Anda di halaman 1dari 63

PENUNTUN PRAKTIKUM

BIOLOGI (BIO100)

Disusun Oleh :
Staf Pengajar Departemen Biologi

DEPARTEMEN BIOLOGI-FMIPA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


2017

Penuntun Praktikum Biologi i


PENUNTUN PRAKTIKUM
(BIO 100) BIOLOGI

Penyusun:
Yohana C. Sulistyaningsih
Tatik Chikmawati
Tri Heru Widarto
Tri Adiati
RR Dyah Perwitasari
Ence Dharmo Jaya Supena
Utut Wdyastuti
Nisa Rachmania Mubarik
Taruni Sri Prawasti
Nunik Sri Ariyanti
Hilda Akmal
Tri Atmowidi

DEPARTEMEN BIOLOGI FMIPA IPB


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2017

Penuntun Praktikum Biologi ii


KATA PENGANTAR

Materi praktikum yang disajikan dalam penuntun praktikum ini dimaksudkan untuk
memberikan gambaran mengenai ilmu Biologi yang mencakup berbagai aspek biologi
organisme yang diajarkan di dalam kelas. Pengamatan percobaan yang dilakukan di
laboratorium maupun di lapangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam
mempelajari ilmu Biologi, karena sebagai ilmu, pemikiran dasar ilmu biologi adalah mencari
fakta untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai masalah. Oleh karena itu,
tugas-tugas yang diberikan dalam praktikum, seperti melakukan percobaan, mengamati,
mempelajari gambar suatu obyek, merupakan suatu latihan pengamatan untuk mendapatkan
informasi dan pengertian yang lebih baik mengenai obyek tersebut.
Praktikan harus terlebih dahulu mempelajari petunjuk praktikum yang diberikan pada
masing-masing percobaan, supaya pengamatan dan percobaannya berhasil. Jangan ragu
untuk bertanya kepada asisten, bila ada hal-hal yang belum dipahami. Hal ini penting
karena bila percobaan anda tidak berhasil, maka anda tidak dapat melaporkan hasilnya
dengan baik.
Mengingat keterbatasan waktu praktikum, materi yang dikuliahkan tidak dapat
dipraktikumkan semuanya, namun hanya sebagian saja. Mudah-mudahan penuntun
praktikum ini dapat memberikan gambaran yang memudahkan anda mempelajari biologi.

Penyusun

Penuntun Praktikum Biologi iii


TATA TERTIB PRAKTIKUM

A. UMUM
1. Setiap praktikan diwajibkan mengikuti seluruh materi praktikum. Jika berhalangan
hadir, praktikan diwajibkan memberikan surat keterangan tertulis dari Program
Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU) IPB kepada Koordinator atau Penanggung
Jawab Praktikum (PJP).
2. Jika praktikan tidak dapat mengikuti praktikum sesuai jadwal, maka dapat mengikuti
praktikum pada hari dan waktu lainnya dalam minggu tersebut dengan terlebih
dahulu melapor kepada Koordinator/ PJP atau asisten praktikum.
3. Jika praktikan dengan sangat terpaksa harus mengikuti praktikum susulan,
diwajibkan menghubungi asisten untuk menentukan waktu praktikum pengganti atau
tugas yang diberikan oleh asisten.

B. KETERTIBAN ALAT
1. Setiap praktikan dimohon untuk bekerja dengan hati-hati.
2. Kerusakan (pecah) atau kehilangan alat/glassware akibat kecerobohan praktikan,
yang bersangkutan/ satu regu diwajibkan mengganti alat yang sama atau bentuk
uang dalam jangka waktu satu minggu setelah kejadian.
3. Asisten akan mengecek keutuhan dan kelengkapan alat setelah selesai praktikum.
4. Ketidak beresan administrasi/penggantian alat yang rusak/pecah dikenakan sangsi
atau nilai tidak dikeluarkan.

C. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Praktikan diwajibkan memakai jas Laboratorium selama mengikuti praktikum.
2. Selama praktikum hanya buku penuntun praktikum dan alat tulis serta barang
berharga lain (uang, telpon genggam) yang diperbolehkan di bawa ke dalam
laboratorium.
3. Tas dimohon dimasukkan ke dalam locker yang tersedia.
4. Selama praktikum, setiap kelas akan dibimbing oleh 3 (tiga) asisten dan 1 (satu)
penanggung jawab praktikum.
5. Sebelum praktikum diadakan kuis harian dengan materi sesuai dengan materi
praktikum minggu yang bersangkutan.
6. Praktikan diwajibkan menjaga ketenangan, kebersihan, dan kesopanan selama
praktikum.
7. Tidak diperkenankan makan, minum, merokok dan kegiatan lain yang bisa
mengganggu kegiatan selama praktikum.

Penuntun Praktikum Biologi iv


8. Sampah-sampah dimohon dibuang ditempat sampah yang telah disediakan, jangan
membuang sampah ke bak tempat cuci.
9. Beberapa alat/bahan dibawa/disediakan sendiri oleh praktikan, jenis dan bahan akan
ditentukan kemudian.
10. Hal-hal lain yang belum tercantum dalam tata tertib ini akan diatur kemudian.

D. PENGGUNAAN LOKER
1. Di setiap ruang laboratorium tersedia loker yang dapat digunakan praktikan selama
mengikuti praktikum.
2. Tas dan barang lain yang tidak diperlukan dalam praktikum harap disimpan di dalam
loker.

E. NILAI PRAKTIKUM
1. Besarnya nilai praktikum adalah 30% dari nilai total mata kuliah.
2. Nilai praktikum diambil dari : nilai laporan (40%), kuis harian (25%), nilai ujian
praktikum (35%).
3. Bagi praktikan yang tidak mengumpulkan laporan, akan diberi nilai NOL untuk materi
yang bersangkutan.
4. Laporan dikumpulkan paling lambat satu minggu setelah praktikum/ sesuai
kesepakatan dengan asisten praktikum yang bersangkutan.

F. LAPORAN
1. Setiap materi praktikum dibuat di BUKU LAPORAN yang telah disediakan.
2. Laporan dibuat perorangan oleh masing-masing praktikan, laporan berisi :Judul
(acara) praktikum, tujuan, hasil (dalam bentuk deskripsi, uraian, gambar dan
keterangan, tabel, grafik, atau analisis lainnya sesuai materi praktikum), dan pustaka.

G. PERHATIAN
1. Praktikan wajib memakai JAS LABORATORIUM
2. Praktikan wajib membawa
- jangka
- pensil warna
- tissue/lap yang bersih
- pisau cuther/silet yang tajam
3. Gelas obyek, gelas penutup dan pipet akan dibagikan kepada setiap regu pada awal
praktikum dan selalu di bawa setiap kali praktikum.

Penuntun Praktikum Biologi v


DAFTAR ISI

Hal.
1. Pengenalan Mikroskop .................................................................................. 1
2. Pengukuran Molekul CO2 Hasil Respirasi Manusia ...................................... 7
3. Respirasi Anaerob .......................................................................................... 10
4. Laju Fotosintesis .......................................................................................... 12
5. Aplikasi Hukum Mendel pada Manusia ......................................................... 14
6. Dasar Selular Reproduksi Organisme ......................................................... 17
7. Isolasi DNA Genom ..................................................................................... 22
8. Pengaruh Panas dan pH Pada Struktur DNA ................................................ 23
9. Pewarnaan Sederhana ................................................................................ 25
10. Keragaman Protista: Protozoa ...................................................................... 28
11. Keanekaragaman Ganggang ........................................................................ 30
12. Keanekaragaman Tumbuhan ........................................................................ 35
13. Struktur Anatomi Organ Vegetatif Tumbuhan Angiospermae ......................... 39
14. Transpirasi Tumbuhan ................................................................................... 43
15. Keanekaragaman Hewan ............................................................................... 46
16. Struktur dan Fungsi pada Tubuh Hewan ........................................................ 51
.

Penuntun Praktikum Biologi vi


PENGENALAN MIKROSKOP

PENDAHULUAN
Uraian Singkat
Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita mengamati obyek yang
berukuran kecil. Dalam bidang Biologi, alat ini sangat penting untuk mempelajari struktur
renik dari suatu organisme. Ada 2 jenis mikroskop yang dibedakan berdasarkan sumber
radiasi (penyinaran) yang digunakan dalam pengamatan yaitu mikroskop cahaya yang
menggunakan cahaya dan mikroskop elektron, yang menggunakan pancaran elektron
sebagai sumber sinar dalam pembentukan bayangan. Mikroskop yang kita gunakan sehari-
hari merupakan mikroskop cahaya.

A. Tipe Mikroskop
Berdasarkan kenampakan obyek yang diamati, mikroskop dapat dibedakan dalam 2
tipe, yaitu yang menghasilkan gambaran dua dimensi dan gambaran tiga dimensi.Tipe
mikroskop cahaya yang menghasilkan gambar 2 dimensi adalah mikroskop majemuk
(compound microscope), sedangkan yang membentuk gambaran tiga dimensi adalah
mikroskop stereo (dissecting microscope). Mikroskop electron dibedakan kedalam mikroskop
elektron transmisi untuk pengamatan dua dimensi dan mikroskop electron payaran yang
menghasilkan gambar tiga dimensi.

Mikroskop Majemuk.
Mikroskop majemuk yang kita gunakan sehari-hari termasuk kelompok mikroskop
cahaya. Cahaya yang digunakan dapat berasal dari cahaya matahari yang dipantulkan
melalui cermin, atau cahaya lampu. Namun untuk penggunaan yang lebih praktis, umumnya
mikroskop dengan sumber cahaya lampu lebih banyak dikembangkan (Gambar 1.).
Mikroskop ini menghasilkan pembesaran antara 40-1000 x. Pembesaran dapat diubah
dengan mengganti lensa obyektif yang digunakan. Mikroskop ini mempunyai kaki yang berat
dan kokoh yang dirancang agar dapat berdiri dengan stabil.
Mikroskop majemuk memiliki 3 sistem lensa, yaitu lensa obyektif, lensa okuler dan
kondensor.Lensa obyektif dan lensa okuler terletak pada kedua ujung tabung mikroskop.
Lensa okuler merupakan lensa yang berada dekat mata kita, sedangkan lensa obyektif
berdekatan dengan letak obyek yang diamati. Lensa okuler dapat berupa lensa tunggal
(monokuler) atau lensa ganda (binokuler). Mikroskop majemuk binokuler lebih nyaman
digunakan, karena pengamatan yang dilakukan dengan kedua mata secara bersamaan
dapat mengurangi kelelahan. Selain kedua jenis tersebut dijumpai pula mikroskop trinokuler
yang memiliki 3 buah lensa okuler. Pada mikroskop demikian, lensa ketiga dihubungkan
dengan kamera untuk keperluan fotografi. Lensa obyektif yang berada pada ujung bawah
tabung mikroskop terdapat dalam suatu dudukan berbentuk lingkaran. Pada dudukan
tersebut terpasang 3 atau 4 lensa obyektif. Di bawah tabung mikroskop terdapat meja
mikroskop yang merupakan tempat preparat. Sistem lensa yang ketiga adalah kondensor.
Kondensor berperan untuk menerangi obyek dan lensa-lensa mikroskop yang lain. Pada
mikroskop konvensional, sumber cahaya masih berasal dari sinar matahari yang dipantulkan
dengan suatu cermin datar atau cekung yang terdapat di bawah kondensor. Cermin ini akan
mengarahkan cahaya dari luar kedalam kondensor. Pada mikroskop modern sudah
dilengkapi lampu sebagai pengganti sumber cahaya matahari. Lensa obyektif bekerja dalam
pembentukan bayangan pertama. Lensa ini menentukan struktur dan bagian renik yang akan
terlihat pada bayangan akhir. Ciri penting lensa obyektif adalah memperbesar bayangan

Penuntun Praktikum Biologi 1


obyek dan mempunyai nilai apertura (NA). Nilai apertura adalah ukuran daya pisah suatu
lensa obyektif yang akan menentukan daya pisah spesimen, sehingga mampu menunjukkan
struktur renik yang berdekatan sebagai dua benda yang terpisah.

Lensa okuler Tabung mikroskop

Lensa obyektif
Meja mikroskop
obyek
Pengatur fokus kasar
kondensor

lampu Pengatur fokus halus


Gambar

Gambar 1. Mikroskop majemuk dan bagian-bagiannya

Lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa
obyektif. Pembesaran bayangan oleh lensa ini berkisar antara 4 25 kali, namun yang
paling sering digunakan adalah pembesaran 10 kali (ukuran pembesaran tertera pada frame
lensa tersebut). Lensa kondensor, berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan
pada obyek yang akan difokuskan, sehingga bila pengaturannya tepat akan diperoleh daya
pisah maksimal. Jika daya pisah kurang maksimal, dua benda akan tampak menjadi satu
(Gambar 2). Pembesaran akan kurang bermanfaat jika daya pisah mikroskop kurang baik.

A B C

Gambar 2. Bayangan yang dibentuk pada mikroskop:A dan B dua benda yang teramati pada
daya pisah kurang maksimum C. Pengamatan pada daya pisah maksimum

Mikroskop Stereo.
Mikroskop stereo merupakan mikroskop yang digunakan utuk mengamati benda
yang berukuran relatif besar. Berbeda dengan mikroskop majemuk yang pembentukan
bayanganya menggunakan cahaya yang diteruskan melalui obyek, pada mikroskop ini
cahaya yang diterima oleh lensa obyektif berupa cahaya pantul, sehingga obyek yang
diamati tidak harus berukuran tipis. Sistem lensa pada mikroskop stereo terdiri dari lensa
obyektif dan lensa okuler. Pada dasarnya mikroskop stereo merupakan gabungan dari 2
sistem mikroskop majemuk, masing-masing dengan sepasang lensa obyektif dan lensa
okuler. Ke dua sistem tersebut mengamati obyek yang sama dari sudut yang berbeda,

Penuntun Praktikum Biologi 2


sehingga menghasilkan gambar 3 dimensi. Ada pula mikroskop stereo yang hanya memiliki
1 lensa obyektif. Pada kondisi demikian cahaya pantul yang diterima oleh lensa obyektif
dikumpulkan oleh prisma-prisma sehingga membentuk sinar sejajar yang diterima oleh
kedua lensa okuler. Dengan demikian tetap terbentuk dua lintasan optik yang terpisah.
Mikroskop stereo sering disebut juga dissecting microscope karena dapat digunakan
untuk keperluan pembedahan obyek berukuran kecil. Hal ini dimungkinkan karena :
(1) Tersedia ruang kerja yang luas akibat jarak yang cukup jauh antara lensa obyektif
dan obyek pada meja preparat
(2) Kemampuan menghasilkan gambar 3 dimensi
Pembesaran pada mikroskop stereo relatif lemah dibandingkan dengan mikroskop majemuk.
Pembesaran lensa okuler biasanya 10 kali, sedangkan lensa obyektif menggunakan sistem
zoom dengan pembesaran antara 0.7 hingga 5.0 kali, sehingga total pembesaran 50 kali.
Pada mikroskop ini meja preparat berada pada kaki mikroskop dan berupa meja yang statis.
Sumber cahaya dapat berupa lampu yang terpisah atau terpasang langsung pada
mikroskop. Pada mikroskop dengan lampu terpisah, arah sinar berasal dari samping atas,
diarahkan jatuh pada meja preparat. Bila lampu terpasang pada mikroskop biasanya terletak
di sebelah bawah lensa obyektif. Lampu ini dihubungkan dengan transformator. Pengatur
fokus obyek terletak disamping tangkai mikroskop, sedangkan pengatur pembesaran terletak
diatas pengatur fokus.
Lensa okuler

Pengatur fokus
Lensa obyektif
Lampu
Meja preparat

Gambar 3. Mikroskop stereo dengan bagian-bagiannya

Mikroskop Elektron.
Mikroskop elektron, dibuat dengan memanfaatkan sifat pancaran elektron (electron
beam) pada ruang hampa udara yang menghasilkan sinar dengan panjang gelombang
sangat pendek dibandingkan dengan cahaya. Ada 2 tipe mikroskop elektron yaitu mikroskop
elektron payaran (Scanning electron microscope), disingkat SEM dan mikroskop elektron
transmisi (transmission electron microscope), disingkat TEM (Gambar 4). SEM digunakan
untuk pengamatan secara detail permukaan sel, atau organ atau struktur renik lain,
sedangkan TEM digunakan untuk mengamati struktur detail internal sel. Seperti pada
mikroskop majemuk, pada TEM pancaran elektron (electron beam) diteruskan menembus
obyek, sehingga obyek yang diamati harus berukuran sangat tipis dan transparan. Demikian
juga bayangan yang dihasilkan juga berupa gambaran 2 dimensi,seperti pada mikroskop
majemuk. SEM dapat digunakan untuk mengamati benda yang berukuran tebal. Mikroskop
ini serupa dengan mikroskop stereo dalam hal arah sinar yang digunakan dalam
pembentukan bayangan maupun bayangan yang dihasilkan. Pada SEM pancaran elektron

Penuntun Praktikum Biologi 3


yang berperan dalam pembentukan bayangan berupa elektron sekunder yang dipantulkan
oleh obyek. Bayangan yang dihasilkan berupa gambaran 3 dimensi.
Daya pisah pada SEM relatif rendah dibandingkan dengan TEM. Pada umumnya
SEM memiliki daya pisah 50 nm dan dapat memperbesar bayangan hingga 8000 kali.
Namun kini telah ditemukan tipe SEM dengan pembesaran yang lebih tinggi, yakni hingga
400.000 kali, dengan daya pisah 1 nm. Pada TEM, daya pisah dapat mencapai 0.1 nm (1
angstrom) dan pada generasi TEM terbaru pembesaran dapat mencapai 1 juta kali.
Bila pada mikroskop cahaya, obyek yang diamati dapat berupa benda hidup maupun
spesimen yang sudah mati, SEM dan TEM hanya dapat digunakan untuk mengamati benda
yang sudah mati. Hal ini disebabkan spesimen yang diamati harus berupa obyek yang kering
(bebas air) yang telah dipersiapkan dengan berbagai perlakuan. Hasil gambar yang
diperoleh dari mikroskop elektron berupa gambar hitam putih(Gambar 5) .
Mikroskop elektron SEM maupun TEM dilengkapi dengan control panel. Pada TEM
pancaran elektron yang menembus spesimen dilalukan pada beberapa sistem lensa dan
selanjutnya diproyeksikan pada layar fluoresens. Sedangkan pada SEM, pancaran elektron
membentuk sinyal elektrik yang selanjutnya ditangkap oleh detektor, dan kemudian
ditampilkan dalam bentuk gambar pada display panel.

