Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Salah satu faktor yang menentukan pembangunan di bidang pendidikan akan
mencapai sasarannya adalah perencanaan yang baik. Perencanaan yang baik tentunya
mensyaratkan tersedianya dukungan data yang benar-benar mencerminkan keadaan yang
sebenarnya (akurat) dan mutakhir. Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang
merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam
kurikulum terintegrasi filsafat nilai-nilai pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum
disusun oleh para ahli pendidikan/ ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat
pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan
maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan
perkembangan peserta didik, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh peserta didik,
keluarga, dan masyarakat.
Syarat lain yang tidak kalah pentingnya adalah proses penyusunan yang benar-
benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan daerah, melibatkan stakeholder
pendidikan, dan akuntabel. Perencanaan yang baik memiliki karakteristik tersendiri, yaitu
perencanaan seharusnya sesederhana mungkin namun harus jelas kaitan antara satu kegiatan
dengan kegiatan lainnya sehingga mudah dipahami dan diimplementasikan. Perencanaan juga
harus memiliki isi yang sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat dan sesuai dengan
kapasitas daerah untuk melaksanakannya, serta terukur sehingga mudah untuk dilihat hasil
yang telah dicapai dengan pengukuran yang dapat dilakukan dengan trsedianya data yang
akurat dan mutakhir dari waktu ke waktu. Perencanaan harus benar-benar dapat dijadikan
acuan dalam pelaksanaan program dan kegiatan.
Perencanaan dan pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial
dalam proses pendidikan. Sasaran yang ingin dicapai bukan semata-mata memproduksi bahan
pelajaran melainkan lebih dititik beratkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang menyangkut banyak faktor yang perlu
dipertimbangkan, antara lain pertimbangan akan pernyataan tentang kurikulum, siapa yang
terlibat dalam pengembangan kurikulum, bagaimana prosesnya, apa tujuannya kepada siapa
kurikulum ditujukan. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengetahui pihak-pihak
yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.Dalam makalah ini kami hanya memfokuskan
pada siapa yang terlibat dalam pengembangan kurikulum.
BAB II
ISI

2.1 SEKOLAH SEBAGAI CAMPURAN YANG UNIK


1. Perbedaan antara staf pengajar
Untuk sejenak ini marilah kita lupakan sejenak membahas mengenai pengawas
mediator dan kita akan memusatkan pembahasan kita pada topik yang lainnya. Pada setiap
awal tahun ajaran biasanya seorang kepala sekolah pada tingkatan sekolah menengah selalu
mengajak pertemuan dengan dewan kurikulum. Pertemuan itu selalu dipenuhi dengan
suasana yang segar, semangat tinggi, dan tanpa beban karena merupakan pertemuan pertama
untuk ajaran baru. Pada pertemuan ini kepala sekolah akan menanyakan kepada dewan
kurikulum mengenai strategi apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan kurikulum
karena kurikulum dapat meningkat tergantung dengan orang- orang yang berkerja membahas
kurikulum, baik secara pribadi maupun kelompok.
Setiap sekolah itu selalu terdiri dari perpaduan yang unik karena di dalam sekolah
terdapat orang- orang yang mempunyai keahlian, pengetahuan, pengalaman dan kepribadian
yang berbeda-beda. Kepala sekolah berpendapat bahwa setiap guru mempunyai persepsi yang
berbeda-beda terhadap kurikulum dan,keyakinan filosofis yang berbeda. Tetapi walaupun
setiap guru dan dewan kurikulum mempunyai sifat yang berbeda-beda tetapi mereka semua
bekerja untuk satu tujuan yang sama dan menerapkan teori yang sama dalam
mengembangkan kurikulum.
Biasanya guru baru masih kurang pengetahuan mereka tentang anak anak
dibandingkan dengan guru yang telah lama mengajar disuatu sekolah. Dari fakta ini pun
dewan kurikulum mengetahui bahwa setiap guru mempunyai keterampilan yang berbeda
dalam berinteraksi dengan orang lain, keterampilan dalam memimpin , keterampilan dalam
mengikuti arahan, keterampilan dalam berorganisasi, keterampilan dalam menulis dan
keterampilan berbicara.
Beberapa anggota dewan kurikulum menujukkan diri bahwa mereka sama seperti
peran orang tua dan masyarakat. Beberapa anggota dewan mempunyai sifat pribadi seperti
ramah, handal, mempunyai rasa humor, antusiasme dan mempunyai tingkat frustasi yang
rendah. Setiap anggota dewan kurikulum harus mempunyai tingkat frustasi yang rendah
karena pekerjaannya berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan suatu perkembangan
kurikulum, jika seorang dewan kurikulum mempunyai tingkat frustasi yang tinggi maka
ketika dihadapkan pada suatu kegagalan dalam perkembangan kurikulum ia akan langsung
frustasi tetapi jika ia mempunyai tingkat frustasi yang rendah walaupun ia mengalami
kegagalan maka ia tidak mudah frustasi dan menyerah melainkan ia akan selalu semangat
untuk terus memperkembangkan kurikulum. Suatu keberhasilan dewan kurikulum dalam
merencanakan dan memperkembangkan kurikulum tergantung dari komitmen dewan
kurikulum dan alokasi waktu yang lebih banyak dihabiskan untuk memikirkan kurikulum.
Kepribadian manusia sangat banyak dan kompleks. Suatu keberhasilan atau kegagalan
perencanaan dan perkembangan kurikulum sangat tergantung dengan bagaimana anggota
dewan berhubungan antara satu dengan yang lain. Bagaimana anggota dewan berhubungan
dengan guru lainnya dalam satu sekolah dan bagainmana anggota dewan berhubungan
dengan sesama anggota dewan. Cara anggota dewan berhubungan dan berinteraksi dengan
orang tua, masyarakat dan siswa pun sangat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan
perencanaan dan perkembangan kurikulum.

2. Variabel Dependen
Perbedaan suatu individu atau suatu kelompok sangat berpartisipasi dalam
pengembangan kurikulum tergantung dari faktor yang berbeda- beda. Salah satu faktornya
yaitu keahlian atau sifat tertentu yang dimiliki setiap orang dan sejauh mana seseorang
berdampak pada orang lain. Seorang pemimpin tidak hanya harus mempunyai keterampilan
pemimpin melainkan seorang pemimpin harus bisa bekerja bersama sama dengan teman
yang ia pimpin
Keberhasilan suatu kelompok bukanlah terletak pada jumlah anggotanya karena
dengan jumlah anggota yang banyak tidak menjamin suatu keberhasilan suatu kelompok
tersebut. Begitu pula dengan kelompok dewan kurikulum, keberhasilan suatu perencanaan
dan perkembangan kurikulum bukan terletak pada jumlah anggotanya melainkan pada
kerjasama antar anggotannya. Semua anggota harus dapat saling berkerja sama, bersatu
menuju tujuan kelompok mereka bersama, dalam konteks ini tujuan dari kelompok dewan
kurikulum adalah merencanakan dan mengembangkan kurikulum yang baik. Dan yang sangat
terpenting setiap anggota harus saling menyemangati antara yang satu dengan yang lainnya.
Jika semua itu dapat diterapkan maka kelompok dewan kurikulum dapat menunjukan
keterampilannya, kompetennya dan kesuksesannya dalam perencaan dan perkembangan
kurikulum.
Kerjasama adalah salah satu kunci menyelesaikan masalah. Dalam perencanaan dan
perkembangan kurikulum pasti banyak kesalahan yang harus diperbaiki oleh karena itu jika
dilakukan bersama-sama semuanya akan mudah. Ketika kita membandingkan prestasi
sekolah dalam perbaikan kurikulum, kita akan menemukan variasi yang besar dalam
kepemimpinan. Perbedaan itu tergantung pada:
(1) orang yang mengarahkan pelaksanan kurikulum
(2) komite kurikulum atau dewan,
(3) staf pengajar,
(4) Ide untuk perbaikan kurikulum yang dapat dilakukan oleh siswa, orang tua dan lain-lain
dari masyarakat selaku pekerjaan profesional.

2.2 ORANG YANG BERPERAN DALAM KURIKULUM


Kegiatan pengembangan kurikulum mencangkup penyusunan kurikulum itu sendiri,
pelaksanaan di sekolah-sekolah yang disertai dengan penilaian yang intensif, serta
penyempurnaan-penyempurnaan yang dilakukan terhadap komponen-komponen tertentu dari
kurikulum tersebut atas dasar hasil penilaian. Faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya
perubahan kurikulum menurut diantaranya adalah karena adanya rasa ketidakpuasan
masyarakat terhadap hasil kurikulum yang sedang atau telah berjalan.
Perubahan kurikulum melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu, di dalam mengubah
kurikulum perlu dipertimbangkan faktor-faktor manusia (human factors), yaitu: guru, peserta
didik, orang tua peserta didik, staf administrasi sekolah, pemakai lulusan, serta pihak lain
yang mungkin terlibat dalam sistem pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung
antara lain : politikus, pengusaha, serta unsur unsur masyarakat lainnya yang merasa
berkepentingan dengan pendidikan (Sudrajat, 2008). Dari pihak-pihak tersebut yang secara
terus menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah: administrator
pendidikan, guru, para ahli,dan orang tua (Sukmadinata, 2004).
1. Peranan Administrator
Kepala administrasi disekolah, kepala sekolah, kepala kurikulum, pelayan kurikulum
yang aktif maupun pasif telah mendeklarasikan bahwa mereka dalah orang-orang yang
bertanggung jawab akan perkembangan kurikulum. Merekalah yang mempunyai tanggung
jawab besar akan perencanaan dan pelaksaan kurikulum di sekolah karena tanpa dukungan
dari mereka maka perencanaan dan pelaksaan kurikulum akan mengalami kegagalan. Saat ini
peran administrator sedang mengalami proses transisi, walaupun beberapa administrator telah
bersedia menerima posisi tersebut dan berusaha untuk menjadi kepala instruksional yang baik
dan beberapa orang lainnya telah mengakui mereka sebagai pemimpin.
Lebih dari 30 tahun lalu Southern States Cooperative Program di administrasi
pendidikan mendaftarkan tugas- tugas administrasi pendidikan didukung oleh W.K Kellogg
Foundation, grup ini menetapkan beberapa tugas yang harus dikritisi oleh administrator yaitu:
1. Pengajaran dan pengembangan kurikulum
2. Pemimpin bagian personalia sekolah (Tata Usaha)
3. Pimpinan komunitas sekolah
4. Staf personalia
5. Bangunan sekolah
6. Transportasi sekolah
7. Struktur dan Organisasi sekolah
8. Keuangan sekolah dan pengelolaan usaha di sekolah
Para administrator harus memperhatikan pengajaran dan pengembangan kurikulum
serta harus dapat memimpin tugas- tugas yang telah di list diatas demi tecapainnya tujuan
kurikulum dan keberhasilannya suatu kurikulum disekolah. Walaupun peran kepala sekolah
sebagai pemimpin pengajaran disekolah bersifat mengalir dan mengikuti arus tetapi ia sangat
bertugas dan bertanggung jawab untuk memberikan intruksi dan mengembangkan kurikulum
yang ada.
Persepsi orang tua
Administrator di sekolah pun sangat membutuhkan persepsi dari orang tua mengenai
perkembangan kurikulum. Drake dan Roe melaporkan sebuah studi pada tahun 1978 yang
didukung oleh Indiana Kongres. Pada kongres itu terjadi pertemuan antara guru dan orang tua
murid. Dari pertemuan itu mereka menghasilkan beberapa prioritas yang harus dilaksanakan
yaitu:
1. Lakukan perbaikan dalam teknik dan metode pengajaran
2. Pastikan bahwa kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa
3. Guru langsung memotivasi siswa untuk belajar secara optimal
4. Memberikan kesepatan pada guru untuk menjalankan program individual
5. Guru langsung mengkoordinasikan dan mengartikulasikan materi pelajaran yang
diajarkan pada setiap tingkat kelas
Glenys G. Unruh mengamati bahwa program pelatihan untuk administrator mungkin
setidaknya diprioritaskan lebih besar lagi karena kenyataannya banyak sekolah yang masih
memprioritaskan pada tahap rendah. Jika para administrator sering mendapatkan pelatihan
maka mereka akan lebih spesifik dalam mengembangkan kurikulum dan pengajaran di
sekolah
Dengan meningkatnya penekanan pada masing-masing sekolah bahwa sekolah
adalah sebagai sebagai tempat perubahan, maka masyarakat berharap agar sekolah dapat
menjadi tempat untuk meningkatkan prestasi siswa, dan penilaian kinerja guru. Asosiasi
administrator profesional menekankan bahwa pentingnya kepemimpinan instruksional.
preservice dan penataran pendidikan penataran untuk administrator sekolah yang di dalamnya
menggabungkan pelatihan dengan keterampilan teknis, pengawasan, dan pengetahuan hal itu
perlu dilakukan karena sangat dibutuhkan oleh pemimpin instruksional.
Dengan demikian kepala sekolah dapat lebih memainkan peran sentral langsung
dalam pengembangan kurikulum. Dalam kepemimpinan instruksional dalam waktu dekat
mungkin daftar tugas diatas lebih pantas dilakukan oleh kepala sekolah. Walaupun kepala
sekolah memainkan peran langsung atau tidak langsung tetapi kehadirannya selalu dirasakan
oleh semua warga sekolah. Para warga sekolah menyadari bahwa kepala sekolah dibebani
oleh semua urusan sekolah dan pengambilan keputusan di sekolah itu. Dalam hal ini, semua
kelompok dan subkelompok administrator kurikulum sekolah membutuhkan nasihat kepala
sekolah.
Theory X dan Theory Y
Douglas McGregor telah diklasifikasikan dua asumsi bahwar orang-orang dapat
diklasifikasikan ke dalam kategori teori X dan teori Y. Teori X terdiri dari:
1. Rata-rata orang tidak menyukai pekerjaan dan mencoba untuk menghindarinya
2. Kebanyakan orang harus dipaksa untuk bekerja dan diancam dengan hukuman untuk
membuat mereka bekerja
3. Rata-rata orang tidak memiliki ambisi dan menghindari tanggung jawab
4. Rata-rata orang harus diarahkan
5. Kebutuhan untuk keamanan adalah motivasi utama dari sebagian orang
Otoritas, kontrol, pemeliharaan tugas, dan orientasi produk mendominasi pemikiran
administrator teori x. Sedangkan teori Y terdiri dari:
1. Rata-rata orang menyambut kerja
2. Rata-rata orang mencari tanggung jawab
3. Kebanyakan orang akan menunjukkan kemandirian ketika mereka berbagi komitmen
untuk mewujudkan tujuan-tujuan umum
4. Rata-rata orang akan berkomitmen untuk tujuan organisasi
5. Kreativitas dalam pemecahan masalah adalah sifat yang ditemukan antara orang-orang
Sedangkan administrator khas akan lebih cenderung ke arah satu teori.
Administrator pendidikan di Indonesia terdiri dari:
Administrator Pusat : direktur dan kepala pusat
Administrator Daerah: Kepala Kantor Wilayah
Administrator Lokal: Kepala Kantor Kabupaten, Kecamatan dan Kepala Sekolah.
Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam
pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun kerangka dasar
serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menentukan
minimum course yang dituntut (Sukmadinata, 2008). Administrator tingkat pusat bekerja
sama dengan para ahli pendidikan dan ahli bidang studi di Perguruan Tinggi serta meminta
persetujuannya terutama dalam penyusunan kurikulum sekolah. Atas dasar kerangka dasar
dan program inti tersebut para administrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator
lokal (kabupaten, kecamatan dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi
daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah (Sukmadinata, 2008).
Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi sistem
pendidikan pada masing-masing sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya yang secara
terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan
dorongan dan bimbingan kepada guru-guru (Sukmadinata, 2008). Administrator lokal harus
bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan sistem pendidikan kepada masyarakat,
serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru dikelas. Peranan kepala sekolah
lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum disekolahnya. Kepala sekolah juga
mempunyai peranan penting dalam menciptakan kondisi untuk pengembangan kurikulum di
sekolahnya.

