Anda di halaman 1dari 83

PETUNJUK PRAKTEK

PENGELOLAAN HUTAN LESTARI


KAMPUS LAPANGAN FAKULTAS KEHUTANAN UGM
DESA GETAS, KECAMATAN MENDEN, KABUPATEN BLORA

FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA I
PENATAAN AREAL KERJA

A. POKOK BAHASAN
Dalam Undang-undang Pokok Kehutanan (UUPK) No. 41 tahun 1999 disebutkan
bahwa kegiatan pengukuhan kawasan hutan dilaksanakan untuk memberikan kepastian
hukum atas kawasan hutan. Sebelum dilaksanakan kegiatan pengukuhan kawasan hutan
terlebih dulu dilakukan kegiatan penunjukan kawasan hutan yang kegiatannya antara lain :
1. pembuatan peta penunjukan yang bersifat arahan tentang batas luar
2. pemancangan batas sementara yang dilengkapi dengan lorong-lorong batas
3. pembuatan parit batas pada lokasi-lokasi rawan
4. pengumuman tentang rencana batas kawasan hutan, terutama di lokasi-lokasi yang
berbatasan dengan tanah hak.
Penataan areal adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengatur areal kerja tahunan
ke dalam petak-petak kerja guna memudahkan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan dalam setiap kegiatan pengusahaan yang dilakukan. Petak merupakan bagian
terkecil dari bagian hutan yang berfungsi sebagai wadah pelaksanaan dan penyelesaian
tindakan menejemen langsung (kesatuan menejemen), yaitu kegiatan penanaman,
pemeliharaan dan pemungutan hasil, dan juga sebagai satu keatuan administrasi.
Secara garis besar kegiatan penataan hutan meliputi pekerjaan-pekerjaan :
penetapan batas hutan yang bersangkutan; pembagian hutan dalam petak-petak kerja;
pengukuran serta pembuatan peta; serta pemeriksaan keadaan hutan dan sekitarnya serta
kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan.
Adapun secara rinci kegiatan-kegiatan penataan hutan meliputi :
a. Pemancangan batas.
1. Studi evaluasi lahan untuk dapat membedakan dan memutuskan lahan sesuai
dengan peruntukkannya.
2. Penetapan dan pemancangan batas di lapangan disertai berita acaranya.
3. Penyelesaian sengketa.
4. Penetapan batas difinitif kawasan hutan.
5. Pengukuran dan pemetaan.
6. Penyusunan rencana pengukuhan hutan.

1
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

b. Pengukuhan kawasan hutan.


Pengukuhan status kawasan hutan oleh Menteri Kehutanan.
c. Penetapan dan pembedaan tanda-tanda di lapangan dan legenda di dalam peta.
1. Tanda berupa pal (pal batas, pal petak, pal jarak).
2. Alur, sebagai batas sekaligus jalan angkutan.
3. Tanda-tanda lain.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat melihat di lapangan bentuk penataan hutan di kawasan hutan yang
sudah mapan.
2. Mahasiswa dapat mengecek dengan cara mengukur dan memetakan satu petak kawasan
hutan.
3. Mahasiswa mampu memahami proses kegiatan penataan hutan secara umum

C. ALAT DAN BAHAN


1. Peta kawasan hutan skala 1:10.000 yang memuat pembagian KPH dalam bagian-
bagian hutan.
2. Alat ukur dan penataan, meliputi :
a. kompas pengukur azimuth
b. pita ukur pengujur jarak
c. clinometer pengukur kelerengan untuk menghitung jarak datarnya
d. tali plastik
3. Peta-peta meliputi :
a. Peta Jaringan jalan
b. Petas Daerah Aliran Sungai (DAS)
c. Peta Klas Tanah
d. Peta Topografi

D. PELAKSANAAN

1. Setiap regu mengukur dan memetakan setiap petak dengan referensi peta perusahaan
dengan alat ukur sederhana (kompas, klinometer, galah dan tali)
2. Saat pengukuran di lapangan perlu dicocokan dengan kondisi lapangan.

2
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

3. Pal-pal yang dijumpai diamati dengan seksama, meliputi :


pal batas luar kawasan
pal batas dalam kawasan
pal batas jalan angkutan
pal batas lahan milik perusahaan
pal petak
pal hektometer
pal-pal lain
4. Lihat dengan seksama tanda batas anak petak (maker)
5. Catat kode alur induk/ alur cabang
6. Gambar petak yang sudah diukur ke dalam kertas kalkir skala 1:5.000.
Koreksi sekaligus dengan metode grafis.
7. Cocokan bentuk dan ukuran petak saudara dengan petak dalam peta yang sudah ada.
8. Lakukanlah analisis terhadap hasil pengukuran saudara setelah anda bandingkan dengan
data pengukuran sebelumnya.
9. Melakukan simulasi proses kegiatan penataan kawasan sebagai berikut :
a. Simulasi I
Simulasi kegiatan proses penataan hutan (tata batas, tata guna, tata hutan dan
penyusunan rencana pengaturan kelestarian hutan/RPKH) dengan model permainan peran
(role play). Kegiatan ini meliputi aktivitas permainan peran (ada penokohan) dari masing
masing stake holder yang terlibat dalam prosesi penataan hutan. Ada pihak birokrasi
pemerintah (Departemen Kehutanan, Dinas Kehutanan, Pemerintah Daerah), Masyarakat,
LSM, Perguruan Tinggi dan Perhutani sendiri. Untuk setiap kasus bisa dibuat satu
rangkain penataan kawasan hutan yang lengkap (dari tata batas sampai dengan tata hutan
atau bahkan sampai RPKH) atau sebagian saja sebagai contoh : problem okupasi lahan,
permasalahan sengketa batas kawasan hutan yang sudah dikukuhkan dll.
Penokohan bisa dibagi menjadi yang :
a. Antagonis : Masyarakat
b. Protagonis : Perhutani
c. Provokator : LSM

3
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

b. Simulasi II
Simulasi kegiatan Penataan Areal Kerja (dengan cara pendeliniasian beberapa
peta). Disini mahasiswa dilatih untuk bisa membuat sebuah unit administratif dan unit
perlakuan (petak dan anak petak) dari hasil kegiatan tata hutan. Peta peta yang
dibutuhkan meliputi :
a. Peta Jaringan jalan
b. Petas Daerah Aliran Sungai (DAS)
c. Peta Klas Tanah
d. Peta Topografi
Dari peta peta tersebut dideliniasi (overlay) dengan menggunakan kertas kalkir. Dari
hasil overlay bisa dibuat beberapa petak atau anak petak yang sudah berdasar pada kriteria-
kriteria dan prasarat pembuatan sebuah petak atau anak petak (aspek kelestarian, batas
alam dan aksesibilitas serta tingkat kesesuaian lahan/bonita).

4
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA II
PEMBUKAAN WILAYAH HUTAN

A. POKOK BAHASAN
Pembukaan wilayah hutan (PWH) merupakan langkah awal dalam pengelolaan
hutan yang lestari (Sustainable Forest Management). Fungsi PWH diusahakan tidak hanya
untuk kegiatan eksploitasi, tetapi mencakup seluruh aspek pengelolaan hutan termasuk
perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan pengawasan.
Pembangunan jaringan jalan hutan harus dipertimbangkan baik dari segi teknis,
ekonomis maupun ekologis. Dari segi teknis, jalan hutan idealnya harus dibangun secara
permanen, dapat dilalui oleh kendaraan berkapasitas angkut besar dengan kecepatan tinggi,
jaringannya tersebar luas dan merata. Dari segi ekonomis, pembuatan jaringan jalan harus
dapat dibiayai oleh hasil kayu yang akan ditebang, sehingga mendapat manfaat yang
setinggi-tingginya dari pembangunan jalan tersebut. Sedangkan dari segi ekbiogis,
pembangunan jalan hutan harus dapat memberikan sumbangan terhadap infrastruktur,
sehingga meningkatkan pengembangan wilayah daerah.
Karena itu pembangunan jaringan jalan hutan diperlukan perencanaan dan
penanganan yang memadai. Perencanaan jalan hutan dapat dikatakan baik, apabila dengan
jaringan jalan itu dapat menjamin kelancaran pengelolaan hutan khususnya di bidang
eksploitasi, dengan jumlah panjang jalan yang minimal, namun dapat mengkoleksi kayu
yang maksimum.Dengan demikian jaringan jalan hutan akan menyangkut tiga hal yaitu
berapa panjang jalan yang dibutuhkan, bagaimana standarnya dan yang tidak kalah
pentingnya adalah lay-outnya.
a. Jalan Hutan
Jalan hutan yang akan dibangun biasanya direncanakan dahulu misalnya sampai
seberapa jauh fungsinya. Fungsi setiap ruas jalan hutan akan sangat erat kaitannya dengan
standar jalan, sehingga perbedaan fungsi jalan hutan akan berbeda pula
standarnya.Selanjutnya jalan hutan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Jalan utama
b. Jalan cabang
c. Jalan ranting
d. Jalan sarad

5
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Pada garis besarnya jalan hutan terdiri atas beberapa bagian, yaitu :
1. Carriageway
Carriageway adalah bagian jalan yang paling lebar dimana disitu tempat lalulintas
berjalan di atasnya. Karena untuk lalulintas, maka lebarnya tidak boleh kurang dari 10 ft,
bahkan hampir semua jalan dibuat dengan ukuran carriageway yang lebih dari 10 ft (bila
memungkinkan). Lebih-lebih pada keadaan tertentu misalny : (a) pada tempat-tempat yang
memang disediakan untuk berpapasan kendaraan, (b) pada sebelah dalam suatu belokan,
dan (c) pada jalan-jalan dengan kerapatan lalulintas yang tinggi.
Jadi lebar 10 ft itu, adalah lebar rata-rata. Ada kalanya bisa lebih lebar, akan tetapi
kadang-kadang untuk mencari jalan yang selebar 10 ft itupun menemui kesulitan, misalnya
dilereng bukit dimana sebelahnya jurang.
Manakala jalan itu harus melalui hutan yang sedang tumbuh, maka biasanya terjadi
perdebatan untuk menentukan berapakah lebar daerah milik jalan (dmj) yang perlu
dibersihkan dari semua pohon-pohonan (tidak hanya untuk bagian carriageway saja). Bagi
seorang perencana dan pembuat jalanakan mengambil paling sedikit selebar 30 ft untuk
dibersihkan menjadi jalan, sementara sylviculturist ukuran itu terlalu lebar, sebab banyak
pohon yang harus dimatikan. Tetapi suatu kenyataan yang harus difikirkan adalah bahwa
jalan hutan harus selalu mendapatkan sinar matahari yang cukup banyak dan demikian juga
diperlukan aliran udara (angin) yang banyak, yang akan dapat mempercepat pengeringan
jalan tersebut bila jalan ini lembab atau kena air hujan. Jadi di atas jalan tidak boleh ada
pohon-pohon yang melindungi jalan tersebut. Jalan hutan yang tidak selalu kering akan
cepat rusak karena terlalu lembab dan lunak (banyak mengandung lempung). Jadi pada
jalan itu kecuali carriageway juga harus diberikan tambahan untuk : penumpukan tanah,
berm (bahu), dan juga untuk pembuatan selokan tepi.Ada baiknya berm dibuat agak lebih
lebar agar dapat digunakan untuk penumpukan kayu dari penyaradan dan sekaligus untuk
tempat pemuatan kayu ke atas truk pengangkut kayu. Maka untuk keperluan tersebut
kadang-kadang jalan dibuat selebar 40 ft. Lebar daerah milik jalan (dmj) yang selebar itu
juga digunakan untuk tempat pembuangan tanah dari galian.
Seperti diketahui bahwa untuk membuat jalan hutan yang terdiri atas tanah
seluruhnya, tanah bagian atas (top soil) dan bagian dibawahnya (yang masih lunak) harus
dikupas dan kemudian disorong kepinggir jalan. Kecuali itu untuk kepentingan drainase
jalan (pengeringan), maka salah satu atau dikedua sisi jalan dibuat selokan yang lebarnya

6
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

tidak kurang dari 4 ft. Ini mutlak diperlukan agar air jangan sampai berhenti ditengah
permukaan jalan sebab akan dapat merusakkan badan jalan keseluruhannya.
2. Berm (bahu jalan).
Istilah berm diberikan kepada bagian jalan yang letaknya antara batas jalan
(carriageway) dengan selokan tepi. Atau bila tidak ada selokan tepi maka batas akhirnya
adalah batter (dinding jalan). Untuk sistem jalan dikehutanan kebanyakan diberikan berm
disebelah kiri dan kanan jalan, agar dapat dipergunakan untuk beberapa keperluan,
misalnya sebagai penguat dari carriageway, untuk penumpukan hasil penyaradan, untuk
pemuatan ke atas truk, untuk berpapasan kendaraan dan lain sebagainya. Biasanya lebar
berm dibuat paling sedikit 3 fit, bahkan bila untuk penumpukan kayu yang agak banyak,
maka ukuran lebar ini sering ditambah. Berm ini bisa dibuat dari tanah asli atau bisa juga
dari urugan. Biasanya dibuat lebih rendah dan lebih miring dari carriageway, dengan
tujuan agar air dapat lancar masuk keselokan tepi (side drain).
3. Spoil
Spoil adalah tumpukan tanah yang berasal dari kupasan calon jalan yang berada di
lokasi itu. Dapat juga merupakan tempat timbunan dari suatu galian jalan. Letaknya
dibagian tepi jalan yang berlereng kebawah. Seperti diketahui pada umumnya jalan hutan
itu menembus atau berada dilereng sebuah bukit, sehingga kebanyakan tepi jalan hutan itu
tidak datar. Satu tepinya berupa lereng ke atas dan satunya berupa lereng kebawah. Bagian
lereng yang kebawah itulah yang dipakai untuk menumpuk tanah-tanah bekas kupasan
calon jalon jalan atau galian yang diperlukan.
4. Batter
Batter biasanya berupa suatu lereng alami yang terbuat dari lereng sebuah bukit/ Batter
ini sekaligus merupakan dinding sebuah jalan hutan. Karena terbuat dari tanah alami maka
biasanya keras dan kuat sehingga tidak membahayakan akan longsor kebawah menimpa
jalan. Untuk jalan hutan yang terletak didaerah yang datar maka batter (dinding jalan) ini
tidak ada. Juga didaerah rawa maka batter tidak dijumpai, sebab pada kiri dan kanan jalan,
tanahnya sama tingginya
5. Side drain
Side drain adalah selokan yang dibuat dipinngir jalan, yang fungsi utamanya adalah
untuk menampung air hujan yang mengenai jalan (carriage way), sehingga air tidak sempat
berhenti dibagian jalan tersebut (dipermukaan)sehingga tidak merusak badan jalan. Oleh

7
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

karena itu bagian permukaan jalan harus dibuat agak cembung (disebut punggung kura-
kura atau nggigir sapi) dengan harapan air dapat secepat mungkin dari tengah-tengah jalan
ke side drain (selokan pinggir).
6. Road base
Road base adalah bagian jalan khusus dibuat hanya dengan tanah, terletak dibagian
bawah dari susunan jalan dan berfungsi sebagai fondasi jalan tanah. Road base ini berupa
tanah yang keras dan bagian tanah diatasnya dikupas dengan bulldozer, hingga sampai
kebagian tanah yang keras ini. Apabila tanah ditempat tersebut sangat jelek, maka biasanya
fondasinya perlu dibuat dari batu agar dapat menahan beban kendaraan yang lewat di
atasnya.
Secara garis besar dikenal 2 macam parameter yang mencirikan status jalan hutan
pada suatu wilayah hutan yaitu :
a. spasi jalan (road spacing) dan kerapatan jalan (road density)
b. standar jalan
Spasi jalan biasanya diekspresikan sebagai jarak rata-rata antara jalan satu dengan
jalan yang lainnya dalan suatu wilayah hutan.Lebar spasi jalan selatu berkorelasi langsung
dengan jarak sarad rata-rata dari areal hutan sampai ke jalan angkutan.Suatu alternatif
parameter untuk spasi jalan-jalan adalah kerapatan jalan.Kerapatan jalan adalah panjang
jalan angkutan persatuan luas wilayah hutan (m/Ha).Spasi jalan atau kerapatan jalan
besarnya dipengaruh oleh beberapa hal :
- kualitas dan kuantitas hutan.
- biaya pembuatan jalan persatuan panjang.
- biaya eksploitasi dengan cara lain.
Untuk menghitung kerapatan jalan, apabila telah dibuat jalannya, maka caranya adalah
menjumlahkan semua jalan yang ada (dalam satuan meter) dan kemudian dibagi dengan
luas areal yang dilayani oleh jalan tersebut (dalam Ha).
M dengan keterangan : RD = kerapatan jalan aktual (m/Ha)
RD = ------- M = total panjang jalan (m)
L L = luas areal (Ha)
Selanjutnya untuk mencari berapa kebutuhan jalan yang paling ideal (optimal) sesuai
dengan keadaan perusahaan maka diberikan beberapa model matematis sederhana yaitu :

8
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Model Von Sagebaden


C.T.V.Q
ORD = 50 --------------
R
Dengan keterangan :
ORD = optimum road density/ kerapatan jalan optimal (m/ Ha).
C = biaya penyaradan langsung (Rp/ m3/ Hm).
T,V = faktor koreksi lapangan untuk jalan sarad dan jalan angkutan (1 - 2)
Q = potensi hutan (m3/ Ha)
R = biaya pembuatan jalan (Rp/ Hm)
Apabila ORD sudah dapat dihitung, maka untuk menentukan ORS (optimum road
spacing) dapat digunakan rumus :

ORS = 10000 : ORD

Setelah dapat diketahui ORD dan ORSnya maka kemudian dapat dihitung
ketentuan lainnya:
2500. T. V
ASD = ----------------- dengan keterangan ASD = average skidding distance
ORD (jarak sarad rata-rata)

Hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam pembuatan jalan antara lain :
1. Camber dan crossfall
Camber adalah penambahan ukuran tinggi dibagian tengah jalan, dengan tujuan agar
seluruh air yang berada dipermukaan jalan dapat langsung mengalir ketepi jalan. Ada
kalanya bagian yang ditinggikan hanya bagian salah satu tepi saja, ini disebut crosfall.
Kemiringan camber ini dibuat 1 : 15, berarti bila lebar jalannya 10 fit, maka bagian
tengahnya akan dinaikkan setinggi 4 inci. Sebagai perbandingan untuk jalan semen,
cambernya cukup dibuat 1 : 40, karena air tidak dapat menembus semen
2. Elevasi
Pada belokan jalan yang direncanakan untuk kendaraan yang berjalan cepat, dibagian
sebelah luar dari belokan itu tanahnya harus ditinggikan sedikit untuk menjaga keamanan

9
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

kendaraan yang kencang lajunya itu. Apabila tidak, maka kendaraan yang kencang itu akan
bisa terbang keluar dari belokan jalan itu. Ketinggian bagian itu bisa dengan sudut 1
berbanding 10. Semakin pendek radius belokannya maka akan semakin besar super
elevasinya. Sebaliknya bila radius belokannya cukup besar (panjang) maka gradientnya
tidak begitu besar karena kondisi pada belokannya hampir seperti jalan lurus.
3. Belokan Jalan
Belokan harus dikonstruksi dengan radius yang cukup karena untuk mengantisipasi
truk yang bermuatan kayu yang cukup panjang. Jadi belokan jalan hutan tidak boleh terlalu
tajam. Bilamana sebuah busur dapat dilingkarkan dibagian hutan yang akan dibuat belokan
itu mudah dilaksanakan, maka pembuatan belokan dapat dilaksanakan dengan mudah.
Tetapi bila ternyata tidak bisa dilaksanakan demikian maka pembuatan belokan harus
ditentukan dengan hitungan (rumus).
Radius minimum dimana belokan itu akan dibuat, bergantung kepada kendaraan yang
akan lewat sehingga ia tidak terganggu pada sebelah tebing jalan. Dari pengalaman dapat
disampaikan bahwa suaru trailer dengan muatan biasa, pembuatan radius belokannya tidak
boleh kurang dari 60 fit. Semua belokasn harus ditambah lebarnya pada bagian sebelah
dalam pada belokan itu. Tambahan lebar jalan itu disebabkan oleh karena truk pengangkut
kayu itu berjalannya akan selalu memotong sudut dalam belokan. Sehingga perlu ada
bagian jalan dalam belokan itu yang ditambah lebarnya. Dengan demikian maka tidak akan
ada truk yang pada bagian ekornya menyangkut ditebing luar (batter).

b. Gorong-gorong
Culvert (Gorong-gorong)adalah suatu istilah atau nama yang diberikan untuk
memberi nama suatu selokan (jalan air) yang berada dibawah permukaan jalan yang
terletak arahnya melintang dari arah jalan tersebut. Jalan air yang disebut gorng-gorong itu
ukuran lebarnya terbatas, tidak seperti jalan air yang disebut jembatan. Gorong-gorong
lebar maksimumnya adalah selebar jalan dimana saluran itu dibuat. Bila ternyata lebarnya
lebih dari lebar jalan, maka sudah dapat dikategorikan sebagai jembatan kecil yang
konstruksinya sangat berbeda
Berapa luas penampang melintang sebuah gorong-gorong yang akan dibuat, yakni
bergantung kepada bveberapa faktor, antara lain : luas dan bentuk daerah tangkapan air,
daerahnya tertutup vegetasi atau tidak, topografinya datar atau berpegunungan.