Display panel

Control panel

Layar fluoresens

A B
Gambar 4. Mikroskop elektron, A. SEM, B. TEM

A B

0,5 m A B

Gambar 5. Foto hasil pengamatan mikroskop elektron A. Kloroplas, diamati dengan


mikroskop electron transmisi (TEM), pembesaran 200 x, B. Kepala nyamuk
diamati dengan mikroskop elektron payaran (SEM), pembesaran 1000 x

Penuntun Praktikum Biologi 4


B. Cara Kerja Mikroskop
Mengatur Besarnya Obyek. Pembesaran bayangan dari suatu obyek dapat
diketahui dari angka pembesaran lensa obyektif dan lensa okuler. Ukuran suatu benda dapat
diketahui dengan membandingkan terhadap ukuran bidang pandang. Hal ini dapat
dikerjakan dengan beberapa langkah berikut: letakkan penggaris plastik berskala mm diatas
meja obyek dan perkirakan diameter bidang pandang tersebut, dan catat pembesaran lensa
obyektifnya. Ubahlah lensa obyektif dengan lensa obyektif pembesaran kuat dan tentukan
diameter bidang pandangnya dengan rumus berikut:

ok = ol x pl/pk
ok = diameter bidang pandang dengan obyektif pembesaran kuat.
ol = diameter bidangpandang dengan obyektif pembesaran lemah
pk = pembesaran lensa obyektif kuat,
pl = pembesaran lensa obyektif lemah

Persiapan Preparat.
Preparat yang diamati dengan mikroskop majemuk, dapat berupa preparat segar atau
preparat permanen. Preparat segar dapat disiapkan dengan cara sebagai berikut. Teteskan
medium (berupa setetes air) diatas gelas obyek, dan letakkan bahan yang akan diamati di
atas medium tersebut. Selanjutnya tutuplah dengan gelas penutup. Usahakan agar tidak
terdapat gelembung udara pada medium. Hal ini dapat diusahakan dengan beberapa
langkah berikut: pegang gelas penutup dengan posisi 45o terhadap gelas obyek, sentuhkan
tepi bawah gelas penutup pada permukaan medium. Perlahan-lahan rebahkan gelas
penutup di atas gelas obyek dengan menahan salah satu sisi gelas penutup dengan
menggunakan pensil. Jika masih ada gelembung udara ulangi pekerjaan tersebut sampai
tidak ada gelembung udara. Amati preparat yang anda buat pada mikroskop, dengan terlebih
dahulu menggunakan pembesaran lemah (10x10), kalau sudah diketahui obyek yang akan
diamati kemudian memakai pembesaran kuat (10x20 atau 10x40).

Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari tipe-tipe mikroskop dan mengetahui cara
kerjanya.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan


Alat yang diperlukan meliputi mikroskop majemuk, mikroskop stereo, pipet, silet,
pinset, gelas obyek dan gelas penutup, dan cawan petri. Bahan digunakan dalam praktikum
adalah potongan kertas huruf "A", organisme berukuran kecil (misal: semut), umbi kentang,
Air, larutan iodine.

Metode

1. Penggunaan Mikroskop Majemuk


1.1. Sifat Bayangan pada Mikroskop Majemuk
1. Letakkan potongan kertas berhuruf "A" pada gelas obyek dan tutup dengan gelas
penutup.
2. Amati dengan pembesaran lemah (10x10)
3. Amati apakah bayangan benda sama atau terbalik, dan gambar !

Penuntun Praktikum Biologi 5


4. Sambil memandang ke dalam lensa okuler, geser preparat dari kiri ke kanan dan dari
atas ke bawah. Amati kemana bayangan bergerak?
5. Ubahlah lensa obyektif ke pembesaran yang lebih besar. Amati apakah ada perubahan
luas bidang pandang?
6. Berapa diameter bidang pandang mikroskop pada obyektif lemah (mm) dan obyektif
kuat?

1.2. Pengamatan butir pati pada umbi kentang


1. Sayat tipis umbi kentang dengan silet, letakkan sayatan pada permukaan gelas obyek
yang telah diberi setes air, selanjutnya tutup dengan gelas penutup
2. Amati dengan mikroskop sel-sel penyusun umbi tersebut, serta butir-butir pati didalamnya.
3. Teteskan larutan Iodine pada tepi kanan kaca penutup dan pada tepi kiri kaca penutup
tempelkan kertas hisap, dengan demikian larutan iodine tersebut akan masuk kedalam
preparat dan menyebar ke seluruh bagian.
4. Amati dengan mikroskop dan gambar perubahan yang terjadi pada butir-butir pati
tersebut.

2. Penggunaan Mikroskop Stereo


1. Tempatkan mikroskop stereo beserta transformatornya, hubungkan dengan sumber listrik.
2. Tekan tombol "on" pada transformator, pergunakan voltase yang ada pada transformator
sesuai keperluan.
3 . Letakkan spesimen pada cawan petri.
4. Amati dengan mikroskop dengan pembesaran lemah kemudian pembesaran kuat.
5. Amati dan catat pada laporan anda hitung jumlah kaki atau antenanya semut, perhatikan
kepalanya. Bagaimanakah struktur matanya, dapatkan anda lihat dengan jelas ?

PERTANYAAN
1. Apa fungsi lensa obyektif dan kondensor pada mikroskop majemuk?
2. Bandingkan sifat bayangan dari mikroskop majemuk dan mikroskop stereo?
3. Kenapa meja preparat mikroskop harus dalam posisi horizontal?
4. Bagaimana struktur pati pada kentang?

LAPORAN

1. Gambar huruf A dan bayangannya dengan mikroskop cahaya!


2. Gambar sel-sel penyusun umbi kentang, dan batir-butir pati didalamnya!

Penuntun Praktikum Biologi 6


PENGUKURAN MOLEKUL CO2 HASIL RESPIRASI MANUSIA

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Pertukaran gas pada vertebrata, umumnya terjadi dalam tiga fase, yaitu bernafas
(breathing), transpor gas melalui sistem sirkulasi, dan pertukaran gas antara kapiler darah
dengan sel tubuh (Gambar 6). Pada saat bernafas, burung atau mamalia menghirup udara
(inhalasi) dan O2 masuk ke dalam paru-paru, sedangkan pada saat mengeluarkan udara
(ekshalasi) dan CO2 dikeluarkan dari paru-paru ke lingkungan luar.

Tranpor gas melalui sistem sirkulasi dimulai dari


proses difusi O2 dari alveolus paru-paru ke kapiler darah.
Dalam darah, oksigen dibawa oleh hemoglobin dan
diedarkan ke sel-sel tubuh. Pada saat bersamaan, darah
juga berperan dalam mengangkut CO2 dari jaringan ke
paru-paru. Fase ketiga adalah pertukaran gas yang terjadi di
dalam jaringan tubuh, dimana sel-sel tubuh menerima O2
dari darah dan sel tubuh juga memberikan CO2 ke darah.
Oksigen di dalam sel-sel tubuh digunakan dalam proses
respirasi seluler untuk mendapatkan energi dengan
pembakaran (oksidasi) molekul-molekul makanan.
Organ respirasi pada vertebrata adalah paru-paru.
Pada reptil, burung, dan mamalia paru-paru relatif lebih
besar dan mempunyai permukaan respirasi lebih luas
dibandingkan pada amphibia. Paru-paru manusia terdapat
dalam rongga dada.

Gambar 6. Pertukaran gas

Saat inhalasi, udara memasuki organ-organ respirasi yang meliputi rongga nasal
(hidung), laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan berakhir di alveolus. Saluran udara dari
rongga hidung sampai ke paru-paru, dilindungi oleh epitelium yang lembab, silia dan mukus
sebagai elemen pembersih. Mukus memerangkap debu, polen, dan kontaminan lainnya.
Alveoli (tunggal: alveolus) berbentuk seperti sekumpulan buah anggur. Satu dari paru-paru
kita, mengandung jutaan alveoli. Di alveoli ini terjadi difusi gas O2 ke kapiler darah dan CO2
dari kapiler darah ke alveoli.
Pada saat ekshalasi, sejumlah CO2 dilepaskan. Setelah bekerja berat, seperti berlari
atau olah raga, laju pernafasan lebih cepat. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi laju
pernafasan? Apakah konsentrasi CO2 per satuan volume udara yang kita hembuskan
meningkat jika laju pernafasan meningkat? Percobaan ini akan memberikan jawaban.
Dalam percobaan ini, CO2 yang berasal dari hembusan nafas ditampung dalam
kantung plastik besar, kemudian disalurkan ke dalam air.CO2 larut didalam air dan bereaksi

Penuntun Praktikum Biologi 7


membentuk asam karbonat (H2CO3). Makin banyak CO2 yang ditambahkan ke dalam air,
makin banyak asam yang terbentuk. Besarnya konsentrasi asam yang terbentuk diukur
dengan banyaknya basa yang diperlukan untuk menetralkannya.

Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mengukur besarnya molekul CO2 yang dihasilkan dalam
proses respirasi pada manusia.

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum terdiri dari: selang plastik (pipa)
berdiameter 0.5 cm, kantung plastik ukuran 2,5 liter (25x40 cm), tiga gelas ukur volume
100 ml, botol tetes, gelas pengaduk, ember dan air, NaOH (0.01N), dan brom thimol blue.

Metode
1. Beri tanda pembatas dengan spidol pada kantung plastik yang akan digunakan sebagai
penampung udara/air. Lalu sisipkan selang/sedotan plastik ke dalamnya.
2. Ikatlah mulut kantung pada selang/sedotan dengan erat sampai tidak terjadi kebocoran.
3. Cara mengukur volume kantung plastik :
a. Masukkan air kedalam kantung plastik sampai tanda batas yang telah dibuat (No 1).
Agar kantung plastik tidak pecah, lakukan pengisian air di dalam ember yang berisi air
dengan memasukkannya.
b. Tuangkan air di dalam kantung ke dalam gelas ukur dan catat volume airnya. Volume
kantung plastik = volume air = volume udara.
4. Sediakan tiga gelas ukur 100 ml, masing-masing diisi dengan 50 ml air. Tambahkan 10
tetes indikator bromthimol blue dan aduk sampai merata. Jika air belum berwarna biru,
tambahkan beberapa tetes NaOH sampai warna menjadi biru. Lakukan hal yang sama
pada gelas ukur yang lain. Yakinkan bahwa ketiga larutan tersebut memiliki intensitas
warna biru yang sama. Gunakan kertas putih sebagai latar belakang untuk melihatnya.
Berikan tanda A, B, dan C pada ketiga gelas ukur tersebut. Gelas A untuk kontrol, B untuk
udara sebelum beraktivitas, dan gelas C untuk udara setelah beraktivitas.
5. Dalam keadaan istirahat, bernafaslah secara normal. Hembuskan nafas anda ke dalam
kantung plastik, jangan menahan nafas terlalu lama, bernafaslah secara normal. Jika
dalam keadaan biasa hembusan nafas dikeluarkan pada udara terbuka, maka sekarang
hembusan nafas ditampung dalam kantung plastik sampai kantung plastik penuh.
6. Setelah kantung plastik penuh dengan hembusan nafas, segera lipat pipa plastik bagian
tengah agar tidak ada udara yang keluar. Masukkan ujung pipa plastik kedalam air di
gelas ukur B dan keluarkan udara dari kantung plastik sedikit demi sedikit. Air yang biru
kini berubah menjadi kuning.
7. Pada gelas ukur B, yang sekarang airnya berwarna kuning, beri setetes larutan NaOH
dan aduklah. Jika warna belum menjadi biru teteskan lagi NaOH setetes demi setetes
sampai warna air menjadi biru. Birunya harus sama dengan warna biru air yang ada
didalam gelas ukur A. Hitung jumlah tetes NaOH yang ditambahkan.
8. Ukurlah berapa ml NaOH yang dipakai. Caranya : teteskan NaOH ke dalam gelas ukur
10 ml sejumlah tetesan NaOH yang digunakan untuk membuat larutan menjadi biru.
9. Sekarang anda harus lari-lari mengelilingi Laboratorium Biologi sampai terengah-engah.
10.Lakukan tahapan no 3-7, perbedaannya ujung pipa plastik kini masukkan dalam gelas
ukur C.

Penuntun Praktikum Biologi 8


11. Hitung banyaknya mikromol CO2 yang terdapat dalam satu liter udara yang berasal
dari hembusan nafas anda.

Banyak CO2 Sedikit CO2


Kuning Gradasi warna dari kuning ke biru Biru
Lebih asam Lebih basa

PERTANYAAN

1. Bandingkan jumlah mikromol CO2 yang terdapat dalam 1 liter udara, sebelum dan setelah
latihan, wanita dan pria yang berat badannya diatas 50 kg dan dibawah 50 kg.
2. Gambarkan data tersebut dalam bentuk grafik.
3. Kesimpulan apa yang dapat Anda tarik dari percobaan ini? Jelaskan!
4. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi laju pernafasan?
5. Apakah konsentrasi CO2 per satuan volume udara yang kita hembuskan meningkat jika
laju pernafasan meningkat?

LAPORAN
1. Data hasil pengukuran CO2

Laki-laki Wanita
< 50 kg > 50 kg < 50 kg > 50 kg
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Istirahat (A) Kelompok 4
Kelompok 5
Rata-rata
Galat baku

Kelompok 6
Kelompok 7
Berolahraga Kelompok 8
Berat (C) Kelompok 9
Kelompok 10
Rata-rata
Galat baku

Catatan: Jadi untuk percobaan ini perlakuannya adalah aktivitas, jenis kelamin, dan bobot
badan, masing-masing dengan tiga ulangan. Data tersebut dapat dianalisa dengan
statistik.

2. Gambar grafik data

Penuntun Praktikum Biologi 9


RESPIRASI ANAEROB

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Kata fermentasi berasal dari bahasa latin ferveve yang berarti mendidih. Kata
tersebut digunakan untuk menggambarkan penampakan dari sari anggur yang terfermentasi.
Oleh karena itu pada jaman dahulu fermentasi berarti transformasi sari anggur menjadi
wine.
Definisi ilmiah kata fermentasi pertama kali dikemukakan oleh Louis Pasteur, seorang
ahli kimia Perancis. Menurut Pasteur, fermentasi adalah proses penguraian gula menjadi
alkohol dan CO2 yang disebabkan adanya aktivitas sel-sel khamir dalam cairan fermentasi
tanpa suplai udara. Persamaan reaksinya sebagai berikut:
C6H12O6 2CH3CH2OH (etanol) + 2CO2 + 22 kkal
Fermentasi dapat diartikan sebagai suatu cara untuk memanen energi kimia tanpa
menggunakan oksigen atau tanpa rantai transpor elektron. Proses ini terdiri atas glikolisis
ditambah reaksi yang membentuk NAD+ dengan mentransfer elektron dari NADH ke piruvat
atau turunan piruvat. NAD+ kemudian dapat digunakan kembali untuk mengoksidasi gula
dengan glikolisis, dengan demikian akan menghasilkan dua molekul ATP dengan fosforilasi
tingkat substrat.

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini terdiri atas tabung reaksi besar, tabung
reaksi kecil, gelas piala, plastik, dan karet. Bahan yang diperlukan dalam praktikum meliputi:
larutan 105 glukosa/gula, ragi/khamir, dan indikator phenol-red.
Metode
1. Siapkan 2 tabung reaksi besar, beri nomor 1 dan 2 pada masing-masing tabung reaksi
tersebut
2. Isi tabung reaksi besar dengan larutan glukosa 10% sehingga tingginya melebihi sekitar
2 cm tabung reaksi kecil.
3. Beri 2-3 tetes indikator phenol-red
4. Masukkan tabung reaksi kecil dengan posisi terbalik dalam tabung nomor 1
5. Tutup mulut tabung reaksi besar nomor 1 dengan plastik dan ditekan dengan ibu jari
rapat- rapat.
6. Balikkan tabung tersebut dan bilamana perlu ketuk-ketuk perlahan sampai tabung reaksi
terisi penuh larutan glukosa, kemudian balikkan segera sehingga tabung reaksi kecil
tidak ada udara.
7. Tutup dengan plastik dan ikat dengan karet pada mulut tabung tersebut. Biarkan pada
tempat hangat.

Penuntun Praktikum Biologi 10


8. Beberapa butir ragi (kurang lebih 100 butir) dicampur merata dengan larutan glukosa
yang telah diberi indikator phenol-red tersebut dalam gelas piala, kemudian masukkan
kedalam tabung nomor 2.
9. Masukkan tabung reaksi kecil dengan posisi terbalik, kemudian dilakukan tahapan
seperti pada tabung nomor 1.
Tutup pakai plastik
dan ikat pakai karet

Gambar 7. Percobaan respirasi anaerob

10. Amati perubahan yang terjadi setelah 1 sampai 2.0 jam. Bandingkan antara tabung 1 dan
2. Cium aroma pada tabung dan terangkan apa yang terjadi! (Gambar 7).
11. Biarkan ke dua tabung selama kurang lebih 24 jam dalam suhu ruang. Goyang-
goyangkan tabung percobaan perlahan selama + 5 menit setelah 24 jam. Ukur volume
CO2 yang terbentuk dengan cara :
a. Dengan penggaris, ukur tinggi udara yang terbentuk dalam tabung durham
(cm).
b. Ambil tabung durham lain dan isi dengan air setinggi udara yang terbentuk.
c. Tuang air ke dalam gelas ukur 10 ml maka jumlah air sama dengan jumlah
CO2 yang terbentuk

Catatan: 1. Setiap regu hanya satu (1) perangkat percobaan


2. Setelah pengamatan selesai, semua alat yang dipakai harus dicuci
dan dikeringkan kembali

PERTANYAAN
1. Apa fungsi phenol red?
2. Kenapa ragi dalam larutan glukosa bertambah banyak jumlahnya?
3. Pada langkah ke-enam kenapa mulut tabung harus ditutup dengan plastik dan diikat
dengan karet?
4. Pada langkah ke-10 dari mana asal CO2?

LAPORAN
Jelaskan perubahan yang terjadi dari hasil percobaan setelah 2 jam dan
bandingkan hasilnya dengan hasil percobaan setelah 24 jam

Penuntun Praktikum Biologi 11


LAJU FOTOSINTESIS

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Laju pembentukan oksigen dapat digunakan sebagai suatu petunjuk untuk
mengetahui laju fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan. Oksigen perlahan-lahan larut
dalam air, tampak gelembung-gelembung oksigen yang dibentuk oleh tumbuhan air yang
sedang berfotosintesis. Hal ini dapat diamati dengan mudah. Jika gelembung-gelembung
tadi dasarnya tetap sama, maka jumlah gelembung yang dibentuk setiap satuan waktu akan
menunjukkan laju fotosintesis, asalkan semua faktor lain yang mempengaruhi laju
fotosintesis ini dibuat tetap.

Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah mempelajari pengaruh intensitas cahaya terhadap laju
fotosintesis dalam suatu tumbuhan.

BAHAN DAN METODE


Alat dan bahan
Alat yang diperlukan dalam praktikum ini meliputi gelas ukur 100 ml (2 buah), gelas
pengaduk (2 buah), lampu sorot, pisau atau silet, jam dengan jarum detik *, pinset,
penggaris. Bahan diperlukan adalah tanaman Hydrilla sp, larutan natrium bikarbonat
(NaHCO3) 0.25%, dan benang/tali.
Metode
1. Sediakan 2 batang Hydrilla sp. yang cukup panjang dan utuh, potong pangkalnya,
masukkan satu batang Hydrilla sp. dalam gelas ukur berisi air destilata yang baru
dididihkan dan telah dingin. Batang yang satunya lagi dimasukkan dalam gelas ukur
berisi larutan natrium bikarbonat (0.25%) dengan panjang batang setinggi gelas ukur,
diikat agak longgar pada sebatang gelas pengaduk dan letakkan dalam keadaan terbalik.
2. Letakkan gelas pada jarak 1 m dari lampu sorot. Biarkan selama 5 menit. Hitung jumlah
gelembung gas yang keluar dari pangkal setiap menit selama 5 menit. Jumlah
gelembung merupakan perkiraan kasar tentang laju produksi oksigen dalam fotosintesis
yang menunjukkan laju fotosintesis (Gambar 8).
3. Ulangi penghitungan jumlah gelembung pada kedua batang Hydrilla sp. itu pada jarak
0.75, 0.5, 0.2 dan 0.1 m dari sumber cahaya.

Penuntun Praktikum Biologi 12


Gelas
pengaduk

Tanaman
Hydrilla

Gelas
ukur 100

Gelas ukur Gelas ukur lampu


berisi larutan berisi air
Natrium bikarbonat

Gambar 8. Rangkaian percobaan laju fotosintesis

PERTANYAAN
1. Bagaimana hubungan antara perubahan jarak lampu dari tumbuhan dan perubahan
intensitas cahaya yang diterima tumbuhan?
2. Bagaimana hubungan antara intesitas cahaya dan laju fotosintesis seperti yang
tertera dalam data saudara?
3. Jika grafik telah selesai, kemanakah kemiringan garis grafik itu?
4. Faktor-faktor lingkungan lain apakah yang dapat mempengaruhi laju fotosintesis ?
5. Dalam rancangan percobaan ini, faktor-faktor manakah yang diatur?
6. Adakah faktor-faktor yang tidak diatur? Jika ada, bagaimana kiranya anda akan
mengubah rancangan percobaan ini untuk dapat mengatur faktor-faktor tadi?