2. Peranan Siswa
Sebelum kita focus untuk membahas siapa saja yang berperan dalam proses
pengembangan kurikulum (pemimpin kurikulum dan orang yang membantu pemimin
kurikulum), marilah kita melihat peran dua kelompok yang mendukung pengembangan
kurikulum yaitu siswa dan masyarakat dewasa (orang tua dan masyarakat) dari suatu
komunitas. Dengan bertambahnya jumlah siswa dan semakin berkembangnya jaman maka
partisipasi keduanya baik secara langsung dan tidak langsung membuat terjadinya perubahan
kurikulum. Pada beberapa keadaan di level sekolah menengah (dan dibawahnya), siswa
menyetujui untuk menjadi anggota dewan kurikulum. Biasanya siswa memberitahu hasil
pengamatan tak langsung tentang pendidikan yang telah mereka lakukan di sekolah. Banyak
administrator dan guru yang menerima dan berbagi pendapat dengan siswa tersebut. Disisi
lain hal ini memudahkan administrator dan guru untuk meminta pendapat dan reaksi siswa
tentang kurikulum.
Metode survey dapat dilakukan untuk mengetahui prsepsi siswa tentang program
mereka, contohnya dapat bertanya ke setiap individu atau interview secara berkelompok.
Saran mereka sangat diperlukan dalam perbaikan kurikulum dan untuk memenuhi kebutuhan
siswa.
Pada program survey ini siswa adalah sebagai orang yang sesuai untuk memberikan
umpan balik tentang kurikulum. Saran dari siswa dapat memberikan petunjuk untuk
pengambilan keputusan kurikulum yang cerdas. Beberapa sekolah mencari informasi dan
saran dari siswa yang dipilih untuk menjadi pemimpin (OSIS), sedangkan siswa lainnya
memberi pendapat tentang program secara luas lagi. Dibeberapa sekolah yang input siswanya
tidak aktif untuk mencari dan mengumpulkan data yang dapat memebantu perencanaan dan
pengembangan kurikulum tertanya ditunjukan dengan prestasi mereka di kelas. Sehingga
siswa yang dinilai tidak aktif itu sebenarnya aktif tetapi mereka aktif dalam penerapan
kurikulu tersebut di kelas.
Ketika standar nilai suatu negara berada dibawah tingkat sekolah tertentu maka
perlunya penyesuaian yang baru tentang kurikulum. Ketika tes diagnostik mengungkapkan
adanya kekurangan dari peserta didik maka dapat disimpulkan bahwa sekolah sedang
menyampaikan program tertentu yang bertujuan untuk memajukan siswa.
John Mc Nel menunjukan bagaimana siswa diam- diam dapat membuat dampak pada
kurikulum secara informal, namun siswa memiliki banyak pengaruh atas apa yang diajarkan.
Keterlibatan siswa
Keterlibatan siswa dalam perbaikan kurikulum telah dihubungkan dengan gerakan
untu mengembangkanhak siswa. Ronald Doll mengatakan hubungna antara partisipasi siswa
dengan hak-hak siswa yaitu Perubahan telah terjadi karena peran siswa terutama pada siswa
tingkat menengah dalam perencanaan kurikulum dan beberapa pada tingkat dasar. Hak siswa
yaitu untuk memakai haknya berpartisipasi dengan orang dewasa dalam merencanakan
kurikulum. Guru dan kepala sekolah juga memberi hak untuk murid baru dalam
merencanakan kurikulum.
Siswa dapat sangat membantu dengan menunjukkan kepada para perencana
kurikulum profesional bagaimana mereka memandang program usulan baru. Mereka dapat
memberikan masukan dari sudut pandang penerima program, sebagai objek untuk siapa
program yang dirancang. Para siswa dapat menerima suatu program professional yang
merupakan hasil dari rekan-rekan mereka, dan mereka dapat mencertakan sifat dan tujuan
dari perubahan kurikulum kepada orang tua mereka dan warga masyarakat lainnya. Siswa
harus lebih unggul dalam berhubungan dengan perencana profesional mengenai bagaimana
mereka memandang pengembangan kurikulum dan bagaimana perasaan mereka tentang hal
itu.
Sejauh mana siswa dapat berpartisipasi dan kualitas partisipasi yang bergantung pada
sejumlah variabel seperti kecerdasan, motivasi, dan pengetahuan. Variabel yang paling
signifikan adalah kematangan siswa. Untuk itu siswa di tingkat SMA dan pendidikan tinggi
menemukan lebih banyak kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum
daripada siswa di SD dan SMP.
Kontribusi berharga siswa dalam pengembangan kurikulum dapat menjadi bahan
evaluasi bagi guru. Walaupun beberapa guru menentang evaluasi siswa tentang cara mengajar
mereka, seperti salah satu kepala sekolah mengatakan bahwa Siswa tidak mempunyai
wewenang untuk mengevaluasi gurunya. Evaluasi dapat dilakukan oleh siswa untuk
memodifikasi kurikulum dan merubah metode pengajaran.
Meskipun siswa masuk secara aktif ke dalam proses pengembangan kurikulum
beberapa sistem sekolah, keterlibatan mereka pada umumnya masih cenderung jarang dan
hanya sebagai tambahan.

3. Peranan Orang Tua dan Masyarakat


Orang tua dan anggota masyarakat dalam urusan sekolah telah berubah selama
bertahun- tahun. Pada awalnya komunitas hanya terdapat di sekolah. Dahulu orang tua lebih
suka mendatangkan guru kerumah sebagai sekolah formal, banyak guru yang diminta untuk
tinggal di rumah mereka dan mengajar anak anak mereka. Gereja memberikan pelajaran
pelajaran dalam pengajaran agama, dan mengajarkan pemuda untuk belajar berdagang.
Perempuan dia Amerika biasanya akan membawa anak- anak ke rumah mereka dan di bayar
dengan bayaran yang kecil.
Sekolah formal pun mulai berkembang, masyarakat pada jaman dahulu hanya
memasukan laki- laki kulit putih untuk berangkat ke sekolah. Terjadi kerenggangan antara
sekolah dan masyarakat. Antara komunitas dan sekolah harus dapat mengembangkan sikap-
sikap tertentu agar siswa terus bersemangat dalam belajar dan sekolah harus menyediakan
sarana agar siswa bisa terjun langsung ke lapangan agar dapat mengerti bagaimana cara
melakukan tindakan yang sesuai dalam dunia kerja yang nyata (praktek langsung ke
lapangan). Seharusnya tidak ada dinding pemisah antara masyarakat dan sekolah, seperti
gereja dan sekolah.
Beberapa orang tua dengan persetujuan negara dalam beberapa tahun terakhir telah
menginstruksikan anak-anak mereka untuk bersekolah di rumah. Sementara ini gerakan
sekolah di rumah telah cukup signifikan menjadi perhatian sekolah umum.
Erosi dinding antara sekolah dan masyarakat.
Meskipun beberapa administrator sekolah lebih memilih untuk berpegang teguh pada
konsep kuno mengenai hubungan antara masyarakat dan sekolah, dinding pemisah antara
sekolah dari komunitas telah hancur. Proses erosi mulai perlahan-lahan terjadi dan telah
dipercepat dalam beberapa tahun terakhir. Keterlibatan orang tua dan anggota masyarakat
lainnya dapat dengan mudah diamati dalam urusan sekolah akhir- akhir ini. Literatur tentang
pendidikan profesional diisi dengan diskusi tentang perlunya melibatkan masyarakat dalam
proses pendidikan.
Sebagian besar dari abad kedua puluh keterlibatan masyarakat untuk sekolah
sangatlah pasif. Sekolah akan mengirim buletin ke setiap rumah untuk memberitahu orang
tua tentang masalah dan kegiatan yang ada di sekolah. The Parent Association Guru (PTA)
akan bertemu dan membahas masalah pendidikan, mendengar tentang prestasi sekolah, dan
merencanakan penjualan (bazar) untuk mengumpulkan dana untuk beberapa perbaikan
sekolah. Sekolah akan melakukan "Kembali ke Sekolah Malam" dengan banyak kemeriahan,
yang membuat orang tua akan datang ke sekolah. Klub Booster akan mengumpulkan uang
untuk atlet dan band. Selama periode tersebut masyarakat jarang berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan bahkan yang bersifat penasehat. Pemikiran lama masih berlaku
bahwa urusan sekolah yang terbaik diserahkan kepada orang-orang sekolah. Peran
masyarakat adalah untuk mendukung dan memperkuat keputusan yang dibuat oleh sekolah.
Erosi dinding antara sekolah dan masyarakat terjadi ketika administrator dan guru
mulai menyadari bahwa orang tua mungkin memiliki informasi tertentu yang dapat
membantu pengambilan keputusan. Untuk menghilangkan dinding antara sekolah dan
masyarakat maka sekolah mengirimkan kuisioner ke rumah untuk orang tua agar mereka
dapat mengisi dan mengembalikannya ke sekolah. Sementara sekolah dan masyarakat dengan
hati - hati mengambil langkah-langkah sederhana untuk memperbaiki keretakan. Sosiolog
dan kemudian pendidik mulai tunduk pada masyarakat Amerika untuk studi intensif,
mengidentifikasi orang orang yang berpengaruh pada sekolah. Pendidik mulai memberikan
perhatian pada politik di dunia pendidikan karena mereka menyadari bahwa sekolah itu
menjadi bagian dari total struktur politik dan sebagai lembaga sosial lainnya. Administrator
sekolah dengan cerdik menyadari bahwa perlu adanya hubungan masyarakat yang intens
untuk mendukung pelaksanaan yang ada di sekolah.
Masalah Sosial
Empat perang besar, beberapa revolusi, sejumlah gerakan sosiologis, dan ekonomi
yang menurun mengubah kehidupan abad kedua puluh Amerika. Revolusi teknologi, revolusi
seksual, meningkatnya perceraian, perubahan struktur keluarga, gerakan menyamakan hak,
gerakan hak-hak siswa, deklarasi inkonstitusionalitas segregasi, dan terjadi inflasi yang cukup
parah. Masalah masalah tersebut sangat mempengaruhi sekolah. Kehidupan sosial di
Amerika dan masalah ekonomi membuat kekecewaan terhadap program yang ada di sekolah
dan mempengaruhi prestasi siswa Dari ketidakpuasan ini muncul konsep akuntabilitas
personil sekolah untuk keberhasilan atau kegagalan siswa mereka.
Saat ini keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sekolah sudah semakin luas,
didukung dan dihargai. Anggota masyarakat turut membantu dalam pengembangan
kurikulum mealui berbagai cara. Orang tua dan warga lainnya melayani di berbagai komite
penasihat. Sekolah sering memanggil orang tua dan warga negara lainnya untuk melayani
sebagai narasumber dan bantuan relawan. Di seluruh negeri, terutama di daerah perkotaan,
bisnis lokal telah melakukan kerjasama dengan sekolah-sekolah untuk melengkapi dan
memperkaya kurikulum sekolah dengan menyediakan suatu keahlian, bahan, dan dana.
Hal tersebut selalu menjadi dilema bagi kepala sekolah untuk memutuskan
bagaimana orang awam harus terlibat dan siapa saja orang- orang yang harus terlibat.
Beberapa kepala sekolah mencari partisipasi orang tua dari anak-anak di sekolah mereka
sendiri. Beberapa sekolah mencoba untuk melibatkan wakil dari masyarakat, termasuk orang
tua dan non orangtua dan perwakilan dari semua tingkatan sosial ekonomi dari wilayah yang
dilayani oleh sekolah. Beberapa masyarakat dan orang tua diminta untuk menghadiri
pertemuan pada siang hari dan para peserta utama yang hadir cenderung ibu rumah tangga
kelas menengah.
Inisatif Negara dan Nasional.
Upaya negara bagian dan nasional telah berinisiatif untuk melibatkan masyarakat
dalam urusan sekolah. Roald F. Campbell, Luverne L. Cunningham, Raphael O. Nystrand,
dan Michael D. Usdan menggambarkan sejumlah organisasi yang mendukung partisipasi
warga dalam urusan sekolah. Pada tahun 1976 legislatif florida tidak hanya mendirikan
sekolah dewan penasihat tetapi sekolah umum yang diberi tanggung jawab untuk memberi
tahu kemajuan sekolah kepada orang tua atau wali masing- masing siswa.
Administrator yang bijaksana menyadari bahwa dukungan masyarakat yang kuat
dapat membuat pekerjaannya lebih mudah. Beberapa sekolah telah berubah menjadi sekolah
masyarakat di mana sumber daya sekolah didukung bersama dengan masyarakat dan
sebaliknya.
Model partisipasi warga dalam urusan sekolah sangat berbeda dari masyarakat ke
masyarakat. Di beberapa komunitas, masyarakat memainkan peran murni mennjadi
penasehat; di sisi lain mereka terlibat secara langsung dalam proses pengambilan keputusan.
Dalam beberapa daerah, anggota masyarakat bertugas di bagian yang selalu bertemu secara
rutin dengan sekolah; di lokasi lain mereka melayani pada komite kelompok ad hoc yang
bertemu secara rutin; di lokasi lain mereka melayani pada kelompok-kelompok ad hoc yang
melakukan tugas tertentu. Dalam beberapa sekolah orang tua dan yang lain-lain diundang
untuk mengatasi semua masalah yang ada sekolah.
Keterlibatan Masyarakat.
J. Galen Saylor, William M. Alexander, dan Arthur J. Lewis membayangkan jika
masyarakat membantu dalam empat tahap perencanaan kurikulum: penetapan tujuan,
merancang, melaksanakan, dan evaluating. Sebagai contoh partisipasi masyarakat pada
penetapan tujuan yaitu:
Kelompok perwakilan masyarakat yang ditunjuk oleh dewan sekolah untuk memberi
nasihat tentang tujuan pendidikan
Grup ditunjuk oleh dewan sekolah untuk memberikan saran pada area tertentu mengenai
kurikulum
Komite Induk-Guru Asosiasi di sekolah lokal
Organisasi orang tua di rumah (partisispasi orang tua di rumah dalam rangka mencapai
tujuan kurikulum)
Klub Dads (Kumpulan ayah) (Oliva, 1992)
Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan
mereka dapat berkenaan dengan dua hal: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua
dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua
dapat ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yang cukup waktu dan
mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan
kurikulum (Sukmadinata, 2008). Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukan kerja sama yang
sangat erat antara guru atau sekolah dengan para orang tua murid. Sebagian kegiatan belajar
yang dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti atau
mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah. Orang tua juga secara berkala menerima
laporan kemajuan anak-anaknya dari sekolah berupa rapor dan sebagainya. Rapor juga
merupakan suatu alat komunikasi tentang program atau kegiatan pendidikan yang
dilaksanakan di sekolah. Orang tua juga dapat turut serta berpartisipasi dalam kegiatan di
sekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, seminar, pertemuan orang tua-
guru, pameran sekolah, dan sebagainya. Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di
rumah, laporan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah orang tua dapat ikut serta dalam
pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang
sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh, penyelesaian tugas-tugas serta
partisipasi dalam setiap kegiatan di sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut akan memberikan
umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.
Pada tahap implementasi warga masyarakat dipanggil untuk melayani sebagai
narasumber, tutor relawan, dan pembantu sekolah. Sumber daya individu, perusahaan,
lembaga, dan instansi lain dimintai tolong untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa.
Dengan bimbingan dari sekolah, orang tua dapat membantu anak-anak mereka dalam studi
mereka di rumah. Mereka mampu menjelaskan pengaruh program baru pada anak-anak
mereka dan bisa sangat spesifik dalam memberitahu guru tentang masalah anak-anak mereka
Orang tua dapat berperan dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum dengan
menanggapi survei yang dikirim oleh sekolah. Mereka dapat berfungsi sebagai narasumber
dan pembantu sukarela untuk guru. Mereka mungkin mengajak anak ke tempat kerja mereka
dan dengan demikian memberikan kontribusi untuk pengetahuan anak-anak tentang dunia di
sekitar mereka. Mereka mungkin mengawasi pengalaman kerja siswa di masyarakat.
Orang tua dapat membantu pihak sekolah mengulas bahan ajar dan buku yang akan
digunkan. Orang tua dan warga masyarakat lainnya dapat menyarankan program yang akan
membantu memenuhi kebutuhan pendidikan tertentu dalam masyarakat. Dengan aktif
mencari partisipasi warga, kepala sekolah mampu mengembangkan pengetahuan mengenai
program yang terbaik untuk sekolah. Kepala sekolah lebih mudah dapat memperoleh
dukungan untuk program-program baru dan untuk mewadahi pendapat orang tua dan orang
lain karena mereka memandang sekolah sebagai institusi di mana suara mereka dapat
didengar dan pendapat mereka dihargai. (Oliva, 1992)