10
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Secara umum gorong-gorong dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu gorong-


gorong terbuka (open culvert) dan gorong-gorong tertutup (closed culvert). Disebut open
cukvert apabila bagian atas dari culvert itu langsung digunakan untuk jalan, jadi layaknya
jembatan kecil, sehingga baik bahan yang digunakan dan konstruksinya harus kuat.
Sedangkan closed culvert adalah bahwa bagian atas culvert dan permukaan bagian jalan
angkutan masih dibatasi oleh urugan tanah.
c. Jembatan
Bahan bangunan yang digunakan untuk membuat jembatan bisa terdiri atas
beberapa jenis, misalnya : dari besi baja, dari beton bertulang, beton pratekan, dan bisa
juga dari kayu. Konstruksi jembatan, bisa dilihat dari kontruksi lantainya, rangka ikatan
kekuatannya, jembatan gantung, dan lain sebagainya
Untuk pembuatan jembatan dari bahan kayu sebelum dilaksanakan
pembangunannya haruslah dipilih jenis kayu-kayu yang memenuhi persyaratan keawetan
dan kekuatan, berhubung jembatan kayu akan selalu berhubungan dengan tanah, selalu
kena hujan dan panas matahari (iklim) dan sangat mungkin kena serangan cendawan dan
serangga. Setelah kayu yang digunakan dapat dipilih seperti yang diinginkan maka
pekerjaan selanjutnya adalah penggudangan kayu, pengerjaan kayu, penyambungan kayu
(mungkin dengan menggunakan besi), perlindungan kayu. dan pekerjaan-pekerjaan kecil
yang lain.

B. TUJUAN
1. Peserta dapat memahami urgensi arti pentingnya pembukaan wilayah hutan.
2. Peserta dapat mengetahui dan mengamati elemen-elemen PWH di lapangan.
3. Peserta dapat mengevaluasi pembukaan wilayah hutan yang telah dilaksanakan.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Pita meter.
2. Daftar tarif upah perusahaan.
3. Data potensi hasit cruising.
4. Peta situasi perusahaan.
5. Biaya pembuatan jalan.

11
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

D. PELAKSANAAN
a. Evaluasi standar jalan.
1. Peserta melakukan pengamatan terhadap semua kelas jalan yang ada di perusahaan
baik jalan utama, jalan cabang dan lain-lain (menurut perusahaan)
2. Peserta mencatat data unsur-unsur penentuan kelas jalan dari jalan yang ada.
3. Dari data tersebut, peserta menentukan kelas jalan tersebut berdasarkan standar
yang ada.
b. Evaluasi jaringan jalan.
1. Peserta mengamati peta jaringan jalan yang ada.
2. Peserta menghitung panjang seluruh jalan yang ada.
3. Peserta menghitung kerapatan jalan aktual.
4. Peserta menghitung spasi jalan aktual.
5. Peserta menghitung kerapatan jalan optimal.
6. Peserta membandingkan kerapatan jalan aktual dan optimal.
7. Peserta menghitung kekurangan/ kelebihan panjang jalan.
8. Menghitung prosentase pembukaan wilayah (E%).
c. Pengamatan Jembatan dan Gorong-gorong
1. Peserta mengamati dan menggambar salah satu contoh jembatan dan gorong-
gorong yang mereka temui di wilayah hutan
2. Peserta melakukan analisis konstruksi dan biaya pembuatan jembatan dan gorong-
gorong tersebut

12
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA III PEMANENAN


HASIL HUTAN

A. POKOK BAHASAN
Pemungutan hasil hutan (Kayu) merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam
KPHP.Pemungutan hasil hutan (kayu) dalam KPHP kelas perusahaan penghasil kayu
perkakas jati dengan sistim tebang habis di Jawa, dilaksanakan secara manual, dengan
melibatkan tenaga manusia tanpa melibatkan alat-alat eksploitasi mekanis. Hal ini telah
berlangsung lebih dari satu abab lamanya.Ciri yang demikian sepantasnya menjadi
perhatian khusus/sebagai studi banding terhadap cara pemungutan hasil hutan yang
dilakukan secara mekanis, seperti yang terjadi di luar Jawa.
Besarnya tebangan (luas dan volume) tiap tahun dibatasi sesuai dengan rencana
tebangan selama jangka (10 tahun) dan Rencana Teknik Tahunan.Pemungutan hasil hutan
(kayu) merupakan proses produksi yang memberi kontribus secara langsung dan relatif
besar pada pendapatan perusahaan. Oleh karena itu anggaran biaya dalam pos pembikinan
hasil hutan, penyaradan, pengangkutan dan pengaturan hasil hutan dapat luwes mengikuti
besarnya produksi sepanjang masih sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam penghayatan sistem pemungutan hasil hutan (kayu) dipisahkan dalam 3 aspek :
a. Aspek perencanaan.
b. Aspek pelaksanaan.
c. Aspek monitoring dan evaluasi
Kegiatan pemungutan hasil pada pengusahaan jati terdiri dari beberapa tahapan atau
elemen kegiatan penting, yaitu perencanaan, teresan, tebangan, pembagian batang, dan
angkutan, termasuk didalamnya administrasi kayu.
Peneresan dilakukan dua tahun sebelum penebangan yang sebelumnya didahului
oleh kegiatan penentuan batas teresan dan pembagian blok. Ketika peneresan dilakukan,
pada saat itu pula dilaksanakan kegiatan klemstaat, yaitu pengukuran keliling masing-
masing pohon pada ketinggian 1,3 meter, dicatat dalam buku khusus dan ditaksir volume
volumenya menggunakan Tarif Volume Lokal untuk menentukan target tebangan.
Sebelum kegiatan penebangan dilaksanakan perlu dilakukan beberapa persiapan-
persiapan, yaitu :

13
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

a. persiapan lapangan (perbaikan dan pembuatan jalan, pembuatan babagan,


herklem, dll)
b. persiapan tenaga kerja, peralatan, sarana dan prasarana (blandong, alat
sarad, alat-alat penebangan, dll)
c. persiapan administrasi (SPT, blangko administrasi, alat tulis, dll)
Dalam pelaksanaannya, tebangan harus dilakukan pohon per pohon, artinya setiap pohon
harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum menebang pohon berikutnya. Kemudian setiap
blok juga harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum pindah ke blok berikutnya.

B. TUJUAN
a. Mahasiswa dapat mengamati dan menghayati kegiatan tebangan dan dapat
mengungkap secara rinci dan jelas pelaksanaan tebangan, sejak dari aspek
perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi.
b. Mahasiswa dapat menghayati dan mengamati kegiatan tebangan secara manual dan
dapat membandingkannya dengan pengelolaan tebangan secara mekanis.
c. Mahasiswa mampu menilai prestasi kerja penebangan.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Rencana Tehnik Tahunan Tebangan.
2. Surat Perintah Tebangan.
3. Peta Rencana Tebangan.
4. Tarif Upah/standar biaya tebangan.
5. Buku Klem Stat.
6. Alat ukur pohon
7. Stopwatch dan alat tulis

D. PELAKSANAAN
1. Pelajarilah tata waktu dan persiapan-persiapan sebelum tebangan dari narasumber
yang ditunjuk
2. Kunjungilah petak tebangan dan amati kegiatan tebangan yang ada mulai dari
persiapan sampai dengan pengangkutan

14
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

3. Catat waktu kerja dari setiap elemen kegiatan penebangan, kemudian hitunglah
prestasi kerja penebangan
4. Lakukan latihan kegiatan pembagian batang bersama mandor, kemudian catat
volume realisasi dan volume taksasinya untuk menentukan faktor koreksi
penebangan
5. Kumpulkan data-data volume hasil tebangan dan taksirannya untuk pembuatan
Tarif Volume Lokal
6. Amatilah kegiatan penyaradan dan pengangkutan yang ada berikut administrasi dari
masing-masing kegiatan tersebut
7. Lakukan analisis terhadap data-data dan perhitungan yang telah anda peroleh.

15
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA IV
TPK DAN ADMINISTRASI KAYU

A. POKOK BAHASAN
Tempat penimbunan kayu (TPK) adalah merupakan penghujung proses produksi
kayu, sebelum kayu diolah lebih lanjut.Tempat penimbunan kayu dibedakan dalam:
a.Tempat pengumpulan kayu (TP) yang terletak didalam petak tebangan.
b.Tempat penimbunan kayu antara (TPN).
c.Tempat penimbunan kayu (TPK) yang merupakan tempat penimbunan kayu terakhir.
TPK selain sebagai gudang penimbunan kayu, juga merupakan toko dengan
etalasenya untuk melayani calon pembeli. TPK sebagai gudang kayu akan berhubungan
dengan kawasan hutan penghasil kayunya sehingga pemilihan lokasi, daya jangkau
penimbunan, daya tampung dan efisiensi angkutan kayu perlu direncanakan secara cermat.
Datangnya kayu dan hutan (penerimaan) dan diambilnya kayu oleh konsumen
(pengurangan) merupakan aktifitas pokok dalam pengelolaan TPK.Aktivitas ini
memerlukan pengaturan yang sebaik-baiknya mulai dan dimana kayu dibongkar dan
diletakkan, bagaimana pengaturan administrasinya sehingga sewaktu-waktu kayu mudah
dicari kembali dll.
Pengelolaan TPK akan berkaitan dengan tugas-tugas:
1. Penerimaan dan penempatan kayu pada blok-blok yang telah ada dalam TPK.
2. Pengukuran kembali dan pengujian kayu untuk menetapkan sortimen dan kualitasnya.
3. Penyusunan kapling kayu yang akan ditawarkan, sesuai dengan minat calon pembeli.
4. Melayani konsumen dalam pengambilan kayu yang telah dibayar (tidak di TPK)
maupun pemberian pasangkutan kayunya.
5. Melayani penggunaan kayu untuk kepentingan sendiri (Perhutani), misal untuk
penghara penggergajian mesin, baik di lingkungan KPH/Unit maupun lainnya.
6. Secara berkala melakukan stock opname kayu baik secara fisik maupun administrasi
kaitannya dengan pengawasan persediaan kayu.
Sesuai dengan Kelas perusahaannya, produk utama Perhutani KPH Ngawi adalah
Kayu Bundar Jati disertai hasil hutan lainnya. Sebagian besar hasil hutan dijual, sebagian
yang lain digunakan untuk keperluan sendiri.Besarnya volume kayu dan akan dijual dan
dipakai untuk kepentingan sendiri terdapat dalam Buku Rencana Perusahaan.

16
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Jenis penjualan terdiri dari :


a. Penjualan ekspor.
Dilaksanakan oleh Adm/Kepala Pelaksana Ekspor.
b. Penjualan dalam negeri, meliputi.
1. Penjualan dengan perjanjian (kontrak)
Dilaksanakan oleh Direksi yang melimpahkan kewenangannya kepada Kepala Unit.
2. Penjualan langsung kepada pembeli, terdiri :
Penjualan langsung oleh Direksi, dengan menerbitkan Surat Perintah Alokasi
Penjualan (SPAP).
Penjualan langsung oleh Kepala Unit dengan menerbitkan Surat Perintah
Penjualan (SPP).
Penjualan langsung oleh Adm/KKPH/KIPKJ dengan menerbitkan Surat Ijin
Pembelian (SIP).
3. Penjualan lelang.
Penjualan melalui lelang ini merupakan cara penjualan yang utama, yang terdiri
dari :
Lelang Besar
Dilaksanakan oleh Unit dengan perantaraan Kantor Lelang Negara setempat.
Lelang Kecil
Dilaksanakan oleh Adm tanpa perantaraan Kantor Lelang Negara.
4. Penjualan lain-lain.
Yaitu penjualan secara restruksi bagi rakyat sekitar hutan, untuk hasil hutan yang
dioleh langsung oleh Perum Perhutani, dilakukan oleh Adm dengan membayar
uang kitir.
Sedangkan bentuk penggunaan untuk keperluan sendiri terdiri dari :
1. Untuk digunakan KPH sendiri.
2. Untuk digunakan KPH lain atau Unit.
3. Untuk digunakan sebagai harga atau untuk industri KPH lain atau industri KPH
sendiri.
B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat memahami dan dapat mengungkapkan faktor-faktor/
pertimbangan yang dipakai untuk merencanakan lokasi TPK, kaitannya dengan

17
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

potensi produksi sumber daya hutan yang akan ditampung dan efisiensi
angkutannya.
2. Mahasiswa dapat memahami dan dapat mengungkapkan proses aliran penerimaan
kayu, mulai dan gerbang TPK hingga pengambilan kayu oleh konsumen untuk
dibawa keluar TPK.
3. Mahasiswa dapat memahami dan mengungkapkan sistem pengujian kayu dan
sistem penyusunan kapling yang akan ditawarkan pada calon pembeli.
4. Mahasiswa dapat memahami dan mengungkapkan sistem pengelolaan TPK,
termasuk status TPK dibanding TPK lainnya, baik aspek personal maupun
administrasi kayu yang merupakan bagian dari Urusan Tata Usaha Hasil Hutan
pada Kantor KPH.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Peta situasi/ tata ruang TPK.
2. Pedoman pengujian kayu jati.
3. Alat ukur kayu
4. Bagan alir kayu (dari tebangan ke TPK)

D. PELAKSANAAN
1. Kunjungilah TPK terdekat dan perhatikan situasi TPK dan keadaan disekitar TPK,
hubungkan peta tata ruang TPK dengan keadaan lapangan.
2. Pelajari organisasi (personal) TPK.
3. lkuti aliran kayu yang masuk ke TPK mulai gerbang TPK hingga kayu diambil
oleh konsumen ikuti pula sistem pencatatan/administrasi kayunya.
4. Pelajari macam-macam cacat kayu. Amatilah dua batang kayu, pelajarilah variasi
macam cacat kayu yang ada.
5. Pelajari sistem pengujian kayu dan ikuti secara cermat aplikasi pengujian kayu.
6. Mintalah pada petugas penguji kayu untuk memperagakan pengujian kualitas kayu
(2-3) batang, dari batang yang telah diamati cacatnya.
7. Periksalah contoh kapling yang telah tersusun, mintalah keterangan pada petugas
tentang tata cara dan ketentuan penyusunan kapling.

18
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

8. Lakukanlah identifikasi kapling serta tentukanlah kualitas batang yang ada dalam
kapling tersebut.
9. Buatlah layout TPK dan bagan alir kayu mulai dari petak tebangan sampai kayu
siap dijual
10. Lakukan analisis terhadap data-data yang anda dapatkan.

19
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA V
PERBENIHAN DAN PERSEMAIAN

A. POKOK BAHASAN
1. Perbenihan
Lalu lintas perbenihan pohon hutan di Indonesia telah banyak mengalami
perubahan. Penggunaan benih bermutu, baik genetik maupun fenotipik, semakin dirasakan
penting karena langsung berhubungan dengan kualitas dan produktivitas legakan yang
akan dihasilkannya. Benih unggul, yaitu benih bermutu genetik, biasanya hanya dapat
diperoleh dari kebun benih hasil perbanyakan generatif/vegetatif dari pohon plus yang
diseleksi melalui program pemuliaan selektif khusus untuk memproduksi benih.
Pembangunan kebun benih dan pengadaan benih bermutu merupakan program
pemuliaan jangka panjang yang memerlukan waktu yang lama.Untuk mengisi kekosongan
produksi benih sebelum kebun benih terealisir, dibuat program perbenihan jangka pendek
melalui identifikasi sumber benih yang bersifat sementara, seperti misalnya Areal Produksi
Benih(APB) dari tegakan yang sudah ada, atau melalui pemapanan Areal Produksi Benih
baru, serta tegakan provenans (provenans stand), sebagai upaya peningkatan kualitas
genetik benih secara bertahap sampai kebun benih hasil pengujian genetik selesai.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk penunjukan suatu sumber
benih, diantaranya adalah produktivitas, kualitas tegakan, assesibilitas, ketersediaan tenaga
kerja, serta tapak tempat tumbuh. Mengacu pada persyaratan tersebut, Balai Perbenihan
dan Tanaman Hutan (BPTH) telah menentukan beberapa klas sumber benih untuk
memenuhi kebutuhan benih bagi permudaan Jati, yaitu tegakan benih teridentifikasi,
tegakan benih terseleksi dan APB. Sedangkan untuk klon ada Kebun Benih Klon (CSO).
Asal usul sumber benih ini penting karena sekaligus menunjukkan identitias pada kualitas
genetiknya, sehingga selalu harus dicantumkan secara jelas pada Label atau Sertifikat
Benih yang menyertainya pada waktu distribusi benih dilakukan. Dimasa mendatang
potensi dan produktivitas tegakan jati akan banyak dipengaruhi oleh kualitas benih yang
dihasilkan dari suatu sumber benih.