LAPORAN
1. Pindahkan data yang diperoleh dari tahap 3 dalam bentuk grafik dengan jarak pada
absis dan jumlah gelembung pada ordinat.
2. Terangkan hasil percobaan yang diperoleh!.

Penuntun Praktikum Biologi 13


APLIKASI HUKUM MENDEL PADA MANUSIA

PENDAHULUAN
Uraian Singkat
Hukum Mendel digunakan dalam pewarisan banyak karakter pada manusia seperti
wajah berbintik-bintik coklat (freckles) dan wajah mulus (no freckles), garis rambut rata
(straight hairline) dan garis rambut yang menjorok ke depan (widows peak). Karakter-
karakter tersebut ditentukan oleh gen tunggal.
Gen merupakan sebuah unit hereditas yang terdapat dalam kromosom. Gen memiliki
alternatif bentuk disebut alel. Alel dimiliki suatu organisme melalui pewarisan dari tetuanya.
Alel yang menutupi ekspresi alel lain disebut dominan (biasanya ditulis dengan huruf kapital,
misal T). Alel yang tertutupi oleh ekspresi alel lain disebut resesif (ditulis dengan huruf kecil,
misal t). Genotipe suatu organisme melibatkan semua alel yang terdapat di dalam sel, baik
dominan maupun resesif. Perwujudan secara fisik suatu karakter disebut fenotipe, sebagai
contoh jika alel A dominan terhadap a maka fenotipe dominan dihasilkan dari organisme
bergenotipe AA atau Aa. Fenotipe resesif dihasilkan dari organisme bergenotipe aa.
Pada tahun 1908, ahli Matematika Inggris G.H. Hardy dan ahli Fisika Jerman W.
Weinberg secara terpisah mengembangkan model matematika yang dapat menerangkan
proses pewarisan tanpa mengubah struktur gen di dalam populasi. Jika suatu populasi ada
dalam kondisi kesetimbangan Hardy-Weinberg, frekuensi alel di dalam populasi akan
konstan dari satu generasi ke generasi lainnya, dengan syarat:
1) populasi sangat besar
2) tidak aliran gen (tidak ada migrasi individu/gamet ke dalam atau dari luar populasi)
3) mutasi tidak mengubah unggun gen (gene pool)
4) kawin acak (random mating)
5) semua individu mempunyai kesempatan yang sama dalam keberhasilan reproduksi
(tidak ada seleksi alam).
Untuk mempelajari kesetimbangan Hardy-Weinberg, kita ambil contoh populasi
burung bubi. Populasi awal burung bubi 500 yang terdiri atas 320 bergenotipe WW (kaki
tidak berselaput renang), 160 bergenotipe Ww (kaki tidak berselaput renang) dan 20
bergenotipe ww (kaki berselaput renang). Alel W dominan terhadap w. Frekuensi genotipe
WW yaitu 0.64 (320/500=0.64), Ww yaitu 0.32 (160/500=0.32) dan ww yaitu 0.04
(20/500=0.04). Dari frekuensi genotipe, dapat dihitung frekuensi masing-masing alel. Setiap
individu bubi membawa dua alel untuk tipe kaki, oleh karena itu populasi bubi mempunyai
1000 alel untuk karakter tersebut. Penjumlahan alel W pada bubi bergenotipe WW; 2 x 320
= 640 dengan bubi bergenotipe Ww; 160, menghasilkan alel W sebanyak 800. Frekuensi
alel W (dominan) diberi lambang p, sebesar 800/1000 atau 0.8, frekuensi alel w (resesif)
diberi lambang q, sebesar 0.2. Dalam keterangan di atas perlu diperhatikan bahwa p + q =
1. Jika gamet berpasangan secara acak, maka peluang frekuensi homozigot WW = p 2,
peluang frekuensi homozigot ww = q2, dan peluang heterozigot Ww = 2pq, maka p2 + 2pq +
q2 = 1.

Tujuan
1. Mempelajari karakter manusia yang diwariskan pola pewarisan dominan-resesif
2. Membedakan fenotipe dan genotipe pada manusia
3. Mempelajari penggunaan persamaan Hardy-Weinberg

Penuntun Praktikum Biologi 14


BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Dalam praktikum ini diperlukan 50 mahasiswa anggota kelompok dan tabel fenotipe
dan genotipe untuk anggota kelompok pada butir (1)
Karakter yang akan digunakan yaitu:
1) Tongue rolling (saat lidah dijulurkan, lidah dapat menggulung membentuk huruf U);
alel R (mampu menggulung lidah) dominan terhadap alel r (tidak mampu menggulung
lidah)
2) Widows peak (garis rambut menjorok); alel W (garis rambut menjorok) dominan
terhadap alel w untuk garis rambut rata.
3) Attached earlobes (daun telinga yang menempel); alel E untuk daun telinga bebas
dominan terhadap alel resesif e untuk daun telinga menempel.

Metode
1) Tuliskan fenotipe yang dimiliki oleh anggota kelompok kecil anda pada setiap karakter ke
dalam Tabel 1, bila mungkin tulis pula genotipenya. Mungkin anda memiliki karakter
resesif untuk gen G. Contoh genotipe anda resesif homozigot (gg). Bila anda memiliki
karakter dominan dan salah satu orang tua anda memiliki karakter resesif, berarti anda
heterozigot (Gg) untuk karakter tersebut.
2) Berikan data dari kelompok kecil anda kepada asisten untuk dimasukkan ke dalam data
kelompok besar
3) Untuk setiap karakter: (a) hitung frekuensi untuk setiap genotipe, (b) hitung frekuensi alel
untuk alel dominan dan resesif. Tuliskan hasil anda seperti contoh pada Tabel 2. Nilai
yang didapat merupakan frekuensi hasil pengamatan di dalam populasi baru dan
jumlahnya harus sama dengan satu.
4) Untuk menentukan frekuensi harapan, gunakan frekuensi alel yang telah ditentukan di
awal praktikum (perhatikan bahwa misal frekuensi A atau B = p dan frekuensi a atau b =
q). Hitung frekuensi genotipe dengan rumus kesetimbangan Hardy-Weinberg: p2 + 2pq +
q2 = 1. Jumlah individu harapan untuk setiap genotipe diperoleh dengan mengalikan 50
(total besar populasi) dengan frekuensi harapan. Tuliskan hasil anda seperti contoh pada
Tabel 3. Untuk membandingkan hasil pengamatan dengan harapan, anda dapat
menggunakan uji statistik, khi-kuadrat (Chi-square). Gunakan Tabel 4 untuk melakukan uji
ini.

PERTANYAAN

1. Berapa proporsi dominan homozigot di dalam populasi?, berapa proporsi resesif


homozigot di dalam populasi ?, berapa proporsi heterozigot di dalam populasi ?
2. Perhatikan hasil pengamatan dan harapan, apakah kedua hasil tersebut tetap? Jika tidak
bagaimana anda menjelaskannya ?
3. Apakah alel dominan dapat dipastikan mendominasi alel dalam populasi ? Bagaimana
anda menjelaskan hal ini?

Penuntun Praktikum Biologi 15


LAPORAN
Tabel 1 Fenotipe dan Genotipe pada tiga karakter manusia
Karakter Fenotipe probandus Genotipe Jumlah Jumlah Fenotipe
probandus Genotipe
Tongue Lidah menggulung RR RR: Lidah menggulung:
rolling
Rr Rr: .
Lidah tidak rr rr: Lidah tidak menggulung: ..
menggulung

Widows Garis rambut menjorok WW WW: Garis rambut menjorok:


peak
Ww Ww: .
Garis rambut rata ww ww: . Garis rambut rata:

Attached Daun telinga bebas EE EE: . Daun telinga bebas:


earlobes Ee: .
Daun telinga ee ee: .. Daun telinga menempel: .
menempel

Tabel 2. Frekuensi genotip dan alel hasil pengamatan dalam populasi baru
_________________________________________________________________
Frekuensi genotipe Frekuensi alel
___________________________________________________________________
AA Aa aa A a
___________________________________________________________________
----- ----- ----- ----- -----
( %) ( %) ( %)
___________________________________________________________________

Tabel 3. Frekuensi harapan alel dan genotipe pada populasi baru


_______________________________________________________________
Populasi Awal Populasi baru
_________________________________________________________________
Frekuensi alel Jumlah genotipe Frekuensi alel
________________ _______________________ ______________
A a AA Aa aa A a
_________________________________________________________________
( %) ( %) ( %)
_________________________________________________________________

Tabel 4. Uji khi-kuadrat untuk membandingkan hasil pengamatan dan harapan


Genotip Nilai Nilai o-e (o-e)2 (o-e)2
pengamatan harapan e
(o) (e)
AA
Aa
aa

X2 =

X2Tabel ( = 0.05, db = 1) = 3.841

Penuntun Praktikum Biologi 16


DASAR SELULAR REPRODUKSI ORGANISME

PENDAHULUAN
Uraian Singkat
Organisme baru berasal dari organisme yang telah ada, baik melalui reproduksi
seksual yang didahului proses perkawinan ataupun melalui reproduksi aseksual atau bahkan
cukup melalui pembelahan biner seperti pada bakteri. Reproduksi ini merupakan salah satu
ciri utama pembeda antara mahluk hidup dengan benda tak hidup. Hal yang penting dalam
fase reproduksi adalah terbentuk atau dihasilkan keturunan yang membawa atau mewarisi
material genetik dalam bentuk molekul DNA dari induknya. Unit dasar kehidupan ada pada
tingkat sel. Oleh karena itu, untuk memahami fenomena reproduksi organisme dengan baik
perlu ditunjang dengan pemahaman yang cukup baik mengenai dasar selular yang
mencakup pembelahan sel atau reproduksi sel.
A. Pembelahan Biner
Organisme prokariota yang mencakup bakteri dan archaea merupakan organisme
bersel satu, sehingga siklus sel prokariota adalah juga tipe reproduksi organisme tersebut
yaitu melalui pembelahan biner (binarry fission). Dalam organisme prokariota pun, prinsip
pewarisan material genetik tetap terjadi meskipun jauh lebih sederhana bila dibandingkan
dengan sel eukariota. Kebanyakan organisme prokariota mempunyai material genetik
berupa satu molekul DNA sirkuler. DNA ini setelah berasosiasi dengan protein akan
membentuk kromosom yang juga jauh lebih sederhana bila dibandingkan terhadap
kromosom eukariota.
Tahapan umum pembelahan biner dan pewarisan material genetik pada bakteri adalah
sebagai berikut: (i) Pada sel bakteri dewasa, DNA menempel ke membran plasma ketika
akan dan sedang bereplikasi, (ii) sel tumbuh secara bertahap dan berkesinambungan
sehingga titik penempelan DNA yang bereplikasi pada membran plasma bergeser dan
terpisah, (iii) akhirnya dua molekul DNA hasil replikasi terpisah dan secara bersamaan
komponen sitoplasma mengganda, (iv) pembentukan membran plasma dan dinding sel baru
yang membagi sel menjadi dua bagian atau dua sel baru yang identik (Gambar 9a).
Pembelahan biner juga dijumpai pada organisme eukariota, yaitu pada Protozoa seperti
Paramaecium sp. (Gambar 9b). Paramaecium sp. memiliki dua macam inti yaitu
makronukleus dan mikronukleus. Makronukleus berhubungan dengan metabolisme,
perkembangan dan karakter fisik sel, sedangkan mikronukleus berperan dalam transmisi
informasi genetik selama pembelahan. Bersamaan dengan pelekukan membran sel ke
bagian dalam pada sel yang akan membelah, makronukleus memanjang dan mengalami
penggentingan, sedangkan mikronukleus membelah melalui proses mitosis. Pada
akhirnya,terjadi pembelahan sitoplasma dan terbentuklah dua individu yang identik.

a.
Oral groove
Makronukleus
Mikronukleus Makronukleus
b Mikronukleus

Gambar 9. a. Bakteri Escherichia coli dalam tahapan akhir proses pembelahan biner
b. Model proses pembelahan biner pada Paramaecium sp.

Penuntun Praktikum Biologi 17


B. Mitosis
Mitosis merupakan bagian dari siklus sel eukariota yang hanya mencakup sekitar 10%
dari total periode siklus sel. Bagian terlama dalam siklus sel adalah interfase yang terdiri dari
tiga subfase yang berkesinambungan yaitu G1, S, dan G2. Pada periode G1 atau periode
gap pertama antara pembelahan sel dan sintesis DNA dimulai, akan terjadi pembentukan
senyawa-senyawa untuk keperluan replikasi DNA dan penggandaan organel serta
komponen sitoplasma lainnya sehingga sel tumbuh membesar. Selanjutnya sel memasuki
subfase S, yaitu periode terjadi proses replikasi DNA. Pada subfase berikutnya, G2, sel aktif
melakukan proses metabolisme, khususnya dalam mensintesis protein utama untuk fase
pembelahan sel atau fase Mitotik (M). Pada fase Mitotik inilah proses mitosis terjadi yang
dilanjutkan dengan proses sitokinesis. Dengan dua tahapan pembelahan sel ini, mitosis dan
sitokinesis, akhirnya akan dihasilkan dua sel bersaudara yang secara genetik identik.
Mitosis merupakan proses perubahan yang dinamis dan berlanjutan, tetapi secara
umum dapat dikategorikan ke dalam empat fase yaitu profase, metafase, anafase dan
telofase (Gambar 10). Beberapa ciri utama dari masing-masing fase adalah sebagai berikut:
Profase : terjadi kondensasi molekul DNA (serat-serat kromatin) yang berasosiasi dengan
protein sehingga terbentuk kromosom yang memendek dan menebal. Pada
tahapan ini, khususnya tahapan akhir profase, kromosom dapat diamati di bawah
mikroskop cahaya dengan teknik pewarnaan DNA dalam bentuk kromatid
bersaudara yang masih disatukan oleh sentromer.
Metafase: membran inti terdegradasi sehingga tidak terlihat, tetapi muncul benang-benang
halus dari dua kutub yang berbeda. Bagian benang halus ini akan menempel
pada sentromer dan menarik kromosom sehingga berada pada bidang metafase
(ekuator). Pada tahapan ini, karena kromosom dalam kondisi penebalan yang
maksimum dan posisi yang tersebar sehingga terpisah satu dengan lainnya,
merupakan fase yang tepat untuk menghitung jumlah kromosom dan mempelajari
morfologinya.
Anafase : daya tarik benang kinetokor yang menempel ke sentromer ke arah dua kutub yang
berlawanan, menyebabkan kedua kromatid bersaudara akan terlepas (bagian
sentromer membelah) menjadi dua kromosom baru. Kromosom ini akan tertarik
dan bermigrasi ke dua kutub berlawanan.
Telofase: tahapan ini diawali ketika kromosom-kromosom baru sudah terpisah dan
terkumpul pada dua kutub yang berbeda dalam sel. Tahapan terakhir, membran
inti akan terbentuk untuk membungkus dua kelompok kromosom tersebut
sehingga terbentuk dua inti dalam satu sel.

a. b. c. d. e. f.

Gambar 10 Kromosom pada interfase dan proses mitosis: a. Interfase; b. Profase awal;
c. Profase akhir; d. Metafase; e. Anafase; f. Telofase.

Penuntun Praktikum Biologi 18


Proses mitosis berlangsung pada setiap sel eukariota yang aktif membelah, misalnya
pada tanaman terjadi pada sel-sel meristem di ujung akar atau pucuk tanaman. Pada
periode ini material genetik berupa molekul DNA atau kromatin akan berasosiasi dengan
protein membentuk kromosom. Kromosom secara mudah dapat dilihat dengan mikroskop
cahaya dengan teknik pewarnaan DNA, misalnya dengan larutan aceto-orcein. Di luar
proses pembelahan, DNA sulit diamati karena berada dalam bentuk serabut yang sangat
halus dan panjang yang dinamakan kromatin. Mitosis terjadi juga pada sel-sel hewan
dengan mekanisme yang sama seperti pada tumbuhan. Perbedaan antara keduanya
nampak pada proses sitokinesis. Pada sel hewan pembentukan membran sel dengan cara
membuat lekukan ke dalam (acleavage furrow), sedangkan pada sel tumbuhan
pembentukan membran dimulai dari tengah sel asal yang diikuti pembentukan diding sel.
C. Meiosis
Meiosis berlangsung hanya pada jaringan dalam organ seks saat pembentukan
gamet dan berfungsi mereduksi jumlah kromosom, sehingga sel gamet yang dihasilkan
hanya mengandung jumlah kromosom setengahnya. Hal yang sama seperti sebelum
mitosis, sebelum memasuki proses meiosis sel akan menggandakan komponennya,
khususnya DNA (kromosom) telah bereplikasi. Proses meiosis terdiri dari dua tahapan
pemisahan atau pembelahan kromosom yang berkesinambungan yaitu meiosis I dan
meiosis II. Pada meiosis I terjadi pemisahan kromosom homolog, dan pada meiosis II terjadi
pembelahan kromatid menjadi dua kromosom bersaudara yang terpisah. Dilihat dari material
genetiknya, sebelum meiosis terjadi hanya satu kali penggandaan dan dalam proses
meiosisnya terjadi dua kali pembelahan atau pemisahan, sehingga hasil akhirnya adalah
empat sel yang masing-masing dengan jumlah material genetik sel hanya setengah dari sel
somatik atau sel sebelum fase S dalam siklus sel. Contoh hasil proses meiosis ini misal
adalah terbentuknya tetrad pada antera dalam kuncup bunga (Gambar 11).

Gambar 11 Fase tetrad pada perkembangan polen dalam antera kuncup bunga Lily
Fase-fase dalam proses meiosis I maupun meiosis II pada dasarnya akan meliputi
fase-fase seperti pada mitosis, yaitu profase, metafase, anafase dan telofase. Antara
meiosis I dan meiosis II dapat melalui tahapan sitokinesis ataupun tidak, sedangkan setelah
meiosis II selalu dilanjutkan dengan tahapan sitokinesis. Reduksi jumlah material genetik
dalam sel gamet yang menjadi hanya setengahnya akan dipulihkan kembali dengan proses
fertilisasi yang didahului dengan proses perkawinan (misal pada umumnya hewan) dan
penyerbukan pada tanaman berbunga. Oleh karena itu, proses pembentukan gamet atau
meiosis dan fertilisasi merupakan dasar reproduksi seksual.

Tujuan
Praktikum bertujuan mengamati pembelahan biner pada Paramaecium sp.,
mengamati tahapan-tahapan mitosis ujung akar bawang dan blastula ikan, dan mengamati
proses meiosis pada antera Rhoeo discolor dan testis Rana sp.

Penuntun Praktikum Biologi 19


METODE
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum meiliputi: preparat permanen
Paramaecium sp., preparat permanen ujung akar bawang (Allium cepa)., preparat permanen
meiosis I dan meiosis II (Rhoeo discolor) preparat permanen mitosis (Allium cepa), preparat
permanen testis Rana sp., preparat permanen miosis Rhoeo discolor dan mikroskop cahaya.