4. Peranan Pekerja Kurikulum


Tanggung jawab utama untuk pengembangan kurikulum ditugaskan untuk guru dan
pemimpin yang dipilih atau ditunjuk, keduanya kita akan sebut sebagai "pekerja kurikulum"
Kelompok orang yang bekerja bersama-sama membawa beban terberat dalam upaya
meningkatkan kurikulum. Sekolah memilih seseorang untuk bergabung dengan koordinator
kurikulum (ditunjuk oleh kepala sekolah) dan menjadi dewan kurikulum sekolah. Hipotetis
kami, berdasarkan pemahaman di sekolah maka koordinator berfungsi sebagai ketua atau
pemimpin dewan.
Mari kita bayangkan bahwa kita adalah sebagai pengamat netral yang menonton
dewan kurikulum sekolah. Kita menonton kelompok yang dibentuk secara terorganisir; kita
mendengarkan diskusi tersebut; kita mempelajari wajah para anggota dewan; kita mengamati
interaksi antara koordinator dan anggota dewan dan di antara para anggota dewan sendiri.
Kita tidak bisa berspekulasi apakah kelompok kurikulum ini akan bekerja secara produktif.
Pertanyaannya terlintas dalam pikiran kami, "Kondisi apa yang membuat dewan kurikulum
menjadi produktif dalam pengembangan kurikulum?" Kita bertanya-tanya, "Bisakah kita
memprediksi apakah dewan kurikulum cenderung menjadi produktif?"
Setelah banyak pemikiran, kita dapat menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam hal
produktivitas lebih cenderung terjadi jika dewan kurikulum:
Mendesain tujuannya pada awal kerjanya
Apakah mereka terdiri dari kepribadian yang kompatibel
Memiliki anggota yang mempunyai keahlian, pengetahuan, dan kompetensi teknis
Apakah terdiri dari orang-orang yang termotivasi dan bersedia untuk mencurahkan waktu
dan energi
Terima kepemimpinan yang sesuai dan mengikuti semua tugas yan diberikan
Memiliki orang yang bisa berkomunikasi satu sama lain
Telah mengembangkan keterampilan dalam pengambilan keputusan
Memiliki anggota yang menjaga agenda pribadi mereka sendiri dalam hubungan yang
tepat untuk 'tujuan kelompok

5. Peranan Guru
Pada materi ini guru sering di pandang sebagai kelompok utama dalam
pengembangan kurikulum. Banyak contoh yang menyebutkan peran guru dalam
pengembangan kurikulum. Para guru merupakan salah satu mayoritas atau keseluruhan
keanggotaan komite kurikulum dan dewan. Guru berpartisipasi dalam semua tahap dalam
pengembangan kurikulum. Mereka meninjau usulan dan melaksanakannya di dalam kelas.
Mereka meninjau usulan, mengumpulkan data, melakukan penelitian, melakukan kontak
dengan orang tua dan masyarakat lainnya, menulis dan menciptakan materi kurikulum,
evaluasi sumber daya, mencoba ide-ide baru, memperoleh umpan balik dari peserta didik,
dan mengevaluasi program. Guru bertugas di komite terutama di kelas, tim / kelas /
departemen, sekolah, dan tingkat kabupaten atau sektor dan dapat melayani pada tingkat atau
sektor lain.
Guru baru biasanya memandang dirinya sebagai pengajar dan mempunyai tanggung
jawab yang kemungkinan akan dibutuhkan di bidang kurikulum. Awalnya guru kurang
menyadari kewajiban profesional mereka dalam pengembangan kurikulum, tidak
mengherankan mengingat bahwa program pendidikan pelayanan guru hanya sebagai aturan
dan dimengerti, menegaskan penguasaan keahlian pembelajaran kompetensi pengembangan
kurikulum.
Sebelum mengajar guru harus berorientasi pada kewajiban dan kesempatan akan
mereka hadapi dalam pengembangan kurikulum. Guru akan melayani di berbagai dewan dan
komite, bahkan perkembangan kurikulum terjadi di berbagai tingkatan dan sektor, dan bahwa
pengajaran dan kurikulum adalah domain yang berbeda, keduanya layak saling terlibat
anatara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian para guru, bekerja sama dengan
administrator dan profesional lainnya, dapat membawa pengetahuan dan keterampilan yang
sesuai untuk meningkatkan kurikulum. Para guru yang mengajar di kelas harus dapat
memastikan bahwa rencana kuriulum dilaksanakan.
Asumsi dari peran utama guru tidak hanya dalam pengembangan kurikulum, tetapi
juga dalam urusan umum di sekolah. Guru professional diperbolehkan untuk mengambil
bagian dalam proses pengambilan keputusan. Gerakan pemberdayaan 1980-an dan 1990-an
berusaha untuk meningkatkan status guru dan dengan demikian meningkatkan program dan
efektivitas sekolah.
Dilakukan oleh Yayasan Carnegie untuk kemajuan pengajaran, survei 1990 dari
lebih dari 21.000 masyarakat guru sekolah dasar dan menengah mengungkapkan bahwa
banyak guru sangat tidak senang. Studi carnegie menemukan bahwa lebih dari setengah
(61%) guru yang diberikan kesempatan untuk turut andil. Empat puluh lima persen dari para
guru tidak puas dengan kontrol yang mereka miliki atas kehidupan profesional mereka
sebagai guru. Delapan puluh dua persen memberi nilai "C" atau di bawah ini untuk upaya
reformasi sekolah beberapa tahun terakhir.
Temuan isu pemberdayaan bahwa banyak guru merasa ditinggalkan dari proses
pengambilan keputusan. Kita mungkin menduga bahwa guru yang tidak terlibat dalam
pengambilan keputusan sama sekali, kemungkinan besar mereka akan berpartisipasi dalam
bidang kurikulum, pengajaran, dan pengembangan staf. Meskipun mayoritas besar (79%)
mengatakan mereka berpartisipasi untuk sebagian sedang atau besar dalam memilih buku
pelajaran dan bahan, 21% mengatakan mereka berpartisipasi sedikit atau tidak sama sekali.
Sebuah riset mengejutkan 35% menunjukkan bahwa mereka hanya terlibat sedikit dalam
membentuk kurikulum, dan mayoritas (57%) melaporkan bahwa mereka berpartisipasi sedikit
atau tidak sama sekali dalam desain pengembangan staf atau in-service program pendidikan.
Partisipasi guru dalam pengembangan kurikulum menunjukkan angka yang relatif kecil (2%)
penurunan yang terlibat hanya sedikit atau tidak semua dibandingkan dengan yang dilaporkan
dalam survei carnegie sebelumnya, dan persentase guru yang terlibat hanya sedikit atau tidak
sama sekali dalam kegiatan pengembangan staf perencanaan tetap pada tingkat yang sama.
Anda akan berharap bahwa dalam layanan program pendidikan yang dirancang untuk
para guru akan dipilih dan direncanakan akan bekerja sama dengan mereka. Ternyata, tahun
1970-an baik contoh pemberdayaan guru di bidang pengembangan staf-pendidikan guru
tengah memudar daripada bertambah.
Meskipun kritik pemberdayaan berpendapat bahwa keterlibatan guru dalam
pengambilan keputusan merupakan tuntutan yang tidak perlu sesuai dengan waktu mereka,
peran yang tidak pantas, atau pelanggaran atas kewenangan administratif, penelitian industri
tahun 1930-an dan keberhasilan dari lingkaran kualitas Jepang dalam beberapa tahun terakhir
telah mengungkapkan bahwa keterlibatan dalam pengambilan keputusan meningkatkan moral
pekerja dan akibatnya meningkatkan produksi. John Naisbitt menyatakan prinsip ringkas
ketika dia mengatakan, "orang yang hidupnya dipengaruhi oleh keputusan harus menjadi
bagian dari proses pengambilan keputusan." Diterjemahkan ke dalam istilah sekolah, prinsip
menunjukkan bahwa ketika guru menemukan diri mereka untuk dihargai pendapat yang
profesional, mereka akan lebih puas dengan profesi mereka. Perbaikan ini dalam moral guru,
pada gilirannya, akan meningkatkan produktivitas sekolah dan prestasi siswa. (Olivia, 1992)
Guru memegang peranan yang cukup penting baik di dalam perencanaan maupun
pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana, dan pengembang kurikulum bagi
kelasnya (Sukmadinata, 2008). Sekalipun ia tidak mencetuskan sendiri konsep-konsep
tentang kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum. Dia yang mengolah, meramu
kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan dikelasnya. Oleh karena itu guru bisa dikatakan
sebagai barisan pengembangan kurikulum yang terdepan.
Adapun peran guru dalam mengembangkan kurikulum antara lain:
Guru sebagai perencana pengajaran.
Artinya, guru harus membuat perencanaan pengajaran dan persiapan sebelum melakukan
kegiatan belajar mengajar. Guru sebagai pengelola pengajaran harus dapat menciptakan
situasi belajar yang memungkinkan tujuan belajar yang telahditentukan.
Guru sebagai evaluator.
Artinya, guru melakukan pengukuran untuk mengetahui apakah anak didik telah
mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Guru merupakan titik sentral suatu
kurikulum berkat usaha guru, maka timbul kegairahan belajar siswa. Sehingga memacu
belajar lebih keras untuk mencapai tujuan belajar mengajar yang bersumber dari tujuan
kurikulum, untuk itu guru perlu memiliki ketrampilan belajar mengajar. Penguasaan
ketrampilan tersebut bergantung pada bahan yang dimilikinya dan latihan keguruan yang
telah dialaminya. Keberhasilan belajar mengajar antar lain ditentukan oleh kemampuan
kepribadiannya.
Guru harus bersikap terbuka dan menyentuh kepribadian siswa.
Guru perlu mengembangkan gagasan secaa kreatif, memiliki hasrat dan keinginan serta
wawasan intelektual yang luas. Guru harus yakin terhadap potensi belajar yang dimiliki
oleh siswa. Hal-hal yang perlu dikuasai guru; guru perlu memahami dan menguasai
banyak hal agar pelaksanaan pengajaran berhasil, guru juga harus mau dan mampu
menilai diri sendiri secara terus menerus dalam kaitannya dengan tingkat keberhasilan
dan pelaksanaan pengajarannya. Guru harus menguasai bahan pengajaran sesuai jenjang
kelas yang diajarnya, menguasai strategi pembelajaran yang berguna untuk
menyampaikan pengetahuan kepada siswa dan guru juga harus menjadi suri tauladan bagi
siswanya dan memberikan hal-hal yang bermakna bagi perkembangannya kelak.