20
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

2. Persemaian
Untuk menunjang keberhasilan tanaman maka perlu persiapan bahan tanaman
dengan sebaik-baiknya. Pada mulanya tanaman jati ditanam dengan bahan biji, yang
kemudian karena pertimbangan segi biaya bahwa biji jati semakin lama semakin mahal dan
tingkata keberhasilanya rendah maka tanaman diusahakan dengan bahan plances/bibit jati.
Untuk mendapatkan bibit yang baik maka perlu adanya persemaian yang memadahi.
Persemaian digolongkan dalam dua tipe, yaitu persemaian sementara dan persemaian tetap.
Persemaian sementara (non permanent nursery), biasanya lokasi tidak terlalu luas,
jangka waktu pendek paling lama 2 kali, selalu mengikuti lokasi tanam, dan perlengkapan
yang digunakan sederhana. Namun demikian tipe persemaian ini memiliki kelebihan :
semai yang dihasilkan sudah beradaptasi dengan lokasi tanam/lingkungan setempat,
kerusakan angkut tidak terlalu besar karena jarak angkut relatif dekat dan investasi
murah/kecil. Kelemahannya karena terpencar-pencar letaknya maka proses pengendalian
mutu menjadi sangat sulit untuk dilakukan.
Persemaian permanen (permanent nursery), lokasinya terpusat dan tidak mengikuti
lokasi tanaman, jumlah bibit yang dibuat atau dihasilkan banyak dan waktunya lama
(permanen). Kelebihannya adalah produksi hasil persemaian umumnya mencapai skala
besar dan terencana, sehingga akan memberikan kemudahan dalam perencanaan produksi
bibit dan pengendalian mutu bibit. Sifatnya permanen, maka memungkinkan untuk
digunakan teknologi yang lebih modern sehingga keseragaman bibit dan kwalitasnya dapat
lebih terkontrol. Persemaian yang terpusat memungkinkan untuk penyatuan sarana dan
prasarana yang terbatas untuk prses produksi bibit, misalnya sitem irigasi, media dsb.
sehingga penggunaannya akan lebih efisien. Persemaian yang terpusat akan memberikan
peluang peningkatan kemampuan manajemen personal (pembinaan SDM) untuk
meningkatkan kwalitas bibit yang dihaslkan.
Adapun kelemahannya adalah diperlukannya investasi yang cukup besar dan
apabila terjadi serangan hama/penyakit dan tidak segera diketahui dapat terjadi wabah dan
merusak secara besar-besaran.
Luas persemaian adalah luas persemaian secara keseluruhan termasuk yang
digunakan untuk bangunan-bangunan, jalan pemeriksaan, jalan angkt dan sebagainya.
Sedangkan luas persemaian efektif adalah luasan yang khusus untuk bedengan-bedengan
tidak termasuk guludan, bangunan, jalan dll., yang optimunya adalah 60% dari luas

21
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

totalnya. Letak persemaian harus mempertimbangkan dua aspek, yaitu aspek manajemen
(yang menyangkut pengelolaan persemaian dan aspek silvikultur (evapotranspirasi,
adaptasi semai, dll.) Pembuatan persemaian jati di Perhutani harus dilengkapi dengan :
f. RTT Persemaian Jati.
g. Surat Perintah kerja Administratur/KKPH tentang pembuatan
Persemaian jati, dilengkapi peta lokasi persemaian skala 1 : 10.000.
h. Rencana Operasional persemaian.
i. Sarana dan prasaran, meliputi jalan pemeriksaan, sumber air,
babagan, bedengan dan labelnya, saluran drainase, selang, dan lain-
lain.

B. TUJUAN
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, ada beberapa
tujuan yang diusahakan dapat dicapai dalam rangka praktek perbenihan dan persemaian di
hutan jati, yaitu:
1. Mahasiswa dapat memahami berbagai bentuk sumber benih (Tegakan Biasa dan
Arel Produksi Benih) yang tersedia untuk pengusahaan hutan jati di sekitar tempat
praktek;
2. Mahasiswa dapat memahami elemen-elemen yang dipergunakan dalam rangka
program pemuliaan selektif
3. Mahasiswa dapat menganalisis efisiensi Operasional Areal Produksi Benih
(pengumpulan, pengolahan, sortasi & seleksi Benih, pengemasan benih), dan dapat
memprediksi produktivitas Areal Produksi Benih persatuan waktu;
4. Mahasiswa mampu memahami tahap-tahap pembuatan persemaian di hutan
tanaman jati
5. Mahasiswa dapat memahami prosedur dan tata-cara pembuatan persemaian jati.

C. ALAT DAN BAHAN


Untuk keperluan praktek perbenihan dan persemaian dalam perusahaan tanaman
jati ini diperlukan sarana-sarana sebagai berikut :
1. Tegakan Biasa , Areal Produksi Benih dan Pohon Plus
2. Areal persemaian dan uji pertanaman jati

22
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

3. Alat-alat ukur pohon dan tali tambang


4. Tabel penilaian kualitas pohon dalam APB dan uji tanaman
5. Bahan Acuan yang tersedia dan Informasi Pengelola (Perum Perhutani)

D. PELAKSANAAN
1. Kunjungi Pohon Plus Jati yang ada dan sudah ditetapkan oleh Direksi Perum
Perhutani.Selanjutnya :
Pelajari metode pemilihan pohon plus, prosedur penunjukkan dan penetapan
pohon yang bersangkutan menurut ketentuan Perum Perhutani;
Berikanlah penilaian pohon plus tersebut menurut petunjuk yang tersedia dan
buatlah komentar pendek dari hasil penilaian saudara;
Buatlah rekomendasi pemeliharaan dan perlakuan yang seharusnya diberikan
pada pohon plus tersebut;
2. Kunjungi petak-petak di sekitar lokasi praktek yang telah ditentukan oleh Perum
Perhutani sebagai Areal Produksi Benih (APB):
Pelajari prosedur yang dipergunakan sebagai dasar identifikasi Areal
Produksi Benih tersebut;
Pelajari elemen-elemen APB seperti misalnya jalur isolasi yang tersedia,
frekuensi dan bentuk pemeliharaan setiap tahun;
Buatlah plot berukuran 0,1 ha, kemudian lakukanlah penilaian detil dan
gambaran kenampakan horisontal dan vertikal menurut blanko yang tersedia
dengan memanfaatkan fenotipe pohon plus sebagai dasar penilaian. Kemudian
buat plot dengan luas yang sama pada tegakan biasa yang ada di sekitar APB
sebagai komparasi;
Buatlah pengamatan singkat kemampuan pertumbuhan reproduksi (bunga atau
buah) pada saat ini. Buatlah prediksi tentang efisiensi produksi buah pada
pohon-pohon/di APB tersebut;
3. Kunjungilah areal persemaian yang dimiliki oleh Perum Perhutani di sekitar lokasi
praktek kemudian lakukanlah kegiatan berikut :
gambarlah layout persemaian tersebut
hitunglah prosen hidup untuk masing-masing jenis yang ada
carilah data mengenai tata waktu pembuatan persemaian

23
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

4. Kunjungilah petak uji tanaman, kemudian lakukan kegiatan :


ukur karakteristik masing-masing pohon berdasarkan asal bahan tanaman
catat ke dalam blangko yang tersedia kemudian buatlah analisis terhadap data
tersebut

24
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA VI
PERLINDUNGAN HUTAN

A. POKOK BAHASAN
Perlindungan hutan merupakan salah satu fungsi utama dalam aplikasi sistim
silvikultur. Kesemua fungsi silvikultur pada dasarnya diarahkan untuk menjamin
penutupan vegetasi yang berkesinambungan, menjaga kestabilan tempat tumbuh dan
mencegah kerusakan agar tujuan pengelolaan dapat dicapai. Untuk memperoleh manfaat
yang optimal, pelaksanaan silvikultur memerlukan rencana cermat untuk melindungi
pohon penyusun vegetasi dari kerusakan dalam bentuk program yang lebih luas yaitu
program kesehatan hutan. Pada awalnya program kesehatan hutan mendasarkan atas
asumsi bahwa problem kerusakan muncul ketika agen perusak menyebabkan tingkat
kerugian ekonomis. Asumsi ini seringkali membatasi program kesehatan hutan hanya
dilakukan terhadap agen-agen yang menyebabkan kerusakan yang besar saja. Keberadaan
agen-agen perusak yang berada dalam kondisi endemik kurang mendapatkan perhatian.
Pengelolaan kesehatan hutan dewasa ini lebih diarahkan untuk mengupayakan agar
ancaman kerusakan hutan berada dibawah tingkat ambang kerusakan yang tidak
diharapkan. Nyland (1996) mengemukakan bahwa program pengelolaan kesehatan hutan
ini pada dasarnya menyangkut (1) kemampuan mengetahui masalah kesehatan hutan yang
potensial, (2) menjaga pohon penyusun vegetasi tumbuh subur dan (3) pencegahan
kerusakan standing stock
Dalam pengelolaan hutan jati di Jawa penyebab kerusakan potensial dapat
bersumber dari dua aspek yakni (1) yang berhubungan dengan kharakteristik ekosistim dan
(2) yang berhubungan dengan masyarakat sekitar hutan. Hutan jati mempunyai ciri
ekosistim yang khas diantaranya adalah ditata menurut kelas umur, ditanam sejenis dan
berdaur panjang. Sebagai hutan musim hutan jati menggugurkan daun pada musim
kemarau. Hutan tanaman jati dengan ciri ekosistim seperti itu mempunyai peluang lebih
besar terhadap perkembangan kerusakan oleh hama dan penyakit serta kebakaran. Pola
pemukiman dan perkembangan penduduk yang cepat di Jawa menyebabkan interaksi
antara hutan jati dengan masyarakat disekitarnya semakin intensif. Peranan hutan jati
sebagai pendukung kehidupan masyarakat sekitar hutan juga semakin besar. Ketimpangan
dalam hubungan interaksi tersebut dapat menyebabkan dampak berupa kerusakan hutan.

25
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Beberapa interaksi yang potensial menimbulkan dampak kerusakan adalah yang


berhubungan dengan perkembangan ternak rakyat, kebutuhan lahan garapan dan tuntutan
peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Masalah kerusakan hutan dalam banyak hal terjadi secara kumulatif dan seringkali
satu masalah kerusakan hutan berhubungan dengan satu atau lebih masalah kerusakan yang
lain. Apabila ini terjadi maka akan merupakan masalah yang kompleks dan kerusakan yang
ditimbulkan dapat sangat luas. Bila silvikultur diterima sebagai aspek yang menentukan
dalam pengelolaan kesehatan hutan, maka kita dapat berharap bahwa pengendalian
langsung terhadap penyebab kerusakan hutan.
Sesuai dengan proporsi masalah kerusakan hutan yang timbul selama ini program
perlindungan hutan dalam hutan jati lebih banyak diarahkan untuk mengendalikan
kerusakan yang timbul oleh adanya interaksi antara hutan dan masyarakat, khususnya
sekitar hutan. Program pendekatan kesejahteraan masyarakat yang sejak lama
dikembangkan adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas interaksi antara
masyarakat dengan hutan menuju suatu hubungan sinergistik diantara kedua belah fihak.
Dalam bentuk yang baru interaksi tersebut dikemas dalam suatu sistim yakni perhutanan
sosial dan lebih berkembang lagi menjadi pengelolaan hutan partisipatif dimana
masyarakat merupakan salah satu stake holders dalam pengelolaan hutan.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat memahami dan dapat mengungkap konsep dasar perlindungan hutan
dalam perusahaan hutan dengan kasus pengusahaan hutan jati di Jawa.
2. Mahasiswa dapat mengenal dan dapat mengidentifikasi macam gangguan/ kerusakan
yang ada dan upaya pencegahan/ penanggulangannya.
3. Pada saat yang lain dapat membandingkan macam gangguan/kerusakan hutan di Jawa
dengan hutan di luar Jawa
4. Mahasiswa dapat mengenali masalah yang berhubungan dengan kerusakan hutan jati,
baik yang berhubungan dengan kharakteristik ekosistem maupun yang berhubungan
dengan interaksi dengan masyarakat sekitar hutan.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Petak-petak bekas terjadi kebakaran, penggembalaan, bibrikan/suwekan yang
terserang hama dan penyakit.

26
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

2. Data sosial ekonomi, data curah hujan dll.


3. Institusi yang terkait dengan masalah perlindungan.

D. PELAKSANAAN
Kegiatan 1 : Penggembalaan ternak
Tujuan : Mengidentifikasi bentuk-bentuk kerusakan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
akibat penggembalaan ternak yang terjadi pada tegakan, tanah.
Lokasi : Petak-petak yang telah digunakan sebagai penggembalaan oleh masyarakat
Kegiatan : 1. Lakukan pengamatan kondisi umum petak lokasi
2. Buat petak-petak pengamatan dan lakukan pengamatan terhadap
a. bentuk-bentuk kerusakan pada tanaman penyusun tegakan
b. bentuk-bentuk kerusakan pada tanah
3. kumpulkan data pendukung

Kegiatan 2 : Kebakaran hutan


Tujuan : mempelajari potensi bahan bakan dan kerusakan akibat kerusakan
Kegiatan : 1. Lakukan pengamatan kondisi umum petak lokasi
2. Buat petak-petak pengamatan dan lakukan pengamatan terhadap
a. Jenis dan penyebaran bahan bakar
b. Bentuk-bentuk kerusakan pada tegakan dan tanah
3. kumpulkan data pendukung terutama tentang kemungkinan penyebab
kebakaran hutan

Kegiatan 3 : Hama dan Penyakit


Tujuan : Mengenali gejala kerusakan oleh hama dan penyakit
Kegiatan : 1. Tentukan individu atau kelompok individu terserang
2. Buat diskripsi gejala kerusakan
3. Kumpulkan informasi pendukung

Kegiatan 4 : Kerusakan/cacat pohon penyusun tegakan


Tujuan : Mengindentifikasi cacat atau kerusakan pohon potensial yang
mempengaruhi perkembangan hutan selanjutnya

27
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Lokasi : Tegakan jati muda


Kegiatan : 1. Lakukan pengamatan kondisi umum petak lokasi
2. Buat petak-petak pengamatan dan lakukan pengamatan terhadap
a. cacat/kerusakan yang terjadi pada batang utama dan bagian lain misalnya
kanker/luka, pembengkokan, batang pokok patah, cabang menggarpu,
tanaman mati tertekan dan lain-lain.
b. Tentukan lokasi kerusakan menurut bagian tanaman dan tingginya dari
muka tanah
c. Ukur diameter dan panjang cacat/kerusakan dibanding dengan garis
tengah
3. Kumpulkan data pendukung untuk analisis selanjutnya.

28
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARAVII
INVENTARISASI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT

A. POKOK BAHASAN
1. Interaksi Masyarakat terhadap Sumberdaya Hutan
Ketergantungan masyarakat desa hutan terhadap sumberdaya hutan sangat dirasakan
oleh hampir seluruh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Sebagian besar masyarakat
hidup sebagai petani dengan lahan milik yang sempit, bahkan sebagai buruh tani karena
mereka tidak memiliki lahan pertanian. Ketergantungan masyarakat terhadap hutan tidak
hanya untuk memperoleh lahan pertanian saja, tetapi ketergantungan masyarakat juga
terhadap hasil hutan baik kayu maupun non kayu. Ketergantungan masyarakat dapat
dibedakan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung masyarakat berinteraksi
dengan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan secara tidak langsung,
masyarakat tidak berinteraksi secara langsung namun memerlukan hasil-hasil hutan dan
dapat mengambil manfaat dari keberadaan.
Untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang mampu mensejahterakan masyarakat
tidaklah semudah yang diimpikan, bila rasa memiliki hutan oleh masyarakat belumlah
tertanam dengan baik. Belumnya tertanam rasa ikut memiliki hutan akibat dari sejarah
pengelolaan hutan masa lalu yang tersentral pada penguasa Perhutani. Fenomena yang
terjadi adalah masyarakat dengan sadar menginginkan pengelolaan hutan dapat berjalan
dengan baik agar kualitas hutan pun menjadi baik. Namun dengan sadar pula masyarakat
melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan, meskipun
mereka mempunyai berbagai alasan bahwa mereka melakukan itu semua karena dipaksa
oleh keadaan. Beberapa hal yang sering dituding sebagai menyebabkan kerusakan hutan
yang terjadi pada saat ini adalah : pencurian kayu, perencekan untuk kayu bakar, kegagalan
permudaaan, pembibrikan lahan, dan berbagai pemanfaatan hutan yang lain.
Bagaimana pengelolaan hutan dapat memperhatikan kepentingan kelestarian
sumberdaya hutan dan kesejahteraan masyarakat merupakan tujuan bersama dari
pengelolaan hutan. Mengenali karakteristik wilayah hutan dan karakteristik wilayah dan
sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan sangat lah penting untuk

29
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

mendukung perencanaan pengelolaan hutan yang memperhatikan kelestarian sumberdaya


hutan dan kesejahteraan masyarakat.
Karakteristik wilayah dan sosial ekonomi masyarakat yang penting untuk diketahui
adalah :
1. Keadaan umum desa : batas desa, luas desa, penggunaan lahan, keuangan dan
sumber pendapatan desa, infra struktur desa,
2. Sumber daya yang ada di desa dan pemanfaatannya dan ketergantungan
masyarakat desa hutan terhadap sumber daya hutan.
3. Keadaan penduduk : jumlah penduduk (kelompok umur, dan jenis kelamin),
pendidikan, pemilikan lahan, mata pencaharian, pendapatan masyarakat.
4. Kondisi sosisal budaya masyarakat desa hutan.
5. Kualitas gaya hidup masyarakat desa hutan.
Dengan mengetahui karakteristik tersebut dapat lah diperoleh gambaran mengenai
kondisi masyarakat desa hutan, sehingga dapat digunakan sebagai dasar untuk
memberdayakan masyarat dalam pengelolaan hutan.

2. Kelembagaan Sosial
Kelembagaan mempunyai fungsi sangat penting dalam mewujudkan tujuan bersama
dalam pengelolaan sumberdaya hutan. Untuk itu maka dalam kajian sosial ekonomi
masyarakat desa hutan sangatlah penting artinya untuk mengetahui keberadaan lembaga
atau organisasi desa yang telah berkembang di masyarakat. Keberadaan lembaga dan
norma-norma sosial yang telah berkembang dapat memberikan gambaran tentang
kesadaran masyarakat dalam berkumpul (berorganisasi) untuk mencapai tujuan tertentu
secara bersama. Dengan modal dasar yang sudah ada maka masyarakat dapat didorong
untuk membangun sebuah lembaga yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya hutan
yang menginginkan kelestarian dan kesejahteraan masyarakat.
Tujuan dari pembangunan lembaga adalah sebagai penetapan yang berencana dari
organisasi-organisasi baru untuk melayani tujuan-tujuan yang oleh mereka yang berkuasa
dinilai memerlukan campur tangan administratif yang otonom dan kaitan-kaitan khusus
dengan sistem sosial yang lebih besar, yang berbeda dari yang dapat disediakan oleh unit-
unit administratif yang sudah ada (Eaton, 1986). Variabel lembaga seperti yang dinyatakan
oleh Esman dijelaskan di bawah ini.

30
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Kepemimpinan menunjuk kepada mereka yang secara aktif melakukan perumusan


doktrin dan program kerja lembaga. Kepemimpinan akan mengambil kendali
organisasi, mengelola organisasi dengan baik, berperanan sebagai perwakilan
kelompok, pengambilan keputusan, dan pengendalian opersional kegiatan
organisasi.
Doktrin adalah spesifikasi dari nilai-nilai, tujuan-tujuan dan metode-metode
operasional yang mendasari tindakan sosial. Doktrin dipandang sebagai sederetan
tema yang memproyeksi, baik di dalam organisasi itu sendiri maupun dalam
lingkungan eksternalnya, seperangkat citra dan harapan-harapan mengenai tujuan-
tujuan lembaga dan gaya-gaya tindakannya.
Program merujuk pada tindakan-tindakan tertentu yang berhubungan dengan
pelaksanaan dari fungsi-fungsi dan jasa-jasa yang merupakan keluaran dari
lembaga tersebut. Dengan demikian program adalah terjemahan dari doktrin ke
dalam pola-pola tindakan yang nyata dan alokasi dari energi-energi dan
sumberdaya lainnya di dalam lembaga / organisasi itu sendiri dan yang
berhubungan dengan lingkungan eksternal.
Sumberdaya adalah masukan-masukan keuangan, fisik, manusia, teknologi dan
informasi dari lembaga. Jelaslah bahwa persoalan-persoalan yang tercakup dalam
pengerahan dan dalam menjamin tersedianya sumber-sumberdaya tersebut secara
mantap dan yang dapat diandalkan mempengaruhi tiap aspek dari kegiatan-kegiatan
lembaga. Memaksimalkan sumberdaya merupakan kesibukan yang penting dari
semua kepemimpinan lembaga.
Struktur internal merupakan struktur dan proses-proses yang diadakan untuk
mendorong bekerjanya lembaga dan untuk memelihara agar semua proses berjalan
di dalam lembaga. Pembagian peranan-peranan di dalam organisasi tersebut, pola-
pola wewenang intern dan sistem-sistem komunikasi, komitmen dari orang-
orangnya pada doktrin dan program dari oragnisasi tersebut, akan mempengaruhi
kemampuannya untuk melaksanakan komitmen-komitmen yang sudah di program.
Sementara itu yang dimaksud dengan keterkaitan adalah kesalingtergantungan
yang ada di antara suatu lembaga dan bagian-bagian masyarakat lainnya yang
terkait. Organisasi jangan terisolasi dari dunia lainnya, organisasi / lembaga harus
memelihara suatu jaringan untuk tetap hidup dan berfungsi.