A. Pengamatan pembelahan biner Paramaecium


A.1. Preparat permanen
1. Mintalah preparat permanen Paramaecium yang sedang membelah pada asisten.
2. Amati dengan menggunakan mikroskop, pertama dengan menggunakan pembesaran
10x10 (lensa okuler 10x dan lensa objektif 10x), kemudian dilanjutkan dengan lensa
objektif 40x. Usahakan untuk menemukan tahapan pembelahan inti dan pembelahan sel.
3. Gambar dan beri keterangan pada tahapan-tahapan pembelahan tersebut.
B. Pembelahan Mitosis
1. Mintalah preparat permanen ujung akar bawang (Allium cepa) dan preparat mitosis pada
blastula ikan kepada asisten anda.
2. Amati preparat tersebut dengan mikroskop pada pembesaran 10x40 dan bila diperlukan
dengan pembesaran 10x100.
3. Gambar pembelahan sel tersebut dan beri keterangan seperlunya dan usahakan untuk
mendapatkan tahapan interfase dan seluruh tahapan mitosis (profase, metafase,
anafase, dan telofase).
C. Pembelahan Meiosis
1. Mintalah preparat permanen meiosis dan perkembangan sel gamet pada antera Rhoeo
discolor dan testis Rana sp. pada asisten.
2. Amati preparat tersebut dengan mikroskop pada pembesaran 10x40 dan bila diperlukan
dengan pembesaran 10x100.
3. Gambar pembelahan tersebut dan beri keterangan seperlunya dan usahakan untuk
mendapatkan beberapa tahapan dalam meiosis dan hasilnya berupa tetrad.

PERTANYAAN

1. Jelaskan perbedaan antara siklus sel prokariot dan sel eukariot!


2. Bagaimanakah tipe dan tahapan pembelahan sel yang terjadi pada bakteri dan
protozoa?
3. Buatlah model atau ilustrasi kromosom dalam sel untuk menunjukkan tahapan mitosis
dan meiosis dari lalat rumah (Musca domestica) betina yang memiliki 6 pasang
kromosom!
4. Pada fase mana dalam tahapan mitosis yang paling mudah untuk menghitung jumlah
kromosom sel? Mengapa?
5. Pada fase manakah dalam proses meiosis yang memungkinkan terjadinya pindah
silang? Mengapa?
6. Sebut perbedaan-perbedaan antara meiosis dan mitosis!
7. Jelaskan kesetaraan genetika kromosom pada saat meiosis dan genetika Mendel
(Hukum Segregasi dan Berpadu Bebas)!

Penuntun Praktikum Biologi 20


LAPORAN

1. Gambar pembelahan biner dari awetan Paramaecium!


2. Gambar pembelahan biner dari bahan segar Paramaecium!
3. Gambar pembelahan mitosis dan meiosis!

Penuntun Praktikum Biologi 21


ISOLASI DNA GENOM

PENDAHULUAN
Uraian Singkat
Teknologi DNA (Deoxyribose nucleid acid = asam nukleat) rekombinan merupakan
salah satu aplikasi dalam memahami konsep dasar dalam Biologi. Teknologi DNA
rekombinan mencakup isolasi gen tertentu dari suatu organisme dan disisipkan ke
organisme yang lain dapat berasal dari spesies yang sama atau spesies yang berbeda.
Secara umum teknologi DNA rekombinan bergantung pada empat faktor: (1) teknik isolasi
hanya untuk satu gen atau keseluruhan gen, (2) pemilihan inang yang sesuai untuk
menerima gen yang akan disisipkan, (3) vektor yang akan membawa gen yang akan
disisipkan ke inang yang sesuai, dan (4) mengisolasi sel inang yang telah membawa DNA
rekombinan. Oleh karena itu tahapan isolasi DNA merupakan langkah awal yang sangat
diperlukan untuk teknologi DNA rekombinan.
DNA yang merupakan material genetik terdiri dari molekul nukleotida berupa gula
pentosa (deoxyribose), basa nitrogen berupa adenin, timin, guanin dan sitosin yang
dihubungkan oleh gugus fosfat menjadi rantai polinukleotida. Setiap organisme memiliki
ukuran dan urutan DNA yang berbeda-beda. Struktur DNA yang merupakan rangkaian
nukleotida memberikan implikasi pada sifat kimia DNA yang akan bermuatan negatif pada
pH netral seperti yang umumnya ada di dalam sel, sehingga dengan mudah dapat
dipisahkan/diisolasi DNA dari komponen sel yang lain.
Pada percobaan ini, DNA genom yang akan diisolasi berasal dari bawang bombay
dengan metode cepat, yaitu dengan menghancurkan bawang bombay, melepaskan isi sel
berupa protein, DNA, RNA, lemak, ribosom dan molekul-molekul kecil lainnya. Selanjutnya
DNA akan diendapkan dari larutan suspensi sel menggunakan alkohol.

Tujuan:
Praktikum bertujuan mengisolasi DNA genom dari bawang bombay

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum terdiri dari: pemanas (water bath)
0
60 C, blender atau mortar, tabung 1.5 ml, 15 ml, batang gelas pengaduk, kain kasa, corong
bawang bombay, larutan Lisis ( 1 M Tris-HCl pH 7.5 sebanyak 100 ml; 5 M NaCl sebanyak
140 ml; 0.5 M EDTA pH 8.0 sebanyak 20 ml, akuades sebanyak 740 ml dan tambahkan
2%(b/v) Cethyl methyl amonium bromide (CTAB), dan Alkohol absolut

Metode
1. Potong bawang bombay ( berukuran kecil) menjadi 10-20 potongan.
2. Letakkan potongan bawang bombay pada mortar dan dihaluskan, selanjutnya dilakukan
penyaringan dengan menggunakan kain kasa sehingga terpisah antara cairan dan bagian
jaringan bawang bombay yang lain.
3. Selanjutnya pindahkan 3 ml cairan bawang bombay yang telah dihaluskan ke dalam
tabung reaksi dan ditambahkan 3 ml larutan lisis dan homogenisasi dengan cara
mengaduk campuran tersebut.
4. Letakkan campuran yang telah dihomogenisasi pada penangas 600C selama 10 menit.
Lama waktu inkubasi dan suhu sangat berpengaruh pada keberhasilan isolasi.

Penuntun Praktikum Biologi 22


5. Selanjutnya dinginkan dengan menyimpan tabung pada bak es selama 5 menit.
6. Tambahkan alkohol absolut dingin sebanyak 6-10 ml secara perlahan-lahan dengan cara
memiringkan tabung yang berisi suspensi DNA serta penambahan alkohol dilakukan
dari bagian dinding tabung.
7. Tabung yang berisi DNA yang telah ditambahkan alkohol, selanjutnya didiamkan 2- 3
menit dalam posisi miring (jangan sampai bergoyang), dan benang-benang yang
berwarna putih yang merupakan DNA akan mulai terlihat. Selanjutnya DNA dapat
diambil dengan cara menggoyang-goyangkan batang pengaduk. DNA selanjutnya
dapat dilarutkan dalam air steril atau larutan 1 x TE (10 mM Tris-HCl pH 7.5, 1 mM
EDTA pH 8) (Gambar 12).

Gambar 12. Pengendapan DNA

PERTANYAAN
1. Mengapa pemanasan yang tinggi (> 60oC) dapat menyebabkan DNA utas ganda
dapat rusak?
2. Apa fungsi penambahan alkohol absolut dingin pada isolasi DNA genom?
3. Apa fungsi larutan lisis pada isolasi DNA ?

PENGARUH PANAS DAN pH PADA STRUKTUR DNA

PENDAHULUAN
Uraian Singkat
Isolasi DNA merupakan hal sangat rutin dan penting bagi pengembangan Biologi
molekular. Jika DNA telah bisa diisolasi maka selanjutnya dapat dilakukan pengurutan basa
yang ada, manipulasi atau mengubah urutan DNA yang ada. Molekul DNA yang ada di
dalam sel dapat berukuran sangat panjang.
Jika DNA yang ada di dalam sel dikeluarkan dan diisolasi dari bagian sel yang lain,
maka sekeliling larutan menjadi sangat kental (viscosity) (contohnya: menjadi seperti sirup
dan tahan untuk tidak mengalir). Hal ini terjadi karena karena molekul DNA yang panjang
dan cendrung untuk menempel satu dengan yang lainnya karena sifat kohesi antar molekul
dan ikatan hidrogen yang ada antar molekul (ingat: ikatan hidrogen yang membuat kedua

Penuntun Praktikum Biologi 23


utas DNA membentuk struktur utas ganda (double helix). Panas dan pH yang tinggi dapat
mengubah struktur molekul DNA utas ganda. Perubahan pada struktur molekul dari DNA
akan mengubah kekentalan (viscocity) DNA dalam larutan. Sebagai contoh, DNA akan
mengalami denaturasi pada ph yang bersifat alkali dan pada suhu antara 80-97oC.
Pada percobaan ini akan dilihat pengaruh panas dan pH terhadap kekentalan
(viscocity) molekul DNA yang ada di dalam larutan.

Tujuan
Praktikum bertujuan melihat pengaruh panas dan pH terhadap struktur DNA

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum ini terdiri atas: tabung reaksi,
penangas (water bath) suhu 100oC, box berisi es, batang kaca untuk memilin DNA, dan
NaOH 1 N.

Metode
A. Pengaruh panas
1. Tabung berisi DNA genom hasil isolasi pada percobaan isolasi DNA genom yang telah
diberi alkohol, selanjutnya disimpan di air mendidih selama 10 menit.
2. Kemudian tabung tersebut dipindahkan ke dalam box yang berisi es selama 5 menit.
3. Tabung kemudian dikeluarkan, dan diletakkan di rak tabung. Selanjutnya masukkan
batang kaca ke dalam tabung dan pilinlah DNA yang ada di dalam larutan.
4. Bandingkan kekentalan DNA akibat perlakukan panas dan yang tidak diberi panas.

B. Pengaruh pH
1. Tabung berisi DNA genom hasil isolasi pada percobaan isolasi DNA genom yang
telah diberi alkohol, selanjutnya diberi 2-4 ml larutan NaOH 1 N (ingat: Jangan
menumpahkan NaOH ke anda atau baju anda) .
2. Tabung kemudian diletakan di rak tabung. Selanjutnya masukan batang gelas ke
dalam tabung dan pilinlah DNA yang ada di dalam larutan.
3. Bandingkan kekentalan DNA akibat perlakukan larutan alkali, panas dan yang tidak
diberi perlakuan panas atau alkali.

PERTANYAAN

1. Apa akibat yang dimunculkan dari perlakuan panas?


2. Bagaimana mekanisme panas dapat mengubah kekentalan (viscosity) DNA di dalam
larutan?
3. Apa akibat yang dimunculkan dari perlakuan alkali?
4. Bagaimana mekanisme larutan alkali dapat mengubah kekentalan (viscosity) DNA di
dalam larutan?

Penuntun Praktikum Biologi 24


PEWARNAAN SEDERHANA

PENDAHULUAN
Uraian Singkat
Bakteri merupakan organisme tidak kasatmata, hanya dapat kita lihat dengan
bantuan mikroskop. Pengamatan bakteri dengan mikroskop cahaya dapat dilakukan dengan
menggunakan preparat basah dan olesan bakteri yang diwarnai. Preparat basah digunakan
untuk melihat bakteri yang hidup, sedangkan olesan bakteri akan mengamati sel mati.
Olesan bakteri disiapkan sebelum melakukan pewarnaan bakteri. Proses yang
dilakukan pada pembuatan olesan bakteri yaitu fiksasi panas. Fiksasi panas dimaksudkan
untuk mematikan bakteri dan membuatnya menempel pada kaca obyek. Penyiapan olesan
bakteri dilakukan secara aseptik untuk menghindari agar bakteri yang digunakan tidak
tercemar dari bakteri kontaminan dari lingkungan sekitar dan melindungi diri kita dari
kontaminasi dari bakteri yang digunakan.
Setelah dilakukan fiksasi, zat warna diteteskan di atas olesan dan dibiarkan sejenak
agar zat warna meresap ke dalam sel bakteri. Selanjutnya kelebihan zat warna dibilas
dengan air mengalir, setelah kering diamati di bawah mikroskop.
Pewarnaan sederhana digunakan untuk mengamati berbagai bentuk morfologi
bakteri, misalnya bentuk batang, bulat, koma, dan spirilum. Teknik pewarnaan sederhana
hanya menggunakan satu jenis zat warna untuk mewarnai bakteri. Ada dua macam zat
warna, yaitu positif dan negatif. Zat warna positif, seperti biru metilen, safranin, dan ungu
kristal, bermuatan positif (kationik) yang akan terikat pada permukaan obyek (sel bakteri)
yang bermuatan negatif. Sedangkan zat warna nigrosin (tinta India) atau merah Kongo yang
merupakan zat warna asam (anionik) akan menolak obyek yang bermuatan negatif. Oleh
karena itu zat warna nigrosin hanya digunakan dalam pewarnaan tidak langsung (pewarnaan
negatif), untuk mewarnai latar belakang bakteri (Gambar 13).

Sel bakteri

Zat warna Zat warna


positif negatif

+++++

Sel bakteri berwarna gelap, Sel bakteri berwarna bening,


latar belakang bening latar belakang gelap

Gambar 13. Mekanisme pewarnaan sederhana sel bakteri.

Penuntun Praktikum Biologi 25


Tujuan
Praktikum bertujuan melakukan pewarnaan bakteri dengan menggunakan zat warna
biru metilen untuk mengamati morfologi bakteri dan penataannya.

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum terdiri atas: kaca obyek, alkohol
95% dalam botol semprot, lup inokulasi, pembakar spirtus, larutan zat warna biru metilen,
bak pewarna, akuades dalam botol pijit, kertas tissue, spidol permanen, mikroskop, minyak
imersi, kertas lensa, biakan Bacillus subtilis dalam kaldu nutrien, dan biakan Staphylococcus
aureus dalam kaldu nutrien

Metode
1. Bersihkan kaca obyek dengan alkohol 95% agar bebas dari lemak dan kotoran.
2. Setelah kaca obyek kering, buatlah lingkaran dengan spidol permanen sebesar mata
uang Rp 100 di tengah-tengah permukaan bawah kaca obyek. Di pinggir kiri atas
sebelah lingkaran tulis nama organisme yang akan dioleskan.
3. Kocok tabung biakan hingga suspensi merata. Hindarkan terbasahinya sumbat oleh
biakan.
4. Pijarkan seluruh kawat lup inokulasi.
5. Angkat sumbat kapas penutup tabung dengan kelingking kanan, jangan diletakkan di
atas meja agar tidak tercemar. Panaskan mulut tabung.
6. Setelah lup menjadi dingin, ambil 1-2 lup suspensi bakteri pertama secara aseptik (di
dekat pembakar spirtus). Panaskan kembali mulut tabung, sumbat kembali tabung
dengan kapas penyumbat. Letakkan tabung tersebut di rak tabung.
7. Letakkan suspensi di tengah-tengah permukaan atas kaca obyek..
8. Sebarkan suspensi hingga rata seluas area yang disediakan.
9. Pijarkan kembali lup sebelum digunakan lagi.
10. Lakukan langkah 1-10 untuk membuat olesan bakteri yang kedua.
11. Letakkan kaca obyek yang berisi olesan bakteri yang akan diwarnai di atas kawat
penyangga di bak pewarna.
12. Genangi permukaan olesan bakteri dengan zat warna biru metilen menggunakan pipet
yang tersedia.
13. Biarkan olesan terwarnai selama 2 menit.
14. Pegang kaca obyek dengan pinset dan miringkan. Bilas zat warna dengan air dari botol
pijit sampai zat warna yang tertinggal hanya sedikit..
15. Serap air yang tersisa dengan kertas tissue, dan jangan digosok hingga merusak
permukaan olesan bakteri yang telah diwarnai.
16. Amati masing-masing preparat di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 kali dan
1000 kali. Mulailah dengan menggunakan pembesaran 400 kali. Gunakan minyak imersi
di atas permukaan olesan untuk pengamatan dengan pembesaran 1000 kali. Fungsi
minyak imersi untuk memfokuskan cahaya, dan mencegah hilangnya cahaya yang
disebabkan oleh difraksi.
17. Amati morfologi (bentuk) spesimen, bentuknya batang atau bulat, serta penataannya
tunggal, berpasangan, rantai, atau bergerombol seperti anggur.
18. Gambarkan sketsa gambar bakteri dengan skala dan warna yang sesuai pada lembar
jawab yang tersedia. Cantumkan nama masing-masing bakteri yang diamati.

Penuntun Praktikum Biologi 26


PERTANYAAN

1. Sebutkan informasi yang diperoleh dari hasil pewarnaan sederhana sel bakteri!
2. Mengapa sel yang diamati kadang-kadang tidak terdistribusi merata atau bergerombol di
area olesan bakteri?

LAPORAN
1. ........................................................................................................................................
........................................................................................................................................
....................................................................................................
2. ............................................................................................................................
............................................................................................................................
............................................................................................................................

Mikroorganisme: Mikroorganisme:

Pembesaran: Pembesaran:

Mikroorganisme: Mikroorganisme:

Pembesaran: Pembesaran:

Penuntun Praktikum Biologi 27


KERAGAMAN PROTISTA: PROTOZOA

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Protozoa mempunyai ciri-ciri yang mengarah ke hewan, yaitu sebagai konsumen,
bukan fotosintetik. Protozoa mempunyai vakuola makanan sebagai organ pencernaan
makanan dan vakuola kontraktil yang digunakan dalam pengaturan air. Protozoa bersel
tunggal dengan motilitas dan mikrohabitat yang beragam. Protozoa mempunyai beberapa
filum: Rhizopoda (contoh Amoeba), Sarcomastigophora (contoh Trypanosoma), Ciliophora
(contoh Paramaecium), dan Apicomplexa (contoh Plasmodium). Tiga spesimen protozoa,
yaitu Trypanosoma sp., Paramaecium sp., dan Opalina sp. Akan diamati dalam praktikum
ini.
Trypanosoma sp. termasuk dalam filum Sarcomastigophora (Flagellata). Anggota
filum ini bersifat uniseluler, heterotrof, mempunyai paling tidak satu flagelum, dan bersifat
parasit atau hidup bebas. Trypanosoma bersifat patogen dan menyebabkan penyakit tidur di
Afrika. Di daerah tropik, spesies ini juga umum ditemukan dan disebarkan melalui luka akibat
gigitan serangga, seperti nyamuk dan lalat. Trypanosoma hidup di dalam plasma darah di
antara sel-sel darah merah, mempunyai satu flagelum, membran undulata, dan nukleus.
Membran undulata bersifat tipis, pipih, membentuk gelombang yang digunakan untuk
lokomosi.
Paramaecium sp. termasuk dalam filum Ciliophora. Filum ini mempunyai lebih dari
8000 spesies dan tubuhnya ditutupi oleh banyak silia. Sebagian besar anggota filum ini
mempunyai dua nukleus: mikro dan makro nukleus. Mikronukleus membelah secara mitosis
dan mengandung informasi genetik. Makronukleus berperan dalam fungsi-fungsi seluler.
Paramaecium sp. bersifat hidup bebas di air tawar. Reproduksi seksual dengan konjugasi
sebagai ajang pertukaran material genetik dari dua individu. Reproduksi aseksual umum
terjadi dengan pembelahan biner, yaitu mitosis makronukleus dan diikuti dengan
pembelahan sel.
Opalina ranarum (Filum Ciliophora) bersifat parasit pada rektum/kloaka katak (Rana
sp.) Spesies ini dengan betuk sel dengan pelikel, lonjong, pipih, dengan silia, dan tidak
mempunyai sitostom dan vakuola kontraktil. Di dalam sitoplasma ditemukan banyak nuklei
yang berukuran sama. Spesies ini menyerap makanan dari tubuh inangnya.

Tujuan
Praktikum bertujuan mengamati morfologi beberapa spesies protozoa yang hidup
bebas dan parasit.

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Bahan dan alat yang diperlukan terdiri atas: mikroskop cahaya, preparat
Trypanosoma sp., dan Opalina sp., kultur segar Paramaecium sp.

