Anda di halaman 1dari 21

KELOMPOK 5

ANALISIS DAN EVALUASI


KEBUTUHAN BELANJA MODAL
dalam Manajemen Keuangan Pemerintah

Disusun oleh :

Dewi Sekarsari Kusumaningtyas [5]


Gregorius Evan Tumbu Hakiki Samosir [13]
M. Catur Istiawan [21]
Restu Aji Budi Utami [29]
Wisnu Adi [37]

8-A AKUNTANSI

PROGRAM DIPLOMA IV AKUNTANSI ALIH PROGRAM

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN


A. Analisis dan Evaluasi Alternatif Belanja Modal

1. Pengertian Belanja Modal

Belanja Modal menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (PP 71 Tahun 2010)

Belanja Modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang
sifatnya menambah aset tetap / inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode
akuntansi, termasuk di dalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya
mempertahankan atau menambah masa manfaat, serta meningkatkan kapasitas dan kualitas aset.

2. Karakteristik dan Kriteria Belanja Modal

Berdasarkan pengertian yang diungkapkan pada bagian sebelumnya, terdapat karakteristik dari
belanja modal. Karakteristik tersebut meliputi :

Berwujud
Sifatnya menambah
Memiliki manfaat yang lebih dari satu periode
Nilainya relatif material

Belanja Modal merupakan pengeluaran pemerintah yang bernilai cukup besar. Adapun kriteria suatu
pengeluaran dapat dikatakan sebagai belanja modal antara lain sebagai berikut:

Pengeluara bersifat tetap, menambah aset, menambah masa umur, dan masih dalam
kapasitas yang relatif tinggi
Pengeluaran tersebut melebihi baas minimum kapitalis atas aset tetap suatu pemerintahan
Niat dari pembelanjaan tersebut tidak untuk dibagikan.

3. Jenis-jenis Belanja Modal

Adapun jenis-jenis belanja modal yang diatur dalam Standar Akuntasi Pemerintahan antara lain:

i. Belanja Modal Tanah


Belanja modal tanah adalah pengeluaran/biaya yang digunakan untuk pengadaan /
pembelian / pembebasan, penyelesaian, balik nama dan sewa tanah, pengosongan,
pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat, dan pengeluaran lainnya
sehubungan dengan perolehan hak atas tanah dan sampai tanah dimaksud dalam kondisi siap
pakai.
ii. Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Belanja modal peralatan dan mesin adalah pengeluaran / biaya yang digunakan untuk
pengadaan / penambahan/penggantian, dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin, serta
inventaris kantor yang memberikan manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan, dan sampai
peralatan dan mesin dimaksud dalam kondisi siap pakai.
iii. Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Belanja modal gedung dan bangunan adalah pengeluaran / biaya yang digunakan untuk
pengadaan / penambahan / penggantian, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan,
pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas
sampai gedung dan bangunan dimaksud dalam kondisi siap pakai.
iv. Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan
Belanja modal jalan, irigasi dan jaringan adalah pengeluaran / biaya yang digunakan untuk
pengadaan / penambahan / penggantian / peningkatan pembangunan / pembuatan serta
perawatan, dan termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan
irigasi dan jaringan yang menambah kapasitas sampai jalan irigasi dan jaringan dimaksud dalam
kondisi siap pakai.
v. Belanja Modal Fisik Lainnya
Belanja modal fisik lainnya adalah pengeluaran / biaya yang digunakan untuk pengadaan /
penambahan / penggantian / peningkatan pembangunan / pembuatan serta perawatan
terhadap fisik lainnya yang tidak dapat dikategorikan ke dalam kriteria belanja modal tanah,
peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, dan jalan irigasi dan jaringan. Termasuk dalam
belanja ini adalah belanja modal kontrak sewa beli, pembelian barang-barang kesenian, barang
purbakala dan barang untuk museum, hewan ternak dan tanaman, bukubuku, dan jurnal
ilmiah.

4. Alternatif Belanja Modal

Alternatif Belanja Modal dapat dikaitkan dengan tiga hal utama yakni anggaran, manfaat dan efek
terhadap pembiayaan.

Anggaran
Alternatif Belanja Modal akan dievaluasi dan dianalisis apabila anggaran tersedia dan
memungkinkan untuk dilakukannya belanja modal. Struktur defisit anggaran akan memungkinkan
alokasi belanja modal yang besar pula, sesuai dengan arah pembangunan yang ada pada RPJMN.

Manfaat
Alternatif belanja modal akan dievaluasi dan dianalisis sesuai dengan manfaat yang hendak
diperoleh dan tujuan yang akan dicapai terkait pengadaan barang modal tersebut. Apabila sesuai
dan memperoleh manfaat maka alokasi belanja modal bisa dievaluasi dan dianalisis dengan baik.
Efek terhadap Pembiayaan

Belanja modal juga harus mempertimbangkan efek pembiayaannya. Dengan demikian alternatif
belanja modal bisa dianalisis dan dievaluasi terkait dampak alokasi belanja modal pada pusat/daerah
yang berpotensi memerlukan pendanaan/pembiayaan baik langsung maupun tidak langsung.