31
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Kaitan-kaitan yang memungkinkan (enabling condition) adalah saling


ketergantungan dengan organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok sosial yang
mengendalikan alokasi wewenang dan sumberdaya yang diperlukan oleh lembaga
agar dapat berfungsi.
Kaitan-kaitan fungsional, yakni saling ketergantungan dengan organisasi-
organisasi yang menjalankan fungsi-fungsi dan jasa-jasa yang merupakan
pelengkap dalam arti produksi, yang menyediakan masukan-masukan dan yang
menggunakan keluaran-keluaran dari lembaga tersebut.
Kaitan-kaitan normatif, adalah saling ketergantungan dengan lembaga-lembaga
yang mencakup norma-norma dan nilai-nilai (positif atau negatif) yang relevan bagi
doktrin dan program dari lembaga tersebut.
Kaitan-kaitan tersebar merupakan saling ketergantungan dengan unsur-unsur
dalam masyarakat yang tidak dapat dengan jelas diidentifikasi oleh keanggotaan
dalam organisasi formal.

3. Partisipasi Masyarakat dan Pengelolaan Hutan


Peran serta atau partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan
sangatlah penting artinya. Masyarakat yang dimaksudkan di sini adalah masyarakat yang
tinggal di dalam dan di sekitar hutan. Hal ini mudah untuk dijelaskan karena pengelolaan
hutan bertujuan untuk mewujudkan sumber daya hutan yang lestari dan kesejahteraan
masyarakat. Artinya bahwa pemanfaatan hutan yang dilakukan tidak menyebabkan
penurunan kualitas hutan dan pemanfaatan hutan untuk kesejahteraan masyarakat. Maka
masyarakat yang berada di sekitar hutan memiliki hak yang sama dengan masyarakat
dimanapun berada untuk memperoleh kesejahteraan hidup. Kehidupan mereka bergantung
dengan keberadaan hutan maka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai
kesejahteraan sudah semestinya jika diperoleh dari pengelolaan hutan.
Partisipasi menurut rumusan PBB partisipasi diartikan sebagai keterlibatan aktif
dan bermakna dari masa penduduk pada tingkatan-tingkatan yang berbeda seperti: (1) di
dalam proses pembentukan keputusan untuk menentukan tujuan-tujuan kemasyarakatan
dan pengalokasian sumber-sumber untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut; (2) pelaksanaan
program-program dan proyek-proyek secara sukarela; dan (3) pemanfaatan hasil-hasil dari
suatu program atau proyek pembangunan. Butir no (3) ini penting untuk dicermati karena

32
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

banyak proyek pembangunan mengalami kegagalan karena proyek tersebut ditolak oleh
masyarakat.
Sudah saat pengelolaan sumber daya hutan dengan melibatkan secara langsung
masyarakat yang ada di sekitar hutan. Pelibatan atau partisipasi masayarakat dalam
pengelolaan sumberdaya hutan hendaknya dilakukan secara aktif mulai dari kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Artinya bahwa masyarakat didudukan
sederajat atau sebagai mitra dalam pengelolaan hutan, dan bukan lagi sebagai buruh atau
pekerja. Sehingga dalam hal ini diperlukan adanya sharing (berbagi) dalam hal
pemanfaatan ruang, peran dan pemanfaatan hasil hutan.

B. TUJUAN
1. Melakukan identifikasi interaksi antara masyarakat desa hutan dengan sumberdaya
alam/hutan.
2. Mengidentifikasi potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia.
3. Melatih mahasiswa untuk menggali dan merumuskan permasalahan yang dihadapi
oleh masyarakat desa hutan (permasalahan dari berbagai aspek : sosial-budaya,
ekonomi dan ekologi), berikut rekomendasi tentang cara atau strategi untuk
mengatasi permasalahan tersebut.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat tulis dan alat perekan
2. Alat dokumentasi
3. Kuesioner
4. Interview guide

D. PELAKSANAAN
Penyiapan kuesioner dan interview guide
Penetapan responden : key informan (tokoh masyarakat, pemerintah desa),
masyarakat desa hutan, Pehutani.
Melakukan survei ke desa : wawancara dengan interview guide dan kuisioner
Penyusunan laporan survei desa
Presentasi dan diskusi

33
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA VIII
PEMBUATAN TANAMAN DAN
PENJARANGAN

A. POKOK BAHASAN
Salah satu upaya dalam mempertahankan kelestarian sumber daya hutan yang
dikelola berdasarkan sistem Silvikultur tebang habis dengan permudaan buatan adalah
dengan dibuatnya tanaman hutan luasnya seimbang dengan luas tebangan ditambah luas
tanaman yang berasal dari kawasan hutan tak produktif.
Pembuatan tanaman hutan merupakan awal dari kegiatan berproduksi dan
merupakan investasi atau cost yang kelak diharapkan memberi hasil atau benefit yang
diharapkan.Teknik pembuatan tanaman dari aspek manajemen (perencanaan, pelaksanaan,
penilaian) dan aspek silvulkultur perlu dikuasai dengan baik oleh setiap rimbawan. Walau
secara tegas sulit dipisahkan antara tindakan manajemen dan tindakan silvikultur, akan
tetapi untuk kepentingan tertentu pada praktek ini kedua bidang tersebut dipisahkan.
Sistem pembuatan tanaman oleh Perhutani biasanya dilakukan dengan dua cara,
yaitu sistem banjar harian dan sistem tumpangsari. Pada sistem banjar harian, pesangggem
diberi upah tetapi tidak boleh melakukan penanaman dengan jenis tanaman pertanian di
lokasi yang bersangkutan, sedangkan untuk tanaman tumpangsari pesanggem tidak diberi
upah namun diberi hak untuk menanami lokasi tersebut dengan tanaman pertanian.
Pada sistem tanaman tumpangsari terdapat lima macam tanaman dengan fungsi
yang berbeda-beda , yaitu sebagai berikut :
1. Tanaman Pokok.
Merupakan tanaman yang diusahakan sesuai dengan kelas perusahaan (jati) yang
merupakan jenis dengan tujuan utama.
2. Tanaman Pengisi.
Merupakan tanaman jenis lain yang penanamannya berselang pada larikan tanaman
pokok, umumnya 4 jati kemudian 1 tanaman pengisi. Fungsinya adalah untuk
mengurangi sifat buruk dari tanaman monokultur (meningkatkan biodeversity) atau
untuk penghasilan antara (ditebang sebelum jati masak tebang), dan untuk
menyediakan HMT. Jenis yang digunakan adalah jenis jenis yang mampu hidup
berdampingan dengan jenis jati, seperti Mahoni, Mimba, Mindi, Kesambi dll.

34
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

3. Tanaman sela.
Tanaman sela merupakan tanaman yang ditanam diantara larikan jati secara rapat
(tidak terputus) dan pada kondisi lereng ditanam secara nyabuk gunung (sesuai
kontour). Jenis tanaman yang digunakan umumnya dari leguminosae, seperti
lamtoro, gamal, dan gmelina. Fungsi dari tanaman sela adalah : penghasil HMT,
seagai penahan erosi, dan meningkatkan tingkat kesuburan tanah (dapat menamkap
N bebas).
4. Tanaman tepi.
Tanama tepi merupakan tanaman yang ditanam pad tepi petak/anak petak (di dalam
tanaman pagar), tanaman ini berfungsi sebagai pembatas antar tanaman dengan
tahun tanam yang berbeda dan juga untuk segi keindahan, sehingga disebut juga
tanaman hias. Jenisnya biasanya Mahoni atau kesambi.
5. Tanaman pagar.
Tanaman pagar merupakan tanaman yang ditanam paling tepi, yang fungsinya
sebagai pembatas antar petak (pada antar anak petak tidak ada), dan pelindung
tanaman khususnya dari gangguan hewan ternak bagi tanaman yang masih muda.
Tanaman pagar umumnya menggunakan jenis-jenis tanaman yang berduri seperti
tanaman secang, pilang atau klampis.
Pada saat umur dua tahun atau masa kontrak habis maka pesanggem wajib menyerahkan
tanaman kepada Perhutani, dengan dilakukan evaluasi keberhasilan tanaman terlebih
dahulu. Apabila tanaman dinilai belum baik, maka bisa dilakukan perpanjangan kontrak.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat memahami dan dapat mengungkapkan proses pembuatan
tanaman dari aspek manajemen dan aspek silvikultur.
2. Mahasiswa dapat melakukan penilaian keberhasilan tanaman.
3. Mahasiswa dapat membuat perhitungan biaya pembuatan tanaman yang terinci
dengan elemen-elemen pekerjaannya.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Rencana Teknik Tahunan bidang tanaman.
2. Petak tanaman di sekitar kampus.

35
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

3. Buku nomor pekerjaan bidang tanaman.


4. Alat ukur pohon dan tali tambang
5. Tarif upah bidang tanaman.
6. Surat perintah pembuatan tanaman.
7. Petunjuk teknis pembuatan tanaman.

D. PELAKSANAAN
1. Pelajari proses pembuatan tanaman hutan mulai dari perencanaan sampai
pelaksanaan di lapangan.
2. Pelajari dan pahami cara penanaman masing-masing jenis tanaman pada sistem
pembuatan tanaman dengan tumpangsari
3. Pelajari sistem dan tata cara penilaian keberhasilan tanaman.
4. Pelajari surat perjanjian kontrak tanaman yang ada dan bagaimana cara
mendapatkan pesanggem.
5. Kunjungilah petak tanaman di sekitar kampus, dan lakukanlah kegiatan berikut :
a. gambarkan secara jelas tata ruang bidang tanaman suatu petak/anak petak
(letak tanaman tepi, tanaman sela, tanaman pagar, tanaman pokok, tanaman
pengisi, jarak tanam, jenis tanaman, termasuk tanaman pertaniannya).
b. buatlah petak ukur 0,1 ha kemudian lakukan pengukuran dan perhitungan
prosen jadi masing-masing tanaman yang ada
c. lakukan penilaian keberhasilan tanaman berdasarkan data-data yang anda
dapatkan sebelumnya
6. Buatlah analisis terhadap data dan hasil perhitungan yang didapatkan.

36
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

A. POKOK BAHASAN
Pohon yang soliter (menyendiri) akan memperoleh ruang tumbuh yang relatif
cukup, sehingga pohon akan memperoleh kesempatan tumbuh maksimal sesuai dengan
kemampuan pertumbuhannya. Lain halnya pertumbuhan pohon sebagai anggota tegakan
(kelompok pohon yang saling berinteraksi) pada keadaan dimana ruang tumbuh relatif
kecil, masing-masing pohon akan bersaing satu dengan yang lain, hingga pertumbuhan
masing-masing pohon atau juga pertumbuhan tegakannya relatif lambat.
Penjarangan adalah upaya manusia untuk memanipulasi jumlah pohon dalam
suatu kesatuan luas, mengikuti/sesuai dengan perkembangan umur tegakan, agar selain
diperoleh hasil tambahan berupa hasil tebangan pendahuluan juga tegakan tinggal selalu
memperoleh kesempatan tumbuh secara optimal.Dengan tindakan penjarangan tersebut
berarti diperoleh hasil kayu selain berkualitas tinggi juga diperoleh hasil yang berkualitas
tinggi pula. Suatu tegakan perlu dijarangi apabila ruang tumbuh masing-masing individu
pohon telah dalam keadaan sedemikian rupa sehingga pertumbuhan tegakan dipandang
tidak layak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Semakin keras penjarangan dilakukan, dalam keadaan tertentu dapat
menimbulkan gangguan lingkungan, ruang tumbuh masing-masing individu pohon relatif
semakin besar, keadaan ini memberi kesempatan pohon untuk tumbuh relatif lebih cepat
dibanding sebelum dijaringai, sehingga tegakan akan mencapai keadaan volume
optimal/normal. Bila keadaan optimal/normal telah tercapai maka tegakan perlu dijarangi
lagi. Penjarangan yang lemah akan menyebabkan penjarangan sering dilakukan, sebaliknya
penjaringan keras akan menyebabkan semakin lama penjarangan berikutnya dilakukan.
Volume (m3) hasil penjarangan tergantung pada jumlah pohon yang ditebang.
Hasil penjarangan pada suatu petak/ areal dapat ditaksir dengan menggunakan tabel/tarif
yang ada, dengan meperhatikan angka koreksi tebangan penjarangan.Tebangan
penjarangan dapat dilakukan tanpa/ dengan diteres terlebih dahulu.Pada tebangan
penjarangan tanaman muda belum dapat menghasilkan kayu perkakas.
Penjarangan merupakan salah satu dari kegiatan pemeliharaan tegakan. Kegiatan
pemeliharaan yang lain adalah : pangkas tanaman sela, tanaman tepi/ pagar, pencabutan
tembelekan/ kerinyu, babat mekanis, dangir, sulam,dll.

37
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Ada 5 masalah pokok dalam penjarangan yaitu :


1. Kapan/dalam keadaan bagaimana tegakan perlu dijarangi ?
Tegakan perlu dijaringi ketika keadaan masing-masing pohon penyusun tegakan
telah bersiang untuk memperoleh ruang tumbuh demikian rupa hingga pertum
buhannya tidak sesuai lagi dengan tujuan yang ditetapkan. Secara kualitatif dapat
ditunjuk dengan melihat nilai KBD telah mendekati satu (l).
2. Sampai seberapa keras penjarangan dilakukan ?
Terdapat beberapa alternatif terhadap kekerasan penjarangan.Semua tergantung
pada tujuan yang ditetapkan.
a. Berdasar jumlah tegakan tinggal dalam tabel WvW untuk mempertahankan
KBD tetap 1.
b. Berdasar nilai S% (perbandingan jarak antar pohon dan tinggi pohon) dalam
tabel WvW.
c. Berdasar jumlah tegakan tinggal yang terdapat dalam petunjuk teknis
penjarangan tahun 1938, meliputi Penjarangan Keras, Sedang dan Lemah.
d. Berdasar pendapat Prof. Soedarwono Hardjosoediro, yaitu KBD diturunkan
hingga 0,8, sepanjang dkn lebih besar atau sama dengan 0,6.
e. Berdasar jumlah pohon dan periodisitas yang ditetapkan dalam pedoman
penjarangan tahun l992.
f. Dibiarkan tidak dilakukan penjarangan sampai akhir dari tegakan tinggal (pada
kelas perusahaan penghasil Pulp).
3. Kapan penjarangan berikutnya dilakukan lagi ?
Pengaturan pelaksanaan penjarangan berikutnya (periodisitas penjarangan)
tergantung pada tujuan yang ditetapkan.Hal ini berkaitan erat dengan masalah pada
titik 1 yaitu kapan/dalam keadaan bagaimana penjarangan perlu dilakukan dan titik
2 kekerasan penjarangan.Semakin keras penjarangan dilakukan maka penjarangan
berikutnya akan berjarak relatif lama.
4. Pohon mana yang dipilih untuk dijarangi ?
Tergantung pada tujuan maka terdapat beberapa alternatif untuk pemilihan pohon
yang akan dijarangi, yaitu :
a. Penjarangan tinggi, yaitu penjarangan terhadap pohon-pohon yang tajuk nya
menonjol dibanding pohon yang lain (ingat tebang pilih pada TPTI).

38
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

b. Penjarangan rendah, yaitu penjarangan terhadap pohon-pohon yang relatif


tertekan, terkena penyakit, bengkok, jelek dll agar diperoleh tegakan tinggal
yang baik.
c. Penjarangan seleksi, yaitu penjarangan terhadap pohon-pohon yang termasuk
klasifikasi dominan agar pohon-pohon yang berada dibawah tajuk nya dapat
terstimulasi pertumbuhannya.
d. Penjarangan mekanis, yaitu penjarangan yang dilakukan untuk mengatur
jarak antar pohon yang bertujuan memperoleh pertumbuhan optimal, tanpa
melihat permukaan tajuk (ingat penjarangan untu walang).
e. Penjarangan bebas, yaitu penjarangan yang tidak terkait dengan salah satu
metode terdahulu dan tanpa memperhatikan permukaan tajuk.(Ingat
pengelolaan pekarangan).
5. Bagaimana menaksir hasil penjarangan, baik taksiran hasil penjarangan dalam suatu
petak atau taksiran hasil penjarangan pada suatu unit pengusahaan hutan.
Bagaimana hasil penjarangan jika dibandingkan dengan biaya operasional
penjarangan ?

B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat memahami dan dapat mengungkapkan dasar-dasar teori
penjarangan.
2. Mahasiswa dapat membuat petak ukur penjarangan pada suatu petak yang
direncanakan untuk dijarangi dan dapat menganalisis perlu tidaknya dilakukan
penjarangan berdasarkan salah satu norma penjarangan.
3. Mahasiswa dapat menunjukkan dan menolet pohon-pohon yang perlu dijarangi
dalam petak/blok yang diwakili oleh petak ukur penjarangan serta menaksir hasil
tebangan pada petak/anak petak/olok yang akan dijarangi.
4. Secara kasar mahasiswa dapat membuat perhitungan/membandingkan taksiran
pendapatan hasil penjarangan dan biaya penjarangan berdasar standar biaya yang
ada.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Peta perusahaan skala 1:10.000.
2. Buku nomor pekerjaan bidang penjarangan.

39
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

3. Buku petunjuk teknis penjarangan.


4. Tabel volume tegakan jati WvW 1932, Tarif Ferguson, Tarif lokal Volume
penjarangan.
5. Alat-alat inventarisasi hutan (kompas, tali, pengukur tinggi, tally sheet dan lain-
lain).

D. PELAKSANAAN
1. Pilihlah salah satu petak yang termasuk direncanakan untuk dijarangi tahun ini.
2. Buatlah satu petak ukur penjarangan, yang ditentukan lokasinya berdasar okuler
mewakili blok penjarangan seluas 4 Ha.
3. Lakukanlah analisis pada catatan petak ukur penjarangan, berupa jumlah pohon
yang harus ditebang/dijarangi bila digunakan salah satu nomor penjarangan.
4. Lakukan tunjuk tolet pohon-pohon yang akan ditebang/dijaringi pada seluruh blok
yang diwakili oleh petak ukur penjarangan.
5. Hitunglah taksiran hasil penjarangan dalam blok dan anak petak/petak yang akan
dijarang.Berikan catatan tentang asumsi yang saudara gunakan dalam menetapkan
besarnya angka koreksi tebangan penjarangan.
6. Taksir secara kasar biaya pelaksanaan penjarangan pada blok/anak petak yang
dijarangi.
7. Lakukan analisis terhadap data dan hasil perhitungan saudara.

