Anda di halaman 1dari 4

Bentuk Kata Kerja Majemuk – Harly Tangkilisan -

[1] Bentuk Kata Kerja Majemuk


(1) Yang di maksud dengan Kata Kerja Majemuk
Paling sedikit ada dua bentuk yang secara konkret digabung, dan hasil dari
pengabungan tersebut menjadi kata yang mengandung makna dan fungsi struktur
baru dan ini disebut kata majemuk. Yang dimaksud dengan kata kerja majemuk
adalah kata yang terdiri dari dua kata kerja atau kata yang memiliki fungsi struktur
sebagai satu kata kerja yang dibentuk oleh kata kerja dibelakangnya. Jika dipandang
kata itu sebagai kata kerja baik secara makna maupun bentuk maka jelaslah kata
kerja tersebut mempunyai kata kerja dasar.
Sejenis dengan kata kerja majemuk yakni imbuhan kata kerja yang terbentuk
seperti [rareru], [saseru] kata kerja bantu jodoushi yang masing-masing menyatakan
kalimat pasif dan kalimat kausatif dan ada juga bentuk pengabungan [garu], [meku]
dalam bentuk [ureshigaru], [harumeku], tetapi semua ini tidak memiliki fungsi
sebagai kata kerja seperti yang dijelaskan tadi. Dengan kata lain pembentukan ini
tidak termasuk dalam kata kerja majemuk. Dan lagi, bentuk penggabungan kata kerja
[suru] seperti bentuk [iraira suru], [tachiyomi suru], [omoin zuru], [tai suru] dan
sebagainya juga tidak termasuk dalam kata kerja majemuk.

(3) Pembagian menurut faktor pembentukan kata kerja majemuk


A. [kata kerja+kata kerja]
a. [kata kerja 1 (bentuk ~te) + kata kerja 2] misalnya [yonde shimau], [yonde
miru] dan sebagainya. Dan bentuk yang masuk dalam aspektualitas kata misalnya
[shite morau], [shite ageru], [shite kureru], [shite shimau], [shite miru], [shite oku],
[shite kuru], [shite aru], [shite iru]. Di luar ini ada juga bentuk yang dapat dipandang
sebagai kata kerja majemuk seperti [utagatte kakaru], [mite mawaru], [sagashite
aruku] dan sebagainya. Tetapi dari sudut pandang pembentukan katanya dan
akspektualitasnya maka yang akan kita angkat adalah kesepuluh bentuk yang sudah
disebutkan sebelumnya.
b. [kata kerja 1 (bentuk prototypenya) + kata kerja 2], bentuk penggabungan
jenis seperti ini dalam bahasa Jepang ada banyak misalnya [nomi sugiru], [tachi
hataraku], [yomi toosu], [yomi hajimeru] dan sebagainya.

[2] Ciri khas secara struktur kata kerja majemuk


(1) Kombinasi unsur pembentukan
a. [kata kerja + kata kerja]
Dua kata kerja yang digabungkan dan membentuk menjadi kata kerja
majemuk, menunjukkan bahwa masing-masing kata kerja yang ada di
dalamnya ada perbedaan di dalam memainkan perannya. Ini akan dinyatakan
melalui [v] kata kerja Bantu dan [V] kata kerja utama. Yang dimaksud dengan
[V] adalah kata kerja yang mana sifat struktur, makna kata kerjanya tetap
dipertahankan meskipun kata kerja tersebut sebagai faktor utama pembentuk
kata kerja majemuk. Ini juga disebut Kata Kerja Utama. Sedangkan yang
dimaksud dengan [v] adalah kata kerja yang mana kata kerja tersebut
membantu kata kerja utama sebagai faktor pembentuk disamping
mempersiapkan makna yang akan dinyatakan kata kerja dasarnya. Tetapi kata
Bentuk Kata Kerja Majemuk – Harly Tangkilisan -

kerja ini tidak dipadukan menjadi satu dengan NP langsung di dalam satu
kalimat.

Bentuk penggabungan dua kata kerja ini ada empat jenis yaitu sebagai berikut;
(1) [V1 + V2] kedua kata kerjanya juga memiliki sifat struktur yang sama,
makna yang sama pada waktu dipakainya secara sendiri-sendiri. Secara
struktur kedua kata kerja ada pada hubungan yang sederajat.
a. [V1 (bentuk ~te) + V2] misalnya, [chotto kuruma kara orite mimasen
ka], [osara wo fuite shimatte kudasai] dan sebagainya. Kata kerja
yang sebulumnya dan sesudahnya keduanya merupakan kata kerja
utama. Bentuk ini untuk contoh kedua kata kerja sebelumnya dan
kedua kata kerja sesudahnya itu masing-masing dapat menduduki
frasa adverbial, frasa nominal secara independen. Akan tetapi dalam
keadaan seperti itu kedua kata kerja tersebut sudah bukan lagi kata
kerja majemuk, harus dilihat juga kata kerja yang melekat (bentuk~te)
pada kedua kata kerja tersebut.
[omiyage wo katte kaeru]  [omiyage wo katte, ie ni kaeru]
[kuruma kara furite, (keshiki wo) miru]
[osara wo fuite, (chanto todana ni) shimau]

Bentuk hormat seperti ini biasanya memakai morfem hormat pada kata
kerja yang muncul sebelumnya. Tetapi di dalam menunjukan bentuk
hormat kedua kata kerja tersebut dapat dibuat menjadi bentuk hormat.
b. [V1 (bentuk prototype) + V2] bentuk ini lebih kuat penggabungan V1
V2 nya dari pada bentuk sebelumnya pada bagian a. NP akan
menyesuaikan dengan kedua kata kerja atau kata kerja yang
sebelumnya itu secara gramatika. Sebelum munculnya V2 tidak boleh
menyisisipkan kata. V1 berubah menjadi bentuk (~te) dan dapat
langsung disambung dengan V2.
[kinko wo motsu, kinko wo dasu]  [kinko wo motte dasu]
Kata kerja majemuk ini, umumnya keseluruhan bentuk
penggabungannya menjadi objek politenesasi (penghormatan).