Metode
1. Preparat Trypanosoma sp.
Tuliskan klasifikasinya. Amati preparat dengan mikroskop cahaya dengan
pembesaran lemah. Setelah didapatkan spesimennya, ubahlah ke pembesaran kuat. Amati

Penuntun Praktikum Biologi 28


bentuk sel (bandingkan dengan ukuran eritrosit), bentuk nukleus, membran undulata, dan
flagelum. Gambar hasil pengamatan anda dan beri keterangannya.

2. Preparat Paramaecium sp.


Tuliskan klasifikasinya. Amati spesimen Paramaecium sp dari kultur segar dengan
mikroskop cahaya dengan pembesaran lemah. Ubahlah ke pembesaran kuat setelah
didapatkan spesimennya. Amati bentuk sel, makro dan mikro nukleus, vakuola kontraktil,
vakuola makanan, sitostom, dan silia. Gambar hasil pengamatan anda dan beri
keterangannya.

3. Preparat Opalina ranarum


Tuliskan klasifikasinya. Amati preparat dengan mikroskop cahaya dengan
pembesaran lemah. Ubahlah ke pembesaran kuat setelah didapatkan spesimennya. Amati:
bentuk sel, nukleus, silia, dan granula.

PERTANYAAN

1. Bandingkan bentuk sel Trypanosoma sp., Paramaecium sp. Opalina ranarum!


2. Apa fungsi makro dan mikro nukleus Paramaecium sp. ?
3. Apa perbedaan vakuola kontraktil dan vakuola makanan?

LAPORAN
4. Trypanosoma sp.
a. Klasifikasinya.
b. Gambar bentuk sel (bandingkan dengan ukuran eritrosit), bentuk nukleus, membran
undulata, dan flagelum.

2. Paramaecium sp.
a. Klasifikasi
b. Gambar bentuk sel, makro dan mikro nukleus, vakuola kontraktil, vakuola makanan,
sitostom, dan silia.

3. Opalina ranarum
a. Klasifikasi
b. Gambar bentuk sel, nukleus, silia, dan granula.

Penuntun Praktikum Biologi 29


KEANEKARAGAMAN GANGGANG

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Pada praktikum ini kita akan mempelajari protista yang berfotosintesis seperti
tumbuhan, dan disebut dengan nama umum ganggang (bahasa Inggris singular: alga, plural:
algae). Kelompok ini meliputi organisme uniselular, koloni, maupun multiselular,
bereproduksi secara seksual atau aseksual atau keduanya. Meskipun berfotosintesis seperti
tumbuhan, dalam fotosintesis dihasilkan karbohidrat dan dibebaskan oksigen, beberapa
kelompok ganggang mempunyai pigmen fotosintesis yang tidak dimiliki oleh tumbuhan.
Dalam klasifikasi yang mengelompokan ganggang menjadi beberapa divisi, dikenal antara
lain Chlorophyta (ganggang hijau), Phaeophyta (ganggang coklat), Rhodophyta (ganggang
merah), Chrysophyta (ganggang emas, termasuk di dalamnya diatom), Pyrrophyta
(ganggang api atau dinoflagelata), dan beberapa divisi lainnya.

Diatom
Diatom adalah ganggang uniselular yang mempunyai dinding sel unik karena terbuat
dari bahan seperti gelas (silika hidrat atau silikon hidroksida) terikat pada matriks bahan
organik. Dinding sel diatom tersusun atas dua bagian, yaitu bagian menyerupai wadah
(hipoteka) dan tutup (epiteka).
Diatom bereproduksi secara aseksual dengan mitosis; setiap sel anakan menerima
setengah dari dinding sel induk dan akan membentuk setengah dinding sel lainnya di
sebelah dalam dinding yang lama. Diatom dapat juga bereproduksi secara seksual tetapi
jarang terjadi. Beberapa jenis diatom membentuk kista sebagai fase resisten untuk bertahan
pada lingkungan yang tidak menguntungkan untuk terus hidup.
Diatom merupakan protista yang sangat beragam, anggotanya sekitar 100.000 jenis.
Diatom merupakan komponen utama plankton di laut maupun di danau: satu ember air dari
permukaan laut dapat mengandung berjuta-juta diatom.
Seperti halnya ganggang emas lainnya, sel diatom menyimpan energi dalam bentuk
polimer glukosa yang disebut chrysolaminarin yang tersusun oleh unit-unit -1, 3-glukose.
Cadangan energi tersebut tidak disimpan dalam kloroplas, melainkan dalam vakuola
sitoplasmik. Selain itu, diatom juga menyimpan cadangan energinya dalam bentuk molekul-
molekul minyak. Pigmen fotosintesis pada diatom seperti ganggang emas lainnya berupa
klorofil a dan c serta karotenoid berupa fukoxanthin yang dominan menyebabkan sel
berwarna coklat keemasan.

Ganggang coklat
Ganggang ini selain mempunyai pigmen fotosintesis berupa klorofil a dan c, juga
mempunyai karotenoid berwarna coklat dan hijau zaitun, sehingga tubuhnya seringkali
berwarna coklat. Cadangan karbohidrat pada ganggang coklat disimpan dalam bentuk
manitol atau laminaran, bukan pati.
Semua ganggang coklat multiselular dan kebanyakan hidup di perairan laut. Ganggang
coklat meliputi jenis-jenis ganggang yang sering kita sebut sebagai rumput laut. (Istilah
rumput laut juga digunakan untuk menyebutkan ganggang multiselular yang termasuk dalam
kelompok ganggang hijau dan ganggang merah). Kebanyakan anggota ganggang coklat
mempunyai anatomi tubuh sangat kompleks, bahkan beberapa jenis mempunyai jaringan-
jaringan terspesialisasi dan menyerupai organ pada tumbuhan. Namun demikian, bukti
morfologi dan DNA menunjukan bahwa kesamaan antara ganggang coklat dan tumbuhan ini

Penuntun Praktikum Biologi 30


adalah analog bukan homolog, karena nenek moyang ganggang coklat dan tumbuhan
berevolusi secara independent.
Meskipun tubuh ganggang coklat menyerupai tumbuhan, seluruh tubuh ganggang
coklat disebut thallus, dan suatu thallus tidak mempunyai akar, batang, dan daun sejati.
Thallus ganggang coklat umumnya terdiri dari bagian menyerupai akar (holdfast) merupakan
alat untuk melekat pada substrat, bagian menyerupai batang atau tangkai (stipe), yang
mendukung lembaran-lembaran menyerupai daun (blades). Bagian lembaran pada thallus
menyediakan tempat/permukaan untuk fotosintesis. Beberapa jenis ganggang coklat
dilengkapi juga dengan gelembung udara, untuk membantu tetap terapung di dekat
permukaan air.
Ganggang coklat umumnya menempati zona intertidal, sehingga tubuh ganggang
berada dalam perairan dan terkena ombak serta arus air ketika pasang naik, tetapi terpapar
udara di atmosfir dan sinar matahari ketika pasang surut.
Kelimpahan dan keragaman jenis ganggang coklat tinggi di perairan dingin, namun
demikian di perairan pantai tropika yang bersuhu hangat juga banyak dijumpai ganggang
coklat, contoh jenisnya antara lain Sargassum, Turbinaria, Padina, Hormophysa, dan
sebagainya.

Ganggang merah
Ganggang merah meliputi tidak kurang dari 6000 jenis, umumnya berwarna
kemerahan karena mempunyai pigmen tambahan berupa phycoerytrin yang menutupi
pigmen fotosintesis klorofil a. Bagaimanapun, jenis-jenis ganggang merah yang beradaptasi
hidup di perairan yang dangkal mempunyai phycoerytin lebih sedikit. Sebagai hasilnya,
ganggang merah dapat berwarna hijau kemerahan di perairan dangkal, atau merah cerah di
perairan sedang, atau hampir hitam di perairan dalam. Beberapa jenis tidak mempunyai
pigmen fotosintesis dan hidup heteromorfik sebagai parasit pada ganggang merah lainnya.
Cadangan karbohidrat pada ganggang merah menyerupai glikogen atau amilopektin
dari pati yang tersusun oleh polimer -1, 4-glukose dengan cabang-cabang pada karbon ke
enam.
Ganggang merah merupakan kelompok besar dan melimpah di perairan tropik. Pigmen
fotosintesis pada ganggang ini berupa klorofil A (pigmen hijau daun) dan pigmen tambahan
berupa phycoerytrin (pigmen merah) dan phycosianin (pigmen biru) memungkinkan
ganngang ini menyerap sinar biru dan hijau yang masuk ke dalam perairan lebih dalam
dibandingkan sinar tampak yang lainnya. Beberapa jenis ganggang merah dijumpai di
perairan tawar dan habitat terestrial.
Struktur tubuh ganggang merah bermacam-macam: beberapa uniselular, kebanyakan
multiselular. Gangang merah multiselular yang hidup di perairan laut termasuk juga dalam
kelompok umum yang disebut rumput laut. Ganggang merah multiselular ada yang
berbentuk filamen, ada yang bertalus tersusun oleh filamen-filamen bercabang-cabang dan
saling terjalin membentuk strutur tertentu tertentu, seperti talus tumbuh tegak dan berdaging,
silindris bercabang-cabang, pipih, atau berupa lembaran dengan tekstur keras seperti tulang
rawan, atau lunak. Banyak juga ganggang merah yang mempunyai talus mengandung kapur
tumbuh menempel pada substrat, ada juga yang berkapur tetapi tumbuh tegak. Ganggang
merah mengandung kapur kebanyakan anggota famili Corallinaceae dan umum jumpai di
perairan laut, merupakan komponen penting dalam ekosistem terumbu karang.

Penuntun Praktikum Biologi 31


Ganggang hijau
Ganggang hijau yang meliputi sekitar 7500 jenis, mempunyai beranekaragam bentuk,
dan tersebar luas di bermacam tipe habitat. Kebanyakan dijumpai di air tawar, tetapi bayak
juga jenis-jenisnya yang hidup di laut, permukaan tanah, salju, sumber air panas, pada
permukaan kulit pohon atau daun tumbuhan terestrial. Beberapa jenis ganggang hijau hidup
bersimbiosis di dalam tubuh hewan seperti protozoa, cacing pipih, moluska, maupun sponge;
atau menjadi salah satu komponen yang membentuk liken.
Seperti pada tumbuhan, ganggang hijau mempunyai dinding sel tersusun oleh
selulosa, mempunyai kloroplas mengandung klorofil a dan b, dan cadangan karbohidrat
berupa pati. Kloroplas pada ganggang hijau terbungkus dua membran dan di dalamnya
dijumpai tilakoid-tilakoid berkelompok, setiap kelompok terdiri dari 2 6 tilakoid. Di dalam
kloroplas selain dijumpai cadangan karbohidrat seringkali dijumpai juga pyrenoid. Biasanya
pirenoid dapat diamati dengan mikroskop cahaya, berupa struktur bulat atau lonjong
mengkilat, mengandung enzim ribulose biphosphat carboxylase.
Organisasi tubuh ganggang hijau sangat beranekaragam, meliputi ganggang
uniseluller, koloni, filamentous, tubular dan lembaran. Pada umumnya ganggang uniseluller
dianggap sebagai bentuk ganggang hijau paling primitif, meliputi bentuk-bentuk berflagela
(contohnya Chlaminomonas) maupun tidak berflagela (contohnya Chlorella). Ukuran yang
lebih besar dan struktur/organisasi tubuh yang lebih kompleks pada ganggang hijau
berevolusi dengan tiga macam mekanisme berbeda:

1. Pembentukan koloni dari individu-individu sel (contohnya pada Volvox), dan dalam
bentuk filamen. Ganggang hijau berbentuk filamen contohnya Spirogyra, Mougea dan
Zygnema, ketiga ganggang tersebut umum dijumpai di kolam dan habitat air tawar
lainnya. Spirogyra (sutra air) mudah dikenali dengan kloroplas berbentuk seperti pita
spiral, Zygnema dicirikan oleh adanya dua kloroplas berbentuk seperti bintang,
sementara setiap sel Mougea mempunyai satu kloroplas berbentuk lempengan.
2. Pembentukan tubuh multiselular dengan pembelahan sel dan deferensiasi,
membentuk thallus bermacam bentuk seperti tubular (contohnya pada
Entheromorpha), seperti lembaran (contohnya pada Ulva).
3. Pembelahan berulang-ulang inti tanpa adanya pembelahan sitoplama, membentuk
filament atau tubuh mengandung banyak inti (multinucleate) seperti pada Caulerpa.

Tujuan
Praktikum ini akan mempelajari keragaman struktur organisasi tubuh dan ciri-ciri
lainnya seperti bentuk kloroplas pada ganggang. Pada praktikum ini hanya akan mengamati
beberapa contoh jenis ganggang terutama dari kelompok diatom, ganggang coklat,
ganggang merah, dan ganggang hijau.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan


Alat yang diperlukan terdiri atas Mikroskop compound, gelas benda, gelas penutup,
pipet tetes, pinset, jarum preparat, kain/kertas pembersih. Bahan yang akan digunakan
meliputi: preparat awetan Spirogyra atau sediaan segar Spirogyra, dan herbarium kering dari
Turbinaria, Gracilaria, Ulva, Entheromorpha, Caulerpa.

Penuntun Praktikum Biologi 32


Metode

1. Pengamatan struktur tubuh, bentuk sel, bentuk kloroplas, dan letak pirenoid pada
Spirogyra.

Jika bahan yang disediakan adalah preparat awetan Spirogyra, amatilah preparat
dengan mikroskop compound pada pembesaran lemah (40x). Perhatikan struktur tubuh
Spirogyra yang seperti benang / filamen tersusun oleh satu deret sel-sel berbentuk silindris
(pada mikroskop seringkali tampak berbentuk empat persegi panjang). Setelah itu pindah
pembesaran mikroskop ke 100x, perhatikan bentuk dan jumlah kloroplas pada setiap sel.
Akhirnya fokuskan pengamatan anda pada kloroplas dan pindah pengamatan ke
pembesaran 400x, perhatikan bulatan mengkilat di dalam kloroplas, bulatan tersebut adalah
pirenoid. Gambar hasil pengamatan anda secara skematis, tunjukkan bagian-bagian yang
disebut dinding sel, kloroplas, dan pirenoid.
Jika bahan yang disediakan adalah sampel Spirogyra segar, cara pengamatan yang
dilakukan sama seperti pengamatan di atas, tetapi sebelumnya anda harus membuat sendiri
preparat segar Spirogyra dari bahan yang disediakan. Siapkan gelas benda, kemudian
dengan pipet ambil dan teteskan air di atas gelas benda, dengan pinset ambil dan letakkan
satu helai Spirogyra pada setetes air di atas gelas benda, dengan bantuan jarum preparat
tutup gelas benda dengan gelas penutup.

2. Pengamatan bentuk thallus Turbinaria, Gracilaria, Ulva, Entheromorpha, dan Caulerpa.

a. Turbinaria: Buatlah catatan dan gambar pada buku laporan tentang warna dan bagian-
bagian thallus Turbinaria yang dapat diamati pada herbarium basah yang
disediakan, tunjukkan pada gambar bagian-bagian thallus yang disebut alat lekat
(holdfast), tangkai yang menyerupai batang (cauloid), cabang-cabang berupa bangun
menyegi tiga atau bulat tidak beraturan dengan tepi rata atau bergerigi (filoid),
gelembung udara, dan reseptakel (bagian thallus yang terspesialisasi sebagai tempat
dihasilkannya struktur reproduksi).

b. Gracilaria, Ulva, Entheromorpha, dan Caulerpa: Buatlah catatan dan gambar pada
buku laporan tentang warna dan struktur thallus Gracilaria, Ulva, Entheromorpha, dan
Caulerpa yang dapat diamati pada herbarium kering yang disediakan, tunjukkan pada
gambar anda bagian thallus yang disebut alat lekat (holdfast). Untuk Caulerpa,
perhatikan bagian thallus yang tumbuh mendatar seperti stolon, dengan cabang-
cabang tumbuh tegak dan bercabang menyirip sehingga menyerupai bulu burung,
dan bagian menyerupai akar disebut rhizoid. Pada gambar, tunjukkan bagian-bagian
penting pada thallus sesuai hasil pengamatan. Buatlah rangkuman dalam bentuk
tabel perbandingan pigmen fotosintesis, cadangan karbohidrat, dan organisasi/
struktur tubuh pada diatom, ganggang coklat, ganggang merah, dan ganggang hijau.

PERTANYAAN

1. Apa bentuk kloroplas Spirogyra?


2. Dimana letak pirenoid pada Spirogyra?
3. Jelaskan perbedaan bentuk thallus Turbinaria, Gracilaria, Ulva, Entheromorpha, dan
Caulerpa!
4. Apa fungsi gelembung udara pada Turbinaria?

Penuntun Praktikum Biologi 33


5. Sebutkan pola percabangannya serta tekstur thallus Caulerpa!
6. Mengapa Caulerpa bukan merupakan ganggang hijau multiselular?
7. Sebutkan kelompok ganggang yang paling mirip dengan tumbuhan?
8. Sebutkan kesamaan ciri-ciri tumbuhan dengan kelompok ganggang yang paling mirip
dengan tumbuhan
9. Mengapa tubuh Turbinaria dikatakan tidak mempunyai akar, batang, dan daun, sehingga
disebut thallus, meskipun pada Turbinaria dijumpai bagian yang menyerupai akar,
batang, dan daun?

LAPORAN

1. Gambar struktur tubuh, bentuk sel, bentuk kloroplas dan letak pirenoid pada Spirogyra.
2. Gambar thallus Turbinaria, Gracilaria, Ulva, Entheromorpha, dan Caulerpa.
3. Tabel rangkuman perbandingan pigmen fotosintesis, cadangan karbohidrat, dan
organisasi / struktur tubuh pada diatom, ganggang coklat, ganggang merah, dan
ganggang hijau.

Penuntun Praktikum Biologi 34


KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Tumbuhan merupakan kelompok organisme multisel, eukariot autotrofik yang mampu
mengubah energi cahaya menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis. Tumbuhan
menghasilkan karbohidrat dari karbondioksida dan air dengan bantuan klorofil di dalam
kloroplasnya. Pada umumnya struktur tubuh tumbuhan sudah menyesuaikan diri dengan
kehidupan di darat.
Tumbuhan memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi dalam banyak sifat, baik
sifat morfologi, anatomi, fisiologi, genetika, maupun dari organisasinya. Ditinjau dari
keberadaan sistem pengangkutan air dan nutrisinya, tumbuhan dapat dikelompokkan ke
dalam tumbuhan tidak berpembuluh (Bryophyta) dan tumbuhan berpembuluh
(Tracheophyta). Bryophyta atau dikenal dengan lumut, pada umumnya memiliki ukuran
kecil, dan tidak mempunyai akar, batang dan daun sejati. Tumbuhan berpembuluh biasanya
berukuran besar dengan sumbu sporofit bercabang dan jaringan pembuluh berkembang
dengan baik (xylem dan floem) untuk pengangkutan air dan karbohidrat dalam tumbuhan.
Tumbuhan berpembuluh terdiri atas tumbuhan paku (Pteridophyta), dan tumbuhan berbiji
(Spermatophyta).