40
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA IX
INVENTARISASI SUMBER DAYA HUTAN

A. POKOK BAHASAN
Inventarisasi hutan jati (khususnya di Jawa) mengacu pada SK Dirjen Kehutanan
No.l43/Kpts/Dj/I/74 tanggal 10 Oktober 1974 tentang Peraturan Inventarisasi Hutan Jati.
Pelaksanaan di lapangan dilakukan dengan cara Description of Unit Area atau lebih
umum dikenai dengan istilah Perisalahan Hutan. Deskripsi atau perisalahan dilakukan
terhadap tegakan, tanah, lapangan, dan tumbuhan di bawah. Data hasil deskripsi dapat
digunakan untuk menentukan kelas hutan masing-masing unit petak/anak petak dan
akhirnya dapat dihitung potensi produksi kawasan hutan yang diinventarisasi.
Khusus untuk deskripsi tegakan, dapat dicari jumlah pohon per hektar (dkn), rata-
rata kuadrat diameter (dkd2), kepadatan bidang dasar per hektar (kbd) dan akhirnya dapat
ditentukan volume kayu per hektarnya (m3/ha). Selain itu juga nantinya akan ditentukan
kelas hutan untuk petak yang dirisalah. Kelas hutan adalah kelompok ukuran-ukuran
keadaan hutan yang berbeda satu dari yang lain yang dijadikan satu di dalam ikatan wadah
berbatas (petak atau anak petak ), kewajaran statistik, dan tindakan terhadapnya. Ukuran-
ukuran keadaan hutan tersebut dapat berupa kesesuaian tanah, jenis, umur, pertumbuhan,
kerapatan, dan riap tegakan. Dalam wadah berbatas berupa petak atau anak petak tersebut
kemungkinan akan didapati bagian-bagian dengan kesesuaian tanah untuk jenis tanaman
tertentu yang berbeda-beda. Jika perbedaan-perbedaan tersebut terletak di dalam kewajaran
statistik dan mengelompok, maka bagian ini akan diangkat sebagai suatu kelas kesesuaian
tanah untuk jenis tanaman tertentu.
Salah satu manfaat dari penentuan kelas hutan ini adalah agar dapat ditetapkan
tindakan silvikultur yang tepat untuk suatu petak atau anak petak tertentu. Sehingga dalam
satu petak atau anak petak hanya ada satu macam kegiatan pengusahaan yang dilakukan
padanya. Dalam pengusahaan hutan jati dikenal berbagai macam kelas hutan, namun yang
paling berpengaruh pada kegiatan perencanaan dan pengaturan hasil hanya dua macam
kelas hutan, yaitu kelas hutan produktif yang terdiri dari kelas hutan kelas umur, masak
tebang, dan miskin riap, dan kelas hutan tak produktif yang terdiri dari kelas hutan tanah
kosong, hutan kayu lain, hutan jati bertumbuhan kurang, dan lapangan tebang habis jangka
lampau.

41
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Untuk menaksir potensi/volume kayu per hektar pada tegakan jati dapat dilakukan
dengan menggunakan sampel berupa petak ukur (PU) konvensional sesuai dengan SK
Dirjen No. 143/1974. Sesuai dengan peraturan di dalam instruksi tersebut, luas petak ukur
yang diterapkan bervariasi tergantung kelas umur tegakannya. Jarak antar petak ukur
ditetapkan 200 x 200 meter, sehingga intensitas samplingnya juga bervariasi antara 0,5-2,5
persen.
Pada praktek kali ini akan dicoba penaksiran potensi kayu pada kawasan hutan jati
dengan berbagai variasi petak ukur sehingga dapat dipahami problematika dan cara
penggunaannya di lapangan. Agar diperoleh hasil inventore hutan yang baik dan sampel
yang diambil dapat mewakili kondisi populasi yang sebenarnya, maka diperlukan
perencanaan mengenai teknik pengambilan sampelnya yang dikenal dengan istilah teknik
sampling. Di dalam teknik sampling ada beberapa hal yang perlu diperhati kan antara lain :
a. Metode pengambilan sampel
b. Intensitas sample (IS)
c. Bentuk sampel
d. Ukuran sampel.
Output dari kegiatan inventarisasi hutan ini adalah register risalah hutan (PK 2)
yang didalamnya terkandung informasi pokok sebagai berikut :
a. nilai derajat kesempurnaan dari petak tersebut
b. kelas hutan petak yang bersangkutan
c. volume/ha dari petak tersebut
d. keterangan mengenai risalah tanah, lapangan, dan tumbuhan bawah
e. rekomendasi mengenai tindakan pengelolaan selanjutnya untuk
petak tersebut
Register risalah hutan ini nantinya akan menjadi bahan utama untuk kegiatan perencanaan
dan pengaturan hasil berikutnya, termasuk juga merencanakan kegiatan pemeliharaan
berupa penjarangan.

B. TUJUAN
Melatih pelaksanaan teknik perisalahan hutan dengan menggunakan metode konvensional
(Instruksi 1974) untuk menetapkan kelas hutan (PK-2) dan volume per hektar (m3/ha Vst).

42
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

C. ALAT DAN BAHAN


1. Peta kerja areal BKPH Ngandong dan Getas skala 1:10.000.
2. Kertas milimeter, kalkir, gunting, penggaris, busur derajat, pensil, lem.
3. Tally sheet.
4. Kompas.
5. Pita diameter untuk mengukur keliling pohon (dbh).
6. Christen meter/clinometer untuk mengukur tinggi pohon.
7. Tali plastik dan meteran.
8. Parang untuk membuat jalur rintis.
9. Tabel penolong (WvW), kalkulator.

D. PELAKSANAAN
1. Buatlah regu kerja inventarisasi hutan dengan anggota tiap regu 8-12 orang (sesuai
kebutuhan).
2. Masing-masing regu merisalah tegakan jati pada petak terpilih dengan metode
uniform systematic distribution sampling with random start .
3. Salinlah petak /anak petak terpilih yang terdapat pada peta kerja skala 1: 10.000
tersebut dengan kertas kalkir dan ditepelkan di atas kertas milimeter.
4. Pada salinan petak/anak petak tersebut rencanakanlah PU PU, dengan ketentuan sbb:
a. Bentuk PU lingkaran dengan ukuran PU bervariasi tergantung kelas
umurnya.
- KU I II : luas PU 0,02 ha (jari jari, r = 7,98 m).
- KU III IV : luas PU 0,04 ha (jari jari , r = 11,28 m).
- KU V ke atas: luas PU 0,1 ha (jari jari, r = 17,84 m).
b. Jarak antar PU di lapangan adalah 200 m X 200 m dengan arah jalur utara
selatan.
c. PU pertama ditentukan secara random.
5. Ukurlah diameter batang setinggi data (DBH : 1,30 m dari permukaan tanah) semua
pohon yang masuk dalam PU tersebut.
6. Ukurlah tinggi pohon yang termasuk kategori pohon peninggi (Oh) di dalam PU
tersebut.

43
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

7. Catat hasil pengukuran pohon pohon sample yang terdapat di dalam PU termasuk
hasil risalah lainnya ke dalam tally sheet/ blangko blangko yang telah disediakan.
8. Lakukan analisis data yang diperoleh tersebut, sehingga diperoleh data potensi (volume
kayu : m3/ha) dan kelas hutannya sebagai dasar untuk pembuatan rencana pengelolaan
hutan selanjutnya.

44
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA X
KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN
DI KAWASAN HUTAN PRODUKSI

A. POKOK BAHASAN
Hutan merupakan modal pembangunan nasional yang memiliki manfaat nyata bagi
kehidupan bangsa Indonesia, baik manfaat ekologi, sosial budaya maupun ekonomi. Untuk
itu hutan harus dikelola, dilindungi dan dimanfaatkan secara berkesinambungan bagi
kesejahteraan masyarakat Indonesia, baik generasi sekarang maupun yang akan datang.
Hutan mempunyai peranan sebagai penyerasi dan penyeimbang lingkungan global,
sehingga keterkaitannya dengan dunia internasional menjadi sangat penting, dengan tetap
mengutamakan kepentingan nasional.
Sumberdaya hutan mempunyai peran penting dalam penyediaan bahan baku
industri, sumber pendapatan serta menciptakan lapangan dan kesempatan kerja. Hasil
hutan merupakan komoditi yang dapat diubah menjadi hasil olahan dalam upaya mendapat
nilai tambah serta membuka peluang kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Upaya
pengolahan hasil hutan tersebut tidak boleh mengakibatkan rusaknya hutan sebagai sumber
bahan baku industri. Agar selalu terjaga keseimbangan antara kemampuan penyediaan
bahan baku dengan industri pengolahannya diperlukan pengaturan, pembinaan dan
pengembangan industri pengolahan hulu hasil hutan.
Pemanfaatan hutan tidak terbatas hanya produksi kayu dan hasil hutan bukan kayu,
tetapi harus diperluas dengan pemanfaatan lainnya seperti plasma nutfah dan jasa
lingkungan, sehingga manfaat hutan lebih optimal. Dilihat dari sisi fungsi produksinya,
keberpihakan kepada rakyat banyak merupakan kunci keberhasilan pengelolaan hutan.
Oleh karena itu praktek-praktek pengelolaan hutan yang hanya berorientasi pada kayu dan
kurang memperhatikan hak dan melibatkan masyarakat, perlu diubah menjadi pengelolaan
yang berorientasi pada seluruh potensi sumberdaya kehutanan dan berbasis pada
pemberdayaan masyarakat.
Semua hutan dan kawasan hutan pada prinsipnya dapat dimanfaatkan dengan tetap
memperhatikan sifat, karakteristik, dan kerentanannya, serta tidak dibenarkan mengubah
fungsi pokoknya. Pemanfaatan hutan dan kawasan hutan harus disesuaikan dengan fungsi

45
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

pokoknya yaitu fungsi konservasi, lindung dan produksi. Untuk mejaga keberlangsungan
fungsi pokok hutan dan kondisi hutan, dilakukan juga upaya rehabilitasi serta reklamasi
hutan dan lahan, yang bertujuan selain mengembalikan kualitas hutan juga meningkatkan
pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat, sehingga peranserta masyarakat merupakan
inti keberhasilannya. Kesesuaian ketiga fungsi tersebut sangat dinamis dan yang paling
penting adalah agar dalam pemanfaatannya harus tetap sinergi. Untuk menjaga kualitas
lingkungan maka di dalam pemanfaatan hutan sejauh mungkin dihindari terjadinya
konversi dari hutan alam yang masih produktif menjadi hutan tanaman.

Struktur Hutan dan Analisis Komunitas Tumbuhan


Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau
komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi hutan, satuan vegetasi
yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi
konkret adari semua spesies tetumbuhan yang menempati suatu habitat. Oleh karena itu,
tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi
spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari.
Hasil analisis komunitas tumbuhan disajikan secara deskripsi mengenai komposisi
spesies dan struktur komunitasnya. Struktur suatu komunitas tidak hanya dipengaruhi oleh
hubungan antar spesies, tetapi juga oleh jumlah individu dari setiap spesies organisme. Hal
ini menyebabkan kelimpahan relatif suatu spesies dapat mempengaruhi fungsi suatu
komunitas, distribusi individu antar spesies dalam komunitas, bahkan dapat memberikan
pengaruh pada keseimbangan sistem dan akhirnya berpengaruh pada stabilitas komunitas.
Struktur komunitas tumbuhan memiliki sifat kualitatif dan kuantitatif. Dengan
demikian dalam deskripsi struktur komunitas tumbuhan dapat dilakukan secara kualitatif
dengan parameter kualitatif atau secara kuantitatif dengan parameter kuantitatif. Namun
persoalan yang sangat penting dalam analisis komunitas adalah bagaimana cara
mendapatkan data terutama data kuantitatif dari semua spesies tumbuhan yang menyusun
komunitas, parameter kuantitatif dan kualitatif apa saja yang diperlukan, penyajian data,
dan inerpretasi data agaar dapat mengemukakan komposisi floristik serta sifat-sifat
komunitas tumbuhan secara utuh dan menyeluruh.
Untuk kepentingan analisis komunitas tumbuhan diperlukan parameter kualitatif,
hal ini sesuai dengan sifat komunitas tumbuhan itu sendiri bahwa dia memiliki sifat

46
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

kualitatif dan sifat kuantitatif. Beberapa parameter kualitatif komunitas tumbuhan antara
lain : fisiognomi, fenologi, stratifikasi, kelimpahan, penyebaran, daya hidup, bentuk
pertumbuhan, dan periodisitas.
1. Fisiognomi
Fisiognomi adalah penampakan luar dari suatu komunitas tumbuhan yang dapat
dideskripsikan berdasarkan pada penampakan spesies tumbuhan dominan, penampakan
tinggi tumbuhan, dan warna dari tetumbuhan yang tampak oleh mata.
2. Fenologi
Fenologi adalah perwujudan spesies pada setiap fase dalam siklus hidupnya. Bentuk
dari tetumbuhan berubah-ubah sesuai dengan umurnya, sehingga spesies yang sama
dengan tingkat umur yang berbeda akan membentuk struktur komunitas yang berbeda.
Demikian juga untuk spesies yang berbeda pasti memiliki fenologi yang berbeda,
sehingga keanekaragaman spesies dalam suatu komunitas tumbuhan akan menentukan
struktur komunitas tersebut. Perbedaan keanekaragaman spesies dalam komunitas
tumbuhan menimbulkan perbedaan struktur antara komunitas yang satu dengan yang
lainnya.
3. Periodisitas
Periodisitas adalah kejadian musiman dari berbagai proses dalam kehidupan tumbuhan.
Kejadian musiman pada tumbuhan dapat ditunjukkan oleh perwujudan bentuk daun
dan ukurannya, masa pembungaan, masa bertunas, danpeluruhan buah atau biji.
4. Stratifikasi
Stratifikasi adalah distribusi tumbuhan dalam ruangan vertikal. Semua spesies
tumbuhan dalam komunitas tidak sama ukurannya serta secara vertikal tidak dapat
menempati ruang yang sama. Stratifikasi tetumbuhan di bagian atas tanah berhubungan
dengan sifat spesies tumbuhan untuk memanfaatkan radiasi matahari yang diterima dan
memanfaatkan ruangan menurut keperluan yang berbeda-beda. Dalam ekosistem hutan,
stratifikasi tersebut diciptakan oleh susunan tajuk pohon-pohon menurut arah vertikal
dan terjadi karena adanya pohon-pohon yang menduduki kelas pohon dominan,
kodominan, pohon tengahan, pohon tertekan, dan pohon bawah/mati.
5. Kelimpahan
Kelimpahan adalah parameter kualitatif yang mencerminkan distribusi relatif spesies
organisme dalam komunitas. Kelimpahan pada umumnya berhubungan dengan

47
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

kerapatan berdasarkan penaksiran kualitatif. Menurut penaksiran kualitatif, kelimpahan


dapat dikelompokkan menjadi :
a. sangat jarang
b. kadang-kadang atau jarang
c. sering atau tidak banyak
d. banyak atau berlimpah-limpah
e. sangat banyak atau sangat berlimpah
6. Penyebaran
Penyebaran adalah parameter kualitatif yang menggambarkan keberadaan spesies
organisme pada ruang secara horizontal. Penyebaran tersebut dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu random, seragam dan berkelompok.
7. Daya hidup
Daya hidup atau vitalitas adalah tingkat keberhasilan tumbuhan untuk hidup dan
tumbuh normal, serta kemampuan untuk bereproduksi. Daya hidup akan menentukan
setiap spesies organisme untuk memelihara kedudukannya dalam komunitas. Daya
hidup juga sangat membantuk meningkatkan kemampuan setiap spesies tumbuhan
dalam beradaptasi terhadap kondisi tempat tumbuhnya. Lima kategori daya hidup
tumbuhan adalah :
a. V1 : tetumbuhan yang berkecambah, tetapi segera mati.
b. V2 : tetumbuhan yang tetap hidup setelah berkecambah, tetapi tidak dapat
bereproduksi.
c. V3 : tetumbuhan sedang bereproduksi, tetapi hanya secara vegetatif saja.
d. V4 : tetumbuhan sedang bereproduksi secara seksual, tetapi sangat kurang
e. V5 : tetumbuhan sedang bereproduksi sangat baik secara seksual.
8. Bentuk pertumbuhan
Bentuk pertumbuhan adalah penggolongan tetumbuhan menurut bentuk
pertumbuhannya, habitat, atau menurut karakteristik lainnya. Bentuk pertumbuhan
yang umum dan mudah disebut misalnya pohon, semak, perdu, herba dan liana. Bentuk
pertumbuhan dikelompokkan menjadi lima, yaitu :
a. Phanerophytes, golongan tetumbuhan berkayu dan pohon yang tingginya lebih dari
30 cm.

48
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

b. Chamaephytes, tetumbuhan berkayu dan semak kecil yang tingginya kurang dari 30
cm.
c. Hemicryptophytes, tetumbuhan golongan rerumputan dan herba.
d. Cryptophytes, tetumbuhan yang sebagian besar organ pertumbuhannya berada di
bawah permukaan tanah atau air. Tipe tumbuhan tersebut meliputi hydrophytes
(memiliki tunas yang berada di bawah permukaan air, helophytes (tumbuhan rawa
dan paya dengan rhizome berada di bawah tanah), geophytes (tumbuhan daratan
dengan rhizome, akar, dan umbi berada di bawah tanah).
Untuk kepentingan deskripsi suatu komunitas tumbuhan diperlukan minimal tiga macam
parameter kuantitatif, yaitu kerapatan, frekuensi dan dominansi. Dalam penelitian ekologi
hutan pada umumnya para peneliti ingin mengetahui spesies tetumbuhan yang dominan
yang memberi ciri utama terhadap fisiognomi suatu komunitas hutan. Spesies tetumbuhan
yang dominan dalam komunitas dapat diketahui dengan mengukur dominansi tersebut.
Ukuran dominansi dapat dinyatakan dengan beberapa parameter, antara lain biomassa,
penutupan tajuk, luas basal area, indeks nilai penting, dan perbandingan nilai penting
(summed dominance ratio). Meskipun demikian, masih banyak parameter kuantitatif yang
dapat digunakan untuk mendeskripsi komunitas tumbuhan, baik dari segi struktur
komunitas maupun tingkat kesamaanya dengan komunitas lainnya. Parameter yang
dimaksud untuk kepentingan tersebut adalah indeks keanekaragaman spesies dan indeks
kesamaan komunitas.
1. Kerapatan
Kerapatan adalah jumlah individu per unit luas atau per unit volume atau dengan kata
lain, kerapatan merupakan jumlah individu organisme per satuan ruang. Kerapatan
yang diberi notasi K dalam kegiatan analisis komunitas tumbuhan.

K = jumlah individu
luas seluruh petak contoh
Dengan demikian kerapatan spesies ke-i dapat dihitung sebagai K-i dan kerapatan
relatif setiap spesies ke-i terhadap kerapatan total dapat dihitung sebagai KR-i.