(2) [V1 + v2] v2 karena sebagai kata kerja bantu jadi akan membatasi
pembentukan V1. Ciri khas gramatikanya terletak pada V1, NP melekat
menjadi satu dengan V1. Sebelum munculnya v2 tidak boleh menyisipkan kata.
a. [V1 (bentuk ~te) + v2]
[kimi no iu koto ga dandan wakatte kita]
[okashi wo zenbu tabete shimatta] Okashi o tabete *okashi o shimau
Bentuk hormat seperti ini kata kerja utama yang menjadi objeknya.
Tapi aja juga yang memakai morfem hormat pada kata kerja
setelahnya, menghilangkan yang sebelumnya itu sesuai dengan
konteks.
[kangaete mite kudasai]  [okangae ni natte kudasai]
Bentuk Kata Kerja Majemuk – Harly Tangkilisan -

b. [V1 (bentuk prototypenya) + v2]


[omoshirokute, hon wo ikki ni yomi tooshita]
[oishikatta node, tsui keeki wo tabe sugimashita]
keeki wo tabeta *keeki wo sugita
bentuk seperti ini, v 2 nya kalau (aturan) kata kerja intransitif yakni
kata kerja yang sebelumnya muncul lebih dulu, tetapi secara
penggabungannya kalau (aturan) kata kerja transitif keseluruhannya
menjadi objek dalam menunjukkan bentuk hormat.
Kata kerja intransitif [otabe ni nari sugita]
Kata kerja transitif [oyari naoshi ni natta]

(3) [v1 + V2] v1 membantu isi makna yang dinyatakan oleh V2, dan ikut
menentukan sifat kata kerjanya. Ciri khas gramatikanya terletak pada V2, NP
nya akan sesuai dengan V2.
a. [v1 (bentuk ~te) + V2]
[sore wo kite tonde kimashita] ([tonde] artinya ‘in a hurry)
[ten no mae ni shina mono ga narabete aru]
shina mono ga aru *shina mono ga naraberu
bentuk hormat seperti ini menempel morfem hormat pada V2. Dalam
menyatakan hormat dapat menghaluskan kedua kata kerja tersebut.
[aruite irassharu]  [oaruki ni natte irassharu]

b. [v1 (bentuk prototypenya) + V2]


[kare wa, mada genki ni tachi hataraite iru]
genki ni hataraku *genki ni tatsu
[hayaku sonokoto wo tori kimeyou]
sono koto wo kimeru *sono koto wo toru
Bentuk seperti ini, tingkat penggabungan v1 V2 kuat, dan
keseluruhannya menjadi objek dalam menyatakan bentuk hormat.
[otori kime ni naru] [watashi no ie ni otachi yori ni naru]

(4) [v1 + v2] kedua kata kerjanya sama-sama saling membantu, baik dari
makna maupun secara struktur berfungsi sebagai satu bentuk penggabungan
yang pas. Merupakan aturan penggunaan yang akan menyatakan makna yang
baru tetapi berbeda dengan pemakaiannya pada saat berdiri sendiri. v1 v2 kalau
berdiri sendiri, tidak akan berkaitan dengan NP. Pembentukan kata kerja
majemuk ini adalah hanya bentuk [v1(bentuk portotypenya) + v2 ]
[keiji wa tsuni hannin ga kakureteiru ie wo tsuki tometa]
[kare wa, naomo iinchou ni kui sagatta]
*iinchou ni kuu *iinchou ni sagaru

Bentuk hormat ini, secara penggabungan, sasarannya v1 v2


[otsuki tome ni naru] [otori nashi ni naru]
Bentuk Kata Kerja Majemuk – Harly Tangkilisan -

Tidak mudah untuk membuat satu garis yang santer/jelas di antara ke


empat (1)(2)(3)(4) bentuk ini. Bentuk penggabungan banyak yang
menyatakan aspektualitas yang berbeda menurut konteksnya. Contohnya;
[tori tsukeru], kalau dalam kalimat [antenna wo kono hen ni tori tsuketara
doudarou], NP (antenna) akan sejalan dengan kata kerja utama [tsukeru].
Bentuknya adalah[v1 + v2]]. Kalau kalimat[buchou no ryoukai wo tori
tsukete aru kara daijoubu da], NP (ryoukai) akan sejalan dengan kata kerja
utamanya [toru]. [tsukeru] merupakan kata kerja bantu. Bentuk ini adalah
[V1 + v2].

Bentuk [kata kerja bentuk protoyype + kata kerja], sangat banyak yang
digunakan dan dinominalisasikan.
Uke tsukeru  uketsuke Yomi kakeru  yomikake
Deki agaru  dekiagari Tori komu  torikomi
Hikkosu  hikkoshi Mi toosu  mitooshi
Yari naosu  yarinaoshi Tori yameru  toriyame
Tetapi bentuk nominal yang berekuivalen dengan bentuk kata kerja dan
bentuk kata kerja yang berekuivalen dengan bentuk nominal ada banyak,
dan itu pun sendiri tidak dinyatakan.

(2) Pembagian menurut makna dalam kata kerja majemuk