B. Analisis dan Evaluasi Kebutuhan Belanja Modal

1. Metode Cost and Benefit Analysis (CBA)

Cost Benefit Analysis adalah pendekatan yang dilakukan untuk rekomendasi kebijakan
yang memungkinkan analisis membandingkan dan menganjurkan suatu kebijakan dengan cara
menghitung total biaya dalam bentuk uang dan total keuntungan dalam bentuk uang
Analisis Biaya Manfaat (Benefit Cost) sering digunakan pada proyek swasta, biasanya
diukur berdasarkan kepada keuntungan yang didapatkan. Berbeda dengan proyek pemerintah,
keuntungan seringkali tidak dapat diukur dengan jelas karena entitas pemerintah tidak
berorientasi untuk mencari keuntungan.
Keuntungan semu yang diperoleh oleh pemerintah yakni didasarkan kepada manfaat
umum (utility) yang diperoleh oleh masyarakat. Sebagai contoh proyek pemerintah antara lain :
proyek pembangunan jalan, pembangunan jembatan, pengendalian banjir, pengendalian polusi,
dan lain-lain. Sehubungan dengan hal tersebut, analisis NPV dan IRR yang umumnya digunakan
untuk proyek investasi swasta tidak digunakan untuk menilai kelayakan investasi dari proyek
pemerintah.

Dalam proyek pemerintah :

1. Semua pengeluaran (cost) adalah semua biaya yang dikeluarkan Pemerintah.

2. Semua manfaat (benefit) adalah penghematan biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat

dengan adanya proyek tersebut.

Tahapan CBA
Lawrence dan Mears (2004) menyampaikan tahapan dasar dalam melakukan analisis biaya
manfaat secara umum, yakni:
a. Penetapan tujuan analisis dengan tepat
b. Penetapan perspektif yang dipergunakan (identifikasi pemangku kepentingan yang
terlibat)
c. Mengidentifikasi biaya dan manfaat
d. Menghitung, mengestimasi, menskalakan dan mengkuantifikasi biaya dan manfaat
e. Memperhitungkan jangka waktu (discount factor)
f. Menguraikan keterbatasan dan asumsi

Biaya (Cost)
Biaya dalam proyek digolongkan menjadi empat macam, yaitu Biaya Persiapan, Biaya
Investasi, Biaya Operasional, dan Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan.
1. Biaya Persiapan
Biaya persiapan adalah biaya yang dikeluarkan sebelum proyek yang bersangkutan
benar-benar dilaksanakan, misalnya biaya studi kelayakan pada lahan yang akan digunakan
untuk proyek termasuk di dalamnya studi kelayakan pada daerah dan masyarakat sekitarnya
dan biaya untuk mempersiapakan lahan yang akan digunakan.
2. Biaya Investasi atau Modal
Biaya investasi biasanya didapat dari pinjaman suatu badan atau lembaga keuangan
baik dari dalam negeri atau luar negeri. Yang termasuk biaya investasi adalah biaya tanah,
biaya pembangunan termasuk instalasi, biaya perabotan, biaya peralatan (modal kerja).
3. Biaya Operasional
Biaya operasional masih dapat dibagi lagi menjadi biaya gaji untuk karyawan, biaya
listrik, air dan telekomunikasi, biaya habis pakai, biaya kebersihan, dan sebagainya.
4. Biaya Pembaharuan atau Penggantian
Pada awal umur proyek biaya ini belum muncul tetapi setelah memasuki usia tertentu,
biasanya pada bangunan mulai terjadi kerusakan- kerusakan yang memerlukan perbaikan.
Tentu saja terjadinya kerusakan-kerusakan tersebut waktunya tidak menentu, sehingga jenis
biaya ini sering dijadikan satu dengan biaya operasional. Selain itu, masih ada lagi biaya yang
mencerminkan true values tetapi sulit dihitung dengan uang, seperti pencemaran udara, air,
suara, rusaknya/tidak produktifnya lagi lahan, dan sebagainya.

Manfaat (Benefit)
Manfaat yang akan terjadi pada suatu proyek dapat dibagi menjadi tiga yaitu manfaat
langsung, manfaat tidak langsung dan manfaat terkait.
1) Manfaat Langsung
Manfaat langsung dapat berupa peningkatan output secara kualitatif dan kuantitatif akibat
penggunaan alat-alat produksi yang lebih canggih, keterampilan yang lebih baik dan sebagainya.
2) Manfaat Tidak Langsung
Manfaat tidak langsung adalah manfaat yang muncul di luar proyek, namun sebagai
dampak adanya proyek. Manfaat ini dapat berupa meningkatnya pendapatan masyarakat
disekitar lokasi proyek. (sulit diukur)
3) Manfaat Terkait
Manfaat terkait yaitu keuntungan-keuntungan yang sulit dinyatakan dengan sejumlah
uang, namun benar-benar dapat dirasakan, seperti keamanan dan kenyamanan. Dalam
penelitian ini untuk penghitungan hanya didapat dari manfaat langsung dan sifatnya terbatas,
karena tingkat kesulitan menilainya secara ekonomi.