K-i = jumlah individu untuk spesies ke-i


luas seluruh petak contoh

49
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

KR-i = kerapatan spesies ke-i x 100%


kerapatan seluruh spesies
2. Frekuensi
Frekuensi dipergunakan untuk menyatakan proporsi antara jumlah sampel yang berisi
suatu spesies tertentu terhadap jumlah total sampel. Frekuensi spesies tumbuhan adalah
jumlah petak contoh tempat diketemukannya suatu spesies dari sejumlah petak contoh
yang dibuat. Frekuensi merupakan besarnya intensitas diketemukannya suatu spesies
organisme dalam pengamatan keberadaan organisme pada komunitas atau ekosistem.
Apabila pengamatan dilakukan pada petak-petak contoh, makin banyak petak contoh
yang di dalamnya ditemukan suatu spesies, berarti makin besar frekuensi spesies
tersebut. Sebaliknya, jika makin sedikit petak contoh yang di dalamnya ditemukan
suatu spesies, makin kecil frekuensi spesies tersebut. Dengan demikian, frekuensi dapat
menggambarkan tingkat penyebaran spesies di dalam habitat yang dipelajari, meskipun
belum dapat menggambarkan tentang pola penyebarannya. Spesies organisme yang
penyebarannya luas akan memiliki nilai frekuensi perjumpaan yang besar. Untuk
kepentingan analisis komunitas tumbuhan, frekuensi spesies (F), frekuensi spesies ke-i
(F-i) dan frekuensi relatif spesies ke-i (FR-i) dapat dihitung dengan rumus berikut :

F = jumlah petak contoh ditemukannya suatu spesies


jumlah seluruh petak contoh

F-i = jumlah petek contoh ditemukannya suatu spesies ke-i


jumlah seluruh petak contoh

FR-i = frekuensi suatu spesies ke-i x 100%


frekuensi seluruh spesies
3. Dominansi atau luas penutupan
Dominansi atau luas penutupan (coverage) adalah proporsi antara luas tempat yang
ditutupi oleh spesies tumbuhan dengan luas total habitat. Dominansi dapat dinyatakan
dengan menggunakan luas penutupan tajuk ataupun luas bidang dasar (luas basal area).
Untuk kepentingan analsisis komunitas tumbuhan, dominansi spesies (D), dominansi

50
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

spesies ke-i (D-i) dan dominansi relatif spesies ke-i (DR-i) dapat dihitung dengan
rumus berikut :
a. Jika dihitung berdasarkan luas penutupan tajuk, maka :

D = luas penutupan tajuk


luas seluruh petak contoh

D-i = total luas penutupan tajuk spesies ke-i


luas seluruh petak contoh

b. Jika berdasarkan luas basal area atau luas bidang dasar, maka :

D= luas basal area


luas seluruh petak contoh

D-i = total luas basal area spesies ke-i


luas seluruh petak contoh

DR-i = penutupan spesies ke-i x 100%


penutupan seluruh spesies

4. Indeks Nilai Penting


Indeks nilai penting (importance value index) adalah parameter kuantitatif yang dapat
dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi (tingkat penguasaan) spesies-spesies
dalam suatu komunitas tumbuhan. Spesies-spesies yang dominan (yang berkuasa)
dalam suatu komunitas tumbuhan akan memiliki indeks nilai penting yang tinggi,
sehingga spesies yang paling dominan tentu saja memiliki indeks nilai penting yang
paling besar. Indeks nilai penting merupakan jumlah dari kerapatan relatif, frekuensi
relatif, dan luas penutupan relatif. Dengan demikian indeks nilai penting (INP) dapat
dituliskan dengan rumus sebagai berikut :

INP = KR + FR + DR

51
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

5. Indeks keanekaragaman
Keanekaragaman spesies merupakan ciri tingkatan komunitas berdasarkan organisasi
biologinya. Keanekaragaman spesies dapat digunakan untuk menyatakan struktur
komunitas. Keanekaragaman spesies juga dapat digunakan untuk mengukur stabilitas
komunitas, yaitu kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya tetap stabil
meskipun ada gangguan terhadap komponen-komponennya. Keanekaragaman spesies
yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas tinggi karena
interaksi spesies yang terjadi dalam komunitas itu sangat tinggi. Suatu komunitas
dikatakan memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi jika komunitas itu disusun
oleh banyak spesies. Sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman
spesies yang rendah jika komunitas itu disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya ada
sedikit saja spesies yang dominan. Untuk memprakirakan keanekaragaman spesies ada
beberapa indeks keanekaragaman yang dapat dipilih untuk dipakai dalam analisis
komunitas, antara lain sebagai berikut :
a. Indeks Shannon atau Shannon index of general diversity (H)
H = - {(n.i/N) log (n.i/N)}
Keterangan :
H = indeks Shannon = indeks keanekaragaman Shannon
n.i = nilai penting dari tiap jenis
N = total nilai penting
b. Indeks Margalef (d)
d = (s-1)
log N
Keterangan :
d = indeks Margalef = indeks keanekaragaman Margalef
s = jumlah spesies
N = jumlah individu
c. Indeks Simpson atau Simpson of diversity (D)
s

D = I (P-i)2
i=1

52
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Keterangan :
D = indeks Simpson = indeks keanekaragaman Simpson
P-i = proporsi spesies ke-i dalam komunitas
S = jumlah spesies

6. Indeks kesamaan
Indeks kesamaan atau index of similarity (IS) kadang-kadang diperlukan untuk
mengetahui tingkat kesamaan antara beberapa tegakan, antara beberapa unit sampling,
atau antara beberapa komunitas yang dipelajari dan dibandingkan komposisi dan
struktur komunitasnya. Oleh karena itu, besar kecilnya indeks kesamaan tersebut,
menggambarkan tingkat kesamaan komposisi spesies dan struktur dari dua komunitas,
atau tegakan, atau unit sampling yang dibandingkan. Untuk mengetahui besarnya
indeks kesamaan dapat dipergunakan rumus sebagai berikut :

IS = 2 C
A+B
Keterangan :
IS = indeks kesamaan
C = jumlah spesies yang sama dan terdapat pada kedua komunitas
A = jumlah spesies di dalam komunitas A
B = jumlah spesies di dalam komunitas B

Indeks kesamaan juga dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

IS = 2 W
a+b

Keterangan :
IS = indeks kesamaan
W = jumlah dari nilai penting yang lebih kecil atau sama dari dua spesies berpasangan,
yang ditemukan pada dua komunitas

53
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

a = total nilai penting dari komunitas A, atau tegakan A, atau unit sampling A
b = total nilai penting dari komunits B, atau tegakan B, atau unit sampling B

Kawasan Lindung
Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya
buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan
berkelanjutan. Kawasan lindung memiliki arti penting bagi kehidupan dan pembangunan
berkelanjutan sehingga memerlukan pengaturan bagi pengetahuan dan perlindungannya.
Fungsi kawasan lindung dan pedoman pengelolaan kawasan lindung diatur dalam
kebijaksanaan pola tata ruang yang dituangkan dalam Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Pengelolaan Kawasan Lindung adalah upaya penetapan, pelestarian dan pengendalian
pemanfaatan kawasan lindung. Pengelolaan kawasan lindung bertujuan untuk mencegah
timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup yang meliputi tanah, air, iklim, tumbuhan
dan satwa serta nilai sejarah dan budaya bangsa.
Kawasan lindung menurut Kepres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung, meliputi :
1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya
Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya terdiri atas :
a. Kawasan Hutan Lindung
Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang
mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahannya
sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan
tanah.
b. Kawasan Bergambut
Kawasan bergambut adalah kawasan yang unusr pembentuk tanahnya sebagian
besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang lama.
c. Kawasan Resapan Air
Kawan Resapan air adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggio utnuk
merersapkan air hujabn sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer)
yang berguna sebagai sumber air.

54
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

2. Kawasan Perlindungan Setempat


Kawasan perlindungan setempat terdiri atas :
a. Sempadan Pantai
Sempadan Pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai.
b. Sempadan Sungai
Sempandan Sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai
buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
c. Kawasan Sekitar Danau/Waduk
Kawasan Sekitar Danau/Waduk adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk
yang mmepunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi
danau/waduk.
d. Kawasan Sekitar Mata Air
Kawasan Sekitar Mata Air adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air.
3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya
Kawasan suaka alam dan cagar budaya terdiri atas :
a. Kawasan Suaka Alam
Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di darat
maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.
b. Kawasan Suaka Alam laut dan Perairan lainnya
Kawasan Suaka alam Laut dan Perairan liannya adalah daerah yang mewakili
ekosistem khas di lautan maupun perairan lainnya, yang merupakan habitat-alami
yang memberikan tempat maupun perlindungan bagi perkembangan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang ada.
c. Kawasan pantai Berhutan Bakau
Kawasan pantai Berhutan Bakau adalah kawasan pesisir laut yang merupakan
habitat alami hutan bakau bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan
kepada perikehidupan pantai dan lautan.
d. Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam

55
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem
zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan,
pendidikan, pariwisata dan rekreasi.
Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian yang terutama dimanfaatkan untuk
tujuan koleksi tumbuhan da/atau satwa alami atau buatan, jenis asli dan/atau bukan
asli, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, budaya, pariwisata
dan rekreasi.
Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam di darat maupun di laut yang
terutama dimanfaatkan pariwisata dan rekreasi alam.
e. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan
Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah kawasan yang merupakan
lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan
geologi alami yang khas.
4. Kawasan Rawan Bencana Alam
Kawasan Rawan Bencana Alam adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi
mengalami bencana alam.
Menurut Kepres No. 32 Tahun 1990 disebutkan bahwa pengelolaan kawasan lindung
dilakukan pada :
1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya.
Perlindungan terhadap kawasan hutan lindung dilakukan untuk mencegah terjadinya
erosi, bencana banjir, sedimentasi, dan menjaga fungsi hidrologis tanah untuk
menjamin ketersediaan unsur hara tanah, air tanah, dan air permukaan. Kriteria
kawasan hutan lindung adalah :
a. Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah hujan yang
melebihi nilai skor 175, dan/atau
b. Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40 % atau lebih, dan/atau
c. Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 2.000 meter
atau lebih.
Perlindungan terhadap kawasan bergambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi
wilayah, yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir, serta wilayah, yang
berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir, serta melindungi ekosistem yang
khas di kawasan yang bersangkutan. Kriteria kawasan bergambut adalah tanah

56
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai
dan rawa.
Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang
cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediann
kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan
bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Kriteria kawasan resapan air adalah
curah hujan yang tinggi struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk
geomofologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran.
2. Kawasan Perlindungan Setempat
Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai
dari kegiatan yang menganggu keseltarian fungsi pantai. Kriteria sempadan pantai
adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi
fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Perlindungan
terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia
yang dapat menganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar
sungai serta mengamankan aliran sungai. Kriteria sempadan sungai adalah :
a. Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri
kanan anak sungai yang berada di luar pemukiman.
b. Untuk sungai di kawasan permukaan berupa sempadan sungai yang diperkirakan
cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 15 meter.
Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi
danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat menganggu kelestarian fungsi
danau/waduk. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah daratan sepanjang
tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
danau/waduk antara 50 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi mata air
dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan
sekitarnya. Kriteria kawasan sekitar mata air adalah sekurang-kurangnya dengan jari-
jari 200 meter di sekitar mata air.
3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya
Perlindungan terhadap kawasan suaka alam dilakukan untuk melindungi
kenanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejalan dan keunikan alam bagi kepentingan

57
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada umumnya. Kawasan suaka
alam terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa, hutan wisata, daerah perlindungan
plasma nutfah dan daerah pengungsian satwa. Kriteria cagar alam adalah :
a. Kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa
dan tipe ekosistemnya;
b. Mewakili formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusunan;
c. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak
atau belum diganggu manusia;
d. Mempunyai luas dan bentuk, tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif
dengan daerah penyangga yang cukup luas.
e. Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satu-satunya contoh di suatu daerah
serta keberadaannya memerlukan upaya konservasi;
Kriteria suaka margasatwa adalah :
a. Kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari suatu
jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya:
b. Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;
c. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu;
d. Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis saitwa yang bersangkutan.
Kriteria hutan wisata adalah :
a. Kawasan yang ditunjuk memiliki keadaan yang menarik dan indah baik secara
alamiah maupun buatan manusia;
b. Memenuhi kebutuhan manusia akan rekreasi dan olah raga serta terletak dekat
pusat-pusat pemukiman penduduk;
c. Mengandung satwa buru yang dapat dikembang-biakkan sehingga memungkinkan
perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi, olah raga dan
kelestarian satwa;
d. Mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan.
Kriteria daerah perlindungan plasma nutfah adalah :
a. Areal yang ditunjuk memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di
dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan:
b. Merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan
baru bagi satwa tersebut;

58
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

c. Mempunyai luas cukup dan lapangannya tidak membahayakan.


Kriteria daerah pengungsian satwa adalah:
a. Areal yang ditunjuk merupakan wilayah kehidupan satwa yang sejak semula
menghuni areal tersebut.
b. Mempunyai luas tertentu yang memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan
kehidupan serta berkembangbiaknya satwa tersebut.
Perlindungan terhadap kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya dilakukan untuk
melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dabn keunikan alam bagi
kepentingan plasma nutfah, keperluan pariwisata dan ilmu pengetahuan. Kriteria
kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya adalah kawasan berupa perairan laut,
perairan darat, wilayah pesisir, muara sungai, gugusan karang dan atol yang
mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem. Perlindungan
terhadap kawasan pantai berhutan bakau dilakukan untuk melestarian hutan bakau
sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembangnya berbagai biota
laut disamping sebagai pelindung pantai dan pengikisan air laut serta pelindung usaha
bididaya di belakangnya. Kriteria kawasan pantai berhutan bakau adalah minimal 130
kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis
air surut terendah ke arah darat. Perlindungan terhadap taman nasional, taman hutaqn
raya dan taman wisata alam dilakukan untuk pengembangan pendidikan, rekreasi dan
pariwisata, serta peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari
pencemaran. Kriteria taman nasional, taman hutan raya dan taman nasional dan wisata
alam adalah kawasan berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan
satwa yang beragam, memiliki arsitektur benteng alam yang baik dan memiliki akses
yang baik untuk keperluan pariwisata. Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya
dan ilmu pengetahuan dilakukan untuk melindungi kekayaan budaya bangsa
peninggalan-peninggalan sejarah, bangunan arkeologi dan monumen nasional, dan
keragaman bentukan geologi, yang berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan
dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia.
Kriteria kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan adalah tempat serta ruang
disekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan
bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu
pengetahuan.

59
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

4. Kawasan Rawan Bencana Alam


Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana alam dilakukan untuk melindungi
manusia dan kegiatannya dari bencana disebabkan oleh alam maupun secara tidak
langsung oleh perbuatan manusia. Kriteria kawasan rawan bencana alam adalah
kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam
seperti letusan gunung, gempa bumi, dan tanah longsor.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat memahami struktur habitat dan keanekaragaman jenis vegetasi
di kawasan hutan produksi,
2. Mahasiswa dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi tanah dan
air di kawasan hutan produksi, dan
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi, memahami, menjelaskan, dan merumuskan
pemecahan masalah dalam kegiatan konservasi sumberdaya hutan di kawasan
hutan produksi.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Roll meter
2. Pita meter
3. Tali plastik
4. Kompas
5. Cristen hypsometer atau hagameter
6. Abney level atau Clinometer
7. Tally sheet

D. PELAKSANAAN
1. Pembuatan diagram profil
a. Buatlah petak berukuran 7,5 m x 60 m, arah memanjang tegak lurus arah
sungai secara keseluruhan (titik awal atau titik nol adalah tepi sungai).
b. Untuk medan yang tidak datar, jarak 60 m adalah jarak datarnya.
c. Catat semua pohon (nama daerah dan atau nama ilmiah, tinggi total, tebal
tajuk, lebar tajuk) dan sapihan (nama dan tinggi)

60
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

d. Gambar posisi pohon dan sapihan di dalam petak, proyeksi horizontal dan
proyeksi vertikalnya.
2. Analisis vegetasi
a. Pembuatan petak ukur dilakukan dengan metode garis berpetak.
b. Buatlah jalur pengamatan vegetasi sejajar arah sungai di dalam kawasan
sempadan sungai (jarak dari tepi sungai + 50 m).
c. Pada jalur tersebut buatlah 5 buah petak ganda dengan jarak antar petak 50 m.
d. Setiap petak ganda terdiri dari petak berukuran 20 m x 20 m untuk
pengamatan pohon, 10 m x 10 m untuk pengamatan fase tiang (poles), 5 m x
5 m untuk pengamatan fase pancang (sapling) dan 2 m x 2 m untuk
pengamatan fase semai (seedling) serta tumbuhan bawah.
e. Hasil pengamatan dicatat dalam tabel hasil pengamatan komunitas tumbuhan
untuk fase pohon, fase tiang atau poles, fase sapihan atau sapling serta fase
seedling atau semai dan tumbuhan bawah.
f. Deskripsi suatu komunitas tumbuhan menggunakan parameter kuantitatif
berupa kerapatan, frekuensi dan dominansi.
g. Carilah nilai kerapatan, frekuensi, dominansi dan Indeks Nilai Penting pada
tingkat pohon, tiang, sapihan serta semai dan tumbuhan bawah.
h. Untuk mengetahui tingkat dominansi (tingkat penguasaan) spesies-spesies
dalam suatu komunitas tumbuhan digunakan parameter indeks nilai penting
(INP).
i. Untuk mengukur stabilitas komunitas digunakan parameter indeks
keanekaragaman.
3. Perencanaan Kawasan Perlindungan Setempat
a. Pengamatan kondisi tanah dilakukan dengan cara mengambil data
karakteristik tanah meliputi tebal horizon tanah, tekstur tanah, persentase
tanah terbuka, tebal lapisan seresah dan panjang lereng.
b. Pengukuran ketebalan horizon atau lapisan tanah dilakukan dengan cara
membuat profil tanah berbentuk lingkaran berdiameter 30 cm dengan
kedalaman maksimal 50 cm. Pengukuran yang dilakukan meliputi tebal
lapisan seresah, lapisan organik (lapisan O), lapisan A dan lapisan B pada ke-

61
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

empat sisi profil tanah (utara, timur, selatan dan barat), kemudian hasilnya
dirata-rata. Tekstur tanah juga diidentifikasi dan dicatat.
c. Pengukuran persentase tanah terbuka, tebal lapisan seresah, panjang lereng
dan bentuk-bentuk erosi dilakukan pada kawasan sempadan sungai yang
diamati (+ 50 meter di sebelah kanan atau kiri sungai).
d. Pengamatan kondisi air permukaan dan air tanah dilakukan pada parameter:
1) Kedalaman air tanah
Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur kedalaman air tanah di
sumur (jarak antara permukaan tanah dengan permukaan air sumur).
Pengukuran dilakukan dengan perulangan sebanyak 5 (lima) kali dan
dihitung rata-ratanya (dalam satuan m).
2) Debit air
Pengukuran debit air dilakukan di sungai dengan perulangan sebanyak 5
(lima) kali dan dihitung rata-ratanya (dalam satuan m3/detik).
Pengukuran dapat dilakukan dengan cara yang sederhana yaitu dengan
menggunakan metode apung .
3) Debit minimum
Pengukuran dilakukan dengan cara yang sama dengan pengukuran debit
air di atas, tetapi dilakukan pada saat musim kemarau.
4) Debit maksimum
Pengukuran dilakukan dengan cara yang sama dengan pengukuran debit
air di atas, tetapi dilakukan pada saat musim penghujan.
5) Keberadaan air
Pengamatan keberadaan air dilakukan pada air permukaan (sungai) dan
air tanah (sumur) secara kualitatif. Kolom keterangan pada tabel bisa
diisi dengan : banyak, sedikit, jernih, keruh dll.
e. Setelah mengetahui kondisi tanah dan air, buatlah rancangan pengelolaan
Kawasan Perlindungan Setempat pada sempadan sungai yang diamati dengan
mempertimbangkan juga hasil pengamatan pada kegiatan analisis vegetasi
dan pengamatan struktur hutan.