1. Tumbuhan lumut (Bryophyta)


Tumbuhan lumut yang masih hidup tidak memiliki jaringan pengangkutan yang
disebut xilem dan floem seperti yang umum ditemukan dalam tumbuhan berpembuluh.
Lumut memiliki generasi gametofit (n) yang lebih dominan dalam siklus hidupnya
dibandingkan dengan generasi sporofit (2n). Gametofit lumut biasanya lebih besar, hidup
bebas, dan menempel pada substrat dengan bantuan rhizoid. Sporofit lumut lebih kecil
dan secara permanen menempel serta nutrisinya bergantung pada gametofitnya. Selain
itu, sporofit lumut biasanya tidak bercabang dan hanya menghasilkan satu sporangium.
Sebagian struktur tubuh lumut berupa thallus yang datar dan bercabang dikotom, dan
belum terdiferensiasi ke dalam akar, batang dan daun. Sebagian lumut lain memiliki
struktur tubuh yang terdiferensiasi ke dalam batang dan daun, tetapi bukan batang dan
daun sejati karena terjadi pada generasi gametofit dan tidak berisi xilem dan floem.
2. Tumbuhan Paku (Pteridophyta)
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berpembuluh yang menghasilkan spora.
Dalam kehidupannya ada pergiliran generasi yang tidak serupa dan hidup bebas, satu
generasi penghasil spora berukuran besar dan generasi yang lain adalah tumbuhan
penghasil gamet disebut prothalus (prothalium), berbentuk hati dan berukuran kecil kira-
kira 0.5 cm. Tumbuhan paku memiliki akar dan batang yang berkembang dengan baik.
Dalam banyak spesies, daun muncul dari batang yang tumbuh menjalar sepanjang
permukaan tanah. Seperti tumbuhan lumut, tumbuhan paku memiliki sperma berflagel
yang membutuhkan air untuk mencapai sel telur, dan memiliki spora tertutup dalam
dinding pelindung yang kokoh.
3. Tumbuhan berbiji
Tumbuhan berbiji dicirikan oleh pembentukan tabung serbuk sari dari serbuk sari
dan terdapat pembentukan biji yang secara normal berisi satu embrio atau satu tumbuhan
dorman yang akan menjadi aktif dan membentuk bibit dalam kondisi lingkungan yang

Penuntun Praktikum Biologi 35


sesuai. Semua tumbuhan berbiji adalah heterospora artinya menghasilkan megaspora
dan mikrospora. Megaspora sudah termodifikasi untuk membentuk suatu bakal biji yang
akan berkembang menjadi biji. Bakal biji yang belum matang terdiri dari satu
megasporangium dikelilingi oleh satu atau dua lapisan jaringan yang disebut integumen.
Mikrospora akan berkembang membentuk serbuk sari. Spermatophyta dikelompokan
kedalam dua subdivisi yaitu Gymnospermae dan Angiospermae.
Pada umumnya tumbuhan Gymnospermae berperawakan pohon, hanya sebagian
perdu dan liana berkayu, tetapi semuanya mengalami pertumbuhan sekunder. Kelompok
ini dicirikan oleh keberadaan bijinya yang tidak diselubungi oleh jaringan buah sehingga
sering disebut tumbuhan berbiji terbuka. Biji gymnospermae tumbuh di atas sporofil, dan
terkumpul pada suatu sumbu membentuk kerucut (cone).
Angiospermae yang dikenal sebagai tumbuhan berbunga meliputi tumbuhan
berkayu dan herba. Kelompok ini dicirikan dengan bakal bijinya berada dalam bakal buah
yang membedakannya dengan tumbuhan Gymnospermae. Anggota kelompok ini
menghasilkan bunga dan buah, dan memiliki siklus hidup yang berbeda dari tumbuhan
lainnya. Kelompok ini memiliki keanekaragaman yang tinggi baik pada karakter vegetatif
maupun karakter generatif. Sistem klasifikasi terbaru berdasarkan karakter morfologi dan
sekuen DNA inti, kloroplas dan mitokondria, pengelompokkan keanekaragaman
tumbuhan Angiospermae kedalam kelompok Family Basal, Komplek Magnoliid, Monocot
dan Eudikot.
Dalam praktikum keanekaragaman tumbuhan akan diperkenalkan tumbuhan
Eudikot dan tumbuhan Monokot. Tumbuhan Eudikotil sangat beranekaragam, termasuk
semua pohon yang dikenal, perdu dan banyak herba. Tumbuhan dikotil memiliki ciri
sebagai berikut: memiliki dua daun lembaga, bagian bunga berjumlah empat, lima atau
kelipatannya, serbuk sari memiliki tiga pori, pertulangan daun seperti jala, jaringan
pembuluh primer dalam suatu lingkaran, dan biasanya memiliki pertumbuhan sekunder.
Monokot tersusun atas tumbuhan seperti rumputan, lili, iris, anggrek, kaktus, dan palm.
Tumbuhan monokotil memiliki ciri sebagai berikut: daun lembaga satu, bagian bunga
berjumlah 3 atau kelipatannya, serbuk sari dengan satu pori-pori, pertulangan daun
sejajar, susunan pembuluh primer komplek, dan pertumbuhan sekunder jarang ada.

Tujuan
Dalam topik ini, mahasiswa akan mempelajari perbedaan sifat tumbuhan lumut,
paku-pakuan, tumbuhan berbiji terbuka, tumbuhan Eudikot dan monokot secara morfologi.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan meliputi lensa tangan, pinset, jarum, silet, scapel, mikroskop
stereo, dan alat tulis. Bahan yang digunakan meliputi: spesimen awetan lumut Pogonatum,
spesimen segar paku Pteris ensiformis, Pinus, bunga kupu-kupu (Bauhinia)/ bunga merak
(Caesalpninia pulcherima), dan bunga pisang (Musa sp.)

Metode
1. Amati tubuh lumut, kenalilah bagian sporofit dan gametofitnya. Gambarlah generasi
sporofit dan gametofitnya dan tunjukkan bagian rhizoid, daun, seta, dan kapsulnya
2. Amatilah tumbuhan paku, kenalilah daun fertil dan daun sterilnya. Perhatikan letak dan
bentuk sporangiumnya. Bandingkan sporofit tumbuhan paku dan lumut!

Penuntun Praktikum Biologi 36


3. Amatilah tumbuhan Pinus, kenalilah strobilus jantan dan betinanya. Tunjukkan dimana biji
dan serbuk sari dihasilkan. Bandingkan sporofit Pinus dan Pteris ensiformis!
4. Amatilah tumbuhan Eudikot dan monokot, perhatikan perbedaan daun, batang, dan
bunga. Bandingkan sporofit dan gametofit pinus, kembang merak dan bunga pisang.
5. Lengkapi tabel pada lembar laporan dengan hasil pengamatan yang saudara lakukan.

PERTANYAAN

1. Dimanakah letak sporofit tumbuhan lumut?


2. Sebutkan bagian-bagian sporofit tubuh lumut!
3. Apakah ditemukan akar pada tumbuhan lumut?
4. Apakah bentuk daun fertil serupa dengan daun steril?
5. Apa yang saudara ketahui tentang daun fertil pada paku?
6. Dimanakan letak sporangium tumbuhan paku?
7. Sebutkan bagian-bagian tubuh paku?
8. Secara seksual, tumbuhan paku berkembangbiak dengan apa?
9. Dimanakah letak biji Pinus?
10. Apa perbedaan strobilus jantan dan betina Pinus?
11. Apakah saudara dapat melihat pertulangan daun Pinus?
12. Secara seksual, Pinus berkembang biak dengan apa?
13. Dimanakah letak biji kembang kupu-kupu?
14. Apa tipe pertulangan daun kembang kupu-kupu?
15. Berapa jumlah daun mahkota kembang kupu-kupu?

LAPORAN

Tabel 1. Perbedaan tumbuhan lumut dan paku


Karakter Lumut Paku
Gametofit
- Daun
- Akar
- Batang
Sporofit
- Daun
- Akar
- Batang

Penuntun Praktikum Biologi 37


Tabel 2. Perbedaan tumbuhan pinus, kembang merak dan rumput
Karakter Pinus Bunga merak/ Pisang
bunga kupu-kupu
Sporofit
Batang/ranting
Bentuk
Permukaan
Daun
Tersusun atas
Pertulangan
Bentuk
Gametofit
Strobilus jantan&betina
Bunga
Jumlah petal
Jumlah sepal
Jumlah Benangsari
Jumlah Putik
Biji

Jawaban Pertanyaan:

Penuntun Praktikum Biologi 38


STRUKTUR ANATOMI ORGAN VEGETATIF TUMBUHAN ANGIOSPERMAE

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Angiospermae atau tumbuhan berbiji tertutup berpembuluh merupakan bagian
utama dari vegetasi alamiah dan budidaya saat ini di samping Gymnospermae. Umumnya
tumbuhan Angiospermae terdiri atas tiga macam organ yaitu akar, batang dan daun. Setiap
organ terdiri atas susunan jaringan-jaringan yang khas. Jaringan tersebut bekerja sama atau
menjadikan organ mempunyai fungsi yang khusus.
A. Akar
Akar berfungsi untuk melekatkan tumbuhan di dalam tanah, menyerap air dan garam
mineral serta sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Sebagai organ, struktur
internal akar terdiri atas berbagai macam jaringan. Masing-masing jaringan berperan dalam
mewujudkan fungsi akar.
Dirunut dari bagian luar ke dalam, struktur internal akar terdiri atas:
1. Epidermis. Epidermis merupakan lapisan paling luar, terutama pada akar yang
belum mengalami pertumbuhan sekunder. Epidermis akar tidak dilapisi oleh kutikula.
Epidermis didusun rapat, tanpa ruang antar sel. Diujung-ujung akar muda, epidermis
membentuk rambut-rambut akar yang berfungsi untuk menyerap air dan garam
mineral. Rambut-rambut akar tua yang terletak di bagian pangkal akar akan segera
mati dan digantikan oleh rambut akar baru di bagian ujungnya.
2. Korteks. Disebelah dalam jaringan epidermis didapati korteks sebagian besar dari
korteks terdiri atas jaringan parenkima. Pada akar muda jaringan korteks relatif
tebal menempati sebagian besar bagian akar. Pada akar dikotil (ada pertumbuhan
sekunder), maka korteks akan terdesak dan akan menjadi relatif tipis. Korteks dapat
berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.
3. Endodermis. Endodermis merupakan lapisan terdalam dari korteks. Endodermis
terdiri atas satu lapis sel yang disusun rapat, tanpa ruang antar sel. Jalur Caspary
merupakan sabuk kedap air yang melingkari sel-sel endodermis pada dinding
transversal dan dinding radial. Susunan sel endodermis yang rapat dan keberadaan
jalur Caspary memaksa air untuk melewati plasma sel. Tidak melewati ruang antar
sel.
4. Perisikel. Perisikel merupakan lapisan parenkima yang membatasi bagian paling
luar silinder pembuluh. Perisekel dapat bersifat meristem, membentuk akar lateral
dan sebagai kambium.
5. Silinder pembuluh. Silinder pembuluh atau silinder pusat merupakan silinder yang
bagian terbesarnya terdiri atas jaringan xilem dan floem. Susunan xilem dan floem
pada akar berbeda dari batang. Tata letak xilem dan floem pada akar berselang-
seling. Tata letak xilem dan floem pada batang adalah radial, floem di luar dan xilem
disebelah dalam.

B. Batang
Secara morfologi dan anatomi berbeda dari akar. Secara morfologi, batang berbuku-
buku yaitu tempat melekatnya daun. Seperti halnya akar, maka xilem dan floem juga
didapati pada batang. Oleh karena itu batang juga berfungsi sebagai penyalur baik air
maupun makanan.

Penuntun Praktikum Biologi 39


Struktur Internal Batang tersusun atas:
1. Epidermis. Epidermis merupakan jaringan paling luar, bersifat sebagai pelindung,
dilapisi kutikula. Setelah terjadi pertumbuhan sekunder (jika kambium telah aktif)
maka epidermis akan rusak/robek. Epidermis yang rusak akan digantikan oleh
jaringan lain yaitu periderm.
2. Korteks. Letak korteks ada disebelah dalam dari epidermis. Sebagian besar dari
korteks terdiri atas jaringan parenkima. Jaringan lain seperti kolenkima, sklerenkima
sering didapati dalam korteks. Pada batang muda jaringan perenkima pada korteks
didapati kloroplas.
3. Berkas pembuluh. Yang dimaksud dengan berkas pembuluh adalah xilem dan
floem, termasuk kambium pembuluh yang terletak di antara xilem dan floem
(monokotil tidak ada kambium pembuiuh). Dikatakan sebagai berkas pembuluh
karena letak xilem dan floem berdampingan, xilem disebelah dalam dan floen di luar.
Seperti halnya xilem dan floem pada akar, xilem dan floem pada batang juga berupa
jaringan kompleks.
Xilem terdiri atas komponen jaringan penyalur yaitu trakeid dan pembuluh kayu.
Keduanya adalah sel-sel yang telah mati dan berfungsi untuk penyalur air. Bentuk
trakeid umumnya didapati pada Gymnospermae dan pembuluh kayu pada
Angiospermae.
Floem terdiri atas jaringan penyalur yaitu sel tapis dan pembuluh tapis. Keduanya
adalah sel-sel yang telah kehilangan intinya tetapi masih memiliki sitoplasma. Bentuk
sel tapis berbeda dari pembuluh tapis. Sel-sel pembuluh tapis didampingi oleh sel-
sel pengiring. Sel pengiring merupakan sel saudara dari sel pembuluh tapis, berasal
dari satu sel yang membelah jadi dua, satu menjadi sel pengiring dan satu lagi sel
pembuluh tapis.
Kambium pembuluh merupakan jaringan meristem yang keluar menghasilkan floem
sekunder dan ke dalam menghasilkan xilem sekunder. Pada monokotiledon di antara
xilem dan floem tidak didapati kambium pembuluh, oleh karena itu pada batang
monokotiledon tidak ada pertumbuhan sekunder.

C. Daun
Fungsi daun adalah untuk fotosintesis. Semua jaringan yang menyusun daun
mempunyai fungsi untuk mendukung terlaksananya fotosintesis. Daun terdiri dari berbagai
jaringan antara lain jaringan pagar, jaringan bunga karang, jaringan xilem dan floem (tulang
daun) dll. Untuk fotosintesis diperlukan air, karbondioksida, cahaya. Air dipasok melalui
jaringan xilem, karbondioksida dipasok melalui stomata dan disimpan dijaringan bunga
karang. Preses fotosintesis berlangsung di jaringan pagar yaitu jaringan dengan sel-sel
yang penuh dengan kloroplas dan berkedudukan di atas daun agar mudah mendapatkan
cahaya, hasil fotosintesis akan di bawa ke seluruh tubuh melaui floem (tulang daun).

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum terdiri atas: mikroskop, gelas obyek,
gelas penutup, pipet dan silet (yang tajam); akar, batang dan daun jagung (Zea mays), akar,
batang, dan daun kacang tanah (Arachis hypogaea, L), medium: Larutan anilin sulfat, larutan
Sudan III dan air.

Penuntun Praktikum Biologi 40


Metode
1. Preparat akar jagung (Zea mays)
Buatlah sayatan melintang akar jagung, gunakan medium anilin sulfat, dan amati dengan
mikroskop pada pembesaran lemah (obyektif 10X). Amati jaringan penyusun akar mulai
dari jaringan penutup (epidermis), korteks, perisikel, endodermis, xilem dan floem.
Perhatikan sistem pembuluh, letak xilem dan floem berselang seling mengelilingi
empulur. Gambarkan penampang melintang akar jagung, lengkapi dengan bagian-
bagiannya.

2. Preparat batang jagung (Zea mays)


Buatlah sayatan melintang batang jagung, amati di bawah mikroskop dengan
menggunakan medium anilin sulfat untuk mewarnai xilem dan sklerenkima yang
mengandung lignin (akan berwarna kuning).
Dengan menggunakan pembesaran lemah (obyektif 10X), amati seluruh
penampang melintang batang jagung, perhatikan susunan berkas pembuluhnya
(tersebar atau teratur?). Amati sistem jaringan dari bagian terluar (sistem penutup)
sampai ke bagian dalam batang. Dengan pembesaran kuat (obyektif 40X) amati satu
berkas pembuluh, perhatikan jaringan-jaringan penyusunnya. Gambar penampang
melintang batang jagung, sebutkan bagian-bagiannya.

3. Preparat daun jagung (Zea mays)


Buatlah sayatan melintang daun jagung dengan bantuan gabus singkong (Gambar 14).
Gunakan medium anilin sulfat dan Sudan III, amati di bawah mikroskop dengan
pembesaran lemah. Pada sisi adaksial, terdapat sel-sel epidermis yang berukuran besar
dan berdinding lebih tipis, dikenal sebagai sel buliform, berfungsi mengatur membuka
dan menggulungnya daun apabila terjadi kekeringan. Seluruh mesofil terdiri dari sel-sel
yang hampir sama bentuknya, tidak terdiferensiasi menjadi jaringan palisade dan spons.
Hal ini umumnya dijumpai pada daun Gramineae. Terdapat satu lapis sel parenkima
berdidning tipis mengelilingi berkas pembuluh, disebut seludang pembuluh. Sudan III
digunakan untuk mengamati lapisan kutikula yang terdapat pada dinding epidermis
bagian luar.
Gambarkan penampang melintang daun jagung, sebutkan bagian-bagiannya.

Arah sayatan menuju anda


Potongan daun kecil
yang dimasukkan ke
dalam belahan gabus Gabus singkong

Gambar 14. Cara menyayat daun jagung, daun kacang tanah dan daun Ficus elastica

4. Preparat akar kacang tanah (Arachis hipogaea. L)


Buatlah sayatan melintang akar kacang tanah, gunakan medium anilin sulfat, amati di
bawah mikroskop. Amati penampang melintang akar dengan pembesaran lemah
(obyektif 10X), dan pembesaran kuat 40X), Bagian terluar adalah epidermis, terdapat
korteks dengan sel-sel parenkima. Perhatikan juga endodermis, perisikel serta bagian

Penuntun Praktikum Biologi 41


pusat akar yang tersusun dari berkas pembuluh. Posisi xilem dan floem berselang
seling. Gambar penampang melintang akar, sebutkan bagian-bagiannya.

5. Preparat batang kacang tanah (Arachis hipogaea. L)


Buatlah sayatan melintang batang kacang tanah, tetesi dengan medium anilin sulfat,
amati di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah (obyektif 10 X). Perhatikan
jaringan-jaringan penyusun batang dengan pembesaran kuat (obyektif 40 X), mulai dari
jaringan penutup. Bagaimana susunan berkas pembuluhnya (teratur/tersebar?), apakah
ditemukan empulur?

6. Preparat daun kacang tanah (Arachis hipogaea. L)


Sayatlah daun kacang tanah secara melintang dengan bantuan gabus singkong
(Gambar 14), tetesi dengan medium anilin sulfat dan Sudan III, amati di bawah
mikroskop. Perhatikan lapisan kutikula menutupi epidermis adaksial dan abaksial pada
dinding luarnya. Amati mesofilnya, apakah terdiferensiasi menjadi jaringan palisade dan
spons? Perhatikan juga berkas pembuluh pada sistem pertulangan daun. Stoma
terdistribusi di permukaan daun, amati. Gambarlah penampang melintang daun kacang
tanah, sebutkan bagian-bagiannya.

PERTANYAAN

1. Bagaimanakah susunan berkas pembuluh pada akar, batang dan daun jagung (Zea
mays).
2. Bagaimanakah susunan berkas pembuluh pada akar, batang dan daun kacang tanah
(Arachis hipogaea. L).