2. Periode pembayaran kembali (Payback period)

Menurut Abdul Choliq dkk (2004) bahwa payback period dapat diartikan sebagai
jangkan waktu kembalinya investasi yang telah dikeluarkan, melalui keuntungan yang
diperoleh dari suatu proyek yang telah direncanakan. Menurut Bambang Riyanto (2004)
bahwa pay back period adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali
pengeluaran investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (Aliran kas
bersih).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan jika, pay back period merupakan jangka waktu
yang diperlukan agar dana investasi yang tertanam pada suatu kegiatan investasi dapat
diperoleh kembali secara penuh/seluruhnya. Metode analisis ini bertujuan untuk
mengetahui seberapa lama (periode) inventasi yang akan dapat dikembalikan saat
terjadinya kondisi break even-point (titik impas).
Metode analisis payback period bertujuan untuk mengetahui seberapa lama (periode)
investasi akan dapat dikembalikan saat terjadinya kondisi break even-point (jumlah arus kas
masuk sama dengan jumlah arus kas keluar). Analisis payback period dihitung dengan cara
menghitung waktu yang diperlukan pada saat total arus kas masuk sama dengan total arus
kas keluar. Dari hasil analisis payback period ini nantinya alternatif yang akan dipilih adalah
alternatif dengan periode pengembalian lebih singkat. Penggunaan analisis ini hanya
disarankan untuk mendapatkan informasi tambahan guna mengukur seberapa cepat
pengembalian modal yang diinvestasikan.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam Pay Back Period, antara lain:
1) Berapa lama harus membiayai proyek
2) Kapan manfaat akan diperoleh
Kelebihan dan kelemahan Pay Back Period
Kelebihan Pay Back Period
1) Digunakan untuk mengetahui jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian
investasi dengan resiko yang besar dan sulit
2) Dapat digunakan untuk menilai dua proyek investasi yang mempunyai rate of
return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi yang jangka waktu
pengembaliannya cepat.
3) Cukup sederhana untuk memilih usul-usul investasi.
4) Mudah dan sederhana bisa dihitung untuk menentukan lamanya waktu pengembalian
dana investasi.
5) Memberikan informasi mengenai lamanya BEP project.
6) Sebagai alat pertimbangan resiko karena semakin pendek payback periodnya maka
semakin pendek pula resiko kerugiannya.

Kelemahan
1) Mengabaikan penerimaan investasi atau proceeds yang diperoleh sesudah payback
periode tercapai.
2) Mengabaikan Time Value Of Money (Nilai Waktu Uang).
3) Tidak memberikan informasi mengenai tambahan value untuk perusahaan.
4) Pay back period digunakan untuk mengukur kecepatan kembalinya dana, dan tidak
mengukur keuntungan proyek pmbangunan yang telah direncanakan.
5) Tidak memperhitungkan nilai sisa dari investasi

Indikator Pay Back Period


1) Periode pengembalian lebih cepat dari waktu yang ditentukan = Layak/Diterima
2) Periode pengembalian lebih lama atau melebihi waktu yang telah ditentukan = Tidak
layak/Ditolak

Rumus Pay Back Period


1) Rumus Pay Back Period jika kas pertahunnya jumlahnya sama

Payback Period = (
2) Rumus Pay Back Period jika kas pertahunnya jumlahnya berbeda

Payback Period = n + x 1 tahun

Keterangan:
n : Tahun terakhir dimana jumlah arus kas masih belum menutup investasi mula-
mula
a : Jumlah investasi mula-mula
b : Jumlah investasi arus kas pada tahun ke-n
c : jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke-n + 1
Jika usulan proyek investasi lebih dari satu, maka periode pengembalian yang
lebih cepat yang dipilih

3. Pembayaran kembali terdiskonto (Discount Payback Period)

Discounted Payback Period hampir sama dengan payback period namun dalam
perhitungannnya memperhitungkan cost of capital sebagai discounted. Sehingga
discounted payback period adalah lama periode dalam tahun yang diharapkan untuk
mendapatkan kembali biaya investasi yang telah dikeluarkan untuk suatu project dari
discounted net cash flow. Discounted payback period adalah revisi dari payback period
yang tidak mempertimbangkan cost of capital. Baik payback period maupun discounted
payback period sering digunakan sebagai indikator untuk project riskiness.
Kelebihan Discounted Payback Period antara lain:
1) Mudah dimengerti
2) Memberikan informasi mengenai lamanya break even project
3) Bisa dijadikan sebagai indikator resiko proyek
Sementara Kekurangan Discounted Payback Period antara lain;
1) Tidak memberikan informasi mengenai tambahan value untuk entitas
2) Tidak mempertimbangkan cashflow yang keluar atau masuk setelah payback period
3) Tidak memberikan informasi mengenai return suatu proyek

4. Nilai sekarang bersih (Net Present Value)

Secara eksplisit NPV memberikan pertimbangan dari nilai waktu uang, dan merupakan
teknik capital budgeting yang banyak digunakan. NPV adalah jumlah present value semua cash
inflow yang dikumpulkan proyek (dengan menggunakan discount rate suku bunga kredit yang
dibayar investor) dikurangi jumlah investasi (initial cash outflow). Net Present Value yaitu: The Net
Present Value is found by subtracting a projects initial investment from the present value of its cash
inflows discounted at a rate equal to the firms cost of capital.