62
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA XI
TAKSIRAN POTENSI PRODUKSI DAN RENCANA SELAMA
JANGKA

A. POKOK BAHASAN
Kegiatan pengaturan hasil hutan memerlukan tiga tahap kegiatan, yaitu perhitungan
etat, pemisahan antara hasil tebangan akhir dan penjarangan, dan penyusunan rencana
tebangan. Metode pengaturan hasil yang digunakan untuk mengelola hutan jati di Jawa
sekarang ini adalah metode umur tebang rata-rata, sebagaimana tercantum dalam
Instruksi 74. Ciri utama metode ini adalah bahwa penaksiran potensi produksi dilakukan
pada umur tebang rata-rata, bukan pada akhir daur. Umur tebang rata-rata besarnya sama
dengan umur rata-rata kelas perusahaan ditambah dengan setengah daur. Cara perhitungan
ini didasarkan pada anggapan bahwa rata-rata dari kelas hutan yang ada akan mencapai
umur tebang setelah jangka waktu setengah daur.
Besarnya potensi produksi dan keadaan struktur tegakan dalam suatu unit kawasan
hutan dapat ditaksir/diketahui dari hasil inventarisasi hutan.Inventarisasi hutan di Jawa,
dilakukan dengan cara Description of Unit Area (Perisalahan Hutan Jati No. 143/74,
sebagai ganti dari Instruksi Risalah Hutan Jati 1938).
Untuk keperluan penaksiran potensi produksi dan penentuan etat tahunan, hanya
kelas hutan produktif saja yang digunakan, sedangkan kelas hutan tak produktif biasanya
digunakan sebagai kontrol luas tanaman setiap tahunnya. Ada dua parameter yang
digunakan untuk menentukan penggolongan kelas hutan produktif, yaitu kepadatan bidang
dasar (KBD) dan umur. Data kelas hutan masing-masing petak/anak petak selanjutnya
dioleh hingga dapat dihitung potensi produksi seluruh areal unit kawasan hutan dan dapat
pula diketahui struktur tegakan pada masing-masing unit kelestarian (dalam hal ini RPH
maupun BH).
Pada saat pengelolaan hutan di Jawa di bawah kendali pemerintahan Hindia Belanda
kondisi hutan tanaman di Jawa masih relatif normal dimana kelas-kelas hutan umur tua
masih mendominasi. Sesuai dengan Instruksi Pengaturan Hasil Hutan tahun 1938,
penaksiran volume untuk menghitung etat dilakukan pada Umur Akhir Daur. Akan tetapi
setelah masa penjajahan Jepang dan era kemerdekaan, potensi hutan tanaman di Jawa
merosot dimana kelas-kelas hutan umur muda semakin mendominasi sehingga kurang
memungkinkan untuk dilakukan tebangan pada akhir daur. Menyikapi kondisi penurunan

63
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

potensi hutan tersebut, lahirlah konsep perhitungan etat dengan pendekatan Umur Tebang
Rata-Rata (UTR) sebagaimana tercantum dalam SK 143/Kpts/ Dj/1974. Besaran nilai
Umur Tebang Rata-Rata suatu tegakan diperoleh dari umur rata-rata kelas perusahaan
ditambah dengan setengah daur.

UTR = Umur Rata-rata Kelas Perusahaan + Daur

(Umur x Luas)
UTR = + Daur
Luas

Nilai UTR ini sangat dipengaruhi struktur kelas hutan suatu tegakan, dimana apabila
tegakan didominasi oleh kelas umur muda maka UTR nya akan lebih rendah dibanding
dengan tegakan yang didominasi oleh kelas umur tua. Untuk mengantisipasi nilai UTR
yang terus menurun seiring dengan merosotnya potensi tegakan hutannya, ada konsep
Umur Tebang Minimum (UTM) sebagai faktor pembatas umur tegakan paling rendah yang
boleh ditebang pada suatu jangka tertentu.
Mengingat penaksiran potensi produksi ini ditaksir pada umur UTR dalam bentuk
kayu perkakas kasar (kpk) sedangkan penaksiran volume dengan Tabel normal tegakan Jati
menggunakan parameter tegakan dalam kondisi berdiri, maka diperlukan nilai Faktor
Koreksi (FK) sebagai angka perbandingan antara volume taksiran dengan menggunakan
suatu tabel/tarif tertentu dengan volume hasil realisasi tebangan.
Etat didefinisikan sebagai suatu angka yang menggambarkan besarnya tebangan
yang boleh dilakukan selama jangka waktu tertentu. Besarnya etat tersebut harus dihitung
sedemikian rupa sehingga asas kelestarian hasil dan kelestarian perusahaan dapat terwujud.
Perhitungan etat dilakukan pada satu unit kelestarian yaitu bagian hutan.
Dalam pengusahaan hutan dikenal dua macam etat, yaitu etat luas dan etat volume.
Etat luas adalah angka yang menggambarkan luas hutan yang boleh ditebang selama
jangka waktu tertentu sehingga kelestarian dapat terwujud. Sedang etat volume adalah
angka yang menggambarkan besarnya volume kayu yang boleh diambil dari hutan selama
jangka waktu tertentu sehingga asas kelestarian tidak terganggu. Kedua macam etat
tersebut dipakai dalam kegiatan perencanaan dan pengaturan hasil pada pengusahaan hutan
jati di Jawa. Perhitungan etat volume dan etat luas hanya diturunkan dari kelas hutan

64
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

produktif saja, etat volume berfungsi untuk kontrol kelestarian hasil, sedang etat luas lebih
berfungsi untuk kontrol luas tanaman tiap tahunnya.
Kemudiann dengan menganalisis keadaan struktur tegakan per RPH dan Bagian
Hutan, dapat disimpulkan ada tidaknya rencana tebangan per RPH. Data struktur tegakan
per RPH, kelak akan membantu dalam mendistribusi tebangan pada saat menyusun
Rencana Tebangan menurut Waktu dan Tempat.

B. TUJUAN
1. Melatih mahasiswa untuk dapat menghitung taksiran produksi dalam suatu unit
unit kelestarian hutan (Bagian Hutan).
2. Melatih mahasiswa dapat menghitung besarnya etat tebangan tahunan (Etat Luas
dan Etat Volume) dalam unit-unit kelestarian (Bagian Hutan).
3. Melatih mahasiswa untuk dapat menganalisis struktur hutan tingkat RPH dan BH.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Buku Register Risalah Hutan hasil inventarisasi terakhir pada Bagian Hutan tempat
praktek.
2. Blangko perhitungan mulai dari PK- 3 sampai taksiran potensi produksi.
3. Peta perusahaan skala 1:10.000 pada Bagian Hutan tempat praktek.
4. Hasil perhitungan fk untuk Tabel tegkan jati pada Bagian Hutan tempat praktek.

D. PELAKSANAAN
a. Berdasarkan data hasil inventarisasi (risalah) hutan yang terakhir, lakukanlah
pengolahan data untuk mengetahui struktur tegakan pada tingkat RPH dan BH.
b. Selanjutnya hitunglah rata-rata umur, bonita dan KBD masing-masing kelas hutan
dalam tingkat Bagian Hutan
c. Menghitung UTR, dan potensi produksi kawasan hutan dimana volume tegakan
dinyatakan dalam bentuk kayu tebangan (kayu rebah) dalam bentuk kayu perkakas
kasar (kpk), pada UTR yang sama untuk seluruh kelas hutan.
d. Menghitung etat tebangan tahunan (Etat Luas dan Etat Volume).

65
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

PENYUSUNAN RENCANA-RENCANA SELAMA JANGKA

A. POKOK BAHASAN
Dari Bagan Tebang Habis Selama Daur (BTHSD) dapat diketahui etat tebangan dan
macam kelas hutan yang memenuhi syarat untuk ditebang pada jangka I. Berdasar data
BTHSD tersebut, maka proses berikutnya dalam penyusunan buku RPKH adalah
pembuatan Rencana Selama Jangka RPKH yang terdiri dari Ikhtisar Rencana Tebangan
menurut Waktu dan Tempat (PK-10), Rencana Teresan (PK-11), Rencana Pemeliharaan
dan Penjarangan (PK-17), dan Rencana Tanaman (PK-20). Rencana-rencana tersebut
menunjukkan secara detail WAKTU dan TEMPAT kegiatan teknik kehutanan (tebangan,
teresan, tanaman & pemeliharaan) dilakukan.
Apabila dilihat berdasarkan fungsi dan kedudukannya, inti penyusunan rencana
selama jangka terletak pada kegiatan penyusunan Ikhtisar Rencana Tebangan menurut
Waktu dan Tempat (PK-10). Hal ini terkait dengan isi PK-10 yang akan menjadi acuan
dasar dalam penyusunan Rencana Teresan (PK-11) dan Rencana Tanaman (PK-20). Untuk
penyusunan Rencana Pemeliharaan dan Penjarangan (PK-17) tidak secara langsung
bersumber dari PK-10, tetapi bersumber dari data umur dan kondisi tegakan tiap-tiap
petak/anak petak yang diperoleh dari Register Risalah Hutan (PK-2), Daftar Kelas Hutan
(PK-3), dan Daftar Kelas Dasawarsa (PK-5 dan PK-6). Data-data tersebut akan digunakan
sebagai dasar untuk merancang sistem dan model tindakan penjarangan untuk suatu
petak/anak petak yang dipengaruhi umur, dan kondisi tegakan (nilai dkn, dkd2, KBD dll).
Rencana pemeliharaan memuat kegiatan-kegiatan pemeliharaan yang akan
dilaksanakan selama jangka, misalnya penjarangan. Dalam pembuatan rencana
penjarangan harus diketahui dulu kemampuan perusahaan untuk melaksanakan
penjarangan pada jangka berjalan, dan juga norma kegiatan penjarangan yang akan
diterapkan. Idealnya kegiatan ini dilaksanakan pada setiap petak yang karena kondisi
tegakannya memerlukan kegiatan penjarangan padanya.
a. Ikhtisar Rencana Tebangan Menurut Waktu & Tempat (PK-10)
Ikhtisar Rencana Tebangan menurut Waktu dan Tempat (RTWT) merupakan suatu
ikhtisar tebangan yang akan dilaksanakan tiap tahun pada jangka pertama berdasarkan etat
yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam rencana ini digambarkan secara rinci mengenai

66
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

lokasi dan waktu dilakukannya penebangan per tahun selama jangka. Mengingat
pentingnya posisi RTWT ini dalam penyusunan Rencana selama Jangka, maka penyusunan
PK-10 harus dilakukan secara cermat, hati-hati, dan mempertimbangkan banyak
faktor/kaidah sehingga RTWT yang dihasilkan dapat menjamin tercapainya asas
kelestarian hutan dan kelestarian perusahaan. Secara garis besar isi dari Ikhtisar Rencana
Tebangan menurut Waktu dan Tempat adalah sebagai berikut:
1. Luas dan volume tebangan yang akan ditebang selama jangka waktu tertentu (10
tahun, 5 tahun dan tahunan)
2. Urutan tebangan menurut jangka waktu (tahunan) dan tempat (petak)
3. Macam bentuk tebangan yang direncanakan (tebangan A, B, C, D, atau E)
a. Tebangan A : tebangan habis biasa kelas hutan produktif (MR, MT & KU)
b. Tebangan B : tebangan habis lanjutan pada kelas hutan tidak produktif (Ltjl,
Tjbk, TK, dan TKL); dan tebangan kelas hutan tak baik untuk tebang habis.
c. Tebangan C : Tebangan habis pada hutan-hutan yang dihapuskan dan tidak
akan ditanami lagi.
d. Tebangan D : tebangan pembersihan (pohon tumbang, rebah dll), dan
tebangan tak tersangka (bencana alam).
e. Tebangan E : tebangan pemeliharaan/penjarangan
4. Keterangan/data petak yang akan ditebang meliputi : nomor petak, luas petak dan
luas tebangannya, jenis tegakan, umur, bonita, KBD, kelas hutan, taksiran volume
hasil tebangan, dll.
5. Pembagian areal tiap pusat tebang (cap centra)
6. Rute jalan angkutan dari petak tebangan menuju tempat penimbunan kayu (TPK)
disertai jarak angkutnya (km).
Dalam penyusunan PK-10, pemilihan lokasi pusat-pusat tebang dan petak lokasi
tebangan lebih merupakan suatu pekerjaan yang bersifat seni, karena antara perencana satu
dengan perencana lainnya ada kemungkinan akan terdapat perbedaan sudut pandang dan
prioritas. Meskipun demikian seorang perencana hutan harus menguasai kondisi lapangan
dengan sebaik-baiknya sehingga hasil rancangannya akan mendekati kondisi ideal. Untuk
menyusun Ikhtisar Rencana Tebangan menurut Waktu dan Tempat, terdapat beberapa
kaidah umum yang perlu ditaati dan diperhatikan, antara lain:

67
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

a. Diupayakan besarnya tebangan dapat diatur merata setiap tahun, per pusat tebang
terkait dengan kontinyuitas pekerjaan tebangan dan tanaman, serta ketersediaan
tenaga pesanggem.
b. Luas tebangan disesuaikan dengan kemampuan prestasi penanaman yang berhasil
agar kelestarian sumberdaya hutan tetap terjamin.
c. Diupayakan prioritas tebangan menurut dasar nilai finansial/ekonomi ataupun
riapnya (secara garis besar dimulai dari kelas hutan Miskin Riap Alam Miskin Riap
Tanaman Masak Tebang KU Tua KU Muda).
d. Untuk kondisi tertentu dimana karena pertimbangan keamanan, dapat dilakukan
penebangan terlebih dahulu.
e. Dalam penentuan lokasi tebangan, hendaknya juga mempertimbangkan aspek sosial
ekonomi masyarakat setempat, dalam kaitannya dengan penyediaan lapangan kerja
bagi masyarakat setempat.
f. Urutan tahun tebangan memperhatikan efisiensi penggunaan jalan angkutan yang
telah ada, maupun efisiensi investasi pembuatan jalan baru.
g. Penyimpangan terhadap besarnya etat tidak diperkenankan, meskipun terjadi
lonjakan permintaan kayu.
h. Perluasan pusat tebang, dengan memasukkan anak-anak petak tidak produktif yang
baik untuk tebang habis, asal ada jaminan permudaan kembali
i. Luas total tanaman tiap tahun, hendaknya dikonsultasikan dengan Administratur
sebagai pelaksana pekerjaan tanaman, sehubungan dengan kemampuan dan
keberhasilan pembuatan tanaman.
j. Jika total luas dan volume tebangan terpaksa menyimpang dari etat jangkanya, maka
hendaknya disertakan alasan-alasannya.

b. Rencana Teresan (PK-11) dan Rencana Tanaman (PK-20)


Terkait dengan penyusunan PK-11 (Rencana Teresan), dan PK-20 (Rencana
Tanaman) yang harus diperhatikan adalah bentuk tebangan yang digunakan dalam
penyusunan PK-10. Sebagaimana diketahui bahwa bentuk tebangan yang digunakan dalam
pembuatan Rencana Tebangan Menurut Waktu dan Tempat (PK-10) akan mempengaruhi
terhadap perlu tidaknya perlakuan teresan, luas tanaman setiap tahun, dan waktu
pelaksanaan penanaman.

68
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Dalam penyusunan PK-11 (Rencana Teresan), kegiatan teresan dilakukan hanya


untuk petak-petak RTWT dengan bentuk tebangan A-2, dan kegiatan teresan dilakukan 2
tahun tebangan berjalan. Sedangkan tebangan B-1 tidak dilakukan kegiatan teresan karena
tebangan B-1 dilakukan pada kelas hutan tidak produktif dengan sistem tebang basah.
Sedangkan kaitan antara bentuk tebangan dengan penyusunan PK-20 terutama
dipengaruhi adanya perbedaan waktu penanaman antara petak bekas tebangan A-2 dengan
petak bekas tebangan B-1. Petak bekas tebangan A-2 umumnya baru ditanami pada Et+1
setelah kegiatan tebangan, sedangkan bekas tebangan B akan ditanami pada tahun yang
bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan tebangan. Oleh karena itu dalam penyusunan PK-
10 perlu direncanakan dengan seksama perimbangan antara bentuk tebangan A-2 dan B-1
sehingga tidak akan terjadi fluktuasi dan lonjakan luas tanaman dalam satu tahun yang
akan berakibat adanya resiko terjadinya kegagalan pembuatan tanaman.
Terkait dengan bentuk tebangan B-1 dengan penyusunan PK-10 dan PK-20, dibawah
ini adalah urutan prioritas pembuatan tanaman pada petak-petak bekas tebangan B-1.
Urutan pembuatan tanaman ini berdasarkan tingkat keberhasilan pembuatan tanaman,
efisiensi biaya, dan meminimalkan dampak ekologis/erosi terhadap kawasan hutan.
Berdasarkan persyaratan diatas maka prioritas pembuatan tanaman adalah sebagai berikut:
a. Lapangan tebang habis jangka lampau.
b. Tanah kosong.
c. Tanaman jati bertumbuhan kurang.
d. Tanaman kayu lain.
e. Hutan alam kayu lain.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat memahami proses penyusunan rencana selama jangka (mulai dari
PK-10, PK-11, PK-17, dan PK-20).
2. Mahasiswa dapat menyusun Ikhtisar Rencana Tebangan menurut Waktu dan Tempat
(PK-10) dengan parameter-parameter yang ada, dan dilanjutkan dengan penyusunan
PK-11 dan PK-20.
3. Mahasiswa dapat menyusun Rencana Pemeliharaan dan Penjarangan (PK-17)
berdasarkan norma dan sistem penjarangan yang diterapkan.

69
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

C. ALAT DAN BAHAN


1. Blangko Bagan Tebang Habis selama Daur, Rencana Tebangan, Rencana
Teresan, Rencana Tanaman, dan Rencana Pemeliharaan
2. Peta Bagian Hutan skala 1 : 10.000; dan data petak per RPH.
3. Kertas warna-warni
4. Register risalah hutan dan daftar kelas hutan yang telah dibuat sebelumnya.
Tabel WvW

D. PELAKSANAAN
1. Dari bahan Bagan Tebang Habis selama Daur yang tersedia, buatlah Ikhtisar Rencana
Tebangan menurut Waktu dan Tempat (PK-10) baik untuk bentuk tebangan A,
maupun tebangan B berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ada.
2. Setelah selesai menyusun PK-10, lanjutkan dengan penyusunan Rencana Teresan dan
Rencana Tanaman.
3. Dari bahan yang tersedia (PK-2, PK-3, PK-5, PK-6), susunlah Rencana Pemeliharaan
dan Penjarangan (PK-17)

70
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016
ACARA XII DAN XIII
INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DAN NON KAYU

A. POKOK BAHASAN
Bahwa mahasiswa Fakultas Kehutanan disamping mengenal praktek-praktek
kehutanan secara umum juga harus mengenal praktek-praktek didalam penerapan
Teknologi Hasil Hutan seperti : penggergajian kayu, pembuatan venir dan kayu lapis,
pembuatan jenis-jenis produk papan lain, macam-macam moulding dan joinery (panel-
panel dan papan sambungan), pembuatan kertas, aneka produk kerajinan kayu dan
pengolahan macam-macam Hasil Hutan Non Kayu (minyak kayu putih, gondorukem,
kopal, sutera alam, rotan, aneka ekstrak, lak dan sebagainya).
Perlunya mengenal praktek-praktek penerapan Teknologi Hasil Hutan ini tidak lain
agar ada keterkaitan informasi satu dengan yang lain di dalam mengenal hutan. Kalau
suatu jenis kayu dikelola dan ditanam apa yang akan dihasilkan dan jenis tersebut.
Dengan perkataan lain mengelola dan menanam berarti ada manfaatnya. Salah satu
manfaat yang mudah diketahui adalah melalui produk-produk yang diperoleh setelah
dilakukan praktek-praktek pengolahannya. Dengan demikian sebagai calon ahli kehutanan
diharapkan memperoleh dan mengenal informasi yang lengkap.