6. Peranan Pemimpin Kurikulum


Seperti yang kita pertimbangkan, kompleksitas dalam melaksanakan pengembangan
kurikulum menjadi tanggung jawab pemimpin kurikulum untuk keberhasilan atau kegagalan
pekerjaan komite kurikulum atau dewan. Pemimpin kurikulum paling sering adalah anggota
staf pengajar di sekolah tetapi dapat juga orang luar. Hal ini mungkin tidak sesuai jika
merujuk kepada pemimpin kurikulum sebagai pemimpin kurikulum. Seseorang dapat menjadi
pemimpin untuk jangka waktu tertentu dan kemudian memberi jalan kepada pemimpin lain
untuk mencoba menjadi pemimpin juga. Beberapa guru dapat berfungsi sebagai pemimpin di
tingkat lain, seperti sekolah.
Pemimpin kurikulum (koordinator) juga dapat berasal dari luar kelompok guru,
seperti dalam kasus pengawas kantor pusat, konsultan kurikulum, direktur instruksi, dan
asisten kepala sekolah. Bahkan dalam kasus ini akan sangat berguna untuk memikirkan para
guru dan pemimpin dari luar staf pengajar sebagai "keluarga besar," karena mereka semua
anggota, meskipun dengan fungsi dan tugas yang berbeda. Posisi kepemimpinan diisi baik
oleh administrator atau supervisor, pemilihan oleh anggota kelompok, atau seleksi mandiri
dari suatu grup.
Sekarang akan membahas semua pemimpin kurikulum terlepas dari apakah mereka
datang dari dalam atau di luar kelompok guru. Kami mulai banyak melihat peran pemimpin
kurikulum dengan menanyakan pengetahuan dan keterampilan khusus apa saja yang harus
dimiliki untuk mengemban tugas itu. Koordinator Kurikulum harus:
1) Memiliki pendidikan umum yang baik
2) Memiliki pengetahuan yang baik dari kurikulum umum dan khusus
3) Memiliki pengetahuan tentang sumber daya untuk pengembangan kurikulum
4) Memiliki keterampil dalam penelitian dan pengetahuan tentang lokasi studi penelitian
yang bersangkutan
5) Memiliki pengetahuan tentang kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan masyarakat
6) Memiliki filosofi, sosiolog, psikolog
7) Tahu dan menghargai karakteristik individu atau rekan-rekannya berpartisipasi
Paling signifikan, koordinator kurikulum harus menjadi spesialis dalam proses goup,
pengolahan keterampilan khusus. Banyak yang mengungkapkan bahwa mengelola kelompok
secara efektif bukan tugas yang mudah. Ini merupakan upaya yang sangat rumit yang
membawa ke dalam semua seluk-beluk lingkungan dan kepribadian.
Keberhasilan dalam perbaikan kurikulum tergantung, tentu saja pada upaya bersama
dari kedua anggota kelompok dan pemimpin. Kami akan memfokuskan, namun pada
pemimpin kurikulum; sebaik apa pun tujuannya, motivasi, dan keterampil kelompok, upaya
kelompok tidak dapat berhasil tanpa kepemimpinan yang kompeten.

2.3 PEMIMPIN KURIKULUM DAN PROSES KELOMPOK


Baik keahlian teknis maupun pengetahuan tentang teori kurikulum dapat
menggantikan pengetahuan dan bakat seorang pemimpin kurikulum untuk proses kelompok.
Apa, kemudian, apakah kita menanyakan beberapa prinsip dasar dari penelitian tentang
proses kelompok yang akan membantu mereka mengambil peran kepemimpinan dalam
pengembangan kurikulum? Apa keterampilan dan pengetahuan tentang proses kelompok
sangat penting untuk pekerjaan? Untuk set cluster keterampilan dan pengetahuan tampak
tertentu yang signifikan:
1. The change process
Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh tentang proses
perubahan yang harus dilakukan dalam kaitannya dengan perkembangan kurikulum. Ia
juga harus bisa menerapkan kemampuan yang dimiliki pada kelompoknya. Dalam hal ini
seorang pemimpin harus bisa menunjukan kemampuan pengambilan keputusan yang
efektif, dan mampu menunjukkan kapasitasnya untuk memimpin anggota kelompok yang
dimiliki.
2. Interpersonal relations
Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menangani dinamika anggota kelompoknya.
Ia harus bisa menunjukkan kemampuan yang baik untuk berhubungan dengan anggota
kelompok, mampu mengembangkan kemampuan interpersonal diantara sesama anggota,
dan mampu untuk menciptakan kondisi kerja yang harmonis antar anggota.
3. Leadership skills
Pemimpin harus menunjukkan kemampuan dalam memimpin, termasuk kemampuan
mengorganisasi kelompok dan kemampuan untuk mengatur proses yang terjadi di dalam
kelompok tersebut. Ia juga harus bia membantu anggota keompoknya untuk
mengembangkan kemampuan memimpin sehingga mereka bisa mengasumsikan peran
kepemimpinan jika diperlukan.
4. Communication skills
Pemimpin harus berkomunikasi secara efektif dan tentu saja bisa membimbing anggota
kelompoknya untuk dapat berkomunikasi secara efektif pula. Selanjutnya ia harus pandai
untuk menjadi pemimpin dalam suatu diskusi.

1. The Change Process


Dalam axioma yang telah dipelajari sebelumnya, disajikan proporsi seberapa besar
perubahan kurikulum itu merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari. Segala seuatu yang ada
akan berkembang dan berubah mengikuti perkembangan zaman. Perubahan yang ada tidak
hanya tak dapat dihindari namun juga bisa membangkitkan hasrat dan keinginan manusia
untuk mengikuti perubahan yang terjadi. Manusia memang harus melakukan berbagai
perubahan sebagai dampak atas perkembangan zaman. Jika mereka ingin tetap tumbuh dan
berkembang menjadi manusia seutuhnya, tentunya perubahan yang terjadi harus diikuti
dengan perubahan pada diri agar terus bisa mengimbangi perubahan-perubahan yang terjadi
disekitar mereka. Perubahan yang harus dilakukan tidak hanya mencakup diri manusia itu
sendiri, namun juga meliputi perubahan yang harus dilakukan oleh kelompok social tertentu,
dimana seseorang tergabung di dalamnya agar tetap dapat mempertahankan kedudukan social
mereka. Hal ini berarti perubahan kurikulum yang tak dapat dihindari seharusnya juga diikuti
oleh proses perubahan dari masyarakat yang terlibat dalam perkembangan kurikulum.
Gail McCutcheon menyatakan bahwa kemudahan dan keamanan komperatif akan
keberadaan kedudukan social kelompok tertentu, kebutuhan akan waktu dan usaha yang
dilakukan, kurangnya penghargaan yang diberikan, dan penetapan kebijakan yang sesuai
dengan peraturan yang berlaku merupakan sesuatu yang sulit untuk diubah. Misalnya dalam
praktek pengajaran di sekolah tertentu. Meskipun perubahan telah berlangsung, praktek
pengajaran dengan teknik lama dan kuno masih saja dipertahankan dalam suatu sekolah.
Seharusnya mereka terus berupaya untuk segera memperbaiki system tersebut agar sesuai
dengan perubahan yang sedang terjadi, sehingga membuatnya menjadi lebih baik. Oleh
karena itu untuk mengatasi keadaan tersebut, pengembangan kurikulum dapat diupayakan
oleh kelompok yang telah terorganisir dengan baik untuk dapat mengambil keputusan dengan
bijak. Diharapkan keputusan yang diambil ini dapat mempengaruhi perencanaan dalam
perubahan kurikulum.
Di dalam proses perubahan, langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan
memperhatikan variable-variabel yang telah terorganisir dengan baik sehingga dapat
mempengaruhi proses perubahan yang nantinya akan berlangsung. Harold J Leavitt dan
Homa Bahrami mengidentifikasi terdapat empat variabel yang telah terorganisir di dalam
proses perubahan yang akan dilakukan.
1. Structure
2. Information and control method
3. People
4. Task

Structure
Setiap organisasi/perkumpulan tertentu menetapkan struktur keorganisasian mereka
masing-masing. Dalam bab 3 yang telah dipelajari sebelumnya, terdapat berbagai macam
bentuk struktur organisasi di tingkat sekolah dalam upaya untuk pengembangan kurikulum.
Struktur organisasi di dalam suatu sekolah dalam mengembangkan kurikulum akan berbeda
antara satu dengan lainnya. Struktur juga berbeda dengan system yang berlaku di suatu
sekolah. Menurut Robert G Owens, struktur dapat mengatur dan memberikan perintah dalam
suatu system organisasi, dan memiliki karakteristik berbeda antara struktur organisasi satu
dengan yang lain. Struktur organisasi dibentuk tidak hanya melalui berbagai macam tujuan
yang ingin dicapai namun juga peran serta dari administrator, supervisor, dan guru dalam
mencapai tujuan tersebut. Tidak akan ada struktur organisasi tunggal yang dapat memenuhi
semua kebutuhan pribadi dan kelompok peserta dalam system sekolah tanpa adanya peran
serta administrator, supervisor, dan guru di dalamnya. Menentukan struktur organisasi
merupakan keputusan utama yang terlebih dahulu harus diambil dalam rangka pengembangan
kurikulum di sekolah.

Information and Control Method


Informasi dan metode control yang dimaksud disini adalah managing atau mengatur
teknologi yang digunakan di dalam organisasi/perkumpulan agar pengembangan kurikulum
dapat berjalan dengan baik. Owens menyatakan bahwa :
Dalam suatu organisasi/perkumpulan harus memiliki sumber daya teknologi atau dengan kata
lain alat dan keterampilan. Teknologi sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi kelompok.
Teknologi yang diperlukan tidak hanya berupa hardware atau perangkat kerasnya saja
sebagai contoh computer, textbook, kapur, spidol, mikroskop electron. Namun juga meliputi
program-program baru yang meliputi prosedur sistematik pengembangan kurikulum,
rangkaian aktifitas yang teratur, ataupun design procedural baru yang dapat digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum agar tidak
mengganggu pencapaian yang diinginkan.

Human Element (People)