Kelebihan metode NPV sebagai sarana penilaian terhadap kelayakan suatu rencana investasi
barang modal adalah penggunaan nilai waktu uang untuk menghitung nilai sebenarnya cash
flow yang diperoleh pada masa yang akan datang. Dengan demikian, dapat diperoleh gambaran
profitabilitas proyek yang lebih mendekati realitas. Kelebihan lainnya adalah digunakannya discount
faktor, biasanya merupakan salah suku bunga kredit yang dipinjam investor untuk membiayai
proyek. Dengan demikian, penggunaan metode ini menjadi lebih fleksibel karena dapat disesuaikan
dengan discount factor yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. Kriteria penerimaan atas investasi
dengan metode ini adalah diterima apabila NPV yang dihasilkan adalah positif, dan ditolak apabila
nilai NPV negatif. Kelemahan dari metode ini adalah perhitungan yang cukup rumit, tidak semudah
perhitungan payback period. Untuk perhitungannya diperlukan keahlian seorang financial analis
sehingga penggunaannya terbatas.

Rumus NPV

NPV = CFt /(1 + k)t Io


Dimana:
CFt = Net Cash Flow (Prodeeds) pada tahun ke t
k = Tingkat Diskonto
t = Lama waktu atau periode berlangsungnya investasi
I0 = Initial Outlays (Nilai investasi awal)

5. Tingkat pengembalian internal (IRR Internal Rate of Return)

Metode Internal Rate of Return (IRR) merupakan metode penilaian investasi untuk mencari
tingkat bunga (discaount rate) yang menyematkan nilai sekarang dari aliran kas neto (present value
of procceds) dan investasi (initial outlays).
Metode ini mungkin merupakan metode yang paling banyak digunakan sebagai salah satu
teknik dalam mengevaluasi alternatif alternatif investasi. Definisi Internal Rate of
Return adalah: The Internal Rate of Return (IRR) is the discount rate that equates the present value
of cash inflows with the initial investment associated with a project.
Dijelaskan bahwa IRR merupakan rate discount dimana nilai present value dari cash
inflow sama dengan nilai investasi awal suatu proyek. Dengan kata lain IRR adalah rate
discount dimana NPV dari proyek tersebut = Rp0. IRR juga menggambarkan persentase keuntungan
yang sebenarnya akan diperoleh dari investasi barang modal atau proyek yang direncanakan.
Penilaian investasi menggunakan metode IRR ini lebih sulit dibanding metode NPV karena
menggunakan cara coba-coba ketika menentukan besarnya discount rate investasi. Kesulitan ini
dapat diatasi jika dalam perhitungannya menggunakan kalkulator atau komputer. Jika menggunakan
IRR, maka investasi akan diterima bila besarnya IRR lebih besar dibanding tingkat bunga yang
dipergunakan sebagai biaya modal, dan sebaliknya ditolak apabila IRR lebih kecil daripada biaya
modal yang digunakan.
Kriteria penerimaan proyek investasi dengan menggunakan metode Internal Rate of
Return adalah apabila IRR yang dihasilkan lebih besar dibandingkan cost of capital, sebaliknya
apabila lebih kecil dibandingkan cost of capital proyek tersebut ditolak.
Rumus IRR

keterangan:
IRR = internal rate of return
rk = tingkat bunga yang kecil
rb = tingkat bunga yang besar
NPV rk = net present value pada tingkat bunga yang kecil
PV rk = present value of proceeds pada tingkat bunga yang kecil
PV rb = present value of proceeds pada tingkat bunga yang besar

6. Accounting Rate of Return (ARR)

Metode Accounting Rate Return (ARR) mengukur besarnya tingkat keuntungan dari investasi
yang digunakan untuk memperolah keuntungan tersebut. Keuntungan yang diperhitungkan adalah
keuntungan bersih setelah pajak (earning after tax, EAT). Sedangkan investasi yang diperhitungkan
adalah rata-rata investasi yang diperoleh dari investasi awal (jika ada) ditambah investasi akhir
dibagi dua. Hasil dari ARR ini merupakan angka relatif (persentase).
Penggunaan metode ARR ini sangat sederhana sehingga mudah untuk mengambil keputusan.
Apabila besarnya ARR lebih besar dari biaya investasi yang digunakan (biaya modal) maka investasi
tersebut layak untuk dilaksanakan, dan sebaliknya. Namun metode ini banyak kelemahannya, yaitu
sebagai berikut:
b. Mengabaikan nilai waktu dari uang
c. Hanya menitikberatkan masalah akuntansi, sehingga kurang memperhatikan data aliran
kas dari investasi
d. Merupakan pendekatan jangka pendek dengan menggunakan angka rata-rata yang
menyesatkan
e. Kurang memperhatikan panjangnya (lamanya) jangka waktu investasi
f. Rumus ARR