B. TUJUAN
Tujuan praktek umum Bidang Teknologi Hasil Hutan, bertujuan :
a. menerapkan teori yang diperoleh
b. mengenal praktek-praktek pengolahan hasil hutan secara nyata
c. menambah informasi dan pengetahuan yang sudah diperoleh di bangku kuliah.
(tujuan khusus sesuai dengan industri/pabrik yang dikunjungi bisa disertakan selain
tujuan tersebut di atas).

C. PELAKSANAAN
a. Sifat praktek
Praktek umum Bidang Teknologi Hasil Hutan bersifat pengenalan atau oirentasi
saja sehingga belum dimungkinkan diperoleh informasi yang memadai. Bagi
mahasiswa non Jurusan Teknologi Hasil Hutan dipandang sudah cukup, tetapi bagi

71
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Hutan dari praktek ini diharapkan memperoleh
bahan-bahan pengantar (masukan awal) dalam mempelajari suatu industri/ pabrik
pengolahan.

b. Lokasi praktek
Lokasi praktek yang dipilih terdiri atas :
1. industri/pabrik pengolahan kayu
2. industri/pabrik pengolahan Hasil Hutan Non Kayu
Lokasi masing-masing industri dianjurkan tidak terlalu jauh dari kampus lapangan
Getas.
Untuk sasaran Industri/Pabrik Pengolahan Kayu bisa dipilih :
1. PGM Randublatung, Saradan, Banjarejo atau swasta.
2. IPKJ Cepu
3. Pengolahan sengon dan pinus di Pare/Kediri, Ponorogo atau swasta.
Sedang Industri Pengolahan Hasil Hutan Non Kayu adalah :
1. Pengolahan Minyak Kayu Putih Sukun/Ponorogo
2. Pengolahan Gondorukem dan Minyak Terpentin di Sukun/Ponorogo.

c. Tugas Peserta Praktek

Dalam melaksanakan kunjungan ke beberapa industri pengolahan hasil hutan kayu


dan non kayu, peserta praktek wajib mengumpulkan informasi dan data-data sebagai
berikut :
1. Nama, alamat dan status kepemilikan serta sejarah berdirinya pabrik
2. Lay out atau tata letak pabrik
3. Struktur organisasi tenaga kerja di pabrik
4. Jenis, jumlah dan kualita bahan baku
5. Jenis, jumlah dan kualita produk yang dihasilkan
6. Langkah-langkah dalam proses produksi di pabrik
7. Cara dan tujuan pemasaran produk
8. Tata cara penanganan limbah pabrik
9. Dampak positif dan negatif keberadaan pabrik bagi masyarakat di sekitarnya
10. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pabrik

72
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA TAMBAHAN
(KONDISIONAL)
PENGUJIAN ETAT DAN BAGAN TEBANG HABIS SELAMA DAUR

A. POKOK BAHASAN
Untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berhasil dan lestari, paling tidak ada
tiga syarat utama, yaitu :
1. Adanya jaminan kepastian kawasan hutan yang tetap dan diakui oleh semua pihak.
2. Telah dirumuskannya sistem perhitungan etat yang menjamin tidak terjadinya over-
cutting untuk kemudian dapat disusun rencana tebangan secara tepat.
3. Adanya sistem permudaan yang dapat menjamin keberhasilan permudaan kembali
Oleh karena itu kaitannya dengan syarat kedua dari tiga syarat diatas, maka etat yang telah
didapatkan dari hasil perhitungan potensi produksi perlu diuji kebenaran atau
ketepatannya, artinya apakah etat tersebut benar-benar sesuai dengan potensi yang ada, dan
jika etat tersebut dicoba untuk diterapkan pada satuan kawasan hutan yang ada (bagian
hutan) apakah mampu menunjukkan adanya hasil tahunan yang sama atau hampir sama
setiap tahunnya.
Maka disinilah perlunya dilakukan pengujian etat yang dalam pengusahaan jati
dikenal dengan istilah pengujian jangka waktu penebangan (JWP). Jangka waktu
penebangan adalah lamanya waktu yang diperlikan untuk menghabiskan stok tebangan
pada satu unit kawasan hutan. Apabila tebangan tiap tahun dilakukan sebesar etat
tahunannya, maka jika etatnya sudah tepat, jangka waktu penebangan akan sama dengan
daur. Namun jika jangka waktu penebangan kumulatif yang didapatkan lebih besar dari
daur berarti etat yang ditetapkan terlalu kecil, dan sebaliknya. Pada keadaan demikian
perlu dilakukan revisi terhadap etat tersebut untuk kemudian dilakukan pengujian lagi
sampai mendapatkan etat yang tepat.
Pengujian etat tahap pertama dengan perhitungan Jangka Waktu Penebangan
(berdasarkan etat luas dan etat volume) dimulai dari kelas hutan yang paling siap ditebang
terlebih dahulu (Miskin Riap Alam Miskin Riap Tanaman - Masak Tebang KU Tua
KU Muda). Setelah tahapan-tahapan pengujian JWP selesai dilakukan akan diperoleh etat
yang teruji, dan tahapan berikutnya dalam penyusunan buku RPKH adalah mengambarkan
pelaksanaan kegiatan tebangan selama satu daur tegakan dalam bentuk pembuatan Bagan
73
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016
tebang habis selama daur (BTHSD).

74
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Bagan Tebang Habis selama Daur merupakan bagan yang menggambarkan


pelaksanaan tebangan per jangka selama daur, sehingga penerapan azaz kelestarian hasil
dapat dilihat di dalamnya. Dalam pembuatannya ada tiga alternatif yang bisa dipilih, yaitu
etat volume per jangka dibuat konstan, etat luas per jangka dibuat konstan, dan etat volume
per jangka diatur meningkat. Masing-masing cara memiliki kelemahan dan kelebihan,
antara lain jika etat volume per jangka dibuat sama, maka kemungkinan besar etat luas per
jangka akan berfluktuasi, begitu juga jika etat luas per jangka dibuat sama. Sedangkan
untuk alternatif ke tiga membutuhkan perhitungan dan pertimbangan yang lebih rumit, dan
cenderung tidak efisien, karena pada hakekatnya etat yang dipakai hanya etat pada jangka I
saja.
Manfaat pembuatan Bagan Tebang Habis Selama Daur adalah untuk: a). Mengetahui
besarnya etat tebangan jangka pertama (10 tahun) pertama (etat tahap II), b). Macam kelas
hutan yang akan ditebang pada jangka (10 tahun) pertama, dan c). Luas tanaman dari
kawasan hutan tidak produktif yang direncanakan untuk ditanam pada jangka (10 tahun)
pertama maupun total luas tanamannya. Penyusunan Bagan Tebang Habis Selama Daur
dapat diproyeksikan dengan tiga pendekatan, yaitu:
a. Pengaturan volume tebangan perjangka dibuat tetap, dengan konsekuensi luas
tebangan akan berfluktuasi
b. Pengaturan luas tebangan per jangka dibuat tetap, dengan konsekuensivolume
tebangan akan berfluktuasi.
c. Pengaturan volume tebangan per jangka dibuat meningkat, dengan konsekuensi etat
jangka pertama dibawah etat sebenarnya.
Di samping rencana tebangan per jangka, dalam BTHSD juga merencanakan luas
tanaman pembangunan dari kawasan hutan tidak produktif.. Pembuatan tanaman dari
kawasan hutan tidak produktif ini dapat dirancang diselesaikan dalam satu jangka pertama
ataupun didistribusikan pada jangka berikutnya, tergantung oleh kemampuan dan
keberhasilan pembuatan tanaman ditinjau dari aspek kemampuan tenaga mandor,
ketersediaan tenaga pesanggem, dan ketersediaan biaya penanaman.

B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat melaksanakan pengujian JWP yang bertujuan untuk menguji
apakah perkiraan etat yang ditetapkan telah betul atau perlu diperbaiki.

75
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

2. Mahasiswa dapat memperkirakan taksiran volume masing-masing kelas hutan dan


total volumenya, serta besar etat tahap pertama
3. Mahasiswa dapat memahami kepentingan pembuatan bagan tebang habis dan
menyajikan bagan tebang habisnya.
4. Mahasiswa dapat menyampaikan argumentasi dan pertimbangan yang dipakai
dalam menyusun Bagan Tebang Habis Selama Daur (baik rencana tebangan
maupun rencana tanaman), serta menganalisis kelemahan-kelemahan yang terdapat
di dalamnya.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Data hasil perhitungan taksiran potensi produksi.
2. Tabel normal tegakan jati
3. Blangko perhitungan dan pengujian Jangka Waktu Penebangan (JWP)
4. Blangko Bagan Tebang Habis Selama Daur
5. Kalkulator

D. PELAKSANAAN
1. Hitunglah UTR dari masing-masing kelas hutan yang ada:
a. Hitunglah UTRL dan UTRV
b. Bila UTRL dan UTRV tidak berbeda jauh (maksimal berbeda 0,2 tahun), maka
UTRV dan taksiran volumenya dapat digunakan (telah betul)
c. Bila UTRL dan UTRV berbeda jauh, maka volume dihitung kembali dan dicari
UTRV1
d. Bila UTRV1 (atau berikutnya) telah tidak berbeda jauh dengan UTRV
sebelumnya maka UTRV dan taksiran volumenya dapat dipakai (telah betul).
2. Bila UTR masing-masing kelas hutan telah diperoleh, hitunglah JWP komulatif.
Bila JWP komulatif sudah tidak menyimpang jauh dari daur (toleransi 2,5% dari
daur), maka UTR dan taksiran volume per kelas hutan dapat dipakai (telah betul).
3. Bila JWP komulatif masih menyimpang jauh dari Daur, maka perlu dilakukan
pengujian kembali hingga JWP komulatif tidak menyimpang jauh dari daur.

76
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

4. Pengujian kembali JWP, dengan cara merubah/merevisi etat sebelumnya:


a. Bila JWP > Daur, artinya etat sebelumnya terlalu kecil sehingga etat perlu
diperbesar.
b. Bila JWP < Daur, artinya etat sebelumnya terlalu besar sehingga etat perlu
diperkecil
c. Penambahan dan pengurangan dengan menggunakan angka JWP dan daur
sebagai pembilang atau penyebut, hingga diperoleh besarnya etat baru.
5. Prosedur pengujian diulang kembali, mulai dari poin 3.
6. Dari hasil pengujian JWP, susunlah Bagan Tebang Habis Selama Daur dengan
memilih alternatif etat tebangan dibuat tetap setiap jangka.
7. Sebagai bahan pembanding, buatlah Bagan Tebang Habis Selama daur dengan
alternatif yang lain.

77
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA XV

78
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

ACARA XIV
PENYUSUNAN RENCANA PENGATURAN KELESTARIAN HUTAN

A. POKOK BAHASAN
1. Manfaat RPKH
Tujuan pengusahaan hutan jati pada awalnya adalah untuk menghasilkan kayu jati
yang kekal (duurzaam) dan harus dapat diikhtisarkan hingga dapat mencapai laba tertinggi.
Hal ini berarti bahwa lapangan-lapangan yang digunakan untuk menghasilkan kayu jati
dalam waktu yang sesingkat mungkin dan dengan biaya yang serendah-rendahnya, harus
selalu ditanami dengan kayu jati dengan nilai tertinggi. Untuk mencapai tujuan ini wilayah
hutan juga harus dijaga dengan sungguh-sungguh dan jangan sampai dilupakan fungsi
pelindung dari hutan tersebut.
Dalam rangka mewujudkan tujuan kelestarian hutan dan kelestarian perusahaan,
Perum Perhutani menyusun sistem perencanaan, yang terbagi dalam dua bagian yaitu Sub
sistem perencanaan Sumber Daya Hutan, dan sub sistem Perencanaan Perusahaan. Sub
sistem perencanaan Sumber Daya Hutan meliputi penyusunan buku Rencana Pengaturan
Kelestarian Hutan (RPKH) dan rencana turunannya seperti Rencana Teknik Tahunan
(RTT). Sedangkan sub sistem Perencanaan Perusahaan terdiri atas Rencana Umum
Perusahaan (RUP), Rencana Lima Tahun Perusahaan (RLTP), dan Rencana Kerja &
Anggaran Perusahaan (RKAP).
RPKH berfungsi sebagai panduan arah pengelolaan hutan di masa mendatang yang
berlaku dalam suatu wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) pada suatu kelas
perusahaan dan dalam jangka waktu tertentu. Dalam sub sistem perencanaan SDH, buku
RPKH merupakan dasar utama untuk menyusun rencana-rencana lain seperti Rencana
Teknik Tahunan (RTT) agar dapat terjamin kelestarian hutan, hasil hutan, dan kemanfaatan
hutan. Umumnya buku RPKH disusun setiap awal jangka 10 tahun dan dihitung bukan
hanya untuk jangka 10 tahun, tetapi juga untuk selama daur kelas perusahaan. Kemudian
pada setiap akhir jangka 10 tahun diadakan penataan ulang dan dilakukan penyusunan
RPKH yang baru berdasarkan data inventarisasi hutan yang terbaru.
Terkait kondisi tegakan di lapangan selain RPKH jangka 10 tahun, di Perhutani
dikenal juga model RPKH Sela yang berlaku untuk jangka waktu 5 tahun. RPKH Sela
dilakukan apabila kondisi tegakan hutan di lapangan mengalami banyak perubahan,

79
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

sehingga apabila tidak dilakukan revisi etat dan penyusunan RPKH baru dikhawatirkan
dapat terjadi over cutting yang dapat membahayakan asas kelestarian hutan.
Selama ini dalam penyusunan RPKH, Perhutani menggunakan acuan SK Dirjen
Kehutanan No. 143/Kpts/Dj/1974 tentang Petunjuk Inventarisasi Hutan Jati dan Peraturan
Penyusunan Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan pada Hutan Jati. Sedangkan untuk
kelas perusahaan rimba (non jati) diterbitkan SK Direksi Perum Perhutani No.
142/Kpts/Dir/1980 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan
Kelas Perusahaan Pinus, dan SK No. 143/Kpts/Dir/1980 tentang Pedoman Inventarisasi
Kelas Perusahaan Pinus.
2. Penyusunan RPKH
a. Jangka waktu
Jangka waktu berlakunya buku RPKH disesuaikan dengan lamanya daur. Perusahaan
hutan dengan daur menengah dan panjang RPKH ditetapkan berlaku 10 tahun, sedang
untuk berdaur pendek ditetapkan berlaku 5 tahun. Apabila dana, tenaga dan peralatan
memungkinkan dilaksanakan risalah sela setiap 5 tahun berlakunya RPKH.
b. Prosedur
Buku RPKH disusun oleh Kepala Seksi Perencanaan Hutan bersama Kepala Seksi
Pengukuran/Perpetaan dan Kepala Seksi Perencanaan Prasarana Hutan, dinilai oleh
Kepala Biro Perencanaan, disetujui oleh Kepala Unit, dan disahkan oleh Direktur
Utama Perum Perhutani.
c. Susunan Buku RPKH
Buku A : Naskah RPKH
I. Pendahuluan
II. Risalah umum dan Sejarah
A. Risalah Umum (Letak, Keadaan lapangan, Daerah Aliran Sungai, Infrastruktur,
Tanah, Iklim, Sosial Ekonomi, Bagian hutan, Tegakan, dan Penentuan kelas
hutan).
B. Sejarah penataan, revisi, pengukuran dan perpetaan serta tanah perusahaan
1. Sejarah penataan dan revisi
2. Sejarah pengukuran dan perpetaan (Pengukuran, Perpetaan, Perhitungan
luas, dan Surat-surat batas).
3. Tanah perusahaan

80
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

III. Evaluasi RPKH Jangka Lampau


a. Pembinaan Hutan (Tanaman, Pemeliharaan, dan Perlindungan Hutan).
b. Produksi (Teresan, Pemanenan, Angkutan hasil hutan, Persediaan hasil hutan)
c. Pemasaran Hasil Hutan
d. Gangguan Keamanan Hutan (Pencurian dan perencekan, Kebakaran,
pengembalaan, Bibrikan, dan Sengketa tanah).
IV. Tindakan yang Akan Datang
A. Pembinaan Hutan (Tanaman, Pemeliharaan hutan, dan Serangan hama dan
penyakit).
B. Produksi (Teresan, Pemanenan hasil hutan, Angkutan hasil hutan, Persediaan
hasil hutan)
C. Pemasaran Hasil Hutan
D. Gangguan Keamanan Hutan (Pencurian dan perencekan, Kebakaran,
pengembalaan, Bibrikan, dan Sengketa tanah).
V. Rencana Kegiatan Selama Jangka
A. Rencana Teresan Jangka Berjalan
B. Rencana Tebangan (Bentuk tebangan, Faktor penentu tebangan, dan Rencana
tebangan jangka berjalan).
C. Rencana Tanaman (Rencana tanaman rutin dan Rencana tanaman
pembangunan) jangka berjalan.
D. Rencana Pemeliharaan Hutan (Pemeliharaan tahun ketiga, Pemeliharaan
lanjutan, dan Rencana Penjarangan).

ii. Buku B. DASAR DAN RENCANA


Jilid B.I. RENCANA TERESAN, TEBANGAN DAN TANAMAN
Bab 1. Bentuk Tebangan
Bab 2. Rencana Tebangan Habis Biasa
Bab 3. Rencana Teresan
Bab 4. Rencana Tebang Habis dan Ikhtisar Pelaksanaannya
Bab 5. Rencana Tebangan lain-lain dan Ikhtisar Pelaksanaannya

81
Petunjuk Praktek Pengelolaan Hutan Lestari 2016

Jilid B.II. RENCANA TANAMAN


Jilid B. III. RENCANA PEMELIHARAAN
Bab 1. Perhitungan Harapan Produksi
Bab 2. Rencana Produksi Penjarangan
iii. Buku C. STATISTIK PERUSAHAAN
B. TUJUAN
1. Mahasiswa dapat memahami kedudukan RPKH dalam proses pengusahaan hutan
serta keterkaitannya dengan rencana-rencana lainnya.
2. Mahasiswa dapat memahami prosedur penyusunan RPKH
3. Mahasiswa dapat menyusun sebuah rancangan RPKH
4. Mahasiswa dapat melakukan analisis terhadap RPKH yang telah dibuat dengan
RPKH yang ada sebelumnya.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Pedoman penyusunan RPKH
2. Data-data perusahaan
3. Data-data mengenai tegakan
4. Data-data sosial ekonomi desa-desa di sekitar hutan
5. Buku rencana-rencana selama jangka berjalan
6. Data evaluasi pembukaan wilayah hutan
7. Peta-peta perusahaan
8. RPKH jangka lampau
9. Data-data kondisi lapangan yang terbaru (keamanan hutan, batas petak, dll)
D. PELAKSANAAN
1. Dengan mengacu pada data-data pendukung yang telah dikumpulkan atau dihitung
sebelumnya, susunlah sebuah contoh RPKH yang memuat pokok-pokok berupa :
- risalah umum
- evaluasi RPKH jangka yang lalu
- tindakan yang akan datang
- rencana jangka berjalan
2. Dari RPKH yang telah anda buat, lakukanlah analisis terhadapnya.
3. Terangkan pula hubungan keterkaitan antara masing-masing rencana yang anda
buat tersebut.

82