Unsur manusia di dalam suatu organisasi/perkumpulan diperlukan untuk bergerak
dalam melakanakan tugas yang diberikan. Dengan banyaknya orang beserta berbagai macam
karakter seeorang di dalam suatu perkumpulan/organisasi membuat upaya pengembangan
kurikulum di masing-masing sekolah merupakan suatu usaha yang unik dan tentunya berbeda
antara sekolah yang satu dengan lainnya. Perbedaan karakter yang dimiliki oleh setiap orang
membuat pengembangan kurikulum di setiap sekolah akan angat berbeda. Orang-orang
penting dalam proses pengembangan kurikulum telah dibahas sebelumnya. Mereka adalah
supervisor, administrator, guru, siswa, dan masyarakat. Seorang ahli dalam ilmu social
menyatakan bahwa perilaku manusia sehari-hari mengacu kepada karakter utama dalam
proses perubahan yaitu sebagai change agent and system client.
Change agent atau agen perubahan merupakan seeorang yang melatih pembentukan
perilaku dalam upaya perubahan suatu organisasi/perkumpulan ke arah yang lebih baik.
Dengan membantu mengubah perilaku orang-orang dalam suatu perkumpulan pengembangan
kurikulum, diharapkan akan berdampak positif terhadap organisasi/perkumpulan terebut
sehingga akan berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Sytem client meliputi orang-orang yang berada dalam suatu perkumpulan yang
bersama-sama dengan change agent bekerja untuk mengoptimalkan proses perubahan ke arah
yang lebih baik. Di dalam mengoptimalkan proses perubahan tersebut diharapkan system
client juga akan mengalami proses perubahan ke arah yang lebih baik. Point ini juga
merupakan bagian dari axioma yang telah dibahas sebelumnya. Axioma keempat yang
mengatakan bahwa pengembangan kurikulum sebagai hasil dari perubahan seseorang.
Diharapkan melalui perubahan yang terjadi pada orang-orang di dalam perkumpulan tersebut,
nantinya akan berdampak positif terhadap pengembangan kurikulum.
Ahli perilaku memperdebatkan apakah agent perubahan harus berasal dari dalam
ataupun luar system. Namun, pada praktiknya di sekolah mereka menggunakan personel
sekolah masing-masing yang didalamnya terdapat guru, pegawai, kepala sekolah, orang tua,
dan siswa untuk bekerja sama dalam pengembangan kurikulum. William H. Lucio dan John
D. McNeil menegaskan bahwa para personel yang berasal dari dalam sekolah yang berupaya
mengembangkan kurikulum, memiliki tanggung jawab yang besar untuk melakukan
perubahan agar pengembangan kurikulum dapat berjalan dengan baik.
Robert J. Alfonso, Gerald R. Firth, and Richard F. Neville mengidentifikasi bahwa
perubahan teori merupakan salah satu dari empat ranah teoritik yang mengasumsikan adanya
implikasi dari tingkah laku instructional supervisor terhadap pengembangan kurikulum. Hal
ini membuat seorang ahli yang bernama John. T Lovell menuliskan sebuah bab dalam
bukunya yang berjudul Supervisor for Better School untuk menunjukkan kepada para
supervisor bahwa koordinasi dan memfasilitasi adanya perubahan kurikulum adalah tanggung
jawab penting dari seorang pengawas instrukional. Melalui bukunya ia ingin para pengawas
sadar akan peran supervisor dalam pengembangan kurikulum dilakukan melalui pemberian
fasilitas dan koordinasi dengan berbagai pihak untuk kemajuan suatu sekolah.
Lebih lanjut Alfonso, Firth, and Neville secara jelas menunjukkan dalam buku mereka yang
berjudul Instructional Supervision bahwa ssupervisor yang berasal dari dalam suatu system
tertentu harus berfungsi sebagai agen perubahan :
Jika perubahan dalam pengembangan kurikulum terjadi, suatu system di sekolah harus
menilai bahwa perubahan itu merupakan tanggung jawab beberapa orang atau kelompok
yang masuk dalam system tersebut. Para supervisors, jika mereka berkeinginan untuk
melakukan perubahan, mereka harus membuat pengembangan kurikulum ini sebagai
prioritas. Jika tidak, perubahan tersebut tidak akan terjadi. Mereka tidak seharusnya
menganggap diri mereka sebagai agent perubahan dalam pengembangan kurikulum jika
mereka tidak memberikan waktu, usaha, tenaga, dan kreativitas mereka melalui proses
perubahan tersebut.
Bahkan ketika jasa dari agen perubahan yang berasal dari luar system tersebut dicari, maka
Alfonso, Firth, and Neville memberikan saran :
Jika seorang supervisor ingin menggunakan jasa agen perubahan yang berasal dari luar
system, atau consultant, agen yang berasal dari luar system tersebut harus dirasakan mampu
meningkatkan kinerja dari para supervisor. Jika hubungan tersebut dapat berlangsung, atau
jika pada kenyataannya terjadi, agen eksternal dapat sementara bergabung dalam system
untuk bekerja bersama-sama sehingga usaha untuk lebih mensukseskan proses perubahan
akan menjadi lebih tinggi. Secara sederhana mengimpor agen perubahan dari luar system
tidak akan membantu para supervisors jika pada kenyataannya para guru tidak memahami
orang-orang tersebut menjadi bagian dari system di sekolah atau bagian dari para supervisors
di dalam beberapa kondisi tertentu. Untuk itulah para guru harus menyadari bahwa adanya
agent perubahan yang berasal dari luar system di sekolah juga bertujuan untuk membantu
mereka melakukan proses perubahan sehingga pengembangan kurikulum di sekolah dapat
berjalan dengan baik.
Kemudian kita pun mulai bertanya-tanya fungsi agent perubahan. Warren G. Bennis
dalam bukunya yang berjudul Theory and Method in Applying Behavioral Science to Planned
Organizational Change membuat daftar tujuan dari adanya agent perubahan antara lain
sebagai berikut.
Meningkatkan kemampuan interpersonal dalam hal managerial
Meningkatkan pemahaman diantara sesama personel dalam suatu system untuk
mengurangi ketegangan
Mengembangkan management team
Mengembangkan metode resolusi konflik yang lebih baik daripada adanya
penekanan, pengingkaran, dan penggunaan kekuatan yang tidak berdasarkan prinsip
untuk menyelesaikan suatu konflik dan permasalahan yang terjadi di dalam system.
Melihat bahwa organisasi sebagai hubungan yang alami dalam suatu system yang
dinilai dari rasa kepercayaan, saling ketergantungan, tanggung jawab, keanggotaan
yang beragam, dan resolusi konflik melalui pelatihan dan pemecahan masalah.
Task
Variabel terakhir yang harus ada untuk melakukan proses perubahan adalah tugas.
Mengenai variabel tugas, Owens dalam bukunya yang berjudul Organizational Behavioral in
Education menyebutkan tujuan dari adanya tugas dalam suatu system organisasi adalah
sebagai berikut.
Dari definisinya, organisasi dibentuk untuk meraih tujuan tertentu. Hal ini dapat
dicapai melalui penyelesaian berbagai tugas yang diberikan. Terdapat banyak tugas yang
harus diorganisasikan dengan baik oleh suatu sekolah untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
Sekolah memiliki banyak tugas dalam pengembangan kurikulum. Walaupun sekolah
tidak terlibat langsung dalam penjualan produk untuk menghasilkan keuntungan, namun
produk yang dimaksud disini berupa perubahan prilaku personel sekolah terutama para siswa
ke arah yang lebih baik sebagai dampak dari pengembangan kurikulum.
Owens memahami keterkaitan keempat variable ini sebagai factor kunci untuk memilih
strategi yang tepat dalam menjalankan proses perubahan di sebuah organisasi :
Keempat factor internal dalam membangun sebuah organisasi task, technology, people, and
structure merupakan variable yang akan terus berubah di setiap waktu dan di setiap
organisasi masing-maing. Jika dalam membangun sebuah organisasi yang bertujuan untuk
melakukan proses perubahan memiliki keempat variabel ini, maka organisasi terebut akan
lebih terkendali sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Kurt Lewin melihat organisasi akan berada dalam keadaan yang seimbang ketika
kekuatan untuk melakukan perubahan seimbang dengan kekuatan daya tahan dalam
menghadapi rintangan yang menghadang. Perubahan hanya akan dapat terjadi di dalam
organisasi apabila kekuatan untuk melakukan perubahan ditingkatkan dan kekuatan
mempertahankan hal yang lama dikurangi.
Mengikuti konsep yang telah dikemukakan Lewin, ia mengusulkan a simple
strategy yang terdiri dari tiga langkah yang harus dilakukan. Pertama ketika target telah
ditetapkan, kita harus segera melaksanakan upaya untuk mencapai target terebut. Kemudian
ketika upaya telah dilaksanakan maka perubahan atau inovasi akan terbentuk dan selanjutnya
struktur perubahan baru akan terbentuk.
Namun bagaimana kita bisa dengan mudah mengubah kebiasaan-kebiasaan lama
yang telah ada? Bagaimana kita bisa dengan mudah berpindah misalnya dari sekolah
menengah pertama menjadi sekolah menengah atas, dari belajar secara mandiri menjadi
cooperative learning, dari konsep linguistic tertentu menjadi keseluruhan bahasa, dari hanya
pembelajaran kognitif menjadi pembelajaran cognitive, affective, and psikomotoric, dari
berpikir berpusat akan suatu hal menjadi berpikir menyebar ke segala aspek, dari melafalkan
menjadi berpikir kritis, bagaimana kita mengubah dan membuang kebiasaan-kebiasaan lama
tersebut?
Untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang muncul dalam proses
mengubah kebiasaan-kebiasaan lama beserta cara untuk mengatasinya akan disajikan dalam
tabel berikut.

Halangan Taktik

Takut perubahan akan Kelompok harus menerapkan perubahan tersebut secara


mempengaruhi dirinya perlahan-lahan. Hal ini agar mereka tidak terlalu kaget
dengan perubahan yang diberikan secara mendadak.
Pemimpin harus dapat menciptakan suasana nyaman
dan tentram dalam mengajak anggota untuk melakukan
beberapa perubahan
Pemimpin harus mengikutsertakan para anggota
kelompok dalam setiap pengambilan keputusan
Kurangnya tujuan yang jelas Kelompok harus menetapkan secara jelas terlebih dahulu
untuk dicapai tujuan yang ingin dicapai sebelum menjalankan sebuah
perubahan
Kurangnya pemimpin yang Supervisors harus benar-benar memilih pemimpin yang
competent kompeten untuk memimpin para anggotanya dalam
melakukan proses perubahan. Pemimpin yang tidak
memiliki qualified yang bagus tidak boleh dipilih.
Kurangnya kemampuan anggota Hal ini dapat terjadi karena di setiap anggota pasti
kelompok untuk berfungsi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
sebagai satu keatuan kelompok Untuk itu diperlukan sebuah training khusus untuk
yang utuh dilakukan.
Kurangnya penelitian akan Pemimpin harus bisa melakukan berbagai penelitian untuk
masalah-masalah yang dihadapi menemukan solusi dari permasalahan yang ada dan
sebelum membentuk kelompok membahasnya dalam kelompok
Pengalaman masa lalu akan Kelompok harus bia merasakan bahwa progress yang
ketidaksuksesan usaha yang dilakukan akan terus berjalan secara terus-menerus
dilakukan dalam proses
pengubahan kurikulum
Kurangnya evaluasi akan usaha Harus segera merancang evaluasi yang akan diberikan
perubahan kurikulum yang tentang usaha dalam perubahan kurikulum di waktu
dilakukan sebelumnya mendatang
Perilaku negative dari Sekolah harus memanggil para orang tua dan masyarakat
komunitas untuk berdiskusi akan proses perubahan tersebut. Dengan
melibatkan mereka dalam diskusi mereka akan berupaya
untuk merubah perilaku negative tersebut
Kurangnya sumber daya Ketercukupan sumber daya dalam merancang kurikulum
hingga nanti menerapkannya harus tetap ada sehingga
proses perubahan tersebut dapat berjalan lancar

Pengambilan Keputusan
Di dalam proses untuk mengubah beberapa hal mengenai kurikulum dengan
membentuk suatu kelompok di sekolah, para pemimpin yang memimpin kelompok tersebut
harus memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan. Di dalam axioma 6 jelas
dikatakan bahwa pengembangan kurikulum secara garis besar merupakan proses
pengambilan keputusan. Kurangnya kemampuan dalam pengambilan keputusan yang dimiliki
seorang pemimpin dalam kelompok mengakibatkan hambatan-hambatan untuk berubah
menjadi kesulitan yang sangat besar. Adakah prinsip-prinsip yang harus dilakukan oleh
seorang pemimpin untuk dapat mengambil keputusan secara tepat?
Menurut Daniel L. Stufflebeam dalam bukunya Educational Evaluation and
Decision Making menyebutkan terdapat empat tahapan dalam pengambilan keputusan yaitu
kesadaran akan manfaat dan akibat dari pengambilan keputusan tersebut, design, pemilihan
dalam menentukan keputusan mana yang terbaik untuk diambil, dan action.
Selama dalam tahapan pengambilan keputusan harus berdasarkan planning, structuring,
implementing, dan recycling
Dalam pengambilan keputusan harus direncanakan terlebih dahulu. Perencanaan
pengambilan keputusan dilakukan untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dari
pengambilan keputusan tersebut. Mereka harus menetapkan perubahan utama yang mereka
butuhkan dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan secara terstruktur dilakukan
untuk merancang prosedur yang harus dilakukan. Prosedur-prosedur yang terstruktur
dilaksanakan agar dapat menentukan hasil yang ingin dicapai dari perencanaan pengambilan
keputusan. Menerapkan keputusan harus melibatkan langkah-langkah yang sebelumnya telah
dirancang di awal pengambilan keputusan. Menggunakan kembali keputusan yang telah
dibuat bermaksud untuk menentukan pencapaian dari tujuan pengambilan keputusan apakah
perlu dilanjutkan, dievaluasi, ataupun dimodifikasi.
Bagaimanapun kemampuan dalam pengambilan keputusan harus terus ditingkatkan karena
keputusan akan terus-menerus diambil.
Creative Individuals
Selain pemimpin yang memiliki kemampuan lebih dalam pengambilan keputusan, mereka
juga harus menjadi indiividu yang kreatif. Walaupun dalam berbagai literature disebutkan
bahwa untuk melakukan proses perubahan diperlukan keterlibatan anggota kelompok,
terkadang perubahan dapat terjadi karena adanya ide-ide creative dari masing-masing
anggota.
Terkadang terjadi situasi ketika seorang anggota kelompok berhasil menemukan
sebuh ide baru yang kreatif, beberapa anggota lainnya yang juga menyetujui ide tersebut akan
menirukan dan mengadopsinya. Ketika hal tersebut terjadi, ide yang dicetuskan tadi tidak
hanya akan diadopsikan namun juga akan dilaksanakan. Individu yang kreatif akan didukung
oleh supervisors selama ide kreatifnya tidak menyerang individu lain dan masih dalam ruang
lingkup individu tersebut. Ketika individu tersebut meminta kepada individu lain untuk saling
bekerja sama, maka kemandiriannya akan berubah menjadi lebih cooperative.
Kesimpulannya, pemimpin dalam proses perubahan kurikulum harus mampu
membimbing para anggotanya dalam bekerjasama untuk menciptakan proses perubahan
kurikulum. Mereka juga harus memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan yang
tepat. Pemimpin juga merupakan orang terbaik yang dipilih sehingga dapat menunjukkan
kapasitasnya sebagai pemimpin sehingga dapat mempengaruhi anggota kelompoknya akan
proses perubahan kurikulum ke arah yang lebih baik.

2. Interpersonal Relations
Kepala sekolah mengingatkan akan ada pertemuan hari ini jam 3 siang
Respon dari para guru biasanya berupa Oh no ; semoga berjalan cepat ; hal yang
membuang-buang waktu saja
Mengapa ketika kepala sekolah memberitahu para guru bahwa aka nada rapat respon yang
mereka berikan seperti itu? Mengapa hal tersebut menimbulkan kekecewaan?
Mari kita menjawab fenomena terebut dengan menggambarkannya dengan pertemuan yang
dilakukan kapala sekolah dengan lima puluh orang guru mata pelajaran dalam suatu sekolah.
Kita mengamati pertemuan yang sedang berlangsung dan mengambil beberapa catatan
penting
Ruang kelas yang dijadikan pertemuan terlalu sempit dan tidak nyaman ditempati
oleh para guru terutama beliau yang memiliki berat badan lebih.
Susunan meja dan kursi yang dibuat berbaris sangat tidak memungkinkan dalam
melakukan diskusi
Tidak ada makanan dan minuman yang disediakan
Sangat sulit untuk memahami tujuan dari pertemuan tersebut. Apakah untuk
memberikan informasi penting, apakah hanya sekedar khotbah dari kepala sekolah,
apakah usaha untuk mendapatkan persetujuan dari para guru akan kebijakan yang
akan diambil kepala sekolah, apakah usaha untuk mendapatkan pendapat para guru
akan permasalahan tertentu?
Salah seorang guru yang berada di barisan belakang sedang membaca koran
Seorang guru yang duduk dekat jendela sedang menyusun kertas-kertasnya
Dua orang guru sedang asyik membicarakan peristiwa yang terjadi di salah satu
kelas
Seorang guru yang sedang lelah duduk dengan mata yang terpejam selama
pertemuan
Guru olahraga absent
Kepala sekolah berbicara antara 30 sampai 45 menit selama pertemuan berlangsung
Sepasang guru tetap berbicara padahal telah ditegur oleh guru-guru lainnya agar
dapat tenang
Beberapa guru melirik jam yang ada di dinding
Kepala sekolah merasa terganggu oleh komentar salah seorang guru
Kegelisahan muncul diantara beberapa guru setelah 30 menit berlalu
Para guru akan beruaha keluar dari ruang rapat secepatnya setelah rapat berakhir.