C. Analisis Keuangan Perolehan Barang Modal

Dalam pelaksanaan APBN, pemerintah selalu dihadapkan dengan adanya keterbatasan dana
dan alokasi belanja. Keterbatasan tersebut dilatarbelakangi oleh terbatasnya ruang gerak fiskal
(fiscal space) karena adanya pengeluaran negara yang diwajibkan (mandatory spending) yang sangat
besar. Berdasarkan Nota Keuangan APBN 2017, rata-rata mandatory spending dalam kurun waktu
tahun 2012 hingga proyeksi tahun 2020 sebesar 79,1% sampai dengan 79,7% dari belanja negara.
Belanja prioritas lain di luar mandatory spending hanya mendapat alokasi sebesar kurang lebih 20%
dari belanja negara. Untuk menyiasati agar keterbatasan dana dan alokasi tidak menjadi kendala,
pemerintah harus melakukan berbagai upaya optimalisasi dalam penggunaan dan pemanfaatan
dana yang ada dengan sebaik-baiknya.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah terkait perolehan barang modal adalah dengan
menerapkan perencanaan kebutuhan barang milik negara (RKBMN) pada beberapa K/L sebagai pilot
project, yaitu 20 K/L untuk Tahun Anggaran 2017 dan 30 K/L untuk Tahun Anggaran 2018. Rencana
pengadaan BMN disusun dengan berpedoman pada standar barang, standar kebutuhan, dan
rencana strategis K/L dengan titik berat pada optimalisasi existing BMN. Pemerintah juga melakukan
efisiensi anggaran belanja untuk barang modal non infrastruktur, seperti kendaraan dan gedung
kantor.
Pemerintah dapat mempertimbangkan beberapa alternatif lain dalam memperoleh barang
modal untuk mengatasi keterbatasan dana dan alokasi. Pemerintah dapat memperoleh barang
modal yang diperlukan tanpa mekanisme pembelian, sebagai contoh melalui mekanisme:
1. Leasing
Berdasarkan PP Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah,
leasing merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan BMN/D dengan tidak
menggunakan mekanisme pembelian. Leasing adalah penyediaan barang modal untuk digunakan
oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara
angsuran, baik dengan hak opsi (finance lease) maupun tanpa hak opsi (operating lease). Biaya yang
harus dikeluarkan melalui mekanisme leasing relatif lebih kecil dibandingkan melalui mekanisme
pembelian.
2. Optimalisasi Pemanfaatan Barang Modal Antar Entitas Pemerintah, melalui:
BMN/D yang tidak dimanfaatkan oleh suatu entitas pemerintah dapat dipindahtangankan
kepada entitas pemerintah lainnya yang membutuhkan barang modal tersebut sebagai suatu bentuk
optimasiliasi atas pemanfaatan barang modal. Pemindahtanganan dapat dilakukan melalui
mekanisme sebagai berikut:
a. Pinjam Pakai
Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan barang dari Pemerintah Pusat ke
Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah
jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada Pengelola Barang/Pengguna
Barang.
b. Hibah
Hibah adalah pengalihan kepemilikan barang dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah
Daerah, dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Pusat, antar Pemerintah Daerah, atau
dari Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah kepada Pihak Lain, tanpa memperoleh
penggantian.
c. Tukar Menukar
Tukar menukar adalah pengalihan kepemilikan BMN/D yang dilakukan antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, antar Pemerintah Daerah, atau antara
Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah dengan pihak lain, dengan menerima penggantian
utama dalam bentuk barang, paling sedikit dengan nilai seimbang.

3. Kerja Sama Pemanfaatan (KSP)


KSP adalah pendayagunaan BMN oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka
peningkatan penerimaan negara bukan pajak dan sumber pembiayaan lainnya. Tanah, gedung,
bangunan, sarana dan fasilitas yang dibangun oleh Mitra KSP merupakan hasil KSP yang menjadi
BMN sejak diserahkan kepada Pemerintah sesuai perjanjian atau pada saat berakhirnya perjanjian.
Jangka waktu KSP BMN paling lama 30 tahun sejak perjanjian KSP ditandatangani dan dapat
diperpanjang. Sedangkan jangka waktu KSP BMN untuk penyediaan infrastruktur paling lama 50
tahun sejak perjanjian KSP ditandatangani dan dapat diperpanjang. Pihak yang dapat menjadi Mitra
KSP meliputi BUMN, BUMD, ataupun swasta.

4. Bangun Guna Serah (BGS)/Bangun Serah Guna (BSG)


BGS adalah pemanfaatan BMN berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan
bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut
dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah
beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.
Sedangkan BSG adalah pemanfaatan BMN berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan
bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya diserahkan
untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati. Jangka
waktu BGS/BSG paling lama 30 tahun terhitung sejak perjanjian ditandatangani dan tidak dapat
dilakukan perpanjangan. Pihak yang dapat menjadi Mitra BGS/BSG meliputi BUMN, BUMD, ataupun
swasta. Pemilihan mitra BGS/BSG dilakukan melalui mekanisme Tender.

