konsisten.
Supervisi klinis memiliki karakteristik atau fokus antara lain, merubah cara mengajar
serta didasarkan atas bukti pengamatan.
Ada tiga tahap kegiatan yang dilakukan dalam supervisi klinis yakni tahap
pertemuan awal pra siklus yang dilanjutkan pada siklus 1, tahap pengamatan
(observasi) guru atau siklus 2, serta tahap refleksi atau umpan balik siklus 3.

11
Pada supervise klinis terdapat kelebihan dinataranya yaitu: untuk memperbaiki
guru-guru yang sangat lemah kinerjanya yang dilakukan secara intensif, sebab
masing-masing kelemahan ditangani satu persatu, sampai semua kelemahan menjadi
berkurang atau hilang. Bagi guru-guru lain yang ingin tahu cara penyelesaian
kelemahan-kelemahan guru yang disupervisi diperbolehkan ikut menjadi pendengan
dalam pertemuan balikan. Sedangkan kelemahan teknis supervisi klinis yaitu terlalu
mahal, sebab membutuhkan waktu yang panjang, karena kelemahan diperbaiki satu
persatu dan menyita pikiran serta tenaga yang besar sebab dilakukan secara
mendalam agar intensif.

12
DAFTAR PUSTAKA

https://ongrosyadi.wordpress.com/2009/02/27/mentoring-dalam-bimbingan-praktek-klinik-
keperawatan-di-rumah-sakit/

M Murray and M Owen, Beyond the Myths of Mentoring: How to facilitate an Effective
Mentoring Program, Jossey-Bass, San Francisco 1991

Maunah, Binti, 2009, Supervisi Pendidikan Islam Teori dan Praktek, Yogyakarta: Sukses
Offset

Mukhtar & Iskandar, 2009, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada
Press

Pidarta, Made, 2009, Supervisi Pendidikan Konstektual, Jakarta: Rineka Cipta

Purwanto, Ngalim, 2004, Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja


Rosdakarya

Pusat Bahasa, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pusaka

Sagala, Syaiful,2010, Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan.Bandung : Alfabeta

Sahertian, P.A.2000, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

13
MAKALAH

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN PRAKTEK KLINIK,

KONSEP, TUJUAN, KRITERIA, KELEMAHAN DAN KELEBIHAN

MONITORING DAN SUPERVISI

KELOMPOK VI :

1. Sri Wahyu Ningsi ( B-IV 140034)


2. Gita Maria anu ( B-IV 140008)
3. Riyanti salasa ( B-IV 140027)
4. Fauzia asis ( B-IV 140006)

POLTEKKES KEMENKES TERNATE

PRODI D-IV KEBIDANAN

TAHUN

2017

14