Beberapa perilaku di atas merupakan hal-hal umum yang sering dijumpai. Perilaku
seperti yang ditunjukkan tadi merupakan hal-hal yang bisa diprediksi. Pada pertemuan yang
dilaksanakan seperti contoh di atas, partisipasi administrator dan guru sangat diperlukan.
Kebanyakan guru tidak sepenuhnya sadar akan perluasan pengetahuan dalam mengajar para
siswa sangatlah penting untuk meningkatkan karier yang dimiliki. Kita harus bisa
menanamkan mind-set baru kepada para guru pemula akan pentingnya peran guru dalam
proses pembelajaran. Seorang guru merupakan individu planner yang bertindak sebagai
presenter, evaluator, dan pengembang kurikulum di dalam proses pembelajaran.
Pada awalnya seorang guru menyadari bahwa ketika mereka mengajar, mereka akan
bekerja sama dengan sekelompok anak-anak. Mereka sering kali tidak siap jika harus bekerja
sama dengan sesama guru professional lainnya. Untuk itulah diperlukan suatu program
persiapan bagi para calon guru yang kita kenal sebagai program pre-service. Program ini
disiapkan untuk melatih dan mempersiapkan calon guru sebelum mereka benar-benar terjun
ke dalam dunia kerja yang seungguhnya. Di dalam program ini mereka diharapkan untuk
bersedia mengembangkan kemampuan mereka untuk dapat bekerja sama dengan sesama
calon guru lainnya di dalam suatu kelompok. Di sinilah prilaku mereka dilatih untuk dapat
bekerja secara cooperative, memahami kedinamisan sesama anggota di dalam suatu grup, dan
melatih kemampuan diri dalam membina hubungan dengan sesama anggota. Kedinamisan
disini berarti adanya perbedaan sifat diantara para anggota keleompok sehingga mereka
memiliki pendapat dan solusi masing-masing akan suatu permasalahan. Untuk itulah para
calon guru harus memiliki kemampuan dalam memahami berbagai sifat dan kemampuan
yang tentu saja berbeda diantara sesama anggota lainnya. Program pre-service ini bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik para calon guru. Mereka
tidak hanya belajar untuk meningkatkan kemampuan, namun juga sikap, dan keterampilan
yang tentunya juga sangat diperlukan bagi para calon guru Namun, apabila tujuan tersebut
tidak tercapai maka pencapaian akan kemampuan tersebut harus dicari dan dikembangkan
lebih lanjut dalam berbagai program in-service ketika mereka nantinya telah menjadi seorang
guru.
Mari mencoba untuk meningkatkan pemahaman kita mengenai komposisi dan
fungsi dari sebuah kelompok dengan membahas beberapa karakteristik penting dari dinamika
dalam sebuah kelompok. Kita tidak seharusnya membahas pertanyaan ini dengan hanya
mendefinisikannya pada sebuah kelompok, namun juga dalam sebuah hubungan yang hanya
dibentuk oleh dua orang atau lebih yang bekerja bersama-sama untuk mencapai kepentingan
mereka. Di dalam semua lembaga kemanusiaan, misalnya di dalam sebuah sekolah kita
mengenal adanya kelompok formal dan in-formal.
Formal groups dibentuk untuk melaksanakan berbagai macam tugas yang diberikan
oleh organisasi yang menaungi mereka. Kelompok formal merupakan kelompok yang
memiliki system hubungan yang sengaja diciptakan, sehingga unsur-unsur dalam suatu
organisasi merupakan bagian-bagian fungional yang saling berhubungan. Di sekolah formal
group yang dimaksud adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, komite, pegawai. Mereka
memiliki struktur organisasi dan aturan yang berlaku di dalamnya. Salah satu contoh
kelompok formal di sekolah antara lain sebagai berikut.
Informal group merupakan kelompok yang dibuat secara mendadak yang memiliki
hubungan secara pribadi dan dibentuk karena memiliki tujuan yang sama. Di dalam informal
grup biasanya tidak ada struktur organisasi dan aturan yang mengikatnya. Protest group dan
cliques teacher merupakan contoh dari informal group. Meskipun formal group lebih penting
dari in-formal group, namun kita tidak bisa menghindari bahwa terdapat beberapa effect yang
kemungkinan dapat beraal dari kelompok informal. Sangat memungkinkan terjadi di suatu
sekolah kelompok formal dan in-formal bekerja dengan tujuan yang berbeda. Sebagai contoh
kelompok formal melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan kurikulum namun di sisi
lain terdapat kelompok informal yang tidak setuju akan pengembangan kurikulum yang baru
karena akan mengubah kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah lama diterapkan. Untuk itulah
fungsi pemimpin di dalam suatu organisasi diharapkan mampu mencari tahu dampak dari
informal group terhadap usaha dalam mengembangkan kurikulum.
Kembali pada ilustrasi pertemuan yang dilakukan kapala sekolah dengan lima puluh
orang guru mata pelajaran dalam suatu sekolah, prilaku yang diperlihatkan anggota rapat
lainnya dapat muncul karena ketidakjelasan tujuan dari pertemuan tersebut. Di dalam suatu
organisasi, kejelasan suatu tujuan baik secara umum maupun spesifik di dalam suatu
kelompok sangatlah penting. Masing-masing kelompok perlu diatur dan diorganisasi sering
kali dan berkelanjutan dengan tujuan sebagai berikut.
Untuk menerima berbagai instruksi dan informasi. Pertemuan dalam suatu sekolah
sangat penting sebagai tempat untuk menyampaikan instruksi dan informasi
Untuk membantu para setiap anggota mengembangkan kemampuan personal atau
professionalnya. Study group, workshop group, merupakan contoh dari kegiatan
kelompok yang dapat membantu mengembangkan kemampuan tersebut
Menyarankan berbagai solusi akan suatu permasalahan. Membuat suatu rekomendasi
akan berbagai masalah merupakan tujuan utama dari pembentukan sebuah kelompok
pengembangan kurikulum
Untuk menghasilkan sesuatu. Suatu kelompok perlu diorganisasi secara teratur agar
bisa menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan. Sebagai contoh wakasek kurikulum
bertugas untuk membuat petunjuk pengembangan kurikulum baru di sekolah
Untuk menyeleaikan konflik. Suatu kelompok perlu diorganisir agar dapat
menyeleaikan suatu konflik. Dalam proses pengembanagan kurikulum pasti terdapat
beberapa pihak yang tidak setuju akan adanya perubahan kebiasaan-kebiasaan lama
yang harus diubah seiring dengan penerapan kurikulum baru. Untuk itulah diharapkan
kelompok pengembangan kurikulum dapat menyeleaikan konflik tersebut.
Kesulitan terbesar dari seorang pemimpin dalam memimpin sebuah kelompok
untuk mengembangkan kurikulum adalah memastikan bahwa para anggotanya tetap
berorientasi pada tugas atau task oriented person. Hal ini dikarenakan masih banyak anggota
kelompok yang lebih berorientasi pada process oriented person. Kedua tipe anggota di dalam
sebuah kelompok ini sama-sama diperlukan tergantung pada situasi dan kondisi yang ingin
dicapai.
a. Task oriented person merupakan tipe anggota kelompok yang lebih berorientasi
pada hasil dari tugas yang diberikan. Mereka akan mulai membuat list hal-hal
yang harus dilakukan untuk segera memperoleh hasil dari tugas yang diberikan.
Mereka tidak akan menyukai keadaan ambigu dan merasa sangat terganggu jika
berdiskusi tentang sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan tugas
yang harus mereka kerjakan. Orang bertipe ini akan sangat terganggu ketika
seorang menanyakan perasaan mereka terhadap suatu hal. Mereka akan lebih
senang membicarakan fakta yang terjadi daripada pendapat dan feeling mereka
akan suatu permasalahan.
b. Process oriented person merupakan tipe anggota kelompok yang lebih berorientasi
pada proses dalam mengerjakan tugas yang dijalankan. Mereka yang bertipe
seperti ini akan sangat senang melakukan suatu diskusi yang alot dan panjang
tentang suatu permasalahan daripada memikirkan hasil dari diskusi tersebut.
Dalam sebuah diskusi, mereka lebih senang dalam mendengar pendapat orang lain
akan suatu permasalahan daripada memikirkan hasil dari diskusi tersebut. Orang
bertipe ini akan angat senang pada keadaan ambigu dan tidak mau repot-repot
membuat list tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai hasil dari
tugas yang diberikan. Mereka juga akan lebih peduli akan apa yang akan orang
lain pikirkan tentang hasil dari pekerjaan mereka dibandingkan hasil dari tugas itu
sendiri. Orang yang bertipe ini juga akan lebih senang membicarakan pendapat
dan perasaan mereka akan suatu hal daripada melihat fakta yang terjadi di
lapangan.
Kedua tipe anggota kelompok ini sebenarnya sama-sama diperlukan dalam suatu
kelompok. Anggota yang bertipe process oriented sangat diperlukan pada saat awal
perkenalan sesama anggota dan pada saat melakukan analysis terhadap suatu tugas yang
lebbih mementingkan pendapat daripada hasil dari diskusi tersebut. Namun task oriented
person juga sangat diperlukan untuk dapat segera memperoleh hasil yang diinginkan. Sebagai
contoh diperlukan anggota kelompok yang lebih berorientasi pada tugas untuk dapat segera
menerapkan kurikulum baru di sekolah. Mereka akan segera membuat daftar usaha dan
langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menerapkan kurikulum yang baru tersebut.
Namun jika anggota kelompok masih bertipe process oriented mereka akan lebih memikirkan
pendapat orang lain akan kurikulum baru yang nantinya akan diterapkan daripada
memikirkan usaha dan langkah apa agar kurikulum baru tersebut segera terlaksana.
Merupakan seorang yang berperan penting di dalam kelompok perencanaan
penerapan kurikulum baru. Ia harus sadar akan adanya tiga tipe prilaku anggota di dalam
suatu kelompok.
1. Masing-masing kelompok terdiri dari individu-individu yang membawa
karakteristik perilaku masing-masing ke dalam sebuah kelompok. Beberapa
individu akan mencoba untuk mengendalikan berbagai macam karakteristik
perilaku yang mereka miliki ketika telah berada di dalam sebuah kelompok. Tidak
jarang mereka sulit mengendalikan perilaku di dalam diri mereka yang tentunya
akan berdampak terhadap kelompok. Individu yang berada dalam sebuah
kelompok, tidak jarang memiliki motivasi tinggi dan tujuan tersembunyi.
Berbagai macam situasi dapat mempengaruhi perilaku individu di dalam sebuah
kelompok. Berbagai macam situasi tersebut dapat berupa ketika individu bisa saja
tidak menyetujui proposal pengembangan kurikulum yang diajukan, bukan karena
ia tidak menyetujui isi di dalamnya namun karena ia tidak menyukai orang yang
mengusulkannya. Individu akan dengan keras mempertanyakan hal-hal yang
memalukan kepada anggota lainnya yang dianggap sebagai rival yang potensial
dalam memperebutkan poisi pemimpin. Situasi-situasi seperti ini yang harus bisa
ditangani oleh para pemimpin. Ia harus berusaha untuk mengubah perilaku buruk
para anggotanya atau jika memunginkan menghilangkannya. Ia juga harus bisa
berperan sebagai mediator untuk menjamin tujuan tersembunyi masing-masing
anggota tidak akan mempengaruhi tujuan utama dalam menerapkan kurikulum
baru.
2. Masing-masing individu dalam suatu kelompok sering kali berprilaku yang tidak
sesuai dengan prilaku ia sehari-hari. Sebagai contoh kita mungkin sering
memperhatikan ketika para pengemudi yang biasanya sembrono dalam
mengemudi namun ketika ia berama teman-temannya ia menjadi lebih berhati-
hati. Adanya anggota kelompok yang dapat melihat dan mengevaluasi prilaku
mereka membuat mereka berprilaku yang berbeda dari prilaku mereka sehari-hari.
Tidak hanya perilaku mereka saja yang bisa berubah jika berada dalam sebuah
kelompok, namun pendapat mereka akan suatu hal dapat pula berubah.
3. The whole is greater than the sum of its part. Kemampuan yang dimiliki
kelompok lebih besar daripada kemampuan setiap anggota. Hal ini dikarenakan
dalam uatu kelompok terdapat penggabungan kemampuan dari masing-masing
anggota sehingga jika digabungkan kemampuan kelompok pastinya akan lebih
tinggi dari kemampuan individu para anggotanya.
Para pemimpin pengembangan kurikulum harus mencoba untuk mengembangkan
rasa bangga di dalam suatu kelompok sebagai keatuan kelompok bukan individu secara
terpisah. Hal ini dapat dilakukan dengan selalu memberikan semangat dan membantu para
anggota agar merasa lebih berprestasi ketika telah bergabung dalam kelompok tersebut.
Konsep sebagai satu kesatuan kelompok harus terus dipelihara ketika :
Interaksi diantara sesama anggota kelompok harus sering kali dilakukan dengan penuh
keakraban dan suasana harmonis
Konflik personal diantara sesama anggota tidak boleh terlalu sering terjadi jika bisa harus
ditiadakan
Kepemimpinan dalam sebuah kelompok diperbolehkan sehingga terdapat individu yang
benar-benar bisa mengatur dan mengetahui kekuatan dan kelemahan kelompoknya
Perbedaan pendapat yang bersifat membangun harus terus diupayakan
Adanya perbedaan sudut pandang atas pencapaian prestasi yang diraih dalam suatu
kelompok
Barangkali, kepuasan yang paling berharga di dalam sebuah kelompok adalah
ketika usulan mereka tentang pengembangan kurikulum dilaksanakan. Apresiasi juga akan
diberikan oleh administrator kepada para guru yang telah terlibat dalam pengembangan
kurikulum dan mau untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan lama mereka dalam proses belajar
mengajar menjadi kebiasaan-kebbiasaan baru yang sesuai dengan implementasi kurikulum
yang baru.
Role Played by Group Members
Kenneth D. Benne dan Paul Sheats mengembangkan klasifikasi system untuk
mengidentifikasi peran functional dari anggota kelompok. Mereka mengklasifikasikan system
tersebut ke dalam tiga kategori yaitu : group task roles, group building and maintance roles,
and individual roles. Di dalam group task roles para anggota difokuskan untuk mencapai
suatu tujuan dari tugas yang diberikan. Sedangkan pada group buildings and maintance roles,
kelompok ini hanya diorientasikan kepada fungsi kelompok sebagai suatu bagian kelompok
yang utuh. Mereka dirancang untuk mengatur cara kerja di dalam kelompok, kekuatan
kelompok, dan peraturan yang berlaku dalam kelompok tersebut. Individual roles dirancang
hanya untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan para anggotanya.
1. Group Task Roles
Tipe pertama dari fungsi anggota kelompok ini hanya berpusat pada pemenuhan dan
ketercapaian hasil dari tugas yang diberikan. Peran anggota kelompok disini adalah bekerja
keras untuk mencapai hasil yang diinginkan. Benne dan Sheats mengidentifikasi terdapat dua
belas peran dari anggota kelompok pada tipe ini. Di dalam small group atau team individuals
yang beranggotakan sedikit, maing-masing anggota bisa memiliki peran ganda dan bisa pula
memiliki peran yang sama dengan sesama anggota lainnya. Keduabelas peran tersebut antara
lain sebagai berikut.
a. Iniator-Contributor
Berperan dalam menyediakan ide-ide kreatif, dan memberikan solusi pemecahan
masalah.
b. Information Seeker
Berperan dalam memastikan bahwa kelompok memiliki keakuratan dan kerelevanan
informasi sebagai solusi pemecahan masalah.
c. Opinion Seeker
Berperan dalam menanyakan pendapat dan saran yang bisa diberikan anggota kelompok
lainnya sebagai solusi pemecahan masalah. Opinion seeker tidak berfokus pada
keakuratan informasi yang diberikan namun lebih kepada penilaian dari anggota
kelompok akan uatu permasalahan.
d. Information Giver
Berperan dalam memberikan berbagai informasi. Anggota kelompok yang berperan
sebagai information giver harus merupakan orang yang benar-benar ahli dan dapat
membantu dalam proses pengambilan keputusan
e. Opinion Giver
Berperan dalam memberikan pendapat atau saran akan suatu permasalahan yang sedang
didiskusikan
f. Elaborator
Berperan dalam menjelaskan implikasi dari saran dan pendapat yang telah diberikan. Ia
juga memaparkan bagaimana saran atau pendapat itu akan bekerja, bagaimana dampak
dan akibatnya jika benar-benar diputuskan sebagai solusi akan suatu permasalahan.
g. Coordinator
Berperan dalam mengkoordinasikan saran atau pendapat yang diberikan oleh masing-
masing anggota. Ia mencoba untuk membuat pendapat-pendapat tersebut memiliki suatu
hubungan yang saling terkait. Coordinator juga berperan dalam mengkoordinasi berbagai
macam aktivitas yang dilakukan kelompok dalam rangka pemenuhan tugas
h. Orienter
Berperan dalam memberitahu kelompok akan upaya dan langkah-langkah apa saja yang
peru dilakukan dalam pemenuhan tugas. Ia juga berfungi untuk mengingatkan kelompok
akan terselesainya suatu tugas dan kembali fokus pada tugas selanjutnya
i. Evaluator Critic
Berperan dalam mengevaluasi saran atau pendapat yang diberikan oleh para anggota. Ia
berupaya agar saran yang diambil sebagai solusi suatu permasalahan memiliki standar
kualitas yang tinggi dan dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.
j. Energizer
Terkadang solusi yang akan diambil untuk menyelesaikan suatu permasalahan
membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskannya. Untuk itulah energizer berperan
dalam membantu para anggota untuk segera memutuskan langkah apa yang harus
diambil. Sama seperti evaluator critic disini energizer berperan juga untuk memastikan
solusi yang akan diambil memiliki kualitas tinggi dalam menyelesaikan suatu
permasalahan.
k. Procedural Technician
Kelompok memiliki beberapa hal yang harus diurus dan diatur dalam rangka pemenuhan
tugas. Disinilah peran procedural technician dalam menyediakan berbagai kebutuhan
yang diperlukan. Sebagai contoh memfotocopy berbagai macam berkas yang akan
digunakan.
l. Recorder
Sering disebut sebagai sekretaris dalam sebuah kelompok. Mereka yang berperan sebagai
recorder memiliki tugas untuk mencatat dan merekam hasil diskusi agar dapat dijadikan
bahan dalam pengambilan keputusan