5. Kerja Sama Penyediaan Infrastruktur (KSPI)

KSPI adalah kerja sama antara pemerintah dan badan usaha untuk kegiatan penyediaan
infrastruktur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jangka waktu KSPI paling
lama 50 tahun dan dapat diperpanjang. Perpanjangan jangka waktu KSPI hanya dapat dilakukan
apabila terjadi government force majeure, seperti dampak kebijakan pemerintah yang disebabkan
oleh terjadinya krisis ekonomi, politik, sosial, dan keamanan. KSPI merupakan salah satu bentuk dari
Public-Private Partnership (PPP) yang diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 38
Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam Penyediaan
Infrastruktur. Badan usaha tersebut meliputi BUMN, BUMD, ataupun badan usaha swasta yang
berbentuk Perseroan Terbatas (PT), badan hukum asing, dan koperasi.
Sejak tahun 2009, Bappenas menerbitkan PPP Book tiap tahunnya. PPP Book berisi daftar
PPP yang direncanakan di Indonesia, yaitu proyek yang diusulkan oleh Menteri/Kepala
Lembaga/Kepala Daerah dan telah dilakukan penilaiannya oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas.
Daftar PPP tersebut digolongkan dalam dua kategori, yaitu proyek dalam persiapan (under
preparation projects) dan proyek yang siap ditawarkan (ready to offer projects). Dalam PPP Book,
terdapat rincian masing-masing proyek, baik dari deskripsi proyek, hak dan kewajiban pemerintah
dan badan usaha, estimasi biaya, skema pengembalian investasi, jadwal implementasi proyek.
Berdasarkan PPP Book 2017, terdapat satu proyek dalam kategori ready to offer project dan 21
proyek dalam kategori under preparation projects dengan estimasi biaya sebesar USD 8.393,88 juta.
Dalam mengatasi kendala keterbatasan dana yang dimiliki, pemerintah juga melakukan
berbagai upaya untuk memenuhi kekurangan dana yang dibutuhkan. Selain melalui mekanisme PPP,
pemerintah juga melakukan pembiayaan utang. Pembiayaan utang dapat dilakukan melalui:
1. Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN)
Penerbitan SBN di pasar domestik dilakukan dengan memanfaatkan instrumen Surat Utang
Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Instrumen SUN sendiri terdiri dari
Obligasi Negara (ON) dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN).
2. Pinjaman
a. Pinjaman dalam negeri
b. Pinjaman luar negeri, terdiri dari:
i. Pinjaman program (program loan)
ii. Pinjaman proyek (project loan)

Penerbitan SBN, pinjaman dalam negeri, dan pinjaman program merupakan pinjaman yang
bersifat umum. Dalam arti, pembiayaan tersebut bertujuan untuk menutup defisit anggaran dan
membiayai pengeluaran pembiayaan yang bersifat umum atau dapat digunakan untuk membiayai
berbagai macam pos belanja negara. Sedangkan pinjaman proyek merupakan pinjaman yang
bersifat khusus, yaitu bertujuan untuk membiayai kegiatan pembangunan tertentu. Contoh belanja
modal atau proyek yang dibiayai dari pinjaman proyek, antara lain:
- Proyek PLTP Lahendong dan Ulubelu (Bank Dunia)
- Proyek PLTG yang berlokasi di Lampun, Pontianak, Bangka, Riau, Belitun, Ampenan, Paya Pasir,
dan Nias (Export Development Canada/EDC dan Hungarian Export-Import Bank/Hexim)
- Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (China Development Bank)
- Proyek transmisi listrik 35.000 MW oleh PT. PLN (Persero) (Asian Development Bank)
- Proyek MRT Jakarta (Official Development Assistance Jepang)

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi Capital Budgeting


Pengertian Capital Budgeting

Keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai dana dimana jangka
waktu kembalinya dana tersebut melebihi waktu satu tahun disebut penganggaran modal atau
Capital Budgeting.

Menurut Andrew Graham dari School of Policy Studies Queens University:

Capital Budgeting is a process used to evaluate investments in long-term or capital assets.


Capital assets adalah aset yang dimiliki dengan usia atau masa pemanfaatan lebih dari
setahun. Biasanya dana atau biaya yang dikelola untuk menangani aset ini sangat besar. Sehingga
teknik penganggaran modal ini sifatnya sangat penting.

Menurut Eugene F.Bringham dan Michael C. Ehrhardt:

Capital Budgeting is the decision process that managers use to identify those projects that add to
the firms value, and as such it is perhaps the most important task faced by financial managers and
their staffs.
Sementara Wes Clarke, Ph.D dalam artikelnya Capital Budgeting and Planning (2006), dalam
buku Public Financial Management, edited by Howard A.Frank, mengemukakan : Capital
budgeting is the process by which entities acquire fasilities, infrastructure, and many other
costly items needed for their activities.
Capital budgeting not only of acquiring the infrastructure needed to provide services, but
also maintaining those items in order to achieve their longest possible use.

Adapun contoh Capital Budgeting adalah pengeluaran dana untuk aktiva tetap yaitu tanah,
bangunan, mesin-mesin dan peralatan. Penganggaran modal menjelaskan tentang perencanaan
jangka panjang untuk merencanakan dan mendanai proyek besar jangka panjang.