LAPORAN

1. Gambarkan penampang melintang akar jagung


2. Gambar penampang melintang batang jagung
3. Gambarkan penampang melintang daun jagung
4. Gambar penampang melintang akar, sebutkan bagian-bagiannya.
5. Gambar penampang melintang batang kacang tanah (Arachis hipogaea. L)
6. Gambarlah penampang melintang daun kacang tanah

Penuntun Praktikum Biologi 42


TRANSPIRASI TUMBUHAN

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui proses penguapan.
Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi terjadi difusi
air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara kering di luar daun. Kehilangan air dari
daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air dari berkas pembuluh, yaitu
pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk dan dari tanah ke akar (Gambar 15).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi pergerakan air di dalam tumbuhan. Besarnya uap air
yang ditranspirasikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain (1) Faktor dari dalam
tumbuhan (jumlah daun, luas daun, dan jumlah stomata); (2) Faktor luar (suhu, cahaya,
kelembaban, dan angin).
Sel-sel daun hampir jenuh dengan uap air, padahal udara di luar daun hampir kering.
Kebanyakan daun tertutup oleh epidermis berkutikula yang memiliki resistensi (ketahanan)
tinggi untuk terjadinya difusi air. Namun stomata memiliki resistansi rendah ketika membuka
dan uap air berdifusi ke luar melalui stomata. tinggi untuk terjadinya difusi air. Namun
stomata memiliki resistansi rendah ketika membuka dan uap air berdifusi ke luar melalui
stomata. Laju transpirasi dalam stomata bergantung pada gradien konsentrasi uap air.
Lapisan pembatas yang tebal memiliki gradien lebih rendah, sedangkan lapisan pembatas
yang tipis memiliki gradien lebih curam. Oleh karena itu, transpirasi melalui lapis pembatas
yang tebal lebih lambat dibandingkan yang tipis.

Gambar 15. Aliran air dari akar ke daun yang melibatkan proses kohesi, adhesi dan
transpirasi.

Angin membawa udara dekat ke daun dan membuat pembatas lebih tipis. Oleh
karenanya, laju transpirasi tumbuhan akan lebih tinggi pada kondisi dimana terdapat benyak
hembusan angin. Struktur anatomi daun memungkinkan penurunan jumlah difusi uap air
dengan menstabilkan ketebalan relatif dari lapisan pembatas. Misalnya trikoma yang banyak
dan tersusun rapat pada permukaan daun cenderung menyebabkan lapisan pembatas udara

Penuntun Praktikum Biologi 43


yang relatif tidak bergerak. Stomata yang tersembunyi menekan permukaan daun sehingga
stomata membuka
Udara memiliki efek penting dalam penjenuhan konsentrasi udara. Udara hangat
membawa lebih banyak air dari pada udara dingin. Pada saat panas, volume udara akan
memberikan sedikit uap air dengan kelembaban relatif yang lebih rendah daripada saat
dingin. Untuk alasan ini, tumbuhan cenderung kehilangan air lebih cepat pada udara hangat
dari pada udara dingin. Hilangnya uap air dari ruang interseluler daun menurunkan
kelembaban relatif pada ruang tersebut. Air yang menguap dari daun (stomata)
menimbulkan kekuatan kapiler yang menarik air dari daerah yang berdekatan dalam daun.
Beberapa penggantian air berasal dari dalam sel daun melalui membran plasma.
Ketika air meninggalkan daun, jumlah molekul air dalam daun menjadi lebih sedikit. Hal ini
akan mengurangi tekanan turgor. Jika banyak air yang dipindahkan, tekanan turgor akan
menjadi nol. Oleh karena itu, sel menjadi lunak dan kehilangan kemampuan untuk
mendukung daun. Hal ini dapat terlihat ketika tanaman layu. Untuk mengetahui tingkat
efisiensi tumbuhan dalam memanfaatkan air, dilakukan pengukuran terhadap laju transpirasi.
Tumbuhan yang efisien akan menguapkan air dalam jumlah yang lebih sedikit untuk
membentuk struktur tubuhnya (bahan keringnya) dibandingkan dengan tumbuhan yang
kurang efisien dalam memanfaatkan air.

Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan yang
berbeda struktur.dan mengamati jumlah stomata bagian atas dan bagian bawah daun.

BAHAN DAN METODE


Alat dan Bahan
Alat yang diperlukan dalam praktikum adalah gunting dan ember, gelas ukur 10 ml
timbangan, kaca obyek dan kaca penutup, rak tabung, dan mikroskop cahaya. Bahan yang
digunakan dalam praktikum meliputi batang/ ranting tumbuhan herba yang ada di sekitar
laboratorium, minyak kelapa, kuteks bening (cat kuku), dan kertas kuarto, kertas grafik.

Metode
A. Pengukuran Laju Transpirasi
1. Potonglah cabang atau ranting dua jenis tumbuhan di bawah permukaan air. Atur jumlah
daun sedemikian rupa sehingga masing-masing cabang/ranting dari kedua jenis
tumbuhan tersebut memiliki luas daun yang relatif sama. Usahakan potongan selalu
berada dalam air, demikian juga sewaktu memasukkan potongan atau ranting tumbuhan
ke dalam gelas ukur usahakan selalu terendam air.
2. Untuk setiap perangkat (set) isilah 3 gelas ukur 10 ml dengan air sebanyak 6-7 ml.
3. Masukkan segera potongan ranting tumbuhan tersebut ke dalam 2 gelas ukur dan satu
gelas ukur dibiarkan tanpa tumbuhan (sebagai kontrol). Buatlah tinggi permukaan air
pada ke tiga gelas ukur sama.
4. Tetesi (ke dalam tabung) minyak kelapa sampai seluruh permukaan tertutup agar air
tidak menguap. Setiap perangkat disusun pada rak tabung.
5. Catat waktu anda saat memasukkan daun ke dalam gelas ukur.
6. Letakkan perangkat gelas ukur di lapangan terbuka atau di koridor laboratorium yang
terkena penyinaran cahaya matahari.
7. Amati dan catat perubahan air yang terjadi dalam gelas ukur setiap 15 menit selama 1
jam dengan membaca skala yang ada pada gelas ukur. Catat hasil pengamatan anda
seperti dalam Tabel 1.

Penuntun Praktikum Biologi 44


8. Catat jumlah air yang diuapkan setiap periode tersebut dan hitunglah nilai rata-ratanya.
9. Ukur luasan daun yang anda gunakan pada percobaan ini dengan salah satu cara dari
kedua metode berikut:
a. Metode penimbangan :
1. Ambil kertas kuarto, timbang bobot kertas kuarto utuh (bk) dan hitung luasnya (lk).
Gambarlah daun-daun pada ranting yang digunakan pada percobaan di atas di
kertas kuarto (dengan menjiplak daun utuh) lalu potong sesuai ukuran daun
tersebut.
2. Timbang bobot kertas yang anda potong atau duplikat daun (bd).
3. Luas daun (ld) ditentukan dengan rumus: ld = lk x bd / bk
b. Metode dengan bantuan kertas grafik (mm blok).
Daun-daun dijiplak pada kertas grafik, lalu dihitung luasan daun pada hasil jiplakan
yang ada pada kertas grafik tersebut.

B. Penghitungan Jumlah Stomata


1. Oleskan kuteks bening pada sisi atas dan bawah daun dan biarkan beberapa menit
hingga mengering.
2. Tarik dengan bantuan pinset kuteks yang telah mengering tersebut secara hati-hati dan
letakkan di atas gelas obyek, beri air sedikit dan tutup dengan gelas penutup.
3. Amati dengan menggunakan mikroskop pada pembesaran 10 x 40 dan hitung jumlah
stomata/mm2 luas bidang pandang (mm2 luas daun).
4. Hitung luas bidang pandang (10 x 40) dengan cara seperti yang diuraikan dalam topik
pengenalan mikroskop, jika diameter bidang pandang sudah diperoleh, maka jari-jari
bidang pandang dapat dihitung. (r =1/2 x diameter). Lalu hitung luas bidang pandang
(10x40) dengan menggunakan rumus luas lingkaran yaitu: L = r 2, nilai = 3.14
5. Konversikan jumlah stomata per satuan mm2 luas daun.

PERTANYAAN
1. Dari mana air menguap?
2. Apa fungsi gelas ukur yang tidak berisi tumbuhan (kontrol)?
3. Hitung laju transpirasi masing-masing tumbuhan tersebut per cm2 luas daun per jam!
4. Tumbuhan mana yang paling banyak menguapkan air? Mengapa?
5. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi laju transpirasi?

LAPORAN

Tabel 1. Data percobaan transpirasi tumbuhan.


Waktu (menit) Alternanthera tanaman lain Kontrol
brasiliana
/tanaman lain
A (ml) B (ml) A (ml) B (ml) A (ml) B (ml)
0
15
30
45
60
Rata-rata air menguap/jam
Luas daun (cm2)
Laju transpirasi (ml/cm 2/jam)

Penuntun Praktikum Biologi 45


KEANEKARAGAMAN HEWAN

PENDAHULUAN
Uraian Singkat
Hewan (kingdom Animalia) adalah organisme multiseluler, heterotrof yang
memasukkan makanan ke dalam tubuhnya. Umumnya, kita mengelompokkan hewan ke
dalam invertebrata dan vertebrata. Invertebrata dan vertebrata dibedakan berdasarkan ada
tidaknya ruas-ruas tulang belakang. Dalam kingdom Animalia, invertebrata mempunyai
kelimpahan dan keragaman yang paling tinggi, memiliki sekitar 34 filum, 8 diantaranya
merupakan filum yang besar. Porifera (sponge) dan Cnidaria (Coelenterata) merupakan 2
filum yang primitif. Platyhelminthes (cacing pipih), Nematoda (cacing gilig), Annelida (cacing
gelang), Mollusca, Arthropoda, dan Echinodermata merupakan filum yang lebih kompleks.
Vertebrata mempunyai 7 kelas (class), 3 kelas diantaranya adalah ikan yang hidup di air dan
4 kelas lainnya hidup di darat. Tiga kelas ikan adalah Agnatha (lamprey dan hagfish),
Chondrichthyes (ikan bertulang rawan: pari, hiu), dan Chondrichthyes (ikan bertulang keras).
Chondrichthyes merupakan ikan yang dominan di perairan saat ini. Empat kelas vertebarata
lainnya termasuk tetrapoda (hewan berkaki empat), yaitu Amphibia, Reptilia, Aves, dan
Mammalia. Dalam praktikum ini hanya akan dipelajari beberapa contoh hewan yang
termasuk dalam Filum Nematoda, Mollusca, Arthropoda, Chondrichthyes, Osteichthyes,
Amphibia, Reptilia, Aves, dan Mamalia.

1. Hewan Invertebrata

a. Filum Nematoda
Nematoda bisa ditemukan di semua perairan dan terestrial, hidup bebas, parasit,
atau predator. Dengan keragaman yang sangat tinggi. Secara morfologi, nematoda
menunjukkan bentuk dimorfisme dan hermaprodit. Beberapa spesies nematoda bersifat
patogen pada manusia (penyakit kaki gajah, filariasis disebabkan oleh Filaria sp.), hewan
(Ascaris lumbricoides, parasit pada intestinum), dan tanaman. Nematoda dengan tubuh
memanjang yang ditutupi oleh kutikula, saluran pencernaan lengkap (anus dan mulut), dan
rongga tubuh pseudoselom.

b. Filum Mollusca
Mollusca adalah hewan bertubuh lunak, tubuh dengan cangkang eksternal,
cangkang internal, atau tanpa cangkang. Cangkang dihasilkan oleh sel-sel epidermis khusus
yang disebut mantel. Mollusca mempunyai sekitar 110 ribu spesies, terbagi dalam kelas
Polyplacophora, Gastropoda, Bivalvia, dan Cephalopoda. Mollusca bersifat coelomate
(umumnya selom mengecil) dengan sistem peredaran darah terbuka (kecuali pada
cephalopoda). Secara umum, tubuh terdiri atas massa visceral (organ-organ dalam), kaki
otot (muscular) untuk lokomosi, cangkang, dan mantel.
Kelas Gastropoda umumnya dengan cangkang tunggal yang berputar (coiled).
Beberapa Gastropoda, seperti nudibranchia dan garden slug tidak memiliki cangkang.
Kebanyakan spesies Gastropoda hidup di laut, beberapa di air tawar (keong) dan di darat
(siput). Mulut dilengkapi gigi (radula) untuk memecahkan makanan.
Kelas Cephalopoda (cephalo=kepala; poda=kaki) umumnya tidak memiliki cangkang
atau cangkang mereduksi dalam bentuk cangkang internal. Termasuk dalam kelas ini adalah
cumi-cumi, gurita, nautilus, dan cuttlefish). Kaki Cephalopoda mengalami modifikasi dalam
bentuk tentakel. Cumi-cumi termasuk predator, mata berukuran besar (mata terbesar dalam
kingdom animalia dimiliki cumi raksasa (giant squid), dan mempunyai lensa mata untuk

Penuntun Praktikum Biologi 46


membentuk image yang jelas. Gurita (Octopus) merupakan invertebrata yang paling pintar.
Dalam eksperimen di laboratorium, Octopus menunjukkan kemampuan pembelajaran.

c. Filum Arthropoda
Arthropoda merupakan filum terbesar dalam Animalia, mencakup laba-laba, ticks,
tungau (mite), kalajengking, kaki seribu, kelabang, udang, kepiting, dan serangga.
Arthropoda ditemukan di semua habitat. Tubuh beruas dengan eksoskeleton berupa kitin.
Alat gerak (appendage) beruas berperan dalam lokomosi, feeding, reproduksi, pertahanan,
dan sensor lingkungan. Arthropoda mempunyai selom (hewan selomata) dan sistem
peredaran darah terbuka. Filum ini terbagi dalam 3 Subfilum, yaitu Chelicerata (klass
Merostomata dan Arachnida), Crustacea (kelas Crustacea), dan Uniramia (kelas Chilopoda,
Diplopoda, dan Insecta).
Subfilum Chelicerata (laba-laba dan kalajengking) dicirikan oleh alat gerak anterior
mengalami modifikasi menjadi struktur alat makan yang disebut chelicerae. Pasangan alat
gerak kedua (pedipalps) sebagai penangkap mangsa, sensor lingkungan, atau membantu
kopulasi. Tubuh terbagi 2 bagian: cephalothorax (gabungan kepala dengan thoraks) dan
abdomen, tungkai 4 pasang. Chelicerata tidak mempunyai antena. Laba-laba merupakan
chelicerata dengan kelenjar sutera, dimana sutera (polipeptide) dikeluarkan melalui spineret
sebagai bahan membuat sarang.
Subfilum Crustacea (sekitar 35 ribu spesies) hidup dilaut dan air tawar, beberapa
spesies di terestrial. Tubuh terdiri cephalothoraks dan abdomen, alat gerak dua cabang
(biramus), antena 2 pasang, 1 pasang mata majemuk, 4 pasang tungkai jalan pada toraks,
alat gerak abdomen (alat renang=pleopod), dan uropod (alat gerak posterior) yang menutupi
telson.
Subfilum Uniramia dicirikan dengan alat gerak yang uniramus (satu cabang).
Subfilum ini terdiri kelas Chilopoda (kelabang, 3000 species), Diplopoda (kaki seribu, 8000
spesies), dan Insecta (serangga, 10 juta spesies?). Tubuh Insecta (serangga) terbagi 3
bagian dengan jelas, yaitu kepala, thoraks, dan abdomen. Di kepala ditemukan 1 pasang
antena dan alat mulut (labrum, madibula, maksila, dan labium). Pada maksila dan labium
terdapat palpus. Di bagian thoraks ditemukan 3 pasang tungkai dan umumnya dengan 2
pasang sayap. Serangga termasuk selomata, sistem peredaran darah terbuka, dan organ
respirasi berupa trakea.

2. Hewan Vertebrata

a. Kelas Chondrichthyes ( Ikan hiu, pari dan kerabatnya)


Chondrichthyes ditemukan melimpah di lautan sebagai predator atau pemakan
bangkai (scavenger). Endoskeleton anggota kelas ini sebagian besar berupa tulang rawan.
Anatomi luar tubuhnya mendukung sebagai hewan predator, antara lain sepasang sirip
pelvis dan pektoral berfungsi untuk keseimbangan dan manuvering, rahang besar dan kuat,
mata tajam, organ reseptor di nostril dan epidermis sangat sensitif terhadap bau dan arus
listrik. Garis lateral yang memanjang disebelah sisi tubuh mengandung sel-sel sensoris
untuk mendeteksi tekanan arus air dan getaran-getaran yang dilakukan oleh ikan lainnya.

Penuntun Praktikum Biologi 47


b. Kelas Osteichthyes (ikan bertulang keras)
Osteichthyes mempunyai keragaman paling tinggi (20 ribu spesies) diantara
vertebarata. Ikan mas, gurame, nila, tuna dan banyak spesies lainnya adalah ikan yang
termasuk kelas Osteichthyes. Keunggulan Osteichthyes adalah endoskeleton dari tulang
keras, insang dengan operculum, dan gelembung udara untuk keseimbangan dan
membantu ikan mengapung. Garis lateral memanjang di sisi tubuh sampai ke arah kepala
mengandung sel-sel sensoris yang berguna dalam mendeteksi arus air dan keberadaan
predator atau mangsanya.

c. Kelas Amphibia (katak dan salamander)


Amphibia adalah vertebrata pertama yang hidup di darat yang berevolusi dari
kelompok ikan. Katak dewasa hidup di darat, namun katak meletakkan telur di air.
Pembuahan telur terjadi secara eksternal. Telur yang menetas kemudian berubah menjadi
kecebong (tadpole) yang kemudian mengalami metamorfosis menjadi katak dewasa. Selain
dilakukan oleh paru-paru, sistem respirasi katak dewasa juga dibantu oleh kulit yang lembab.
Kulit katak biasanya juga mengandung kelenjar racun untuk pertahanan dirinya. Di dunia
terdapat sekitar 6.150 spesies Amphibia yang termasuk dalam 3 ordo: Urodela (Amphibia
berekor; salamander), Anura (Amphibia tidak berekor; katak, kodok), dan Apoda (Amphibia
tidak berkaki, bentuk mirip cacing; caecilia).

d. Kelas Reptilia (ular, kadal, cicak, kura-kura, buaya)


Reptil bersama burung dan mamalia termasuk amniota (telur dengan cairan amnio).
Di dalam telur, perkembangan embrio dilindungi oleh kantung berisi cairan yang disebut
amnion. Dengan telur beramnion, memungkinkan reptil mampu melakukan seluruh siklus
hidupnya di daratan. Reptil mempunyai kulit yang kering yang ditutupi sisik untuk
mengurangi penguapan air dari tubuhnya. Organ respirasi berupa paru-paru yang sudah
sangat berkembang. Kulit reptil tidak digunakan untuk respirasi. Seperti pada ikan dan
amphibia, termoregulasi reptil bersifat poikilotermik (ektotermik) dimana panas tubuh
diabsorpsi dari panas lingkungan.

e. Kelas Aves (Burung)


Burung adalah hewan berbulu yang mempunyai kemampuan untuk terbang. Hampir
semua bagian tubuh burung teradaptasi untuk terbang: tubuh ringan, tidak mempunyai gigi,
ekor hanya didukung oleh beberapa ruas tulang, bulu ringan, dan tulang berpori. Burung
mempunyai mata yang sangat berkembang. Kemampuan terbang burung didukung oleh otot
dada yang besar. Terbang memerlukan energi yang besar. Kebutuhan energi yang besar
didapatkan dari laju metabolisme yang tinggi. Burung mempunyai kemampuan mengatur
suhu tubuhnya (endotermik). Sifat lain yang mendukung terbang pada burung adalah bulu
yang menutupi tubuhnya untuk mengurangi kehilangan panas dan sistem sirkulasi yang
efisien (paru-paru sangat efisien dalam mengekstrak oksigen).

f. Kelas Mamalia
Mamalia mempunyai 2 ciri utama, yaitu memiliki rambut dan kelenjar susu. Rambut
berfungsi sebagai insulator tubuh dari kehilangan panas sehingga suhu tubuh tetap hangat.
Seperti pada burung, mamalia bersifat endotermik. Sistem respirasi dan sirkulasi yang
efisien pada mamalia mendukung laju metabolisme yang tinggi. Mamalia umumnya
mempunyai otak berukuran besar dan memelihara anak-anaknya dalam waktu yang lama.
Kelas Mamalia terbagi dalam 3 ordo, yaitu Monotremata (mamalia yang meletakkan telur,

Penuntun Praktikum Biologi 48


contoh Platypus), Marsupialia (mamalia berkantung, contoh kanguru), dan Eutheria (mamalia
berplasenta, contoh gajah, kelinci, sapi, paus, manusia).

Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mempelajari keragaman morfologi hewan baik hewan
invertebrata maupun vertebarata.

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan


Alat diperlukan dalam praktikum ini terdiri atas: mikroskop stereo, cawan petri, kuas,
dan pinset. Bahan yang digunakan adalah isi lambung sapi/kambing dalam ethanol 70%,
siput/keong dan cumi-cumi , laba-laba/tungau, udang, belalang, lebah, dan kumbang, ikan
nila, katak, cicak, burung emprit, dan tikus putih.

Metode

1. Pengamatan Nematoda
Ambil beberapa mililiter media isi lambung sapi dengan pipet ke dalam cawan petri.
Dengan menggunakan mikroskop stereo, amati nematoda yang terdapat di dalam media
tersebut. Tentukan bagian mulut, faring dan ekor. Buat klasifikasi nematoda dan gambar
nematoda yang teramati serta keterangannya.

2. Pengamatan Mollusca
Tentukan klasifikasi masing-masing spesimen. Spesimen siput (Achatina fulica):
Amati dan gambar spesimen dan bagian-bagiannya: cangkang, tentukan arah putaran
cangkang, apeks, dan kaki otot. Demikian juga spesimen cumi-cumi (Loligo sp.), amati
bagian tentakel, lengan, saluran sifon, mantel, dan fin (sirip).

3. Pengamatan Arthropoda
Tentukan klasifikasi masing-masing spesimen. (a) Spesimen laba-laba: amati bagian-
bagian tubuhnya, mata, struktur alat mulut, pedipalpi, jumlah tungkai, spineret. (b) Spesimen
udang: bagian-bagian tubuh, mata, antena, rostrum, cheliped, kaki jalan, kaki renang,
uropod, telson. ( c) Spesimen belalang, lebah, dan kumbang: amati bagian-bagian tubuhnya
(kepala, toraks, abdomen), struktur alat mulut, jumlah antena, jumlah dan sifat sayap, jumlah
tungkai.

4. Pengamatan Ikan
Tentukan klasifikasi masing-masing spesimen. Spesimen ikan nila (Oreochromis
niloticus): amati bagian-bagian tubuhnya, alat mulut, mata, operculum, sisik, sirip (dorsal,
pektoral, pelvis, anal, kaudal), garis lateral. Tentukan tipe sirip caudal: homocercal,
diphycercal, heterocercal. Amati sisiknya menggunakan mikroskop stereo dan gambar dalam
buku laporan anda.

5. Pengamatan Amphibia dan Reptil


Tentukan klasifikasi katak (Rana sp.). Amati bagian-bagian tubuh, mata, gigi, nostril,
membran thympani, kaki, jari-jari, phalanges. Spesimen cicak (Cosymbotus platyurus): Amati
bagian-bagian tubuhnya, nostril, kaki, ekor, struktur telapak kaki, dan sisik.

Penuntun Praktikum Biologi 49


6. Pengamatan Burung
Tentukan klasifikasi burung yang anda amati. Gambar dan beri keterangan bagian-
bagian tubuhnya. Amati bentuk paruh, kaki, dan struktur bulu. Dengan menggunakan
mikroskop, amati bulu halus dan bulu sayap. Pada bulu sayap, amati struktur rachis, barb,
barbule, dan hook (kait).

7. Pengamatan Mamalia
Tentukan klasifikasi tikus putih. Amati bagian-bagian tubuh tikus putih. Ambil rambut
dan amati di bawah mikroskop stereo.

PERTANYAAN

1. Jelaskan ciri nematoda pada lambung sapi!


2. Apakah arah putaran cangkang siput merupakan ciri yang spesifik?
3. Jelaskan perbedaan antara jenis-jenis arthropoda yang saudara amati!
4. Apa yang saudara ketahui tentang homocercal, diphycercal, heterocercal!
5. Jelaskan perbedaan antara Amphibia dan Reptil?
6. Apa yang saudara ketahui tentang struktur rachis, barb, barbule, dan hook (kait)?
7. Apa fungsi rambut pada tikus putih?

LAPORAN
1. Nematoda
a. Klasifikasi Gambar nematoda
2. Mollusca
a. Klasifikasi Gambar siput dan cumi-cumi
3. Arthropoda
a. Klasifikasi laba-laba, udang, belalang, lebah, dan kumbang
b. Gambar laba-laba, udang, belalang, lebah, dan kumbang
4. Ikan
a. Klasifikasi b. Gambar ikan nila
5. Amphibia dan Reptil
a. Klasifikasi b. Gambar katak dan cicak
6. Burung
a. Klasifikasi b. Gambar burung
7. Mamalia
a. Klasifikasi b. Gambar tikus putih

Penuntun Praktikum Biologi 50


STRUKTUR DAN FUNGSI PADA TUBUH HEWAN

PENDAHULUAN

Uraian Singkat
Struktur tubuh hewan terorganisasi ke dalam serial tingkatan hirarki seperti kita
mempelajari atom, molekul sampai sel, atau lebih jauh lagi dari sel sampai ekosistem. Jika
diambil contoh, satu sel otot pada jantung seekor hewan berfungsi dalam kontraksi jantung.
Setiap sel otot bercabang sehingga koneksi antara satu sel dengang sel lainnya menjamin
koordinasi dalam kontraksi semua sel otot pada jantung. Sel-sel otot membentuk tingkatan
kedua dari struktur dan fungsi yang disebut jaringan. Jaringan yaitu kelompok sel yang
serupa dengan fungsi yang spesifik. Jantung terdiri dari dua atau lebih tipe jaringan yang
bergabung menjalankan fungsi tertentu. Selain memiliki jaringan otot, jantung juga tersusun
dari jaringan ikat dan . Dalam hal ini jantung merupakan contoh dari tingkat hirarki
berikutnya yang disebut organ. Jantung merupakan salah satu organ di dalam sistem
sirkulasi. Selain itu bagian lain dari sistem sirkulasi yaitu pembuluh darah seperti arteri,
vena dan kapiler.
Struktur tubuh hewan dikelompokkan menjadi empat jaringan dasar yaitu epitel, ikat, otot
dan saraf. Dari keempatnya, jaringan ikat adalah yang paling berbeda ditinjau dari dasar
penyusunan sel-selnya. Pada jaringan ikat, matriks ekstraselular merendam sempurna
semua sel-sel penyusunnya dan karenanya berfungsi menahan tekanan mekanis.
Sebaliknya, pada ketiga jaringan yang lain, matriks ekstraselular tidak sebanyak pada
jaringan ikat.

1. Jaringan Epitel
Sebagian besar sel penyusun tubuh hewan mengorganisasikan diri membentuk
jaringan epitel, yaitu jaringan dengan struktur lembaran dengan sel-sel yang saling
bersambungan sisi dan sisi. Kadang-kadang struktur lembaran sel tadi bertumpuk-tumpuk
atau berlapis-lapis menjadi tebal seperti pada epidermis kulit (epitel berlapis); atau hanya
setebal satu lapis sel seperti pada epitel saluran pencernaan. Sel-selnya bisa panjang dan
berbentuk tabung (kolumnar), kotak (kubus) atau pipih (skuamosa). Beberapa fungsi jaringan
epitel antara lain sebagai batas pelindung jaringan dibawahnya, terlibat dalam metabolisme
yang kompleks (misalnya mensekresikan hormon, enzim, susu dan keringat), menyerap
nutrien, ataupun mendeteksi sinyal. Dari beragam bentuk dan fungsi diatas, ternyata semua
jaringan epitel hanya bisa ditemukan di sisi terluar suatu organ, melapisi permukaan luar
tubuh (kulit) atau permukaan rongga-rongga tubuh (peritoneum).
Kelenjar bisa terdiri hanya dari satu jenis sel epitel, misalnya sel-sel goblet yang
terdapat di dinding usus. Kelenjar yang mengandung beragam sel-sel epitel misalnya
kelenjar endokrin. Hampir semua kulit hewan merupakan sel-sel epitel. Sel-sel kulit pada
vertebrata mengandung keratin untuk mengurangi penguapan air. Sedangkan kulit
beberapa hewan yang lain mensekresikan lendir (mukosa) atau bahan-bahan lainnya,
misalnya pada cacing tanah.
2. Jaringan Ikat
Jaringan ikat pada hewan sangat beragam, antara lain kuat dan elastis (tendon dan
lapisan dermis kulit), keras dan padat (tulang), melindungi dan bisa meredam hentakan
(kartilago), lunak dan transparan (cairan semipadat yang mengisi rongga mata) sampai ke
cair (darah). Semua jenis jaringan ikat tersebut dipenuhi oleh matriks ekstraselular yang
disekresikan oleh sel-sel penyusunnya. Berbagai jenis jaringan ikat mempunyai karakter

Penuntun Praktikum Biologi 51


yang spesifik tergantung pada jenis dan jumlah kolagen dalam maktriknya, dan berbagai
molekul lain yang terikat ke kolagen. Selain itu, berdasarkan jenis kolagennya, jaringan ikat
bisa dibedakan menjadi jaringan ikat longgar (fibroblas) dan jaringan ikat padat (fibrosa).
Matriks ekstraselular pada jaringan ikat longgar mengandung serabut kolagen
fibroblas yang elastis dan fleksibel (epitel kulit dan beberapa organ dalam tubuh, misalnya
paru-paru, arteri dan kantung kemih). Jaringan ini juga merupakan pembentuk lapis
pelindung dari otot, dan pembuluh darah. Sedangkan matriks jaringan ikat padat
mengandung kolagen fibrosa yang tersusun rapat. Jaringan ini bisa ditemukan sebagai
tendon yang berfungsi menghubungkan otot ke tulang, dan juga sebagai ligamen yang
menghubungkan tulang-tulang di persendian. Kartilago dan tulang seringkali dikelompokkan
sebagai jaringan ikat padat. Kartilago mempunyai matriks ekstraselular yang dilengkapi
dengan struktur endapan protein. Kartilago yang lunak bisa ditemukan di kerangka embrional
vertebrata dan kerangka dewasa dari ikan hiu. Selain itu juga di tubuh vertebrata dewasa,
yaitu daun telinga, ujung hidung dan persendian. Sedangkan tulang merupakan jaringan ikat
padat yang di dalam matriksnya ditemukan garam-garam kalsium, mineral dan beberapa
jenis protein yang membuatnya menjadi kuat dan sedikit elastis. Dengan begitu, tulang juga
bertindak sebagai cadangan (reservoir) dari kalsium.
Dari keenam jenis jaringan ikat, jaringan ikat longgar adalah yang paling banyak
ditemukan. Di dalam matriks jaringan ikat longgar hanya sedikit ditemukan serabut berupa
kolagen. Fungsi utama jaringan ikat longgar adalah pengikat dan pengepak material dan
sebagai peredam mekanis bagi jaringan dan/atau organ lainnya. Jaringan ikat longgar yang
ditemukan di lapisan dermis kulit membatasi dengan otot.
Jaringan ikat padat/fibrosa mempunyai matriks yang banyak mengandung serabut
kolagen. Jaringan ini membentuk tendon.
Sel-sel penyusun jaringan lemak banyak mengandung tetesan lemak. Jaringan ini
digunakan sebagai bantalan dan melindungi tubuh, serta sebagai penyimpan energi. Setiap
sel lemak, mengandung tetes lemak yang besar dan matriks relatif sedikit.
Darah adalah jaringan ikat yang tersusun atas sel-sel darah yang tersuspensi dalam
matriks ekstraselular cair yang disebut plasma. Fungsi darah adalah sebagai media
transportasi gas oksigen dan karbondioksia, nutrisi, hormon, berbagai metabolit sekunder,
berbagai limbah metabolisme dan juga terlibat dalam sistem kekebalan tubuh. Ada tiga jenis
sel darah, yaitu sel-sel darah merah (eritrosit), sel-sel darah putih (leukosit) dan trombosit.
Pada manusia, trombosit disebut juga sebagai platelet darah yang berfungsi dalam
pembekuan darah. Pada hewan vertebrata hanya hewan anggota klas Mamalia yang
mempunyai sel darah merah tidak berinti.
3. Jaringan Otot
Jaringan otot terdiri atas sel-sel yang memanjang membentuk serabut sehingga
sering disebut sebagai serabut otot. Sel-sel penyusunnya dilengkapi dengan molekul
miofibril yang bisa berkontraksi yang akan menyebabkan pergerakan hewan. Pada
vertebrata bisa ditemukan tiga jenis otot yang utama, yaitu otot rangka, otot jantung dan otot
polos.
Otot rangka bekerja atas perintah otak secara sadar (voluntary). Serabut ototnya
memanjang dan mempunyai banyak inti yang terletak di tepi (di dekat membran plasma) dan
mempunyai garis melintang yang gelap (pita anisotrop) dan garis terang (pita isotrop).
Otot jantung mempunyai garis-garis melintang seperti otot rangka tetapi serabutnya
bercabang-cabang dan inti selnya terletak di tengah. Pada setiap bagian ujung sel, terdapat
sambungan rapat, yang membentuk struktur pembawa sinyal kontraksi dari satu sel ke sel
lainnya yang mengatur denyut jantung.

Penuntun Praktikum Biologi 52


Pada otot polos yang bekerja secara tidak sadar (involuntary), serabut ototnya
membentuk gelendong, yaitu struktur kedua ujung meruncing dan bagian tengah membesar.
Inti tunggal berada di bagian tengah sel.
4. Jaringan saraf
Jaringan berfungsi dalam mengintegrasikan datangnya rangsang dan tanggapan
rangsang. Sel-sel disebut neurons. Setiap neuron mempunyai badan sel, akson, dan
dendrit. Dendrit berfungsi menerima informasi dari sel-sel lain dan menghantarkan nya ke
badan sel. Badan sel adalah bagian sel yang yang menggembung, didalamnya ada inti,
mitokondria dan organel lainnya sebagaimana sel-sel eukariot. Sedangkan akson
menghantarkan rangsang menjauhi badan sel. Jaringan terdiri dari dua jenis sel, yaitu
neuron dan sel-sel glial. Neuron menghantarkan pesan berupa rangsang. Sel-sel glial
berlekatan dengan neuron dan seringkali mengelilingi neuron yang berfungsi sebagai
pelindung neuron.

Tujuan
Praktikum ini bertujuan mempelajari macam dan struktur jaringan dasar hewan.

Bahan dan Metode

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum adalah mikroskop cahaya, preparat
awetan epitel (pipih, kubus, atau kolumner selapis), preparat awetan beberapa jaringan ikat,
preparat awetan otot polos, skelet, dan jantung, dan preparat awetan jaringan.
Metode
1. Preparat Epitel
Amati preparat yang tersedia (preparat epitel pipih, kubus atau kolumnar) dengan
pembesaran lemah (10X10) dan pembesaran kuat (10X40).
Gambar hasil pengamatan anda dengan pembesaran lemah dan pembesaran kuat.
Dengan pembesaran kuat, amati setiap tipe epitelium: bentuk sel, jumlah inti, letak
inti, dan ciri morfologi lainnya. Lengkapi gambar anda dengan keterangan.
2. Jaringan Ikat
Amati preparat ulas darah Mamalia dan Amfibia dengan pembesaran lemah (10x10)
dan pembesaran kuat (10x40). Gambar hasil pengamatan anda dengan pembesaran
lemah dan pembesaran kuat. Amati sel darah merah dan sel darah putih untuk
masing-masing preparat. Lengkapi gambar anda dengan keterangan.
3. Preparat Tulang Padat (compact bone)
Amati preparat dengan pembesaran lemah (10X10), kemudian dengan pembesaran
kuat (10X40).
Gambar hasil pengamatan dengan pembesaran lemah dan pembesaran kuat.
Dengan pembesaran kuat, amati satu buah sistem osteon, yang terdiri atas lakuna,
kanal sentral, lamela tulang, kanalikuli, dan kanalis Haversi. Lengkapi gambar anda
dengan keterangan
4. Preparat Jaringan Saraf
Amati preparat dengan pembesaran lemah (10X10) dan pembesaran kuat (10X40).
Gambar hasil pengamatan anda dengan pembesaran lemah dan pembesaran kuat.
Dengan pembesaran kuat, amati satu neuron: badan sel, inti, akson, dan dendrit.
Lengkapi gambar anda dengan keterangan.

Penuntun Praktikum Biologi 53


PERTANYAAN
1. Jelaskan perbedaan antara epitel pipih, kubus dan kolumnar selapis!
2. Jelaskan perbedaan dan persamaan secara histologis darah Mamalia dan Amfibia
3. Apa yang anda ketahui tentang lakuna, kanal sentral, lamela tulang, kanalikuli, dan
kanalis Haversi dari sistem osteon?
4. Sebutkan bagian-bagian neuron?

LAPORAN
1. Gambar epitel dan bagian-bagiannya
2. Gambar darah Mamalia dan Amfibia dengan bagian-bagiannya
3. Gambar tulang Padat (compact bone) dan bagian-bagiannya
4. Gambar jaringan dan bagian-bagiannya

Gambar 1. Jaringan otot rangka, otot jantung, dan otot polos, dan distribusinya pada tubuh
manusia

Gambar 2. Bentuk-bentuk sel epitel dan distribusinya pada tubuh manusia

Penuntun Praktikum Biologi 54


Gambar. 3. Jaringan saraf yang diambil dari organ spinal cord.

Gambar 4. Beberapa jenis jaringan ikat dan distribusinya pada tubuh manusia

Penuntun Praktikum Biologi 55


JADWAL PRAKTIKUM M.K. BIOLOGI (BIO 100), SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2017/2018
PERTEMUAN MINGGU KE dan TANGGAL
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
NO MATERI PRAKTIKUM 11/9 18/9 25/9 02/10 9/10 16/10 25/10 6/11 13/11 20/11 27/11 04/12 11/12 26/12
- - - - - - - - - - - - - -
16/9 23/9 30/9 07/10 14/10 21/10 4/11 11/11 18/11 25/11 02/12 09/12 16/12 30/12
1. TataTertib dan Tata Cara Pembuatan Laporan Praktikum
1 A,B
2. Pengenalan Mikroskop
1. Pengukuran Molekul CO2 Hasil Respirasi Manusia
2 2. Struktur dan Fungsi pada Tubuh Hewan A,B
1. Laju Fotosintesis
3 A,B
2. Respirasi Anaerob

Ujian Tengah Semester


1. Dasar Selular Reproduksi Organisme
4 2. Keragaman Protista: Protozoa A,B
1. Isolasi DNA
5 2. Pengaruh Panas dan pH pada Struktur DNA A,B
1. Pewarnaan Sederhana
6 A,B
2. Aplikasi Hukum Mendel pada Manusia
7 1. Keanekaragaman Ganggang A,B
8 1. Transpirasi Tumbuhan A,B
9 1. Keanekaragaman Tumbuhan A,B
10 1. Struktur Anatomi Organ Vegetatif Tumbuhan Angiospermae A,B
11 1. Keanekaragaman Hewan A,B
12 UJIAN PRAKTIKUM A,B
13 PENYERAHAN NILAI PRAKTIKUM A,B
Keterangan:
A= Ruang LABORATORIUM PRAKTIKUM BIO. 1 B = Ruang LABORATORIUM PRAKTIKUM BIO. 2
Jadwal Pengganti Praktikum (waktu dan tempat seperti di jadwal)
UTS UAS
Kamis, 21 September 2017 diganti: Selasa 23 Oktober 2017 (Praktikum) Jumat, 1 Desember 2017 diganti: Jumat 29 Desember 2017 (Praktikum)

Jadwal Praktikum m.k Biologi 100, Sem. Ganjil 2017/2018


Penuntun Praktikum Biologi 1
Penuntun Praktikum Biologi 2