2. Group Building and Maintance Roles


Tipe kedua peran anggota dalam suatu kelompok adalah sebagai pengatur
pelaksanaan kinerja kelompok. Benne dan Sheats mengidentifikasi terdapat tujuh peran dari
anggota kelompok pada tipe ini.
a. Encourager
Berperan dalam mendorong anggota kelompok lain untuk menghasilkan ide-ide kreatif
dan memberikan pujian terhadap ide-ide yang telah dicetuskan
b. Harmonizer
Berperan untuk menjamin hubungan yang harmonis di dalam sebuah kelompok. Ia
memiliki tugas untuk meredam konflik dan menemukan solusi akan konflik yang terjadi
diantara sesama anggota
c. Compromiser
Berperan dalam memodifikasi dan memperbaiki pendapat yang ia miliki ketika ia sadar
bahwa apa yang ia sampaikan dapat memicu konflik dengan anggota lainnya
d. Gate keeper
Berperan dalam memastikan bahwa semua anggota kelompok dapat bebas ikut terlibat
dalam proses pengambilan keputusan untuk menyelesaikan suatu permasalahan
e. Standard Setter or Ego ideal
Menjamin bahwa keputusan yang diambil oleh kelompok memiliki beberapa kriteria
tertentu dan memenuhi standard kualitas yang tinggi. Disini peran standard setter sama
dengan opinion giver dalam group task roles, namun lebih terfokus kepada bagaimana
proses kelompok dalam memutuskan solusi yang tepat dan membantu kelompok agar
olusi yang diambil memiliki standard yang sesuai
f. Group Observer and Commentator
Berperan dalam melihat sejauh mana proses yang dilalui kelompok untuk mencapai
tujuan yang ditargetkan. Ia akan mencatat kelemahan dan kelebihan kelompok dalam
proses mencapai tujuan yang diinginkan dan akan memberitahu hasil pengamatan tersebut
secara berkala. Melalu observer kelompok akan mengetahui bagaimana kinerja mereka
sebagai satu kesatuan kelompok dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
g. Follower
Merupakan mereka yang hanya menerima aran atau pendapat dari anggota lainnya.
Follower hanya akan bertindak passive dan hanya akan mengamati proses pengambilan
keputusan tanpa perlu memberikan ide dan pendapatnya akan suatu hal

3. Individuals Roles
Tipe peran anggota kelompok yang ketiga ini hanya terfokus untuk memenuhi
kepentingan dan tujuan para anggotanya. Tipe ketiga ini disebut individual role atau self-
cenetered roles karena anggota kelompok disini hanya terfokus pada hasrat dan keinginan
masing-masing anggota bukan untuk kepentingan kelompok. Benne dan Sheats
mengidentifikasi terdapat delapan peran dari anggota kelompok pada tipe ini.

a. Aggressor
Individu yang merasa perlu untuk meningkatkan pencitraan dirinya dengan menyerang
dan membuat down ide orang lain.
b. Blocker
Individu yang tidak menyukai semua kegiatan yang dilakukan kelompok dan menolak
segala uulan yang diberikan dalam proses pengambilan keputusan
c. Recognition-Seeker
Individu yang ingin menonjolkan dirinya di setiap pengambilan keputuan. Ia akan
menunjukkan seberapa vital perannya dalam pengambilan keputusan tersebut dengan
memberikan pendapatnya akan suatu permasalahan tidak peduli apakah hal tersebut
relevant atau tidak
d. Self-Confessor
Individu yang menyatakan pendapat atau saran pribadi yang tidak bisa diterapkan dalam
kelompok
e. Playboy/Playgirl
Individu yang berusaha menahan diri agar tidak ikut terlibat dalam segala bentuk kinerja
kelompok namun ia sangat aktif dalam menyela dan mengganggu proses pengambilan
keputusan
f. Dominator
Individu yang berusaha untuk menguasai dan mengontrol kelompok di dalam proses
diskusi dan pengambilan keputusan.
g. Help-seeker
Individu yang berusaha untuk mencari simpati anggota lainnya dengan cara berpura-pura
strees atau bingung akan suatu hal.
h. Special Interest Pleader
Individu yang berusaha memperkuat posisi dirinya dengan mengakui bahwa ia berbicara
untuk membela orang lain yang tidak ada dalam anggota tersebut. Hal ini ia lakukan agar
dianggap sebagai pahlawan dan dapat memperkuat kedudukan dirinya dalam kelompok
tersebut.
Sebuah kelompok akan berjalan lebih efektif jika masing-masing anggota berusaha
mengurangi dan menghilangkan peran negative mereka dalam kelompok. Hal ini dapat
dibantu oleh peran pemimpin atau melalui peran consultant untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut. Membantu individu untuk mengurangi peran negative mereka dalam
kelompok dapat dicapai melalui personal interaction diantara sesama individu dalam satu
kelompok. Mereka bisa saling memberikan feedback akan karakteristik peran apa saja yang
muncul selama mereka berinteraksi dalam kelompok yang dapat dijadikan sebagai self-
introspection. Lebih lanjut, kelompok akan lebih produktif apabila para anggotanya memiliki
kemampuan berinteraksi yang tinggi dalam suatu kelompok. Bagaimanapun apabila dalam
sebuah kelompok memiliki anggota yang penguasaan kemampuan berinteraksi masih rendah
diharapkan dapat dilatih melalui berbagai macam aktifitas dan tugas yang mengharuskan
bekerjasama dalam kelompok untuk mengembangkan kemampuan berinteraksi yang lebih
baik.
Di dalam bukunya From Emerging Patterns of Supervision : Human Perspectives
Thomas J. Sergiovanni dan Robert J. Starratt memberikan saran dengan melihat lembar
observasi yang dibuat oleh Benne dan Sheats dalam memberikan penilaian mengenai peran
individu dalam sebuah kelompok. Lembar observasi ini dapat diberikan secara berkala
kepada para individu sebagai self-introspection. Berikut disajikan lembar penilaian yang
dimaksud.
Members
A B C D E F G H I
Task roles
Initiator-contributor
Information seeker
Opinion seeker
Information giver
Opinion giver
Elaborator
Coordinator
Orienter
Evaluator-critic
Energizer
Procedural technician
Recorder

Building/maintance roles
Encourager
Harmonizer
Compromizer
Gate keeper
Standard etter
Group-observer
Follower

Individual roles
Aggressor
Blocker
Recognition-seeker
Self-confessor
Playboy/playgirl
Dominator
Help-seeker
Special interest pleader