Dalam konteks sebuah negara atau pemerintahan, penganggaran modal memiliki implikasi
dua hal yaitu sebagai instrumen kebijakan fiskal dan untuk meningkatkan kekayaan bersih dari
pemerintah. Dan untuk hal-hal terlentu merupakan alat pembangunan daerah. Fungsi dari
melakukan Capital Budgeting antara lain untuk mengidentifikasi investasi yang potensial. Apabila
telah ditemukan, teknik ini dapat pula digunakan untuk memilih alternatif investasi.

Manfaat Capital Budgeting

Untuk mengetahui kebutuhan dana yang lebih terperinci, karena dana yang terikat jangka
waktunya lebih dari satu tahun.
Agar tidak terjadi over investment atau under investment
Dapat lebih terperinci, teliti karena dana semakin banyak dan dalam jumlah yang sangat besar.
Mencegah terjadinya kesalahan dalam decision making.

Capital budgeting sangat penting bagi pemerintah karena keterbatasan sumber daya yang kita
miliki sehingga hal tersebut harus dimanfaatkan secara efisien agar mencapai manfaat yang
semaksimal mungkin.
Pemerintah melakukan pelayanan kepada publik dengan berbagai macam tantangan yang
kompleks, salah satunya adalah dalam kemampuan fiskal dan ekonomi. Dengan harapan untuk
menyediakan kualitas pelayanan yang terbaik. Pemerintah perlu mencari penggunaan terbaik dari
sumber daya yang dimiliki dengan manfaat yang paling baik.

Investasi yang dilakukan pemerintah sangatlah penting tidak hanya karena jumlahnya yang
besar, namun juga karena hal ini menyediakan infrastruktur sosial dan ekonomi untuk masyarakat
untuk pertumbuhan ke depannya. Sangatlah penting untuk mengevaluasi proposal pengadaan
investasi untuk memastikan bahwa sumber daya yang dipakai digunakan untuk kepentingan yang
sebaik mungkin.

Beberapa hal yang menjadi pertanyaan dalam menentukan penganggaran belanja modal
pemerintah seperti :

Apa manfaat spesifik yang dapat diberikan?


Apakah ada opsi lain yang bisa dilakukan untuk mencapai manfaat tersebut?
Apakah ada cara yang lebih baik untuk mengalokasikan sumber daya yang digunakan?
Apakah harus dilakukan oleh pemerintah atau bisa dialihkan kepada pihak swasta?

Secara garis besar beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penentuan penganggaran
modal (capital budgeting) pemerintah adalah sebagai berikut :

A. Ketersediaan sumber daya

Pemerintah pusat

Pendapatan negara diperoleh dari berbagai sumber. Secara umum yaitu penerimaan pajak
yang meliputi pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Cukai, dan Pajak lainnya, serta Pajak
Perdagangan (bea masuk dan pajak/pungutan ekspor) merupakan sumber penerimaan utama dari
APBN. Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) meliputi penerimaan dari sumber daya
alam, setoran laba BUMN, dan penerimaan bukan pajak lainnya.

Dalam penentuan penganggaran modal, jumlah penerimaan negara menjadi pertimbangan yang
sangat penting karena terkait proporsi sumber daya yang akan digunakan untuk memenuhi
penganggaran modal pemerintah yang tercantum dalam APBN.
Struktur belanja

Proporsi dari anggaran belanja yang telah ditetapkan oleh pemerintah akan sangat
mempengaruhi penentuan penganggaran modal yang akan dilakukan. Belanja modal yang hanya
dianggarkan sekitar 15% dipengaruhi oleh penggunaan dana untuk belanja pada sektor lain seperti
belanja pegawai dan belanja barang. Mandatory spending juga mempengaruhi besaran belanja
modal yang dapat dianggarkan. Pemerintan harus jeli dalam menentukan alokasi penganggaran yang
dilakukan melalui Capital Budgeting.

Pemerintah Daerah

1. Pendapatan Asli Daerah

Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2004, Pendapatan Asli Daerah merupakan sumber
penerimaan daerah asli yang digali di daerah tersebut untuk digunakan sebagai modal dasar
pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan dan usaha-usaha daerah untuk memperkecil
ketergantungan dana dari pemerintah pusat. Pendapatan Asli Daerah terdiri dari pajak daerah,
retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan
daerah yang sah.

Daerah yang mempunyai sarana dan prasara yang memadai dapat menarik investor untuk
menanamkan modalnya pada daerah tersebut, sehingga akan menambah PAD. Pendapatan Asli
Daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengalokasian anggaran belanja modal
(Darwanto dan Yulia Yustikasi, 2007). Berdasarkan bukti empiris tersebut, peningkatan PAD dapat
mempengaruhi pemerintah dalam pengalokasian anggaran belanja modal. Selain itu, temuan
tersebut mengidikasikan bahwa besarnya PAD menjadi salah satu faktor dalam pengalokasian
anggaran belanja modal.