Para observer harus memikirkan secara matang bagaimana cara memberikan penilaian akan
peran masing-masing individu dalam suatu kelompok. Hal ini dikarenakan terdapat individu
yang tidak ingin perilakunya dinilai dan dikritik oleh orang lain. Mereka akan sulit menerima
penilaian yang diberikan oleh orang lain akan peran dirinya dalam sebuah kelompok. Oleh
karena itu lembar penilaian ini hanya boleh diberikan kepada para individu jika ia benar-
benar memintanya dan dalam keadaan yang tenang.
Task-Oriented Group
Kelompok pengembangan kurikulum seharusnya berorientasi pada tugas. Seperti
definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, kelompok yang berorientasi pada tugas, lebih
mengedepankan hasil yang dicapai melalui berbagai usaha yang dilakukan. Mereka
melakukan berbagai langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, dan jika telah selesai maka
mereka akan menyelesaikan tugas berikutnya. Produktivitas dari kelompok ini dapat diukur
melalui yang pertama sejauh mana kualitas peningkatan pengembangan kurikulum dapat
diterapkan, dan yang kedua seberapa besar partisipasi para personal dan professiona dalam
pengembangan kurikulum.
Pengembangan kurikulum terdiri atas pengalaman berkelanjutan yang dialami oleh
interpersonal di dalam kelompok tersebut. Baik para pemimpin maupun anggota memiliki
kewajiban untuk terus belajar di dalam proses pengambilan keputusan dan bekerja bersama-
sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan sedikitnya jumlah pelatihan
professional person, mereka diharapkan dapat mengubur keinginan tersembunyi dan prilaku
negative yang mereka miliki sehingga tidak akan mengganggu usaha dalam mencapai tujuan.
Namun walaupun hanya terdapat sedikit pelatihan untuk membentuk kemampuan mereka
agar lebih professional, mereka telah mempelajari kemampuan dalam berinteraksi dengan
sesama manusia pada saat menempuh pendidikan formal. Mereka telah mempelajari berbagai
jenis human relation skills seperti empati, menghargai pendapat dan prinsip orang lain,
kejujuran, keharmonisan, kesopanan, saling membantu, dan saling menghormati. Mereka
belajar menerima sebuah tanggung-jawab dan mampu menahan diri agar tidak menyalahkan
orang lain akan kekurangan diri sendiri. Mereka belajar untuk membuang ego mereka yang
mengarah kepada kepentingan pribadi dan lebih mengutamakan kepentingan kelompok.
Mereka juga belajar untuk menikmati dan menanamkan rasa bangga akan terselesainya tugas
yang diberikan. Namun, jika masih terdapat anggota kelompok yang memiliki kemampuan
berinteraksi yang lemah maka mereka didorong untuk mengikuti pelatihan dalam berinteraksi
dengan manusia agar dapat meningkatkan kemampuan interpersonal mereka di dalam sebuah
kelompok.
Harus diingat kembali bahwa pengembangan kurikulum merupakan usaha sukarela
yang dilakukan. Para pekerja pengembangan kurikulum mungkin akan bertanya pada diri
mereka motivasi apa yang mereka punya sehingga setuju untuk mengabdikan diri mereka
dalam berbagai usaha untuk memajukan kurikulum. Mereka mungkin akan menemukan
beberapa motivasi yang ada dalam diri mereka antara lain sebagai berikut
Hasrat untuk menyenangkan administrator
Hasrat untuk bekerja dengan berbagai macam rekan kerja
Hasrat untuk selalu berada di tempat tindakan itu berlangsung
Hasrat untuk tumbuh secara professional
Hasrat untuk dapat berkontribusi secara professional terhadap system sekolah
Hasrat untuk menggunakan salah satu kemampuan dan talenta yang dimiliki
Hasrat untuk menemukan pengalaman baru
Hasrat untuk bersosialisasi
Hasrat untuk menggunakan kelompok sebagai tempat untuk menampung
keyakinan yang dimiliki
Alasan mengapa individu mau berpartisipasi di dalam sebuah kelompok sangatlah
banyak dan beragam. Individu yang sadar akan kebutuhan melatih kemampuan personal dan
professional harus mengambil bagian untuk berpartisipasi dalam mengembangkan kurikulum.
Characteristics of Productive Group
Untuk menguji kebenaran dari literature akan dinamika dan proses yang terjadi
dalam suatu kelompok, bagaimana kita bisa menyimpulkan karakteristik apakah yang bisa
membuat suatu kelompok berjalan lebih efektif dan produktif. Kita telah mempelajari
sebelumnya pada bab 1 tentang sebuah penelitian yang dilakukan oleh hawthorne plant of the
Western Electric Company di Chicago yang menghasilkan bukti bahwa keterlibatan
perencanaan yang matang dan penyelesaian tugas dengan baik merupakan produktifitas besar
yang dicapai suatu kelompok. Penelitian lain yang dilakukan oleh Kurt Lewin, Ronald
Lippitt, dan Ralph K. White di dalam sebuah kelompok yang terdiri dari anak usia 11 tahun
memperlihatkan bahwa produktivitas kelompok akan lebih besar jika kelompok tersebut
beriklim demokratis dibandingkan dengan beriklim otoriter. Rensis Likert juga menunjukan
bahwa lingkungan yang mendukung, saling percaya diri, adanya rasa saling percaya diantara
sesama anggota, dan membagikan tujuan yang hendak dicapai oleh suatu grup merupakan
kontribusi yang baik untuk meningkatkan keefektivitasan sebuah kelompok. Ned A. Flanders
mempelajari sebuah proses dan menympulkan bahwa pemimpin sebuah kelompok harus
mengurangi prilaku dirinya dalam berbicara dan lebih mengizinkan para anggotanya untuk
saling berinteraksi. John Dewey dan Daniel L. Stufflebeam menuliskan pentingnya
kemampuan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Warren G. Benni,
Kenneth D. Benne, dan Robert Chin mendukung bahwa kemampuan perencanaan dalam
melakukan perubahan. Fred E. Fiedler menitik beratkan kepada keefektivan seorang
pemimpin, dan Kimball Wiles memberikan perhatian kepada kemampuan berkomunikasi
sebagai hal yang paling essensial dalam melahirkan keefektivan kelompok. Berdasarkan
berbagai macam prinsip yang telah dibahas, kelompok dapat dikatakan produktif dan efektif
ketika :
Pemimpin dan anggota saling mendukung
Adanya kepercayaan diantara sesama anggota
Tujuan dapat dimengerti dan diterima
Ketercukupan peluang bagi para anggota untuk menyampaikan pendapat dan persepsi
mereka
Peran postif anggota dalam kelompok
Agenda tersembunyi dari masing-masing anggota tidak mengganggu tujuan kelompok
Kepemimpinan dilakukan secara kompeten dan sesuai dengan kelompok yang
dipimpin
Anggota memiliki kebutuhan akan keahlian
Anggota memiliki kebutuhan akan sumber daya
Anggota berbagi pendapat dalam semua proses pengambilan keputusan
Kemampuan berkomunikasi berada pada level yang tinggi
Jiwa kepemimpinan dibangkitkan di dalam kelompok
Perkembangan dalam menyelesaikan tugas harus dicatat secara signifikan
Aktivitas dalam grup memberi kepuasan akan kebutuhan anggota
Pemimpin mencari anggota yang memiliki potensi besar
Kelompok dapat mengatur waktu dengan bijak

3. Leadership Skills
4. Communication Skills
Melalui karunia yang ajaib dengan bahasa seorang manusia mampu
mengkomunikasikan pikiran dan perasaan. Sebagian besar, khususnya dalam suatu
masyarakat demokratis biasanya menyalurkan pemikiran melalui diskusi kelompok. Kadang-
kadang tampaknya seolah-olah sebagian besar administrator, termasuk personil sekolah,
menghabiskan sebagian besar jam mereka untuk melakukan kegiatan atau berpartisipasi
dalam kelompok, dan terkadang untuk merespon penelpon yang ingin menghubungi mereka
maka akan menjawab "maaf, dia sedang rapat
Pikiran dikomunikasikan secara lisan dalam bentuk aktivitas lisan dan dokumen
tulisan tangan dan dicetak; visual dalam bentuk gambar, diagram, grafik, dan sejenisnya; dan
nonverbal dalam bentuk gerakan dan tindakan. Gaya komunikasi lisan dan tulisan berbeda
dari individu ke individu dan dari kelompok ke kelompok. Gaya bervariasi di antara
kelompok-kelompok etnis, regional, dan nasional.
Pilihan kata-kata, kenyaringan atau kelembutan berbicara, dan kecepatan dari
bahasa lisan berbeda dari orang ke orang dan dari kelompok ke kelompok. Kami menemukan
perbedaan dalam "aksen" dan dalam nada atau intonasi. Fleksibilitas bahasa, kekuatan dan
penekanan, dapat dilihat dalam contoh sederhana. Dengan menggunakan kata-kata yang sama
tetapi dengan memvariasikan pola intonasi atau stres, seorang pembicara dapat mempunyai
arti yang berbeda sebagai berikut:
- Mereka mengatakan bahwa
- Mereka mengatakan bahwa
- Mereka mengatakan bahwa
- Mereka mengatakan bahwa?
Individu dari beberapa budaya sering mengatakan "talk with their hand", hal itu
menunjukkan penggunaan perilaku nonverbal, sedangkan individu dari budaya lain diajarkan
tidak begitu ekspresif untuk mengatakan seperti itu. Kemahiran dalam keterampilan
komunikasi baik oleh pemimpin dan anggota kelompok adalah penting untuk
mengembangkan kurikulum agar sukses. Mereka harus menunjukkan kemahiran dalam
komunikasi baik lisan maupun tulisan. Pada saat yang sama, mereka harus menyadari
perilaku nonverbal mereka sendiri dan menjadi terampil membaca perilaku orang lain
Pemimpin harus menunjukkan kemahiran dalam dua cara: ia harus memiliki
kemampuan komunikasi tingkat tinggi dan juga harus mampu membantu anggota kelompok
untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi.
Apa yang kita katakan tentang komunikasi hanya seputar tata bahasa, sintaks,
ejaan, kosakata, dan struktur kalimat. Kekurangan dalam aspek linguistik komunikasi
mungkin lebih baik untuk diperbaiki daripada beberapa aspek psikologis, sosial, dan budaya
yang lebih kompleks. Kita dapat berspekulasi bahwa didalam kelompok semua anggota
memiliki kemampuan memerintah dengan sangat baik dari segi bahasa, dan
megkomunikasikan apa yang diinginkan. Pernahkah Anda duduk, misalnya, pada pertemuan
kelompok di mana:
Dua orang berbicara pada saat yang sama
Salah satu anggota selalu konsisten untuk membeiarkan orang lain menyelesaikan
pembicaraannya
Salah satu anggota sering tiba- tiba masuk ke dalam diskusi dan tidak membiarkan teman-
temnannya yang lain untuk berpendapat
Salah satu anggota marah di dalam diskusi lalu meninggalkan ruangan
Anggota tertentu selalu sinis setiap kali anggota dari kelomppok lainnya berbicara
Salah satu anggota tidak bisa mengeluarkan kemampuannnya sesuai dengan topik ketika
sedang diskusi
Salah satu anggota menjadi cemberut saat lain tidak setuju dengan ide-ide nya?
Pemimpin harus menjelaskan tiga kali sebelum semua anggota kelompok tampaknya
memahami?
Kita harus menjernihkan beberapa kesalahpahaman umum tentang komunikasi.
Pertama, keterampilan dalam berbicara kadang-kadang keliru saat berkomunikasi.
Kemampuan untuk merespon dengan cepat dan utuh untuk "berpikir pada satu inti" adalah
kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kita hanya perlu mendengarkan
beberapa pemimpin politik bicara untuk membuat perbedaan antara kemampuan
mengartikulasikan dan kemampuan untuk berkomunikasi.
Kedua, interaksi kelompok kadang-kadang menjadi keliru karena salah
komunikasi. Komentar seperti "kami memiliki diskusi yang hidup" tidak ada artinya kecuali
kita mengetahui apakah diskusi membuat pemahaman yang benar dan ada keputusan yang
dapat diambil. Pengolahan berbagi perasaan pribadi dan pendapat, kadang-kadang disamakan
dengan komunikasi
Ketiga, asumsi bahwa komunikasi penuh, jelas, dan benar-benar dipahami sering
dibuat dilakukan tanpa dengan bukti yang cukup.
Apa sajakah masalah umum yang terjadi dalam berkomunikasi atau mengeluarkan
pendapat. Masalah tersebut dapat dikatergorkan menjadi 3, yaitu:
1. Masalah dengan komunikasi lisan
2. Masalah dengan komunikasi tertulis
3. Masalah yang ditimbulkan oleh perilaku nonverbal
Komunikasi lisan. Kesulitan dalam komunikasi lisan dapat muncul dalam situasi
berikut:
1. Anggota kelompok baik dalam sengaja atau sengaja gagal untuk memusatkan pada sutu
titik pembicaraan. Mereka berbicara "di sekitar" bukan "inti" masalah.
2. Anggota kelompok menggunakan bahasa tidak tepat. Mereka menggunakan kata-kata
dengan banyak interpretasi, seperti "relevansi", tanpa mendefinisikan apa dari kata
interpretasi yang mereka pakai
3. Anggota kelompok memilih diskusi hal-hal yang mereka ingin dengar. Ini adalah fakta
yang diketahui bahwa kita mendengar dan melihat secara selektif.
4. Anggota gagal untuk mengekspresikan diri, terutama jika mereka tidak setuju dengan apa
yang telah dikatakan. Beberapa orang menahan pandangan mereka
5. Anggota gagal untuk mengikuti proses yang teratur dari sebuah diskusi. Komunikasi
adalah mustahil untuk ebrjalan dengan lancar jika ngota- anggota tidak mau
mendisiplinkan diri mereka sendiri dan tidak mau bergiliran dalam membahas,
mendengarkan satu sama lain, dan saling menghormati satu sama lain
6. Sesi berhenti sebentar tanpa semacam penutupan. Jika langkah berikutnya tidak jelas,
anggota meninggalkan sesi kelompok dengan bingung dan frustrasi.
7. Aliran komunikasi terutama dari pemimpin kepada anggota. Pemimpin harus menahan
godaan untuk mendominasi diskusi
8. Kekesalan, permusuhan, dan ketidakharmonisan ada dalam kelompok. Ketika kondisi ini
terjadi, pemimpin harus menghabiskan waktu mengembalikan suasana kelompok yang
harmonis menyenangkan sebelum komunikasi positif dapat terjadi di antara anggota
Komunikasi tertulis. Dalam perjalanan kegiatan kelompok ini akan ada kesempatan
di mana pemimpin dan anggota kelompok ingin dan perlu berkomunikasi secara tertulis dari
antara sesi- sesi dalam kelompok. Mereka juga akan perlu untuk berkomunikasi secara
tertulis dengan orang di luar kelompok kerja. Kesulitan komunikasi timbul ketika situasi yang
timbul seperti dibawah ini::
1. Tertulis tidak dapat merasakan dampak dari kata-katanya dalam komunikasi tertulis.
Penggunaan bahasa harus benar- benar diperhatikan ketika menyusun pesan tertulis.
Penulis memo harus mempertimbangkan pemilihan kata dan cara mengungkapan pikiran
mereka
2. Menulis komunikasi berlebihan jumlahnya. Beberapa orang memanjakan diri dalam
memorandum tertulis dengan frekuensi yang sama seperti beberapa orang menulis surat
kepada editor surat kabar.
3. Penggunaan bahasa Inggris yang salah arti. Banyak memorandum, khususnya dari orang-
orang profesional, kehilangan dampaknya karena bahasa Inggris mereka tulis salah arti.
Perilaku nonverbal. Manusia berkomunikasi satu sama lain tanpa menggunakan
kata-kata. Senyum, afrown, gelombang, dan mengedipkan mata biasnya dilakukan untuk
mengatakan sesuatu kepada penerima.
Perilaku nonverbal dibentuk baik secara biologis dan budaya. Kebanyakan manusia
mulai hidup dengan fisiologis yang sama, yaitu dua mata, tangan, kaki, dan sebagainya. Tapi
dengan budaya nonverbal biasanya orang- orang melakukan bahasa dengan menggunakan
anggota tubuh yang mereka gunakan
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Idi. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Jakarta: Ar-Ruzz Media.
Adiwikarta,S, 1994. Kurikulum yang Berorientasi pada Kekinian, Kurikulum untuk Abad 21,
Jakarta : Grasindo.
Sukmadinata, Nana S. 2002. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Olivia, Peter. 1992. Developing Curriculum. United States of America: Harper Collins
Publisher