2. Dana Alokasi Umum

Semakin tinggi DAU yang diterima daerah maka akan semakin tinggi pula belanja modalnya.
Dengan desentralisasi, pemerintah daerah mampu mengoptimalkan kemampuan dalam mengelola
sumber daya yang dimiliki sehingga tidak hanya mengandalkan DAU. Adanya dana transfer DAU dari
pemerintah pusat maka daerah bisa fokus untuk menggunakan PAD untuk membiyai belanja modal
yang digunakan untuk meningkatkan pelayanan publik. Hal ini mengidentifikasikan bahwa terdapat
hubungan antara pemberian DAU dengan alokasi belanja modal.
3. Dana Alokasi Khusus

Pemanfaatan DAK diarahkan pada kegiatan investasi pembangunan, pengadaan, peningkatan,


dan perbaikan sarana dan prasarana fisik dengan umur ekonomis yang panjang, termasuk
pengadaan sarana fisik penunjang. Dengan adanya pengalokasian DAK diharapkan dapat
mempengaruhi pengalokasian anggaran belanja modal, karena DAK cenderung akan menambah aset
tetap yang dimiliki pemerintah guna meningkatkan pelayanan publik.

4. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

SiLPA mempunyai signifikansi positif dengan alokasi belanja modal. Sebagian besar SiLPA
digunakan belanja langsung berupa belanja modal yang secara langsung menyentuh kebutuhan
masyarakat. Jumlah belanja langsung dapat berupa pembangunan infrastruktur, pengadaan aset,
dan sebagainya

5. Struktur belanja

Sama dengan penganggaran pada pemerintah pusat, proporsi alokasi dari belanja selain
belanja modal akan mempengaruhi penganggaran modal pada pemerintah daerah. Semakin besar
alokasi belanja lain, penganggaran modal akan lebih terbatas.

B. Tingkat kebutuhan

Pemerintah Pusat

Penganggaran modal yang dilakukan pemerintah pusat akan sangat dipengaruhi kebutuhan
akan pemenuhan kepentingan publik. Setiap belanja yang akan dianggarkan harus
mempertimbangkan setiap aspek yang dapat mencakup kepuasan dan pemenuhan kepentingan
publik secara menyeluruh. Hal ini terkati dengan tujuan dari pemerintah sendiri sebagai penyedia
utama layanan publik.

Pemerintah Daerah

Berbeda dengan pemerintah pusat, Pemerintah Daerah masing-masing memiliki kebutuhan


mendasar yang berbeda di setiap daerah. Belanja modal yang dilakukan dan akan dianggarkan
dipengaruhi oleh kebutuhan proritas yang sesuai dengan kondisi daerah tersebut.
C. Manfaat ekonomi yang dihasilkan

Dalam menjalankan fungsinya, pemerintah merupakan sebuah entitas non profit sehingga
dalam setiap kebijakan belanja dan penganggaran yang dilakukan bertujuan untuk memberikan
manfaat bagi kepentingan publik. Dalam melakukan penganggaran modal harus dikaji secara
mendalam manfaat yang akan diperoleh bagi publik agar tepat sasaran, efektif, dan efisien.

D. Ketentuan pembiayaan

Tingkat bunga pinjaman juga mempengaruhi penentuan penganggaran modal yang


dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah. Tingkat bunga dan biaya bungan yang akan
dikeluarkan harus diperhatikan dan disandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh dari proses
penganggaran modal. Opsi untuk melakukan belanj modal melalui pinjaman sangat penting untuk
dihitung secara akurat agar penganggaran modal efektif dan efisien.
Referensi

Ardhani, P. 2011. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum,
Dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Pengalokasian Alokasi Belanja Modal (Studi Pada
Pemerintah Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah). Skripsi. Universitas Diponegoro.
Semarang.

Adib, M. 2014. Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Belanja Modal. Skripsi. Universitas
Muhammadiyah. Surakarta.

Brigham, E. F., & Daves, P. R. (2014). Intermediate Financial Management. Cengage


Learning.
Febriana, I. S. (2016). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belanja Modal Pada
Provinsi Jawa Timur. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, 4(9).
Https://www.academia.edu/11314167/Investasi_Dalam_Aktiva_Tetap_Penganggaran_Modal

Https://Julrahmatiyalfajri.wordpress.Com/2014/12/22/Anggaran-Modal-Capital-Budgeting/

Http://www.bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/02/20/114827626/Bappenas.Siapkan.Skema.Pen
danaan.Alternatif.Untuk.Biayai.Infrastruktur. Diakses: 14 Mei 2017.
Https://www.djkn.kemenkeu.go.id/websiman/berita/2015/03/20-Kl-Akan-Laksanakan-Perencanaan-
Kebutuhan-Bmn-2017. Diakses: 14 Mei 2017.

Lawrence, S., & Mears, D. P. (2004). Supermax Prisons: Benefit-Cost Analysis Of Steps And
Considerations.

Kementerian Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.06/2014 Tentang Tata Cara
Pelaksanaan Pemanfaatan Barang Milik Negara.
Kementerian Perencanaan Dan Pembangunan Nasional. Public Private Partnership: Infrastructure
Projects Plan In Indonesia 2017.
Republik Indonesia. Nota Keuangan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Tahun Anggaran
2017.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2014 Tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Republik Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2015 Tentang
Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.
Republik Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar
Akuntansi Pemerintah.
Sugiyanta (2016). Analisis Belanja Modal Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya Pada
Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia. Jurnal Akuntansi Universitas Jember Vol. 14 No.
1 Juni 2016

Wendorf, Jill. 2005. Capital Budgeting From A Local Government Perspective. Grand Valley State
University.